-->

ANTISIPASI POTENSI KELEMAHAN DALAM PENANGANAN CRD KOMPLEKS

Ayam menunjukkan gejala respirasi (gasping) akibat infeksi mycoplasma. (Foto: Istimewa)

Di beberapa layer farm yang penulis kunjungi, keluhan yang sering terdengar adalah ngorok tidak hilang meski sudah dua kali terapi, FCR naik tanpa sebab yang jelas, atau ayam batuk ringan yang tiba-tiba memburuk seminggu setelah ada perlakuan vaksinasi. Pola seperti itu hampir selalu mengarah ke satu hal yang sama, yaitu CRD tidak lagi datang sendirian, melainkan bersamaan dengan E. coli, virus pernapasan, dan kondisi kandang yang sebenarnya sudah menunjukkan tanda bahaya sejak awal.

Bentuk rombongan inilah yang dalam literatur disebut complicated chronic respiratory disease (CCRD). Kombinasi Mycoplasma dengan infeksi sekunder E. coli, ND, IB, AMPV, ILT, dan lain sebagainya saling memperberatkan satu sama lain dan menimbulkan kerugian ketika produksi sudah telanjur turun.

Dua Wajah Mycoplasma yang Tidak Sama
Banyak yang masih menyamaratakan Mycoplasma gallisepticum (MG) dan Mycoplasma synoviae (MS), padahal keduanya punya karakter berbeda dan menuntut strategi deteksi yang berbeda pula.

MG relatif memiliki gejala yang konsisten, lebih mudah dikenali, dan masih cukup responsif terhadap antibiotik. Kerugian dapat muncul karena FCR naik, penurunan produksi telur, ditambah penurunan daya tetas pada breeder.

Sementara untuk MS jauh lebih sulit dideteksi. Infeksi tunggalnya sering tidak bergejala sama sekali dan baru terlihat jelas saat berkomplikasi dengan virus atau bakteri lain. MS juga tidak sebaik MG dalam merespons antibiotik, dan ayam yang pernah terpapar MS akan menjadi carrier sepanjang hidupnya dan terus berpotensi menularkan meski flock tampak sehat-sehat saja. Bila dibiarkan tanpa pengendalian sejak dini, penurunan produksi telur akibat MS bisa mencapai sekitar 7%, juga berdampak pada kualitas kerabang (jumlah telur kualitas II meningkat) yang sering luput dari perhatian.

Titik lemah pertama justru muncul di sini, banyak peternakan masih menganggap “Mycoplasma ya mycoplasma”, tanpa membedakan pendekatan diagnosis dan kontrol untuk masing-masing spesies.

Apa Kata Data Lapangan
Surveilans nasional yang dilakukan pada 350 sampel layer komersial di Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi sepanjang 2025, memberikan gambaran cukup mengejutkan. Prevalensi MS secara keseluruhan tercatat... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2026. 

Ditulis oleh:
Drh. A. Riwanda
Technical Department Manager
PT ROMINDO PRIMAVETCOM
Head Office – Jl. Dr Saharjo, No. 264,
Tebet, Jakarta Selatan
Email: riwanda@romindo.net
www.romindo.co.id 

CRD BUKAN SEKADAR INFEKSI: SAAT KECERNAAN NUTRISI MENJADI KUNCI KESEHATAN PERNAPASAN AYAM


Selama ini, chronic respiratory disease (CRD) pada ayam broiler maupun layer lebih sering dikaitkan dengan infeksi Mycoplasma gallisepticum (MG), yang dikenal sebagai salah satu patogen utama penyebab gangguan saluran pernapasan. Tidak mengherankan jika berbagai upaya pengendalian di lapangan masih didominasi oleh penggunaan antibiotik, vaksinasi, peningkatan biosekuriti, serta perbaikan ventilasi kandang.

Namun, pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa keberadaan MG tidak selalu berujung pada gejala klinis yang berat. Sebaliknya, banyak peternakan mengalami kasus CRD yang kompleks akibat kombinasi berbagai faktor, mulai dari tingginya kadar amonia, kualitas litter yang buruk, kepadatan kandang, stres lingkungan, hingga ketidakseimbangan nutrisi pakan.

Perkembangan ilmu nutrisi unggas dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa kesehatan saluran pernapasan tidak dapat dipisahkan dari kesehatan saluran pencernaan. Konsep gut-lung axis menjelaskan adanya komunikasi biologis antara usus dan paru-paru melalui sistem imun mukosa, metabolit mikrobiota, serta mediator inflamasi. Artinya, kualitas nutrisi yang dikonsumsi ayam dan kemampuan saluran pencernaan dalam mencerna serta menyerap nutrient akan sangat menentukan kemampuan ayam menghadapi tantangan penyakit respirasi, termasuk CRD.

Ketika Kecernaan Nutrisi Menentukan Ketahanan Ayam
Tujuan utama formulasi pakan bukan lagi sekadar memenuhi kebutuhan nutrisi berdasarkan angka kandungan protein atau energi, tetapi memastikan bahwa nutrien tersebut benar-benar dapat dicerna dan dimanfaatkan secara optimal oleh ayam. Nutrisi yang memiliki kecernaan tinggi akan menghasilkan penyerapan asam amino dan energi yang lebih efisien, sehingga mendukung pertumbuhan, produksi telur, sekaligus memperkuat sistem imun.

Sebaliknya, nutrien yang tidak tercerna akan menjadi substrat bagi bakteri di saluran pencernaan bagian bawah. Fermentasi protein oleh bakteri proteolitik menghasilkan berbagai senyawa seperti amonia, amina biogenik, indol, dan hidrogen sulfida yang bersifat iritatif terhadap mukosa usus. Kondisi ini memicu dysbiosis, meningkatkan permeabilitas usus (leaky gut), dan mengaktifkan respons inflamasi sistemik.

Dampaknya tidak hanya terbatas pada saluran pencernaan, tetapi juga memengaruhi jaringan mukosa saluran pernapasan sehingga ayam menjadi lebih rentan terhadap kolonisasi MG maupun infeksi bakteri sekunder seperti E. coli. Dengan kata lain, kesehatan saluran pernapasan sebenarnya dimulai dari usus yang sehat.

Protein Berlebih: Produktif atau Justru Menjadi Beban?
Masih banyak dijumpai anggapan bahwa peningkatan kadar protein kasar dalam pakan akan selalu menghasilkan performa yang lebih baik. Padahal, ayam tidak membutuhkan protein dalam jumlah berlebih, melainkan keseimbangan asam amino yang dapat dicerna sesuai kebutuhannya.

Protein yang tidak terserap akan mengalami proses deaminasi dan akhirnya diekskresikan sebagai nitrogen. Semakin tinggi protein yang terbuang, semakin besar pula nitrogen yang dikeluarkan melalui ekskreta. Di dalam litter, nitrogen tersebut akan diuraikan mikroorganisme menjadi gas amonia, terutama ketika kelembapan kandang tinggi dan ventilasi kurang optimal.

Inilah salah satu hubungan paling nyata antara nutrisi dan penyakit respirasi. Formulasi pakan yang kurang efisien tidak hanya meningkatkan biaya pakan, tetapi juga meningkatkan pencemaran udara di dalam kandang yang pada akhirnya memperbesar risiko gangguan pernapasan.

Pendekatan precision nutrition yang saat ini berkembang di industri global justru menekankan penggunaan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2026.

Ditulis oleh:
Henri E. Prasetyo drh MVet
Praktisi perunggasan, Nutritionist PT DMC

AGAR CRD TIDAK MENJADI CCRD

Penularan mikoplasma pada ayam, baik melalui jalur vertikal (dari ayam betina yang terinfeksi ke keturunannya) maupun jalur horizontal (dari ayam yang terinfeksi ke ayam yang rentan). (Sumber: Veterinary Research (2025) 56:10)

Penyebab utama chronic respiratory disease (CRD) pada unggas adalah bakteri Mycoplasma gallisepticum (MG). Mikoplasma adalah mikroorganisme prokariotik yang termasuk dalam kelas Mollicutes. Mikroorganisme ini ditandai oleh ketiadaan dinding sel dan ukurannya yang kecil, serta mampu melakukan replikasi sendiri (Lu Z, et al., 2017).

Mikoplasma dapat ditemukan di berbagai lingkungan, termasuk tanah, tumbuhan, serangga, unggas, mamalia, dan manusia. Ia berkembang biak melalui pembelahan biner atau tunas, membentuk koloni khas berbentuk “telur rebus” pada media kultur padat. Beberapa strain patogenik dari mikoplasma memengaruhi unggas, termasuk MG, Mycoplasma meleagridis (MM), Mycoplasma synoviae (MS), dan Mycoplasma iowae (MI). Di antara itu, MG adalah patogen penting yang menyebabkan penyakit pernapasan kronis pada unggas. Mikroorganisme ini menunjukkan variasi dalam patogenisitas dan tropismenya di antara isolat dari berbagai wilayah (Levisohn S, Dykstra MJ, Lin MY, Kleven SH, 1986).

MG karena tidak memiliki dinding sel, sehingga kebal terhadap beberapa antibiotik. Penyebarannya melalui kontak langsung antar unggas, percikan udara, pakan atau air yang terkontaminasi, serta peralatan. Infeksinya bersifat kronis dan menetap, memengaruhi ayam broiler maupun petelur, menyebabkan gangguan pernapasan, efisiensi konversi pakan menurun, dan infeksi sekunder.

Beberapa faktor berkontribusi pada penyebaran dan tingkat keparahan penyakit ini, seperti kontak langsung dengan unggas yang terinfeksi; mikoplasma menyebar ketika unggas sehat berinteraksi dengan unggas yang terinfeksi; lingkungan terkontaminasi antara lain pakan, air, litter, dan peralatan bisa menjadi tempat bakteri hidup; penularan melalui udara karena CRD menyebar lewat percikan udara dari batuk dan bersin unggas; penularan vertikal (melalui telur) induk betina yang terinfeksi bisa menularkan mikoplasma kepada anaknya lewat telur; stres lingkungan seperti kepadatan berlebih, ventilasi buruk, dan fluktuasi suhu meningkatkan kerentanan; imunitas melemah karena unggas dengan sistem kekebalan yang seperti itu kekurangan nutrisi atau infeksi lain lebih rentan terhadap CRD.

Tanda klinis penyakit pernapasan yang disebabkan MG meliputi bulu kusut, kehilangan nafsu makan, lesu, hidung berair, batuk, rales trakea, bernapas melalui mulut, pembengkakan kelopak mata, dan mata yang berair berlebihan (Wu Z, Chen C, et al., 2020). Pada anak ayam, infeksi MG sering menyebabkan pertumbuhan terhambat, peningkatan angka kematian, dan fungsi kekebalan tubuh yang terganggu. Ayam petelur yang terinfeksi MG mengalami penurunan kinerja produksi, termasuk produksi telur yang lebih rendah dan kualitas telur yang menurun. Ayam pedaging mungkin mengalami penurunan berat badan sebesar 20-40%, penurunan kualitas daging, efisiensi pemanfaatan pakan menurun sekitar 20%, dan peningkatan biaya pengobatan (Yadav JP, Tomar P, Singh Y, Khurana SK, 2022).

Meskipun tingkat kematian akibat MG saja biasanya rendah, hal ini dapat membuat unggas rentan terhadap infeksi sekunder dari patogen seperti virus penyakit Newcastle dan E. coli, yang meningkatkan risiko dalam industri unggas. MG menyebar melalui penularan horizontal dan vertikal di dalam kawanan ayam, bertahan sepanjang periode pemeliharaan dan terbukti sulit untuk diberantas sepenuhnya (De la Cruz L, et al., 2020).

Unggas dari semua usia dapat terinfeksi MG, dengan kasus yang terjadi sepanjang tahun, khususnya puncaknya selama... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2026.

Ditulis oleh:
Drh Arief Hidayat
Praktisi Perunggasan

PENYAKIT NGOROK YANG MASIH MENJADI MOMOK

Temuan umum patologi anatomis dari CRD (A dan B) pericarditis, perihepatitis, dan air sacculitis pada broiler. (C dan D) hal yang sama terjadi pada unggas layer. (Sumber: Marouf et al. 2022)

Penyakit pernapasan pada unggas merupakan salah satu tantangan utama yang menjadi momok menakutkan. Terlebih lagi aspek kesehatan ternak juga memiliki korelasi dengan produktivitas. Salah satu yang kerap menjadi residivis di Indonesia adalah mycoplasmosis alias chronic respiratory disease (CRD) yang disebabkan oleh Mycoplasma gallisepticum.

Ngorok biasa disebut peternak atau CRD kerap ditemui dalam suatu peternakan unggas. CRD adalah penyakit yang menyerang saluran pernapasan ayam dan bersifat kronis. Disebut “kronis” karena penyakit ini berlangsung secara terus menerus dalam jangka waktu lama dan sulit untuk disembuhkan.

Si Penyebab Ngorok
Biang keladi dari penyakit ngorok tadi tidak lain adalah Mycoplasma gallisepticum (MG), yang biasa disebut sebagai organisme mirip bakteri (bacteria-like organism). Berbagai praktisi perunggasan lokal maupun mancanegara bahkan menyebut MG sebagai salah satu patogen yang paling merugikan dalam industri unggas.

Dibalik ukurannya yang sangat kecil dan sederhana, MG memiliki kemampuan untuk menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan di seluruh dunia melalui penurunan produktivitas, peningkatan biaya pengobatan, dan peningkatan mortalitas pada unggas.

Dalam sebuah seminar mengenai penyakit pernapasan pada unggas, Veterinary Service Manager PT Ceva Indonesia, Drh Fauzi Iskandar, menerangkan mengenai sifat dan karakteristik MG. Ia mengatakan bahwa MG adalah bakteri dari kelompok Mycoplasma yang unik karena tidak memiliki dinding sel.

Hal ini membuatnya sangat sulit untuk diberantas dengan antibiotik biasa terutama yang bekerja dengan cara mengganggu sintesis dinding sel bakteri. Bakteri ini berbentuk pleomorfik dan mampu beradaptasi dengan berbagai kondisi lingkungan, membuatnya sulit dideteksi dan dikendalikan di peternakan unggas.

“Penggunaan antibiotik yang melisiskan dinding sel tentu tidak akan efektif, oleh karenanya MG ini sangat sulit diberantas, meskipun begitu bukan tidak mungkin untuk dikendalikan, hanya saja butuh “jurus khusus” dalam pengendaliannya,” tutur Fauzi.

Ia melanjutkan, MG dapat... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2026. (CR)

MYCOPLASMA YANG MASIH BETAH LAMA

Temuan Umum Patologi Anatomis dari CRD (A,B) Pericarditis, Perihepatitis, Air Sacculitis pada Broiler. (C,D) sama kaya AB, tapi pada layer. Sumber : Marouf et al. 2022

Penyakit pernapasan pada unggas merupakan salah satu tantangan utama yang menjadi momok menakutkan. Terlebih lagi aspek kesehatan ternak juga memiliki korelasi dengan produktivitas. Salah satu yang kerap menjadi residivis di Indonesia adalah Mycoplasmosis alias Chronic respiratory disease (CRD) yang disebabkan Mycoplasma gallisepticum (MG).

CRD atau biasa disebut ngorok oleh peternak kerap ditemui dalam suatu peternakan unggas. CRD adalah penyakit yang menyerang saluran pernapasan ayam dan bersifat kronis. Disebut kronis karena penyakit ini berlangsung secara terus-menerus dalam jangka waktu lama dan sulit disembuhkan.

Penyebab Ngorok
Biang keladi dari penyakit ngorok adalah MG, yang biasa disebut sebagai organisme mirip bakteri (bacteria-like organism). Berbagai praktisi perunggasan bahkan menyebut MG sebagai salah satu patogen yang paling merugikan dalam industri unggas.

Dibalik ukurannya yang sangat kecil dan sederhana, MG memiliki kemampuan untuk menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan di seluruh dunia melalui penurunan produktivitas, peningkatan biaya pengobatan, dan peningkatan mortalitas pada unggas.

Dalam sebuah seminar mengenai penyakit pernapasan pada unggas, Veterinary Service Manager PT Ceva Indonesia, Drh Fauzi Iskandar, menerangkan mengenai sifat dan karakteristik MG. Ia mengatakan, MG adalah bakteri dari kelompok mycoplasma yang unik karena tidak memiliki dinding sel.

Hal ini membuatnya sangat sulit diberantas dengan antibiotik biasa terutama yang bekerja dengan cara mengganggu sintesis dinding sel bakteri. Bakteri ini berbentuk pleomorfik dan mampu beradaptasi dengan berbagai kondisi lingkungan, membuatnya sulit dideteksi dan dikendalikan di peternakan unggas.

“Penggunaan antibiotik yang melisiskan dinding sel tentu tidak akan efektif, oleh karenanya MG ini sangat sulit diberantas, meskipun begitu bukan tidak mungkin untuk dikendalikan, hanya saja butuh jurus khusus dalam upaya pengendaliannya,” tutur Fauzi.

Ia melanjutkan, MG dapat menyebar pada unggas umumnya terjadi melalui… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi September 2024.

Ditulis oleh:
Drh Cholillurahman
Redaksi Majalah Infovet

VAKSINASI MG, PILIHAN TEPAT UNTUK MENCEGAH CRD

Chronic respiratory disease (CRD) merupakan penyakit pernapasan pada unggas yang disebabkan oleh bakteri Mycoplasma gallisepticum (MG). Bukan hanya menyerang pernapasan, MG juga menyerang sistem reproduksi dan mengakibatkan penurunan kualitas telur sampai 10-15% selama 4-6 minggu.



POULTRY MASTERCLASS: BERIKAN RESEP ATASI PENYAKIT PERNAPASAN


Poultry Masterclass : Penuh Informasi, Sarat Edukasi

Penyakit pernapasan merupakan momok bagi para peternak ayam baik di masa lalu maupun di zaman now. Oleh karenanya dibutuhkan upaya yang serius dalam pencegahan penyakit pernapasan. Dalam rangka mengedukasi para customer-nya PT Zoetis Animal Health Indonesia mengadakan Seminar bertajuk "Poultry Masterclass: Respiratory Protection and Control for Poultry Health Solution" di Swiss - Belhotel Bogor pada Rabu (3/8) yang lalu.

Hadir sebagai pembicara yakni Prof Michael Haryadi Wibowo (Guru Besar FKH UGM), Dr Tony Unandar (Poultry Private Consultant), dan Drh Erry Setyawan (Technical Manager PT Zoetis Animal Health Indonesia).

Sebagai pemateri utama Prof Michael mengulik dan memberikan review lebih jauh mengenai penyakit pernapasan infeksius pada ayam yakni Coryza dan CRD (Chronic Respiratory Disease). Menurutnya kedua penyakit ini merupakan "langganan" penyakit yang sering terjadi di peternakan ayam Indonesia.

Selain karena faktor iklim dan cuaca yang mendukung perkembangan agen infeksiusnya, faktor manajemen pemeliharaan dan biosekuriti yang buruk menjadi penyebab penyakit ini kerasan di lapangan. Selain itu lebih jauh Prof Michael mengingatkan bahwa CRD masih dianggap remeh oleh peternak di Indonesia.

"Jangan lupa CRD itu agennya bisa menyebabkan imunosupresi, selain itu Mycoplasma gallisepticum ini tidak berdinding sel, jadi jangan menggunakna sembarangan antimikroba yang bekerja pada dinding sel. Yang ada malah tidak efektif pengobatannya," tutur dia.

Sementara itu Tony Unandar secara terperinci menjabarkan temuan - temuannya di lapangan terkait kedua kasus tersebut. Yang menarik adalah faktanya Mycoplasma gallisepticum dapat menghasilkan metabolit berupa H2O2 alias Hidrogen Peroksida pada saluran pernapasan bagian atas.

"Ketika itu terjadi, sebagaimana kita ketahui, Hidrogen Peroksida itu sifatnya iritatif, sehingga dengan dilepaskannya metabolit tadi, semakin rusaklah saluran pernapasan ayam, ini yang memudahkan agen infeksius lain masuk ke dalam tubuh ayam,| kata Tony.

Dalam kesempatan yang sama Erry Setyawan menyampaikan bahwa salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam mencegah kedua penyakit tersebut selain memperbaiki manejemen pemeliharaan dan biosekuriti adalah vaksinasi.

"Zoetis sendiri sangat serius dalam mengembangkan vaksin kedua penyakit ini, kami memiliki portofolio yang lengkap untuk mencegah kedua penyakit tersebut secara maksimal. Mulai dari MG BAC, Poulvac Myco F, dan Poulvac iC ABC-Oil siap untuk memberikan proteksi maksimal dari penyakit CRD dan Coryza dengan keunggulannya masing - masing," tutur Erry. (CR)

MENJAGA KESEHATAN SALURAN PERNAPASAN

Ayam yang dipelihara dalam lingkungan terbatas membutuhkan faktor pendukung yang ideal untuk pertumbuhan optimal. (Foto: Shutterstock)

Kesehatan saluran pernapasan ayam sangat penting untuk mencapai target produktivitas, baik pada ayam pedaging maupun petelur. Ayam yang dipelihara dalam lingkungan terbatas membutuhkan faktor pendukung yang ideal untuk pertumbuhan optimal, sehingga dapat berproduksi maksimal. Faktor pendukung tersebut adalah udara, air dan pakan. Bila ketiga faktor tersebut terpenuhi secara ideal, kemampuan bibit penyakit berkurang, apalagi bila biosekuriti dilakukan secara optimal.

Wilayah Indonesia beriklim tropis, ini merupakan tempat yang sangat baik untuk mendukung tumbuh dan berkembangnya mikroorganisme patogen penyebab penyakit dengan gejala kelainan sistem pernapasan pada ayam. Hal ini disebabkan adanya perubahan temperatur dan kelembapan ekstrem pada siang dan malam hari, serta pada saat terjadinya perubahan musim dari kemarau ke penghujan.

Berdasarkan laporan pengamatan dan penanganan kasus oleh Veterinary Representative di lapangan, penyakit-penyakit pernapasan merupakan tipe penyakit paling sering ditemukan. Besarnya komposisi penyakit tipe pernapasan lebih dari 60% dibanding jumlah tipe penyakit lainnya. Dari tipe penyakit pernapasan yang menyerang ayam petelur dan pedaging, Chronic Respiratory Disease (CRD) dan Complex Chronic Respiratory Disease (CCRD) menjadi kasus paling sering muncul, disusul Coryza dan Colibacillosis.

Chronic Respiratory Disease 
Merupakan penyakit pernapasan utama pada ayam disebabkan Mycoplasma gallisepticum, yang dapat menyerang ayam pada semua periode umur produksi. CRD merupakan penyakit endemik yang merusak sistem pernapasan dan reproduksi. Penyakit ini sudah tersebar di seluruh dunia dan sangat merugikan industri perunggasan. Untuk itu, usaha untuk menanggulangi CRD pada ayam di Indonesia sudah sering dilakukan tetapi sampai saat ini masih sering terjadi.

Proses penyakit CRD berjalan… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Oktober 2021.

Drh Yuni
Technical Department Manager
PT ROMINDO PRIMAVETCOM
Jl. DR Saharjo No. 264, Jakarta
Telp: 021-8300300

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer