-->

MENGHINDARI COLIBACILLOSIS SEBELUM MERUGI

Colibacillosis kebanyakan terjadi melalui kontak langsung dengan lingkungan tempat tinggal ayam. (Foto: Istimewa)

Sebagai penyakit dengan tingkat kejadian yang paling sering ditemukan, peternak tidak boleh lagi abai terhadapnya. Pasalnya kerugian yang ditimbulkan cukup besar, juga terdapat potensi lain yang mungkin memunculkan petaka bagi manusia.

Menular Terus, Tak Kenal Waktu
Kebanyakan E. coli hidup di lingkungan kandang melalui kontaminasi feses. Permulaan infeksi dari bakteri ini mungkin juga terjadi di hatchery, dari infeksi atau telur yang terkontaminasi. Meskipun begitu, infeksi sistemik biasanya membutuhkan bantuan lingkungan atau predisposisi lainnya.

Colibacillosis kebanyakan terjadi melalui kontak langsung dengan lingkungan tempat tinggal ayam yang basah, lembap, dan kotor, bukan dari ayam ke ayam seperti yang selama ini sering diduga peternak. Berdasarkan penelitian Mc Mullin (2004), disebutkan bahwa colibacillosis terjadi baik melalui peroral atau inhalasi, lewat membran sel/yolk/tali pusat, air, muntahan, dengan masa inkubasi 3-5 hari.

Kualitas udara yang buruk dan stres yang berasal dari lingkungan juga menjadi faktor predisposisi infeksi E. coli. Selain itu, timbulnya colibacillosis juga tidak lepas dari sanitasi yang kurang optimal, sumber air minum yang tercemar bakteri, sistem perkandangan dan peralatan kandang yang kurang memadai, serta adanya berbagai penyakit yang bersifat imunosupresif.

Untuk faktor manajemen, pastinya peternak sudah sering mendapatkan penyuluhan, pelatihan, dan lain sebagainya, namun sayangnya tidak adanya perubahan manajemen ke arah yang lebih baik, menjadi kesan adanya “pembiaran” infeksi dari bakteri E. coli.

Lingkup Infeksi yang Luas
Tidak hanya antibiotik yang memiliki lingkup luas, bakteri E. coli ternyata juga dapat menyebabkan infeksi dengan lingkup yang luas, baik secara lokal maupun sistemik, bukan hanya pada saluran pernapasan dan saluran pencernaan saja. Bentuk infeksi sistemik E. coli biasa disebut colisepticemia. Berikut ini beberapa infeksi lokal pada colibacillosis menurut Unandar (2019):... Selengkpanya baca di Majalah Infovet edisi Februari 2026. (CR)

COLIBACILLOSIS: ANCAMAN KLASIK YANG MASIH RELEVAN DI KANDANG MODERN

Bacterial chondronecrosis kerusakan dan kematian jaringan tulang rawan yang disebabkan oleh infeksi colibacillosis, terutama pada ayam broiler, yang menggangu pertumbuhan tulang dan menyebabkan pincang hingga kelumpuhan dan kerusakan pada liver.

Strategi terpadu pencegahan pada broiler, layer, dan breeder melalui biosekuriti, program kesehatan, manajemen pemeliharaan, dan nutrisi.

Di tengah kemajuan teknologi perunggasan, colibacillosis masih menjadi salah satu penyakit paling sering dijumpai di lapangan. Penyakit yang disebabkan bakteri Escherichia coli (E. coli) ini kerap muncul tanpa disadari, perlahan menurunkan performa ayam, dan pada akhirnya berdampak signifikan terhadap kerugian ekonomi peternak.

Colibacillosis tidak hanya menyerang broiler, tetapi juga layer dan breeder, dengan manifestasi yang berbeda-beda. Yang membuat penyakit ini semakin kompleks adalah sifatnya yang multifaktorial dan sering berperan sebagai penyakit sekunder, memanfaatkan celah dari lemahnya manajemen, biosekuriti, atau kesehatan ayam.

Oleh karena itu, pencegahan colibacillosis tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan harus melalui pendekatan terpadu yang mencakup biosekuriti, program kesehatan, manajemen pemeliharaan, serta pengelolaan nutrisi pakan secara optimal.

Memahami Colibacillosis Bukan Sekadar Penyakit Bakteri
E. coli sejatinya merupakan bakteri yang umum ditemukan di lingkungan kandang, bahkan di saluran pencernaan ayam. Namun, pada kondisi tertentu, bakteri ini dapat berubah menjadi patogen dan menimbulkan penyakit.

Pada broiler, colibacillosis sering terlihat dalam bentuk dengan infeksi air sacculitis, pericarditis, perihepatitis, dan septicemia. Sementara pada layer dan breeder, dampaknya bisa lebih luas, seperti penurunan produksi telur, kualitas kerabang menurun, egg peritonitis, serta penurunan fertilitas dan daya tetas.

Kondisi stres, infeksi penyakit pernapasan (IB, ND, AI, CRD), kualitas udara kandang yang buruk, serta ketidakseimbangan nutrisi menjadi pemicu utama berkembangnya colibacillosis.

Biosekuriti, Fondasi Pencegahan yang Tidak Bisa Ditawar
Biosekuriti tetap menjadi... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Februari 2026.

Ditulis oleh:
Henri E. Prasetyo drh MVet
Praktisi perunggasan, Nutritionist PT DMC 

BEBERAPA BENTUK KOLIBASILOSIS

Ilustrasi anak ayam yang terinfeksi omphalitis. (Sumber: Shutterstock.com (kiri) & Diseases and Disorder of the Domestic Fowl and Turkey. CJ. Randall, 1997 (kanan))

Kolibasilosis adalah infeksi bakteri yang disebabkan oleh Escherichia coli (E. coli), yang secara alami hidup di usus unggas (ayam, kalkun, dan bebek).

Meskipun banyak strain E. coli yang tidak berbahaya, beberapa strain patogen dapat menyebabkan infeksi parah ketika masuk ke bagian lain dari tubuh ayam. Infeksi dapat menyebabkan berbagai kondisi seperti kematian, penurunan produksi telur, dan kerugian ekonomi, selain itu juga menyebabkan septikemia (keracunan darah), peritonitis (peradangan pada rongga perut), dan gangguan pernapasan.

Penyakit ini bisa terjadi secara primer atau sekunder, sangat menular, dan dapat menyebar dengan cepat di antara flock, terutama ketika ayam mengalami stres atau hidup dalam kondisi yang tidak bersih, juga dapat lebih parah jika manajemen kandang buruk, ventilasi tidak memadai, dan kualitas air yang jelek. Gejala yang terlihat bila ayam terkena infeksi adalah diare, gangguan pernapasan, penurunan nafsu makan, serta pembengkakan dan peradangan pada organ tubuh.

Kolibasilosis dapat muncul dalam berbagai bentuk, sehingga sulit jika diagnosis hanya berdasarkan gejala klinis. Penyakit ini sering menyerang sistem pernapasan, akan tetapi dapat juga memengaruhi aliran darah, sistem pencernaan, atau organ lainnya.

Penyebab dan Faktor Predisposisi
Bakteri penyebabnya adalah E. coli yang secara alami ada di usus unggas, tetapi bisa menjadi patogen oportunistik saat kekebalan tubuh menurun, terutama terhadap jenis Avian Pathogenic Escherichia Coli (APEC).  Faktor seperti ventilasi buruk, kualitas air minum yang tercemar, kebersihan kandang yang kurang baik, dan tingginya kadar amonia di kandang dapat memicu penyakit.

Kolibasilosis sering muncul setelah unggas terinfeksi penyakit lain/infeksi sekunder, terutama seperti penyakit gumboro, avian influenza, dan newcastle disease. Penularan bisa melalui kontak langsung dengan feses terkontaminasi, kualitas sanitasi tempat penetasan yang buruk, atau secara vertikal melalui telur yang terinfeksi.

Secara garis besar faktor pencetus kejadian penyakit ini adalah berasal dari dalam, yaitu berasal dari DOC atau ayam itu sendiri seperti radang pusar/omphalitis dan stres/dehidrasi karena perjalanan, dan yang berasal dari luar/tata laksana/lingkungan seperti lemahnya biosekuriti, kesalahan fase brooding, dan yang berasal dari udara, air, maupun pakan.

Gejala Klinis Secara Umum
Pada anak ayam terlihat adanya diare, omphalitis, dan tingginya kematian dini. Pada ayam dewasa gejala klinis biasanya diperlihatkan adanya gangguan pernapasan, nafsu makan dan berat badan menurun, diare (feses berair dan berwarna hijau), bulu di sekitar kloaka lengket dan kotor, mata sayu dan meradang, hingga pincang akibat radang sendi (arthritis).

Sedangkan pada ayam petelur terlihat adanya penurunan produksi telur dan penundaan puncak produksi, dan jika menyerang ayam yang sedang berproduksi tinggi terkadang ditemukan keadaan eggs yolk peritonitis.

Beberapa bentuk infeksi E. coli pada ayam petelur, di antaranya:... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Februari 2026.

Ditulis oleh:
Drh Arief Hidayat
Praktisi Perunggasan

WASPADA WOODEN TONGUE DAN LUMPY JAW PADA SAPI

Wooden tongue dan lumpy jaw bisa menyerang semua breed, umur, dan jenis kelamin sapi. (Foto: Istimewa)

Tahun 2015, penulis melakukan penelitian bidang bovine patology di National Institute of Animal Health (NIAH) di Tsukuba, Jepang. Penulis melakukan kerja sama dengan peternakan dan pemerintah daerah masing-masing distrik atau perfektur untuk mendapatkan data penelitian. Rumah pemotongan hewan (RPH) dan peternakan menjadi sumber data utama diagnosis patologi penyakit sapi di NIAH. Berbagai jenis penyakit pada sapi yang sering terdiagnosis meliputi beberapa penyakit pernapasan kompleks, penyakit pencernaan, penyakit syaraf, penyakit sirkulasi, limfatik, dan lainnya.

Penyakit pernapasan kompleks yang paling sering ditemukan adalah infectious bovine rhinotracheitis (IBR), bovine viral diarrhea (BVD), bovine respiratory syncytial virus (BRSV), parainfluenza 3 (PI3), Mannhaemia haemolytica, Pasteurella multocida, Mycoplasma bovis, Trueperella pyogenes, dan Histophillus somni.

Sedangkan penyakit pencernaan yang sering didiagnosis meliputi BVD, rota virus, adeno virus, Johnes disease, kolibasilosis, salmonelosis, dan koksidiosis. Salah satu kejadian penyakit yang diterima dari RPH di Saitama adalah penyakit lidah papan/kayu (wooden tongue). Kasus tersebut berasal dari sapi Wagyu umur 27 bulan dengan gejala kesulitan makan dan pembengkakan lidah.

Beberapa bulan terakhir, penulis mendapatkan informasi kejadian penyakit dengan gejala mirip dengan kejadian lidah papan di Jepang. Informasi tersebut berupa video, foto, ataupun diskusi dengan dokter hewan praktik sapi dari beberapa tempat di Pulau Jawa. Informasi terkait gejala klinis meliputi pembengkakan pada lidah, limfoglandula di rahang bawah, adanya benjolan keras berbentuk abses di rahang bawah, dan sekitar leher. Berdasarkan analisis, dugaan sementara kejadian tersebut merupakan penyakit wooden tongue (lidah papan) dan actinomycosis (lumpy jaw).

Lidah papan disebabkan Actinobacillus lignieresii yang merupakan bakteri gram-negatif batang. Sementara lumpy jaw disebabkan Actinomyces bovis yang merupakan bakteri gram-positif batang bercabang. Kedua agen penyakit ini merupakan bakteri oportunistik, yaitu bakteri yang normal ada pada saluran pencernaan sapi sehat. Kedua penyakit bisa menyerang semua breed, umur, dan jenis kelamin, serta memiliki prevalensi yang rendah dalam suatu populasi dengan kejadian lidah papan lebih sering daripada lumpy jaw.

Penyakit lidah papan menyerang jaringan lunak yaitu lidah dan kelenjar getah bening sekitar lidah. Penyakit ini menyebabkan pembengkakan akut, nyeri, dan proliferasi jaringan ikat sehingga sangat mengganggu aktivitas makan. Sedangkan penyakit lumpy jaw ditandai dengan pembengkakan tulang rahang sehingga tidak dapat digerakkan. Penyakit ini berkembang lambat serta sering menyebabkan kesulitan mengunyah dan bernapas. Istilah “actino” pada kedua penyakit tersebut menunjukkan respons keradangan spesifik yang ditandai dengan pembentukan nanah yang berisi struktur granular. Granula “seperti pasir” ini pada dasarnya adalah koloni bakteri yang menggumpal.

Deteksi cepat Actinobacillus lignieresii dilakukan dengan pemeriksaan mikroskopis apusan nanah dan kultur bakteri. Pada Actinomycosis, keberadaan granula “sulfur” sangat menciri dan granula kuning ini sering kali dapat diamati secara kasat mata. 

Patogenesis penyakit lidah papan dan lumpy jaw bergantung pada... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Februari 2026.

Ditulis oleh:
Dr Drh Joko Susilo MSc APVet
Wartawan Infovet Daerah Lampung

CUACA BERUBAH, PENYAKIT MENGINTAI: STRATEGI MENCEGAH PENYAKIT MENULAR PADA UNGGAS

Waspadai penyakit menular yang masih menjadi “musuh lama” peternakan unggas. (Foto: Istimewa)

Perubahan cuaca yang semakin sulit diprediksi menjadi tantangan nyata bagi industri perunggasan nasional. Pagi panas, siang terik, malam dingin, disertai kelembapan tinggi. Kondisi ini menjadi kombinasi ideal bagi berkembangnya berbagai penyakit menular pada ayam. Tak heran jika pada masa peralihan musim, kasus penyakit seperti ND, IB, AI, gumboro, hingga gangguan saluran pencernaan kerap meningkat.

Dalam situasi seperti ini, peternak dituntut tidak hanya bereaksi saat penyakit muncul, tetapi membangun sistem pencegahan yang kuat sejak awal. Kuncinya ada pada pendekatan terpadu, yakni biosekuriti yang disiplin, program kesehatan yang tepat, manajemen pemeliharaan yang adaptif, serta nutrisi pakan yang dioptimalkan untuk mendukung daya tahan tubuh ayam.



Musuh Lama yang Masih Relevan
Meski teknologi kandang dan pakan terus berkembang, penyakit menular masih menjadi “musuh lama” yang belum sepenuhnya terkalahkan. Baik pada broiler, layer, maupun breeder, penyakit menular selalu berujung pada satu hal, yaitu penurunan performa dan kerugian ekonomi.

Pada broiler pertumbuhan tidak optimal, FCR membengkak, mortalitas meningkat, sementara pada layer produksi telur turun, kualitas kerabang menurun, masa produksi memendek, serta pada breeder akan mengalami gangguan fertilitas, daya tetas menurun, kualitas DOC ikut terdampak.

Kondisi cuaca ekstrem mempercepat... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Januari 2026.

Ditulis oleh:
Henri E. Prasetyo drh MVet
Praktisi perunggasan, Nutritionist PT DMC

BERBAGAI PENYAKIT PADA AYAM DAMPAK DARI PERUBAHAN CUACA

Perubahan iklim/cuaca sangat berdampak pada kesehatan ayam

Perubahan cuaca secara signifikan mengancam kesehatan dan produktivitas ayam. Ayam sangat sensitif terhadap perubahan suhu dan kelembapan ekstrem, baik panas maupun dingin, yang dapat menyebabkan stres fisiologis, menurunkan kekebalan tubuh dan meningkatkan risiko terinfeksi penyakit.

Indonesia adalah sebuah negara yang berlokasi tepat di garis khatulistiwa, sehingga musim yang terjadi sangat berbeda dengan daerah lainnya, dan hanya ada dua musim utama, yaitu musim panas/kemarau dan musim dingin/hujan.

Perubahan iklim/cuaca sangat berdampak pada kesehatan ayam, apalagi di Indonesia masih banyak sistem pemeliharaan ayam yang belum sepenuhnya terbebas dari pengaruh kondisi lingkungan, dimana ayam dipelihara dengan kandang terbuka/open house.

Dampak Cuaca Panas
Seperti diketahui bahwa ayam tidak memiliki kelenjar keringat, sehingga sulit membuang panas tubuh saat suhu lingkungan tinggi, maka timbul kondisi yang disebut heat stress. Kondisi ini ditampakkan pada ayam dengan gejala megap-megap/terengah-engah/panting, meningkatnya konsumsi air minum, meregangkan sayap, dan ayam biasanya menjadi lesu. 

Heat stress dapat menyebabkan kematian mendadak jika tidak ditangani dengan cepat.  Dampak ikutan lainnya terutama pada ayam petelur yang sedang berproduksi akan terjadi penurunan produksi dan ukuran telur lebih kecil. Sedangkan pada broiler akan mengalami pertumbuhan yang terhambat karena terjadi penurunan konsumsi pakan.

Tabel 1. Reaksi Ayam Terhadap Suhu Lingkungan Tinggi

Suhu (°C)

Reaksi yang Ditampilkan Ayam

21-25

Suhu ideal untuk menghasilkan performa dan FCR yang baik

26-28

Sedikit mulai ada pengurangan konsumsi/feed intake

29-31

Karena konsumsi pakan turun, pertambahan berat badan juga melambat, FCR meningkat (broiler), produksi telur turun, berat telur turun, juga kualitas kerabang menurun (layer)

32-34

Mulai ada kematian ayam yang berbobot tinggi dan berproduksi tinggi serta lemah

35-37

Ayam panting kematian karena heat stress meningkat

> 38

Diperlukan alat bantu untuk mendinginkan suhu agar ayam dapat bertahan hidup

Sumber: Dari berbagai sumber.

Dampak Cuaca Dingin
Meskipun ayam dapat bertahan pada suhu rendah dengan manajemen yang tepat, cuaca dingin yang ekstrem atau paparan terhadap angin kencang dan kelembapan tinggi dapat menimbulkan masalah dengan apa yang disebut cold stress.

Gejala yang nampak adalah ayam cenderung berkerumun, menggembungkan bulu, dan mengangkat kaki ke dada untuk menjaga panas tubuh. Stres dingin dapat menyebabkan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Januari 2026.

Ditulis oleh:
Drh Arief Hidayat
Praktisi Perunggasan

CUACA BERUBAH, AYAM PUN GUNDAH

Gangguan lingkungan sekecil apapun dapat memicu penurunan kesehatan, performa, dan efisiensi produksi unggas. (Foto: Gemini)

Perubahan cuaca yang semakin ekstrem tidak hanya berdampak pada kenyamanan lingkungan pemeliharaan ayam, tetapi juga memicu perubahan fisiologis yang kompleks di dalam tubuh mereka. Dalam sistem perunggasan modern yang sangat presisi, gangguan lingkungan sekecil apapun dapat memicu rangkaian efek berantai yang berujung pada penurunan kesehatan, performa, dan efisiensi produksi.

Indonesia sebagai negara tropis sejatinya telah lama terbiasa dengan suhu relatif tinggi. Namun, perubahan iklim global membuat kondisi cuaca semakin sulit diprediksi. Gelombang panas berkepanjangan, hujan ekstrem, hingga perbedaan suhu siang dan malam yang tajam menjadi faktor stres tambahan bagi ayam, khususnya pada sistem pemeliharaan intensif.

Ayam, Suhu, dan Cuaca
Ayam merupakan hewan homoioterm yang harus mempertahankan suhu tubuh sekitar 41-42 °C. Zona nyaman (thermoneutral zone) ayam berada pada kisaran 18-25 °C, tergantung umur dan jenis ayam. Pada rentang ini, energi metabolik dapat digunakan secara optimal untuk pertumbuhan dan produksi.

Ketika suhu lingkungan melampaui batas tersebut, ayam mulai mengalami stres lingkungan, terutama stres panas (heat stress). Berbagai penelitian menyebutkan bahwa suhu di atas 28-30 °C yang disertai kelembapan tinggi secara signifikan menurunkan performa ayam broiler dan petelur (Lara & Rostagno, 2013; Nawab et al., 2018).

Guru Besar SKHB IPB University, Prof Agik Suprayogi, ketika ditemui Infovet mengatakan bahwasanya ayam mempertahankan suhu tubuh relatif konstan melalui keseimbangan antara panas metabolik dan pelepasan panas ke lingkungan. Ketika suhu lingkungan meningkat, kemampuan ayam melepaskan panas menjadi terbatas, terutama pada kondisi kelembapan tinggi.

“Jadi sebenarnya mereka juga tergantung pada lingkungan, suhu, cuaca, kelembapan, kecepatan angin, dan parameter lainnya bila perlu harus dapat dikontrol. Ini penting apalagi ayam modern yang kita kenal saat ini “lembek” terhadap perubahan lingkungan meskipun performa produksinya tinggi,” tutur Agik.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa suhu di kandang atau tempat ayam hidup sebisa mungkin harus dijaga agar mereka dapat tumbuh dengan optimal. Salah sedikit saja dalam mengatur hal tersebut maka bisa fatal akibatnya.

Tabel Hubungan Suhu Lingkungan dan Respons Fisiologis Ayam

Suhu Lingkungan

Respons Ayam

Dampak Produksi

18-25 °C

Zona nyaman

Performa optimal

26-29 °C

Awal stres panas

Konsumsi pakan mulai turun

30-33 °C

Stres panas sedang

FCR memburuk, produksi telur turun

>33 °C

Stres panas berat

Mortalitas meningkat

(Sumber: Lara, L. J. & Rostagno, M. H. 2013)

Data pada tabel sejalan dengan berbagai studi yang menunjukkan bahwa setiap kenaikan suhu 1 °C di atas 25 °C dapat menurunkan konsumsi pakan broiler sebesar 1-2%, dan pada ayam petelur menurunkan produksi telur hingga 1,5%.

Ketika ayam mengalami stres akibat cekaman suhu tinggi, yang terjadi bukan hanya mereka kepanasan saja alias berdampak fisiologis tunggal, melainkan memicu serangkaian perubahan metabolik dan hormonal. Ayam yang mengalami heat stress akan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Januari 2026. (CR)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer