MENDUKUNG PERFORMA LAKTASI MELALUI NUTRISI PRESISI
KADIN INDONESIA BAHAS PELUANG KERJA SAMA DENGAN PERWAKILAN URUGUAY
![]() |
| Drh Deddy Fachruddin Kala Menemui Perwakilan Uruguay (Sumber : KADIN 2026) |
Kepada Infovet Deddy mengutarakan bahwa Uruguay, dengan jumlah penduduk yang hanya 3,5 juta (setara malang raya), memiliki jumlah sapi sebanyak 12juta ekor sapi (setara populasi di Indonesia).
"Oleh karena itu, Uruguay adalah salah satu penghasil susu dan daging terbaik di dunia yang mengekspor 75% dari produksi mereka, dengan market share tertinggi nya adalah Amerika-Eropa-China dan Jepang. Kita bisa bekerja sama dengan mereka," tutur Deddy.
Yang menarik adalah Uruguay memiliki definisi yang ketat tentang susu, Hukum Uruguay mendefinisikan susu sebagai produk biologis alami dan sekresi kelenjar ambing. Definisi ini yang membuat produk2 yang “mengaku” susu namun tidak merupakan sekresi alami dari kelenjar ambing, dilarang di uruguay. Hal ini juga yang mengakibatkan, konsumsi susu perkapita di Uruguay adalah salah satu yang tertinggi di dunia, yaitu sebesar 232/liter/kapita/tahun.
Indonesia dan Uruguay juga memiliki potensi yang besar untuk mengembangkan kemitraan strategis di sektor pertanian dan peternakan. Salah satu peluang utama terletak pada kerja sama di industri susu. Indonesia terus memperkuat produksi daging sapi dan susu dalam negeri, sehingga membuka peluang bagi Uruguay untuk berkolaborasi dalam bidang pembibitan dan genetika ternak, peternakan sapi perah, pengembangan pakan, kesehatan hewan, pengolahan daging, serta industri pengolahan susu.
Kerja sama tersebut diharapkan dapat mendorong investasi, transfer teknologi, serta pengembangan kapasitas produksi di Indonesia. Pada saat yang sama, Indonesia memiliki potensi besar untuk meningkatkan ekspor produk pertanian ke Uruguay dan memperluas akses pasar ke kawasan Amerika Latin. Produk-produk yang berpotensi dikembangkan antara lain buah-buahan tropis, kopi, kakao, rempah-rempah, produk berbahan dasar kelapa, produk berbasis kelapa sawit, pupuk hayati, pupuk organik, serta berbagai produk pertanian bernilai tambah lainnya.
Bidang strategis lainnya adalah kerja sama dalam teknologi dan penelitian pertanian. Indonesia dan Uruguay dapat mendorong penelitian bersama di bidang bioteknologi, pupuk hayati, pertanian presisi, pertanian cerdas iklim (climate-smart farming), peningkatan produktivitas ternak, mekanisasi pertanian, serta sistem ketertelusuran digital (digital traceability).
Untuk mempercepat implementasi kerja sama, kedua negara dapat mengembangkan kegiatan business matching, pembentukan usaha patungan (joint venture), kemitraan penelitian, pertukaran teknologi, serta peluang investasi yang melibatkan pemerintah, sektor swasta, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan para petani. (INF)
![]() |
| Suasana Pertemuan KADIN Indonesia dan Perwakilan Uruguay (Sumber : KADIN 2026) |
Drh Deddy Fachrudin Kurniawan MVet
AGAR PRODUKSI DAN KUALITAS KOLOSTRUM SAPI PERAH MENINGKAT
![]() |
Sapi perah perlu menghasilkan setidaknya 6 liter kolostrum berkualitas baik dengan nilai Brix ≥22% untuk memenuhi kebutuhan pedet yang baru lahir. Namun, sekitar 25–60% sapi perah berpotensi menghasilkan kolostrum dalam jumlah yang tidak mencukupi atau dengan kualitas yang kurang baik berdasarkan standar yang direkomendasikan.
PENGEMBANGAN PETERNAKAN SAPI PERAH KABUPATEN BANDUNG BARAT
Adapun kecamatan yang menjadi sentra peternakan sapi perah di antaranya Lembang 15.648 ekor, Cisarua 6.495 ekor, Ngamprah 706 ekor, dan daerah pengembangan kawasan sapi perah baru ada di Gunung Halu saat ini 84 ekor.
Pada Selasa (19/5/2026), Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bandung Barat, Drh Wiwin Aprianti MSi, mengungkapkan kepada Infovet bahwa program dan dukungan Pemerintah Kabupaten Bandung Barat sangat tinggi, antara lain program inseminasi buatan massal untuk meningkatkan mutu genetik ternak, target 19.000 ekor/tahun, juga melakukan uji zuriat untuk metode deteksi genetik guna mengetahui kualitas calon pejantan, pengembangan hijauan pakan ternak berupa pembibitan, dan distribusi benih hijauan pakan.
Ternak unggul odot, rumput gajah, leguminosa, tidak lupa memberikan bantuan bibit dan sapi perah betina produktif dari UPTD Pembibitan Ternak kepada kelompok ternak, juga yang tidak kalah penting adalah kesehatan ternak berupa layanan kesehatan hewan gratis, vaksinasi PMK dan brucellosis, serta pemeriksaan kebuntingan juga penguatan kelembagaan berupa pembinaan koperasi susu, pelatihan di kandang (on farm training).
Populasi ternak sapi perah saat ini sebanyak 26.603 ekor, 5.339 rumah tangga peternak, produksi susu pada 2025 sebanyak 66.232 ton, 15 liter produktivitas/ekor/hari. Sebanyak 27% kontribusi terhadap Jawa Barat dan 7% kontribusi terhadap nasional, harga susu peternak Rp 7.300-8/000/liter, dengan potensi pengembangan produksi susu segar, yogurt, hingga keju lokal.
Dengan dukungan pemerintah ke Kabupaten Bandung Barat yang sangat besar ini kepala dinas mengupayakan adanya peningkatan populasi dari tahun ke tahun dan juga kesejahteraan peternak sapi perah serta pemenuhan gizi masyarakat dari produksi susu serta olahannya.
Dukungan Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail, yang menetapkan Kecamatan Lembang sebagai wilayah budi daya dan pengembangan Sumber Daya Genetika Sapi Perah Holstein Indonesia memberikan peluang keberlanjutan Koperasi Peternak Sapi Perah Bandung Utara (KPSBU) Lembang, industri pengolahan susu, serta dinas perikanan dan peternakan dalam menyejahtrakan peternak. (HR)
TRANSFORMASI PETERNAKAN SAPI PERAH
Selama puluhan tahun, kebijakan peternakan sapi perah cenderung dibangun di atas asumsi lama, yakni peternak kecil, produksi SSDN sebagai bahan baku, koperasi sebagai penampung, dan industri pengolah susu (IPS) sebagai penentu harga. Asumsi ini mungkin relevan di masa lalu, tetapi menjadi semakin usang di tengah perubahan lanskap ekonomi yang bergerak ke arah digitalisasi, diferensiasi produk, dan sistem bisnis berbasis pasar.
Sejak era industrialisasi hingga masuk ke fase Internet of Things (IoT) dan ekonomi digital, sektor pertanian dan peternakan telah mengalami perubahan mendasar. Produksi massal bergeser ke produksi spesifik sesuai preferensi konsumen. Komoditas bahan mentah berubah menjadi produk bernilai tambah. Namun, kebijakan peternakan sapi perah masih terlalu fokus pada peningkatan populasi ternak dan volume produksi, bukan pada transformasi sistem bisnis dan kelembagaan peternak.
Perubahan perilaku konsumen yang menuntut produk susu siap saji, aman, berkualitas, dan terlacak asal-usulnya belum sepenuhnya diterjemahkan ke dalam kebijakan yang operasional. Negara masih memperlakukan SSDN sebagai komoditas primer, padahal pasar telah bergerak ke arah produk olahan dan diferensiasi nilai. Ketimpangan ini membuat peternak rakyat terjebak sebagai pemasok bahan baku dengan posisi tawar yang lemah.
Masalah semakin kompleks ketika pola transaksi bisnis berubah. Sistem pembayaran di sektor pangan kini cenderung menuju cash before delivery, sementara sebagian besar peternak sapi perah masih bergantung pada sistem pembayaran tertunda (kredit) melalui koperasi. Sayangnya, kebijakan belum cukup hadir untuk menjembatani transisi ini, baik melalui skema pembiayaan yang adaptif, integrasi dengan sistem keuangan digital, maupun perlindungan arus kas peternak.
Koperasi yang seharusnya menjadi instrumen transformasi justru sering terjebak dalam peran administratif dan sosial. Kebijakan koperasi peternakan belum secara serius mendorong koperasi bertransformasi menjadi entitas bisnis modern dengan tata kelola profesional. Banyak koperasi diperlakukan sebagai objek program, bukan sebagai corporate vehicle milik peternak yang mampu mengelola rantai nilai dari hulu ke hilir.
Kritik utama terhadap kebijakan peternakan sapi perah adalah kecenderungannya yang terlalu sektoral. Pendekatan pembangunan masih didominasi oleh intervensi teknis—bibit, pakan, kandang, dan produksi—tanpa diimbangi reformasi kelembagaan, model bisnis, dan akses pasar. Padahal, masalah utama peternakan sapi perah rakyat bukan semata pada kemampuan produksi semata, melainkan pada ketidakmampuan sistem untuk menangkap nilai ekonomi dari perubahan pasar yang lintas sektor.
Transformasi peternakan sapi perah seharusnya diposisikan sebagai agenda kebijakan lintas sektor: pertanian, koperasi, industri, keuangan, dan digital. Negara perlu bergeser dari peran sebagai pelaksana program menjadi enabler transformasi, yang menciptakan ekosistem bisnis kondusif bagi peternak dan koperasi untuk tumbuh sebagai pelaku ekonomi modern.
Tanpa koreksi kebijakan yang mendasar, transformasi peternakan sapi perah akan berlangsung secara timpang, pasar bergerak cepat, sementara peternak rakyat tertinggal. Dalam kondisi demikian, jargon kedaulatan pangan dan penguatan peternak hanya akan menjadi retorika, bukan realitas ekonomi.
Transformasi peternakan sapi perah bukan semata urusan peternak, melainkan cermin kemampuan negara membaca perubahan zaman dan menerjemahkannya ke dalam kebijakan yang relevan, adaptif, dan berpihak pada masa depan.
Jika ini tidak segera dilakukan, tidak mustahil akan terjadi “disrupsi” yaitu perubahan besar dan cepat yang akan mengganggu cara lama (peternak rakyat) baik di sektor ekonomi, teknologi, sosial, maupun tata kelolanya oleh entitas ekonomi lain non-koperasi, menggantikannya dengan cara baru yang lebih efisien. Dengan kata lain, peternakan rakyat akan terpinggirkan dan tumbuh korporasi yang berjiwa kapitalis. ***
LANTIK PENGURUS NASIONAL, AHI KUKUHKAN VISI CIPTAKAN SAPI HOLSTEIN ADAPTIF UNTUK PETERNAK
Dalam sambutannya, Ketua Umum AHI, Dr Ir Rochadi Tawaf MS, menegaskan bahwa momen ini merupakan amanat penting dari AD/ART AHI. Ia menekankan bahwa AHI adalah satu-satunya organisasi peternakan sapi yang bergerak spesifik di bidang perbibitan (breeders association) di Indonesia.
“Tuntutan yang diemban organisasi ini amatlah berat. Pasalnya, AHI tidak hanya menjadi tolok ukur (benchmark) perkembangan persusuan, namun juga merupakan kepanjangan tangan kegiatan perbibitan sapi yang selama ini dilakukan oleh pemerintah. Seperti halnya pembentukan bibit dasar dan bibit sebar di Unit Pelaksana Teknis (UPT) milik pemerintah,” ujarnya.
Harapan utama yang dibebankan kepada AHI adalah mengawal sapi-sapi unggul hasil seleksi, progeny, dan sertifikasi, sehingga memberikan dampak nyata terhadap peningkatan produksi dan produktivitas sapi perah secara nasional.
Cita-cita luhur AHI yang dirumuskan dalam kongres nasional adalah membentuk “Sapi Holstein Indonesia, yang adaptif dengan ekosistem dan budaya masyarakat, untuk kesejahteraan peternak.”
Dalam upaya mengaktualisasikan cita-cita tersebut, AHI telah memperkuat jejaring internasional. Langkah strategis ini dilakukan dengan kehadirannya pada World Dairy Expo di Medison Wisconsin bulan lalu, pertemuan dengan Asosiasi Holstein USA dan Asosiasi Animal Breeder USA untuk menjajaki kerja sama, serta menjalin kolaborasi riset pengembangan sapi Holstein di Indonesia dengan International Livestock Research Institute (ILRI) melalui proyek Asia-Africa Dairy Genetic Gain (AADGG Project).
Dukungan Pemerintah Daerah dan Fokus Kesejahteraan
Kepala DKPP Jawa Barat, menyatakan bahwa komitmen pemerintah mendukung penuh kegiatan AHI. Dalam kesempatan ini, disoroti tiga pilar penting yang harus menjadi fokus kerja sama sinergis antara pemerintah, perguruan tinggi, dan asosiasi, yaitu pengembangan pedet; memastikan ketersediaan pakan yang memadai, murah, dan berkualitas; serta optimalisasi pemanfaatan kotoran ternak (kohe) sebagai sumber pendapatan masyarakat peternak.
Pemerintah Jawa Barat berharap AHI dapat membantu meningkatkan produksi susu dan penyelesaian masalah limbah sapi perah yang mencemari sungai di Jawa Barat.
FGD Strategis: Sertifikasi dan Kemandirian Genetik
Rangkaian acara dilanjutkan dengan focus group discussion (FGD) yang membahas “Strategi Implementasi Sertifikasi Sapi Holstein Indonesia.” Topik ini dianggap sebagai langkah strategi awal bagi AHI untuk mengawal peningkatan produksi dan produktivitas sapi perah.
Sertifikasi ini menurut AHI dipandang esensial untuk membangun database nasional, meningkatkan mutu genetik melalui verifikasi kualitas (estimated breeding value/EBV), dan mempercepat proses terbentuknya bibit sapi Holstein Indonesia yang unggul.
Model pengembangan sapi perah (Delmansarah) di Jawa Barat, akan dijadikan objek kerja sama antar stakeholder peternakan sapi perah seperti koperasi (GKSI), perusahaan peternakan (mega/medium dairy farm), AHI (asosiasi breeders), dan perguruan tinggi (Unpad dan IPB) dalam membangun persusuan nasional.
AHI menyadari bahwa tercapainya target nasional ini memerlukan kepengurusan nasional yang tangguh, berkomitmen, dan berkemampuan tinggi untuk mengeliminasi kendala sektor persusuan saat ini.
“Pengukuhan pengurus ini diharapkan menjadi motivasi kuat bagi seluruh jajaran AHI untuk menjadikan asosiasi sebagai tolok ukur perkembangan persusuan nasional. AHI berkomitmen penuh untuk melaksanakan program kerjanya demi mendukung upaya pemerintah menciptakan iklim yang kondusif serta membangun persusuan nasional yang berkelanjutan,” tukas Rochadi. (INF)
ASOSIASI HOLESTEIN INDONESIA HADIR DI WORLD DAIRY EXPO 2025
Expo tersebut setiap tahun dihadiri sekitar 60 negara di dunia. Selain kontes ternak, pameran ini juga menyelenggarakan seminar para ahli dan juga pameran produk dan sarana peternakan sapi perah.
Pada kesempatan ini, AHI mengikuti berbagai kegiatan di antaranya melihat persiapan kontes ternak. Sapi-sapi peserta kontes rata-rata berproduksi sekitar 50-60 liter/hari/ekor. Selain itu, mengikuti farm tour ketiga peternakan sapi perah, yakni Geno Source Farm, yang memiliki populasi 5.000 ekor sapi laktasi dengan rataan produksi 43 liter/ekor yang diperah dengan routers milking parlor robotic.
Kemudian ke peternakan Morman Dairy Farm yang memiliki 1.000 ekor sapi laktasi, rataan produksinya 50 liter/ekor/hari. Menggunakan individual robotic milking facility. Serta kunjungan ke Farnear Holstein Farm yang memiliki 600 ekor sapi laktasi dengan rataan produksi 43 liter/ekor/hari, menggunakan individual robotic miliking facility.
Selain itu, AHI juga mengikuti seminar tentang Introducing The Genetic Tools dengan topik-topik terkait Calculating Milking Speed PTAs Using Sensor Data; Genetic Tools for Healthier Calves, hingga Improving The Wheels On The Car-Hoof Health and Mobility.
Salah satu yang juga menjadi tujuan utama hadirnya AHI di expo ini adalah bertemu dengan Presiden Nasional Asosiasi Animal Breeder US (NAAB), Jay L. Weiker, untuk membicarakan rencana kerja sama dalam membentuk sapi Holstein Indonesia berkaitan dengan prosedur dan pencatatan dalam sistem produksi dan breeding.
Hal serupa juga dilakukan dengan pertemuan bersama CEO US Holstein, Linsey Worden, untuk membahas rencana kerja sama riset dan pengembangan organisasi dan penelitian tentang sapi Holstein Indonesia.
Dua pertemuan tersebut membicarakan sejarah US Holstein ke Indonesia pada 1989, berdirinya AHI September 2025, kerja sama membentuk sapi Holstein Indonesia, rencana kegiatan jangka pendek (seminar), hingga pengajuan proposal kegiatan kerja sama pada 2026 mendatang.
Pada kesempatan emas ini, peternak sapi perah di Indonesia harus banyak belajar seiring dengan perkembangan teknologi, seperti sistem Internet of Thing (IOT) dan robotik, digitalisasi manajemen pemeliharan dan sistem pola breeding yang akan menghasilkan bibit sapi perah yang berkualitas.
Selanjutnya, AHI akan menjalin kerja sama tekonologi dan peningkatan SDM anggotanya untuk belajar di US Holstein. Kerja sama diharapkan dapat segera terwujud dalam rangka membantu pemerintah mempercepat peningkatan produksi susu nasional dan kesejahteraan peternak sapi perah. (Rochadi Tawaf-Direktur Utama AHI/INF)
ARTIKEL POPULER MINGGU INI
-
Cara Menghitung FCR Ayam Broiler. FCR adalah singkatan dari feed convertion ratio, yaitu konversi pakan terhadap daging. FCR digunakan untuk...
-
Di dunia ini terdapat beberapa jenis ayam terbesar di dunia. Baik dari segi tinggi badannya, ukuran badannya, maupun berat badannya. Di anta...
-
Salah satu ciri telur asin yang berkualitas adalah bagian kuning telurnya yang tampak masir. (Foto: Istimewa) Bukan hanya cara menyimpannya,...
-
Polar atau pollard merupakan salah satu bahan pakan ternak primadona yang berasal dari hasil samping penggilingan gandum. Dalam industri pet...
-
Kegiatan Protein Walk dimulai dengan pengibaran bendera start oleh Ketua Umum ASOHI (Foto: NDV) Memasuki usia 47 tahun, Asosiasi Obat Hewan ...
-
Sumber: Balitbangtan Kementan Ayam KUB adalah ayam kampung galur (strain) baru, merupakan singkatan dari Ayam Kampung Unggul Balitbangtan. A...
-
Prof Dr Ismoyowati SPt MP, dari Unsoed, membawakan materi Mekanisme Kemitraan dalam Budidaya Ayam Broiler, dalam webinar Charoen Pokphand In...
-
Pelepasan peserta Chicken and Egg Run dalam puncak acara HATN 2026. (Foto-foto: Istimewa) “Mulai dari Peternak Kita Bergerak” kalimat ini di...
-
Foto: ilustrasi Meskipun sama-sama multi purpose breed, yaitu bisa dipelihara sebagai pedaging maupun petelur, namun perbedaan bebek Peking ...
-
Dalam dunia peternakan bebek, proses penetasan telur menjadi salah satu kunci utama keberhasilan produksi Day Old Duck (DOD). Terdapat dua c...


.jpeg)




.jpg)
