-->

PROTEIN UP, STAKEHOLDERS PERUNGGASAN BAHAS PELUANG PRODUKSI CAGE-FREE

Foto bersama dalam kegiatan Protein Up di Yogyakarta. (Foto: Istimewa)

Rabu (30/9/2026). Sistem produksi cage-free mulai mendapat perhatian lebih luas dari pelaku usaha perunggasan nasional. Selain merespons tuntutan pasar dan perubahan preferensi konsumen, sistem tersebut dinilai membuka peluang bagi pelaku usaha untuk menciptakan nilai tambah sekaligus mengembangkan model bisnis yang berkelanjutan.

Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan “Protein Up: Exploring New Opportunities in the Poultry Industry” yang mempertemukan lebih dari 150 pelaku industri, peternak, akademisi, dan pemangku kepentingan perunggasan di Yogyakarta.

Layer Farm Manager WMU, Ir Arif Afiata Rahmat SPt IPP, mengatakan bahwa cage-free tidak semestinya hanya dipandang sebagai perubahan sistem pemeliharaan, tetapi juga sebagai bagian dari pengembangan bisnis. “Cage-free perlu dilihat sebagai model bisnis berkelanjutan yang mampu mempertahankan produktivitas sekaligus menghasilkan telur berkualitas sesuai dengan permintaan konsumen,” ujarnya.

Saat ini, WMU tengah meningkatkan populasi ayam petelur cage-free dari sekitar 200.000 ekor menjadi 500.000 ekor pada 2027. Dengan ekspansi tersebut, WMU diproyeksikan menjadi salah satu produsen cage-free terbesar di Asia Tenggara.

Kegiatan Protein Up diselenggarakan oleh Lever Foundation bersama PINSAR Indonesia, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM), dan ASOHI Jogja. Forum tersebut digelar di FKH UGM sebagai bagian dari rangkaian Hari Ayam dan Telur Nasional (HATN).

Sejumlah produsen telur turut hadir, di antaranya Jatinom, Januputro, Megatech, dan Lourba Jaya. Kehadiran para produsen tersebut menunjukkan bahwa pembahasan mengenai cage-free mulai mendapatkan ruang lebih besar di tingkat peternak.

Namun, penerapan cage-free bukan sekadar mengganti sistem kandang. Perubahan tersebut turut menuntut kesiapan teknologi, manajemen pemeliharaan, biosekuriti, hingga strategi nutrisi. Sales Specialist Kaleter, Drh Kokot Februhadi, memaparkan sejumlah pilihan teknologi perkandangan yang dapat digunakan dalam sistem cage-free, mulai dari floor system, aviary, hingga mobile house.

“Seiring dengan semakin berkembangnya sistem produksi ayam petelur cage-free dan semakin banyaknya pilihan peralatan yang tersedia, proses transisi menjadi lebih mudah dan semakin menarik bagi perusahaan yang ingin masuk ke pasar cage-free,” jelasnya.

Perubahan sistem pemeliharaan juga membawa konsekuensi terhadap kebutuhan nutrisi ayam. Nutritionist & Business Development Manager DMC, Drh Henri E. Prasetyo Mvet, mengatakan bahwa strategi pakan pada sistem cage-free perlu mempertimbangkan karakteristik ayam yang berbeda dibandingkan sistem kandang konvensional.

“Strategi nutrisi perlu mempertimbangkan tingkat aktivitas ayam yang lebih tinggi, kesehatan kaki dan kerabang telur, serta peluang menghasilkan telur dengan kualitas dan nilai fungsional yang lebih baik melalui pendekatan precision nutrition,” ungkap Henri.

Hal tersebut juga sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan WMU. Pengujian terhadap telur yang dihasilkan dari sistem cage-free dan kandang baterai menunjukkan adanya sejumlah perbedaan pada komposisi nutrien. Beberapa parameter ditemukan lebih tinggi pada telur cage-free, antara lain karoten, omega-3, omega-9, DHA, dan protein. Sementara itu, sejumlah parameter lain ditemukan lebih tinggi pada telur dari sistem kandang baterai.

Dari sisi kesehatan dan manajemen, penerapan cage-free juga membutuhkan perhatian lebih terhadap sejumlah faktor. Guru Besar FKH UGM, Prof Dr Drh Michael Haryadi Wibowo, menyoroti pentingnya penguatan manajemen kesehatan seiring dengan meningkatnya ruang gerak ayam dalam sistem cage-free.

“Penerapan sistem tersebut perlu didukung dengan biosekuriti yang lebih kuat, pengelolaan litter dan kotoran yang efektif, ventilasi yang baik, pengelolaan kualitas air, serta pemantauan kesehatan flock secara berkala. Dengan demikian, kebebasan bergerak dan kesempatan ayam mengekspresikan perilaku alaminya perlu berjalan beriringan dengan manajemen pemeliharaan yang baik,” tambahnya.

Masih dalam kesempatan yang sama, Ketua Bidang Promosi, Pameran, dan Kampanye Gizi PINSAR Indonesia, Ricky Bangsaratoe, menilai tema yang diangkat dalam Protein Up relevan dengan perkembangan industri perunggasan saat ini.

Menurutnya, pembahasan dalam forum tidak hanya berkaitan dengan cage-free, tetapi juga mencakup pencegahan penyakit, manajemen pakan, efisiensi nutrisi, serta perkembangan teknologi perkandangan.

“Berbagai topik yang dibahas dalam kegiatan ini merupakan elemen penting dalam membangun industri perunggasan Indonesia yang semakin maju, sehat, efisien, berkelanjutan, dan kompetitif,” ujarnya.

Sementara itu, Lead of Supply Chain Engagement Lever Foundation, Sandi Dwiyanto, mengatakan bahwa pertumbuhan permintaan telur cage-free juga didorong oleh komitmen pengadaan dari perusahaan di sektor hotel, restoran, dan katering (Horeka).

“Permintaan terhadap telur cage-free terus meningkat, salah satunya didorong kebijakan pengadaan dari perusahaan-perusahaan di sektor Horeka, seperti Swiss-Belhotel International, SuperIndo, Marriott, Hilton, Sodexo, Burger King, dan Circle K,” jelas Sandi.

Perusahaan-perusahaan tersebut merupakan bagian dari lebih dari 3.000 perusahaan secara global yang telah menyatakan komitmen untuk menggunakan 100% telur cage-free.

Dari sisi konsumen, survei GMO Research pada 2025 menunjukkan bahwa 81% konsumen Indonesia menilai ayam petelur seharusnya dipelihara dalam sistem cage-free. Sebanyak 55% responden juga menyatakan lebih tertarik berbelanja di jaringan restoran dan supermarket yang hanya menggunakan telur cage-free.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa penerapan sistem cage-free tidak lagi semata-mata berkaitan dengan perubahan sistem perkandangan di tingkat peternakan. Lebih jauh, perkembangan tersebut mulai berkaitan dengan perubahan kebutuhan pasar, kebijakan pengadaan perusahaan, inovasi teknologi, strategi nutrisi, hingga meningkatnya perhatian konsumen terhadap proses produksi pangan. (INF)

OPTIMALISASI FORMULASI PAKAN LAYER, ALTERNATIF DAN STRATEGI SMART NUTRITION

Formulasi pakan harus berevolusi menjadi sistem yang lebih adaptif, presisi, dan berbasis pada respons biologis ayam. (Foto: Istimewa)

Industri ayam petelur nasional saat ini menghadapi tekanan yang semakin kompleks. Biaya pakan masih mendominasi lebih dari 60-70% total biaya produksi, sementara volatilitas harga bahan baku utama seperti jagung dan bungkil kedelai terus meningkat akibat faktor global, iklim, logistik, dan dinamika pasar. Pada saat yang sama, tuntutan terhadap stabilitas produksi, kualitas, serta keberlanjutan sistem peternakan semakin tinggi.

Dalam situasi tersebut, pendekatan formulasi pakan yang hanya berorientasi pada least cost formulation tidak lagi memadai. Formulasi pakan harus berevolusi menjadi sistem yang lebih adaptif, presisi, dan berbasis pada respons biologis ayam. Penggunaan bahan baku alternatif yang dipadukan dengan strategi nutrisi cerdas (smart nutrition) menjadi salah satu pendekatan penting untuk menjaga daya saing produksi.

Namun demikian, pemanfaatan bahan baku alternatif tidak dapat dilakukan secara sederhana dengan mengganti bahan konvensional. Tanpa pemahaman memadai mengenai karakteristik nutrien, risiko antinutrisi, serta implikasi fisiologisnya terhadap ayam petelur, strategi ini justru berpotensi meningkatkan variabilitas performa dan menurunkan efisiensi biologis.

Peran Strategis Bahan Baku Alternatif
Dalam praktik industri pakan, bahan baku alternatif masih sering diposisikan sebagai solusi darurat ketika harga bahan baku utama melonjak atau pasokan terganggu. Pendekatan reaktif seperti ini pada kenyataannya justru meningkatkan risiko ketidak-konsistenan mutu pakan dan fluktuasi performa ayam petelur.

Pada pendekatan formulasi modern, bahan baku alternatif seharusnya ditempatkan sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan sistem pakan (feed resilience). Bahan baku alternatif mencakup berbagai kelompok, mulai dari sumber energi seperti singkong, sorgum, dan dedak padi, sumber protein seperti DDGS, palm kernel meal, dan canola meal, hingga berbagai hasil samping industri pertanian seperti wheat bran dan corn gluten feed.

Keunggulan utama bahan-bahan tersebut adalah fleksibilitas pasokan, peluang efisiensi biaya, serta kontribusinya terhadap prinsip ekonomi sirkular. Akan tetapi, pada ayam petelur, tantangan terbesar bukan hanya bagaimana menekan biaya ransum, melainkan bagaimana menjaga kestabilan produksi telur, persistensi produksi, serta kualitas kerabang dan internal telur.

Penggunaan bahan baku alternatif harus didasarkan pada prinsip strategic inclusion, yaitu penentuan level penggunaan yang realistis dan aman berdasarkan karakteristik fisiologis ayam petelur dan tujuan produksi jangka panjang. Bahan baku alternatif bukanlah pengganti mutlak, tetapi alat strategis untuk memperluas fleksibilitas formulasi.

Formulasi pakan layer yang terlalu agresif dalam menggunakan bahan baku alternatif tanpa dukungan strategi nutrisi yang memadai kerap berujung... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi April 2026. 

Ditulis oleh:
Henri E. Prasetyo Drh MVet
Praktisi perunggasan, Nutritionist PT DMC

INGAT, PERIODE REARING PENTING

Pertumbuhan ayam memiliki ukuran yang berbeda-beda, dimana kebutuhan ventilasinya berbeda. (Foto: Istimewa)

Mengapa fase rearing sangat penting? Performa ayam akan bergantung pada apa yang dilakukan di setiap fase layer. Hal ini dikupas dalam webinar “Pullet Rearing: Micro Climate and Feeding Program” yang diadakan De Heus Indonesia, Selasa (4/4).

Pertumbuhan ayam memiliki ukuran yang berbeda-beda dimana kebutuhan ventilasinya berbeda, mulai dari ayam kecil ke ayam besar atau dewasa amat penting menyesuaikan kebutuhannya sesuai usia.

Pada puncak produksi ayam layer sangat tinggi hampir mendekati 100%, yang akan berangsur turun mengikuti umur. “Jadi cara kita mempertahankan keuntungan adalah dengan mempertahankan produksi pada ayam di usia tua,” kata Senior Specialist Poultry De Heus Indonesia, Jan van de Brink.

Ayam layer saat ini target bisa mencapai produksi 500 butir telur di umur 100 minggu. Untuk mencapai hal tersebut membutuhkan kombinasi tiga hal yaitu genetic potential, nutrisi, dan melalui manajemen yang salah satunya terkait microclimate.

Ketika ayam sudah memiliki potensi unggul tetapi tidak didukung lingkungan yang memadai, maka hasilnya tidak akan maksimal. Manajemen yang baik tentu akan menghasilkan produksi telur yang baik atau meningkat. Begitupun sebaliknya, manajemen buruk maka hasil pun tidak akan bagus.

Jan mengatakan, pertumbuhan dan fase rearing tidak selesai di umur 16 minggu melainkan sampai umur 30 minggu. “Kita harus mempersiapkannya, karena mungkin pada saat ayam memulai bertelur hingga fase puncak,” tambahnya.

Apabila sudah mencapai umur 18 minggu yang bisa diperbaiki hanyalah sedikit. Karena apa yang dilakukan di umur 17 minggu sebelumnya itulah yang menentukan keberhasilan produksi. Sebab sangat mudah merusak pullet yang baik, namun sulit memperbaiki pullet yang sudah rusak.

Microclimate Control
Microclimate control apa saja yang bisa dilakukan peternak? Diantaranya dengan kontrol suhu atau temperatur. Kemudian comfort zone atau zona nyaman untuk ayam patut disediakan. “Pastikan alas/litter kering. Keluarkan gas-gas berbahaya contoh amonia dan pastikan terjadi pertukaran udara yang baik,” urai Jan.

Lebih lanjut dijelaskan terkait climate parameters yaitu… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2023. (NDV)

TELUR REBUS, PILIHAN TEPAT UNTUK MPASI

Konsumsi telur ayam maupun telur puyuh sama baiknya. (Foto: Shutterstock)

Mitos konsumsi telur ayam tak baik bagi ibu pasca melahirkan masih “berlaku” di sebagian masyarakat pedesaan. Padahal, sumber protein hewani ini kaya manfaat bagi pertumbuhan janin hingga sang bayi lahir.

Usai menjalani masa pesalinan di rumah sakit, setiap pagi Laila Sukma mendapat kunjungan dokter anak di ruang perawatan. Kunjungan dokter dilakukan rutin setiap pagi untuk mengecek kondisi ibu muda yang baru melahirkan anak pertamanya itu.

Dalam setiap kunjungan, dokter selalu mengingatkan agar pasiennya tak melupakan makan telur rebus yang disiapkan dalam menu sarapan. “Telur rebus penting untuk mempercepat penyembuhan luka Ibu, soalnya kan lahirannya sesar. Makan telur bisa membantu luka lebih cepat sembuh,” pesan dokter, seperti ditirukan Laila.

Menurutnya, sang dokter juga berpesan agar konsumsi telur tetap dilanjutkan setelah pulang dari rumah sakit. “Dokter bilang selama masa menyusui, telur ayam yang direbus bagus banget untuk memacu ketersediaan air usu ibu (ASI),” ujarnya kepada Infovet.

Sebagai wanita yang sedang menikmati masa bahagia atas kelahiran anak pertamanya, Laila merasa perlu banyak mencari informasi seputar gizi untuk ibu pasca melahirkan. Wanita ini rajin berburu informasi tentang Makanan Pendamping ASI (MPASI) untuk buah hatinya, jika sudah umurnya sudah cukup untuk makan.

“Saya suka baca-baca info tentang makanan yang bagus buat bayi. Telur ayam rebus banyak direkomendasikan sebagai makanan pendamping ASI. Kalau sekarang kan banyak makanan produk pabrikan, saya nanti maunya bikin sendiri saja. Lebih murah, tapi gizinya terpenuhi,” tuturnya.

Laila memang termasuk ibu yang cerdas dalam memilih makanan. Apa yang dipikirkan olehnya tentang telur adalah benar adanya. Dalam banyak literatur kesehatan, pasca persalinan seorang ibu sedang dalam masa menyusui anaknya, sudah pasti sedang membutuhkan asupan gizi ekstra agar ASI yang dihasilkan memenuhi kebutuhan sang bayi.

Ibu yang masih dalam masa menyusui membutuhkan protein hewani, protein nabati, kalsium, vitamin dan jenis gizi lainnya. Jika asupan gizi komplit tak dipenuhi, maka yang terjadi adalah anak akan menderita gizi buruk dan lambat dalam pertumbuhan atau yang dikenal dengan istilah stunting. Stunting adalah kondisi gagal pertumbuhan pada anak akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama.

Dalam laman jurnal American Heart Asociation menyebutkan, hal itu dibuktikan oleh penelitian di Afrika yang pernah membandingkan anak yang memiliki pola makan vegan atau sama sekali tidak mengonsumsi produk hewani dengan anak yang rutin makan protein hewani.

Dari penelitian tersebut, hasilnya anak yang mengonsumsi protein hewani memiliki tubuh lebih tinggi dibanding yang hanya mengonsumsi protein nabati. Meski demikian, bukan berarti protein nabati tidak boleh diberikan sebagai MPASI pada anak.

Inilah satu salah alasan pentingnya edukasi kepada masyarakat soal mengonsumsi makanan yang menjadi sumber protein hewani, seperti telur dan daging ayam. Edukasi tentang pentingnya konsumsi telur dan daging ayam perlu dilakukan. Kampanye makan telur dan daging ayam juga harus terus digaungkan.

Jurnal American Heart Asociation juga menyebutkan manfaat telur rebus untuk ibu hamil adalah dapat meningkatkan kualitas ASI. Wanita hamil membutuhkan minimal 450 mg kolin. Sementara wanita yang sedang menyusui membutuhkan sekitar 550 mg kolin. Selain untuk ASI, telur juga meningkatkan kecerdasan otak bayi sejak kandungan.

Beda Gengsi 
Telur ayam merupakan sumber protein dan nutrisi lainnya yang tergolong murah. Dibandingkan daging sapi, dengan takaran yang sama, harga telur jauh lebih murah namun memiliki kandungan gizi yang luar biasa. Perbedaan konsumsi daging dan telur hanya pada “gengsi” saja.

Menurut ahli gizi dari Univeritas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta, Taufik Maryusman SGz MGizi MPd, kandungan asam amino yang ada di dalam telur juga cukup bagus untuk kesehatan tubuh. Asam amino berperan penting karena membantu pembentukan protein sebagai bahan dasar pembentuk sel, otot, serta sistem kekebalan tubuh.

Sebab itu, menjadikan telur dan daging ayam sebagai MPASI sangat baik dan bisa dimulai sejak awal ibu-ibu menyusui bayinya hingga anaknya makan makanan padat. Daging ayam mengandung protein, zat besi, magnesium, vitamin dan fosfor. Kandungan ini sangat penting untuk mendukung tumbuh kembang si kecil. Tak hanya itu, kandungan kolin dan vitamin C-nya dapat meningkatkan perkembangan otak anak.

Sementara telur ayam, selain mudah didapatkan juga merupakan makanan yang mengandung nutrisi komplet untuk bayi hingga orang dewasa. Dalam satu butir telur, mengandung 75 kalori, 7 gram protein tinggi, zat besi, lemak dan vitamin.

Sebagai catatan, tentunya pemberian MPASI dilakukan secara bertahap disesuaikan dengan usia bayi. Dimulai dari makanan bertekstur lunak seperti bubur susu, lalu bubur saring, lembek seperti bubur biasa, lalu nasi tim, hingga yang padat seperti nasi biasa atau makanan keluarga.

Masih menurut Taufik, telur ayam bukan satu-satunya sumber protein hewani yang terjangkau dari sisi harga. Ada telur puyuh yang juga dapat menjadi sumber protin yang sama, dengan takaran yang sama pula. Telur puyuh memiliki sejumlah kandungan nutrisi yang baik untuk tubuh.

Menurutnya, telur puyuh memang tidak sefamiliar telur ayam yang lebih banyak dikonsumsi anak-anak dan orang dewasa. ”Tetapi manfaatnya tidak ada bedanya dan bermanfaat bagi tubuh,” kata Taufik.

Ada beberapa kandungan nutrisi telur puyuh yang cukup baik untuk diketahui oleh orang tua, agar anak-anaknya juga gemar mengonsumsi. Pertama, sama seperti telur ayam, telur puyuh tinggi protein. Satu porsi telur puyuh (isi lima butir) mengandung 6 gram protein yang ternyata sama banyak dengan satu butir telur ayam. Protein diperlukan tubuh untuk dijadikan sumber energi, menjaga stamina, memelihara kesehatan kulit dan rambut, serta membangun dan menguatkan massa otot, baik dikonsumsi untuk anak-anak hingga orang dewasa.

Kedua, telur mini yang dihasilkan burung puyuh juga kaya vitamin A dan kolin. Setiap porsi telur puyuh menawarkan 119 miligram kolin dan 244 IU vitamin A. Artinya, seporsi telur puyuh (setara lima butir) mampu menyajikan sekitar 22-28% kebutuhan kolin harian dan 8-10% asupan vitamin A dalam sehari. Dua nutrisi ini bersamaan menjaga kerja sistem imun tubuh untuk mencegah risiko penyakit dan infeksi, khususnya mencegah perkembangan penyakit jantung. Vitamin A dan kolin juga berperan memelihara fungsi sistem saraf dan indra penglihatan.

Ketiga, telur burung puyuh mengandung lebih banyak selenium (26%) dan zat besi (9%) daripada telur ayam. Selenium bermanfaat untuk memelihara fungsi kognitif otak, meningkatkan metabolisme hormon tiroid dan memperbaiki kerusakan DNA. Sementara, zat besi berfungsi memproduksi sel darah merah sehat untuk mencegah anemia. Zat besi juga mungkin berpotensi memberikan perlindungan terhadap penyakit jantung. Kombinasi zat besi dan selenium dibutuhkan tubuh untuk memetabolisme otot serta memelihara kesehatan pembuluh darah. Jadi, mulailah konsumsi telur puyuh karena cukup baik untuk anak-anak maupun orang dewasa dan bisa diolah menjadi aneka ragam makanan yang lezat.

Dengan kepadatan nutrisi yang terkandung di dalamnya, menurut Taufik, telur puyuh bisa menjadi salah satu pilihan untuk makanan pendamping ASI bagi anak bawah tiga tahun.

Telur Ayam vs Telur Puyuh
Menurut data dari jurnal American Heart Asociation yang dirilis pada 2002, telur puyuh terdiri atas putih telur (albumen) 47,4%, kuning telur (yolk) 31,9% dan kerabang serta membran kerabang 20,7%. Kandungan protein telur puyuh sekitar 13,1%, sedangkan kandungan lemaknya 11,1%. Untuk kuning telur puyuh mengandung 15,7-16,6% protein, 31,8-35,5% lemak, 0,2-1,0% karbohidrat dan 1,1% abu. Telur puyuh juga mengandung vitamin A sebesar 543 ug (per 100g).

Lalu, bagaimana perbandingan kandungan nutrisi telur puyuh dengan telur ayam? Setiap 50 gram atau sekitar satu butir telur ayam berukuran besar mengandung 6 gram protein dan 78 kalori. Sedangkan, satu porsi telur puyuh (lima butir) mengandung 6 gram protein dan 71 kalori.

Bila konsumsi satu porsi telur puyuh, ini artinya akan mendapatkan asupan protein yang sama dengan sebutir telur ayam. Kandungan kalorinya pun hanya terpaut tujuh kalori saja, sehingga tak jauh berbeda.

Bukan hanya jumlah kalorinya saja yang mirip, kandungan vitamin dan mineral pada dua jenis telur inipun cenderung sama. Dari sisi kandungan kolesterol, setiap lima butir alias seporsi telur puyuh mengandung 5 gram lemak, yang terdiri dari 1,6 gram lemak jenuh. Sementara, sebutir telur ayam ukuran besar (50 gram) mengandung 5 gram lemak, dengan 1,5 gram lemak jenuh.

Meskipun perbedaannya tampak sedikit, namun kandungan lemak jenuh dalam telur puyuh tetap lebih tinggi dari telur ayam. Oleh karena itu, jangan mengonsumsinya secara berlebihan, makanlah secukupnya. (AK)

CETAK PULLET BERKUALITAS DARI PETERNAKAN SENDIRI

Pullet umur empat bulan di kandang produksi Aan. (Foto: Dok. Aan)

Ayam petelur dengan performa baik dihasilkan dari pullet berkualitas. Untuk mendapat pullet berkualitas baik, dibutuhkan perawatan sejak fase DOC yang baik pula. Gagal tangani DOC akan berpengaruh pada performa produksi seumur hidup ayam. Lantas, bagaimana mencetak pullet berkualitas dari peternakan sendiri?

Pullet adalah sebutan untuk ayam muda yang sudah melewati masa pertumbuhan, tetapi belum mencapai kematangan organ reproduksi sehingga belum siap bertelur secara sempurna. Standar minimal usia bertelur bisa berbeda untuk setiap ayam, tergantung jenis atau strain yang diternakkan. Umumnya, pullet berusia di bawah satu tahun atau sekitar 15-22 minggu. Namun, ayam berusia 13 minggu juga lazim dijual untuk pullet petelur.

Sering kali peternak lebih memilih membeli pullet yang sudah siap berproduksi dibanding merawat ayam dari DOC untuk menghemat waktu dan tenaga. Tentu saja, biaya pengadaan pullet menjadi relatif lebih mahal. Tak hanya itu, terdapat faktor lain yang harus dihadapi peternak yaitu stres, penurunan berat badan dan waktu adaptasi yang dibutuhkan ayam di tempat baru.

Tujuan peternak menjual atau membeli ayam di bawah umur 15-22 bulan yaitu untuk mempermudah penyeragaman berat badan, melancarkan stimulasi perkembangan, serta agar ayam bisa lebih beradaptasi di kandang baru. Pada umumnya, pullet membutuhkan waktu 2-3 minggu untuk beradaptasi. Pada saat bersamaan, ayam mengalami penurunan berat badan akibat stres berada di lingkungan baru. Hal ini menjadi salah satu alasan utama pullet dipanen lebih awal sehingga bisa mempercepat adaptasi dan mengejar berat badan yang “hilang” agar sesuai target standar.

Penurunan berat badan ayam bisa menjadi masalah lebih serius bagi peternak rakyat, yang menggunakan kandang model terbuka ataupun semi terbuka. Selain harus beradaptasi dengan lingkungan, ayam juga lebih berisiko terpapar iklim serta cuaca di tempat baru sehingga dibutuhkan waktu adaptasi lebih lama. Hal ini bisa dihindari jika sejak kecil ayam sudah terbiasa dengan lingkungan, iklim dan cuaca di lokasi produksi. Waktu adaptasi dan stres yang ditimbulkan akibat adaptasi bisa ditekan.

Persiapan Kandang dan Peralatan
Pembesaran DOC menjadi pullet merupakan proses krusial, yang menentukan produktivitas ayam petelur ke depannya. Minggu pertama pemeliharaan merupakan periode pertumbuhan paling intensif karena organ dalam tubuh ayam berkembang pesat pada periode ini. Kondisi ayam selama minggu pertama sangat memengaruhi performa dan produktivitas ayam seumur hidupnya. Tak heran, untuk menghindari risiko, banyak peternak memilih jalan pintas dengan membeli ayam yang sudah memasuki usia pullet.

Perawatan ekstra memang dibutuhkan DOC agar bisa berkembang dengan sempurna. Jika mengetahui ilmunya, peternak tak perlu khawatir untuk mengadakan pullet sendiri. Bahkan, kandang dan peralatan yang disediakan tidak perlu muluk-muluk. Peternak bisa membuat sendiri kandang penghangat DOC dengan bermodalkan seng, atap asbes, serta beberapa buah lampu untuk penghangat.

Seperti yang dilakukan Ahmad Najib Taufiq Ihsan, atau akrab disapa Aan, seorang peternak ayam petelur skala rakyat di Banjarsari, Rejotangan, Tulungagung. Pria yang juga menjabat Direktur Pelaksana SIT Insantama Blitar ini memberi contoh... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Desember 2022. (MFR/RA)

BOHLAM MERAH UNTUK AYAM LAYER

“Saya mendapat banyak pertanyaan tentang mengecat bohlam merah,” kata Dr Sieche Genger, Technical Services Manager South East Asia Hy-Line International, pada Polutry Week Webinar Informa Markets. “Ada penelitian di masa lalu yang mengatakan bahwa lampu merah mengurangi perilaku agresif pada ayam, tetapi itu sebenarnya dalam spektrum lampu merah, bukan lampu merah itu sendiri dengan mengecat bohlamnya.”

Meredupkan cahaya dengan mengecatnya menjadi merah membantu mengurangi pecking dan memang cahaya yang lebih redup akan mengurangi agresi.

Penelitian di Hyline menemukan cat merah menciptakan peredupan yang signifikan tetapi tidak memberikan peredupan yang seragam. Cat merah juga akan memblokir hampir semua spektrum cahaya biru, hijau dan kuning.

Dampak negatif lainnya adalah bahwa cat merah tidak menciptakan spektrum cahaya merah. Hanya memasang lampu yang dapat diredupkan dapat menghasilkan jenis efek yang sama, tidak perlu mengecat bohlam.

AYAM ABANG, AFKIRAN PETELUR YANG DIGEMARI MASYARAKAT DESA

Ayam abang adalah ayam ras petelur yang sudah memasuki masa “pensiun” bertelur. (Foto: Dok. Infovet)

Ayam abang menjadi salah satu bisnis “sisipan” bagi para peternak ayam petelur. Hanya ayam-ayam yang sudah dianggap “pensiun” bertelur ayam ini masuk dalam kandang ayam abang. Meski harganya terpaut jauh dengan ayam pullet, namun hasil jualnya menambah pundi-pundi peternak.

Pernah mendengar istilah ayam abang? Istilah unggas yang satu ini cukup dikenal masyarakat pedesaan, khususnya di daerah Jawa Tengah. “Abang” dari bahasa Jawa yang artinya merah. Jadi, ayam abang adalah ayam merah. Bukan ayam hias, melainkan ayam konsumsi lazimnya ayam pedaging broiler.

Ayam abang adalah ayam ras petelur yang sudah memasuki masa “pensiun” bertelur. Di kalangan peternak umumnya disebut ayam afkir, ayam yang sudah lewat masa produksinya. “Ayam ini merupakan ayam petelur yang sudah tidak mampu menghasilkan telur secara maksimal,” ujar Agus Wiyono, peternak asal Mojokerto kepada Infovet.

Menurut peternak yang juga dokter hewan ini, ayam abang usianya sekitar 80 minggu ke atas. Karena warna bulunya merah, maka masyarakat di daerahnya menyebut ayam abang. Daging ayam abang ini sedikit alot, karena umurnya sudah cukup tua.

Persoalan ayam petelur afkir ini pernah diatur ketentuannya oleh pemerintah. Pada 2019, Kementerian Pertanian menginstruksikan pengurangan produksi telur konsumsi dengan cara afkir final stock (FS) layer yang berumur Iebih dari 80 minggu pada peternak layer komersial berpopulasi Iebih dari 50.000 ekor. Instruksi itu disampaikan melalui Surat Edaran Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan No. 12141/SE/PK.230/F/11/2019 tertanggal 10 November 2019. Pelaksanaan afkir FS layer berumur lebih dari 80 minggu dilaksanakan bertahap mulai 10 November sampai 31 Desember 2019.

“Untuk hal tersebut diperintahkan kepada saudara pimpinan perusahaan dan peternak layer komersial melaksanakan poin-poin tersebut. Pelaksanaan kegiatan afkir FS layer yang berumur Iebih dari 80 minggu dilakukan pengawasan oleh tim pengawas pusat dan/atau dinas yang melaksanakan fungsi peternakan dan kesehatan hewan provinsi/kabupaten/kota,” ditegaskan dalam surat itu.

Instruksi afkir ayam layer komersil berumur lebih dari 80 minggu dikeluarkan untuk menyeimbangkan ketersediaan (supply) dengan kebutuhan (demand) telur konsumsi, sesuai Peraturan Menteri Pertanian No. 32/2017 tentang Penyediaan, Peredaran dan Pengawasan Ayam Ras dan Telur Konsumsi.

Penjualan ayam afkir petelur cukup ramai di pasar tradisonal. Di Jawa Tengah harga ayam abang per ekor bervariasi, mulai dari Rp 35.000-40.000 di tingkat produsen. Jika sudah dalam bentuk karkas, harganya bisa mencapai Rp 45.000-50.000/ekor. Harga ini lebih tinggi dibanding harga karkas ayam broiler yang berkisar Rp 29.000-33.000/ekor. Berat per ekor ayam abang menjadi perbedaan harga dengan ayam broiler. Ayam abang per ekornya rata-rata di atas 1 kg.

Harga ayam afkir petelur ini di bawah harga ayam tersebut masih jadi pullet yang mencapai Rp 70.000/ekor. Karena ayam afkir, sudah pasti harga lebih murah dibanding ketika masih produktif bertelur. 

Namun demikian, minat masyarakat untuk membeli ayam afkir cukup tinggi. “Ayam afkir sudah menjadi komoditas ayam pedaging atau ayam konsumsi masyarakat sejak lama. Ukurannya yang besar cukup digemari konsumen di daerah,” kata Agus.

Mata Rantai Penjualan
Pola penjualan ayam abang di pasar tradisonal hampir sama di setiap daerah. Umumnya penjual ayam abang ini sekaligus memberikan layanan potong dan pembeli menerimanya dalam keadaan sudah bersih. Ceker dan jeroan jadi satu paket dagingnya.

Dari pemantauan Infovet di salah satu pasar di Kota Pemalang, Jawa Tengah, untuk konsumen yang membeli dalam bentuk karkas satu paket akan dikenai biaya potong Rp 5.000/ekor.

Menurut Agus, berjualan ayam abang menjadi nilai tambah para peternak ayam petelur. Peternak sudah menikmati hasil penjualan telurnya. Di masa tua ayamnya, masih bisa dijual dengan harga cukup lumayan.

Hanya saja, jual beli ayam abang tidak bisa dilakukan secara rutin dalam rentang waktu yang pendek, misal setiap hari atau setiap minggu. Tapi menunggu ayam petelurnya memasuki masa afkir. “Peternak baisanya akan mensortir lebih dulu ayam-ayam petelur yang sudah dianggap afkir, untuk selanjutnya masuk ke penjualan sebagai ayam pedaging,” jelas Agus.

Mata rantai bisnis ayam abang ini tergolong pendek. Dari peternak biasanya langsung didrop ke lapak ayam di pasar-pasar tradisional. Peternak mensuplai ayam afkiran ke para pemilik lapak. Selanjutnya para pemilik lapak menjual ke konsumen dengan dua pilihan, yakni ayam hidup atau ayam potong, tentu ada selisih harga. Ada juga peternak yang langsung menjual ke konsumen.

Nurkhikmah, ibu rumah tangga asal Kota Pemalang, Jawa Tengah, mengaku sering membeli daging ayam abang di warung dekat rumahnya. Terkadang juga membeli di pasar dengan harga lebih murah. Dalam seminggu, setidaknya dua kali mengolah ayam abang untuk santapan keluarganya.

Menurut wanita 33 tahun ini, daging ayam abang lebih enak. Dagingnya tebal dan berasa seperti ayam kampung. “Kalau soal alot itu tergantung cara masaknya. Butuh waktu masak lebih lama agar dagingnya empuk,” ujar Nurkhikmah.

Di Pasar Bantarbolang, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, hampir setiap hari lapak penyedia ayam abang menjual puluhan ekor. Di pasar ini ada dua lapak yang khusus menjual ayam abang. Di dua lapak ini disediakan juga tempat pemotongan ayam. Untuk ayam hidup per ekor dengan berat 1 kg lebih berkisar Rp 40.000-45.000. Namun jika dipotong dan dibersihkan, pembeli hanya diminta tambahan biaya Rp 5.000/ekor.

Khusus pada Rabu dan Minggu, kedua lapaknya paling ramai dikunjungi pembeli. Dua hari tersebut merupakan hari “Pasaran”, pengunjung pasar jauh lebih banyak dibanding hari lainnya. Biasanya lapak ayam abang ramai dikunjungi pembeli saat bulan Ramadan, menjelang Idul Fitri, atau tahun baru. (AK)

MEWASPADAI PENYAKIT VIRAL PADA AYAM PETELUR, AGAR PRODUKSI TETAP SUBUR

Apapun penyakit yang menyerang, produksi telur pasti akan turun. (Foto: Infovet/Ridwan)

Telur merupakan sumber protein hewani yang harganya relatif murah dan mudah ditemukan di pasar. Indonesia juga merupakan salah satu dari 10 negara penghasil telur terbanyak di dunia. Namun pada praktiknya, menghasilkan telur tidak semudah membalikkan telapak tangan, karena banyak penyakit yang menjadi hambatan.

Beternak layer komersil dan breeder bisa dibilang susah-susah gampang. Masa pemeliharaan yang lebih lama daripada ayam broiler, menjadi salah satu alasannya. Selain biaya pakan, yang perlu diperhitungkan adalah ancaman penyakit yang otomatis lebih berisiko dikarekanan lamanya masa pemeliharaan.

Pada dasarnya banyak faktor yang dapat menyebabkan gangguan pada produksi telur, misalnya saja manajemen pemeliharaan, nutrisi, stres, lingkungan dan penyakit. Beberapa penyakit pada layer terutama yang disebabkan oleh virus kerap menyerang dan menimbulkan kerugian ekonomis. Oleh karenanya, butuh perhatian lebih dalam menghadapi tantangan tersebut.

Kenali Betul Musuh Kita
Beberapa penyakit viral kerap kali menjadi “langganan” di kandang peternak layer. Seperti Infectious Bronchitis (IB), Newcastle Disease (ND), Egg Drop Syndrome (EDS) dan yang sedang hits yakni Avian Influenza (AI) H9N2 yang juga menjadi kontroversi di kalangan peternak, peneliti, akademisi dan pemerintah.

Terlepas dari itu tentunya tidak ada peternak yang ingin merugi akibat serangan penyakit viral tersebut, baik serangan secara tunggal maupun komplikasi. Pada dasarnya, semua penyakit infeksius viral maupun bakterial akan menghasilkan dampak buruk berupa penurunan produksi dan kualitas telur pada layer komersial dan breeder. Hal tersebut dikemukakan Factory Manager PT Sanbio Laboratories, Drh Arini Nurhandayani. 

Menurutnya, yang menjadi permasalahan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Desember 2021. (CR)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer