-->

KEMENTAN: HARGA PAKAN TERPANTAU TURUN, BISA TEKAN BIAYA PRODUKSI

Berdasarkan pemantauan SPORA Direktorat Pakan Kementan, penurunan terjadi pada berbagai jenis pakan untuk broiler maupun layer. (Foto: Dok. Infovet)

Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat tren penurunan harga pakan ternak di tingkat produsen pada periode Februari hingga awal Maret 2026. Penurunan ini diharapkan dapat membantu menekan biaya produksi peternak, khususnya pada sektor perunggasan yang bergantung pada pakan pabrikan.

Berdasarkan pemantauan Sistem Informasi Produksi dan Harga Pakan (SPORA) Direktorat Pakan Kementan, penurunan terjadi pada berbagai jenis pakan untuk ayam pedaging (broiler) maupun petelur (layer). Pakan broiler starter (BR1) mengalami penurunan rata-rata Rp 112/kg dari 33 pabrik pakan, bahkan pada beberapa pabrik penurunan mencapai Rp 600/kg, dengan rataan harga produsen sekitar Rp 8.010/kg. Pakan broiler pre starter (BR0) tercatat turun rata-rata Rp 82/kg dari 30 pabrik pakan dengan rataan harga produsen sekitar Rp 8.451/kg. 

Sementara untuk pakan broiler finisher (BR2) turun rata-rata Rp 89/kg dari 31 pabrik pakan dengan rataan harga produsen sekitar Rp 7.967/kg. Penurunan juga terjadi pada pakan layer masa produksi (P3) sebesar Rp 86/kg dari 32 pabrik pakan dengan rataan harga produsen sekitar Rp 6.803/kg, serta konsentrat layer masa produksi (KP3) yang turun rata-rata Rp 74/kg dari 14 pabrik pakan dengan rataan harga produsen sekitar Rp 7.735/kg.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, mengatakan tren penurunan harga pakan ini menjadi perkembangan positif bagi keberlanjutan usaha peternakan nasional.

“Penurunan harga pakan tentu menjadi kabar baik bagi peternak, karena akan membantu menurunkan biaya produksi. Jika biaya produksi lebih efisien, maka usaha peternakan bisa lebih berkelanjutan dan stabilitas harga produk peternakan juga lebih terjaga,” kata Agung di kantornya, Kamis (5/3/2026).

Kendati demikian, Agung mencatat penurunan harga pakan baru dilakukan oleh sebagian pabrikan. Dari total 87 pabrik pakan unggas yang beroperasi di Indonesia, sekitar 33 pabrik atau 38% telah menyesuaikan harga.

“Sesuai arahan Bapak Menteri Pertanian, kami secara rutin melakukan pemantauan harga melalui sistem SPORA serta menjalin komunikasi dengan industri pakan. Penurunan harga ini menunjukkan adanya penyesuaian yang positif di tingkat industri sehingga dapat membantu menekan biaya produksi peternak,” sebutnya.

Ketua Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Desianto Budi Utomo, dalam keterangan terpisah mengatakan industri pakan terus melakukan efisiensi agar harga pakan semakin kompetitif.

“Industri pakan terus melakukan berbagai efisiensi dan penyesuaian agar harga pakan dapat lebih kompetitif. Kami juga terus berkoordinasi dengan pemerintah untuk memastikan ketersediaan bahan baku pakan dengan harga yang lebih kompetitif, sehingga industri pakan dapat mendukung keberlanjutan usaha peternakan nasional,” kata Desianto.

Sebelumnya, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa pemerintah terus memperkuat produksi jagung nasional sebagai bahan baku utama pakan ternak. “Tidak ada impor jagung khusus pakan. Bahkan kita sudah ekspor. Ekspor di Kalimantan Barat ke Malaysia, juga ekspor ke Filipina. Ada dari NTB dan Gorontalo. Jadi ada tiga tempat, dan Bapak Presiden lepas langsung,” kata Mentan Amran dalam Panen Raya Jagung di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (8/1/2026). (INF)

NLP DAN INDOGRITECH 2025 SIAP BERIKAN KONTRIBUSI DI SEKTOR PETERNAKAN

Direktur Debindo Global Expo, Rafidi Iqra Muhamad, saat memberikan sambutannya. (Foto: Dok. Infovet)

Kontribusi nyata dalam memenuhi kebutuhan akan ketahanan pangan melalui protein hewani sekaligus menjawab tantangan global sektor peternakan yang terus menuntut inovasi, menjadi latar belakang hadirnya pameran Nusantara Livestock & Poultry Expo (NLP) dan Indogritech 2025.

"Nusantara Livestock & Poultry Expo bersama Indogritech 2025 hadir untuk mempertemukan para ahli, profesional, pemerintah, asosiasi, serta masyarakat, sekaligus mendukung program-program pemerintah dalam memenuhi kecukupan pangan di Indonesia," ujar Direktur Debindo Global Expo, Rafidi Iqra Muhamad, selaku penyelenggara pameran, dalam press conference yang digelar di Jakarta, Kamis (9/10/2025).

Ia meyakini hadirnya event tersebut dapat memberikan warna baru dalam memajukan industri peternakan di Tanah Air, sekaligus menjadi ajang promosi dan membuka peluang bisnis yang sangat luas.

"Dengan dukungan dari pemerintah, akademisi, dan para expert di bidang peternakan, akan bisa memberikan hal yang konkret, ditambah beragam kegiatan seperti workshop, seminar, dan program lainnya akan hadir dalam pameran tersebut," tambahnya.

Selama empat hari, 6-9 November 2025, NLP dan Indogritech 2025 akan hadir di Hall 10 ICE BSD, Tangerang, dengan menampilkan lebih dari 100 brands dan potensi pengunjung sebanyak 15.000. Beberapa agenda utama juga akan dihadirkan, di antaranya Nusantara Food Summit bersama Zulkifli Hasan (Menko Bidang Pangan) dan Amran Sulaiman (Menteri Pertanian), kemudian diskusi panel mengenai Transformasi Peternakan Nasional bersama Agung Suganda (Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan/PKH), dan diskusi mengenai Biofuel & Biogas bersama Sudaryono (Wakil Menteri Pertanian).

Hal itupun mendapat support dari para stakeholder peternakan, salah satunya Dirjen PKH, Agung Suganda, dalam video launching NLP dan Indogritech 2025. Ia sampaikan dukungan dan apresiasinya bahwa kegiatan ini akan memberikan peluang bisnis peternakan dari hulu sampai hilir dan menjadi ajang promosi bukan hanya di tingkat nasional, namun juga secara global.

Sementara itu, Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) yang menjadi Co Hosted, melalui Ketua Umumnya, Desianto Budi Utomo, berharap event ini dapat membuka wawasan baru dengan format yang berbeda dari kegiatan lainnya.

"Nusantara Livestock & Poultry Expo menunjukan keberanian dan optimisme luar biasa. Kami bangga, semoga acaranya berjalan sukses dan kami siap men-support secara penuh," ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Ketua V Gabungan Pengusaha Pembibitan Unggas (GPPU), Dewa Putu Sumerta, yang juga menjadi Co Hosted"Kami merasa bangga dengan akan diselenggarakannya acara ini. Kami akan support terus dan ikut memeriahkan. Semoga ini berlangsung sukses dan lancar, serta dapat memberikan kontribusi yang positif bagi kita semua," katanya. (RBS)

DESIANTO BUDI UTOMO KEMBALI PIMPIN GPMT

Foto Bersama Jajaran Pengurus GPMT Periode 2024-2028
(Foto :CR)


Kongres Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) yang ke - 15 sukses digelar pada 21-22 Agustus 2024 yang lalu di Episode Hotel, Gading Serpong, Kabupaten Tangerang. Hasil dari kongres tersebut kembali menujuk Drh Desianto Budi Utomo sebagai Ketua Umum GPMT periode 2024 - 2028. 

Dalam pidatonya, Desianto berterima kasih kepada para anggota GPMT yang masih memberinya kepercayaan dalam menjalankan organisasi. Desianto juga mengatakan kedepannya industri peternakan khususnya pakan ternak akan kerap menghadapi berbagai tantangan, dimana tantangan tersebut hanya dapat dihadapi secara bersama - sama dengan kolaborasi antar stakholder yang solid. 

"Untuk mencapai tujuan bersama, kita harus selalu solid dalam bersinergi dan kolaborasi. Kedepannya kami berharap GPMT dapat menjadi mitra strategis bagi asosiasi, pemerintah, maupun stakeholder lain di industri peternakan dalam menghadapi isu dan tantangan kedepan," tuturnya. 

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Drh Agung Suganda yang mewakili Menteri Pertanian pada hari itu juga memberikan sambutannya. Agung kembali mengingatkan akan pentingnya keberadaan industri pakan dalam membangun peternakan dan menyojong program ketahanan pangan nasional. 

"Keberadaan industri pakan tentunya juga memberikan dampak bagi ketersediaan protein hewani yang akan dikonsumsi masyarakat. Di sini tentu saja GPMT juga ikut andil dalam membangun bangsa melalui tersedianya pakan yang berkualitas dan terjangkau untuk para peternak," kata Agung. 

Agung juga mengatakan bahwa pemerintah saat ini tengah menyiapkan program makan bergizi gratis dimana tidak akan tersedia pangan yang mengandung gizi terutama protein hewani tanpa adanya peran serta GPMT terutama pada industri petrunggasan. 

"Sebagaiamana data yang disebutkan tadi, perunggasan menjadi tulang punggung dalam penyediaan protein hewani, negara kita mayoritas masyarakat mengonsumsi paling banyak telur dan daging ayam. Tentunya budidaya unggas menjadi prioritas, sehingga membutuhkan lebih banyak pakan untuk mencukupi kebutuhan unggas," tukas Agung.

Dirinya juga berharap agar GPMT selalu berusaha meningkatkan kualitas, daya saing, dan efisiensi dalam industri pakan. Ia juga berharap GPMT dapat mengoptimalkan penggunaan bahan baku pakan berbasis lokal ketimbang melakukan impor bahan baku. (CR)

Berikut ini adalah susunan pengurus GPMT periode 2024-2028

Ketua Umum
Desianto B. Utomo (PT. Charoen Pokphand Indonesia)
Ketua
Johan (PT. Japfa Comfeed Indonesia)
Ketua
Tevi Melviana (PT. New Hope Indonesia)
Ketua
Bagus Pekik (PT. De Heus Indonesia)
Ketua
Deny Mulyono (PT. Central Proteina Prima)
Sekretaris Jenderal
Yetti Liza (PT. Malindo Feedmill)
Bendahara
Azrul Arifin (PT. Japfa Comfeed Indonesia)
BADAN PENGURUS PUSAT
Pakan Agro
a. Anang Hermanta (PT. Sinta Prima Feedmill)
b. Sulistiyono (PT CJ Feed and Care Indonesia)
Pakan Akua
a. Andhi Trapsilo (PT. Suri Tani Pemuka)
b. Fauzan (PT. Gold Coin Indonesia)
Bahan Baku
a. Yussar Wirawan (PT. Charoen Pokphand Indonesia)
b. Yenny Wijaya (PT. Sreeya Sewu Indonesia)
c. Umi Fadhilah (PT. New Hope Indonesia)
Organisasi (Internal)
Helsintha (PT. CJ Feed and Care Indonesia)
Hubungan Antar Lembaga (Eksternal)
Firmansyah Sachroni (PT. Cargill Indonesia)
Legal
Wesly Manullang (PT. Charoen Pokphand Indonesia)
Sosial Media
Hendra Lukito (PT. Charoen Pokphand Indonesia)

PENTINGNYA KUALITAS BAHAN BAKU DALAM MENUNJANG KUALITAS PAKAN

Foto Bersama Peserta Seminar
(Foto : Istimewa)


Sudah menjadi rahasia umum bahwa pakan menjadi salah satu komponen biaya terbesar dalam suatu usaha peternakan. Soyvbean meal alias bungkil kedelai yang banyak digunakan dalam formulasi ransum sebagai sumber protein, merupakan salah satu bahan baku pakan yang hampir tak tergantikan layaknya jagung. Fluktuasi harga kualitasnya pun  masih menjadi isu yang kerap dibahas oleh para pelaku industri. 

Dari background tersebut, United States Soybean Export Council (USSEC) bersama Gabungan Produsen Makanan ternak (GPMT) membahasnya dalamn sebuah seminar. Seminar dengan tema  “Soybean Meal Cost Evaluation tersebut digelar di Hotel Grand Zuri BSD pada Selasa (30/7) yang lalu. Empat Orang narasumber didapuk menjadi pembicara dalam seminar yang dihadiri oleh para pelaku dalam industri pakan tersebut. 

Kualitas Bahan Baku Menentukan Kualitas Produk Akhir

Prof Budi Tangendjaja selaku Technical Consultant USSEC Indonesia memaparkan pentingnya konsistensi dari kualitas suatu bahan pakan. Bahan baku impor kadang memiliki kandungan berbeda. Hal tersebut itu dikarenakan banyak faktor mulai dari produsen yang berbeda. Menurutnya akan lebih baik membeli bahan baku dari satu produsen yang dapat mensuplai dengan jumlah besar dalam satu tempat yang sama. Karena konsistensi bukan hanya dilihat dari kandungannya, tetapi dipengaruhi asal kedelainya, cara penyimpanan, cara distribusi. 

“Konsistensi dari kualitas bahan baku pakan itu penting. Ada banyak nutrien yang dibutuhkan dalam suatu formulasi ransum, oleh karena itu memilih bahan baku jangan hanya memperhatikan satu parameter saja, seperti misalnya protein. Harga protein ini biasanya mahal, tetapi melihat energi itu lebih penting, pertimbangkan juga serat. Serat yang tinggi itu indikasi energi rendah, sulit dicerna seringkali mengurangi efisiensi pakan. Jangan sampai pakan yang kita pakai ini kandungan gizinya rendah dengan biaya yang tinggi,” Budi menambahkan.

Dalam kesempatan yang sama, Neneth Reas selaku Regional Technical Director USSEC-SEA, ia menjelaskan terkait teknologi canggih yang digunakan dalam suatu rantai processing bahan baku pakan, misalnya kedelai. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga kualitas seluruh rantai pasok mulai dari penanaman hingga pengolahan semuanya menggunakan teknologi canggih.

“Semua aspek diperhatikan, pemilihan bibit yang tahan terhadap hama, penyakit dan herbisida. Apliklasi teknologi seperti GPS, drone dan sensor untuk memantau kondisi lahan secara real-time, data yang didapat mempermudah pemupukan, irigasi, dan aplikasi pestisida yang aman. Big data pun dipergunakan untuk memantau cuaca dan mempermudah pengambilan keputusan karena disertai data. Begitupun pada proses pengolahan mulai dari penghancuran dan penggilingan menggunakan alat yang canggih. Yang lebih penting semua proses ini sudah mematuhi protokol yang ada,” ujar Neneth.

Berkualitas Dalam Segala Aspek

Jessica Swan, Senior Merchandiser AG Processing Inc. mengklaim bahwa idealnya kedelai  ditanam berasal pada tanah yang subur dan dikelola dengan baik manajemennya dari segi penanaman hingga pemanenan. Di Amerika Serikat sendiri terdapat peraturan yang melarang  pekerja dibawah umur ataupun perbudakan, yang menjadi concern isu sosial.  ia juga menjelaskan segi isu lingkungan dimana budidaya kedelai di Amerika wajib memiliki sertifikat ramah lingkungan.

"Masyarakat peduli akan isu sosial - lingkungan, kami berusaha meningkatkan kualitas kami bahkan sampai menyentuh ke isu tersebut. Bahkan kami telah memperoleh sertifikasi SSAP (US Soy Sustainability Assurance Protocol ), selain itu telah menjadi komitmen bagi kami untuk mengurangi jejak karbon sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan,” jelasnya.

Diperkuat oleh pernyataan Ibnu Edy Wiyono, Country Representative USSEC yang menjelaskan bahwa SSAP (U.S. Soy Sustainability Assurance Protocol) adalah protokol yang bertujuan untuk memastikan bahwa kedelai yang diproduksi oleh petani AS memenuhi standar sustainability.

SSAP berisi detail terkait berbagai aspek mulai dari kesuburan tanah, penggunaan air, upaya pengurangan emisi gas karbon, meminimalisir penggunaan bahan kimia, dan juga isu sosial seperti mempertimbangkan kesejahteraan pekerja dan tidak mempekerjakan anak dibawah umur.

"Sertifikat ini memberikan kepastian bagi semua pihak,  produsen bukan hanya memenuhi kebutuhan pasar tetapi juga melindungi sumber daya alam, mengurangi emisi, dan mendukung kesejahteraan sosial. SSAP juga memastikan kualitas produk yang tinggi. Dengan memenuhi standar SSAP yang ketat, kedelai AS menjadi lebih kompetitif di pasar global dan memenuhi persyaratan regulasi internasional. (INF)



GPMT PERKIRAKAN INDUSTRI PAKAN NASIONAL TAHUN DEPAN TUMBUH 5 PERSEN

Foto bersama dalam seminar yang digelar GPMT di Cibubur. (Foto: Dok. Infovet)

Industri pakan nasional diperkirakan akan tumbuh sekitar 5% pada 2024 mendatang. Hal itu disampaikan Ketua Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Desianto Budi Utomo, dalam seminar GPMT bertema “Sustainability Feed Industry in Indonesia 2024”, yang dilaksanakan di Avenzel Hotel Cibubur, Selasa (14/11/2023).

Melalui kalkulasi pihaknya menyebutkan pertumbuhan produksi tersebut mencapai 19 juta ton dari tahun sebelumnya yang hanya sekitar 18 juta ton. Desianto juga menjelaskan beberapa faktor yang mendasari estimasi pertumbuhan tersebut di antaranya pada 2024 mendatang merupakan tahun politik yang diharapkan tumbuhnya ekonomi masyarakat dan banyaknya program pemerintah yang akan disalurkan kepada masyarakat, termasuk produk protein hewani.

“Tahun depan juga diharapkan kita sudah tidak menghadapi El Nino, sehingga kebutuhan jagung untuk pabrik dapat terpenuhi,” katanya. Adapun faktor lainnya, lanjut dia, yakni program pemerintah untuk melakukan peningkatan produksi salah satunya jagung.

“Ketersediaan jagung sebagai bahan pakan utama perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah, terutama terkait data produksi, stabilitas ketersediaan, dan harga,” ucapnya. Selain itu, ia juga berharap ada regulasi tentang pengaturan BMAD dan juga PPN bagi bahan pakan yang lebih berpihak kepada industri pakan.


Dari data yang ia jabarkan, Desianto juga turut menyampaikan proyeksi kebutuhan jagung per bulan rata-rata mencapai sekitar 600-800 ribu ton atau sekitar 8.350.202 ton pada 2024, dengan asumsi dan prediksi penggunaan jagung di formulasi sebesar 47,9%.

Sebagai informasi di 2023, Desianto mengungkapkan industri pakan ternak tumbuh 1-3%, dengan total kebutuhan jagung sebesar 8.343.649 ton, adapun total realisasi hingga September 2023 mencapai 5.645.483 ton, dengan rata-rata 627 ribu ton per bulan, dan asumsi kebutuhan formulasi 43%. (RBS)

AGRIBUSINESS OUTLOOK 2022, GELIAT BISNIS UNGGAS

Webinar Agribusiness Outlook 2022 “Geliat Bisnis Udang dan Unggas di Tahun Macan Air”. (Foto: Infovet/Ridwan)

Industri perunggasan saat ini masih menjadi tumpuan penghasil protein hewani masyarakat yang dikenal dengan harga murah. Namun tantangan yang semakin tinggi membuat fluktuasi harga unggas di tingkat konsumen dan peternak kerap terjadi.

Oleh karena itu, dibutuhkan kreatifitas dan inovasi dalam meningkatkan produksi. Hal itu disampaikan Dr Ir Rachmat Pambudy, dalam webinar Agribusiness Outlook 2022 “Geliat Bisnis Udang dan Unggas di Tahun Macan Air”, Kamis (10/3/2022).

“Dengan produksi di atas 3 miliar ekor, membuat bisnis perunggasan menjadi sangat penting. Kita berharap kebijakan pemerintah bisa memberikan arah baru bagi sektor perunggasan yang lebih stabil, kompetitif dan bergairah bagi peternak, begitupun di sektor udang kita,” kata Rachmat.

Salah satu tantangan berat yang masih menyertai bisnis perunggasan datang dari sektor pakan ternak. Ketua Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Drh Desianto Budi Utomo, menyebutkan beberapa faktor yang membuat tingginya harga pakan.

“Pengenaan PPN dan bea masuk beberapa jenis bahan pakan impor masih menjadi salah satu faktor penyebab harga pakan mahal,” kata Desianto.

“Kemudian naiknya ongkos pengiriman dan kelangkaan kontainer, serta peningkatan harga jagung dan bahan pakan seperti soybean meal (SBM) maupun meat bone meal (MBM).” Harga jagung kini mencapai Rp 5.000-5.600, serta SBM dan MBM saat ini menyentuh harga Rp 10.000-11.000/kg.

Kenaikan bahan pakan tersebut, kata Desianto, menyebabkan harga pakan terkoreksi karena komponen bahan pakan berkontribusi 80-85% dari total biaya produksi pakan.

Lebih lanjut, tantangan lain yang juga menjadi ancaman adalah importasi ayam Brasil. Hal itu menjadi kekhawatiran karena biaya produksi ayam Brasil lebih rendah sehingga membuat harga menjadi sangat kompetitif.

Untuk mempersiapkan tantangan-tantangan tersebut, Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kemenko Bidang Perekonomian, Dr Musdhalifah Machmud MT, menyampaikan bahwa pemerintah terus berupaya melakukan pengembangan industri perunggasan nasional.

Diantaranya dengan peningkatan produktivitas dan daya saing industri perunggasan melalui modernisasi budi daya dan rantai pasok, dorongan pengembangan industri pengolahan telur dan pengaturan tata niaga daging dan telur unggas.

“Kemudian juga stabilisasi harga daging dan telur ayam, serta stabilisasi harga pakan dan bahan baku pakan unggas, melakukan upaya peningkatan konsumsi masyarakat dan membentuk tim kajian untuk membuat road map perunggasan nasional,” kata Musdhalifah. (RBS)

OUTLOOK BISNIS PETERNAKAN ASOHI: HADAPI DINAMIKA DAN PERCEPATAN PEMULIHAN

Webinar Nasional ASOHI Outlook Bisnis Peternakan 2021. (Foto: Infovet/Ridwan)

“Bersama Menghadapi Dinamika dan Percepatan Pemulihan” menjadi tema Webinar Nasional Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) Outlook Bisnis Peternakan 2021, Kamis (16/12), yang dihadiri sekitar 170 orang peserta. Acara tahunan ini kembali menghadirkan para ketua asosiasi bidang peternakan dan kesehatan hewan dalam membahas potret dan peluang bisnis di masa mendatang.

Terkait tema webinar, Ketua Panitia, Drh Harris Priyadi, mengatakan pihaknya bermaksud mengembalikan esensi kebersamaan para stakeholder peternakan, mengingat disrupsi dan tantangan yang sedang terjadi.

“Kita semua ingin dan harus  mengusahakan lalu mendapati situasi lebih baik di depan kita semua. Ada quotes yang mengatakan ‘Our better future is not something we just to wait, but it is something for us together to create’, artinya kita tidak bisa berdiam diri saja untuk melakukan perubahan, tapi kita harus menciptakannya secara bersama-sama,” ucapnya.

Sementara Ketua ASOHI, Drh Irawati Fari, menambahkan bahwa di 2022 mendatang terdapat titik cerah untuk bisa melakukan pemulihan dalam bisnis peternakan dan kesehatan hewan.

“Dengan melihat situasi saat ini yang semakin membaik, mudah-mudahan memasuki tahun 2022 kita masuk dalam masa pemulihan. Untuk itu tema webinar yang dipilih tahun ini sangat bagus dan memotivasi kita, serta ini mengandung makna bahwa semua stakeholder peternakan harus bersama-sama dalam menghadapi berbagai dinamika dan berupaya melakukan percepatan pemulihan,” ujar Irawati.

Ia juga menambahkan, “Melalui webinar ini kita dapat merekam opini masyarakat yang diwakili asosiasi untuk menjadi masukan kepada pemerintah dan diharapkan ada tindak lanjutnya.”

(Dari atas kiri): Ketua Panitia Harris Priyadi, Ketua Umum ASOHI Irawati Fari, Kasatgas Pangan Polri Irjen Pol. Helmy Santika dan Dirkeswan Nuryani Zainuddin. (Foto: Infovet/Ridwan)

Hal senada juga disampaikan Kasatgas Pangan Polri, Irjen Pol. Helmy Santika dan Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan yang diwakili Direktur Kesehatan Hewan, Drh Nuryani Zainuddin, yang berharap webinar ini menjadi bekal dalam menghadapi dinamika sektor peternakan di masa sekarang dan yang akan datang, serta memberikan manfaat dalam membangun sektor peternakan dan kesehatan hewan.

(Dari atas kiri): Narasumber Ketua GPPU Achmad Dawami, Wakil Ketua Pinsar Eddy Wahyudin, Ketua HPDKI Yudi Guntara, Ketua GPMT Desianto B. Utomo, Ketua PPSKI Nanang P. Subendro dan Ketua AMI Sauland Sinaga.

Webinar yang dimulai sejak pukul 08:00 WIB menghadirkan pembicara tamu Equity Research Analyst BRI Danareksa Sekuritas, Victor Stefano, serta pembicara dari Ketua GPPU Achmad Dawami, Ketua GPMT Desianto B. Utomo, Wakil Ketua Pinsar Eddy Wahyudin, Ketua PPSKI Nanang Purus Subendro, Ketua HPDKI Yudi Guntara Noor, Ketua AMI Sauland Sinaga dan Ketua ASOHI Irawati Fari. (RBS)

GPMT MENGUSULKAN PEMERINTAH PERTIMBANGKAN IMPOR JAGUNG

 

Ketua GPMT, Timbul Sihombing 

Dalam situasi pasokan dan harga tidak kondusif yang berpengaruh pada efisiensi produksi serta harga final pakan, para produsen pakan ternak berharap pemerintah mengambil kebijakan strategis. Kebijakan strategis ini diantaranya importasi gandum pakan sebagai substitusi dan impor jagung ketika pasokan terbatas dan harga mengalami lonjakan.

Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) mengusulkan agar pemerintah mempertimbangkan kebijakan impor jagung untuk pakan ternak. Hal itu seiring naiknya harga jagung lokal sebagai bahan baku pakan.

“Kami usulkan impor jagung sifatnya on and off dan dikendalikan oleh pemerintah dan idealnya pemerintah punya buffer stock untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan,” kata Ketua GPMT, Timbul Sihombing dalam diskusi virtual katadata bertema “Geliat Industri Perunggasan: Harga Pakan, DOC dan Ayam Hidup”, Rabu (30/6).

“Ketika harga sudah diluar batas kewajaran perlu dipilih opsi impor jagung tapi tentu ini harus hati-hati dan tetap dikendalikan pemerintah. Idealnya, pemerintah punya cadangan stok nasional yang bisa menjaga stabilitas suplai dalam negeri,” tambahnya.

Timbul menjelaskan, harga pakan secara keseluruhan pada 2019-2020 tidak terdapat fluktuasi meski pada akhir 2020 mulai terdapat indikasi kenaikan harga. Terutama untuk pakan ternak ayam broiler. Terlebih lagi, 90 persen dari total produksi pakan ternak diperuntukan untuk unggas.

Stok jagung saat ini di pabrik pakan ternak tercatat mencapai level yang lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu. Stok yang terbatas ini diikuti dengan harga jagung yang relatif masih tinggi. Timbul juga mengemukakan persediaan jagung nasional pada Mei hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan produksi selama 34 hari ke depan.

“Sebagai pembanding tahun lalu pada Mei stok jagung untuk pemenuhan pakan nasional bisa untuk 59 hari,” ujarnya.

Pasokan jagung untuk produksi pakan sendiri dipasok dari produksi lokal. Timbul menyebutkan pasokan jagung lokal masih tersedia, tetapi harga masih relattinggi. Harga rata-rata jagung pipil kering dengan kadar air 15 persen pada Mei 2021 tercatat berada di kisaran Rp5.472 per kilogram (kg) sampai Rp6.233 per kg. Sebagai perbandingan, pada Mei 2020 harga jagung pipil kering dengan kualitas yang sama masih berada di kisaran Rp3.302 per kg sampai Rp4.320 per kg.

Selain harga tinggi jagung lokal yang menjadi komponen utama pakan, harga bungkil kedelai impor juga stabil tinggi sebagai imbas dari terbatasnya pasokan dan naiknya permintaan China sebagai salah satu importir terbesar kedelai. Kendati demikian, Timbul menyebutkan aktivitas impor tetap dilakukan pabrik.

Timbul memastikan pabrik pakan akan terus menyerap dan mengutamakan produksi jagung lokal. (NDV)

 

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer