-->

DUKUNG INDUSTRI BABI NASIONAL, ADM ANIMAL NUTRITION GELAR SWINE FORUM 2026 DI BALI

ADM Swine Forum 2026 diselenggarakan pada Selasa, 21 April 2026 di Bali.

ADM Animal Nutrition Indonesia terus berperan mendukung industri babi Indonesia melalui berbagai produk, layanan, edukasi, dan sharing informasi. Salah satu bentuknya adalah diadakannya ADM Swine Forum 2026 pada Selasa 21 April 2026, di Hyatt Regency Sanur, Bali. Forum tersebut dihadiri oleh nutrisionis, perusahaan feed mill, dan peternak babi.

Country General Manager ADM Animal Nutrition Indonesia, Wully Wahyuni

“ADM Swine Forum ini salah satu bentuk komitmen kontribusi ADM terhadap industri peternakan. Setiap tahun kami merencanakan ada event seperti ini dimana kami mengundang industry stakeholder baik itu dari akademisi, praktisi, dan dari customer kami juga,” terang Country General Manager ADM Animal Nutrition Indonesia, Wully Wahyuni. “Para expert dari ADM juga dihadirkan supaya kita bisa exchange karena pastinya selalu ada teknologi dan inovasi baru. Saya berharap informasi-informasi itu juga bisa diadopsi di Indonesia.”

Pada forum ini ADM menghadirkan para pakar industri babi yaitu Dr Pedro Urriola, Swine Nutrition Expert; Fabio Catunda, Director of CD&D ADM Animal Nutrition LATAM; Dr Kim Chung Hyun, Director of CD&D ADM Animal Nutrition APAC; dan Ermin Magtagnob, ADM Technical Manager Swine Asia.

Fabio Catunda mempresentasikan bagaimana mengubah tantangan yang ada di industri babi dan khususnya di farm menjadi peluang. Dengan cara tetap kompetitif, menjaga status kesehatan, menggunakan teknologi, menggunakan produk bernilai tinggi, menjaga keamanan hasil produksi, dan beradaptasi terhadap kebutuhan konsumen. Upaya ini bertujuan agar dapat berproduksi lebih banyak, lebih baik, dan menggunakan lebih sedikit sumber daya.

Pada presentasi yang berbeda, Fabio menguraikan strategi untuk mengatasi heat stress pada induk babi menyusui. Ia menyarankan penggunaan teknologi yang memberikan data real time untuk mencegah heat stress. Ditambah dengan strategi nutrisi yang telah teruji.

Dalam sesi lainnya, Pedro Urriola menjelaskan strategi pencernaan protein dan energi pada babi untuk meningkatkan efisiensi menggunakan lima prinsip. Antara lain mengukur nutrisi yang penting, memanajemen energy loss, protein yang presisi, menyinkronkan kinetika pencernaan protein dan penggunaan enzim, dan memahami lingkungan lokal dengan baik. Pedro juga menjadi narasumber sesi berikutnya dengan materi mendalam mengenai manfaat zinc untuk masa kehamilan induk babi dan pertumbuhan piglet (anak babi).

Sementara itu pengaplikasian beta-agonist yang baik dan benar dipresentasikan oleh Kim Chung Hyun. Mengingat penggunaan yang tidak tepat bisa berbahaya bagi manusia. Kim juga memperkenalkan solusi alternatif beta-agonist berupa aditif dari ADM yaitu XTRACT 6930.

Momen pemberian cinderamata untuk para pembicara dan moderator, Prof Dr Ir Budi Tangendjaja MSc MAppl.

Ermin Magtagnob menguraikan bagaimana strategi integrasi biosekuriti untuk feed mill dan farm. Dia menjelaskan di masa lalu strategi biosekuriti berfokus pada treatment atau pengobatan, masa sekarang fokusnya pada pencegahan, dan ke depannya fokusnya akan berubah pada prediksi resiko sedini mungkin dan pencegahannya.

Pada waktu yang berbeda, Ermin menjelaskan dampak heat stress pada feed intake dan turunnya berat badan induk babi menyusui serta pertumbuhan anak babi. Ia menawarkan Fresh Up sebagai solusi yang fungsinya antara lain memperbaiki metabolisme, efisiensi nutrisi, dan memperbaiki palatabilitas.

Sesi terakhir, Fabio memaparkan tentang SINCRO, layanan ADM berupa ekosistem layanan dan solusi cerdas yang didesain untuk mendukung peternak dan industri pakan. SINCRO menawatkan analisis laboratorium, kalibrasi NIR, manajemen mikotoksin. Pakan yang didesain sesuai jenis ternak, tahap pertumbuhan, dan target produksi. Serta mendukung lingkungan dengan meminimalkan jejak karbon, dan akses ke database formulasi pakan ADM. Juga audit proses dan sistem untuk mengidentifikasi potensi peningkatan produksi dan mengidentifikasi serta mengatasi bottleneck.

“SINCRO itu untuk semua spesies baik poultry, aqua, ruminansia, dan swine juga. Kami mempunyai strategi namanya 3S yaitu segmen, solution, dan service,” kata Wully. “Segmennya ternak apa, dan solusi apa yang bisa kami tawarkan? Kemudian service apa yang kami akan berikan? Karena produk saja tidak cukup. Produk bisa ditiru, namun service adalah hal yang berbeda.” (NDV)

RAYAKAN 18 TAHUN JAPFA FOR KIDS, JAPFA BUKA KOMPETISI AKJJ 2026

Media gathering sekaligus pembukaan Apresiasi Karya Jurnalistik JAPFA (AKJJ) 2026, Selasa (12/5). (Foto: NDV)

Merayakan 18 tahun perjalanan program Corporate Social Responsibility (CSR) JAPFA for Kids, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) menyeleranggakan media gathering sekaligus pembukaan Apresiasi Karya Jurnalistik JAPFA (AKJJ) 2026. 

Rachmat Indrajaya selaku Direktur Corporate Affairs JAPFA mengatakan selama 18 tahun, JAPFA for Kids hadir sebagai bentuk komitmen berkelanjutan perusahaan dalam mendukung peningkatan kualitas gizi dan kesehatan anak Indonesia.

”Kami percaya, membangun masa depan Indonesia dimulai dari memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang baik dan tumbuh dalam lingkungan yang mendukung pola hidup sehat,” tutur Rachmat saat pembukaan AKJJ yang digelar di Senayan, Jakarta Selatan, Selasa (12/5). 

Melalui penyelenggaraan AKJJ yang ketiga kalinya, JAPFA ingin lebih memperkuat kolaborasi bersama media dalam meningkatkan kesadaran publik terhadap pentingnya mempersiapkan generasi penerus bangsa.  

AKJJ 2026 mengangkat tema “18 Tahun JAPFA for Kids: Kolaborasi untuk Generasi Penerus Bangsa – Dari Data, Fakta, hingga Cerita Lapangan”.

Sebagai bagian dari penyelenggaraan AKJJ 2026, JAPFA juga turut menghadirkan dewan juri dari berbagai latar belakang profesional.

Pada kesempatan yang sama Retno Artsanti, Head of Social Investment JAPFA mengemukakan tantangan terkait gizi anak di Indonesia masih menjadi perhatian bersama. 

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, sebanyak 11% anak usia 5–12 tahun masih berada pada kategori gizi kurang dan gizi buruk berdasarkan indikator Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U). Sementara itu, data yang dihimpun JAPFA di sembilan lokasi pelaksanaan JAPFA for Kids pada tahun 2025, sebanyak 1.034 dari total 15.498 siswa (sekitar 6,6%) tercatat memiliki status gizi kurang dan gizi buruk. 

“Tahun 2024, JAPFA for Kids menjangkau 7 kabupaten/kota. Dari 15.518 siswa, sebanyak 1.479 diantaranya teridentifikasi memiliki status gizi kurang dan menjadi fokus utama program,” ungkap Artsanti. 

Lebih lanjut Artsanti mengatakan, setelah program berjalan, JAPFA for Kids berhasil meningkatkan status gizi 762 anak atau 51,5% dari total anak. 

Pada 2025, JAPFA for Kids dilaksanakan di 9 kabupaten/kota, menjadikan 123 sekolah sebagai sasaran program. Selanjutnya dari hasil pendataan, sebanyak 1.034 siswa teridentifikasi mengalami malnutrisi dan menjadi sasaran utama intervensi program. Setelah program berjalan, sebanyak 646 siswa berhasil mengalami peningkatan status gizi menjadi gizi baik atau sebesar 62,5%.  

Pakar gizi masyarakat dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Prof Dr drg Sandra Fikawati MPH di acara yang sama menuturkan edukasi publik mengenai pemenuhan gizi seimbang masih perlu terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor, termasuk media. (NDV)

MUNAS III AMI TETAPKAN SAULAND SINAGA LANJUT PIMPIN AMI PERIODE 2026-2031

Foto bersama sebagian peserta Munas AMI. (Foto-foto: Dok. Gallus)

Musyawarah Nasional (Munas) III Asosiasi Monogastrik Indonesia (AMI) secara aklamasi menetapkan Dr Ir Sauland Sinaga MS untuk kembali memimpin AMI periode 2026-2031. Munas berlangsung di NICE (Nusantara International Convention Exhibition), kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) 2 Jakarta, Sabtu (9/5/2026).

Pelaksanaan Munas dilakukan usai Seminar Nasional Peternakan Babi yang digelar di lokasi yang sama. Acara berlangsung hangat dan penuh suasana kekeluargaan dengan dihadiri berbagai tokoh peternakan nasional serta anggota AMI dari berbagai daerah di Indonesia.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut pendiri AMI sekaligus Ketua Umum AMI periode 2002-2016 Dr Ir Rachmawati Siswadi MAgrSc, serta Bambang Suharno yang juga ikut mendirikan organisasi tersebut. Hadir pula Ketua Umum ASOHI periode 2010-2015 Drh Rakhmat Nuriyanto MBA, bersama anggota, dan pelaku usaha peternakan babi dari Bali, Jawa, Sulawesi Utara, NTT, Sumatra Utara, dan berbagai daerah lainnya.

Sauland Sinaga (tengah) bersama pendiri AMI Rachmawati Siswadi (kiri), dan Bambang Suharno usai penetapan Sauland melanjutkan kepemimpinan AMI 2026-2031.

Dalam Munas tersebut, Sauland menyampaikan laporan pertanggung jawaban dan paparan berbagai kegiatan serta capaian AMI selama masa kepemimpinannya. Salah satu perhatian utama AMI adalah perjuangan dalam penanganan African Swine Fever (ASF) yang sempat berdampak besar terhadap industri peternakan babi nasional.

Selain itu, AMI juga aktif meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui berbagai seminar dan pelatihan bekerja sama dengan sejumlah lembaga dan perusahaan, antara lain USSEC, perusahaan obat hewan, Infovet, ASOHI, Pusvetma, dan berbagai pihak lainnya.

Sauland juga menyampaikan bahwa di bawah kepemimpinan AMI saat ini, organisasi berhasil mendorong pemerintah menghentikan impor daging babi karena produksi dalam negeri dinilai sudah mencukupi kebutuhan nasional. Menurutnya, kehadiran dan peran AMI kini semakin diperhitungkan, termasuk dalam berbagai forum diskusi dan penyusunan regulasi pemerintah terkait peternakan babi.

“AMI semakin sering dilibatkan dalam berbagai forum strategis pemerintah terkait peternakan babi dan kebijakan peternakan nasional,” ujar Sauland.

Dalam kesempatan itu, Sauland juga menyampaikan bahwa dirinya memperoleh penghargaan Fighting ASF in Asia, Honor Roll dari Asian Agribiz. Menurutnya, penghargaan tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh pengurus dan anggota AMI. “Penghargaan ini bukan untuk saya pribadi, melainkan untuk AMI,” ungkapnya.

Suasana Seminar Nasional dan Munas AMI di NICE PIK 2.

Sementara itu, Dr Ir Rachmawati Siswadi MAgrSc, ikut menyampaikan apresiasinya terhadap kepemimpinan Sauland yang dinilai berhasil membawa organisasi terus berkembang dan semakin berkontribusi bagi dunia peternakan nasional.

Dalam kesempatan tersebut Rachmawati menyampaikan kronologis berdirinya AMI dan perkembangannya hingga sekarang. AMI berdiri pada 8 Mei 2002, di Kantor Infovet diprakarsai oleh Dr Rachmawati didukung oleh pengurus ASOHi saat itu antara lain Ketua Umum ASOHI A. Karim Mahanan, Sekjen ASOHI Drh Tjiptardjo SE, dan Bambang Suharno.

Menanggapi laporan Sauland, Rachmawati optimistis AMI akan terus maju dan semakin berperan dalam mendukung perkembangan industri peternakan babi Indonesia di masa mendatang. (BS)

INOVASI GENETIK HINGGA RANTAI PASOK PETERNAKAN DIKUPAS DALAM SEMINAR NASIONAL AMI

Para pembicara seminar. Dari kiri: Henrik Nielsen, Manmohan Singh, dan Prama Rangga Respati, yang dipandu oleh Agung Puji Haryanto. (Foto-foto: Dok. Infovet)

Asosiasi Monogastrik Indonesia (AMI) menyelenggarakan Seminar Nasional dan Musyawarah Nasional (Munas) pada Sabtu (9/5/2026) di NICE PIK 2. Mengangkat tema “Inovasi Genetik, Digitalisasi, dan Ketahanan Rantai Pasok Peternakan Babi untuk Daya Saing Global,” acara ini digelar melalui kolaborasi antara AMI, Agrimat, dan Majalah Infovet.

Dalam sambutannya, Ketua AMI, Sauland Sinaga, menyoroti tantangan besar yang masih dihadapi industri peternakan babi domestik, khususnya di sektor pemuliaan (breeding). Menurutnya, penguatan genetika lokal menjadi fondasi penting untuk meningkatkan performa produksi.

Selain faktor genetik, Sauland menekankan pentingnya digitalisasi peternakan untuk mempermudah pemetaan dan pemantauan permintaan pasar (demand) secara akurat. Ia juga menggarisbawahi urgensi penguatan rantai pasok dan rantai dingin.

“Di Jakarta, kebutuhan daging babi untuk sektor hotel, restoran, sebagian besar masih dipasok impor. Oleh karena itu, sistem rantai dingin ini sangat diperlukan untuk menjaga kualitas produk lokal,” ujar Sauland, seraya menambahkan bahwa ketersediaan bahan baku pakan yang juga masih bergantung impor turut menjadi fokus utama yang harus segera dibenahi.

Secara ringkas, AMI memetakan empat isu krusial tersebut untuk memajukan industri babi nasional, yakni breeding untuk meningkatkan kualitas genetik ternak; digitalisasi peternakan sebagai alat pengambilan keputusan berbasis data yang akurat; sistem rantai dingin yang menjamin distribusi dan kualitas produk; serta pemberian nutrisi yang baik untuk efisiensi pakan dan kesehatan ternak.

Sambutan oleh Ketua AMI Sauland Sinaga, dan menampilkan salah satu narasumber yang hadir melalui daring Basilisa Reas.

Memasuki sesi seminar yang dipandu oleh Technical Consultant USSEC, Agung Puji Haryanto, menghadirkan pakar internasional di antaranya Henrik Nielsen, ahli genetika babi dari Denmark, yang memaparkan strategi peningkatan genetik untuk mencapai efisiensi produksi maksimal.

Kemudian dari sisi teknologi digital, Prama Rangga Respati dari Ausvet menjelaskan bagaimana smart farming membantu pemerintah dan peternak dalam melakukan surveilans kesehatan hewan secara real-time. Digitalisasi memungkinkan juga peternak mengelola risiko terkait iklim dan meningkatkan akurasi performa ternak.

Sementara itu, Manmohan Singh dari OctoFrost memaparkan peran teknologi canggih dalam pengolahan daging babi melalui sistem rantai dingin untuk memberikan nilai tambah pada produk industri.

Disusul pemaparan dari Technical Director for Animal Protein USSEC East-Asia, Basilisa Reas, yang memberikan perspektif menarik mengenai kaitan antara nutrisi dan biosekuriti. Ia menegaskan bahwa untuk mencapai performa yang baik, peternak harus menyeimbangkan tiga pilar, yakni genetik, nutrisi, dan biosekuriti.

Ia menjelaskan bahwa nutrisi yang tepat adalah langkah awal biosekuriti. Diet seimbang memperkuat imun, menjaga integritas usus sebagai penghalang infeksi alami, dan mengurangi tekanan penyakit dalam kelompok ternak. Dengan kecukupan nutrisi, terbukti mampu mengurangi ketergantungan peternak pada antibiotik yang sekaligus menjawab isu resistansi antimikroba global.

Suasana Seminar Nasional AMI di NICE PIK 2.

Rangkaian seminar tersebut juga menjadi momen spesial karena bertepatan dengan peringatan ulang tahun AMI yang ke-24, yang berdiri sejak 8 Mei 2002. Dalam kesempatan tersebut, Sauland Sinaga menyampaikan apresiasinya kepada para pendiri, di antaranya Dr Rachmawati Siswandi dan Bambang Suharno, atas dedikasinya membangun asosiasi hingga saat ini.

Usai seminar yang ditutup dengan diskusi panel, kegiatan pun masih berlanjut dengan agenda internal Munas AMI untuk menentukan arah organisasi ke depan. (RBS)

RUPS 2025: JAPFA PERKUAT FUNDAMENTAL, LABA DAN EKUITAS TUMBUH SIGNIFIKAN

PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) mencatatkan kinerja keuangan yang solid sepanjang tahun buku 2025, didorong oleh strategi efisiensi, inovasi operasional, dan penguatan di seluruh lini bisnis. Hal ini disampaikan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPS) yang diselenggarakan pada 29 April 2026.

Sepanjang 2025, JAPFA membukukan penjualan neto sebesar Rp 60,72 triliun, meningkat dari Rp 55,80 triliun pada tahun sebelumnya. Laba usaha turut naik menjadi Rp 6,18 triliun dari Rp 5,06 triliun, sementara laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp 4 triliun, tumbuh signifikan dari sekitar Rp 3,02 triliun pada 2024. Peningkatan kinerja ini juga tercermin pada laba per saham (EPS) yang naik dari Rp 260 menjadi Rp 344 per saham. Dari sisi neraca, total aset Perseroan meningkat menjadi Rp 40,06 triliun dan ekuitas naik menjadi Rp 20,02 triliun, mencerminkan fundamental keuangan yang semakin kuat.

Direktur JAPFA, Leo Handoko, menyatakan bahwa capaian ini merupakan hasil konsistensi Perseroan dalam menjalankan strategi operasional yang adaptif di tengah dinamika industri.

“Pencapaian ini mencerminkan fokus kami pada efisiensi, inovasi, dan peningkatan kualitas di seluruh segmen usaha. Kami berkomitmen menghadirkan produk dan layanan terbaik sekaligus mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan,” ujarnya.

Kinerja positif JAPFA didukung oleh kontribusi seluruh segmen usaha. Segmen pakan ternak memperkuat efisiensi melalui penerapan teknologi dan optimalisasi energi alternatif, serta strategi segmentasi produk untuk memperkuat daya saing. Segmen pembibitan unggas terus memperluas kapasitas melalui modernisasi fasilitas serta peningkatan penetrasi pasar domestik dan ekspor, sementara segmen peternakan komersial tetap menjadi kontributor utama dengan dukungan inovasi kandang closed house dan penguatan kemitraan peternak.

Di sisi hilir, segmen pengolahan hasil peternakan dan produk konsumen terus mendorong inovasi dan peningkatan kapasitas produksi. Sedangkan segmen budidaya perairan mencatat pertumbuhan melalui ekspansi pasar ekspor dan penguatan dukungan teknis kepada pelanggan.

“Keberhasilan JAPFA pada 2025 merupakan hasil kolaborasi seluruh tim dan mitra bisnis kami. Ke depan, kami akan terus mendorong inovasi, memperluas pasar, serta memperkuat komitmen terhadap keberlanjutan untuk menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan,” tutup Leo Handoko. (Rilis)

EKSPOR PRODUK SUSU TEMBUS VIETNAM, DAYA SAING PETERNAKAN NASIONAL KIAN MENGUAT

Seremoni pelepasan ekspor produk olahan susu ke Vietnam. (Foto: Istimewa)

Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan ekspor produk olahan susu ke Vietnam menjadi langkah strategis dalam memperkuat posisi peternak dan pelaku usaha sekaligus meningkatkan nilai tambah industri peternakan nasional.

Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, I Ketut Wirata, mengatakan keberhasilan ekspor tersebut menunjukkan peningkatan daya saing produk susu Indonesia.

“Momentum hari ini menjadi bukti nyata bahwa produk susu Indonesia semakin kompetitif di pasar global. Hal ini tercermin dari kinerja ekspor yang terus menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir,” ujarnya pada Pelepasan Ekspor Produk Olahan Susu PT Cisarua Mountain Dairy di Bogor, Selasa (5/5/2026).

Berdasarkan data penerbitan sertifikat veteriner, dalam kurun waktu 2023-2026, total ekspor produk nasional telah melampaui 11,9 juta kilogram dengan nilai mencapai USD 15,3 juta. Dalam tiga tahun terakhir, peningkatan ekspor juga terjadi ke berbagai negara seperti Hong Kong, Filipina, dan Thailand, dengan Filipina menjadi pasar terbesar.

Capaian tersebut menunjukkan pertumbuhan yang konsisten sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai eksportir produk olahan susu yang semakin diperhitungkan di kawasan Asia. “Hal ini mencerminkan komitmen kuat dalam memperluas akses pasar internasional,” sebutnya.

Menurut dia, keberhasilan ekspor tidak hanya ditentukan oleh kapasitas produksi, tetapi juga pemenuhan standar internasional, terutama dalam aspek keamanan pangan dan kesehatan hewan. Pemerintah memastikan sistem jaminan mutu berjalan melalui pengawasan veteriner, sertifikasi, serta harmonisasi standar dengan negara tujuan ekspor.

Sementara itu, Dairy Manufacturing Director PT Cisarua Mountain Dairy, Bayu Triprasetyo, mengungkapkan dukungan dari pemerintah menjadi faktor penting dalam menjaga konsistensi mutu sekaligus memperlancar proses ekspor, termasuk ke pasar Vietnam yang kian menjanjikan.

“Kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas dukungan Kementerian Pertanian melalui pengawasan kesmavet, serta Kementerian Perdagangan yang telah mendorong kelancaran proses ekspor ke Vietnam. Sinergi ini semakin memperkuat komitmen kami untuk terus menghadirkan produk berkualitas serta berkontribusi lebih besar dalam peningkatan kinerja ekspor nasional,” ujar Bayu.

Dengan berbagai upaya yang terus dilakukan, pemerintah memastikan kegiatan ekspor tidak sekadar mendorong kinerja perdagangan nasional, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata bagi peternak dan pelaku usaha. (INF)

AUDIENSI ASOHI DENGAN MENTERI PPN

Foto bersama usai audiensi ASOHI bersama Menteri PPN/Kepala Bappenas. (Foto-foto: Dok. Infovet)

Jakarta, Selasa (5/5/2026). Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) melakukan audiensi strategis dengan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Prof Rachmat Pambudy. Pertemuan ini bertujuan untuk memperkuat koordinasi antara pelaku industri obat hewan dengan pemerintah dalam mendukung ketahanan pangan dan kesehatan hewan nasional.

Dalam pertemuan tersebut, delegasi ASOHI dipimpin langsung oleh jajaran pengurus inti, di antaranya Ketua Umum Akhmad Harris Priyadi, Sekretaris Jenderal Rivo Ayudi Kurnia, Ketua Dewan Pakar Prof Budi Tangendjaja, Ketua Badan Pengawas ASOHI (BPA) Gowinda Sibit, bersama anggota Rakhmat Nuriyanto, serta Sekretaris BPA Bambang Suharno sekaligus Pemimpin Redaksi Majalah Infovet.

Kepada Menteri PPN, ASOHI turut melaporkan gambaran usaha bisnis obat hewan hingga nilai ekspor yang mencapai triliunan rupiah dalam setahun. Harris juga memperkenalkan struktur kepengurusan baru hasil Munas, serta memaparkan kontribusi nyata asosiasi terhadap sektor peternakan dan kesehatan hewan di Indonesia. Fokus utama yang disampaikan meliputi peningkatan volume ekspor dan upaya asosiasi dalam menjaga standar kualitas obat hewan di pasar domestik maupun internasional.

Diskusi juga berkembang pada isu-isu krusial seperti implementasi One Health. ASOHI juga menegaskan komitmennya terhadap penanganan antimicrobial resistance (AMR) atau resistansi antimikroba yang terus menjadi perhatian utama dalam industri kesehatan hewan global.

Selain itu, ASOHI juga meminta arahan dari menteri mengenai langkah strategis agar industri obat hewan dapat lebih berperan aktif dalam pembangunan nasional di masa mendatang.

Suasana audiensi.

Adapun Menteri Prof Rachmat Pambudy didampingi oleh Direktur Pangan dan Pertanian Bappenas Jarot Indarto, Perencana Ahli Utama Anang Nugroho, Tim Ahli Suaedi Sunanto, serta jajaran pejabat lainnya.

Prof Rachmat pun menekankan beberapa poin penting bagi ASOHI, di antaranya terkait peningkatan daya saing. Menekankan pentingnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di industri peternakan Indonesia. Kemudian mendorong peningkatan performa ekspor obat hewan. Hingga kontribusi pembangunan dengan mengharapkan peran aktif asosiasi dalam mendukung kebijakan pangan nasional.

Pertemuan ini juga menjadi ajang mempererat silaturahmi yang telah lama terjalin. Hubungan antara Prof Rachmat Pambudy dengan media industri peternakan, khususnya Infovet, sudah terbangun sejak lama melalui berbagai kolaborasi, antara lain penerbitan buku “70 Tahun Agribisnis Ayam Ras di Indonesia”, buku “40 Tahun ISPI (Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia)”, serta keterlibatan beliau sebagai narasumber ahli bagi Infovet.

Pemred Infovet Bambang (paling kiri) saat memberikan Majalah Infovet dan Info Akuakultur kepada Menteri PPN Prof Rachmat Pambudy (tiga kanan).

Melalui audiensi ini, diharapkan tercipta keselarasan kebijakan antara pemerintah dan pelaku usaha demi kemajuan industri peternakan dan kesehatan hewan di Indonesia. (INF)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer