MERIAHKAN HUT KE-27 PT TEKAD MANDIRI CITRA, LAKUKAN AKSI AMAL DAN SIAPKAN LANGKAH MENUJU PASAR GLOBAL
PETERNAK UNGGAS INGGRIS DIDESAK UNTUK MEMANTAU SUHU DI KANDANG KETIKA GELOMBANG PANAS TERUS BERLANJUT
Persatuan Petani Nasional (NFU) mendesak semua peternak unggas Inggris untuk memantau kondisi lingkungan di kandang unggas dan selama persiapan transportasi sebagai bagian dari prosedur manajemen rutin mereka, mengingat prakiraan cuaca panas saat ini.
Banyak wilayah di Inggris yang mengalami peningkatan suhu hingga di atas 30°C, sehingga Badan Keamanan Kesehatan Inggris mengeluarkan peringatan kesehatan terkait cuaca panas di sebagian besar negara tersebut. Panduan khusus Pemerintah Inggris tersedia untuk diikuti oleh produsen selama cuaca panas, dan peraturan kesejahteraan unggas merekomendasikan untuk berkonsultasi dengan sumber daya pemerintah ini.
Penasihat Senior Kedokteran Hewan NFU, Claire White, menekankan bahwa sangat penting bagi semua produsen unggas untuk memastikan sistem ventilasi mereka berfungsi dengan baik dan, jika dipasang, lubang pophole digunakan sepenuhnya untuk meningkatkan aliran udara.
"Penggunaan sistem kabut jika memungkinkan dapat membantu mengurangi suhu di dalam kandang unggas, namun sistem ini harus dipantau untuk memastikan kelembapan tidak meningkat. Produsen harus mewaspadai tanda-tanda awal tekanan panas, yang meliputi kelesuan, pernapasan dengan mulut terbuka, dan menjauhkan sayap dari tubuh," katanya.
White mencatat bahwa, jika tidak dikelola, tekanan panas dapat dengan cepat berkembang menjadi kelemahan dan kematian. "Stres panas juga akan berdampak pada produktivitas melalui berkurangnya konsumsi pakan, yang dapat mempengaruhi tingkat pertumbuhan dan produksi telur. Produsen harus mewaspadai bau amonia yang meningkat dan memastikan meteran berfungsi dengan baik. Unggas yang terkena kadar amonia tinggi mungkin tampak mengantuk dan lesu."
AFGHANISTAN MENUJU SWASEMBADA DAGING UNGGAS DAN TELUR
Pihak berwenang Afghanistan berupaya mempercepat pengembangan industri unggas negara itu dengan mempercepat alokasi lahan pertanian kepada investor, karena para pejabat mengatakan sektor ini terus berkembang.
Perwakilan Kamar Pertanian dan Peternakan Afghanistan mengatakan transfer lahan yang lebih cepat kepada investor unggas dapat membantu negara itu mencapai swasembada produksi daging ayam dalam waktu dekat.
Dalam pernyataan yang disebarkan melalui media lokal, para pejabat dari Kementerian Pertanian, Irigasi, dan Peternakan mengatakan industri unggas telah mengalami pertumbuhan yang stabil dalam beberapa tahun terakhir, didukung oleh investasi swasta yang signifikan.
Menurut kementerian, kapasitas produksi domestik telah meningkat secara substansial di seluruh daging ayam, telur konsumsi, pakan unggas, dan anak ayam umur sehari, dengan pertumbuhan lebih lanjut sedang berlangsung. Pengembangan sektor yang berkelanjutan dapat memainkan peran penting dalam memenuhi permintaan domestik sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor.
Sedikit informasi yang dapat diandalkan telah dipublikasikan tentang keadaan industri unggas Afghanistan sejak Taliban kembali berkuasa. Sekitar 14.000 peternakan unggas saat ini beroperasi di seluruh Afghanistan, menyediakan lapangan kerja langsung bagi sekitar 100.000 orang dan lapangan kerja tidak langsung bagi 300.000 orang lainnya. Otoritas Afghanistan mengatakan negara itu mendekati swasembada daging unggas dan pakan unggas, meskipun mereka belum mengungkapkan angka-angka rinci.
Menurut Universitas Ilmu dan Teknologi Pertanian Nasional Afghanistan, negara itu memproduksi sekitar 219.000 ton daging unggas per tahun, sementara permintaan tahunan diperkirakan sekitar 295.000 ton. Ketersediaan daging unggas domestik saat ini hanya mencakup sekitar 46% dari asupan per kapita yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia.
Para peneliti mengatakan perkembangan industri ini terus dibatasi oleh berbagai tantangan, termasuk praktik pertanian tradisional, infrastruktur yang tidak memadai, keahlian teknis yang terbatas, wabah penyakit, penggunaan agen antimikroba yang tidak terkontrol, dan input produksi berkualitas rendah.
Terlepas dari tantangan-tantangan ini, para peneliti di universitas tersebut memperkirakan bahwa produksi unggas akan tumbuh rata-rata 13% per tahun selama beberapa tahun ke depan, melampaui 400.000 ton pada tahun 2030.
BBPMSOH GELAR WEBINAR KULTUR SEL, TEKNOLOGI STRATEGIS MENJAWAB TANTANGAN KESEHATAN HEWAN
![]() |
| Drh Anik Winanningrum MSi, Kepala Bagian Umum BBPMSOH (keempat dari kiri) bersama Tim Pelaksana webinar. (Foto-foto: Dok. BBPMSOH) |
Menyemarakkan HUT ke-41, Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH) menggelar beberapa rangkaian acara. Salah satunya adalah webinar “Kultur Sel Dalam Laboratorium Veteriner: Prinsip, Aplikasi dan Tantangan”, diadakan pada Jumat (10/7). Kegiatan ini mendapat antuasiasme yang tinggi dari para akademisi, pelaku usaha obat hewan dan praktisi laboratorium dari berbagai institusi.
Membuka webinar, Kepala BBPMSOH, Drh Hasan Abdullah Sanyata, menegaskan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membawa perubahan besar dalam bidang kesehatan hewan. Laboratorium veteriner kini tidak lagi hanya berfungsi sebagai sarana pengujian, tetapi berkembang menjadi pusat inovasi yang mendukung penelitian, diagnosis penyakit, mendukung pengembangan vaksin sekaligus evaluasi keamanan dan mutu obat hewan.
Hasan menyampaikan, teknologi kultur sel kini menjadi salah satu fondasi penting dalam berbagai aktivitas laboratorium veteriner modern. “Teknologi kultur sel menjadi bagian penting dalam pengembangan vaksin, mulai dari ujian efikasi dan keamanan produk veteriner maupun produk bahan biologis hingga penelitian yang mendukung pengendalian berbagai penyakit hewan strategis,” lanjut Hasan.
Menurutnya Hasan, di tengah meningkatnya ancaman penyakit hewan baik yang berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi besar maupun penyakit zoonotik, penguasaan teknologi kultur sel menjadi kompetensi yang semakin penting bagi laboratorium veteriner di Indonesia.
Aplikasi Strategis dan Pengujian Vaksin
Beranjak pada sesi webinar dipandu moderator Drh Ernes Andesfha MSi dan pemaparan materi disampaikan oleh Medik Veteriner Madya BBPMSOH, Drh Rahajeng Setiawaty MSi. Mengulas prinsip dasar kultur sel, jenis-jenis kultur sel, aplikasi dalam bidang veteriner, hingga penerapan Good Cell Culture Practice (GCCP).
Dijelaskan bahwa kultur sel merupakan teknik memelihara sel hidup secara in vitro dalam kondisi terkontrol sehingga sel tetap hidup, tumbuh, dan berkembang di luar organisme asalnya.
Dalam lingkup veteriner, aplikasi kultur sel sangat luas mencakup isolasi dan identifikasi virus, serta riset dasar mekanisme infeksi seluler. Selain itu, metode ini mendukung penuh prinsip 3R (Replacement, Reduction, Refinement) demi mengurangi ketergantungan pada hewan percobaan secara etis, serta memberikan hasil eksperimen dengan reproduksibilitas tinggi.
Sebagai otoritas pengujian mutu obat hewan, BBPMSOH memanfaatkan teknologi kultur sel secara intensif dalam pengujian mutu, kandungan, dan potensi vaksin aktif maupun inaktif sebelum dipasarkan. Pengujian seperti Serum Netralisasi Tes (SNT) atau Virus Neutralization Test (VNT) dilakukan pada vaksin unggas (Reo, SHS, IBD/gumboro, IBH) hingga non-unggas seperti lumpy skin disease (LSD) dan penyakit mulut dan kuku (PMK).
Pengujian VNT PMK di BBPMSOH telah sukses melalui uji profisiensi internasional bersama Pirbright Institute (WRLFMD) di Inggris. Skor performa yang diperoleh yaitu 3 dari 4.
![]() |
| Beragam Cytopathic Effect (CPE) pada kultur sel dari koleksi BBPMSOH. |
Tantangan dan Inovasi Masa Depan Kesehatan Hewan
Keberhasilan kultur sel sangat ditentukan oleh penerapan GCCP. Mulai dari SDM atau personel yang terlatih, fasilitas laboratorium yang memadai seperti Biosafety Cabinet (BSC) II, penggunaan reagen berkualitas, dokumentasi, pencatatan lengkap serta uji kontaminasi secara rutin.
“Inovasi kultur sel 3 Dimensi atau 3D ke depannya untuk disease modelling, serta cultured meat berbasis sel puncak akan terus mengalami perkembangan,” tutur Rahajeng.
Lebih lanjut Rahajeng mengatakan, kultur sel dalam bentuk 3D dinilai lebih merepresentasikan sifat asli sel lebih baik. Biasanya dipakai pada stem sel mesenkim, berbentuk bulat atau spherical kemudian digunakan untuk disease modelling.
“Penerapan teknologi dan inovasi berkelanjutan dalam kultur sel dibersamai penguatan kompetensi SDM, kami yakin akan memperkuat sistem kesehatan hewan di Indonesia. Selain itu juga mendukung implementasi pendekatan One Health,” pungkasnya. (ADV)
KANDUNGAN PURIN HATI AYAM TERTINGGI, MITOS ATAU FAKTA?
![]() |
| Jangan konsumsi berlebihan, karena kandungan purin yang tinggi dalam hati ayam dapat menyebabkan gejala asam urat. (Foto: Shutterstock/istetiana) |
Sesekali pria tersebut turun dari kursi roda, lalu jalan berjingkat beberapa langkah, lalu duduk lagi di kursi roda sambil merintih. “Asam urat saya lagi kambuh, tapi saya coba paksa tetep olahraga sebisanya,” tutur Marzuki, nama pria paruh baya itu kepada Infovet.
Pensiunan karyawan sebuah bank swasta ini mengaku sudah tiga bulan lebih terserang asam urat. Kadang sembuh, kadang kumat lagi. Di saat kambuh, pergelangan kaki terasa nyeri tiada tara, begitu keluhnya. Hanya obat generik yang rutin diminum setiap hari jadi peredanya.
Apa gerangan penyebabnya? “Asam urat saya sudah melewati ambang batas. Dokter bilang sih, saya terlalu banyak konsumsi makanan yang banyak mengandung purin. Mungkin yang dimaksud ati ayam, karena saya hobi banget makan ati ayam,” ujarnya.
Sejak pensiun setahun lalu, hampir setiap pagi ia mengaku sarapan bubur ayam. Sate hati dan ampela ayam pasti menjadi pendamping menu sarapannya. Sekali makan bisa habis lima tusuk, makan bubur ayam tanpa sate hati-ampela kurang nikmat, begitu ceritanya.
Sebelum konsumsi rutin hati ayam, Marzuki mengaku hampir tak pernah terkena sakit asam urat. “Makanya, kalau dulu olahraga bisa lari atau jalan cepat. Sekarang harus pakai kursi roda, asam uratnya sering kambuh. Tapi tetap saya paksakan olahraga pagi sebisanya,” tuturnya.
Apa yang dialami Marzuki bisa jadi dialami juga oleh banyak orang. Meski tiap orang memiliki daya tahan tak sama terhadap kadar purin dalam tubuh, namun makanan yang menjadi sumber penyakit ini sebaiknya dihindari. Sekali terserang, rasa nyeri di persendian tak berkesudahan.
Literatur kesehatan yang dimuat situs Rumah Sakit Tirta Medica Centre, di Jakarta, menyebutkan asam urat atau gout merupakan salah satu bentuk radang sendi yang dapat menyebabkan nyeri hebat dan bengkak pada persendian. Kondisi ini terjadi ketika kadar asam urat dalam darah meningkat di atas batas normal, yaitu 3,4-7,0 mg/dL pada laki-laki dan 2,4-6,0 mg/dL pada perempuan.
Asam urat terbentuk ketika tubuh memecah senyawa purin yang berasal dari makanan atau diproduksi secara alami oleh tubuh. Indonesia menempati posisi keempat dunia dengan prevalensi penyakit asam urat tertinggi. Penelitian menunjukkan bahwa prevalensi hiperurisemia di Indonesia mencapai 81%, dengan lebih dari 355 juta penderita di seluruh dunia.
Literatur kesehatan lainnya, tulisan dr Alvin Nursalim, ahli nutrisi di Jakarta, yang dimuat sebuah di media online nasional menyebutkan hati ayam termasuk kelompok jeroan. Hati ayam, dalam 100 gram mengandung 116 kkal kalori, 345 mg kolesterol, serta 4,83 gram lemak. Jeroan dapat menjadi penyebab utama terjadinya peradangan pada sendi.
Orang yang mengalami radang sendi disarankan tidak mengonsumsi jeroan karena dapat memperparah keluhan. Kandungan purin yang tinggi dalam hati ayam juga dapat menyebabkan gejala asam urat. Di sisi lain, hati ayam memang kaya akan vitamin B, seperti vitamin B12 dan folat. Makanan ini juga tinggi mineral, termasuk zat besi, magnesium, dan selenium, serta vitamin-vitamin penting yang larut dalam lemak, seperti vitamin A, D, E, dan K.
Tak hanya hati ayam, sumber purin penyebab asam urat juga ada pada hasil laut. Beberapa jenis makanan laut, seperti kerang, udang, dan teri diyakini menjadi pemicu asam urat karena memiliki kadar tinggi purin. Dari literatur tadi disebutkan, dari semua jenis tersebut, ikan teri kering mengandung purin paling tinggi, mencapai 1.108,6 mg per 100 gram.
Tetap Bernutrisi
Kehati-hatian mengonsumsi hati ayam juga sudah sering disampaikan oleh para ahli gizi melalui artikel atau berita di berbagai media. Ahli nutrisi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Prof Dr Ir Budi Setiawan MS, juga membenarkan bahwa hati ayam memiliki kandungan purin yang tinggi. Menurutnya, hati ayam per 100 gram mengandung 312,2 mg purin dan dikategorikan sebagai makanan dengan kadar purin sangat tinggi. Dengan demikian, kandungan tinggi purin dalam hati ayam bukanlah mitos.
Menurut dosen dari Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB University, olahan hati ayam paling sering dikonsumsi masyarakat Indonesia karena rasanya nikmat. Akan tetapi, menurutnya, mengingat hati ayam juga berfungsi sebagai penyaring berbagai racun tubuh, organ ini termasuk dalam bahan makanan yang tidak sehat.
Namun demikian, hati ayam tetap memiliki kandungan nutrisi baik. Dalam hati ayam terdapat beberapa nutrisi yang menyehatkan seperti vitamin A, B12, D, E, dan K. Yang penting, pakar gizi ini menyarankan agar tidak mengonsumsi terlalu sering.
Ia menjelaskan, hati ayam mengandung kandungan lemak dan kolesterol yang cukup tinggi. Jika dikonsumsi terlalu sering, bisa membuat kadar asam urat di dalam darah bisa meningkat. Hal ini tentu akan membuat risiko terkena penyakit asam urat ikut meningkat, mengingat zat purin semakin menumpuk di persendian. Karena alasan ini pulalah penderita asam urat tidak disarankan mengonsumsi hati ayam.
Tak hanya menyebabkan asam urat, jika dikonsumsi berlebihan, hati ayam bisa meningkatkan risiko terkena tekanan darah tinggi. Hal ini disebabkan kadar kolesterol di dalam hati yang bisa meningkatkan kadar kolesterol jahat di dalam darah.
“Ini tentu akan memicu penumpukan plak pada pembuluh darah dan bisa menyebabkan tekanan darah tinggi atau hipertensi. Yang menjadi masalah adalah hipertensi bisa berimbas pada meningkatnya masalah penyakit jantung yang mematikan. Melihat adanya fakta ini, ada baiknya memang kita tidak sering-sering mengonsumsi hati ayam,” ujarnya.
Jangan Berlebihan
Budi tak menampik tentang anggapan bahwa konumsi daging juga menyebabkan seseorang terserang kolesterol. Akan tetapi jika membandingkan secara langsung antara daging dan hati, tentu saja akan ada perbedaannya.
Dari sisi kandungan gizi, hati sebagai jeroan memiliki kandungan kolesterol dan lemak lebih tinggi ketimbang daging. Selain itu, jeroan juga memiliki purin yang tinggi atau yang lebih dikenal dengan asam urat.
“Tapi lagi-lagi, kalau kita hanya mengonsumsi dalam batas wajar, misalnya hanya makan satu porsi, maka tidak perlu terlalu khawatir. Intinya, untuk makan apapun baik daging maupun jeroan tidak boleh berlebihan karena juga akan berdampak kepada kesehatan,” ujar Budi.
Termasuk dalam kebutuhan seperti vitamin dan mineral itu harus dengan ukuran yang pas. Maka itu, ada istilah angka kecukupan gizi yang harus dipatuhi. Angka kecukupan gizi merupakan batasan wajar yang perlu dikonsumsi untuk ukuran orang dewasa, anak-anak, dan ibu hamil.
“Bagi masyarakat umum, angka kecukupan gizi ini tidak mudah untuk diterapkan karena ada kebiasaan bahwa yang namanya makan harus kenyang,” kata Budi.
Menurutnya, selain hati ayam dan jeroan, masih banyak jenis makanan yang sebaiknya dikurangi jumlah konsumsinya, jika sedang menderita asam urat. Sumber makanan berupa daging merah (sapi, kambing, domba), serta daging putih tertentu (daging entok, kalkun, angsa, burung puyuh, dan kelinci) dapat menjadi penyebab asam urat. Jenis makanan ini tergolong memiliki kandungan purin sedang atau berada di atas 100 mg per 100 gram daging mentah.
Budi memberikan tips agar tetap sehat dan aman mengonsumsi olahan jeroan dan hati ayam. Pertama, jangan berlebihan. Yang jadi masalah sering kali jeroan dimasak dengan menggunakan santan, ini yang mengundang risiko, karena semakin bertambahnya kandungan lemak dan kolesterol di dalamnya, termasuk kandungan purin yang tinggi.
Kedua, cara mengolah jeroan, termasuk hati ayam akan lebih aman jika direbus, bukan digoreng. Hati ayam dan jeroan lainnya yang dioleh dengan cara digoreng akan berbahaya karena minyaknya juga sudah mengandung lemak. (AK)
AGAR PRODUKSI DAN KUALITAS KOLOSTRUM SAPI PERAH MENINGKAT
![]() |
Sapi perah perlu menghasilkan setidaknya 6 liter kolostrum berkualitas baik dengan nilai Brix ≥22% untuk memenuhi kebutuhan pedet yang baru lahir. Namun, sekitar 25–60% sapi perah berpotensi menghasilkan kolostrum dalam jumlah yang tidak mencukupi atau dengan kualitas yang kurang baik berdasarkan standar yang direkomendasikan.
OPTIMALISASI REPRODUKSI KAMBING - DOMBA DENGAN KANDANG PORTABEL USG
Oleh : : Dr. Abdullah Baharun, S.Pt., M.Si (Dosen Prodi Peternakan, Universitas Djuanda)
Beternak domba dan kambing menjadi pilihan yang semakin menarik karena didukung ketersediaan hijauan pakan dan kondisi lingkungan yang sesuai. Meski demikian, mengembangkan usaha peternakan rakyat bukan tanpa tantangan. Produktivitas ternak dan efisiensi pengelolaan masih perlu ditingkatkan agar usaha ini mampu memberikan pendapatan yang lebih baik dan berkelanjutan bagi masyarakat.
Potensi Besar di Kaki Gunung Salak
Ciburayut memiliki modal alam yang kuat untuk pengembangan peternakan domba dan kambing. Ketersediaan hijauan pakan masih cukup luas, tanah relatif subur, dan iklim pegunungan mendukung pertumbuhan beragam jenis rumput serta tanaman pakan. Meski pembangunan vila mulai berkembang di sejumlah lokasi, kebutuhan pakan ternak masyarakat hingga kini masih dapat dipenuhi.
Potensi tersebut semakin menarik karena permintaan domba dan kambing di Jawa Barat cukup tinggi. Ternak dari wilayah ini dibutuhkan untuk memenuhi pasar daging maupun ternak hidup di Bogor, Jakarta, Banten, dan berbagai daerah lain di Jawa Barat. Bahkan, sebagian kebutuhan pasar masih dipasok dari Jawa Tengah karena produksi lokal belum mampu memenuhinya.
Peluang inilah yang dikembangkan oleh Kelompok Ternak Kampung Domba Gunung Salak Bogor. Kelompok yang telah berbadan hukum dan memiliki jaringan pemasaran cukup luas ini telah berkembang menjadi salah satu sentra peternakan rakyat di Ciburayut. Persoalannya, kapasitas produksi belum mampu mengikuti besarnya permintaan pasar.
Reproduksi Menjadi Titik Lemah
Kendala utama bukan terletak pada pemasaran, melainkan pada reproduksi. Banyak induk terlambat diketahui bunting. Sebagian lainnya bahkan dipelihara berbulan-bulan tanpa kepastian kebuntingan. Kondisi ini membuat waktu produktif ternak terbuang, jarak beranak menjadi panjang, dan pertumbuhan populasi berjalan lambat.
Selama ini, peternak umumnya mengandalkan pengamatan visual melalui perubahan bentuk tubuh atau perilaku ternak. Cara tersebut sederhana, tetapi kurang efektif untuk mendeteksi kebuntingan pada tahap awal. Akibatnya, induk yang belum bunting terlambat dikawinkan kembali dan efisiensi reproduksi pun menurun.
Padahal, dengan pengelolaan yang baik, seekor induk domba atau kambing berpotensi beranak hingga dua kali dalam satu tahun. Potensi biologis ini hanya dapat dimanfaatkan secara optimal melalui manajemen reproduksi yang tepat.
Melanjutkan Program Pendampingan
Kondisi tersebut menjadi dasar pelaksanaan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) melalui skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Nomor Kontrak: 207/C3/DT.05.00/PM/2026; 485/01/K-X/V/2026).
Program ini merupakan kelanjutan dari kegiatan pengabdian pada 2024 yang berfokus pada peningkatan kapasitas masyarakat dalam kesehatan ternak, pembangunan bank pakan, serta pengenalan teknik budidaya domba dan kambing secara konvensional.
Tahun ini, pendampingan diarahkan pada peningkatan efisiensi reproduksi melalui pemanfaatan ultrasonografi (USG) portable. Teknologi tersebut memungkinkan pemeriksaan kondisi organ reproduksi, aktivitas ovarium, perkembangan embrio, dan status kebuntingan secara cepat dan lebih akurat.
Bagi sebagian peternak, penggunaan USG menjadi pengalaman baru. Alat yang selama ini lebih dikenal untuk pemeriksaan kesehatan manusia ternyata dapat digunakan secara praktis di kandang untuk membantu menentukan keputusan reproduksi ternak.
Belajar Langsung di Kandang
Kegiatan diawali dengan penyerahan USG portable langsung ke peternak (Caption Foto 1), sosialisasi program, penyuluhan mengenai manajemen reproduksi domba dan kambing. Materi mencakup siklus birahi, waktu perkawinan yang ideal, pentingnya deteksi kebuntingan dini, serta pengelolaan pakan selama masa kebuntingan.
Antusiasme peserta semakin terlihat ketika memasuki sesi praktik secara bertahap dan berkelanjutan. Tim pengabdian (Abdullah Baharun, Deden Sudrajat, Riny Kusumawati) bersama dokter hewan (drh. Annisa Rahmi, M.Si) yang dibantu oleh mahasiswa Universitas Djuanda (Adiba Kanza Arasya, Kustini, Rumaisha Kultsum Qurani, Refacha Nadila, Asep Maman, Alfatir Muhammad Syafur) memperagakan penggunaan USG portable pada sejumlah induk. Melalui layar monitor, peternak dapat melihat gambaran organ reproduksi dan perkembangan embrio di dalam uterus secara langsung.
Pengalaman tersebut tidak hanya menarik, tetapi juga membuka wawasan baru. Peternak dapat mengetahui status kebuntingan ternaknya sekaligus memahami pentingnya pemeriksaan reproduksi sebagai bagian dari pengelolaan usaha.
Selain pemeriksaan kebuntingan, tim mendampingi peternak mengevaluasi kondisi reproduksi calon induk. Pemeriksaan ovarium membantu menentukan kesiapan ternak untuk dikawinkan sehingga waktu perkawinan dapat direncanakan dengan lebih tepat.
![]() |
Foto Penyerahan USG portable ke Peternak Kampung Domba Gunung Salak, Ciburayut. (Sumber : Abdullah Baharun, 2026) |
Program pendampingan mendapat respons positif. Seluruh peserta mengikuti penyuluhan dan praktik dengan antusias. Diskusi berlangsung aktif karena peternak dapat menghubungkan materi dengan persoalan yang selama ini mereka temui di kandang.
Evaluasi sebelum dan sesudah kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan hingga 90% mengenai manajemen reproduksi, terutama dalam mengenali siklus birahi, menentukan waktu kawin, dan memahami pentingnya deteksi kebuntingan dini. Peternak juga semakin memahami bahwa induk yang belum bunting perlu segera dimasukkan kembali ke program perkawinan agar tidak terus menambah biaya pemeliharaan tanpa menghasilkan keturunan.
Dalam praktik lapangan, sebanyak 176 ekor induk domba dan kambing diperiksa menggunakan USG portable. Hasil pemeriksaan menunjukkan sejumlah induk telah bunting pada fase awal (11 ekor) dan mengalami gangguan reproduksi sebanyak 1 ekor (organ reproduksi abnormal). Induk-induk tersebut dapat segera dipisahkan dan memperoleh manajemen pakan sesuai kebutuhannya. Sementara itu, induk yang belum bunting (164 ekor) langsung dimasukkan ke dalam program perkawinan berikutnya.
Hasil pemeriksaan juga menjadi dasar bagi kelompok peternak untuk mulai membangun pencatatan reproduksi yang lebih sistematis dengan bantuan aplikasi dashboard pada smartphone yang dibuatkan khusus dalam kegiatan PkM. Data status kebuntingan, perkiraan waktu kelahiran, dan jadwal perkawinan dapat digunakan untuk menyusun rencana produksi sekaligus menyesuaikannya dengan kebutuhan pasar.
Dari Teknologi Menuju Peningkatan Pendapatan
Pemanfaatan USG portable bukan sekadar memberikan kepastian mengenai status reproduksi ternak. Teknologi ini membantu peternak mengambil keputusan usaha dengan lebih cepat dan efisien. Induk bunting dapat segera memperoleh pakan tambahan sesuai kebutuhannya, sedangkan induk yang belum bunting tidak perlu dipelihara terlalu lama tanpa kepastian reproduksi.
Dengan semakin pendeknya waktu kosong (days open) dan semakin teraturnya jadwal perkawinan, produktivitas ternak diharapkan meningkat. Lebih banyak kelahiran berarti lebih banyak ternak yang tersedia untuk dibesarkan dan dijual. Pada akhirnya, kapasitas kelompok untuk memenuhi permintaan pasar pun dapat meningkat.
Lebih dari sekadar memperkenalkan alat, pendampingan ini mendorong perubahan cara pandang peternak. Reproduksi tidak lagi dipandang sebagai proses alami yang berjalan begitu saja, melainkan sebagai bagian penting dari strategi usaha yang perlu dikelola dan direncanakan.
Langkah Awal Transformasi Peternakan Rakyat
Pengalaman di Kelompok Ternak Kampung Domba Gunung Salak menunjukkan bahwa teknologi tepat guna akan memberi manfaat maksimal jika disertai pendampingan yang berkelanjutan. Sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, tenaga kesehatan hewan, dan kelompok peternak menjadi fondasi penting agar inovasi tidak berhenti pada tahap pengenalan, tetapi benar-benar diterapkan di lapangan.
Bagi masyarakat Ciburayut, beternak domba dan kambing bukan sekadar pilihan usaha, tetapi juga peluang untuk mengembangkan sumber penghidupan yang sesuai dengan potensi wilayah. Dengan dukungan teknologi reproduksi yang semakin mudah diakses, peternakan rakyat memiliki peluang untuk tumbuh menjadi sumber penghidupan yang lebih aman, produktif, dan berkelanjutan.
Transformasi tentu tidak terjadi dalam semalam. Namun, setiap induk yang berhasil dideteksi bunting lebih awal, setiap kelahiran yang dapat direncanakan, dan setiap anak ternak yang lahir sehat merupakan langkah menuju peningkatan kesejahteraan peternak. Dari kandang-kandang sederhana di kaki Gunung Salak, harapan itu tumbuh bersama inovasi yang membawa pengelolaan reproduksi ternak ke arah yang lebih modern dan produktif. (INF)
MENGUSUNG ONE HEALTH, ONE WELFARE, KIVNAS XXI RESMI DIGELAR
Usai pemaparan, acara dilanjutkan dengan sesi sambutan secara resmi oleh Sekretaris Jenderal Pengurus Besar (PB) PDHI, Drh Andi Wijanarko. Dalam sambutannya, Andi menyampaikan bahwa KIVNAS merupakan wahana penting untuk menyatukan ide demi kemajuan bersama profesi veteriner.
"Kita berkumpul di sini untuk memberikan ide bagi kemajuan kita bersama. KIVNAS ini adalah forum penting untuk memperkuat ilmu dan kolaborasi dalam memajukan kesatuan kedokteran hewan kita. Tema One Health, One Welfare mengingatkan bahwa kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan tidak terpisahkan," ujar Andi.
Ia juga menegaskan bahwa posisi strategis dokter hewan yang selalu hadir dan dibutuhkan dalam isu-isu vital bangsa, seperti penanganan zoonosis, pengendalian AMR, hingga penjaminan ketahanan dan keamanan pangan. Mengingat KIVNAS digelar menjelang Peringatan Hari Kemerdekaan RI, Andi berharap KIVNAS XXI menjadi momentum nyata untuk mewujudkan dokter hewan Indonesia yang berintegritas, adaptif, dan kolaboratif demi melahirkan gagasan serta jejaring baru bagi masa depan.
Pada kesempatan yang sama, hadir sebagai Keynote Speaker, Direktur Kesehatan Hewan (Dirkeswan), Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, Drh Hendra Wibawa, menyampaikan visi pembangunan peternakan dan kesehatan hewan yang maju dan berkelanjutan. Pembangunan tersebut tidak hanya fokus pada peningkatan produksi, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan peternak dan penguatan sistem kesehatan hewan nasional.
Hendra juga memaparkan sejumlah tantangan kompleks yang masih dihadapi saat ini, seperti ancaman zoonosis, Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS), emerging infectious disease (EID), perubahan iklim, degradasi lingkungan, keamanan pangan, hingga dinamika perubahan sistem produksi peternakan, dan risiko AMR.
Untuk menjawab kompleksitas tersebut, Hendra menyampaikan tiga pesan kunci. Pertama, proteksi. Yakni menjaga kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan untuk ketahanan kehidupan masyarakat.
"Yang kedua, promote. Dengan mempromosikan penguatan animal welfare karena keberadaannya penting bagi keberlanjutan usaha peternakan. Dan ketiga yaitu kolaborasi. Dengan memperkuat sinergi lintas sektor, karena tantangan ke depan yang semakin kompleks, sehingga seluruh pihak harus menjadi satu kesatuan demi pembangunan peternakan dan kesehatan hewan yang lebih maju dan berkelanjutan," tukasnya.
Usai pembukaan resmi oleh Dirkeswan, kegiatan KIVNAS XXI dilanjutkan dengan pemaparan materi dari jajaran pakar, akademisi, dan praktisi senior. Pada hari pertama, hadir narasumber di antaranya Prof Dr Drh Bambang Pontjo P. (Dosen Patologi SKHB IPB University, Sekjen FAVA), Dr Drh Nusdianto Triakoso (Ketua UPNT AKIVI, Wadir RSHP Unair, Dosen FKH Unair), Drh Kadek Agus Agra Arnawa (Senior Vet, Dokter Hewan Praktisi Central Vet Bali, Anggota UPNT ADBVI), hingga Drh Anang Triatmoko (Dokter Hewan Praktisi GAIA Small Animal Clinic, Anggota UPNT ADBVI).
Kemudian pada hari kedua diskusi ilmiah dilanjutkan dengan pemaparan dari Drh Akhmad Harris Priyadi (Ketua Umum Asosiasi Obat Hewan Indonesia/ASOHI), Dr Siraya Chunekamrai (Veterinary Practice in Thailand, Founder The Thai Pony Foundation), Dr Drh Hasbullah Abdurrachman (Konsultan Bisnis, Senior Veterinarian Standard Biosensor Indonesia), Prof Dr Drh Widagdo Sri Nugroho (Dosen Dept. Kesmavet FKH UGM & Koord. Bid. Peningkatan Kompetensi UPNT Askesmaveti), Dr Drh Fitria Senja Murtiningrum (Dosen SKHB IPB University, Anggota UPNT ADHPHKI), hingga Drh Fajriyanti Qurrotuain (Dokter Hewan Praktisi, Anggota UPNT ADHPHKI).
Melalui pemaparan materi dan diskusi interaktif selama dua hari, KIVNAS XXI diharapkan melahirkan gagasan inovatif serta memperkuat sinergi interprofesional demi mewujudkan kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan yang berkelanjutan di Indonesia. (RBS)
JAPFA FOR KIDS 2026, MEMPERSIAPKAN MASA DEPAN ANAK MELALUI PENINGKATAN STATUS GIZI
| Pelaksanaan Hari Sehat Japfa dengan senam bersama semua siswa SDN Megamendung 01, 02, dan 03. (Foto-foto: NDV/Infovet & Istimewa) |
Sudah 18 tahun program Japfa for Kids berjalan. Sebuah program sosial dari PT Japfa Comfeed Indonesia, Tbk, menyasar siswa usia sekolah dasar di sekitar unit operasional Japfa. Program ini bertujuan untuk menurunkan malagizi (gizi buruk dan gizi kurang) pada siswa serta mendorong mereka membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
Tahun ini Bogor menjadi salah satu daerah tempat dilaksanakannya Japfa for Kids. Jumat 7 Agustus 2026, jurnalis Infovet mengunjungi empat sekolah dasar penerima manfaat program di Kabupaten Bogor.
Japfa for Kids di SDN Megamendung
Jurnalis Infovet sampai di lokasi kompleks SDN Megamendung 01, 02, dan 03 di Cilember, Kecamatan Cisarua, Bogor saat pelajaran belum dimulai. Terlihat beberapa siswa laki-laki bermain sepak bola di halaman SDN Megamendung 01. Sementara sebagian anak-anak SDN Megamendung 02 sudah siap di halaman sekolah mereka, mengenakan sarung dan mukena, bersiap untuk sholat dhuha.
| Anak-anak SDN Megamendung 01 bermain bola di halaman sekolah. |
Lalu tiba waktunya anak-anak berkumpul untuk mengaji dan sholat dhuha. Dilanjutkan dengan pelaksanaan Hari Sehat Japfa dengan melakukan senam sehat untuk seluruh murid dan guru seluruh SDN Megamendung. Setelah senam anak-anak mencuci tangan menggunakan sabun, mengecek kebersihan dan kesehatan kuku, kemudian makan MBG bersama.
Guru SDN Megamendung 01, Ranti didampingi oleh Irma, di sela aktivitasnya bercerita, para orang tua senang mendapatkan pembagian telur dari program Japfa for Kids. Walaupun ada yang pada awalnya agak keberatan karena kesannya dianggap tidak mampu membeli telur sendiri.
![]() |
| Ranti (baju putih) dan Irma. |
“Tapi terus saya bilangin jangankan beli 1 kilo, beli satu peti saja Ibu mungkin mampu. Tapi selain telur program ini ada reward-nya untuk kita, anak-anak jadi diperhatikan kesehatannya,” terang Ranti. “Pekan depan nanti ada medical checkup, saya bilang. Kalau kita sengaja datang ke rumah sakit atau ke puskesmas untuk medical checkup anak mana pernah. Kalau anak tidak sakit kan tidak pernah ke dokter.”
Sama dengan di sekolah lainnya, sebelum program Japfa for Kids diimplementasikan pada anak-anak SDN Megamendung. Sekitar 3 atau 4 bulan sebelumnya diadakan pembekalan untuk guru-guru PIC. Apa yang akan disampaikan ke orang tua dan anak, disampaikan lebih dahulu pada guru PIC. Seperti gizi seimbang itu bagaimana dan menu apa saja yang harus ada, pentingnya PHBS, cuci tangan pakai sabun, kesehatan kuku, dan lainnya.
“Sudah terprogram ini 10 anak sampai 6 bulan. Mudah-mudahan setelah itu ada program berikutnya lagi yang menyasar siswa yang lain,” begitu harap Ranti. “Bukannya kita berharap ada siswa yang gizi buruk atau gizi kurang lagi. Tapi dengan program tersebut membuat orang tua lebih termotivasi memperhatikan gizi anak. Mereka juga terpancing kreativitasnya untuk membuat masakan-masakan berbahan telur.”
Sementara itu R Ghaniawatie, guru SDN Megamendung 03, mengatakan orang tua memang terbantu dengan program Japfa for Kids. Namun kadang terkendala oleh anak yang susah diatur pola makannya.
![]() |
| R Ghaniawatie. |
“Ada juga anak yang telurnya tidak mau dibawa ke sekolah, makannya di rumah,” tuturnya. “Sampai ada yang dibuat sushi oleh ibunya, karena anaknya bosan. Paling kan kalau yang lain biasanya dibuat nasi goreng, juga mie goreng. Ini dikreasikan, begitu.”
Ghaniawatie juga menyayangkan dalam bekal anak yang dibawa ke sekolah banyak yang tidak memakai sayur. Menurutnya anak-anak sekarang melihat sayuran itu seperti melihat 'musuh'. Bukan salah orang tuanya, namun lebih ke anak-anaknya yang menolak diberi sayur, sehingga diperlukan kreativitas menu dan pembiasaan.
Diceritakannya juga ada orang tua yang heran sewaktu screening anaknya terjaring sebagai malagizi. Padahal sebelum menerima program Japfa for Kids, setiap hari anaknya selalu diberi dua butir telur. Tapi kenyataannya tinggi dan berat badannya memang belum sesuai dengan usianya. Sehingga orang tua tersebut tidak keberatan mengikuti program, agar lebih tahu permasalahan tumbuh kembang anaknya lebih jelas.
Farel Tergerak untuk Makan Sayuran
Erliana Rahayu termasuk orang tua yang anaknya, Muhammad Farel Ilfar siswa kelas 5 SDN Megamendung 01, tidak begitu suka makan sayuran. Selama ini cukup rutin mengonsumsi telur, tapi tidak demikian dengan sayurnya.
“Makanya ada program ini senang karena Farel jadi agak mau makan sayur. Karena saya bilang gini ke dia, ‘Ah, kamu kurang gizi, malu. Enggak baik itu kamu pertumbuhannya.’ Baru dia mau nurut mau makan sayuran,” ceritanya sambil tertawa kecil.
Obrolan Infovet dengan Erliana terhenti sejenak ketika Farel yang berumur 10 tahun, dengan berat badan 24 kg, tinggi badannya 132 cm, datang mendekati Ibunya. Sebelum pergi lagi, dia dan Ibunya berpose untuk foto.
![]() |
| Erliana dan Farel. |
“Kalau sayurannya kan setiap hari dapat dari MBG, telurnya bawa dari rumah.” Erliana melanjutkan. “Kecuali Sabtu dan Minggu baru kita masak sayuran sendiri. Harus yang enak-enak biar Farel mau makan.”
Program untuk Mempersiapkan Masa Depan Anak
Fasilitator program Japfa for Kids untuk kawasan Megamendung, Bogor, Muhammad Trisna Kusuma Wardana menjelaskan program utama dari Japfa for Kids ada tiga. Pertama, program satu hari satu telur. Kedua Hari Sehat Japfa yang memiliki lima komponen yaitu senam sehat, PHBS, cuci tangan pakai sabun, cek kuku, makan bersama. Program ketiga adalah pertemuan orang tua tiap bulan.
![]() |
| Muhammad Trisna Kusuma Wardana |
“Pertemuan pertama dilakukan untuk menggali bagaimana komitmen orang tua. Sebelum manfaat diberkan kita tanya apakah berkomitmen dan apakah setuju dengan programnya. Alhamdulillah seluruh orang tua di program ini di SDN Megamendung setuju semuanya,” terang Trisna.
Saat pertemuan tersebut orang tua antusias mengajukan beberapa pertanyaan. Ada yang bertanya bagaimana agar anak tetap tumbuh maksimal, sedangkan anaknya rewel makannya meski asupan gizi yang diberikan orang tua sudah mencukupi.
Trisna menerangkan bahwa orang tua dan guru diminta untuk memastikan gizi anak tercukupi. Yaitu di samping telur juga melengkapinya dengan asupan karbohidrat, sayur, dan buah. Orang tua dan guru diminta untuk mendokumentasikan apa yang anak makan. Kemudian setiap bulannya fasilitator akan memberikan update dan evaluasi, disertai dengan diskusi.
“Diharapkan dengan demikian makan bergizi seimbang dan perilaku sehat menjadi kebiasaan. Pembiasaan itulan jawaban dari keluhan orang tua tadi,” kata Trisna.
Dengan demikian orang tua terpacu kreativitasnya bagaimana caranya agar anak mau makan dengan baik. Hasilnya cukup membuat Trisna terkejut gembira. Ada orang tua yang memasak telur menggunakan cetakan bunga, ada yang dibuat onigiri, dan berbagai kreasi kreatif lainnya.
![]() |
| Onigiri dan telur dadar, kreasi orang tua siswa agar anaknya lebih berselera makan. |
“Jadi Japfa for Kids ini mekanismenya sharing contribution. Bukan hanya Japfa saja yang berperan tapi juga dari guru, dari orang tua dan juga puskesmas,” kata Trisna. “Oh ya, setiap tiga minggu lalu di minggu keempatnya semuanya bakal dapat telur, termasuk gurunya. Makanya tadi saya ngobrol dengan Kepala Sekolah Megemendung 03 harapannya telurnya dibagikan menjelang 17 Agustus, karena akan dijadikan ajang lomba.”
Trisna berharap program Japfa for Kids menjadi kebiasaan yang terus dibangun bersama anak-anak. Lebih jauh lagi dia ingin program ini bisa ikut mempersiapkan masa depan anak yang lebih baik.
“Anak-anak ini nanti kan masih melanjutkan pertumbuhannya. Juga untuk persiapan di SMP dan SMA dimana ada ekstrakurikuler seperti Pramuka dan Paskibra, dan lainnya. Jangan sampai tinggi dan berat yang tidak ideal menjadi halangan anak-anak untuk mengejar cita-citanya,” harapnya.
“Apalagi pekerjaan sekarang ini bukan hanya polisi dan tentara yang memiliki syarat minimal tinggi dan berat badan. Jangan sampai masalah pertumbuhan menjadi halangan cita-cita mereka. Anak-anak bisa saja sudah siap secara pemikiran, emosional, pendidikan dan lain-lain namun bisa terhalang oleh masalah tersebut. Jangan sampai terjadi.”
Pencapaian Japfa for Kids
Japfa for Kids adalah bentuk komitmen perusahaan untuk tumbuh dan berkembang bersama masyarakat sekitar. Hingga tahun 2025, program ini telah menjangkau 1.214 sekolah di 105 kabupaten/kota yang tersebar di 28 provinsi di Indonesia. Pada pelaksanaan tahun 2026, program berlangsung di delapan wilayah, yaitu Megamendung & Klapanunggal (Kabupaten Bogor, Jawa Barat), Karanganyar (Jawa Tengah), Tegal (Jawa Tengah), Lamongan (Jawa Timur), Sidomulyo (Lampung), Padang Pariaman (Sumatera Barat), Bintan (Kepulauan Riau), dan Sofifi (Maluku Utara).
Rachmat Indrajaya, Direktur Corporate Affairs Japfa menjelaskan, “Selama 18 tahun pelaksanaannya, Japfa for Kids tidak hanya memperluas jangkauan program, tetapi juga terus menyempurnakan pendekatannya agar dampak yang dihasilkan semakin terukur dan berkelanjutan. Melalui edukasi gizi seimbang, pembiasaan konsumsi protein hewani, PHBS, serta kolaborasi dengan guru, orang tua, tenaga kesehatan, dan pemerintah daerah, program ini telah membantu membangun kebiasaan hidup sehat pada anak-anak sekolah dasar.”
![]() |
| Rachmat Indrajaya |
Upaya tersebut menurut Rachmat turut berkontribusi pada peningkatan status gizi anak penerima manfaat, yang diperkuat melalui pemantauan dan evaluasi secara berkala.
Sejak tahun 2024, Japfa for Kids memperkuat pendekatan berbasis data melalui pengukuran tinggi badan dan berat badan siswa sebelum, selama, dan setelah program berlangsung, sehingga dampak program dapat diukur secara lebih objektif. Pada tahun 2024, sebanyak 762 dari 1.479 siswa dengan kondisi gizi kurang dan gizi buruk berhasil meningkat menjadi gizi baik atau sebesar 51,5%. Sementara pada tahun 2025, sebanyak 646 dari 1.034 siswa berhasil mengalami peningkatan status gizi menjadi gizi baik atau sebesar 62,5%.
Japfa for Kids di SDN Cikopo
![]() |
| Foto bersama penerima manfaat program Japfa for Kids di SDN Cikopo. |
Dari SDN Megamendung, Infovet melanjutkan kunjungan ke SDN Cikopo, Sukamanah, Kecamatan Megamendung, Bogor. Sekolah yang juga menerima manfaat program Japfa for Kids. Disambut oleh Emilia Fetristianti, wali kelas 1B dan Eriyanti, wali kelas 6 SDN Cikopo.
![]() |
| Eriyanti. |
“Saya dulu juga sempat percaya kalau makan telur terus-terusan bisa bisulan. Oleh fasilitator Japfa dijelaskan, termasuk ke orang tua murid juga, ternyata ada faktor lainnya misalnya kebersihan. Jadi kami paham sekarang,” kata Eriyanti.
![]() |
| Emilia Fetristianti |
Rekannya, Emilia, menambahkan bahwa dijelaskan pula protein itu penting untuk anak-anak usia SD yang sedang dalam masa pertumbuhan. Program CSR Japfa tersebut dirasakan manfaatnya tidak hanya dari sisi pemenuhan gizi anak, namun edukasinya juga membuka pemikiran orang tua dan guru.
“Karena selama ini kan orang tua tahunya makan yang penting kenyang. Ternyata tidak bisa sembarangan,” tutur Eriyanti. “Mereka juga berpikir makanan bergizi seimbang harus yang mahal-mahal. Ternyata dijelaskan kemarin bahwa telur, tahu, tempe yang harganya terjangkau juga bergizi. Lalu orang tua anggapannya juga harus minum susu padahal protein juga bisa dari telur.”
Seperti sekolah penerima manfaat lainnya, SDN Cikopo juga memiliki grup penerima manfaat di WhatsApp. Grup tersebut menjadi tempat orang tua mengunggah foto anak sedang memakan telur, sebagai laporan. Kemudian diteruskan ke aplikasi Japfa for Kids oleh Emilia.
Salah satu wujud berkembangnya pemahaman orang tua akan gizi seimbang. Adalah ketika mereka yang semula mengirim foto dokumentasi, anaknya hanya makan telur dan nasi. Kemudian dalam waktu singkat menu anak sudah ditambahkan dengan sayur.
Sebanyak 23 anak dari SDN Cikopo terjaring sebagai anak malagizi ketika dilakukan screening awal di puskesmas. Salah satu indikasinya adalah tinggi dan berat badan anak tidak sesuai dengan usianya. Keduapuluh tiga anak tersebut diberikan telur omega organik tujuh butir per minggu, untuk dikonsumsi satu hari satu telur.
“Kami bersyukur ada program dari Japfa ini. Anak-anak juga senang, respon orang tua antusias. Bahkan ada orang tuanya yang mengakui kalau memang anaknya susah makan dan menyambut baik program ini,” jelas Emilia.
Eriyanti menambahkan para orang tua anak-anak yang baru masuk kelas 1 yang belum ikut seleksi, pun meminta anaknya diikutkan program.
“Bagi kami program ini sangat bagus. Seharusnya program seperti ini ada di kurikulum, karena sangat penting. Mau banget programnya berlanjut, tidak cuma berhenti di angkatan ini,” harap Eriyanti.
Kepedulian Mendalam Japfa
Ketika pembagian telur dari program Japfa for Kids sudah berjalan, akan ada medical checkup untuk semua siswa. Anemia, riwayat tuberkulosis, karies gigi dan lain-lainnya diperiksa.
“Jika ada anak yang tersuspek penyakit nanti akan ditolong oleh puskesmas. Hal itu akan menjadi catatan kami juga, karena kalau anak-anak mendapati penyakit tersebut itu akan mengurangi respon tubuh terhadap pertumbuhan anak itu. Walaupun kita sudah memastikan makannya baik, gizi seimbang tapi kalau misalnya dia ada penyakit bisa jadi faktor penghambat pertumbuhannya,” terang Trisna.
Jika ada beberapa anak yang teridentifikasi memiliki penyakit lalu pertumbuhannya masih belum menuju ke normal seperti yang diharapkan, Japfa akan menindaklanjuti dengan strategi untuk mengulurkan bantuan tambahan lainnya guna memastikan agar anak-anak tersebut masuk ke dalam gizi normal. (NDV)
ARTIKEL POPULER MINGGU INI
-
Cara Menghitung FCR Ayam Broiler. FCR adalah singkatan dari feed convertion ratio, yaitu konversi pakan terhadap daging. FCR digunakan untuk...
-
Di dunia ini terdapat beberapa jenis ayam terbesar di dunia. Baik dari segi tinggi badannya, ukuran badannya, maupun berat badannya. Di anta...
-
Salah satu ciri telur asin yang berkualitas adalah bagian kuning telurnya yang tampak masir. (Foto: Istimewa) Bukan hanya cara menyimpannya,...
-
Ayam abang adalah ayam ras petelur yang sudah memasuki masa “pensiun” bertelur. (Foto: Dok. Infovet) Ayam abang menjadi salah satu bisnis “s...
-
Sumber: Balitbangtan Kementan Ayam KUB adalah ayam kampung galur (strain) baru, merupakan singkatan dari Ayam Kampung Unggul Balitbangtan. A...
-
Prof Dr Ismoyowati SPt MP, dari Unsoed, membawakan materi Mekanisme Kemitraan dalam Budidaya Ayam Broiler, dalam webinar Charoen Pokphand In...
-
Artikel ini membahas secara singkat anatomi ayam (struktur tubuh ayam) meliputi bagian tubuh ayam dan fungsinya. Juga organ tubuh ayam dan f...
-
Polar atau pollard merupakan salah satu bahan pakan ternak primadona yang berasal dari hasil samping penggilingan gandum. Dalam industri pet...
-
Foto: ilustrasi Meskipun sama-sama multi purpose breed, yaitu bisa dipelihara sebagai pedaging maupun petelur, namun perbedaan bebek Peking ...
-
Hijauan kering dan jerami kering Berbagai hijauan pakan yang sengaja dipanen dan dikeringkan serta berbagai jerami kering yang sengaja dipan...










.jpeg)










