Tidak semua orang mau mengonsumsi olahan kulit dan kaki sapi. Padahal, jika diolah dengan sempurna, nikmatnya luar biasa. Kandungan nutrisinya juga menyehatkan, asal tak berlebihan.
Lebaran Idul Adha tak lama lagi tiba. Aroma hewan kurban sudah tercium hampir di setiap sudut pinggiran jalan. Tak hanya kambing dan domba, sapi dari berbagai varian pun sudah mulai menghuni di kandang-kandang dadakan. Aroma kotoran kambing dan sapi memang cukup menyengat saat melintas di jalanan, namun fenomena ini menjadi hal biasa setahun sekali.
Saat hari penyembelihan hewan kurban tiba adalah saat yang paling ditunggu. Kegembiraan umat Islam menikmati pembagian daging kurban menjadi keberkahan tersendiri. Aneka olahan daging menjadi sajian istimewa di Hari Raya ini.
Di tengah melimpahnya stok daging, tak semua orang memilih untuk dijadikan olahan. Ada yang justru lebih memilih kaki sapi untuk diolah menjadi menu istimewa, seperti gulai tunjang atau olahan lainnya.
Faiz Ramadhan adalah salah satunya. Karyawan perusahaan provider seluler di Jakarta ini punya hobi masak. Sejak masih kuliah, pemilik skill IT (Information Technology) ini gemar memasak gulai kaki sapi. “Masak tunjang memang butuh waktu lama, biar tekstur kikilnya lembut. Dari dulu saya suka,” tuturnya kepada Infovet.
Selain kaki sapi, Faiz juga mengaku sering memasak kulit sapi yang ia beli di pasar. Olahannya tak beda jauh dengan gulai. Selain nikmat, menurutnya kikil sapi memiliki kandungan nutrisi cukup baik bagi tubuh. Salah satunya kandungan protein dan kolagen. “Saya sering baca artikel yang mengulas soal kandungan gizi pada kulit sapi, ternyata kandungan proteinnya cukup tinggi,” ujarnya.
Dalam sebulan, paling tidak satu kali ia memasak gulai kikil. Bahannya ia beli di pasar tak jauh dari rumahnya, di kawasan Parung, Bogor. Saat Idul Adha, biasanya ia mendapat kiriman satu kaki sapi dari panitia kurban di masjid dekat rumahnya. Ia meminta bantuan temannya untuk membersihkan bulu dan kukunya, jika sudah bersih, Faiz siap mengolahnya.
Cek Kandungan Nutrisinya
Tak semua orang mau makan olahan kaki sapi. Ada sebagian orang yang enggan dengan alasan geli ketika terpikirkan kaki sapi yang belum diolah. Apalagi jika proses mengolahnya kurang bersih, masih ada bulu dan aroma perengus yang membuat nafsu makan hilang seketika. Ada juga yang memercayai kandungan kolesterol yang tinggi, apalagi diolah dengan kuah santan.
Merujuk pada laman Fastsecret Indonesia yang mengulas seputar gizi menyebutkan, dalam 100 gram olahan kulit sapi terdapat 100 kalori, dengan rincian 40% lemak, 16% karbohidrat, dan 43% protein. Kandungan gizi yang lumayan jika diabaikan.
Menurut salah satu Dietisien di Rumah Sakit Umum Pemerintah Fatmawati, Akromah SGz RD, mengungkapkan bahwa kulit sapi merupakan sumber protein hewani yang cukup tinggi kandungannya. Dalam 100 gram kulit sapi, memiliki kandungan protein 10 gram. Ini termasuk tinggi. Sementara kandungan lemaknya tak terlalu tinggi, masih di bawah protein.
Menurut ahli gizi ini, kandungan kolesterol pada kulit sapi juga tidak terlalu tinggi. Masih aman untuk dikonsumsi dalam porsi yang wajar. “Tapi prinsipnya semua sumber pangan hewani itu mengandung kolesterol. Namun pada kulit sapi tidak terlalu tinggi dan tetap harus dijaga porsinya” ujarnya kepada Infovet.
Akromah menyebut, wajar-wajar saja apabila ada orang yang takut mengonsumsi olahan kikil, karena ketidaktahuan mereka akan kandungan gizinya. Yang terbayang hanya kandungan kolesterol yang menghantui. Bahkan ada pula yang takut terserang asam urat dan penyakit “menyeramkan” lainnya.
Namun demikian, hal tersebut hanya persepsi yang kurang tepat. “Selama porsinya wajar, tidak berlebihan, tidak masalah. Baik-baik saja konsumsi olahan kulit sapi,” tambahnya.
Banyak literatur yang menyebutkan bahwa olahan kulit sapi, baik dibuat menjadi kerupuk, gulai, maupun sop kikil memiliki kandungan protein hewani. Kerupuk kulit meskipun sudah kering dan digoreng, di dalamnya masih terkandung protein.
Protein hewani ini merupakan kandungan gizi yang baik untuk tubuh. Beberapa manfaat dari protein hewani di antaranya untuk pertumbuhan dan regenerasi sel-sel tubuh, meningkatkan pembentukan energi tubuh, meningkatkan ketahanan tubuh, dan meningkatkan massa otot.
Ini Dia Khasiatnya
Dalam banyak literatur tentang kesehatan, ada beberapa manfaat mengonsumsi olahan kulit sapi. Pertama, manfaat untuk elastisitas kulit. Kikil sapi punya kandungan protein berbentuk kolagen. Kolagen berguna untuk melindungi organ dalam tubuh dan membantu elastisitas kulit.
Kedua, manfaat antioksidan. Dalam kikil sapi ini juga mengandung mineral selenium yang diperlukan tubuh untuk membuat enzim selenoprotein, di antaranya enzim glutation peroksidase yang berfungsi sebagai antioksidan alami untuk membantu mencegah risiko terjadinya penyakit degeneratif yang muncul seiring dengan bertambahnya usia.
Ketiga, manfaat membantu regenerasi sel dalam tubuh. Selain kolagen, kandungan kalsium dari kikil sapi ini juga cukup besar. Nah, dengan mengonsumsi kikil sapi secara baik dan benar, maka asupan mineral seperti kalsium kalogen untuk tubuh akan tercukupi. Sehingga membuat tulang dan gigi kuat, tidak mudah kropos karena asupan kalsiumnya seimbang. Kalsium dan fosfor sangat bagus untuk perkembangan tulang. Nutrisi ini lebih tepat untuk remaja yang sedang dalam masa tumbuh kembang.
Keempat, membantu menjaga stamina. Dengan penambahan rempah seperti jahe merah pada olahan kikil sapi, dipercaya bisa membantu meningkatkan stamina yang mudah lelah. Tentunya selain jahe ada sejumlah rempah lainnya yang bisa dikreasikan seperti cabai jawa atau cabai puyang.
Bagi sebagian orang yang masih merasa geli dengan olahan kulit atau kaki sapi, bisa mencobanya dengan varian olahan yang lain. Jika tak suka dimasak berkuah, bisa diolah dengan cara ditumis atau mengonsumsinya dalam bentuk kerupuk kulit. Kerupuk tersebut terbuat dari kulit sapi dengan tambahan bumbu sehingga memiliki cita rasa yang gurih dan renyah. ***
Ditulis oleh:
Abdul Kholis
Koresponden Infovet Daerah Depok,
Konsultan media dan penulis buku,
Writing Coach Griya Menulis (Bimbingan Menulis Buku & Jurnalistik),
Juara I Lomba Jurnalistik Tingkat Nasional (Unsoed, 2021) & Juara I Kompetisi Menulis
Artikel Tingkat Nasional dalam rangka HATN, 2022








