![]() |
| Memahami korelasi antara kualitas bahan baku pakan dengan integritas usus menjadi kunci bagi peternak modern. (Foto: Istimewa) |
Di balik ambisi mengejar performa bobot badan dan produksi telur yang tinggi, sering kali peternak luput menyadari bahwa saluran pencernaan adalah medan tempur utama melawan bakteri Escherichia coli (E. coli).
Nutrisi dan pakan bukan lagi sekadar angka protein dan energi di atas kertas, melainkan instrumen pertahanan imunologi paling krusial yang menentukan ayam akan bertahan atau tumbang diterjang kolibasilosis.
Memahami korelasi antara kualitas bahan baku pakan dengan integritas usus menjadi kunci baru bagi peternak modern untuk memutus rantai ketergantungan pada antibiotik yang kian tidak efektif.
Gerbang Awal Masuknya Patogen
Pakan adalah jembatan pertama bagi bakteri patogen untuk menjangkau inangnya. Sering kali, bahan baku pakan seperti bungkil kedelai atau tepung ikan yang disimpan dalam kondisi lembap menjadi sarang pertumbuhan mikroba, termasuk E. coli. Kontaminasi ini tidak hanya membawa bakteri langsung ke dalam tembolok, tetapi juga menurunkan nilai nutrisi yang seharusnya diserap untuk pembentukan imun.
Banyak peternak terjebak membeli bahan pakan murah tanpa memperhatikan angka total plat count (TPC) mikroba di dalamnya. Padahal, bahan pakan yang terkontaminasi sejak awal akan membuat beban kerja usus menjadi sangat berat bahkan sebelum ayam mulai berproduksi. Di sinilah pentingnya audit kualitas bahan baku pakan secara berkala untuk memastikan tidak ada “penumpang gelap” yang ikut masuk ke dalam sistem metabolisme ayam.
Pengendalian kualitas harus dimulai dari gudang penyimpanan dengan sistem first in first out (FIFO) yang disiplin. Pastikan kadar air bahan pakan tetap di bawah 12% untuk menghambat aktivitas air yang menjadi syarat tumbuh bakteri. Nutrisi yang bersih adalah fondasi utama agar ayam memiliki status kesehatan yang stabil sejak umur dini.
Pemicu Peradangan Usus yang Halus
Zat antinutrisi seperti asam fitat, lektin, atau penghambat tripsin yang terdapat pada biji-bijian sering menjadi penyebab peradangan halus pada dinding usus. Ketika zat ini tidak terdegradasi dengan baik (misalnya melalui proses pemanasan atau penambahan enzim), mereka akan mengiritasi mukosa usus. Iritasi kronis ini merusak vili-vili usus yang berfungsi sebagai penyerap nutrisi sekaligus pagar pelindung.
Dinding usus yang teriritasi akan mengeluarkan cairan mukus berlebih sebagai mekanisme perlindungan diri. Sayangnya, mukus yang berlebih justru menjadi substrat atau makanan yang disukai bakteri E. coli untuk berkembang biak dengan cepat. Akibatnya, niat memberi nutrisi justru berakhir dengan ledakan populasi bakteri patogen di dalam lumen usus.
Peternak harus memastikan formulasi pakan menyertakan enzim pendegradasi antinutrisi yang tepat, seperti fitase atau protease. Penggunaan enzim ini bukan hanya soal efisiensi biaya, tetapi soal meminimalkan faktor iritan yang dapat membuka celah bagi E. coli untuk menempel dan menginfeksi. Tanpa penanganan antinutrisi, pakan terbaik sekalipun bisa menjadi pemicu munculnya kolibasilosis.
Protein Berlebih Jadi Nutrisi Mewah untuk Bakteri Jahat
Ambisi mengejar pertumbuhan cepat kerap mendorong peternak memberikan pakan dengan kadar protein sangat tinggi melampaui kebutuhan biologis ayam. Namun, protein yang tidak terserap dengan sempurna di usus halus akan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Maret 2026.
Ditulis oleh:
Assoc Prof Dr Ir Sadarman SPt MSc IPM
Dosen Ilmu Nutrisi dan Pakan Ternak,
Prodi Peternakan UIN Sultan Syarif Kasim Riau
Wartawan Infovet Daerah Riau


.jpg)




