-->

PAKAN KOMPLET FERMENTASI, SOLUSI PAKAN DI MUSIM KEMARAU

Pembuatan pakan komplet fermentasi (Foto: Fapet UGM)

Pada musim kemarau, penyediaan pakan dapat menjadi tantangan tersendiri bagi peternak karena terbatasnya stok pakan. Salah satu solusi yang dapat diambil yaitu dengan membuat pakan komplet fermentasi. Pakan ini berbasis hijauan pakan dan jerami yang bernilai nutrisi tinggi.

Dekan Fakultas Peternakan UGM, Prof Dr Ir Ali Agus mengatakan pada Senin (18/5), pakan komplet fermentasi sangat cocok diterapkan pada saat musim kemarau atau saat terjadi bencana alam karena lebih praktis. Selain itu kandungan nutrisinya baik, biaya pembuatan terjangkau, dapat disimpan dalam waktu yang lama, dan menghemat waktu peternak.

Pada skala peternakan dan industri usaha sapi potong (feedlot), terdapat realitas berupa pemanfaatan jerami padi secara langsung. Hal itu menimbulkan masalah karena jerami padi dalam segi kuantitas memang melimpah, tetapi dalam segi kualitas masih tergolong bernutrisi rendah sebab hanya mengandung protein sekitar 3-4%.

Jerami padi kering dapat diolah menjadi jerami padi fermentasi yang kemudian diolah menjadi pakan komplet dengan menambahkan bahan lain sehingga kualitasnya meningkat, yaitu dari kadar protein 3-4% menjadi 7-8% dan tahan sepanjang musim. Bahan yang digunakan dalam teknologi pakan komplet terfermentasi adalah jerami padi dan beberapa jenis bahan pakan konsentrat (bersifat pilihan dan situasional) yang terdiri atas bekatul padi, onggok, gaplek, bungkil kopra, kulit kacang, roti, pollard, mollases, garam, jagung kuning giling, “starter mikrobia”, dan calsid. Pemanfaatan limbah pertanian tersebut dapat menekan biaya pembuatan pakan.

Nilai nutrisi pakan komplet dapat diatur dengan cara menentukan jumlah dan jenis campuran. Dengan demikian, ternak tidak berkesempaan memilih pakan sehingga memperkecil jumlah pakan yang tidak dimakan. Pakan komplet berbasis hijauan pakan dan jerami dapat diterapkan dalam skala rumah tangga maupun industri.

Pakan komplet cocok untuk jenis ternak ruminansia seperti sapi, kerbau, kambing, dan domba. Ternak ruminansia memiliki rumen yang berisi jutaan mikrobia yang membuatnya mampu menyintesis beberapa jenis nutrisi penting yang dibutuhkan untuk mendukung kebutuhan hidup dan produksinya. Ternak ruminansia juga mampu mencerna sumber serat, seperti rumput, daun, jerami, dan by product pertanian.

Pembuatan pakan komplet berbasis jerami padi fermentasi diharapkan membuat peternak tidak perlu lagi merumput setiap hari. Peternak cukup membuat pakan komplet sekali saja dan dapat dipakai untuk cadangan makanan dalam jangka waktu tertentu tergantung pada kapasitas pembuatannya. Dengan demikian, peternak memiliki sisa waktu yang dapat digunakan untuk melakukan aktivitas lain.

Ali Agus menambahkan, Fakultas Peternakan telah mengimplementasikan pembuatan pakan komplet pada saat terjadi erupsi Gunung Merapi pada 2010. Pakan komplet merupakan solusi tepat guna di masa tersebut yang dapat mencegah peternak menerobos daerah berbahaya untuk merumput bagi ternaknya. (Rilis/INF)

LAGI-LAGI KOLIBASILOSIS

Omphalitis pada DOC salah satu indikasi infeksi E. coli. (Sumber: Istimewa)

Peternak mana yang tidak tahu kolibasilosis? Mungkin semua peternak ayam terutama broiler di Indonesia sudah pasti pernah merasakan kerugian yang diakibatkannya. Walaupun sudah banyak peternak yang bisa dibilang well educated, namun masih saja peternak kerap kali merasakan kerugian yang berulang.

Tidak usah diberitahu lagi, peternak Indonesia mungkin sudah lebih jago daripada technical service, sales representative, atau semacamnya mengenai penyakit ini. Petugas kandang juga sudah kenyang dengan hal tersebut. Namun misteri mengapa ketika kasus kolibasilosis dapat terus “membunuh” peternak secara berulang memang tak pernah bisa diungkap. 

Si Oportunis dan Residivis
Bakteri Escherichia coli, atau biasa disingkat dan lazim disebut E. coli merupakan bakteri yang normal hidup pada saluran pencernaan dan normal terdapat banyak di lingkungan peternakan ayam. Bakteri yang serupa juga terdapat pada saluran pencernaan mahluk hidup lainnya termasuk manusia.

Sifat dari bakteri ini pun sebenaranya sebagai bakteri pembusuk yang membantu pencernaan. Meskipun kebanyakan non-patogen, namun beberapa diantaranya menyebabkan infeksi saluran pencernaan pada berbagai mahluk hidup termasuk ayam.

Infeksi bakteri E. coli disebut kolibasilosis. Kolibasilosis pada ayam adalah penyakit lokal atau sistemik yang sebagian atau seluruhnya disebabkan oleh E. coli, termasuk koliseptisemia, koligranuloma, air sac diseases, avian cellulites, swollen head syndrome, peritonitis salfingitis, osteomyelitis/synovitis, panophtalmitis dan omphalitis atau infeksi kantong kuning telur.

Bakteri ini juga dapat mencemari lingkungan. Biasanya mereka dapat ditemukan dalam litter, kotoran ayam, debu atau kotoran dalam kandang. Debu dalam kandang ayam dapat mengandung 105 sampai 106 E. coli/gram (Tabbu, 2000).

Keberadaan E. coli dalam air minum merupakan indikasi adanya pencemaran oleh feses. Dalam saluran pencernaan ayam normal, terdapat 10-15% bakteri E. coli patogen dari keseluruhan E. coli.

Anben et al. (2001), mengelompokkan E. coli yang bersifat patogen sesuai dengan gejala klinis yang ditimbulkan, antara lain penyebab diare, penyebab septisemia dan Avian Pathogenic Escherichia coli (APEC). Galur APEC merupakan galur yang berhubungan dengan karakteristik penyakit kolibasilosis pada ayam.

Peradangan berupa perkejuan pada organ visceral akibat E. coli. (Sumber: Istimewa)

Menurut Drh Agustin Indrawati, staf pengajar mikrobiologi medis Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor, menyatakan bahwa penyakit ini sesungguhnya benar-benar persoalan klasik yang tidak kunjung selesai. Hal ini juga berkaitan dengan praktik manajemen dalam beternak.

“Sifatnya memang bakteri normal di usus, tetapi ketika kondisi memungkinkan bagi mereka untuk menginfeksi, maka infeksi akan terjadi. Oleh karenanya peran manajemen sangat menentukan,” tutur Agustin.

Selain itu, yang lebih gawat lagi berdasarkan hasil penelitiannya, beberapa strain dari bakteri E. coli sudah mengalami resistensi terhadap beberapa jenis antimikroba. Tentu saja ini berbahaya bagi ternak, apalagi konsumen.

E. coli juga sering ditemukan pada produk daging ayam, kalau kebetulan E. coli-nya ternyata sudah kebal antimikroba, tidak dimasak sempurna, lalu termakan oleh manusia, dan kemudian manusia itu sakit, tentunya akan sulit mengeliminirnya, karenakan dia (E. coli) sudah kebal. Makanya masalah ini… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Mei 2020 (CR)

HARGA AYAM HIDUP PULIH DI TINGKAT PETERNAK, SENTUH RP 21.000


Harga ayam di tingkat peternak perlahan mulai membaik. (Foto: Istimewa)

Setelah beberapa bulan mengalami tekanan harga, kini peternak ayam mandiri perlahan dapat menikmati harga ayam hidup/livebird (LB) yang membaik. Ini menjadi angin segar bagi peternak pasalnya di beberapa daerah sudah menyentuh harga acuan pemerintah, yaitu di tingkat peternak Rp 19.000-21.000/kg.

Sesuai arahan Menteri Pertanian, setidaknya telah melakukan dua langkah intervensi di lapangan, yaitu pemantauan secara intensif ketersediaan dan penyerapan ayam hidup di tingkat peternak.

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Kementerian Pertanian (Kementan), I Ketut Diarmita, terus menggenjot upaya tersebut agar tidak terjadi gejolak harga akibat stok pangan, salah satunya ayam hidup.

“Di beberapa sentra produksi, harga ayam hidup sudah membaik dan peternak merespon positif langkah ini,” kata Ketut dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (15/5/2020).

Sementara Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Indonesia wilayah Jawa Tengah, Parjuni, menilai harga membaik karena supply-demand cukup seimbang. Adanya momen malam 21 Ramadan membuat kebutuhan meningkat mendekati Lebaran. Ia memperkirakan konsumsi masyarakat meningkat walau tidak signifikan karena masih pandemi COVID-19.

"Alhamdulillah kini harga LB yang sebelumnya Rp 14.000-15.000/kg meningkat ke harga Rp 21.000/kg," ucapnya. Parjuni pun meminta agar pengendalian suplai dan harga DOC terjaga agar harga terus membaik.

Pantauan Kementan per 14 Mei 2020, harga tertinggi terjadi di Yogyakarta dengan rataan harga Rp 22.222/kg, disusul Jawa Tengah dengan harga Rp 20.941/kg.

Secara rinci, Kementan memantau 17 kabupaten/kota di Jawa Tengah, dengan Kabupaten Pekalongan dan Kota Pekalongan telah menunjukan harga batas atas tingkat peternak, yakni Rp 21.000-21.500/kg.

Sementara Jawa Timur dengan 21 kabupaten/kota, terpantau rata-rata Rp 20.385/kg. Namun 10 Kabupaten/Kota (Gresik, Lamongan, Lumajang, Madiun, Magetan, Nganjuk, Ponorogo, Sidoarjo, Tuban dan Batu) sudah mencapai harga acuan batas atas, yaitu berkisar Rp 21.500-23.500/kg.

Selain itu, harga LB di wilayah Banten juga ikut terkerek naik dengan rataan harga mencapai Rp 19.583/kg. Hal serupa juga terjadi di Jawa Barat, yakni Rp 19.385/kg. Diikuti daerah Bogor dan Garut yang juga merangkak naik dikisaran Rp 17.500-18.400/kg.

Perbaikan harga LB juga berlaku di wilayah regional di luar Pulau Jawa, diantaranya Provinsi Bengkulu (Rp 23.500/kg), Sulawesi Utara (Rp 22.500/kg), Maluku (kisaran Rp 22.000/kg) dan Papua (kisaran Rp 27.135/kg).

Sebelumnya untuk menekan kerugian peternak mandiri akibat keterpurukan harga, Dirjen PKH, I Ketut Diarmita, mengupayakan terobosan penyerapan ayam hidup peternak oleh perusahaan mitra perunggasan dengan komitmen penyerapan sebanyak 4.119.000 ekor. Hal ini dinilai telah mampu menekan kerugian peternak meski serapannya belum maksimal.

“Jumlah ayam yang sudah diserap perusahaan mitra peternakan sudah mencapai 856.484 ekor. Pemerintah berterima kasih pada para mitra yang telah membantu peternak mandiri” ungkap Ketut.

Secara rinci per 14 Mei 2020, pembelian ayam peternak mandiri di Jawa Barat sebanyak 411.564 ekor, Banten 26.615 ekor, Jawa Tengah 226.104 ekor, DI Yogyakarta 9.919 ekor, Jawa Timur 136.635 ekor, Bali 30.415 ekor dan Sumatera Utara 15.232 ekor. (INF)

PENERAPAN ASPEK KESRAWAN PADA RANTAI PASOK SAPI POTONG

Penerapan kesrawan pada ternak sapi potong sangat penting. (Foto: Istimewa)

Penanganan ternak dengan memperhatikan kesejahteraan hewan (kesrawan) akan menghasilkan kinerja yang efisien, aman bagi sapi dan operator, serta meningkatkan kualitas daging yang dihasilkan. Dengan demikian, penanganan hewan yang apik akan terwujud pula kesejahteraan hewan yang baik.

Hal itu disampaikan Neny Santy Jelita dalam sebuah pelatihan daring yang diselenggarakan Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) dan Fakultas Peternakan IPB. Pelatihan berlangsung selama dua seri dan dilakukan selama dua hari waktu pelatihan, yakni pada 13-14 Mei 2020 dengan mengangkat topik “Penerapan Animal Welfare pada Rantai Pasok Sapi Potong”.

Neny memaparkan, prinsip dasar kesrawan yakni ternak harus bebas dari rasa lapar dan haus, bebas dari rasa tidak nyaman, bebas dari rasa sakit dan cedera, bebas dari rasa takut dan tertekan, serta bebas untuk menampilkan perilaku alaminya.

Saat berada di rumah penampungan, sapi harus diberikan penerangan yang baik agar operator bisa melakukan penanganan dengan optimal.

“Kami terbiasa ke rumah pemotongan hewan (RPH) dan melihat perlunya edukasi dan bantuan penyediaan fasilitas yang memadai. Penanganan sapi di RPH ini merupaan fase akhir yang tidak kalah penting untuk diperhatikan. Stres pada saat pemotongan akan menyebabkan daging akan berwarna kehitaman, bukan merah,” kata Neny.

Ia menambahkan, pada saat yang dijadwalkan di RPH juga harus seminimal mungkin, agar sapi tidak mengalami stres. Neny menyarankan supaya ternak harus segera disembelih secara cepat, baik menggunakan metode pembiusan ataupun tidak. Proses penyembelihan ini akan menentukan kualitas daging yang akan dibeli oleh konsumen.

Neny pun mengingatkan bahwa dalam hal kesrawan pada peternakan sapi potong ini harus bisa diterapkan pada lima hal utama, yakni pada saat penanganan hewan ternak, transportasi, penanganan di feedlot, penerapan di RPH, serta pada saat penyembelihan dengan pemingsanan. (IN)

PENGELOLAAN PAKAN HIJAUAN UNTUK SAPI DI LAHAN SAWIT

Integrasi sapi-sawit. (Sumber: iaccbp.org)

Integrasi ternak dalam usaha perkebunan sawit adalah menempatkan dan mengusahakan sejumlah ternak tanpa mengurangi aktivitas dan produktivitas kebun, bahkan keberadaan ternak tersebut dapat meningkatkan produktivitas tanaman, sekaligus produksi ternaknya. Integrasi ternak tersebut bertujuan agar terjadi sinergi saling menguntungkan yang pada akhirnya dapat membantu mengurangi biaya produksi.

Hal itu diuraikan oleh Ranch Manager Palm Cow Integration Dept, PT Buana Karya Bhakti, Wahyu Darsono, dalam sebuah seminar online tentang sistem pemberian pakan untuk sapi induk yang diselenggarakan oleh Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia (AINI), Jumat (15/5/2020). 

Wahyu mengatakan bahwa dalam integrasi sapi sawit maka kebun sawit harus diperankan sebagai lahan gembalaan atau sebagai pasture untuk pembiakan sapi atau produksi sapi grassfed. Dengan demikian, kebun atau pabrik sawit berperan menyediakan bahan pakan yang berkelanjutan bagi ternak, khususnya ternak ruminansia.

“Pengelolaan pasture di kebun sawit sebagai sumber pakan berkelanjutan perlu dilakukan secara terkontrol dengan alokasi paddock sesuai dengan grup atau status sapi dan berdasarkan stocking rate potensi biomass,” kata Wahyu. 

Demikian juga dengan optimalisasi pemanfaatan vegetasi gulma sebagai sumber pakan,  perlu didukung komitmen dan sinergi yang kuat antara kegiatan perkebunan dan kegiatan penggembalaan sapi, terutama pada aspek pemupukan, penanggulangan gulma dan panen TBS, serta pemanfaatan areal terbuka untuk introduksi tanaman hijauan pakan berkualitas.

“Untuk memenuhi kecukupan nutrisi sapi sesuai dengan status sapi dan pengaruh iklim terutama curah hujan, perlu diberikan pakan tambahan sebagai sumber protein, energi dan mineral,” pungkasnya. (IN)

REXSI : KELINCI UNGGUL DARI BALITBANGTAN

Rexsi, bibit unggul kelinci dari Balitbangtan

Usaha peternakan kelinci di masa kini semakin berkembang karena didorong oleh peningkatan permintaan terhadap produknya. Beberapa produk yang digemari masyarakat antara lain  kelinci hias, kelinci kesayangan, kelinci kontes maupun daging kelinci. Karena itu, para pelaku usaha ternak kelinci diharapkan mampu meningkatkan usaha ternaknya untuk memenuhi permintaan tersebut.

Salah satu kebutuhan utama para peternak kelinci yang mendesak adalah tersedianya bibit unggul dalam jumlah dan kualitas yang memadai. Pembibitan kelinci yang terdapat di lapangan saat ini hanya sebatas pada pembudidayaan ternak kelinci sebagai penghasil calon indukan baik pejantan maupun betina. Pengelolaannya juga masih secara tradisional sehingga ternak yang dihasilkan belum memiliki standar kualitas.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Kementerian Pertanian, Fadjry Djufry melalui sambungan telepon menyampaikan bahwa budi daya kelinci merupakan salah satu alternatif dalam penyediaan daging untuk pemenuhan protein hewani dan sekaligus sebagai upaya peningkatan pendapatan masyarakat. 

Kelinci Rexsi jantan

“Daging kelinci sangat baik untuk kesehatan karena mempunyai protein yang tinggi dengan kandungan lemak dan kolesterol yang rendah sehingga dapat memperbaiki gizi masyarakat”, urai Fadjry.

“Walaupun tidak sepopuler dengan beternak ayam ataupun bebek dan kambing, bukan berarti beternak kelinci tidak memiliki peluang pasar”, tambahnya

Lebih lanjut Fadjry mengatakan bahwa Balitbangtan melalui Balai Penelitian Ternak (Balitnak) telah melakukan serangkaian kegiatan penelitian untuk menghasilkan bibit unggul dari jenis-jenis kelinci yang tersedia. Salah satunya kelinci Rexsi Agrinak yang dilepas Kementerian Pertanian tahun 2017 dengan keputusan Mentan nomor 303/Kpts/SR.120/5/2017.

Kelinci Reksi Agrinak dikembangkan karena selain ukurannya besar sehingga dapat dimanfaatkan dagingnya untuk memenuhi kebutuhan protein hewani bagi keluarga, Kelinci Reksi Agrinak juga memiliki kelebihan pada warna bulu yang indah dan halus serta seragam panjangnya, sehingga kelinci jenis ini dapat dimanfaatkan sebagai penghasil kulit/bulu untuk selanjutnya diolah sebagai bahan kerajinan interior mobil, boneka, mainan anak-anak, selendang, tas wanita, aksesori rambut, sepatu bayi, topi dan sarung tangan

Mengamini pernyataan Kepala Balitbangtan, Peneliti senior dari Balitnak, Ciawi, Bogor Dr. Yono C. Raharjo, mengatakan bahwa daging kelinci berbeda dengan daging ternak ruminansia. Daging kelinci berserat halus dengan warna sedikit pucat, sehingga dapat dikelompokkan dalam golongan daging berwarna putih seperti halnya daging ayam. “Daging putih kadar lemaknya rendah dan glikogen tinggi. Rendahnya kandungan kolesterol dan natrium membuat daging kelinci sangat dianjurkan sebagai makanan untuk pasien penyakit jantung atau kolesterol, usia lanjut, dan mereka yang bermasalah dengan kelebihan berat badan”, jelasnya.

Kelinci Rexsi betina

Untuk memperoleh galur kelinci Rex yang stabil dan dengan konsistensi produksi yang tinggi, serangkaian program seleksi telah dilakukan terhadap suatu kelompok kelinci Rex yang diperoleh dari importasi tahun 1988 dan sudah beradaptasi dengan baik. Tujuan dari proses seleksi adalah untuk memperoleh suatu populasi kelinci Rex dengan keseragaman yang tinggi dan untuk memperbaiki konsistensi keunggulan produksi anak sekelahiran dan bobot sapih umur enam minggu.

Kelinci Rexsi Agrinak merupakan hasil seleksi dari kelinci rex yang memiliki keseragaman produktivitas, yaitu jumlah anak sekelahiran di atas enam ekor dan bobot sapih pada umur enam minggu yang tinggi. Karakteristik kualitatif warna rambutnya bervariasi campuran dua warna (hitam-putih), Castor, chincila (putih hitam-coklat) dan putih. Telinganya tegak dan oval menyempit.

Keunggulan dari kelinci Rexsi Agrinak adalah bobot lahir mencapai 55 gram dengan jumlah anak sekelahiran dapat mencapai 6 – 8 ekor. Memiliki bobot umur enam minggu 652 gram, untuk bobot induk 2.932,13 gram/ekor dengan koefisien keragaman 9% dan bobot jantan dewasa 2.744 gram dengan koefisien keragaman 10%.

Umur siap kawin jantan adalah 6 bulan dan betina 5,5 bulan dengan Lama kebuntingan 30 hari. Sedangkan untuk bobot potong umur 24 minggu 2.711 gram.

Kelinci Rexsi telah diujicobakan melalui kegiatan pembinaan kelompok di daerah-daerah yang memiliki udara yang sejuk dan dingin agar memperoleh produktivitas yang maksimal, seperti di Brastagi, Samarinda, Balikpapan Kaltim, Bogor, Sukabumi, Magelang, Bandung Barat, Cirebon, Tasikmalaya, Semarang, Kabupaten Magelang, Surakarta, Malang, Batu, Blitar, Mojokerto, Bojonegoro, dan Ngawi. (CR)

BERBAGAI MODEL DAN JENIS BAHAN ATAP KANDANG

Atap menyesuaikan jenis dan konstruksi kandang yang didirikan. (Foto: Dok. Andy)

Kandang merupakan salah satu komponen penting dalam menentukan keberhasilan usaha peternakan. Jika tidak direncanakan dengan baik, akan sangat mempengarui keberhasilan pemeliharaan ternak tersebut.

Hal yang perlu diketahui sebelum mendirikan perkandangan adalah menentukan pembangunan kandang tertutup atau kandang terbuka, menentukan arah membujur kandang (barat dan timur), dimensi kandang (panjang dan lebar), maupun pemilihan bahan baku untuk kandang seperti kayu, bambu, ataupun dengan solid wall dengan bata ringan atau piu untuk kandang tertutup.

Hal yang tidak kalah penting adalah menentukan penggunaan bahan untuk atap kandang. Karena atap akan menyesuaikan jenis dan kontruksi kandang yang akan didirikan.

Atap merupakan struktur bangunaan bagian atas yang berfungsi sebagai penutup bangunan untuk melindungi struktur yang ada di bawahnya. Oleh karena itu, pemilihan bahan jenis atap cukup menentukan kenyamanan ayam, khususnya sistem kandang terbuka.

Fungsi utama atap adalah melindungi bangunan dari  suhu panas akibat radiasi sinar matahari,  tampias hujan, petir, mengurangi pergerakan angin dan debu, serta sebagai pelindung dan penutup ruangan juga berfungsi pula sebagai estetika bangunan.

Bentuk atap yang sering digunakan untuk atap bangunan kandang adalah bentuk pelana, yaitu tersusun dari dua bidang miring yang bertemu di tepi atas dalam satu garis lurus. Di daerah tropis dengan suhu dan kelembapan tinggi, banyak peternak menggunakan kandang dengan memakai monitor untuk mengantisipasi suhu udara dan memperbaiki sirkulasi udara dalam kandang (Gambar 1).

Gambar 1. Kandang dengan monitor.

Berbagai macam jenis atap yang sering dipakai untuk kandang adalah genteng, rumbia/kayu, asbes (campuran fiber semen dan pulp), seng warna, galvalum/spandek (galvanis aluminium), PVC berongga (PVC Twinwall).

Genteng adalah atap yang terbuat dari tanah liat, cukup baik dibandingkan bahan baku lainya. Hal ini dikarenakan nilai koefisien konduksi dari tanah liat relatif kecil.

Tanah liat juga memiliki kemampuan menyimpan panas, sehingga lebih cocok digunakan sebagai atap kandang di daerah dingin. Sebagian peternak menggunakan atap genteng karena lebih baik dalam melindungi ayam dari radiasi panas sinar matahari. Disamping itu genteng terbuat dari tanah liat, sehingga tidak mudah terbakar. Namun disisi lain dalam pembuatan kandang diperlukan banyak bahan untuk menopang genteng, disamping itu kontruksi bangunan harus kokoh karena harus menahan beban genteng yang relatif berat.

Gambar 2. Atap kandang genteng, asbes, galvalum (spandec).

Atap PVC berongga (PVC Twinwall) cukup baik digunakan untuk menahan radiasi dan panas, karena didalamnya terdapat rongga udara yang didesain khusus sehingga menjadi penghantar panas yang rendah. Udara adalah penahan panas alamiah yang sangat baik sehingga atap jenis ini juga dapat dijadikan pilihan untuk atap kandang di daerah tropis.

Keunggulan atap jenis ini adalah ringan, praktis dan menarik dari sisi estetika namun mempunyai nilai ekonomis cukup tinggi jika digunakan untuk kandang dan kelemahan atap jenis ini adalah mudah terbakar.

Seperti diketahui bersama, iklim tropis dengan fluktuasi suhu yang cukup lebar dan kelembapan tinggi akan sangat berpengaruh terhadap produksi ayam, baik pencapaian bobot ayam pedaging (broiler) maupun hen day produksi pada ayam petelur (layer). Hal ini menjadi kesulitan tersendiri bagi peternak untuk mencapai potensi genetik dari broiler maupun layer.

Dengan kemajuan genetik layer maupun broiler yang semakin pesat dewasa ini, dibutuhkan struktur perkandangan dan equipment yang bisa mendukung perkembangan genetik tersebut. Perkandangan sistem closed house (CH) menjadi pilihan utama peternak untuk mendapatkan hasil maksimal dalam budidaya saat ini. Hal ini dikarenakan dengan sistem CH, peternak bisa mengatur suhu dan kelembapan, serta kecepatan angin sesuai kebutuhan ayam.

Tabel 1. Suhu dan kelembapan yang nyaman bagi ayam
Broiler
Layer
Umur (Hari)
Suhu (°C)
Kelembapan (%)
Umur (Hari)
Suhu (°C)
Kelembapan (%)
1
32-29
60-70
0-3
33-31
55-60
3
30-27
60-70
4-7
32-31
55-60
6
28-25
60-70
8-14
30-27
55-60
9
27-25
60-70
15-21
28-26
55-60
12
26-25
60-70
22-24
25-23
55-60
>15
24-25
60-70
>25
25-23
55-60

Sumber : Info Medion.

Table 2. Pengaruh kelembapan terhadap suhu yang dirasakan ayam
Suhu Efektif yang Dirasakan Ayam °C
Kelembapan pada Thermohygro (%)
40%
50%
60%
70%
Suhu Kandang pada Thermohygro (°C)
30
36
33,2
30,8
29,2
28
33,7
31,2
28,9
27,3
27
32,5
29,9
27,7
26
26
31,3
28,6
26,7
25
25
30,2
27,8
25,7
24
24
29
26,8
24,8
23

Sumber: Info Medion.

Dengan mengetahui suhu dan kelembapan yang nyaman bagi ayam, maka hal terpenting adalah bagaimana mengondisikan lingkungan dalam kandang sesuai dengan kebutuhan ayam.

Untuk mendapatkan suhu ideal dalam kandang, adakalanya bisa dengan mengatur ketinggian atap dengan jarak batrei teratas (cages) atau dengan lantai (postal) khususnya pada kandang terbuka. Semakin tinggi jarak atap dengan posisi ayam akan semakin baik.

Selain itu juga kipas diperlukan jika kondisi/suhu dalam kandang masih tinggi. Prinsipnya dengan mengalirkan udara dalam kandang akan semakin meningkatkan suplai oksigen dalam kandang, sehingga lebih sejuk dan nyaman.

Sebagian besar suhu tinggi di dalam kandang diakibatkan oleh radiasi sinar matahari dan panas dari tubuh ayam itu sendiri. Radiasi sinar matahari yang sampai ke atap akan ditransmisikan sebagian dipantulkan dan sebagian diserap material atap. Transmisivitas dan reflektivitas dipengaruhi oleh sudut datang radiasi matahari. Sedangkan besarnya absorsivitas hampir konstan untuk semua sudut datang sinar matahari dari 0-90° (Takakura,1989).

Untuk mengurangi radiasi panas dari sinar matahari bisa juga dengan mengatur sudut/kemiringan atap. Semakin besar nilai sudut datang radiasi maka semakin kecil radiasi yang ditransmisikan ke dalam ruangan (Maztalers, 1977). Kemiringan atap normal yang lebih efisien dalam mentransmisikan radiasi sinar matahari yaitu 25-30° (Wulandari 2005) kandang terbuka. Sedangkan sudut atap 10° sudah lazim digunakan pada kandang closed house.

(kiri) Gambar 3. Sudut atap 25°. (kanan) Gambar 4. Sudut atap 10°.

Penambahan plafon juga bisa menjadi pilihan untuk mengurangi efek radiasi dalam kandang. Hal ini dikarenakan pada ruangan yang terbentuk antara penutup atap dengan plafon akan terjadi perpindahan panas secara konveksi, dimana udara panas akan mengalir keluar celah plafon karena perbedaan tekanan udara yang lebih tinggi.

Kandang yang berada di dataran tinggi pada saat malam hari dimana suhu cukup rendah, ini bisa diantisipasi dengan pengaturan tirai kandang dan menjaga ketebalan litter dan menjaga  tetap kering. Prinsipnya menjaga kondisi dalam kandang tetap berada pada suhu ideal dengan memperhatikan sirkulasi yang baik. Jika diperlukan bisa menambahkan pemanas dalam kandang seperti saat periode brooding (1-2 mg). Atap genteng direkomendasikan untuk kandang di daerah dingin karena sifat dari genteng dapat menyimpan panas saat siang hari, sehingga cukup hangat saat suhu dingin di malam hari.

Namun penyesuaian berbagai jenis dan model atap kandang saat ini tidaklah cukup untuk mengatasi problem suhu dan kelembapan, serta sirkulasi udara, dengan kemajuan teknologi yang semakin maju perlu dipertimbangkan aspek manajemen dan sistem perkandangan untuk  mendukung dan meningkatkan hasil produksi.

Pada prinsipnya pembangunan kandang harus mempertimbangkan hal yang paling mendasar berkaitan dengan iklim dan keadaan lingkungan yang variatif, sehingga perlu dilakukan analisis dan keputusan untuk mengatasi dampak tersebut melalui perencanaan strategis jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Inovasi perlu dilakukan dalam rangka mengantisipasi problem tersebut.

Inovasi sederhana dengan hasil optimal perlu dilakukan untuk mengatasi cuaca ekstrem seperti pembuatan cooling net sederhana dan tunnel door sederhana dengan pendekatan tunnel door curtain system dan inovasi sederhana lainnya. Sedangkan jangka panjang pembangunan kandang mutlak menggunakan full closed house. ***

Drh Andy Siswanto
Manager Operational Kopkar Comfeed Makmur

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer