![]() |
| Drh Anik Winanningrum MSi, Kepala Bagian Umum BBPMSOH (keempat dari kiri) bersama Tim Pelaksana webinar. (Foto-foto: Dok. BBPMSOH) |
Menyemarakkan HUT ke-41, Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH) menggelar beberapa rangkaian acara. Salah satunya adalah webinar “Kultur Sel Dalam Laboratorium Veteriner: Prinsip, Aplikasi dan Tantangan”, diadakan pada Jumat (10/7). Kegiatan ini mendapat antuasiasme yang tinggi dari para akademisi, pelaku usaha obat hewan dan praktisi laboratorium dari berbagai institusi.
Membuka webinar, Kepala BBPMSOH, Drh Hasan Abdullah Sanyata, menegaskan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membawa perubahan besar dalam bidang kesehatan hewan. Laboratorium veteriner kini tidak lagi hanya berfungsi sebagai sarana pengujian, tetapi berkembang menjadi pusat inovasi yang mendukung penelitian, diagnosis penyakit, mendukung pengembangan vaksin sekaligus evaluasi keamanan dan mutu obat hewan.
Hasan menyampaikan, teknologi kultur sel kini menjadi salah satu fondasi penting dalam berbagai aktivitas laboratorium veteriner modern. “Teknologi kultur sel menjadi bagian penting dalam pengembangan vaksin, mulai dari ujian efikasi dan keamanan produk veteriner maupun produk bahan biologis hingga penelitian yang mendukung pengendalian berbagai penyakit hewan strategis,” lanjut Hasan.
Menurutnya Hasan, di tengah meningkatnya ancaman penyakit hewan baik yang berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi besar maupun penyakit zoonotik, penguasaan teknologi kultur sel menjadi kompetensi yang semakin penting bagi laboratorium veteriner di Indonesia.
Aplikasi Strategis dan Pengujian Vaksin
Beranjak pada sesi webinar dipandu moderator Drh Ernes Andesfha MSi dan pemaparan materi disampaikan oleh Medik Veteriner Madya BBPMSOH, Drh Rahajeng Setiawaty MSi. Mengulas prinsip dasar kultur sel, jenis-jenis kultur sel, aplikasi dalam bidang veteriner, hingga penerapan Good Cell Culture Practice (GCCP).
Dijelaskan bahwa kultur sel merupakan teknik memelihara sel hidup secara in vitro dalam kondisi terkontrol sehingga sel tetap hidup, tumbuh, dan berkembang di luar organisme asalnya.
Dalam lingkup veteriner, aplikasi kultur sel sangat luas mencakup isolasi dan identifikasi virus, serta riset dasar mekanisme infeksi seluler. Selain itu, metode ini mendukung penuh prinsip 3R (Replacement, Reduction, Refinement) demi mengurangi ketergantungan pada hewan percobaan secara etis, serta memberikan hasil eksperimen dengan reproduksibilitas tinggi.
Sebagai otoritas pengujian mutu obat hewan, BBPMSOH memanfaatkan teknologi kultur sel secara intensif dalam pengujian mutu, kandungan, dan potensi vaksin aktif maupun inaktif sebelum dipasarkan. Pengujian seperti Serum Netralisasi Tes (SNT) atau Virus Neutralization Test (VNT) dilakukan pada vaksin unggas (Reo, SHS, IBD/gumboro, IBH) hingga non-unggas seperti lumpy skin disease (LSD) dan penyakit mulut dan kuku (PMK).
Pengujian VNT PMK di BBPMSOH telah sukses melalui uji profisiensi internasional bersama Pirbright Institute (WRLFMD) di Inggris. Skor performa yang diperoleh yaitu 3 dari 4.
![]() |
| Beragam Cytopathic Effect (CPE) pada kultur sel dari koleksi BBPMSOH. |
Tantangan dan Inovasi Masa Depan Kesehatan Hewan
Keberhasilan kultur sel sangat ditentukan oleh penerapan GCCP. Mulai dari SDM atau personel yang terlatih, fasilitas laboratorium yang memadai seperti Biosafety Cabinet (BSC) II, penggunaan reagen berkualitas, dokumentasi, pencatatan lengkap serta uji kontaminasi secara rutin.
“Inovasi kultur sel 3 Dimensi atau 3D ke depannya untuk disease modelling, serta cultured meat berbasis sel puncak akan terus mengalami perkembangan,” tutur Rahajeng.
Lebih lanjut Rahajeng mengatakan, kultur sel dalam bentuk 3D dinilai lebih merepresentasikan sifat asli sel lebih baik. Biasanya dipakai pada stem sel mesenkim, berbentuk bulat atau spherical kemudian digunakan untuk disease modelling.
“Penerapan teknologi dan inovasi berkelanjutan dalam kultur sel dibersamai penguatan kompetensi SDM, kami yakin akan memperkuat sistem kesehatan hewan di Indonesia. Selain itu juga mendukung implementasi pendekatan One Health,” pungkasnya. (ADV)




0 Comments:
Posting Komentar