-->

CARA KERJA FITOBIOTIK MENGOPTIMALKAN PRODUKSI UNGGAS

Dampak keseluruhan berbagai komponen bioaktif dari fitobiotik terhadap kesehatan usus ayam. (Sumber: BioRender.com)

Penggunaan antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan (AGP) dan peningkat kesehatan saluran pencernaan dalam produksi ayam pedaging telah lama dipraktikkan karena efektivitasnya dalam meningkatkan laju pertumbuhan dan efisiensi pakan, serta memberikan pengaruh positif terhadap mikrobiota usus dan imunitas bawaan, manfaat-manfaat ini secara keseluruhan berkontribusi pada kesehatan dan performa unggas yang lebih baik (Gadde U, Kim WH, Oh ST, Lillehoj HS, 2017).

Namun, manfaat penggunaan antibiotik kini semakin dibayangi risiko terkait dengan residu obat dalam produk hewani (Ronquillo MG, Hernandez JCA. 2017). Sebagai contoh, antibiotik seperti tetrasiklin dan amfenikol telah terdeteksi dalam produk pangan, sehingga menimbulkan risiko bagi kesehatan konsumen (Diarra MS, Malouin F. 2014). Selain itu, penelitian oleh Hur dkk,  menemukan isolat Salmonella enterica yang berasal dari telur dan karkas ayam menunjukkan resistansi terhadap berbagai jenis antibiotik, termasuk penisilin, sulfisoksazol, streptomisin, tetrasiklin, dan kuinolon.

Resistansi ini tidak hanya mengganggu kesehatan unggas, tetapi juga meningkatkan risiko kontaminasi sekunder pada produk hewani, sehingga mengancam kesehatan masyarakat. Mengingat meningkatnya kekhawatiran terkait resistansi antibiotik dan masalah residu, terjadi pergeseran dalam produksi broiler menuju penghapusan penggunaan antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan dan peningkat kesehatan saluran pencernaan.

Baru-baru ini, sebuah studi oleh Iwinski dkk. (Iwinski H, Wódz K, et al., 2022), menunjukkan campuran fitogenik dapat secara efektif menghambat galur Salmonella enterica subsp. yang resistan terhadap antibiotik, termasuk serovar Enteritidis, Typhimurium, yang mengindikasikan efektivitas aktivitas antimikrobanya. Pergeseran ini menegaskan perlunya strategi alami alternatif yang mampu menjaga kesehatan dan performa hewan tanpa berkontribusi terhadap resistansi antibiotik.

Dalam produksi unggas modern, broiler dibiakkan secara selektif untuk pertumbuhan yang cepat dan peningkatan massa daging dada, yang pada gilirannya menyebabkan laju metabolisme tinggi (Maharjan P, Martinez D, et al., 2021). Proses seleksi ditambah sistem produksi yang intensif ini, memaparkan ayam-ayam tersebut pada berbagai faktor pemicu stres, termasuk periode pencahayaan yang panjang, kadar debu, amonia yang tinggi, hingga beban patogen, faktor-faktor ini secara bersama-sama memicu stres oksidatif (Mishra B, Jha R, 2019).

Akibatnya, produksi reactive oxygen species (ROS) meningkat pesat, sehingga mengganggu keseimbangan antioksidan, merusak kesehatan saluran pencernaan, dan pada akhirnya memengaruhi performa secara keseluruhan, yang berujung pada kerugian ekonomi yang signifikan (Surai PF, Kochish II, Fisinin VI, Kidd MT, 2019).

Oleh karena itu, pengelolaan kesehatan saluran pencernaan yang... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi September 2026.

Ditulis oleh:
Drh Arief Hidayat
Praktisi Perunggasan

INFOVET GELAR SEMINAR EFISIENSI PAKAN SEKALIGUS LAUNCHING BUKU TERBARU

Foto bersama usai seminar yang diadakan Infovet di ILDEX Indonesia 2026. (Foto-foto: Dok. Infovet)

Industri perunggasan Indonesia terus menghadapi tantangan berupa dinamika harga bahan baku pakan, tuntutan produktivitas, kesehatan ternak, serta kebutuhan sistem produksi yang semakin efisien dan berkelanjutan. Menjawab tantangan tersebut, ILDEX Indonesia 2026 bersama Infovet menghadirkan seminar “Feed Efficiency Revolution: The Next Generation of Poultry Profitability” Rabu (16/9), di Garuda 8A.

Menghadirkan pembicara Nutritionist & Business Development Manager PT Dinamika Megatama Citra (DMC), Drh Henri E. Prasetyo, dan dimoderatori oleh Drh Eko Prasetio. Diskusi membahas perubahan paradigma feed efficiency yang selama ini sering dikaitkan dengan FCR. Dalam industri modern, efisiensi tidak cukup hanya mengejar FCR rendah, tetapi juga perlu melihat konsumsi pakan, pertumbuhan, livability, uniformity, kesehatan saluran pencernaan, kualitas karkas, biaya produksi, hingga profitabilitas.

Melalui pendekatan precision nutrition, setiap nutrien dalam pakan perlu dimanfaatkan secara optimal. Konsep feed-digestion-absorption-metabolism-growth-profit menggambarkan keberhasilan nutrisi tidak berhenti pada formulasi, tetapi dari seberapa efektif nutrien dicerna, diserap, dan dimanfaatkan ayam. Perkembangan teknologi evaluasi bahan baku, data performa, enzim pakan, asam amino, serta strategi kesehatan usus semakin membuka peluang untuk meningkatkan efisiensi secara lebih presisi.

Pendekatan tersebut membawa feed efficiency menuju precision profitability, yaitu bagaimana keputusan nutrisi tidak hanya menghasilkan performa teknis yang baik, tetapi juga memberikan nilai ekonomi optimal. Dengan demikian, masa depan efisiensi pakan membutuhkan integrasi antara nutrition, health, management, technology, data, dan economics.

Momen peluncuran buku "100 Tahun Penyakit Newcastle Disease di Indonesia".

Selain seminar, pada acara yang sama juga dilakukan launching buku "Index Obat Hewan Indonesia (IOHI) Edisi XVII 2026" serta buku "100 Tahun Penyakit Newcastle Disease di Indonesia". Peluncuran kedua buku menjadi momentum penting dalam mendokumentasikan pengetahuan dan perjalanan industri kesehatan hewan di Indonesia.

Prosesi launching secara resmi dilakukan Ketua Umum ASOHI Drh Akhmad Harris Priyadi bersama Direktur PT Gallus Indonesia Utama Ir Bambang Suharno.

Selain itu, rangkaian kegiatan tersebut juga menjadi momentum awal dimulainya INFOVET Academy, sebuah media pembelajaran berbasis video tutorial yang menghadirkan para ahli di bidang peternakan dan kesehatan hewan.

Platform tersebut ditujukan sebagai panduan bagi peternak, praktisi, dokter hewan, mahasiswa, dan profesional yang ingin belajar serta memperdalam keilmuan. Melalui format digital, pengetahuan dan pengalaman para ahli diharapkan dapat diakses secara lebih praktis dan menjangkau masyarakat peternakan yang lebih luas.

Suasana peserta dalam seminar.

Kehadiran INFOVET Academy memperkuat peran media tidak hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem pembelajaran dan knowledge sharing di industri peternakan. (HENRI)

MENGURAI GEJOLAK HARGA PAKAN: INDUSTRI PERUNGGASAN DORONG SINERGI DAN TRANSPARANSI DATA

IPC di ILDEX Indonesia 2026. (Foto: Infovet/Ridwan)

Mengambil tempat di ruang Garuda 5A ICE BSD City, Tangerang, dalam rangkaian pameran ILDEX Indonesia 2026, Indonesian Poultry Club (IPC) menyelenggarakan seminar nasional bertajuk "Sinergi dan Strategi Menghadapi Gejolak Harga Pakan" pada Kamis (17/9). Forum ini mempertemukan seluruh stakeholders industri perunggasan guna merumuskan solusi atas tantangan tingginya biaya pakan.

Kegiatan tersebut diinisiasi oleh Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Permindo) bekerja sama dengan Trobos. Pemimpin Umum Trobos, Fitri Nursanti Poernomo, menekankan pentingnya forum ini bagi masa depan industri peternakan nasional. Ia mengingatkan bahwa pakan merupakan komponen terbesar dalam biaya produksi unggas, dengan porsi mencapai lebih dari 60%.

"Ketika harga bahan baku naik akibat berbagai persoalan global maupun domestik, dampaknya tidak hanya berhenti pada bisnis pakan, melainkan menjalar ke peternak hingga konsumen akhir. Apalagi sekitar 30 persen bahan baku pakan kita masih bergantung pada impor," ujar Fitri.

Tantangan lonjakan harga pakan dirasakan nyata oleh para peternak di lapangan. Sekretaris Jenderal Permindo, Heri Irawan, mengungkapkan bahwa sepanjang rentang April-Agustus, akumulasi kenaikan harga pakan telah mencapai Rp1.500/kg. Kenaikan ini dinilai sangat memberatkan operasional peternak.

Sebagai langkah mitigasi, Permindo pun berinisiatif menghadirkan inovasi pakan custom. "Kami memformulasi pakan bekerja sama dengan pabrikan. Hasilnya, dalam dua bulan terakhir performa ternak tetap optimal sekaligus mampu meminimalisasi dampak kenaikan harga," terang Heri.

Memasuki sesi seminar yang dipandu Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), Sugeng Wahyudi, hadir sebagai narasumber Ketua Permindo, Kusnan. Ia menyoroti tekanan berat yang dialami peternak mandiri. Kenaikan harga pakan secara langsung menaikkan Harga Pokok Produksi (HPP) dan menggerus margin keuntungan peternak.

​"Jika input produksi terus naik sementara harga output di tingkat peternak fluktuatif, sampai kapan peternak sanggup bertahan? Apakah ini yang dinamakan industri unggas yang sehat?" tegas Kusnan. Menurutnya, peternak saat ini menanggung beban berlapis, mulai dari harga day old chick (DOC), pakan, biaya listrik, tenaga kerja, hingga risiko cuaca dan penyakit.

Kusnan juga menggarisbawahi dua hal kunci, yakni akurasi data dan integrasi pasar. "Peternak yang memiliki data adalah peternak yang berdaya. Data merupakan aset ekonomi untuk merumuskan akar permasalahan. Selain itu, penataan pasar harus disiapkan sejak awal, jangan baru mencari solusi ketika kondisi sudah oversupply. Jadi kesimpulannya, kita butuh satu ekosistem dan satu rantai pasok yang solid," tambahnya.

Pada kesempatan tersebut, menanggapi kenaikan pasokan bahan baku, Ketua Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Tevi Melviana, menyampaikan bahwa pelaku industri pakan beroperasi sesuai dengan regulasi dan ketentuan pemerintah. Kenaikan harga pakan, khususnya yang dipicu oleh fluktuasi harga jagung, dipengaruhi oleh berbagai faktor kompleks, baik internal maupun eksternal.

Dalam paparan materinya, dijelaskan industri pakan ternak memegang peranan yang sangat strategis karena menyumbang hingga 65% kebutuhan protein hewani nasional. Untuk memastikan industri ini terus berkembang dan mendukung ketahanan pangan, diperlukan dukungan kebijakan pemerintah yang berkesinambungan. Salah satu fokus utama yang harus ditingkatkan adalah produktivitas jagung lokal demi menyokong kebutuhan pabrik pakan ternak, sebagaimana yang diharapkan GPMT agar pemerintah dapat menjaga stabilitas produksi jagung serta bahan pakan lainnya.

Dalam paparannya juga diharapkan dukungan pemerintah terhadap sektor logistik, fasilitas, serta infrastruktur nasional untuk mengantisipasi potensi fluktuasi harga jagung. Di sisi lain, idle capacity industri pakan yang masih berada di angka 30% dinilai sangat memadai untuk mendukung program peningkatan produksi telur dan daging ayam. Namun, intervensi pemerintah secara tidak langsung telah mengubah model bisnis pabrik pakan dari yang sebelumnya berfokus pada "perdagangan dan pengolahan" menjadi "layanan dan pengolahan". Menghadapi berbagai tantangan lingkungan bisnis tersebut, perusahaan tetap berkomitmen menjalankan strategi mitigasi internal untuk meminimalkan dampak negatif yang mungkin timbul.

Sementara dari sisi pemerintah, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian yang diwakili Direktur Pakan, Tri Melasari, menguraikan dalam materinya beberapa upaya stabilisasi harga dan kualitas pakan. Di antaranya dalam jangka pendek terkait surat himbauan ke produsen pakan untuk menahan kenaikan harga pakan ternak dan menjaga kualitas pakan sesuai SNI.

Kemudian, ketersediaan jagung dengan harga HAP Rp 6.400/kg dengan kada air 14%, serta perlu impor bahan pakan subsitusi jagung secepatnya dengan harga wajar untuk feedmill, sehingga tidak berebut jagung antara peternak dan feedmill, hingga realisasi jagung SPHP untuk seluruh peternak/koperasi yang memerlukan.

Sementara untuk jangka menengah, melakukan evaluasi populasi temak broiler maupun layer, untuk membuat prognosa kebutuhan pakan dalam tahun berjalan, tiap tiga bulan. Serta evaluasi bahan baku pakan lokal, untuk harga dan ketersediaan tiap tiga bulan dengan data yang akurat.

Serta dalam jangka panjang, membuat peta kebutuhan bahan pakan untuk lima tahun ke depan, pengembangan riset aplikatif sumber bahan baku lokal, hingga perlunya bahan baku alternatif lokal maupun impor dengan harga yang kompetitif sesuai formulasi. (RBS)

BREAKING THE CYCLE: MBG DAN KESEJAHTERAAN PETERNAK RAKYAT DALAM EKOSISTEM RANTAI PASOK BERKEADILAN

GOPAN forum di ILDEX Indonesia 2026. (Foto: Infovet/Ridwan)

Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) kembali menggelar forum strategis bertajuk "Breaking the Cycle: MBG dan Kesejahteraan Peternak Rakyat Membangun Ekosistem Rantai Pasok yang Berkeadilan". Acara yang diselenggarakan pada Rabu (16/9/2026), di Ruang Garuda 6B, ICE BSD, Tangerang, ini menjadi bagian dari rangkaian pameran peternakan internasional ILDEX Indonesia.

Forum ini menyoroti pentingnya memutus rantai permasalahan peternakan broiler yang kerap berulang, sekaligus mengoptimalkan peluang besar dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk mendongkrak kesejahteraan peternak rakyat.

Panitia GOPAN Forum, Yusuf, menjelaskan bahwa tema tahun ini sengaja dibuat lugas dan sederhana mengingat kompleksitas persoalan perunggasan yang terus berulang dari tahun ke tahun. Menurutnya, evaluasi mendalam diperlukan guna menentukan arah perubahan ke depan.

"Terkait tema sangat sederhana karena kita melihat banyak persoalan yang terus berulang. Karena itu, apa yang harus kita ubah ke depannya? MBG memberikan peluang baru, oleh karena itu bagaimana peternakan rakyat dapat memanfaatkan peluang tersebut," ujar Yusuf.

Melalui forum ini, ia berharap pemerintah, Badan Gizi Nasional (BGN), dan para peternak dapat merumuskan arah kebijakan bersama dalam membangun industri peternakan nasional yang tangguh.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Umum GOPAN, Heri Dermawan, menekankan pentingnya sinergi lintas sektor agar peternak rakyat tidak tertinggal di tengah dinamika industri modern.

Usai sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan oleh Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian, Agung Suganda. Ia mengungkapkan bahwa harga ayam saat ini menunjukkan tren perbaikan, yang turut didorong oleh guliran program MBG. Ke depan, program strategis ini akan semakin terintegrasi melalui kewajiban bagi rumah pemotongan hewan unggas (RPHU) untuk masuk ke dalam marketplace yang disiapkan BGN.

"Saat ini Surat Edaran terkait optimalisasi penyerapan produk peternakan sedang difinalkan. Intinya, program MBG ini harus menyerap produksi para peternak yang ada di sekitar dapur MBG, baik untuk komoditas ayam maupun susu," ujar Agung.

Ia menambahkan, peluang perunggasan nasional masih sangat terbuka lebar, seiring dengan potensi peningkatan konsumsi per kapita. Tantangannya terletak pada bagaimana menjaga keseimbangan (supply and demand) antara volume produksi dan kebutuhan riil di lapangan.

Lebih lanjut dijelaskan, pemerintah kata Agung, juga mulai memberlakukan sejumlah regulasi ketat guna menciptakan keadilan dalam rantai pasok. Berdasarkan Permentan No. 10/2024, mulai 1 Januari 2027, distribusi DOC dengan skema 50% untuk internal dan 50% untuk eksternal wajib dijalankan pelaku industri. Agung mengapresiasi langkah awal yang telah diinisiasi oleh korporasi seperti Japfa Group dalam mematuhi aturan tersebut.

"Kemudian juga setiap peternak dengan kapasitas produksi unggas mencapai 60 ribu ekor atau lebih dalam per siklus pemeliharaan diwajibkan memiliki RPHU. RPHU inilah yang nantinya berfungsi sebagai marketplace penyedia karkas bagi dapur-dapur MBG di wilayah sekitar," jelasnya.

Di sisi lain, forum ini juga tidak menutup mata terhadap tantangan kenaikan harga pakan akibat melambungnya harga bahan baku. Harga jagung tercatat berada di kisaran Rp 6.200-7.500/kg tergantung wilayah, sementara dedak atau katul telah menyentuh angka Rp10.000/kg. Kondisi ini memberikan tekanan berat bagi perusahaan pakan untuk menahan kenaikan harga, meski dalam rapat koordinasi hari ini, upaya penahanan harga pakan, khususnya konsentrat layer, terus diupayakan demi melindungi peternak petelur di tengah variasi harga telur di berbagai daerah.

Pada kesempatan tersebut, hadir juga perwakilan dari PT Berdikari, Agus Wahyudi, yang turut memaparkan pandangannya dalam forum tersebut. Agus menyoroti pentingnya peran Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pangan dalam menjadi penyangga (buffer) stabilitas harga sekaligus mitra strategis bagi peternak rakyat.

Dalam pemaparannya, PT Berdikari berkomitmen untuk memperkuat sinergi hilirisasi melalui optimalisasi penyerapan hasil produksi peternak rakyat, sehingga distribusi komoditas protein hewani dapat menjangkau masyarakat secara merata, efisien, dan berkeadilan sejalan dengan visi besar program MBG.

Melalui Gopan Forum 2026, diharapkan terbangun komitmen bersama antara pemerintah, BGN, BUMN, dan peternak rakyat untuk mewujudkan industri perunggasan nasional yang adil, mandiri, dan berkelanjutan. (RBS)

WASPADA ANCAMAN ZOONOSIS SAAT BENCANA ALAM

Peternakan ayam diterjang banjir lumpur. (Sumber: balipost.com)

Penghujung akhir 2025, Indonesia gencar dilanda bencana alam. Faktor alam dan non-alam menjadi pemicu meningkatnya potensi bencana alam tersebut. Sebut saja bencana longsor dan banjir yang melanda tiga provinsi paling barat Indonesia, yakni Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Menurut BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) sekitar 3,2-3,3 juta warga terdampak akibat bencana tersebut dan dianjurkan untuk mengungsi karena terbatasnya akses logistik dan bahan pangan, (5/12). Bencana ini tidak hanya dirasakan manusia, tetapi juga berdampak pada hewan dan lingkungan.

Dampak Bencana pada Hewan
Rusaknya habitat dan ekosistem membuat mereka kehilangan tempat untuk bernaung. Bencana tersebut juga memberikan pukulan yang berat saat seekor Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) ditemukan mati pasca banjir di Pidie Jaya, Aceh, (29/11). Gajah yang hanyut tersebut mati terjepit di antara material kayu gelondongan. Hal ini menandakan besarnya banjir yang terjadi.

Beda halnya dengan di Sumatra Barat, menurut Kepala DPKH (Dinas Pertenakan dan Kesehatan Hewan) Sumatra Barat, terdapat 591 ekor sapi, 32 ekor kerbau, 187 ekor kambing, 4420 ekor unggas yang terdampak bencana banjir dan longsor (30/11).

Pemerintah sudah melakukan distribusi bantuan obat-obatan dan vitamin untuk hewan lewat Direktorat Jendral Pertenakan dan Kesehatan Hewan, Kementrian Pertanian, tetapi bantuan tersebut tidak cukup, dikarenakan selain obat-obatan dan vitamin, ternak juga memerlukan pakan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Terbatasnya ketersediaan pakan disaat bencana ini akan menjadi dampak pada penurunan kualitas kesehatan ternak. Jika hal ini tidak ditangani dengan tepat maka ancaman yang lain akan mengintai.

Ancaman Zoonosis
Zoonosis merupakan penyakit yang dapat menular dari hewan kepada manusia atau sebaliknya. Di tengah bencana longsor dan banjir yang mengakibatkan hewan juga terdampak seperti mati (hanyut), sakit terlantar, dan sehat terlantar. Penanganan yang tidak tepat akan meningkatkan ancaman zoonosis.

Menurut Kepmentan No. 121/2023 tentang Penetapan Jenis Penyakit Hewan Menular Strategis, ada lima penyakit yang dikategorikan sebagai zoonosis prioritas, yaitu avian influenza, rabies, anthrax, leptospirosis, dan brucellosis. Kejadian bencana ini membuat pemerintah lewat BNPB, Kementerian Pertanian, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Lingkungan Hidup harus segera mengidentifikasi bahaya ancaman untuk meminimalkan risiko. Pendekatan melaui One Health bisa menjadi tools untuk memberikan gambaran yang lebih komprehensif.

Adapun menurut Kepmentan No. 708/2024 tentang Status Situasi Penyakit Hewan, Provinsi Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat tidak semuanya bebas dari lima zoonosis prioritas. Detail status situasi penyakit di ketiga provinsi terdampak bencana dapat dilihat pada tabel berikut:


Berdasarkan sudut pandang kesehatan hewan terhadap tabel di atas, cukup memberikan gambaran langkah strategis yang akan diambil. Dari tiga provinsi terdampak bencana, masih terdapat dua zoonosis prioritas yang masih menjadi ancaman. Pengendalian risiko wabah avian influenza dan leptospirosis di dalam situasi kebencanaan menjadi tantanggan tersendiri bagi pemerintah.

Penularan tidak Terkontrol
Situasi berbahaya adalah ketika penyakit dapat menular tanpa adanya kontrol. Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat secara status situasi penyakit tidak bebas dari avian influenza dan leptospirosis. Tidak terhitung jumlahnya kombinasi variabel penularan jika unggas (risiko penularan avian influenza tertinggi) mati (hanyut), sakit terlantar, dan sehat terlantar tidak segera dilakukan surveillance.

Begitu halnya dengan rodensia, vektor leptospirosis ini memiliki kemampuan bertahan hidup di tempat-tempat kumuh. Seiring lambatnya proses evakuasi wilayah pasca bencana akan meningkatkan populasi rodensia dalam wilayah tersebut. Bangkai dari hewan ternak ataupun satwa menjadi presdiposisi penularan zoonosis.

Regulasi Pemerintah dalam Penanganan Hewan Pascabencana
Kementerian Pertanian sudah memberikan regulasi terkait penanganan hewan pascabencana dalam Permentan No. 14/2024 tentang Penanganan Hewan pada Bencana Alam. Di dalam regulasi tersebut dijelaskan adanya Sistem Komando Penanganan Hewan Darurat Bencana Alam. Adapun hal ini seharusnya menjadi fokus utama Kementerian Pertanian dalam melaksanakannya. Dalam Pasal 30  dijelaskan mengenai kegiatan pascabencana:

1. Kajian kebutuhan penanganan hewan akibat bencana alam.
2. Pengisian kembali ternak (restocking).
3. Pengembalian ternak terdampak.
4. Pelaksanaan rehabilitasi dan rekontruksi penanganan hewan.

Regulasi ini penting untuk mengembalikan hulu dari rantai pasok pangan asal hewan. Efek domino regulasi yang tidak dijalankan akan melumpuhkan sektor pangan asal hewan di daerah tersebut. Sebagai concern pemerintah melalui regulasi ini harus menjadikan masyarakat pemilik ternak didukung dalam tahap pemulihan pasokan pangan asal hewan. ***

Ditulis oleh:
Drh Mochamad Alfinanda Santriagung
PT Global Dairi Alami

MENYOAL SEDIAAN HERBAL UNTUK KESEHATAN TERNAK YANG OPTIMAL

Berbagai jenis herbal yang dapat dimanfaatkan tersedia di Indonesia. (Foto: Gemini)

Ada sekitar 40 ribu spesies tanaman di dunia dan sekitar 30 ribu di antaranya ada di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, sekitar 9.600 spesies tanaman tadi telah terbukti memiliki khasiat sebagai obat. Sedangkan lebih dari 1.000 di antaranya dimanfaatkan sebagai obat herbal tradisional oleh masyarakat Indonesia.

Di Indonesia obat herbal lebih akrab dengan sebutan jamu. Sejak zaman dulu, masyarakat Indonesia telah lama memanfaatkan sediaan herbal sebagai obat. Dari pengertiannya, obat herbal adalah obat yang zat aktifnya berasal dari tanaman (daun, batang, akar, kayu, buah, ataupun kulit kayu).

Di masa kini tren gaya hidup manusia semakin berubah, termasuk dalam hal kesehatan. Manusia di masa kini menganut tren kembali ke alam, sehingga banyak di antaranya yang mengonsumsi obat-obatan herbal dan jamu demi menunjang kesehatannya. Begitupun dengan ternak, kenyataannya sediaan herbal juga dapat digunakan sebagai terapi dalam kesehatan hewan ternak.

Herbal bukan hanya Jamu
Jamu memang sudah sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia. Penggunaannya tidak terbatas hanya pada manusia saja, tetapi juga pada hewan.

Sering kali ketika ada kontes ternak, karapan sapi, atau event sejenis, pemilik hewan kerap memberikan jamu untuk ternaknya agar kondisinya lebih prima pada saat kontes.

Nah, sebenarnya sediaan herbal tradisional bukan hanya jamu, ada beberapa kategori sediaan berdasarkan pengelompokkannya. Seperti diutarakan oleh Guru Besar SKHB IPB University, Prof Drh Min Rahiminawati. Menurut penuturannya, obat herbal di Indonesia terdiri atas tiga golongan yakni jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka.

Jamu merupakan obat bahan alam yang sediaannya masih berupa bentuk asli (daun, rimpang, batang, dan lainnya). Setelah lolos uji pra-klinik, jamu dikategorikan menjadi Obat Herbal Terstandar (OHT). Tingkat paling tinggi disebut sebagai fitofarmaka, di mana keamanan dan khasiat obat bahan alam sudah lolos uji pra-klinik dan uji klinik, serta bahan baku dan produk jadinya sudah terstandarisasi. Namun, kategorisasi tersebut hanya ada pada sediaan obat manusia.

“Untuk hewan mungkin sepertinya belum, tetapi saya lihat semakin kemari kayaknya makin banyak sediaan herbal, apalagi untuk ternak unggas. Tentunya ini indikasi positif untuk sediaan herbal, semoga semakin bergairah juga untuk industrinya menggunakan sediaan herbal,” ujar Prof Min.

Selain jamu, beberapa jenis tanaman dapat menghasilkan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi September 2026. (CR)

PELUANG BARU PERUNGGASAN DI SEMINAR NASIONAL HATN 2026

Foto bersama dalam Seminar Nasional rangkaian HATN 2026. (Foto: Istimewa)

Bertempat di Auditorium Lantai 3 Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM), Rabu (9/9/2026), rangkaian Hari Ayam dan Telur Nasional (HATN) 2026 diawali dengan Seminar Nasional (Semnas) bertajuk “Protein Up: Mengeksplorasi Peluang Baru bagi Industri Perunggasan Indonesia”.

Acara dimulai dengan sambutan dari Prof Aris Haryanto MSi, perwakilan Dekan FKH UGM, dilanjutkan oleh Ketua PINSAR Indonesia yang diwakili oleh Ricky Bangsaratoe, yang sekaligus menegaskan pentingnya kolaborasi antara akademisi, asosiasi, pelaku usaha, dan industri dalam menghadapi dinamika sektor perunggasan.

Pada kesempatan tersebut, narasumber seminar selaku Lead of Supply Chain Lever Foundation, Muhammad Sandi Dwiyanto, menjabarkan gambaran mengenai perkembangan sistem produksi cage-free di tingkat global, perubahan ekspektasi konsumen, serta peluang implementasinya dalam konteks industri telur Indonesia.

Dari sisi pencegahan penyakitnya, Guru Besar FKH UGM, Prof Michael Haryadi Wibowo, menyoroti bagaimana perubahan sistem pemeliharaan dapat memengaruhi tantangan kesehatan unggas, biosekuriti, manajemen litter, kepadatan, hingga strategi pencegahan penyakit.

Adapun perspektif lapangan hadir melalui Layer Farm Manager PT Widodo Makmur Unggas (WMU), Ir Arif Afiata Rahmat, yang membawa pengalaman praktis dari level produksi, termasuk tantangan adaptasi, manajemen flock, produktivitas, dan pembelajaran selama menjalankan sistem cage-free.

Sementara itu, peran teknologi dibahas oleh Sales Specialist Kaleter, Drh Kokot Februhadi, , dalam mendukung transisi menuju sistem produksi yang lebih modern, mulai dari desain dan fasilitas kandang, hingga teknologi yang membantu monitoring dan efisiensi manajemen.

Dan dari sisi nutrisi, Nutritionist & Business Development PT Dinamika Megatama Citra, Drh Henri E. Prasetyo, mengangkat bagaimana strategi nutrisi dapat menjadi salah satu fondasi utama keberhasilan produksi unggas modern. Bukan hanya mengenai formulasi pakan, tetapi juga bagaimana meningkatkan efisiensi penggunaan nutrien, menjaga kesehatan saluran pencernaan, mengoptimalkan kualitas bahan baku, serta menghubungkan efisiensi pakan dengan produktivitas dan profitabilitas.

Pendekatan tersebut menjadi semakin relevan ketika industri menghadapi volatilitas harga bahan baku dan tuntutan efisiensi yang semakin tinggi. Dalam konteks cage-free, manajemen pakan perlu diselaraskan dengan karakteristik konsumsi pakan, aktivitas ayam, kesehatan kaki, kualitas telur, dan target produksi.

Dengan demikian, cage-free bukan sekadar perubahan sistem kandang, tetapi bagian dari transformasi rantai nilai industri telur yang membutuhkan kesiapan teknologi, SDM, kesehatan unggas, nutrisi, serta strategi bisnis. (HENRI)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer