-->

MENJAGA “MESIN PRODUKSI” TETAP SEIMBANG PADA LAYER, BROILER, DAN BREEDER

Bagaimana NE terjadi di dinding usus.

Ketika Kandang Tampak Normal, tetapi Performa Tidak
Banyak peternak dan teknisi lapangan pernah menghadapi situasi ini. Vaksinasi sudah sesuai jadwal, biosekuriti berjalan, dan pemberian pakan sesuai kebutuhan, namun FCR tetap sulit turun, kotoran basah dan berbau tidak biasa, pertumbuhan tidak seragam, atau produksi telur tidak mencapai puncak yang diharapkan.

Dalam pengalaman di lapangan, sumber masalahnya sering sama, yakni keseimbangan sistem pencernaan terganggu. Saluran cerna adalah organ yang mengubah pakan menjadi daging dan telur. Sekitar 70% dari sistem imun unggas juga berkaitan dengan jaringan di sepanjang usus. Ketika usus bermasalah, efeknya merambat ke semua aspek produksi.

Apa yang Dimaksud Keseimbangan Sistem Pencernaan?
Usus yang sehat ditopang oleh tiga pilar yang bekerja bersama:
1. Mikrobiota seimbang: Bakteri menguntungkan (misalnya Lactobacillus dan Bifidobacterium) lebih dominan daripada bakteri merugikan seperti Clostridium perfringens, E. coli, dan Salmonella.

2. Integritas mukosa: Vili usus tinggi dan rapat, sehingga penyerapan nutrisi optimal dan patogen tidak mudah menembus dinding usus.

3. Pencernaan dan penyerapan efisien: Enzim endogen bekerja baik, pH saluran cerna stabil, dan pakan tercerna tuntas.

Gangguan keseimbangan ini disebut disbiosis. Disbiosis adalah penyebab umum di balik enteritis non-spesifik, necrotic enteritis (NE), wet litter, feed passage, hingga rendahnya daya serap nutrisi.

Mengapa Kasus Disbiosis Makin Menantang?
Ada beberapa faktor yang membuat tantangan ini semakin terasa:
• Larangan AGP: Sejak antibiotic growth promoter (AGP) dilarang melalui regulasi Permentan, peternak kehilangan “payung pengaman” yang selama ini menekan bakteri patogen. Manajemen kesehatan usus kini harus dibangun lewat pendekatan yang lebih menyeluruh.

• Cuaca dan iklim yang tidak menentu: Transisi musim, hujan berkepanjangan, dan suhu tinggi meningkatkan kelembapan litter, memicu stres panas, dan mempercepat pertumbuhan mikroba patogen. Data BMKG tentang pola cuaca dapat menjadi acuan antisipasi.

• Kualitas... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Oktober 2026.

Ditulis oleh:
Drh A. Riwanda
Technical Department Manager
PT ROMINDO PRIMAVETCOM
Head Office – Jl. Dr Saharjo, No. 264,
Tebet, Jakarta Selatan
Email: riwanda@romindo.net
www.romindo.co.id

BEGINI SKEMA PENYERAPAN JAGUNG DARI MENTAN UNTUK TEKAN BIAYA PAKAN

Mentan Amran saat berbicara dengan perwakilan peternak di Jakarta, Jumat (9/10/2026). (Foto: Istimewa)

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, menyiapkan skema penyerapan jagung untuk membantu peternak memperoleh bahan baku pakan dengan harga lebih terjangkau. Melalui mekanisme ini, peternak dapat menyerap jagung saat panen raya ketika harga relatif murah, sementara pembiayaan dilakukan Perum Bulog dan stok disimpan melalui koperasi. Skema tersebut diharapkan menjaga keseimbangan harga bagi petani sekaligus menekan beban biaya pakan yang dihadapi peternak.

Hal itu ia sampaikan saat bertemu dengan perwakilan peternak di Jakarta, Jumat (9/10/2026). Pertemuan berlangsung di tengah persoalan biaya pakan yang menjadi salah satu keluhan peternak, termasuk dalam aksi unjuk rasa di DPR kemarin (7/10/2026). Salah satu tuntutan yang disuarakan berkaitan dengan tingginya harga pakan ayam petelur yang dinilai menekan usaha dan menyebabkan peternak mengalami kerugian.

Dalam pertemuan, Mentan Amran menegaskan perlunya membangun ekosistem yang menghubungkan penyerapan hasil panen petani, kebutuhan jagung peternak, pembiayaan, dan penyimpanan agar pasokan pakan lebih terjamin sepanjang tahun. “Saya mau pakan ini ada sistem. Bapak yang serap, Bulog yang bayar,” tegas Amran.

Menurutnya, pemerintah ingin memastikan petani mendapatkan harga layak saat panen raya, sementara peternak memperoleh jagung dengan harga terjangkau untuk kebutuhan pakan. “Jangan sampai peternak rugi. Kalau rugi peternak, negara juga ikut rugi,” katanya.

Karena itu, Mentan mendorong penyerapan jagung dilakukan ketika produksi melimpah dan harga relatif murah. Jagung yang telah dibeli kemudian disimpan melalui koperasi untuk digunakan saat peternak membutuhkan pasokan, termasuk ketika harga di pasar meningkat. “Negara beli pada saat murah, jangan siksa juga saat mahal,” sebutnya.

Dalam skema tersebut, peternak berperan menyerap jagung saat panen raya, sedangkan Bulog menyediakan pembiayaan, dan koperasi menjadi tempat penyimpanan stok. Dengan mekanisme ini, hasil panen petani dapat terserap dan peternak memiliki akses terhadap bahan baku pakan dengan pasokan lebih terjamin.

Mentan Amran mengatakan saat ini terdapat sekitar 40 ribu ton jagung yang menjadi bagian dari pasokan yang dibahas dalam skema tersebut. Pemerintah tetap melakukan penyerapan dengan mempertimbangkan kapasitas negara dan mengoptimalkan jagung yang tersedia.

“Saat ini ada 40 ribu ton, tapi ini tetap menyerap. Negara punya keterbatasan. Sekarang yang ada dulu 40 ribu jagung,” ungkapnya.

Ia meminta Bulog menghitung kembali kebutuhan anggaran agar mekanisme penyerapan dapat berjalan efektif. Penentuan prioritas penyaluran juga perlu mempertimbangkan ketersediaan jagung dan kebutuhan peternak di lapangan. “Ini sudah solusi terbaik untuk bantu peternak supaya untung,” sebut dia.

Perwakilan peternak dari Lampung, Kasmani, menjelaskan bahwa Lampung Selatan merupakan salah satu sentra produksi jagung. Namun, peternak masih menghadapi tantangan dalam memperoleh jagung dengan harga sesuai kebutuhan.

Ia menyampaikan bahwa harga jagung yang dibeli dari petani atau pengepul berada di kisaran Rp 8.400/kg. Selain harga, perbedaan kadar air juga menjadi kendala. Jagung dari Nusa Tenggara Barat (NTB) misalnya, disebut memiliki kadar air 16-17%, sedangkan jagung yang diserap Bulog dipersyaratkan memiliki kadar air 14%.

Menanggapi itu, Mentan Amran menekankan pentingnya memperkuat fasilitas penyimpanan dan pengeringan agar jagung dari sentra produksi dapat diserap serta memenuhi standar yang ditetapkan. Menurutnya, presiden telah menetapkan dukungan anggaran Rp 5 triliun untuk memperkuat infrastruktur pergudangan Bulog.

“Presiden sudah tetapkan anggaran Rp 5 triliun untuk gudang paket Bulog. Lengkapi dengan dryer,” ucapnya.

Ia meminta pembangunan dan penguatan gudang dilengkapi fasilitas pengering (dryer), terutama di wilayah yang memiliki potensi produksi jagung seperti NTB dan Gorontalo. Fasilitas tersebut untuk menjaga mutu jagung, mengurangi kendala kadar air, serta memperlancar penyerapan hasil panen. (INF)

PROTEIN UP, STAKEHOLDERS PERUNGGASAN BAHAS PELUANG PRODUKSI CAGE-FREE

Foto bersama dalam kegiatan Protein Up di Yogyakarta. (Foto: Istimewa)

Rabu (30/9/2026). Sistem produksi cage-free mulai mendapat perhatian lebih luas dari pelaku usaha perunggasan nasional. Selain merespons tuntutan pasar dan perubahan preferensi konsumen, sistem tersebut dinilai membuka peluang bagi pelaku usaha untuk menciptakan nilai tambah sekaligus mengembangkan model bisnis yang berkelanjutan.

Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan “Protein Up: Exploring New Opportunities in the Poultry Industry” yang mempertemukan lebih dari 150 pelaku industri, peternak, akademisi, dan pemangku kepentingan perunggasan di Yogyakarta.

Layer Farm Manager WMU, Ir Arif Afiata Rahmat SPt IPP, mengatakan bahwa cage-free tidak semestinya hanya dipandang sebagai perubahan sistem pemeliharaan, tetapi juga sebagai bagian dari pengembangan bisnis. “Cage-free perlu dilihat sebagai model bisnis berkelanjutan yang mampu mempertahankan produktivitas sekaligus menghasilkan telur berkualitas sesuai dengan permintaan konsumen,” ujarnya.

Saat ini, WMU tengah meningkatkan populasi ayam petelur cage-free dari sekitar 200.000 ekor menjadi 500.000 ekor pada 2027. Dengan ekspansi tersebut, WMU diproyeksikan menjadi salah satu produsen cage-free terbesar di Asia Tenggara.

Kegiatan Protein Up diselenggarakan oleh Lever Foundation bersama PINSAR Indonesia, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM), dan ASOHI Jogja. Forum tersebut digelar di FKH UGM sebagai bagian dari rangkaian Hari Ayam dan Telur Nasional (HATN).

Sejumlah produsen telur turut hadir, di antaranya Jatinom, Januputro, Megatech, dan Lourba Jaya. Kehadiran para produsen tersebut menunjukkan bahwa pembahasan mengenai cage-free mulai mendapatkan ruang lebih besar di tingkat peternak.

Namun, penerapan cage-free bukan sekadar mengganti sistem kandang. Perubahan tersebut turut menuntut kesiapan teknologi, manajemen pemeliharaan, biosekuriti, hingga strategi nutrisi. Sales Specialist Kaleter, Drh Kokot Februhadi, memaparkan sejumlah pilihan teknologi perkandangan yang dapat digunakan dalam sistem cage-free, mulai dari floor system, aviary, hingga mobile house.

“Seiring dengan semakin berkembangnya sistem produksi ayam petelur cage-free dan semakin banyaknya pilihan peralatan yang tersedia, proses transisi menjadi lebih mudah dan semakin menarik bagi perusahaan yang ingin masuk ke pasar cage-free,” jelasnya.

Perubahan sistem pemeliharaan juga membawa konsekuensi terhadap kebutuhan nutrisi ayam. Nutritionist & Business Development Manager DMC, Drh Henri E. Prasetyo Mvet, mengatakan bahwa strategi pakan pada sistem cage-free perlu mempertimbangkan karakteristik ayam yang berbeda dibandingkan sistem kandang konvensional.

“Strategi nutrisi perlu mempertimbangkan tingkat aktivitas ayam yang lebih tinggi, kesehatan kaki dan kerabang telur, serta peluang menghasilkan telur dengan kualitas dan nilai fungsional yang lebih baik melalui pendekatan precision nutrition,” ungkap Henri.

Hal tersebut juga sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan WMU. Pengujian terhadap telur yang dihasilkan dari sistem cage-free dan kandang baterai menunjukkan adanya sejumlah perbedaan pada komposisi nutrien. Beberapa parameter ditemukan lebih tinggi pada telur cage-free, antara lain karoten, omega-3, omega-9, DHA, dan protein. Sementara itu, sejumlah parameter lain ditemukan lebih tinggi pada telur dari sistem kandang baterai.

Dari sisi kesehatan dan manajemen, penerapan cage-free juga membutuhkan perhatian lebih terhadap sejumlah faktor. Guru Besar FKH UGM, Prof Dr Drh Michael Haryadi Wibowo, menyoroti pentingnya penguatan manajemen kesehatan seiring dengan meningkatnya ruang gerak ayam dalam sistem cage-free.

“Penerapan sistem tersebut perlu didukung dengan biosekuriti yang lebih kuat, pengelolaan litter dan kotoran yang efektif, ventilasi yang baik, pengelolaan kualitas air, serta pemantauan kesehatan flock secara berkala. Dengan demikian, kebebasan bergerak dan kesempatan ayam mengekspresikan perilaku alaminya perlu berjalan beriringan dengan manajemen pemeliharaan yang baik,” tambahnya.

Masih dalam kesempatan yang sama, Ketua Bidang Promosi, Pameran, dan Kampanye Gizi PINSAR Indonesia, Ricky Bangsaratoe, menilai tema yang diangkat dalam Protein Up relevan dengan perkembangan industri perunggasan saat ini.

Menurutnya, pembahasan dalam forum tidak hanya berkaitan dengan cage-free, tetapi juga mencakup pencegahan penyakit, manajemen pakan, efisiensi nutrisi, serta perkembangan teknologi perkandangan.

“Berbagai topik yang dibahas dalam kegiatan ini merupakan elemen penting dalam membangun industri perunggasan Indonesia yang semakin maju, sehat, efisien, berkelanjutan, dan kompetitif,” ujarnya.

Sementara itu, Lead of Supply Chain Engagement Lever Foundation, Sandi Dwiyanto, mengatakan bahwa pertumbuhan permintaan telur cage-free juga didorong oleh komitmen pengadaan dari perusahaan di sektor hotel, restoran, dan katering (Horeka).

“Permintaan terhadap telur cage-free terus meningkat, salah satunya didorong kebijakan pengadaan dari perusahaan-perusahaan di sektor Horeka, seperti Swiss-Belhotel International, SuperIndo, Marriott, Hilton, Sodexo, Burger King, dan Circle K,” jelas Sandi.

Perusahaan-perusahaan tersebut merupakan bagian dari lebih dari 3.000 perusahaan secara global yang telah menyatakan komitmen untuk menggunakan 100% telur cage-free.

Dari sisi konsumen, survei GMO Research pada 2025 menunjukkan bahwa 81% konsumen Indonesia menilai ayam petelur seharusnya dipelihara dalam sistem cage-free. Sebanyak 55% responden juga menyatakan lebih tertarik berbelanja di jaringan restoran dan supermarket yang hanya menggunakan telur cage-free.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa penerapan sistem cage-free tidak lagi semata-mata berkaitan dengan perubahan sistem perkandangan di tingkat peternakan. Lebih jauh, perkembangan tersebut mulai berkaitan dengan perubahan kebutuhan pasar, kebijakan pengadaan perusahaan, inovasi teknologi, strategi nutrisi, hingga meningkatnya perhatian konsumen terhadap proses produksi pangan. (INF)

ANTISIPASI POTENSI KELEMAHAN DALAM PENANGANAN CRD KOMPLEKS

Ayam menunjukkan gejala respirasi (gasping) akibat infeksi mycoplasma. (Foto: Istimewa)

Di beberapa layer farm yang penulis kunjungi, keluhan yang sering terdengar adalah ngorok tidak hilang meski sudah dua kali terapi, FCR naik tanpa sebab yang jelas, atau ayam batuk ringan yang tiba-tiba memburuk seminggu setelah ada perlakuan vaksinasi. Pola seperti itu hampir selalu mengarah ke satu hal yang sama, yaitu CRD tidak lagi datang sendirian, melainkan bersamaan dengan E. coli, virus pernapasan, dan kondisi kandang yang sebenarnya sudah menunjukkan tanda bahaya sejak awal.

Bentuk rombongan inilah yang dalam literatur disebut complicated chronic respiratory disease (CCRD). Kombinasi Mycoplasma dengan infeksi sekunder E. coli, ND, IB, AMPV, ILT, dan lain sebagainya saling memperberatkan satu sama lain dan menimbulkan kerugian ketika produksi sudah telanjur turun.

Dua Wajah Mycoplasma yang Tidak Sama
Banyak yang masih menyamaratakan Mycoplasma gallisepticum (MG) dan Mycoplasma synoviae (MS), padahal keduanya punya karakter berbeda dan menuntut strategi deteksi yang berbeda pula.

MG relatif memiliki gejala yang konsisten, lebih mudah dikenali, dan masih cukup responsif terhadap antibiotik. Kerugian dapat muncul karena FCR naik, penurunan produksi telur, ditambah penurunan daya tetas pada breeder.

Sementara untuk MS jauh lebih sulit dideteksi. Infeksi tunggalnya sering tidak bergejala sama sekali dan baru terlihat jelas saat berkomplikasi dengan virus atau bakteri lain. MS juga tidak sebaik MG dalam merespons antibiotik, dan ayam yang pernah terpapar MS akan menjadi carrier sepanjang hidupnya dan terus berpotensi menularkan meski flock tampak sehat-sehat saja. Bila dibiarkan tanpa pengendalian sejak dini, penurunan produksi telur akibat MS bisa mencapai sekitar 7%, juga berdampak pada kualitas kerabang (jumlah telur kualitas II meningkat) yang sering luput dari perhatian.

Titik lemah pertama justru muncul di sini, banyak peternakan masih menganggap “Mycoplasma ya mycoplasma”, tanpa membedakan pendekatan diagnosis dan kontrol untuk masing-masing spesies.

Apa Kata Data Lapangan
Surveilans nasional yang dilakukan pada 350 sampel layer komersial di Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi sepanjang 2025, memberikan gambaran cukup mengejutkan. Prevalensi MS secara keseluruhan tercatat... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2026. 

Ditulis oleh:
Drh. A. Riwanda
Technical Department Manager
PT ROMINDO PRIMAVETCOM
Head Office – Jl. Dr Saharjo, No. 264,
Tebet, Jakarta Selatan
Email: riwanda@romindo.net
www.romindo.co.id 

PETERNAK PETELUR SOLO RAYA GELAR AKSI DAMAI

Aksi damai peternak petelur yang tergabung dalam Gabungan Peternak Petelur se-Solo Raya di kawasan Bundaran Gladak, Solo. (Foto: Dok. Krishandrika)

Peternak petelur yang tergabung dalam Gabungan Peternak Petelur se-Solo Raya menggelar aksi damai di kawasan Bundaran Gladak, Solo, Rabu (5/8/2026). Dalam aksi yang berlangsung tertib tersebut, para peternak membagikan telur kepada masyarakat sebagai bentuk protes atas kondisi industri perunggasan yang kian memprihatinkan.

Ketua Pinsar Kabupaten Boyolali, sekaligus Penanggung Jawab Aksi Damai, Drh Krishandrika Immanuel Raharjo, mengungkapkan bahwa para peternak saat ini tertekan dari dua sisi. Di satu sisi, penyusun HPP melambung akibat tingginya harga pakan, sementara di sisi lain, harga jual telur di tingkat peternak justru tertekan. Kondisi ini memaksa peternak harus menanggung kerugian.

“Pemerintah harus hadir dan tidak sekadar menjadi ‘pemadam kebakaran’. Langkah pencegahan harus dilakukan sejak dini agar hal-hal yang tidak diinginkan dapat diantisipasi,” ujar Krishandrika dalam perbincangannya bersama Infovet, Kamis (6/8/2026).

Dalam aksi tersebut, terdapat beberapa poin yang menjadi tuntutan para peternak. Di antaranya penurunan harga pakan dan stabilisasi jagung dengan meminta pemerintah menstabilkan harga pakan. Jika diperlukan, pemerintah didesak membuka opsi impor jagung agar harganya dapat terealisasi sesuai Harga Acuan Pembelian (HAP), yakni Rp 5.500/kg.

Kemudian meminta penghentian monopoli impor BKK, lalu mendesak pemerintah segera mengisi kekosongan posisi Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), dan meminta pembentukan Kementerian Peternakan yang khusus menangani sektor peternakan secara fokus.

Selain menyampaikan tuntutan teknis, Krishandrika juga menekankan pentingnya evaluasi tata niaga perunggasan nasional secara menyeluruh bukan parsial. Ia juga menyoroti perlunya sinkronisasi kebijakan antar kementerian dengan mengikis ego sektoral demi kepastian usaha peternak.

Terkait desakan pembentukan Kementerian Peternakan, Krishandrika menilai sektor peternakan dan kesehatan hewan memiliki cakupan yang terlalu luas jika hanya dijadikan bagian dari Kementerian Pertanian.

“Urusan kesejahteraan masyarakat ditopang oleh kecukupan protein hewani, begitu pula kesehatan manusia yang erat kaitannya dengan kesehatan hewan. Ke depan, sektor strategis ini harus dipegang oleh lembaga tersendiri dan dipimpin oleh pihak-pihak yang kompeten,” tukasnya. (INF)

MENJAGA PRODUKTIVITAS AYAM SAAT STRES MENGANCAM

Ayam yang dipelihara dalam sistem open house. (Foto: Gemini)

Ketika stres oksidatif menyerang, berbagai solusi diupayakan agar ayam nyaman dan produksi tetap aman.

Pada hakikatnya stres panas adalah efek gabungan dari suhu dan kelembapan relatif udara pada ayam yang dikenal sebagai suhu efektif. Meningkatkan kelembapan udara pada suhu berapapun akan meningkatkan ketidaknyamanan ayam dan stres panas.

Peternak harus hati-hati memantau suhu dan kelembapan di lokasi mereka. Umumnya, pada siang hari, suhu meningkat dan kelembapan relatif menurun. Metode pendinginan terbaik selama periode kelembapan rendah adalah pendinginan evaporatif (fogger, mister-pembuat kabut atau cool pad).

Sedangkan pada malam hari ketika suhu turun dan kelembapan biasanya meningkat, kelembapan tambahan yang disediakan oleh pengabut dapat meningkatkan tekanan panas. Saat kelembapan tinggi, peningkatan pergerakan udara dengan menggunakan kipas saja akan mengurangi tekanan panas di kandang terbuka.

Pergerakan udara menghasilkan efek wind chill yaitu penurunan suhu udara yang dirasakan oleh tubuh akibat adanya aliran udara. Tabel indeks tekanan panas untuk ayam petelur komersial telah dikembangkan.

Mengetahui Aspek yang Wajib Dibenahi
Regional Technical Manager Cobb-Vantress, Amin Suyono, menyatakan bahwa penyebab heat stress memang ada pengaruh dari lingkungan, namun demikian kualitas aspek manajemen pemeliharaan juga dapat mengurangi maupun menambah risiko keparahan kasus.

Sebagai contoh manajemen perkandangan yang kurang baik. Mulai dari konstruksi, jenis kandang, kepadatan kandang, manajemen ventilasi, bahkan bahan baku konstruksi kandang juga akan memengaruhi aspek tersebut.

“Terlebih lagi di negara kita masih banyak sistem open, di mana ini akan meningkatkan risiko cekaman heat stress baik di musim panas, maupun musim dingin terlebih ketika salah dalam mengatur ventilasi (menutup rapat ventilasi, dan lain-lain). Oleh karenanya closed house jadi solusi instan,” tutur dia.

Meskipun begitu, dibutuhkan modal yang besar dalam membangun closed house yang juga disertai oleh daya listrik yang menunjang, serta tenaga kerja yang terampil. Jadi menurut Amin, hanya tinggal memilih saja yang penting sudah tau titik kritis dan cara mengakalinya. 
Selain kandang, Amin juga menyinggung mengenai nutrisi. Pemberian ransum dengan kandungan nutrisi, terutama protein kasar yang berlebih bisa memperparah kasus heat stress.

Kelebihan protein kasar akan diuraikan oleh tubuh ayam untuk dibuang bersama feses. Penguraian protein kasar ini akan menghasilkan panas tubuh yang jauh lebih besar dibandingkan dengan pencernaan karbohidrat ataupun lemak. Selain itu, protein kasar yang terbuang bersama feses akan diuraikan oleh bakteri yang ada di dalam feses menjadi amonia dan panas.

Kesadaran untuk Mencegah dan Bersahabat dengan Cuaca
Di musim panas, nantinya kasus... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2026. (CR)

TARGETKAN EKSPANSI BERTAHAP, WMU BERPELUANG JADI PRODUSEN TELUR CAGE-FREE TERBESAR DI ASIA TENGGARA

WMU menargetkan peningkatan kapasitas secara bertahap hingga 500.000 ekor pada 2027, yang berpotensi menjadikannya sebagai produsen telur cage-free terbesar di Asia Tenggara. (Foto: Istimewa)

Kesadaran masyarakat terhadap produk pangan yang sehat dan aman, serta memperhatikan kesejahteraan hewan terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Sejalan dengan tren tersebut, permintaan telur cage-free menunjukkan pertumbuhan konsisten. Kondisi ini mendorong sejumlah produsen telur mempertimbangkan transformasi maupun ekspansi kapasitas produksi cage-free. Salah satunya PT Widodo Makmur Unggas Tbk (WMU), yang melalui rencana pengembangannya berpotensi menjadi produsen telur cage-free terbesar di Asia Tenggara.

Direktur Marketing WMU, Tri Mahawijaya Herlambang, mengatakan bahwa pasar telur cage-free di Indonesia terus berkembang. Menurutnya, pertumbuhan tersebut tidak hanya didorong perusahaan makanan multinasional, tetapi juga semakin banyak pelaku usaha dan perusahaan lokal yang mulai beralih menggunakan telur bebas sangkar.

“Untuk memenuhi kebutuhan pasar yang terus berkembang, WMU tengah memperluas kapasitas peternakan telur cage-free secara bertahap, dari populasi saat ini sekitar 200.000 ekor ayam petelur menjadi 500.000 ekor yang ditargetkan selesai pada 2027. Kami optimistis permintaan telur cage-free akan terus meningkat. Karena itu, kami siapkan kapasitas produksi sejak sekarang agar siap mengantisipasi lonjakan permintaan yang dapat terjadi sewaktu-waktu,” ujar Mahawijaya di Jakarta, Jumat (19/6/2026).

Saat ini, telur cage-free produksi WMU dipasarkan melalui skema business-to-business (B2B) kepada berbagai segmen pelanggan, mulai dari perusahaan katering, jaringan hotel, restoran, hingga gerai makanan cepat saji. Selain itu, WMU juga tengah menyiapkan peluncuran merek telur cage-free sendiri yang akan menyasar pasar ritel.

“Pengembangan ini bukan untuk menggantikan pasar yang sudah ada, melainkan membuka segmen baru dengan nilai tambah yang lebih tinggi sekaligus menjawab kebutuhan konsumen yang semakin peduli terhadap keberlanjutan, keamanan pangan, dan kesejahteraan hewan. Di sisi lain, sebagai perusahaan terbuka, WMU juga memiliki komitmen terhadap aspek sustainability. Penerapan animal welfare melalui sistem peternakan cage-free menjadi salah satu bentuk nyata implementasi komitmen tersebut,” tambahnya.

Menanggapi rencana ekspansi tersebut, Sustainable Poultry Program Manager Lever Foundation, Sandi Dwiyanto, menyampaikan apresiasinya atas langkah WMU dalam memperluas kapasitas produksi cage-free di Indonesia. Menurutnya, meningkatnya komitmen konsumen maupun pelaku usaha terhadap keberlanjutan dan kualitas pangan membuka peluang yang semakin besar bagi pertumbuhan pasar telur bebas sangkar.

“Dalam beberapa tahun terakhir, permintaan telur cage-free terus meningkat, terutama dari sektor ritel, hotel, restoran, perusahaan FMCG, serta layanan makanan. Saat ini, lebih dari 2.000 perusahaan makanan global telah memiliki komitmen penggunaan 100 persen telur cage-free, termasuk berbagai merek internasional yang beroperasi di Indonesia seperti KFC, Burger King, Hyatt, Marriott, dan Swiss-Belhotel International. Pada saat yang sama, juga semakin banyak perusahaan domestik yang mulai menerapkan atau sedang bertransisi menuju kebijakan pengadaan telur cage-free, seperti Super Indo, Ismaya Group, Bali Buda, Jiwa Jawi, dan masih banyak lagi,” kata Sandi.

Pertumbuhan produk cage-free juga tercermin dari hasil survei GMO Research, perusahaan riset pasar dan penyedia panel konsumen asal Jepang. Survei tersebut menunjukkan bahwa 55% konsumen Indonesia lebih memilih membeli produk dari merek yang hanya menggunakan telur cage-free. Selain itu, 72% responden juga setuju bahwa telur yang digunakan oleh perusahaan makanan seharusnya berasal dari peternakan yang menerapkan standar kesejahteraan hewan.

Di sisi lain, studi lintas negara yang dilakukan European Food Safety Authority (EFSA) menunjukkan bahwa peternakan telur cage-free memiliki risiko hingga 25 kali lebih rendah mengalami kontaminasi strain tertentu bakteri Salmonella dibandingkan peternakan dengan sistem kandang konvensional.

“Selain didorong permintaan pasar dan aspek kualitas produk, ekspansi WMU juga sejalan dengan diterbitkannya Permentan Nomor 32 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Hewan. Kami berharap langkah WMU dapat menginspirasi lebih banyak produsen telur di Indonesia untuk mulai mempersiapkan diri menghadapi perubahan kebutuhan pasar yang terus berkembang. Kami juga akan terus mendukung penguatan ekosistem cage-free di Indonesia agar pertumbuhan permintaan pasar dan ketersediaan pasokan dapat berjalan beriringan,” tukasnya. (INF)

OPTIMALISASI FORMULASI PAKAN LAYER, ALTERNATIF DAN STRATEGI SMART NUTRITION

Formulasi pakan harus berevolusi menjadi sistem yang lebih adaptif, presisi, dan berbasis pada respons biologis ayam. (Foto: Istimewa)

Industri ayam petelur nasional saat ini menghadapi tekanan yang semakin kompleks. Biaya pakan masih mendominasi lebih dari 60-70% total biaya produksi, sementara volatilitas harga bahan baku utama seperti jagung dan bungkil kedelai terus meningkat akibat faktor global, iklim, logistik, dan dinamika pasar. Pada saat yang sama, tuntutan terhadap stabilitas produksi, kualitas, serta keberlanjutan sistem peternakan semakin tinggi.

Dalam situasi tersebut, pendekatan formulasi pakan yang hanya berorientasi pada least cost formulation tidak lagi memadai. Formulasi pakan harus berevolusi menjadi sistem yang lebih adaptif, presisi, dan berbasis pada respons biologis ayam. Penggunaan bahan baku alternatif yang dipadukan dengan strategi nutrisi cerdas (smart nutrition) menjadi salah satu pendekatan penting untuk menjaga daya saing produksi.

Namun demikian, pemanfaatan bahan baku alternatif tidak dapat dilakukan secara sederhana dengan mengganti bahan konvensional. Tanpa pemahaman memadai mengenai karakteristik nutrien, risiko antinutrisi, serta implikasi fisiologisnya terhadap ayam petelur, strategi ini justru berpotensi meningkatkan variabilitas performa dan menurunkan efisiensi biologis.

Peran Strategis Bahan Baku Alternatif
Dalam praktik industri pakan, bahan baku alternatif masih sering diposisikan sebagai solusi darurat ketika harga bahan baku utama melonjak atau pasokan terganggu. Pendekatan reaktif seperti ini pada kenyataannya justru meningkatkan risiko ketidak-konsistenan mutu pakan dan fluktuasi performa ayam petelur.

Pada pendekatan formulasi modern, bahan baku alternatif seharusnya ditempatkan sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan sistem pakan (feed resilience). Bahan baku alternatif mencakup berbagai kelompok, mulai dari sumber energi seperti singkong, sorgum, dan dedak padi, sumber protein seperti DDGS, palm kernel meal, dan canola meal, hingga berbagai hasil samping industri pertanian seperti wheat bran dan corn gluten feed.

Keunggulan utama bahan-bahan tersebut adalah fleksibilitas pasokan, peluang efisiensi biaya, serta kontribusinya terhadap prinsip ekonomi sirkular. Akan tetapi, pada ayam petelur, tantangan terbesar bukan hanya bagaimana menekan biaya ransum, melainkan bagaimana menjaga kestabilan produksi telur, persistensi produksi, serta kualitas kerabang dan internal telur.

Penggunaan bahan baku alternatif harus didasarkan pada prinsip strategic inclusion, yaitu penentuan level penggunaan yang realistis dan aman berdasarkan karakteristik fisiologis ayam petelur dan tujuan produksi jangka panjang. Bahan baku alternatif bukanlah pengganti mutlak, tetapi alat strategis untuk memperluas fleksibilitas formulasi.

Formulasi pakan layer yang terlalu agresif dalam menggunakan bahan baku alternatif tanpa dukungan strategi nutrisi yang memadai kerap berujung... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi April 2026. 

Ditulis oleh:
Henri E. Prasetyo Drh MVet
Praktisi perunggasan, Nutritionist PT DMC

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer