-->

MUSUH DALAM SELIMUT YANG HARUS DIWASPADAI

Kapang/jamur dapat tumbuh pada tanaman biji-bijian seperti jagung untuk pakan ternak. (Foto: Infovet/Ridwan)

Anomali iklim dan cuaca melanda, kekhwatiran insan perunggasan tetap sama, mikotoksin. Senyawa tak kasat mata yang bisa mencemari bahan baku dan pakan jadi tersebut masih menjadi momok bersama dalam industri pakan.

Sebagai negara tropis dengan curah hujan yang cukup tinggi, berkisar di antara 2000-3000 mm/tahun, Indonesia merupakan negara yang cukup “nyaman” sebagai tempat hidup kapang/jamur.

Masalahnya kapang/jamur tersebut dapat tumbuh pada tanaman biji-bijian seperti jagung dan kedelai yang merupakan bahan baku pakan. Tak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar biji-bijian yang digunakan sebagai sumber bahan pakan sangat rentan terhadap kontaminasi toksin yang dihasilkan oleh jamur tersebut.

Faktor iklim yang dimiliki Indonesia serta kualitas manajemen dan handling di lapangan, membuat mikotoksin tidak bisa dielakkan, sehingga mengakibatkan potensi kerugian yang besar.

Sejatinya, toksin dapat diartikan sebagai senyawa beracun yang diproduksi di dalam sel atau organisme hidup, dalam dunia veteriner disepakati terminologi biotoksin dalam menyebut mikotoksin maupun toksin lainnya, karena toksin diproduksi secara biologis oleh mahluk hidup memalui metabolisme bukan artificial (buatan).

Dalam industri pakan ternak sering didengar istilah mikotoksin (racun yang dihasilkan oleh kapang/jamur). Sampai saat ini cemaran dan kontaminasi mikotoksin dalam pakan ternak masih membayangi tiap unit usaha peternakan, tidak hanya di negeri ini, tetapi juga di seluruh dunia.

Berbagai Jenis Mikotoksin
Dalam industri pakan, setidaknya ada tujuh jenis mikotoksin yang sangat ditakuti mencemari bahan baku maupun pakan jadi, ketujuhnya kerap mengontaminasi dan menyebabkan masalah pada ternak. Terkadang dalam satu kasus, tidak hanya satu mikotoksin yang terdapat dalam sebuah sampel.

Menurut Nutrisionis BEC Feed Solution, Mega Pratiwi Saragi, masalah mikotoksin merupakan masalah klasik yang terus berulang dan sangat sulit diberantas. “Banyak faktor yang memengaruhi kenapa mikotoksin sangat sulit diberantas, misalnya saja dari cara pengolahan jagung yang salah,” tuturnya.

Maksudnya adalah kebanyakan petani jagung di Indonesia hanya mengandalkan iklim dalam mengeringkan jagungnya dengan bantuan sinar matahari/manual. Mungkin ketika musim panas hasil pengeringan akan baik, namun pada musim basah (penghujan) tentu tidak bisa diandalkan.

“Jika pengeringan tidak sempurna, kadar air dalam jagung akan tinggi, sehingga disukai oleh kapang. Lalu kapang akan berkembang di situ dan menghasilkan toksin,” tambahnya.

Masih masalah iklim menurut Mega, Indonesia yang beriklim tropis merupakan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi April 2026. (CR)

OPTIMALISASI FORMULASI PAKAN LAYER, ALTERNATIF DAN STRATEGI SMART NUTRITION

Formulasi pakan harus berevolusi menjadi sistem yang lebih adaptif, presisi, dan berbasis pada respons biologis ayam. (Foto: Istimewa)

Industri ayam petelur nasional saat ini menghadapi tekanan yang semakin kompleks. Biaya pakan masih mendominasi lebih dari 60-70% total biaya produksi, sementara volatilitas harga bahan baku utama seperti jagung dan bungkil kedelai terus meningkat akibat faktor global, iklim, logistik, dan dinamika pasar. Pada saat yang sama, tuntutan terhadap stabilitas produksi, kualitas, serta keberlanjutan sistem peternakan semakin tinggi.

Dalam situasi tersebut, pendekatan formulasi pakan yang hanya berorientasi pada least cost formulation tidak lagi memadai. Formulasi pakan harus berevolusi menjadi sistem yang lebih adaptif, presisi, dan berbasis pada respons biologis ayam. Penggunaan bahan baku alternatif yang dipadukan dengan strategi nutrisi cerdas (smart nutrition) menjadi salah satu pendekatan penting untuk menjaga daya saing produksi.

Namun demikian, pemanfaatan bahan baku alternatif tidak dapat dilakukan secara sederhana dengan mengganti bahan konvensional. Tanpa pemahaman memadai mengenai karakteristik nutrien, risiko antinutrisi, serta implikasi fisiologisnya terhadap ayam petelur, strategi ini justru berpotensi meningkatkan variabilitas performa dan menurunkan efisiensi biologis.

Peran Strategis Bahan Baku Alternatif
Dalam praktik industri pakan, bahan baku alternatif masih sering diposisikan sebagai solusi darurat ketika harga bahan baku utama melonjak atau pasokan terganggu. Pendekatan reaktif seperti ini pada kenyataannya justru meningkatkan risiko ketidak-konsistenan mutu pakan dan fluktuasi performa ayam petelur.

Pada pendekatan formulasi modern, bahan baku alternatif seharusnya ditempatkan sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan sistem pakan (feed resilience). Bahan baku alternatif mencakup berbagai kelompok, mulai dari sumber energi seperti singkong, sorgum, dan dedak padi, sumber protein seperti DDGS, palm kernel meal, dan canola meal, hingga berbagai hasil samping industri pertanian seperti wheat bran dan corn gluten feed.

Keunggulan utama bahan-bahan tersebut adalah fleksibilitas pasokan, peluang efisiensi biaya, serta kontribusinya terhadap prinsip ekonomi sirkular. Akan tetapi, pada ayam petelur, tantangan terbesar bukan hanya bagaimana menekan biaya ransum, melainkan bagaimana menjaga kestabilan produksi telur, persistensi produksi, serta kualitas kerabang dan internal telur.

Penggunaan bahan baku alternatif harus didasarkan pada prinsip strategic inclusion, yaitu penentuan level penggunaan yang realistis dan aman berdasarkan karakteristik fisiologis ayam petelur dan tujuan produksi jangka panjang. Bahan baku alternatif bukanlah pengganti mutlak, tetapi alat strategis untuk memperluas fleksibilitas formulasi.

Formulasi pakan layer yang terlalu agresif dalam menggunakan bahan baku alternatif tanpa dukungan strategi nutrisi yang memadai kerap berujung... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi April 2026. 

Ditulis oleh:
Henri E. Prasetyo Drh MVet
Praktisi perunggasan, Nutritionist PT DMC

ANCAMAN TERSEMBUNYI DALAM PAKAN

Salah satu ancaman paling signifikan dalam pakan adalah kontaminasi mikotoksin. (Foto: Dok. Romindo)

Di dunia perunggasan, pakan selalu menempati posisi sebagai komponen biaya terbesar sekaligus penentu utama performa produksi. Baik pada ayam layer, broiler, maupun breeder, lebih dari 60-70% biaya operasional berasal dari pakan. Namun ironisnya, meskipun porsinya sangat dominan, masih banyak praktisi di lapangan yang melihat pakan hanya sebatas “input nutrisi”, bukan sebagai faktor risiko yang kompleks.

Dalam praktik sehari-hari, ketika terjadi penurunan performa seperti FCR memburuk, menurunnya produksi telur, maupun pertumbuhan yang tidak optimal, fokus utama sering langsung diarahkan pada penyakit infeksi. Padahal, tidak jarang akar masalah sebenarnya berasal dari kualitas pakan yang menurun secara tidak kasat mata.

Salah satu ancaman paling signifikan dalam pakan adalah kontaminasi mikotoksin. Mikotoksin merupakan senyawa toksik yang dihasilkan jamur yang tumbuh pada bahan baku pakan seperti jagung, gandum, maupun bungkil kedelai. Pertumbuhan jamur ini sangat dipengaruhi oleh kadar air, suhu, dan kondisi penyimpanan. Dalam kondisi kelembapan tinggi, seperti yang sering terjadi setelah musim hujan, risiko kontaminasi meningkat secara signifikan.

Aflatoksin, fumonisin, okratoksin, T2-toksin, zearalenon, dan deoksinivalenol (DON) adalah beberapa jenis mikotoksin yang umum ditemukan di pakan unggas. Mikotoksin ini berbahaya karena hanya menimbulkan gejala klinis akut. Pada dosis rendah hingga sedang, mikotoksin lebih sering menyebabkan gangguan subklinis (tanpa gejala). Ayam tetap terlihat normal, tetapi terjadi penurunan efisiensi metabolisme. Nutrisi tidak terserap optimal, fungsi hati terganggu, dan terjadi penekanan sistem imun. Dampaknya pada broiler pertumbuhan tidak optimal, pada layer penurunan produksi dan kualitas telur, serta gangguan reproduksi pada breeder.

Selain itu, mikotoksin juga memiliki efek imunosupresif yang signifikan. Ayam yang terpapar mikotoksin cenderung memiliki respons vaksin lebih rendah. Hal ini sering menimbulkan kesalahpahaman di lapangan, di mana kegagalan vaksinasi dianggap sebagai masalah program vaksin, padahal bisa jadi faktor pakanlah yang menjadi penyebab utamanya. Dalam situasi seperti ini, penggunaan obat atau revaksinasi belum tentu mampu memberikan hasil yang optimal karena sumber masalah utamanya belum teratasi.

Variasi kualitas dari bahan baku juga menjadi tantangan besar dalam formulasi pakan. Secara teoritis, formulasi pakan disusun berdasarkan nilai nutrisis tandar. Namun dalam praktik, nilai nutrisi bahan baku dapat sangat bervariasi antar batch. Kandungan protein, energi, maupun asam amino dapat berbeda tergantung pada asal bahan bakunya, kondisi panen, serta proses penyimpanan.

Tentu hal tersebut akan berdampak langsung pada performa ayam. Pada broiler terlihat dalam bentuk pertumbuhan yang... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi April 2026.

Ditulis oleh:
Drh A. Riwanda
Technical Department Manager
PT Romindo Primavetcom
Head Office – Jl. Dr Saharjo No. 264,
Tebet, Jakarta Selatan
No. HP/WA: 082331472418
Email: riwanda@romindo.net
www.romindo.co.id

MUSUH DALAM SELIMUT YANG HARUS DIWASPADAI

Kapang/jamur dapat tumbuh pada tanaman biji-bijian seperti jagung untuk pakan ternak. (Foto: Infovet/Ridwan)

Anomali iklim dan cuaca melanda, kekhwatiran insan perunggasan tetap sama, mikotoksin. Senyawa tak kasat mata yang bisa mencemari bahan baku dan pakan jadi tersebut masih menjadi momok bersama dalam industri pakan.

Sebagai negara tropis dengan curah hujan yang cukup tinggi, berkisar di antara 2000-3000 mm/tahun, Indonesia merupakan negara yang cukup “nyaman” sebagai tempat hidup kapang/jamur.

Masalahnya kapang/jamur tersebut dapat tumbuh pada tanaman biji-bijian seperti jagung dan kedelai yang merupakan bahan baku pakan. Tak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar biji-bijian yang digunakan sebagai sumber bahan pakan sangat rentan terhadap kontaminasi toksin yang dihasilkan oleh jamur tersebut.

Faktor iklim yang dimiliki Indonesia serta kualitas manajemen dan handling di lapangan, membuat mikotoksin tidak bisa dielakkan, sehingga mengakibatkan potensi kerugian yang besar.

Sejatinya, toksin dapat diartikan sebagai senyawa beracun yang diproduksi di dalam sel atau organisme hidup, dalam dunia veteriner disepakati terminologi biotoksin dalam menyebut mikotoksin maupun toksin lainnya, karena toksin diproduksi secara biologis oleh mahluk hidup memalui metabolisme bukan artificial (buatan).

Dalam industri pakan ternak sering didengar istilah mikotoksin (racun yang dihasilkan oleh kapang/jamur). Sampai saat ini cemaran dan kontaminasi mikotoksin dalam pakan ternak masih membayangi tiap unit usaha peternakan, tidak hanya di negeri ini, tetapi juga di seluruh dunia.

Berbagai Jenis Mikotoksin
Dalam industri pakan, setidaknya ada tujuh jenis mikotoksin yang sangat ditakuti mencemari bahan baku maupun pakan jadi, ketujuhnya kerap mengontaminasi dan menyebabkan masalah pada ternak. Terkadang dalam satu kasus, tidak hanya satu mikotoksin yang terdapat dalam sebuah sampel.

Menurut Nutrisionis BEC Feed Solution, Mega Pratiwi Saragi, masalah mikotoksin merupakan masalah klasik yang terus berulang dan sangat sulit diberantas. “Banyak faktor yang memengaruhi kenapa mikotoksin sangat sulit diberantas, misalnya saja dari cara pengolahan jagung yang salah,” tuturnya.

Maksudnya adalah... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi April 2026. (CR)

PAKAN HOLISTIK, PENDEKATAN MENYELURUH UNTUK OPTIMALKAN PERFORMA DAN KUALITAS UNGGAS

Implementasi pakan holistik memberikan dampak nyata pada performa produksi. (Foto: Gemini)

Industri perunggasan Indonesia terus berkembang pesat seiring meningkatnya permintaan daging ayam yang efisien, sehat, dan berkualitas tinggi. Namun, dinamika di lapangan tak pernah mudah. Fluktuasi harga bahan baku, tekanan terhadap performa, tuntutan pengurangan antibiotik, serta ekspektasi konsumen terhadap keamanan pangan membuat banyak pelaku industri mencari solusi yang lebih menyeluruh. Salah satu konsep yang kini banyak diperbincangkan adalah pendekatan pakan holistik atau holistic feed concept.

Berbeda dari pendekatan formulasi konvensional yang fokus hanya pada energi dan protein, konsep pakan holistik melihat pakan sebagai bagian dari sistem biologis ayam secara utuh. Artinya, pakan tidak hanya berperan menyediakan zat gizi, tetapi juga memelihara kesehatan saluran pencernaan, meningkatkan efisiensi metabolisme, memperkuat sistem imun, hingga berkontribusi terhadap kualitas akhir daging ayam. Pendekatan ini berupaya menjawab tantangan industri modern dengan cara yang lebih berimbang antara nutrisi, kesehatan, dan keberlanjutan produksi.

Melampaui Energi dan Protein, Nutrisi yang Lebih Fungsional
Formulasi pakan modern kini bergerak dari sekadar memenuhi angka kebutuhan nutrisi menuju pemahaman tentang fungsi biologis nutrien di dalam tubuh ayam. Misalnya, sistem energi bersih (net energy system) kini lebih banyak digunakan karena memberikan gambaran lebih akurat mengenai energi yang benar-benar dimanfaatkan untuk pertumbuhan, bukan hanya energi yang dicerna. Sistem ini membantu mengurangi kehilangan panas metabolik yang sering menjadi kendala dalam produksi broiler di daerah tropis.

Sementara itu, fokus pada protein juga telah berevolusi. Dahulu formulasi hanya memperhatikan lysine dan methionine sebagai asam amino utama, kini pendekatan holistik menekankan pentingnya keseimbangan ideal amino acid ratio, termasuk threonine, valine, dan tryptophan. Ketiganya berperan dalam menjaga integritas usus dan sistem imun, serta mendukung pembentukan jaringan otot yang efisien. Tidak kalah penting, keseimbangan mineral seperti zinc, mangan, dan tembaga organik turut diperhatikan karena memiliki peran vital dalam menjaga kekuatan tulang, integritas kulit, dan performa metabolik secara keseluruhan.

Bahan Baku Bukan Sekadar Angka Nutrisi
Dalam konsep pakan holistik, bahan baku tidak dilihat sebatas sumber... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Maret 2026. 

Ditulis oleh:
Henri E. Prasetyo Drh MVet
Praktisi perunggasan, Nutritionist PT DMC

TANIN: DARI ANTINUTRISI MENJADI PRIMADONA BARU DUNIA PETERNAKAN

Zat tanin dalam bentuk serbuk. (Foto: Istimewa)

Di dunia peternakan, istilah antinutrisi terdengar seperti vonis. Ia seolah menjadi kambing hitam di balik rendahnya performa ternak dan menurunnya efisiensi pakan. Di antara sederet zat yang masuk kategori ini, tanin menempati posisi “paling tersangka.”

Tanin dikenal karena kemampuannya mengikat protein dan menurunkan kecernaan. Para peternak dulu mengeluh ternaknya enggan makan daun ber-tanin tinggi seperti Calliandra atau Acacia. Para peneliti pun memberi label “tanin itu racun nutrisi.”

Namun, dunia berubah. Ilmu pengetahuan berkembang, yang dulu dianggap racun, kini justru menjadi primadona baru, bukan hanya di laboratorium, tapi juga di ladang dan kandang.

Senyawa Kecil dengan Peran Besar
Tanin adalah senyawa polifenol alami yang banyak ditemukan pada daun, kulit kayu, biji, dan buah berbagai tanaman tropis. Ia terbentuk sebagai bentuk “senjata pertahanan” tanaman terhadap serangan serangga, jamur, atau herbivora.

Sifat khas tanin adalah kemampuannya mengikat protein dan logam. Dalam konteks pakan, sifat ini yang dulu dianggap negatif, karena menghambat kecernaan protein di rumen, tetapi seperti dua sisi mata uang, kemampuan itu pula yang kini justru dimanfaatkan untuk kebaikan.

Tanin terbagi dua jenis utama, yakni tanin terkondensasi (condensed tannin/CT) banyak terdapat di leguminosa seperti Indigofera zollingeriana dan Leucaena leucocephala, umumnya aman dan bermanfaat dalam kadar moderat. Serta tanin terhidrolisis (hydrolyzable tannin/HT) terdapat pada Acacia nilotica atau Chestnut, bersifat lebih reaktif dan berisiko jika berlebih.

Dari Penghambat Menjadi Pengatur
Sebuah lompatan besar dalam riset nutrisi ternak terjadi ketika para ilmuwan menemukan bahwa efek tanin sangat bergantung pada dosisnya.

Dalam kadar tinggi (>5% bahan kering), tanin memang bisa menurunkan konsumsi dan kecernaan pakan. Namun dalam dosis rendah hingga sedang (2-4%), tanin justru bekerja cerdas, ia mengatur pelepasan protein agar tidak terdegradasi di rumen, melainkan langsung diserap di usus halus. Inilah konsep protein bypass, salah satu tonggak penting dalam efisiensi pakan ruminansia.

Penelitian Min et al. (2003), menunjukkan bahwa tanin terkondensasi membentuk kompleks protein-tanin yang stabil di rumen, namun terurai pada pH asam usus. Artinya, protein tidak “terbuang” untuk bakteri rumen, tapi “diselamatkan” untuk tubuh ternak.

Hasilnya? Efisiensi nitrogen meningkat, pertumbuhan ternak lebih optimal, dan limbah nitrogen yang mencemari lingkungan berkurang. Dari sini, tanin mulai dikenal bukan lagi sebagai penghambat, tetapi pengatur alami metabolisme.

Potensi yang Terlupakan
Indonesia sejatinya memiliki kekayaan tanaman pakan leguminosa yang mengandung tanin dalam kadar ideal. Sebut saja Indigofera zollingeriana, Calliandra calothyrsus, Gliricidia sepium, dan Acacia mangium.

Sayangnya, selama puluhan tahun potensi ini tidak tergarap maksimal. Padahal menurut penelitian Wina et al. (2015), Indigofera zollingeriana mengandung protein kasar 25-31% dan tanin terkondensasi sekitar 2-3%, kadar yang justru ideal untuk meningkatkan efisiensi protein tanpa menurunkan konsumsi.

Bahkan penelitian lanjutan oleh Setyaningsih et al. (2019), pada kambing perah menunjukkan bahwa ekstrak tanin dari Acacia mangium mampu menurunkan kadar amonia rumen dan memperbaiki profil fermentasi. Produksi susu meningkat, sementara bau akibat gas metana menurun signifikan.

Artinya, tanin bukan sekadar zat kimia di daun, tetapi bagian dari solusi nyata menuju peternakan tropis yang efisien dan ramah lingkungan.

Temuan ini menegaskan bahwa senyawa tanin dari tanaman tropis memiliki potensi besar dalam meningkatkan kualitas pakan sekaligus menjaga kesehatan ternak. Dengan kemampuan menghambat degradasi berlebih dan menekan aktivitas mikroba penghasil gas, tanin dinilai sebagai solusi alami menuju sistem peternakan rendah emisi dan berkelanjutan di masa depan.

Tanin untuk Langit yang Lebih Biru
Isu perubahan iklim kini menuntut dunia peternakan untuk berbenah. Ruminansia seperti domba, kambing, kerbau, dan sapi menghasilkan gas metana (CH₄) dari fermentasi di rumen. Gas ini memiliki potensi pemanasan global 28 kali lebih besar dibanding karbon dioksida.

Setiap kali sapi mengunyah, sesungguhnya bumi sedikit memanas, namun tanin membawa harapan. Berbagai penelitian termasuk Jayanegara et al. (2020), menunjukkan bahwa suplementasi tanin terkondensasi sebesar 3% dari bahan kering pakan dapat menurunkan produksi metana hingga 25% tanpa menurunkan kecernaan total.

Bagaimana caranya? Tanin menekan populasi methanogen, mikroba penghasil metana; tanin menggeser fermentasi dari jalur asetat ke propionat, menghasilkan lebih banyak energi dan lebih sedikit gas; serta tanin mengurangi hidrogen bebas di rumen, bahan baku utama pembentukan metana.

Inovasi yang Terus Berkembang
Teknologi pakan modern kini membawa tanin melangkah lebih jauh. Dari sekadar daun pahit di kebun, kini tanin hadir dalam bentuk ekstrak murni dan suplemen pakan.

Ekstrak tanin dari Quebracho, Chestnut, dan Acacia sudah lama digunakan di Eropa dan Amerika sebagai natural methane inhibitor dan rumen modifier. Di Indonesia, penelitian sedang gencar dilakukan untuk mengekstraksi tanin dari bahan lokal seperti kulit jengkol, daun mangga, hingga kulit buah kakao.

Lebih dari itu, tanin juga berperan sebagai antioksidan dan antiparasit alami. Hoste et al. (2015), melaporkan bahwa tanin dapat menurunkan infeksi cacing Haemonchus contortus pada kambing tanpa menggunakan obat kimia sintetis. Artinya tanin tidak hanya menyehatkan ternak, tapi juga menyehatkan sistem produksi, menjadikannya bagian penting dari konsep pakan fungsional (functional feed).

Aditif Potensial dalam Pembuatan Silase
Dalam dunia peternakan modern, silase sudah menjadi bagian penting dari sistem pakan, terutama saat musim kemarau ketika hijauan sulit didapat. Namun, tidak semua silase memiliki kualitas yang baik. Banyak peternak masih menghadapi masalah seperti silase cepat rusak, aroma menyengat, tekstur berlendir, hingga pertumbuhan jamur. Masalah ini umumnya terjadi karena proses fermentasi yang tidak sempurna dan aktivitas mikroba yang berlebihan.

Untuk mengatasi hal tersebut, para peneliti mulai melirik tanin sebagai bahan aditif alami dalam pembuatan silase. Tanin dikenal sebagai senyawa polifenol yang terdapat pada banyak tanaman tropis seperti Indigofera zollingeriana, Acacia mangium, dan Chestnut (Castanea spp.). Dahulu, tanin dianggap antinutrisi karena bisa mengikat protein dan menurunkan daya cerna. Namun kini, berbagai penelitian justru menunjukkan bahwa tanin dalam dosis rendah mampu memperbaiki proses fermentasi silase.

Bagaimana Tanin Bekerja dalam Silase?
Tanin memiliki kemampuan mengikat protein dan karbohidrat larut, membentuk kompleks yang lebih stabil selama proses ensilase. Ikatan ini bersifat reversibel, artinya nutrien tersebut akan terlepas kembali di saluran pencernaan bagian bawah, bukan di rumen. Dengan begitu, protein kasar lebih terlindungi dari degradasi berlebihan dan ternak bisa memanfaatkannya lebih efisien.

Selain itu, tanin juga memiliki sifat antimikroba alami. Senyawa ini dapat menghambat pertumbuhan jamur dan bakteri pembusuk, sehingga silase menjadi lebih awet dan aromanya tetap segar. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa tanin membantu menurunkan kadar amonia dan pH silase, dua indikator penting dari fermentasi yang sehat.

Bukti dari Penelitian di Lapangan
Penelitian menunjukkan bahwa penambahan tanin dari Acacia dan Chestnut pada silase ampas kecap dapat membuat silase lebih stabil karena pH-nya turun dan pembusukan protein berkurang. Protein dalam silase lebih terjaga dan tidak banyak hilang selama penyimpanan. Tanin juga membantu menekan gas metana dari ternak tanpa mengganggu proses pencernaan di rumen. Jadi, penggunaan 2% tanin Acacia bisa menjadi pilihan aditif alami yang menjaga kualitas silase sekaligus ramah lingkungan (Sadarman et al., 2020).

Penambahan tanin pada silase ampas kecap dapat membuat silase lebih stabil karena pH-nya turun dan pembusukan protein berkurang. (Foto: Istimewa)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tanin terkondensasi (CT) maupun tanin terhidrolisis (HT) pada ampas kecap tidak memengaruhi kecepatan degradasi, yang dilihat dari fraksi larut (a), laju degradasi (c), dan nilai kecernaan efektif (ED). Namun, terdapat penurunan nyata (p<0,05) pada fraksi yang berpotensi terdegradasi (b) dan total potensi degradasi (a+b) bahan kering (BK) serta bahan organik (BO), baik pada ampas kecap yang difermentasi maupun yang tidak. Dengan demikian, ekstrak CT dan HT dari Acacia dan Chestnut memiliki efek pelindung terhadap nutrien yang mudah terdegradasi dari ampas kecap. Menariknya, efek perlindungan tersebut serupa pada silase maupun bahan yang tidak diensilase (Sadarman et al., 2021).

Hasil penelitian Sadarman et al. (2022), membuktikan bahwa penambahan 0,50% tanin Chestnut mampu meningkatkan kualitas fisik silase kelobot jagung (Zea mays). Silase yang dihasilkan memiliki warna lebih cerah, tekstur padat namun tidak keras, suhu stabil, dan pertumbuhan jamur minimal. Kondisi ini membuat silase lebih tahan disimpan dan lebih disukai ternak.

Studi lain yang dilaporkan Sadarman et al. (2024), menunjukkan bahwa penambahan 2% tanin Chestnut pada pakan komplit berbasis limbah kelapa sawit yang diensilase dapat menghasilkan silase dengan protein kasar lebih tinggi dibandingkan tanpa tanin, sementara kadar lemak dan serat kasar tetap sama. Kandungan abu menurun, menandakan fermentasi berlangsung lebih efisien. Bahkan, tanin memberikan pengaruh nyata terhadap kadar air, aroma, amonia, dan total asam lemak volatil (VFA), parameter utama yang menentukan mutu silase.

Bagi peternak, penggunaan tanin sebagai aditif silase menawarkan berbagai keuntungan nyata, antara lain menekan kehilangan bahan kering (BK) selama proses fermentasi; melindungi protein kasar agar tidak cepat terurai oleh mikroba rumen; menjaga aroma, warna, dan tekstur silase agar tetap segar dan disukai ternak; menghambat pertumbuhan jamur dan bakteri pembusuk, memperpanjang umur simpan; menstabilkan suhu silase, mencegah panas berlebih yang dapat merusak nutrien; menurunkan emisi amonia dan metana, membantu peternakan menjadi lebih ramah lingkungan.

Dengan hasil tersebut, tanin kini dianggap sebagai aditif potensial yang murah, alami, dan ramah lingkungan untuk meningkatkan mutu silase, terutama di daerah tropis seperti Indonesia. Tanaman sumber tanin seperti Indigofera dan Akasia mudah tumbuh di lahan kering, sehingga berpotensi besar dikembangkan sebagai bahan lokal untuk pembuatan pakan fermentasi.

Pemanfaatan tanin sebagai aditif silase tidak hanya berdampak pada peningkatan kualitas pakan, tetapi juga menjadi langkah strategis menuju peternakan hijau dan berkelanjutan. Dengan kualitas silase yang lebih baik, ternak tumbuh optimal, efisiensi pakan meningkat, dan gas metana yang dihasilkan dari pencernaan dapat ditekan.

Artinya, dengan langkah sederhana menambahkan tanin dalam proses pembuatan silase, peternak turut berkontribusi menjaga bumi dari dampak perubahan iklim. Tanin tidak lagi menjadi “musuh” dalam pakan, melainkan sekutu baru peternak cerdas dalam menghadirkan produksi ternak yang efisien, sehat, dan ramah lingkungan.

Rahasia Keberhasilan Tanin
Namun, seperti segala hal di dunia nutrisi, keseimbangan adalah kunci. Tanin yang berlebihan bisa menurunkan palatabilitas (selera makan), menekan mikroba rumen, dan mengganggu penyerapan mineral. Kadar ideal tanin dalam pakan sebaiknya tidak melebihi 5% bahan kering.

Oleh karena itu, peternak dan formulator pakan perlu memahami kadar tanin dalam bahan pakan dan menyesuaikan dosisnya secara ilmiah. Teknik analisis seperti in vitro gas production kini banyak digunakan untuk menentukan batas optimal penggunaan tanin. Dengan pendekatan ilmiah, “si pahit” bisa menjadi “si penyelamat” atmosfir bumi.

Peternak Mulai Menyadari
Di berbagai daerah Indonesia, peternak mulai membuka mata. Di Riau dan Jawa Barat, banyak kelompok peternak menanam Indigofera zollingeriana sebagai hijauan unggulan. Produksinya tinggi, taninnya moderat, dan ternak tampak lebih sehat.

“Dulu kami takut memberikan daun Indigofera karena katanya ada tanin. Tapi setelah diuji di laboratorium kampus, ternyata malah bikin kambing cepat gemuk,” ujar seorang peternak di Kampar.

Cerita serupa datang dari Nusa Tenggara Timur, daun Calliandra yang dulu dibuang kini difermentasi atau diensilase dengan molases menjadi pakan bernilai tinggi. Dari pengalaman lapangan ini, menunjukkan bahwa ilmu bukan hanya soal laboratorium, tapi soal keberanian mengubah cara pandang.

Tanin dan Masa Depan Peternakan Hijau
Ketika dunia berbicara tentang sustainable livestock, kerap dibayangkan teknologi mahal atau alat canggih. Padahal, sebagian jawabannya bisa ditemukan di daun-daun hijau yang tumbuh di sekitar manusia.

Tanin mengajarkan bahwa inovasi tidak selalu berarti menciptakan sesuatu yang baru, kadang cukup dengan memahami ulang apa yang sudah ada di alam. Kini, berbagai lembaga penelitian mulai mempromosikan konsep “livestock low carbon”, pakan berbasis tanin menjadi bagian dari strategi global menekan emisi metana.

Peternakan tidak lagi hanya soal produksi daging dan susu, tapi juga tentang tanggung jawab ekologis. Dalam konteks ini, tanin hadir sebagai jembatan antara produktivitas dan keberlanjutan.

Dari Musuh Menjadi Mitra
Transformasi tanin dari “antinutrisi berbahaya” menjadi “nutrisi cerdas” adalah kisah luar biasa tentang perubahan paradigma. Ia menunjukkan bagaimana ilmu pengetahuan bisa mengubah cara dalam melihat alam.

Tanin bukan lagi antagonis dalam pencernaan, melainkan mitra dalam efisiensi dan keberlanjutan. Ia bukan penghalang produktivitas, tapi penjaga keseimbangan antara ternak, manusia, dan bumi.

Peternakan masa depan bukan hanya tentang teknologi tinggi, tetapi tentang kearifan memanfaatkan sumber daya alami dengan ilmu pengetahuan yang benar. Tanin adalah simbol dari gagasan itu, dari yang dulu ditolak karena ketidaktahuan, kini diterima karena pemahaman.

Karena sesungguhnya, sebagaimana ungkapan para ahli nutrisi, “Tidak ada zat yang benar-benar berbahaya, yang berbahaya adalah ketidaktahuan menggunakannya.” Tanin mengajarkan bahwa alam selalu menyediakan solusi. ***

Ditulis oleh:
Assoc Prof Dr Ir Sadarman SPt MSc IPM
Dosen Ilmu Nutrisi dan Pakan Ternak Prodi Peternakan UIN Suska Riau
Wartawan Infovet Daerah Riau

MIKOTOKSIN, BAHAYA DAN PENILAIAN RISIKO

Mikotoksikosis unggas merupakan faktor pembatas tersembunyi dalam industri unggas. Penyakit ini menyebabkan kerugian tidak hanya dalam hal hilangnya performa, tetapi juga sebagai agen imunosupresif yang meningkatkan kerentanan unggas terhadap penyakit dan kematian.

Saluran pencernaan merupakan penghalang pertama terhadap bahan kimia yang tertelan, kontaminan pakan, dan racun alami. Setelah menelan pakan yang terkontaminasi mikotoksin, sel epitel usus dapat terpapar racun yang menyebabkan kerusakan usus secara langsung.



PAKAN AMAN DARI ANCAMAN TOKSIN

Mikotoksin sangat merugikan jika sudah mengontaminasi bahan baku pakan maupun pakan jadi. (Sumber: poultrynews.co.uk)

Mikotoksin sangat berbahaya bagi kelangsungan performa di peternakan unggas. Kontaminasi mikotoksin pada unit usaha unggas dapat menyebabkan kerugian sangat besar.

Mengancam Dalam Senyap
Jamur, cendawan, atau kapang tumbuh di mana dan kapan saja, terutama ketika kondisi lingkungan menguntungkan bagi mereka. Yang lebih berbahaya lagi, kebanyakan jamur biasanya tumbuh pada tumbuhan yang digunakan sebagai bahan baku pakan, jagung dan kacang kedelai.

Kedua jenis tanaman tersebut merupakan unsur penting dalam formulasi ransum. Jagung digunakan sebagai sumber energi utama dalam ransum, sedangkan kedelai sebagai sumber protein. Persentase jagung dan kacang kedelai dalam suatu formulasi ransum unggas di Indonesia sangat tinggi. Jagung digunakan 50-60%, sedangkan kedelai bisa sampai 20%. Bayangkan ketika keduanya terkontaminasi mikotoksin, tentu sangat mengkhawatirkan.

Kontaminasi mikotoksin dalam bahan baku pakan ternak pun bisa dibilang tinggi. Data dari Biomin pada 2017, menunjukkan bahwa 74% sampel jagung dari Amerika Serikat (AS) terkontaminasi deoksinivalenol/DON (vomitoksin) pada tingkat rata-rata (untuk sampel positif) sebesar 893 ppb. Sedangkan 65% dari sampel jagung yang sama terkontaminasi FUM pada tingkat rata-rata 2.563 ppb. Selain itu, ditemukan 83% sampel kacang kedelai AS terkontaminasi DON pada tingkat rata-rata 1.258 ppb. Kesemua angka tersebut di atas sudah melewati ambang batas pada standar yang telah ditentukan.

Jika sudah mengontaminasi bahan baku pakan apalagi pakan jadi, tentu sangat merugikan produsen pakan maupun peternak. Menurut Tony Unandar, selaku konsultan perunggasan yang juga anggota dewan pakar ASOHI, mikotoksikosis klinis bukanlah kejadian umum di lapangan.

Kasus mikotoksikosis subklinis yang justru sering ditemukan. Gejalanya klinisnya sama dengan penyakit lain misalnya imunosupresi yang mengarah pada penurunan efikasi vaksin, hati berlemak, gangguan usus akibat kerusakan fisik pada epitel usus, produksi bulu yang buruk, dan pertumbuhan yang tidak merata, juga kesuburan dan daya tetas telur yang menurun.

“Kita harus berpikir begitu dalam dunia perunggasan, soalnya memang kadang gejalanya mirip-mirip dan kadang kita enggak kepikiran begitu,” ujarnya.

Dirinya juga mengimbau agar jika bisa setiap ada kejadian penyakit di lapangan, sebaiknya diambil sampel berupa jaringan dari hewan yang mati, sampel pakan, dan lain sebagainya.

“Ancaman penyakit unggas kebanyakan tak terlihat alias kasat mata, dokternya juga harus lebih cerdas, periksakan sampel, cek ada apa di dalam jaringan, di dalam pakan, bisa saja penyakit bermulai dari situ, makanya kita harus waspada,” jelasnya.

Manajemen Risiko Wajib Hukumnya
Beragam alasan mendasari mengapa mikotoksin harus dan wajib diwaspadai. Menurut Global Technical/Commercial Manager Mycotoxin Risk Management Program, Selko, Dr Swamy Haladi, bahwa mikotoksin dapat... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Februari 2025. (CR)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer