Oleh : : Dr. Abdullah Baharun, S.Pt., M.Si (Dosen Prodi Peternakan, Universitas Djuanda)
Beternak domba dan kambing menjadi pilihan yang semakin menarik karena didukung ketersediaan hijauan pakan dan kondisi lingkungan yang sesuai. Meski demikian, mengembangkan usaha peternakan rakyat bukan tanpa tantangan. Produktivitas ternak dan efisiensi pengelolaan masih perlu ditingkatkan agar usaha ini mampu memberikan pendapatan yang lebih baik dan berkelanjutan bagi masyarakat.
Potensi Besar di Kaki Gunung Salak
Ciburayut memiliki modal alam yang kuat untuk pengembangan peternakan domba dan kambing. Ketersediaan hijauan pakan masih cukup luas, tanah relatif subur, dan iklim pegunungan mendukung pertumbuhan beragam jenis rumput serta tanaman pakan. Meski pembangunan vila mulai berkembang di sejumlah lokasi, kebutuhan pakan ternak masyarakat hingga kini masih dapat dipenuhi.
Potensi tersebut semakin menarik karena permintaan domba dan kambing di Jawa Barat cukup tinggi. Ternak dari wilayah ini dibutuhkan untuk memenuhi pasar daging maupun ternak hidup di Bogor, Jakarta, Banten, dan berbagai daerah lain di Jawa Barat. Bahkan, sebagian kebutuhan pasar masih dipasok dari Jawa Tengah karena produksi lokal belum mampu memenuhinya.
Peluang inilah yang dikembangkan oleh Kelompok Ternak Kampung Domba Gunung Salak Bogor. Kelompok yang telah berbadan hukum dan memiliki jaringan pemasaran cukup luas ini telah berkembang menjadi salah satu sentra peternakan rakyat di Ciburayut. Persoalannya, kapasitas produksi belum mampu mengikuti besarnya permintaan pasar.
Reproduksi Menjadi Titik Lemah
Kendala utama bukan terletak pada pemasaran, melainkan pada reproduksi. Banyak induk terlambat diketahui bunting. Sebagian lainnya bahkan dipelihara berbulan-bulan tanpa kepastian kebuntingan. Kondisi ini membuat waktu produktif ternak terbuang, jarak beranak menjadi panjang, dan pertumbuhan populasi berjalan lambat.
Selama ini, peternak umumnya mengandalkan pengamatan visual melalui perubahan bentuk tubuh atau perilaku ternak. Cara tersebut sederhana, tetapi kurang efektif untuk mendeteksi kebuntingan pada tahap awal. Akibatnya, induk yang belum bunting terlambat dikawinkan kembali dan efisiensi reproduksi pun menurun.
Padahal, dengan pengelolaan yang baik, seekor induk domba atau kambing berpotensi beranak hingga dua kali dalam satu tahun. Potensi biologis ini hanya dapat dimanfaatkan secara optimal melalui manajemen reproduksi yang tepat.
Melanjutkan Program Pendampingan
Kondisi tersebut menjadi dasar pelaksanaan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) melalui skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Nomor Kontrak: 207/C3/DT.05.00/PM/2026; 485/01/K-X/V/2026).
Program ini merupakan kelanjutan dari kegiatan pengabdian pada 2024 yang berfokus pada peningkatan kapasitas masyarakat dalam kesehatan ternak, pembangunan bank pakan, serta pengenalan teknik budidaya domba dan kambing secara konvensional.
Tahun ini, pendampingan diarahkan pada peningkatan efisiensi reproduksi melalui pemanfaatan ultrasonografi (USG) portable. Teknologi tersebut memungkinkan pemeriksaan kondisi organ reproduksi, aktivitas ovarium, perkembangan embrio, dan status kebuntingan secara cepat dan lebih akurat.
Bagi sebagian peternak, penggunaan USG menjadi pengalaman baru. Alat yang selama ini lebih dikenal untuk pemeriksaan kesehatan manusia ternyata dapat digunakan secara praktis di kandang untuk membantu menentukan keputusan reproduksi ternak.
Belajar Langsung di Kandang
Kegiatan diawali dengan penyerahan USG portable langsung ke peternak (Caption Foto 1), sosialisasi program, penyuluhan mengenai manajemen reproduksi domba dan kambing. Materi mencakup siklus birahi, waktu perkawinan yang ideal, pentingnya deteksi kebuntingan dini, serta pengelolaan pakan selama masa kebuntingan.
Antusiasme peserta semakin terlihat ketika memasuki sesi praktik secara bertahap dan berkelanjutan. Tim pengabdian (Abdullah Baharun, Deden Sudrajat, Riny Kusumawati) bersama dokter hewan (drh. Annisa Rahmi, M.Si) yang dibantu oleh mahasiswa Universitas Djuanda (Adiba Kanza Arasya, Kustini, Rumaisha Kultsum Qurani, Refacha Nadila, Asep Maman, Alfatir Muhammad Syafur) memperagakan penggunaan USG portable pada sejumlah induk. Melalui layar monitor, peternak dapat melihat gambaran organ reproduksi dan perkembangan embrio di dalam uterus secara langsung.
Pengalaman tersebut tidak hanya menarik, tetapi juga membuka wawasan baru. Peternak dapat mengetahui status kebuntingan ternaknya sekaligus memahami pentingnya pemeriksaan reproduksi sebagai bagian dari pengelolaan usaha.
Selain pemeriksaan kebuntingan, tim mendampingi peternak mengevaluasi kondisi reproduksi calon induk. Pemeriksaan ovarium membantu menentukan kesiapan ternak untuk dikawinkan sehingga waktu perkawinan dapat direncanakan dengan lebih tepat.
![]() |
Foto Penyerahan USG portable ke Peternak Kampung Domba Gunung Salak, Ciburayut. (Sumber : Abdullah Baharun, 2026) |
Program pendampingan mendapat respons positif. Seluruh peserta mengikuti penyuluhan dan praktik dengan antusias. Diskusi berlangsung aktif karena peternak dapat menghubungkan materi dengan persoalan yang selama ini mereka temui di kandang.
Evaluasi sebelum dan sesudah kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan hingga 90% mengenai manajemen reproduksi, terutama dalam mengenali siklus birahi, menentukan waktu kawin, dan memahami pentingnya deteksi kebuntingan dini. Peternak juga semakin memahami bahwa induk yang belum bunting perlu segera dimasukkan kembali ke program perkawinan agar tidak terus menambah biaya pemeliharaan tanpa menghasilkan keturunan.
Dalam praktik lapangan, sebanyak 176 ekor induk domba dan kambing diperiksa menggunakan USG portable. Hasil pemeriksaan menunjukkan sejumlah induk telah bunting pada fase awal (11 ekor) dan mengalami gangguan reproduksi sebanyak 1 ekor (organ reproduksi abnormal). Induk-induk tersebut dapat segera dipisahkan dan memperoleh manajemen pakan sesuai kebutuhannya. Sementara itu, induk yang belum bunting (164 ekor) langsung dimasukkan ke dalam program perkawinan berikutnya.
Hasil pemeriksaan juga menjadi dasar bagi kelompok peternak untuk mulai membangun pencatatan reproduksi yang lebih sistematis dengan bantuan aplikasi dashboard pada smartphone yang dibuatkan khusus dalam kegiatan PkM. Data status kebuntingan, perkiraan waktu kelahiran, dan jadwal perkawinan dapat digunakan untuk menyusun rencana produksi sekaligus menyesuaikannya dengan kebutuhan pasar.
Dari Teknologi Menuju Peningkatan Pendapatan
Pemanfaatan USG portable bukan sekadar memberikan kepastian mengenai status reproduksi ternak. Teknologi ini membantu peternak mengambil keputusan usaha dengan lebih cepat dan efisien. Induk bunting dapat segera memperoleh pakan tambahan sesuai kebutuhannya, sedangkan induk yang belum bunting tidak perlu dipelihara terlalu lama tanpa kepastian reproduksi.
Dengan semakin pendeknya waktu kosong (days open) dan semakin teraturnya jadwal perkawinan, produktivitas ternak diharapkan meningkat. Lebih banyak kelahiran berarti lebih banyak ternak yang tersedia untuk dibesarkan dan dijual. Pada akhirnya, kapasitas kelompok untuk memenuhi permintaan pasar pun dapat meningkat.
Lebih dari sekadar memperkenalkan alat, pendampingan ini mendorong perubahan cara pandang peternak. Reproduksi tidak lagi dipandang sebagai proses alami yang berjalan begitu saja, melainkan sebagai bagian penting dari strategi usaha yang perlu dikelola dan direncanakan.
Langkah Awal Transformasi Peternakan Rakyat
Pengalaman di Kelompok Ternak Kampung Domba Gunung Salak menunjukkan bahwa teknologi tepat guna akan memberi manfaat maksimal jika disertai pendampingan yang berkelanjutan. Sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, tenaga kesehatan hewan, dan kelompok peternak menjadi fondasi penting agar inovasi tidak berhenti pada tahap pengenalan, tetapi benar-benar diterapkan di lapangan.
Bagi masyarakat Ciburayut, beternak domba dan kambing bukan sekadar pilihan usaha, tetapi juga peluang untuk mengembangkan sumber penghidupan yang sesuai dengan potensi wilayah. Dengan dukungan teknologi reproduksi yang semakin mudah diakses, peternakan rakyat memiliki peluang untuk tumbuh menjadi sumber penghidupan yang lebih aman, produktif, dan berkelanjutan.
Transformasi tentu tidak terjadi dalam semalam. Namun, setiap induk yang berhasil dideteksi bunting lebih awal, setiap kelahiran yang dapat direncanakan, dan setiap anak ternak yang lahir sehat merupakan langkah menuju peningkatan kesejahteraan peternak. Dari kandang-kandang sederhana di kaki Gunung Salak, harapan itu tumbuh bersama inovasi yang membawa pengelolaan reproduksi ternak ke arah yang lebih modern dan produktif. (INF)

.jpeg)

0 Comments:
Posting Komentar