-->

KETIKA RUMPUT HIJAU MENYIMPAN ANCAMAN PENYAKIT

Ternak sapi rentan memindahkan antraks ke seluruh provinsi khususnya pada momen kurban. (Foto: Unsplash)

Idul Adha memang sudah lewat, namun setiap menjelang momen tersebut, perhatian terhadap antraks biasanya meningkat. Hal ini bukan tanpa alasan, perayaan Idul Adha melibatkan pergerakan jutaan ekor hewan kurban dari berbagai daerah menuju lokasi penjualan dan pemotongan. Mobilitas ternak yang tinggi tersebut berpotensi meningkatkan risiko penyebaran berbagai penyakit hewan menular.

Penyakit Kuno, Ancaman Bagi Dunia Modern
Indonesia mungkin adalah negeri yang memiliki ingatan pendek terhadap banyak hal. Bahkan untuk penyakit hewan yang sudah dikenal lebih dari satu abad pun, pola yang sama masih berulang. Antraks adalah salah satu contohnya.

Penyakit ini bukan penyakit baru, bukan pula penyakit misterius yang baru ditemukan para ilmuwan minggu lalu. Bahkan, antraks merupakan salah satu penyakit infeksi tertua yang pernah dipelajari manusia.

Penyebabnya pun sudah diketahui dengan sangat jelas, yaitu bakteri Bacillus anthracis. Cara penularannya dipahami. Metode pencegahannya tersedia. Vaksinnya ada. Prosedur pengendaliannya juga telah ditulis berulang kali dalam buku, jurnal, pedoman kesehatan hewan, hingga peraturan pemerintah.

Celakanya antraks bersifat zoonosis, karena sifatnya tersebut, antraks tidak hanya menjadi persoalan kesehatan hewan, tetapi juga kesehatan masyarakat, keamanan pangan, hingga stabilitas ekonomi peternakan.

Antraks memiliki sejarah panjang di Indonesia. Meskipun berbagai program pengendalian telah dilakukan selama puluhan tahun, penyakit ini belum berhasil dieliminasi sepenuhnya. Salah satu penyebabnya adalah kemampuan luar biasa bakteri penyebab antraks untuk membentuk spora yang mampu bertahan puluhan tahun di lingkungan. Spora tersebut dapat “tertidur” di dalam tanah dalam waktu sangat lama, lalu kembali aktif ketika kondisi lingkungan mendukung. Karena itulah antraks sering disebut sebagai penyakit yang sulit diberantas dan hanya dapat dikendalikan.

Meskipun Indonesia merupakan negara endemis antraks, masih terdapat delapan provinsi di Indonesia yang dinyatakan bebas dari antraks, yakni Aceh, Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat.

Sabar Menanti Puluhan Tahun
Jika bakteri lain dapat diibaratkan seperti pencuri yang harus terus bergerak untuk bertahan hidup, maka Bacillus anthracis lebih mirip seperti penagih utang yang sangat sabar. Ia bisa menunggu, bahkan dalam waktu yang sangat lama.

Analogi tersebut dikemukakan oleh Drh Nusdianto Triakoso, salah satu dosen di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Menurutnya, keunggulan terbesar bakteri antraks adalah kemampuannya membentuk spora. Dalam bentuk ini, bakteri seakan berubah menjadi kapsul kehidupan yang nyaris tidak bisa dihancurkan oleh alam.

“Spora antraks mampu bertahan di dalam tanah selama puluhan tahun. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa spora dapat tetap infektif setelah beberapa dekade berada di lingkungan. Bayangkan saja, seekor sapi mati akibat infeksi bakteri antraks pada masa ketika presiden masih berganti melalui sidang MPR, lalu puluhan tahun kemudian seekor sapi lain merumput di lokasi yang sama dan kembali terinfeksi,” tuturnya.

Begitulah cara penyakit ini bekerja, ia tidak terburu-buru, tidak membutuhkan strategi rumit, hanya menunggu kesempatan. Karena itulah daerah yang pernah mengalami wabah antraks sering kali tetap berstatus daerah endemis selama berpuluh tahun. Tanah yang terlihat subur dan hijau bisa saja menyimpan jutaan spora yang tidak terlihat mata. Rumputnya tampak segar, sapinya tampak sehat. Tetapi di bawah permukaan tanah terdapat “warisan biologis” yang belum selesai.

Pagi Masih Makan, Sore Jadi Bangkai
Salah satu alasan antraks begitu ditakuti adalah karena sifatnya yang brutal. Banyak penyakit hewan memberi peringatan terlebih dahulu. Hewan kehilangan nafsu makan, batuk, diare, atau mengalami penurunan bobot badan secara perlahan.

Antraks sering kali tidak seramah itu. Pada kasus akut, peternak bisa melihat sapinya masih makan dengan lahap pada pagi hari. Beberapa jam kemudian hewan tersebut terbaring mati. Tidak ada drama panjang, tidak ada kesempatan kedua. Tidak ada waktu untuk mencari pengobatan alternatif dari grup WhatsApp peternak.

Kematian bisa terjadi begitu cepat, kadang-kadang muncul gejala seperti demam tinggi, sesak napas, gelisah, atau pembengkakan di beberapa bagian tubuh. Namun sering kali gejala tersebut berlangsung sangat singkat bahkan telat disadari peternak.

Setelah hewan mati, tanda yang paling mencolok adalah keluarnya darah gelap dari lubang hidung, mulut, anus, atau alat kelamin. Darah tersebut biasanya tidak mudah membeku. Bangkai hewan yang terinfeksi juga membusuk lebih cepat dibandingkan kematian akibat penyebab lain. Bagi dokter hewan, tanda-tanda ini sudah cukup untuk menyalakan alarm bahaya.

“Daripada Mubazir”
Di lapangan, cerita tentang antraks berubah dari masalah kesehatan hewan menjadi ironi sosial. Dalam banyak kasus, tantangan terbesar bukanlah bakterinya, tetapi justru manusianya.

Ketika seekor sapi sekarat atau mati mendadak di kandang, reaksi ideal adalah melaporkan kejadian tersebut kepada petugas kesehatan hewan. Namun realitas di lapangan sering kali berbeda. Karena harga sapi mahal, kerugian ekonomi terbayang dan terasa berat. Rasa sayang jika daging dibuang atau sekedar kalimat “daripada mubazir”.

Hal itu mungkin menjadi salah satu kalimat paling berbahaya dalam sejarah penyakit zoonosis. Tidak sedikit kasus antraks di Indonesia berawal dari keputusan sederhana, menyembelih ternak yang sakit atau sudah mati lalu membagikan dagingnya kepada warga sekitar.

Logikanya terlihat masuk akal bagi sebagian orang. Kadang mereka mengatakan, “Dagingnya masih bagus,” Dimasak juga mati kumannya,” “Keluarga saya makan tidak apa-apa.” Padahal antraks tidak peduli pada logika tersebut. Bakteri tidak bisa diyakinkan dengan alasan ekonomi, dan spora tidak akan menghilang hanya karena seseorang merasa sayang membuang daging.

Hasilnya adalah pola yang berulang. Hewan terinfeksi disembelih, daging dibagikan, warga terpapar, petugas datang, masyarakat panik, berita muncul, lalu semua orang bertanya mengapa hal itu bisa terjadi.

Kasus antraks di Gunungkidul beberapa tahun lalu menjadi contoh yang sangat jelas. Wabah tersebut tidak hanya menyebabkan kematian ternak, tetapi juga berdampak pada manusia. Sejumlah warga terpapar setelah kontak dengan hewan yang terinfeksi atau mengonsumsi produk ternak yang berasal dari hewan sakit.

Peristiwa tersebut seharusnya menjadi pengingat keras bahwa antraks bukan sekadar urusan peternak. Ini adalah tanggung jawab semua pihak, mulai dari pedagang ternak, pengangkut hewan, jagal, panitia kurban, hingga konsumen. Karena satu keputusan yang salah dapat menghasilkan konsekuensi kesehatan bagi masyarakat luas.

Seharusnya Tak Terulang
Antraks sebenarnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar penyakit ternak. Ia menunjukkan bahwa hubungan antara manusia, hewan, dan lingkungan tidak bisa dipisahkan. Seekor sapi yang terinfeksi bukan hanya masalah peternak, ia dapat menjadi masalah desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, bahkan nasional. Antraks bukan hanya masalah kesehatan hewan saja, tetapi juga kesehatan masyarakat, dan juga lingkungan.

Di era ketika dunia berbicara tentang teknologi peternakan presisi, kecerdasan buatan, dan genomik, antraks justru mengingatkan bahwa tantangan terbesar sering kali bukan kurangnya teknologi. Tantangan terbesar adalah memastikan pengetahuan yang sudah ada benar-benar diterapkan.

Karena antraks merupakan penyakit yang dapat bertahan lama dan manusia kerap percaya bahwa masalah lama sudah selesai. Padahal di banyak padang rumput Indonesia, bisa saja jutaan spora antraks masih bersembunyi di dalam tanah, menunggu musim hujan berikutnya, menunggu ternak berikutnya, dan menunggu kelalaian berikutnya. ***

Dirangkum oleh:
Drh Cholillurahman
Redaksi Majalah Infovet

GEJALA ANTRAKS MUNCUL DI GUNUNG KIDUL, TIM RESPONS CEPAT

Tim langsung merespons cepat dengan melakukan penelusuran dan pengambilan sampel kasus antraks di Gunung Kidul. (Foto: Istimewa)

Tim dari Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates yang merupakan unit pelaksana teknis Kementerian Pertanian (Kementan) langsung merespons cepat satu kasus gejala antraks di Desa Tileng, Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunung Kidul, DIY, pada 15 Februari 2025.

“Pemerintah serius menangani setiap kasus penyakit hewan menular yang muncul. Kami telah mengirimkan tim ke lokasi kasus untuk melakukan penelusuran, pengambilan sampel, dan penyuluhan kepada pemilik ternak,” kata Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementan, Agung Suganda, melalui siaran resminya saat meninjau laboratorium BBVet Wates, Selasa (18/2/2025).

Ia menambahkan, tim BBVet Wates juga terus berkoordinasi dengan Dinas PKH Kabupaten Gunung Kidul dan meminta untuk berkoordinasi lintas sektor dengan Dinas Kesehatan setempat dalam melakukan pemantauan dan cek kesehatan pada pemilik ternak atau yang memiliki riwayat kontak dengan ternak sakit.

Sementara itu, Kepala BBVet Wates, Hendra Wibawa, mengatakan tim BBVet Wates dan Dinas PKH Kabupaten Gunung Kidul telah melakukan disinfeksi secara menyeluruh pada kandang yang terdampak untuk memastikan dekontaminasi kuman, sehingga potensi penyebaran penyakit dapat dihilangkan.

“Ternak-ternak yang masih ada di kandang diisolasi, tidak boleh dikeluarkan, dan pembatasan akses keluar masuk, serta kandang terus dijaga biosekuritinya agar ternak tidak terpapar penyakit,” jelas Hendra.

“Pengobatan antibiotik pada ternak yang sekandang juga telah dilakukan dan akan dilanjutkan vaksinasi antraks pada ternak tersebut setelah masa kerja/residu antibiotik berakhir. Untuk di luar lokasi kasus, vaksinasi antraks dapat dilakukan secepatnya pada ternak-ternak yang sehat untuk mencegah penularan.”

Sampai berita ini diturunkan, pemerintah menyatakan tidak ditemukan penularan kasus pada ternak lain dan juga tidak ditemukan kasus klinis pada manusia. Kementan akan terus melakukan pemantauan dan penanganan kasus antraks untuk mencegah penyebaran penyakit, serta melindungi kesehatan hewan dan manusia. (INF)

ANTRAKS DI DIY LANGSUNG DITANGANI CEPAT AGAR TAK MELUAS

Pemberian vaksinasi pada sapi untuk mencegah antraks. (Foto: Istimewa)

Mencuatnya kasus antraks yang menyerang ternak sapi dan kambing di Kabupaten Sleman dan Gunungkidul Provinsi D.I. Yogyakarta (DIY), ditangani secara cepat dengan mengintensifkan disinfeksi, vaksinasi, dan pengawasan lalu lintas ternak.

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Nasrullah, mengungkapkan bahwa kasus ini telah menjadi perhatian Menteri Pertanian untuk segera diambil langkah-langkah preventif agar tidak meluas.

“Inilah kepedulian pemerintah terhadap rakyat. Harapannya yaitu wilayah kasus bisa kita isolir. Pemerintah jangan sampai lengah terhadap vaksinasi antraks. Stok vaksin kita lebih dari cukup dan tidak impor. Kita produksi sendiri,” kata Nasrullah saat memberikan sambutan pada kegiatan vaksinasi untuk pencegahan antraks di Balai Desa Gayamharjo, Prambanan, Sleman, Selasa (19/3/2024).

Dalam keterangan resminya, Nasrullah menyoroti pentingnya pemahaman yang lebih baik dari peternak tentang bagaimana menjaga kesehatan ternak dan mencegah agar kasus antraks tidak terulang.

Ia mengimbau jika ternak sakit, segera laporkan kepada petugas, tidak boleh menyembelih di sembarang tempat tanpa izin, serta mengonsumsi  ternak yang sakit apalagi yang telah mati. Hal tersebut dapat membahayakan kesehatan diri sendiri maupun masyarakat.

“Sangat penting bagi peternak untuk memahami bahaya antraks dan langkah-langkah pencegahannya. Edukasi harus rutin diberikan kepada peternak dengan melibatkan tokoh-tokoh masyarakat,” ucapnya.

Ia juga menambahkan, perlu diperkuat check point lalu lintas ternak yang ada dan melakukan koordinasi lintas wilayah yang berbatasan. Aparat Kepolisian juga diharapkan menindak oknum yang menjual ternak sakit atau ternak mati yang diduga antraks.

Pada kesempatan yang sama, Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo, menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan upaya pendataan kelompok ternak di Kabupaten Sleman dan turut memantau perdagangan ternak secara ketat. Terutama wilayah yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Gunungkidul dan Kabupaten Klaten Provinsi Jawa Tengah, menjadi fokus utama dalam pemantauan.

“Kami telah melakukan upaya disinfeksi di lingkungan kandang ternak yang positif antraks dan Pemda Sleman terus berupaya memusnahkan daging ternak kena antraks yang telah ditaruh di kulkas-kulkas, kita ambil semua, ini bekerja sama juga dengan TNI dan Polri,” kata Kustini.

Ia juga membeberkan telah dilakukan pengobatan dan pemberian vitamin terhadap 143 ekor sapi dan 224 ekor kambing/domba. Vaksinasi juga terus dilakukan pada zona kuning yaitu di Dusun Nawung, Kalinongko, dan Kalinongko Lor. Semua dilakukan beserta jajaran Pemda Sleman agar penyebaran antraks berhenti.

Pada kesempatan yang sama Direktur Kesehatan Hewan, Nuryani Zainuddin, menjelaskan bahwa antraks yang terjadi di DIY merupakan kasus yang berulang dan ini disebabkan oleh beberapa hal salah satunya adalah ketidaktahuan masyarakat terkait bahaya antraks.

“Penyakit antraks sebenarnya adalah penyakit yang mudah ditangani kalau dilakukan vaksinasi secara rutin, yaitu setiap tahun. Selain dengan vaksinasi, pemerintah melalui Balai Besar Veteriner bisa melakukan flooring atau semenisasi untuk daerah yang terkena antraks,” tutur Nuryani.

Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi DIY, Hery Sulistio Hermawan, juga menekankan pentingnya koordinasi antar instansi dalam menangani kasus ini. Menurutnya, seluruh wilayah di DIY harus mengambil langkah tegas dan waspada.

“Berawal dari 2 Februari 2024 terjadi utamanya di Kalinongko Kidul, Gayamharjo, beruntun sampai 7 Maret 2024. Kemudian pada 23 Februari 2024 juga terjadi kasus di Serut. Artinya ada di dua lokasi penyakit antraks. Dua lokasi tersebut saling berdekatan di perbatasan dengan jarak 100-200 meter,” terangnya.

Ia sampaikan telah terjadi kematian dua ekor sapi dan 10 ekor kambing dan saat ini sudah 14 hari sudah tidak ditemukan kasus lagi. Artinya, kematian ternak yang terakhir terkonfirmasi pada 7 Maret 2024.

Update penanganan yaitu telah dilakukan disinfeksi, pengobatan antibiotik, dan vitamin sebanyak 750 ekor terdiri dari 238 sapi dan 519 kambing. Vaksinasi akan dilaksanakan 14 hari setelah ternak diobati. Untuk Klaten yang menjadi daerah terancam, juga telah vaksinasi 242 ekor yaitu terdiri dari 140 sapi, 55 kambing, dan 47 domba,” tukasnya.

Pada acara tersebut, Dirjen PKH Nasrullah juga menyerahkan bantuan Kementerian Pertanian berupa vaksin antraks (2.600 dosis), vitamin (1.500 botol), obat-obatan (600 botol), dan spuit (20.000 set) kepada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi DIY. (INF)

TURUNKAN TIM KE LAPANGAN, KEMENTAN RESPONS CEPAT LAPORAN ANTRAKS DI YOGYAKARTA

Tim saat mengambil sampel di peternakan warga karena adanya laporan kasus antraks. (Foto: Istimewa)

Merespons laporan kasus antraks di Kabupaten Sleman dan Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), pada 8 Maret 2024, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH), Kementerian Pertanian (Kementan), langsung menurunkan tim ke lapangan.

“Tim kami dari Balai Besar Veteriner Wates telah melakukan investigasi dan pengujian laboratorium dengan hasil positif antraks dari sampel darah sapi dan tanah yang berasal dari Desa Serut, Kecamatan Gedangsari, Gunung Kidul dan sampel tanah dari Desa Gayamharjo, Kecamatan Prambanan, Sleman,” ujar Dirjen PKH, Kementan, Nasrullah, dalam siaran resminya di Jakarta, Selasa (12/3/2024).

Untuk mencegah tambahan kasus, ia sampaikan bahwa Kementan segera mengirimkan bantuan berupa vaksin sebanyak 1.000 dosis, 100 botol antibiotik, dan 1.000 botol vitamin untuk diberikan ke ternak di wilayah terdampak di DIY.

"Bantuan tersebut akan disalurkan untuk penanganan kejadian antraks yang dilaporkan dari Sleman, Gunung Kidul, dan wilayah terancam lainnya," ucapnya.

Sementara terkait adanya kasus antraks, Direktur Kesehatan Hewan, Kementan, Nuryani Zainuddin, menerangkan bahwa penyakit tersebut merupakan salah satu penyakit hewan yang dapat menular ke manusia (zoonosis).

"Saya minta masyarakat tetap waspada dan tidak menjual atau memotong hewan sakit, apalagi mengonsumsinya," imbuhnya. Sebab, adanya kasus pada masyarakat disebabkan karena mereka mengonsumsi ternak yang sakit dan dicurigai antraks.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa timnya bersama dinas setempat telah melakukan dekontaminasi dan disinfeksi pada lingkungan yang tercemar, yaitu lokasi penyembelihan, kandang dan area penguburan ternak, pengobatan antibiotik dan roboransia, serta KIE bersama dengan UPT Puskesmas. Sedangkan vaksinasi akan segera dilakukan setelah pengobatan.

“Tim kami akan terus melakukan penanganan di lapang dan dalam waktu dekat kita akan adakan pertemuan lintas sektor termasuk kesehatan yang dikoordinir oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi DIY,” pungkasnya. (INF)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer