-->

INDONESIA PERKUAT STANDAR KESEHATAN HEWAN DI TENGAH PEMBATASAN IMPOR UNGGAS SAUDI

Daging ayam beku. (Foto: Istimewa)

Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan kebijakan pembatasan impor unggas dan telur oleh Otoritas Pangan dan Obat Arab Saudi (Saudi Food and Drug Authority/SFDA) merupakan langkah sanitari yang bersifat kehati-hatian dan lazim diterapkan dalam perdagangan internasional produk peternakan.

Indonesia saat ini masih termasuk dalam daftar negara yang dikenakan pembatasan impor unggas oleh Arab Saudi. Kebijakan tersebut bukan kebijakan baru, melainkan bagian dari kebijakan sanitari yang telah berlangsung sejak lama dan diperbarui secara berkala mengikuti perkembangan penyakit unggas global, khususnya sejak peningkatan kasus avian influenza (AI) pada pertengahan 2000-an.

Indonesia mulai masuk dalam daftar temporary banned Arab Saudi sejak 2004, seiring merebaknya wabah AI. Kebijakan tersebut merupakan bagian dari mekanisme pengelolaan risiko kesehatan hewan yang bersifat dinamis dan ditinjau berkala oleh otoritas negara tujuan. 

Kementan memandang posisi tersebut sebagai bagian dari proses teknis perdagangan veteriner yang umum terjadi dan tidak secara langsung mencerminkan kondisi terkini sistem kesehatan hewan nasional secara menyeluruh.

Dari sisi ekonomi, dampak kebijakan ini terhadap industri unggas nasional dinilai terbatas karena ekspor produk unggas Indonesia ke Arab Saudi masih relatif kecil, sementara pasar domestik tetap menjadi penopang utama produksi. Namun demikian, pemerintah menjadikan kondisi ini sebagai momentum untuk memperkuat kredibilitas sistem kesehatan hewan dan kesiapan ekspor.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, menegaskan pemerintah menjadikan dinamika pembatasan sanitari sebagai momentum memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan global produk peternakan.

“Penguatan sistem kesehatan hewan adalah fondasi utama kepercayaan pasar internasional. Karena itu, kami memastikan biosekuriti, surveilans penyakit, serta penerapan zonasi dan kompartemen berjalan konsisten sebagai standar nasional,” ujar Agung di Kantor Kementan Jakarta, Rabu (25/2/2026).

Ia menegaskan, pemerintah terus mendorong pembukaan akses pasar melalui diplomasi veteriner dan penguatan hilirisasi. “Pendekatan kami tidak hanya membuka pasar, tetapi memastikan produk peternakan Indonesia hadir dengan standar yang diakui dunia. Produk olahan menjadi jalur strategis sekaligus bukti kesiapan industri nasional,” kata dia.

Indonesia merupakan produsen unggas terbesar di ASEAN dengan populasi sekitar 3,9 miliar ekor, sehingga kapasitas produksi nasional telah melampaui kebutuhan domestik dan membuka peluang ekspor produk unggas dan turunannya. 

Direktur Kesehatan Hewan Kementan, Hendra Wibawa, menegaskan bahwa pembatasan oleh negara mitra merupakan mekanisme reguler dalam perdagangan berbasis sanitari.
“Pembatasan sanitari oleh negara mitra umumnya bersifat berbasis risiko dan menjadi bagian dari mekanisme kehati-hatian. Pemerintah terus memperkuat biosekuriti, surveilans, serta transparansi data penyakit untuk memastikan sistem kesehatan hewan nasional memenuhi standar internasional,” ujar Hendra.

Ia menambahkan, pendekatan zonasi dan kompartemen menjadi instrumen utama dalam proses pembukaan akses pasar. “Melalui penguatan zonasi dan kompartemen, perdagangan dapat dilakukan secara aman berbasis risiko sekaligus mendukung proses dialog teknis dengan negara tujuan,” kata dia.

Sementara itu, Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementan, Makmun, menjelaskan proses akses pasar unggas ke Arab Saudi saat ini masih berada pada tahap negosiasi persyaratan teknis. “Ekspor produk unggas ke Arab Saudi masih dalam tahap negosiasi persyaratan,” ujar Makmun.

Ia menegaskan bahwa produk unggas segar seperti karkas dan telur belum memperoleh persetujuan akses pasar. “Untuk karkas dan telur, atau produk segar dan beku, saat ini belum disetujui,” kata dia.

Namun demikian, Makmun menyampaikan terdapat kemajuan pada produk olahan unggas. “Persyaratan yang sudah disetujui adalah produk olahan ayam yang telah mengalami pemanasan pada suhu yang mampu membunuh virus HPAI (Highly Pathogenic Avian Influenza),” ujarnya.

Sejalan dengan pengecualian sanitari tersebut, Indonesia masih dapat melakukan ekspor produk olahan unggas. Data menunjukkan ekspor produk olahan daging ayam ke Arab Saudi pada 2023 tercatat 19 ton dengan nilai sekitar USD 294.654. Selain itu, ekspor produk berbasis olahan ayam lainnya terus meningkat hingga mencapai lebih dari USD 132 juta pada 2024.

Pada 2025, Indonesia juga telah memperoleh izin ekspor produk unggas heat-treated retort sterilized atau produk sterilisasi komersial seperti semur ayam, opor ayam, dan rendang ayam untuk kebutuhan jemaah haji Indonesia.

Untuk memastikan standar internasional tetap terpenuhi, Kementan terus menjalankan penguatan biosekuriti berlapis di sentra produksi unggas, peningkatan surveilans penyakit, vaksinasi berbasis risiko, serta pengendalian lalu lintas dan produk unggas secara ketat.
Selain itu, sistem sertifikasi kesehatan veteriner diselaraskan dengan standar Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH), termasuk peningkatan ketertelusuran, audit fasilitas, dan verifikasi unit usaha berorientasi ekspor.

Pemerintah menegaskan akan terus membuka komunikasi teknis dengan otoritas Arab Saudi guna memperoleh kejelasan persyaratan, memperkuat kerja sama veteriner, serta menjajaki peluang pemulihan akses pasar secara bertahap, khususnya melalui jalur produk olahan yang telah memenuhi persyaratan sanitari. (INF)

BEBERAPA BENTUK KOLIBASILOSIS

Ilustrasi anak ayam yang terinfeksi omphalitis. (Sumber: Shutterstock.com (kiri) & Diseases and Disorder of the Domestic Fowl and Turkey. CJ. Randall, 1997 (kanan))

Kolibasilosis adalah infeksi bakteri yang disebabkan oleh Escherichia coli (E. coli), yang secara alami hidup di usus unggas (ayam, kalkun, dan bebek).

Meskipun banyak strain E. coli yang tidak berbahaya, beberapa strain patogen dapat menyebabkan infeksi parah ketika masuk ke bagian lain dari tubuh ayam. Infeksi dapat menyebabkan berbagai kondisi seperti kematian, penurunan produksi telur, dan kerugian ekonomi, selain itu juga menyebabkan septikemia (keracunan darah), peritonitis (peradangan pada rongga perut), dan gangguan pernapasan.

Penyakit ini bisa terjadi secara primer atau sekunder, sangat menular, dan dapat menyebar dengan cepat di antara flock, terutama ketika ayam mengalami stres atau hidup dalam kondisi yang tidak bersih, juga dapat lebih parah jika manajemen kandang buruk, ventilasi tidak memadai, dan kualitas air yang jelek. Gejala yang terlihat bila ayam terkena infeksi adalah diare, gangguan pernapasan, penurunan nafsu makan, serta pembengkakan dan peradangan pada organ tubuh.

Kolibasilosis dapat muncul dalam berbagai bentuk, sehingga sulit jika diagnosis hanya berdasarkan gejala klinis. Penyakit ini sering menyerang sistem pernapasan, akan tetapi dapat juga memengaruhi aliran darah, sistem pencernaan, atau organ lainnya.

Penyebab dan Faktor Predisposisi
Bakteri penyebabnya adalah E. coli yang secara alami ada di usus unggas, tetapi bisa menjadi patogen oportunistik saat kekebalan tubuh menurun, terutama terhadap jenis Avian Pathogenic Escherichia Coli (APEC).  Faktor seperti ventilasi buruk, kualitas air minum yang tercemar, kebersihan kandang yang kurang baik, dan tingginya kadar amonia di kandang dapat memicu penyakit.

Kolibasilosis sering muncul setelah unggas terinfeksi penyakit lain/infeksi sekunder, terutama seperti penyakit gumboro, avian influenza, dan newcastle disease. Penularan bisa melalui kontak langsung dengan feses terkontaminasi, kualitas sanitasi tempat penetasan yang buruk, atau secara vertikal melalui telur yang terinfeksi.

Secara garis besar faktor pencetus kejadian penyakit ini adalah berasal dari dalam, yaitu berasal dari DOC atau ayam itu sendiri seperti radang pusar/omphalitis dan stres/dehidrasi karena perjalanan, dan yang berasal dari luar/tata laksana/lingkungan seperti lemahnya biosekuriti, kesalahan fase brooding, dan yang berasal dari udara, air, maupun pakan.

Gejala Klinis Secara Umum
Pada anak ayam terlihat adanya diare, omphalitis, dan tingginya kematian dini. Pada ayam dewasa gejala klinis biasanya diperlihatkan adanya gangguan pernapasan, nafsu makan dan berat badan menurun, diare (feses berair dan berwarna hijau), bulu di sekitar kloaka lengket dan kotor, mata sayu dan meradang, hingga pincang akibat radang sendi (arthritis).

Sedangkan pada ayam petelur terlihat adanya penurunan produksi telur dan penundaan puncak produksi, dan jika menyerang ayam yang sedang berproduksi tinggi terkadang ditemukan keadaan eggs yolk peritonitis.

Beberapa bentuk infeksi E. coli pada ayam petelur, di antaranya:... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Februari 2026.

Ditulis oleh:
Drh Arief Hidayat
Praktisi Perunggasan

COLIBACILLOSIS YANG BIKIN MIRIS

Temuan umum patologi anatomis pada kasus colibacillosis. (A) Pericarditis. (B) Airsacculitis. (C) Perihepatitis. (Foto: Istimewa)

Penyakit colibacillosis, mungkin semua peternak ayam terutama broiler pernah merasakan kerugian yang diakibatkannya. Walaupun sudah banyak peternak yang bisa dibilang well educated, namun masih saja kerap kali kecolongan, tetapi kenapa cenderung berulang?

Baik peternak, petugas kandang, technical service, maupun sales representative, sudah pasti “kenyang” dengan kemunculan penyakit ini. Namun misteri mengapa ketika kasus colibacillosis dapat terus menggerus usaha peternak secara berulang memang tak pernah bisa diungkap.

Apalagi ketika harga ayam sedang mentok di level terbawah, keberadaan penyakit pasti akan menambah derita peternak, terutama peternak kecil mandiri.

Oportunis di Semua Makhluk Hidup
Bakteri Escherichia coli (E. coli) merupakan bakteri yang normal hidup pada saluran pencernaan mahluk hidup bahkan ketika suatu mahluk tersebut lahir, termasuk manusia (Kohl, 2018). Bakteri tersebut juga normal terdapat banyak di lingkungan peternakan ayam.

Beberapa peneliti mengkategotikan bakteri ini sebagai bakteri komensal yang tergolong pembusuk yang dapat membantu proses pencernaan di saluran cerna. Meskipun kebanyakan non-patogen, beberapa di antaranya menyebabkan infeksi saluran pencernaan pada berbagai makhluk hidup termasuk ayam.

Berdasarkan klasifikasi terbaru menurut uji serologis yang dilakukan berbagai ilmuwan, sederhananya E.coli dibagi menjadi patogen dan non-patogen. Anben et al. (2001), mengelompokkan E. coli yang bersifat patogen sesuai dengan gejala klinis yang ditimbulkan, antara lain penyebab diare dan septisemia sebagai Avian Pathogenic Escherichia Coli (APEC). Galur ini merupakan galur yang berhubungan dengan karakteristik penyakit ketika terjadi infeksi penyakit oleh E. coli maka penyakit tersebut dinamakan colibacillosis.

Bakteri E. coli juga dapat mencemari lingkungan. Biasanya dapat ditemukan dalam litter, kotoran ayam, debu atau kotoran dalam kandang. Debu dalam kandang ayam dapat mengandung 105-106 E. coli per gram. Keberadaan E. coli dalam air minum merupakan indikasi adanya pencemaran oleh feses. Dalam saluran pencernaan ayam normal, terdapat 10-15% bakteri E. coli patogen dari keseluruhan E. coli. (Tabbu, 2000).

Merajalela di Nusantara
Sebagai bakteri patogen, E. coli bisa dibilang “cukup berprestasi” dalam konotasi yang negatif di Indonesia. Seperti dituturkan Technical Education & Consultation Manager PT Medion, Drh Christina Lilis. Berdasarkan data yang telah dirangkum Tim Technical Education and Consultation PT Medion, colibacillosis menduduki peringkat… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Februari 2026 (CR)

CUACA BERUBAH, PENYAKIT MENGINTAI: STRATEGI MENCEGAH PENYAKIT MENULAR PADA UNGGAS

Waspadai penyakit menular yang masih menjadi “musuh lama” peternakan unggas. (Foto: Istimewa)

Perubahan cuaca yang semakin sulit diprediksi menjadi tantangan nyata bagi industri perunggasan nasional. Pagi panas, siang terik, malam dingin, disertai kelembapan tinggi. Kondisi ini menjadi kombinasi ideal bagi berkembangnya berbagai penyakit menular pada ayam. Tak heran jika pada masa peralihan musim, kasus penyakit seperti ND, IB, AI, gumboro, hingga gangguan saluran pencernaan kerap meningkat.

Dalam situasi seperti ini, peternak dituntut tidak hanya bereaksi saat penyakit muncul, tetapi membangun sistem pencegahan yang kuat sejak awal. Kuncinya ada pada pendekatan terpadu, yakni biosekuriti yang disiplin, program kesehatan yang tepat, manajemen pemeliharaan yang adaptif, serta nutrisi pakan yang dioptimalkan untuk mendukung daya tahan tubuh ayam.



Musuh Lama yang Masih Relevan
Meski teknologi kandang dan pakan terus berkembang, penyakit menular masih menjadi “musuh lama” yang belum sepenuhnya terkalahkan. Baik pada broiler, layer, maupun breeder, penyakit menular selalu berujung pada satu hal, yaitu penurunan performa dan kerugian ekonomi.

Pada broiler pertumbuhan tidak optimal, FCR membengkak, mortalitas meningkat, sementara pada layer produksi telur turun, kualitas kerabang menurun, masa produksi memendek, serta pada breeder akan mengalami gangguan fertilitas, daya tetas menurun, kualitas DOC ikut terdampak.

Kondisi cuaca ekstrem mempercepat... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Januari 2026.

Ditulis oleh:
Henri E. Prasetyo drh MVet
Praktisi perunggasan, Nutritionist PT DMC

RESMI DIKUKUHKAN, KOMITMEN PERMINDO BANGUN EKOSISTEM PERUNGGASAN YANG ADIL & BERKELANJUTAN

Momen penyerahan bendera pataka dari Ketua Dewan Pembina PERMINDO kepada ketua dan pengurus inti PERMINDO. (Foto: Infovet/Ridwan)

Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (PERMINDO) resmi dikukuhkan pada Kamis (12/2/2026). Pengukuhan dilakukan langsung oleh Ketua Dewan Pembina PERMINDO, Hartono, dengan penyerahan bendera pataka kepada ketua dan pengurus inti PERMINDO.

“PERMINDO hadir untuk menjadi wadah bagi peternak rakyat mandiri di tengah kekosongan perlindungan kebijakan. Padahal ketika ada persoalan, peternak rakyat mandiri yang paling pertama terkena dampaknya,” ujar Hartono disela-sela acara pengukuhan sekaligus kegiatan Focus Group Discussion yang diadakan PERMINDO, di Bogor.

Ia menambahkan, peternak yang selama ini telah berjuang menghasilkan protein hewani bagi masyarakat berharap pemerintah bisa lebih memperhatikan nasibnya agar mendapat keadilan dalam berusaha dan memperoleh kehidupan yang layak.

“PERMINDO meminta negara mengambil sikap dan berani berpihak pada keadilan bagi peternak rakyat mandiri,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Umum PERMINDO, Kusnan, menyebut bahwa hingga kini sektor perunggasan masih menghadapi tantangan yang tidak sedikit. Mulai dari persaingan global, biaya produksi, efisiensi produksi, produktivitas, pembiayaan, hingga terkait kebijakan pemerintah termasuk mengenai harga acuan. Begitu juga terkait stabilitas harga bahan baku pakan maupun produk unggas.

“Oleh karena itu, hadirnya PERMINDO agar teman-teman peternak rakyat kecil bisa terus eksis dan bisa menjembatani aspirasi mereka dengan kebijakan pemerintah dan dinamika industri. Kami datang dengan data lapangan, pengalaman nyata, dan komitmen untuk membangun ekosistem perunggasan yang adil dan berkelanjutan,” kata Kusnan.

Ia juga menambahkan, kegiatan perdana yang dilaksanakan ini merupakan bentuk sinergi dari PEMINDO kepada pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan asosiasi perunggasan yang sudah ada. “Kita di sini berdiskusi bagaimana ke depan peternak rakyat kecil bisa berkolaborasi memajukan sektor perunggasan,” ucapnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Sekretaris Jenderal PERMINDO, Herry Irawan, bahwa lahirnya PERMINDO bukan untuk bersaing dengan asosiasi manapun, tetapi untuk saling menguatkan dan melengkapi dari organisasi yang sudah lebih dulu besar dan mapan.

“PERMINDO siap berkolaborasi dengan stakeholder perunggasan nasional. Dimana visi PERMINDO bahwa peternak rakyat bukan pelengkap industri, tapi pilar utama kedaulatan pangan nasional dan tidak ada mensrea kepada pihak manapun,” katanya. (RBS)

GELAR FGD, PERMINDO SIAP BERSINERGI BERSAMA STAKEHOLDER PERUNGGASAN

FGD PERMINDO di Bogor. (Foto: Infovet/Ridwan)

Kamis (12/2/2026), bertempat di Royal Hotel Bogor, Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (PERMINDO), menggelar agenda pertamanya yakni Focus Group Discussion (FGD) mengenai arah perunggasan di tahun ini.

Latar belakang diadakannya FGD tersebut karena sektor perunggasan berperan sangat signifikan dalam ekonomi Indonesia, utamanya sebagai penyedia protein hewani, penggerak lapangan kerja bagi sekitar 12,5 juta jiwa, dan penggerak perekonomian dengan perputaran uang hingga puluhan triliun rupiah per tahun. Selain itu, perunggasan juga sangat berkontribusi bagi ketahanan pangan, pendapatan, bahkan peluang ekspor.

Kendati demikian, menurut Ketua Umum PERMINDO, Kusnan, hingga kini sektor perunggasan masih menghadapi tantangan yang tidak sedikit. Mulai dari persaingan global, biaya produksi, efisiensi produksi, produktivitas, pembiayaan, hingga terkait kebijakan pemerintah termasuk mengenai harga acuan. Begitu juga terkait stabilitas harga bahan baku pakan maupun produk unggas.

“Oleh karena itu, hadirnya PERMINDO agar teman-teman peternak rakyat kecil bisa terus eksis dan bisa menjembatani aspirasi mereka dengan kebijakan pemerintah dan dinamika industri. Kami datang dengan data lapangan, pengalaman nyata, dan komitmen untuk membangun ekosistem perunggasan yang adil dan berkelanjutan," ujar Kusnan dalam sambutannya.

Ia juga menambahkan "ini merupakan bentuk sinergi dari PEMINDO kepada pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan asosiasi perunggasan yang sudah ada. Kita di sini berdiskusi bagaimana ke depan peternak rakyat kecil bisa berkolaborasi memajukan sektor perunggasan."

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal PERMINDO, Herry Irawan, turut menambahkan bahwa lahirnya PERMINDO bukan untuk bersaing dengan asosiasi manapun, tetapi untuk saling menguatkan dan melengkapi dari organisasi yang sudah lebih dulu besar dan mapan.

“PERMINDO siap berkolaborasi dengan stakeholder perunggasan nasional. Dimana visi PERMINDO bahwa peternak rakyat bukan pelengkap industri tapi pilar utama kedaulatan pangan nasional dan tidak ada mensrea kepada pihak manapun," ujarnya.

Tahun ini, lanjut dia, kebijakan pemerintah terkait perunggasan pun sangat dinanti. Mengingat pemerintah juga memiliki program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sangat terkait dengan produk perunggasan, sebagai salah satu sumber protein yang diberikan dalam program tersebut.

“Pun demikian dengan program memperkuat ketahanan pangan nasional, khususnya dalam penyediaan bahan baku pakan seperti soybean meal (SBM) dan gandum, melalui investasi peternakan terintegrasi skala besar. Program ini rencana mulai bergulir tahun 2026 ini. Oleh karena itu, perlu adanya dialog dan diskusi antara peternak, industri, pemerintah, akademisi, dan semua stakeholder terkait arah perunggasan di 2026 ini," tukasnya.

Diskusi pun menghadirkan beberapa pembicara di antaranya Ketua Umum PERMINDO Kusnan, Dekan Fapet IPB University Dr Idat Galih Permana, Country Director PT FPT Defryansyah, dan Guru Besar IPB University Prof Muladno Basar. Selain itu, dalam kegiatan tersebut juga sekaligus diadakan pengukuhan pengurus inti PERMINDO oleh Ketua Dewan Pembina PERMINDO Hartono. (RBS)

AGAR SENANTIASA AMAN DI SEGALA CUACA & MUSIM

Manajemen pemeliharaan ayam broiler pada musim hujan berbeda dengan di musim kemarau. (Foto: Istimewa)

Indonesia merupakan salah satu negara dengan iklim tropis dengan dua musim. Tentunya perkembangan peternakan unggas juga tergantung dengan kondisi iklim yang sedang terjadi. Terutama perubahan dari musim hujan ke musim kemarau atau sebaliknya.

Perubahan yang sangat mendasar dari musim kemarau ke musim hujan sangat dipengaruhi suhu, kecepatan angin, kelembapan, kadar oksigen, dan curah hujan. Kelima faktor tersebut yang akan memengaruhi bagaimana manajemen pemeliharaan unggas di musim penghujan, yang meliputi kualitas air, kualitas pakan, manajemen kandang, manajemen pemeliharaan, dan penyebaran bibit penyakit.

Untuk dapat bertahan di dalam kondisi cuaca yang ekstrem dan perubahan musim yang terkadang tidak terprediksi, dibutuhkan trik tertentu. Kejelian peternak dalam membaca situasi sangat diperlukan. Beberapa pengalaman dan saran para ahli di bawah ini setidaknya dapat menjadi referensi agar performa tetap terjaga di segala kondisi musim.

Cegah Heat Stress di Musim Kemarau
Heat stress merupakan suatu cekaman yang disebabkan suhu udara yang melebihi zona nyaman (> 28 °C). Gangguan ini dikarenakan ayam tidak bisa menyeimbangkan antara produksi dan pembuangan panas tubuhnya. Mekanisme pengeluaran panas tubuh ayam akan berfungsi normal (optimal) saat ayam dipelihara pada zona nyaman (comfort zone), dengan suhu kandang 21-28 °C dan kelembapan 60-70%. Problem heat stress memang kerap terjadi di musim kemarau, utamanya pada peternak yang masih menggunakan sistem kandang terbuka.

Heat stress sering terjadi pada ayam dewasa. Biasanya ayam mengalami panting (napas terengah-engah), yaitu bernapas melalui tenggorokan atau melakukan evaporasi (penguapan). Saat panas, konsumsi ransum juga menurun sehingga asupan nutrisi tidak terpenuhi, FCR membengkak, dan pertumbuhan bobot badan terhambat. Selain itu, sistem kekebalan tubuh juga akan melemah (bersifat imunosupresif) dan dampak paling parah yang ditimbulkan ialah kematian mendadak.

Ada beberapa trik yang dapat dilakukan dalam mencegah heat stress di musim kemarau. Guru Besar SKHB IPB University, Prof I Wayan Teguh Wibawan, yang juga konsultan perunggasan, memaparkan bahwa dalam mencegah heat stress yang pertama harus dilakukan yakni mengatur ventilasi kandang dengan baik.

“Kalau kandang terbuka, manajemen buka tutupnya harus bagus, cek suhu sesering mungkin, catat perubahannya. Jadi kita tahu kapan harus buka-tutup tirainya, dan ini enggak bisa dilakukan 1-2 hari, tapi setiap saat,” katanya.

Selain itu bila perlu (ketika suhu terlalu tinggi), penambahan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Januari 2026. (CR)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer