-->

CEGAH PENYEBARAN COVID-19, PERHELATAN IIPC DITUNDA

Penyelenggara IIPC saat jumpa pers, Jumat (21/2) lalu. (Foto: INF)

Perhelatan Indonesia International Poultry Conference (IIPC) yang diagendakan berlangsung di Kota Surakarta pada 2-4 April 2020, harus ditunda karena penyebaran virus corona atau Covid-19.

Keputusan ini disampaikan Bambang Suharno selaku perwakilan penyelenggara IIPC, dalam keterangan resmi yang diterima Infovet, Jumat (20/3).

Mempertimbangkan beberapa hal, kepanitiaan acara harus menunda acara konferensi tingkat internasional ini. Pertimbangan tersebut merujuk pada pernyataan Pandemi Covid-19 dari WHO.

Kepanitiaan pun telah mengkomunikasikan dengan berbagai pihak demi keamanan dan keselamatan bersama terkait wabah virus corona yang melanda Indonesia dan berbagai negara lainnya.

Selain itu, beberapa pertemuan internasional di Indonesia juga ditunda sebagai respon atas perkembangan Covid-19 serta melihat banyaknya kebijakan travel warning, baik perusahaan maupun pemerintah.

“Berat hati, kami sampaikan bahwa IIPC yang sedianya akan dilaksanakan 2-4 April 2020 di Solo ditunda hingga pemberitahuan selanjutnya,” kata Bambang dalam keterangannya.

PT Gallus Indonesia Utama (GITA-Group/Infovet) bersama PT Temali berharap, mudah mudahan situasi segera normal kembali dan IIPC maupun kegiatan lain dapat diselenggarakan dengan lancar. (NDV)

JELANG HBKN, STOK DAGING AYAM DAN TELUR AMAN


Dirjen PKH dan perwakilan integrator usai Rapat Koordinasi (Foto: Dok. Kementan)

Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) melakukan koordinasi dengan para pemangku kepentingan perunggasan yakni asosiasi perunggasan (GPPU, GOPAN, PPRN dan PINSAR), Satgas Pangan, Kementerian Perdagangan dan Kemenko Perekonomian untuk mengantisipasi dampak COVID-19 terhadap ketersediaan daging ayam dan telur konsumsi untuk Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) pada bulan Mei 2020

"Kita ingin pastikan stok daging ayam dan telur konsumsi aman serta mencukupi menjelang dan saat HBKN yakni Ramadhan dan Idul Fitri 2020," ungkap I Ketut Diarmita, Dirjen PKH, Kementan dalam Rapat Koordinasi Mengantisipasi Wabah COVID-19 dan Menjamin Ketersediaan Daging Ayam dan Telur Konsumsi di Jakarta, Kamis (19/03).

Ketut menyampaikan bahwa Pemerintah bersama pemangku kepentingan di atas harus duduk bersama untuk mengevaluasi kesiapan terkait dampak COVID-19 terhadap keseimbangan supply-demand komoditas daging ayam dan telur terkait kesiapan menjelang HBKN ini.

Ia berharap semua pihak terkait dapat menyampaikan informasi posisi lokasi stok berada, jumlah tersedia, dan kontak yang dapat dihubungi ketika terjadi kekurangan stok di salah satu daerah. Ketut juga menekankan pentingnya mekanisme pendistribusian dan penyimpanan di daerah tersebut.

“Pemerintah bersama pemangku kepentingan harus menjaga dan mengawal ketat ketersediaan daging, daging ayam dan telur konsumsi sebagai kebutuhan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia,” jelasnya di hadapan peserta rapat lain yang hadir seperti perwakilan Integrator, Pinsar Indonesia, ARPHUIN, Tim Analisa Penyediaan dan Kebutuhan Ayam Ras dan Telur Konsumsi, Biro Hukum Kementerian Pertanian, dan Badan Ketahanan Pangan.

Berdasarkan data, Ketut menyampaikan bahwa khusus untuk bulan puasa dan lebaran yang jatuh pada bulan April dan Mei 2020 stok daging ayam dan telur konsumsi dalam kondisi aman.

Diperkirakan produksi daging ayam secara kumulatif periode Maret - Mei 2020 mencapai 990.608 ton, sedangkan kebutuhan diperkirakan sebanyak 879.755 ton. Sehingga ada neraca surplus sebanyak 110.853 ton. Saat ini, tersedia juga stok akhir Februari sebanyak 98.640 ton, sehingga total stok surplus sampai akhir Mei 2020 diperkirakan mencapai 209.493 ton.

Sementara itu, perhitungan ketersediaan telur ayam ras periode yang sama diperkirakan sebanyak 1.260.071 ton, ditambah dengan stok akhir Februari sebanyak 27.582 ton. Adapun kebutuhan masyarakat sebanyak 1.284.097 ton, sehingga ada surplus kumulatif sebesar 3.556 ton.

Lebih lanjut Ketut mengajak pelaku usaha untuk mencari alternatif dalam mengatur tata niaga distribusi ayam dan telur guna memastikan kesiapan rantai pasok jika akses daerah ada yang ditutup karena wabah COVID-19.

“Saya harap pelaku perunggasan serta Tim Satgas Pangan dapat berkontribusi besar dalam mengamankan pasokan pangan pada situasi seperti ini," pintanya.

Pada kesempatan yang sama, perwakilan dari pelaku usaha perunggasan menjelaskan bahwa pada prinsipnya mereka mendukung dan ikut serta menjaga ketersediaan serta kelancaran distribusi daging ayam dan telur untuk memenuhi kebutuhan selama bulan puasa dan lebaran.

Salah satu pelaku usaha, Alvino menyampaikan bahwa tidak perlu khawatir dalam menghadapi dampak COVID-19 ini. Ia mengusulkan agar pemerintah mengkampayekan konsumsi daging ayam dan telur guna meningkatkan imunitas yang dapat membantu menangkal virus penyebab COVID-19.

Sementara itu, Riwantoro, Sekretaris Badan Ketahanan Pangan (BKP), Kementan menyampaikan bahwa BKP telah menyiapkan beberapa titik yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha untuk ikut terlibat dalam operasi pasar dalam memperlancar distribusi dan mendukung stabilisasi harga.

"Operasi pasar dilakukan untuk menjaga ketersediaan stok pangan di masyarakat sekaligus menstabilkan harga pokok," ungkap Riwantoro. (Rilis Kementan)


SOLUSI LENGKAP UNTUK MENAHAN MASALAH PENCERNAAN

Perdarahan pada caecum.

Situasi penyakit di sektor peternakan ayam Indonesia saat ini tidak terlepas dari musim atau cuaca yang terjadi, seperti saat ini memasuki musim penghujan dengan curah hujan yang tinggi. Kasus-kasus penyakit pencernaan sering dilaporkan oleh tim lapangan yang secara langsung terlibat dalam penanganan kasus tersebut.

Kecuali faktor cuaca, penerapan praktik manajemen pemeliharaan juga harus terus ditingkatkan, terutama pada peternakan ayam komersial skala menengah ke bawah. Hal ini terbukti dengan masih banyaknya ditemukan berbagai problem atau kasus penyakit yang terjadi pada skala tersebut.

Dari berbagai kasus penyakit yang ada di lapangan, sampai saat ini masih banyak peternak yang mengeluhkan terjadinya gangguan pencernaan pada ayamnya, sehingga menggangu produktivitas ayam yang dipelihara. Berbagai bentuk gangguan dari adanya problem atau gangguan pencernaan pada ayam dapat berupa meningkatnya konversi pakan, pertumbuhan terlambat dan tidak meratanya pertumbuhan ayam (keseragaman berat badan rendah), hingga terjadinya gangguan produksi seperti tertundanya waktu mulai produksi, pencapaian puncak produksi tidak maksimal, ketahanan lamanya puncak produksi relatif singkat, serta pola produksi yang cenderung berfluktuasi.

Saluran pencernaan sangat berpengaruh terhadap performa pertumbuhan dan produktivitas ayam. Kondisi kesehatan saluran pencernaan akan mempengaruhi proses pencernaan pakan, penyerapan nutrisi dan kekebalan terhadap kasus penyakit. Sistem pencernaan berawal dari paruh, mulut, kerongkongan, tembolok, proventrikulus, ventrikulus, usus (duodenum, jejunum, ileum), sekum, usus besar, colon dan berakhir di kloaka. Organ lain yang penting untuk pencernaan adalah hati dan pankreas. Banyak faktor yang mempengaruhi kesehatan usus dan performanya pada unggas. Kualitas pakan dan air memainkan peran penting dalam menjaga kesehatan saluran pencernaan.

Beberapa hal yang harus diperhatikan oleh pelaku usaha peternakan dalam menjaga kesehatan saluran pencernaan antara lain:

• Menjaga kualitas air minum
Tempat air minum harus selalu bersih dan bebas dari cemaran. Air minum yang berkualitas meliputi fisik (jernih, tidak berwarna dan tidak berbau), kimiawi (pH netral dan bebas dari unsur kimia yang berbahaya) dan biologi (bebas dari cemaran Eschericia coli, Salmonella sp. dan mikroba patogen). Memperbaiki kualitas air salah satunya dengan cara melakukan filtrasi dan klorinasi pada sumber airnya. Filtrasi dapat dilakukan dengan membuat sistem saringan bertingkat atau memasang alat filtrasi khusus. Klorinasi sebagai salah satu cara untuk dekontaminasi kuman dan beberapa logam berat yang mencemari sumber air, akan berhasil efektif bila dilakukan dengan membuat... (Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Maret 2020)

Drh Yuni
Technical Department Manager
PT ROMINDO PRIMAVETCOM

KINERJA EKSPOR JAPFA HINGGA MARET 2020 CAPAI RP 56 MILIAR





PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) mencatakan kinerja ekspor pada bulan Maret sebesar Rp 56 Miliar. Sepanjang Maret 2020, JAPFA mengekspor berbagai produk pertanian dan perikanan ke Amerika, Jepang, Taiwan, Republik Demokratik Timor Leste (RDTL), Singapura, Filipina, Myanmar, Vietnam, dan Malaysia.


Rangkaian produk yang diekspor meliputi produk ayam olahan, karkas, pakan ternak, anak ayam umur sehari atau day old chicken (DOC), vaksin ternak, serta produk perikanan.

Melalui pencapaian ekspor ini, JAPFA juga berkomitmen dalam mendukung Gerakan Tiga Kali Ekspor (Gratieks) untuk mendorong perekonomian nasional.

Gratieks merupakan program yang dicanangkan oleh pemerintah Indonesia untuk meningkatkan ekspor pertanian yang diharapkan dapat mempercepat laju ekspor komoditas pertanian untuk mewujudkan ekosistem pertanian yang modern.

Rachmat Indrajaya selaku Direktur Corporate Affairs JAPFA mengatakan, perseroan tetap terus berusaha mewujudkan komitmen perusahaan dalam menyediakan asupan protein hewani dan produk pendukungnya yang berkualitas dan terjangkau, tidak hanya untuk pasar dalam negeri, juga internasional.

"Selain itu, melalui kegiatan ekspor yang terus kami lakukan, JAPFA mendukung pemerintah dalam meningkatkan perekonomian nasional, khususnya mendukung tercapainya tujuan Gratieks," ujar Rachmat dalam keterangannya, Selasa (17/3).

Pada tahun 2020 ini, JAPFA menargetkan pencapaian ekspor ke berbagai negara di dunia senilai lebih dari Rp 675 Miliar dari anak usahanya yang meliputi divisi perunggasan dan perikanan.

Produk-produk JAPFA yang dipasarkan ke mancanegara telah memenuhi persyaratan standar kelayakan ekspor internasional seperti memiliki sertifikat kompartemen bebas Avian Influenza (AI), sertifikat Nomor Kontrol Veteriner (NKV), sertifikat produk halal, Food Safety System Certification (FSSC) 22000, dan juga ISO 9001:2015.

"Kami optimis bahwa rangkaian produk JAPFA dapat bersaing di pasar internasional karena kami selalu mengedepankan kualitas mutu produk, dengan tetap mempertimbangkan harga yang dapat dijangkau oleh semua kalangan. Bukan  hanya itu, kami terus berupaya mengembangkan kualitas dan layanan untuk membuka peluang yang lebih luas di pasar global," imbuh Rachmat. (Sumber: suara.com)

KEPEDULIAN GPMT TERHADAP GIZI MASYARAKAT

GPMT rutin menggelar kampanye gizi sebagai edukasi kepada masyarakat tentag pentingnya protein hewani

Disela - sela acara kongresnya yang ke - XIV, Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) tetap menyempatkan diri melakukan kampanye gizi kepada masyarakat terutama anak - anak. Bertempat di The Singhasari Resort, GPMT dan MPG (Masyarakat Peduli Gizi) menyerukan tentang pentingnya konsumsi protein hewani seperti daging dan telur ayam, juga ikan.

Antusiasme peserta terlihat dari jumlah undangan yang hadir. Kurang lebih ratusan siswa - siswi dari SDN Beji 01,02, dan 03 Beji didampingi oleh guru dan kepala sekolah hadir dalam acara tersebut. Mereka terlihat ceria dan bersemangat menghadiri acara tersebut.

Dalam sambutannya, Ketua Panitia Edi Suryanto mengatakan bahwa kampanye gizi ini memang rutin digelar oleh GPMT sebagai bentuk kepedulian GPMT kepada masyarakat akan sumber nutrisi yang bergizi, utamanya protein hewani.

"Kita tahu bahwa sumber protein terbaik itu kan protein hewani, mengandung asam amino essensial yang tentunya dapat membantu mencerdaskan anak. Nah, oleh karenanya anak - anak juga harus diedukasi agar mau dan gemar mengonsumsi protein hewani baik telur dan daging unggas, serta ikan," tukas Edi.

Apresiasi juga datang dari Kepala Seksi Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Kota Batu, Alik Suhariyani. Menurut Alik acara kampanye gizi semacam ini memang seharusnya rutin diadakan terutama untuk pelajar di usia SD.

"Acara ini sangat bagus, saya sangat senang dan berterima kasih kepada GPMT. Kami memang sedang concern menyoroti masalah gizi anak - anak, apa yang mereka makan di waktu sarapan tentunya akan mempengaruhi mereka di sekolah. Setelah acara ini saya lebih mengerti akan pentingnya protein hewani untuk perkembangan anak, apalagi sekarang sedang ramai isu corona," tutur Alik kepada Infovet.

Sebagai kepedulian terhadap protein hewani, secara simbolik panitia bersama para peserta melakukan makan telur bersama. Selain itu diberikan juga edukasi mengenai pentingnya protein hewani bagi tumbuh - kembang anak, lalu juga diadakan  games - games yang turut menyemarakkan acara. Bukan hanya itu, GPMT juga membagikan paket berupa daging dan telur ayam kepada para peserta yang hadir. (CR)


MENGOPTIMALKAN KERJA SALURAN PENCERNAAN

Kepadatan kandang harus diperhatikan agar meminimalisir stres. (Sumber: Istimewa)

Agar nutrisi yang ada pada ransum dapat diserap sempurna, dibutuhkan sistem pencernaan yang sehat agar performa tetap optimal. Saluran pencernaan yang berfungsi secara optimal akan mampu memaksimalkan nilai pemanfaatan ransum melalui proses pencernaan dan penyerapan nutrisi.

Tantangan yang dihadapi peternak di masa kini amatlah banyak. Masalah pada saluran pencernaan merupakan persoalan klasik, baik yang bersifat infeksius maupun non-infeksius. Lebih kece lagi ketika keduanya berkomplikasi dan menimbulkan masalah yang epic di lapangan.

Sunardi, peternak broiler kemitraan asal Tegal mengerti betul hal itu. Ketika kebijakan pakan non-AGP (antibiotic growth promoter) dimulai, dirinya merasa performa ayam di kandangnya menurun cukup drastis. Hal ini semakin rumit, karena diperparah dengan cuaca ekstrem.

“Awalnya ayam cuma diare, terus saya kasih obat anti-diare, nah setelah jalan dua hari bukannya sembuh enggak tahunya malah diare berdarah gitu. Gimana enggak panik? saya langsung telepon TS (technical service) obat, besoknya dateng konsultasi dan fix ayam saya kena Koksi,” tutur Sunardi.

Saat itu kata dia, untungnya ayam sudah berusia 25-an hari, walaupun bobot badannya di bawah standar, Sunardi langsung buru-buru melakukan panen dini ketimbang merugi lebih lanjut. Ia pun langsung berbenah, semua aspek yang berkaitan dengan kasus yang ia alami kemudian dibenahi dan cari tahu penyebabnya.

“Pakan dan air minum sih enggak bermasalah, semua aspek saya sudah penuhi. Tetapi memang mungkin saya teledor dari cara pemeliharaan, memang beda ketika AGP sudah enggak boleh lagi digunakan, cara pelihara juga harus berubah,” ucap dia.

Merubah Mindset 
Dilarangnya AGP kerap kali dijadikan kambing hitam oleh peternak di lapangan terkait masalah yang mereka alami. Tidak semua orang seperti Sunardi, memiliki pemikiran positif dan mau merubah tata cara budidayanya. Di luar sana masih banyak peternak yang sangat yakin bahwa AGP adalah “dewa” yang harus hadir disetiap pakan unggasnya.

Drh Akhmad Harris Priyadi dari PT DSM Nutritional Products, mengakui bahwa saat ini mindset dari peternak harus diubah terkait pakan. “Semua produsen pakan pasti berlomba-lomba dengan keadaan yang ada saat ini tentang bagaimana menggantikan AGP dengan formulasi yang terbaik. Masalahnya, mindset peternak ini sulit diubah, mereka pasti akan selalu menganggap pakan merk A, B dan sebagainya sudah tidak sebagus dulu. Ini wajar sih, soalnya tiap formula berbeda, tinggal peternaknya saja gimana,” tutur Harris.

Lebih lanjut ia tuturkan, jika mindset peternak tidak kunjung berubah di era yang memang sudah berubah ini, tentunya akan berakibat... (CR) (Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Maret 2020)

PEMBIBIT AYAM LOKAL BERKUMPUL DI SENTUL

Silaturahmi para pembibit ayam lokal di NatChick, Sentul. (Foto: Dok. SUI)

Sejumlah pembibit ayam lokal berkumpul di restoran NatChick, Sentul, Bogor, Selasa (17/3/2020). Pertemuan dalam rangka menjalin silaturahmi diantara para pembibit ayam lokal.

Dalam pertemuan tersebut para pembibit ayam lokal membahas mengenai masalah-masalah terkini terkait ayam lokal dan kelanjutan organisasi Gabungan Pembibit Ayam Lokal Indonesia (GAPALI). Organisasi yang dibentuk sejak 2015 ini dinilai tidak memiliki kegiatan rutin. 

Direktur Utama PT Sumber Unggas Indonesia, Naryanto, mengatakan bahwa organisasi GAPALI perlu diaktifkan kembali agar masalah-masalah di peternakan ayam lokal bisa dibawa kepada pemerintah. 

Pasalnya, diakui oleh salah satu perwakilan dari PT Putra Perkasa Genetika, Agustin, bahwa masih banyak masalah birokrasi di peternakan ayam lokal antar daerah.

“Peraturan setiap daerah bisa bermacam-macam untuk mengirim DOC. Ada provinsi yang meminta Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) baru kemudian rekomendasi pemasukan DOC diterbitkan. Padahal idealnya surat rekomendasi pemasukan DOC dari dinas peternakan tujuan dulu yang dikeluarkan, kemudian SKKH dari dinas peternakan asal dikeluarkan. Ini membingungkan,” katanya.

Sejumlah pembibit ayam lokal yang hadir diantaranya Naryanto dan Febroni Purba (PT Sumber Unggas Indonesia), Yohan Kurniawan (Jimmy Farm), Budi Miharso (Trias Farm), Sahudin (PT Unggas Lestari Unggul) dan Agustin (PT Putra Perkasa Genetika). (SUI/INF)

GRATIS E-book Tentang African Swine Fever dan Biosekuriti

Majalah Infovet pada bulan Maret ini menerbitan ulasan khusus mengenai African Swine Fever (ASF) dan Biosekuriti. Ulasan ini diterbitkan atas saran dari berbagai kalangan peternakan dan kesehatan hewan baik pelaku usaha maupun pemerintah dan stakeholder lainnya. Ulasan tentang ASF dibuat dalam sebuah edisi sisipan/suplemen yang diterbitkan bersamaan dengan majalah Infovet edisi Maret 2020.

Adapun sajian edisi sisipan ini meliputi antara lain :
  1. Mengenal Penyakit African Swine fever oleh Dr. Drh. Abdul Rahman , seorang medik veteriner ahli madya di Direktorat Kesehatan Hewan.
  2. Wabah ASF di Indonesia (redaksi)
  3. Pengendalian ASF dengan Biosekuriti, oleh Drh Ida Lestari dan Drh Yunita Widayati (Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan)
  4. Pencegahan dan Pengendalian ASF (redaksi)
  5. Wabah ASF; Biosecurity Awaraness dan Pendampingan Stakeholder  (redaksi)
  6. Antisipasi Penyebaran ASF (redaksi)
Agar informasi penting ini dapat diketahui oleh masyarakat luas khususnya di bidang peternakan dan kesehatan hewan, maka redaksi sepakat untuk menerbitkan juga dalam bentuk edisi elektronik (e-book).

Bagi Anda yang sudah pernah mengisi form "Gratis UU Peternakan dan Kesehatan Hewan" di halaman utama web majalahinfovet,com, otomatis akan mendapat kiriman ebook tersebut. 

Untuk Anda yang belum pernah mengisi form, silakan isi form di bawah ini, dan sering cek email agar dapat mendownload ebook tersebut.


Nama Lengkap
Perusahaan/Lembaga
Kota/Kabupaten
Nomor Ponsel
Alamat E-Mail








CEGAH PENYEBARAN CORONA, PNS KEMENTAN DIINSTRUKSIKAN KERJA DARI RUMAH


Sumber: merdekabicara.com

Menghindari pandemi virus Corona, Kementerian Pertanian (Kementan) mulai Rabu (17/3/2020) menginstruksikan jajarannya untuk bekerja dari rumah. Instruksi tersebut tertuang dalam Surat Edaran Nomor 1044 tentang Pelaksanaan Tugas Kedinasan di Lingkungan Kementan dalam Rangka Pencegahan dan Perlindungan dari Wabah Penyakit virus corona (COVID-19).






KATA SIAPA AYAM KAMPUNG KEBAL FLU BURUNG?

Ayam kampung masih sangat diminati masyarakat. (Sumber: Istimewa)

Ayam kampung, atau biasa disebut ayam Buras (bukan ras) dan kini populer dengan ayam lokal, memang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Ayam kampung juga identik dengan sistem pemeliharaan non-intensif. Dikala wabah AI (Avian influenza) atau Flu burung melanda, bagaimana seharusnya memelihara ayam kampung? Benarkah mereka kebal terhadap serangan AI?

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tinggi, termasuk di sektor ayam asli (native chicken). Nataamijaya (2000) mencatat, terdapat 32 galur ayam lokal asli yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi ayam pedaging, petelur, petarung dan ayam hias.

Bukan hanya itu, bahkan kini ayam lokal telah menjadi perhatian pemerintah melalui Kementerian Pertanian. Melalui program Bekerja (Bedah Kemiskinan Rakyat Sejahtera), pemerintah membagi-bagikan ayam lokal kepada masyarakat untuk meningkatkan taraf hidupnya.

Dibalik segala pesonanya, ada satu hal yang menjadi sorotan, yakni mengenai kekebalan alami terhadap virus AI yang dimiliki oleh ayam lokal Indonesia, penulis mencoba menggali informasi tersebut untuk membuka cakrawala bagi masyarakat perunggasan.

Tahan AI, Mitos atau Fakta?
Sudah menjadi hal yang umum bahwa masyarakat Indonesia khusunya di pedesaan banyak memelihara ayam kampung. Pemeliharaan biasanya dilakukan dengan sistem non-intensif (diumbar tanpa diberi makan), maupun semi intensif (dikandangkan seadanya, diumbar dan diberi makan). Selain minim perawatan, alasan yang biasanya terlontar dari masyarakat adalah ayam tersebut tahan penyakit.

Berdasarkan pengalaman dari beberapa orang tetangga, serta rekan-rekan peternak ayam kampung, memang perawatan terutama program medis yang diberikan kepada ayam kampung bisa dibilang minim. Beda halnya dengan program kesehatan ayam broiler dan layer berupa vaksin, suplementasi dan lain sebagainya, ayam kampung justru kebalikannya. Mereka cukup diumbar, diberi makan yang cukup dan dipanen telur, maupun dagingnya.

Meskipun produktivitasnya rendah, ayam lokal Indonesia memiliki keunggulan tersendiri. Maeda et al. (2006), menyatakan bahwa 63% ayam lokal Indonesia tahan terhadap virus Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI) karena memiliki frekuensi gen antivirus Mx+ yang lebih tinggi. Secara genetik, ketahanan terhadap virus, termasuk virus ND (Newcastle disease) salah satunya dikontrol oleh gen Mx.

Berdasarkan data dari Gen Bank dengan nomor akses DQ788615, berada di kromosom 1 dan bekerja mentranskripsi protein Mx yang berfungsi sebagai promotor ketahanan terhadap infeksi virus. Gen Mx dilaporkan dapat digunakan sebagai penciri genetik untuk sifat ketahanan tubuh ayam terhadap infeksi virus, seperti virus AI dan ND.

Hasil penelitian Maeda tersebut menjadi rujukan bahwa sebagian besar (63%) ayam lokal Indonesia tahan terhadap AI, lalu bagaimanakah dengan 37% lainnya? Itulah yang harus dilindungi, selain berbicara mengenai pengembangan bisnis, bicara ayam lokal juga meliputi aspek populasi yang berujung pada pelestarian plasma nutfah. Tentunya, Indonesia tidak ingin plasma nutfahnya musnah karena wabah penyakit yang seharusnya bisa dicegah.

Vaksinasi atau Tidak?
Ada perbedaan pendapat diantara kalangan pelaku bisnis dan dokter hewan praktisi perunggasan mengenai hal tersebut. Beberapa peternak pembibit ayam lokal melakukan program kesehatan, terutama vaksinasi dalam pengendalian AI, namun ada juga yang tidak melakukannya.

Jika melihat ke belakang pada 2009 lalu, saat itu dilakukan penelitian oleh CIVAS (Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies) mengenai efektivitas vaksin AI terhadap ayam kampung di Kabupaten Sukabumi. Penelitian dilakukan dengan memberikan sebanyak 58.900 dosis vaksin A1 H5N1 produk lokal, dengan setiap ayam mendapat satu dosis. Penelitian dilakukan di peternakan ayam kampung di Kecamatan Cicurug dengan sampel tak mendapat perlakuan 0,05% dari jumlah populasi (sebagai pembanding). 

Penelitian terhadap ayam kampung pedaging dilakukan pada ayam umur 10 dan 30 hari. Diperoleh hasil geometri mean titer (gmt/tolak ukur kekebalan). Pada ayam umur 10 hari nilainya mencapai 21,4 gmt dan pada ayam umur 30 hari nilainya 22,8 gmt. Dari perhitungan statistik, perbandingan nilai gmt setelah vaksinasi dan sebelum tak menunjukkan perbedaan signifikan. Kesimpulannya, vaksinasi pada ayam kampung tetap berpengaruh terhadap titer antibodi, tetapi berjalan lambat. Penelitian yang dilakukan oleh Janovie et. al. (2014) juga mengungkapkan hasil yang serupa, bahwa vaksin AI tidak efektif dilakukan pada ayam kampung.

Pemberitaan di media massa pun tidak jauh berbeda, seperti baru-baru ini yang diberitakan bahwa ada 11 ekor ayam kampung milik peternak terinfeksi AI, dua diantaranya mati. Di beberapa daerah pun juga begitu, hanya beberapa yang mati dari ratusan atau bahkan ribuan ekor ayam kampung yang terserang AI. Hal tersebut juga merupakan indikasi bahwa ayam kampung relatif tahan terhadap serangan AI. Permasalahannya adalah jika sudah bicara AI, aspek yang diperhatikan bukan hanya kesehatan hewan saja, melainkan aspek sosial, politik dan ekonomi juga pasti ikut terpengaruh.

Bayangkan jika beternak ayam yang lokasinya berdekatan dengan peternakan lain yang pernah terjadi wabah, tentunya risiko penularan semakin besar. Belum lagi harga komoditi unggas yang hampir pasti selalu turun ketika isu AI berhembus. Itulah dampak besar yang ditimbulkan AI. Jangan lupakan pula kebijakan yang diambil akibat AI, tidak akan pernah ada test and slaughter semuanya sudah pasti stamping out

Adapun beberapa peternak yang mendukung program vaksinasi pada ayam kampung dengan pemeliharaan intensif menyarankan beberapa hal sebagai berikut:

Rekomendasi Program Vaksinasi Ayam Kampung
Umur Ayam (Hari)
Vaksin yang Diberikan
4 atau 7
ND (Lasota)-IB (tetes mata) atau ND (Lasota)-AI killed (Optional)
14
Vaksin Gumboro*
24
Vaksin ND Clone*
30
Vaksin Gumboro (booster)
60
Vaksin ND-Lasota (booster)
Sumber: Sumber Rejeki Farm (2015).
Ket: *) Jarak setelah vaksin Gumboro sebenarnya mengikuti kondisi ayam. Apabila ayam
belum fit jangan dipaksakan vaksin kembali. Umur 24 dipilih jenis vaksin ND Clone (bukan ND LASOTA) karena sifat ND Clone lebih soft. Harapannya vaksin Gumboro sebelumnya berhasil dan ayam tidak terlalu stres.

Ketua Umum Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia (Himpuli), Ade Zulkarnain, menyatakan sikap terkait hal tersebut. Menurutnya, kejadian di tahun-tahun lalu hendaknya dijadikan pelajaran.

“Kebetulan saya mengalami itu sewaktu AI menyerang ayam kampung, saat itu kita habis-habisan. Oleh karena itu, menurut saya penting sekali untuk melakukan vaksinasi,” kata Ade.

Ia menjelaskan, sebaiknya walaupun ada bukti penelitian bahwa ayam kampung kebal flu burung, vaksinasi tetap wajib dilakukan dalam rangka antisipasi.

Hal senada juga diutarakan seorang praktisi yang lama berkecimpung di dunia ayam kampung, Drh Miftahuddin. Menurut dia, lebih baik melakukan vaksinasi dalam rangka pencegahan.

“Kita enggak tahu juga kalau di daerah kita misalnya ada kasus AI sebelumnya, terus seberapa jauh lokasi peternakan lain dari peternakan kita, kualitas udara di situ bagaimana. Kita bisa mengukur kemampuan beternak kita (sudh efisien dan intensif atau belum). Nah, maka saya sarankan tetap dilakukan itu vaksinasi sembari mengikuti biosekuritinya diterapkan,” tutur Miftahuddin.

Perlu Dipahami
Miftahuddin juga melanjutkan bahwa sejatinya vaksinasi merupakan pilihan, mau dilaksanakan atau tidak tergantung penerapan peternaknya. Namun, ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan dan dipahami, diantaranya:

• Mempertahankan atau bahkan meningkatkan daya tahan tubuh ayam yang diperlihara dengan memberikan asupan nutrisi yang cukup dan seimbang sesuai dengan kebutuhan.

• Mereduksi faktor-faktor stres lapangan dengan memperhatikan kondisi dalam kandang sesuai dengan kebutuhan ayam, serta melaksanakan tata pemeliharaan ayam yang “lege-artis”, misalnya dengan memberikan ventilasi yang cukup, atau memperhatikan pola pemberian pakan yang baik dan benar, sehingga keseragaman ayam akan lebih baik.

• Mengimplementasikan cukup istirahat kandang (down time), menerapkan sistem pemeliharaan ayam yang “all in-all out” dan pelaksanaan sanitasi dalam kandang, serta lingkungan kandang secara terjadwal.

• Lakukan seleksi dan culling ayam-ayam yang lemah dan/atau terlihat sakit secara ketat untuk mencegah penyakit.

• Melakukan evaluasi hasil setiap program vaksinasi dengan uji serologis secara teratur, sehingga dinamika titer masing-masing flok ayam yang ada dapat dimonitor secara ketat dari waktu ke waktu (membuat baseline titer). ***

Drh Cholillurahman
Redaksi Majalah Infovet

KARENA HOAX CORONA DI MEDSOS, PETERNAK INDIA RUGI MILYARAN RUPIAH

Foto: Chla.org

Hoax tentang bahaya mengonsumsi ayam karena bisa terkena virus Corona menyebar di media sosial India. Akibatnya seorang peternak di kota Dahanu mengalami kerugian sebesar USD 780.000.

Peternak itu memusnahkan 175.000 DOC dan 900.000 butir telur tetas, dengan cara menguburnya dalam tanah. Hal itu juga mengakibatkan tenaga kerja mengalami kerugian karena berkurangnya pekerjaan.

Namun ternyata otoritas India menegaskan bahwa mengonsumsi unggas tidak akan mengakibatkan tertular Covid-19.

Peternak itu akhirnya meminta kompensasi pada pemerintah agar mendukung peternak melalui krisis pandemi Corona. (Sumber: Thepoultrysite.com)

PENCAHAYAAN DI KANDANG AYAM

Ayam jenis ternak yang peka cahaya. (Sumber: thepoultrysite.com)

Pencahayaan di kandang ayam harus diprogram dengan baik. Salah satu faktor penting dalam manajemen pemeliharaan ayam ini, yaitu pencahayaan berpengaruh pada proses kematangan organ reproduksi dan pertumbuhan ayam.

Cahaya dalam dunia fisika didefisinikan sebagai spektrum elektromagnetik yang terlihat oleh mata. Definisi lainnya, cahaya merupakan energi yang dapat membantu proses penglihatan kemudian bergerak lurus ke semua arah, tidak dapat membelok serta dapat dipantulkan.

Dalam kandang tipe open house (terbuka), sumber cahaya umumnya berasal dari sinar matahari secara langsung pada siang hari dan lampu pijar pada malam harinya. Dalam kandang closed house (tertutup), sumber cahaya umumnya berasal dari lampu pijar.

Ayam merupakan jenis ternak yang peka terhadap cahaya. Menurut Vice President Sales Poultry Asia, Big Dutchman Agriculture Malaysia, Richard Armstrong, pencahayaan pada unggas antara lain berpengaruh terhadap konsumsi pakan, pertumbuhan, efisiensi konversi pakan menjadi energi dan perkembangannya.

Program Pencahayaan
Empat hal penting yang harus diketahui dalam program pencahayaan antara lain lumen (luminous flux), color, spektrum dan gelombang.

Lebih lanjut dijelaskan Richard, dalam presentasi berjudul “Lighting Management” milik Andrea Pizzabiocca, DVM (Cobb Vantress), poin pencahayaan dijabarkan sebagai berikut:

• Intensitas cahaya diukur dalam lux
Output cahaya lampu diukur dalam lumen
• Satu lumen per m² sama dengan satu lux.
• Cahaya juga memiliki suhu warna (°Kelvin):
a. 2000-3000 °K: hangat (merah)
b. 3000-4000 °K: netral (putih)
c. 4000-7000 °K: sejuk (biru/hijau)
d. Hari yang cerah adalah sekitar 5500 °K

Program pencahayaan pada tahap pertumbuhan awal, yaitu anak ayam yang berumur antara satu sampai tujuh hari digunakan intensitas cahaya minimum 20 lux yang diberikan secara terus-menerus.

Pemberian cahaya seperti ini bertujuan untuk memastikan anak ayam dapat beradaptasi dengan baik terhadap lingkungannya, serta meningkatkan aktivitas sehingga mengurangi terjadinya kelainan cacat pada kaki. Hal ini dapat diindikasikan oleh konsumsi pakan dan air minum yang optimal.

Pada tahap pertumbuhan ayam selanjutnya, dilakukan pembatasan intensitas cahaya dan lama pencahayaan antara dua sampai enam jam per hari.

Lama Pencahayaan
“Lama pencahayaan yang pendek pada awal-awal tahap pemeliharaan dapat mengurangi asupan pakan dan menekan tingkat pertumbuhan,” ujar Richard.

Lebih lanjut dijelaskan, pencahayaan secara terus-menerus menyebabkan terjadinya gangguan ritme harian (diurnal). Ayam broiler yang diberi cahaya terus menerus memiliki peluang yang lebih tinggi terkena kelainan kaki dan tulang. Efek selanjutnya menyebabkan unggas mengalami kesulitan untuk mendapatkan pakan dan air minum.

Unggas yang tetap berada pada posisi ritme harian mampu secara normal mengatur pola tingkah laku seperti makan, tidur, bergerak dan istirahat.

Sementara ditambahkan Sales Manager PT Big Dutchmann Agriculture Indonesia, Aneng Lim, pemberian lama pencahayaan selama 16 jam dapat menurunkan stres fisiologis. Selain itu terjadi peningkatan respon kekebalan, peningkatan metabolisme tulang, peningkatan aktivitas total dan peningkatan kesehatan kaki.

Tidak ada perbedaan secara signifikan, terutama pada nilai FCR. Oleh karena itu, apabila dilihat dari kelebihan penggunaan cahaya secara bergantian yang menurunkan stres fisiologis, maka disarankan untuk menggunakan metode cahaya secara bergantian. Hal tersebut juga dapat menghemat biaya listrik yang lumayan besar.

Penggunaan Cahaya untuk Ayam Broiler 
Berdasarkan karya tulis J. A. Renden, program penggunaan cahaya secara bergantian untuk ayam broiler menggunakan aturan sebagai berikut:

• Umur 0-7 hari: Intensitas cahaya 20.0 lux dengan 23 jam terang dan 1 jam gelap
• Umur 8-14 hari: Intensitas cahaya 5.0 lux dengan 16 jam terang dan 8 jam gelap
• Umur 15-21 hari: Intensitas cahaya 5.0 lux dengan 16 jam terang, 3 jam gelap, 2 jam terang dan 3 jam gelap
• Umur 22-28 hari: Intensitas cahaya 5.0 lux dengan 16 jam terang, 2 jam gelap, 4 jam terang dan 2 jam gelap
• Umur 29-35 hari: Intensitas cahaya 5.0 lux dengan 16 jam terang, 1 jam gelap, 6 jam terang dan 1 jam gelap
• Umur 36-49 hari: Intensitas cahaya 5.0 lux dengan 23 jam terang dan 1 jam gelap

Spektrum Cahaya
Pertumbuhan pada ayam, baik pedaging maupun petelur, dipengaruhi oleh spektrum cahaya. Cahaya dengan panjang gelombang yang berbeda, memiliki efek yang bervariasi pada retina mata dan dapat mengakibatkan perubahan pola tingkah laku yang selanjutnya mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan ayam.

Warna hijau mempercepat pertumbuhan otot ayam dan menstimulasi pertumbuhan badan pada usia muda, sedangkan warna biru menstimulasi pertumbuhan badan ayam pada usia yang lebih tua.

Ayam broiler dengan pencahayaan di bawah warna biru atau hijau akan berdampak pada berat ayam secara signifikan, dibandingkan dengan ayam broiler di bawah pencahayaan warna merah atau putih.

Kemampuan ayam untuk memvisualisasikan warna sama dengan manusia, namun ayam tidak dapat melihat dengan baik ketika mendapat warna cahaya dengan panjang gelombang yang pendek (biru-hijau). Unggas sensitif pada panjang gelombang 415, 455, 508 dan 571 nanometer.

Penerangan di Kandang Tertutup
Richard kembali menerangkan, warna cahaya penerangan dalam sistem kandang tertutup (closed house) dengan kondisi suhu yang stabil dan optimal untuk pertumbuhan, serta diberikan selama 23 jam setiap harinya, memberikan efek yang berbeda terhadap aktivitas yang berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan ayam broiler.

“Cahaya berwarna merah dan kuning dapat meningkatkan aktivitas dan agresivitas, sementara warna biru dan hijau justru sebaliknya, dapat mengontrol agresivitas dan aktivitas ayam sehingga ayam menjadi lebih tenang,” urainya.

Ayam yang dipelihara dengan penerangan cahaya lampu warna hijau atau biru dengan intensitas 0,1 W/m2, menghasilkan bobot badan yang nyata lebih tinggi dibandingkan ayam yang dipelihara dengan penerangan lampu warna merah.

Pemeliharaan ayam broiler pada sistem kandang terbuka di daerah tropis seringkali dengan suhu yang lebih tinggi dari suhu optimal untuk pertumbuhan. Kondisi tersebut menyebabkan ayam mengalami cekaman panas, sehingga ayam meningkatkan konsumsi air minum yang berakibat pada penurunan konsumsi pakan. Menurut Richard, untuk menanggulangi masalah tersebut, maka perlu diberi tambahan cahaya penerangan pada malam hari. (NDV)

DESIANTO B UTOMO NAHKODAI GPMT PERIODE 2020 - 2024

Pelantikan Ketua Umum dan pengurus baru GPMT periode 2020-2024

Wajah lama semangat baru, mungkin ucapan tersebut layak disematkan bagi Drh Desianto Budi Utomo. Setelah melalui serangkaian acara, para anggota GPMT secara aklamasi kembali memilih Desianto sebagai nahkoda utama GPMT periode 2020-2024.

Kongres GPMT yang ke - XIV resmi berlangsung pada 12-14 Maret 2020 yang lalu di The Singhasari Resort, Batu, Jawa Timur. Kongres tersebut dihadiri oleh 85 anggota dari total 91 anggota GPMT di seluruh Indonesia. Masing - masing anggota mengirimkan dua orang delegasinya ke kongres tersebut. 

Ditemui oleh Infovet seusasi kongres, alumnus FKH UNAIR tersebut mengatakan bahwa kedepannya GPMT akan lebih mengutamakan kebersamaan dalam segala aspek. "Saya rasa kini sudah saatnya mensinkronisasi dan mengharomnisasikan GPMT baik secara internal maupun eksternal, karena kedepannya masih banyak tantangan yang akan dihadapi oleh GPMT dan industri pakan ternak," tukas Desianto.

Sebagai Ketua Umum terpilih menurut Desianto masih banyak PR yang harus dikerjakan oleh GPMT. Beberapa isu strategis sudah menanti di depan mata, yang menjadi fokus baginya diantaranya tentang ketersediaan jagung sebagai bahan baku utama, sertifikasi pendaftaran pakan (NPP), dan sertifikat Non-GMO untuk asam amino untuk hasil fermentasi yang ada dalam pakan.

"Sertifikasi NPP dan Non-GMO ini sifatnya mutlak, kita sudah mengidentifikasi kendala apa saja yang ada dan telah memberi masukan kepada pemerintah. Saya harap pemerintah dan GPMT tetap menjadi mitra yang baik dalam membangun industri ini," tutup Desianto. (CR)


ISPI BANTEN DILANTIK, SIAP BEKERJASAMA DENGAN PEMDA BANTEN

Ketua ISPI Cabang Banten  2020-2024 Aziz Meiaro menyatakan tekadnya untuk selalu bersinergi dan menjadi mitra strategis bagi pemerintah dan masyarakat Provinsi Banten dengan memberikan kontribusi nyata melalui program-program kerja yang relevan. Program kerja yang relevan, salah satunya adalah membentuk kelompok ternak seperti Plasma Inti Rakyat (PIR). Program berikutnya adalah, dengan lebih aktif melakukan kajian kajian mengangkat dan memberi solusi kepada pemerintah terkait isu-isu potensi peternakan yang ada di Banten. “Salah satunya adalah menjaga komoditas kerbau lokal agar tetap terjaga kelestariannya,” kata Aziz.

Pernyataan ini dikemukakan Ketua ISPI Banten  pada acara pelantikan Kepengurusan Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI) Cabang Banten  periode  2020-2024 di Auditorium Kantor Dinas Pertanian Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B) Kecamatan Curug, Kota Serang, Provinsi Banten, pada Sabtu, 14 Maret 2020.

Acara pelantikan ISPI Cabang Banten  dihadiri juga Kepala Dinas Pertanian (Distan) Provinsi Banten, Agus M Tauhid dan Ketua Pengurus Besar ISPI  Suaedi Sunanto yang  hadir mewakili Ketua Umum PB ISPI Didiek Purwanto untuk melantik kepengurusan baru tersebut, Ketua ISPI DKI Jakarta Joko Santoso, para pengurus ISPI Banten serta sejumlah tamu undangan. Selain pelantikan pengurus, acara ini juga disertai Rakerda ISPI Banten untuk membahas program kerja.

Dalam sambutannya Kepala Dinas Pertanian Banten  Agus M Tauhid mengharapkan agar ISPI dapat peka terhadap kebijakan-kebijakan dan program-program pemerintah pada di bidang peternakan, baik pemerintah pusat, provinsi dan juga kabupaten/kota.

Ia menyambut baik niat ISPI dapat menjadi mitra strategis pemerintah, dan bisa mengambil peran dalam program dan kebijakan pemerintah. Hal itu disebabkan dalam melaksanakan pembangunan, pemerintah tidak mungkin bisa berjalan sendiri.

Kepengurusan PC ISPI banten dipilih melalui voting online. Ini merupakan pertama kalinya ISPI melakukan model pemilihan pengurus secara online. Hal ini mendapat apresiasi dari  Ketua PB ISPI Suaedi Sunanto. Ia mengatakan,  ISPI Banten bisa menjadi salah satu contoh bagi industri peternakan dalam pemanfaatan teknologi.

STRUKTUR KEPENGURUSAN PC-ISPI BANTEN PERIODE 2020-2024

Pelindung : Gubernur Provinsi Banten

Dewan Pertimbangan Organisasi
  • Ir. H. Revri Aroes
  • Ir. R. Gelar Suprijadi MM, MBA
  • AS Hasbi Al-islahi, S.Pt. M.Si. M.Agr.
  • Tb. Ridwan Akhmad, S.Pt
  • Ir. H. Dwidjo Harsono M.Si
  • Ir. Harianto Budi R
  • Ir. H. Budi Prihasto, MM.
Dewan Pakar
  • Prof. Dr. Ir. Mohammad Winugroho, MSc. APU
  • Dr. Ir. Idat Galih Permana MSc.Agr
  • Ir. H. Gugun Gunawan, S.Mn., M.M
Pengurus
  • Ketua Umum : Aziz Meiaro H, S.Pt
  • Sekretaris Umum : Rd. Gina Lukitasari, S.Pt, MM
  • Wakil Sekretaris : Ai Siti Habibah, S.Pt
  • Bendahara Umum : Een Nuraeni, S.Pt.
Bidang I. KELEMBAGAAN & KEORGANISASIAN
Ketua     : Ir. Aflimar Asli
Anggota :
  • Andi Sawali Ruswandi, S.Pt
  • Agus Sunarto, S.Pt
  • Ali Nurhadi, S.Pt
  • Grahita Ardhana Reswari, S.Pt
Bidang II. PENGEMBANGAN USAHA & PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
Ketua     : Sarip Jaenuddin, S.Pt
Anggota :
  • Edi Rapiudin, S.Pt
  • Rd. Satrya Wira Hamidjaya, S.Pt
  • Gatot Ginanjar, S.Pt
  • Nur Ahmad Zakaria, S.Pt
  • Entol Munajat Wahyudin S.Pt
  • Jamaluddin ZA, S.Pt
Bidang III. Edukasi, Keprofesian & Advokasi
Ketua : Mahardhika Pratama, S.Pt
Anggota
  • Win amali Sholeh, S.Pt
  • Winarno S.Pt, MM
  • Aris Muchendar, S.Pt
Bidang IV. MEDIA & KOMUNIKASI
Ketua : Husniyah S.Pt
Anggota
  • Aldi Rinaldi, S.Pt
  • Nurul Ikhwan, S.Pt
  • Akhyarudin, S.Pt


(IN/Bams)***

SEMINAR INTERNASIONAL SMART SOLUTION FOR A SUSTAINABLE FUTURE

Para narasumber seminar (Foto: SNE/INF)

Kedatangan Raja Belanda ke Indonesia tidak terlepas juga dari keikutsertaan Wakil Menteri Pertanian Kerajaan Belanda beserta rombongan. Dalam kunjungannya ke Indonesia, Jan-Kees Goet selaku Vice Minister of Agriculture, Nature, dan Food Qualiity Kingdom of The Netherlands berkesempatan hadir dalam seminar internasional yang berlangsung di Ballroom Shangri-La Hotel Jakarta bertema
Sustainable Agriculture Solution – The Dutch Way".

Dalam sambutannya Jan-Kees Goet menyampaikan Belanda menargetkan investasi berkelanjutan dengan Indonesia terutama di sektor pertanian dan olahan hasil pertanian dari hulu sampai hilir dengan menerapkan sistem solusi cerdas yang berkelanjutan. Jan-Kees berharap, antara
Belanda dengan Indonesia terjalin kerjasama yang baik sehingga bisa saling menguntungkan satu sama lain .

Imbuhnya, “Smart solution hadir sebagai upaya dalam menerapkan pola integrasi yang terpadu dan berkelanjutan dari sektor pertanian, peternakan, dan olahannya, tentu hal ini didukung dari beberapa teknologi penunjang".

Gert Jan Oplat selaku President of NEPULVI memaparkan dalam presentasinya bahwa Indonesia memiliki potensi alam yang luar biasa untuk menunjang usaha peternakan ayam, selain itu iklim di Indonesia juga mendukung untuk menghasilkan produktivitas yang baik.

Didukung pernyataan Frans Claassen selaku Managing Director MVO Oils and Fats, di beberapa wilayah Indonesia yang memiliki banyak tanaman kelapa sawit sangat bermanfaat jika limbahnya diolah sebagai sumber bahan pakan ternak.

“Pengolahan palm oils dengan sistem smart farming diharapkan dapat meningkat sebesar 89% untuk kebutuhan pangan dan untuk sumber pakan ternak terutama unggas 68%," imbuh Frans, Kamis (12/3).

Kemajuan teknologi saat ini menuntut semua pemangku di sektor pertanian harus responsif menggunakankan teknologi yang relevan sesuai kebutuhan.

Sementara, Philip  Morey selaku perwakilan AGRITERA perpendapat bahwa smart farming dapat tercapai ketika beberpa kriteria terpenuhi seperti big data, machine learning, dan internet of things (IoT) sehingg menghasilkan precision agriculture dalam jangka panjang,

Hadir pula dalam seminar internasional ini perwakilan terkait dari Indonesia seperti Don Utoyo dari FMPI, juga beberapa akademisi seperti Dr Ir Latief M Rachman MSc selaku dosen Pertanian IPB.


Menurut Don Utoyo, kerja sama Indonesia dan Belanda sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas pangan asal hewan. “Produksi telur dan daging ayam kita sudah cukup, namun perlu ditingkatkan kualitasnya. Dari Belanda kita bisa tiru para ekspertisnya, kita bisa impor genetik GGP (great grand parent), GP (grand parent), peralatan, bahan baku obat dan lain sebagainya,” kata Don dalam sambutannya.

Sedangkan dari sisi akademisi, Latief mengapresiasi adanya seminar internasional ini. “Seminar ini sangat bermanfaat sebagai ajang tukar pikiran mengenai teknologi yang sedang berkembang saat ini guna mencapai pertanian yang lebih baik di masa depan," tuturnya. (SNE)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer