-->

CARA MENGHITUNG FCR & IP AYAM BROILER


Cara Menghitung FCR Ayam Broiler. FCR adalah singkatan dari feed convertion ratio, yaitu konversi pakan terhadap daging. FCR digunakan untuk mengetahui berapa jumlah pakan untuk menghasilkan 1 kg daging. Semakin kecil nilai FCR maka semakin bagus.

Cara Menghitung FCR Ayam Broiler

Rumus FCR adalah pakan total (kg) dibagi dengan bobot total (kg).

FCR = pakan total (kg) : bobot total ayam hidup (kg)

Misalnya saat panen dihasilkan 5000 ekor ayam dengan bobot rata-rata 1,5 kg. Berarti bobot totalnya 7500 kg.

Pakan yang dihabiskan sebanyak 200 sak dimana 1 sak beratnya 50 kg. Berarti pakan totalnya adalah 10000 kg.

FCRnya 10000 : 7500 = 1,3.

Berarti untuk menghasilkan 1 kg daging dibutuhkan sekitar 1,3 kg pakan.

Cara Menghitung IP Ayam Broiler

IP adalah singkatan dari index performance, merupakan angka yang menunjukkan tingkat keberhasilan produksi ayam broiler dalam satu periode. IP diperngaruhi oleh diantaranya FCR, kematian, dan terutama bobot dan umur panen.

Semakin kecil umur panen dengan bobot yang tinggi maka IP akan bagus. Semakin besar nilai IP berarti performa produksi semakin bagus.

Rumus IP adalah:

IP = (Persentase ayam hidup x Berat rata-rata) : (FCR x Umur) x 100

Contoh sebuah peternakan memelihara 10.000 ekor ayam. Pada umur 35 hari ayam yang dipanen 9.000 ekor. Berat rata-rata ayam adalah 1,7 kg. Total pakan yang dihabiskan 15.000 kg.

Maka:

  • Persentase ayam hidup =  100 - Deplesi
    Deplesi adalah penyusutan ayam, bisa karena kematian atau afkir. Rumus deplesi = (Populasi awal - Jumlah ayam panen) x 100% : Populasi awal. Jadi deplesi = (10.000 - 9.000) x 100% : 10.000, hasilnya 10%.
    Presentase ayam hidup = 100 - 10, hasilnya 90%.
  • Berat rata-rata = 1,7 kg.
  • FCR = 15.000 : (9.000 x 1,7), hasilnya 0,9.
  • Umur panen = 35.
  • IP = (90 x 1,7) : (0,9 x 35) x 100
    IP = (153 : 31,5) x 100
    IP = 4,85 x 100
    IP = 485

Tapi bagaimana cara menghitung umur panen jika panennya dilakukan bertahap. Misalnya:

Tanggal 10 memanen 5.000 ekor ayam di umur 29 hari, tanggal 12 memanen 4.000 ekor ayam di umur 31 hari, dan tanggal 13 memanen 1.000 ekor ayam di umur 32 hari.

Rumusnya adalah:

Umur Tangkap = (Umur x Jumlah) + (Umur x Jumlah) + (Umur x Jumlah) : Total Tangkap
Umur Tangkap = (29 x 5.000) + (31 x 4.000) + (32 x 1.000) : (5.000 + 4.000 + 1.000)
Umur Tangkap = (145.000 + 124.000 + 32.000) : 10.000
Umur Tangkap = 301.000 : 10.000
Umur Tangkap = 30,1 hari.


Manfaat Menghitung FCR & IP Ayam Broiler

Dalam industri peternakan ayam broiler, efisiensi produksi merupakan kunci keberhasilan. Dua indikator penting yang digunakan untuk mengukur kinerja dan efisiensi budidaya ayam broiler adalah Feed Conversion Ratio (FCR) dan Indeks Prestasi (IP). Menghitung kedua parameter ini sangat penting karena dapat memberikan gambaran tentang efektivitas penggunaan pakan dan performa ayam broiler secara keseluruhan.

Apa Itu FCR dan IP?

1. Feed Conversion Ratio (FCR)

FCR adalah rasio antara jumlah pakan yang dikonsumsi dengan berat badan ayam yang dihasilkan. Rumusnya adalah:

FCR=JumlahPakanyangDikonsumsi(kg)BobotBadanyangDihasilkan(kg)

Semakin rendah nilai FCR, semakin efisien ayam dalam mengubah pakan menjadi daging. Artinya, ayam lebih hemat pakan dan menghasilkan lebih banyak bobot tubuh.

2. Indeks Prestasi (IP)

IP adalah indikator kinerja ayam broiler yang dihitung dengan mempertimbangkan faktor pertumbuhan, efisiensi pakan, dan tingkat kelangsungan hidup. Rumusnya adalah:

IP=(RatarataBobotBadan(kg)×PersentaseKehidupan)(FCR×LamaPemeliharaan)×10.000

Semakin tinggi IP, semakin baik performa ayam dalam siklus pemeliharaan tersebut.

Manfaat Menghitung FCR dan IP

1. Mengetahui Efisiensi Penggunaan Pakan

Pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam usaha peternakan ayam broiler, sekitar 60-70% dari total biaya produksi. Dengan menghitung FCR, peternak dapat mengetahui sejauh mana ayam broiler mengonversi pakan menjadi daging dan mengidentifikasi jika ada inefisiensi.

2. Menekan Biaya Produksi

Dengan mengetahui nilai FCR, peternak dapat mengoptimalkan strategi pemberian pakan, mengurangi pemborosan, dan meningkatkan efisiensi pakan. Jika FCR tinggi, maka perlu evaluasi terhadap kualitas pakan, sistem pemeliharaan, atau kondisi kesehatan ayam.

3. Meningkatkan Keuntungan Peternakan

Peternakan yang memiliki FCR rendah dan IP tinggi cenderung mendapatkan keuntungan lebih besar. Hal ini karena ayam tumbuh lebih cepat dengan konsumsi pakan yang optimal, sehingga mempercepat perputaran produksi dan meningkatkan profitabilitas.

4. Memonitor Kesehatan Ayam

FCR dan IP yang buruk bisa menjadi indikasi adanya masalah kesehatan pada ayam, seperti penyakit, stres, atau ketidakseimbangan nutrisi. Dengan pemantauan rutin, peternak dapat segera melakukan tindakan korektif untuk mencegah kerugian lebih lanjut.

5. Meningkatkan Produktivitas dan Standarisasi Produksi

Menghitung FCR dan IP membantu peternak dalam mengevaluasi performa kandang dari waktu ke waktu. Dengan data yang akurat, peternak dapat membuat keputusan berdasarkan analisis, bukan sekadar intuisi, sehingga produksi menjadi lebih stabil dan terkendali.

6. Mendukung Keberlanjutan Usaha

Peternakan yang memiliki efisiensi tinggi akan lebih berdaya saing dan bertahan lebih lama di industri. Dengan mengelola FCR dan IP dengan baik, peternak bisa terus meningkatkan kualitas produksi dan memperluas bisnisnya.

7. Meningkatkan Daya Saing di Pasar

Peternak yang memiliki catatan IP tinggi akan lebih mudah mendapatkan pasar dan kepercayaan dari konsumen serta mitra bisnis. Hal ini karena kualitas ayam broiler yang dihasilkan lebih baik dan lebih efisien dari segi biaya produksi.

Kesimpulan

Menghitung FCR dan IP bukan sekadar rutinitas, tetapi merupakan langkah strategis dalam meningkatkan efisiensi produksi ayam broiler. Dengan memahami manfaat dan cara perhitungannya, peternak dapat mengoptimalkan sistem pemeliharaan, menghemat biaya, serta meningkatkan daya saing usaha. Oleh karena itu, pemantauan dan evaluasi FCR serta IP harus menjadi bagian dari manajemen peternakan yang berkelanjutan.

PENDAMPINGAN MANAJEMEN PAKAN SAPI PERAH MELALUI DARING

Acara pendampingan pakan untuk peternak sapi perah yang dilaksanakan AINI dan KPSBU melalui daring. (Foto: Istimewa)

Dalam acara Pendampingan Manajemen Pakan Peternak Sapi Perah melalui aplikasi daring, Selasa (12/1/2021), yang diselenggarakan oleh Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia (AINI) dan Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU), Staf Pengajar Fakultas Peternakan Universitas Padjajaran (UNPAD), Dr Ir Iman Hernaman IPU, mengatakan bahwa dalam budi daya peternakan sapi perah, pemberian konsentrat bertujuan untuk menambah nilai nutrien ransum, melengkapi nutrien ransum yang defisien, meningkatkan konsumsi ransum, kecernaan ransum, serta meningkatkan populasi mikroba rumen.

Bahan pakan penyusun konsentrat untuk sapi perah berasal dari bahan pakan sumber energi, yakni berasal dari pakan butiran (serealia), ubi-ubian, hasil samping industri-agro, serta bahan pakan sumber protein, yang berasal dari kacang-kacangan. Iman menegaskan, bahan pakan untuk ternak sapi perah tidak boleh berasal dari hewan, seperti meat bone meal (MBM) atau tepung tulang dan daging.

Hal itu mengacu pada regulasi yang ada, yakni Peraturan Menteri Pertanian Nomor 19/Permentan/OT.140/4/2009 tentang syarat dan Tata Cara Pendaftaran Pakan. Pada Pasal 8 Ayat 4 dalam disebutkan bahwa untuk pakan konsentrat ternak ruminansia tidak diperbolehkan menggunakan bahan baku pakan asal hewan ruminansia seperti tepung daging dan tulang.

Untuk pemberian konsentrat pada sapi perah tersebut, Iman menyarankan pemberiannya berkisar pada 1-2% dari bobot sapi, dengan waktu dua kali sehari yakni pagi dan sore. Adapun perbandingan komposisi jumlah konsentrat dan hijauan dalam ransum sapi perah atas dasar bahan kering yang disarankan adalah 60% hijauan dan 40% konsentrat. Komposisi tersebut tergantung kualitas hijauan.

"Sebaiknya pemberian pakan konsentrat sebelum pakan hijauan dan diberikannya ada jeda. Tujuannya untuk merangsang pertumbuhan mikroba rumen," kata Iman. (IN)

EFEKTIF, PINSAR MINTA KEMENTAN LANJUTKAN KEBIJAKAN PERUNGGASAN

Rapat Kerja DPP PINSAR di Jakarta (12/1)

Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar), meminta Kementerian Pertanian melanjutkan kebijakan perunggasan yang ada saat ini, karena sangat efektif memperbaiki supply dan demand sekaligus mengurangi kerugian peternak.

“Sepanjang 2020 sampai tri semester 3 seluruh peternak ayam mengalami pukulan akibat Covid-19. Selain itu tidak seimbangnya supply dan demand, membuat peternak ayam merugi,” ujar Ketua Umum DPP Pinsar Singgih Januratmoko.

Singgih menyampaikan hal tersebut saat rapat kerja DPP Pinsar di Jakarta, Selasa (12/1/2021). Menurutnya, sepanjang dua tahun terakhir peternak ayam broiler (pedaging) mengalami kerugian besar. Sementara peternak ayam layer atau petelur masih menikmati keuntungan.

Rapat kerja yang diikuti oleh para pengurus harian DPP Pinsar tersebut, juga membahas musyawarah nasional (Munas) Pinsar pada 2021 yang rencananya dihelat di Bandung. Singgih mengatakan, kebijakan pemerintah membatasi supply berimbas positif terhadap harga ayam potong di pasar. Harga bisa di atas harga referensi dari Kementerian Perdagangan antara Rp19.000 hingga Rp21.000.

“Sebelum adanya kebijakan pembatasan, harga pasar ayam hidup di bawah Harga Pokok Penjualan (HPP) yang hanya Rp5.000 sampai dengan Rp15.000. Banyak peternak yang mengambil kredit usaha mengalami kemacetan,” imbuh Singgih yang juga anggota Komisi VI DPR RI. Menurutnya, modal peternak ayam potong tergerus, sehingga para peternak rakyat harus menutup kandang-kandang mereka.

Namun, sepanjang kuartal ke-4 pemerintah juga menyelamatkan para peternak dengan mengatur keseimbangan supplay dan demand. Selain itu pemerintah mengadakan program membeli telur dan daging ayam dari peternak untuk paket bantuan sosial, “Selain itu, kampanye pemerintah agar masyarakat mengkonsumsi minimal dua biji telur ayam dan daging ayam untuk meningkatkan imunitas, cukup membantu peternak ayam,” ujarnya.

Singgih juga memprediksi data pemasukan pembibitan ayam indukan layer/Grand Parent Stock (GPS) masih aman hingga 2022. Ketersediaan GPS, menurutnya membuat populasi ayam layer terjaga.

“Harga telur bisa stabil di atas HPP, kendalanya hanya pada mahalnya biaya transportasi, kelangkaan anak ayam atau Day Old Chicken (DOC), bisa mempengaruhi HPP telur, sehingga bisa membuat harga telur naik di atas harga referensi Permendag,” ujarnya.

Sedangkan untuk broiler dari data GPS broiler masih perlu ada pengurangan suplai, supaya terjadi keseimbangan suplay dan demand DOC sampai dengan bulan Juni 2021, “Sehingga harga ayam di atas harga referensi,” imbuhnya.

Program Kerja Pinsar Mendatang

Dalam beberapa tahun ke depan, DPP Pinsar bakal lebih meningkatkan komunikasi dan sinergi dengan pemerintah, untuk melindungi peternak mandiri. Alasan Singgih, peternak mandiri umumnya modalnya pas-pasan dan tentu kalah bersaing dengan konglomerasi perusahaan peternakan ayam, yang menguasai hulu hingga ke hilir.

“Sinergi dan meningkatkan komunikasi dengan pemerintah terbukti mampu membuat supply dan demand terjaga ketika pemerintah turun tangan,” ungkapnya.

Untuk itu, ia juga akan memberdayakan Pinsar di setiap provinsi, agar bisa bersinergi dengan pemerintah. Salah satunya, menyukseskan program pemerintah provinsi dalam mencukupi kebutuhan protein masyarakat, “Apalagi dalam kondisi pandemi, meningkatkan imunitas dengan mengkonsumsi protein daging, sayur, dan buah sangat penting,” pungkasnya.

Pinsar juga akan mendirikan koperasi, yang mampu meningkatkan kesejahteraan anggota Pinsar. Koperasi tersebut tak menutup kemungkinan menjadi lini usaha Pinsar, untuk membantu pemerintah dalam menyediakan protein hewani yang terjangkau oleh masyarakat. (INF/CR)

FLU BURUNG TERDETEKSI DI KANDANG KOMERSIAL IRLANDIA UTARA

Sekitar 30.000 ayam di peternakan Irlandia Utara dimusnahkan setelah flu burung terdeteksi di daerah tersebut. Ini menandai pertama kalinya flu burung telah dikonfirmasi pada peternakan komersial di negara itu sejak 1998.

Zona perlindungan 3 mil telah ditetapkan di sekitar peternakan dekat Clough di County Antrim oleh Departemen Pertanian.

Sampai saat ini sudah ada 8 kasus positif Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI) H5N8 yang terkonfirmasi pada unggas liar di Irlandia Utara di 5 lokasi berbeda. Avian Influenza Prevention Zone (AIPZ) telah diterapkan di seluruh Irlandia Utara mulai 1 Desember 2020.

Tindakan yang diambil hingga saat ini di Irlandia Utara telah membantu melindungi ternak komersial dari kontaminasi burung liar.

Pejabat kesehatan masyarakat terkait mengatakan bahwa risiko kesehatan masyarakat dari jenis flu burung ini sangat rendah. Badan Standar Makanan juga menyatakan bahwa flu burung memiliki risiko keamanan pangan yang sangat rendah. (Poultryworld)

“HUT PDHI KE-68” MENGUPAS MAKNA SIMBOL DOKTER HEWAN INDONESIA

M. Chairul Arifin
Kado ulang tahun Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) tahun ini sangat berkesan sekali, yaitu bersamaan dengan peresmian Grha Dokter Hewan suatu tempat aktivitas dokter hewan Indonesia direncanakan, disiapkan, dilaksanakan dan dievaluasi.

Sebenarnya impian memiliki Grha Dokter Hewan ini sudah sejak lama, yaitu sejak 2005 dengan dibentuknya Pantya Persiapan Pembangunan Gedung Veterinary Center yg diketuai oleh  Drh A. Bolly A. Prabantara yang pembentukannya dilakukan dengan akte notaris dan disahkan oleh Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia tanggal 9 Maret 2006 dengan nama PT Sentra Veta Bhakti Mulia. Modal dasar saat itu Rp 500 juta dan dari para pendiri perorangan maupun saham dari para keluarga dokter hewan yang dihimpun melalui Yayasan Hemera Zoa sebesar Rp 125 juta.

Selanjutnya tanah seluas 800 m² di daerah Tajur Bogor yang berasal dari hibah Drs Mas'hud Wisnusaputra direncanakan menjadi gedung Veterinary Centre tersebut. Pada 26 Januari 2009, dirancang untuk acara penyerahan tanah wakaf dari Drs Mas'hud di Jl. Raya Tajur 170 Bogor kepada Yayasan Hemera Zoa yang sedianya bertindak atas nama organisasi. Tetapi kemudian Drs Mas'hud Wisnusaputra dipanggil Allah SWT pada 20 November 2008. Drs Mas'hud telah wafat mendahuluinya dan penyerahan tanah wakafnya tidak dapat terlaksana. Pada zaman tersebut PB PDHI baru menyelesaikan Kongres ke-15 yang memilih Drh Wiwiek Bagja selaku Ketua Umum masa bakti 2006-2010.

Estafet kepemimpinan PB PDHI yang terus terjadi hingga pada kepemimpinan Drh M. Munawaroh MM saat ini barulah terwujud rumah dokter hewan Indonesia di hari ulang tahun PDHI ke-68, pada 9 Januari 2021, sekaligus diresmikannya Grha Dokter Hewan dilengkapi motto dokter hewan yang terkenal “Manusya Mriga Satwa Sewaka” yang berarti Mengabdi Kemanusiaan Melalui Dunia Hewan.

Simbol Dokter Hewan Indonesia
Kalaulah Grha Dokter Hewan ini dianggap simbol eksistensi dan pengembangan organisasi profesi agar dapat lebih terfokus menghadapi tantangan global, regional dan nasional, serta memanfaatkan peluang dan menghindari hambatan dalam mengembangkan organisasi, maka ada lagi simbol yang jadi kebanggaan para dokter hewan Indonesia, yaitu yang berupa logo menarik yang menggambarkan lambang tentang kedokteran hewan.

Tentu setiap dokter hewan di Indonesia akan bangga menyematkan lambang tersebut pada setiap kesempatan untuk menunjukkan profesinya. Tetapi tahukah para dokter hewan bahwa lambang tersebut sebenarnya dari hasil kongres ke-6 yang diselenggarakan di Kota Pahlawan Surabaya, 22 September 1973. Jadi lambang tersebut telah berumur 48 tahun. Pada kesempatan kongres tersebut telah ditetapkan selain simbol/lambang tetapi juga tentang perbaikan sumpah dan kode etik dokter hewan.

Akan halnya simbol dokter hewan yang digambarkan sebagai “Aesculapius” yaitu sebagai (ular yang melingkar di tongkat) merupakan simbol universal para dokter manusia, dokter hewan, dokter gigi dan apoteker. Ular digambarkan untuk pengobatan, karena obat itu sebenarnya mirip dengan bisa ular yang beracun sehingga obat selain memiliki efek kuratif juga memiliki efek samping.

Dalam simbol PDHI, tongkat berarti eksistensi instrumen dokter hewan sebagai ahli dalam aspek preventif, kuratif, promotif dan rehabilatatif, serta ularnya melingkar pada tongkat yang bermahkota tiga. Mahkota pertama melambangkan pendidikan dokter hewan yang saat ini dihasilkan oleh 11 Fakultas Kedokteran Hewan. Mahkota kedua berarti dokter hewan dan organisasi profesinya dan mahkota ketiga menggambarkan dokter hewan yang selalu berkiprah di masyarakat sesuai dengan standar kompetensi yang dimilikinya.

Huruf “V” melambangkan kata Veteriner dengan latar belakang warna ungu yang merupakan simbol dari perguruan tinggi kedokteran hewan dunia atau dapat diartikan keagungan dan keluhuran profesi dokter hewan. Dokter hewan adalah profesi yang berpijak pada dua kaki. Kaki pertama berpijak pada aspek terkait produksi dan reproduksi (warna hijau) sedangkan kaki yang lain berhubungan dengan aspek kesehatan dan kesejahteraan (warna merah). Melalui dunia hewan, dokter hewan berkiprah untuk kesejahteraan umat manusia (Manusya Mriga Satwa Sewaka).

Tetapi semua simbol ini hendaknya dapat terealisasi. Saat ini profesi dokter hewan benar-benar diuji ketahanan kompetensinya di zaman pandemi COVID-19 yang kita tidak tahu kapan akan berakhir. Semua lini kekuatan dokter hewan dikerahkan, baik itu dokter hewan sebagai aparatur pemerintah, di kemiliteran dan sipil dosen, peneliti, dokter hewan swasta, hingga para praktisi. Karena sejatinya profesi ini tidak dapat diremehkan dan justru berperan sentral dalam setiap kejadian wabah penyakit menular. Selamat HUT PDHI ke-68. ***

Oleh: M. Chairul Arifin (Dari berbagai sumber)
Pegawai Kementan (1979-2006)
Staf Perencanaan (1983-2005)
Tenaga Ahli PSDS (2005-2009)

PROGRAM DAN JADWAL VAKSIN AYAM PETELUR

Vaksinasi sangat penting dalam produksi produksi telur. Peternak layer harus memvaksinasi ayamnya terhadap penyakit untuk menghindari kematian akibat penyakit dan mencegah kerugian finansial yang tinggi.

Vaksinasi, diiringi program lain seperti higienitas dan sanitasi peternakan yang benar, memungkinkan mencegah penyakit menyerang ayam. Memungkinkan produksi berjalan dengan baik dan juga menghasilkan laba yang diharapkan.

Setiap program vaksinasi harus dirancang sesuai dengan prevalensi penyakit di wilayah atau negara setempat. Juga sesuai kebutuhan spesifik dari peternakan, dan juga preferensi individu. Jika sebuah peternakan memiliki riwayat penyakit tertentu maka program vaksinnya harus disesuaikan.

Salah satu contoh program dan jadwal vaksin ayam petelur bisa dilihat di bawah ini:

  • Hari 1: penyakit Marek. Diberikan di hatchery.
  • Hari 9-14: Newcastle Disease (ND). Diberikan melalui air minum, tetes mata.
  • Hari 9-14: Infectious Bronchitis Virus (IBV). Diberikan melalui air minum.
  • Hari 14: Gumboro/Infectious Bursal Disease Virus (IBDV). Diberikan melalui air minum.
  • Hari 28: Gumboro/Infectious Bursal Disease Virus (IBDV). Diberikan melalui air minum.
  • Minggu 4: Newcastle Disease (ND). Diberikan melalui air minum atau tetes mata.
  • Minggu 4: Infectious Bronchitis Virus (IBV). Diberikan melalui air minum.
  • Minggu 8: Fowl pox (cacar unggas). Diaplikasikan secara wing web.
  • Minggu 8: Avian Encephalomyelitis (AE). Diberikan secara wing web.
  • Minggu 9: Infectious Coryza 1 (Snot). Diberikan secara intramuskular (injeksi ke dalam otot tubuh).
  • Minggu 10-11: ND Komarov Strain. Diberikan secara intramuskular.
  • Minggu 12: Infectious Coryza 2. Diberikan secara intramuskular.
  • Minggu 12: Infectious Bronchitis Virus (IBV). Diberikan melalui air minum.
  • Minggu 16: Infectious Laryngotracheitis (ILT). Spray atau tetes mata.
  • Minggu 17: vaksin 3 in 1 ND + IBV + EDS (Egg Drop Syndrome). Diberikan secara intramuskular.

Jadwal vaksin di atas hanyalah contoh, sekedar untuk informasi dan pengetahuan. Untuk membuat program dan jadwal vaksin layer mohon dilakukan oleh/dengan bimbingan ahli. Silakan kontak kami jika ada masukan untuk artikel ini.

Hal-hal yang harus diperhatikan agar vaksinasi efektif di antaranya:

Kualitas air bisa berubah-ubah, karena itu perlu diperiksa secara bekala. Air yang digunakan tidak boleh tercemar desinfektan dan logam berat. pH air tidak terlalu asam atau terlalu basa.

Referensi:

  1. https://www.livestocking.net/vaccination-schedule-for-layers-poultry-birds
  2. https://www.medion.co.id/id/tata-laksana-vaksinasi-pada-ayam-petelur-2/

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer