-->

DETEKSI PERSISTEN INFEKSI DAN MUSNAHKAN, CARA TEPAT KENDALIKAN BOVINE VIRAL DIARRHEA

Usaha breeding terus dilakukan untuk pengembangan sapi di Indonesia. (Foto: Infovet/Dok. Joko)

Pengembangan peternakan sapi di Indonesia terus dilakukan untuk meningkatkan populasi sapi secara nasional dan meningkatkan kesejahteraan peternak. Sapi sudah menjadi komoditas strategis nasional karena menjadi sumber protein hewani sebagian masyarakat Indonesia. Usaha breeding dilakukan di tingkat peternak rakyat, kelompok ternak, koperasi, korporasi, instansi pemerintah, hingga industri peternakan sektor swasta.

Hingga saat ini peternakan breeding masih menghadapi cukup banyak kendala dan tantangan terkait produktivitas, performa reproduksi, biaya produksi, angka kematian karena penyakit, serta harga pasca panen yang terkadang tidak bersahabat. Beberapa penyakit masih menjadi musuh besar pengembangan breeding di Indonesia seperti penyakit mulut dan kuku, septisemia epizootika, parasit darah, Bovine viral diarrhea (BVD), dan penyakit lainnya.

BVD merupakan penyakit endemik di sebagian besar wilayah dunia dengan prevalensi sedang-tinggi pada peternakan sapi perah dan sapi potong. Penyakit ini dianggap sebagai salah satu patogen infeksius paling signifikan dalam industri peternakan. Virus BVD merupakan virus RNA untai tunggal berselubung kecil, sekitar 12,5 kb, anggota genus Pestivirus, famili Flaviviridae. Genus Pestivirus terdiri dari empat spesies, yaitu BVDV-1 dan BVDV-2 (sebelumnya disebut sebagai genotipe 1 dan 2), classical swine fever pada babi, dan border disease pada domba.

BVD dikategorikan menjadi dua biotipe berdasarkan karakteristik pertumbuhannya dalam kultur sel biotipe sitopatik dan biotipe non-sitopatik. Biotipe sitopatik (CP) yang langka akan merusak kultur jaringan dan biotipe non-sitopatik (NCP) yang jauh lebih umum tidak akan merusaknya. Biotipe NCP memiliki tropisme untuk leukosit, organ limfoid, dan saluran pernapasan, sementara biotipe CP lebih terbatas pada saluran pencernaan.

Infeksi ini dapat menyebabkan kerugian ekonomi besar karena tingkat kesakitan, kematian, penurunan kesuburan dan produksi susu, performa pertumbuhan yang lambat, diare, kematian pedet, hingga penyakit pernapasan. Penyakit ini juga menyebabkan disfungsi reproduksi seperti aborsi, teratogenesis, resorpsi embrio, mumifikasi janin dan lahir mati, imunosupresif, mudahnya terjadi infeksi sekunder, penurunan produktivitas, dan kondisi infeksi persisten (PI) pada pedet.

Infeksi sementara (trancient infection/TI) pada sebagian besar spesies mengakibatkan gejala menciri BVD, yaitu rendahnya performa reproduksi, penyakit pernapasan, dan imunosupresi. Sapi-sapi TI berperan hingga 93% infeksi rahim yang mengakibatkan kelahiran pedet PI. Secara umum, TI dapat dibagi menjadi lima kategori, yakni akut, akut parah, infeksi hemoragik, penyakit pernapasan, dan imunosupresi. Infeksi akut memiliki peranan penting dalam penularan dan sheeding virus dalam populasi hewan (domestik dan liar).

Tipe BVD akut parah menyebabkan morbiditas dan mortalitas tinggi pada hewan yang rentan. Infeksi primer dengan beberapa strain BVD-2 yang sangat virulen menyebabkan perjalanan penyakit perakut hingga akut dan tanda-tanda demam, kematian mendadak, diare, atau pneumonia. Patogenesis BVD-2 paling sering dikaitkan dengan peningkatan virulensi strain. Produksi sitokin inflamasi, sebagai respons terhadap infeksi luas pada fagosit mononuklear, telah diduga sebagai penyebab penyakit parah ini. Dalam beberapa kasus, terjadi penurunan trombosit yang diikuti dengan gejala klinis termasuk perdarahan mukosa, diare berdarah, serta gangguan pencernaan lainnya. BVD juga menyebabkan penyakit kronis dan mucosal disease pada hewan PI.

Rute penularan utama pada populasi yaitu... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2026.

Ditulis oleh:
Dr Drh Joko Susilo MSc APVet (Wartawan Infovet Daerah Lampung)
& Drh Catrine Relia Patrecia Gultom (Kementan)

ANTISIPASI POTENSI KELEMAHAN DALAM PENANGANAN CRD KOMPLEKS

Ayam menunjukkan gejala respirasi (gasping) akibat infeksi mycoplasma. (Foto: Istimewa)

Di beberapa layer farm yang penulis kunjungi, keluhan yang sering terdengar adalah ngorok tidak hilang meski sudah dua kali terapi, FCR naik tanpa sebab yang jelas, atau ayam batuk ringan yang tiba-tiba memburuk seminggu setelah ada perlakuan vaksinasi. Pola seperti itu hampir selalu mengarah ke satu hal yang sama, yaitu CRD tidak lagi datang sendirian, melainkan bersamaan dengan E. coli, virus pernapasan, dan kondisi kandang yang sebenarnya sudah menunjukkan tanda bahaya sejak awal.

Bentuk rombongan inilah yang dalam literatur disebut complicated chronic respiratory disease (CCRD). Kombinasi Mycoplasma dengan infeksi sekunder E. coli, ND, IB, AMPV, ILT, dan lain sebagainya saling memperberatkan satu sama lain dan menimbulkan kerugian ketika produksi sudah telanjur turun.

Dua Wajah Mycoplasma yang Tidak Sama
Banyak yang masih menyamaratakan Mycoplasma gallisepticum (MG) dan Mycoplasma synoviae (MS), padahal keduanya punya karakter berbeda dan menuntut strategi deteksi yang berbeda pula.

MG relatif memiliki gejala yang konsisten, lebih mudah dikenali, dan masih cukup responsif terhadap antibiotik. Kerugian dapat muncul karena FCR naik, penurunan produksi telur, ditambah penurunan daya tetas pada breeder.

Sementara untuk MS jauh lebih sulit dideteksi. Infeksi tunggalnya sering tidak bergejala sama sekali dan baru terlihat jelas saat berkomplikasi dengan virus atau bakteri lain. MS juga tidak sebaik MG dalam merespons antibiotik, dan ayam yang pernah terpapar MS akan menjadi carrier sepanjang hidupnya dan terus berpotensi menularkan meski flock tampak sehat-sehat saja. Bila dibiarkan tanpa pengendalian sejak dini, penurunan produksi telur akibat MS bisa mencapai sekitar 7%, juga berdampak pada kualitas kerabang (jumlah telur kualitas II meningkat) yang sering luput dari perhatian.

Titik lemah pertama justru muncul di sini, banyak peternakan masih menganggap “Mycoplasma ya mycoplasma”, tanpa membedakan pendekatan diagnosis dan kontrol untuk masing-masing spesies.

Apa Kata Data Lapangan
Surveilans nasional yang dilakukan pada 350 sampel layer komersial di Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi sepanjang 2025, memberikan gambaran cukup mengejutkan. Prevalensi MS secara keseluruhan tercatat... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2026. 

Ditulis oleh:
Drh. A. Riwanda
Technical Department Manager
PT ROMINDO PRIMAVETCOM
Head Office – Jl. Dr Saharjo, No. 264,
Tebet, Jakarta Selatan
Email: riwanda@romindo.net
www.romindo.co.id 

CRD BUKAN SEKADAR INFEKSI: SAAT KECERNAAN NUTRISI MENJADI KUNCI KESEHATAN PERNAPASAN AYAM


Selama ini, chronic respiratory disease (CRD) pada ayam broiler maupun layer lebih sering dikaitkan dengan infeksi Mycoplasma gallisepticum (MG), yang dikenal sebagai salah satu patogen utama penyebab gangguan saluran pernapasan. Tidak mengherankan jika berbagai upaya pengendalian di lapangan masih didominasi oleh penggunaan antibiotik, vaksinasi, peningkatan biosekuriti, serta perbaikan ventilasi kandang.

Namun, pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa keberadaan MG tidak selalu berujung pada gejala klinis yang berat. Sebaliknya, banyak peternakan mengalami kasus CRD yang kompleks akibat kombinasi berbagai faktor, mulai dari tingginya kadar amonia, kualitas litter yang buruk, kepadatan kandang, stres lingkungan, hingga ketidakseimbangan nutrisi pakan.

Perkembangan ilmu nutrisi unggas dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa kesehatan saluran pernapasan tidak dapat dipisahkan dari kesehatan saluran pencernaan. Konsep gut-lung axis menjelaskan adanya komunikasi biologis antara usus dan paru-paru melalui sistem imun mukosa, metabolit mikrobiota, serta mediator inflamasi. Artinya, kualitas nutrisi yang dikonsumsi ayam dan kemampuan saluran pencernaan dalam mencerna serta menyerap nutrient akan sangat menentukan kemampuan ayam menghadapi tantangan penyakit respirasi, termasuk CRD.

Ketika Kecernaan Nutrisi Menentukan Ketahanan Ayam
Tujuan utama formulasi pakan bukan lagi sekadar memenuhi kebutuhan nutrisi berdasarkan angka kandungan protein atau energi, tetapi memastikan bahwa nutrien tersebut benar-benar dapat dicerna dan dimanfaatkan secara optimal oleh ayam. Nutrisi yang memiliki kecernaan tinggi akan menghasilkan penyerapan asam amino dan energi yang lebih efisien, sehingga mendukung pertumbuhan, produksi telur, sekaligus memperkuat sistem imun.

Sebaliknya, nutrien yang tidak tercerna akan menjadi substrat bagi bakteri di saluran pencernaan bagian bawah. Fermentasi protein oleh bakteri proteolitik menghasilkan berbagai senyawa seperti amonia, amina biogenik, indol, dan hidrogen sulfida yang bersifat iritatif terhadap mukosa usus. Kondisi ini memicu dysbiosis, meningkatkan permeabilitas usus (leaky gut), dan mengaktifkan respons inflamasi sistemik.

Dampaknya tidak hanya terbatas pada saluran pencernaan, tetapi juga memengaruhi jaringan mukosa saluran pernapasan sehingga ayam menjadi lebih rentan terhadap kolonisasi MG maupun infeksi bakteri sekunder seperti E. coli. Dengan kata lain, kesehatan saluran pernapasan sebenarnya dimulai dari usus yang sehat.

Protein Berlebih: Produktif atau Justru Menjadi Beban?
Masih banyak dijumpai anggapan bahwa peningkatan kadar protein kasar dalam pakan akan selalu menghasilkan performa yang lebih baik. Padahal, ayam tidak membutuhkan protein dalam jumlah berlebih, melainkan keseimbangan asam amino yang dapat dicerna sesuai kebutuhannya.

Protein yang tidak terserap akan mengalami proses deaminasi dan akhirnya diekskresikan sebagai nitrogen. Semakin tinggi protein yang terbuang, semakin besar pula nitrogen yang dikeluarkan melalui ekskreta. Di dalam litter, nitrogen tersebut akan diuraikan mikroorganisme menjadi gas amonia, terutama ketika kelembapan kandang tinggi dan ventilasi kurang optimal.

Inilah salah satu hubungan paling nyata antara nutrisi dan penyakit respirasi. Formulasi pakan yang kurang efisien tidak hanya meningkatkan biaya pakan, tetapi juga meningkatkan pencemaran udara di dalam kandang yang pada akhirnya memperbesar risiko gangguan pernapasan.

Pendekatan precision nutrition yang saat ini berkembang di industri global justru menekankan penggunaan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2026.

Ditulis oleh:
Henri E. Prasetyo drh MVet
Praktisi perunggasan, Nutritionist PT DMC

STRATEGI PENGENDALIAN MYCOPLASMA PADA PETERNAKAN MODERN

Pengaplikasian biosekuriti yang baik dan konsisten untuk mengendalikan MG. (Foto: Gemini)

Setelah mengetahui Mycoplasma gallisepticum (MG) yang dapat menyebabkan kerugian besar, sudah seharusnya memang pengendalian diupayakan. Karena membiarkan MG beredar di peternakan, sama saja membuka lebar-lebar gerbang penyakit lain untuk masuk.

Perlu kembali diingat, bahwa ayam modern telah mengalami perkembangan yang signifikan terutama potensi genetiknya. Namun begitu, dibalik performa genetik ayam pedaging dan petelur yang mumpuni, ada salah satu kelemahan yang tidak bisa dikompromikan, yakni rentan stres dan terinfeksi penyakit.

Perkuat Faktor Penyebab, Perlemah Patogen
Tony Unandar selaku private consultant farm mengatakan bahwa setidaknya ada tiga faktor yang memengaruhi status penyakit infeksius dalam suatu peternakan, yakni hospes/inang, mikroba patogen, serta milieu/lingkungan. Apabila ketiga faktor itu mengalami ketidakseimbangan alias lebih menguntungkan patogen, maka yang terjadi adalah efek negatif yang akan didapat.

“Prinsipnya simpel, saya yakin semuanya mengerti karena saya sudah mengingatkan berkali-kali, tetapi jarang diperhatikan. Hospes dalam hal ini ayam dan juga lingkungan harus kita persiapkan sebaik mungkin, patogennya kita perlemah, sesimpel itu,” tutur Tony.

Kemudian ia juga menjabarkan bahwa memperkuat hospes bisa dengan cara memberikan kecukupan pakan dan air minum yang berkualitas, memberikan suplemen (bila perlu), melakukan vaksinasi, serta menjaga lingkungan tetap kondusif bagi tumbuh kembang ayam.

“Lingkungan ini kan banyak faktor, mulai dari keadaan kandang yang bersih, biosekuriti, sekam yang diganti secara rutin, aliran udara, suhu dan kelembapan, dan banyak yang lain. Kita perkuat ini saja, mikroba patogen akan melemah dengan sendirinya, yang penting konsisten,” ucapnya.

Nantinya lanjut dia, keempat komponen akan bersinergi dan saling memberikan efek positif apabila semua SOP dalam manajemen pemeliharaan dikerjakan. Kalaupun ada faktor lain yang apabila menyebabkan terjadinya outbreak di suatu peternakan, bisa dengan mudah dianalisis karena manajemen internal sendiri sudah dilaksanakan dengan baik.

Upaya Pengendalian Jangan Setengah-Setengah
Dalam bahasa yang lebih teknis, Senior Poultry Technical Specialist PT Elanco Animal Health Indonesia, Drh Ratriastuti Purnawasita, mengingatkan akan potensi merugikan yang besar karena infeksi MG terutama di sektor breeding, layer komersil, dan unggas dengan masa pemeliharaan yang panjang.

“Di breeding maupun peternakan komersil semua juga pasti mencoba mengendalikan MG, namun memang sebenarnya ini agak sulit dan mungkin belum tuntas 100%, pasti akan ada saja yang berulang,” kata Ratri.

Ia mengungkapkan bahwa MG merupakan mikroba tanpa dinding sel, sehingga pemilihan sediaan antimikroba yang digunakan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2026. (CR)

PENYAKIT NGOROK YANG MASIH MENJADI MOMOK

Temuan umum patologi anatomis dari CRD (A dan B) pericarditis, perihepatitis, dan air sacculitis pada broiler. (C dan D) hal yang sama terjadi pada unggas layer. (Sumber: Marouf et al. 2022)

Penyakit pernapasan pada unggas merupakan salah satu tantangan utama yang menjadi momok menakutkan. Terlebih lagi aspek kesehatan ternak juga memiliki korelasi dengan produktivitas. Salah satu yang kerap menjadi residivis di Indonesia adalah mycoplasmosis alias chronic respiratory disease (CRD) yang disebabkan oleh Mycoplasma gallisepticum.

Ngorok biasa disebut peternak atau CRD kerap ditemui dalam suatu peternakan unggas. CRD adalah penyakit yang menyerang saluran pernapasan ayam dan bersifat kronis. Disebut “kronis” karena penyakit ini berlangsung secara terus menerus dalam jangka waktu lama dan sulit untuk disembuhkan.

Si Penyebab Ngorok
Biang keladi dari penyakit ngorok tadi tidak lain adalah Mycoplasma gallisepticum (MG), yang biasa disebut sebagai organisme mirip bakteri (bacteria-like organism). Berbagai praktisi perunggasan lokal maupun mancanegara bahkan menyebut MG sebagai salah satu patogen yang paling merugikan dalam industri unggas.

Dibalik ukurannya yang sangat kecil dan sederhana, MG memiliki kemampuan untuk menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan di seluruh dunia melalui penurunan produktivitas, peningkatan biaya pengobatan, dan peningkatan mortalitas pada unggas.

Dalam sebuah seminar mengenai penyakit pernapasan pada unggas, Veterinary Service Manager PT Ceva Indonesia, Drh Fauzi Iskandar, menerangkan mengenai sifat dan karakteristik MG. Ia mengatakan bahwa MG adalah bakteri dari kelompok Mycoplasma yang unik karena tidak memiliki dinding sel.

Hal ini membuatnya sangat sulit untuk diberantas dengan antibiotik biasa terutama yang bekerja dengan cara mengganggu sintesis dinding sel bakteri. Bakteri ini berbentuk pleomorfik dan mampu beradaptasi dengan berbagai kondisi lingkungan, membuatnya sulit dideteksi dan dikendalikan di peternakan unggas.

“Penggunaan antibiotik yang melisiskan dinding sel tentu tidak akan efektif, oleh karenanya MG ini sangat sulit diberantas, meskipun begitu bukan tidak mungkin untuk dikendalikan, hanya saja butuh “jurus khusus” dalam pengendaliannya,” tutur Fauzi.

Ia melanjutkan, MG dapat... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2026. (CR)

BIG PROBLEM: DIARE KOMPLEKS PADA PETERNAKAN BABI

Piglet menunjukkan tanda diare kompleks. (Foto: Dok. Catrine Relia)

Penyakit pencernaan merupakan salah satu masalah ekonomi terpenting dan multifaktorial dalam produksi babi. Diare neonatal dan pasca-penyapihan merupakan penyakit paling sering terjadi, menyebabkan angka kematian tinggi, penurunan laju pertumbuhan, dan peningkatan biaya pengobatan.

Biaya penanganan diare neonatal untuk peternakan dengan angka kematian 10% dan biaya untuk diare pasca-penyapihan bisa mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah per induk babi per tahun. Infeksi pencernaan kompleks selama periode neonatal, serta pada fase pasca-penyapihan dapat terjadi secara bersamaan sehingga menimbulkan pola penyakit klinis yang kompleks, sulitnya tindakan pengendalian dan penanganan.

Diare pada babi secara umum disebabkan oleh agen infeksius dan non-infeksius. Mayoritas agen penyebab penyakit diare pada babi merupakan bagian dari mikroba normal pada saluran pencernaa babi. Usus babi mengandung sekitar 800 spesies bakteri, di antaranya dapat diidentifikasi patogen potensial seperti Clostridium spp., Escherichia coli, dan Salmonella spp. Bakteri ini dapat berubah menjadi patogen penyebab penyakit pada kondisi stres dan shedding bakteri di lingkungan yang sangat tinggi.

Penyakit diare kompleks pada babi secara umum disebabkan oleh multi-agen infeksius, yaitu virus, bakteri, dan parasiter (cacing dan Cystoisosporasuis). Agen virus yang dominan pada diare kompleks pada babi adalah coronavirus dan rotavirus. Sedangkan agen bakterial yang paling dominan menyebabkan penyakit diare kompleks pada babi meliputi E. coli, Clostridium perfingens tipe C, Clostridium perfringens tipe A, Clostridium difficile, Salmonella typhimurium, Lawsonia intercellularis, Brachyspira hyodysenteriae, dan Brachyspira pilosicoli.

Diare kompleks pada babi menjadi masalah yang susah dikendalikan, jika peternak tidak mengetahui sejak dini langkah-langkah pengendalian dan pencegahannya. Faktor lingkungan, hospes, dan agen penyakit menjadi segitiga penyakit infeksius yang harus dikupas satu-per-satu secara terintegrasi. Agen infeksi yang beragam tersebut menyebabkan sulitnya tindakan pengobatan, salah satunya pemilihan antibiotik yang tepat untuk multi-agen bakterial.

E. coli dikenal sebagai kolibasilosis neonatal (umur 0-4 hari), pasca sapih (28-60 hari) hingga 12 minggu. Kolibasilosis ditandai kotoran terlihat diare encer, berwarna putih kekuningan, bersifat basa, usus halus dan lambung bagian fundus terlihat oedematus, serta perdarahan dengan ingesta berbau.

Klostridia adalah basil gram-positif pembentuk spora bersifat anaerobik. Beberapa spesies dari genus Clostridium berkontribusi dalam penyakit diare kompleks pada babi. Clostridium perfringens tipe C dan Clostridioides difficile (sebelumnya Clostridium difficile) dianggap sebagai klostridia patogen enterik yang paling berkorelasi pada babi neonatal. Clostridium perfingens tipe C biasanya terjadi pada neonatal hingga umur tiga minggu. Tanda klinis menciri dengan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juli 2026.

Ditulis oleh:
Dr Drh Joko Susilo MSc APVet (Wartawan Infovet Daerah Lampung)
& Drh Catrine Relia Patrecia Gultom (Kementan)

MAKSIMALKAN PERFORMA GENETIK DENGAN BERBAGAI CARA

Pentingnya fase brooding menjadi penentu keberhasilan budi daya unggas broiler. (Foto: Istimewa)

Perkembangan pesat di sisi genetik harus dibarengi pengaplikasian yang apik dari berbagai aspek agar potensi tersebut maksimal. Hal ini mutlak harus dilakukan oleh setiap pembudidaya agar performa ayam maksimal.

Perbuatan baik akan kembali kepada pelakunya, begitupun perbuatan buruk. Pepatah demikian berlaku dalam pemeliharaan ayam, kadang perlakuan yang diberikan dengan maksud baik pun bisa berdampak buruk, apabila kurang memahami karakteristik ayam modern. Oleh karena itu, peternak harus memahami bagaimana sejatinya memperlakukan si ayam zaman now agar performanya maksimal.

Penuhi Kebutuhan Dasar Ayam Modern
Regional Technical Manager Cobb-Vantress Asia Pacific, Amin Suyono, menjabarkan mengenai perkembangan genetik ayam broiler sejak 1950-an hingga kini. Di mana pada 1950-an presentase daging dada yang dihasilkan oleh karkashanya 11,5%, sedangkan di masa kini presentasenya meningkat 2,5 kali lipatnya.

Meskipun begitu menurut Amin, dibutuhkan manajemen pemeliharaan yang baik untuk memenuhi potensi genetik yang luar biasa tersebut. Yang apabila ada satu aspek yang gagal dipenuhi, potensi tersebut tidak termanfaatkan secara maksimal.

“Memang tidak bisa dipungkiri, kita harus memenuhi hal ini. Karena dalam standar kita ayam memang diseleksi sedemikian rupa. Oleh karena perkembangan teknologi maka tata laksana pemeliharaan haruslah tepat,” kata Amin.

Brooding Berhasil, Performa Stabil
Dibutuhkan langkah konkret di lapangan agar performa broiler modern dapat mencapai potensi maksimalnya. Menurut Amin, sukses tidaknya membudidayakan broiler dapat diukur dari seberapa besar keberhasilan dalam fase brooding.

“Pada prinsipnya brooding ini adalah sprint bukan marathon, jadi dalam sprint start adalah kunci kemenangan. Kita harus fokus pada hal dasar dan menjalankan detail dengan sebaik mungkin,” ucapnya.

Aspek pertama yang perlu diperhatikan sebelum chick in menurutnya yakni dari segi sanitasi, disinfeksi, dan istirahat kandang. Ke semuanya akan berkaitan dengan kesehatan ayam karena sebelum ayam masuk, kandang dikondisikan sebersih mungkin dengan tingkat ancaman infeksius terendah.

Ia menekankan, brooding merupakan periode transisi di mana ayam ditaruh di tempat dengan kondisi suhu yang berbeda dari sebelumnya. Apabila suhu brooding tidak tepat, maka intake pakan dan air minum tidak akan maksimal. Amin mengatakan, perlu dilakukan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juli 2026. (CR)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer