-->

JANGAN SIA-SIAKAN CANGKANG TELUR, ADA MANFAATNYA

Kandungan kalsium pada cangkang telur dapat dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi. (Foto: Istimewa)

Cangkang telur mengandung kalsium yang berfungsi untuk meningkatkan pertumbuhan dinding sel tanaman. Tanpa asupan tersebut, tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik dan cepat.

Pagi itu, pukul 05:30, suasana dapur penyedia Makan Bergizi Gratis (MBG) di kawasan Cinangka, Kota Depok, tampak ramai. Para pekerja dapur tampak sibuk menyiapkan ratusan paket makanan yang akan dikirim ke sekolah tak jauh dari lokasi dapur MBG. Di bagian luar belakang dapur, tampak seorang pria paruh baya sedang memilah sampah sisa dapur.

Sutarno, pemilah sampah tersebut memisahkan cangkang telur dari sampah basah lainnya. Pecahan cangkang telur ayam yang cukup banyak itu ia masukkan ke dalam plastik. Sementara, sampah sisa sayuran dan lainnya dimasukan ke dalam plastik lain.

Aktivitas mengepul sampah dari dapur MBG dilakukan Sutarno selepas waktu subuh. Menurutnya, kepingan cangkang telur tersebut sengaja dipisah, karena sudah dipesan oleh tetangganya. “Katanya sih buat campuran pupuk organik. Saya juga enggak tahu persis, yang penting dibayar. Sekilo bisa Rp 10 ribu, lumayan,” tuturnya.

Memanfaatkan sampah cangkang telur untuk pupuk tanaman sudah diketahui banyak orang, terutama para pecinta tanaman hias.

Dalam banyak literatur disebutkan, cangkang telur mengandung garam yang tinggi serta senyawa organik dalam telur dikhawatirkan dapat mencemari lingkungan akibat aktivitas mikroba di dalamnya. Namun, kandungan kalsium pada cangkang telur cukup tinggi dan dapat bermanfaat sebagai sumber nutrisi pada tanaman.

Cangkang telur juga memiliki kandungan fosfor yang cukup yang dapat bermanfaat untuk tanaman. Salah satu pemanfaatan cangkang telur yaitu dengan mengolah cangkang telur menjadi pupuk organik cair.

Dalam artikel berjudul Potensi Cangkang Telur Sebagai Pupuk Pada Tanaman Cabai Di Desa Sayang Kabupaten Jatinangor, karya Engela Evy Ernawati, Atiek Rostika Noviyanti, Yati B. Yuliyati, dari Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Padjadjaran, disebutkan kandungan cangkang telur terdiri atas 97% kalsium karbonat, sisanya fosfor, magnesium, natrium, kalium, seng, mangan, besi, dan tembaga. Cangkang telur mengandung hampir 95,1% adalah garam-garam organik, 3,3% bahan organik (terutama protein), dan 1,6% air.

Kandungan kalsium pada cangkang telur yang cukup besar dapat dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi bagi tanaman. Kalsium merupakan suatu zat yang berperan penting dalam pembentukan struktur tubuh, tulang, dan gigi pada manusia dan hewan, serta dinding sel pada tanaman.

Peran kalsium lain khususnya pada tanaman antara lain, menebalkan dinding sel, meningkatkan pemanjangan sel akar, kofaktor proses enzimatis dan hormonal, pelindung dari cekaman panas, hama, dan penyakit.

Sudah Diteliti Profesor
Keabsahan informasi tentang kandungan cangkang telur juga disampaikan oleh Prof Ambar Pertiwiningrum PhD dari Departemen Teknologi Hasil Ternak, Fapet UGM, yang melakukan penelitian ini. “Kami sudah lama melakukan penelitian tentang pengolahan lain dari limbah untuk dapat menghasilkan nilai tambah bagi para petani, khusunya petani jamu,” ujarnya kepada Infovet.

Limbah cangkang telur tak hanya bermanfaat untuk pupuk tanaman hias, tetapi juga baik untuk tanaman sayuran seperti jamur tiram. Guru besar ini bukan hanya meneliti cangkang telur, namun juga pemanfaatan limbah kotoran unggas untuk meningkatkan produksi jamur tiram. Tentu saja setelah melalui proses pengolahan.

Selain membuat media jamur sebagai substitusi dedak oleh limbah biogas kotoran ayam, Prof Ambar juga menggunakan limbah cangkang telur yang dapat digunakan sebagai pengganti kapur yang lebih ramah lingkungan.

Master Gardeners dari Hamilton County, Tenn, melalui laman SF Gate menyebutkan, cangkang telur terbuat dari kalsium karbonat. Ini merupakan bahan utama yang digunakan dalam kapur pertanian. Dari penelitian yang dilakukan oleh Jeff Gilman, seorang penulis buku berjudul The Truth About Garden Remedies, menunjukkan bahwa air rendaman cangkang telur mengandung 4 miligram kalsium dan kalium.

Selain kandungan tersebut, manfaat cangkang telur juga berasal dari fosfor, magnesium, dan natrium di dalamnya. Beberapa nutrisi tersebut berperan penting dalam pertumbuhan hingga kesuburan tanaman.

Untuk memanfaatkan limbah ternak unggas, termasuk cangkang telur, menjadi media tanam jamur tiram putih, tidak serta merta digunakan layaknya para petani menggunakannya sebagai pupuk kandang selama ini. Ada perlakuan khusus atau proses yang dilalui agar menghasilkan media tanam dan hasil panen jamur yang bagus.

Jamur tiram putih menjadi pilihan dalam penelitian Prof Ambar, mengingat tingkat konsumsi jamur di dalam negeri jumlahnya cukup besar. Hasil olahan jamur tiram putih tergolong jenis sayuran yang digemari masyarakat. Kini hasil olahannya pun makin bervariasi, bukan hanya dijadikan sayur untuk lauk, tetapi juga diolah jadi olahan kering sebagai camilan.

Menurut Prof Ambar, kandungan gizi jamur tiram putih cukup tinggi. Berdasar penelitian sebelumnya, protein pada jamur tiram setiap 100 gram kandungan sebesar 27%, atau lebih tinggi dibanding protein pada kedelai tempe sebesar 18,3% setiap 100 gram. “Serat jamur sangat baik untuk pencernaan, kandungan seratnya mencapai 7,4-24,6%, sehingga cocok untuk tubuh,” ungkapnya.

Tujuh Manfaat
Ada tujuh hal penting tentang manfaat cangkang telur bagi tanaman. Pertama, sebagai pupuk kompos. Cangkang telur mengandung kalsium yang berfungsi untuk meningkatkan pertumbuhan dinding sel tanaman. Tanpa asupan tersebut, tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik dan cepat. Caranya, cuci bersih cangkang telur dan keringkan. Kemudian hancurkan dan campurkan dengan kompos.

Kedua, mencegah pembusukan tanaman. Manfaat ini berasal dari kandungan kalsium yang terdapat dalam cangkang telur. Asupan tersebut dapat diserap oleh tanaman sehingga membuatnya tidak mudah busuk. Caranya, cuci dan keringkan cangkang telur. Kemudian haluskan dan masukkan ke dalam lubang tanah sebelum menanam tumbuhan.

Ketiga, penangkal hama. Caranya, cuci dan keringkan cangkang telur terlebih dulu. Kemudian hancurkan jadi bagian-bagian besar, lalu tebarkan di sekitar halaman. Cara ini dapat mencegah siput dan cacing merusak tanaman.

Keempat, wadah menyimpan benih. Manfaat cangkang telur ini dapat diperoleh dengan cara mencuci cangkang telur terlebih dulu, kemudian keringkan. Lalu isi setengah bagian dari cangkang telur dengan tanah dan masukkan benih. Siram dengan sedikit air dan simpan sampai benih siap ditanam di tanah.

Kelima, penutup lubang pot. Pertama-tama, cuci bersih cangkang telur dan pecahkan menjadi bagian-bagian besar. Selanjutnya, gunakan pecahan tersebut untuk menutup lubang atau pot yang rusak. Cangkang ini juga berperan dalam memberikan nutrisi pada tanah di dalam pot guna meningkatkan kesehatan tanaman.

Keenam, sebagai pupuk alami. Menurut American Society of Plant Biologists, kalsium yang terdapat di dalam cangkang telur memberikan efek pertumbuhan dan perkembangan pada tanaman. Caranya, masukkan bubuk cangkang telur ke dalam wadah air dan diamkan selama beberapa hari. Gunakan air tersebut untuk menyiram tanaman.

Ketujuh, penyubur tanah. Manfaat cangkang telur ini berkat kandungan kalsium di dalamnya. Kegunaannya bisa dirasakan dengan baik pada tanah dengan tingkat keasaman yang tinggi. Caranya, haluskan cangkang telur yang telah dicuci dan dikeringkan. Kemudian campurkan dengan tanah yang digunakan untuk menanam tanaman.

Jika ingin membuat pupuk organik dari cangkang telur, caranya tak terlalu sulit. Bersihkan cangkang telur yang akan dibuat pupuk. Sterilkan cangkang telur dengan memasukkan ke dalam air panas. Keringkan cangkang telur dengan cara dijemur. Tumbuk cangkang telur hingga menjadi serpihan halus.

Untuk hasil yang lebih baik, campurkan cangkang telur dengan air ke dalam botol bekas. Tambahkan gula jawa dan EM4 dengan perbandingan 1 : 1 ke dalam botol. Tutup botol bekas dan campurkan pupuk dengan cara mengocok botol. Diamkan selama 10-14 hari untuk memaksimalkan proses fermentasi. Bila perlu, sesekali buka tutup botol bekas supaya gas yang ditimbulkan selama proses fermentasi dapat keluar.

Itu tujuh manfaat dan cara membuat pupuk organik dari cangkang telur, semoga bisa menginspirasi, dan mulai sekarang jangan lagi sia-siakan limbah cangkang telur. Ibarat pohon kelapa, semua bagian telur memiliki manfaat luar biasa. ***

Ditulis oleh:
Abdul Kholis
Koresponden Infovet Daerah Depok,
Konsultan media dan penulis buku,
Writing Coach Griya Menulis (Bimbingan Menulis Buku & Jurnalistik),
Juara I Lomba Jurnalistik Tingkat Nasional (Unsoed, 2021) & Juara I Kompetisi Menulis
Artikel Tingkat Nasional dalam rangka HATN, 2022

PINSAR INDONESIA SAMBUT ERA BARU: PROGRAM MBG JADI “CAHAYA” BAGI PETERNAK RAKYAT

Suasana Rakernas PINSAR Indonesia di Yogyakarta. (Foto-foto: Infovet/Sadarman)

Suasana hangat menyelimuti Candhari Heaven, Yogyakarta, pada Senin (19/1/2026) malam. Di tengah udara kota yang syahdu karena diguyur hujan, puluhan pemimpin wilayah Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR) dari seluruh penjuru Tanah Air berkumpul, menandai dimulainya rangkaian Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PINSAR Indonesia 2026.

Acara jamuan makan malam ini bukan sekadar seremoni pembuka. Bagi para peternak rakyat yang tergabung dalam PINSAR Indonesia, momentum ini menjadi titik balik emosional setelah sekian lama bergelut dengan ketidakpastian industri perunggasan nasional.

Ketua Umum PINSAR Indonesia, H. Singgih Januratmoko SKH MM dalam sambutannya di hadapan para pengurus wilayah, tak mampu menyembunyikan rasa bangganya atas daya tahan organisasi yang dipimpinnya. Ia menganalogikan perjalanan peternak mandiri, khususnya di sektor budi daya broiler selama lebih dari 10 tahun terakhir sebagai masa-masa “berjalan di kegelapan”.

“Lebih dari satu dekade kita berjalan di kegelapan yang bisa kita analogikan tanpa cahaya sama sekali. Terutama peternak broiler yang didera masalah over supply yang seakan tiada ujungnya hingga banyak yang gulung tikar,” ujar Singgih dengan nada emosional di tengah riuh rendah suasana makan malam.

Namun, optimisme baru kini terpancar seiring dengan transisi pemerintahan dan kebijakan strategis yang mulai digulirkan. Singgih menyebut program unggulan pemerintah berupa pemberian susu dan Makanan Bergizi Gratis (MBG) bagi siswa sekolah sebagai “oksigen” baru bagi industri peternakan rakyat.

Menurutnya, program MBG adalah jawaban konkret atas permasalahan hilirisasi yang selama ini menghimpit peternak kecil. Dengan kebutuhan protein hewani yang masif untuk anak sekolah di seluruh Indonesia, PINSAR Indonesia memandang diri mereka sebagai aktor kunci yang memegang kendali produksi.

“Kini kita sudah bisa bernapas lega karena adanya program MBG tersebut. Kita terlibat secara langsung karena kita memiliki produknya, daging ayam dan telur, yang kandungan gizi hewaninya melampaui gizi nabati,” tegasnya.

Ketua Umum PINSAR Indonesia, Singgih Januratmoko, saat memberikan sambutannya.

Rangkaian Rakernas ini dijadwalkan akan berlangsung hingga Rabu (21/1/2026). Agenda utama yang akan dibahas pada hari-hari berikutnya mencakup diskusi mengenai pengembangan ekosistem industri ayam terintegrasi serta pemantapan peran PINSAR Indonesia dalam mendukung ketahanan pangan nasional melalui usaha peternakan rakyat.

Selain dihadiri para pemimpin wilayah, acara ini juga menjadi wadah konsolidasi internal untuk mengevaluasi program kerja tahun sebelumnya dan merumuskan langkah strategis menghadapi tantangan global 2026.

Semangat yang dibawa dari meja makan malam ini diharapkan menjadi fondasi kuat bagi PINSAR Indonesia untuk keluar dari “kegelapan” masa lalu dan menyongsong kedaulatan pangan yang lebih berpihak pada peternak rakyat. (Sadarman)

REGULASI KESRAWAN DITERBITKAN, ARAH PENGEMBANGAN TELUR BEBAS SANGKAR KIAN TERBUKA

Budi daya ayam petelur sistem cage-free memungkinkan ayam mengekspresikan perilaku alamiahnya. (Foto: Istimewa)

Pemerintah resmi menerbitkan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No. 32/2025  tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Kewan (kesrawan). Regulasi ini menjadi landasan hukum penting untuk memastikan praktik pengelolaan ternak sejalan dengan prinsip kesrawan, termasuk mendukung sistem produksi unggas yang memenuhi standar kesrawan, termasuk sistem produksi telur bebas sangkar (cage-free).

Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner (Dirkesmavet) Kementerian Pertanian (Kementan), I Ketut Wiratha, menegaskan bahwa meningkatnya kebutuhan pangan menuntut sistem produksi ternak, yang tidak hanya mengedepankan efisiensi, tetapi juga prinsip etika. Menurutnya, kesrawan berkaitan erat dengan produktivitas ternak, keamanan pangan, dan kepercayaan publik.

Ia juga menekankan bahwa kesrawan bukan sekadar isu moral, melainkan bagian penting dalam menjaga mutu pangan dan keberlanjutan sektor peternakan, selain juga bagian dari komitmen global Indonesia dalam kerangka One Health dan Sustainable Development Goals (SDGs).

“Kesadaran publik terhadap perlakuan etis terhadap hewan terus meningkat. Konsumen kini semakin kritis terhadap cara hewan dipelihara dan disembelih. Oleh karena itu, edukasi serta pengawasan berkelanjutan di sepanjang rantai produksi pangan menjadi sangat penting guna mendorong perubahan sikap dan perilaku menuju praktik yang lebih menjunjung kesrawan,” ujarnya dalam sebuah acara daring pada Rabu (31/12/2025).

Seiring terbitnya regulasi tersebut, pemerintah akan melanjutkan langkah dengan menyusun petunjuk teknis pelaksanaan sertifikasi kesrawan dan mempersiapkan SDM yang dibutuhkan untuk mendukung implementasinya. Sertifikasi kesrawan nantinya akan dilaksanakan pemerintah daerah melalui dinas yang membidangi peternakan dan kesehatan hewan.

“Salah satu fokus pemerintah ke depan adalah menyiapkan dan mencetak auditor di berbagai daerah, agar proses sosialisasi dan sertifikasi penerapan kesrawan dapat berjalan lebih masif, efektif, dan implementatif. Sertifikasi ini diharapkan dapat membuka peluang pasar baru serta meningkatkan daya saing produk peternakan Indonesia, khususnya telur bebas sangkar, baik di pasar domestik maupun global,” tambahnya.

Pada kesempatan sebelumnya, Kepala Tim Pelaksana Kesrawan Ditkesmavet Kementan, Septa Walyani, menjelaskan bahwa penerapan sistem cage-free menjadi penting karena memungkinkan ayam petelur mengekspresikan perilaku alaminya, yang merupakan salah satu indikator utama kesrawan.

“Berbagai studi menunjukkan bahwa lingkungan pemeliharaan ayam petelur dengan sistem bebas sangkar dapat menurunkan tingkat stres dan risiko penyakit. Dengan demikian, penggunaan antibiotik dapat ditekan dan berkontribusi pada upaya global dalam pencegahan resistansi antimikroba,” jelas Septa di Jakarta, Kamis (11/12/2025).

Pandangan tersebut diperkuat temuan European Food Safety Authority (EFSA) yang menyatakan bahwa risiko salmonella lebih tinggi pada sistem kandang baterai dibandingkan dengan cage-free. Berdasarkan analisis data dari 5.000 peternakan di 24 negara, EFSA mencatat bahwa peternakan ayam petelur bebas sangkar memiliki tingkat kontaminasi salmonella yang jauh lebih rendah bahkan hingga 25 kali lebih rendah untuk beberapa jenis strain.

Menanggapi terbitnya regulasi tersebut, selaku Sustainable Poultry Program Manager Lever Foundation, Sandi Dwiyanto, menyampaikan apresiasinya terhadap langkah pemerintah yang dinilai sejalan dengan dinamika global. Menurutnya, regulasi ini menjadi sinyal kuat bagi pelaku usaha bahwa isu kesrawan kini semakin terintegrasi dengan tuntutan pasar dan komitmen perusahaan global, khususnya dalam penyediaan telur bebas sangkar.

“Dalam beberapa tahun terakhir, komitmen perusahaan pangan global terhadap penggunaan telur cage-free meningkat signifikan. Regulasi ini memberikan arah dan kepastian bagi transisi yang lebih terstruktur di Indonesia. Hal ini juga sejalan dengan perubahan preferensi konsumen yang mendorong kebutuhan akan sistem produksi yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan. Dengan regulasi ini, Indonesia memiliki fondasi yang lebih kuat untuk memenuhi ekspektasi pasar global,” ujarnya. 

Tren tersebut semakin diperkuat survei konsumen yang dilakukan Lever Foundation bekerja sama dengan GMO Research pada Juli 2025. Survei menunjukkan bahwa mayoritas responden (72%) berpendapat hotel, restoran, supermarket, perusahaan makanan kemasan, serta pelaku usaha sejenis seharusnya hanya menggunakan telur bebas sangkar dalam rantai pasok mereka. Dari aspek harga, sebanyak 71% responden bersedia membayar lebih mahal, dengan kisaran 10-40% untuk telur cage-free. Dan dalam konteks restoran, 72% responden bersedia membayar lebih untuk menu yang menggunakan telur cage-free, dengan mayoritas masih dapat menerima kenaikan harga sebesar 5-20% per porsi.

Hak ini sejalan dengan semakin banyaknya perusahaan makanan besar, supermarket, hingga jaringaan hotel global di Indonesia yang juga telah membuat komitmen atau sedang dalam proses menerapkan kebijakan telur cage-free. (INF)

WASPADAI RISIKO KONSUMSI TELUR TETAS

Perlu dicermati keamanan dan risiko dalam mengonsumsi telur ayam. (Foto: Istimewa)

Sebagian orang memercayai, telur ayam kampung “asli” hasil pembuahan pejantan dianggap memiliki khasiat tersendiri dan umumnya digunakan untuk campuran jamu. Ada juga orang yang sengaja berburu telur ayam kampung untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat mitos.

Rustinah, penghuni rumah kontrakan di Kampung Plered, Kelurahan Pengasinan, Kecamatan Sawangan, Depok, Jawa Barat, mendatangi salah satu warung sembako tak jauh dari tempat tinggalnya. Langkahnya agak tergesa-gesa, seperti sedang ada dibutuhkan.

Setelah yang dibutuhkan sudah didapat, ibu rumah tangga ini segera kembali ke kontrakannya. Lima butir telur ayam kampung dalam plastik kresek ia tenteng. “Ini ayam kampung asli, emang saya sering beli buat campuran minum jamu suami saya yang lagi sakit,” tutur Rustinah.

Telur ayam kampung asli yang dimaksud emak-emak ini adalah telur ayam fertil atau telur dari indukan ayam kampung yang dibuahi pejantan. Bukan dari ayam petelur untuk konsumsi seperti ayam Elba, ayam Arab, atau sejenisnya.

Membahas telur ayam fertil, dia awal November lalu, sempat viral pemberitaan tentang tidak layaknya mengonsumsi telur fertil. Tak hanya berita di media online, informasi ini juga ramai di lini media sosial.

Sumber berita ini ternyata berasal dari pernyataan Guru Besar Ilmu Ternak Unggas IPB University, Prof Niken Ulupi. Dikutip dari laman resmi ipb.ac.id, dosen Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan IPB University ini mengungkapkan, telur ayam pedaging bibit (fertil) tidak layak dikonsumsi dan diperjualbelikan karena sifatnya yang mudah rusak.

“Telur fertil yang tidak memenuhi syarat untuk ditetaskan tidak boleh dijual di pasar. Kualitasnya rendah, masa simpannya pendek, dan mudah membusuk,” ujarnya dalam laman resmi IPB University.

Menurutnya, telur ayam pedaging bibit berbeda dengan telur konsumsi pada umumnya. Telur konsumsi yang beredar di pasaran berasal dari industri ayam petelur komersial, yang seluruh ayamnya adalah betina dan menghasilkan telur infertil tanpa pembuahan.

Sedangkan telur fertil dihasilkan dari ayam betina yang dibuahi pejantan, sehingga di dalamnya terdapat embrio. “Telur jenis ini membutuhkan penyimpanan bersuhu rendah. Jika dibiarkan pada suhu ruang, embrio dapat berkembang sebagian dan membuat telur cepat busuk,” terangnya.

Gizinya Tak Jauh Beda
Apa yang diungkapkan Prof Niken tak ada yang keliru. Penjelasan ilmiahnya dapat diterima akal sehat. Pasalnya, di dunia peternakan unggas, tujuan pemeliharaan ayam memang berbeda. Ada yang untuk menghasilkan telur, ada pula yang khusus menghasilkan daging. Karena itu berkembang beragam galur ayam, baik ras maupun lokal.

Ayam petelur komersial dipelihara untuk menghasilkan telur konsumsi, sedangkan ayam pedaging komersial seperti broiler khusus untuk daging yang dipelihara sekitar lima minggu, lalu dipotong.

Adapun ayam pedaging bibit (breeder broiler) dipelihara khusus untuk menghasilkan telur tertunas (fertil) yang ditetaskan menjadi bibit broiler komersial. Telur-telur inilah yang disebut telur fertil, karena dihasilkan dari induk betina yang dibuahi pejantan.

Di masyarakat, khususnya di pedesaan, konsumsi telur fertil umumnya berlaku pada telur ayam kampung yang dipelihara skala rumahan. Warung-warung di perkampungan lazim menjual telur ayam kampung fertil. Peredaran telur ayam kampung infertil dari jenis ayam Elba atau ayam Arab belum begitu banyak.

Sebagian orang memercayai, telur ayam kampung asli dianggap memiliki khasiat tersendiri dan umumnya digunakan untuk campuran jamu. Ada juga orang yang sengaja berburu telur ayam kampung untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat mitos, tak ada kaitannya dengan kebutuhan nutrisi.

Meski kandungan gizinya (terutama protein dan asam amino esensial) tidak jauh berbeda, risiko kerusakan telur fertil lebih tinggi dibanding telur konsumsi. Karena itu, telur jenis ini tidak diperuntukkan konsumsi masyarakat umum.

Penjelasan guru besar IPB ini mempertegas bahwa produsen pembibitan ayam (broiler) skala industri dilarang menjual telur fertil. Larangan ini diatur dalam Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No. 32/2017 tentang Penyediaan, Peredaran, dan Pengawasan  Ayam Ras dan Telur Konsumsi.

Pemerintah secara tegas melarang industri pembibitan ayam ras menjual telur fertil. Jika dilanggar, dipastikan penjualan telur dari industri pembibitan dapat mengganggu stabilitas harga telur konsumsi di pasaran.

Permentan No. 32/2017 hanya bersentuhan dengan ayam ras. Artinya, peraturan ini tidak mengatur secara lugas terkait telur fertil ayam kampung yang diperjualbelikan di pasaran. Namun demikian, ulasan yang disampaikan Prof Niken cukup memberikan pencerahan yang baik bagi masyarakat.

Sudah saatnya, masyarakat bisa mencermati keamanan dan risiko dalam mengonsumsi telur ayam. Bagi masyarakat yang masih “tersandera” dengan mitos khasiat telur ayam kampung, sebaiknya beralih ke telur ayam kampung infertil, seperti telur ayam Arab, ayam Elba, atau sejenisnya. Toh kandungan gizinya tak jauh beda.

Mulai Tumbuh
Diakui, jual-beli telur fertil ayam kampung banyak dilakukan peternak di berbagai daerah. Hanya saja, penjualan telur fetil yang mereka lakukan bukan untuk konsumsi, melainkan untuk ditetaskan para pembelinya.

Harganya pun jauh lebih mahal dibandingkan telur ayam kampung infertil dan telur ayam ras untuk konsumsi. Para pelaku usaha peternakannya juga belum skala industri, tapi masih skala kecil.

Varian usaha ini belakangan mulai tumbuh, lantaran dari sisi keuntungan jauh lebih besar dibandingkan dengan usaha pembesaran ayam kampung pedaging. Peternak tak perlu mengeluarkan biaya untuk pakan dan obat-obatan, selain untuk indukan. Peternak hanya bermodal ayam indukan dan mesin tetas kapasitas besar.

Salah satu peternak yang menekuni varian usaha telur tetas ayam kampung ini adalah Zulkarnain Nasution, pemilik Kuba Farm Asahan, Kota Asahan, Sumatra Utara. “Selain jual telur tetas atau fertil, sebagai peternak mandiri saya juga menyediakan DOC dan ayam kampung pedaging,” tutur Zulkarnain kepada Infovet.

Menurut peternak ini, prospek usaha telur fertil saat ini masih terbuka lebar. Ia mengaku masih belum mampu memenuhi kebutuhan pasar yang ada saat ini di kotanya. Untuk membeli telur fertil di peternakannya sering kali pembeli harus inden atau pesan terlebih dahulu, menunggu jumlah telur terkumpul dan memenuhi jumlah yang dipesan.

“Indukan saya baru 100 ekor lebih, baru mampu memenuhi sebagian kecil permintaan pasar,” ujarnya. Indukan ayam KUB milik Zulkarnain merupakan hasil seleksi sendiri dari yang ia pelihara sejak masih DOC. Dari jumlah 900 DOC yang ia miliki sebelumnya, terpilih 100 ekor indukan (85 betina dan 15 pejantan). Kini, indukan ayam KUB miliknya menjadi “mesin” produksi telur tetas. Selebihnya, ayam-ayam yang sudah berukuran dewasa dijual sebagai ayam pedaging.

Zulkarnain memang belum lama menjadi peternak, namun ia termasuk orang yang cepat belajar. Hanya dalam tiga tahun usahanya makin berkembang, setelah melalui jatuh bangun dalam usahanya. Selain telur fertil, ia juga menjual DOC ayam KUB.

Seiring berjalannya waktu, peternak pemula ini mulai paham teknik beternak yang baik dan benar. Zulkarnain mulai menguasai teknik beternak ayam KUB yang menguntungkan. “Kita memang harus terus belajar agar bisa benar-benar menguasai teknik beternak yang baik. Bisa belajar langsung ke peternak, lewat tayangan YouTube, buku, dan lainnya,” imbuh dia.

Jaminan Menetas 
Dengan jumlah indukan 100 ekor dalam sehari produksi telur fertil antara 50-60 butir. Sebagai peternak yang tak mau merugikan pelanggan atau mitranya, Zulkarnain memberikan garansi 85% telur menetas. Artinya, jika telur yang diserahkan menetas 75%, maka selisihnya yang 10% akan diganti.

“Jadi misalnya orang beli 100 butir, maka yang digaransi adalah 85 butir benar-benar dibuahi oleh pejantan. Tentu saja dengan catatan, mesin tetasnya bagus dan tidak bermasalah,” ungkapnya.

Yang unik dari manajemen usaha Zulkarnain adalah telur-telur yang tidak bisa menetas, karena tidak dibuahi oleh pejantan, diolah menjadi puding telur lalu dijadikan pakan ayam pejantan sebagai tambahan protein. “Sebenarnya kalau dimasak dan dimakan kita juga tidak masalah, karena itu telur tidak dibuahi oleh pejantan,” katanya.

Pola pemasaran yang diilakukan juga cukup simpel. Di awal-awal produksi telur, ia cukup bergabung dengan beberapa grup WhatsApp (WA). Lalu membuat konten video usaha ternaknya, sekaligus menawarkan telur-telur fertil. Dari sini gayung bersambut, banyak peternak yang ada di dalam grup WA tersebut yang merespons dan memesan talur.

Selanjutnya, para pelanggan yang rutin memesan telur akan dikirimkan info ketersediaan telur fertil setiap kali panen. Setelah punya pelanggan, biasanya mereka langsung menghubungi ketika membutuhkan telur. ***

Ditulis oleh:
Abdul Kholis
Koresponden Infovet Daerah Depok,
Konsultan media dan penulis buku,
Writing Coach Griya Menulis (Bimbingan Menulis Buku & Jurnalistik),
Juara I Lomba Jurnalistik Tingkat Nasional (Unsoed, 2021) & Juara I Kompetisi Menulis
Artikel Tingkat Nasional dalam rangka HATN, 2022

CARA BIJAK MEMILIH DAN MENGOLAH TELUR RETAK

Harga telur retak yang murah jadi pilihan disaat harga telur melambung. (Foto: Shutterstock)

Jika terpaksa harus membeli telur retak, karena telur utuh lebih mahal, maka perlu hati-hati dalam memilihnya. Risiko mengonsumsi telur retak bisa dihindari jika bijak cara memilih dan mengolahnya.

Kenaikan harga telur ayam yang terjadi dalam sebulan terakhir, ternyata memunculkan fenomena tersendiri di tengah masyarakat. Kaum ibu rumah tangga, terutama yang kondisi ekonominya pas-pasan, tak kurang akal untuk menyiasati kebutuhan lauk keluarganya. Khususnya bagi mereka yang menjadikan telur ayam sebagai menu wajib di rumahnya.

Jika selama ini di rumah mereka selalu sedia telur dalam lemari es, kini mulai mengurangi belanjanya. Kenaikan harga telur yang sebelumnya berkisar Rp 26.000-28.000/kg, menjadi  Rp 31.000-33.000/kg, menjadi beban. Bisa dimaklumi, bagi kaum ibu rumah tangga, selisih harga Rp 5.000 akan menjadi pertimbangan untuk memilih yang lebih murah dalam berbelanja.

Kini dengan melambungnya harga, mereka membeli telur retak karena harganya lebih murah. Pepatah mengatakan, “tak ada rotan akar pun jadi”. Di beberapa pasar tradisional, harga telur retak hanya berkisar Rp 1.000-1.250/butir. Jika dihitung-hitung bisa 30% lebih murah dibandingkan telur utuh.

Bagi yang berpenghasilan atau jatah uang belanja mencukupi, kenaikan harga telur yang mencapai Rp 4.000-5.000/kg mungkin tak masalah. Tetapi bagi yang uang belanjanya pas-pasan, akan berpikir ulang untuk membelinya.

“Apalagi buat saya yang sehari-harinya bikin kue, telur retak juga enggak masalah. Yang penting harganya lebih murah dan enggak kotor telurnya,” tutur Winarti, pedagang roti bolu di Sawangan, Depok, Jawa Barat.

Dalam sehari, sedikitnya pelaku usaha kecil ini membutuhkan 3 kg telur untuk kebutuhan produksi roti bolunya. Hasil produksinya ia titipkan ke warung-warung setiap pagi. Menurutnya, kalau tetap menggunakan telur utuh, kenaikan harga telur saat ini berdampak pada keuntungan usahanya, meskipun kecil.

“Kan namanya orang dagang ya, walaupun selisihnya enggak banyak, tetap saja dihitung. Makanya, saya siasati beli telur retak,” ujarnya.

Hal serupa juga dilakukan oleh Lilis Wahyuni, pelaku usaha kecil aneka kue di Sawangan, Depok. Dalam sehari, kebutuhan telur untuk campuran pembuatan kuenya lebih dari 3 kg. Demi tak menaikkan harga jual kuenya, ia pun mau tak mau membeli telur retak untuk kebutuhan usahanya.

“Kalau dilihat per kilonya memang kelihatan kecil naiknya, tapi kalau dijumlah dalam sebulan, kalau pakai telur utuh dan harga yang tinggi, akan terasa tambahan biaya produksinya,” ujar Lilis.

Bagi Lilis dan Winarti, menaikkan harga kue buatannya bukan langkah yang tepat. Mereka khawatir pembeli jadi berkurang, dan berakibat turunnya omzet dagangannya. Maka, siasat yang dilakukan adalah dengan membeli telur retak yang tetap “aman” dari kontaminasi kotoran. Toh, kalau harga telur sudah normal lagi, mereka akan kembali membeli telur utuh untuk kebutuhan usahanya.

Risiko Memilih Telur Retak 
Dari sisi hitung-hitungan harga, membeli telur retak sudah tentu lebih murah. Akan tetapi seberapa amankah mengonsumsi olahan telur retak? Cukup banyak artikel di media online yang mengulas masalah ini. Secara umum, artikel berbasis kesehatan menuliskan sebaiknya hindari telur retak, karena bakteri dapat masuk melalui retakan dan mengontaminasi isinya, membuat telur tidak layak dikonsumsi dan busuk lebih cepat.

Studi yang dipublikasikan dalam Asian-Australian Journal of Animal Science,yang dipublikasikan pada 2020, menyebutkan telah membuktikan bahwa terjadi penurunan kualitas pada telur yang sudah retak kulitnya. Tidak hanya itu, telur yang telah pecah pun dikatakan akan meningkatkan risiko terjadinya kontaminasi.

Food and Drug Administration (FDA), lembaga pengawas makanan dan obat Amerika Serikat, dalam publikasinya mengungkapkan bahwa telur yang pecah sangat rentan terkontaminasi bakteri Salmonella, yang mengakibatkan terjadinya keracunan makanan. 

Gejala yang muncul ketika seseorang mengalami keracunan makanan seperti muntah, diare, demam, dan nyeri atau kram perut. Gejala ini akan muncul antara 12-72 jam setelah makanan dikonsumsi dengan lama waktu hingga satu minggu. Bahkan, beberapa kelompok orang akan memiliki risiko yang lebih serius hingga membahayakan nyawa. Ini termasuk ibu hamil, lansia, anak berusia kurang dari lima tahun, dan orang-orang dengan imunitas tubuh yang lemah.

Tips Mengolah Telur Retak
Bagaimana jika terpaksa harus membeli telur retak karena pertimbangan harga lebih murah dibandingkan telur utuh? Secara umum, para narasumber Infovet menyarankan, jika terpaksa memilih telur retak, gunakan segera dan simpan di kulkas setelah dipecah.

“Karena kalau terlalu lama disimpan dalam kondisi cangkang sudah retak, bisa keluar bau tak sedap. Malah bisa bau busuk,” kata Novana Istiani, pedagang telur ayam di Desa Bantarbolang, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah.

Kepada Infovet, Novana memberikan tips mengolah telur retak. Jika ada telur yang retak dalam perjalanan pulang dari membeli di warung atau pasar, jangan membiarkan atau menyimpannya hanya karena belum pecah.

“Ibu-ibu perlu tahu, telur retak juga menurunkan kualitasnya. Bukan tidak mungkin kontaminasi bakteri terjadi. Sebaiknya, segera olah atau kalau mau disimpan, pecahkan telur yang retak dalam wadah dan tutup wadah rapat-rapat lalu simpan dalam lemari pendingin selama kurang lebih dua hari,” ungkapnya. 

Jika ingin langsung mengolahnya, sebaiknya pastikan telur tersebut dimasak sampai matang sepenuhnya. Bisa memasaknya hingga bagian putih maupun kuningnya mengeras sempurna. Ini bertujuan guna menghindari terjadinya keracunan makanan karena kontaminasi bakteri.
Pedagang telur ini juga memberikan tips memilih telur yang sehat. Pertama, periksa cangkang, pastikan cangkang telur utuh, tidak ada retakan, lendir, bintik hitam, atau jamur. Cangkang yang retak atau kotor merupakan celah masuk bakteri.

Kedua, cek kondisi telur, telur yang sudah tua atau tidak segar akan mengapung jika direndam di air. Telur yang segar akan tenggelam.

Ketiga, jika membeli telur dalam kemasan, lihat tanggal kedaluwarsa untuk memilih telur yang paling segar.

Keempat, cara menyimpan telur retak (jika terpaksa), segera pecahkan telur retak dan simpan isinya dalam wadah tertutup rapat. Masukkan wadah berisi telur tersebut ke dalam kulkas dengan suhu kurang dari 4 °C. Dan, gunakan telur tersebut dalam waktu maksimal dua hari.

Membran Harus Utuh
Sebagian orang yang merasa khawatir mengonsumsi telur retak bisa dimaklumi. Kelompok ini memiliki prinsip bahwa menjaga kesehatan “tak bisa ditawar”. Maka itu, di tengah ramainya isu kaum ibu rumah tangga lebih memilih telur retak, kelompok masyarakat tadi lebih memilih menghindari dan mengganti bahan makanan lainnya.

Menurut Novana, telur retak akan aman dikonsumsi jika membrannya masih utuh. Membran melindungi telur dari bakteri. Agar lebih aman, sekali lagi ia menyarankan, sebaiknya segera memecahkan telur ke dalam mangkuk, membungkusnya dengan plastik, dan menggunakannya dalam dua hari.

Namun jika kondisi membran juga sudah koyak maka telur tak aman dikonsumsi. Meski demikian, dianjurkan tidak langsung membuang telur tersebut, karena masih bisa digunakan sebagai bahan kompos. Kalsium pada cangkang baik untuk tanah.

Para ibu rumah tangga atau pelaku usaha kecil yang rutin membeli telur untuk kebutuhan campuran pembuatan roti atau kue, cangkang telur juga sebaiknya jangan langsung dibuang. Bisa dijadikan kompos tanaman hias atau buah di sekitar pekarangan rumah.

Dalam berbagai literatur disebutkan, kompos cangkang telur adalah kompos yang diperkaya dengan cangkang telur yang sangat baik sebagai pupuk karena mengandung kalsium untuk memperkuat tanaman.

Untuk membuatnya, cuci bersih cangkang, keringkan, lalu hancurkan hingga menjadi serpihan atau bubuk. Campurkan bubuk cangkang telur ke dalam tumpukan kompos bersama sisa dapur lainnya atau taburkan di atas tanah di sekitar tanaman. Ibarat pohon kelapa, telur juga bisa dimanfaatkan semua bagiannya. ***

Ditulis oleh:
Abdul Kholis
Koresponden Infovet Daerah Depok,
Konsultan media dan penulis buku

MENTERI SAJA SARAPAN TELUR REBUS, KENAPA KITA TIDAK?

Sarapan dengan telur setiap hari meningkatkan kesehatan. (Foto: Istimewa)

Dalam sebulan terakhir, telur ayam makin popular. Penyebabnya, konsumsi telur rebus dikampanyekan oleh orang nomor satu di Kementerian Kesehatan, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin atau yang akrab disapa “Pak BGS” di kalangan pelaku bisnis industri farmasi.

Viral di lini media sosial, Menkes Budi Gunadi Sadikin mengajak masyarakat Indonesia untuk memulai kebiasaan sarapan sehat dengan dua butir telur rebus setiap pagi. Menu sederhana ini lebih bermanfaat dibandingkan pilihan sarapan populer yang tinggi gula dan kalori.

Tentu saja ini anjuran yang sangat bagus. Bisa menjawab semua isu negatif seputar telur ayam yang dilakukan oleh sebagian orang yang sejatinya tidak paham dengan kelebihan konsumsi telur. Yang memprihatinkan, justru informasi menyesatkan ini disampaikan oleh oknum dokter.

“Kalau pertama kali makan atau sarapan jangan yang manis-manis seperti sereal, nasi uduk, atau lontong. Itu bikin gula kita langsung akan naik. Kita butuh makanan sehat, contohnya protein seperti telur,” kata BGS dalam unggahan di akun Instagram resminya @bgsadikin, Rabu (17/9/2025).

Video singkat ini “berselancar” ke beranda semua lini media sosial, sehingga cukup efektif untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat tentang pentingnya konsumsi telur. Dalam video tersebut, BGS bukan hanya bicara tetapi juga memakan dua butir telur rebus. Gaya eduksi BGS memang cukup unik dan beda dengan menteri lainnya.

Menurut BGS, satu butir telur rebus mengandung sekitar 6 gram protein dan 60 kalori. Dua telur bisa memberikan 12 gram protein dan energi sekitar 120 kalori. Selain sehat, harganya juga terjangkau. “Satu telur ini cuma Rp 2.500, jadi kalau dua telur hanya Rp5.000," ujarnya dalam video tersebut.

Ia menekankan pentingnya mencukupi kebutuhan protein harian, yang idealnya sekitar 0,8 gram per kilogram berat badan. Dengan berat badan 72 kilogram, ia menyebut dirinya membutuhkan 57,6 gram protein per hari. Konsumsi dua telur di pagi hari bisa menutup sebagian kebutuhan tersebut.

Setelah berpuasa 8-10 jam saat tidur malam, tubuh sebaiknya diberi asupan yang tidak memicu lonjakan gula darah (glucose spike). Itulah sebabnya ia menyarankan untuk memulai hari dengan protein atau sayuran, bukan makanan manis. “Sudah praktis buatnya, tinggal celup 5-7 menit, murah lagi. Cukup awali sarapan dengan dua butir telur rebus tanpa tambahan saus tinggi kalori,” kata dia.

Menkes berharap masyarakat bisa lebih sadar terhadap pilihan makanan sehari-hari. “Yuk, mulai hidup sehat dari sekarang. Dimulai dari kesadaran akan makanan yang kamu santap,” tutupnya pada keterangan Instagram ketika ia menyantap dua butir telur.

Anjuran Menteri Kesehatan ini sekaligus menjawab banyaknya keraguan para pra lansia dan lansia untuk mengonsumsi telur. Hingga sekarang, masih banyak orang usia di atas 50 tahun merasa khawatir makan telur, terutama bagian kuningnya. Ada yang beranggapan makan kuning telur berbahaya bagi kesehatan karena kandungan kolesterolnya yang tinggi. Orang yang setuju dengan anggapan ini, biasanya hanya konsumsi putih telurnya saja. Bagian kuningnya disisihkan.

Kebiasaan menyisihkan kuning telur dan hanya memakan bagian putihnya saja saat makan juga dilakukan oleh Subono. Sejak dulu, pensiunan TNI AL ini juga gemar mengonsumsi telur ayam. Namun setelah pensiun dari dinas kemiliteran, pria berumur mendekati 70 tahun ini hanya konsumsi bagian putih telurnya saja.

“Telur itu sumber protein yang bagus. Dari dulu saya suka makan, terutama telur rebus, paling suka. Tapi sekarang cuma makan putihnya saja, biar aman. Takut kolesterol,” ucapnya kepada Infovet.

Kekhawatiran tersebut memang bisa dimaklumi. Di usianya yang makin tua, kadang rasa takut konsumsi telur muncul. Meskipun sebelumnya sudah bertahun-tahun makan telur dan tak ada masalah dengan penyakit yang dikhawatirkan. Namun sejatinya, tak perlu ada rasa khawatir yang berlebihan. Bagimanapun banyak lansia yang konsumsi telur tetap aman-aman saja, yang penting tidak berlebihan.

Anjuran Presiden Prabowo
Konsumsi telur rebus ternyata bukan hanya “dipromosikan” oleh Menkes BGS, tetapi juga oleh Presiden Prabowo Subianto melalui Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana. Dalam keterangan resminya, Dadan menyebut Presiden menginginkan telur untuk Makan Bergizi Gratis (MBG) hanya boleh dimasak dengan dua cara, yakni digoreng ceplok (telur mata sapi) atau direbus (telur bulat).

“Jadi telur itu, beliau hanya boleh dua (cara) dimasak telur itu. Satu diceplok, satu lagi telur bulat,” tutur Dadan.

Ia juga menyebutkan, Prabowo tidak ingin telur dalam program MBG dimasak dengan cara diorek-orek atau didadar. “Jadi beliau sangat tidak ingin telur itu diorek-orek atau didadar. Karena kalau didadar kan untuk tujuh orang bisa dengan lima telur, untuk 10 orang bisa lima telur. Nah, kalau diceplok dengan dibulat, itu sudah pasti kelihatan telurnya,” ujarnya.

Sebagian orang tua murid mengapresiasi permintaan Presiden Prabowo. Pemberian telur ceplok atau rebus bisa mencegah terjadinya kecurangan di pemilik catering Program MBG. Satu anak harus dapat satu butir telur, bukan dibagi jadi beberapa bagian.

Winarti, orang tua murid di Depok berpendapat, setuju dengan yang sampaikan Presiden. “Saya perhatikan Pak Presiden jeli untuk urusan telur. Kalau didadar kan misalnya 7 butir, bisa dibagi buat 10 porsi. Tapi kalau direbus atau ceplok bisa cateringnya tidak bisa bohong,” ujarnya kepada Infovet.

Pendapat serupa juga dikatakan oleh Ruslan Sumadi, orang tua murid yang juga tinggal di Depok. Bahkan menurutnya, kalau lauk telur rebus atau ceplok, tidak mungkin anak keracunan. “Mungkin lauk lainnya yang jadi penyebab banyaknya kasus keracunan MBG,” katanya.

Ruslan dan Winarti sama-sama memiliki anak yang sekolah SMP di Depok. Mendengar berita banyaknya kasus keracunan MBG, mereka merasa khawatir. Padahal, saat makan di rumah, keduanya mengaku sering memberikan lauk telur.

“Kalau pagi kan paling praktis bikin telur ceplok atau dadar buat sarapan anak sebelum sekolah. Buat makan malam, kadang anak juga minta dibuatkan telur ceplok,” kata Winarti.

Harga di Bawah Kerupuk
Ahli gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Prof Dr Ir Ali Khomsan, menyebut konsumsi telur ayam sangat dianjurkan untuk semua kalangan, baik anak-anak maupun orang dewasa. Sebab, telur merupakan sumber protein dan kandungan gizi lainnya yang tinggi dengan harga terjangkau bagi masyarakat.

Dalam perbicangan dengan Infovet sebelumnya, Ali Khomsan berpendapat mengonsumsi satu jenis menu secara terus-menerus memang bisa membosankan. Karena itu, variasi dalam mengolah telur sangatlah penting. Salah satunya diolah dadar atau olahan lain berbahan telur.

Bagi anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan dan ibu menyusui, asupan gizi protein hewani dari daging ayam dan telur sangat dibutuhkan. “Kandungan asam amino yang ada di dalam telur dan daging ayam juga cukup bagus untuk kesehatan tubuh. Asam amino berperan penting karena membantu pembentukan protein sebagai bahan dasar pembentuk sel, otot, serta sistem kekebalan tubuh,” ujar pakar gizi ini.

Menurutnya, konsumsi telur dan daging ayam bagi anak-anak sangat baik dan bisa dimulai sejak awal ibu-ibu menyusui bayinya. Daging ayam mengandung protein, zat besi, magnesium, vitamin, dan fosfor.

Bisa jadi, untuk sebagian kalangan masyarakat masih menganggap harga telur mahal. Selain itu, membeli telur tidak bisa satuan lazimnya membeli lauk lain, semisal gorengan. Namun demikian, jika dihitung, harga telur ayam masih di bawah harga kerupuk yang kandungan gizinya sangat minim. ***

Ditulis oleh:
Abdul Kholis
Koresponden Infovet Daerah Depok,
Konsultan media dan penulis buku,
Writing Coach Griya Menulis (Bimbingan Menulis Buku & Jurnalistik),
Juara I Lomba Jurnalistik Tingkat Nasional (Unsoed, 2021) & Juara I Kompetisi Menulis Artikel Tingkat Nasional dalam rangka HATN, 2022

DUKUNG BUDI DAYA UNGGAS PENUHI KESRAWAN, REGULASI SEGERA DISAHKAN

Pemeliharaan cage-free pada ayam petelur. (Foto: Istimewa)

Pemerintah Indonesia menunjukkan dukungan nyata terhadap sistem budi daya unggas yang memenuhi kaidah kesejahteraan hewan (Kesrawan), termasuk di antaranya sistem budi daya ayam petelur bebas sangkar (cage-free).

Melalui regulasi baru tentang penyelenggaraan kesejahteraan hewan yang saat ini tengah difinalisasi, pemerintah memberi sinyal kuat bahwa masa depan peternakan, termasuk ayam petelur akan semakin berorientasi pada praktik pemeliharaan yang lebih ramah terhadap hewan dan berkelanjutan.

Ketua Tim Kerja Advokasi Kesejahteraan Hewan, Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner (Ditkesmavet), Kementerian Pertanian, Drh Puguh Wahyudi MSi, menegaskan bahwa pemerintah serius mendorong penerapan praktik Kesrawan di Indonesia, termasuk pada peternakan ayam petelur seperti sistem budi daya cage-free.

Ia juga menambahkan, saat ini pemerintah tengah menyiapkan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Hewan yang telah masuk tahap harmonisasi. Regulasi ini nantinya akan menjadi payung hukum terkait norma kesejahteraan hewan di Indonesia.

“Regulasi terkait penyelenggaraan kesejahteraan hewan saat ini sedang difinalisasi dan siap disahkan. Aturan ini akan menjadi landasan hukum standar kesejahteraan hewan di Indonesia, yang meliputi hewan ternak, hewan kesayangan, hewan jasa, hingga hewan laboratorium,” kata Puguh.

“Selain itu, juga terdapat poin sertifikasi kesejahteraan hewan dalam regulasi ini yang dapat menjadi acuan bagi peternak dalam mengembangkan sistem pemeliharaan yang lebih berorientasi pada kesejahteraan hewan. Termasuk di dalamnya, pada peternakan ayam petelur.”

Lebih lanjut disampaikan, pemerintah juga memberikan dukungan kepada peternak yang mulai menerapkan sistem cage-free. Menurutnya, tren global saat ini mengarah ke sana. Karena itu, penerapan prinsip Kesrawan, termasuk melalui sistem cage-free diperkirakan akan berkembang secara bertahap di Indonesia. Apalagi, jika di masa mendatang produk Indonesia menghadapi tantangan ekspor dan tuntutan cage-free, pemerintah tegaskan akan menyiapkan produk yang sesuai dengan permintaan konsumen.

“Di Uni Eropa, regulasi sudah mengatur dan mereka telah 100% beralih ke cage-free. Kita melihat hal ini pasti berdampak pada perekonomian dunia, sehingga kita juga harus siap. Jika Uni Eropa sudah begitu, biasanya negara lain akan ikut. Bahkan bisa menjadi yurisprudensi, karena WTO pernah memutuskan bahwa isu kesejahteraan hewan dapat dijadikan dasar hambatan perdagangan apabila dianggap mengganggu moral publik,” tambahnya.

Sejalan dengan arah cage-free, Sustainable Poultry Program Manager Indonesia Lever Foundation, Sandi Dwiyanto, mengungkapkan bahwa Kesrawan kini menjadi perhatian publik global sekaligus tuntutan persaingan perdagangan internasional yang tidak bisa dihindari. Menurutnya, sejak 2015 tren produksi telur dari ayam cage-free mulai mendapat perhatian masyarakat luas.

“Banyak perusahaan internasional ternama telah membuat komitmen global untuk beralih ke sistem cage-free pada 2025. Hingga akhir 2021, lebih dari 2.000 perusahaan di seluruh dunia, termasuk restoran, penyedia layanan makanan, ritel, dan hotel telah berkomitmen untuk menggunakan telur cage-free. Termasuk di antaranya sekitar 100 perusahaan di Indonesia yang telah mengomunikasikan terkait telur cage-free. Sebagian besar menargetkan implementasi penuh pada 2025, dan jumlah komitmen dari perusahaan terus bertambah,” jelas Sandi dalam keterangan resminya, Rabu (15/10/2025).

Di Indonesia, sejumlah perusahaan makanan global juga telah membuat komitmen atau sedang dalam proses menerapkan kebijakan telur cage-free, di antaranya KFC, Pizza Hut, Taco Bell, Burger King, dan The Coffee Bean & Tea Leaf. Perusahaan besar seperti Nestlé bahkan menargetkan penggunaan telur cage-free sepenuhnya pada 2025.

Komitmen ini juga mulai diikuti beberapa perusahaan yang mempunyai basis di Indonesia, misalnya Superindo dan beberapa kafe dan restoran ternama seperti Ismaya, Bali Budha, hingga Jiwa Jawi. 

Sementara itu, Owner PT Inti Prima Satwa Sejahtera (IPSS), Roby Tjahya Dharma Gandawijaya, menilai bahwa prospek pasar cage-free akan terus tumbuh di masa depan. “Keberhasilan sistem cage-free di Indonesia membutuhkan dukungan berbagai pihak. Karena itu, peran seluruh pemangku kepentingan perunggasan nasional sangat penting, mulai dari industri pakan, DOC, peralatan, hingga obat-obatan. Dengan kolaborasi, kita dapat mengembangkan peternakan cage-free di Indonesia, sehingga ketika perubahan itu benar-benar tiba, kita sudah siap dan mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri,” ujarnya.

Selain isu kesejahteraan hewan dan tren global, European Food Safety Authority (EFSA) dalam laporannya menyebutkan bahwa risiko salmonella lebih tinggi pada sistem kandang baterai dibandingkan pada sistem cage-free. Temuan ini menegaskan bahwa sistem cage-free tidak hanya menguntungkan secara perdagangan, tetapi juga berkontribusi pada keamanan pangan dan kesehatan masyarakat.

Dengan berkembangnya tren global serta rencana pengesahan regulasi penyelenggaraan Kesrawan di Indonesia, semakin membuka peluang besar di sektor peternakan ayam petelur. Kolaborasi antara seluruh pemangku kepentingan diharapkan menjadi kunci terwujudnya praktik budi daya yang berkelanjutan di Indonesia. (INF)

FENOMENA KONSUMSI ASUPAN GIZI VS ROKOK, MENANG MANA?

Konsumsi asupan makanan begizi sangat penting untuk kesehatan. (Foto: Istimewa)

Selama rokok masih menjadi candu, maka untuk menurunkan jumlah konsumennya sangat sulit. Hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, orang (termasuk kalangan miskin) rela mengurangi kebutuhan pokok demi menikmati rokok. Sampai kapan begini?

Akhir Juli 2025 lalu, BPS kembali merilis soal konsumsi rokok menjadi salah satu penyebab kronis kemiskinan di Indonesia. Seakan tak dapat dicegah, penyebab ini masih mendominasi, di urutan kedua setelah kebutuhan beras, bahkan terjadi di kalangan masyarakat ekonomi lemah. Rilis terbaru ini merupakan hasil laporan survei hingga Maret 2025.

Sejak satu dekade BPS sudah berulang kali merilis masalah ini, namun persentasenya tak pernah turun. Meski di dalam bungkus rokok sudah tercantum peringatan keras soal bahayanya, namun masyarakat masih saja menikmatinya.

“Beras, rokok, dan kopi sachet masih menjadi penyumbang utama garis kemiskinan per Maret 2025,” begitu tertulis dalam siaran pers BPS, akhir Juli 2025.

Data BPS menunjukkan beras menyumbang sebesar 21,06% terhadap garis kemiskinan (GK). Sementara itu, rokok filter menyumbang 10,72% terhadap GK untuk perkotaan. Sedangkan di perdesaan, beras menyumbang sebesar 24,91% dan rokok kretek filter sebesar 9,99%.

Pada periode sebelumnya juga dijumpai hal serupa. Komoditas makanan yang memberikan sumbangan terbesar pada kemiskinan baik di perkotaan maupun di perdesaan masih berupa beras dengan sumbangan terbesar, yakni 21,01 % di perkotaan dan 24,93% di perdesaan.

Sedangkan rokok kretek filter juga menempati posisi kedua pada GK September 2024, memberikan sumbangan terbesar kedua terhadap GK (10,67% di perkotaan dan 9,76% di perdesaan).

Besaran sumbangan rokok bahkan lebih besar dibandingkan bahan makanan pokok seperti telur maupun daging ayam. Bumbu-bumbu dapur krusial seperti bawang merah, gula pasir, dan cabe rawit juga menempati posisi yang lebih rendah pada daftar.

Telur ayam menempati posisi ketiga dengan proporsi 4,50% untuk GK perkotaan dan 3,62% untuk GK perdesaan, dan daging ayam ras menempati posisi berikutnya dengan proporsi 4,22% dan 2,98% untuk perkotaan dan perdesaan secara berurutan.

“Kondisi ini benar-benar memprihatinkan,” ujar ahli gizi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Yuny Erwanto PhD kepada Infovet.

Erwanto menyebut, fenomena semacam ini sungguh sulit diterima akal sehat. Kebutuhan asupan gizi untuk keluarga dikalahkan kebutuhan rokok yang hanya jadi candu. Ia memberikan gambaran kalkulasi kalau dalam sehari orang menghabiskan Rp 20.000 untuk membeli rokok, maka dalam sebulan Rp 600.000 dibakar begitu saja.

“Tapi coba kalau dibelikan telur, dengan asmusi Rp 30.000, maka sebulan dia bisa beli 20 kg telur. Gizi keluarga bisa terpenuhi,” ungkapnya.

Menurut dosen Pangan Hasil Ternak Fakultas Peternakan UGM ini, perputaran uang untuk membeli rokok hanya akan berputar pada pabrik rokok dan cukai ke negara saja. Mereka yang menikmati keuntungan sangat besar, sementara para perokok mendapat titipan zat berbahaya yang bersarang di dalam tubuhnya.

Sementara untuk konsumsi telur atau daging ayam, perputaran uangnya sangat luas. Mulai dari petani jagung, peternak, perusahaan pakan ternak, perusahaan pembibitan, usaha pemotongan hewan, hingga jalur pasar yang melibatkan pelaku usaha.

Artinya semakin tinggi biaya yang dikeluarkan untuk konsumsi telur atau daging ayam secara tidak langsung akan membuka lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi masyarakat.

Jebakan Kemiskinan
Dalam rilis BPS di atas, menunjukkan bahwa rokok terutama kretek filter, merupakan salah satu komoditas paling banyak dikonsumsi masyarakat miskin dan berkontribusi besar terhadap garis kemiskinan. BPS menggunakan data konsumsi rokok dalam menghitung garis kemiskinan karena rokok adalah salah satu komoditas yang banyak dikonsumsi, termasuk oleh masyarakat miskin.

Meskipun rokok memberikan pemasukan besar bagi pemerintah, konsumsi rokok yang tinggi di kalangan masyarakat miskin, yang seharusnya memprioritaskan kebutuhan dasar seperti makanan, menjadi fenomena yang miris. Bagi mereka konsumsi rokok dapat menjadi semacam “jebakan kemiskinan” karena uang yang seharusnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar digantikan untuk rokok.

Kalangan perokok sangat sulit untuk mengurangi jatah rokoknya, apalagi untuk berhenti total. Karena candu rokok sudah bersemayam dalam tubuh, maka ada orang yang berpinsip “tidak apa tidak sarapan, asal tiap pagi bisa merokok.”

“Artinya pokok persoalan utama adalah pemahaman masyarakat dan kebiasan sebagian masyarakat kita yang memang lebih untuk tetap merokok, bagaimana pun kondisinya,” ujar Erwanto.

Karena Rokok “Dimakan”
Sekadar untuk melengkapi informasi tulisan ini, ada ulasan menarik yang disampaikan seorang Petugas Survei BPS, Dwi Ardian, yang ia tulis di platform Kompasiana.com, 24 Juli 2025.

Petugas survei ini mengamati di lapangan, banyak rumah tangga miskin yang lebih memilih mengurangi konsumsi makanan bergizi daripada berhenti merokok. Padahal, menurut standar garis kemiskinan makanan, setiap anggota rumah tangga minimal membutuhkan asupan 2.100 kilokalori (kkal) per hari untuk memenuhi kebutuhan dasar gizi, begitu pengakuan Dwi Ardian.

Padahal, rokok yang harganya mahal tidak memberikan kalori sama sekali (nol kalori). Artinya, uang yang seharusnya digunakan untuk membeli makanan bergizi justru dihabiskan untuk bakar-bakar rokok, suatu kebiasaan yang kontraproduktif bagi kesehatan dan ekonomi keluarga.

Dalam penghitungan garis kemiskinan, BPS menggunakan paket komoditas kebutuhan dasar yang terdiri dari 52 jenis komoditas, termasuk padi-padian, umbi-umbian, ikan, daging, telur, susu, sayuran, kacang-kacangan, buah-buahan, minyak, dan lemak. Uniknya, rokok juga termasuk dalam daftar ini. Mengapa? Karena rokok “dimakan”, meskipun bukan dalam arti harfiah sebagai makanan bergizi.

Data Susenas menunjukkan bahwa lebih dari 73% pengeluaran rumah tangga miskin dialokasikan untuk membeli 52 komoditas tersebut, termasuk rokok. Sisanya sekitar 26%, digunakan untuk kebutuhan non-makanan seperti perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan.

Artinya, jika rumah tangga miskin mengurangi atau berhenti merokok, mereka dapat mengalihkan pengeluaran tersebut untuk memenuhi kebutuhan pokok yang lebih penting, seperti makanan bergizi atau biaya pendidikan anak.

Rokok dalam “Pelukan” Budaya
Data dari Kemenkes, data BPS, dan data Komnas Pengendalian Tambakau, menunjukkan bahwa terjadi peningkatan dari waktu ke waktu perokok pemula usia 10-18 tahun beberapa tahun terakhir. Perokok remaja mencapai sekitar 11-12% pada 2024, dari 9% pada 2018. Sedangkan, perokok usia di atas  telah mencapai sekitar 33% pada 2024.

Dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, terutama di daerah pedesaan dan komunitas tradisional, kenduri atau selamatan menjadi salah satu ritual yang tidak terpisahkan dari kehidupan sosial. Acara-acara seperti syukuran kelahiran, pernikahan, kematian, atau bahkan peresmian rumah kerap dijadikan momentum untuk berkumpul.

Namun, di balik nilai kebersamaan yang dijunjung tinggi, tradisi semacam ini turut berkontribusi terhadap meningkatnya akses dan konsumsi rokok di masyarakat. Rokok sering kali menjadi bagian tak terpisahkan dalam penyelenggaraan kenduri, baik sebagai pelengkap sajian bagi tamu maupun sebagai sarana penghormatan kepada sesama. Dalam banyak kasus, rokok bahkan dianggap sebagai “tanda terima kasih” bagi para undangan yang hadir, sehingga menciptakan persepsi bahwa menolak rokok bisa dianggap “tidak sopan”.

Budaya memberikan rokok kepada tamu atau sesama peserta kenduri juga memperkuat normalisasi konsumsi rokok dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, dalam acara-acara adat di Jawa, rokok kerap disediakan dalam nampan atau gelas bersama hidangan lainnya, seolah-olah menjadi kebutuhan pokok yang setara dengan makanan dan minuman.

Hal ini mengakibatkan rokok tidak lagi dipandang sebagai barang berbahaya, melainkan sebagai bagian dari adat istiadat yang harus dihormati. Akibatnya, anak-anak dan remaja yang turut serta dalam acara semacam ini sejak dini terpapar kebiasaan merokok dan menganggapnya sebagai sesuatu yang lumrah.

Menurut Yuny Erwanto, kalau saja anggaran rokok tersebut dialihkan, misalnya untuk bikin ayam bakar atau ikan bakar yang bisa dinikmati bersama, tentu jauh lebih sehat. Tapi apa daya, tradisi memang sulit untuk “ditaklukkan”. ***


Ditulis oleh:
Abdul Kholis
Koresponden Infovet Daerah Depok,
Konsultan media dan penulis buku,
Writing Coach Griya Menulis (Bimbingan Menulis Buku & Jurnalistik),
Juara I Lomba Jurnalistik Tingkat Nasional (Unsoed, 2021) & Juara I Kompetisi Menulis Artikel Tingkat Nasional dalam rangka HATN, 2022

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer