-->

KETUA UMUM PDHI JATIM II DAN KEPALA BRIN SEPAKAT USUNG ONE HEALTH

Ketum PDHI Jatim II Bersama Dengan Kepala BRIN
(Foto : Istimewa)


Jakarta, 5 Agustus 2026 – Dokter Hewan Deddy Fachruddin Kurniawan, M.Vet. melakukan pertemuan strategis bersama Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., di Gedung B.J. Habibie, komplek kantor pusat BRIN di Kawasan Thamrin, Jakarta Pusat.

Pertemuan tersebut membahas masa depan profesi dokter hewan Indonesia dalam menghadapi tantangan global, khususnya terkait One Health, ketahanan pangan (food security),  perkembangan teknologi, serta kebutuhan adaptasi pendidikan dokter hewan terhadap perubahan zaman.

Dalam diskusi tersebut, Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si. menyampaikan apresiasi terhadap dokter hewan yang terus berupaya memberikan kontribusi dalam isu-isu strategis nasional, terutama dalam mendukung ketahanan pangan dan kesehatan yang terintegrasi.

Menurutnya, tantangan masa depan membutuhkan kolaborasi lintas disiplin, terutama dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat. Semua hal tersebut perlu dikolaborasikan dengan isu teknologi, di mana sekarang artificial intelligence (AI) dan robotik medis sudah mulai berkembang. "Kini saatnya bagaimana dokter hewan mampu merespons isu-isu tersebut sehingga kurikulum pendidikan dapat diformulasikan untuk menjawab tantangan tersebut,” lanjutnya.

Prof. Arif menekankan bahwa profesi dokter hewan ke depan harus memiliki kompetensi yang kuat, terbuka terhadap kolaborasi, serta mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. isu ONE HEALTH yang telah menjadi pusat perbicangan dan melibatkan kesehatan manusia, kesehatan hewan dan kesehatan lingkungan harus menjadi perhatian serius.

Dokter Hewan dan Era Baru Inovasi Teknologi

Dalam kesempatan yang sama, Ketua PDHI Jawa Timur, Drh. Deddy Fachruddin Kurniawan, M.Vet., menyampaikan bahwa profesi dokter hewan memiliki peluang besar untuk mengambil peran strategis dalam pembangunan nasional melalui pendekatan ilmu pengetahuan dan inovasi.

Sebagai dokter hewan dengan kepakaran di bidang genomik, Drh. Deddy Fachruddin Kurniawan, M.Vet. melihat bahwa perkembangan teknologi dapat menjadi salah satu instrumen penting dalam memperkuat sektor kesehatan hewan, peternakan, konservasi, dan ketahanan pangan.

Pemanfaatan teknologi genomik, kecerdasan buatan, dan pendekatan berbasis data dapat membuka peluang baru dalam, peningkatan produktivitas ternak, pengendalian penyakit hewan, pengembangan kesehatan hewan presisi, konservasi keanekaragaman hayati, serta pembangunan sistem pangan yang berkelanjutan.

Kedua tokoh ini bersepakat untuk bersama membangun kolaborasi strategis dalam mengusung isu ONE HEALTH kedepan. (INF)

Satu Profesi

Beragam Kontribusi Pengabdian

Satu Tujuan

PDHI sebagai rumah besar ragam profesi dokter hewan indonesia. 

KOLABORASI SEMINAR AKSELERASI SISKA GUNA PERKUAT KETAHANAN PANGAN NASIONAL

Foto bersama dalam seminar percepatan SISKA yang digelar di BRIN Cibinong. (Foto-foto: Infovet/Ridwan)

Dalam upaya memperkuat kemandirian pangan, khususnya di sektor persapian, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama PT WAKENI menyelenggarakan seminar bertajuk "Percepatan SISKA (Sistem Integrasi Sapi dan Kelapa Sawit) untuk Ketahanan Pangan Nasional", yang berlangsung pada Selasa (14/4/2026), di Gedung Kelas Baru (Edelweis), Kawasan Sains dan Teknologi (KST) BRIN Cibinong.

Kegiatan strategis ini mendapat dukungan penuh dari Gabungan Pelaku dan Pemerhati Sistem Integrasi Sapi Kelapa Sawit (GAPENSISKA), Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI), serta Majalah Infovet sebagai mitra media. Seminar ini juga merupakan bagian dari rencana penyelenggaraan pameran Agrimat dan Agrilivestock 2026.

Dalam sambutannya, Kepala Pusat Riset Peternakan BRIN, Susanto, menegaskan bahwa seminar ini menjadi ruang strategis untuk merumuskan langkah nyata implementasi SISKA di tingkat nasional.

"BRIN berkomitmen untuk tidak hanya fokus pada penelitian saja. Kami percaya bahwa kolaborasi adalah kunci. SISKA merupakan salah satu strategi utama yang harus diimplementasikan secara cepat demi pembangunan peternakan nasional," ujarnya.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari, saat membuka acara secara resmi menyampaikan bahwa tema integrasi ini sangat relevan dengan program nasional yang telah lama berjalan dan terus ditingkatkan.

"Program SISKA ini tidak hanya berdampak bagi petani atau peternak saja, tetapi juga peningkatan ekonomi masyarakat luas melalui simbiosis mutualisme yang mendukung keberlanjutan usaha pertanian dan peternakan. Kami sangat mendukung penuh komitmen tersebut," ujarnya.

Sesi seminar. Dari kiri: Windu Negara (moderator), Prof Budi Tangendjaja, Bess Tiesnamurti, Tri Melasari, dan Jarot Indarto.

Dalam sesi seminar yang dimoderatori oleh Windu Negara, salah satu perekayasa BRIN, menghadirkan beberapa narasumber yang ahli di bidangnya. Direktur Pangan dan Pertanian Kementerian PPN/Bappenas, Jarot Indarto, menekankan pentingnya kolaborasi dan pengembangan skema bagi peternak skala kecil agar program SISKA memiliki signifikansi nyata.

Sementara dari sisi regulasi dan populasi, Direktur Pakan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Tri Melasari, memaparkan strategi percepatan populasi sapi nasional melalui integrasi sapi di lahan sawit. Di sisi lain, Direktur PT SISKA Ranch, Wahyu Darsono, yang hadir secara daring, mengusulkan model ko-investasi Business to Business (B2B) serta transformasi kebijakan FPKMS-NOP (Fasilitasi Pembangunan Kebun Masyarakat Sekitar) sebagai pilar pendukung ketahanan pangan.

Adapun Peneliti Ahli Utama Kelompok Riset Sistem Integrasi Ternak Berbasis Lahan BRIN, Bess Tiesnamurti, menggarisbawahi peran krusial riset dan inovasi teknologi dalam mempercepat implementasi program SISKA.

Menutup sesi pemaparan, Ketua Dewan Pakar ASOHI sekaligus konsultan pakan, Prof Budi Tangendjaja, memberikan catatan teknis mendalam mengenai kebutuhan nutrisi ternak dalam program sapi kelapa sawit. Menurutnya, keberhasilan SISKA sangat bergantung pada ketersediaan hijauan dan manajemen lahan.

Ia juga menilai bahwa produksi sapi tidak akan maksimal jika hanya mengandalkan limbah sawit dan rumput di sekitar lahan. Diperlukan nutrisi presisi dengan keseimbangan gizi yang baik, sehingga membutuhkan bahan tambahan dari luar seperti onggok, premiks mineral, dan vitamin agar kebutuhan ransum harian terpenuhi secara seimbang.

"Intinya harus bisa membuat ransum sapi ini dengan seimbang, tidak bisa hanya mengandalkan apa yang ada di lahan sawit saja (limbah sawit dan rumput). Oleh karena itu, harus kita gali lebih dalam lagi kebutuhan ransum pakan untuk sapi di lahan sawit ini," tukasnya.

Namun demikian, diharapkan melalui seminar ini terjadi sinkronisasi antara pemerintah, peneliti, dan pelaku usaha dalam mewujudkan akselerasi integrasi sapi-sawit yang berkelanjutan di Indonesia. (RBS)

JANGAN LEWATKAN SEMINAR NASIONAL PERCEPATAN INTEGRASI SAPI-SAWIT



Indonesia punya 16 juta hektare perkebunan kelapa sawit, tapi masih impor daging sapi. Padahal ada solusi sederhana: Sistem Integrasi Sapi-Kelapa Sawit (SISKA).

Fakta Kelapa Sawit Indonesia: Indonesia adalah produsen kelap sawit terbesar dunia. Total luas perkebunan sawit mencapai sekitar ±16,8 juta hektare. Kebun sawit tersebar di 26 provinsi di Indonesia. Artinya ada jutaan hektare lahan yang bisa dimanfaatkan untuk ternak sapi.

Fakta Populasi Sapi: Populasi sapi potong Indonesia sekitar 13,5 juta ekor (2025). Jumlah ini masih jauh dari kebutuhan nasional. Akibatnya Indonesia masih impor daging sapi setiap tahun.

Padahal potensinya luar biasa. Di perkebunan sawit tersedia rumput alami, limbah pelepah sawit, lahan terbuka, yang bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak sapi.

Dalam sistem integrasi sapi-sawit (SISKA), sapi memakan rumput di bawah sawit, kotoran sapi menjadi pupuk organik, gulma kebun berkurang. Hasilnya sawit tetap produktif dan sapi juga berkembang.

Bayangkan jika hanya 10% dari 16 juta ha sawit dimanfaatkan untuk SISKA. Sekitar 1,6 juta hektare lahan tersedia. Dengan kepadatan rendah saja 1-2 ekor sapi per hektare, Indonesia bisa menambah 2-3 juta ekor sapi. Ini menjadi langkah besar menuju swasembada daging sapi.

Untuk membahas peluang besar ini, Pusat Riset Peternakan BRIN bersama WAKENI dan GAPENSISKA, serta Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) dan didukung Majalah Infovet, mengundang Anda dalam Seminar Nasional "Percepatan Integrasi Sapi-Sawit (SISKA) untuk Mendukung Ketahanan Pangan Nasional."

Diselenggarakan pada:
Hari: Selasa, 14 April 2026
Pukul: 08:30-13:00 WIB
Tempat: Gedung PUSBINDIKLAT BRIN, Cibinong-Bogor

Menghadirkan narasumber:
- Ditjen PKH
Bappenas
Praktisi SISKA
Peneliti BRIN
- Dewan Pakar ASOHI

Daftarkan sekarang: https://bit.ly/seminar_sapi

KAPASITAS TERBATAS

Peserta mendapat:
- Snack
- Lunch
- E-sertifikat
- Ilmu yang bermanfaat

INOVASI DAN DIGITALISASI KUNCI DAYA SAING INDUSTRI PETERNAKAN

Peserta Seminar dalam PLI Forum 2025. (Foto: Infovet-DS)

Jakarta, 28 November 2025 – Seminar bertajuk “Inovasi dan Digitalisasi untuk Daya Saing Industri Peternakan Indonesia” yang digelar dalam rangkaian Poultry & Livestock Innovation (PLI) Forum 2025 di JIEXPO Kemayoran berhasil menghadirkan pembahasan menarik seputar arah dan strategi pengembangan sektor peternakan nasional.

Acara yang berlangsung dari pukul 08.30 hingga 11.30 WIB ini menghadirkan sejumlah narasumber ahli dari institusi dan organisasi terkemuka, yakni Dr. Dipl.-Ing. Mulyadi Sinung Harjono, M.T., dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dedi Setiadi dari Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI), serta Ir. H Sugeng Wahyudi, Sekretaris Jenderal Garda Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN).

Sesi tanya jawab menjadi momen paling menyita perhatian ketika drh Rakhmat Nuriyanto mengangkat pentingnya pengembangan obat herbal yang hingga kini masih minim di Indonesia. Ia menekankan perlunya peran BRIN dalam melakukan riset mendalam, pengembangan, serta menjalin kerja sama dengan industri terkait agar inovasi herbal bisa lebih berkembang. Menanggapi hal tersebut, Dr. Sinung menegaskan bahwa pengembangan obat herbal memang memerlukan waktu sekitar dua hingga tiga tahun. Meski industri kerap merasa prosesnya panjang, banyak hasil riset BRIN yang lain sudah sukses ditindaklanjuti menjadi produk yang siap masuk pasar.

Ir Bambang Suharno (di Podium) moderator dalam Seminar PLI Forum 2025. Dari ki-ka: Ir Sugeng Wahyudi, DR Sinung Harjono dan Dedi Setiadi (Foto: Infovet-DS)

Topik perubahan iklim dan mitigasi gas rumah kaca juga tak luput dari pembahasan. Dedi Setiadi memaparkan konsep “jual beli karbon” yang kini tengah diteliti sebagai solusi pemanfaatan limbah ternak. Ia menjelaskan setiap ekor sapi dapat menghasilkan 8–12 kg gas metana yang jika diolah menjadi energi bio gas, dapat menjadi sumber energi alternatif. “Rumah saya sudah sepenuhnya menggunakan bio gas yang berasal dari kotoran sapi,” ujar Dedi, memberi contoh nyata pemanfaatan limbah ternak untuk energi bersih.

Sebagai moderator, Ir. Bambang Suharno-Direktur Gallus sekaligus Pimpinan Redaksi Infovet—menekankan pentingnya kolaborasi antara lembaga riset seperti BRIN dan stakeholder industri. Ia mendorong adanya forum khusus untuk menindaklanjuti sinergi agar banyak inovasi dapat lebih cepat diaplikasikan dan berdampak pada perkembangan industri.

Sementara itu, Sugeng Wahyudi yang mewakili GOPAN, menggarisbawahi pesatnya perkembangan industri peternakan ayam broiler/pedaging selama 25 tahun terakhir. Menurutnya, kemajuan ini tidak lepas dari hasil riset, penerapan teknologi dan digitalisasi inovatif yang menyentuh seluruh mata rantai, dari hulu hingga hilir aspek produksi unggas khususnya ayam pedaging.

Seminar dalam PLI Forum 2025 yang mencerahkan ini menjadi salah satu wahana penting bagi sektor peternakan Indonesia yang akan terus dinantikan pelaku industri dalam menggali inovasi, memacu digitalisasi, serta memperkuat daya saing, khususnya dalam menghadapi tantangan pasar dan isu lingkungan global. Acara terselenggara atas kerjasama PT Songolas Event dan PT Gallus Indonesia Utama (GALLUS) dengan Majalah Infovet sebagai Official Media Partner sekaligus mitra penyelenggara dan event ini sepenuhnya dihelat gratis, memberi kesempatan luas bagi pelaku industri dan akademisi untuk terus ikut berkontribusi pada kemajuan peternakan nasional.*(DS)

DAFTAR SEKARANG! SEMINAR SEPUTAR SAPI PERAH, TINGKATKAN GIZI MASYARAKAT


Kegiatan ini kolaborasi antara Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta didukung oleh Majalah Infovet, bertajuk “Akselerasi Usaha Sapi Perah, Tingkatkan Gizi Masyarakat”.

Kegiatan ini sangat cocok diikuti oleh para peternak sapi, akademisi/peneliti, pelaku usaha, konsultan, dan pemerintah, untuk menambah wawasan persapiperahan Tanah Air.

Catat tanggal dan waktunya:
• Senin, 29 September 2025

• Pukul 09:00-13:00 WIB (Hybrid)
Offline: Innovation Convention Center (ICC) BRIN, Cibinong, Bogor
Online: Zoom

Pembicara:
Keynote Speaker: Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Dr Drh Agung Suganda MSc

• Prof Budi Tangendjaja: Pengembangan Usaha Sapi Perah Berkelanjutan melalui Optimalisasi Pakan

• Dr Drh Kurnia Achyadi MS: Manajemen Kesehatan Reproduksi Sapi Perah Pasca Out Break Penyakit Mulut dan Kuku

• Dadang Suryana (Direktur PT Sumber Citarasa Alam): Kiat Sukses Pengembangan Usaha Sapi Perah Hulu Hilir

• Dr. Santiananda Arta Asmarasari Spt MSi (Peneliti BRIN): Pemanfaatan Teknologi Seleksi Berbasis Marka Molekuler untuk Perbaikan Genetik Sapi Perah

Investasi: FREE
Offline: 100 orang
Zoom: 500 orang

Kesempatan terbatas, daftar sekarang!
https://bit.ly/SeminarSAPI_ASOHI

Informasi lebih lanjut, hubungi:
0877-7829-6375 (Mariyam)

Scan barcode di sudut kiri bawah flyer 

WEBINAR RISNOV TERNAK #7: KINERJA INDUSTRI PERUNGGASAN 2024 DAN STRATEGI INOVASI KE DEPAN

Webinar Risnov Ternak #7. (Foto: Dok. Infovet)

Kamis (19/12/2024), Webinar Risnov Ternak kembali diselenggarakan atas kerja sama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Infovet. Pada kesempatan ini, webinar mengupas bagaimana kinerja industri perunggasan 2024 dan strategi inovasinya ke depan.

“Tahun 2024 menjadi tahun yang penuh tantangan bagi sektor peternakan, khususnya perunggasan. Situasi stagnasi ekonomi di sektor ini ditandai dengan produksi pakan dan pasar obat hewan yang relatif tidak mengalami peningkatan, serta kebijakan pengendalian produksi akibat oversupply masih berlangsung,” ujar Pemimpin Redaksi Majalah Infovet, Ir Bambang Suharno, dalam sambutannya.

Beragam tantangan seperti oversupply, supply-demand yang tidak seimbang, gejolak harga live bird, pakan, dan lain sebagainya masih mendera sub sektor perunggasan, padahal industri tersebut memberikan kontribusi cukup besar terhadap ketahanan pangan di Indonesia.

Pusat Riset Ekonomi Perilaku dan Sirkular BRIN, Prof Dr Nyak Ilham, mengemukakan akar masalah dari oversupply ini karena adanya over estimasi konsumsi yang membuat impor GPS berlebih sehingga menyebabkan banyaknya telur tetas yang diproduksi. Dari sisi pakan, penggunaan bahan pakan impor akibat tidak stabilnya ketersediaan jagung lokal serta belum maksimalnya pemanfaatan sumber bahan pakan alternatif menjadi suatu keniscayaan.

Oleh karena itu lanjut Nyak Ilham, diperlukan beberapa rekomendasi, di antaranya riset bahan pakan lokal dengan harga murah, perhitungan kebutuhan GPS secara transparan, perlunya kebijakan mendukung daya saing melibatkan peternak kemitraan, peralihan kandang dari sistem open ke closed house, hingga meningkatkan peran Wastukan dan Wasbinak.

Pada kesempatan yang sama, Research Analyst Danareksa Sekuritas, Pengamat Perusahaan Publik Peternakan, Victor Stefano, juga membeberkan kondisi di 2024 yang masih terjadi beberapa gejolak dari sisi harga dan kestabilan pakan.

Walau dilanda gejolak, kinerja emiten perunggasan seperti Charoen Pokphand, Japfa, dan Malindo selama sembilan bulan pertama masih berjalan baik karena pemangkasan mandiri yang dilakukan perusahaan untuk menjaga tingkat profit mereka.

“Untuk di 2025 kita prediksi ada cukup ruang, karena diperkirakan oversupply akan turun karena adanya penurunan kuota GPS sebesar 15%. Kemudian adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga diharapkan dapat mengambil kelebihan supply sehingga terjadi keseimbangan,” katanya.

Hal senada juga disampaikan oleh Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari SP MSi PhD, yang mengharapkan di tahun depan industri perunggasan bisa meminimalisir risiko dari tantangan yang ada dengan lebih baik.

“Tahun depan kita bisa memaksimalkan mitigasi yang lebih baik dalam menghadapi tantangan, kita optimalkan lagi sekaligus memanfaatkan peluang yang ada, salah satunya dari adanya program MBG, dimana kita harus bekerja sama untuk mendukung keberlanjutan usaha dan meningkatkan perekonomian nasional,” katanya. (RBS)

JANGAN LEWATKAN WEBINAR NASIONAL PERUNGGASAN KOLABORASI INFOVET & BRIN


Di tengah bisnis peternakan di 2024 yang stagnan, bagaimana kinerja perusahaan publik perunggasan? Bagaimana pula perkembangan ekonomi perunggasan dan strategi inovasi ke depan? Dan bagaimana arah riset peternakan untuk mendukung daya saing perunggasan?

Untuk menjawab itu semua, ikuti Webinar Nasional “Kinerja Industri Perunggasan 2024 dan Strategi Inovasi ke Depan” yang akan diselenggarakan oleh Majalah Infovet bekerja sama dengan Pusat Riset Peternakan BRIN.

Kegiatan akan diselenggarakan pada:

• Kamis, 19 Desember 2024
• Pukul 10:00-12:00 WIB
• Platform: Zoom

Opening Speech: Puji Lestari, S.P., M.Si., Ph.D. (Kepala Organisasi Riset  Pertanian dan Pangan BRIN).

Narasumber & Topik:
Victor Stefano (Research Analyst Danareksa Sekuritas, Pengamat Perusahaan Publik Peternakan)
Kinerja Perusahaan Publik Peternakan 2024 dan Prediksi 2025

Dr. Drh. Santoso, M.Si (Kepala Pusat Riset Peternakan, BRIN)
Perkembangan dan Penerapan Teknologi serta Arah Riset Peternakan Unggas

Prof. Dr. Nyak Ilham (Pusat Riset Ekonomi Perilaku dan Sirkular BRIN)
Perkembangan Ekonomi Perunggasan Nasional dan Tantangan ke Depan

Perlu diikuti oleh para pelaku bisnis peternakan; CEO/manager/tim marketing perusahaan; investor; akademisi; peneliti; pemerintah; pengamat bisnis, dan lain-lain yang berminat.

Investasi dapat ditransfer ke rek (Bank Mandiri 1260002074119 atau BCA 7330301681 a/n PT Gallus Indonesia Utama atau scan QRIS (bukti pembayaran dapat diemail ke: anothergitastudio@gmail.com

• Umum : Rp 300.000/orang
• Akademisi : Rp. 150.000/orang
• CIVITAS BRIN :  GRATIS
Free E-Certificate

Daftar sekarang! Klik: https://bit.ly/webinar_INFOVET_BRIN
Info: Mariyam (0877-7829-6375)

PENGEMBANGAN TERNAK PERAH UNTUK PENUHI KEBUTUHAN SUSU

Webinar Risnov Ternak #4. (Foto: Dok. Infovet)

“Konsumsi Susu Meningkat, Pengembangan Ternak Perah Terhambat?”, menjadi tema yang diangkat dalam webinar Risnov Ternak #4, Kamis (27/6/2024), yang merupakan kerja sama antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan Majalah Infovet.

“Tema yang diangkat sangat pas sekali dengan fakta di lapangan, dimana tantangan penyakit PMK membuat produksi dan populasi sapi perah menurun, namun permintaan susu kini meningkat sekitar 5 persen pertahun,” ujar Ketua Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI), Dedi Setiadi, yang menjadi pembicara.

Dari data yang ia paparkan, produksi susu pada 2022 (sebelum PMK) mencapai 1.780.000 kg/hari, perlahan menurun menjadi 1.391.000 kg/hari pada 2023, dan 1.219.652 kg/hari pada 2024, berkurang hingga 171.000 kg/hari.

Hal yang sama juga terjadi pada populasi sapi perah, dimana pada 2022 (sebelum PMK) jumlah populasi sebanyak 239.196 ekor, menjadi 226.829 ekor pada 2023, dan turun kembali menjadi 204.741 ekor di 2024, berkurang sebanyak 22.088 ekor.

Selain itu lanjut Dedi, adapun persoalan hijauan pakan ternak (HPT), hingga ketersediaan bibit unggul yang juga masih menjadi tantangan. Dijelaskan dedi dari segi pakan, terjadi kekurangan lahan penanaman HPT, ketersediaan bahan baku yang terbatas, harga bahan baku fluktuatif, sampai persaingan dengan sektor ternak lain.

“Oleh karena itu diperlukan regulasi tentang penggunan lahan Perhutani dan Perkebunan untuk penanaman HPT. Ini sudah sering saya sampaikan. Selain itu, diperlukan bibit rumput unggul dan pengelolaan HPT oleh BUMN bisa menjadi solusi,” paparnya.

Sementara dari segi bibit, terbatasnya ketersediaan bibit sapi perah berkualitas dan masalah pemotongan sapi produktif masih kerap terjadi. “Perbanyak balai pembibitan milik pemerintah dan ketersediaan semen beku bibit unggul. Atau bisa melalui kebijakan impor bibit sapi untuk penambahan populasi sapi perah berkualitas, juga penyelenggaraan kontes ternak agar semakin menggairahkan peternak dalam menghasilkan bibit sapi berkualitas,” ungkap Dedi.

Sebab menurutnya, peluang bisnis peternakan sapi perah masih cukup tinggi. Apalagi kini masyarakat mulai meningkatkan kesadaran minum susu hingga rencana program minum susu gratis dari presiden terpilih.

“Sekitar 16 juta liter susu diperlukan untuk program susu gratis, ini membutuhkan effort yang tinggi dari seluruh stakeholder. Diharapkan ini menjadi perkembangan industri sapi perah yang lebih baik,” tukasnya.

Agar kebutuhan susu secara nasional terpenuhi, BRIN juga menyoroti budi daya pengembangan kambing perah yang dinilai potensial dan lebih murah. “Budi daya kambing perah sangat potensial, karena kemampuannya beradaptasi dengan pakan lokal yang sangat bervariasi,” kata Peneliti dari BRIN, Dwi Yuliastiani. 

Dijelaskan, budi daya kambing tidak hanya mengandalkan HPT, tetapi dengan pakan lokal hasil samping tanaman pangan, buah, umbi, hingga hasil samping perkebunan bisa digunakan. “Harus tetap diperhatikan pemberiannya, karena dengan manajemen pakan yang tepat maka akan didapat produksi dan kualitas susu yang baik,” sebutnya. (RBS)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer