-->

WUJUDKAN SATU DATA PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN


Wujudkan Satu Data Peternakan dan Kesehatan Hewan

Kementerian Pertanian (Kementan) terus berupaya mewujudkan satu data Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH). Hal ini diupayakan untuk mendukung wacana satu data pertanian hingga satu data Indonesia.

Direktorat Jenderal PKH Kementan (Ditjen PKH) membangun komitmen kerja sama yang semakin kuat antara Ditjen PKH, Pusat Data dan Informasi Pertanian (Pusdatin), BPS, dan instansi terkait. Kerja sama ini dilakukan dalam rangka pengumpulan, pengolahan, penyajian data dan informasi peternakan dan kesehatan hewan.
 
I Ketut Diarmita menyampaikan kerja sama ini tidak lepas dari tantangan yang akan dihadapi Ditjen PKH kedepannya. Berdasarkan hasil SUPAS (Survei Penduduk Antar Sensus) tahun 2015 yang dilaksanakan dan Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Indonesia tahun 2020 diperkirakan mencapai 269,60 juta jiwa dan pada tahun 2035 diproyeksikan mengalami peningkatan menjadi 304,21 juta jiwa.

Seiring dengan pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi, kebutuhan akan pangan termasuk pangan asal ternak juga tentunya akan semakin meningkat. Penyediaan pangan asal ternak yang lebih banyak dengan kualitas yang lebih baik, serta memenuhi persyaratan keamanan, kesehatan, dan kehalalan menjadi tantangan bagi seluruh stakeholders peternakan dan kesehatan hewan di Indonesia.

"Tantangan ini tentu membutuhkan solusi. Proses perumusan kebijakan dan perencanaan pembangunan Subsektor Peternakan dan Kesehatan Hewan yang baik menjadi salah satu solusi kunci untuk menghadapi tantangan tersebut," paparnya.

Ia menjelaskan, jika merujuk Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, dikatakan bahwa perencanaan pembangunan didasarkan pada data dan informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini menunjukan bahwa ketersediaan data dan informasi merupakan komponen penting dalam proses penyelenggaraan pembangunan.

Dalam rangka pengumpulan, pengolahan, penyajian data dan informasi ini, Ditjen PKH telah menerbitkan dua Keputusan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. Pertama, keputusan nomor 798/Kpts/OT.040/F/11/2012 tentang Petunjuk Teknis Pengumpulan dan Penyajian Data Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Kedua, keputusan nomor 5943/Kpts/TI.000/F/09/2016 tentang Petunjuk Teknis Pengumpulan dan Penyajian Data Fungsi Peternakan dan Kesehatan Hewan yang mencakup Fungsi Perbibitan dan Produksi Ternak, Pakan Ternak, Kesehatan Hewan, Kesehatan Masyarakat Veteriner, Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan, dan Dukungan Manajemen.

Petunjuk teknis tersebut disusun bersama dengan Pusat Data dan Sistem Informasi Kementerian Pertanian dan Badan Pusat Statistik. Harapannya data ini dapat digunakan sebagai panduan bagi para petugas pengelola data peternakan baik di pusat maupun daerah, dalam melaksanakan kegiatan pengumpulan, pengolahan, penyajian data dan informasi peternakan dan kesehatan hewan.

Diketahui saat ini sudah diterbitkan Perpres Nomor 39 tahun 2019 tentang Satu Data Indonesia yang mengamanatkan agar setiap instansi pemerintah harus membenahi tata kelola data pemerintah agar menghasilkan data yang berkualitas.

Data berkualitas yang dimaksud adalah data yang akurat, mutakhir, terpadu, dan dapat dipertanggungjawabkan, serta mudah diakses dan dibagipakaikan antar instansi. Baik intansi pusat dan instansi daerah melalui pemenuhan Standar Data, Metadata, Interoperabilitas Data, dan menggunakan Kode Referensi dan Data Induk yang sama.****

HALAL BLOCKCHAIN, JAMINAN KEPADA PELANGGAN SIERAD

Dicky Saelan

Sierad Halal Blockchain merupakan langkah ekspansi digital dan pengembangan aset intelektual yang dilakukan PT Sierad Produce. Teknologi halal traceability blockchain (halal blockchain) bertujuan memberikan jaminan kepada pelanggan mengenai aktivitas pemotongan ayam yang sudah memenuhi standard halal.

Gebrakan ini juga dapat dimaknai sebagai langkah transformasi digital menjadi perusahaan poultry yang lebih dekat ke konsumen. Sosialisasi mengenai Sierad Halal Blockchain ini mengemuka dalam Poultry Rethinking Webinar, yang digelar Selasa (4/8/2020).   

Dicky Saelan, Managing Director Foods PT Sierad Produce menambahkan Sierad menerapkan teknologi halal blockchain untuk memberikan jaminan kepada pelanggan mengenai aktivitas pemotongan ayam yang sudah memenuhi standard halal.

Sierad yang kini berganti nama menjadi PT Sreeya Sewu Indonesia mengamati Indonesia sebagai negara berkembang dengan jumlah penduduk lebih dari 267 juta orang yang memiliki keanekaragaman suku, budaya, agama.

“Mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, sehingga jaminan halal produk menjadi bagian penting dalam proses produksi dan nilai tambah yang berdaya saing tinggi antar pemain usaha melalui proses sertifikasi yang ditinjau secara berkala,” terang Dicky diikuti oleh penayangan slide  video tentang rangkaian kegiatan produksi di Rumah Potong Ayam (RPA) Sierad.

Sebagai perusahaan yang sudah tersertifikasi halal dan mengedepankan inovasi, Sierad halal blockchain merupakan sistem jaringan pencatatan digital yang tidak bisa diubah, dimodifikasi atau dihapus. Halal blockchain, sistem pencatatan proses halal yang dapat diakses oleh semua konsumen Sierad Produce di mana saja dan kapan saja

Konsumen atau customer dapat menginput kode qr pada produk, kemudian mengakses website di www.halaltracker.sieradproduce.

Teknologi ini akan memudahkan customer untuk melihat detail proses produksi mulai dari kedatangan ayam hidup, antemortem, penimbangan, pengistirahatan ayam, penggantungan ayam, pemingsanan, penyembelihan halal, penirisan darah, pencucian, pencabutan bulu, proses ayam menjadi karkas, post mortem, pencucian dingin, grading dan penimbangan.

Sebagai pionir halal blockchain, Dicky menyatakan penggunaan teknologi blockchain dapat memperkuat kepercayaan customer.

Pemanfaatan teknologi digital blockchain, dinyatakan mampu membantu pengembangan industri halal di Indonesia. Karena dengan teknologi ini, maka pengguna produk akan bisa melihat sendiri bagaimana nilai kehalalan produk mereka.

Keuntungan

Sementara dalam kesempatan yang sama, CEO&Founder HARA, Regi Wahyu memaparkan poin-poin manfaat penerapan teknologi blockchain dalam proses RPA Sierad. Antara lain kepercayaan terhadap integritas data lebih tinggi, keamanan dan kesinambungan ketersediaan data, transparansi terhadap keseluruhan proses, dan traceability berikut akuntabilitas dari setiap proses.   

Direktur Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) Afdhal Aliasar menyampaikan materi tentang Halal Value Chain.  

Afdhal mengatakan Indonesia berpotensi menjadi rujukan dunia untuk produk halal. “Kita perkuat sistem traceability produk halal. Pemerintah menargetkan Indonesia menjadi Pusat Ekonomi Syariah dunia di tahun 2024,” tandasnya. (NDV)

 

.


METODE TRIPLE HELIX PERCEPAT PENGEMBANGAN SAPI BALI

Metode Triple Helix untuk mempercepat pengembangan sapi Bali. (Foto: Istimewa)

Kementerian Pertanian (Kementan) mendukung pengembangan industri sapi Bali di Kabupaten Buleleng menggunakan metode Triple Helix. Metode ini merupakan model inovasi yang melibatkan akademisi, industri dan pemerintah untuk menumbuhkan perkembangan ekonomi dan sosial.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan (Dirjen PKH), I Ketut Diarmita, menghadiri penandatanganan nota kesepahaman kemitraan Triple Helix di Kantor Gubernur Bali, Senin (3/8/2020). Ia juga menyambut baik kerja sama ini sebagai upaya pengembangan agrikultur atau ketahanan pangan.

“Saya ucapkan terima kasih dan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Bali dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) atas penandatangan nota kesepahaman ini. Industri peternakan tidak akan bisa tumbuh dan berkembang jika tidak didukung oleh sinergi seluruh pihak,” kata Ketut.

Ia mengemukakan, semua komponen di Bali sudah menunjukan komitmen mendukung pengembangan Sapi Bali. Komponen tersebut diantaranya pemerintah, pengusaha dan akademisi (dalam hal ini Universitas Pendidikan Ganesha dan Central Queensland University).

“Pengolahannya juga didukung agar menghasilkan produk yang memberikan nilai tambah (added value). Selain itu, pengembangan program studi peternakan dan teknologi pasca panen juga diberikan untuk mendukung kesinambungan penyediaan sumber daya manusia yang terkait,” tambahnya.

Kerja sama antara Bappenas, Pemda Kabupaten Buleleng, Universitas Pendidikan Ganesha, Trade and Investment Queensland Australia dan Central Queensland University ini menekankan pada penelitian dan pengembangan, misal pengembangan aplikasi teknologi maju dan memastikan rantai pasokan berkelanjutan, khususnya ternak sapi di Bali.

Tujuan tersebut diarahkan untuk dapat mendukung pencapaian target pembangunan pangan dan pertanian dalam RPJMN 2020-2024. Selain itu, kerja sama juga terkait pengembangan program studi peternakan dan teknologi pasca panen untuk mendukung kesinambungan penyediaan sumber daya manusia peternakan.

Sekadar informasi, kerja sama Triple Helix ini dilakukan untuk pengembangan ketahanan pangan di Provinsi Bali sebagai salah satu kegiatan dalam upaya mendukung Program Prioritas Peningkatan Ketersediaan, Akses dan Kualitas Konsumsi Pangan.

Dipilihnya Kabupaten Buleleng sebagai pilot project dikarenakan berdasarkan Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan 2019, Kabupaten Buleleng memiliki populasi sapi potong terbanyak di Provinsi Bali, yaitu sebesar 151.423 ekor atau 25% populasi sapi potong berada di Kabupaten Buleleng. Dengan mengacu Kepmentan Nomor 472/Kpts/RC.040/6/2018 tentang Lokasi Kawasan Pertanian Nasional, disebutkan bahwa Kabupaten Buleleng merupakan salah satu lokasi pengembangan sapi potong di Provinsi Bali. 

“Kami akan terus berusaha memberikan stimulus untuk melaksanakan pengembangan ternak di Indonesia,” tegas Ketut.

Di tempat terpisah, Menteri Pertanian (Mentan) Syarul Yasin Limpo, mengatakan bahwa Bali merupakan provinsi yang memiliki potensi pertanian dan peternakan yang sangat besar. Dengan adanya nota kesepahaman ini, ia berharap Kementan bisa mendukung sepenuhnya program-program pertanian dan peternakan di Bali.

“Kerja sama ini bertujuan untuk meningkatkan pembangunan pertanian menuju pertanian yang maju, mandiri dan modern,” tukas Mentan. (INF)

SIERAD PRODUCE UMUMKAN NAMA BARU

Tommy Wattimena


Tommy Wattimena selaku President Director PT Sierad Produce Tbk, mengumumkan nama dan branding baru perusahaannya menjadi PT Sreeya Sewu Indonesia Tbk. Pengumuman nama baru ini bersamaan dengan dilaksanakannya acara Public Expose dan Seminar yang mengusung tema “Poultry Rethinking”.

“Kata 'Sreeya' berasal dari bahasa Sansekerta yang mempunyai beberapa arti antara lain menguntungkan, kesejahteraan, serta kesuburan,” urai Tommy saat paparan publik perseroan berlangsung di Ayana Mid Plaza, Selasa (4/8/2020).

Misi Sreeya, Tommy menambahkan, memberikan solusi kepada mitra kami dan demokratisasi protein masyarakat atau memberikan akses kemudahan bagi konsumen dari berbagai kalangan di Indonesia untuk menikmati produk makanan bergizi.

“Ini adalah identitas baru kami sebagai bagian dari landmark transformasi perusahaan dari yang sebelumnya farming oriented menjadi customer solution oriented disertai transformasi digital di dalam menjalankan usaha," ujarnya.

Secara ringkas, strategi Sreeya yakni mendemokratisasikan protein masyarakat dengan membangun cold chain infrastructure dan logistik sekaligus meluncurkan produk yang berkualitas dengan harga terjangkau sehingga memberikan aksesibilitas ke seluruh lapisan masyarakat.

Sreeya juga memastikan akan menawarkan tidak hanya pakan yang terjangkau dengan jaminan performance yang baik, namun juga membangun solusi bagi para mitra sebagai nilai lebih untuk meningkatkan manajemen para petani unggas Tanah Air dengan teknologi digitalisasi yang tepat.

Perusahaan akan lebih fokus menggarap bisnis hilir dengan menggenjot berbagai produk olahan yang dihasilkan peternakan ayam. Diharapkan dari waktu ke waktu hilirisasi bisnis poultry terus bertumbuh. (NDV)

 


SANG MAESTRO KUDA BERPULANG

Drh Wirasmono (jaket putih) kala melakukan peluncuran buku Kuda Pacu Indonesia

Kabar duka datang dari Civitas Akademika FKH IPB. Drh Wirasmono Soekotjo seorang mantan staff pengajar FKH IPB berpulang keharibaan-Nya. Drh Wirasmono merupakan figur yang populer pada dekade 1970-1990-an sebagai satu - satunya dokter hewan yang menekuni bidang perkudaan.

Namanya kian mencuat seiring berkembangnya olahraga berkuda populer di Indonesia. Terutama ketika arena pacuan kuda Pulo Mas diadakan pada kurun waktu akhir tahun 1970 sampai awal 1980-an, nama Wirasmono tentu lekat dengan Pacuan Kuda tersebut.

Selasa 3 Agustus 2020 lalu , Wirasmono menghembuskan nafas terakhir di kediamannya di Cinere, Menurut istrinya Uning Z Wirasmono, mantan birokrat di Direktorat Kesehatan Hewan Ditjen Peternakan, tiada isyarat apapun meninggalnya pria kelahiran Tegal tersebut. 

"Hanya ada keluhan berupa demam sedikit lalu diberi obat batuk untuk menghilangkan batuk dan demamnya, besok baru mau dibawa ke dokter,"tuturnya.

Drh Wirasmono meningggalkan seorang istri Drh Uning Zubaidah dan dua orang anak yang juga berprofesi sebagai dokter. Semasa hidupnya Drh Wirasmono sangat terkenal sebagai dokter hewan di dunia perkudaan dengan keahlian yang sangat mumpuni dan diakui di tanah air. Kini sudah banyak para dokter hewan muda yg mengikuti jejak almarhum untuk berkarir di sektor perkudaan.

Jenazah almarhum dikebumikan hari ini (4/8) di Taman Pemakaman Umum Tonjong. 
Selamat jalan Drh Wirasmono, engkau akan selalu dikenang sebagai bapak perkudaan Indonesia. (CR)


MEWASPADAI KEBERADAAN LALAT DI PETERNAKAN

Lalat Tabanus rubidus, salah satu vektor penyakit Surra. (Foto: Ist)

Lalat, namanya bahkan menjadi lirik lagu anak-anak di era 90-an. Keberadaan lalat dinilai sebagai indikator kebersihan suatu lingkungan. Bukan hanya di permukiman, keberadaan lalat di peternakan juga dinilai meresahkan.

Siapa tak kenal lalat, hewan dari filum arthropoda ini memang sudah seperti menjadi bagian sehari-hari dalam kehidupan. Hampir di tiap tempat pasti mudah menemukan keberadaan lalat. Serangga terbang ini dikonotasikan sebagai sesuatu yang negatif.

Begitu pula dalam dunia peternakan, lalat merupakan musuh yang harus dibasmi. Ledakan populasi lalat di suatu peternakan dapat menambah daftar panjang masalah yang harus diselesaikan dalam suatu peternakan.

Berbagai Jenis, Beragam Ancaman
Menurut ahli serangga LIPI, Prof Rosichon Ubaidillah, ada sekitar 240.000 spesies diptera (serangga dua sayap) dan secara umum dikenal sebagai lalat/fly termasuk simulium. Berdasarkan penemuannya, lalat sudah hidup sekitar 225 juta tahun lalu.

“Keberadaan lalat ini sudah lama ada, coba bayangkan sejak zaman dinosaurus mereka sudah ada, dan yang jelas beberapa jenis lalat secara langsung dan tidak langsung juga mempengaruhi kehidupan kita baik secara ekologi, medis, bahkan sampai ekonomis,” ujar Rosichon.

Ia menambahkan bahwa beberapa spesies lalat bersifat parasit dan merugikan manusia termasuk di peternakan. Oleh karenanya perlu diwaspadai keberadaan lalat di suatu peternakan, apapun jenis ternaknya. Hal ini dikarenakan tiap spesies lalat memiliki inang yang berbeda-beda. 

Hal tersebut diamini oleh staf pengajar parasitologi FKH IPB, Prof Upik Kesumawati. Di dunia peternakan hewan besar maupun kecil, kata dia, lalat adalah masalah yang harus dikendalikan. Ia memberi contoh pada hewan besar misalnya, lalat spesies Tabanus, Stomoxys, Haematopota, dan Chrysops.

“Mereka itu lalat yang biasa ditemukan pada hewan besar, mereka mengisap darah dan memberikan dampak medis yang besar bagi penyebaran penyakit (vektor) Surra. Makanya harus dibasmi dan dikendalikan, tidak boleh dibiarkan, kalau dibiarkan akan jadi kerugian ekonomi yang tidak sedikit,” kata Upik.

Hingga saat ini menurut Upik, Indonesia masih struggle dalam mengendalikan penyakit Surra pada sapi yang diperantarai oleh vektor lalat dari keluarga Tabanidae. Ia mencontohkan kerugian akibat penyakit Surra di benua Asia mencapai $ 1,3 miliar pada tahun 1998, hal ini belum termasuk biaya pengendalian vektornya.

Di peternakan unggas, jenis lalat yang sering dijumpai antara lain lalat rumah (Musca domestica), lalat buah (Lucilia sp.), lalat sampah (Ophyra aenescens), lalat tentara (soldier flies) dan lalat hitam (Simulium sp.). Lalat tersebut sering ditemukan di sekitar tempat pakan, litter, area sekitar feses, kolong kandang, selokan air, maupun bangkai ayam. Banyaknya populasi lalat tersebut tentu akan memberikan... (Selengkapnya baca di Majalah infovet edisi Agustus 2020) (CR)

PENGUATAN HULU-HILIR HASILKAN PRODUK DAGING BERKUALITAS

Proses produksi yang berkaitan dengan keamanan pangan asal ternak terutama terjadi pada tempat pemotongan daging. (Foto: iStock)

Dalam mendapatkan produk daging yang aman dan higienis, dapat dilakukan tidak hanya dengan melihat saat pasca produksi, tetapi juga dari pra produksi dan proses produksinya. Hal itu disebabkan adanya berbagai cemaran berbahaya bahan baku pakan seperti mikotoksin, pestisida, logam berat dan berbagai zat berbahaya lain, yang walaupun berjumlah sedikit dan tidak menimbulkan efek langsung, tetapi cemaran itu dapat terus berada di dalam tubuh seseorang yang mengonsumsi produk hasil ternak. 

Hal itu disampaikan Dosen Fakultas Industri Halal, UNU Yogyakarta, Meita Puspa Dewi SPt MSc dalam Indonesia Livestock Club (ILC) #Edisi07: Penguatan Hulu-Hilir dalam Menghasilkan Produk Berkualitas, pada Sabtu (1/8/2020), melalui sebuah aplikasi daring.

Acara diselenggarakan oleh Badan Pengembangan Peternakan Indonesia (BPPI), Indonesia Livestock Alliance (ILA), Universitas Tidar, Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta.

Meita mengatakan, proses produksi yang berkaitan dengan keamanan pangan asal ternak terutama terjadi pada tempat pemotongan, yaitu di rumah pemotongan hewan untuk daging.

“Adanya rumah pemotongan hewan (RPH) atau rumah pemotongan unggas (RPU) merupakan salah satu upaya implementasi keamanan pangan seperti yang dimaksud dalam UU Pangan,” kata Meita.

Dalam hal kualitas daging yang baik, salah satu indikatornya adalah adanya marbling pada daging yang dipilih. Marbling merupakan serat-serat lemak intraseluler yang terdapat pada daging, yakni merupakan guratan berwarna putih yang berada diantara merahnya daging, tampak seperti pola pada batu marmer (marble). 

Banyaknya serat akan meningkatkan rasa juicy dari daging saat dikonsumsi, utamanya bila dihidangkan sebagai steak atau yakiniku. Marbling juga merupakan indikasi dari baik tidaknya kualitas pakan dan perawatan dari ternak tersebut.

“Semakin buruk kualitas pakan, marbling akan semakin sedikit dan mengakibatkan grade daging akan semakin rendah dan harga jual daging juga akan jadi semakin murah,” pungkasnya. (IN)

IKUTI WEBINAR PENGELOLAAN DAN OPTIMALISASI LAMTORO UNTUK SAPI




PENGELOLAAN DAN OPTIMALISASI PEMAKAIAN LAMTORO PADA SAPI

Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia (AINI) kembali akan menggelar Seminar Webinar bertajuk Pengelolaan dan Optimalisasi Pemakaian Lamtoro pada Sapi. Organisasi perhimpunan profesi dan keilmuan para ahli di bidang Nutrisi dan Teknologi Pakan ini menhadirkan setidaknya tiga narasumber pakar di bidangnya, yaitu: DR IR Tanda S. Panjaitan, MSc. Peneliti SPTP Balitbangtan NTB., Prof DR IR Dahlanuddin, MRurSc,Guru Besar Univ. Mataram dan Prof Max Shelton dari Univ of Queensland, Australia.

Dimoderatori olaeh IR Triastuti Andajani, MSi., Program Manager IP2FC ISPI. Acara yang rencananya berlagsung pada Kamis 6 Agustus 2020 mulai pukul 09.00 WIB melalui daring Zoom Meeting yang bisa anda akses dengan Narahubung Febrinita dan Asmadini sebagaimana tercantum di dalam Flayer.

Berita selengkapnya terkait kegiatan tersebut dapat anda simak di Infovet sebagai Media Parner dan ikuti terus di web: http://www.majalahinfovet.com

PANEN 500 EKOR PEDET, SINJAI-SULSEL LOKOMOTIF TERNAK SAPI KERBAU NASIONAL


Panen 500 ekor Pedet, Sinjai-SulSel Lokomotif Ternak Sapi Kerbau Nasional

Sinjai,_Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) melakukan panen 500 ekor pedet (sapi) beserta induknya di Kabupaten Sinjai, Provinsi Sulawesi Selatan (30/07). Kegiatan ini sekaligus memantau realisasi program Sapi Kerbau Komoditas Andalan Negeri (Sikomandan) di Kabupaten Sinjai.

Program ini juga merupakan bagian dari upaya Kementerian Pertanian (Kementan) dalam mengakselerasi pertumbuhan populasi dan peningkatan produksi ternak sapi dan kerbau dalam negeri.

"Sikomandan saya nilai sebagai langkah nyata pemerintah bersama masyarakat untuk mengakselerasi pertumbuhan populasi dan peningkatan produksi ternak sapi dan kerbau di dalam negeri," ujar Menteri SYL.

Dijelaskan, kegiatan Sikomandan ini merupakan salah satu fokus kegiatan utama jajaran Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementan. Sikomandan juga merupakan rangkaian kegiatan yang tidak terpisahkan dari kegiatan tahun sebelumnya dan dirancang dengan pendekatan yang lebih melibatkan peran aktif para petugas teknis dan masyarakat sebagai pelaku pembangunan.

Untuk mendorong keberhasilan program Simomandan ini, Menteri SYL mengajak masyarakat untuk meningkaykan kesadaran akan pentingnya protein hewani. Harapannya ini bisa menjadi pendorong semangat bagi semua pihak untuk berupaya mewujudkan swasembada protein hewani.

Menteri SYL menerangkan, upaya mewujudkan swasembada protein hewani tidak sebatas pada kemampuan penyediaan pangan asal hewan yang cukup bagi masyarakat, tetapi juga harus disertai dengan peningkatan kualitas konsumsi pangan masyarakat yang berbasis sumberdaya lokal.

Dalam mencapainya, semua pihak perlu menggerakkan seluruh sumberdaya yang ada untuk pembangunan peternakan, demi mewujudkan Indonesia sebagai sumber pangan dunia.

Tercatat dalam kurun 2017 - 2020 Kementan berhasil melakukan inseminasi buatan (IB) pada ternak sapi dan kerbau sebanyak 13.868.641 akseptor dan telah menghasilkan anak dari hasil perkawinan IB sebanyak 6.133.896 ekor. Sampai dengan 27 Juli 2020 secara Nasional, program Sikomandan telah melakukan IB sebanyak 2.318.136 akseptor, bunting 1.359.094 ekor dan kelahiran sebanyak 1.394.446 ekor. Dengan keberhasilan tersebut terjadi lompatan populasi sapi/kerbau yang cukup signifikan selama lima tahun terakhir, yaitu sebesar 3,37 juta ekor, sehingga populasi saat ini berjumlah 18,82 juta ekor.

Sulawesi Selatan sendiri dinilai sebagai salah satu sentra pertanian dan peternakan di pulau Sulawesi, karena mempunyai posisi strategis dalam penyediaan pangan. Dalam pengembangan ternak Sikomandan tahun 2020, pemerintah Sulawesi Selatan telah mampu melakukan IB mencapai 37.851 akseptor dan menghasilkan kelahiran anak sebanyak 24.728 ekor.

"Kontribusi hasil pertanian dan peternakan Sulawesi Selatan telah mampu untuk mencukupi kebutuhan masyarakatnya," katanya.

Lebih lanjut, diungkapkan pemerintah melalui Kementan telah menyiapkan bantuan bagi masyarakat peternak yang meliputi: sapi potong 120 ekor, kambing/domba 675 ekor, babi 100 ekor, dan ayam lokal 4.500 ekor. Bantuan ini dikatakan sebagai bentuk apresiasi kinerja peternak dan mendorong laju pertumbuhan pembangunan peternakan dan kesehatan hewan di Sulawesi Selatan.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), I Ketut Diarmita menyampaikan turut bangga atas capaian para peternak Indonesia dalam meningkatkan populasi sapi. Ia berpendapat, jika semangat ini terus dijaga peternak Indonesia bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri bahkan dunia, sesuai visi lumbung pangan dunia 2045.

"Kami bangga pada peternak Indonesia yang bersemangat mengembangkan sapi nasional, sehingga populasinya meningkat, lebih berkualitas, dan dapat mensejahterakan peternak," ujar Ketut.

Ketut menjelaskan capaian realisasi program Sikomandan Provinsi Sulawesi Selatan sampai dengan 28 Juli 2020 berdasarkan data Isikhnas. Proses IB berhasil 54,32 persen atau 35.495 akseptor dari target 65.350. Sementara kebuntingan sapi sebanyak 35.378 ekor atau 84,92 persen dari target 41.660. Sedangkan kelahiran menghasilkan sebanyak 24.919 ekor anak atau 28,16 persen dari target 88.494.

Sementara itu, realiasi Sikomandan di Kabupaten Sinjai per 28 Juli 2020 juga cukup tinggi. Dari target 4.500 akseptor, berhasil dikawinkan sebanyak 2.865 akseptor atau 63,67 persen dari target. Realisasi IB mencapai 3.679 dosis atau 78.30 persen dari target 4.950 Tingkat kebuntingan juga cukup tinggi di angka 92,86 persen dari target 2.900 ekor dan yang terealisasi 2.693 ekor. Kemudian untuk kelahiran, dari target 6.146 ekor, terealisasikan sebanyak 1.669 ekor atau 27,16 persen dari target.

"Hasilnya cukup fantastis. Sikomandan yang salah satu kegiatannya adalah gerakan Inseminasi Buatan (IB) secara masif dan hasilnya seperti yang bisa kita lihat pada kegiatan panen pedet ini," tandas Ketut.****

KEMENTAN - UNUD MOU DUKUNG SIKOMANDAN

Selain Sapi, Kerbau adalah potensi besar pengembangan ternak lokal
(Foto: Humas PKH)


Kementan-Unud MOU Dukung Sikomandan

Denpasar, Bali (27/07). Dalam rangka mendukung peningkatan Produksi Sapi dan Kerbau Andalan Negeri (Sikomandan), Kementerian Pertanian melalui Direkrorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman dengan Universitas Udayana (Unud), Bali.

Menurut Dirjen PKH, I Ketut Diarmita, selain fokus pada Sikomandan, kerjasama ini juga menyangkut pengembangan sumberdaya manusia, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta percepatan pelaksanaan program pembangunan bidang peternakan dan kesehatan hewan.

"Peran akademisi sangat penting dalam pembangunan peternakan dan kesehatan hewan, terlebih Universitas Udayana yang ada di Bali dengan plasma nutfah aslinya yakni Sapi Bali," ungkap Ketut saat menyampaikan sambutannya pada acara penandatanganan Nota Kesepahaman di Denpasar, Bali.

Ia berharap bahwa Unud dapat berperan dalam meningkatkan produktivitas Sapi Bali dengan perbaikan mutu genetik dan bibit yang dimiliki. Hal itu disampaikannya di hadapan Wakil Rektor Unud dan jajarannya, direktur dan pejabat lingkup Ditjen PKH, serta perwakilan dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan Provinsi Bali.

Ketut menjelaskan bahwa dalam jangka panjang, perbaikan mutu bibit dan genetik ternak diperlukan untuk mendukung pemenuhan kecukupan protein hewani yang berasal dari produk hewan dalam negeri sesuai amanat Permentan Nomor 17 Tahun 2020 tentang Peningkatan Produksi Sapi dan Kerbau Komoditas Andalan Negeri (Sikomandan).

"Melalui Nota Kesepahaman ini, diharapkan Unud dapat memberikan bantuan keahlian, peningkatan kapasitas dan kompetensi sumberdaya manusia, penelitian dan/atau pengembangan teknik metoda, peningkatan jejaring, kapasitas, dan kompetensi kelembagaan, serta pendampingan program/kegiatan PKH," ucapnya.

Ketut kemudian menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Rektor Universitas Udayana beserta jajaran yang telah  menyambut baik kerjasama tersebut dan berharap upaya yang dikerjakan dapat memberikan kontribusi nyata dalam peningkatan protein hewani kepada rakyat atau masyarakat di seluruh wilayah Indonesia.

Sementara itu, Rektor Universitas Udayana yang diwakili oleh Wakil Rektor Bidang Perencanaan Kerjasama dan Informasi, Ida Bagus Wyasa Putra dalam sambutannya menyampaikan bahwa pihak Unud menyabut baik kerjasama ini, dengan Tri dharma perguruan tinggi, Unud diharapkan dapat memberikan sumbangsih dalam pembangunan peternakan dan kesehatan hewan secara nasional dan bermanfaat bagi kedua belah pihak.

"Kami siap menindaklanjuti kerjasama ini, semoga Unud dapat berkontribusi besar dalam mendukung program-program Ditjen PKH," pungkasnya.****

BAGAIMANA COVID-19 MERUBAH DAN BERDAMPAK PADA BISNIS

Para narasumber dalam webinar kerjasama Kemin dan Asian Agribiz

Transforming Business for Post COVID adalah judul webinar yang diadakan oleh Kemin Asia pada 29 Juli 2020. Webinar singkat ini menghadirkan 2 pembicara yaitu Dr Tan Hai Meng, President & CEO Kemin Animal Nutrition and Health, Asia Pacific. Serta Rex Holyoake, Managing Director, Asian Agribiz Group sebuah grup yang menerbitkan banyak majalah.

Meski singkat materi yang dibahas menarik dan bermanfaat. Di tulisan ini kami tuturkan kembali apa yang dialami dan dilakukan Kemin dan Asian Agribiz terkait pandemi COVID-19.

COVID-19, terutama di awal pandemi, sangat melambankan bisnis. Banyak pihak termasuk Kemin dan Asian Agribiz yang mengalaminya.

Pengiriman tertunda, distribusi melamban bahkan di sebagian tempat berhenti total. Konferensi yang jauh hari sudah dijadwalkan pun terpaksa batal. Karenanya perusahaan dituntut untuk bereaksi cepat dan tepat menghadapi situasi yang ada.

Misalnya dengan me-review terus-menerus pilihan logistik yang terbaik sesuai kondisi. Juga menjadwalkan ulang konferensi yang diubah menjadi konferensi online.

Namun COVID-19 juga membawa hal positif. Karena terbatasnya interaksi fisik, akibatnya orang sekarang jadi makin banyak yang mencari informasi secara online. Hal itu berimbas pada naiknya trafik website dan naiknya permintaan akan majalah digital.

Cara kerja pun mendadak berubah. Meeting dengan klien sekarang diadakan secara virtual. Karyawan jika tidak perlu sekali disarankan untuk bekerja dari rumah saja.

Bagi yang bekerja di kantor dan pabrik pun diterapkan standar higienis yang ketat. Misalnya dengan memakai masker, menjaga jarak fisik, cek suhu tubuh harian. Kemudian pekerja tidak boleh memasuki area yang bukan menjadi tempat kerjanya. Di dalam tempat kerja pun diberi pembatas untuk meminimalkan interaksi fisik.

Perusahaan juga menyadari bahwa karyawan secara mental pasti tertekan oleh perubahan dan pandemi yang mendadak ini. Untuk itu diadakan berbagai program untuk merilekskan pikiran. Seperti kelas masak online, kelas olahraga online, perayaan ulang tahun secara virtual, hingga saling membelikan dan mengirimkan makanan. Yang diorder tidak tanggung-tanggung, makanan dari restoran kelas Michelin Star.

Meski keadaan internal terdapat beberapa kesulitan akibat pandemi, perusahaan tidak menutup mata pada kesulitan yang ada di lingkungan sekitar. Untuk itu diadakanlah program penggalangan donasi. Hasilnya dibelikan semacam alat perlindungan diri, masker, lalu didonasikan ke rumah sakit, sesama karyawan, hingga ke pelanggan.

Pada akhir webinar Dr Tan Hai Meng mengatakan cara kerja telah berubah dan akan terus berubah. Bekerja dari rumah dikombinasi dengan bekerja di kantor akan menjadi pola kerja di masa depan.

Sementara Rex Holyoake mengatakan pelaku bisnis harus fleksibel meghadapi keadaan. Jangan berkata tidak bisa melakukan sesuatu, tapi berkatalah kita harus bisa melakukannya, lalu cari cara bagaimana agar bisa melakukannya. (NDV)

UPAYA KEMENTAN STABILISASI PERUNGGASAN NASIONAL



Upaya Kementan Stabilisasi Perunggasan Nasional

Sudah sebanyak 22 perusahaan perunggasan telah berkomitmen melakukan penyerapan livebird (LB)dari peternak UMKM dengan target sebanyak 4.119.000 ekor. Hasilnya, pada 21 April sampai 21 Mei 2020 telah terealisasi pembelian LB dari peternak UMKM sebanyak 928.833 ekor atau 22,55% oleh 22 perusahaan tersebut.

"Penyerapan LB tersebut telah terbukti mampu memberikan pengaruh terhadap perbaikan harga," kata Dirjen PKH Kementan, I Ketut Diarmita.

Harga LB di tingkat peternak sendiri diketahui mengalami peningkatan pada bulan Mei 2020. Saat ini sudah mencapai harga acuan Permendag No. 7 tahun 2020 yaitu harga pembelian di tingkat petani untuk batas bawah seharga Rp. 19.000/kg.

Ketut menyampaikan, sejatinya saat memasuki awal tahun 2020 kondisi perunggasan memang kurang kondusif. Harga LB sempat anjlok sampai yang terendah pada bulan April rata-rata Rp.13.517/kg di Pulau Jawa. Harga tersebut jauh di bawah HPP (Harga Pokok Produksi) tingkat peternak yaitu Rp. 15.000-17.000/kg.

Produksi DOC bulan Juni berdasarkan data Setting Hatching Record (SHR), sebanyak 186.082.424 ekor dan berpotensi menjadi daging ayam pada bulan Juli sebanyak 205.178 ton. Kebutuhan daging ayam ras bulan Juli 2020 sebanyak 162.465 ton, artinya terjadi surplus sebanyak 42.713 ton atau 26,29%.

"Persentase surplus cukup besar sehingga laju pertumbuhan produksi DOC FS dikendalikan dengan melakukan penyesuaian produksi berdasarkan demand," jelas Ketut.

Pemerintah terus berupaya dalam rangka stabilisasi pasokan. Harga LB sejak Januari-April telah dilakukan pengurangan produksi DOC FS melalui cutting telur HE, afkir dini Parent Stock (PS) umur ≥ 60 minggu dan tunda setting telur HE untuk CSR ke Yayasan/Pesantren dan wilayah terdampak bencana.

Upaya itu adalah ikhtiar Kementerian Pertanian RI (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) untuk menstabilisasi harga perunggasan. Dan perusahaan perunggasan diimbau untuk terus melakukan penyerapan LB di tingkat peternak UMKM.

Langkah Stabilisasi Perunggasan

Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak, Ditjen PKH Kementan, Sugiono menjelaskan ada beberapa langkah untuk stabilisasi perunggasan nasional. Langkah ini akan terbagi menjadi tiga tahapan yaitu jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang.

"Dalam program jangka pendek, kami akan mengoptimalkan data SHR sebagai acuan penyajian data supply dan demand FS aktual setiap minggu," kata Sugiono.

Berdasarkan basis data supply dan potensi demand mingguan tersebut secara cepat dapat dilakukan tindakan antisipatif berupa pengendalian produksi FS melalui afkir dini PS. Penyerapan LB dari peternak UMKM oleh mitra perusahaan perunggasan dan penugasan BUMN juga akan ada saat supply berlebih dan harga LB di bawah HPP.

Pemerintah juga dikatakan akan mengawal penyimpanan dan distribusi daging beku (karkas) dari cold storage untuk menstabilkan harga daging ayam yang mahal melebihi harga acuan penjualan di tingkat konsumen.

"Kami juga menghimbau peternak eksternal (mandiri) agar segera melakukan Standing Order (SO) DOC FS kepada pembibit untuk 3-4 minggu kedepan. SO sebagai acuan produksi DOC FS, pembibit melakukan setting telur HE berdasarkan SO untuk eksternal dan internal farm," papar Sugiono.

Selain itu, akan dilakukan audit kinerja farm PS aspek kesesuaian Good Breeding Practices (GBP) sekaligus pembinaan aspek manajemen dan biosecurity breeding farm untuk meningkatkan performa dan efisiensi.

"Serta kami juga akan mengupayakan penyelesaian revisi Permentan 32 Tahun 2017 dalam jangka dekat ini," sambung Sugiono.

Adapun langkah yang akan dilakukan untuk jangka menengah. Seperti, mengusulkan review struktur biaya produksi ayam ras sebagai rekomendasi perubahan harga acuan Permendag No 7 tahun 2020. Lalu, harga acuan pembelian di tingkat petani untuk livebird dan telur ayam ras diupayakan mencapai efisiensi dalam aspek upaya produktivitas (performa) serta mempertimbangkan harga pakan dan DOC.

Selanjutnya, diharapkan adanya efisiensi biaya produksi maka HPP (harga pokok produksi) livebird dan telur ayam ras menjadi lebih rendah dan menjadi rekomendasi perubahan harga acuan Permendag yang dinilai terlalu tinggi. Meningkatkan Nilai Tukar Petani (NTP) subsektor peternakan dengan perbaikan harga LB dan telur ayam ras juga diperlukan dalam langkah stabilisasi jangka menengah.

"Capaian NTP subsektor peternakan paling berkontribusi terhadap NTP pertanian. Lalu, langkah jangka menengah lainnya yaitu memvalidasi data demand dari setiap provinsi sebagai basis perhitungan supply demand menurut wilayah," papar Sugiono.

Sedangkan dalam langkah jangka panjang pemerintah akan merumuskan kewajiban pemotongan ayam ras di RPHU dan optimalisasi cold storage untuk menekan peredaran livebird. Optimalisasi tata niaga ayam ras melalui rantai dingin, akselerasi target peningkatan konsumsi ayam dan telur ayam ras melalui promosi dan peningkatan industri olahan, serta akselerasi capaian target ekspor produk unggas dengan memperluas penerapan sistem kompartemen bebas AI.

Sementara itu, Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo menegaskan saat ini pemerintah berkomitmen untuk membenahi sektor perunggasan nasional demi meningkatkan kesejahteraan peternak rakyat.

"Kami upayakan stabilitas perunggasan nasional ini utamanya untuk kesejahteraan peternak. Pemerintah juga akan mendengarkan usulan berbagai pihak," tuturnya.****

HITPI GELAR WEBINAR PENINGKATAN KAPASITAS HIJAUAN PAKAN

Webinar HITPI ke-10. (Foto: Dok. Infovet)

Himpunan Ilmuwan Tumbuhan Pakan Indonesia (HITPI) kembali menyelenggarakan webinar nasional ke-10, pada Senin (27/7/2020), mengangkat isu terkini mengenai peningkatan kapasitas hijauan pakan untuk menjaga keberlanjutan bisnis peternakan selama masa pandemi COVID-19 dan era new normal.

Panitia Pelaksana, Dr Suharlina dalam sambutannya menyampaikan bahwa pelaksanaan webinar bertujuan mewadahi para ilmuwan tumbuhan pakan untuk memaparkan hasil-hasil kajiannya, agar dapat diadopsi peternak dalam membantu meningkatkan produktivitas ternak.

“Diseminasi hasil penelitian sangat diperlukan, HITPI telah memfasilitasi anggotanya hingga ditahun ke-10 ini,” kata Dr Suharlina. Di webinar HITPI kali ini menghadirkan Drh Makmun Junaidi (Direktur Pakan), Dr Shokri Jusoh (Universiti Putra Malaysia), Dr Ir Nafiatul Umami (dosen Universitas Gadjah Mada) dan Achmad Wahyudin (Ketua Kelompok Ternak Hurip Mekar).

Ketua HITPI, Prof Dr Ir Luki Abdullah, menyambut baik antusias peserta. “Sepuluh tahun HITPI mengabdi untuk para peternak, para anggota HITPI terus berkarya hingga menemukan hal-hal baru. Tumbuhan pakan tumbuh subur di beberapa wilayah Indonesia, varietas baru ditemukan dan didiseminasikan langsung ke peternak untuk ditanam dan dibudidayakan guna mencukupi kebutuhan ternak,” kata Luki yang juga Guru Besar Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan IPB.

Prof Luki menambahkan bahwa saat ini masih banyak hal yang perlu mendapat perhatian, mulai dari keterbatasan lahan, bibit unggul dan lain sebagainya. Namun demikian, ia tidak menampik bahwa sukses para Ilmuwan Indonesia di bidang tumbuhan pakan patut diacungi jempol.

“Kita telah banyak membukukan temuan-temuan mutakhir, misalnya Indigofera yang masih trending sebagai konsentrat hijau dan Hijauan Pakan Ternak (HPT) lainnya dari berbagai daerah dengan berbagai varietas unggul yang dilaporkan para anggota HITPI,” ungkapnya.

Sementara terkait pengembangan HPT akan segera diprogramkan menjadi tugas utama Direktur Pakan, Makmun Junaidin. “Kita paham hampir 75% agro input tersebut didominasi pakan ternak termasuk HPT itu sendiri, sehingga jika pemerintah menginginkan negeri ini mampu mengurangi importasi daging dan sapi hidup, maka upaya yang perlu dibenahi adalah penyediaan pakan ternak,” kata Makmun kepada awak Infovet.

Di samping HPT lanjut dia, bahwa sumber bahan pakan ternak lainnya dapat diambil dari produk samping kelapa sawit. “Seperti Bungkil Inti Sawit dan turunannya sangat potensial dijadikan sumber bahan pakan ternak, tinggi protein dan disukai ternak,” tambahnya.

Namun akses untuk mendapatkan bahan pakan tersebut masih menjadi persoalan. Makmun pun mengimbau pemerintah daerah bisa memfasilitasi hal tersebut.

“Hal menarik di kawasan perkebunan kelapa sawit Bangka Belitung, para pemilik kelapa sawit yang membudidayakan ternak, mereka mengantarkan sawitnya ke pabrik, lalu saat pulang mereka akan membawa produk samping kelapa sawit untuk ternak menggunakan sistem penggilingan padi dan model ini dapat dikembangkan ke seluruh daerah yang mempunyai pabrik kelapa sawit” imbuh Makmun. 

Di samping penyediaan pakan dan HPT, teknologi preservasi HPT juga perlu ditingkatkan. Preservasi HPT yang diadopsi oleh sebagian peternak adalah pembuatan silase. Walau silase telah diperkenalkan sejak lama, namun teknologi preservasi ini masih sebatas untuk memenuhi kebutuhan peternak saja, belum mengarah komersil. Hal tersebut disampaikan Achmad Wahyudin.

“Pembuatan silase dapat membantu peternak dalam penyediaan pakan pada masa sulit mendapatkan HPT. Kita pun telah mengomersialisasikan silase pada peternak di wilayah kami maupun daerah lain,” katanya. (Sadarman)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer