-->

OPTIMALISASI REPRODUKSI KAMBING - DOMBA DENGAN KANDANG PORTABEL USG



Oleh : : Dr. Abdullah Baharun, S.Pt., M.Si (Dosen Prodi Peternakan, Universitas Djuanda)

Beternak domba dan kambing menjadi pilihan yang semakin menarik karena didukung ketersediaan hijauan pakan dan kondisi lingkungan yang sesuai. Meski demikian, mengembangkan usaha peternakan rakyat bukan tanpa tantangan. Produktivitas ternak dan efisiensi pengelolaan masih perlu ditingkatkan agar usaha ini mampu memberikan pendapatan yang lebih baik dan berkelanjutan bagi masyarakat.

Potensi Besar di Kaki Gunung Salak

Ciburayut memiliki modal alam yang kuat untuk pengembangan peternakan domba dan kambing. Ketersediaan hijauan pakan masih cukup luas, tanah relatif subur, dan iklim pegunungan mendukung pertumbuhan beragam jenis rumput serta tanaman pakan. Meski pembangunan vila mulai berkembang di sejumlah lokasi, kebutuhan pakan ternak masyarakat hingga kini masih dapat dipenuhi.

Potensi tersebut semakin menarik karena permintaan domba dan kambing di Jawa Barat cukup tinggi. Ternak dari wilayah ini dibutuhkan untuk memenuhi pasar daging maupun ternak hidup di Bogor, Jakarta, Banten, dan berbagai daerah lain di Jawa Barat. Bahkan, sebagian kebutuhan pasar masih dipasok dari Jawa Tengah karena produksi lokal belum mampu memenuhinya.

Peluang inilah yang dikembangkan oleh Kelompok Ternak Kampung Domba Gunung Salak Bogor. Kelompok yang telah berbadan hukum dan memiliki jaringan pemasaran cukup luas ini telah berkembang menjadi salah satu sentra peternakan rakyat di Ciburayut. Persoalannya, kapasitas produksi belum mampu mengikuti besarnya permintaan pasar.

Reproduksi Menjadi Titik Lemah

Kendala utama bukan terletak pada pemasaran, melainkan pada reproduksi. Banyak induk terlambat diketahui bunting. Sebagian lainnya bahkan dipelihara berbulan-bulan tanpa kepastian kebuntingan. Kondisi ini membuat waktu produktif ternak terbuang, jarak beranak menjadi panjang, dan pertumbuhan populasi berjalan lambat.

Selama ini, peternak umumnya mengandalkan pengamatan visual melalui perubahan bentuk tubuh atau perilaku ternak. Cara tersebut sederhana, tetapi kurang efektif untuk mendeteksi kebuntingan pada tahap awal. Akibatnya, induk yang belum bunting terlambat dikawinkan kembali dan efisiensi reproduksi pun menurun.

Padahal, dengan pengelolaan yang baik, seekor induk domba atau kambing berpotensi beranak hingga dua kali dalam satu tahun. Potensi biologis ini hanya dapat dimanfaatkan secara optimal melalui manajemen reproduksi yang tepat.

Melanjutkan Program Pendampingan

Kondisi tersebut menjadi dasar pelaksanaan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) melalui skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Nomor Kontrak: 207/C3/DT.05.00/PM/2026; 485/01/K-X/V/2026).

Program ini merupakan kelanjutan dari kegiatan pengabdian pada 2024 yang berfokus pada peningkatan kapasitas masyarakat dalam kesehatan ternak, pembangunan bank pakan, serta pengenalan teknik budidaya domba dan kambing secara konvensional.

Tahun ini, pendampingan diarahkan pada peningkatan efisiensi reproduksi melalui pemanfaatan ultrasonografi (USG) portable. Teknologi tersebut memungkinkan pemeriksaan kondisi organ reproduksi, aktivitas ovarium, perkembangan embrio, dan status kebuntingan secara cepat dan lebih akurat.

Bagi sebagian peternak, penggunaan USG menjadi pengalaman baru. Alat yang selama ini lebih dikenal untuk pemeriksaan kesehatan manusia ternyata dapat digunakan secara praktis di kandang untuk membantu menentukan keputusan reproduksi ternak.

Belajar Langsung di Kandang

Kegiatan diawali dengan penyerahan USG portable langsung ke peternak (Caption Foto 1), sosialisasi program, penyuluhan mengenai manajemen reproduksi domba dan kambing. Materi mencakup siklus birahi, waktu perkawinan yang ideal, pentingnya deteksi kebuntingan dini, serta pengelolaan pakan selama masa kebuntingan.

Antusiasme peserta semakin terlihat ketika memasuki sesi praktik secara bertahap dan berkelanjutan. Tim pengabdian (Abdullah Baharun, Deden Sudrajat, Riny Kusumawati) bersama dokter hewan (drh. Annisa Rahmi, M.Si) yang dibantu oleh mahasiswa Universitas Djuanda (Adiba Kanza Arasya, Kustini, Rumaisha Kultsum Qurani, Refacha Nadila, Asep Maman, Alfatir Muhammad Syafur) memperagakan penggunaan USG portable pada sejumlah induk. Melalui layar monitor, peternak dapat melihat gambaran organ reproduksi dan perkembangan embrio di dalam uterus secara langsung.

Pengalaman tersebut tidak hanya menarik, tetapi juga membuka wawasan baru. Peternak dapat mengetahui status kebuntingan ternaknya sekaligus memahami pentingnya pemeriksaan reproduksi sebagai bagian dari pengelolaan usaha.

Selain pemeriksaan kebuntingan, tim mendampingi peternak mengevaluasi kondisi reproduksi calon induk. Pemeriksaan ovarium membantu menentukan kesiapan ternak untuk dikawinkan sehingga waktu perkawinan dapat direncanakan dengan lebih tepat.

Foto Penyerahan USG portable ke Peternak Kampung Domba Gunung Salak, Ciburayut.

(Sumber : Abdullah Baharun, 2026)

Hasil Nyata di Lapangan

Program pendampingan mendapat respons positif. Seluruh peserta mengikuti penyuluhan dan praktik dengan antusias. Diskusi berlangsung aktif karena peternak dapat menghubungkan materi dengan persoalan yang selama ini mereka temui di kandang.

Evaluasi sebelum dan sesudah kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan hingga 90% mengenai manajemen reproduksi, terutama dalam mengenali siklus birahi, menentukan waktu kawin, dan memahami pentingnya deteksi kebuntingan dini. Peternak juga semakin memahami bahwa induk yang belum bunting perlu segera dimasukkan kembali ke program perkawinan agar tidak terus menambah biaya pemeliharaan tanpa menghasilkan keturunan.

Dalam praktik lapangan, sebanyak 176 ekor induk domba dan kambing diperiksa menggunakan USG portable. Hasil pemeriksaan menunjukkan sejumlah induk telah bunting pada fase awal (11 ekor) dan mengalami gangguan reproduksi sebanyak 1 ekor (organ reproduksi abnormal). Induk-induk tersebut dapat segera dipisahkan dan memperoleh manajemen pakan sesuai kebutuhannya. Sementara itu, induk yang belum bunting (164 ekor) langsung dimasukkan ke dalam program perkawinan berikutnya.

Hasil pemeriksaan juga menjadi dasar bagi kelompok peternak untuk mulai membangun pencatatan reproduksi yang lebih sistematis dengan bantuan aplikasi dashboard pada smartphone yang dibuatkan khusus dalam kegiatan PkM. Data status kebuntingan, perkiraan waktu kelahiran, dan jadwal perkawinan dapat digunakan untuk menyusun rencana produksi sekaligus menyesuaikannya dengan kebutuhan pasar.

Dari Teknologi Menuju Peningkatan Pendapatan

Pemanfaatan USG portable bukan sekadar memberikan kepastian mengenai status reproduksi ternak. Teknologi ini membantu peternak mengambil keputusan usaha dengan lebih cepat dan efisien. Induk bunting dapat segera memperoleh pakan tambahan sesuai kebutuhannya, sedangkan induk yang belum bunting tidak perlu dipelihara terlalu lama tanpa kepastian reproduksi.

Dengan semakin pendeknya waktu kosong (days open) dan semakin teraturnya jadwal perkawinan, produktivitas ternak diharapkan meningkat. Lebih banyak kelahiran berarti lebih banyak ternak yang tersedia untuk dibesarkan dan dijual. Pada akhirnya, kapasitas kelompok untuk memenuhi permintaan pasar pun dapat meningkat.

Lebih dari sekadar memperkenalkan alat, pendampingan ini mendorong perubahan cara pandang peternak. Reproduksi tidak lagi dipandang sebagai proses alami yang berjalan begitu saja, melainkan sebagai bagian penting dari strategi usaha yang perlu dikelola dan direncanakan.

Langkah Awal Transformasi Peternakan Rakyat

Pengalaman di Kelompok Ternak Kampung Domba Gunung Salak menunjukkan bahwa teknologi tepat guna akan memberi manfaat maksimal jika disertai pendampingan yang berkelanjutan. Sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, tenaga kesehatan hewan, dan kelompok peternak menjadi fondasi penting agar inovasi tidak berhenti pada tahap pengenalan, tetapi benar-benar diterapkan di lapangan.

Bagi masyarakat Ciburayut, beternak domba dan kambing bukan sekadar pilihan usaha, tetapi juga peluang untuk mengembangkan sumber penghidupan yang sesuai dengan potensi wilayah. Dengan dukungan teknologi reproduksi yang semakin mudah diakses, peternakan rakyat memiliki peluang untuk tumbuh menjadi sumber penghidupan yang lebih aman, produktif, dan berkelanjutan.

Transformasi tentu tidak terjadi dalam semalam. Namun, setiap induk yang berhasil dideteksi bunting lebih awal, setiap kelahiran yang dapat direncanakan, dan setiap anak ternak yang lahir sehat merupakan langkah menuju peningkatan kesejahteraan peternak. Dari kandang-kandang sederhana di kaki Gunung Salak, harapan itu tumbuh bersama inovasi yang membawa pengelolaan reproduksi ternak ke arah yang lebih modern dan produktif. (INF)


HPDKI DUKUNG PENERTIBAN TERNAK ILEGAL AGAR HARGA TETAP TERJAGA

Pertemuan antara HPDKI bersama Dirjen PKH. (Foto: Istimewa)

“HPDKI mendukung upaya pemerintah menertibkan pemasukan ternak ilegal. Peternak dalam negeri mampu memenuhi kebutuhan pasar, sehingga sebaiknya impor dihentikan agar harga di tingkat peternak tetap terjaga,” ujar Sekjen Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI), Ajat Sudarjat, dalam pertemuannya di kantor Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), Senin (16/3/2026).

Ia menambahkan, peternak dalam negeri pada dasarnya memiliki kapasitas untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik. Karena itu, penguatan pengawasan dinilai penting untuk menciptakan iklim usaha yang sehat.

Sementara itu, Wakil Sekjen DPP HPDKI, Nuryanto, turut menambahkan bahwa pentingnya pengawasan untuk menjaga kesehatan ternak nasional. Ia menilai ternak yang masuk tanpa prosedur resmi berpotensi membawa penyakit yang dapat merugikan peternak. 

“Selain merugikan negara dari sisi pajak dan bea masuk, hal ini juga merusak harga pasar yang selama ini dijaga oleh peternak lokal,” ucap Nuryanto.

Menanggapi hal itu, pemerintah pun menegaskan komitmennya untuk terus hadir melindungi peternak melalui penguatan kebijakan dan pengawasan di lapangan.

Dirjen PKH, Agung Suganda, mengatakan bahwa pengawasan terhadap peredaran ternak ilegal terus diperkuat, terutama di wilayah perbatasan. 

“Komitmen Menteri Pertanian jelas, yaitu melindungi peternak lokal dari dampak masuknya ternak ilegal yang bisa menekan harga di tingkat peternak,” kata Agung.

Selain pengawasan, pemerintah juga mendorong pengembangan pasar sebagai langkah konkret meningkatkan kesejahteraan peternak. Di antaranya mempercepat harmonisasi persyaratan ekspor domba dan kambing ke Malaysia, hingga usulan pemotongan hewan dam haji dapat dilakukan di Indonesia sehingga memberikan dampak ekonomi langsung bagi peternak.

“Bayangkan kalau pemotongan dam bisa dilakukan di Indonesia, dampak ekonominya luar biasa. Peternak langsung merasakan manfaatnya,” katanya. (INF)

IMPOR DISETOP, ASOSIASI MINTA DAGING LOKAL DISERAP

Pertemuan antara pemerintah dengan importir dan asosiasi untuk menjaga keberlanjutan usaha peternakan domba dan kambing rakyat. (Foto: Istimewa)

Kementerian Pertanian (Kementan) menghentikan sementara impor karkas dan daging domba dewasa atau mutton guna melindungi peternak lokal dari persaingan harga yang tidak sehat. Kebijakan ini bertujuan menjaga keberlanjutan usaha peternakan rakyat sekaligus memperkuat daya saing subsektor peternakan nasional.

“Kami stop sementara pengeluaran rekomendasi impornya agar harga daging domba impor tidak menekan peternak. Ini upaya kami melindungi peternak agar usahanya terus berjalan,” ujar Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, Jumat (29/11/2024), di Jakarta.

Pihaknya telah mengambil serangkaian langkah untuk mendukung peternak. Pada 18 November 2024, audiensi digelar bersama Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI) guna menyerap aspirasi peternak. Selanjutnya, Rembuk Nasional di Boyolali pada 21 November 2024, sebagai forum penyusunan solusi bersama.

Pada 24 November 2024, inspeksi mendadak dilakukan ke-13 gudang importir untuk memastikan kepatuhan terhadap aturan distribusi dan stok daging impor. Kemudian pada 26 November 2024, Kementan mewajibkan importir menandatangani surat pernyataan bermaterai yang berisi tiga poin penting, yaitu pelaporan stok secara berkala, larangan distribusi daging impor ke pelaku UMKM, dan komitmen menjaga pasar lokal.

Pada pertemuan dengan importir di Malang, Jawa Timur, 10 Desember 2024, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH), Agung Suganda, menegaskan pentingnya kolaborasi antara peternak dan importir. Ia meminta importir melaporkan stok secara transparan dan menyerap daging kambing serta domba lokal sesuai kebutuhan pasar.

Pertemuan lanjutan di Kantor Kementan pada 20 Desember 2024, HPDKI meminta proses penyesuaian harga dilakukan secara business-to-business (B2B) antara peternak dan importir. Asosiasi ini juga mendesak pemerintah tak memberikan izin impor baru untuk memastikan pasar lokal tetap terlindungi.

Ketua HPDKI, Yudi Guntara, mengusulkan agar importir menyerap 3.000 ekor kambing dan domba lokal dengan spesifikasi tertentu, yaitu karkas beku dari rumah pemotongan hewan (RPH) bersertifikasi Nomor Kontrol Veteriner (NKV) dan halal.

“Kami ingin memperkuat posisi peternak lokal dan mendorong pertumbuhan industri domba serta kambing nasional,” ujar Yudi.

Asosiasi importir (APPHI, APPDI, dan ADDI) mengharapkan Kementan mendorong kepada para importir agar mendukung penyerapan daging lokal mulai Januari 2025. Harga jual akan disesuaikan secara B2B antara peternak dan importir.

Kementan juga mempercepat harmonisasi regulasi mulai 7 Januari 2025, guna membuka kembali ekspor domba dan kambing ke Malaysia dan Brunei. Langkah ini diharapkan menyerap surplus produksi lokal sekaligus memperluas pasar internasional.

“Jika produk dalam negeri mencukupi, tidak ada alasan untuk mengimpor. Pemerintah mendukung penuh upaya meningkatkan serapan lokal dan mendorong ekspor untuk mewujudkan kemandirian pangan,” ujar Agung.

Sementara Inspektur IV Kementan, Pujo Harmadi, menyatakan bahwa semua kebijakan akan dievaluasi secara berkala. Dengan berbagai langkah tersebut, pemerintah optimistis memperkuat ketahanan pangan berbasis domba dan kambing lokal. Sinergi antara pemerintah, asosiasi, dan importir diyakini mampu mengurangi impor serta meningkatkan daya saing subsektor peternakan nasional. (INF)

DINAS PETERNAKAN DAN PERIKANAN KABUPATEN BOJONEGORO SERAHKAN BANTUAN DOMBA

Serah Terima Bantuan Domba Kepada Peternak
(Foto : Istimewa)



Pembinaan dan Serah terima ternak domba,dalam program Domba Kesejahteraan tahun 2024 oleh Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bojonegoro berlangsung di pendopo Desa Kesongo kecamatan Kedungadem Bojonegoro Jawa Timur Senin (16/12/2024).

Acara tersebut di hadiri Sekretaris Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bojonegoro Wiwik Sulistyo, camat Kedungadem Bayudono Margajelita,kades desa Kesongo Kusnadi dan 97 orang penerima bantuan domba dari 6 desa di wilayah kecamatan Kedungadem dan kecamatan Sumberejo.

Sekdin Peternakan dan Perikanan Kab Bojonegoro Wiwik Sulistyo mengatakan, pada kesempatan dilakukan pembinaan dan serah terima ternak domba kesejahteraan tahun 2024.Masing masing penerima mendapatkan bantuan sepasang domba, pakan dan obat – obatan.

Lebih lanjut ia menjelaskan, dalam melaksanakan program ini, penerima agar dapat meningkatkan kemampuan dalam mengelola dan memanfaatkan ternak domba.

Sementara Camat Kedungadem Bayudono Margajelita dalam sambutannya mengatakan, Pada prinsipnya ia yakin masyarakat sudah mempunyai pengetahuan dasar tehnik beternak yang baik dan benar.

" peternak bisa meningkatkan kesejahteraan ekonomi keluarga sepanjang ada upaya, niat dan kemauan, pembelajaran peternak yang baik dan benar ” Ucapnya.

Dalam kesempatan tersebut kepala Desa Kesongo Kusnadi mengungkapkan, Kami mewakili wargai Desa Kesongo dan 6 desa lainnya mengucapkan terimakasih kepada Dinas Peternakan dan Perikanan yang telah memberikan bantuan kepada masyarakat.

"Insya Allah warga kami alhamdulillah sudah terbiasa dengan beternak. Harapan kami semoga tahun depan ada bantuan domba kesejahteraan kepada warga yang lain.” jelasnya.

Parsilan warga Dusun Gagan RT.009 RW. 004 Ds. Kesongo salah satu penerima mengucapkan rasa syukur dan terimakasih kepada Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bojonegoro yang telah memberikan bantuan domba beserta pakan dan obat-obatan obatan.

"Sekali lagi saya ucapkan banyak terima kasih kepada pemerintah kabupaten Bojonegoro melalui dinas peternakan dan perikanan, semoga bantuan yang diberikan ini dapat membawa kesejahteraan ” tandasnya. (INF)



BONTANG SIAP JADI PUSAT PETERNAKAN DOMBA DI KALTIM

Domba, Ternak Ruminansia yang Digemari Masyarakat Indonesia
(Foto : Istimewa)


Kota Bontang, Kalimantan Timur, kini memiliki peluang besar untuk menjadi pusat pengembangan peternakan  domba di wilayah tersebut. Dengan akses lokasi yang mudah, infrastruktur yang mendukung, serta potensi lahan di kawasan Kelurahan Telihan dan Bontang Lestari, Bontang memiliki keunggulan strategis yang dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Namun, pengembangan sektor ini juga menghadapi sejumlah tantangan, seperti keterbatasan teknologi, kualitas tanah yang kurang mendukung, dan persaingan dengan daging impor.

Hal ini terungkap di kegiatan Ekspos Dokumen Laporan Akhir Final Kajian Analisis Risiko dan Kelayakan Pengembangan Usaha Peternakan  Domba yang digelar di Kantor Bapperida Bontang, Selasa (19/11/2024).

Kepala Bapperida Bontang, Amirudin menyampaikan pentingnya pengembangan peternakan domba sebagai langkah strategis untuk mendukung diversifikasi ekonomi Kota Bontang.

“Sebagai kota dengan lahan yang terbatas dan sebagian besar digunakan oleh industri besar seperti PT Pupuk Kaltim dan PT Badak, kita perlu pendekatan inovatif. Peternakan domba menjadi salah satu alternatif yang kami kaji serius melalui analisis risiko ini,” beber Amirudin dalam rilisnya.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat untuk memastikan pengembangan sektor ini dapat berjalan secara berkelanjutan.

Soal, pentingnya inovasi dan pengelolaan yang baik dalam mendukung pengembangan sektor peternakan domba juga jadi sorotan. Sektor ini tidak hanya menjanjikan secara ekonomi tetapi juga menjadi bagian dari upaya swasembada pangan, khususnya daging domba.

“Pengelolaan yang baik dan strategi untuk menarik minat generasi muda adalah kunci agar sektor ini berkembang pesat,” tambah dia.

Serupa, Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Bontang, Lukman menambahkan pengembangan sektor peternakan domba tidak hanya menjadi peluang ekonomi tetapi juga bagian dari transformasi ekonomi daerah.

Dia menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia serta integrasi teknologi digital untuk mempercepat promosi dan distribusi hasil peternakan.

“Teknologi digital memungkinkan pelaku usaha memasarkan produk lebih luas dan cepat. Dengan perpindahan ibu kota negara ke Kaltim, Bontang harus memanfaatkan peluang ini untuk mengurangi ketergantungan pada impor dan memenuhi kebutuhan lokal secara mandiri,” jelas Lukman.

Sementara, Ari Wibowo, Ph.D., ahli pengolahan produk peternakan dari Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda memaparkan hasil kajian yang menunjukkan bahwa usaha peternakan domba di Bontang dapat menghasilkan penerimaan hingga Rp507 juta per tahun, dengan keuntungan bersih Rp79 juta per tahun. Meski memiliki payback period selama 11,18 tahun, strategi jangka panjang yang matang dapat membuat usaha ini sangat menjanjikan.

Dia menekankan pentingnya pengelolaan risiko, seperti biosekuriti, pengendalian penyakit, dan optimalisasi sumber daya. Ia merekomendasikan konsep clustering farming untuk meningkatkan efisiensi produksi dan menjaga keberlanjutan lingkungan.

“Penggunaan teknologi berbasis Internet of Things (IoT) dan persilangan domba Dorper dengan betina lokal juga menjadi langkah konkret untuk meningkatkan produktivitas,” tambahnya.

Rekomendasi lainnya mencakup pembentukan pusat pembibitan, rumah potong hewan khusus domba, serta pelatihan manajemen biosekuriti untuk peternak. Langkah-langkah ini diharapkan dapat mendukung kemandirian pangan lokal dan meningkatkan daya saing produk di pasar internasional.

Dengan potensi besar yang dimiliki, Kota Bontang dapat menjadi pionir dalam pengembangan peternakan domba di Kaltim. Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat menjadi kunci utama untuk mengatasi tantangan serta menjadikan sektor ini sebagai motor penggerak ekonomi baru di kota ini.

Pengembangan peternakan domba tidak hanya membuka peluang bisnis yang menguntungkan tetapi juga menjadi langkah strategis dalam mendukung transformasi ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, Bontang berpeluang besar menjadi pusat swasembada daging  domba sekaligus memperkuat ekonomi lokal. (INF)

PETERNAKAN DOMBA MODERN ALA PESANTREN INSAN KAMIL

Penandatanganan MoU perihal investasi antara Pesantren Insan Kamil dengan PT Digital Syariah Technology dan Sharia Digital Technologies FZ LLC-Dubai GreenX.
(Foto : Antara)


Pondok Pesantren Insan Kamil Trayang, Ngronggot, Kabupaten Nganjuk resmi meluncurkan Start Up Pengembangan Ekonomi Masyarakat Klaster Peternakan Domba modern yang diberi nama 'Dombastis' pada Ahad (22/09/2024) sore.

Pengasuh Pesantren Insan Kamil, Gus Kamal Musthofa menjelaskan program tersebut merupakan salah satu pengembangan ekonomi masyarakat bersama beberapa mitra di antaranya Bank Jatim, PT Digital Syariah Technology dan Jama'ah Ternak Lembaga Perkonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Nganjuk. 


Tujuan utama dari di rintisnya Dombastis adalah pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat Kabupaten Nganjuk untuk peningkatan inklusi keuangan syariah, serta fasilitasi keuangan mikro dan usaha bagi masyarakat.


"Pesantren Insan Kamil berkomitmen untuk dapat membangun perekonomian umat yang tumbuh dan berkesinambungan bersama Bank Jatim serta mampu memberikan dampak ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat sekitarnya,” ungkap alumnus Pascasarjana Universitas Pangeran Diponegoro Nganjuk.


Dijelaskan Gus Kamal, pihak pesantren memilih peternakan domba sebab mencontoh Nabi Muhammad SAW. Dombastis memadukan konsep perbaikan genetik, gembala moderen dan pemanfaatan limbah kandang untuk pertanian.


"Hingga kini total populasi domba di peternakan dombastis ialah 423 ekor," jelas Gus Kamal.

 

Dirinya menjelaskan terdapat dua model bisnis Dombatis. Pertama, Dombastis membangun kandang jamaah menitipkan domba dan bergiliran merawat. Setiap anggota menitipkan maksimal 20 ekor domba dan fase bisnisnya berupa produksi domba bunting dan anak domba, biayanya dari keuangan yayasan dan investor.


Kedua, kandang dibuat di tempat jama’ah atau mitra. Domba bunting dipasok dari Dombastis dan jamaah merawat serta  membesarkan anak domba hingga umur 4 bulan kemudian anakan tersebut akan dibeli Dombastis.

 

"Indukannya impor dan ada sertifikatnya yaitu jenis Dorper Australia. Sementara betinanya Cross Texel," paparnya.


Gus Kamal melanjutkan, terdapat beberapa kriteria menjadi juragan domba mitra Dombastis yakni alumnus atau utusan pesantren, warga Nganjuk, serius ingin beternak domba, belum pernah kredit bank, punya lahan untuk kambing dan siap mengikuti bimtek selama 3 bulan.

 

“Apabila berminat silahkan menghubungi nomor 087787502950,” pungkasnya.

 

Di akhir sesi, Pondok Pesantren Insan Kamil menandatangani Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) perihal investasi dengan PT Digital Syariah Technology dan Sharia Digital Technologies FZ LLC-Dubai GreenX.

 

Penandatanganan MoU dilakukan oleh Pengasuh Pesantren Insan Kamil Gus Kamal Musthofa, Direktur PT Digital Syariah Technology Hambali dan CEO Sharia Digital Technologies Mr. Khalifa Al Jaziri AlShehhi.

 

Agenda ini dihadiri pula oleh Pj Gubernur Jawa Timur yang diwakili Kepala Dinas PMD Provinsi Jatim Budi Sarwoto, Pj Bupati Nganjuk yang diwakili Moh Yasin, Rais PCNU Nganjuk KH Ali Musthofa Said, Ketua PCNU Nganjuk KH Hasyim Afandi dan tamu undangan lainnya. (INF)


MENGENAL DAMPAK PREGNANCY TOXAEMIA PADA DOMBA DAN KAMBING

Induk bunting harus mengonsumsi nutrisi yang cukup untuk menjaga metabolisme tubuh serta untuk menjamin perkembangan janin. (Foto: Dok. Joko)

Peternakan kambing memiliki peran penting dalam perekonomian peternak Indonesia untuk diambil daging, susu, dan breeding. Kendala penyakit dan kematian kambing-domba semakin hari semakin menunjukan tanda dan gejala bervariasi, yang terkadang belum ditemukan secara pasti penyebabnya.

Kondisi ini menimbulkan dampak kerugian ekonomi terhadap usaha peternakan di masyarakat. Kematian misterius ini banyak terjadi pada semua fase, yaitu fase cempe, fase bunting, fase laktasi, ataupun fase produksi daging.

Penyakit-penyakit misterius diduga terkait dengan agen infeksius, penyakit metabolik, penyakit yang muncul akibat perubahan kondisi lingkungan dan perubahan pakan yang ekstrem, hingga keseimbangan energi yang negatif. Semua faktor tersebut harus diamati dan didalami dengan cermat agar kejadiannya tidak selalu berulang setiap musim.

Kebuntingan merupakan harapan dan investasi pada peternakan. Induk bunting harus mengonsumsi nutrisi yang cukup untuk menjaga metabolisme tubuh serta untuk menjamin perkembangan janin. Kebutuhan asupan bahan kering harus diperhatikan mengingat selain untuk kebutuhan hidup utama induk, kebutuhan untuk laktasi hingga kebutuhan untuk perkembangan janin single, double, hingga triple, dan seterusnya.

Dukungan nutrisi sangat penting selama masa kebuntingan untuk menjaga kebuntingan yang sehat. Pada akhir kebuntingan, kebutuhan energi domba betina yang mengandung anak kembar dan kembar tiga masing-masing meningkat sebesar 180% dan 240%. Kesehatan induk dan janin bergantung pada asupan vitamin dan mineral yang cukup.

Asupan bahan kering untuk indukan bervariasi antara 4-6%/kg berat badan induk. Kebutuhan energi dihitung dari berat badan induk ditambah dengan asumsi berat badan cempe ketika lahir, umur kebuntingan, serta jumlah cempe yang akan dilahirkan pada periode kebuntingan tersebut.

Sebagai contoh induk dengan berat 50 kg yang diperiksa dengan ultrasonografi (USG) memiliki tiga ekor cempe yang akan dilahirkan, dengan prediksi kelahiran 3 kg, maka mulai usia kebuntingan 91-100 hari hingga kelahiran membutuhkan energi tambahan 0.6-7.6 kg/induk/hari. Tambahan energi pada umur kebuntingan, berat, dan jumlah cempe yang dilahirkan tersaji dalam tabel berikut: Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juli 2024.

Ditulis oleh:
Drh Joko Susilo MSc
Wartawan Infovet daerah Lampung
Mahasiswa Doktoral Sain Veteriner UGM

HARGA DAGING DOMBA ANJLOK, AUSTRALIA ALAMI OVER SUPPLY

Domba, Salah Satu Komoditi Ternak Unggulan Australia

Melimpahnya daging domba di Australia membuat harga daging anjlok. Beberapa peternak memusnahkan atau menyumbangkan domba mereka untuk menghemat biaya perawatan. Meat and Livestock Australia (MLA) melaporkan, harga daging kambing telah merosot 70 persen dalam setahun terakhir menjadi 1,23 dollar AS per kg.

Harga tersebut setara Rp 19.154 dalam kurs Rp 15.572 per dollar AS. Analis pasokan global MLA Tim Jackson mengatakan, Asutralia mengalami beberapa musim yang sangat baik dalam beberapa tahun terakhir.

"Berarti kawanan domba telah mencapai 78,75 juta ekor, terbesar sejak 2007," ujar dia dikutip dari CNBC, Kamis (23/11/2023). 

Ia menjelaskan, faktor pendorong pertumbuhan kawanan domba dalam jumlah besar adalah curah hujan di atas rata-rata selama tiga tahun di wilayah domba Australia, seperti New South Wales dan Victoria. Curah hujan sangat ideal untuk menanam rumput, sehingga kondusif untuk memberi makan dan membiakkan ternak.

Statistik MLA menunjukkan, kawanan domba Australia diperkirakan akan meningkat sebesar 23 persen dari angka terendah dalam 100 tahun pada 2020. Akibatnya, kelebihan pasokan domba menyebabkan harga ternak menjadi lebih rendah. Hal ini membuat peternak menelan kerugian. Padahal harga daging kambing sempat mencetak rekor tiga tahun lalu.

Penurunan harga daging domba ini merupakan pukulan ganda bagi para peternak. Pasalnya, peternak kini harus memberi makan ternak dalam jumlah besar lebih lama. Di sisi lain, salah satu orang dari jaringan supermarket Australia Woolworths Group McGuire mengatakan, harga yang anjlok belum berdampak ke tingkat eceran. Pihaknya sendiri menyebut akan memangkas harga produk daging domba hingga 20 persen. (INF)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer