-->

PENGEMBANGAN PETERNAKAN SAPI PERAH KABUPATEN BANDUNG BARAT

Kadis Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bandung Barat, Drh Wiwin Aprianti MSi, didampingi stafnya memberikan penjelasan kepada Infovet, Drh Heru Rachmadi tentang pengembangan peternakan sapi perah. (Foto: Infovet/Heru)

Terbentuknya Kabupaten Bandung Barat sebagai daerah otonom pada 2007, subsektor sapi perah menjadi unggulan strategis. Lembang berkembang sebagai sentra persusuan utama Jawa Barat. Kolaborasi KPSBU, industri pengolahan susu, serta Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bandung Barat terus diperkuat untuk meningkatkan produksi, kualitas susu, dan kesejateraan peternak.

Luas wilayah Kabupaten Bandung Barat adalah 1.305,77 km2 terdiri dari 16 kecamatan, terdapat dataran tinggi yang sangat cocok untuk sapi perah, 500-2400 MDPL dengan suhu rata-rata 18-22 °C ideal untuk produksi susu, curah hujan 2.000-3.000 mm/thn sangat mendukung untuk hijauan pakan.

Adapun kecamatan yang menjadi sentra peternakan sapi perah di antaranya Lembang 15.648 ekor, Cisarua 6.495 ekor, Ngamprah 706 ekor, dan daerah pengembangan kawasan sapi perah baru ada di Gunung Halu saat ini 84 ekor.

Pada Selasa (19/5/2026), Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bandung Barat, Drh Wiwin Aprianti MSi, mengungkapkan kepada Infovet bahwa program dan dukungan Pemerintah Kabupaten Bandung Barat sangat tinggi, antara lain program inseminasi buatan massal untuk meningkatkan mutu genetik ternak, target 19.000 ekor/tahun, juga melakukan uji zuriat untuk metode deteksi genetik guna mengetahui kualitas calon pejantan, pengembangan hijauan pakan ternak berupa pembibitan, dan distribusi benih hijauan pakan.

Ternak unggul odot, rumput gajah, leguminosa, tidak lupa memberikan bantuan bibit dan sapi perah betina produktif dari UPTD Pembibitan Ternak kepada kelompok ternak, juga yang tidak kalah penting adalah kesehatan ternak berupa layanan kesehatan hewan gratis, vaksinasi PMK dan brucellosis, serta pemeriksaan kebuntingan juga penguatan kelembagaan berupa pembinaan koperasi susu, pelatihan di kandang (on farm training).

Populasi ternak sapi perah saat ini sebanyak 26.603 ekor, 5.339 rumah tangga peternak, produksi susu pada 2025 sebanyak 66.232 ton, 15 liter produktivitas/ekor/hari. Sebanyak 27% kontribusi terhadap Jawa Barat dan 7% kontribusi terhadap nasional, harga susu peternak Rp 7.300-8/000/liter, dengan potensi pengembangan produksi susu segar, yogurt, hingga keju lokal.

Dengan dukungan pemerintah ke Kabupaten Bandung Barat yang sangat besar ini kepala dinas mengupayakan adanya peningkatan populasi dari tahun ke tahun dan juga kesejahteraan peternak sapi perah serta pemenuhan gizi masyarakat dari produksi susu serta olahannya.

Dukungan Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail, yang menetapkan Kecamatan Lembang sebagai wilayah budi daya dan pengembangan Sumber Daya Genetika Sapi Perah Holstein Indonesia memberikan peluang keberlanjutan Koperasi Peternak Sapi Perah Bandung Utara (KPSBU) Lembang, industri pengolahan susu, serta dinas perikanan dan peternakan dalam menyejahtrakan peternak. (HR)

PEMBERIAN PAKAN UNTUK SAPI PERAH DARA

Pendampingan manajemen pakan peternak sapi perah yang digelar AINI dan KPSBU. (Foto: Istimewa)

Sapiperah dalam usia muda atau yang dikenal dengan sapi dara, kondisi tubuhnya lebih efisien dalam mengubah pakan menjadi bobot tubuh. Oleh karena itu, pada periode umur tersebut berikan pakan dengan kualitas terbaik untuk membuat tulang tubuh dan organ lain berkembang secara ideal.

Hal itu disampaikan oleh Staf Pengajar Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (UB), Dr Hendrawan Soetanto, dalam acara Pendampingan Manajemen Pakan Peternak Sapi Perah melalui aplikasi daring, Selasa (2/3/2021), yang diselenggarakan oleh Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia (AINI) dan Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU).

Ia menjelaskan, nutrisi yang diperoleh saat sebelum dewasa kelamin atau dalam kondisi tubuh sekitar 50% dari bobot dewasa, nutrisi tersebut akan digunakan untuk pembentukan tulang kerangka. Pertambahan berat badan (PBB) merupakan indikator terbaik apakah sapi dara terpenuhi kebutuhan nutrisinya.

"Ransum sapi dara harus mengandung cukup energi, minimal 10,5 Mega Joule per kilogram berat kering, serta protein untuk mencapai target pertumbuhan," kata Hendrawan. Ia juga mengingatkan agar sapi dara harus memperoleh cukup air minum dan mineral.

Dalam hal kebutuhan nutrisi sapi perah, hal itu senantiasa berubah seiring dengan fase pertumbuhan yang dilalui, serta tingkat produksi susunya. Untuk penyusunan formulasi pakan yang diberikan, Hendrawan memberi rambu-rambu pembuatannya, yakni taksiran bobot badan ternak, status fisiologis ternak, ketersediaan bahan pakan, kualitas bahan baku pakan, termasuk ada atau tidaknya kandungan anti-nutrisi di dalamnya, kemudian jumlah pakan yang akan diramu, biaya pakan yang dapat ditoleransi, serta jarak distribusi pakan dan lama simpan pakan sebelum didistribusikan. (IN)

PENDAMPINGAN MANAJEMEN PAKAN SAPI PERAH MELALUI DARING

Acara pendampingan pakan untuk peternak sapi perah yang dilaksanakan AINI dan KPSBU melalui daring. (Foto: Istimewa)

Dalam acara Pendampingan Manajemen Pakan Peternak Sapi Perah melalui aplikasi daring, Selasa (12/1/2021), yang diselenggarakan oleh Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia (AINI) dan Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU), Staf Pengajar Fakultas Peternakan Universitas Padjajaran (UNPAD), Dr Ir Iman Hernaman IPU, mengatakan bahwa dalam budi daya peternakan sapi perah, pemberian konsentrat bertujuan untuk menambah nilai nutrien ransum, melengkapi nutrien ransum yang defisien, meningkatkan konsumsi ransum, kecernaan ransum, serta meningkatkan populasi mikroba rumen.

Bahan pakan penyusun konsentrat untuk sapi perah berasal dari bahan pakan sumber energi, yakni berasal dari pakan butiran (serealia), ubi-ubian, hasil samping industri-agro, serta bahan pakan sumber protein, yang berasal dari kacang-kacangan. Iman menegaskan, bahan pakan untuk ternak sapi perah tidak boleh berasal dari hewan, seperti meat bone meal (MBM) atau tepung tulang dan daging.

Hal itu mengacu pada regulasi yang ada, yakni Peraturan Menteri Pertanian Nomor 19/Permentan/OT.140/4/2009 tentang syarat dan Tata Cara Pendaftaran Pakan. Pada Pasal 8 Ayat 4 dalam disebutkan bahwa untuk pakan konsentrat ternak ruminansia tidak diperbolehkan menggunakan bahan baku pakan asal hewan ruminansia seperti tepung daging dan tulang.

Untuk pemberian konsentrat pada sapi perah tersebut, Iman menyarankan pemberiannya berkisar pada 1-2% dari bobot sapi, dengan waktu dua kali sehari yakni pagi dan sore. Adapun perbandingan komposisi jumlah konsentrat dan hijauan dalam ransum sapi perah atas dasar bahan kering yang disarankan adalah 60% hijauan dan 40% konsentrat. Komposisi tersebut tergantung kualitas hijauan.

"Sebaiknya pemberian pakan konsentrat sebelum pakan hijauan dan diberikannya ada jeda. Tujuannya untuk merangsang pertumbuhan mikroba rumen," kata Iman. (IN)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer