-->

INTEGRASI SAPI-SAWIT, PERKUAT LUMBUNG TERNAK DI SUMATRA UTARA

Pemeliharaan integrasi sapi-sawit. (Foto: Infovet/Joko)

Menurut data BPS 2025, Kabupaten Simalungun memiliki populasi sapi potong 125.000 ekor dan menempati peringkat kedua populasi terbanyak di Sumatra Utara. Secara umum peternakan sapi di Kabupaten Simalungun merupakan peternakan rakyat yang dikelola secara intensif atau semi intensif. Sebagian masyarakat di sekitar perkebunan sawit memelihara sapi dengan sistem integrasi.

Sistem ini memberikan banyak manfaat bagi peternak dan populasi sapi. Peternak mendapatkan tambahan penghasilan dari peternakan sapi. Rumput dan pelepah sawit merupakan sumber pakan yang melimpah dan murah untuk peternakan. Tidak diragukan lagi, sistem ini dapat meningkatkan unsur hara dan kesuburan lahan sawit yang berasal dari kotoran dan urine sapi. Sistem ini sangat signifikan mengurangi biaya pembersihan lahan dan pembelian herbisida.

Sistem ini sangat mendukung peningkatan populasi sapi potong nasional. Pemerintah setempat sangat mendukung program yang telah berjalan bertahun-tahun ini. Pendampingan dan pembinaan terhadap peternak terus digencarkan dalam rangka peningkatan produktivitas, performa reproduksi dan kesehatan ternak.

Sistem integrasi sapi-sawit di Kabupaten Simalungun dapat menjadi role model bagi pengembangan peternakan sapi. Pemeliharaan secara ekstensif di lahan sawit tersebut memberikan kesempatan sapi mendapatkan nutrisi yang cukup dan murah. Murahnya biaya pakan menjadi modal penting untuk menekan biaya produksi peternakan, salah satunya biaya produksi pedet, yang ditentukan oleh beberapa faktor utama yaitu biaya pakan, angka kebuntingan, jarak antar kelahiran, biaya operasional penggembalaan, serta tingkat kematian induk dan pedet.

Penambahan pakan oleh peternak terkadang diberikan pada saat musim kemarau, dimana ketersediaan rumput berkurang. Perkawinan alami menggunakan pejantan menghasilkan angka kebuntingan yang sangat baik >90%. Perkawinan, kebuntingan, dan kelahiran yang terjadi secara alami sangat memungkinkan sapi akan beranak setiap tahun atau calving interval 12-13 bulan. Hal-hal terkait kematian induk dan kematian pedet dapat ditekan masing-masing kurang dari 1% dan 3% dengan melakukan tindakan pencegahan, penanganan, dan pengendalian penyakit. Pada kondisi tersebut, maka biaya produksi pedet yaitu sekitar Rp 3.000.000/ekor pedet.

Tabel kalkulasi biaya produksi pedet di lahan sawit.

Breed sapi dalam program integrasi sapi-sawit di Simalungun ini terdiri dari Peranakan Ongole, sapi Pesisir, dan beberapa sapi persilangan. Breed tersebut lebih tahan dan memiliki risiko kecil terhadap beberapa penyakit yang erat menyerang sapi Bali seperti penyakit Jembrana, malignant catarrhal fever (MCF), dan Baliziekte.

Penyakit Jembrana merupakan penyakit viral yang bersifat menular khusus pada sapi Bali yang disebabkan oleh retrovirus dari anggota grup lentivirus yang menyebabkan turunnya daya tahan tubuh. Penyakit ini ditandai dengan demam, peradangan selaput lendir mulut (stomatitis), pembesaran limfoglandula preskapularis, prefemoralis, dan parotid, terkadang disertai keringat darah.

Penyakit Jembrana menyebabkan kerugian ekonomi yang besar karena menimbulkan kematian tinggi hingga mencapai 100%. Masa inkubasi virus berkisar antara 4-7 hari yang diikuti demam hingga mencapai 41 °C yang berlangsung 5-12 hari.

Sementara untuk penyakit MCF sering terjadi pada peternakan sapi Bali yang pemeliharaannya secara langsung atau tidak langsung terjadi kontak dengan domba, yang merupakan hewan pembawa penyakit ini. MCF bersifat akut, menular, dan fatalitasnya tinggi pada sapi Bali, disebabkan Ovine herpesvirus 2 atau Alcelaphine herpesvirus 1 (γ-Herpesviruses).

Mekanisme infeksi MCF pada sapi adalah disfungsi dan lisisnya sel-sel endothelial dan peradangan pembuluh darah, serta lisisnya limfosit pada jaringan limfoid. Sapi Bali terinfeksi akan mengeluarkan lendir kuning dari hidung hingga terjadi gangguan syaraf pusat. Jenis rumput yang ada perkebunan sawit salah satunya adalah jenis Lamtana camara. Rumput ini menghasilkan toksik bernama lamtaden yang bersifat racun bagi hati (hepatotoksik). Konsumsi Lamtana camara oleh sapi Bali dapat menyebabkan penyakit Baliziekte ditandai dengan kerusakan hati dan terjadinya lepuh atau keropeng pada kulit sapi.

Sentra-sentra integrasi sapi-sawit sebagai lumbung produksi ternak harus selalu meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit. Mempertahankan status populasi agar tetap bebas dari penyakit melalui kontrol lalu lintas dan/atau vaksinasi menjadi pilihan yang tepat. Kegiatan keluar-masuk atau jual-beli sapi merupakan faktor risiko masuknya penyakit ke dalam suatu populasi.

Sebagai produsen ternak, minimnya pemasukan sapi menurunkan faktor risiko masuknya penyakit. Kegiatan surveilans untuk deteksi dini atau pengukuran prevalensi penyakit sangat penting dilakukan secara rutin. Tindakan pencegahan penyakit melalui vaksinasi pada populasi berisiko wajib dilakukan.

Sistem pemeliharaan semi intensif atau ekstensif juga sangat berisiko terhadap penyakit clostridial dan tick borne disease. Salah satu penyakit clostridial yang paling sering terjadi adalah botulisme. Penyakit ini disebabkan karena konsumsi rumput atau pakan yang terjadi kontak dengan bangkai (katak, unggas, materi abortus, plasenta) terkontaminasi Clostridium botulinum. Racun dari Clostridium botulinum bersifat neurotoksik menyebabkan gangguan syaraf pusat.

Sementara tick borne disease merupakan penyakit yang ditularkan melalui hospes yaitu kutu, caplak, tungau, pinjal. Tick borne disease juga dikenal dengan penyakit parasit darah meliputi babesiosis, theileriosis, anaplasmosis dan trypanosomiasis. Kejadian keracunan sianida, herbisida atau pupuk penyubur tanah, buah dan daun merupakan hal yang harus diwaspadai oleh peternak.

Kelemahan dari sistem integrasi sapi-sawit adalah sulitnya mengatasi kejadian inbreeding, sebab pada populasi sapi di lahan sawit semua umur dan jenis kelamin berkumpul di padang penggembalaan yang sama. Kejadian inbreeding yang sering dijumpai adalah anak jantan mengawini induknya atau neneknya. Kejadian inbreeding jarang ditemukan bapak mengawini anaknya atau kakek mengawini cucu betinanya. Hal ini disebabkan sebagian besar sapi-sapi pemacek yang cukup umur, tampilan bagus, tinggi, dan besar biasanya dijual untuk momen kurban atau kebutuhan keluarga.

Penyediaan pejantan unggul seperti Brahman dapat meningkatkan kualitas genetik keturunan yang dihasilkan. Penyediaan pejantan unggul sebanyak 6% dari populasi betina menjamin seluruh betina produktif akan terkawini dan bunting. Model seasional breeding dapat dilakukan untuk menghindari kelahiran pada musim hujan. Kelahiran pada musim kemarau meningkatkan harapan hidup pedet. Perkawinan dilakukan pada musim hujan (November-Februari) sehingga kelahiran terjadi pada musim kemarau (Agustus-Oktober).

Moderniasasi sistem pemeliharaan dengan pagar kejut (electric fenching) menggunakan energi surya dapat membantu mempermudah handling dan rotasi grassing pada populasi dan area penggembalaan. ***

Ditulis oleh:
Dr Drh Joko Susilo MSc APVet (Wartawan Infovet Daerah Lampung)
& Drh Catrine Relia Patrecia Gultom (Kementan)

WASPADA WOODEN TONGUE DAN LUMPY JAW PADA SAPI

Wooden tongue dan lumpy jaw bisa menyerang semua breed, umur, dan jenis kelamin sapi. (Foto: Istimewa)

Tahun 2015, penulis melakukan penelitian bidang bovine patology di National Institute of Animal Health (NIAH) di Tsukuba, Jepang. Penulis melakukan kerja sama dengan peternakan dan pemerintah daerah masing-masing distrik atau perfektur untuk mendapatkan data penelitian. Rumah pemotongan hewan (RPH) dan peternakan menjadi sumber data utama diagnosis patologi penyakit sapi di NIAH. Berbagai jenis penyakit pada sapi yang sering terdiagnosis meliputi beberapa penyakit pernapasan kompleks, penyakit pencernaan, penyakit syaraf, penyakit sirkulasi, limfatik, dan lainnya.

Penyakit pernapasan kompleks yang paling sering ditemukan adalah infectious bovine rhinotracheitis (IBR), bovine viral diarrhea (BVD), bovine respiratory syncytial virus (BRSV), parainfluenza 3 (PI3), Mannhaemia haemolytica, Pasteurella multocida, Mycoplasma bovis, Trueperella pyogenes, dan Histophillus somni.

Sedangkan penyakit pencernaan yang sering didiagnosis meliputi BVD, rota virus, adeno virus, Johnes disease, kolibasilosis, salmonelosis, dan koksidiosis. Salah satu kejadian penyakit yang diterima dari RPH di Saitama adalah penyakit lidah papan/kayu (wooden tongue). Kasus tersebut berasal dari sapi Wagyu umur 27 bulan dengan gejala kesulitan makan dan pembengkakan lidah.

Beberapa bulan terakhir, penulis mendapatkan informasi kejadian penyakit dengan gejala mirip dengan kejadian lidah papan di Jepang. Informasi tersebut berupa video, foto, ataupun diskusi dengan dokter hewan praktik sapi dari beberapa tempat di Pulau Jawa. Informasi terkait gejala klinis meliputi pembengkakan pada lidah, limfoglandula di rahang bawah, adanya benjolan keras berbentuk abses di rahang bawah, dan sekitar leher. Berdasarkan analisis, dugaan sementara kejadian tersebut merupakan penyakit wooden tongue (lidah papan) dan actinomycosis (lumpy jaw).

Lidah papan disebabkan Actinobacillus lignieresii yang merupakan bakteri gram-negatif batang. Sementara lumpy jaw disebabkan Actinomyces bovis yang merupakan bakteri gram-positif batang bercabang. Kedua agen penyakit ini merupakan bakteri oportunistik, yaitu bakteri yang normal ada pada saluran pencernaan sapi sehat. Kedua penyakit bisa menyerang semua breed, umur, dan jenis kelamin, serta memiliki prevalensi yang rendah dalam suatu populasi dengan kejadian lidah papan lebih sering daripada lumpy jaw.

Penyakit lidah papan menyerang jaringan lunak yaitu lidah dan kelenjar getah bening sekitar lidah. Penyakit ini menyebabkan pembengkakan akut, nyeri, dan proliferasi jaringan ikat sehingga sangat mengganggu aktivitas makan. Sedangkan penyakit lumpy jaw ditandai dengan pembengkakan tulang rahang sehingga tidak dapat digerakkan. Penyakit ini berkembang lambat serta sering menyebabkan kesulitan mengunyah dan bernapas. Istilah “actino” pada kedua penyakit tersebut menunjukkan respons keradangan spesifik yang ditandai dengan pembentukan nanah yang berisi struktur granular. Granula “seperti pasir” ini pada dasarnya adalah koloni bakteri yang menggumpal.

Deteksi cepat Actinobacillus lignieresii dilakukan dengan pemeriksaan mikroskopis apusan nanah dan kultur bakteri. Pada Actinomycosis, keberadaan granula “sulfur” sangat menciri dan granula kuning ini sering kali dapat diamati secara kasat mata. 

Patogenesis penyakit lidah papan dan lumpy jaw bergantung pada... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Februari 2026.

Ditulis oleh:
Dr Drh Joko Susilo MSc APVet
Wartawan Infovet Daerah Lampung

SEBANYAK 400 DOSIS VAKSIN DARURAT UNTUK LSD DISALURKAN KE JEMBRANA

Penyerahan bantuan vaksin darurat untuk LSD serta obat hewan, multivitamin, disinfektan, dan alat kesehatan untuk membantu peternak sapi di Jembrana. (Foto: Istimewa)

Kementerian Pertanian (Kementan) menyalurkan 400 dosis vaksin darurat untuk penyakit lumpy skin disease (LSD) yang dilengkapi obat hewan, multivitamin, disinfektan, dan alat kesehatan untuk memberikan perlindungan ternak sapi milik peternak di Kabupaten Jembrana, Bali. Langkah ini dilakukan untuk memutus penularan LSD yang sempat menjangkiti puluhan sapi dan berpotensi mengganggu ekonomi peternak.

Bantuan diserahkan Direktur Kesehatan Hewan Kementan Hendra Wibawa, kepada Bupati Jembrana I Made Kembang Hartawan, di Desa Manistutu, Kecamatan Melaya, Sabtu (17/1/2026). Ini merupakan tahap pertama bantuan Kementan sebagai respons darurat atas terdeteksinya LSD di Kabupaten Jembrana.

“Hari ini kami menerima peralatan lengkap untuk mencegah penyakit LSD. Ada vaksin, obat-obatan, multivitamin, dan juga disinfektan,” ungkap Kembang.

“Ini upaya kita mempercepat penanganan penyebaran LSD pada sapi. Kolaborasi yang luar biasa hari ini, pemerintah pusat, provinsi, kabupaten, dan masyarakat peternak. Semoga segera bisa kita selesaikan.”

Pada kesempatan yang sama, Hendra Wibawa turut mengimbau peternak agar segera melapor jika menemukan gejala benjolan pada kulit sapi, tidak memasukkan dan mengeluarkan ternak dari kandang di zona tertular, serta menjaga kebersihan kandang untuk mengurangi habitat vektor pembawa penyakit.

“Petugas akan langsung memeriksa dan mendiagnosis apakah itu suspek LSD atau penyakit kulit biasa. Jika ditemukan indikasi sakit, segera lakukan isolasi mandiri dengan memisahkan ternak tersebut dari kawanan yang sehat dan laporkan ke petugas agar segera mendapatkan penanganan,” ujar Hendra.

Sementara itu di tempat terpisah, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, menegaskan bahwa pengendalian penyakit hewan menular merupakan bagian dari tanggung jawab negara dalam melindungi keberlanjutan usaha peternak rakyat. Hal tersebut disampaikannya saat mendampingi Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, saat meninjau kesiapan hilirisasi ayam di Bone, Sulawesi Selatan, Sabtu (17/1/2026).

“Negara tidak boleh membiarkan peternak menanggung risiko sendiri. Ketika ada ancaman penyakit, negara harus hadir lebih dulu untuk melindungi ternak dan memastikan usaha peternak tetap berjalan,” kata Agung.

Ia menegaskan bahwa langkah cepat seperti vaksinasi darurat, pembatasan lalu lintas ternak, dan pendampingan teknis di lapangan menjadi instrumen penting agar peternak tidak mengalami kerugian berkepanjangan akibat wabah penyakit hewan. (INF)

PEMERINTAH BERENCANA ALOKASIKAN DANA TRILIUNAN KE SEKTOR PETERNAKAN SAPI

Sarasehan soal 4,8 T untuk peternakan sapi yang digelar di Unpad. (Foto: Istimewa)

Kini industri peternakan menjadi atensi pemerintah, terutama untuk pemenuhan gizi masyarakat melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG), ketahanan, dan swasembada pangan sesuai dengan Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden. Beberapa produk peternakan yang harganya mudah dijangkau dan menjadi menu andalan program MBG adalah daging ayam dan telur. Namun memungkinkan pula jika daging sapi bisa menjadi variasi menu MBG satu kali dalam sepekan.

Setelah menggulirkan anggaran Rp 20 triliun untuk perunggasan, kini pemerintah juga berencana mengucurkan dana Rp 4,8 triliun untuk peternakan sapi sebagai dukungan atas program MBG untuk pasokan daging dan susu yang berkelanjutan. Strategi yang dibangun adalah pengembangan peternakan besar yang tersentralisasi di wilayah Provinsi Jawa Barat dan Jawa Timur.

Oleh karena itu, Badan Kejuruan Teknik Peternakan Persatuan Insinyur Indonesia (BKT PII) mengadakan sarasehan bertajuk “4,8 T Alokasi Anggaran Pemerintah di Sektor Peternakan Sapi, Mewujudkan Pasokan Daging dan Susu untuk Program MBG yang Berkelanjutan” di Universitas Padjajaran (Unpad), Bandung, Jawa Barat, Kamis (15/1/2026).

Kegiatan yang menghadirkan para stakeholder peternakan ini menjadi sangat penting untuk membahas arah penggunaan anggaran tersebut, potensi dampak terhadap rantai pasokan, kesejahteraan peternak rakyat, inovasi industri, pemerataan pembangunan antar wilayah, hingga mitigasi berbagai risiko teknis dan pasar.

Sarasehan dihadiri pemerintah pusat, pemerintah daerah dari luar Jawa, industri swasta, organisasi peternak, dan pelaku inovasi digital, untuk memperoleh pandangan komprehensif dan rekomendasi strategis. Dengan menghadirkan narasumber dari Kementerian Pertanian, BUMN, asosiasi industri susu, asosiasi koperasi persusuan, serta KADIN Indonesia.

Ketua BKT Peternakan PII, Prof Ir Budi Guntoro SPt MSc PhD IPU ASEAN Eng APEC Eng, mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk mengidentifikasi peluang dari rencana integrasi peternakan sapi berbasis anggaran Rp 4,8 triliun, serta mengurai tantangan struktural yang perlu diantisipasi pemerintah dan industri, sekaligus merumuskan rekomendasi yang membangun untuk kebijakan, investasi, dan penguatan kelembagaan peternak.

"Kemudian yang cukup penting mendorong kolaborasi antara akademisi, pemerintah, industri, dan peternak,” ujarnya.

Pihaknya berjanji akan terus bersinergi dengan asosiasi peternakan untuk mengawal setiap anggaran dari pemerintah agar dapat memberikan dampak yang nyata bagi kesejahteraan peternak.

“Selain itu memastikan generasi muda ke depan mudah mendapatkan akses dalam mengonsumsi protein hewani. Karena mereka merupakan generasi bangsa yang akan membangun Indonesia berikutnya,” ungkapnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Peternakan Unpad, Prof Dr Ir Rahmat Hidayat SPt MSi IPM, mengemukakan bahwa saat ini industri peternakan diibaratkan berada pada dua kaki. Kaki pertama di antaranya ketimpangan populasi antara jumlah ternak dan masyarakat Indonesia, produksi belum optimal, umur peternak umumnya sudah senior, dan tingkat pendidikan peternak dan partisipasi kelembagaan yang masih rendah.

Sedangkan, salah satu kaki lagi terkait kebijakan program MBG yang memacu permintaan produk peternakan. “Maka dengan kondisi ini tantangan sekaligus kesempatan bagi stakeholder peternakan,” katanya. (INF)

LANTIK PENGURUS NASIONAL, AHI KUKUHKAN VISI CIPTAKAN SAPI HOLSTEIN ADAPTIF UNTUK PETERNAK

Foto bersama dalam acara Pelantikan Pengurus Pleno Nasional AHI periode 2025-2029. (Foto: Istimewa)

Asosiasi Holstein Indonesia (AHI) resmi menyelenggarakan Pelantikan Pengurus Pleno Nasional AHI periode 2025-2029, di Kantor Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Jawa Barat, Bandung, Jumat (28/11/2025).

Dalam sambutannya, Ketua Umum AHI, Dr Ir Rochadi Tawaf MS, menegaskan bahwa momen ini merupakan amanat penting dari AD/ART AHI. Ia menekankan bahwa AHI adalah satu-satunya organisasi peternakan sapi yang bergerak spesifik di bidang perbibitan (breeders association) di Indonesia.

“Tuntutan yang diemban organisasi ini amatlah berat. Pasalnya, AHI tidak hanya menjadi tolok ukur (benchmark) perkembangan persusuan, namun juga merupakan kepanjangan tangan kegiatan perbibitan sapi yang selama ini dilakukan oleh pemerintah. Seperti halnya pembentukan bibit dasar dan bibit sebar di Unit Pelaksana Teknis (UPT) milik pemerintah,” ujarnya.

Harapan utama yang dibebankan kepada AHI adalah mengawal sapi-sapi unggul hasil seleksi, progeny, dan sertifikasi, sehingga memberikan dampak nyata terhadap peningkatan produksi dan produktivitas sapi perah secara nasional.

Cita-cita luhur AHI yang dirumuskan dalam kongres nasional adalah membentuk “Sapi Holstein Indonesia, yang adaptif dengan ekosistem dan budaya masyarakat, untuk kesejahteraan peternak.”

Dalam upaya mengaktualisasikan cita-cita tersebut, AHI telah memperkuat jejaring internasional. Langkah strategis ini dilakukan dengan kehadirannya pada World Dairy Expo di Medison Wisconsin bulan lalu, pertemuan dengan Asosiasi Holstein USA dan Asosiasi Animal Breeder USA untuk menjajaki kerja sama, serta menjalin kolaborasi riset pengembangan sapi Holstein di Indonesia dengan International Livestock Research Institute (ILRI) melalui proyek Asia-Africa Dairy Genetic Gain (AADGG Project).

Dukungan Pemerintah Daerah dan Fokus Kesejahteraan
Kepala DKPP Jawa Barat, menyatakan bahwa komitmen pemerintah mendukung penuh kegiatan AHI. Dalam kesempatan ini, disoroti tiga pilar penting yang harus menjadi fokus kerja sama sinergis antara pemerintah, perguruan tinggi, dan asosiasi, yaitu pengembangan pedet; memastikan ketersediaan pakan yang memadai, murah, dan berkualitas; serta optimalisasi pemanfaatan kotoran ternak (kohe) sebagai sumber pendapatan masyarakat peternak.

Pemerintah Jawa Barat berharap AHI dapat membantu meningkatkan produksi susu dan penyelesaian masalah limbah sapi perah yang mencemari sungai di Jawa Barat.

FGD Strategis: Sertifikasi dan Kemandirian Genetik
Rangkaian acara dilanjutkan dengan focus group discussion (FGD) yang membahas “Strategi Implementasi Sertifikasi Sapi Holstein Indonesia.” Topik ini dianggap sebagai langkah strategi awal bagi AHI untuk mengawal peningkatan produksi dan produktivitas sapi perah.

Sertifikasi ini menurut AHI dipandang esensial untuk membangun database nasional, meningkatkan mutu genetik melalui verifikasi kualitas (estimated breeding value/EBV), dan mempercepat proses terbentuknya bibit sapi Holstein Indonesia yang unggul.

Model pengembangan sapi perah (Delmansarah) di Jawa Barat, akan dijadikan objek kerja sama antar stakeholder peternakan sapi perah seperti koperasi (GKSI), perusahaan peternakan (mega/medium dairy farm), AHI (asosiasi breeders), dan perguruan tinggi (Unpad dan IPB) dalam membangun persusuan nasional.

AHI menyadari bahwa tercapainya target nasional ini memerlukan kepengurusan nasional yang tangguh, berkomitmen, dan berkemampuan tinggi untuk mengeliminasi kendala sektor persusuan saat ini.

“Pengukuhan pengurus ini diharapkan menjadi motivasi kuat bagi seluruh jajaran AHI untuk menjadikan asosiasi sebagai tolok ukur perkembangan persusuan nasional. AHI berkomitmen penuh untuk melaksanakan program kerjanya demi mendukung upaya pemerintah menciptakan iklim yang kondusif serta membangun persusuan nasional yang berkelanjutan,” tukas Rochadi. (INF)

GERAKAN SERENTAK PELAYANAN IB DI JAWA TIMUR

Foto bersama dalam kegiatan Gerakan Serentak Pelayanan IB di Jember, Jawa Timur. (Foto: Infovet/Heru)

Senin (24/11/2025), bertempat di City Forest Jember telah dilaksanakan kegiatan Gerakan Serentak Pelayanan Inseminasi Buatan (IB) 2025 bersama Gubernur Jawa Timur yang dihadiri sebanyak 850 orang dari seluruh kabupaten dan kota yang membidangi fungsi peternakan di Jawa Timur.

Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur, Dr Ir Indyah Aryani MM, mengungkapkan bahwa kegiatan ini dalam mendukung peningkatan populasi sapi di Jawa Timur. Kegiatan ini menampilkan pelayanan IB serentak diwakili 38 kabupaten/kota.

“Ini sebagai puncak kegiatan IB serentak di Provinsi Jawa Timur yang dicatatkan pada rekor MURI. Jawa Timur memiliki 1.417 petugas IB, 750 petugas pemeriksa kebuntingan, 95 dokter hewan, 1.500 paramedik veteriner, 94 pengawas bibit ternak, dan 58 pengawas mutu pakan, serta 95 pengawas obat hewan,” ujarnya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Timur, Dr Khofifah Indar Parawansa, dalam pidatonya menyampaikan bahwa kegiatan ini juga untuk memberikan apresiasi, motivasi, dan semangat kepada stakeholder bidang peternakan dalam rangka meningkatkan populasi sapi pasca wabah PMK yang telah dilakukan IB selama 2024 telah menghasilkan kelahiran pedet sebanyak 1,1 juta ekor.

“Capaian tersebut menjadi yang tertinggi secara nasional dan menjadi pendorong peningkatan populasi dan produksi ternak selaras dengan hal tersebut. Di 2025 (Januari-November), Jawa Timur telah melaksanakan IB pada sapi sebanyak 1.019.397 ekor dan telah tercatat di MURI sebagai IB terbanyak dalam kurun waktu satu tahun,” ujarnya.

Kendatin demikian, ia juga terus mengimbau agar peternak tetap waspada terhadap PMK dengan melakukan vaksinasi, biosekuriti, kebersihan kendang, hingga lalu lintas ternak yang terpantau dan terkendali.

“Sebagai lumbungan pangan terutama potensi sektor pertanian, peternakan, perikanan darat dan perikanan laut, posisi Jawa Timur sangat strategis untuk mendukung produksi pangan dalam negeri,” ungkapnya.

Sektor peternakan sebagai sepertiga pangan sumber protein memiliki potensi yang luar biasa. Tahun 2024 Jawa timur berdasarkan data BPS memiliki capaian populasi ternak di antaranya sapi potong 3,11 juta ekor (26% terhadap populasi nasional 11,75 juta ekor), sapi perah 292,26 ribu ekor (60% terhadap populasi nasional 485,82 ribu ekor), kambing 5,03 juta ekor (32% terhadap populasi nasional 15,71 juta ekor), ayam ras pedaging 418,73 juta ekor (13% terhadap nasional sebanyak 3,15 miliar ekor), ayam ras petelur 131,85 juta ekor (32% terhadap nasional 414,76 juta ekor).

Kemudian dari sisi produksi daging sapi 121,387 ton (20% terhadap produksi nasional 597,754 ton), susu 746,712 ton (58% terhadap produksi nasional 808,352 ton), dan telur 2,02 juta ton (32% terhadap produksi nasional 6,34 juta ton).

Khofifah juga menegaskan akan terus berupaya meningkatkan populasi dan produktivitas sapi potong dan sapi perah melalui beberapa intervensi, antara lain penerapan teknologi IB dan transfer embrio untuk peningkatan kualitas genetik dan mengoptimalkan reproduksi ternak; pelaksanaan vaksinasi untuk pengendalian penyakit; serta peningkatan SDM melalui bimbingan teknis untuk menumbuhkan peternak milenial.

Selain itu, dalam kegiatan tersebut ia turut menyerahkan penghargaan kepada petugas IB, dokter hewan, dan kelompok berprestasi untuk dinas dengan kinerja optimalisasi reproduksi terbaik tahun 2025 diberikan kepada Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Tulungagung. (HR)

BUPATI JEMBER DAN ACEH BESAR KUNJUNGI BET CIPELANG

Foto bersama setelah pertemuan Bupati Aceh Besar dan Kepala BET Cipelang Bogor Deasy Zaman, bersama Wartawan Infovet Drh Heru (dua kiri), dan Drh Rii Nugroho dari Dinas Peternakan Jember. (Foto: Dok. Heru)

Rabu (12/11/2025), Bupati Jember dan Bupati Aceh Besar berkunjung ke Balai Embrio Ternak (BET) Cipelang untuk melakukan kerja sama kegiatan di 2026 mendatang.

Bupati Aceh Besar, Muharram Idris, mengungkapkan kepada Kepala BET Cipelang, Deasy Zaman SPt MSi, melihat potensi peternakan yang cukup besar di wilayah Kabupaten Aceh Besar ingin ada keterlibatan instansi pusat seperti BET Cipelang guna membantu pengembangan ternak sapi lokal sebagai sumber benih, bibit, dan pelestarian plasma nutfah.

“Agar peternakan di Aceh Besar bisa lebih maju lagi. Kita lihat peluang ternak sapi apa yang bisa dikembangkan di Aceh, kemungkinan apakah IB atau TE karena orang Aceh sangat fanatik dengan sapi Aceh untuk pemenuhan daging saat acara-acara,” ujarnya.

Menanggapi hal itu, ke depan akan diadakan sosialisasi oleh BET Cipelang di Aceh Besar. Kepala BET Cipelang juga memperkenalkan Drh Heru Rachmadi, ahli bedah sesar sapi di Indonesia yang juga wartawan Infovet, dan juga pernah mengajarkan ilmu bedah sesar sapi untuk dokter hewan dan paramedik veteriner BET Cipelang pada 2017.

Mendengar penjelasan tersebut, Bupati Aceh Besar pun berencana mengundang Drh Heru untuk membagikan dan mengajarkan ilmu sesar pada sapi kepada dokter hewan yang ada di Aceh.

Sedangkan Bupati Jember melalui timnya Drh Rii Nugroho MVet, yang didampingi konsultan ahli Drh Heru, menindaklanjuti kunjungan Menteri Pertanian untuk lebih mengembangkan lagi potensi peternakan Jember dengan melakukan MoU selama lima tahun agar Jember dapat menjadi andalan sentra peternakan sapi potong Jawa Timur.

Adapun pengembangan rumpun sapi Belgian Blue, Brahman, PO, Siemental, dan Limousine sangat diminati masyarakat Jember, yang diharapkan pada 2027, dari kerja sama tersebut bisa terlihat keberhasilan pengembangan peternakan sapi tersebut di Jember. (HR)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer