-->

PROBLEMATIKA PORCINE RESPIRATORY DISEASE COMPLEX PADA BABI

PRDC menyebabkan penyakit parah pada peternakan babi, namun beberapa kasus terkadang ringan dan bersifat sementara. (Foto: Dok. Joko)

Penyakit pernapasan kompleks pada babi (Porcine respiratory disease complex/PRDC) adalah satu penyebab utama kerugian ekonomi pada industri peternakan babi secara global. PRDC merupakan penyakit multifaktor yang disebabkan interaksi patogen viral dan bakterial, yang dipengaruhi stresor dari lingkungan, manajemen, dan faktor spesifik pada babinya.

Pada PRDC, beberapa agen viral dan bakterial dapat dideteksi dengan bermacam kombinsai yang dikenal sebagai infeksi polimikrobial. Agen-agen tersebut berperan sebagai patogen primer dan sekunder. Patogenenesis PRDC pada peternakan babi secara umum disebabkan oleh infeksi primer virus yang memicu infeksi sekunder bakteria. Penyakit pernapasan pada babi secara umum mencakup rhinitis, pneumonia, dan pleuritis, yang terkait satu sama lain ataupun tidak terkait.

Beberapa patogen viral yang terlibat dalam PRDC meliputi Porcine reproductive and respiratory syndrome virus (PRRSV), Porcine circovirus type 2 (PCV2), Swine influenza virus (SIV), Pseudorabies virus (PRV), dan Porcine respiratory coronavirus (PRCV) yang merupakan penyakit endemik pada peternakan babi.

Patogen viral tersebut menimbulkan dampak signifikan yang berbeda antar peternakan, dari sisi produktivitas, regional, antar negara, dan menimbulkan kesulitan dalam pengendalian serta penanganan. Walaupun PRDC menyebabkan penyakit parah pada peternakan babi, namun beberapa kasus tersebut terkadang ringan dan bersifat sementara.

Walaupun beberapa patogen bakterial potensial yang berkoloni di rongga hidung atau tonsil babi, mekanisme pertahanan tubuh normal pada saluran dan organ pernapasan mencegah terjadinya kerusakan dan penyebaran pada paru. Patogen primer dari viral memiliki kemampuan merusak epitel organ pernapasan atas, menyebabkan infeksi pada parenkim paru, dan memicu terjadinya infeksi sekunder bakteri, serta memperparah perkembangan PRDC.

Beberapa agen bakterial tersebut adalah Mycoplasma hyopneumoniae dan Pasteurella multocida, Streptococcus suis dan Actinobacillus pleuropneumoniae dapat berperan sebagai agen infeksi primer ataupun sekunder tergantung pada beberapa situasi. Jika infeksi primer melanjut sebagai infeksi kompleks dengan infeksi sekunder bakteri menyebabkan penyakit yang lebih parah dan penyakit pernapasan kronis serta menimbulkan kerugian ekonomi peternakan.

PRDC menyebabkan morbiditas 40% dan mortalitas lebih dari 50% pada piglet dan babi lepas sapih, serta 60% pada fase grower/finisher. Angka kejadian tertinggi terjadi pada peternakan skala kecil-menengah, tingkat kepadatan populasi, manajemen pemeliharaan, pembesaran, penularan penyakit, serta persistensi agen penyebabnya.

PRDC juga menyebabkan kerugian ekonomi peternakan hingga... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2026.

Ditulis oleh:
Dr Drh Joko Susilo MSc APVet (Wartawan Infovet Daerah Lampung)
& Drh Catrine Relia Patrecia Gultom (Kementan)

LEBIH JAUH TENTANG STRES OKSIDATIF

Keterangan: PSE MEAT (Pale, Soft, Exudative). DFD MEAT: (Dark, Firm and Dry).

Peternakan unggas merupakan sektor penting dalam industri ternak dengan laju pertumbuhan tercepat, yang secara signifikan meningkatkan gizi dan keamanan pangan, dengan produknya yaitu telur dan daging, yang dikonsumsi di seluruh dunia (Surai, 2016). Salah satu faktor utama yang berdampak negatif terhadap produksi ternak adalah stres oksidatif, yang diperburuk oleh perubahan iklim (Vandana dan Sejian, 2018; Oke et al., 2022, 2024).

Chen et al. (2021), menunjukkan bahwa jika pemanasan global semakin memburuk, dampak merugikan dari stres oksidatif akan menjadi lebih nyata. Seperti yang ditunjukkan pada Tabel 1, berbagai studi telah menemukan hubungan antara kerusakan oksidan dan penurunan kinerja pertumbuhan pada unggas di bawah stres panas (Kikusato et al., 2021; Oni et al., 2023; Oni et al., 2024).

Tabel 1. Kinerja Pertumbuhan akibat Stres Oksidatif pada Unggas

Referensi/Sumber

Pengaruh Stres Oksidatif pada Kinerja

Surai et al. (2019)

Tingkat pertumbuhan rendah

Mashkoor et al. (2023)

 FCR lebih tinggi

Agrawal et al. (2023)

Pemborosan otot dan penurunan sintesis protein

Zhang et al. (2018)

 Berat badan berkurang


Daging ayam telah menjadi salah satu sumber protein hewani yang paling terkenal karena kandungan nutrisinya yang tinggi dan relatif terjangkau (Petracci et al., 2015; Oke et al., 2021a; Kpomasse et al., 2023a; Akosile et al., 2023a). Untuk memenuhi permintaan daging yang semakin meningkat, ayam broiler yang tumbuh cepat diperlukan dalam produksi unggas. Oleh karena itu, untuk menjembatani kesenjangan dalam permintaan daging, gen unggas selalu berkembang. Seleksi ayam broiler untuk pertumbuhan cepat membuat mereka lebih rentan terhadap kenaikan suhu dibandingkan spesies unggas lainnya, terutama di daerah tropis (Oke et al., 2016).

Kekurangan kelenjar keringat, bulu yang menghangatkan, dan rasio massa terhadap luas permukaan tubuh yang jauh lebih tinggi juga membuat mereka terpapar berbagai stres lingkungan (Bernabucci, 2019). Suhu tubuh ayam dewasa biasanya berkisar 40,6-41,7 °C (Ranjan et al., 2019). Suhu tubuh internal ayam meningkat ketika suhu luar naik di atas 24 °C, yang menyebabkan beberapa perubahan signifikan pada fisiologi dan metabolisme ayam (Cassuce et al., 2013). Ayam dewasa merasa nyaman ketika ditempatkan di lingkungan dengan suhu sekitar 18-24 °C, sedangkan anak ayam membutuhkan suhu yang lebih tinggi selama minggu pertama kehidupannya sekitar 32 °C, yang secara bertahap menurun seiring pertumbuhan mereka (Scanes, 2015).

Faktor manajemen, mikrobiologi, nutrisi, dan lingkungan berkontribusi terhadap stres dalam produksi unggas komersial, yang berdampak buruk pada produktivitas dan kesehatan keseluruhan ayam (Estévez, 2015; Alo et al., 2024). Spesies unggas menjadi lebih rentan terhadap stres oksidatif karena kondisi lingkungan yang keras akibat perubahan iklim (Gonzalez-Rivas et al., 2020).

Sistem termoregulasi ayam menjadi lebih rentan terhadap kondisi lingkungan yang keras, yang dapat menjadi penghambat bagi produksinya (Zaboli et al., 2019). Kondisi stres membuat spesies unggas lebih rentan menghasilkan radikal bebas sementara aktivitas enzim antioksidan dan kemampuan untuk menangkal radikal bebas menurun (Miao et al., 2020). Hal ini dapat meningkatkan biaya produksi dan menurunkan kualitas daging mereka.

Tingkat stres memengaruhi tingkat produksi ayam serta efektivitasnya. Selain itu, kondisi stres terutama dikaitkan dengan penurunan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2026.

Ditulis oleh:
Drh Arief Hidayat
Praktisi perunggasan

STRES OKSIDATIF, MUSUH TAK KASATMATA DI BALIK TURUNNYA PERFORMA

Mekanisme Penghilangan panas pada ayam. (Sumber: Hy-Line 2016)

Dalam industri perunggasan modern, peternak sering kali berhadapan dengan situasi yang membingungkan. Ayam tampak sehat, konsumsi pakan relatif normal, tidak ada gejala penyakit yang mencolok, namun performa produksi perlahan menurun. Bobot badan tidak mencapai target, konversi pakan memburuk, produksi telur menurun, kualitas karkas berkurang, dan respons vaksinasi tidak optimal. Di balik berbagai gejala yang tampak samar tersebut, sering kali terdapat satufaktor yang luput dari perhatian, yaitu stres oksidatif.

Stres oksidatif atau di Indonesia biasa dikaitkan dan disebut dengan stres panas/heat stress bukanlah penyakit. Ia merupakan kondisi fisiologis ketika tubuh unggas mengalami ketidakseimbangan antara produksi radikal bebas dan kemampuan sistem antioksidan untuk menetralisirnya.

Kondisi ini dapat terjadi pada broiler, layer, breeder, itik, puyuh, hingga unggas lainnya. Bahkan pada peternakan dengan manajemen yang baik sekalipun, stres oksidatif tetap dapat muncul apabila faktor pemicunya tidak terkendali.

Memahami Radikal Bebas
Untuk memahami stres oksidatif, pertama-tama perlu memahami apa yang disebut radikal bebas. Tony Unandar selaku konsultan perunggasan dan Anggota Dewan Pakar ASOHI, mengatakan bahwa radikal bebas adalah molekul yang memiliki elektron tidak berpasangan sehingga sangat reaktif.

Dalam tubuh unggas, radikal bebas sebenarnya terbentuk secara alami sebagai bagian dari proses metabolisme normal. Setiap kali sel menghasilkan energi melalui respirasi di mitokondria, sebagian kecil oksigen akan berubah menjadi senyawa reaktif yang dikenal sebagai reactive oxygen species (ROS). Beberapa contoh ROS yakni superoksida (SO2-), radikal hidroksil (OH), dan lain sebagainya.

Selain ROS, terdapat pula reactive nitrogen species (RNS) yang berasal dari metabolisme nitrogen. Dalam jumlah terkendali, molekul-molekul ini justru memiliki fungsi penting. Mereka membantu sistem imun membunuh patogen, berperan dalam komunikasi antar sel, serta mengatur berbagai proses biologis. Masalah baru muncul ketika jumlah radikal bebas yang dihasilkan melebihi kemampuan tubuh untuk menetralisirnya. Pada saat itulah stres oksidatif mulai berkembang.

Mengapa Unggas Rentan Mengalami Stres Oksidatif?
Unggas modern memiliki karakteristik biologis yang membuat mereka lebih rentan terhadap stres oksidatif dibandingkan nenek moyangnya. Broiler modern tumbuh sangat cepat. Dalam waktu sekitar 35 hari, berat badannya dapat mencapai lebih dari 2 kg. Pertumbuhan luar biasa ini membutuhkan aktivitas metabolisme yang sangat tinggi.

Hal tersebut diungkapkan oleh Guru besar Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University, Prof I Wayan Teguh Wibawan, sekaligus konsultan perunggasan. “Semakin tinggi metabolisme, semakin banyak... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2026. (CR)

STRES OKSIDATIF, MUSUH TAK KASATMATA DI BALIK TURUNNYA PERFORMA

Mekanisme Penghilangan panas pada ayam. (Sumber: Hy-Line 2016)

Dalam industri perunggasan modern, peternak sering kali berhadapan dengan situasi yang membingungkan. Ayam tampak sehat, konsumsi pakan relatif normal, tidak ada gejala penyakit yang mencolok, namun performa produksi perlahan menurun. Bobot badan tidak mencapai target, konversi pakan memburuk, produksi telur menurun, kualitas karkas berkurang, dan respons vaksinasi tidak optimal. Di balik berbagai gejala yang tampak samar tersebut, sering kali terdapat satu faktor yang luput dari perhatian, yaitu stres oksidatif.

Stres oksidatif atau di Indonesia biasa dikaitkan dan disebut dengan stres panas/heat stress bukanlah penyakit. Ia merupakan kondisi fisiologis ketika tubuh unggas mengalami ketidakseimbangan antara produksi radikal bebas dan kemampuan sistem antioksidan untuk menetralisirnya.

Kondisi ini dapat terjadi pada broiler, layer, breeder, itik, puyuh, hingga unggas lainnya. Bahkan pada peternakan dengan manajemen yang baik sekalipun, stres oksidatif tetap dapat muncul apabila faktor pemicunya tidak terkendali.

Memahami Radikal Bebas
Untuk memahami stres oksidatif, pertama-tama perlu memahami apa yang disebut radikal bebas. Tony Unandar selaku konsultan perunggasan dan Anggota Dewan Pakar ASOHI, mengatakan bahwa radikal bebas adalah molekul yang memiliki elektron tidak berpasangan sehingga sangat reaktif.

Dalam tubuh unggas, radikal bebas sebenarnya terbentuk secara alami sebagai bagian dari proses metabolisme normal. Setiap kali sel menghasilkan energi melalui respirasi di mitokondria, sebagian kecil oksigen akan berubah menjadi senyawa reaktif yang dikenal sebagai reactive oxygen species (ROS). Beberapa contoh ROS yakni superoksida (SO2-), radikal hidroksil (OH), dan lain sebagainya.

Selain ROS, terdapat pula reactive nitrogen species (RNS) yang berasal dari metabolisme nitrogen. Dalam jumlah terkendali, molekul-molekul ini justru memiliki fungsi penting. Mereka membantu sistem imun membunuh patogen, berperan dalam komunikasi antar sel, serta mengatur berbagai proses biologis. Masalah baru muncul ketika jumlah radikal bebas yang dihasilkan melebihi kemampuan tubuh untuk menetralisirnya. Pada saat itulah stres oksidatif mulai berkembang.

Mengapa Unggas Rentan Mengalami Stres Oksidatif?
Unggas modern memiliki karakteristik biologis yang membuat mereka lebih rentan terhadap stres oksidatif dibandingkan nenek moyangnya. Broiler modern tumbuh sangat cepat. Dalam waktu sekitar 35 hari, berat badannya dapat mencapai lebih dari 2 kg. Pertumbuhan luar biasa ini membutuhkan aktivitas metabolisme yang sangat tinggi.

Hal tersebut diungkapkan oleh Guru besar Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University, Prof I Wayan Teguh Wibawan, sekaligus konsultan perunggasan. “Semakin tinggi metabolisme, semakin banyak oksigen yang digunakan. Semakin banyak oksigen digunakan, semakin besar pula pembentukan ROS,” tutur Wayan.

Sementara pada ayam petelur modern yang mampu menghasilkan lebih dari 300 butir telur/tahun. Produktivitas yang tinggi ini juga meningkatkan tekanan metabolik yang besar terhadap tubuh. Dengan kata lain, kemajuan genetika yang menghasilkan unggas berproduksi tinggi secara tidak langsung juga meningkatkan risiko terjadinya stres oksidatif.

Ia melanjutkan bahwa unggas termasuk... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2026. (CR)

LINDUNGI AYAM DARI SERANGAN ND

Lesi kasar pada unggas yang terinfeksi ND: a) Perdarahan petechiae pada kelenjar proventrikulus. b) Trakea menunjukkan perdarahan yang menyebar. c) Area nekro-perdarahan fokal pada permukaan mukosa usus halus dan tonsil sekum. d) Splenomegali (A) dan limpa normal (B). (Sumber: Poultry Farming - The Latest Scientific Findings and Practical Applications [Working Title] By: Emeritus Prof. László Babinszky)

Penyakit Newcastle disease (ND) adalah infeksi virus yang sangat menular yang memengaruhi ayam dan unggas liar, disebabkan oleh virus ND yakni paramyxovirus tipe 1.

Keganasannya pun bervariasi tergantung strain dan dikategorikan menjadi tiga patotipe, yaitu lentogenik (rendah atau avirulen), mesogenik (sedang), dan velogenik (keganasan tinggi). Strain velogenik menyebabkan morbiditas dan mortalitas tinggi, yang mengakibatkan kerugian produksi yang signifikan dan dampak ekonomi substansial karena biaya langkah-langkah pengendalian.

Virus ND menunjukkan diversitas genetik yang tinggi, menekankan perlunya pengawasan terus-menerus, diagnostik canggih, dan strategi pencegahan yang ditingkatkan. Dengan berkembangnya industri unggas global dan meningkatnya perdagangan internasional, pengendalian ND yang efektif, terutama melalui vaksinasi, tetap penting. Namun, tinjauan komprehensif yang menggabungkan temuan terbaru masih kurang.

Kasus pertama kali ND dilaporkan di Jawa, Indonesia pada 1926, kemudian di Newcastle-on-Tyne, Inggris pada 1927. Virus ini juga muncul di India, di mana dikenal secara umum sebagai penyakit Ranikhet. Virus ini endemik di banyak negara berkembang, termasuk India, dan tetap menjadi kendala utama dalam produksi unggas karena sering terjadi wabah baik pada ayam yang sudah divaksin maupun yang belum divaksin.

Virus ND diklasifikasikan secara taksonomis sebagai Avian orthoavulavirus 1 (AOAV-1), sebelumnya disebut Avian avulavirus 1 (AAvV-1) atau Avian paramyxovirus 1 (APMV-1). Virus ini termasuk dalam genus Orthoavulavirus, subfamili Avulavirinae, famili Paramyxoviridae, dan ordo Mononegavirales.

Virus ini memiliki genom RNA untai tunggal bermuatan negatif sekitar 15,2 kb, yang mengkode enam protein struktural dengan urutan 3ʹ-NP–P–M–F–HN–L-5ʹ: protein nukleokapsid (NP), fosfoprotein (P), protein matriks (M), protein fusi (F), hemagglutinin-neuraminidase (HN), dan protein polimerase besar (L).

Penyebab Penyakit
Apa yang menyebabkan penyakit ND? Sebab virus ini sangat menular dan memiliki dampak signifikan pada unggas. Strain velogenik bertanggung jawab atas bentuk penyakit yang paling parah dan menyebabkan kematian tinggi.

Strain velogenik neurotropik menyebabkan gejala neurologis parah (misalnya tremor, ataksia, putaran kepala, kelumpuhan) dengan sedikit atau tanpa keterlibatan gastrointestinal. Lesi sering tidak ada. Kemudian strain velogenik viscerotropik sangat mematikan, menyebabkan kematian hingga 100%. Tanda-tandanya meliputi diare, dispnea, tremor, dan lesi hemoragik parah di saluran pencernaan, terutama pada proventrikulus dan tonsil sekum.

Virus-virus ini dapat bertahan selama beberapa minggu di lingkungan yang hangat dan lembap, pada bulu, kotoran, dan bahan lainnya, serta dapat bertahan tanpa batas waktu pada bahan yang dibekukan. Virus ND cepat dihancurkan oleh dehidrasi dan sinar ultraviolet.
Bagaimana penyakit ND menyebar? Virus menyebar dengan cepat dan dapat ditularkan melalui kontak langsung dengan unggas yang terinfeksi, atau melalui pakan dan air, peralatan, pakaian, atau sepatu yang terkontaminasi, bahkan penularan melalui udara dalam jarak pendek juga memungkinkan.

Selain itu, virus juga dapat bertahan selama beberapa minggu di lingkungan, bahkan dalam cuaca dingin. Gejala yang ditimbulkan dari strain velogenik di antaranya gangguan pernapasan (terengah-engah, batuk), tanda-tanda saraf (gemetar, kelumpuhan), pembengkakan kepala dan leher, diare berwarna hijau dan berair, mortalitas tinggi, berhentinya produksi telur, hingga depresi, sayap menjuntai dan berjalan melingkar.

Diagnosis Klinis dan Patologis
ND dapat menyerupai penyakit pernapasan unggas lain seperti Avian influenza (AI), Infectious bronchitis (IB), laringotrakeitis, dan cacar ayam. Strain ND APMV 3 dan 7 juga dapat berkerja silang secara serologis, sehingga diagnosis yang cepat dan akurat sangat penting untuk pengendalian penyakit.

Lesi kasatmata pada unggas yang terkena ND dapat meliputi kongesti pada organ viseral, seperti otak, ginjal, dan trakea, serta perdarahan petechiae pada mukosa proventrikulus, ulkus hemoragik pada dinding usus, dan splenomegali, tergantung pada strain virus ND yang terlihat.

Diagnosis Banding
Bentuk akut ND harus dibedakan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Mei 2026.

Ditulis oleh:
Drh Arief Hidayat
Praktisi perunggasan

BERKUTAT DENGAN NEWCASTLE DISEASE SELAMA SEABAD

Prediksi penyakit ND masih tertinggi. (Sumber: GPS Ceva, 2026)

Seratus tahun adalah waktu yang panjang dalam sejarah ilmu pengetahuan. Dalam rentang itu, manusia berhasil memecahkan struktur DNA, mendarat di bulan, hingga mengembangkan teknologi kecerdasan buatan. Namun di balik semua kemajuan tersebut, ada ironi yang diam-diam bertahan, sebuah penyakit unggas bernama Newcastle disease (ND) masih terus menjadi ancaman nyata bagi industri perunggasan Indonesia, Asia, dan dunia.

Sejak pertama kali dilaporkan pada 1926 di Newcastle upon Tyne dan hampir bersamaan di Indonesia, ND tidak pernah benar-benar hilang. Ia tidak lagi hadir sebagai wabah misterius yang membunuh tanpa penjelasan, tetapi juga belum sepenuhnya terkendali sebagai penyakit yang bisa dieliminasi. Ia berada di antara dua dunia, dipahami secara ilmiah, namun tetap sulit dikendalikan secara praktis.

Pertanyaan yang muncul setelah satu abad bukan lagi sekadar “apa itu ND?” atau “bagaimana cara mencegahnya?”. Pertanyaan yang lebih jujur dan mendasar adalah mengapa dengan segala kemajuan yang ada, masyarakat peternak masih hidup berdampingan dengan penyakit ini?

Dari Misteri Menjadi Ilmu Pengetahuan
Pada awal kemunculannya di Newcastle dan Hindia-Belanda, ND bak teror yang tidak memiliki nama jelas. Peternak saat itu hanya melihat ayam-ayam mereka mati mendadak, menunjukkan gejala saraf, gangguan pernapasan, dan penurunan produksi telur yang drastis. Tidak ada vaksin, tidak ada diagnostik, tidak ada pemahaman.

Dalam konteks itu, ND adalah simbol keterbatasan manusia dalam memahami penyakit infeksius. Namun perlahan, ilmu pengetahuan mulai membuka tabirnya. Virus penyebab ND diidentifikasi sebagai Avian paramyxovirus. Penularannya dipahami, pola epidemiologinya dipetakan. Dunia veteriner mulai memiliki bahasa untuk menjelaskan apa yang sebelumnya hanya dianggap “kutukan”.

Perjalanan ini mencerminkan sesuatu yang fundamental dalam sejarah ilmu pengetahuan, ketakutan sering kali berasal dari ketidaktahuan, dan pemahaman adalah langkah pertama menuju kontrol.

Revolusi Vaksin: Titik Balik yang Menjanjikan
Pertengahan abad ke-20 menjadi titik balik besar bagi dunia veteriner khususnya perunggasan. Munculnya vaksin ND pertama, mulai dari strain lentogenik seperti LaSota dan B1, mengubah lanskap perunggasan global.

Untuk pertama kalinya, manusia memiliki alat untuk melawan ND secara aktif. Mortalitas yang sebelumnya bisa mencapai 100% mulai ditekan. Peternakan ayam modern mulai berkembang. Produksi protein hewani meningkat pesat. Industri perunggasan menjadi salah satu sektor pangan paling efisien di dunia.

Dalam banyak hal, vaksin ND dinilai menjadi simbol kemenangan sains terapan atas kehendak alam. Namun seperti banyak kemenangan awal, realitas kemudian menunjukkan bahwa masalah tidak sesederhana itu.

Dalam sebuah acara seminar di Bogor yang membahas mengenai penyakit ND, Christophe Cazaban selaku Poultry Scientific Director Ceva Sante Animale, menekankan bahwa perjalanan 100 tahun melawan penyakit Newcastle bukan sekadar kisah tentang virus dan vaksin. 100 tahun setelah pertama kali dilaporkan, ND tetap relevan sebagai tantangan strategis industri perunggasan global.

“Evolusi virus yang berkelanjutan menuntut peningkatan kapasitas diagnostik, pengembangan vaksin yang adaptif, serta implementasi biosekuriti yang konsisten”, ujar Christophe.
Ia juga menambahkan bahwa perjalanan ND bukan sekadar sejarah penyakit, tetapi juga cerminan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Mei 2026. (CR)

MENJAGA PERFORMA DARI BAHAYA MIKOTOKSIN

Jamur, cendawan, atau kapang tumbuh di mana dan kapan saja, terutama ketika kondisi lingkungan menguntungkan. (Foto: Gemini)

Mikotoksin sangat berbahaya bagi kelangsungan performa di peternakan unggas. Kontaminasi mikotoksin pada unit usaha unggas apapun itu, dapat menyebabkan kerugian yang sangat besar.

Jamur, cendawan, atau kapang tumbuh di mana dan kapan saja, terutama ketika kondisi lingkungan menguntungkan bagi mereka. Yang lebih berbahaya, kebanyakan jamur biasanya tumbuh pada tumbuhan yang biasa digunakan sebagai bahan baku pakan, seperti jagung dan kacang kedelai.

Kedua jenis tanaman tersebut merupakan unsur penting dalam formulasi ransum. Jagung digunakan sebagai sumber energi utama, sedangkan kedelai sebagai sumber protein. Persentase penggunaan jagung dan kacang kedelai dalam suatu formulasi ransum unggas di Indonesia sangat tinggi. Jagung dapat digunakan 50-60%, sedangkan kedelai bisa sampai 20%.

Cemaran Mikotoksin
Commercial Technical Manager-Mycotoxin Risk Management Trouw Nutrition, Dr Swamy Haladi, dalam presentasinya pada webinar Review Mikotoksin Global 2026, menjabarkan beberapa hal terkait cemaran mikotoksin yang terdapat pada bahan baku dan pakan jadi.

Ia menuturkan, berdasarkan analisis terhadap lebih dari 115.000 sampel dari 46 negara, Trouw melaporkan bahwa jumlah sampel yang terkontaminasi mikotoksin pada 2025 mengalami penurunan dibandingkan 2024. Sampel tersebut mencakup berbagai bahan baku pakan, termasuk biji-bijian, sumber protein, produk samping, silase, total mixed rations (TMR), konsentrat, serta pakan lengkap.

“Penurunan paling signifikan terjadi pada tingkat kontaminasi fumonisin dan toksin T-2. Sebaliknya, tingkat deoksinivalenol (DON) dan zearalenon (ZEA) relatif serupa dengan tahun sebelumnya dan tetap lebih tinggi dibandingkan fumonisin. Sementara itu, rata-rata konsentrasi mikotoksin dalam sampel 2024 dan 2025 dilaporkan tidak menunjukkan perbedaan signifikan,” paparnya.

Temuan ini mengindikasikan bahwa meskipun jumlah sampel terkontaminasi menurun, faktor lingkungan yang mendukung pertumbuhan kapang dan produksi mikotoksin masih berlanjut hingga 2025, khususnya di wilayah beriklim sedang.

Selain existing mycotoxin yang sudah dikenal, ia juga berbicara mengenai enniatins. Mereka adalah kelompok mikotoksin “emerging” (mikotoksin yang relatif baru mendapat perhatian) yang diproduksi terutama oleh jamur Fusarium, khususnya Fusarium avenaceum, F. tricinctum, dan F. poae.

Enniatins (misalnya enniatins A, A1, B, dan B1) merupakan senyawa siklik heksadepsipeptida yang bersifat ionofor, artinya mampu membentuk kompleks dengan ion (seperti K⁺, Na⁺, Ca²⁺) dan mengganggu keseimbangan ion dalam sel.

Walau belum diregulasi secara ketat seperti DON atau aflatoksin, enniatins mendapat perhatian karena dapat menyebabkan efek sitotoksik pada sel mamalia (in vitro), gangguan membran sel dan mitokondria, potensi imunosupresif dan antimikroba, serta memiliki efek sinergis dengan mikotoksin lain (toxic cocktail effect).

Feed producer harus waspada dengan hal ini, karena enniatins juga bisa berbahaya, oleh karenanya kewaspadaan harus terus ditingkatkan,” katanya.

Jika sudah mengontaminasi bahan baku pakan, apalagi pakan jadi, tentu sangat merugikan produsen pakan maupun peternak. Menurut Tony Unandar, konsultan perunggasan yang juga anggota dewan pakar ASOHI, mikotoksikosis klinis bukanlah kejadian umum di lapangan.

Kasus mikotoksikosis subklinis justru sering ditemukan di lapangan. Gejalanya klinisnya sama dengan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi April 2026. (CR)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer