KEMENTAN PERKUAT PENGENDALIAN PENYAKIT HEWAN JELANG HBKN
PEMERINTAH BERENCANA ALOKASIKAN DANA TRILIUNAN KE SEKTOR PETERNAKAN SAPI
Oleh karena itu, Badan Kejuruan Teknik Peternakan Persatuan Insinyur Indonesia (BKT PII) mengadakan sarasehan bertajuk “4,8 T Alokasi Anggaran Pemerintah di Sektor Peternakan Sapi, Mewujudkan Pasokan Daging dan Susu untuk Program MBG yang Berkelanjutan” di Universitas Padjajaran (Unpad), Bandung, Jawa Barat, Kamis (15/1/2026).
Kegiatan yang menghadirkan para stakeholder peternakan ini menjadi sangat penting untuk membahas arah penggunaan anggaran tersebut, potensi dampak terhadap rantai pasokan, kesejahteraan peternak rakyat, inovasi industri, pemerataan pembangunan antar wilayah, hingga mitigasi berbagai risiko teknis dan pasar.
Sarasehan dihadiri pemerintah pusat, pemerintah daerah dari luar Jawa, industri swasta, organisasi peternak, dan pelaku inovasi digital, untuk memperoleh pandangan komprehensif dan rekomendasi strategis. Dengan menghadirkan narasumber dari Kementerian Pertanian, BUMN, asosiasi industri susu, asosiasi koperasi persusuan, serta KADIN Indonesia.
Ketua BKT Peternakan PII, Prof Ir Budi Guntoro SPt MSc PhD IPU ASEAN Eng APEC Eng, mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk mengidentifikasi peluang dari rencana integrasi peternakan sapi berbasis anggaran Rp 4,8 triliun, serta mengurai tantangan struktural yang perlu diantisipasi pemerintah dan industri, sekaligus merumuskan rekomendasi yang membangun untuk kebijakan, investasi, dan penguatan kelembagaan peternak.
"Kemudian yang cukup penting mendorong kolaborasi antara akademisi, pemerintah, industri, dan peternak,” ujarnya.
Pihaknya berjanji akan terus bersinergi dengan asosiasi peternakan untuk mengawal setiap anggaran dari pemerintah agar dapat memberikan dampak yang nyata bagi kesejahteraan peternak.
“Selain itu memastikan generasi muda ke depan mudah mendapatkan akses dalam mengonsumsi protein hewani. Karena mereka merupakan generasi bangsa yang akan membangun Indonesia berikutnya,” ungkapnya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Peternakan Unpad, Prof Dr Ir Rahmat Hidayat SPt MSi IPM, mengemukakan bahwa saat ini industri peternakan diibaratkan berada pada dua kaki. Kaki pertama di antaranya ketimpangan populasi antara jumlah ternak dan masyarakat Indonesia, produksi belum optimal, umur peternak umumnya sudah senior, dan tingkat pendidikan peternak dan partisipasi kelembagaan yang masih rendah.
Sedangkan, salah satu kaki lagi terkait kebijakan program MBG yang memacu permintaan produk peternakan. “Maka dengan kondisi ini tantangan sekaligus kesempatan bagi stakeholder peternakan,” katanya. (INF)
KEMENTERIAN PERTANIAN RESMI TERBITKAN ATURAN BARU PELARANGAN OBAT HEWAN
Peraturan ini berfokus pada pelarangan golongan antibiotik dan obat-obatan tertentu yang sering digunakan pada ternak yang produknya ditujukan untuk konsumsi. Latar belakang diterbitkannya aturan ini adalah adanya perkembangan kebutuhan untuk melarang penggunaan antibiotik golongan fluorokuinolon serta sefalosporin generasi 3 dan 4 demi mencegah dampak negatif jangka panjang bagi kesehatan masyarakat.
Dalam aturan tersebut, secara spesifik merinci jenis-jenis obat yang dilarang penggunaannya sebagai campuran pakan maupun pemberian langsung. Adapun kelompok obat hewan tertentu yang dilarang sebagai imbuhan pakan (feed additive) di antaranya Colistin; Ciprofloxacin; Norfloxacin; Levofloxacin; Ofloxacin; Oxolinic acid; dan Sefalosporin generasi 3 dan 4 (kecuali Ceftiofur).
Sementara kelompok obat hewan tertentu yang dilarang pemakaiannya secara oral, parental, topikal di antaranya Colistin; Ephedrin beserta turunannya; Paracetamol yang tidak berupa sediaan tunggal; Ciprofloxacin; Norfloxacin; Levofloxacin; Ofloxacin; Oxolinic acid; Sefalosporin generasi 3 dan 4 (kecuali Ceftiofur), serta antibiotik yang dibuat dalam satu formula dengan bahan biologik, farmasetika, premix, dan obat hewan alami.
Dengan ditetapkannya peraturan ini pada 5 Januari 2026, maka Keputusan Menteri Pertanian Nomor 9736/PI.500/F/09/2020 tentang Perubahan atas Lampiran III Peraturan Menteri Pertanian Nomor 14/PERMENTAN/PK.500/F/09/2017 tentang Klasifikasi Obat Hewan resmi dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
Langkah ini diharapkan dapat meminimalisir risiko resistansi antimikroba (AMR) pada manusia yang bersumber dari konsumsi produk peternakan. (INF)
ASOHI SUMUT SELENGGARAKAN SEMINAR REGULASI OBAT HEWAN & OUTLOOK PETERNAKAN
Pada kesempatan tersebut, ASOHI Sumut menghadirkan tiga pembicara utama di antaranya Drh Arief Wicaksono MSi (Ketua Kelompok Substansi Pengawas Obat Hewan Kementan), Drh Bambang Sutrasno (Regional Head Sumatra PT CPI), dan Drh Akhmad Harris Priyadi (Ketua Umum ASOHI).
Seminar antara lain memaparkan dan membahas topik-topik terkait adanya aturan-aturan baru izin berusaha obat hewan, perubahan kebijakan penunjukan PT Berdikari BUMN sebagai pengimpor jagung-SBM untuk pakan ternak, dinamika sektor kesehatan hewan dengan munculnya kebutuhan segera akan apotek veteriner di setiap provinsi, serta peluang usaha penyediaan obat hewan kesayangan, obat hewan kuda, dan obat hewan satwa liar, hingga imbas penerapan Permenkes No. 14/2021 kepada para kolega dokter hewan.
Terlebih lagi pasca kejadian bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumut, dan Sumatra Barat, tentunya bagi pelaku industri obat hewan dan peternakan perlu mengetahui bagaimana tren dinamika bisnis di 2026 ini. Secara nasional, Sumut sendiri berkontribusi 20-25% dari produksi hasil unggas (daging dan telur). Dampak yang segera dirasakan bagi peternakan Sumut di antaranya adalah terkomprominya suplai jagung, mengingat Aceh juga sebagai salah satu penyedia jagung bagi daerah sekitarnya, terutama Sumut. Di sisi lain, terputusnya sarana logistik seperti jalan-jalan utama yang masih tertimbun lumpur, jembatan penghubung yang terputus sangat berdampak pada pengiriman rutin hasil produksi unggas dari Sumut ke Aceh.
Selain itu, terkait program MBG dan rencana pemerintah di 2026 juga dibahas dalam seminar ini, khususnya dampaknya bagi peluang pertumbuhan demand daging maupun telur ayam yang sudah dipastikan porsinya dalam menu MBG. Kemudian persoalan menarik lainnya yakni seputar AMR, juga menjadi momen edukasi bagi pelaku usaha kesehatan hewan (ternak & non-ternak).
STATUS KESEHATAN TERNAK, PILAR UTAMA PETERNAKAN DAN LINGKUNGAN BERKELANJUTAN
Di tengah meningkatnya kebutuhan pangan asal hewan untuk pemenuhan gizi nasional (seperti program Makan Bergizi Gratis – MBG) dan tuntutan global terhadap praktik usaha yang ramah lingkungan, sektor peternakan dihadapkan pada tantangan besar. Selain produktivitas yang tinggi, peternakan juga dituntut berkelanjutan secara ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Dalam konteks ini, satu aspek
kunci yang sering luput dari perhatian adalah status kesehatan ternak. Padahal,
yang merupakan pilar utama untuk mewujudkan sustainable livestock farming
atau peternakan berkelanjutan.
Status kesehatan ternak
mencerminkan kondisi fisik, fisiologis, dan bebas penyakit pada hewan ternak.
Ternak yang sehat tidak hanya menghasilkan produk yang aman dan berkualitas,
tetapi juga lebih efisien dalam memanfaatkan pakan, memiliki fungsi reproduksi
yang baik, serta berkontribusi nyata pada kondisi ekonomi dan kesejahteraan
peternak. Sebaliknya, ternak yang sakit dapat menjadi sumber kerugian ekonomi
signifikan, ancaman kesehatan masyarakat, dan tekanan terhadap lingkungan.
Efisiensi Produksi sebagai
Kunci Keberlanjutan
Di dalam sistem peternakan
berkelanjutan, efisiensi menjadi kata kunci. Ternak yang sehat mampu
mengonversi pakan menjadi daging, susu, atau telur secara optimal. Hal ini
berarti penggunaan sumber daya/ biomassa seperti pakan, air, dan lahan menjadi
lebih hemat dan ekonomis. Dengan efisiensi yang tinggi, emisi gas rumah kaca
per satuan produk pun dapat ditekan, sejalan dengan upaya mitigasi perubahan
iklim. Sebagai contoh solusi, adalah dengan dimulainya penerapan Smart/Precision
Farming untuk peningkatan produksi dan efisiensi usaha peternakan.
Sebaliknya, ternak sakit sering
kali mengalami penurunkan nafsu makan, perlambatan pertumbuhan, pengurangan
produk hasil ternak dan peningkatkan risiko kematian. Kondisi ini mendorong
peternak untuk mengafkir ternak secara dini (early culling), mengganti (replacement/restocking)
ternak, menambah populasi atau memperpanjang masa pemeliharaan, yang pada
akhirnya meningkatkan jejak lingkungan atau jejak karbon (carbon footprint).
Dengan kata lain, menjaga ternak tetap sehat sama artinya dengan menjaga
keseimbangan antara produksi dan kelestarian lingkungan.
Pengelolaan Pencemaran dan
Limbah Peternakan
Peternakan berkelanjutan tidak
dapat dipisahkan dari upaya pengendalian pencemaran dan limbah. Aktivitas
peternakan menghasilkan limbah kotoran ternak, sisa pakan, air limbah, serta
emisi gas yang berpotensi mencemari tanah, air, dan udara di sekitarnya. Jika
tidak dikelola dengan baik, limbah tersebut dapat menurunkan kualitas
lingkungan, mengganggu kesehatan masyarakat, dan mempercepat penyebaran
penyakit di antara ternak itu sendiri. Oleh karenanya, pengelolaan limbah menjadi
bagian penting dari sistem kesehatan dan manajemen peternakan.
Pengelolaan limbah dapat dilakukan melalui penerapan kebersihan kandang, sistem drainase yang baik, serta pemanfaatan kotoran ternak sebagai pupuk organik atau sumber energi biogas. Ternak yang sehat cenderung menghasilkan limbah yang lebih mudah dikelola, sehingga membantu mengurangi pencemaran lingkungan dan jejak karbon peternakan. Dengan pengelolaan limbah yang tepat dan efektif, aktivitas peternakan tidak hanya menjaga kelestarian lingkungan sekitar, tetapi juga menciptakan hubungan yang harmonis dengan masyarakat sekitar dan mendukung keberlanjutan usaha dalam jangka panjang.
![]() |
| Pengecekan Status Kesehatan dan Dokumen di Check Point Dilakukan Untuk Mencegah Penyebaran Penyakit (Foto : Istimewa) |
Kesehatan Masyarakat, Kesejahteraan
Hewan dan Tanggung Jawab Sosial
Peran kesehatan ternak tidak
berhenti di kandang. Penyakit hewan, terutama yang bersifat zoonosis, dapat
menular ke manusia melalui produk ternak atau kontak langsung. Kasus flu
burung, antraks, hingga bruselosis menjadi pengingat bahwa kesehatan ternak
berkaitan erat dengan kesehatan manusia.
Pendekatan One Health yang
menekankan integrasi antara kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan menjadi semakin
relevan dalam pembangunan peternakan berkelanjutan. Ternak yang sehat
menghasilkan produk yang aman dikonsumsi, mengurangi risiko penularan penyakit
kepada masyarakat, serta meningkatkan kepercayaan dan rasa aman bagi konsumen.
Dalam jangka panjang, hal ini memperkuat posisi dan daya saing produk
peternakan baik di pasar domestik maupun global.
Peternakan berkelanjutan juga memposisikan
kesejahteraan hewan sebagai prinsip utama. Kesehatan ternak menjadi indikator
langsung dari tingkat kesejahteraan tersebut. Ternak yang dipelihara dengan
manajemen kesehatan yang baik, melalui pencegahan penyakit, sanitasi kandang,
dan praktik-praktik beternak yang baik (good farming practices), menunjukkan
bahwa aktivitas usaha peternakan dikelola dengan bertanggung jawab dengan
mengedepankan prinsip kesejahteraan hewan.
Dewasa ini, masyarakat pun semakin
kritis terhadap asal-usul produk pangan. Praktik peternakan yang memperhatikan
kesehatan dan kesejahteraan ternak dinilai lebih dapat diterima secara sosial.
Hal ini membuka peluang nilai tambah bagi peternak, terutama dalam menghadapi
pasar yang mengutamakan aspek keberlanjutan dan etika produksi.
Menatap Masa Depan Peternakan
melalui Manajemen Kesehatan dan Kebijakan
Menjaga status kesehatan ternak
tidak bisa dilakukan secara sporadis. Diperlukan manajemen kesehatan yang
terencana, mulai dari biosekuriti, vaksinasi, monitoring penyakit (deteksi
dini), hingga penggunaan obat hewan yang bijak. Peran tenaga kesehatan hewan
(dokter hewan dan paramedik veteriner), penyuluh pertanian, dan dukungan
kebijakan pemerintah menjadi sangat penting dalam sistem ini.
Pemerintah dan pemangku
kepentingan diharapkan terus mendorong program pengendalian penyakit, penguatan
sistem surveilans, serta edukasi peternak. Disamping itu, kolaborasi dengan
perguruan tinggi dan pusat penelitian menjadi penting dalam upaya kebaruan metode,
inovasi dan analisis program pengendalian. Investasi pada kesehatan ternak
sejatinya adalah investasi jangka panjang bagi keberlanjutan sektor peternakan
nasional.
Di era pembangunan berkelanjutan,
kesehatan ternak bukan lagi isu teknis semata, melainkan strategi utama. Dengan
ternak yang sehat, peternakan dapat berjalan lebih produktif, ramah lingkungan,
dan bertanggung jawab secara sosial. Status kesehatan ternak adalah jembatan
yang menghubungkan kepentingan peternak, konsumen, dan lingkungan.
Oleh: Dr. Drh. Ardilasunu Wicaksono, MSi
1. Dosen Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis, IPB University
2. Sekretaris Program Studi Doktor Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, IPB University
JAWA TIMUR SABET GELAR LUMBUNG UNGGAS NASIONAL, TARGET SWASEMBADA PANGAN SEMAKIN DEKAT
Secara keseluruhan, industri peternakan di Jatim telah memberikan kontribusi signifikan, yakni sebesar 10,23% terhadap PDRB Sektor Pertanian. Data produksi perunggasan Jatim mencatatkan angka yang impresif, dengan telur ayam ras mencapai 1,32 juta ton dan daging ayam sebanyak 1,51 juta ton.
Fokus Kebijakan Pemerintah: Dari Hulu Hingga Hilir
Dalam upaya mencapai visi Indonesia Emas 2045, yang salah satu misinya adalah mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur fokus pada penguatan ekosistem perunggasan secara menyeluruh.
Indyah pun mengungkap arah kebijakan pengembangan mencakup tiga pilar utama, yakni hulu (input) untuk peningkatan produksi bibit dan pakan lokal serta pengendalian penyakit hewan menular seperti AI dan ND; kemudian on-farm (budi daya) peningkatan produktivitas peternakan dan penerapan standar praktik baik (biosekuriti dan good practice); hilir (pasca panen) pengembangan produk olahan, promosi ekspor ke pasar internasional, penataan tata niaga, dan penguatan kelembagaan peternak melalui koperasi.
Di sisi hilir, potensi produk perunggasan Jatim juga telah menembus pasar global, dengan ekspor produk peternakan ke berbagai negara seperti Timor Leste, Filipina, Malaysia, Singapura, dan Jepang.
Untuk mengkonsolidasikan langkah ini, tutur Indyah, pemerintah merancang rencana pengembangan peternakan ayam mendukung MBG (Membangun Bangsa Gemilang), dengan target ambisius untuk memproduksi telur sebesar 1,0 juta ton dan daging sebesar 1,5 juta ton. Program ini diperkirakan akan menyerap hingga 1.462.948 tenaga kerja.
Meski demikian, pemerintah mengakui adanya tantangan berupa fluktuasi harga (DOC dan pakan), daya saing peternak kecil, serta isu kesehatan hewan. Kebijakan yang terstruktur diharapkan mampu menciptakan stabilitas harga dan menjamin mutu produk demi menjaga keberlanjutan industry perunggasan Jawa Timur sebagai gerbang baru nusantara. (YR)
ASOHI JATIM GELAR OUTLOOK BISNIS PERUNGGASAN, BAHAS STRATEGI DAN PROYEKSI INDUSTRI PROTEIN HEWANI
Acara yang dimulai pukul 08:00-17:00 WIB ini dibuka secara resmi dengan sambutan dari tokoh kunci, Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur DR Ir Indyah Aryani MM, serta Drh Suyud dan Drh Akhmad Harris Priyadi dari ASOHI.
Indyah yang juga merupakan salah satu pembicara utama memaparkan “Potensi Peternakan Jawa Timur & Kebijakan Pemda yang mendorong Kemajuan Perunggasan di Jawa Timur", memberikan panduan strategis mengenai dukungan pemerintah daerah.
Selain itu, aspek kesehatan juga menjadi fokus utama dengan kehadiran dua pakar terkemuka, yakni Ketua Umum ASOHI Akhmad Harris Priyadi yang menyajikan “Potret Bisnis Industri Obat Hewan 2025 & Outlook 2026”, serta Guru Besar FKH UGM Prof Dr Drh Michael Haryadi Wibowo MP membahas “Review Penyakit Unggas 2025 dan Prediksi Kasus Penyakit 2026”, yang dilanjutkan dengan sesi diskusi interaktif.
Konferensi berlanjut dengan presentasi dari para pimpinan asosiasi yang mengupas kinerja industri secara rinci, ada dari DR Drh Desianto Budi Utomo MPhil PhD (Ketua Umum GPMT), Ir Achmad Dawami (Ketua Umum GPPU), dan Hidayaturrahman SE (Ketua PINSAR Provinsi Jawa Timur).
Sesi penutup yang sangat dinantikan disampaikan oleh DR Werner R. Murhadi SE MM CSA CIB CRP, selaku Dosen Fakultas Ekonomi & Bisnis UBAYA. Ia memberikan pandangan menyeluruh mengenai “Outlook Ekonomi 2026 dan Analisa Bisnis Bahan Pangan Protein Hewani Jawa Timur”, memberikan kerangka ekonomi yang diperlukan bagi para pelaku usaha untuk menyusun strategi di tahun mendatang.
Acara yang dikoordinasikan oleh Recto Indah ini ditutup dengan sesi resume dan penutup, menegaskan komitmen para pelaku industri untuk menghadapi tantangan dan memanfaatkan potensi besar sektor perunggasan di Jawa Timur. (YR)
SEMINAR NASIONAL OUTLOOK BISNIS PETERNAKAN ASOHI 2026: SINERGI MEMBANGUN KETAHANAN DAN KEAMANAN PANGAN
![]() |
| Pemukulan gong oleh Dirkeswan Hendra Wibawa didampingi Ketua Umum ASOHI Akhmad Harris Priyadi membuka Seminar Nasional Outlook Bisnis Peternakan ASOHI 2026. (Foto: Rubella) |
"Tahun depan masih banyak tantangan. Tentunya ASOHI sebagai pilar peternakan dan kesehatan hewan, kami mendukung usaha bersama untuk menciptakan industri peternakan dan kesehatan hewan yang kuat," ujar Ketua Umum ASOHI, Drh Akhmad Harris Priyadi, dalam sambutannya.
Berbagai tantangan mulai dari urusan produksi, perdagangan global, penyakit, isu antimicrobial resistance (AMR), hingga peluang dari program Makan Bergizi Gratis untuk keberlanjutan industri menyeruak dalam seminar ini.
"Salah satunya terkait isu AMR ini tahun depan harus terus kita lakukan edukasi kepada peternak (soal penggunaan yang sesuai aturan) untuk meminimalisir kejadian AMR," ucapnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, yang diwakili Direktur Kesehatan Hewan (Dirkeswan), Drh Hendra Wibawa MSi PhD, menyoroti jalannya program MBG sebagai peluang untuk meningkatkan industri yang berkelanjutan.
"Dengan adanya MBG yang bersumber dari protein nabati dan juga hewani, kita berusaha menjadikan peternakan dan kesehatan hewan maju berkelanjutan bagi masyarakat. Makna berkelanjutan ini sangat penting agar setiap program kita dimulai dan bisa berlanjut, serta manfaatnya bisa dirasakan masyarakat," kata Hendra.
Adapun beberapa upaya dilakukan khususnya dalam mendukung MBG melalui penjaminan kesehatan hewan di antaranya pencegahan, pengendalian, penanganan, hingga pemberantasan penyakit hewan, penguatan fungsi pelayanan kesehatan hewan, peningkatan penyediaan obat hewan dan alat kesehatan hewan yang berkualitas, serta monitoring status dan layanan kesehatan hewan. Hal ini untuk menciptakan tersedianya protein hewani yang aman, sehat, utuh, dan halal (ASUH).
Selain itu, ia juga menyinggung soal industri obat hewan yang saat ini masih dihadapkan oleh berbagai masalah seperti pandemi penyakit yang bisa muncul kapan saja, atau penyakit yang muncul akibat pemakaian antibiotik yang tidak sesuai penggunaannya.
"Pengawasan obat hewan terkait penggunaan, peredaran obat hewan termasuk obat hewan ilegal harus kita perketat, tentunya dengan bantuan dari bapak dan ibu semua agar bermafaat bagi masyarakat," ucapnya.
Kendati demikian, jika melihat peluang industri obat hewan ke depan, Hendra optimis sebab ekspor obat hewan tiap tahun trennya mulai meningkat. Dari data yang ia paparkan, tahun ini data realisasi ekspor obat hewan hingga Maret 2025 mencapai nilai 374.989.279,7 USD, dimana angka tersebut lebih besar dibanding total ekspor obat hewan pada 2024.
"Outlook obat hewan ke depan cukup cerah, kita jadikan momentum ini untuk bergerak bersama-sama mewujudkan industri yang lebih kuat dan berpihak kepada rakyat. Semoga masukan dari seminar ini bisa kita jadikan modal utama dalam menghadapi tantangan ke depan," tukasnya.
Dengan melibatkan pelaku usaha, asosiasi, regulator, akademisi, dan investor, seminar ini menjadi forum paling komprehensif untuk membaca peta bisnis peternakan Indonesia sebelum memasuki 2026. ASOHI menempatkan agenda ini bukan sekadar sebagai evaluasi tahunan, melainkan sebagai upaya menyusun arah bersama di tengah pertumbuhan, risiko, dan tuntutan keberlanjutan yang kian menguat. (RBS)
ARTIKEL POPULER MINGGU INI
-
Cara Menghitung FCR Ayam Broiler. FCR adalah singkatan dari feed convertion ratio, yaitu konversi pakan terhadap daging. FCR digunakan untuk...
-
Di dunia ini terdapat beberapa jenis ayam terbesar di dunia. Baik dari segi tinggi badannya, ukuran badannya, maupun berat badannya. Di anta...
-
Prof Dr Ismoyowati SPt MP, dari Unsoed, membawakan materi Mekanisme Kemitraan dalam Budidaya Ayam Broiler, dalam webinar Charoen Pokphand In...
-
Salah satu ciri telur asin yang berkualitas adalah bagian kuning telurnya yang tampak masir. (Foto: Istimewa) Bukan hanya cara menyimpannya,...
-
Sumber: Balitbangtan Kementan Ayam KUB adalah ayam kampung galur (strain) baru, merupakan singkatan dari Ayam Kampung Unggul Balitbangtan. A...
-
Hijauan kering dan jerami kering Berbagai hijauan pakan yang sengaja dipanen dan dikeringkan serta berbagai jerami kering yang sengaja dipan...
-
Cara menjadi mitra JAPFA untuk kemitraan ayam pedaging adalah dengan melalui PT Ciomas Adisatwa, yang merupakan anak perusahaan dari PT JAPF...
-
Ayam abang adalah ayam ras petelur yang sudah memasuki masa “pensiun” bertelur. (Foto: Dok. Infovet) Ayam abang menjadi salah satu bisnis “s...
-
TIDAK ADA CERITANYA PETERNAK BROILER RUGI? (( Ayam pedaging, usaha peternakannya dihitung per periode. Perhitungannya ada kalah menangnya. M...
-
Dalam dunia peternakan bebek, proses penetasan telur menjadi salah satu kunci utama keberhasilan produksi Day Old Duck (DOD). Terdapat dua c...










