Pihak berwenang Afghanistan berupaya mempercepat pengembangan industri unggas negara itu dengan mempercepat alokasi lahan pertanian kepada investor, karena para pejabat mengatakan sektor ini terus berkembang.
Perwakilan Kamar Pertanian dan Peternakan Afghanistan mengatakan transfer lahan yang lebih cepat kepada investor unggas dapat membantu negara itu mencapai swasembada produksi daging ayam dalam waktu dekat.
Dalam pernyataan yang disebarkan melalui media lokal, para pejabat dari Kementerian Pertanian, Irigasi, dan Peternakan mengatakan industri unggas telah mengalami pertumbuhan yang stabil dalam beberapa tahun terakhir, didukung oleh investasi swasta yang signifikan.
Menurut kementerian, kapasitas produksi domestik telah meningkat secara substansial di seluruh daging ayam, telur konsumsi, pakan unggas, dan anak ayam umur sehari, dengan pertumbuhan lebih lanjut sedang berlangsung. Pengembangan sektor yang berkelanjutan dapat memainkan peran penting dalam memenuhi permintaan domestik sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor.
Sedikit informasi yang dapat diandalkan telah dipublikasikan tentang keadaan industri unggas Afghanistan sejak Taliban kembali berkuasa. Sekitar 14.000 peternakan unggas saat ini beroperasi di seluruh Afghanistan, menyediakan lapangan kerja langsung bagi sekitar 100.000 orang dan lapangan kerja tidak langsung bagi 300.000 orang lainnya. Otoritas Afghanistan mengatakan negara itu mendekati swasembada daging unggas dan pakan unggas, meskipun mereka belum mengungkapkan angka-angka rinci.
Menurut Universitas Ilmu dan Teknologi Pertanian Nasional Afghanistan, negara itu memproduksi sekitar 219.000 ton daging unggas per tahun, sementara permintaan tahunan diperkirakan sekitar 295.000 ton. Ketersediaan daging unggas domestik saat ini hanya mencakup sekitar 46% dari asupan per kapita yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia.
Para peneliti mengatakan perkembangan industri ini terus dibatasi oleh berbagai tantangan, termasuk praktik pertanian tradisional, infrastruktur yang tidak memadai, keahlian teknis yang terbatas, wabah penyakit, penggunaan agen antimikroba yang tidak terkontrol, dan input produksi berkualitas rendah.
Terlepas dari tantangan-tantangan ini, para peneliti di universitas tersebut memperkirakan bahwa produksi unggas akan tumbuh rata-rata 13% per tahun selama beberapa tahun ke depan, melampaui 400.000 ton pada tahun 2030.


0 Comments:
Posting Komentar