-->

BEBAS SANGKAR UNTUK ITIK PETELUR: MEMBANGUN NILAI PRODUK MELALUI PRAKTIK PEMELIHARAAN YANG BERTANGGUNG JAWAB

Telur itik yang saat ini beredar di pasaran ternyata tak semuanya berasal dari itik yang dipelihara secara umbaran atau yang dalam masyarakat Jawa dikenal dengan sistem angon. Itik mulai banyak diternakkan dengan sistem intensif, salah satunya adalah sistem kandang baterai atau kandang individu berukuran sempit, yang jauh dari penerapan prinsip kesejahteraan hewan. Namun, informasi ini belum diketahui secara luas dan belum ada pembeda antara produk telur itik yang berasal dari sistem kandang baterai dan bebas sangkar (cage-free), meskipun produk telur bebas sangkar memiliki keunggulan dalam faktor kesejahteraan hewan.

Across Species Project Indonesia (ASPI), inisiatif non-profit yang berfokus pada peningkatan kesejahteraan itik petelur, menyoroti masalah semakin meluasnya sistem kandang baterai untuk itik petelur, salah satunya dengan membentuk Jaringan Peternak Itik petelur Bebas Sangkar (Duck Cage-Free Network). Beranggotakan peternak-peternak itik petelur yang menggunakan sistem bebas sangkar (cage-free), dalam jaringan ini, ASPI mengadakan berbagai pelatihan dan seminar untuk mendorong peningkatan praktik kesejahteraan hewan di peternakan, salah satunya yang diadakan pada tanggal 10 September 2026 lalu di daerah Sleman, DIY, dan diikuti oleh 34 peternak.

Menghadirkan pembicara seorang eksportir telur itik dari Jawa Barat, Rully Lesmana, seminar ini mengusung tema “Membangun Nilai Produk Melalui Praktik Pemeliharaan yang Bertanggung Jawab”. Seminar ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman peternak akan pentingnya penerapan praktik kesejahteraan hewan di peternakan dan bagaimana hal tersebut dapat turut membangun nilai produk dalam proses pemasaran.

Rully Lesmana, yang juga merupakan Direktur CV Surya Abadi Telur Asin, mengatakan bahwa penerapan cage-free sudah cukup luas. Cina, negara penghasil telur terbanyak di dunia, yang juga nomor satu dari sisi pangsa pasar di tahun 2023 maupun 2024, telah bergerak ke arah tersebut.

“Salah satu contohnya adalah Xuri Egg Products, salah satu produsen telur itik terbesar di Cina, dengan produk yang telah dipasarkan ke Eropa, Amerika, Australia, dan Asia Tenggara, dan mencatat penjualan sekitar 505 juta RMB pada 2023. Xuri kini berkomitmen untuk menggunakan 100 persen telur itik cage-free untuk seluruh produk ekspornya pada 2026. Rajanya saja sudah sampai di sana—sudah berkomitmen ekspor dengan telur cage-free—saya jadi berpikir, Indonesia kapan?" kata Rully Lesmana.

Seminar ini merupakan seminar ketiga setelah sebelumnya ASPI mengadakan seminar di tahun 2025 mengenai dasar pemeliharaan menggunakan sistem bebas sangkar dan di pertengahan tahun 2026 berupa pelatihan teknis, terutama terkait penerapan biosecurity secara sederhana dan manajemen kandang lainnya, termasuk pengadaan nest box untuk itik bertelur.

Mengapa Itik Seharusnya Dipelihara dalam Sistem Bebas Sangkar?

Itik merupakan hewan semi akuatik dengan kaki berselaput yang dirancang untuk aktivitas air. Di dalam kandang baterai, itik bukan hanya tidak dapat melakukan aktivitas air, melainkan juga tak mampu bergerak secara leluasa.

“Di dalam kandang baterai, itik hanya memiliki ruang gerak tak lebih besar dari sebuah laptop berukuran 13 inci, yang bahkan tak lebih besar dari keseluruhan panjang tubuhnya. Leher itik sering kali mereka julurkan hingga ke luar kandang, menyebabkan gesekan yang berpotensi menimbulkan luka; kaki mereka yang berselaput juga harus bersentuhan dengan kandang bambu atau kawat sepanjang hari,” kata Nuril, Producer Engagement Officer ASPI.

Di Taiwan, pelarangan kandang baterai untuk peternakan itik yang baru sudah ada sejak tahun 2022 setelah Eurogroup for Animals menyuarakan bahwa ekspor telur itik dari Taiwan dapat membahayakan standar kesejahteraan yang ada di Eropa.

Untuk dapat selaras dengan standar global, industri telur itik di Indonesia perlu menerapkan aturan yang sesuai dengan tren global dan menekankan pentingnya kesejahteraan hewan dalam penjualan produk hewani.

LIMA BULAN, 8 CABANG: PROSPERRA FARMS ASIA TANCAP GAS EKSPANSI MENUJU 25 CABANG NASIONAL

Grand Opening Prosperra Farms Asia, menandai kiprah baru perusahaan dalam bisnis kemitraan perunggasan. (Foto: Istimewa)

PT Prosperra Farms Asia (PFA) resmi menggelar Grand Opening Prosperra Farms Asia pada Selasa, 15 September 2026, bertempat di Ballroom Grand Rohan Yogyakarta. Acara ini dihadiri oleh seluruh partner Prosperra Farms Asia serta perwakilan mitra peternak dari berbagai wilayah operasional.

Mengusung semangat “Empowering Farmers, Growing Prosperity”, Grand Opening menjadi momentum bagi Prosperra untuk merayakan perjalanan awal perusahaan sekaligus memperkuat komitmen dalam membangun.

“Empowering Farmers, Growing Prosperity” menjadi visi yang mendasari perjalanan Prosperra Farms Asia. Empowering Farmers mencerminkan komitmen untuk memberikan dukungan, pengetahuan, akses, dan pendampingan agar peternak dapat mengembangkan usahanya secara produktif dan berkelanjutan. Sementara Growing Prosperity menggambarkan semangat untuk tumbuh dan berkembang bersama. Prosperra percaya bahwa pertumbuhan perusahaan berjalan seiring dengan keberhasilan para mitra, sehingga kemitraan dibangun untuk menciptakan nilai dan peluang bagi semua pihak.

Prosperra Farms Asia didirikan pada Februari 2026 dan mulai menjalankan bisnis kemitraan secara aktif pada Mei 2026. Dalam waktu sekitar lima bulan sejak memulai bisnis kemitraan, Prosperra telah memperluas kehadirannya menjadi 8 cabang, yaitu Yogyakarta, Magelang, Solo, Madiun, Cirebon, Blitar, Malang, dan Bali.

Perkembangan tersebut menjadi bagian dari langkah awal Prosperra dalam membangun jaringan kemitraan yang lebih dekat dengan peternak di berbagai wilayah.

Merayakan Pertumbuhan Bersama

Grand Opening Prosperra Farms Asia tidak hanya menjadi penanda perjalanan perusahaan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mempertemukan berbagai pihak yang telah menjadi bagian dari perjalanan Prosperra.

Kehadiran seluruh partner dan perwakilan mitra peternak mencerminkan pentingnya kolaborasi dalam membangun bisnis kemitraan. Bagi Prosperra, pertumbuhan perusahaan tidak dapat dipisahkan dari kontribusi para peternak, partner, dan tim yang menjalankan operasional di lapangan.

Taufik Wibowo Hadi

“Grand Opening ini menjadi momentum untuk merayakan perjalanan yang telah kami lalui bersama. Dalam waktu lima bulan, Prosperra telah hadir di delapan cabang. Angka tersebut bukan hanya tentang ekspansi perusahaan, tetapi juga tentang kepercayaan dan kolaborasi yang dibangun bersama partner dan para mitra peternak,” ujar Taufik Wibowo Hadi, Direktur Operasional Prosperra.

Kolaborasi Bersama Peternak

Sejak awal, Prosperra Farms Asia menempatkan kemitraan sebagai bagian penting dalam membangun ekosistem bisnisnya. Perusahaan berupaya mendukung mitra peternak melalui pendampingan operasional, pengelolaan produksi, penyediaan sarana produksi peternakan, serta monitoring performa budidaya.

Pendekatan tersebut diarahkan untuk membangun hubungan kemitraan yang tidak hanya berorientasi pada hasil produksi, tetapi juga menciptakan ruang bagi peternak untuk berkembang bersama perusahaan.

Semangat tersebut tercermin dalam tagline “Empowering Farmers, Growing Prosperity”, yang menjadi landasan Prosperra dalam menjalankan dan mengembangkan bisnisnya.

Menuju 25 Cabang di Seluruh Indonesia

Setelah mencatatkan kehadiran di delapan wilayah dalam lima bulan pertama bisnis kemitraannya, Prosperra Farms Asia telah menyiapkan langkah ekspansi berikutnya.

Perusahaan menargetkan untuk segera memperluas jaringan operasional menjadi 25 cabang yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Ekspansi ini menjadi bagian dari visi Prosperra untuk membangun jaringan kemitraan yang lebih luas serta menghadirkan akses pendampingan dan kolaborasi yang lebih dekat dengan peternak di berbagai daerah.

Pertumbuhan jaringan tersebut akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan potensi wilayah serta kesiapan ekosistem kemitraan di masing-masing daerah.

“Delapan cabang merupakan langkah startegis bagi Prosperra. Ke depan, kami memiliki target untuk hadir di 25 cabang di seluruh Indonesia. Kami ingin membawa semangat Empowering Farmers, Growing Prosperity ke lebih banyak wilayah dan membangun lebih banyak kolaborasi bersama peternak,” kata Taufik.

Dengan rencana tersebut, Prosperra Farms Asia melihat perjalanan lima bulan pertamanya sebagai awal dari langkah yang lebih panjang untuk membangun ekosistem kemitraan perunggasan yang semakin luas di Indonesia.

Tentang Prosperra Farms Asia

PT Prosperra Farms Asia (PFA) merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang kemitraan perunggasan dan pengembangan ekosistem usaha peternakan.

Prosperra Farms Asia didirikan pada Februari 2026 dan mulai menjalankan bisnis kemitraan pada Mei 2026. Dalam lima bulan perjalanan bisnisnya, Prosperra telah hadir di 8 cabang, yaitu Yogyakarta, Magelang, Solo, Madiun, Cirebon, Blitar, Malang, dan Bali.

Dengan semangat “Empowering Farmers, Growing Prosperity”, Prosperra Farms Asia berkomitmen membangun kemitraan yang produktif, kolaboratif, dan berkelanjutan bersama peternak serta seluruh pihak dalam ekosistem perunggasan Indonesia. (ADV)

ILDEX INDONESIA KE-8 RESMI DIBUKA, PERKUAT EKOSISTEM PETERNAKAN DAN PANGAN NASIONAL

Pembukaan ILDEX Indonesia 2026. (Foto-foto: Infovet/Ridwan)

Ajang pameran peternakan internasional, ILDEX Indonesia, kembali diselenggarakan untuk kedelapan kalinya, 16-18 September 2026 di ICE BSD, Tangerang. Pameran akbar ini digelar bersamaan dengan Horti & Agri Indonesia, dan menjadi wadah strategis bertemunya para pelaku industri dari dalam dan luar negeri dalam memperkuat ekosistem peternakan dan pangan nasional.

Dalam sambutannya, Direktur PT Permata Kreasi Media (PKM), Fitri Nursanti Poernomo, menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi.

"Saya menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak, stakeholder, pemerintah, exhibitor, delegasi dari seluruh negara, dan semua pihak yang mendukung terselenggaranya acara ini," ujarnya dalam Opening Ceremony ILDEX 2026, Rabu (16/9/2026).

Senada dengan hal tersebut, CEO VNU Asia Pacific, Duangdej Yuaikwarmdee, turut menyampaikan welcome speech kepada para delegasi dan peserta pameran internasional yang hadir.

Pada kesempatan yang sama, Pemerintah Provinsi Banten yang diwakili oleh Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Banten, Nasir, juga menyampaikan apresiasinya atas langkah konsisten VNU Asia Pacific dalam menghadirkan pameran internasional ini di Indonesia.

Menurutnya, ILDEX memegang peranan penting dalam mendukung kemajuan industri peternakan, kesehatan hewan, pakan dan nutrisi, peralatan serta teknologi, industri susu, rantai dingin (cold chain), hingga sektor pengemasan (packaging) di Tanah Air.

"Forum ini adalah ruang bertemunya teknologi, modal, pengetahuan, dan pasar. ILDEX dapat menjadi ajang business matching yang menghasilkan kerja nyata hari ini dan investasi jangka panjang, serta memperkuat ekosistem pangan Indonesia," ujar Nasir.

Simbolis konsumsi protein hewani dalam pembukaan ILDEX Indonesia 2026.

Acara pembukaan ILDEX Indonesia ke-8 ini secara resmi dilakukan oleh Menteri Pertanian yang pada kesempatan tersebut diwakili oleh Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, Makmun.

Dalam arahannya, Makmun menegaskan bahwa ILDEX merupakan ruang strategis yang mempertemukan informasi serta teknologi terkini, yang tidak hanya menghubungkan para pelaku industri dalam negeri, tetapi juga dunia.

"Dengan terselenggaranya pameran ini, diharapkan sinergi antar-pemangku kepentingan di sektor peternakan, kesehatan hewan, dan pertanian dapat semakin kuat guna mendorong kemandirian serta ketahanan pangan nasional," katanya. (RBS)

PELUANG BARU PERUNGGASAN DI SEMINAR NASIONAL HATN 2026

Foto bersama dalam Seminar Nasional rangkaian HATN 2026. (Foto: Istimewa)

Bertempat di Auditorium Lantai 3 Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM), Rabu (9/9/2026), rangkaian Hari Ayam dan Telur Nasional (HATN) 2026 diawali dengan Seminar Nasional (Semnas) bertajuk “Protein Up: Mengeksplorasi Peluang Baru bagi Industri Perunggasan Indonesia”.

Acara dimulai dengan sambutan dari Prof Aris Haryanto MSi, perwakilan Dekan FKH UGM, dilanjutkan oleh Ketua PINSAR Indonesia yang diwakili oleh Ricky Bangsaratoe, yang sekaligus menegaskan pentingnya kolaborasi antara akademisi, asosiasi, pelaku usaha, dan industri dalam menghadapi dinamika sektor perunggasan.

Pada kesempatan tersebut, narasumber seminar selaku Lead of Supply Chain Lever Foundation, Muhammad Sandi Dwiyanto, menjabarkan gambaran mengenai perkembangan sistem produksi cage-free di tingkat global, perubahan ekspektasi konsumen, serta peluang implementasinya dalam konteks industri telur Indonesia.

Dari sisi pencegahan penyakitnya, Guru Besar FKH UGM, Prof Michael Haryadi Wibowo, menyoroti bagaimana perubahan sistem pemeliharaan dapat memengaruhi tantangan kesehatan unggas, biosekuriti, manajemen litter, kepadatan, hingga strategi pencegahan penyakit.

Adapun perspektif lapangan hadir melalui Layer Farm Manager PT Widodo Makmur Unggas (WMU), Ir Arif Afiata Rahmat, yang membawa pengalaman praktis dari level produksi, termasuk tantangan adaptasi, manajemen flock, produktivitas, dan pembelajaran selama menjalankan sistem cage-free.

Sementara itu, peran teknologi dibahas oleh Sales Specialist Kaleter, Drh Kokot Februhadi, , dalam mendukung transisi menuju sistem produksi yang lebih modern, mulai dari desain dan fasilitas kandang, hingga teknologi yang membantu monitoring dan efisiensi manajemen.

Dan dari sisi nutrisi, Nutritionist & Business Development PT Dinamika Megatama Citra, Drh Henri E. Prasetyo, mengangkat bagaimana strategi nutrisi dapat menjadi salah satu fondasi utama keberhasilan produksi unggas modern. Bukan hanya mengenai formulasi pakan, tetapi juga bagaimana meningkatkan efisiensi penggunaan nutrien, menjaga kesehatan saluran pencernaan, mengoptimalkan kualitas bahan baku, serta menghubungkan efisiensi pakan dengan produktivitas dan profitabilitas.

Pendekatan tersebut menjadi semakin relevan ketika industri menghadapi volatilitas harga bahan baku dan tuntutan efisiensi yang semakin tinggi. Dalam konteks cage-free, manajemen pakan perlu diselaraskan dengan karakteristik konsumsi pakan, aktivitas ayam, kesehatan kaki, kualitas telur, dan target produksi.

Dengan demikian, cage-free bukan sekadar perubahan sistem kandang, tetapi bagian dari transformasi rantai nilai industri telur yang membutuhkan kesiapan teknologi, SDM, kesehatan unggas, nutrisi, serta strategi bisnis. (HENRI)

TEGUH SUDARYATNO KEMBALI DIPERCAYA PIMPIN KAFAPET UNSOED

Ketua Umum Kafapet Unsoed Periode 2026-2030, Teguh Sudaryatno. (Foto: Dok. kafapet Unsoed)

Keluarga Alumni Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman (Kafapet Unsoed) kembali mempercayakan Teguh Sudaryatno sebagai Ketua Umum Kafapet Unsoed melalui Musyawarah Nasional VI (Munas VI) di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Sabtu (5/9/2026).

Sekretaris Panitia Munas VI Kafapet Unsoed, Farid Dimyati, mengatakan pemilihan ketua umum berlangsung lancar dan ditempuh melalui musyawarah mufakat setelah tiga kandidat memenuhi ketentuan dalam tata tertib persidangan.

"Alhamdulillah munas berjalan lancar. Dari data yang masuk sebenarnya ada lima bakal calon ketua umum, tetapi ada dua bakal calon yang tidak hadir secara luring di lokasi pelaksanaan munas, sehingga sebagaimana dipersyaratkan dalam tata tertib pemilihan dinyatakan gugur," ujarnya.

Dengan demikian, kata dia, terdapat tiga calon ketua umum yang memenuhi ketentuan dan selanjutnya mengikuti proses musyawarah untuk menentukan pemimpin KAFAPET UNSOED, di antaranya Teguh Sudaryatno, A. Bagus Pekik, dan Aries Teguh Wibowo.

Farid melanjutkan, setelah melalui musyawarah ketiga kandidat tersebut, mereka sepakat bahwa Teguh Sudaryatno akan kembali memimpin organisasi. Oleh sebab itu, sidang munas akhirnya menetapkan dan mengesahkan Teguh Sudaryanto sebagai Ketua Umum Kafapet Unsoed periode 2026-2030.

Sebagaimana diketahui, Teguh Sudaryatno sebelumnya dikukuhkan sebagai Ketua Umum Kafapet Unsoed pada 24 Februari 2025, menggantikan ketua sebelumnya periode 2021-2026, Bambang Rijanto Japutra, yang mengundurkan diri setelah terpilih sebagai Wakil Ketua IV Keluarga Alumni Unsoed (KAUNSOED).

Farid berharap dengan terpilihnya kembali Teguh Sudaryatno, organisasi Kafapet Unsoed menjadi lebih baik lagi serta terus memperkuat peran organisasi dalam membangun jejaring alumni dan berkontribusi bagi almamater.

Usai dipercaya kembali memimpin Kafapet Unsoed, Teguh Sudaryatno mengungkapkan salah satu prioritas yang akan dilakukan ialah membenahi dan memperkuat basis data alumni Fakultas Peternakan Unsoed.

"Yang pertama kita mungkin database alumni. Selama ini memang database belum rapi, jadi nanti alumni itu ada di mana saja bisa kami ketahui. Kemudian pada waktu kelulusan nanti juga langsung kita data untuk pengajuan kartu anggota alumni," katanya.

Ia juga menambahkan akan terus memperkuat koordinasi dengan para alumni di berbagai wilayah. Menurutnya, hal itu penting mengingat cakupan wilayah organisasi yang luas sehingga membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya.

Selain itu, penekanan terkait pentingnya memperkuat hubungan antara Kafapet dengan Fakultas Peternakan Unsoed melalui berbagai kegiatan yang melibatkan alumni dan mahasiswa.

"Hubungan dengan fakultas yang mungkin beberapa kegiatan yang terkait dengan alumni dan fakultas, baik mengadakan seminar, kemudian melakukan pembekalan untuk mahasiswa baru ataupun pembekalan untuk mahasiswa yang baru akan lulus," pungkasnya.

Ia berharap dengan terpilihnya kembali dirinya dapat menjalankan amanah tersebut dengan baik dan mendapat kesehatan serta kelancaran dalam melaksanakan tugas. (INF)

BAKTI ALUMNI SUKSESKAN PROGRAM HILIRISASI DALAM MUNAS VI KAFAPET UNSOED

Seminar Nasional dalam rangkaian Musyawarah Nasional VI Kafapet Unsoed. (Foto: Istimewa)

"Bakti Alumni Fakultas Peternakan Unsoed untuk Sukseskan Program Hilirisasi”, menjadi tema Seminar Nasional dalam rangkaian Musyawarah Nasional VI Keluarga Alumni Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman (Kafapet Unsoed) di Purwokerto, Sabtu (5/9/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Drijen PKH), Drh Agung Suganda, yang turut hadir mengajak perguruan tinggi, alumni, dan dunia usaha memperkuat kolaborasi untuk mempercepat hilirisasi peternakan nasional.

"Sinergi tersebut diperlukan agar riset dan inovasi dapat diterapkan menjadi teknologi, produk bernilai tambah, lapangan kerja, serta peningkatan kesejahteraan peternak," ujar Agung.

Ia menambahkan, pembangunan peternakan merupakan bagian penting dari upaya memperkuat ketahanan pangan dan kualitas sumber daya manusia. Ketahanan pangan, menurutnya, tidak hanya menyangkut karbohidrat, tetapi juga kecukupan protein hewani dari daging, susu, dan telur.

Untuk memperkuat kontribusi tersebut, pihaknya terus mendorong peningkatan produksi dan daya saing peternakan melalui penguatan pembibitan, reproduksi, pakan, kesehatan hewan, investasi, dan kemitraan dengan peternak rakyat.

Sebab, lanjut dia, hilirisasi tidak boleh dimaknai hanya sebatas membangun fasilitas pengolahan. Hilirisasi harus membentuk ekosistem yang menghubungkan produksi, teknologi, pengolahan, distribusi, dan pasar.

“Hilirisasi harus memberikan manfaat nyata. Produksi harus semakin efisien, pasar semakin luas, dan nilai tambah yang dihasilkan harus dapat dirasakan peternak,” tegasnya.

Dalam upaya tersebut, perguruan tinggi memiliki posisi penting sebagai penghasil sumber daya manusia, riset, dan inovasi. Agung mendorong agar penelitian tidak berhenti sebagai laporan akademik, tetapi diterjemahkan menjadi teknologi dan model usaha yang mampu menjawab kebutuhan peternak dan industri.

Semangat tersebut sejalan dengan pandangan Plt. Rektor Unsoed, Prof Ali Rokhman. Ia menilai hilirisasi membutuhkan hubungan yang semakin kuat antara pendidikan tinggi dan dunia industri, dengan alumni sebagai salah satu penggeraknya.

“Harus ada link and match antara dunia pendidikan tinggi dan dunia industri. Alumni memiliki jejaring dan pengalaman yang dapat menjadi jembatan antara kampus, pemerintah, industri, dan masyarakat,” ujar Prof Ali.

Ia juga menambahkan, perguruan tinggi kini dituntut tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat. Munas VI Kafapet Unsoed diharapkan menjadi momentum untuk menyatukan ilmu, pengalaman, jejaring, inovasi, dan semangat pengabdian.

“Mari kita jadikan alumni sebagai energi kolaborasi dan hilirisasi sebagai jalan menuju kemandirian serta ketahanan pangan bangsa,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Dekan Fakultas Peternakan Unsoed, Novie Andri Setianto, menyampaikan bahwa hubungan alumni dengan kampus tidak berakhir setelah kelulusan. Alumni tetap menjadi bagian penting dalam pengembangan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

“Bagi kami, alumni bukan sekadar mahasiswa yang telah lulus, tetapi mahasiswa yang telah menyelesaikan studi tanpa benar-benar meninggalkan kampus. Sejauh apapun melangkah, kampus Fakultas Peternakan selalu menjadi tempat untuk kembali,” kata Novie.

Menurutnya, seminar nasional dan Munas VI Kafapet Unsoed tidak hanya menjadi ruang konsolidasi organisasi, tetapi juga sarana untuk merawat kebersamaan dan memperkuat kontribusi alumni bagi almamater serta pembangunan peternakan Indonesia.

Sementara itu, Ketua Umum Kafapet Unsoed, Teguh Sudaryatno, mengatakan subsektor peternakan dituntut semakin adaptif, efisien, dan inovatif dalam menghadapi perubahan serta tantangan global. Karena itu, alumni yang berkiprah di pemerintahan, dunia usaha, pendidikan, dan penelitian perlu memperkuat sinergi dengan kampus dan masyarakat.

Diharapkan dari adanya forum ini dapat melahirkan gagasan baru, riset aplikatif, dan rekomendasi kebijakan yang relevan dengan kebutuhan peternak serta mendukung penguatan pangan nasional.

Munas VI Kafapet Unsoed juga menjadi bagian dari semangat Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan ke-190 tahun 2026. Kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, alumni, peternak, dan dunia usaha diharapkan mampu mendorong hilirisasi yang meningkatkan daya saing sekaligus menghadirkan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi peternak. (INF)

MENGUSUNG ONE HEALTH, ONE WELFARE, KIVNAS XXI RESMI DIGELAR

Foto bersama KIVNAS XXI. (Foto: Infovet/Ridwan)

Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) resmi menyelenggarakan Konferensi Ilmiah Veteriner Nasional (KIVNAS) XXI yang berlangsung pada 14-15 Agustus 2026, di Grand Serpong Hotel. Mengusung tema besar "One Health, One Welfare", gelaran ilmiah ini menampilkan beragam agenda strategis, mulai dari sesi pleno, presentasi ilmiah (oral dan poster), hingga seminar/workshop dari Unit Peminatan Non-Teritorial (UPNT).

​Rangkaian KIVNAS XXI hari pertama diawali dengan Morning Seminar yang menghadirkan Dr Drh Susan M. Noor, yang mengulas isu-isu krusial terkait kesehatan hewan nasional, termasuk kewaspadaan terhadap E. coli, isu resistansi antimikroba (antimicrobial resistance/AMR), serta pentingnya penggunaan antibiotik yang bijak dan bertanggung jawab pada hewan.

Usai pemaparan, acara dilanjutkan dengan sesi sambutan secara resmi oleh Sekretaris Jenderal Pengurus Besar (PB) PDHI, Drh Andi Wijanarko. Dalam sambutannya, Andi menyampaikan bahwa KIVNAS merupakan wahana penting untuk menyatukan ide demi kemajuan bersama profesi veteriner.

"Kita berkumpul di sini untuk memberikan ide bagi kemajuan kita bersama. KIVNAS ini adalah forum penting untuk memperkuat ilmu dan kolaborasi dalam memajukan kesatuan kedokteran hewan kita. Tema One Health, One Welfare mengingatkan bahwa kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan tidak terpisahkan," ujar Andi.

​Ia juga menegaskan bahwa posisi strategis dokter hewan yang selalu hadir dan dibutuhkan dalam isu-isu vital bangsa, seperti penanganan zoonosis, pengendalian AMR, hingga penjaminan ketahanan dan keamanan pangan. Mengingat KIVNAS digelar menjelang Peringatan Hari Kemerdekaan RI, Andi berharap KIVNAS XXI menjadi momentum nyata untuk mewujudkan dokter hewan Indonesia yang berintegritas, adaptif, dan kolaboratif demi melahirkan gagasan serta jejaring baru bagi masa depan.

Pada kesempatan yang sama, hadir sebagai Keynote Speaker, Direktur Kesehatan Hewan (Dirkeswan), Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, Drh Hendra Wibawa, menyampaikan visi pembangunan peternakan dan kesehatan hewan yang maju dan berkelanjutan. Pembangunan tersebut tidak hanya fokus pada peningkatan produksi, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan peternak dan penguatan sistem kesehatan hewan nasional.

Hendra juga memaparkan sejumlah tantangan kompleks yang masih dihadapi saat ini, seperti ancaman zoonosis, Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS), emerging infectious disease (EID), perubahan iklim, degradasi lingkungan, keamanan pangan, hingga dinamika perubahan sistem produksi peternakan, dan risiko AMR.

​Untuk menjawab kompleksitas tersebut, Hendra menyampaikan tiga pesan kunci. Pertama, proteksi. Yakni menjaga kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan untuk ketahanan kehidupan masyarakat.
"Yang kedua, promote. Dengan mempromosikan penguatan animal welfare karena keberadaannya penting bagi keberlanjutan usaha peternakan. Dan ketiga yaitu kolaborasi. Dengan memperkuat sinergi lintas sektor, karena tantangan ke depan yang semakin kompleks, sehingga seluruh pihak harus menjadi satu kesatuan demi pembangunan peternakan dan kesehatan hewan yang lebih maju dan berkelanjutan," tukasnya.

Usai pembukaan resmi oleh Dirkeswan, kegiatan KIVNAS XXI dilanjutkan dengan pemaparan materi dari jajaran pakar, akademisi, dan praktisi senior. Pada hari pertama, hadir narasumber di antaranya Prof Dr Drh Bambang Pontjo P. (Dosen Patologi SKHB IPB University, Sekjen FAVA), Dr Drh Nusdianto Triakoso (Ketua UPNT AKIVI, Wadir RSHP Unair, Dosen FKH Unair), Drh Kadek Agus Agra Arnawa (Senior Vet, Dokter Hewan Praktisi Central Vet Bali, Anggota UPNT ADBVI), hingga Drh Anang Triatmoko (Dokter Hewan Praktisi GAIA Small Animal Clinic, Anggota UPNT ADBVI).

Kemudian pada hari kedua diskusi ilmiah dilanjutkan dengan pemaparan dari Drh Akhmad Harris Priyadi (Ketua Umum Asosiasi Obat Hewan Indonesia/ASOHI), Dr Siraya Chunekamrai (Veterinary Practice in Thailand, Founder The Thai Pony Foundation), ​Dr Drh Hasbullah Abdurrachman (Konsultan Bisnis, Senior Veterinarian Standard Biosensor Indonesia), ​Prof Dr Drh Widagdo Sri Nugroho (Dosen Dept. Kesmavet FKH UGM & Koord. Bid. Peningkatan Kompetensi UPNT Askesmaveti), Dr Drh Fitria Senja Murtiningrum (Dosen SKHB IPB University, Anggota UPNT ADHPHKI), hingga Drh Fajriyanti Qurrotuain (Dokter Hewan Praktisi, Anggota UPNT ADHPHKI).

Melalui pemaparan materi dan diskusi interaktif selama dua hari, KIVNAS XXI diharapkan melahirkan gagasan inovatif serta memperkuat sinergi interprofesional demi mewujudkan kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan yang berkelanjutan di Indonesia. (RBS)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer