-->

DIRJEN PKH DAN SEJUMLAH TOKOH DUKUNG SUKSESNYA IIPC UNTUK KEMAJUAN PERUNGGASAN

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan serta sejumlah tokoh asosiasi menyatakan dukungan terhadap terselenggaranya konferensi internasional perunggasan IIPC (Indonesia International Poultry Conference)

Dr. Drh. I Ketut Diarmita MP
Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Dr Drh I Ketut Diarmita , MP menyambut baik dan mendukung terselenggaranya acara IIPC (Indonesia International Poultry Conference) yang akan berlangsung di Solo tanggal 2-4 April 2020.
Kepada Infovet, Selasa (3/03/20) ia mengatakan, melihat acaranya, pihaknya berpandangan acara ini sangat bagus untuk diikuti stakeholder perunggasan baik dari asosiasi perunggasan, kalangan pelaku usaha perunggasan hulu hingga hilir, industri sarana produksi, kalangan peneliti, kampus maupun pemerintah.

Narasumber dari konferensi ini sangat lengkap, menghadirkan pakar-pakar perunggasan top Indonesia dan narasumber luar negeri baik dari lembaga international maupun industri. Hal ini akan membuat acara ini menjadi lebih bermakna. apalagi dengan adanya acara wisata budaya diharapkan IIPC lebih berkesan bagi peserta dan ikut berkontribudi dalam pengembangan wisata Budaya Indonesia.

"Saya percaya dengan pengelolaan yang profesional acara ini terus berkembang di masa mendatang. IIPC diharapkan membawa nama harum indonesia khususnya di kalangan perunggasan dunia. Selain itu IIPC ikut berkontrubisi dalam meningkatkan daya saing perunggasan nasional karena di forum ini terjadi sharing ilmu dan pengalaman dari berbagai pakar dan kalangan industri" harap Dirjen.

Drh. M Munawaroh MM
Sementara itu Ketua Umum PB PDHI (Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia) Drh. M Munawaroh MM, mendukung tema IIPC "Saya mendukung acara IIPC, karena event konferensi perunggasan internasional memang perlu diselenggarakan di Indonesia sebagai negara yang masuk dalam 10 negara besar produsen unggas dunia. Selain itu topiknya sangat relevan dengan permasalahan aktual saat ini tentang manajemen dan teknologi kesehatan unggas di era free AGP. Saya menghimbau para dokter hewan hadir sebagai peserta di acara ini, “ujar Ketua Umum PB PDHI.

Menurutnya, dokter hewan memiliki peran strategis dalam penggunaan antibiotik. Sebagai konsultan teknis peternakan dokter hewan wajib mengajak para pelaku usaha peternakan untuk bijak dalam penggunaan antibiotik mesti menganut 4 R yaitu Right Drug, Right Dose, Right Time, Right Duration.

Tri Hardiyanto
Dewan Pembina GOPAN (Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional) Ir. Tri Hardiyanto mengatakan IIPC diharapkan bisa menjadi forum sharing ilmu dan pengalaman mengenai teknis budidaya perunggasan sehingga daya saing perunggasan nasional meningkat.

“Perunggasan kita menghadapi tantangan baru dengan adanya pelarangan AGP, namun saya yakin semua ada solusinya, karena para pakar terus melakukan kajian mengenai budidaya perunggasan yang sesuai perkembangan zaman,” ujar Tri.

Ia menjelaskan, teknis Budidaya yang dimaksud adalah budidaya dalam arti luas termasuk SOP (standar Operating Procedure) baru dan program pengobatan baru menuju Nona alias Non Antibiotik dimana antibiotik diharapkan bisa digantikan dengan probiotik dan produk lain seperti jamu, yang bahan bakunya banyak di Indonesia ,” tambah Tri yang juga pendiri GOPAN

Ia menambahkan , disaat corona virus sudah masuk ke Indonesia  perlu dikaji bagaimana tipe vaksin unggas kita apakah masih tepat? Bagaimana dengan SOP biosekuriti? Dalam aspek teknis lainnya perlu perhatian antara lain kewilayahan peternakan yang masih crowded, umur ayam yang tidak beraturan di area area padat tenak, dengan kepemilikan yang beragam.

 “Kerugian peternak saat ini 40 sampai 50 persen berasal dari kegagalan produksi yang mengakibatkan harga lebih terpuruk lagi disaat harga jual memang jatuh akibat over supply,” tambah Tri. Hal ini berarti forum yang membahas teknis seperti IIPC menjadi sangat penting

Drh. Irawati Fari
Ketua Umum ASOHI (Asosiasi Obat Hewan Indonesia ) Drh Irawati Fari menyambut baik terselenggaranya IIPC di Solo. “Saya menghimbau perusahaan obat hewan dan stakeholders perunggasan berpartisipasi dalam event penting ini baik sebagai sponspor maupun mengirim customer atau staf untuk hadir di acara ini,” ujar Irawati.

Ia menambahkan, dengan diselenggarakan IIPC ini , selain menjadi ajang pertemuan para pelaku perunggasan dan stake holders terkait, juga akan bermanfaat untuk sharing ilmu , kondisi ter-upadate terkait penyakit unggas , informasi terkait penelitian-penelitian dan kesehatan unggas baik dari dalam maupun luar negeri.

Dr. Drh. Desianto B Utomo
Hal senada disampaikan oleh Ketua Umum GPMT (Gabungan Perusahaan Makanan Ternak) Drh. Desianto Budi Utomo, PhD. Ia mengharapkan agar melalui acara IIPC,  informasi mengenai manajemen dan teknologi perunggasan di era AGP free bisa makin tersebar luas dan bermanfaat bagi pelaku usaha perunggasan.

Menurut Desianto, para Feedmillers, terutama bagian produksi, diharapkan bisa lebih cepat dalam mengadopsi Manufacturing Technology dalam kaitan revolusi industri 4.0. Disamping itu juga diharapkan bisa meningkatkan utilisasi dari bahan baku lokal yang tersedia di Indonesia. Hal-hal tersebut  bisa juga didapatkan informasinya ketika saat seminar teknis maupun dalam forum diskusi dengan para pakar di ajang IIPC.

“Selamat meningkatkan pengetahuan dan wawasan di industri perunggasan melalui IIPC,” tegas Ketua Umum GPMT.

IIPC Angkat Tema AGP

IIPC (Indonesia International Poultry Conference)  yang akan dihelat pada Kamis-Sabtu  2-4 April 2020 di Hotel Alana, Blulukan-Solo itu mengambil tema "Poultry Health Management & Technology in AGP Free Era".

Drh Rakhmat Nuriyanto MM selaku komite ahli menjelaskan, tema ini dipilih karena sejak adanya pelarangan AGP awal tahun 2018 pelaku usaha perunggasan masih membutuhkan proses penyesuaian manajemen dan teknologi dalam melakukan budidaya unggas tanpa AGP. Para ahli yang akan dihadirkan akan menjelaskan berbagai sisi secara lengkap. 

Konferensi ini menjadi sangat penting untuk dihadiri baik dari kalangan industri perunggasan maupun dari kalangan ilmuwan perunggasan seperti akademisi maupun lembaga terkait lainnya.


IIPC menghadirkan narasumber ahli perunggasan ternama dari dalam dan luar negeri yang meliputi berbagai disiplin ilmu perunggasan, antara lain:
  1.  Dr Luuk Schoonman (FAO Expert)
  2.  Dr. Orlando Fernandez , USSEC (United State Syobean Export Council) expert
  3.  Prof. Dr. Drh. Charles Rangga Tabbu (Gadjah Mada University)
  4.  Dr. Drh. Nlp Indi Dharmayanti (Indonesian Research Center for Veterinery Science).     
  5.  Prof. Dr. Drh. Michael Haryadi (Gadjah Mada University)
  6.  Mr Tony Unandar (Privat Poultry Farm Consultant)
  7.  Narasumber pendukung dari Industri dalam dan luar negeri
Dalam rangkaian acara IIPC selain hadirnya para narasumber terkemuka, peserta juga diajak mengikuti acara bernuasa budaya. Direncanakan akan diselenggarakan welcome party bersama Walikota Solo di Loji Gandrung yang merupakan Cagar Budaya Kota Surakarta,  acara wisata kuliner , serta kunjungan ke The Heritage Palace, sebuah destinasi wisata baru di kota Surakarta.

Untuk mengikuti acara IIPC, peserta dapat memilih paket kepesertaan sebesar Rp. 6.000.000/orang  (menginap single bed), atau Rp. 5.000.000 (menginap twin bed). Pendaftaran online melalui klik 
http://bit.ly/IIPC2020FORM , atau hubungi panitia  +628777 829 6375  (Mariyam )***


PELATIHAN KETUA ASOHI DAERAH SUKSES DIGELAR


Pelatihan ASOHI daerah sukses digelar (Foto: Istimewa)

Bertempat di Hotel Santika Teras Kota, BSD, Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) menggelar Pelatihan Ketua ASOHI Daerah. Kegiatan yang dihadiri 15 ASOHI daerah berlangsung pada 25-26 Februari 2020.

Ketua Umum ASOHI, Drh Irawati Fari memaparkan menjadi ketua ASOHI daerah yang profesional, diharapkan ketua terpilih memahami serta menjalankan organisasi sesuai visi, misi, dan AD/ART ASOHI.

Selain itu, memahami kebijakan dan peraturan yang berlaku. “Jalankan amanah dengan profesional, berdedikasi, berkomitmen, dipercaya serta sebagai role model timnya,” tuturnya.

Lebih lanjut disebutkan Irawati dalam pemaparannya, dinamika ASOHI mencakup dinamisir ASOHI daerah, kaderisasi hingga persiapan Munas VIII 2020. (INF)

 


TINGKATKAN KEMAMPUAN DAN KETERAMPILAN, ASOHI KEMBALI ADAKAN PPJTOH

Foto bersama dalam kegiatan PPJTOH angkatan XIX 2020 di Santika TMII, Jakarta. (Foto: Dok. Infovet)

Dalam rangka meningkatkan kemampuan dan keterampilan bagi Penanggung Jawab Teknis Obat Hewan (PJTOH), Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) bekerja sama dengan Direktorat Kesehatan Hewan (Ditkeswan) secara berkesinambungan kembali melaksanakan Pelatihan Penanggung Jawab Teknis Obat Hewan (PPJTOH) angkatan XIX 2020 yang berlangsung 3-5 Maret 2020.

“Pada pelatihan kali ini materi yang disampaikan meliputi tiga bagian, yaitu materi tentang perundang-undangan, materi kajian teknis (biologik, farmasetik, feed additive, feed supplement dan obat alami), serta materi tentang pemahaman organisasi dan etika profesi,” ujar ketua panitia pelaksana, Drh Forlin Tinora dalam sambutannya.

Pada kesempatan kali ini, ASOHI turut menghadirkan pihak-pihak kompeten untuk menjadi narasumber, diantaranya Direktorat Kesehatan Hewan beserta Subdit Pengawasan Obat Hewan (POH), Direktorat Pakan, BBPMSOH (Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan, Komisi Obat Hewan (KOH), Tim CPOHB (Cara Pembuatan Obat Hewan yang Baik), PDHI (Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia), Pusat Karantina Hewan, PPNS (Penyidik Pegawai Negeri Sipil) dan Ketua Umum ASOHI, beserta Dewan Pakar dan Dewan Kode Etik ASOHI.

Oleh karena itu kegiatan inipun dipandang sangat penting bagi para dokter hewan maupun apoteker yang bekerja sebagai PJTOH. “ASOHI hampir tiap tahun mengadakan pelatihan ini. Sejak berlakunya pelarangan AGP pada 2018, tampaknya kesadaran para dokter hewan dan apoteker terhadap pentingnya pelatihan PJTOH semakin meningkat, sehingga pada 2018 lalu mencapai tiga angkatan, dan pada tahun ini kemungkinan hanya dua angkatan, karena ada beberapa calon peserta yang tidak diikutkan dan kapasitas ruangan tidak memungkinkan ditambah,” kata Ketua Umum ASOHI, Drh Irawati Fari.

Kendati demikian, lanjut dia, selain pelatihan PJTOH tingkat dasar seperti yang sekarang ini berlangsung, ASOHI merencanakan akan menyelenggarakan PPJTOH tingkat lanjutan (advance).

“Pelatihan PJTOH tingkat lanjutan ini akan membahas topik-topik yang lebih mendalam, sehingga ilmu yang diperoleh dari pelatihan tingkat dasar akan terus berkembang dan bermanfaat sesuai perkembangan zaman,” tandas Irawati. (INF)

MEMBENTUK SDM BIDANG PETERNAKAN BERKARAKTER WIRAUSAHA


Dalam menciptakan SDM Indonesia yang unggul dan memiliki daya di tingkat regional, harus melibatkan masyarakat, perusahaan, termasuk industri swasta dan Badan Usaha Milik Negara, serta pemerintah pusat serta daerah. Hal dimaksudkan untuk membuka peluang jangkauan yang lebih luas dengan hasil yang lebih optimal agar SDM Indonesia dapat memenangi persaingan di kancah internasional.

Semangat untuk turut membangun sumber daya manusia yang unggul itulah yang melatarbelakangi adanya program magang khusus bagi para sarjana peternakan yang baru lulus, yang dilakukan oleh Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI) bekerjasama dengan Red Meat and Cattle Partnership (RMCP). Berlangsung pada Desember 2019 hingga Februari 2020, magang dilaksanakan di 10 perusahaan peternakan, dengan jumlah peserta total  25 orang alumni beberapa perguruan tinggi peternakan di Indonesia. Menurut Muhsin Al Anas selaku Koordinator Program dari Pengurus Besar ISPI, tujuan utama program tersebut adalah meningkatkan keterampilan dan pemahaman terkait bisnis proses perusahaan yang bergerak di industri peternakan bagi sarjana peternakan.

Program magang yang diselenggarakan ISPI dan RMCP ini memberi manfaat bagi sarjana baru peternakan, serta bermanfaat pula bagi kalangan perusahaan peternakan. Hal ini dikarenakan perusahaan peternakan tidak perlu lagi repot-repot melakukan proses seleksi, karena calon karyawan yang sesuai sudah bisa dijaring melalui program magang ini. Hal itu dijelaskan oleh Ketua Umum ISPI Didiek Purwanto dalam workshop penutupan program magang ISPI-RMCA di Jakarta pada 2 Maret 2020.

Didiek mengharapkan program magang ini dapat terus berjalan secara rutin dengan bekerjasama dengan perusahaan pengguna sarjana peternakan, baik yang bergerak di bidang budidaya ternak, pengiriman ternak, asuransi ternak hingga di bidang ritel. Ia juga mengingatkan kepada para para sarjana peternakan yang baru, bahwa dalam bekerja, ternyata tidak hanya ilmu dan keterampilan saja yang dibutuhkan, namun juga karakter peserta juga yang bisa berkembang dan sesuai bersama budaya perusahaan.

Suaedi Sunanto dari PT Nutricell Pacific menambahkan, peserta magang yang ditempatkan di perusahaannya diposisikan sebagai partner kerja, dan bukan sebagai staf karyawan -selama program magang 3 bulan tersebut. Hal itu dimaksudkan karakter SDM milenial saat ini yang sangat diminati adalah yang berkarakter wirausaha. Dengan demikian, dalam program magang ini diharapkan dapat menjadi tambahan nilai atas diri masing-masing peserta magang. Nutricell Pacifi merupakan perusahaan yang bergerak di bidang bahan pakan tambahan untuk dapat membantu meningkatkan performa sapi lebih baik, lebih sehat, aman, dan dicintai konsumen.

Dalam acara workshop tersebut, para peserta magang juga mendapatkan pembekalan tentang motivasi dan semangat bekerja di bidang peternakan oleh Dosen Fakultas Peternakan Edwin Indarto. (IN)

PRISMA DAN PT SUMBER UNGGAS INDONESIA BAHAS EVALUASI DAN PELATIHAN DI PAPUA

PRISMA dan PT SUI, bekerjasama membangun bangsa melalui Ayam Kampung

Hari Rabu (26/2) yang lalu, PRISMA dan PT Sumber Unggas Indonesia (PT SUI) melakukan pertemuan di markas PT SUI kampung Cogreg Bogor. PRISMA bertandang ke kantor PT SUI dalam rangka mengevaluasi kerjasama SUI-PRISMA sejak bulan Desember 2019 sampai Februari 2020.Program - program tersebut diantaranya memperkenalkan ayam KUB, melatih peternak, mengurangi angka stunting, dan pada akhirnya menyejahterakan peternak di Nusa Tenggara Timur. 

Promoting Rural Income through Support for Markets in Agriculture (PRISMA) adalah lembaga non pemerintah yang berafiliasi dengan pemerintah Australia memfokuskan organisasinya dalam pemberdayaan petani/peternak khususnya di wilayah timur Indonesia. 

Meski masih ada beberapa target yang belim dicapai, PRISMA dan PT SUI sepakat bahwa program yang dilakukan di NTT secara umum dapat dikatakan sukses. Salah satu pencapainnya adalah hadirnya peternak-peternak baru yang memeihara ayam kampung. Hal ini ditandai dengan jumlah pengiriman anak ayam kampung jenis KUB (Kamung Unggul Balitbangtan) dari penetasan PT Sumber Unggas Indonesia cabang Bali sebanyak 1500-2000 ekor per minggu ke NTT.

Manajer Portfolio PRISMA, Prajwal Shahi mengatakan, PT Sumber Unggas Indonesia merupakan salah satu partner terbaik sehingga program ini bisa terlaksana dengan baik. Kami berharap agar program ini benar-benar bermanfaat di NTT. 

Direktur Utama PT Sumber Unggas Indonesia Naryanto mengungkapkan kerjasama dengan Prisma membawa banyak manfaat besar bagi Indonesia timur. “Kalau dulu kita sulit mengirim anak ayam kampung ke NTT karena terkendala peraturan daerah. Sekarang kita sudah bisa mengirim anak ayam kampung ke NTT karena sudah mendapat izin resmi dari pemerintah daerah,” ungkapnya.

Jika tidak ada aral melintang, Prisma dan SUI kembali menggelar pelatihan beternak ayam KUB di Papua pada bulan April. (CR)

AYAM SEHAT BERASAL DARI RPHU

Workshop rahasia bisnis kuliner daging ayam. (Foto: Dok. BPPI)

Keamanan pangan merupakan hak konsumen dan telah menjadi prioritas dalam konteks perdagangan global. Sistem keamanan pangan harus didasarkan pada penilaian risiko yang terintegrasi, mulai dari peternakan sampai ke meja makan. Sistem tersebut harus mendorong penetapan manajemen risiko yang tepat dalam bentuk peraturan, yang berasal dari pendekatan konsultatif dan terpadu guna diterapkan secara nasional dan diakui secara internasional.

Hal itu disampaikan oleh Imron Suandy dari Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, dalam workshop tentang rahasia bisnis kuliner daging ayam. Acara yang diselenggarakan oleh Badan Pengembangan Peternakan Indonesia (BPPI) tersebut dilaksanakan di Bandung, Sabtu (29/2/2020), dan dihadiri kalangan milenial yang memiliki minat di bidang wirausaha kuliner berbahan dasar utama daging ayam.

"Untuk penjaminan keamanan pangan, pemerintah berkewajiban mengawasi, memeriksa, menguji, menstandardisasi, mensertifikasi dan meregistrasi produk hewan untuk menjamin produk hewan aman, sehat, utuh dan halal (ASUH). Pengawasan, pemeriksaan dan pengujian dilakukan sepanjang rantai produksi produk hewan, from farm to table,” kata Imron. 

Daging ayam digunakan untuk bahan kuliner dan diedarkan ke masyarakat, Imron menyarankan untuk menggunakan bahan dari ayam sehat, yang dipotong di rumah pemotongan hewan unggas (RPHU), telah menjalani pemeriksaan ante dan post mortem oleh tenaga kesehatan hewan yang berwenang, serta telah dinyatakan aman dan layak dikonsumsi. (IN)

HARGA REFERENSI LIVE BIRD 28 FEBRUARI 2020

Ilustrasi ayam (Foto: Istimewa)

Para peternak dan pelaku usaha perunggasan kembali berkumpul dalam kegiatan Rembug Perunggasan Nasional, Kamis (27/2) di Hotel Harris, Bogor. Kegiatan rutin ini diadakan guna menjaga kestabilan harga ayam hidup sekaligus sebagai forum bagi peternak mengeluarkan unek-unek.

Selain itu, menjadi forum yang efektif untuk mengkoordinasikan dan memberikan solusi mengenai upaya permasalahan yang terjadi diperunggasan nasional.

Sebelum diadakanya Rembug Perunggasan Nasional, telah berlangsung pertemuan koordinasi wilayah stakeholder perunggasan Bandung Raya dan Satelit Pantura Jabar di Bandung, Selasa 25 Februari 2020 serta pertemuan stakeholder perunggasan Jateng dan DIY di Semarang, Rabu 26 Februari 2020.

Dari serangkaian kegiatan rembug tersebut, peternak berharap harga ayam hidup sesuai dengan harga referensi Permendag 07/2020. Dikarenakan harga sapronak (DOC) sudah terlebih dahulu mencapai harga referensi.

Peternak juga menyatakan diperlukan solusi fundamental bagi permasalahan perunggasan, agar kejadian 2019 tidak kembali berulang ditahun 2020 dan kedepannya. Diharapkan kekompakan diantara semua stakeholder agar harga tidak jatuh.

Panduan harga referensi penjualan mulai Jumat, 28 Februari 2020

BOBOT LB (KG)
BANTEN
JABOTABEK
SUKABUMI CIANJUR
BANDUNG
PURWASUKA
JATENG
JATIM
LUAR KOTA





15.500

> 2.2
18.000
18.000
17.000
17.500
16.500
17.000
17.500
2.0 – 2.2
18.000
18.000
17.000
17.500
16.500
17.000
17.500
1.8 – 2.0
18.000
18.000
17.500
17.500
17.000
17.000
17.500
1.6 – 1.8
18.000
18.000
18.000
17.500
17.500
17.000
17.500
1.4 – 1.6
18. 500
19.000
18.000
18.000
18.000
17.000

1.2 – 1.4
20.000
20.000
19.000
18.500
18.500


1.0 – 1.2
21.000
21.000
20.000
20.000
20.000


< 1.0
21.500
21.500
20.500
20.500
20.500


Sumber: GOPAN

Keterangan:
·        - Harga Luar Kota (LK) Jateng Rp. 15.500 sampai dengan Minggu, 1 Maret 2020
·        - Harga berlaku sampai dengan Senin 2 Maret 2020 akan dievaluasi kembali Selasa 3 Maret 2020
·        - Harga jual Selasa naik bertahap Rp. 500/hari menuju harga refrensi Permendag 07/2020 ayam ukuran 16 up (20.000)
·         - Jika harga LB tidak mencapai harga referensi, peternak meminta harga DOC turun


CEGAH ASF MELUAS, LALU LINTAS BABI DIPERKETAT

Pengawasan lalu lintas babi makin diperketat untuk mencegah penyebaran dan meluasnya ASF. (Foto: Humas PKH)

Kementerian Pertanian (Kementan) meminta daerah sentra produksi babi agar terus meningkatkan kewaspadaannya terhadap kemungkinan masuk dan menyebarnya penyakit African Swine Fever (ASF) dengan memperketat dan memperkuat pengawasan lalu lintas babi antar wilayah. 

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), I Ketut Diarmita, mengatakan bahwa pemerintah memberikan perhatian khusus untuk pengendalian dan penanggulangan ASF, mengingat berdampak besar bagi masyarakat peternak babi. 

I Ketut Diarmita

"Kami sangat serius menangani ini. Namun masyarakat juga harus terus mendukung pemerintah, misalnya melaporkan bila ada babi sakit. Jangan menjual apalagi membuang bangkai babi ke lingkungan," kata Ketut. 

Ia menegaskan, pentingnya kewaspadaan bagi daerah sentra produksi babi, mengingat ASF belum ada vaksin dan obatnya. Jadi satu-satunya cara adalah dengan memperketat pengawasan lalu lintas dan disiplin dalam menegakkan aturan biosekuriti, sehingga kasus tidak masuk dan menyebar.

"Peran petugas dinas dan karantina sangat penting dalam mengidentifikasi faktor risiko dan melakukan tindakan teknis guna mencegah ASF," ucapnya. 

Menurut Ketut, semua pihak harus saling membantu, mengingat penyebaran penyakit ini bisa dicegah melalui biosekuriti. Otoritas veteriner di masing-masing wilayah juga diminta memberi perhatian khusus. 

"Tidak mudah memang mengendalikan lalu lintas manusia, hewan dan barang dari daerah tertular ke bebas. Kami himbau masyarakat bersama pemerintah pusat dan daerah bisa mencegah ASF menyebar," tukasnya. 

Sebagai informasi, hingga 24 Februari 2020, jumlah daerah tertular ASF di Sumatra Utara mencapai 21 kabupaten/kota, dengan angka kematian sebanyak 47.330 ekor. Begitu juga di Bali,  kasus kematian akibat suspek ASF mencapai 1.735 ekor yang tersebar di 7 kabupaten/kota. (Rilis PKH/INF)

WORKSHOP RAHASIA BISNIS KULINER DAGING AYAM


SEMNAS ASOHI: PETERNAKAN PASCA DUA TAHUN PELARANGAN AGP

Foto bersama seminar nasional ASOHI pasca dua tahun pelarangan AGP di Jakarta. (Foto: Dok. Infovet)

Sejak 2018, Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Kementerian Pertanian (Kementan), resmi melarang penggunaan Antibiotic Growth Promoter (AGP). Hal ini menjadi tantangan bagi para pelaku usaha budidaya ternak, khususnya unggas, dan perusahaan obat hewan di Indonesia.

Pelarangan tersebut dilakukan untuk menghindari residu antibiotik pada produk asal hewan untuk konsumsi dan menekan kejadian antimicrobial resistance (AMR) pada manusia, seperti yang dilakukan beberapa negara lain. Kendati demikian, pelarangan AGP kerap dijadikan kambing hitam terhadap melorotnya produksi pada ternak, terutama unggas.

Setelah dua tahun aturan tersebut berjalan, masih banyak pro-kontra yang terjadi, terutama dari segi kesehatan ternak dan bisnis obat hewan. Hal tersebut melatarbelakangi Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) menyelenggarakan Seminar Nasional (semnas) bertajuk "Peternakan Indonesia Pasca Dua Tahun Pelarangan AGP" di Menara 165, Jakarta, Kamis (27/2/2020).

"Tak terasa sudah dua tahun pelarangan AGP berjalan, namun apakah sudah berjalan efektif? Apakah terjadi peningkatan atau penurunan terhadap pemakaian antibiotik pada ternak unggas? Itu yg menjadi alasan kami menggelar seminar ini," ujar Ketua Bidang Hubungan antar Lembaga ASOHI, Drh Andi Wijanarko, mewakili ketua panitia dalam sambutannya.

Pemakaian antibiotik dalam pakan memang sudah dilakukan lama di Indonesia dan bisa dibilang menjadi kebiasaan. Sejak aturan mulai diberlakukan, ASOHI tak tinggal diam dengan terus berkoordinasi bersama pemerintah karena menyangkut banyak hal yang harus dibenahi.

"Ini terkait banyak hal, utamanya pada aturan dimana antibiotik dilarang. ASOHI juga banyak mendapat tekanan dari para anggota yang memiliki sediaan AGP, karena itu dampaknya sangat besar pada penggunannya, digunakan berton-ton. Pengaruhnya tidak hanya dari segi bisnis saja, banyak pertimbangan, namun harus kita taati," tambah Ketua Umum ASOHI, Drh Irawati Fari.

ASOHI, lanjut Ira, pun banyak mengadakan pertemuan bersama pemerintah. "Kita juga banyak pertemuan dengan pemerintah, sehingga banyak lahir aturan, salah satunya Juknis Medicated Feed, pemerintah juga mengakomodir itu. Kita harap ke depan ada program secara nasional untuk lebih menindaklanjuti dan memperjelas aturan yang ada," jelasnya.

Lebih lanjut disampaikan, "Melalui seminar ini setelah dua tahun AGP dilarang, kita lakukan evaluasi terkait penelitian di lapangan dan mengupdatenya, kami harapkan ada national action program yang bisa menjadi salah satu referensi penindaklanjutan program tersebut. Peran semua sangat penting, sehingga ke depannya aturan bisa lebih tepat sasaran dan akurat."

Sementara, Direktur Kesehatan Hewan, Kementan, Drh Fadjar Sumping Tjatur Rasa, mengemukakan bahwa pemerintah terus melakukan pembinaan terhadap para pelaku usaha, khususnya obat hewan.

"Kita terus lakukan pembinaan, lagipula alternatif AGP juga sudah banyak, ada lebih dari 300 produk (enzim, asam organik, probiotik, prebiotik dan obat alami). Kami juga terus mengupayakan peternak memiliki sertifikat NKV agar produknya aman dan menerapkan good farming practice, dimana di dalamnya ada kompartemen bebas AI, penerapan biosekuriti 3 zona sebagai solusi penekanan penggunaan antibiotik agar tercipta ternak yang sehat," tukas Fadjar.

Dalam kegiatan tersebut dihadiri para pakar terpercaya yang menjadi narasumber untuk memberikan evaluasi mendalam pasca dua tahun AGP dilarang, diantaranya Fadjar Sumping Tjatur Rasa (Diskeswan), Drh Agustin Indrawati (FKH IPB), Ika Puspitasari (UGM), Prof Budi Tangendjaja dan Sri Widayati (Direktur Pakan Kementan). (CR/RBS)

TIGA ROBOT UNTUK PETERNAKAN AYAM BEREDAR DI PASARAN

Spoutnic (Foto: Tibot.fr)

Tuntutan produksi tinggi dan makin susahnya mencari tenaga kerja untuk menjadi anak kandang, mendorong beberapa perusahaan berinovasi menciptakan robot, yang bisa mengotomatisasi perawatan dan pengawasan kandang ayam. Di antaranya adalah 3 robot yang telah beredar di pasaran ini.

Octopus Scarifier

Mesin ini diciptakan oleh perusahaan robotic asal Perancis, Octopus Robots. Berfungsi untuk mengaerasi kotoran unggas dan memonitor lingkungan kandang meliputi suhu, kelembaban, tingkat amonia, dan tingkat kecerahan.

Penggunaan robot ini diklaim bisa mengurangi penyakit seperti aspergillosis, pododermatitis, dan hock burn. Pengoperasiannya berlangsung otomatis tanpa henti, dibantu dengan unit charging yang dipasang di kandang.

Spoutnic

Robot yang ukurannya paling kecil di antara robot lain yang beredar di pasaran. Dirancang untuk membuat ayam tetap aktif di kandang pembibitan broiler, sehingga merangsang ayam untuk menggunakan kotak-kotak sarang.

Ukurannya yang kecil memudahkan untuk bergerak di dalam kandang dan mampu meratakan litter. Secara otomatis robot ini menghindari benturan dengan obyek lain. Beratnya 10 kg dengan daya baterai hingga 8 jam, dibuat oleh perusahaan Tibot, Perancis.

ChickenBoy

Dibuat oleh perusahaan asal Spanyol, Faromatics SL, pengoperasiannya agak berbeda dengan robot lain. Mesin ini digantungkan di langit-langit kandang dan memonitor kondisi kandang dari atas.

Dilengkapi kamera dan sensor yang digunakan untuk memantau permasalahan visual seperti ayam yang sakit/mati, litter yang buruk, tingkat kebisingan, suhu, kecepatan udara, dan CO2. (Sumber:Poultryworld.net/NDV)

MENTAN SYL PANEN 1000 EKOR PEDET DI SERDANG BEDAGAI

Mentan SYL meluncurkan program Sikomandan (Foto: BIB Lembang)

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) melakukan panen 1000 ekor pedet sekaligus meluncurkan program Sapi Kerbau Komoditas Andalan Negeri (Sikomandan) di Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, Kamis (20//2). 

Kegiatan ini merupakan upaya Kementerian Pertanian (Kementan) untuk meningkatkan pertumbuhan populasi dan produksi ternak sapi/kerbau dalam negeri. Selain itu, sebagai upaya memenuhi kebutuhan daging sapi nasional yang jumlahnya mencapai 700.000 ton pertahun.

Pada malam harinya SYL melanjutkan agendanya dengan memberikan arahan kepada petugas teknis peternakan di hotel Four Point Medan. Dalam arahannya SYL mengatakan bahwa petugas teknik peternakan memiliki tugas antara lain:

1. Fokus kepada fungsi sebagai petugas teknis di bidang peternakan yang didukung oeh ilmu baru dan pemanfaatan IT
2. Memiliki target yang jelas dan terarah, komoditas peternakan ditargetkan mengalami kenaikan sebesar 7% pada tahun 2020 ini
3. Menerapkan manajemen pengelolaan peternakan yang lebih baik
4. Mampu mengajarkan teknologi yang baru dibidang peternakan kepada masyarakat melalui wadah Kostratani

Upaya tersebut sebagai upaya dalam rangka mencapai target Program Sikomandan yang menetapkan 4.000.000 ekor sapi lahir di tahun 2020.

(Sumber: biblembang.ditjenpkh.pertanian.go.id/)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer