-->

BIMTEK PENGELOLAAN USAHA PEMBIAKAN SAPI INDUKAN BX

Rochadi Tawaf saat memberikan bimbingan kepada peternak. (Sumber: Istimewa)

Pada November 2018, Pemerintah Indonesia melalui melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Kementrian Pertanian (Kementan), telah membagi-bagikan ternak sapi indukan BX kepada peternak di Jawa Barat melalui 24 kelompok ternak di Kabupaten Sumedang, Bandung Barat, Cianjur, Subang, Cirebon, Indramayu, Ciamis, Tasikmalaya dan Pangandaran.

Berdasarkan kegiatan Rapid Apraisal terhadap 24 kelompok peternak penerima bantuan, ternyata pada umumnya sapi betina indukan BX mengalami kesulitan bunting, kurus dan sebagian mengalami kematian. Beberapa faktor penyebabnya yang paling dominan karena sapi-sapi tersebut tidak dipelihara sesuai dengan tuntutan kebutuhan hidupnya. Misal, lemahnya manajemen pakan, kesulitan mengawinkan karena silent heat dan manajemen pengelolaan yang tidak sesuai dengan Good Farming Practices.

Selain masalah tersebut, juga karena lemahnya perencanaan bisnisnya maka ada sebagian anggota kelompok yang mengundurkan diri dalam mengelola sapi betina produktif tersebut. Hal ini berakibat terhadap sapi-sapi tersebut sehingga tidak mendapat pakan yang cukup, yang menyebabkan sapi tersebut anorexia (kekurangan pakan).

Dalam kerangka memperbaiki kondisi tersebut, Pengurus Besar Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (PB ISPI) menugaskan Program Manajemen Unit (PMU) wilayah Jawa Barat (Jabar) bekerja sama dengan Balai Pelatihan Peternakan dan Ketahanan Pangan Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (BPPKP DKPP) Provinsi Jabar mengadakan kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) pengelolaan usaha pembiakan sapi indukan BX, 4-5 Februari 2020. Ini juga merupakan “Improvement Program For Productive Female Cattle” (IP2FC), kerja sama PB ISPI-Gapuspindo didukung oleh Ditjen PKH Kementan.

Selanjutnya, setelah pelaksanaan Bimtek akan ditindaklanjuti dengan pembinaan dan bimbingan selama lima bulan terhadap kelompok peternak tersebut.

Adapun tujuan dari Bimtek ini untuk memperbaiki manajemen pakan, pola reproduksi dan manajemen usaha pembiakan sapi indukan BX sesuai prinsip Good Farming Practices bagi 24 kelompok peternak penerima sapi BX, sehingga di akhir program mampu meningkatkan kebuntingan, menurunkan tingkat kematian, memperbaiki performanya dan harmonisasi kelompok.

Ruang lingkup materi yang diberikan meliputi manajemen pakan (pengetahuan bahan baku pakan, manajemen HPT, menyusun ransum sederhana, pengawetan pakan dengan pola fermentasi dan praktek pembuatan ransum/pakan), sistem reproduksi (pengetahuan alat reproduksi dan sistem perkawinan), manajemen pencatatan dan rearing (teknik membuat catatan dan manajemen rearing/pedet), sos-ek peternakan (perencanaan bisnis, biaya produksi dan pemasaran hasil dan pemberdayaan kelompok peternak).

Peserta pelatihan terdiri dari 24 kelompok peternak masing-masing dua orang, perwakilan dinas kabupaten (sembilan kabupaten dan tenaga UPTD penerima sapi BX, jumlah seluruhnya 56 orang). Serta instruktur terdiri dari petugas BPPKP DKPP, dosen fakultas peternakan Universitas Padjajaran dan tokoh peternak di Jawa Barat. (INF)

SATWA LIAR : BERPOTENSI MENULARKAN INFEKSI PENYAKIT BARU


Konsumsi Satwa Liar, Berpotensi Menularkan Zoonosis Jenis Baru

IPB University melalui Direktorat Publikasi Ilmiah dan Informasi Strategis (DPIS) menyoroti penyebaran virus korona, sekaligus strategi mitigasi penyakit yang mengkhawatirkan masyarakat. Dosen Fakultas Kedokteran Hewan IPB, Drh Joko Pamungkas, mengatakan penyakit infeksi baru mulai bermunculan dalam beberapa dekade terakhir. Di antaranya virus Ebola, HIV, virus Nipah, virus Avian Influenza, SARS-CoV, MersCoV dan yang terakhir ialah virus korona (2019-nCoV) dari Kota Wuhan, Tiongkok.

"Hampir semua kejadiannya diketahui berjangkit lebih dahulu pada manusia. Setelah diteliti dan ditelusuri, baru diketahui wabah tersebut diindikasi kuat bersumber dari hewan atau satwa liar. Itu bersifat zoonotik dan lebih dari 70% berasal dari satwa liar sebagai reservoir atau inang alami," ujar Joko dalam diskusi bertema tema "Mengenal Lebih Jauh Virus Korona dan Strategi Mitigasi Dampak", melalui rilis yang diterima, Jum'at (31/1)
Dampak kerugian dan kematian yang ditimbulkan tentu tidak sedikit. Selain tingginya angka penularan dan korban kematian, segala upaya mitigasi saat wabah berjangkit pasti akan sangat besar dari aspek ekonomi. Itu belum menghitung dampak pada kegiatan sektor perdagangan dan pariwisata.
Joko menyarankan perlunya mengubah pendekatan praktik pola surveilans oleh kementerian teknis terkait. Persoalan kesehatan harus dilihat secara holistik dan ditangani secara bersama oleh kementerian terkait. Di antaranya, Kementerian Kesehatan, Kementerian Pertanian, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Menurunya, pendekatan One Health sebagai jawaban atas masalah kesehatan yang berlangsung saat ini. Terutama, upaya pengendalian penyakit infeksius.
"Tidak seharusnya kita menunggu kejadian yang merugikan ini berjangkit pada manusia maupun hewan ternak, sehingga kerugian menjadi besar. Surveilans sentinel pada satwa liar secara periodik diharapkan memantau keberadaan virus dari satwa liar yang berpotensi ditularkan kepada manusia dan hewan ternak," tegasnya.
Hal senada disampaikan Kepala Divisi Patologi Fakultas Kesehatan Hewan (FKH), Bambang Pontjo Priosoeryanto. Dari sisi kesehatan hewan, merebaknya virus korona di Tiongkok dan sejumlah negara, menunjukkan penyebaran penyakit dapat berjalan dengan cepat. Virus yang berasal dari hewan liar maupun domestik dan kemudian berubah menjadi virus ganas, mengindikasikan peran hewan sebagai salah satu faktor utama.
"Fakta menunjukkan 60% dari penyakit patogen adalah zoonotik atau ditularkan dari hewan. Sekitar 80% adalah multi-host. Selain itu, 75% dari penyakit yang baru muncul berawal dari hewan. Hasil studi menunjukkan sejak 1940 ditemukan 335 penyakit, di mana 60,3% merupakan zoonosis dan 71,8% berawal dari satwa liar," jelas Bambang.
Kontak hewan liar dan berbagai spesies hewan dalam satu lokasi yang sangat intens, seperti pasar hewan yang sangat beragam, menjadi hal yang harus diperhatikan. Mengingat, adanya potensi dampak eksploitasi alam yang berlebihan, sehingga menimbulkan ketidakseimbangan lingkungan.(CR)

MEWASPADAI PARASIT PADA UNGGAS

Penyakit parasit yang menyerang ternak ayam dapat menyebabkan kerugian yang tidak sedikit. (Foto: istimewa)

Kata parasit seringkali didengar dalam kehidupan sehari-hari, tentunya dengan konotasi yang selalu negatif. Pada kenyataannya memang begitu, organisme parasit memang selalu merugikan inang yang ditumpanginya, baik pada manusia maupun hewan. 

Dalam kamus biologi, paarasit merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut makhluk hidup yang hidupnya tergantung pada makhluk hidup lainnya. Kata parasit berasal dari bahasa Yunani ‘Parasitos’ yang artinya di samping makanan (para = di samping/di sisi, dan sitos = makanan).

Parasit hidup dengan menempel dan menghisap nutrisi dari makhluk hidup yang ditempelinya. Makhluk hidup yang ditunggangi parasit disebut dengan istilah inang. Secara umum, keberadaan parasit pada suatu inang akan merugikan dan menurunkan produktivitas inang. Karena selain menumpang hidup, parasit juga mendapatkan nutrisi dan sari makanan dari tubuh inangnya. Hal seperti ini akan menyebabkan tubuh inang mengalami mal nutrisi yang akan mempengaruhi metabolisme tubuhnya.

Dalam ilmu kesehatan hewan, parasit identik dengan organisme penyebab penyakit pada hewan. Sebagian penyakit yang menyerang hewan disebabkan oleh parasit yang hidup dan berkembang biak dalam tubuhnya. Dalam dunia “perparasitan” digunakan dua istilah, yakni infeksi dan infestasi. Perbedaannya, istilah infeksi adalah ketika sejumlah kecil dari suatu parasit dapat menimbulkan respon seluler atau imunologi tubuh maupun kerusakan pada inang. Sedangkan infestasi, mulai digunakan ketika sejumlah kecil parasit tidak dapat menimbulkan kerusakan pada inang, atau dengan kata lain sejumlah besar parasit yang dapat menimbulkan kerusakan pada tubuh inang.

Ektoparasit dan Endoparasit
Digolongkan dari tempat hidupnya ada dua jenis parasit, yaitu parasit yang hidup di luar tubuh inang (ektoparasit) dan parasit yang hidup di dalam dalam tubuh inangnya (endoparasit). Keduanya sama-sama merugikan apabila menyerang inangnya, dalam hal ini hewan ternak. 

Berbicara mengenai ektoparasit, Prof Upik Kesumawati dari Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (FKH IPB) angkat bicara. Menurutnya, beberapa jenis arthtropoda merupakan ektopasarit yang penting dan berperan atas kerugian berupa penurunan produktivitas pada ayam.

“Kita ambil contoh misalnya kutu ayam dari spesies Menopon gallinae yang biasa menjadi ektoparasit pada ayam, mulanya satu atau dua, namun lama-kelamaan kutu tersebut akan berkembang biak dan mengisap darah dalam jumlah besar pada ayam itu,” tutur Upik.

Lebih lanjut dijelaskan, dengan keberadaan dan aktivitas kutu di tubuh sang inang akan membuatnya tidak nyaman. Gigitan dari kutu menyebabkan rasa gatal. “Selain stres akibat tidak nyaman, nutrisi dari inang juga otomatis terhisap, hal ini tentunya menjadikan produktivitas menurun dan imunitas juga turun akibat stres,” jelasnya.

Adapun ektoparasit lain yang kerap ditemukan pada ayam ialah tungau dari spesies megninia sp. dan Knemidokoptes sp. Kedua ektoparasit tersebut memang tidak mengisap darah seperti halnya kutu, namun tungau memakan sel-sel kulit pada ayam dan dapat menggali terowongan di bawah kulit ayam. Aktivitas menggali terowongan tersebut menyebabkan rasa gatal dan neyri pada ayam dan juga mengakibatkan kerusakan kulit yang biasa disebut kaki berkapur (scaly leg).

“Dampaknya akan sama seperti infestasi kutu tadi, ayam akan stres sehingga imunitasnya turun, tentunya ini mengakibatkan ayam mudah terserang penyakit infeksius lainnya,” terang Upik.

Selain kutu dan tungau, lanjut dia, serangga seperti lalat, kumbang franky dan nyamuk juga patut diwaspadai keberadaanya. Sebab, baik nyamuk maupun lalat berpotensi menjadi vektor penyakit lain.

“Kumbang franky atau kutu franky terbukti bisa menjadi vektor penyakit Gumboro, sementara nyamuk merupakan vektor penyakit parasitik lainnya yakni Leucocytozoonosis (malaria-like disease) yang disebabkan oleh protozoa yakni Leucocytozoon sp.,” tukasnya.
Sementara mengenai parasit internal (endoparasit), dijelaskan oleh Prof Umi Cahyaningsih yang juga dari FKH IPB, menyatakan bahwa penyakit parasit seperti Leucocytozoonosis sekarang ini masih diremehkan.

“Biasanya enggak banyak yang mikir sampai ke situ, padahal harusnya dicek, itu penyakit juga berbahaya untuk ayam sama peternaknya,” tutur Umi. Bahaya di sini maksud Umi bukan karena penyakit bersifat zoonotik, melainkan dapat menyebabkan kematian tinggi dan produktivitas menjadi terhambat.

Penurunan produktivitas tersebut dapat berupa pembengkakan nilai FCR (feed conversion ratio), pertumbuhan terhambat, sampai terjadinya penurunan produksi telur dan tingkat pengafkiran yang tinggi. Tingkat kematian ayam rata-rata berkisar antara 10-80%, terdiri dari kematian DOC sebesar 7-50% dan ayam dewasa 2-60%.

Lebih lanjut Umi menjelaskan, gejala penyakit ini bersifat akut, proses penyakit berlangsung cepat dan mendadak. Suhu tubuh ayam akan sangat tinggi pada 3-4 hari post infeksi, kemudian diikuti dengan anemia akibat rusaknya sel-sel darah merah, kehilangan nafsu makan (anoreksia), lesu, lemah dan lumpuh.

Ayam yang terinfeksi parasit protozoa dapat mengalami muntah darah, mengeluarkan feses berwarna hijau dan mati akibat perdarahan. Infeksi Leucocytozoon dapat mengakibatkan muntah darah dan perdarahan atau kerusakan yang parah pada ginjal. Kematian biasanya mulai terlihat dalam waktu 8-10 hari pasca infeksi. Ayam yang terinfeksi dan dapat bertahan akan mengalami infeksi kronis dan selanjutnya dapat terjadi gangguan pertumbuhan dan produksi.

Oleh karena itu, lanjut Umi, sangat penting untuk mengendalikan vektor penyakit tadi, karena kerugiannya akan sangat besar bagi peternak. Belum lagi jika berbicara penyakit endoparasitik lain seperti Koksidia dan Cacingan. 

“Koksidia tidak usah ditanya lagi kerugiannya gimana, yang pasti sangat besar. Selain itu, yang saya soroti sebenarnya penyakit Cacingan ini yang juga masih di-underestimate,” ungkapnya.

Ia memaparkan data dari USDA berupa kerugian akibat serangan penyakit parasitik di AS yang mencapai USD 240 juta per tahun, angka tersebut lebih tinggi ketimbang kerugian akibat penyakit infeksius lainnya yang hanya mencapai setengahnya.

“Rata-rata penyakit bakterial dan viral kan akut, ternak matinya cepat, kerugiannya juga sedikit karena kematian. Namun kalau parasit ini beda, ternak dibuat enggak produktif, stres, makan tetap tapi hasil berkurang, pengobatan jalan, tapi ujungnya banyak yang mati juga, berkali-kali lipat itu kerugiannya,” ucap Umi.

Ancaman Nyata, Harus Dicegah
Jika melihat ke website Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE), dapat diakses data-data dari berbagai negara mengenai penyakit parasitik, berbeda jika di Indonesia yang masih sulit untuk mencari data seperti itu. Hal ini tentunya juga merupakan suatu bukti bahwa Indonesia belum serius dalam menangani penyakit parasitik. Padahal kerugian akibat penyakit parasit tidak sedikit, namun masih banyak yang terkesan acuh.

Drh Agus Prastowo, dari PT Elanco juga berkomentar bahwa amatlah sulit mengobati penyakit yang disebabkan parasit, terutama endoparasit. Karena organisme parasit memiliki struktur yang lebih kompleks ketimbang bakteri sehingga ketahanan dan resistensinya terhadap sediaan-sediaan anti-protozoa juga tergolong baik. “Tidak usah jauh-jauh, Koksidia saja dulu masih pakai koksidiostat saja masih sering jebol, apalagi tidak?,” kata dia.

Ia melanjutkan, bahwa penyakit-penyakit seperti ini seharusnya dicegah, bukan diobati. “Kenapa harus menunggu terinfeksi dulu baru diobati kalau sebisa mungkin kita cegah,” ucapnya kepada awak Infovet.

Ketika ditanya mengenai prescription diet untuk ayam, Agus berkata, ada baik dan buruknya. Sisi baiknya mungkin sediaan antibiotic growth promoter yang bisa menyebabkan residu jadi tidak ada di produk, tapi hal buruknya kemungkinan untuk terinfeksi menjadi tinggi.

“Menyoroti kebijakan pakan terapi kan sudah diatur pemerintah, namun akan lebih baik kalau memang diadakan dulu serangkaian uji dan pemeriksaan, jangan serta-merta langsung diputuskan untuk digunakan begitu saja,” tukasnya. Adapun mencegah penyakit parasit seperti Koksidiosis dengan menggunakan vaksin bisa saja dilakukan, namun biaya yang dikeluarkan juga tinggi. 

Ia pun mengimbau agar peternak, serta divisi animal health di suatu peternakan serius dalam mencegah penyakit parasit, baik ektoparasit maupun endoparasit. Karena serangan keduanya sangat berbahaya dan berdampak serius.

“Perlu dilakukan pencegahan yang serius, berkesinambungan dan terencana, karena kerugiannya enggak main-main,” tandas Agus.

Pencegahan penyakit parasit dapat dilakukan secara sederhana, misalnya mengaplikasikan light trap untuk mencegah infestasi lalat berlebih di kandang, atau melakukan fogging dengan pestisida setiap chick-in maupun selesai periode kandang. Rutin melakukan pemeriksaan darah juga dapat menjadi salah satu metode pencegahan sekaligus monitoring apakah ternak-ternak bebas dari parasit darah. Memang membutuhkan tenaga dan biaya, namun demi mencegah kerugian tidak ada salahnya. (CR)

ANTRAKS DI GUNUNG KIDUL DINYATAKAN TERKENDALI


Kerjasama lintas sektor berperan dalam pengendalian Antraks (Foto: Humas Kementan)


Pengendalian Antraks di Gunung Kidul telah sesuai standar dan saat ini situasinya sudah terkendali. Hal itu mengemuka saat kunjungan kerja spesifik Komisi IV DPR RI di Kabupaten Gunung Kidul, 31 Januari 2020.

Menurut G. Budisatrio Djiwandono, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, sesuai fungsinya dalam pengawasan program pemerintah, Komisi IV DPR RI ingin mencari informasi lebih rinci terkait situasi dan pelaksanaan program pengendalian Antraks di Gunung Kidul untuk kemudian dicarikan solusinya bersama.

Sementara itu, Bupati Kabupaten Gunung Kidul, Badingah menyampaikan bahwa saat ini situasi Antraks sudah terkendali, hal ini tidak terlepas dari dukungan masyarakat, TNI/POLRI dan Kementan dalam pelaksanaan kegiatan pengendalian.

Berdasarkan data dari Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunung Kidul, sejak adanya kasus Antraks pada akhir Desember 2019, jumlah kasus positif Antraks adalah 6 (enam) kasus, yakni tiga kasus pada kambing dan 2 (dua) kasus pada sapi yang berasal dari dari Dusun Ngrejek Wetan, Desa Gombang, Kecamatan Pojong. Adapun satu kasus lain terjadi pada sapi dari Dusun Janglot, Desa Pucanganom, Kecamatan Rongkop.

Terkait kematian ternak yang saat ini mencapai 79 ekor sapi dan kambing. Berdasarkan hasil pemeriksaan dan investigasi tim dinas dan Balai Besar Veteriner Wates, 6 (enam) kasus adalah akibat Antraks, sedangkan sisanya bukan merupakan kasus Antraks. Kematian ternak ini lebih banyak disebabkan oleh keracunan akibat pakan, pneumonia, kecelakaan, dan beberapa penyebab lain.

Untuk pengendalian Antraks di Gunung Kidul, dijelaskan bahwa semua titik kasus di dusun tertular sudah dilakukan desinfeksi, dan sebanyak 2695 ekor sapi dan 6295 ekor kambing telah diberikan antibiotik dan vitamin. Adapun kegiatan vaksinasi masih terus dilanjutkan sesuai jadwal dan telah mencapai 446 ekor sapi dan 1096 kambing.

Pelaksanaan pengendalian lain yang dilakukan adalah pengawasan lalu lintas serta penguatan koordinasi dan kerjasama lintas sektor, khususnya antara kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat dengan pendekatan one health mengingat Antraks merupakan zoonosis, yakni penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia. Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, I Ketut Diarmita melalui pesannya kepada Direktur Kesehatan Hewan menyampaikan bahwa penyakit Antraks adalah penyakit yang dapat dikendalikan melalui vaksinasi yang rutin dan terencana. Untuk itu program vaksinasi menjadi prioritas yang harus dilakukan oleh dinas peternakan setempat.

"Saat ini sudah tidak ada lagi kasus Antraks pada hewan, dan masyarakat yang diduga tertular Antraks sudah diobati dan sembuh," tambahnya.

Sementara itu Ketua Komisi IV DPR RI, Sudin meminta agar Kementan dapat membantu mengurangi dampai sosial dari kasus Antraks ini, dengan cara memberikan bantuan ternak bagi masyarakat yang ternaknya mati, serta memberikan fasilitasi pembangunan rumah potong hewan (RPH) untuk memastikan pengawasan pemotongan ternak bisa berjalan baik.

Hal tersebut disambut baik oleh Ali Jamil, Kepala Badan Karantina Pertanian sebagai ketua rombongan Kementan, dan Fadjar Sumping Tjatur Rasa, Direktur Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) yang menyampaikan bahwa pada prinsipnya hal tersebut dapat difasilitasi dengan pengajuan proposal dari pemda.

Lebih lanjut Fadjar menjelaskan bahwa Kementan telah memberikan bantuan langsung untuk pengendalian Antraks di Gunung Kidul ini, baik berupa pendampingan Balai Besar Veteriner Wates (BBVet Wates) dalam investigasi dan pemeriksaan sampel, maupun bantuan berupa 5000 dosis vaksin, 80 liter disinfektan, 232 botol antibiotik, 24 botol vitamin, 15 unit sprayer, dan 50 paket alat pelindung diri (APD/PPE) langsung dari Ditjen PKH.

Fadjar juga menegaskan pentingnya kerjasama antara kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat dalam kerangka one health untuk pengendalian Antraks. Ia mengambil contoh sudah berjalannya kerjasama surveilans antara BBVet Wates, Kementan dengan Balai Besar Teknik Kesehatan
Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP), Kemenkes. Menurutnya di Gunung Kidul, aspek-aspek teknis pengendalian yang sudah dijalankan dengan baik.

Adapun hal lain yang menjadi perhatian dalam diskusi adalah terkait pentingnya sosialisasi terus menerus kepada masyarakat tentang Antraks dan tindakan pencegahannya melalui vaksinasi yang rutin.

Mengakhiri diskusi, Bupati Gunung Kidul menyampaikan bahwa ke depan, Pemda akan fokus pada upaya penguatan komunikasi, informasi, dan edukasi terus menerus kepada masyarakat, pengawasan lalu lintas antar wilayah, penutupan desa tertular agar ternak sakit tidak keluar, serta pembangunan rumah potong hewan.

"Kita juga akan terus melakukan pembinaan bagi para jagal agar tidak memotong hewan yang sakit, guna melindungi kesehatan masyarakat," pungkasnya. (Rilis Kementan)

KELELAWAR BUAH BERPOTENSI JADI PENYEBAR VIRUS CORONA DI INDONESIA

Konsumsi Daging Kelelawar, Faktor Risiko Penularan Virus Corona


Ahli patologi Fakultas Kedokteran Hewan IPB University, Prof Drh Agus Setiyono MS, PhD, APVet, menilai virus corona berpeluang menyebar di wilayah Indonesia lewat kelelawar pemakan buah. Kesimpulan tersebut berdasarkan hasil penelitian Prof Agus bersama Research Center for Zoonosis Control (RCZC), Hokkaido University, Jepang, tentang kelelawar buah. Dalam penelitian tersebut ditemukan enam jenis virus baru pada kelelawar buah dengan daerah sampel yaitu Bukittinggi, Bogor, Panjalu (Ciamis), Gorontalo, Manado, dan Soppeng (Sulawesi Selatan).

Enam virus tersebut adalah coronavirus, bufavirus, polyomavirus, alphaherpesvirus, paramyxovirus, dan gammaherpesvirus. Menurut Prof Agus, mengonsumsi kelelawar buah dapat berisiko terpapar virus corona bila preparasi kelelawar menjadi bahan makanan dilakukan secara kurang tepat. Virus corona dapat berada di dalam tubuh kelelawar tanpa menimbulkan persoalan medis bagi kelelawar dan virus ini tidak secara khusus hidup di dalam kelelawar buah. “Hewan lain juga memiliki kemungkinan menjadi induk semang virus ini,” ungkap Prof Drh Agus.

Ia menilai letak geografis kelelawar buah tidak menjadi penentu penyebaran virus karena virus ini secara umum terdapat pada kelelawar buah di mana pun berada. Prof Agus menilai penyebaran corona virus dari kelelawar buah di Indonesia terinfeksi virus corona. Menurut dia, kelelawar terbang sangat jauh dan dapat berpindah tempat tinggal (habitat) mengikuti musim buah sebagai makanan pokoknya. “Kelelawar memiliki sistem imun yang unik. Ada berbagai virus yang berdiam dalam tubuhnya dan bukan hanya virus corona, tapi banyak lagi patogen yang berpotensi zoonosis (penyakit yang secara alami dapat menular dari hewan vertebrata ke manusia atau sebaliknya). Dan hal ini tidak 'dihalau' sebagai benda asing oleh kelelawar,” terang Prof Agus.

Coronavirus atau virus corona muncul di Wuhan, China, pada awal tahun 2020. Virus jenis baru ini telah menewaskan 80 orang dan telah menyebar ke berbagai negara. Spekulasi ataupun dugaan bermunculan mengenai penyebab asal virus tersebut. Salah satunya berasal dari sup kelelawar, sebuah makanan populer di Wuhan.

Prof Agus memberikan saran untuk dapat melakukan pencegahan terhadap serangan virus corona, yakni tidak bersentuhan dengan kelelawar, baik langsung maupun tidak langsung. Kedua, tidak memakan buah sisa masak pohon yang digerogoti kelelawar, meskipun biasanya ini yang paling manis.

Ketiga, sebaiknya bagi sebagian masyarakat dengan budaya mengonsumsi sayur atau lauk dari kelelawar mulai mempertimbangkan kembali untuk melanjutkan mengonsumsi kelelawar. “Masih banyak pangan fungsional yang baik dan menyehatkan,” tutupnya (CR).




LOWONGAN KERJA STAF MARKETING PT GALLUS INDONESIA UTAMA




PT Gallus Indonesia Utama ada perusahaan yang didirikan oleh Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI). Bergerak di bidang penerbitan majalah dan buku-buku peternakan, event organizer dan konsultan peternakan dan kesehatan hewan. Memiliki 5 divisi yakni divisi penerbit Majalah Infovet (majalah.infovet.com), divisi Majalah Akuakultur dan Cat&Dog, divisi penerbit buku Gita Pustaka (jurnalpeternakan.com), divisi Gita Organizer dan divisi Gita Consultant).

STAF MARKETING


Responsibilities:

•    Penjualan iklan dan majalah
•    Promosi dan distribusi


Requirements:

Minimal D3 semua Jurusan, atau S1 Peternakan, Perikanan atau Dokter Hewan.
Mencintai dunia peternakan, perikanan, dan kesehatan hewan
Diutamakan punya kemampuan menulis artikel.
Tinggal di wilayah Jakarta Selatan atau tidak jauh dari kawasan Pasar Minggu


Kirim lamaran beserta pas foto email ke:
gallusindonesiautama@gmail.com


(Paling lambat 14 Februari 2020)



INDONESIA INTERNATIONAL POULTRY CONFERENCE (IIPC) AKAN DIGELAR DI KOTA SOLO

Kota Solo Jawa Tengah akan menjadi tuan rumah acara Indonesia International Poultry Conference (IIPC) yang akan berlangsung tanggal 2-4 April 2020. Acara mengangkat tema Poultry Health Management & Technology in AGP Free Era, menghadirkan sejumlah narasumber yang kompeten dari dalam dan luar negeri. Narasumber international antara lain Dr. Luuk Schoonman (FAO), sedangkan narasumber dalam negeri antara lain Prof Dr Charles Rangga Tabbu (UGM), Prof. I Wayan Teguh Wibawan (IPB), Dr. Michael Haryadi (UGM), Dr. NLP Indi Dharmayanti (Bbalitvet). Sejumlah expert dari kalangan perusahaan nasional dan multinasional juga akan hadir di event ini.

Direncanakan pada hari pertama peserta akan diajak welcome dinner bersama Walikota Solo, pada hari kedua ada kunjungan ke Keraton Surakarta. kemudian pada hari ketiga peserta akan diajak city tour Kota Solo dengan mengendarai delman (kereta kuda).

Event ini diharapkan mendapat kesan tersendiri bagi peserta berupa seminar bertaraf internasional serta event pendukung dan agenda wisata di Kota Solo yang penuh dengan suasana khas dan bersejarah

Biaya pendaftaran Rp. 5.000.000 (lima juta rupiah) per orang sudah termasuk menginap di hotel (twin), dan Rp. 6.000.000 (enam juta rupiah) per orang, sudah termasuk biaya menginap  (single)

Acara ini diselenggarakan oleh IIPC Commitee yang merupakan gabungan dari tim GITA Organizer dan Majalah Infovet didukung oleh sejumlah tim yang berpengalaman dalam menyelenggarakan event international.

Pendaftaran online klik di http://bit.ly/IIPC2020FORM

BERSAHABAT DENGAN IKLIM DAN CUACA AGAR PERFORMA TETAP TERJAGA

Pakan dan air minum harus dijaga kualitasnya. (Foto: Istimewa)

Tidak bisa dipungkiri, iklim dan cuaca merupakan faktor yang juga mempengaruhi budidaya peternakan terutama unggas. Bagaimanapun juga, peternak Indonesia harus dapat mengatasi kondisi iklim yang belakangan ini cukup ekstrem.

Ada sedikit cerita menarik mengenai iklim dan cuaca, alkisah di Negeri Tirai Bambu pada masa sebelum zaman tiga kerajaan terjadilah peperangan yang disebut Battle of Chibi. Singkat cerita, pihak Cao-Cao dengan armada besar dipukul mundur oleh aliansi Sun Quan dan Liu Bei dengan jumlah pasukan yang lebih sedikit. Hal ini diakibatkan karena pasukan Cao-Cao tidak cakap dalam memprediksi cuaca dan iklim yang sebaliknya dimanfaatkan oleh pasukan aliansi, sehingga mereka dapat dikalahkan.

Dari cerita tersebut, tentunya dapat menjadi inspirasi bahwasanya siapa yang dapat memprediksi, mengatasi, atau bahkan bersahabat dengan iklim dan cuaca akan mendapatkan hasil yang baik, begitu pula dengan beternak. Sudah menjadi bagian dari takdir bahwa Negara ini beriklim tropis dengan dua musim, suka atau tidak peternak harus bisa hidup dan bersahabat dengan kondisi tersebut.

Pengaruh Cuaca Panas
Beberapa tahun belakangan ini, Badan Meterologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa Indonesia mengalami musim kemarau panjang di 2019, hal ini terjadi karena rendahnya suhu permukaan laut daripada suhu normalnya yang berkisar antara 26-27 °C di wilayah perairan Indonesia bagian Selatan dan Barat. Imbasnya pembentukan awan berkurang di beberapa wilayah Indonesia. Berkurangnya pembentukan awan akan mengakibatkan kekeringan yang berdampak pada ketersediaan air bersih serta suhu panas.

Namun begitu, pada penghujung 2019 cuaca berubah, hujan mulai turun dengan curah hujan yang sangat tinggi. Selain itu, tingginya curah hujan mengakibatkan banjir di beberapa wilayah Indonesia disertai dengan perubahan suhu ekstrem. Tentunya ini menjadi tantangan bagi peternak, karena ternak terutama unggas modern akan sangat mudah stres karena faktor cuaca.

Menurut peneliti dan praktisi perunggasan dari HAS University Belanda, Lenny Van Erp, bahwa cuaca dan iklim... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Januari 2020. (CR)

KEMENTAN SIAGA MUNCULNYA PENULARAN VIRUS CORONA BARU

Kementan siaga kemunculan virus Corona (Foto: Dok. Kementan) 



Menindaklanjuti laporan kasus pneumonia (radang paru-paru) berat di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok beberapa waktu yang lalu, dan kemudian dikonfirmasi sebagai infeksi Coronavirus jenis baru (2019-nCoV), Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) menyampaikan perlunya langkah-langkah kewaspadaan di Indonesia.

"Kita harus terus waspada, karena berdasarkan data WHO sampai tanggal 28 Januari 2020, telah dikonfirmasi sebanyak 4593 orang terinfeksi virus ini, dan 106 di antara meninggal dunia," ungkap I Ketut Diarmita, Dirjen PKH di Jakarta, 29/01/2020. Selain Tiongkok tambahnya, infeksi 2019-nCoV ini telah dilaporkan di 14 negara yakni Thailand, Singapura, Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, Vietnam, Malaysia, Nepal, Australia, Perancis, Jerman, Srilangka, Kamboja, dan Kanada.

Dijelaskan Ketut, analisa genetik dari virus ini menunjukkan adanya kedekatan kekerabatan dengan Coronavirus yang ditemukan pada kelelawar. Namun demikian, Ia menegaskan bahwa masih perlu investigasi lebih lanjut untuk dapat mengkonfirmasi bahwa hewan menjadi sumber penularan ke manusia.

"Sampai dengan saat ini, rute penularan yang dianggap paling berisiko adalah penularan dari manusia ke manusia," tambahnya.

Lebih lanjut Ketut menjelaskan bahwa berdasarkan hasil investigasi sementara menunjukkan hasil analisa genetik virus 2019-nCoV memiliki kedekatan dengan penyebab penyakit pernafasan yang sebelumnya mewabah yaitu SARS (severe acute respiratory syndrome) dan MERS-CoV (Middle East respiratory syndrome-related coronavirus).

"Sehingga perlu diwaspadai adanya indikasi bahwa penyakit ini berpotensi zoonosis, yaitu penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia," ucapnya.

Oleh karena itu, Ia menyampaikan beberapa langkah penting dari aspek kesehatan hewan di Indonesia sebagai kewaspadaan dini terhadap ancaman virus ini, yaitu agar setiap orang segera melapor jika terjadi peningkatan kasus penyakit pada hewan dan satwa liar, terutama jika berkaitan dengan adanya dugaan kasus 2019-nCoV pada manusia.

Ketut meminta agar unit pelaksana teknis (UPT) Kementan yaitu Balai Veteriner di seluruh Indonesia untuk melakukan investigasi terhadap laporan kasus penyakit pada hewan dan satwa liar yang berkaitan dengan kasus dugaan infeksi 2019-nCoV pada manusia.

Menurutnya selama ini Balai Veteriner sudah memiliki kemampuan untuk deteksi virus-virus yang baru muncul seperti Coronavirus, karena secara aktif telah bekerjasama dengan sektor kesehatan dan satwa liar dalam melakukan surveilans di satwa liar yang kontak dengan ternak dan manusia melalui pendekatan one health. Kegiatan ini didukung oleh FAO melalui fasilitasi dari USAID.

"Saya juga sudah perintahkan juga agar jajaran di sektor kesehatan hewan untuk berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan dan Otoritas yang menangani satwa liar setempat terutama jika ada laporan kasus yang menunjukan gejala klinis pneumonia pada manusia," imbuhnya.

Dirjen PKH kemudian menekankan pentingnya Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) pada kelompok risiko tinggi seperti dokter hewan, paramedik, peternak, pedagang dan pemilik hewan yang menangani hewan hidup dan produknya, terutama satwa liar, dengan pesan kunci kemungkinan penularan 2019-nCoV dari hewan dan satwa liar kepada manusia dan cara pencegahannya.

"Ada banyak cara sederhana yang dapat dilakukan untuk pencegahan, antara lain dengan memperhatikan hygiene personal, seperti mencuci tangan dengan sabun dan penggunaan alat pelindung diri (APD) setiap kali kontak dengan hewan dan produknya," ujarnya.

Menurut Ketut, tak kalah penting adalah melaksanakan manajemen risiko terhadap pemasukan hewan dan produk hewan di tempat pemasukan dan berkoordinasi dengan Karantina Pertanian setempat. (Rilis Kementan)

TANTANGAN BUDIDAYA BROILER MODERN DI MUSIM PENGHUJAN PASCA FREE AGP

Budidaya broiler modern semakin menuntut kelengkapan dan keseimbangan nutrisi pakan dan juga kenyamanan dalam tata laksana pemeliharaannya. (Foto: Dok. Infovet)

Awal 2018 adalah babak baru industri peternakan Indonesia dalam suatu upaya besar mewujudkan produk peternakan (daging, susu dan telur) yang rendah/minimal residu antibiotik.

Pemerintah telah mengeluarkan regulasi pelarangan penggunaan antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan (growth promotor), artinya sudah dua tahun peraturan tersebut diberlakukan, dimonitor dan terus digalakkan agar bisa diimplementasikan dengan baik.

Bahkan baru-baru ini, penggunaan beberapa antibiotik sudah diwacanakan tidak diperbolahkan lagi digunakan di dunia peternakan, baik sebagai imbuhan pakan maupun diberikan melalui injeksi, atau per oral (termasuk lewat air minum). Tinggal menunggu pengumuman resmi dari pihak terkait saja, setelah kajian yang komperhensif dilakukan.

Di sisi lain, tantangan cuaca tidak mudah. Waktu telah berubah, musim telah berganti. Memasuki musim penghujan sama saja dihadapkan pada tantangan penyakit yang sangat berpotensi menggerogoti stamina ayam. Pada saat yang sama pula, potensi genetik ayam broiler modern benar-benar terus “dieksploitasi” sedemikian rupa agar bisa menampilkan ekspresi fenotipe performa terbaiknya. Dipicu untuk tumbuh super cepat secara genetik, dimana tindakan tersebut memberikan konsekuensi yang tidak mudah dalam hal menjaga keseimbangan dan kelengkapan nutrisi pada pakan, menjaga kenyamanan dalam tata kelola pemeliharaan dan meminimalisir dampak negatif dari percepatan pertumbuhannya.

Terkait dengan semua hal tersebut, tulisan ini akan mengupas lebih detail mengenai tantangan budidaya broiler modern di musim hujan pasca bebas AGP (Antibiotic Growth Promotor).

Musim Penghujan dan Tantangan Pertumbuhan
Mundurnya musim hujan kali ini sudah dikonfirmasi ulang oleh BMKG (Badan Meteorologi Klomatologi dan Geofisika), dimana awal musim hujan yang sebelumnya diprediksi terjadi pada November 2019, ternyata mengalami kemunduran menjadi Desember 2019 dengan frekuensi hujan yang bervariasi dan intensitas lemah. Puncak musim hujan akan berlangsung mulai Februari 2020 di wilayah DKI Jakarta. Sementara, puncak musim hujan di wilayah Jawa, Bali, NTB dan NTT diprediksi bakal terjadi pada Februari dan Maret 2020. Sedangkan di wilayah Sumatra sudah terlebih dulu mengalami puncak musim hujan. Contohnya, di beberapa tempat di Sumatra Barat dan Sumatra Utara sudah terdapat laporan banjir dan longsor.

Pada saat musim penghujan, ada beberapa konsekuensi logis yang mustinya disiapkan lebih dini dalam menjalankan aktivitas budidaya broiler modern di kandang, diantaranya... (Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Januari 2020)

Eko Prasetio, DVM
Private Commercial Broiler Farm Consultant

MENILAI DAMPAK PETERNAKAN SAPI BAGI LINGKUNGAN

Para pembicara dan moderator dalam diskusi mengenai dampak peternakan sapi bagi lingkungan mendapat cinderamata. (Foto: Infovet/Ridwan)

Menurut para peneliti, industri peternakan sapi turut menyumbang 65% emisi gas rumah kaca. Ternak ruminansia (sapi, kambing, domba) tersebut menghasilkan gas metana yang dikeluarkan melalui sendawa, gas buang dan kotorannya.

Sebagaimana dikutip dari tulisan berjudul “Animal Agriculture’s Impact on Climate Change,” gas metana menyumbang 16% dari total efek pemanasan global. Potensi pemanasan global mencapai 28 hingga 36 kali lipat yang berujung pada prduksi karbon dioksida.

Ketika dampak perubahan iklim semakin mengkhawatirkan, gerakan mengurangi pangan berbahan daging menjadi populer. Para aktivis lingkungan mendesak masyarakat untuk mengurangi makan daging untuk menyelamatkan lingkungan. Beberapa aktivis telah menyerukan pemberlakuan pajak atas daging untuk mengurangi konsumsi daging.

Pada 2006, Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), menerbitkan penelitian berjudul “Livestock’s Long Shadow,” yang mendapat perhatian luas secara global. Disebutkan bahwa ternak memberikan kontribusi sebesar 18% emisi gas rumah kaca dunia. Hal itu mendorong tiap negara untuk memiliki kebijakan yang fokus pada masalah degradasi lahan, perubahan iklim dan polusi udara, kekurangan air dan polusinya, serta berkurangnya biodiversitas.

Memperhatikan permasalahan tersebut, Northern Territory Cattlemen's Association (NTCA) dan Red Meat and Cattle Partnership, bekerja sama dengan Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI), mengadakan seminar bertajuk “Dampak Peternakan Sapi Bagi Lingkungan,” Senin (27/1/2020) di Jakarta.

Menurut Ketua Umum ISPI, yang diwakili oleh Dewan Pertimbangan Organisasi ISPI, Joni Liano, mengatakan bahwa tema tersebut menjadi isu yang sangat serius dan harus dipelajari lebih mendalam.

“Nantinya hal itu bisa ditindaklanjuti melalui penelitian, serta implementasi lapangan. Dengan begitu bisa memajukan peternak dan mensejahterakan ternak di Indonesia,” kata Joni saat menjadi keynote speech.

Sementara Pebi Purwosuseno, mewakili Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, menyatakan pembahasan yang diangkat sangat relevan dengan situasi pembangunan peternakan dan kondisi lingkungan secara global saat ini.

“Kita ketahui bahwa sektor peternakan muncul sebagai salah satu kontributor bagi masalah lingkungan. Temuan ini mendorong setiap negara untuk memiliki kebijakan yang fokus pada masalah degradasi lahan, perubahan iklim dan polusi udara, kekurangan air dan polusinya, serta berkurangnya biodiversitas,” kata Pebi.

Lebih lanjut dikatakan, dengan memperhatikan permasalahan tersebut dan mempertimbangkan pentingnya peternakan bagi masyarakat, semua pelaku maupun stakeholder peternakan dituntut jeli dan berhati-hati dalam menentukan sikap.

“Kita harus secara jeli dan berhati-hati mengambil sikap terkait kondisi ini. Masalah akibat sektor peternakan di Indonesia mungkin tidak semasif di negara-negara yang sektor peternakannya jauh lebih besar dan maju. Namun langkah-langkah pengoptimalan seperti lahan, pakan, pengelolaan limbah dan biogas, terus dilakukan pemerintah,” tukasnya.

Dalam kegiatan tersebut, penyelenggara juga turut mengundang beberapa narasumber yang kompeten dibidangnya, diantaranya Ashley Manicaros (CEO NTCA), Dr Parjono (Fapet UGM), Kieran Mc Cooskeed (Department Primary Industry, Northern Teritorry Government) dan M. Pribadie Nugraha (Meat & Livestock Australia/MLA). (RBS)

ANTISIPASI PENYEBARAN PENYAKIT ASF, KEMENTAN LATIH PETUGAS 17 PROVINSI

Pelatihan petugas kesehatan hewan (Foto: Dok. Kementan)


Mengantisipasi kemungkinan penyebaran penyakit Demam Babi Afrika atau African Swine Fever (ASF), Kementan berikan pelatihan petugas kesehatan hewan dari 17 provinsi yang memiliki populasi babi tinggi dan mempunyai risiko terkena ASF.

"Setelah kasus ASF di Sumut merebak, kita perlu tingkatkan kewaspadaan dan kapasitas SDM untuk daerah-daerah lain, sehingga dapat dilakukan aksi pencegahan masuknya penyakit, serta deteksi, pelaporan, dan respon cepat apabila penyakitnya masuk," ujar I Ketut Diarmita, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementan di Jakarta (23/01/2020).

Lebih lanjut, Ketut mengatakan bahwa Kementan telah memiliki Pedoman Kesiapsiagaan Darurat Veteriner Indonesia (Kiatvetindo) untuk ASF yang berisi langkah-langkah pencegahan, pengendalian, dan pemberantasan penyakit. Di dalamnya terdapat empat tahapan pengendalian dan penanggulangan apabila terjadi kasus ASF yakni Tahap Investigasi, Tahap Siaga, Tahap Operasional, dan Tahap Pemulihan.

"Pedoman ini yang menjadi bahan dasar modul pelatihan Training of Master Trainers yang dilakukan," tambah Ketut.

Terkait kegiatan tersebut, Direktur Kesehatan Hewan, Fadjar Sumping Tjatur Rasa mengatakan bahwa ini adalah langkah yang dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan kejadian ASF di provinsi lain di Indonesia.

"Saat ini kita latih dulu petugas sebagai master trainer dari 17 provinsi, 8 balai veteriner, dan juga beberapa kabupaten. Harapannya mereka nanti dapat melatih lebih banyak petugas kesehatan hewan di wilayahnya masing-masing,” ujarnya.

Fadjar juga menjelaskan bahwa materi yang disiapkan mencakup pengenalan tugas dan fungsi petugas kesehatan hewan dalam pencegahan dan pengendalian ASF, pengetahuan dasar tentang ASF, manajemen penanganan kasus, pengambilan sampel, handling dan restrain babi, biosekuriti dan biosafety, disposal, sampai pada pelaporan dan public awareness. (Rilis Kementan)



HASIL UJI LABORATORIUM NYATAKAN PURWAKARTA BEBAS ANTRAKS

Sapi Purwakarta bebas Antraks (Foto: Antara)

Hasil uji laboratorium terhadap sampel hewan ternak di Kabupaten Purwakarta menunjukkan tidak ada indikasi penyakit Antraks.

Meski demikian, pemerintah daerah setempat tetap mewaspadai penyakit tersebut.

"Dari 13 sampel hewan yang diuji di laboratorium di Subang hasilnya negatif semua (tidak terjangkit antraks)," kata Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Purwakarta Budi Supriyadi, Kamis, 23 Januari 2020.

Selain melakukan pengujian di laboratorium, dinas terkait juga terus melakukan vaksinasi antraks kepada hewan ternak milik warga lokal.

Penyuntikan vaksin dilakukan selama Desember 2019 hingga Januari 2020.

Program tersebut akan dilaksanakan kembali beberapa bulan kemudian.

"Sekitar Mei 2020 kita lakukan lagi vaksinasi kepada hewan-hewan ternak di Purwakarta untuk mengantisipasi penyakit antraks ini," kata Budi.

Adapun pengujian sampel hewan yang diperjualbelikan, ia memastikan akan melakukannya secara rutin hingga batas waktu yang belum ditentukan. (Sumber: pikiran-rakyat.com)

INDONESIA SIAP KEMBANGKAN VAKSIN ASF

Rapat koordinasi tim pakar pengembangan vaksin ASF di Surabaya. (Foto: Humas PKH)

Sejak mewabahnya kasus African Swine Fever (ASF) akhir 2019 kemarin di wilayah Sumatera Utara, Kementerian Pertanian (Kementan) telah melakukan langkah-langkah strategis untuk pencegahan dan pengendalian, salah satu langkah jangka panjang adalah pengembangan vaksin ASF. 

“Saat ini belum ada vaksin ASF yang efektif tersedia untuk pencegahan penyakit ini, sehingga saya minta 12 pakar kesehatan hewan Indonesia dari Universitas Udayana, Universitas Airlangga, Institut Pertanian Bogor, Universitas Brawijaya dan Universitas Gadjah Mada Unibraw, serta unit teknis di Kementan untuk segera mengembangkan vaksin ASF,” kata Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), Kementan, I Ketut Diarmita.

Dalam keterangan tertulisnya, Ketut mengungkapkan bahwa virus penyebab ASF ini sulit diatasi karena bisa tahan lama di dalam produk maupun lingkungan. Pelaksanaan strategi pengendalian dengan pengawasan lalu lintas, desinfeksi, disposal dan biosekuriti saat ini masih belum cukup menekan penyebaran ASF.

“Pengembangan vaksin ASF ini diharapkan akan memberikan solusi ke depan untuk pencegahan penyakit,” tambah Ketut. 

Sementara, Kepala Pusat Veteriner Farma (Pusvetma), Agung Suganda, yang merupakan unit pelaksana teknis (UPT) di bawah Ditjen PKH, menyatakan kesiapannya untuk mengawal dan memfasilitasi pengembangan vaksin ASF. Hal itu disampaikan pada saat membuka Rapat Koordinasi Tim Pakar Pengembangan Vaksin ASF mewakili Dirjen PKH di Surabaya, Kamis (23/01/2020).

Dalam kesempatan yang sama, Prof IGN Kade Mahardika, salah satu pakar dari Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, menyampaikan bahwa pembuatan vaksin ASF sangat kompleks, karena saat ini penelitian dasar mengenai itu belum mencukupi.

Ia menjelaskan, karakteristik biologis virus ASF sangat kompleks dengan genom yang besar dan setengah protein virusnya tidak diketahui fungsinya. Begitu pula dengan mekanisme perlindungan terhadap ASF yang belum banyak diketahui. 

Lebih lanjut dikatakan, kendala pengembangan vaksin ASF yang selama ini berjalan karena penelitian tentang virus hidup ASF dibatasi hanya di laboratorium dengan tingkat biosekuriti tinggi, kurangnya model hewan kecil yang tepat dan ekonomis untuk percobaan, serta beberapa kendala teknis lainnya. 

“Oleh karena itu, kami mengembangkan vaksin ASF berbasis teknologi DNA rekombinan pada prokariota dengan sistem chaperone kombinasi protein struktural dan non-struktural yang aman dan dapat diproduksi cepat. Prosesnya sudah kita laksanakan dan saat ini master seed sudah siap untuk dibuatkan prototipenya di Pusvetma,” ucap dia.

Menyambut hal itu, Agung Suganda langsung menyatakan kesiapannya untuk segera membuat prototipe vaksin ASF rekombinan tersebut. “Ini sesuai arahan Pak Menteri Pertanian dan Dirjen PKH, yang mengharapkan agar produksi vaksin segera dilakukan dan segera dapat digunakan untuk mencegah penyebaran ASF di Indonesia,” tukas Agus. (INF)

BELASAN BABI MATI MENDADAK DI KABUPATEN GIANYAR

Babi, salah satu komoditi peternakan andalan Pulau Dewata

Kejadian babi mati mendadak terjadi kembali, kali ini giliran Kabupaten Gianyar yang harus menerima kenyataan tersebut. Berdasarkan laporan dari Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Gianyar, tercatat 19 eokr babi mati mendadak. Babi yang mati mendadak tersebar di 4 lokasi. Untuk memastikan penyebab kematian, Distan Gianyar sedang meneliti sampel bangkai babi yang telah dikubur.
Menurut Kabid Kesehatan Hewan dan Kesmavet Distan Gianyar Drh Made Santi Arka Wijaya, sebaran babi mati terbanyak di Kecamatan Payangan. "Di Payangan ada 3 titik. Di Desa Klusa, Bukian,dan Ponggang Puhu. Satu titik lainnya di (Kecamatan) Sukawati di Banjar Abasan, Desa Singapadu Tengah," ujarnya.
Mengenai babi yang mati mendadak, pihaknya langsung terjun ke lokasi kandang. "Setelah dilakukan tindakan desinfeksi, kasus kematian mendadak tidak berlanjut, kami juga mengambil sampel untuk diperiksa di lab," jelas Santi. Kini sampel bangkai babi dibawa ke BBVet Denpasar. "Kami belum dapat kabar (hasil lab). Tapi kami sudah berkoordinasi dengan BBVet Denpasar untuk terkait sampel yang kami berikan kesana," bebernya.
Pihak Distan memperkirakan, wabah Babi mati ini tidak berkaitan dengan virus Afrian Swine Fever (ASF) alias demam babi Afrika. "Kalau dilihat dari angka kematian relatif rendah, kemungkinan bukan terserang ASF, tetapi nanti kita lihat saja hasil uji lab," tegasnya. Selain melakukan desinfeksi, pihaknya juga melakukan upaya memperketat biosekuriti.
"Kami akan lakukan sosialisasi pada daerah yang banyak mengalami kasus kematian mendadak dan yang masih aman, untuk sama-sama kita perketat lalu-lintas babi," kata Santi. Disamping itu, perlu pengawasan bersama terkait jual-beli babi. "Orang-orang yang berpotensi pembawa virus juga disosialisasikan," imbuhnya.
Santi menjelaskan, para pembeli atau tengkulak babi juga berpotensi membawa virus dari satu kandang ke kandang lain. "Kita sepakat di seluruh Bali untuk memperketat keluarnya babi dari daerah kasus. Sebab tukang juk (tukang tangkap) babi, tumpung atau bangsung dan lain-lain peralatannya itu berpotensi sekali sebagai penyebar," terangnya.
Diakui, Gianyar tumbuh berjamuran usaha kuliner babi guling. Maka dia berharap para pedagang maupun tukang juk ini memperhatikan kebersihan babi. "Peralatannya seperti tumpung, mobil angkut, tukang juk dan lainnya harus bersih," pungkasnya. (CR)


ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer