-->

PREDIKSI PENYAKIT UNGGAS 2026

Penyakit bakterial dan viral dapat mengancam produktivitas dan kesehatan unggas serta stabilitas ekonomi peternak. (Foto: Istimewa)

Penyakit merupakan bentuk penyimpangan berbahaya dari fungsi organ atau struktur normal organ yang disertai gejala klinis spesifik. Penyakit dapat disebabkan berbagai macam faktor, seperti organisme patogen, toksin, kekurangan nutrisi, kelainan metabolik, neoplasia, hingga kelainan genetik.

Penyakit bakterial dan viral dapat mengancam produktivitas dan kesehatan unggas serta stabilitas ekonomi peternak. Berdasarkan data PT Sanbio Laboratories, kasus penyakit pada unggas di 2025 sangat bervariasi. Penyakit viral maupun bakterial yang terkonfirmasi positif uji PCR mulai dari avian influenza (AI), infectious bronchitis (IB), newcastle disease (ND), infectious bursal disease (IBD), coryza (snot), dan yang lainnya, tercatat sebagai tantangan yang perlu dihadapi peternak.

Berdasarkan data PT Sanbio Laboratories, kasus AI subtipe H5 menduduki peringkat teratas yang kerap dilaporkan, yaitu sebanyak 17%.  Kejadian AI H5 yang dilaporkan menyerang pada ayam layer dan menyebabkan mortalitas yang cukup tinggi teridentifikasi termasuk dalam clade 2.3.2 pada semua sampel yang diuji.

Selain AI H5, penyakit IB juga menjadi tantangan teratas tahun ini. Berdasarkan hasil sekuensing diketahui kasus IB yang dilaporkan menunjukkan sekuensing IB varian seperti QX-like dan 793B. Kejadian IB yang tercatat dilaporkan menyerang unggas layer dengan mayoritas hasil sekuensing IB QX-like dan sisanya menyerang pada broiler dengan hasil sekuensing IB 793B.

Kasus penyakit selanjutnya dengan presentase kasus sebanyak 15% adalah ND. Untuk kasus ND di 2025 berdasarkan catatan PT Sanbio Labs mayoritas sampel terkonfirmasi hasil sekuensing termasuk dalam strain velogenik yaitu ND G7. Selanjutnya penyakit yang juga tercatat cukup banyak adalah IBD, dimana kasusnya terkonfirmasi positif PCR dilaporkan hasil sekuensingnya termasuk dalam very virulent (vv) IBD.

Adapun kasus penyakit di 2025 dengan presentase lebih dari 10% berikutnya adalah coryza. Coryza atau snot biasanya menjadi infeksi ikutan dari agen penyakit seperti AI, ND atau yang lainnya. Kemudian menyusul penyakit-penyakit unggas lain seperti Marek’s, pox, AI subtipe H9, ILT, EDS, dan SHS juga dilaporkan masih menjadi tantangan bagi peternak.

Tantangan di Tahun Depan
Melihat tren kasus penyakit serta mempertimbangkan berbagai aspek seperti perubahan cuaca, manajemen peternakan, dan mobilisasi unggas, berikut merupakan prediksi penyakit unggas di Indonesia di 2026 mendatang: Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Desember 2025.

Ditulis oleh:
(Drh Novita Lajuba & Drh Aprilia Kusumastuti)

JANGAN BERI RUANG PENYAKIT UNTUK MENYEBAR

Vaksinasi memastikan ayam tetap sehat. (Foto: Istimewa)

Menghadapi tahun depan, pelaku budi daya perunggasan lebih harus lebih aware dengan apa yang akan datang, utamanya terkait penyakit yang pasti menjadi tantangan agar tak menyebabkan kerugian.

Jangan Lengah dengan Penyakit Residivis
Walaupun prediksi belum 100% benar terjadi, tak ada salahnya mempersiapkan “amunisi” sejak dini. Tony Unandar selaku konsultan senior perunggasan, melihat selama ini penyakit unggas yang terjadi di lapangan masih cenderung sama, berbeda musim memang penyakitnya juga berbeda, tetapi penyakit yang muncul hanya itu-itu saja.

“Kalau bisa dibilang kita masih berkutat dengan yang lama dan monoton. Faktor yang sangat urgen untuk diperbaiki adalah pola pemeliharaan dari peternak-peternak kita,” tutur Tony.

Apabila tidak ada upaya perbaikan sesegera mungkin, bukan hanya kasus penyakit yang terus berulang, tetapi tingkat keparahan maupun jenis penyakit baru akan bertambah di masa depan.

Seperti contoh ketika ada peternak yang tidak mengakut semua unggasnya ketika panen, padahal sistem all in all out sangat penting diterapkan untuk memutus siklus rantai penyakit. Kemudian yang juga tak kalah penting adalah penerapan biosekuriti yang baik di peternakan.

Sebab Tony menyebut, sebaik-baiknya obat baru yang ditemukan, maupun riset di bidang penyakit hewan, atau bahkan kecanggihan teknologi yang berkembang, jika tak dibarengi dengan manajemen yang baik dan benar, penyakit akan mudah menyerang dan cenderung berulang.

Ungkapan “lebih baik mencegah daripada mengobati” harus dipegang teguh oleh peternak, salah satunya melalui program biosekuriti di peternakan. Bukti konkret dari penerapan program tersebut telah membuka mata bagi Kusno Waluyo, salah satu peternak di wilayah Lampung.

Ia merasakan banyak keuntungan dari penerapan biosekuriti yang baik dan benar di peternakannya, salah satunya ternak yang dipelihara Kusno menjadi jarang terserang penyakit. “Yang paling terasa Saya tidur menjadi lebih nyenyak, karena jarang ada laporan masalah penyakit di kandang,” ucapnya dalam sebuah seminar.

Bersinergi dan Kolaborasi
Fakta di lapangan berbicara, tidak semua peternak mengerti masalah penyakit, penanganan, obat-obatan, dan beberapa hal lainnya. Hal itupun terus menjadi perhatian bagi para stakeholder di bidang obat hewan, salah satunya Ceva Animal Health Indonesia yang terus melakukan kolaborasi dengan peternak.

“Khususnya dalam upaya preventif dengan menawarkan program vaksinasi yang komprehensif dan inovatif. Di sektor broiler, Ceva menawarkan paket vaksinasi hatchery lengkap dengan produk dan sumber daya yang kami miliki,” ujar Vet Service Coordinator Ceva, Drh Ismail Kurnia Rambe.

Sementara itu, di sektor layer dan breeder, pihaknya memiliki... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Desember 2025. (CR)

AYAM BERAK KAPUR (BERAK PUTIH), PENYEBAB DAN OBATNYA

ayam berak kapur

Penyakit Pullorum di Indonesia dikenal juga dengan nama penyakit ayam berak kapur dan penyakit ayam berak putih.

Penyakit ini menular dan bisa menimbulkan kerugian ekonomi yang besar. Produksi telur menurun, daya tunas menurun, kematian embrio, kematian anak ayam sampai umur 3 minggu. Bahkan pada anak ayam umur 1-10 hari mortalitas sangat tinggi.

Meski tidak menyebabkan kematian pada ayam dewasa, namun ayam dewasa akan menularkannya ke ayam lain dan ke anak ayam.

Pada dasarnya penyakit pullorum bisa menyerang ayam di segala umur. Namun lebih banyak menyerang anak ayam umur minggu kedua dan ketiga, dengan morbiditas lebih dari 40% dan mortalitas 85-100%.

Penyebab penyakit ayam berak kapur adalah bakteri Salmonella pullorum. Bakteri tersebut mampu bertahan di tanah selama hingga satu tahun. Resistensi terhadap lingkungan baik secara fisik maupun kimiawi tinggi. Meski demikian bakteri tersebut tidak tahan terhadap panas.

Seperti namanya gejala penyakit ini umumnya berupa diare dengan feses berwarna putih atau coklat kehijauan. Gejala lain adalah mata menutup seperti mengantuk, nafsu makan berkurang, sayap menggantung, lumpuh, jengger kebiruan, gangguan pernafasan, dan ayam bergerombol di satu tempat.

Gejala tersebut lebih sulit terlihat pada ayam dewasa. Pada layer gejala yang cukup jelas adalah produksi telur yang menurun.

Gejala pada ayam dewasa yang tidak tampak dengan jelas memungkinkan terjadinya keterlambatan penanganan. Akibatnya ayam menjadi carrier (pembawa penyakit) dan menularkannya pada ayam lain.

Penyakit ayam berak putih bisa menular secara vertikal atau kongenital, dari induk ayam ke anak ayam melalui telur. Juga secara horisontal antara ayam yang sakit dengan ayam sehat atau ayam carrier.

Penularan juga bisa terjadi secara tidak langsung melalui peralatan kandang, litter, pakan, minum, dan pakaian ABK. Sedangkan dalam mesin tetas  penularan terjadi secara aerogen melalui bulu, debu dan lainnya.

Obat ayam berak kapur berupa penyuntikan antibiotik yang diberikan oleh dokter hewan, namun hanya efektif untuk mencegah kematian anak ayam. Tidak bisa menghilangkan penyakitnya.

Pencegahan bisa dilakukan dengan treatment tertentu pada kandang sebelum digunakan. Jaga kebersihan litter, jaga ventilasi agar tetap baik, bebaskan peternakan dari hewan-hewan  yang dapat menjadi carrier pullorum. Bersihkan selalu tempat makanan jangan ada sisa makanan, bersihkan juga area sekitar kandang dengan rutin.

Hanya gunakan telur tetas dan DOC dari pembibitan yang bebas pullorum. Ayam yang sudah parah disarankan untuk dimusnahkan dengan dikubur atau dibakar untuk menghindari adanya carrier. Ayam yang mati hendaknya juga dibakar atau dikubur.

PENYAKIT AYAM EGG DROP SYNDROME

Egg drop syndrome 1976 (EDS 76) atau biasa disebut juga egg drop syndrome adalah penyakit ayam yang ditemukan oleh Van Eck di Belanda pada tahun 1976.

Penyakit ini mengakibatkan menurunnya produksi telur dan kulit telur menjadi tipis atau lunak kerabangnya. EDS 76 disebabkan oleh Adenovirus dari famili Adenoviridae yang diduga berasal dari Adenovirus itik.

Unggas adalah spesies hewan yang rentan terhadap EDS. Penularan pada ayam terutama terjadi pada ayam dewasa umur 26-55 minggu. Ditambah lagi GP broiler dengan warna telur coklat lebih gampang tertular dibanding dengan yang warna telurnya putih.

EDS cenderung bersifat sporadis. Virus masuk ke tubuh ayam yang pada akhirnya bereplikasi di dalam oviduct yang menyebabkan perubahan pada kerabang telur.

Penularannya bisa secara vertikal dari induk ke anak ayam melalui telur. Juga bisa secara horisontal, yang lebih lambat prosesnya. Juga penularan bisa terjadi karena kontaminasi melalui makanan, minuman dan semen.

Gejala yang ditimbulkan oleh EDS lebih tampak pada ayam umur 25-35 minggu. Yaitu menurunnya produksi telur hingga 50% selama beberapa minggu dan telur yang dihasilkan jelek kualitasnya. Warna kulit telur bisa hilang atau berkurang. Ukuran telur menjadi kecil sekali. Kulitnya tipis, lunak, atau tanpa kulit.

Dari gejalanya EDS dapat disalahartikan dengan penyakit lain. Misalnya New Castle Disease karena produksi telur turun dan cangkang telur lunak. Juga dengan Infectious Bronchitis karena ukuran telur menjadi kecil dan bentuknya tidak normal.

Egg drop syndrome tidak ada pengobatannya. Jika ada kejadian EDS peternak diharapkan untuk melaporkannya pada Dinas terkait.

Untuk pencegahannya bisa dilakukan vaksinasi pada ayam yaitu 3-4 minggu sebelum masa bertelur. Hanya gunakan DOC yang bebas dari virus EDS 76. Juga area peternakan bebas dari angsa dan itik dan sumber air minum untuk ayam sebaiknya eksklusif tidak bercampur dengan hewan lain terutama angsa dan itik. Tentunya juga menjaga biosekuriti.

CACAR UNGGAS, PENYEBAB DAN “PENGOBATANNYA”

cacar unggas
Foto: Wikipedia

Cacar unggas atau fowl pox, adalah penyakit viral yang disebabkan oleh virus pox. Strain virus pox yang menyerang ayam biasanya adalah virus fowl pox. Penyakit ini sudah tersebar luas di dunia, juga Indonesia, dan termasuk penyakit yang umum terjadi. Biasanya yang terjangkit cacar unggas adalah ayam yang menjelang dewasa.

Ada dua tipe cacar unggas. Infeksi kutaneus (kulit) dan infeksi difterik pada membran mukosa mata, mulut dan hidung. Ayam yang menderita cacar tipe kutaneus lebih berpeluang untuk sembuh.

Virus fowl pox resisten terhadap pengaruh lingkungan dan dapat bertahan hidup selama beberapa bulan. Penyebaran dan penularannya termasuk lambat. Tingkat penularan dan morbiditas bervariasi tergantung keganasan virus dan kualitas program pengendalian penyakit yang diterapkan.

Penularan pada ayam melalui kulit yang terluka. Virus bisa berasal dari vektor serangga seperti nyamuk, kutu dan lalat. Dari lingkungan yang sudah tercemar oleh virus. Bisa juga kontak langsung antara ayam sehat dengan ayam yang sakit.

Penyakit cacar unggas yang menyerang peternakan komersial bisa mengakibatkan kerugian ekonomi. Efeknya pada ayam bisa menyebabkan kekurusan, lambatnya kenaikan berat badan, dan pada ayam peterlur bisa menyebabkan penurunan produksi telur sementara.

Kalau tidak ada komplikasi dengan penyakit lain, cacar unggas berlangsung sekitar 3-4 minggu. Jika ada komplikasi bisa jauh lebih lama.

Penanganan kesehatan dan biosekuriti berpengaruh pada tingkat kejadian cacar unggas di peternakan. Layaknya penyakit yang disebabkan oleh virus, cacar unggas tidak ada pengobatan yang spesifik dan efektif. Kejadian cacar unggas sebaiknya dilaporkan ke dinas terkait peternakan dan kesehatan hewan.

Untuk pencegahan digunakan vaksin fowl pox dan pigeon pox. Vaksinasi hanya boleh dilakukan pada ayam yang kondisinya bagus dan sehat.

AYAM LUMPUH, PENYEBAB DAN CARA MENGOBATINYA

ayam lupuh

Ayam lumpuh merupakan salah satu masalah yang bisa menimpa peternak. Ayam menjadi sulit berdiri dan berjalan, hanya duduk dan berbaring, tidak bisa menjangkau pakan dan minum. Akibatnya tentu produksi turun.

Penyebab Ayam Lumpuh Karena Faktor Genetik

Jika disebabkan faktor genetik maka sulit dicegah dan ditangani. Solusinya pilih DOC yang berkualitas.

Penyebab Ayam Lumpuh Karena Faktor Infeksius (Penyakit)

Ayam bisa mengalami kelumpuhan ketika terinfeksi virus atau bakteri. Tergantung pada penyakitnya namun gejalanya bisa bertahap sebelum mengalami kelumpuhan, juga bisa ada perubahan anatomi tubuh lainnya.

Gejala yang menyertai kelumpuhan bisa saja lesu, diare, nafsu makan menurun, dan lainnya. Jika lumpuh karena penyakit cirinya biasanya yang terkena lebih dari satu ekor ayam bahkan bisa banyak.

Cara mengobati ayam lumpuh karena penyakit adalah dengan mengobati penyakitnya. Jika penyakitnya disembuhkan maka kelumpuhannya juga diharapkan akan sembuh. Jangan lupa terapkan biosekuriti dengan baik.

Untuk mendapatkan penanganan obat ayam lumpuh yang tepat konsultasikan dengan dokter hewan. Usahakan dokter hewan langganan yang familiar dengan sejarah penyakit di farm.

Penyebab Ayam Lumpuh Karena Faktor Non Infeksius

Faktor non infeksius yang pertama adalah cedera. Terjadinya mendadak dan tidak bergejala. Sebabnya bisa karena terbentur, terinjak, terjepit alas kandang, dan lainnya. Kelumpuhan hanya menimpa ayam yang cedera karena tidak menular.

Ayam juga bisa cedera karena diperlakukan kasar misalnya saat penimbangan, panen, dan vaksinasi. Ayam bisa terluka, bahkan bisa patah tulang.

Cara mengobati ayam lumpuh dengan cepat untuk kasus cedera adalah dengan mengobati cederanya. Ada peternak yang menggunakan minyak urut dan semacamnya. Untuk detailnya bisa menghubungi rekan peternak yang berpengalaman atau lebih baik lagi dokter hewan.

Perbaiki bagian-bagian kandang yang bisa menyebabkan ayam cedera. Misalnya alas kandang yang celah-celahnya terlalu lebar sehingga ayam mudah terperosok dan terjepit bisa diperbaiki. Hilangkan juga bagian dinding dan lantai yang tajam.

Perlakukan ayam dengan baik saat vaksinasi, menimbang, dan sebagainya hingga panen.

Faktor non infeksius kedua adalah defisiensi atau kekurangan nutrisi seperti kalsium, vitamin D3, vitamin B, mangan, dan fosfor. Jadi penting untuk memperhatikan kecukupan nutrisi ayam sejak awal hingga panen.

Penyebab Ayam Lumpuh Karena Lelah Kandang

Lelah kandang atau cage layer fatigue biasa terjadi pada ayam layer. Penyebabnya adalah populasi ayam di dalam kandang terlalu padat melebihi kapasitas.

Sehingga struktur tulangnya rusak dan kaki ayam menjadi lemah untuk digunakan berdiri dan berjalan. Tentu ayam tidak bisa menjangkau pakan dan minum yang menyebabkan kualitas dan produksi telur menurun.

Solusinya kurangi kepadatan ayam hingga mencapai kepadatan ideal. Karantina ayam yang lumpuh di kandang terbuka agar mereka bebas melatih kakinya.

PENYEBAB AYAM MATI MENDADAK

penyebab ayam mati mendadak

Ayam mati mendadak adalah satu hal yang bisa dialami oleh peternak. Merugikan tentunya, apalagi jika tingkat kematiannya sangat tinggi.

Namun apakah bisa ayam yang sehat tiba-tiba mati begitu saja? Atau apakah sebenarnya sebelumnya ada tanda-tandanya, yang mungkin peternak kurang memperhatikan sehingga ketika ayamnya mati kesan yang didapat adalah ayam tiba-tiba mati tanpa sebab.

Dari berbagai sumber, dikatakan bahwa sebenarnya sebelum ayam mati itu ada penyebabnya. Entah karena sakit atau hal lainnya. Ada juga gejalanya.

Namun gejala tersebut mungkin tidak dikenali karena kurangnya pengetahuan. Atau berlangsung dalam waktu yang singkat, atau tersembunyi, sehingga agak sulit dikenali.

Jadi penyebabnya bisa infeksius dan non infeksius. Berikut beberapa diantara penyebab kenapa ayam mati mendadak.

Flu Burung (HPAI)

HPAI ketika menyerang ayam akan mengakibatkan mortalitas (tingkat kematian) tinggi. Produksi telur pada ayam layer menurun bahkan berhenti. Ayam akan mengalami gangguan pernapasan, sianosis, dan konjungtivitis.

Penanganannya bisa dilakukan pemusnahan ayam secara selektif. Untuk ayam yang masih sehat diberi terapi suportif, kandang lain yang belum terjangkit segera divaksinasi.

Newcastle Disesase (ND)

Mortalitasnya tinggi bahkan bisa mencapai 100%. Gejala ayam yang terkena ND adalah tidak nafsu makan, kotorannya hijau dan kadang ada gumpalan putih, tubuhnya gemetar, kaki atau sayapnya lumpuh, leher terpuntir.

Terapi suportif diberikan berupa vitamin dan suplemen untuk meningkatkan stamina dan kekebalan tubuh ayam.

Fowl Cholera (Kolera)

Ayam yang terkena penyakit ini akan tidak nafsu makan, lesu, demam, mulut keluar lendir, bulunya kusam, diare, napasnya terengah-engah, kulit ungu kebiruan, dan kotorannya kehijauan berlendir.

Biasanya penanganannya diberikan vitamin dan antibiotik.

Heat Stress

Ini adalah penyebab non ifeksius, yaitu ketika ayam kepanasan yang berlebihan. Jika tidak segera ditangani akan bisa menyebabkan kematian. Solusinya bisa diberi vitamin, dilakukan penjarangan dan diperbaiki ventilasi kandangnya. Pastika air minum yang diberikan dingin sekitar 20-24°C.

Ketika menemukan ayam mati mendadak sangat disarankan untuk segera menghubungi dan berkonsultasi dengan dokter hewan. Agar bisa dilakukan analisa yang tepat apakah penyebab ayam mati mendadak. Jangan ditunda dan sebaiknya jangan menganalisa sendiri, agar masalahnya segera bisa diatasi.

Sebaiknya hubungi dokter hewan secepat mungkin setelah menemukan ayam yang mendadak mati. Jangan tunggu sampai ada korban-korban selanjutnya.

AYAM BERAK HIJAU, PENYEBAB DAN PENANGANANNYA

Ayam berak hijau dan cair dapat menjadi indikasi bahwa ayam mengalami stres (termasuk heat stress), gangguan nutrisi, atau sakit.

Salah satu penyakit yang menyerang ayam dengan gejala berak hijau adalah kolera, yang juga sering disebut dengan penyakit berak hijau. Kolera menyerang semua umur dan bisa berjangkit karena kandang ayam kotor dan lembab, cuaca ekstrim, dsb.

Penyakit ini termasuk mudah menular baik melalui kontak langsung maupun tidak langsung. Jadi penularan bisa terjadu melalui pakan, minum, peralatan, hingga hewan liar.

Jika ayam dicurigai terkena kolera maka hubungi dokter hewan secepatnya untuk mendapatkan penanganan medis. Isolasi ayam yang bergejala, jika ayam mati kubur sejauh-jauhnya dari kandang.

Kemudian ikuti langkah-langkah pengobatan yang disarankan dokter hewan agar pengobatan dilakukan secara tuntas. Kalau tidak maka ayam yang sembuh bisa menjadi carrier.

Biosekuriti harus diterapkan dengan lebih baik, kebersihan benar-benar dijaga, dan berantas hewan pembawa penyakit seperti tikus dan lalat. Prosedur istirahat kandang termasuk disinfeksi kandang harus benar-benar dipatuhi.

Biosekuriti sangat penting dan perlu diterapkan dengan ketat. Agar penyakit tidak mudah masuk dan menular ke kandang.

Jika ternyata ayam terkena heat stress maka segera benahi ventilasi kandang. Cek apakah ABK sudah membuka/tutup tirai dengan benar. Cek apakah kipas bekerja dengan baik, sudah cukup jumlahnya, sudah sesuai target kinerjanya. Cek semua peralatan terkait suhu dan kelembaban apakah bekerja dengan baik.

Jika ayam kekurangan nutrisi segera perbaiki dengan memberikan pakan bernutrisi lengkap seimbang sesuai kebutuhan dan fase pertumbuhan ayam. Penyimpanan pakan juga harus dilakukan dengan baik agar tidak mengalami kerusakan yang tentunya akan menurunkan kualitas pakan.

Jika ayam terkena penyakit lain maka yang terbaik adalah segera hubungi dokter hewan. Mendiagnosa dan mengobati sendiri ayam yang sakit memang terkesan lebih murah. Tapi kemungkinan gagalnya cukup tinggi dan bisa mengorbankan profit apalagi jika peternakannya mempunyai skala yang cukup besar.

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer