-->

INFOVET GELAR SEMINAR EFISIENSI PAKAN SEKALIGUS LAUNCHING BUKU TERBARU

Foto bersama usai seminar yang diadakan Infovet di ILDEX Indonesia 2026. (Foto-foto: Dok. Infovet)

Industri perunggasan Indonesia terus menghadapi tantangan berupa dinamika harga bahan baku pakan, tuntutan produktivitas, kesehatan ternak, serta kebutuhan sistem produksi yang semakin efisien dan berkelanjutan. Menjawab tantangan tersebut, ILDEX Indonesia 2026 bersama Infovet menghadirkan seminar “Feed Efficiency Revolution: The Next Generation of Poultry Profitability” Rabu (16/9), di Garuda 8A.

Menghadirkan pembicara Nutritionist & Business Development Manager PT Dinamika Megatama Citra (DMC), Drh Henri E. Prasetyo, dan dimoderatori oleh Drh Eko Prasetio. Diskusi membahas perubahan paradigma feed efficiency yang selama ini sering dikaitkan dengan FCR. Dalam industri modern, efisiensi tidak cukup hanya mengejar FCR rendah, tetapi juga perlu melihat konsumsi pakan, pertumbuhan, livability, uniformity, kesehatan saluran pencernaan, kualitas karkas, biaya produksi, hingga profitabilitas.

Melalui pendekatan precision nutrition, setiap nutrien dalam pakan perlu dimanfaatkan secara optimal. Konsep feed-digestion-absorption-metabolism-growth-profit menggambarkan keberhasilan nutrisi tidak berhenti pada formulasi, tetapi dari seberapa efektif nutrien dicerna, diserap, dan dimanfaatkan ayam. Perkembangan teknologi evaluasi bahan baku, data performa, enzim pakan, asam amino, serta strategi kesehatan usus semakin membuka peluang untuk meningkatkan efisiensi secara lebih presisi.

Pendekatan tersebut membawa feed efficiency menuju precision profitability, yaitu bagaimana keputusan nutrisi tidak hanya menghasilkan performa teknis yang baik, tetapi juga memberikan nilai ekonomi optimal. Dengan demikian, masa depan efisiensi pakan membutuhkan integrasi antara nutrition, health, management, technology, data, dan economics.

Momen peluncuran buku "100 Tahun Penyakit Newcastle Disease di Indonesia".

Selain seminar, pada acara yang sama juga dilakukan launching buku "Index Obat Hewan Indonesia (IOHI) Edisi XVII 2026" serta buku "100 Tahun Penyakit Newcastle Disease di Indonesia". Peluncuran kedua buku menjadi momentum penting dalam mendokumentasikan pengetahuan dan perjalanan industri kesehatan hewan di Indonesia.

Prosesi launching secara resmi dilakukan Ketua Umum ASOHI Drh Akhmad Harris Priyadi bersama Direktur PT Gallus Indonesia Utama Ir Bambang Suharno.

Selain itu, rangkaian kegiatan tersebut juga menjadi momentum awal dimulainya INFOVET Academy, sebuah media pembelajaran berbasis video tutorial yang menghadirkan para ahli di bidang peternakan dan kesehatan hewan.

Platform tersebut ditujukan sebagai panduan bagi peternak, praktisi, dokter hewan, mahasiswa, dan profesional yang ingin belajar serta memperdalam keilmuan. Melalui format digital, pengetahuan dan pengalaman para ahli diharapkan dapat diakses secara lebih praktis dan menjangkau masyarakat peternakan yang lebih luas.

Suasana peserta dalam seminar.

Kehadiran INFOVET Academy memperkuat peran media tidak hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem pembelajaran dan knowledge sharing di industri peternakan. (HENRI)

MENGURAI GEJOLAK HARGA PAKAN: INDUSTRI PERUNGGASAN DORONG SINERGI DAN TRANSPARANSI DATA

IPC di ILDEX Indonesia 2026. (Foto: Infovet/Ridwan)

Mengambil tempat di ruang Garuda 5A ICE BSD City, Tangerang, dalam rangkaian pameran ILDEX Indonesia 2026, Indonesian Poultry Club (IPC) menyelenggarakan seminar nasional bertajuk "Sinergi dan Strategi Menghadapi Gejolak Harga Pakan" pada Kamis (17/9). Forum ini mempertemukan seluruh stakeholders industri perunggasan guna merumuskan solusi atas tantangan tingginya biaya pakan.

Kegiatan tersebut diinisiasi oleh Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Permindo) bekerja sama dengan Trobos. Pemimpin Umum Trobos, Fitri Nursanti Poernomo, menekankan pentingnya forum ini bagi masa depan industri peternakan nasional. Ia mengingatkan bahwa pakan merupakan komponen terbesar dalam biaya produksi unggas, dengan porsi mencapai lebih dari 60%.

"Ketika harga bahan baku naik akibat berbagai persoalan global maupun domestik, dampaknya tidak hanya berhenti pada bisnis pakan, melainkan menjalar ke peternak hingga konsumen akhir. Apalagi sekitar 30 persen bahan baku pakan kita masih bergantung pada impor," ujar Fitri.

Tantangan lonjakan harga pakan dirasakan nyata oleh para peternak di lapangan. Sekretaris Jenderal Permindo, Heri Irawan, mengungkapkan bahwa sepanjang rentang April-Agustus, akumulasi kenaikan harga pakan telah mencapai Rp1.500/kg. Kenaikan ini dinilai sangat memberatkan operasional peternak.

Sebagai langkah mitigasi, Permindo pun berinisiatif menghadirkan inovasi pakan custom. "Kami memformulasi pakan bekerja sama dengan pabrikan. Hasilnya, dalam dua bulan terakhir performa ternak tetap optimal sekaligus mampu meminimalisasi dampak kenaikan harga," terang Heri.

Memasuki sesi seminar yang dipandu Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), Sugeng Wahyudi, hadir sebagai narasumber Ketua Permindo, Kusnan. Ia menyoroti tekanan berat yang dialami peternak mandiri. Kenaikan harga pakan secara langsung menaikkan Harga Pokok Produksi (HPP) dan menggerus margin keuntungan peternak.

​"Jika input produksi terus naik sementara harga output di tingkat peternak fluktuatif, sampai kapan peternak sanggup bertahan? Apakah ini yang dinamakan industri unggas yang sehat?" tegas Kusnan. Menurutnya, peternak saat ini menanggung beban berlapis, mulai dari harga day old chick (DOC), pakan, biaya listrik, tenaga kerja, hingga risiko cuaca dan penyakit.

Kusnan juga menggarisbawahi dua hal kunci, yakni akurasi data dan integrasi pasar. "Peternak yang memiliki data adalah peternak yang berdaya. Data merupakan aset ekonomi untuk merumuskan akar permasalahan. Selain itu, penataan pasar harus disiapkan sejak awal, jangan baru mencari solusi ketika kondisi sudah oversupply. Jadi kesimpulannya, kita butuh satu ekosistem dan satu rantai pasok yang solid," tambahnya.

Pada kesempatan tersebut, menanggapi kenaikan pasokan bahan baku, Ketua Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Tevi Melviana, menyampaikan bahwa pelaku industri pakan beroperasi sesuai dengan regulasi dan ketentuan pemerintah. Kenaikan harga pakan, khususnya yang dipicu oleh fluktuasi harga jagung, dipengaruhi oleh berbagai faktor kompleks, baik internal maupun eksternal.

Dalam paparan materinya, dijelaskan industri pakan ternak memegang peranan yang sangat strategis karena menyumbang hingga 65% kebutuhan protein hewani nasional. Untuk memastikan industri ini terus berkembang dan mendukung ketahanan pangan, diperlukan dukungan kebijakan pemerintah yang berkesinambungan. Salah satu fokus utama yang harus ditingkatkan adalah produktivitas jagung lokal demi menyokong kebutuhan pabrik pakan ternak, sebagaimana yang diharapkan GPMT agar pemerintah dapat menjaga stabilitas produksi jagung serta bahan pakan lainnya.

Dalam paparannya juga diharapkan dukungan pemerintah terhadap sektor logistik, fasilitas, serta infrastruktur nasional untuk mengantisipasi potensi fluktuasi harga jagung. Di sisi lain, idle capacity industri pakan yang masih berada di angka 30% dinilai sangat memadai untuk mendukung program peningkatan produksi telur dan daging ayam. Namun, intervensi pemerintah secara tidak langsung telah mengubah model bisnis pabrik pakan dari yang sebelumnya berfokus pada "perdagangan dan pengolahan" menjadi "layanan dan pengolahan". Menghadapi berbagai tantangan lingkungan bisnis tersebut, perusahaan tetap berkomitmen menjalankan strategi mitigasi internal untuk meminimalkan dampak negatif yang mungkin timbul.

Sementara dari sisi pemerintah, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian yang diwakili Direktur Pakan, Tri Melasari, menguraikan dalam materinya beberapa upaya stabilisasi harga dan kualitas pakan. Di antaranya dalam jangka pendek terkait surat himbauan ke produsen pakan untuk menahan kenaikan harga pakan ternak dan menjaga kualitas pakan sesuai SNI.

Kemudian, ketersediaan jagung dengan harga HAP Rp 6.400/kg dengan kada air 14%, serta perlu impor bahan pakan subsitusi jagung secepatnya dengan harga wajar untuk feedmill, sehingga tidak berebut jagung antara peternak dan feedmill, hingga realisasi jagung SPHP untuk seluruh peternak/koperasi yang memerlukan.

Sementara untuk jangka menengah, melakukan evaluasi populasi temak broiler maupun layer, untuk membuat prognosa kebutuhan pakan dalam tahun berjalan, tiap tiga bulan. Serta evaluasi bahan baku pakan lokal, untuk harga dan ketersediaan tiap tiga bulan dengan data yang akurat.

Serta dalam jangka panjang, membuat peta kebutuhan bahan pakan untuk lima tahun ke depan, pengembangan riset aplikatif sumber bahan baku lokal, hingga perlunya bahan baku alternatif lokal maupun impor dengan harga yang kompetitif sesuai formulasi. (RBS)

IKAT TUNTAS, LINDUNGI HEPAR: SOLUSI GANDA TOXCARE UNTUK TANTANGAN MULTI-MIKOTOKSIN

Kontaminasi mikotoksin pada bahan baku pakan tetap menjadi tantangan utama industri peternakan di iklim tropis seperti Indonesia. Kelembapan tinggi dan rantai pasok bahan baku yang panjang membuat pakan rentan terkontaminasi lebih dari satu jenis mikotoksin sekaligus, mulai dari aflatoksin B1, okratoksin, fumonisin B1, zearalenon, hingga T-2 toksin.



KETIKA RUMPUT HIJAU MENYIMPAN ANCAMAN PENYAKIT

Ternak sapi rentan memindahkan antraks ke seluruh provinsi khususnya pada momen kurban. (Foto: Unsplash)

Idul Adha memang sudah lewat, namun setiap menjelang momen tersebut, perhatian terhadap antraks biasanya meningkat. Hal ini bukan tanpa alasan, perayaan Idul Adha melibatkan pergerakan jutaan ekor hewan kurban dari berbagai daerah menuju lokasi penjualan dan pemotongan. Mobilitas ternak yang tinggi tersebut berpotensi meningkatkan risiko penyebaran berbagai penyakit hewan menular.

Penyakit Kuno, Ancaman Bagi Dunia Modern
Indonesia mungkin adalah negeri yang memiliki ingatan pendek terhadap banyak hal. Bahkan untuk penyakit hewan yang sudah dikenal lebih dari satu abad pun, pola yang sama masih berulang. Antraks adalah salah satu contohnya.

Penyakit ini bukan penyakit baru, bukan pula penyakit misterius yang baru ditemukan para ilmuwan minggu lalu. Bahkan, antraks merupakan salah satu penyakit infeksi tertua yang pernah dipelajari manusia.

Penyebabnya pun sudah diketahui dengan sangat jelas, yaitu bakteri Bacillus anthracis. Cara penularannya dipahami. Metode pencegahannya tersedia. Vaksinnya ada. Prosedur pengendaliannya juga telah ditulis berulang kali dalam buku, jurnal, pedoman kesehatan hewan, hingga peraturan pemerintah.

Celakanya antraks bersifat zoonosis, karena sifatnya tersebut, antraks tidak hanya menjadi persoalan kesehatan hewan, tetapi juga kesehatan masyarakat, keamanan pangan, hingga stabilitas ekonomi peternakan.

Antraks memiliki sejarah panjang di Indonesia. Meskipun berbagai program pengendalian telah dilakukan selama puluhan tahun, penyakit ini belum berhasil dieliminasi sepenuhnya. Salah satu penyebabnya adalah kemampuan luar biasa bakteri penyebab antraks untuk membentuk spora yang mampu bertahan puluhan tahun di lingkungan. Spora tersebut dapat “tertidur” di dalam tanah dalam waktu sangat lama, lalu kembali aktif ketika kondisi lingkungan mendukung. Karena itulah antraks sering disebut sebagai penyakit yang sulit diberantas dan hanya dapat dikendalikan.

Meskipun Indonesia merupakan negara endemis antraks, masih terdapat delapan provinsi di Indonesia yang dinyatakan bebas dari antraks, yakni Aceh, Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat.

Sabar Menanti Puluhan Tahun
Jika bakteri lain dapat diibaratkan seperti pencuri yang harus terus bergerak untuk bertahan hidup, maka Bacillus anthracis lebih mirip seperti penagih utang yang sangat sabar. Ia bisa menunggu, bahkan dalam waktu yang sangat lama.

Analogi tersebut dikemukakan oleh Drh Nusdianto Triakoso, salah satu dosen di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Menurutnya, keunggulan terbesar bakteri antraks adalah kemampuannya membentuk spora. Dalam bentuk ini, bakteri seakan berubah menjadi kapsul kehidupan yang nyaris tidak bisa dihancurkan oleh alam.

“Spora antraks mampu bertahan di dalam tanah selama puluhan tahun. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa spora dapat tetap infektif setelah beberapa dekade berada di lingkungan. Bayangkan saja, seekor sapi mati akibat infeksi bakteri antraks pada masa ketika presiden masih berganti melalui sidang MPR, lalu puluhan tahun kemudian seekor sapi lain merumput di lokasi yang sama dan kembali terinfeksi,” tuturnya.

Begitulah cara penyakit ini bekerja, ia tidak terburu-buru, tidak membutuhkan strategi rumit, hanya menunggu kesempatan. Karena itulah daerah yang pernah mengalami wabah antraks sering kali tetap berstatus daerah endemis selama berpuluh tahun. Tanah yang terlihat subur dan hijau bisa saja menyimpan jutaan spora yang tidak terlihat mata. Rumputnya tampak segar, sapinya tampak sehat. Tetapi di bawah permukaan tanah terdapat “warisan biologis” yang belum selesai.

Pagi Masih Makan, Sore Jadi Bangkai
Salah satu alasan antraks begitu ditakuti adalah karena sifatnya yang brutal. Banyak penyakit hewan memberi peringatan terlebih dahulu. Hewan kehilangan nafsu makan, batuk, diare, atau mengalami penurunan bobot badan secara perlahan.

Antraks sering kali tidak seramah itu. Pada kasus akut, peternak bisa melihat sapinya masih makan dengan lahap pada pagi hari. Beberapa jam kemudian hewan tersebut terbaring mati. Tidak ada drama panjang, tidak ada kesempatan kedua. Tidak ada waktu untuk mencari pengobatan alternatif dari grup WhatsApp peternak.

Kematian bisa terjadi begitu cepat, kadang-kadang muncul gejala seperti demam tinggi, sesak napas, gelisah, atau pembengkakan di beberapa bagian tubuh. Namun sering kali gejala tersebut berlangsung sangat singkat bahkan telat disadari peternak.

Setelah hewan mati, tanda yang paling mencolok adalah keluarnya darah gelap dari lubang hidung, mulut, anus, atau alat kelamin. Darah tersebut biasanya tidak mudah membeku. Bangkai hewan yang terinfeksi juga membusuk lebih cepat dibandingkan kematian akibat penyebab lain. Bagi dokter hewan, tanda-tanda ini sudah cukup untuk menyalakan alarm bahaya.

“Daripada Mubazir”
Di lapangan, cerita tentang antraks berubah dari masalah kesehatan hewan menjadi ironi sosial. Dalam banyak kasus, tantangan terbesar bukanlah bakterinya, tetapi justru manusianya.

Ketika seekor sapi sekarat atau mati mendadak di kandang, reaksi ideal adalah melaporkan kejadian tersebut kepada petugas kesehatan hewan. Namun realitas di lapangan sering kali berbeda. Karena harga sapi mahal, kerugian ekonomi terbayang dan terasa berat. Rasa sayang jika daging dibuang atau sekedar kalimat “daripada mubazir”.

Hal itu mungkin menjadi salah satu kalimat paling berbahaya dalam sejarah penyakit zoonosis. Tidak sedikit kasus antraks di Indonesia berawal dari keputusan sederhana, menyembelih ternak yang sakit atau sudah mati lalu membagikan dagingnya kepada warga sekitar.

Logikanya terlihat masuk akal bagi sebagian orang. Kadang mereka mengatakan, “Dagingnya masih bagus,” Dimasak juga mati kumannya,” “Keluarga saya makan tidak apa-apa.” Padahal antraks tidak peduli pada logika tersebut. Bakteri tidak bisa diyakinkan dengan alasan ekonomi, dan spora tidak akan menghilang hanya karena seseorang merasa sayang membuang daging.

Hasilnya adalah pola yang berulang. Hewan terinfeksi disembelih, daging dibagikan, warga terpapar, petugas datang, masyarakat panik, berita muncul, lalu semua orang bertanya mengapa hal itu bisa terjadi.

Kasus antraks di Gunungkidul beberapa tahun lalu menjadi contoh yang sangat jelas. Wabah tersebut tidak hanya menyebabkan kematian ternak, tetapi juga berdampak pada manusia. Sejumlah warga terpapar setelah kontak dengan hewan yang terinfeksi atau mengonsumsi produk ternak yang berasal dari hewan sakit.

Peristiwa tersebut seharusnya menjadi pengingat keras bahwa antraks bukan sekadar urusan peternak. Ini adalah tanggung jawab semua pihak, mulai dari pedagang ternak, pengangkut hewan, jagal, panitia kurban, hingga konsumen. Karena satu keputusan yang salah dapat menghasilkan konsekuensi kesehatan bagi masyarakat luas.

Seharusnya Tak Terulang
Antraks sebenarnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar penyakit ternak. Ia menunjukkan bahwa hubungan antara manusia, hewan, dan lingkungan tidak bisa dipisahkan. Seekor sapi yang terinfeksi bukan hanya masalah peternak, ia dapat menjadi masalah desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, bahkan nasional. Antraks bukan hanya masalah kesehatan hewan saja, tetapi juga kesehatan masyarakat, dan juga lingkungan.

Di era ketika dunia berbicara tentang teknologi peternakan presisi, kecerdasan buatan, dan genomik, antraks justru mengingatkan bahwa tantangan terbesar sering kali bukan kurangnya teknologi. Tantangan terbesar adalah memastikan pengetahuan yang sudah ada benar-benar diterapkan.

Karena antraks merupakan penyakit yang dapat bertahan lama dan manusia kerap percaya bahwa masalah lama sudah selesai. Padahal di banyak padang rumput Indonesia, bisa saja jutaan spora antraks masih bersembunyi di dalam tanah, menunggu musim hujan berikutnya, menunggu ternak berikutnya, dan menunggu kelalaian berikutnya. ***

Dirangkum oleh:
Drh Cholillurahman
Redaksi Majalah Infovet

MENJAGA PERFORMA DARI BAHAYA MIKOTOKSIN

Jamur, cendawan, atau kapang tumbuh di mana dan kapan saja, terutama ketika kondisi lingkungan menguntungkan. (Foto: Gemini)

Mikotoksin sangat berbahaya bagi kelangsungan performa di peternakan unggas. Kontaminasi mikotoksin pada unit usaha unggas apapun itu, dapat menyebabkan kerugian yang sangat besar.

Jamur, cendawan, atau kapang tumbuh di mana dan kapan saja, terutama ketika kondisi lingkungan menguntungkan bagi mereka. Yang lebih berbahaya, kebanyakan jamur biasanya tumbuh pada tumbuhan yang biasa digunakan sebagai bahan baku pakan, seperti jagung dan kacang kedelai.

Kedua jenis tanaman tersebut merupakan unsur penting dalam formulasi ransum. Jagung digunakan sebagai sumber energi utama, sedangkan kedelai sebagai sumber protein. Persentase penggunaan jagung dan kacang kedelai dalam suatu formulasi ransum unggas di Indonesia sangat tinggi. Jagung dapat digunakan 50-60%, sedangkan kedelai bisa sampai 20%.

Cemaran Mikotoksin
Commercial Technical Manager-Mycotoxin Risk Management Trouw Nutrition, Dr Swamy Haladi, dalam presentasinya pada webinar Review Mikotoksin Global 2026, menjabarkan beberapa hal terkait cemaran mikotoksin yang terdapat pada bahan baku dan pakan jadi.

Ia menuturkan, berdasarkan analisis terhadap lebih dari 115.000 sampel dari 46 negara, Trouw melaporkan bahwa jumlah sampel yang terkontaminasi mikotoksin pada 2025 mengalami penurunan dibandingkan 2024. Sampel tersebut mencakup berbagai bahan baku pakan, termasuk biji-bijian, sumber protein, produk samping, silase, total mixed rations (TMR), konsentrat, serta pakan lengkap.

“Penurunan paling signifikan terjadi pada tingkat kontaminasi fumonisin dan toksin T-2. Sebaliknya, tingkat deoksinivalenol (DON) dan zearalenon (ZEA) relatif serupa dengan tahun sebelumnya dan tetap lebih tinggi dibandingkan fumonisin. Sementara itu, rata-rata konsentrasi mikotoksin dalam sampel 2024 dan 2025 dilaporkan tidak menunjukkan perbedaan signifikan,” paparnya.

Temuan ini mengindikasikan bahwa meskipun jumlah sampel terkontaminasi menurun, faktor lingkungan yang mendukung pertumbuhan kapang dan produksi mikotoksin masih berlanjut hingga 2025, khususnya di wilayah beriklim sedang.

Selain existing mycotoxin yang sudah dikenal, ia juga berbicara mengenai enniatins. Mereka adalah kelompok mikotoksin “emerging” (mikotoksin yang relatif baru mendapat perhatian) yang diproduksi terutama oleh jamur Fusarium, khususnya Fusarium avenaceum, F. tricinctum, dan F. poae.

Enniatins (misalnya enniatins A, A1, B, dan B1) merupakan senyawa siklik heksadepsipeptida yang bersifat ionofor, artinya mampu membentuk kompleks dengan ion (seperti K⁺, Na⁺, Ca²⁺) dan mengganggu keseimbangan ion dalam sel.

Walau belum diregulasi secara ketat seperti DON atau aflatoksin, enniatins mendapat perhatian karena dapat menyebabkan efek sitotoksik pada sel mamalia (in vitro), gangguan membran sel dan mitokondria, potensi imunosupresif dan antimikroba, serta memiliki efek sinergis dengan mikotoksin lain (toxic cocktail effect).

“Feed producer harus waspada dengan hal ini, karena enniatins juga bisa berbahaya, oleh karenanya kewaspadaan harus terus ditingkatkan,” katanya.

Jika sudah mengontaminasi bahan baku pakan, apalagi pakan jadi, tentu sangat merugikan produsen pakan maupun peternak. Menurut Tony Unandar, konsultan perunggasan yang juga anggota dewan pakar ASOHI, mikotoksikosis klinis bukanlah kejadian umum di lapangan.

Kasus mikotoksikosis subklinis justru sering ditemukan di lapangan. Gejalanya klinisnya sama dengan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi April 2026. (CR)

PEMBUNUH SENYAP YANG TERSEMBUNYI DALAM PAKAN AYAM

Bahaya tersembunyi dalam pakan ayam dapat berdampak serius pada kesehatan ternak. (Foto: lelandmills.com)

Bahaya tersembunyi dalam pakan ayam dapat berdampak serius pada kesehatan kawanan, produktivitas, dan konsumen manusia, terutama meliputi mikotoksin, logam berat, bahan kimia tambahan yang tidak diungkapkan, hingga bakteri patogen.

Kontaminan-kontaminan tersebut sering kali tidak terlihat mata telanjang dan dapat bertahan dalam proses pengolahan, yang dapat menyebabkan keracunan kronis, subklinis, sampai akut.

Ancaman tersembunyi dalam pakan ayam yang meliputi mikotoksin (seperti aflatoksin) yang diproduksi jamur atau kapang dapat merusak organ vital, endotoksin yang dapat menyebabkan kebocoran usus dan keracunan darah. Ionofor yang tidak terkontrol dan bisa memicu keracunan, serta kontaminasi bakteri patogen seperti Salmonella dan E. coli.

Mikotoksin dan endotoksin sering kali tidak terlihat secara kasat mata, akan tetapi dapat menyebabkan penurunan pertumbuhan, kerusakan organ, hingga kematian. Berikut ini adalah beberapa detail mengenai bahaya tersembunyi dalam pakan unggas:

• Mikotoksin: Adalah senyawa beracun yang dihasilkan oleh jamur (Aspergillus, Fusarium, Penicillium) yang tumbuh pada biji-bijian (jagung, gandum, kedelai) di ladang atau selama penyimpanan. Beberapa mikotoksin tersebut:
- Aflatoksin: Dianggap sebagai yang paling berpotensi menyebabkan kerusakan hati (hepatotoksisitas), supresi yang parah, dan penurunan produksi telur.
- Okratoksin: Sangat nefrotoksik (kerusakan ginjal), menyebabkan kehilangan nafsu makan dan pertumbuhan yang buruk.
- Trichotecenes (T-2, DON): Menyebabkan ulkus mulut, erosi ampela, dan penolakan makan yang parah.
- Zearalenone: Dikenal karena menyebabkan masalah reproduksi, seperti penurunan kesuburan dan kemampuan penetasan.
- Mikotoksin bertopeng: Ini adalah bentuk tersembunyi, sering melekat pada molekul tanaman yang tidak terdeteksi oleh tes standar tetapi berubah kembali menjadi racun aktif di usus ayam.

• Logam berat dan kontaminan polusi industri: Penyimpanan yang tidak tepat dan bahan baku yang terkontaminasi dapat memperkenalkan logam berat dan bahan kimia ke dalam pakan.
- Arsenik, timbal, kadmium, dan merkuri: Logam berat ini terakumulasi secara biologis dalam jaringan unggas (hati, ginjal), menyebabkan keracunan kronis dan menimbulkan risiko bagi konsumen manusia
- Sisa pestisida: Tanaman yang disimpan atau dipanen secara tidak tepat mungkin mengandung residu pestisida organoklorin.
- Dioksin/melamin: Kadang-kadang diperkenalkan melalui bahan baku yang dipalsukan atau terkontaminasi.

• Aditif dan pengisi yang tidak diungkapkan:... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi April 2026.

Ditulis oleh:
Drh Arief Hidayat
Praktisi perunggasan

MUSUH DALAM SELIMUT YANG HARUS DIWASPADAI

Kapang/jamur dapat tumbuh pada tanaman biji-bijian seperti jagung untuk pakan ternak. (Foto: Infovet/Ridwan)

Anomali iklim dan cuaca melanda, kekhwatiran insan perunggasan tetap sama, mikotoksin. Senyawa tak kasat mata yang bisa mencemari bahan baku dan pakan jadi tersebut masih menjadi momok bersama dalam industri pakan.

Sebagai negara tropis dengan curah hujan yang cukup tinggi, berkisar di antara 2000-3000 mm/tahun, Indonesia merupakan negara yang cukup “nyaman” sebagai tempat hidup kapang/jamur.

Masalahnya kapang/jamur tersebut dapat tumbuh pada tanaman biji-bijian seperti jagung dan kedelai yang merupakan bahan baku pakan. Tak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar biji-bijian yang digunakan sebagai sumber bahan pakan sangat rentan terhadap kontaminasi toksin yang dihasilkan oleh jamur tersebut.

Faktor iklim yang dimiliki Indonesia serta kualitas manajemen dan handling di lapangan, membuat mikotoksin tidak bisa dielakkan, sehingga mengakibatkan potensi kerugian yang besar.

Sejatinya, toksin dapat diartikan sebagai senyawa beracun yang diproduksi di dalam sel atau organisme hidup, dalam dunia veteriner disepakati terminologi biotoksin dalam menyebut mikotoksin maupun toksin lainnya, karena toksin diproduksi secara biologis oleh mahluk hidup memalui metabolisme bukan artificial (buatan).

Dalam industri pakan ternak sering didengar istilah mikotoksin (racun yang dihasilkan oleh kapang/jamur). Sampai saat ini cemaran dan kontaminasi mikotoksin dalam pakan ternak masih membayangi tiap unit usaha peternakan, tidak hanya di negeri ini, tetapi juga di seluruh dunia.

Berbagai Jenis Mikotoksin
Dalam industri pakan, setidaknya ada tujuh jenis mikotoksin yang sangat ditakuti mencemari bahan baku maupun pakan jadi, ketujuhnya kerap mengontaminasi dan menyebabkan masalah pada ternak. Terkadang dalam satu kasus, tidak hanya satu mikotoksin yang terdapat dalam sebuah sampel.

Menurut Nutrisionis BEC Feed Solution, Mega Pratiwi Saragi, masalah mikotoksin merupakan masalah klasik yang terus berulang dan sangat sulit diberantas. “Banyak faktor yang memengaruhi kenapa mikotoksin sangat sulit diberantas, misalnya saja dari cara pengolahan jagung yang salah,” tuturnya.

Maksudnya adalah kebanyakan petani jagung di Indonesia hanya mengandalkan iklim dalam mengeringkan jagungnya dengan bantuan sinar matahari/manual. Mungkin ketika musim panas hasil pengeringan akan baik, namun pada musim basah (penghujan) tentu tidak bisa diandalkan.

“Jika pengeringan tidak sempurna, kadar air dalam jagung akan tinggi, sehingga disukai oleh kapang. Lalu kapang akan berkembang di situ dan menghasilkan toksin,” tambahnya.

Masih masalah iklim menurut Mega, Indonesia yang beriklim tropis merupakan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi April 2026. (CR)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer