-->

OPTIMALISASI FORMULASI PAKAN LAYER, ALTERNATIF DAN STRATEGI SMART NUTRITION

Formulasi pakan harus berevolusi menjadi sistem yang lebih adaptif, presisi, dan berbasis pada respons biologis ayam. (Foto: Istimewa)

Industri ayam petelur nasional saat ini menghadapi tekanan yang semakin kompleks. Biaya pakan masih mendominasi lebih dari 60-70% total biaya produksi, sementara volatilitas harga bahan baku utama seperti jagung dan bungkil kedelai terus meningkat akibat faktor global, iklim, logistik, dan dinamika pasar. Pada saat yang sama, tuntutan terhadap stabilitas produksi, kualitas, serta keberlanjutan sistem peternakan semakin tinggi.

Dalam situasi tersebut, pendekatan formulasi pakan yang hanya berorientasi pada least cost formulation tidak lagi memadai. Formulasi pakan harus berevolusi menjadi sistem yang lebih adaptif, presisi, dan berbasis pada respons biologis ayam. Penggunaan bahan baku alternatif yang dipadukan dengan strategi nutrisi cerdas (smart nutrition) menjadi salah satu pendekatan penting untuk menjaga daya saing produksi.

Namun demikian, pemanfaatan bahan baku alternatif tidak dapat dilakukan secara sederhana dengan mengganti bahan konvensional. Tanpa pemahaman memadai mengenai karakteristik nutrien, risiko antinutrisi, serta implikasi fisiologisnya terhadap ayam petelur, strategi ini justru berpotensi meningkatkan variabilitas performa dan menurunkan efisiensi biologis.

Peran Strategis Bahan Baku Alternatif
Dalam praktik industri pakan, bahan baku alternatif masih sering diposisikan sebagai solusi darurat ketika harga bahan baku utama melonjak atau pasokan terganggu. Pendekatan reaktif seperti ini pada kenyataannya justru meningkatkan risiko ketidak-konsistenan mutu pakan dan fluktuasi performa ayam petelur.

Pada pendekatan formulasi modern, bahan baku alternatif seharusnya ditempatkan sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan sistem pakan (feed resilience). Bahan baku alternatif mencakup berbagai kelompok, mulai dari sumber energi seperti singkong, sorgum, dan dedak padi, sumber protein seperti DDGS, palm kernel meal, dan canola meal, hingga berbagai hasil samping industri pertanian seperti wheat bran dan corn gluten feed.

Keunggulan utama bahan-bahan tersebut adalah fleksibilitas pasokan, peluang efisiensi biaya, serta kontribusinya terhadap prinsip ekonomi sirkular. Akan tetapi, pada ayam petelur, tantangan terbesar bukan hanya bagaimana menekan biaya ransum, melainkan bagaimana menjaga kestabilan produksi telur, persistensi produksi, serta kualitas kerabang dan internal telur.

Penggunaan bahan baku alternatif harus didasarkan pada prinsip strategic inclusion, yaitu penentuan level penggunaan yang realistis dan aman berdasarkan karakteristik fisiologis ayam petelur dan tujuan produksi jangka panjang. Bahan baku alternatif bukanlah pengganti mutlak, tetapi alat strategis untuk memperluas fleksibilitas formulasi.

Formulasi pakan layer yang terlalu agresif dalam menggunakan bahan baku alternatif tanpa dukungan strategi nutrisi yang memadai kerap berujung... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi April 2026. 

Ditulis oleh:
Henri E. Prasetyo Drh MVet
Praktisi perunggasan, Nutritionist PT DMC

MINIMNYA KONSUMSI TELUR DAN DAGING AYAM DI TENGAH STOK BERLIMPAH, APA PENYEBABNYA?

Mengonsumsi telur dan daging ayam baik untuk gizi harian dan pertumbuhan. (Foto: Gemini)

Kajian mengenai banyak mana konsumsi telur, kerupuk, dan rokok, masih terus menjadi bahasan, sebab tiga komoditas ini memiliki harga setara. Namun dari sisi manfaat kesehatan, sangat berbeda.

Data Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengungkap produksi telur dan daging ayam di 2025 naik dibandingkan 2024. Angka produksi tersebut diklaim di atas kebutuhan konsumsi nasional. Dalam sebuah kesempatan, I Gusti Ketut Astawa, Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilitas Pangan dari Bapanas, menyampaikan kepada wartawan bahwa swasembada perunggasan yang produksinya relatif melebihi kebutuhan, baik telur maupun daging ayam.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi telur ayam pada 2024 mencapai 6,34 juta ton. Dan, dalam Proyeksi Neraca Pangan Bapanas per 22 April 2025, produksi telur ayam di 2025 disebutkan naik 2,78% menjadi 6,52 juta ton. Angka ini melebihi kebutuhan konsumsi nasional yang sebesar 6,22 juta ton.

Lalu, berapa konsumsi telur dan ayam masyarakat Indonesia? Mengutip platform Instagram milik Bambang Suharno, digital creator, PT Gallus Indonesia Utama-Strategi & Insight Industri Peternakan, Veteriner, Akuakultur, menyebutkan bahwa konsumsi per orang Indonesia per tahun sekitar 150-200 butir telur dan 15 kg daging ayam. Masih jauh dibandingkan dengan konsumsi di negara-negara ASEAN lainnya.

Minimnya tingkat konsumsi dua makanan sumber protein tinggi ini karena alasan yang masih klasik, karena daya beli masyarakat rendah. Tapi mirisnya, konsumsi rokok di Indonesia tembus lebih dari 1.300 batang/orang/tahun, tertinggi di ASEAN, bahkan termasuk yang tertinggi di dunia. Padahal harga satu batang rokok setara dengan sebutir telur.

Informasi lainnya, berasal dari GoodStats, sebuah platform media di bawah naungan Good News From Indonesia, menyebutkan persentase pria perokok aktif di Indonesia sebanyak 73,2% per 2025, tertinggi di dunia. Artinya, saat ini hanya ada sekitar 26,8% pria Indonesia yang tidak merokok.

Tingginya angka perokok bisa membawa masalah serius dalam jangka panjang. Laporan Tobacco Atlas menyebut 268 ribu orang Indonesia meninggal tiap tahunnya akibat merokok. Beban biaya ekonomi yang ditimbulkan akibat merokok juga cukup signifikan, mencapai Rp 288 triliun/tahun.

Sebulan, Rp 750.000 Dibakar
Pola asupan gizi di masyarakat Indonesia masih memprihatinkan. Meyimak data di atas, tergambar jelas masih banyak penduduk Indonesia yang lebih memilih rokok sebagai kebutuhan dalam pengeluaran keuangan keluarga. Rokok kerap dianggap sebagai simbol keren, termasuk oleh kelompok masyarakat miskin. 

Data BPS per Maret 2025 menunjukkan rokok filter-kretek menyumbang sekitar 9,99-10,72% terhadap garis kemiskinan, baik di perdesaan maupun perkotaan. Angka ini menggambarkan pengeluaran untuk membeli rokok lebih besar dari pangan bergizi. Pengeluaran untuk rokok konsisten menempati posisi kedua setelah beras, mengalahkan belanja telur, ayam, dan sumber protein lainnya.

Data Direktorat Jenderal Kementerian Kesehatan menyebut, rata-rata perokok di Indonesia mengonsumsi 4.190 batang rokok/tahun, yang menimbulkan beban ekonomi dan kesehatan yang signifikan. Itu baru data di 2023. Bisa jadi saat ini jumlahnya lebih besar.

Selain itu, tingginya prevalensi merokok di perdesaan (30,8%) dibandingkan perkotaan (18,99%) membuat rumah tangga di desa lebih rentan miskin, karena pengeluaran tembakau. Ini menjadi lingkaran setan yang tak berkesudahan. Kenaikan belanja rokok meningkatkan peluang kemiskinan, karena dana yang seharusnya digunakan untuk meningkatkan ketahanan pangan keluarga justru terpakai.

“Kondisi ini benar-benar memprihatinkan,” ujar ahli gizi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Yuny Erwanto PhD, kepada Infovet. Ia menyebut, fenomena semacam ini sungguh sulit diterima akal sehat. Kebutuhan asupan gizi untuk keluarga dikalahkan dengan kebutuhan rokok.

Ia pun memberikan gambaran kalkulasi kalau dalam sehari orang menghabiskan Rp 25.000 untuk membeli rokok, maka dalam sebulan Rp 750.000 dibakar begitu saja. “Tapi coba kalau dibelikan telur, dengan asmusi Rp 30.000, maka sebulan dia bisa beli 25 kg telur. Gizi keluarga bisa terpenuhi dan sehat,” ujarnya.

Guru Besar Pangan Hasil Ternak Fakultas Peternakan UGM ini menyebut, perputaran uang untuk membeli rokok hanya akan berputar pada pabrik rokok dan cukai ke negara saja. Sementara jika uang dialihkan untuk konsumsi telur atau daging ayam, perputaran uangnya sangat luas. Mulai dari petani jagung, peternak, perusahaan pakan ternak, perusahaan pembibitan, usaha pemotongan hewan, hingga jalur pasar yang melibatkan pelaku usaha.

“Artinya, semakin tinggi biaya yang dikeluarkan untuk konsumsi telur atau daging ayam secara tidak langsung akan membuka lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi masyarakat,” katanya.

Kerupuk juga Masih Dominan
Pola asupan gizi lainnya sebagian masyarakat yang masih kurang tepat adalah konsumsi kerupuk. Tingkat konsumsi kerupuk di Indonesia sangat tinggi dan merata di seluruh lapisan masyarakat, baik di perkotaan maupun perdesaan, menjadikannya makanan pendamping sehari-hari.

Merujuk data BPS pada 2022, konsumsi kerupuk di seluruh Indonesia mencapai 0,03 kg/orang/minggu. Angka tersebut lebih tinggi dari konsumsi makanan ringan lainnya. Untuk 2025, sangat memungkinkan makin tinggi jumlah konsumsinya.

Berdasarkan proyeksi dari Politeknik Kesehatan Jakarta, rata-rata konsumsi kerupuk atau keripik/kapita/minggu diperkirakan meningkat sebesar 6,56%. Data spesifik angka final per tahun untuk 2025 belum dirilis resmi BPS, namun tren menunjukkan peningkatan konsumsi bahan pangan olahan (kerupuk) secara berkelanjutan.

Ternyata, kerupuk bukan hanya digemari di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. BPS mencatat, ekspor kerupuk, keripik, peyek, dan sejenisnya dari Indonesia mencapai US$37,77 juta pada 2023. Nilainya naik 1,35% dibandingkan setahun sebelumnya. Sementara ekspor kerupuk Indonesia pada 2022 mencapai 15.925,1 ton dengan nilai US$37,36 juta. Korea Selatan menjadi negara tujuan utama ekspor kerupuk Indonesia pada 2023. Disusul negara Belanda sebesar US$8,18 juta, lalu ada Tiongkok sebesar US$5,13 juta.

Bagi sebagian masyarakat Indonesia, kerupuk digemari karena ragam jenisnya, harganya terjangkau, dan menjadi pelengkap wajib bagi banyak hidangan utama sebagai lauk. Kurang afdol makan tanpa kerupuk, begitu ucapan sebagian orang.

Nah, jika membandingkan kandungan nutrisi di dalam kerupuk dengan telur dan daging ayam sudah pasti selisih jauh. Telur adalah sumber nutrisi lengkap (protein tinggi, vitamin, mineral) dengan kalori terukur, sementara kerupuk didominasi karbohidrat dan lemak jenuh/trans, serta minim nutrisi penting. Sebanyak 100 g telur (sekitar dua butir) mengandung ~154 kkal dan 12,4 g protein, sedangkan 100 g kerupuk mencapai ~500 kkal dan tinggi garam.

Dari sisi kandungan lemak dan kalori, telur mengandung lemak sehat dan kolesterol. Sebaliknya, kerupuk tinggi kalori dan lemak (terutama lemak gorengan) yang berisiko menyebabkan penumpukan lemak. Telur kaya akan kolin, selenium, yodium, fosfor, besi, serta vitamin A, B, D, dan K. Kerupuk umumnya minim vitamin dan mineral, justru sering tinggi kandungan garam (natrium) yang kurang baik jika berlebihan.

Mengonsumsi telur baik untuk gizi harian dan pertumbuhan. Konsumsi kerupuk berlebih berisiko tinggi terhadap penumpukan kolori, lemak, dan gangguan ginjal. Dengan demikian, konsumsi telur jauh lebih sehat dan padat gizi dibandingkan dengan kerupuk. Kerupuk sebaiknya dikonsumsi hanya sebagai camilan sesekali, bukan sebagai makanan harian.

Dari pengeluaran atau belanja, bisa disimak dari angka sebagai berikut: Harga sebutir telur setara dengan harga satu keping kerupuk untuk sekali makan, dan setara dengan satu batang rokok. Namun dari manfaatnya, telur tentu lebih bergizi dan menyehatkan. ***

Ditulis oleh:
Abdul Kholis
Koresponden Infovet Daerah Depok,
Konsultan media dan penulis buku,
Writing Coach Griya Menulis (Bimbingan Menulis Buku & Jurnalistik),
Juara I Lomba Jurnalistik Tingkat Nasional (Unsoed, 2021) & Juara I Kompetisi Menulis
Artikel Tingkat Nasional dalam rangka HATN, 2022

PERTAMA DI INDONESIA, BUKU PANDUAN BUDI DAYA AYAM PETELUR CAGE-FREE UNTUK JAWAB TUNTUTAN PASAR

Kondisi kandang bebas sangkar memungkinkan ayam bergerak bebas dan mendapat kesejahteraan yang lebih baik. (Foto-foto: Istimewa)

Dalam beberapa tahun terakhir, tren global menunjukkan meningkatnya kepedulian terhadap isu kesejahteraan hewan dan keamanan pangan, khususnya dalam sistem pemeliharaan ayam petelur. Dimana lebih dari 2.300 perusahaan pangan berkomitmen beralih ke penggunaan telur cage-free.

Menanggapi permintaan pasar yang kuat serta meningkatnya perhatian konsumen terhadap keamanan pangan, diterbitkan buku "Budi Daya Ayam Petelur Cage-Free Skala Komersial di Indonesia", pada Selasa, 1 Desember 2025. Buku ini ditulis oleh Sandi Dwiyanto dan Mutzu Huang dari Lever Foundation, dengan tujuan menyediakan metode produksi yang efisien serta analisis ekonomi untuk mendukung produksi telur cage-free berbasis volume.

Penyusunan buku tersebut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Kementerian Pertanian (Kementan), akademisi, asosiasi, perusahaan integrasi, serta peternak.

Sandi Dwiyanto menyampaikan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, permintaan terhadap produk pangan yang lebih etis, aman, dan berkelanjutan terus meningkat. Sejalan dengan tren tersebut, perusahaan pangan global maupun domestik mulai beralih ke penggunaan telur 100% cage-free dalam rantai pasoknya. Di saat yang sama, Kementan juga telah menerbitkan Permentan No. 32/2025 tentang Kesejahteraan Hewan pertama di Indonesia pada akhir 2025 guna memperkuat daya saing sektor pangan nasional.

Bekerja sama dengan Pertanian Press sebagai penerbit, materi dalam buku ini telah disesuaikan sepenuhnya dengan praktik budi daya di Indonesia agar relevan dengan kondisi lokal, sekaligus memperkenalkan metode berkelanjutan dari tingkat internasional untuk kebutuhan pelaku industri perunggasan nasional.

"Melalui buku ini, kami ingin memberikan panduan yang tidak hanya mencakup konsep dan prinsip teknis, tetapi juga pengalaman lapangan, analisis ekonomi, serta praktik manajemen yang telah diterapkan oleh peternak di Indonesia maupun di negara lain. Kami berharap buku ini dapat menjadi referensi yang bermanfaat bagi sektor perunggasan,” ujar Dwiyanto.

Buku ini pun mendapat banyak tanggapan dari para stakeholder perunggasan. Di antaranya dari Staf Ahli Menteri Pertanian Republik Indonesia Bidang Hilirisasi Produk Peternakan, Prof Dr Ir Ali Agus DAA DEA IPU ASEAN Eng, yang menekankan bahwa buku ini menjadi panduan penting di tengah dinamika industri perunggasan global, di mana isu kesejahteraan hewan, keamanan pangan, dan keberlanjutan yang semakin menjadi perhatian.

"Perubahan paradigma menuju sistem produksi yang lebih memperhatikan kesejahteraan hewan merupakan suatu keniscayaan. Di Eropa, sistem battery cage telah ditinggalkan. Australia, Amerika Serikat, Korea Selatan, serta sejumlah negara ASEAN juga bergerak ke arah yang sama. Indonesia perlu memposisikan diri sebagai bagian dari transformasi ini, bukan sekadar mengikuti, terutama ketika tuntutan pasar global dan komitmen perusahaan terhadap telur cage-free terus menguat setiap tahunnya,” tulisnya dalam kata pengantar buku tersebut.

Sementara itu, dari Ketua Umum Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), sekaligus Anggota Komisi IV DPR RI, Heri Dermawan, turut memberikan apresiasinya.

"Tidak dapat dipungkiri bahwa perubahan dalam industri pangan global mendorong kita untuk memikirkan kembali bagaimana praktik budi daya dapat menjadi lebih berkelanjutan, adaptif terhadap kebutuhan pasar, serta tetap menjaga daya saing nasional. Buku ini memberikan gambaran yang komprehensif, mulai dari tren global dan standar kesejahteraan hewan hingga manajemen teknis dan analisis ekonomi, termasuk studi kasus peternakan di Tiongkok serta analisis bisnis di Indonesia yang dapat mendukung pengambilan keputusan strategis bagi peternak yang mempertimbangkan transformasi sistem,” ujarnya.

Buku “Budi Daya Ayam Petelur Cage-Free Skala Komersial di Indonesia".

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU), Achmad Dawami,  yang juga memberikan kata pengantar, turut menyoroti perkembangan industri perunggasan global saat ini menunjukkan peningkatan perhatian terhadap sistem pemeliharaan ayam petelur yang lebih memperhatikan kesejahteraan hewan.

Tren internasional ini, lanjut dia, tidak hanya mendorong munculnya berbagai regulasi baru di sejumlah negara, tetapi juga membentuk ekspektasi pasar terhadap standar produksi yang lebih tinggi.

Ia juga menambahkan, perubahan ini membuka peluang bagi sektor perunggasan Indonesia untuk mengakses segmen pasar baru, baik di dalam negeri maupun dalam rantai pasok global. Namun, peluang tersebut perlu direspons dengan tetap menjaga efisiensi produksi serta mempertimbangkan kondisi pasar domestik agar proses transisi dapat berlangsung secara realistis dan berkelanjutan.

"Saya berharap buku ini dapat menjadi referensi yang bermanfaat bagi para pemangku kepentingan dalam memahami tren dan peluang tersebut, sekaligus menjadi dasar dalam merumuskan strategi yang tepat untuk menghadapi dinamika industri global,” ungkapnya.

Hal tersebut juga diperkuat oleh hasil survei konsumen yang dilakukan Lever Foundation bersama GMO Research pada Juli 2025. Survei menunjukkan bahwa 72% konsumen berpendapat hotel, restoran, supermarket, dan perusahaan makanan seharusnya hanya menggunakan telur bebas sangkar dalam rantai pasok mereka. Selain itu sebanyak 55% konsumen juga menyatakan bahwa mereka lebih cenderung memilih merek makanan yang hanya menggunakan 100% telur cage-free.

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai bagaimana budi daya cage-free, buku ini kini tersedia dan dapat diakses secara gratis melalui website Pertanian Press atau melalui link https://epublikasi.pertanian.go.id/pertanianpress/catalog/book/202.  Kehadiran buku panduan ini diharapkan dapat menjadi referensi praktis sekaligus strategis bagi para pemangku kepentingan, khususnya peternak dan pelaku industri perunggasan, dalam memahami peluang pasar, menavigasi proses transisi, serta mengembangkan sistem produksi yang lebih berkelanjutan dan berdaya saing di tingkat nasional maupun global. (INF)

KETIKA DAGING, SUSU, DAN TELUR MENJADI PENENTU MASA DEPAN BANGSA

Beberapa sumber protein hewani. (Foto: iStock)

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kerap dipahami secara sederhana, anak-anak makan di sekolah, lalu pulang dengan perut kenyang. Padahal, bagi penulis yang lama bergelut di dunia akademik dan lapangan peternakan, MBG jauh lebih besar dari sekadar urusan perut. Ia adalah titik temu antara kebijakan negara, ilmu gizi, kerja keras peternak, dan harapan orang tua akan masa depan anak-anaknya.

Di balik setiap piring makan siswa ada keputusan penting, sumber gizi apa yang disajikan, dari mana asalnya, dan siapa yang diuntungkan. Di sinilah produk peternakan yakni daging, susu, dan telur, memiliki posisi yang tidak tergantikan. Ia bukan hanya komoditas, tetapi penentu kualitas tumbuh kembang, kecerdasan, bahkan daya saing generasi mendatang.

Tulisan ini bukan semata-mata pujian pada MBG, tetapi refleksi kritis dari sudut pandang akademisi lapangan. Bahwa keberhasilan MBG sangat bergantung pada keberanian negara menempatkan produk peternakan lokal sebagai tulang punggung gizi, sekaligus sebagai penggerak ekonomi rakyat.

MBG: Investasi Peradaban
MBG seharusnya dipahami sebagai investasi jangka panjang, bukan belanja rutin tahunan. Setiap rupiah yang dikeluarkan untuk gizi anak hari ini akan menentukan kualitas sumber daya manusia puluhan tahun ke depan. Negara-negara maju telah lama menempatkan gizi anak sebagai fondasi peradaban.

Dalam konteks ini, MBG bukan hanya urusan dapur sekolah, tetapi kebijakan strategis lintas sektor dari pendidikan, kesehatan, pertanian, dan peternakan. Jika salah memilih komposisi gizi, maka peluang emas ini bisa berubah menjadi program mahal dengan dampak minimal.

Sebagai akademisi, penulis melihat MBG sebagai laboratorium kebijakan. Di sinilah ilmu gizi, data stunting, dan realitas lapangan diuji secara nyata, bukan hanya di atas kertas laporan.

Sumber Gizi Lengkap yang Tak Tergantikan
Produk peternakan bukan hanya soal gizi anak sekolah, tetapi juga soal keberlangsungan hidup jutaan peternak rakyat. Ketika negara memilih daging, susu, dan telur sebagai sumber utama gizi MBG, pada saat yang sama negara sedang memilih untuk menghidupkan kandang-kandang kecil di desa.

Bagi peternak, kepastian bahwa produk mereka dibutuhkan secara rutin adalah bentuk keberpihakan paling nyata. MBG membuka ruang pasar yang stabil, terukur, dan berkelanjutan, sesuatu yang selama ini sulit diakses peternak kecil karena fluktuasi harga dan ketergantungan pada tengkulak.

Dengan menjadikan produk peternakan sebagai komponen utama MBG, negara sebenarnya sedang menautkan dua tujuan besar sekaligus, yakni memperbaiki gizi anak dan menjayakan peternak lokal.

Telur Ayam, Protein Murah dengan Dampak Besar
Di banyak desa, usaha ternak ayam petelur dijalankan oleh keluarga dengan modal terbatas. Telur menjadi penopang ekonomi harian, namun harganya sering jatuh ketika produksi melimpah. MBG dapat menjadi penyeimbang yang adil bagi kondisi ini.

Dengan kebutuhan telur dalam jumlah besar dan berkelanjutan, MBG menciptakan permintaan yang relatif stabil. Bagi peternak ayam petelur, ini berarti kepastian penyerapan hasil produksi dan peluang memperbaiki manajemen usaha tanpa dibayangi ketidakpastian pasar.

Setiap butir telur yang tersaji di piring anak sekolah sesungguhnya adalah bukti bahwa negara hadir hingga ke kandang rakyat. Anak mendapatkan gizi, peternak mendapatkan harapan.

Susu dan Kalsium: Fondasi Sunyi bagi Pertumbuhan Generasi
Peternak sapi perah selama ini hidup dalam tekanan biaya pakan dan harga jual susu yang tidak selalu berpihak. MBG berpotensi menjadi jalan keluar jika dirancang dengan keberpihakan pada susu segar lokal.

Keterlibatan koperasi susu dan peternak kecil dalam rantai pasok MBG akan menciptakan efek domino positif. Produksi meningkat, kualitas diperbaiki, dan pendapatan peternak menjadi lebih layak.

Ketika anak-anak terbiasa minum susu hasil peternak lokal, sesungguhnya kita sedang menanam dua fondasi sekaligus, yaitu tulang yang kuat dan ekonomi desa yang hidup.

Daging dan Zat Besi
Bagi peternak sapi dan kambing rakyat, pasar daging sering kali tidak ramah. Harga fluktuatif, rantai distribusi panjang, dan posisi tawar yang lemah menjadi persoalan klasik. MBG dapat mengubah peta ini jika dikelola dengan tepat.

Meski tidak disajikan setiap hari, kebutuhan daging yang terencana dalam MBG menciptakan pasar yang lebih pasti. Ini memberi ruang bagi peternak untuk merencanakan produksi, penggemukan, dan perbaikan kualitas ternak.

Dengan demikian, daging dalam MBG bukan sekadar menu bergizi, tetapi juga simbol keberpihakan negara pada peternak ruminansia sebagai bagian dari ketahanan pangan nasional.

Peternak Lokal di Balik Piring Anak Sekolah
Peternak lokal di balik piring anak sekolah jarang disadari, setiap menu MBG menyimpan cerita peternak di desa. Dari kandang sederhana, mereka menyumbang gizi bagi anak-anak yang mungkin tak pernah mereka temui.

Jika rantai pasok dikelola dengan adil, MBG bisa menjadi kebijakan pro-peternak rakyat. Bukan hanya menyerap produk, tetapi juga memberi kepastian harga. Inilah wajah keadilan pangan yang sering luput dari diskusi publik.

Ketahanan Pangan Dimulai dari Kandang, Bukan dari Impor
Ketika MBG dijalankan dengan orientasi impor, maka yang terjadi hanyalah pemindahan anggaran negara ke luar negeri. Padahal, ketahanan pangan sejati justru dimulai dari kandang-kandang peternak rakyat yang selama ini berjuang dengan keterbatasan modal dan akses pasar.

Peternak lokal sebenarnya memiliki kapasitas untuk memenuhi kebutuhan daging, susu, dan telur jika didukung dengan kebijakan yang konsisten. Dukungan tersebut tidak selalu berupa subsidi, tetapi bisa dalam bentuk kepastian serapan, regulasi harga yang adil, dan pendampingan teknis berkelanjutan.

MBG seharusnya menjadi momentum koreksi arah kebijakan pangan nasional, dari ketergantungan impor menuju kemandirian berbasis produksi dalam negeri.

MBG dan Peluang Kebangkitan Peternakan Rakyat
Permintaan besar dan rutin dari MBG membuka peluang kebangkitan peternakan rakyat yang selama ini stagnan. Pasar yang pasti memberi keberanian bagi peternak untuk meningkatkan skala usaha, memperbaiki kandang, dan mengadopsi teknologi sederhana.

Namun peluang ini tidak datang otomatis. Tanpa tata kelola yang berpihak, peternak kecil berisiko kembali tersisih oleh pemain besar. Karena itu, desain MBG harus memastikan keterlibatan koperasi, kelompok ternak, dan UMKM peternakan.

Jika dikelola dengan adil, MBG dapat menjadi tonggak sejarah kebangkitan peternakan rakyat di Indonesia.

Tantangan Mutu, Keamanan, dan Kontinuitas
Produk peternakan memiliki karakter mudah rusak dan sensitif terhadap penanganan. Oleh karena itu, rantai pasok MBG harus dirancang dengan standar mutu dan keamanan pangan yang ketat.

Bagi peternak, standar ini bukan ancaman, melainkan peluang untuk naik kelas. Dengan pendampingan yang tepat, peternak dapat meningkatkan kualitas produksi sekaligus memperoleh nilai tambah.

Di sinilah peran pemerintah daerah dan perguruan tinggi menjadi krusial sebagai jembatan antara kebijakan dan praktik lapangan.

Ilmu Peternakan yang Bekerja Diam-diam
Kualitas produk peternakan tidak lahir secara instan. Ia ditentukan sejak pemilihan bibit, manajemen pakan, hingga kesehatan ternak.

Ilmu peternakan sering kali bekerja di balik layar, namun menjadi penentu keberhasilan MBG. Tanpa pakan berkualitas dan manajemen yang baik, sulit mengharapkan produk bermutu tinggi.

MBG seharusnya juga mendorong pemanfaatan pakan lokal dan inovasi sederhana yang dapat diterapkan peternak rakyat.

Gizi Hewani dan Keadilan Sosial bagi Anak Indonesia
Akses terhadap protein hewani masih menjadi kemewahan bagi sebagian anak Indonesia. Kondisi ini menciptakan kesenjangan gizi yang berdampak jangka panjang.

MBG hadir sebagai instrumen keadilan sosial, memastikan bahwa setiap anak, tanpa memandang latar belakang ekonomi, memperoleh gizi yang layak.

Ketika produk peternakan lokal menjadi bagian dari MBG, keadilan sosial bagi anak bertemu dengan keadilan ekonomi bagi peternak.

Menghubungkan Sekolah, Peternak, dan Negara dalam Satu Ekosistem
MBG tidak boleh dipahami sebagai hubungan jual beli semata. Ia harus dibangun sebagai sebuah ekosistem yang saling menguatkan. Sekolah menjadi titik distribusi gizi, peternak sebagai produsen, dan negara sebagai penjamin keberlanjutan.

Ketiganya harus terhubung dalam sistem yang transparan. Ekosistem inilah yang akan memastikan MBG berjalan konsisten dan berkelanjutan.

Menjaga Harapan di Setiap Butir Telur dan Tetes Susu
Pada akhirnya, MBG adalah tentang harapan yang dititipkan pada hal-hal sederhana, pada butir telur, tetes susu, dan potongan daging. Di sanalah gizi bertemu dengan kerja keras, dan kebijakan bertemu dengan kehidupan nyata.

Harapan orang tua agar anaknya tumbuh sehat, harapan guru melihat muridnya lebih fokus belajar, dan harapan peternak agar jerih payahnya dihargai. Harapan-harapan ini tidak lahir di ruang rapat, tetapi di kandang, di dapur sekolah, dan di meja makan keluarga.

Jika MBG dikelola dengan hati dan ilmu, maka dari kandang-kandang rakyat itulah masa depan bangsa perlahan dibangun.

Catatan Akademisi Lapangan
Sebagai akademisi yang kerap turun ke lapangan, penulis melihat langsung bagaimana peternak rakyat bekerja dalam sunyi. Mereka bangun lebih pagi dari kebanyakan orang, merawat ternaknya dengan sumber daya terbatas, dan bertahan di tengah harga yang sering kali tak berpihak.

MBG menghadirkan harapan baru, bukan janji kosong, bahwa kerja keras itu akhirnya mendapat tempat dalam kebijakan negara. Namun harapan ini hanya akan menjadi kenyataan jika MBG dirancang secara adil, transparan, dan benar-benar berpihak pada produksi peternakan dalam negeri.

Pada titik inilah MBG diuji. Apakah ia berhenti sebagai program makan gratis, atau benar-benar menjadi jalan bersama menuju generasi yang lebih sehat dan peternakan rakyat yang berdaulat. ***

Ditulis oleh:
Assoc Prof Dr Ir Sadarman SPt MSc IPM
Dosen Ilmu Nutrisi dan Pakan Ternak,
Prodi Peternakan UIN Sultan Syarif Kasim Riau
Wartawan Infovet Daerah Riau

PUASA, MAKAN TELUR AGAR TAK GAMPANG LELAH

Konsumsi telur saat makan sahur dan berbuka puasa sangat bermanfaat untuk menjaga kekuatan tubuh. (Foto: Istimewa)

Selama berpuasa, asupan protein dari telur sangat dianjurkan agar tubuh tak mudah lelah. Cukup dua butir saat sahur, dan dua butir saat berbuka. Kuat beraktivitas seharian. Tak percaya? Silakan dicoba.

Menjalankan ibadah puasa selain sebagai bentuk ketaatan spiritual bagi umat muslim, juga memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan tubuh, terutama terkait dengan manajemen nutrisi. Selama berpuasa, tubuh tidak menerima asupan makanan dan minuman selama kurang lebih 14 jam.

Untuk menjaga kesehatan dan kebugaran, penting untuk memperhatikan asupan gizi saat sahur dan berbuka. Makanan yang dikonsumsi sebaiknya mengandung karbohidrat kompleks, protein, lemak sehat, vitamin, dan mineral. Karbohidrat kompleks seperti nasi merah, kentang, jagung, atau ubi, dicerna lebih lambat oleh tubuh sehingga memberikan efek kenyang lebih lama.

Meski harga kebutuhan pokok dikabarkan masih mahal, namun asupan nutrisi dalam tubuh harus tetap terpenuhi. Maka, pilihlah makanan sumber protein tinggi tapi harga murah. Selama berpuasa, asupan protein yang cukup sangat dianjurkan agar tubuh tak mudah lelah.

Salah satu sumber protein yang murah dan mudah dijangkau adalah telur. Konsumsi telur saat makan sahur dan berbuka puasa sangat bermanfaat untuk menjaga kekuatan tubuh. Menurut ahli gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Prof Dr Ir Ali Khomsan, konsumsi telur ayam dianjurkan saat berbuka dan sahur untuk semua kalangan, baik anak-anak maupun orang dewasa.

“Kandungan asam amino yang ada di dalam telur dan daging ayam juga cukup bagus untuk kesehatan tubuh. Asam amino berperan penting karena membantu pembentukan protein sebagai bahan dasar pembentuk sel, otot, serta sistem kekebalan tubuh,” ujar pakar gizi ini.

Kebutuhan protein harian setiap orang berbeda-beda bergantung pada usia, jenis kelamin, serta berat badan. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengeluarkan Peratuan Menteri Kesehatan (Permenkes) mengenai anjuran Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang bisa dijadikan acuan dalam memenuhi kebutuhan protein harian tubuh.

Dalam Permenkes tersebut dijelaskan, protein merupakan salah satu zat gizi makro yang memiliki peran penting dalam proses pembentukan jaringan tubuh. Protein turut membantu pembentukan enzim yang dapat mengoptimalkan fungsi setiap organ di dalam tubuh. Inilah yang menjadi alasan pentingnya mencukupi kebutuhan protein harian tubuh.

Sebagai salah satu zat gizi makro, protein memiliki fungsi yang cukup signifikan di dalam tubuh. Protein ini nantinya akan dicerna menjadi asam amino yang digunakan untuk berbagai macam proses di dalam tubuh. Ada sejumlah fungsi protein pada tubuh di antaranya membantu proses pembentukan sel dan jaringan tubuh yang baru, memperbaiki sel dan jaringan tubuh yang rusak, sebagai sumber asam amino, menjaga kesehatan tulang dan otot, serta mengoptimalkan sistem kekebalan tubuh.

Cara mengetahui kebutuhan protein harian dapat mengikuti anjuran AKG dari Menkes. Menurut AKG di 2019, kebutuhan protein harian setiap individu dibagi berdasarkan usia dan jenis kelamin. Berikut penjelasannya, bagi laki-laki yang sudah memasuki masa pubertas, kebutuhan protein harian cenderung bertambah dan menyesuaikan aktivitas sehari-hari. Untuk usia 10-12 tahun membutuhkan 50 gram/hari, usia 13-15 tahun 70 gram/hari, usia 16-18 tahun 75 gram/hari, usia 19-64 tahun 65 gram/hari, dan usia 65 tahun ke atas 64 gram/hari.

Sementara untuk perempuan cenderung memerlukan lebih banyak protein saat sedang dalam masa pubertas. Namun, kebutuhan protein ini akan berangsur menurun seiring pertambahan usia. Adapun kebutuhan protein perempuan per hari sesuai AKG dari Menkes yaitu usia 10-12 tahun membutuhkan 55 gram/hari, usia 13-18 tahun 65 gram/hari, usia 19-64 tahun 60 gram/hari, dan usia 65 tahun ke atas 58 gram/hari.

Dengan memperhatikan khasiat yang begitu banyak, makan telur dua butir setiap sahur dan dua butir saat berbuka, sudah mencukupi setengah kebutuhan protein harian bagi orang dewasa. Setengah kebutuhan lagi dapat dipenuhi dari sumber protein lainnya seperti kacang-kacangan, ikan, dan lainnya.

Jangan "Balas Dendam"
Pada dasarnya, kebutuhan protein harian tubuh dapat dipenuhi dengan mengonsumsi makanan tinggi protein dalam jumlah yang cukup, baik sumber protein hewani maupun nabati. Perolehan protein hewani tak harus dari telur ayam, tetapi bisa digantikan dengan telur puyuh, bebek, atau daging ayam.

Jika bosan konsumsi bahan makanan yang mengandung protein hewani, juga bisa dialihkan ke protein nabati seperti biji-bijian, kacang-kacangan, gandum, tempe, dan tahu.

Dapat disimpulkan bahwa selama menjalankan ibadah puasa, kebutuhan protein harian penting untuk dicukupi guna menyokong proses metabolisme dan pembentukan jaringan di dalam tubuh. Namun diingat, konsumsi makanan selama berpuasa juga sangat dianjurkan tidak berlebihan.

Jangan momen makan sahur dan berbuka puasa menjadi ajang "balas dendam" untuk makan sebanyak-banyaknya. Tubuh memiliki takaran dan dari sisi kesehatan berpuasa sangat menyehatkan badan.

Menurut pakar gizi, Ali Khomsan, mengonsumsi satu jenis menu secara terus-menerus memang bisa membosankan. Karena itu, variasi dalam mengolah telur sangatlah penting. Salah satunya dengan diolah dadar atau diolah menjadi menu kesukaan keluarga.

Manajemen Asupan Nutrisi 
Selama bulan puasa, dalam banyak literatur kesehatan cukup banyak anjuran pola makan saat sahur dan berbuka. Pada saat sahur, disarankan mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang, termasuk karbohidrat kompleks, protein hewani dan nabati, sayuran, buah-buahan, dan air putih. Selain itu, tubuh juga perlu menghindari makanan yang terlalu asin atau berminyak karena dapat menyebabkan rasa haus berlebih.

Pada saat berbuka sebaiknya minum dengan air putih untuk merehidrasi tubuh, diikuti dengan makanan manis alami seperti kurma yang kaya akan serat dan gula alami. Setelah itu, konsumsi makanan utama dengan porsi seimbang yang mencakup karbohidrat, protein, sayuran, dan buah.

Selain itu, untuk mencegah dehidrasi, kebutuhan cairan harian tubuh juga patut diperhatikan, yakni sekitar dua liter atau delapan gelas per hari. Pembagian waktu minum air putih dapat diatur, yakni dua gelas saat berbuka puasa, satu gelas sebelum sholat tarawih, satu gelas setelah sholat tarawih, dua gelas sebelum tidur, dan dua gelas saat sahur.

Melakukan olahraga ringan, seperti jalan kaki atau bersepeda statis, tetap dianjurkan saat berpuasa untuk menjaga kebugaran. Waktu yang tepat untuk berolahraga adalah menjelang berbuka puasa atau setelahnya, dengan intensitas yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu.

Dengan demikian, manajemen nutrisi yang tepat selama berpuasa sangat penting untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh. Dengan memperhatikan asupan gizi seimbang, pemenuhan kebutuhan cairan, serta aktivitas fisik yang sesuai, puasa dapat dijalani dengan optimal tanpa mengorbankan kesehatan. ***

Ditulis oleh:
Abdul Kholis
Koresponden Infovet Daerah Depok,
Konsultan media dan penulis buku,
Writing Coach Griya Menulis (Bimbingan Menulis Buku & Jurnalistik),
Juara I Lomba Jurnalistik Tingkat Nasional (Unsoed, 2021) & Juara I Kompetisi Menulis
Artikel Tingkat Nasional dalam rangka HATN, 2022

CARA “MENCURIGAI” AYAM TIREN & DAGING OPLOSAN

Ciri daging ayam bangkai, berformalin, dan/atau disuntik air. (Sumber: Buku Cara Pintar Pilih Pangan Asal Hewan)

Para pedagang nakal ini muncul memanfaatkan menipisnya stok daging ayam di pasaran. Begitu harga naik, mereka mengemas ayam tiren jadi ayam “segar” dan dijual dengan harga murah. Para pedagang nakal ini memanfaatkan ketidaktahuan konsumen.

Meluasnya pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah untuk anak sekolah, kaum lansia, dan balita melalui Posyandu, berdampak pada menipisnya stok daging dan telur ayam di pasar. Hasil penelusuran Infovet pada liputan edisi akhir tahun 2025 menyebutkan, menipisnya stok telur ayam di pasar-pasar tradisional, salah satunya, disebabkan para peternak mengalihkan supply daging dan telurnya ke pemilik dapur MBG.

Masyarakat tentu merasa terbantu dengan adanya program MBG bisa mengurangi pengeluaran belanja urusan dapur, meski sedikit. Namun menipisnya stok daging dan telur ayam di pasar juga berkibat naiknya harga komoditi ini.

Akhir tahun kemarin, harga telur ayam mencapai Rp 33.000/kg, padahal harga sebelumnya hanya berkisar Rp 25.000/kg. Harga daging ayam mencapai Rp 45.000/kg, padahal sebelumnya hanya berkisar Rp 33.000/kg.

Melambungnya harga kedua komoditas tersebut rupanya menimbulkan permasalahan di pasar-pasar tradisional. Tak sedikit para pedagang nakal muncul menjual daging ayam yang tak layak konsumsi. Lagi-lagi yang menjadi korban adalah pembeli. Kondisi macam ini seolah menjadi siklus yang terus terjadi.

Ada saja pedagang yang sengaja melakukan tipu-tipu dalam usahanya. Tak sedikit pedagang yang nakal dengan menyuntikkan air ke dalam daging ayam, sehingga berat melebihi dari seharusnya. Ada juga yang menjual karkas ayam yang menggunakan formalin.

Ada pula yang memanfaatkan ayam yang sudah mati sebelum dipotong (tiren, ayam mati kemarin-red), menjadi menu olahan atau dijual dalam bentuk karkas. Karkas ayam tiren biasanya diolesi dengan bahan kimia tertentu, sehingga kelihatan seperti ayam baru dipotong. Tipu-tipu kualitas daging semacam ini hampir setiap waktu terjadi.

“Saya juga pernah mengalami kejadian seperti ini. Beli ayam di pasar kelihatannya dari luar bagus. Begitu sampai di rumah, waktu di masak baru keluar bau busuknya,” tutur Lilik Utami, warga Komplek Bumi Sawangan Indah, Kecamatan Sawangan, Kota Depok, kepada Infovet.

Ketidaktahuan Wartini akan kualitas daging ayam menyebabkan ia percaya saja dengan pedagang di pasar. Ia mengaku, sebenarnya ia sudah agak curiga dengan ayam yang akan dibeli, warnanya agak gelap dan kemerahan, tidak seperti biasanya. Bau busuknya juga sedikit tercium.

Tapi, karena lingkungan di pasar tradisional memang bau menyengat, ibu rumah tangga ini tidak ingin buruk sangka. Apalagi harga daging ayam tersebut lebih murah dibanding di bakul lainnya, Lilik pun tergoda untuk membelinya.

“Dalam masalah seperti ini memang dibutuhkan kejujuran para pedagangnya. Jangan menipu pembeli,” ujar Dosen Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) Ir Edi Suryanto MSc PhD IPU.

Upaya tipu-tipu menjaul daging unggas maupun daging sapi, menurutnya, sudah berlangsung lama, bahkan berulang-ulang terjadi. Ada sekelompok orang yang secara sengaja memaksakan kehendak dalam mencari rezeki secara tidak halal. Karena itum dibutuhkan kepintaran dari konsumen untuk lebih teliti dan hati-hti dalam membeli produk protein hewani.

Agar Tidak Tertipu
Menurut Buku Cara Pintar Pilih Pangan Asal Hewan yang diterbitkan Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Produk Hewan (BPMSPH), Kementerian Pertanian, ada beberapa yang perlu dikenali untuk memastikan daging ayam aman dan tidak ada tipu-tipu.

Ciri-ciri daging ayam yang baik menurut para peneliti yang menyusun buku ini adalah warna daging ayam putih kemerahan dan cerah. Bau tidak menyimpang (tidak berbau amis, menyengat, dan asam). Permukaan daging terlihat lembap (tidak kering dan tidak basah).

Selain itu, permukaan daging ayam juga tampak bersih dan tidak ada darah. Serabut daging relatif halus. Kadang daging menyatu dengan kulit. Untuk karkas dalam bentuk beku (frozen), daging ayam disimpan dalam kondisi dingin (1-10 °C). Sementara untuk daging ayam yang sudah tergolong bangkai (mati tanpa disembelih), pada bagian permukaan karkas terlihat warna kemerahan (seperti memar).

Ciri lainnya, cobalah perhatikan pada bagian pangkal sayapnya. Pembuluh darah pada pangkal sayap berwarna biru kehitaman karena berisi darah. Konsumen juga perlu perhatikan pada pembuluh darah di balik kulitnya. Pembuluh darah kapiler terlihat jelas (merah kehitaman). Perhatikan juga pada daging di balik kulitnya, terdapat warna kemerahan pada daging (seperti memar).

Daging Ayam Berformalin
Bagaimana dengan daging ayam berformalin? Ayam berformalin adalah karkas/daging ayam yang mengandung formalin yang diberikan melalui suntikan ke dalam daging atau pencelupan daging ke dalam larutan formalin.

Konsumen bisa memperhatikan pada bagian leher, ada pembuluh darah yang tidak terpotong. Permukaan potongan saluran napas (trakea), saluran makan (esofagus), dan pembuluh darah rata, pembuluh darah terisi darah dan berwarna kehitaman (gelap).

Masih dalam Buku Cara Pintar Pilih Pangan Asal Hewan, pada ayam yang berformalin jika dicubit bagian kulitnya (dianjurkan menggunakan sarung tangan atau menggunakan pinset) maka kulit tidak kembali ke semula dan kulit terlihat kaku.

Adapun kasus lain yang sering dijumpai adalah ayam disuntik dengan air, seperti yang dialami oleh Krishandini. Ayam suntik adalah ayam yang diberikan air melalui suntikan ke dalam daging dengan tujuan menambah berat daging.

Konsumen bisa memperhatikan bagian kulit karkas ayam tampak meregang, karena daging terisi air. Perhatikan juga pada bagian paha, biasanya ada bekas jarum suntikan. Lubang-lubang kecil itu merupakan bekas suntikan untuk memasukan air.

Waspadai Daging Celeng
Kewaspadaan konsumen juga tak kalah penting saat membeli daging sapi, baik daging sapi mentah maupun yang sudah dalam bentuk olahan. Sejak lama, kasus yang sering terjadi adalah adanya daging oplosan antara daging sapi dan daging babi hutan (celeng).

Di saat harga daging melonjak, para pedagang yang curang kerap memanfaatkan momen ini. Para pedagang ini mencampur daging sapi dengan daging babi hutan dalam satu timbangan. Bagi yang jeli dan sudah tahu perbedaan antara daging sapi dengan daging babi hutan, pasti akan menolak. Namun bagi masyarakat lain yang masih awam dengan perbedaan tersebut, tentu sangat dirugikan. Terlebih bagi konsumen yang muslim.

Yang lebih sulit lagi untuk membedakan keduanya adalah saat sudah menjadi makanan olahan seperti bakso, sosis, dan lainnya. Harga memang jadi lebih murah dibanding dengan bakso yang hanya menggunakan bahan daging sapi saja.

Menurut Edi Suryanto, dari sisi Islam pencampuran atau pengoplosan akan menimbulkan kerugian besar. Kerugian juga datang dari sisi jasmani atau tubuh orang yang mengonsumsi barang haram tersebut. “Kotoran yang ada dalam barang haram antara lain seperti racun-racun, mikrobia perusak, mikrobia penyebab penyakit, parasit, dan berbagai macam virus,” ujarnya.

Untuk menghindari keraguan masyarakat dalam membeli daging, Edi menyampaikan tips penting untuk membedakan antara daging sapi dan daging babi hutan mentah. Menurutnya, tidak terlalu sulit untuk membedakannya secara kasat mata.

Daging mempunyai ciri atau karakteristiknya sendiri. Misalnya, daging sapi berbeda dengan daging babi, daging unggas berbeda dengan daging sapi ataupun daging babi. Perbedaan disebabkan antara lain oleh genetik, pakan, umur, dan manajemen.


Bagaimana jika sudah jadi olahan? Ini juga masalah yang sering kali dihadapi konsumen. Menurut Edi, daging sapi dan daging babi hutan yang sudah matang juga masih dapat dibedakan. “Warna daging sapi matang cokelat gelap, sedangkan warna daging babi matang cokelat pucat,” ujarnya. 

Jika olahan berkuah, maka kuah daging sapi memberikan aroma yang khas daging sapi, sedangkan kuah daging celeng aromanya berbeda. Lemak daging sapi akan menggumpal saat dingin, sedangkan lemak daging babi tetap cair saat dingin. ***

Ditulis oleh:
Abdul Kholis
Koresponden Infovet Daerah Depok,
Konsultan media dan penulis buku,
Writing Coach Griya Menulis (Bimbingan Menulis Buku & Jurnalistik),
Juara I Lomba Jurnalistik Tingkat Nasional (Unsoed, 2021) & Juara I Kompetisi Menulis
Artikel Tingkat Nasional dalam rangka HATN, 2022

STABILKAN HARGA, GPM DAN SPHP JAGUNG DILAKSANAKAN SEPANJANG RAMADAN

Daging ayam. (Foto: Istimewa)

Komoditas daging ayam dan telur ayam terus menjadi perhatian pemerintah. Sumber protein hewani yang paling terjangkau tersebut patut dijaga kestabilan harganya di pasaran. Terbaru, Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut rata-rata harga kedua komoditas itu mulai sedikit melampaui Harga Acuan Penjualan (HAP) tingkat konsumen pada minggu kedua Februari 2026.

Badan Pangan Nasional (Bapanas) berkolaborasi dengan kalangan swasta menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) daging ayam beku. Adapun perusahaan yang terlibat antara lain PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPI) dan PT Japfa Comfeed Indonesia (Japfa).

CPI menggelar GPM daging ayam beku di 1.200 outlet penjualan yang tersebar di seluruh Indonesia. Sementara Japfa memastikan GPM daging ayam beku tersedia di 500 outlet jaringannya. Masyarakat dipastikan dapat memperoleh daging ayam beku seharga Rp 40.000/kg. Periodenya mulai 18 Februari sampai sehari sebelum Idulfitri.

“Untuk daging ayam di beberapa tempat kami pantau di wilayah Jakarta dan Tangerang relatif masih bagus. Harga Rp 40.000, paling tinggi. Nah ini ada inisiatif positif kami bersama PT CPI dan Japfa menggelar GPM daging ayam ras. Jadi masyarakat dipastikan bisa membeli sesuai HAP yang telah ditentukan pemerintah,” ujar Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan, Maino Dwi Hartono, di Jakarta pada Kamis (19/2/2026).

Sementara menurut BPS, rata-rata harga daging ayam ras sampai minggu kedua Februari 2026 berada di Rp 40.471/kg dengan batas maksimal HAP tingkat konsumen di Rp 40.000/kg. Jumlah daerah yang mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) daging ayam ras disebutkan mencapai 155 kabupaten/kota.

Akan tetapi, dari 155 kabupaten/kota tersebut, hanya 53 daerah saja yang mengalami rata-rata harga daging ayam ras melampaui HAP tingkat konsumen. Sementara 102 daerah mengalami kenaikan IPH tapi harganya masih tidak melebihi HAP tingkat konsumen.

Sementara untuk komoditas telur ayam ras, Maino menjelaskan bahwa kondisi harga saat ini masih terpantau stabil tanpa gejolak berlebihan. Ia optimis harga telur ayam ras sepanjang Ramadan dapat terkendali. Terlebih, pemerintah telah menyiapkan paket program intervensi pangan yang tidak hanya menyasar konsumen saja, namun juga produsen pangan dalam negeri seperti peternak unggas.

“Kalau telur bervariasi. Ada yang Rp 30.000, ada yang Rp 31.000, tapi kecenderungan memang sudah turun di beberapa tempat. Mulai menurun menjadi Rp 29.000-30.000 untuk telur, menurut pantauan kami,” ucap Maino.

Dalam laporan BPS, untuk rata-rata harga telur ayam ras secara nasional sampai minggu kedua Februari 2026, disebutkan berada di Rp 31.757/kg dengan HAP tingkat konsumen maksimal di Rp 30.000/kg. Sementara jumlah daerah yang mengalami kenaikan IPH telur ayam ras mencapai 80 daerah. Dari jumlah daerah itu, hanya 28 kabupaten/kota yang mengalami harga telur ayam ras melewati HAP tingkat konsumen, sementara 52 kabupaten/kota lainnya masih cukup aman dan sesuai koridor.

Salah satu upaya lain pemerintah untuk menjaga kestabilan harga daging ayam dan telur adalah pelaksanaan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung pakan. Anggaran sebesar Rp 678 miliar, target penyaluran SPHP jagung pakan ke para peternak mencapai total 242 ribu ton.

Diharapkan program ini dapat menjadi angin segar karena target SPHP jagung di 2026 meningkat drastis hingga hampir lima kali lipat dibandingkan realisasi tahun sebelumnya. Adapun penyaluran SPHP jagung 2025 berada di angka 51,2 ribu ton yang menyasar ke 3.578 peternak ayam ras petelur di 17 provinsi.

Terpisah, Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, meminta agar harga daging ayam ras dan telur tidak ada kenaikan. Ini karena kedua komoditas tersebut telah surplus secara nasional. Produksi dalam negeri mampu penuhi kebutuhan konsumsi rakyat Indonesia.

“Daging ayam dan telur ayam tidak boleh naik. Kita surplus. Tidak ada alasan naik. Kita sekarang sudah swasembada sembilan komoditas. Termasuk telur dan daging ayam, kita sudah swasembada,” kata Amran saat di acara Gerakan Pangan Murah Serentak Nasional di Jakarta (13/2/2026). (INF)

JANGAN SIA-SIAKAN CANGKANG TELUR, ADA MANFAATNYA

Kandungan kalsium pada cangkang telur dapat dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi. (Foto: Istimewa)

Cangkang telur mengandung kalsium yang berfungsi untuk meningkatkan pertumbuhan dinding sel tanaman. Tanpa asupan tersebut, tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik dan cepat.

Pagi itu, pukul 05:30, suasana dapur penyedia Makan Bergizi Gratis (MBG) di kawasan Cinangka, Kota Depok, tampak ramai. Para pekerja dapur tampak sibuk menyiapkan ratusan paket makanan yang akan dikirim ke sekolah tak jauh dari lokasi dapur MBG. Di bagian luar belakang dapur, tampak seorang pria paruh baya sedang memilah sampah sisa dapur.

Sutarno, pemilah sampah tersebut memisahkan cangkang telur dari sampah basah lainnya. Pecahan cangkang telur ayam yang cukup banyak itu ia masukkan ke dalam plastik. Sementara, sampah sisa sayuran dan lainnya dimasukan ke dalam plastik lain.

Aktivitas mengepul sampah dari dapur MBG dilakukan Sutarno selepas waktu subuh. Menurutnya, kepingan cangkang telur tersebut sengaja dipisah, karena sudah dipesan oleh tetangganya. “Katanya sih buat campuran pupuk organik. Saya juga enggak tahu persis, yang penting dibayar. Sekilo bisa Rp 10 ribu, lumayan,” tuturnya.

Memanfaatkan sampah cangkang telur untuk pupuk tanaman sudah diketahui banyak orang, terutama para pecinta tanaman hias.

Dalam banyak literatur disebutkan, cangkang telur mengandung garam yang tinggi serta senyawa organik dalam telur dikhawatirkan dapat mencemari lingkungan akibat aktivitas mikroba di dalamnya. Namun, kandungan kalsium pada cangkang telur cukup tinggi dan dapat bermanfaat sebagai sumber nutrisi pada tanaman.

Cangkang telur juga memiliki kandungan fosfor yang cukup yang dapat bermanfaat untuk tanaman. Salah satu pemanfaatan cangkang telur yaitu dengan mengolah cangkang telur menjadi pupuk organik cair.

Dalam artikel berjudul Potensi Cangkang Telur Sebagai Pupuk Pada Tanaman Cabai Di Desa Sayang Kabupaten Jatinangor, karya Engela Evy Ernawati, Atiek Rostika Noviyanti, Yati B. Yuliyati, dari Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Padjadjaran, disebutkan kandungan cangkang telur terdiri atas 97% kalsium karbonat, sisanya fosfor, magnesium, natrium, kalium, seng, mangan, besi, dan tembaga. Cangkang telur mengandung hampir 95,1% adalah garam-garam organik, 3,3% bahan organik (terutama protein), dan 1,6% air.

Kandungan kalsium pada cangkang telur yang cukup besar dapat dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi bagi tanaman. Kalsium merupakan suatu zat yang berperan penting dalam pembentukan struktur tubuh, tulang, dan gigi pada manusia dan hewan, serta dinding sel pada tanaman.

Peran kalsium lain khususnya pada tanaman antara lain, menebalkan dinding sel, meningkatkan pemanjangan sel akar, kofaktor proses enzimatis dan hormonal, pelindung dari cekaman panas, hama, dan penyakit.

Sudah Diteliti Profesor
Keabsahan informasi tentang kandungan cangkang telur juga disampaikan oleh Prof Ambar Pertiwiningrum PhD dari Departemen Teknologi Hasil Ternak, Fapet UGM, yang melakukan penelitian ini. “Kami sudah lama melakukan penelitian tentang pengolahan lain dari limbah untuk dapat menghasilkan nilai tambah bagi para petani, khusunya petani jamu,” ujarnya kepada Infovet.

Limbah cangkang telur tak hanya bermanfaat untuk pupuk tanaman hias, tetapi juga baik untuk tanaman sayuran seperti jamur tiram. Guru besar ini bukan hanya meneliti cangkang telur, namun juga pemanfaatan limbah kotoran unggas untuk meningkatkan produksi jamur tiram. Tentu saja setelah melalui proses pengolahan.

Selain membuat media jamur sebagai substitusi dedak oleh limbah biogas kotoran ayam, Prof Ambar juga menggunakan limbah cangkang telur yang dapat digunakan sebagai pengganti kapur yang lebih ramah lingkungan.

Master Gardeners dari Hamilton County, Tenn, melalui laman SF Gate menyebutkan, cangkang telur terbuat dari kalsium karbonat. Ini merupakan bahan utama yang digunakan dalam kapur pertanian. Dari penelitian yang dilakukan oleh Jeff Gilman, seorang penulis buku berjudul The Truth About Garden Remedies, menunjukkan bahwa air rendaman cangkang telur mengandung 4 miligram kalsium dan kalium.

Selain kandungan tersebut, manfaat cangkang telur juga berasal dari fosfor, magnesium, dan natrium di dalamnya. Beberapa nutrisi tersebut berperan penting dalam pertumbuhan hingga kesuburan tanaman.

Untuk memanfaatkan limbah ternak unggas, termasuk cangkang telur, menjadi media tanam jamur tiram putih, tidak serta merta digunakan layaknya para petani menggunakannya sebagai pupuk kandang selama ini. Ada perlakuan khusus atau proses yang dilalui agar menghasilkan media tanam dan hasil panen jamur yang bagus.

Jamur tiram putih menjadi pilihan dalam penelitian Prof Ambar, mengingat tingkat konsumsi jamur di dalam negeri jumlahnya cukup besar. Hasil olahan jamur tiram putih tergolong jenis sayuran yang digemari masyarakat. Kini hasil olahannya pun makin bervariasi, bukan hanya dijadikan sayur untuk lauk, tetapi juga diolah jadi olahan kering sebagai camilan.

Menurut Prof Ambar, kandungan gizi jamur tiram putih cukup tinggi. Berdasar penelitian sebelumnya, protein pada jamur tiram setiap 100 gram kandungan sebesar 27%, atau lebih tinggi dibanding protein pada kedelai tempe sebesar 18,3% setiap 100 gram. “Serat jamur sangat baik untuk pencernaan, kandungan seratnya mencapai 7,4-24,6%, sehingga cocok untuk tubuh,” ungkapnya.

Tujuh Manfaat
Ada tujuh hal penting tentang manfaat cangkang telur bagi tanaman. Pertama, sebagai pupuk kompos. Cangkang telur mengandung kalsium yang berfungsi untuk meningkatkan pertumbuhan dinding sel tanaman. Tanpa asupan tersebut, tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik dan cepat. Caranya, cuci bersih cangkang telur dan keringkan. Kemudian hancurkan dan campurkan dengan kompos.

Kedua, mencegah pembusukan tanaman. Manfaat ini berasal dari kandungan kalsium yang terdapat dalam cangkang telur. Asupan tersebut dapat diserap oleh tanaman sehingga membuatnya tidak mudah busuk. Caranya, cuci dan keringkan cangkang telur. Kemudian haluskan dan masukkan ke dalam lubang tanah sebelum menanam tumbuhan.

Ketiga, penangkal hama. Caranya, cuci dan keringkan cangkang telur terlebih dulu. Kemudian hancurkan jadi bagian-bagian besar, lalu tebarkan di sekitar halaman. Cara ini dapat mencegah siput dan cacing merusak tanaman.

Keempat, wadah menyimpan benih. Manfaat cangkang telur ini dapat diperoleh dengan cara mencuci cangkang telur terlebih dulu, kemudian keringkan. Lalu isi setengah bagian dari cangkang telur dengan tanah dan masukkan benih. Siram dengan sedikit air dan simpan sampai benih siap ditanam di tanah.

Kelima, penutup lubang pot. Pertama-tama, cuci bersih cangkang telur dan pecahkan menjadi bagian-bagian besar. Selanjutnya, gunakan pecahan tersebut untuk menutup lubang atau pot yang rusak. Cangkang ini juga berperan dalam memberikan nutrisi pada tanah di dalam pot guna meningkatkan kesehatan tanaman.

Keenam, sebagai pupuk alami. Menurut American Society of Plant Biologists, kalsium yang terdapat di dalam cangkang telur memberikan efek pertumbuhan dan perkembangan pada tanaman. Caranya, masukkan bubuk cangkang telur ke dalam wadah air dan diamkan selama beberapa hari. Gunakan air tersebut untuk menyiram tanaman.

Ketujuh, penyubur tanah. Manfaat cangkang telur ini berkat kandungan kalsium di dalamnya. Kegunaannya bisa dirasakan dengan baik pada tanah dengan tingkat keasaman yang tinggi. Caranya, haluskan cangkang telur yang telah dicuci dan dikeringkan. Kemudian campurkan dengan tanah yang digunakan untuk menanam tanaman.

Jika ingin membuat pupuk organik dari cangkang telur, caranya tak terlalu sulit. Bersihkan cangkang telur yang akan dibuat pupuk. Sterilkan cangkang telur dengan memasukkan ke dalam air panas. Keringkan cangkang telur dengan cara dijemur. Tumbuk cangkang telur hingga menjadi serpihan halus.

Untuk hasil yang lebih baik, campurkan cangkang telur dengan air ke dalam botol bekas. Tambahkan gula jawa dan EM4 dengan perbandingan 1 : 1 ke dalam botol. Tutup botol bekas dan campurkan pupuk dengan cara mengocok botol. Diamkan selama 10-14 hari untuk memaksimalkan proses fermentasi. Bila perlu, sesekali buka tutup botol bekas supaya gas yang ditimbulkan selama proses fermentasi dapat keluar.

Itu tujuh manfaat dan cara membuat pupuk organik dari cangkang telur, semoga bisa menginspirasi, dan mulai sekarang jangan lagi sia-siakan limbah cangkang telur. Ibarat pohon kelapa, semua bagian telur memiliki manfaat luar biasa. ***

Ditulis oleh:
Abdul Kholis
Koresponden Infovet Daerah Depok,
Konsultan media dan penulis buku,
Writing Coach Griya Menulis (Bimbingan Menulis Buku & Jurnalistik),
Juara I Lomba Jurnalistik Tingkat Nasional (Unsoed, 2021) & Juara I Kompetisi Menulis
Artikel Tingkat Nasional dalam rangka HATN, 2022

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer