-->

MANAJEMEN PERALATAN DAN AKTIVITAS PERIODE BROODING

Brooding merupakan masa awal pemeliharaan unggas yang sangat penting dan memengaruhi periode pemeliharaan berikutnya (grower/finisher). (Foto: Infovet/Ridwan)

Periode pemanasan atau brooding period merupakan masa paling kritis dalam siklus kehidupan ayam, baik ayam bibit (breeder), petelur (layer) maupun pedaging (broiler), karena DOC mengalami proses adaptasi dengan lingkungan baru sejak menetas. Periode ini juga merupakan masa proses pembentukan kekebalan (imunitas) tubuh dan masa awal pertumbuhan semua organ tubuh.

Masa brooding pada ayam ialah periode pemeliharaan dari DOC (chick in) hingga umur 14 hari (atau hingga pemanas/brooder tidak digunakan). Baik tidaknya performance (penampilan) ayam di masa selanjutnya seringkali ditentukan dari bagaimana pemeliharaan di masa brooding. Satu hal yang perlu diperhatikan oleh peternak yakni kesalahan manajemen pada periode brooding dan akibatnya seringkali sulit dipulihkan kembali dan berdampak negatif terhadap performa periode pemeliharaan selanjutnya (grower/finisher).

Berikut peralatan dan aktivitas yang perlu dilakukan pada masa brooding, antara lain:

1. Persiapan Sebelum Chick in
a. Biosekuriti ketat: Biosekuriti adalah kunci menekan penularan berbagai penyakit dari ayam periode sebelumnya, di mana untuk mewujudkannya dapat dilakukan tindakan/perlakuan selama pre chick in yang dimulai dari:
• Tahap persiapan kandang yang optimal, seperti pengangkatan kotoran ayam (feses), penyikatan, hingga ke sela-sela kandang, perbaikan kerusakan kandang dan desinfeksi kandang.
• Desinfeksi tempat minum dan tempat pakan DOC sebelum digunakan kembali.
• Masa istirahat kandang yang cukup sebelum chick in (minimal 14 hari setelah desinfeksi).

b. Persiapan dan perlengkapan kandang: Pemilihan bahan litter (sekam padi/jerami/serutan kayu halus/kertas), penyediaan tempat pakan (feeder chick/nampan), tempat minum DOC dan indukan pemanas gas (Gasolec). Sekam padi bahan yang umum dipakai sebagai litter dan ditabur di lantai dengan ketebalan 8-12 cm. Sebelum masuk kandang, sekam padi perlu dikeringkan dan difumigasi atau disemprot dengan desinfektan agar mematikan kuman penyakit yang mungkin ada. Usahakan agar jumlah peralatan sesuai dengan standar kebutuhan DOC agar tidak terjadi persaingan antar DOC baik dalam hal pakan, air minum dan ruang gerak. Pada Tabel 1 berikut disajikan Kebutuhan peralatan dan perlengkapan untuk 1.000 ekor DOC.

Tabel 1: Kebutuhan Peralatan dan Perlengkapan Periode Brooding Per 1.000 DOC
Peralatan
Kapasitas
Jumlah Dibutuhkan
Chick guard (seng pembatas)
1.000 ekor (diameter 4-5 meter)
1 buah
Indukan Pemanas Gas
1.000 ekor
1 buah
Tempat pakan (nampan/feeder chick)
50-63 ekor
16-20 buah
Tempat minum 1 galon
80-120 ekor
10-12 buah
Lampu pijar
75 watt
1 buah
Sumber: Manajemen Brooding Medion (2010).

c. Menyalakan alat pemanas: Alat pemanas (Gasolec) sebaiknya dinyalakan satu hari sebelum DOC tiba, dengan tujuan agar suhu di sekitar lingkungan sudah hangat dan merata. Suhu yang diperlukan untuk DOC bisa diukur dengan menggunakan termometer yang diletakkan 5 cm di atas permukaan sekam di pinggir chick guard (lingkaran pelindung). Kebutuhan suhu pada masa brooding untuk DOC, seperti pada Tabel 2 berikut.

Tabel 2: Kebutuhan Suhu pada Masa Brooding
Umur DOC (hari)
Suhu (°C)
0-3
32-35
4-7
29-34
8-14
27-31
15-21
25-27
Sumber: Sukses Beternak Ayam Broiler (2006).

d. Menyiapkan tempat minum: Tempat minum diisi air gula merah/aren dengan takaran 50-60 gram gula aren/liter air untuk 6-8 jam pertama, dengan tujuan agar DOC memperoleh energi baru setelah kehilangan energi dalam transportasi dari penetasan menuju farm/peternakan.

2. Chick in
a. Penimbangan dan penghitungan DOC: Saat chick in, pertama kali lakukan penimbangan (timbang DOC bersama-sama boksnya lalu dikurangi berat boks kosong) dan penghitungan jumlah DOC. Sekaligus memindahkan DOC ke chick guard, lakukan penyeleksian dengan mengisolasi DOC yang terlihat lesu, bulu kusam, kerdil dan mata keruh, karena akan menurunkan uniformity (% keseragaman bobot badan) dan kemungkinan menjadi sumber penyakit.

b. Pemberian pakan: Tiga sampai empat jam setelah semua DOC minum, segera berikan pakan starter (kandungan protein 19-21%) sedikit demi sedikit dengan cara ditabur, karena daya tampung tembolok yang terbatas dan terjaga kesegaran pakan akan memacu nafsu makan DOC agar tetap tinggi dan peternak harus lebih sering mengontrol DOC. Berikut disajikan frekuensi pemberian pakan seperti pada Tabel 3 berikut.

Tabel 3: Frekuensi Pemberian Pakan Masa Brooding
Umur (hari)
Frekuensi Pemberian Pakan (kali)
Waktu Pemberian (Jam)

1-3
9
6
8
10
12
14
16
19
21
23
4-6
8
6
8
10
12
14
16
19
21
-
7-10
7
7
10
13
15
17
19
21
-
-
11-14
5
7
10
13
16
19
-
-
-
-
Sumber: Manajemen Brooding (2010).

c. Pemberian air minum: Setelah 6-8 jam pertama dan air minum mengandung gula aren habis, isi tempat minum dengan air biasa plus vitamin elektrolit agar perkembangan tubuh DOC lebih optimal lagi.

d. Kontrol kondisi tembolok DOC: Lakukan pemeriksaan konsumsi ransum dan air minum 2-3 jam setelah pemberian pakan pertama, dengan cara meraba tembolok dari sampel DOC. Bila  75% dari sampel ternyata temboloknya terasa kenyal dan lunak, berarti konsumsi pakan dan air minum cukup, kemudian pengontrolan diulang 24 jam kemudian dan diharapkan 95% tembolok terasa kenyal dan lunak. Bila tembolok terasa keras, kemungkinan DOC banyak memakan sekam dan air minum.

e. Kontrol kondisi sekam: Pada 1-3 jam setelah chick in, lakukan pengontrolan suhu sekam/litter apakah sudah nyaman atau belum? Salah satu teknik mendeteksinya adalah dengan memperhatikan kondisi kaki DOC, di mana bila litter terlalu panas maka kaki akan tampak kemerahan dan pecah-pecah di bagian kuku dan telapaknya, juga DOC yang mengalami hal ini biasanya akan berkumpul menjauh dari brooder. Sebaliknya bila litter terlalu dingin maka kaki DOC teraba dingin (dibanding suhu tubuh manusia), yang dampaknya konsumsi pakan menurun karena DOC cenderung diam memadati brooder.

f. Kontrol chick guard: Chick guard diperlebar setelah tiga hari pertama untuk menambah luas lantai (floor space), di mana pelebaran chick guard harus diulang setiap dua hari sekali sekitar 0,3-0,5 m. Setiap pelebaran harus diimbangi dengan penambahan tempat pakan (feeder) dan tempat minum (waterer). Floor space yang diperlukan untuk ayam broiler selama tiga minggu pertama sekitar 10-11 m2, tergantung strain ayam itu.

g. Melakukan seleksi dan grading: Seleksi dilakukan secara rutin setiap hari sejak minggu pertama, dengan tujuan memisahkan DOC yang kerdil, kaki kering, omphalitis (perut kembung) serta abnormal (kaki pincang, paruh bengkok, tubuh lemas) dari anak ayam yang masih sehat dan normal. DOC afkir harus segera dimusnahkan dan dicatat (recording) sebagai penyusutan (depletion). Sementara, grading adalah aktivitas pengelompokan ayam menjadi beberapa kelompok dengan standar berat badan yang ada. DOC yang kecil diisolasi tersendiri lalu diberikan perlakuan (treatment) khusus  agar mampu mengejar ketertinggalan berat badannya dengan cara sesering mungkin membangunkan DOC untuk makan, pemberian pemanas lebih lama, pemberian vitamin elektrolit terus-menerus dan mengurangi perbandingan tempat makan/minum dengan populasi ayam. Grading dilakukan sejak ayam berumur 17-22 hari.

h. Mengatur sirkulasi udara kandang: Hal ini perlu dilakukan terutama untuk kandang terbuka (open house), yang dilakukan 2-3 hari masa brooding (tergantung pada kondisi udara di dalam kandang). Mengatur sirkulasi udara yaitu dengan cara membuka layar/tirai dari bagian atas ke bawah (minggu kesatu 1/3 bagian, minggu kedua 2/3 bagian dan minggu ketiga seluruh bagian). Namun bila malam hari, saat hujan turun atau ada hembusan angin dingin, layar bagian bawah tetap ditutup hingga ayam berumur empat minggu, dalam arti pertumbuhan bulu sudah sempurna menutupi seluruh tubuh.

i. Mengganti tempat pakan dan tempat minum: Nampan (feeder chick) mulai diganti dengan tempat pakan tabung kapasitas 5 kg secara bertahap, yaitu 25% sejak DOC berumur 5-10 hari. Selanjutnya pada hari ke-15 diganti sebanyak 50% dan pada hari 18-21 diganti 100%. Demikian juga halnya dengan tempat minum.

j. Membuat laporan (recording): Pencacatan laporan pada masa brooding bertujuan untuk mengetahui perkembangan ayam menyangkut pertambahan berat badan mingguan, tingkat keseragaman (uniformity), tingkat konsumsi pakan (feed in take) dan perkembangan kesehatan. Laporan memuat jumlah ayam yang mati/afkir, jumlah dan cara pemberian pakan, obat-obatan, vaksin, berat badan mingguan dan tingkat keseragaman. Data perkembangan berat badan mingguan dan konsumsi pakan kemudian digambarkan dalam grafik standar berat badan dan konsumsi pakan mingguan.

Demikianlah pembahasan tentang masa brooding dan kaitannya dengan manajemen peralatan, serta kegiatan-kegiatan yang penting diaplikasikan, semoga bermanfaat. (SA)

Peternakan di Jawa Barat Jadi Tujuan Praktikum Mahasiswa Fapet Unsoed

Foto: unsoed.ac.id


Sebanyak 247 mahasiswa, 12 asisten mahasiswa, dan 5 dosen Fakultas Peternakan (Fapet) Unsoed selenggarakan kegiatan praktikum di peternakan yang ada di kawasan Jawa Barat, Minggu (11/11/2018).

Kegiatan yang berlangsung selama 3 hari ini, mahasiswa didampingi penanggung jawab kegiatan praktikum yaitu Ir Nunung Noor Hidayat MP dan juga di dampingi dosen pengampu matakuliah Agribisnis diantaranya Ir Oentoeng Edy Djatmiko MP, Ir Hudri Aunurohman MP, Ir Sri Mastuti MP dan Sugiarto, SPt MM PhD.

“Tujuan diselenggarakannya kegiatan praktikum di Jawa Barat ini untuk menambah pengetahuan mahasiswa agar lebih mengenal dunia usaha peternakan, dan pengenalan teknologi pada industri peternakan, serta bagaimana cara mengolah pakan ternak”, ungkap Ir Nunung, seperti dikutip dari laman unsoed.ac.id.

Praktikum dilaksanakan dengan mengunjungi beberapa tempat di Jawa Barat. Peternakan kambing perah As Salam Farm di Tasikmalaya menjadi tujuan pertama, dilanjutkan ke peternakan ayam broiler Sukahari Farm masih di Tasikmalaya.

Lokasi berikutnya peternakan ayam layer Akaw Farm di Garut, kemudian PT Agro Investama (domba potong), Andika Pakan Ternak PS (feedmill) di daerah Ciamis, dan kunjungan terakhir di PT Citra Agro Buana Semesta di Malangbong, Garut.

“Diharapkan para mahasiwa bisa mengamati, mencermati, menentukan pilihan sasaran usaha dan mengukur pengetahuan yang ada serta mengambil spekulasi penentuan arah usaha dibidang peternakan nantinya”, pungkas Ir Nunung. (NDV)

Pemerintah Gandeng Peternak Tekan Antimicrobial Resistance

Kasubdit POH, Ni Made Ria Isriyanthi (tengah), saat menjadi pembicara pada Sarasehan Peternak Unggas di Malang, Jumat (16/11). (Foto: Istimewa)

Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan menggandeng peternak yang tergabung dalam Pinsar Petelur Nasional (PPN) Cabang Jawa Timur, Pinsar Indonesia Cabang Jawa Timur dan Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN), serta Komunitas Peternak Ayam Indonesia dalam mendukung pengendalian resistensi antimikroba atau Antimicrobial Resistance (AMR).

Hal tersebut dikatakan Kasubdit Pengawas Obat Hewan (POH), Ni Made Ria Isriyanthi dalam kegiatan Sarasehan Peternak Unggas, pada rangkaian kegiatan Pekan Kesadaran Antibiotik Sedunia di Malang, Jumat (16/11).

“Peternak merupakan salah satu subyek yang memungkinkan dalam pengguna antibiotik untuk ternak. Dikhawatirkan jika penggunaan dalam dosis yang cukup tinggi, maka dapat berkontribusi mempercepat perkembangan dan penyebaran AMR,” ujar Ria dalam keterangan persnya.

Menurutnya, penggunaan antimikroba di sektor peternakan Indonesia saat ini cukup mengkhawatirkan. Hal itu terlihat dari hasil survey penggunaan antimikroba yang dilakukan Kementerian Pertanian bersama FAO Indonesia pada 2017 lalu di tiga provinsi, yakni Jawa Barat, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan.

“Hasilnya cukup mencengangkan, 81,4% peternak menggunakan antibiotik pada unggas untuk pencegahan, 30,2% untuk pengobatan, serta 0,3% digunakan untuk pemacu pertumbuhan,” ungkap dia.

Oleh karena itu, melalui Permentan No. 14/2017 yang berlaku awal tahun ini, pemerintah melarang penggunaan antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan (Antibiotic Growth Promotor/AGP) pada pakan ternak. “Ini dilakukan untuk mengendalikan penggunaan antibiotik di peternakan, sekaligus mendorong peternak menghasilkan produk yang sehat untuk masyarakat,” ucapnya.

Lebih lanjut, peternak harus mulai bisa menerapkan biosekuriti tiga zona dan beternak dengan bersih, termasuk melakukan vaksinasi dengan tepat. “Antibiotik tetap diizinkan untuk tujuan terapi dan diberikan dengan resep dokter hewan, serta di bawah pengawasan dokter hewan,” papar Ria.

Pada kesempatan yang sama, Tri Satya Putri Naipospos, dari Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies (CIVAS), menyampaikan, pada 2010 Indonesia merupakan negara nomer lima pengonsumsi antibiotik tertinggi di dunia. Tanpa adanya pengendalian, posisi ini dapat menanjak pada 2030 mendatang. “Apalagi populasi ternak kita cukup tinggi, terutama unggas,” kata dia. Untuk mengganti AGP, ia menyarankan peternak menggunakan alternatif seperti probiotik, prebiotik, asam organik, minyak esensial maupun enzim.

Sementara, Komite Pengendali Resistensi Antimikroba (KPRA) Kementerian Kesehatan, Harri Parathon, menyebutkan, peternak harus lebih aktif dalam pengendalian bakteri resisten. Sebab, saat ini obat kolistin untuk memerangi bakteri resisten terhadap antibiotik terkuatpun telah dilaporkan tidak efektif lagi. “Makin sering kita minum antibiotik, bakteri makin bermutasi dan menjadi ganas. Demikian juga pada produk unggas yang dapat menyimpan residu lalu masuk ke tubuh manusia ketika dikonsumsi,” katanya. (RBS)

Ketua Umum PB PDHI Silaturahmi ke PB ISPI dan Sejumlah Petinggi Organisasi


Dengan Cabang DKI
Dengan ibu ibu Istri Dokter Hewan 
Bertempat di Restoran Parsley Jl Kaliurang Km 5 Yogyakarta, Minggu 18 Nov 2018, ketua umum PB PDHI (Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia) periode 2018-2022 Drh M Munawaroh MM mengadakan pertemuan dengan Ketua Umum PB ISPI Prof. Ali Agus. Menurut Munawaroh pertemuan ini dimaksudkan untuk menjalin silaturahmi yang lebih baik sekaligus untuk menjajaki peluang kerja sama yang lebih produktif antara kedua organisasi tersebut di era kepemimpinannya.

Sejak terpilih sebagai Ketua Umum PB PDHI pada Kongres PDHI awal November lalu, Munawaroh aktif melakukan kunjungan ke berbagai daerah antara lain ke pengurus cabang PDHI dan organisasi non teritorial di bawah PDHI.  Kepada Infovet, ia mengatakan kunjungan ke cabang PDHI dimaksudkan untuk menggali aspirasi dari bawah, sehingga ia bisa melakukan perbaikan ke depan bersama pengurus PB yang sebentar lagi akan dilantik.

Dengan PDHI Cabang Banten 2
Khusus dengan PB ISPI, ia mengatakan, banyak hal yang berkaitan dengan upaya memajukan bidang peternakan dan kesehatan hewan dapat di kolaborasikan dengan organisasi ISPI.

Dengan PDHI Cabang NTB
Dalam waktu dekat PDHI dan ISPI akan menyusun berbagai kegiatan bersama dengan sasaran peternak peternak Sapi Domba dan unggas.  Ketua Umum PB ISPI Prof Ali Agus menyambut baik pertemuan dengan Ketua Umum PB PDHI. "Semoga menambah barokah dan kebaikan bagi kedua organisasi," kata guru besar Fakultas Peternakan UGM itu.

Beberapa hari lalu, Munawaroh juga melakukan pertemuan dengan anggota DPR Komisi IV Viva Yoga Maulady yang juga seorang sarjana kedokteran hewan. Dengan anggota dewan ini, ia telah menjajaki sejumlah langkah baru untuk melakukan sinergi untuk meningkatkan peran dokter hewan dalam pembangunan nasional.

Organisasi Sejak Zaman Hindia Belanda

Dengan Viva Yoga
Melihat sejarahnya, perhimpunan dokter hewan sudah ada sejak zaman Hindia Belanda tahun 1884  dengan nama Nederland-Indische Vereeniging voor Diergeneeskunde. Organisasi ini berdiri pada saat Hindia Belanda banyak mengalami wabah penyakit hewan, mulai dari wabah Rinderpest di tahun 1875, wabah Septicaemia Epizootica dan Anthrax di tahun 1884, wabah Surra di tahun1886, dan wabah Penyakit Kuku dan Mulut di tahun 1887.

Dengan PDHI Cabang DIY
Pada saat awal kemerdekaan Republik Indonesia, didirikanlah sebuah perkumpulan dokter hewan dengan nama Perhimpunan Ahli Kehewanan, beranggotakan dokter hewan Indonesia dan dokter hewan Belanda yang menjadi tenaga pengajar di Faculteit Kedokteran Hewan Universiteit Indonesia.
Organisasi inilah yang kemudian, pada saat Kongres-nya yang pertama di Lembang, Bandung tanggal 9 Januari 1953, mendirikan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia. Tanggal 9 Januari kemudian diperingati setiap tahun sebagai hari jadi PDHI hingga kini.





Fapef UGM Terapkan Metode Teleconference dalam Simposium


Foto : Dok. Fapet UGM

Menyambut era revolusi industri 4.0, sektor peternakan dituntut untuk mampu berinovasi dalam memanfaatkan perkembangan teknologi. Tema hangat ini mengemuka dalam Simposium Nasional Penelitian dan Pengembangan Peternakan Tropik (Simnaster) 2018, Senin (5/11/2018) di Auditorium Drh R Soepardjo Fakultas Peternakan (Fapet) UGM.

Simposium ini menggunakan metode teleconference, serta turut mempelopori program #IndonesiaEfisien 4.0. Maksud dari penggunaan teknologi dan program efisiensi ini adalah untuk turut mempelopori penyelenggaraan simposium yang mengutamakan efisiensi dalam penggunaan peralatan dan perlengkapan seminar.

Kebaruan dari metode Simnaster 2018 adalah pendaftaran dapat menggunaan gadget, karena menggunakan aplikasi khusus Simnaster 2018.

Perkembangan industri peternakan saat ini meliputi inovasi pakan, manajemen feedlot, komputasi data, ekonomi digital, big data dan sebagainya. Perkembangan ini selanjutnya mengarah pada sistem automatisasi yang dibutuhkan untuk memudahkan peternak dan industri dalam mengelola usahanya.  Automatisasi memungkinkan industri menghemat sumber daya dan mengoptimalkan efektivitas hasil produksi dalam waktu cepat.

“Acara ini bertujuan memperkenalkan Internet, Communication, and Technology (ICT) dalam bidang peternakan sebagai sarana meningkatkan kesejahteraan peternak dan memenuhi kebutuhan industri. Selain juga menyediakan wadah bagi stakeholder, industri, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan peternak rakyat untuk menjalin networking,” terang Ketua Panitia Seminar, Dr Ir Endy Triyannato SPt dalam keterangan resminya.

Simposium ini diikuti kurang lebih 150 peserta dengan 46 pemakalah oral dan 26 pemakalah poster dengan berbagai macam tema terkait industri peternakan 4.0. Antara lain tema nutrisi unggas, nutrisi ruminansia, produksi ternak unggas, produksi ternak perah, produksi ternak potong, sosial ekonomi peternakan, inovasi teknologi dalam bidang peternakan, dan lainnya.

Tantangan Bagi Fapet UGM

Jumlah publikasi riset internasional yang dihasilkan oleh peneliti Indonesia semakin meningkat dalam lima tahun terakhir bahkan berada di atas negara Singapura dan Thailand. Kendati demikian, kenaikan tersebut belum diikuti oleh kualitas produk hasil riset karena masih kuatnya ego sektoral masing-masing lembaga.

Oleh karena itu, antarperguruan tinggi dan lembaga riset saling bersinergi untuk menghasilkan hasil riset yang bisa dibanggakan oleh Indonesia di mata internasional.

“Tantangan kita, belum memiliki ikon nasional yang bisa dibanggakan karena antarlembaga tidak sinergi,” kata Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pe­ngembangan, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Muhammad Dimyati, saat menjadi pembicara kunci pada Simnaster 2018 ini.

Melansir dari laman fapet.ugm.ac.id, Dimyati memberi tantangan bagi peneliti di Fakultas Peternakan UGM untuk menghasilkan salah satu produk riset yang bisa dibanggakan bangsa Indonesia.

“Pesan Pak Menteri, tahun depan Fakultas Peternakan bisa hasilkan produk riset sapi Indonesia,” ujarnya. (NDV)




Dibalik Pemeliharaan yang Tepat, Terbitlah Ayam yang Sehat

Pemeliharaan budidaya ternak yang baik menciptakan produktivitas ternak yang sehat. (Foto: Infovet/Ridwan)

Memiliki ternak dengan performa yang maksimal merupakan impian setiap peternak. Performa akan berbanding lurus dengan manajemen pemeliharaan yang tepat. Berikut ini redaksi Infovet merangkum berbagai tips dan trik dalam mewujudkan ayam yang sehat.

Bibit
Bagi seorang peternak khususnya peternak broiler, keberhasilan dalam beternak juga dipengaruhi oleh kualitas DOC (Day Old Chick). Menurut Sunarto, peternak asal Sragen, beberapa bulan ini selain sulit mendapatkan DOC, kualitasnya pun kurang memuaskan.

“Sekarang banyak yang kakinya kering sama kembung, lepas brooding susah gedenya itu ayam, sudah begitu harganya lumayan mahal,” ujar Sunarto.

Selain itu menurutnya, sekarang ini banyak aksi tipu-tipu, misalnya DOC grade A dioplos grade B. Atau yang lebih parah, DOC polosan (afkir) banyak disisipkan pada DOC dengan memiliki grade lebih tinggi. Oleh karenanya, Sunarto memiliki trik tersendiri dalam meminimalisir aksi tipu-tipu tersebut, diantaranya:
• Bisa berdiri serta lincah
• Pusar tidak basah
• Anggota badan lengkap serta normal
• Bulu tumbuh dengan sempurna, warna bulu sesuai dengan breed
• Warna kaki atau paruh tidak pucat
• Bobot antara 35-40 gram tergantung tipe
• Perut tidak kembung
• Tidak ada luka sedikitpun, walau hanya memar

Pakan
Biaya terbesar dari suatu usaha peternakan berasal dari pakan, apapun jenis peternakannya biaya pakan biasanya mencapai lebih dari 60% total keseluruhan harga produksi. Di dalam pakan terkandung berbagai nutrisi yang dibutuhkan oleh ayam dalam menunjang performa.

Setiap jenis ayam tentunya membutuhkan nilai nutrisi yang berbeda, begitu pula tiap fase hidupnya. Oleh karena itu pakan harus... (CR)


Selengkapnya baca Majalah infovet edisi November 2018.

ISPI Kalbar Ajak Masyarakat Nyate dan Ngebakso Bersama Gubernur Sutarmidji




Sabtu, 1 Desember 2018 mendatang, Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI) Pengurus Cabang Kalimantan Barat (Kalbar) menggelar acara Nyate dan Ngebakso Gratis Bareng Sutarmidji. Kegiatan bersama Gubernur Kalbar ini merupakan bagian dari kampanye meningkatkan konsumsi protein hewani.

Acara dimeriahkan dengan berbagai perlombaan antara lain Lomba Membuat  Bakso Terbesar Terenak dengan Isian Aneka Bahan Varian Lokal, kemudian Lomba Memasak Olahan Daging Bebek, Lomba Memasak Nasi Goreng Kambing, Makan Telur dan Minum Susu, dan aneka bazaar.

“Kegiatan ini bersifat sosial. Kami bersemangat ikut ambil bagian dalam rangka mengkampanyekan konsumsi protein hewani dengan menggerakkan UKM-UKM yang bergerak di bidang kuliner hasil peternakan,” kata Panitia penyelenggara sekaligus perwakilan ISPI Kalbar, Dedi Hariyadi dihubungi Infovet, Kamis (15/11/2018).

Terselenggaranya acara ini, lanjut Dedi, menargetkan tercukupinya kebutuhan protein hewani (telur, daging, susu) di Kalimantan Barat dengan strategi peningkatan populasi, kebijakan anggaran yang baik, investasi yang menguntungkan daerah, serta kerjasama antara lini untuk memajukan peternakan Kalbar.

Selain itu, diharapkan meningkatkan UKM-UKM yang bergerak di sektor berbahan baku produk peternakan yang Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH).

“Kami ISPI Kalbar berupaya membantu program-program pemerintah dengan kegiatan yang sekiranya tidak ter-cover, sehingga dapat berperan membantu pembangunan peternakan Kalimantan Barat,” pungkas Dedi. (NDV)







ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer