-->

RUPS GALLUS DIHADIRI KETUA ASOHI & TETAPKAN KOMISARIS BARU

Foto bersama dalam acara RUPS Gallus. (Foto: Dok. Infovet)

Bertempat di Kantor Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI), Kamis (4/6), PT Gallus Indonesia Utama (Gallus) yang merupakan Badan Usaha Milik ASOHI menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). RUPS dihadiri Direktur Utama Gallus Ir Bambang Suharno, bersama Direktur Keuangan-HRD Gallus Drh Rakhmat Nuriyanto, Ketua Umum ASOHI Drh Akhmad Harris Priyadi, Komisaris Gallus Gani Harijanto, dan segenap pemegang saham atau perwakilannya.

RUPS kali ini membahas beberapa poin krusial mengenai performa dan arah kebijakan perusahaan. Diawali dengan pembukaan oleh Direktur Utama Gallus dan dilanjutkan dengan Pemaparan Laporan Keuangan Hasil Audit Tahun Buku 2025 oleh Direktur Keuangan-HRD Gallus. 

Dalam pertemuan itu, Bambang menyampaikan presentasi tentang peran Gallus dalam mendukung berbagai kegiatan ASOHI melalui kegiatan penulisan artikel di bulletin Info ASOHI, Majalah Infovet, penerbitan buku, event organizer, serta perkembangan Gallus yang dipercaya oleh berbagai lembaga swasta dan pemerintah baik nasional dan internasional.

Setelah Laporan Kegiatan Tahun 2025 serta Rencana Kerja untuk Tahun 2026 dipresentasikan, acara dilanjutkan dengan pandangan dari Dewan Komisaris dan pembahasan hal-hal lain, diakhiri dengan penutup.

Pertemuan diakhiri dengan diskusi mengenai ide-ide pengembangan Gallus ke depan seiring dengan dinamika yang terjadi dalam dunia bisnis peternakan dan perikanan. Ketua Umum ASOHI mendukung berbagai inovasi yang telah dan akan dilakukan Gallus.

Salah satu keputusan dalam RUPS itu juga adalah pengangkatan Drh Gowinda Sibit sebagai Komisaris Gallus yang baru menggantikan Gani Harijanto. Gani menyampaikan sudah cukup lama menjadi komisaris, sehingga perlu adanya penerus. Ia juga menegaskan, dengan adanya pergantian ini, pihaknya akan terus mendukung suksesnya Gallus sebagai Badan Usaha Milik ASOHI. (WK)

TMC RAYAKAN HARI JADI KE-27 DENGAN AKSI DONOR DARAH

Ultah TMC ke 27
Direktur Utama PT Tekad Mandiri Citra (TMC), drh Gowinda Sibit bersama Jajaran Manajemen merayakan ulang tahun PT Tekad Mandiri Citra yang ke-27 di Bandung, Jawa Barat

Menandai perjalanan panjang selama 27 tahun mendedikasikan diri di industri obat hewan Tanah Air, PT Tekad Mandiri Citra (TMC) memilih cara yang menyentuh hati untuk merayakan hari jadinya. Melalui program CSR (Corporate Social Responsibility) bertajuk “TMC Peduli – Setetes Darah Untuk Negeri”, TMC menggelar aksi donor darah serta pemeriksaan kesehatan dan mata secara gratis di Pabrik TMC, Bandung, Jumat (3/7).

TMC adalah produsen obat hewan terkemuka dalam negeri yang didukung oleh pengalaman selama 27 tahun di industri obat hewan Tanah Air. Berbekal inovasi yang matang serta portofolio solusi kesehatan hewan yang komprehensif dengan membawa semangat dalam tagline “Tumbuh Kembang dan Sehat Bersama TMC”, menjadi landasan komitmen dan tekad TMC untuk menjadi korporasi profesional dan terkemuka berskala internasional yang berorientasi pada pasar melalui penyediaan berbagai produk berkualitas.

Dengan penuh kehangatan dan suka cita, gerakan kemanusiaan ini disambut antusias oleh para karyawan dari berbagai Departemen di TMC, PT Anugerah Panji Mandiri (APM), PT Biomol Nusantara Mandiri (BIOMOL), serta PT Ganesa KALPATARU Satya (KALPATARU).

Kegiatan hasil kolaborasi dengan PMI (Palang Merah Indonesia) Kota Bandung ini berhasil terkumpul sebanyak 95 kantong darah segar untuk kebutuhan masyarakat di Indonesia. Dari total kantong darah segar yang terkumpul ini akan disalurkan oleh PMI Kota Bandung.

Selain itu, jangkauan CSR kali ini diperluas dengan menggandeng PT Biotek Farmasi Indonesia untuk penyediaan pemeriksaan kesehatan gratis, serta Optical Noor untuk fasilitas pemeriksaan mata cuma-cuma bagi para peserta.

HUT Tekad Mandiri Cita ke 27
Jajaran Manajemen PT Tekad Mandiri Citra (TMC) mengikuti aksi donor darah yang bertajuk “TMC Peduli – Setetes Darah Untuk Negeri” dalam rangka ulang tahun PT Tekad Mandiri Citra yang ke-27 di Bandung, Jawa Barat

Menurut drh Gowinda Sibit, Direktur Utama PT Tekad Mandiri Citra, kegiatan ini sebagai wujud kebanggaan dalam memaknai TMC yang terus bertumbuh dan berkiprah selama 27 tahun di industri obat hewan Tanah Air. “Kegiatan donor darah ini sebagai bentuk berbagi dan kepedulian sosial TMC kepada masyarakat. Juga sekaligus untuk membantu ketersediaan stok darah khususnya di Kota Bandung,” jelasnya.

Pria yang akrab disapa Pak Erwin ini melanjutkan, melalui aksi donor darah ini mengajarkan kesetaraan dan kebersamaan yang tidak ada tandingannya sekaligus beramal dan melatih keikhlasan. “Setelah donor, kita lepas, serahkan kepada yang berwenang dan tidak tahu siapa yang akan mempergunakan darahnya,” ungkapnya.

Pria yang juga aktif melakukan donor darah lebih dari 50 kali ini mengucapkan terima kasih dan apresiasi atas antusiasme para pendonor mengikuti kegiatan ini, “Kegiatan ini akan diagendakan secara berkesinambungan sebagai wujud nyata TMC dalam berkontribusi untuk kesehatan masyarakat.”<’/p>

Ia berharap, TMC akan terus meningkatkan kualitas dan potensi diri agar memiliki daya kompetitif dan komparatif yang baik. “Mari bekerja dan terus belajar dalam membangun TMC agar terus bertumbuh, berkembang, dan sehat,” ajak Pak Erwin.

PARTISIPASI INFOVET DI INDO LIVESTOCK 2026, GELAR SEMINAR PERUNGGASAN

Foto bersama Seminar Nasional yang digelar Infovet dalam rangkaian Indo Livestock 2026. (Foto: Infovet/Ridwan)

Industri peternakan unggas saat ini tengah menghadapi badai tantangan yang tidak main-main. Dari fenomena perubahan iklim global yang ekstrem, ancaman penyakit menular berbahaya, hingga fluktuasi kualitas bahan baku pakan lokal. Dampaknya sangat nyata bagi peternak, angka mortalitas melonjak, efisiensi pakan memburuk, pertumbuhan terhambat, dan ujung-ujungnya keuntungan merosot tajam.

Di tengah situasi pelik ini, Drh H. Baskoro Tri Caroko (BTC), seorang National Poultry Technical Consultant, membawa sebuah angin segar melalui pendekatan holistik dalam pemeliharaan unggas. Pendekatan ini menawarkan satu prinsip, “Keberhasilan peternak menekan mortalitas menempatkan mereka pada peluang profit terbaik. Ketika harga mahal, mendapat laba maksimal, pada waktu harga murah, kerugian minimal,” ujar BTC saat mengisi Seminar Nasional yang digelar Infovet dalam rangkaian Indo Livestock 2026 Expo & Forum, Kamis (18/6/2026).

Bagaimana konsep holistik ini mampu mengubah nasib peternakan dari jurang kerugian, BTC pun membedah formulanya. Pertama, fondasi utama (revolusi mindset dan upgrade operator kandang). Kegagalan sebuah peternakan sering kali secara instan ditimpakan kepada para pekerja lapangan. Namun, konsep holistik ini menegaskan bahwa kegagalan tidak selalu salah operator. Kuncinya ada pada revolusi mindset dan peningkatan kompetensi (upgrade) para penjaga kandang. Operator kandang harus menyadari bahwa tugas mereka bukan sekadar memberi pakan, melainkan memenuhi kesejahteraan unggas secara menyeluruh. Unggas harus dipastikan mendapat pakan berkualitas, air minum bersih, udara segar, serta perlindungan total (tidak keujanan, kepanasan, terhindar dari stres, dan aman dari predator).

Kedua, menjaga kualitas di lingkungan. Satu paradoks terbesar dalam peternakan konvensional adalah membiarkan unggas makan, minum, tidur, dan buang kotoran di tempat yang sama setiap hari. Jika kualitas lingkungan ini tidak dijaga, kandang akan berubah menjadi bom waktu penyakit bagi ternak. Pola holistik mewajibkan peternak secara aktif mengatasi dampak buruk dari siklus biologis ini. Tata kelola limbah dan manajemen kotoran ayam harus diatur sedemikian rupa agar mudah diamankan kapan saja, sehingga amonia tidak meracuni pernapasan unggas.

Ketiga, strategi upgrade total secara holistik. Untuk memanen ayam yang tumbuh cepat, sehat, dan produktif sesuai potensi genetiknya, peternak harus melakukan upgrade kapasitas kandang secara ketat berdasarkan bobot hidup, dengan standar ideal 12 kg live bird (LB) per meter persegi. Kemudian menerapkan program sanitasi, disinfeksi, dan drainase lingkungan kandang yang prima (biosecurity protection). Lakukan pemberian nutrisi dan perawatan intensif dengan menyediakan pakan berkualitas tinggi yang komposisinya seimbang sesuai kebutuhan setiap fase umur unggas. Hingga dukungan suplemen dan bijak antibiotik.

Pada kesempatan tersebut, BTC juga menceritakan kisah sukses para peternak broiler dan layer yang sudah ia bimbing. Dalam membantu melatih para peternak tersebut, ia mengaransemen dan menciptakan potensi team work di kandang.

“Sehingga sukses yang dicapai hakekatnya adalah keberhasilan yang dicapai peternak sendiri, peternak sebagai bintangnya, pemain utama pentas di panggung pertunjukan yang berhasil dan sukses karena bersedia melakukan upgrade manajemen, mau bersungguh-sungguh, dan kerja keras atas arahan yang diberikan, sehingga mortalitas turun, profit naik,” ungkapnya.

Menurutnya, pendekatan holistik membuktikan bahwa kesuksesan peternakan unggas tidak bisa dicapai dengan cara-cara instan atau parsial. Melalui payung konstelasi One Health (kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan yang saling terkait), peternakan dipandang sebagai sebuah ekosistem yang utuh.

“Ketika manusia berkomitmen untuk menjaga semesta, mulai dari menjaga kesehatan pekerja, merawat hewan ternak dengan penuh empati, hingga melestarikan lingkungan kandang, maka alam akan membalasnya dengan produktivitas yang melimpah. Komitmen mulia inilah yang tidak hanya akan menurunkan mortalitas dan menaikkan profit peternak, tetapi juga membawa berkah bagi ketahanan pangan bangsa,” tukasnya. (RBS)

TARGETKAN EKSPANSI BERTAHAP, WMU BERPELUANG JADI PRODUSEN TELUR CAGE-FREE TERBESAR DI ASIA TENGGARA

WMU menargetkan peningkatan kapasitas secara bertahap hingga 500.000 ekor pada 2027, yang berpotensi menjadikannya sebagai produsen telur cage-free terbesar di Asia Tenggara. (Foto: Istimewa)

Kesadaran masyarakat terhadap produk pangan yang sehat dan aman, serta memperhatikan kesejahteraan hewan terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Sejalan dengan tren tersebut, permintaan telur cage-free menunjukkan pertumbuhan konsisten. Kondisi ini mendorong sejumlah produsen telur mempertimbangkan transformasi maupun ekspansi kapasitas produksi cage-free. Salah satunya PT Widodo Makmur Unggas Tbk (WMU), yang melalui rencana pengembangannya berpotensi menjadi produsen telur cage-free terbesar di Asia Tenggara.

Direktur Marketing WMU, Tri Mahawijaya Herlambang, mengatakan bahwa pasar telur cage-free di Indonesia terus berkembang. Menurutnya, pertumbuhan tersebut tidak hanya didorong perusahaan makanan multinasional, tetapi juga semakin banyak pelaku usaha dan perusahaan lokal yang mulai beralih menggunakan telur bebas sangkar.

“Untuk memenuhi kebutuhan pasar yang terus berkembang, WMU tengah memperluas kapasitas peternakan telur cage-free secara bertahap, dari populasi saat ini sekitar 200.000 ekor ayam petelur menjadi 500.000 ekor yang ditargetkan selesai pada 2027. Kami optimistis permintaan telur cage-free akan terus meningkat. Karena itu, kami siapkan kapasitas produksi sejak sekarang agar siap mengantisipasi lonjakan permintaan yang dapat terjadi sewaktu-waktu,” ujar Mahawijaya di Jakarta, Jumat (19/6/2026).

Saat ini, telur cage-free produksi WMU dipasarkan melalui skema business-to-business (B2B) kepada berbagai segmen pelanggan, mulai dari perusahaan katering, jaringan hotel, restoran, hingga gerai makanan cepat saji. Selain itu, WMU juga tengah menyiapkan peluncuran merek telur cage-free sendiri yang akan menyasar pasar ritel.

“Pengembangan ini bukan untuk menggantikan pasar yang sudah ada, melainkan membuka segmen baru dengan nilai tambah yang lebih tinggi sekaligus menjawab kebutuhan konsumen yang semakin peduli terhadap keberlanjutan, keamanan pangan, dan kesejahteraan hewan. Di sisi lain, sebagai perusahaan terbuka, WMU juga memiliki komitmen terhadap aspek sustainability. Penerapan animal welfare melalui sistem peternakan cage-free menjadi salah satu bentuk nyata implementasi komitmen tersebut,” tambahnya.

Menanggapi rencana ekspansi tersebut, Sustainable Poultry Program Manager Lever Foundation, Sandi Dwiyanto, menyampaikan apresiasinya atas langkah WMU dalam memperluas kapasitas produksi cage-free di Indonesia. Menurutnya, meningkatnya komitmen konsumen maupun pelaku usaha terhadap keberlanjutan dan kualitas pangan membuka peluang yang semakin besar bagi pertumbuhan pasar telur bebas sangkar.

“Dalam beberapa tahun terakhir, permintaan telur cage-free terus meningkat, terutama dari sektor ritel, hotel, restoran, perusahaan FMCG, serta layanan makanan. Saat ini, lebih dari 2.000 perusahaan makanan global telah memiliki komitmen penggunaan 100 persen telur cage-free, termasuk berbagai merek internasional yang beroperasi di Indonesia seperti KFC, Burger King, Hyatt, Marriott, dan Swiss-Belhotel International. Pada saat yang sama, juga semakin banyak perusahaan domestik yang mulai menerapkan atau sedang bertransisi menuju kebijakan pengadaan telur cage-free, seperti Super Indo, Ismaya Group, Bali Buda, Jiwa Jawi, dan masih banyak lagi,” kata Sandi.

Pertumbuhan produk cage-free juga tercermin dari hasil survei GMO Research, perusahaan riset pasar dan penyedia panel konsumen asal Jepang. Survei tersebut menunjukkan bahwa 55% konsumen Indonesia lebih memilih membeli produk dari merek yang hanya menggunakan telur cage-free. Selain itu, 72% responden juga setuju bahwa telur yang digunakan oleh perusahaan makanan seharusnya berasal dari peternakan yang menerapkan standar kesejahteraan hewan.

Di sisi lain, studi lintas negara yang dilakukan European Food Safety Authority (EFSA) menunjukkan bahwa peternakan telur cage-free memiliki risiko hingga 25 kali lebih rendah mengalami kontaminasi strain tertentu bakteri Salmonella dibandingkan peternakan dengan sistem kandang konvensional.

“Selain didorong permintaan pasar dan aspek kualitas produk, ekspansi WMU juga sejalan dengan diterbitkannya Permentan Nomor 32 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Hewan. Kami berharap langkah WMU dapat menginspirasi lebih banyak produsen telur di Indonesia untuk mulai mempersiapkan diri menghadapi perubahan kebutuhan pasar yang terus berkembang. Kami juga akan terus mendukung penguatan ekosistem cage-free di Indonesia agar pertumbuhan permintaan pasar dan ketersediaan pasokan dapat berjalan beriringan,” tukasnya. (INF)

YAPPI DAN NAPINDO BERIKAN INDO LIVESTOCK INNOVATION AWARD 2026 BAGI INOVATOR PANGAN NASIONAL

Foto bersama penerima penghargaan didampingi oleh YAPPI, Dirjen PKH, dan Napindo. (Foto: Infovet/Ridwan)

Sebagai bentuk komitmen dalam mendorong pengembangan pangan Indonesia yang inovatif, berkelanjutan, dan berbasis sumber daya lokal, Yayasan Pengembangan Pangan Indonesia (YAPPI) bekerja sama dengan PT Napindo Media Ashatama menyelenggarakan Indo Livestock Innovation Award 2026 pada ajang Indo Livestock 2026 Expo & Forum di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2, Tangerang, 16-18 Juni 2026.

Penghargaan ini diberikan kepada individu dan lembaga yang telah menghasilkan inovasi unggul di bidang pangan, peternakan, pertanian, pengolahan pangan, serta kontribusi sosial yang berdampak bagi masyarakat.

Pada 2026, penghargaan diberikan dalam empat kategori, yaitu Inovasi Pangan Berbasis Peternakan; Inovasi Pangan Berbasis Pertanian; Inovasi Pangan Berbasis Pengolahan; dan Penghargaan Khusus Bidang Pangan untuk Kepedulian Sosial.

Tahun ini, Indo Livestock Innovation Award diikuti oleh 40 inovasi dari lembaga riset, 21 perguruan tinggi, dan 11 organisasi filantropi yang berasal dari Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Para peserta melibatkan sumber daya manusia unggul yang terdiri atas 12 guru besar, 17 doktor, sembilan magister, dan dua sarjana.

Ketua Umum YAPPI sekaligus Ketua Dewan Juri Indo Livestock Innovation Award 2026, Drh Desianto Budi Utomo MSc PhD, menjelaskan bahwa proses penilaian dilakukan secara objektif, independen, dan komprehensif dengan mengacu pada enam kriteria utama, yaitu tingkat inovasi, pemanfaatan bahan pangan lokal, dampak ekonomi dan sosial, keberlanjutan dan ramah lingkungan, kualitas produk dan keamanan pangan, serta potensi pengembangan dan replikasi.

“Penghargaan ini tidak hanya memberikan apresiasi kepada para inovator, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkenalkan berbagai solusi nyata yang dapat mendukung ketahanan pangan nasional, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan memperkuat kemandirian bangsa,” ujar Desianto.

Proses penjurian dilakukan oleh Dewan Juri yang terdiri dari Desianto Budi Utomo, Drh Dedy Kusmanagandi DVM MBA, Ir Bambang Suharno, Ir Setya Winarno, serta Winarno SP MSi. Penilaian juga diperkuat oleh Dewan Juri Ahli dari berbagai bidang keilmuan, yaitu Prof Dr Ir Muladno MSA (peternakan), Prof Dr Drh Muh. Rizal M. Damanik MRepSc (gizi dan pangan), Prof Dr Ir Purwiyatno Hariyadi MSc (pengolahan pangan), dan Prof Dr Edi Santosa SP MSi (pertanian).

Penerima Indo Livestock Innovation Award 2026
• Kategori Inovasi Pangan Berbasis Peternakan “AMERTA ADHIKARYA PANGAN PASUPALANA”
Penghargaan diberikan kepada Prof Dr Ir Luki Abdullah MSc Agr dari Fakultas Peternakan IPB University atas inovasi “Green Concentrate Indigofera (GCI): Sumber Protein Lokal untuk Kemandirian dan Ketahanan Pakan Nasional.”

Inovasi ini menghadirkan pakan fungsional berbasis sumber daya lokal yang mampu meningkatkan produktivitas ternak, memperkuat sistem imun, serta menghasilkan produk peternakan yang lebih sehat. Dengan dukungan teknologi produksi modern dan penerapan yang telah diakui industri, Green Concentrate Indigofera menjadi salah satu solusi strategis dalam mewujudkan kemandirian pakan nasional.

• Kategori Inovasi Pangan Berbasis Pertanian “AMERTA SIDHAKARYA PANGAN PARISKARA”
Penghargaan diberikan kepada Prof Dr Eni Sumarni STP MSi dari Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman atas inovasi “Aplikasi Root Zone Cooling pada Sistem Aeroponik untuk Produksi Benih Kentang dan Bawang Putih di Dataran RendahTropis.”

Teknologi ini membuka peluang baru bagi produksi benih hortikultura di wilayah tropis dataran rendah. Selain meningkatkan produktivitas secara signifikan, inovasi tersebut mampu menghasilkan benih yang lebih sehat, meningkatkan efisiensi penggunaan air dan nutrisi, serta mendukung praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan.

• Kategori Inovasi Pangan Berbasis Pengolahan “ANUGERAH SIDHAKARYA PANGAN NUSANTARA”
Penghargaan diberikan kepada Dr Santi Dwi Astuti STP MSi dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Jenderal Soedirman atas inovasi “Mie Bebas Gluten Berbasis Tepung Singkong Termodifikasi dengan Teknologi Tepat Guna Non Ekstrusi.”

Inovasi berbasis Modified Cassava Flour (MOCAF) ini menghadirkan alternatif pangan sehat dengan tekstur menyerupai mie berbahan terigu, namun memiliki kandungan serat lebih tinggi dan indeks glikemik lebih rendah. Teknologi yang sederhana dan ekonomis menjadikan inovasi ini berpotensi memperkuat UMKM sekaligus mendukung kemandirian pangan nasional.

• Penghargaan Khusus Bidang Pangan untuk Kepedulian Sosial “ANUGRAHA ANNADANA NISHKAMA”
Penghargaan khusus diberikan kepada Aditya Prayoga, Founder Rumah Makan Gratis (RMG).

Sejak 2016, Aditya Prayoga menginisiasi pendirian RMG di berbagai wilayah Jabodetabek yang setiap hari menyediakan lebih dari 1.000 porsi makanan bagi fakir miskin, pemulung, dan masyarakat kurang mampu tanpa membedakan latar belakang. Selain itu, ia juga mengembangkan berbagai program sosial seperti TPA gratis, sekolah gratis, serta pelatihan UMKM.

Dedikasi dan semangat berbagi tanpa pamrih yang ditunjukkan Aditya Prayoga dinilai telah memberikan kontribusi nyata dalam memperkuat solidaritas sosial serta mendukung terwujudnya ketahanan pangan yang inklusif dan berkeadilan.

Dari kiri: Desianto Budi Utomo, Agung Suganda, bersama empat orang penerima penghargaan Indo Livestock Innovation Award 2026. (Foto: Infovet/Ridwan)

Pemberian Penghargaan
Penghargaan diserahkan dalam acara Opening Ceremony Indo Livestock 2026 Expo & Forum 2026 pada Rabu (17/6/2026), oleh Menteri Pertanian yang diwakili oleh Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), Dr Drh Agung Suganda, didampingi Ketua Umum YAPPI, Desianto Budi Utomo.

Prosesi penyerahan penghargaan dilanjutkan dengan sesi foto bersama Dirjen PKH, para penerima penghargaan, serta Dewan Juri Indo Livestock Innovation Award 2026.

Acara pembukaan dihadiri sekitar 300 peserta yang terdiri atas pejabat kementerian dan lembaga pemerintah, anggota DPR RI, perwakilan negara sahabat, pimpinan asosiasi peternakan dan kesehatan hewan, kalangan akademisi, pelaku usaha, exhibitor, serta berbagai pemangku kepentingan sektor agribisnis nasional.

Dialog Inspiratif
Usai pembukaan pameran, YAPPI menyelenggarakan sesi dialog bersama para penerima penghargaan di panggung utama Indo Livestock 2026 Expo & Forum, yang dipandu oleh pengurus YAPPI, Ir Setya Winarno.

Kegiatan turut dihadiri oleh Ketua LPPM Universitas Jenderal Soedirman, Prof Elly Tugianti, tenaga pengajar dari beberapa kampus, pelaku usaha peternakan dan pertanian, mahasiswa, peneliti, serta pengunjung pameran.

Ketiga penerima penghargaan kategori inovasi memaparkan perjalanan riset, tantangan pengembangan teknologi, hingga proses hilirisasi yang memungkinkan inovasi mereka diterapkan secara luas oleh masyarakat dan industri.

Sementara itu, Aditya Prayoga berbagi kisah inspiratif mengenai perjalanan mendirikan Rumah Makan Gratis dari latar belakang keluarga sederhana. Saat ini, Rumah Makan Gratis telah berkembang menjadi enam lokasi yang masing-masing menyediakan sekitar 300 paket makanan gratis setiap hari, atau total sekitar 1.800 paket per hari.

“Dengan izin Allah, selalu ada orang-orang baik yang membantu sehingga program makan gratis ini dapat terus berjalan dan memberi manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan,” ujar Aditya.

Ke depan, ia bercita-cita mengembangkan program pendidikan gratis hingga jenjang perguruan tinggi. Langkah awal telah diwujudkan melalui penyelenggaraan TPA gratis bagi masyarakat.

Foto bersama usai dialog inspiratif bersama para peraih penghargaan. (Foto: Istimewa)

Melalui penyelenggaraan Indo Livestock Innovation Award 2026, YAPPI dan PT Napindo Media Ashatama berharap semakin banyak inovasi dan gerakan sosial yang lahir untuk memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta mendorong pembangunan pertanian dan peternakan Indonesia yang berkelanjutan. (INF)

PERKUAT KOLABORASI DAN DAYA SAING INDUSTRI PETERNAKAN DI INDO LIVESTOCK 2026

Momen pembukaan Indo Livestock 2026 Expo & Forum. (Foto: Infovet/Ridwan)

Indo Livestock 2026 Expo & Forum, secara resmi dibuka dalam Opening Ceremony pada Rabu (17/6/2026) di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2, Tangerang. Pameran dan forum internasional ini diselenggarakan untuk terus memperkuat kolaborasi dan mendorong inovasi demi meningkatkan daya saing sektor peternakan dan kesehatan hewan di Tanah Air.

Diselenggarakan oleh PT Napindo Media Ashatama (Napindo) dan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian sebagai tuan rumah, pembukaan resmi dilakukan oleh Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Dr Drh Agung Suganda MSi.

Pameran yang bersinergi dengan Indo Feed, Indo Dairy, Indo Agrotech, Indo Vet, dan Indo Fisheries 2026 Expo & Forum ini menghadirkan 600 peserta dari 30 negara dengan tujuh paviliun negara, yakni China, Eropa, Indonesia, Malaysia, Korea Selatan, Taiwan, dan Vietnam. Sebagai wadah strategis diplomasi ekonomi dan pengembangan industri, pameran ini mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, akademisi, asosiasi, investor, serta profesional dari berbagai negara untuk memperluas peluang kerja sama, transfer teknologi, dan mendorong investasi yang mendukung transformasi industri peternakan, pakan ternak, pengolahan susu, pertanian, kesehatan hewan, alat-alat kedokteran hewan, perikanan, dan akuakultur di Indonesia.

Dalam sambutannya, Agung Suganda menegaskan bahwa sektor peternakan memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan, pembangunan ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat pedesaan. Seiring meningkatnya kebutuhan protein hewani untuk mewujudkan visi Generasi Emas 2045, diperlukan sinergi yang kuat antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan investor guna meningkatkan produksi, memperkuat investasi, serta memperluas akses pasar bagi produk peternakan Indonesia.

“Indo Livestock merupakan salah satu pameran peternakan berskala internasional di Indonesia. Namun lebih dari pada itu, Indo Livestock adalah instrumen diplomasi ekonomi peternakan Indonesia di hadapan dunia, menjadi tempat bertemunya stakeholder peternakan dari luar negeri dan dalam negeri, menjadi tempat dalam melakukan transaksi bisnis, sekaligus menjadi ruang konsolidasi nasional stakeholder peternakan sehingga diharapkan dapat menjadi booster percepatan modernisasi dunia usaha peternakan dan kesehatan hewan yang pada akhirnya akan berdampak pada peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB)," ujarnya.

Menyambut positif visi pemerintah dalam mendorong kemajuan sektor peternakan dan kesehatan hewan nasional, Managing Director Napindo, Arya Seta, menyampaikan bahwa Indo Livestock 2026 merupakan wujud komitmen Napindo untuk terus menghadirkan platform yang mempertemukan pelaku industri dari berbagai negara dalam satu ekosistem yang mendukung pertumbuhan sektor peternakan dan industri pendukungnya.

Menurutnya, penyelenggaraan tahun ini tidak hanya menjadi ajang promosi produk dan teknologi, tetapi juga sarana untuk memperluas jejaring bisnis, mendorong transfer pengetahuan, serta membuka peluang kolaborasi yang lebih luas bagi seluruh pemangku kepentingan.

“Lebih dari sekadar ajang pameran, Indo Livestock merupakan platform kolaborasi yang mempertemukan seluruh pemangku kepentingan dalam satu ekosistem industri yang terintegrasi. Melalui partisipasi ratusan perusahaan dari berbagai negara, kami berharap penyelenggaraan tahun ini dapat mendorong lahirnya peluang kerja sama, investasi, dan transfer teknologi yang berkontribusi terhadap pengembangan sektor peternakan, kesehatan hewan, pertanian, perikanan, dan akuakultur Indonesia," kata Arya.

Banyak Program Unggulan
Selain menghadirkan pameran berskala internasional, Indo Livestock 2026 juga menyelenggarakan beragam program unggulan yang dirancang untuk mendorong pengembangan industri sekaligus memperluas partisipasi masyarakat. Salah satunya adalah Indo Livestock Grand Championship (ILGC) yang menjadi sorotan tahun ini pada penyelenggaraan perdananya. Setelah sukses menggelar Kontes Ternak Domba Garut pada hari pertama, rangkaian ILGC berlanjut dengan Seni Ketangkasan Domba Garut (SKDG) pada hari kedua dan ketiga (17-18 Juni 2026) dan dapat disaksikan secara langsung oleh masyarakat umum.

Program unggulan lainnya, Youth Farmers Day bertema “From Farm to Fame”, hadir sebagai wadah bagi generasi muda, startup, komunitas, dan pelaku industri untuk mengeksplorasi inovasi serta peluang pengembangan sektor peternakan. Kegiatan yang diselenggarakan bersama Kementerian Pertanian pada Kamis (18/6/2026), diharapkan dapat mendorong lahirnya generasi peternak muda yang adaptif dan kreatif.

Pameran lintas sektor ini juga menyelenggarakan program unggulan di sektor perikanan. Fisheries Buyers Meeting diadakan sebagai program unggulan Indo Fisheries 2026, yang bertujuan untuk mempertemukan potential buyers dengan eksportir dan peserta pameran guna membuka peluang kerja sama dan transaksi bisnis internasional.

Rangkaian kegiatan Indo Livestock 2026 semakin lengkap dengan penyelenggaraan seminar, talkshow, focus group discussion, 82 sesi Technical Product Presentation (TPP), business matching, Live Cooking Demo olahan produk hasil perikanan, bazaar UMKM, serta berbagai kegiatan edukatif yang menghadirkan teknologi, inovasi, dan solusi terkini dari para pelaku industri nasional maupun internasional.

Dengan dukungan dari 51 kementerian, lembaga, asosiasi, dan universitas, Indo Livestock 2026 kembali menegaskan posisinya sebagai pameran dan forum internasional terdepan bagi industri peternakan dan kesehatan hewan di Indonesia. Melalui kolaborasi lintas sektor dan sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan, penyelenggaraan ini diharapkan mampu memperkuat investasi, memperluas peluang perdagangan, mempercepat transfer teknologi, serta mendorong peningkatan daya saing sektor peternakan, kesehatan hewan, pertanian, perikanan, dan akuakultur Indonesia di tingkat global.

Pemberian Penghargaan 
Pada momen pembukaan, Napindo bekerja sama dengan Yayasan Pengembangan Pangan Indonesia (YAPPI) turut memberikan penghargaan Indo Livestock Innovation Awards 2026 kepada para insan yang mendukung dan memiliki inovasi terbaik dalam pengembangan sektor pangan, di antaranya: 

- Kategori Amerta Adhikarya Pangan Pasupalana diberikan kepada Prof Dr Ir Luki Abdullah MSc Agr (Fakultas Peternakan IPB University) dengan inovasi "Green Concentrate Indigofera (GCI) Sumber Protein Lokal untuk Kemandirian dan Ketahanan Pakan Nasional."

- Kategori Amerta Sidhakarya Pangan Pariskara diberikan kepada Prof Dr Eni Sumarni STP MSi (Fakultas Pertanian Unsoed) dengan inovasi "Aplikasi Root Zone Cooling pada Sistem Aeroponik untuk Produksi Benih Kentang dan Bawang Putih di Dataran Rendah Tropis."

- Kategori Anugerah Sidhakarya Pangan Nusantara diberikan kepada Dr Santi Dwi Astuti STP MSi (LPPM Unsoed) dengan inovasi "Mie Bebas Gluten Berbasis Tepung Singkong Termodifikasi dengan Teknologi Tepat Guna Non Ekstrusi."

- Kategori Anugraha Annadana Nishkama diberikan kepada Adit Prayoga dengan inovasi melalui yayasan yang dipimpinnya, ratusan porsi makan gratis disajikan setiap hari bagi fakir miskin, pemulung, dan masyarakat kurang mampu tanpa membedakan latar belakang.

Kemudian, pada hari yang sama juga dilakukan pemberian penghargaan bagi para exhibitor pameran. Untuk kategori Best Designed Stand diberikan kepada Ceva (Juara III), Cargill (Juara II), dan Charoen Pokphand Indonesia (Juara I). Kemudian kategori Best Performance Stand diberikan kepada Kapha (Juara III), Mensana Aneka Satwa (Juara II), dan Medion (Juara I). Sedangkan kategori Most Unique Stand diberikan kepada Aviagen (Juara III), Highfarve (Juara II), dan Fenanza (Juara I). (RBS)

PEREBUTKAN PIALA MENTAN, 600 EKOR DOMBA SIAP BERKOMPETISI DI INDO LIVESTOCK 2026

Konferensi pers Indo Livestock 2026 berlangsung di kawasan Jakarta Selatan (Foto: NDV/Infovet)

Ada yang berbeda pada pagelaran Indo Livestock, Indo Feed, Indo Dairy, Indo Agrotech, Indo Vet, dan Indo Fisheries 2026 Expo & Forum, yang akan dilaksanakan pada 16-18 Juni 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2, Tangerang. Yaitu diadakannya program Indo Livestock Grand Championship (ILGC), sebuah kontes ternak domba dan seni ketangkasan domba Garut indoor pertama di Indonesia, bekerjasama dengan Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI).

“Kami turut berbangga dari HPDKI bisa dilibatkan, kami akan membawa dan menampilkan kurang lebih 600 ekor ternak ke NICE PIK 2. ILGC adalah ajang kompetisi kontes ternak dan seni ketangkasan domba Garut yang memperebutkan Piala Menteri Pertanian Republik Indonesia,” kata Wakil Sekretaris Jenderal DPP HPDKI, Nuryanto.

ILGC diadakan selama tiga hari dengan hari pertama adalah kontes ternak domba. Mempertandingkan empat kelas utama yaitu Raja Pet, Raja Kasep, Ratu Bibit, dan Raja Pedaging. Kurang lebih 200 ekor domba akan berkompetisi di hari pertama tersebut.

Seni ketangkasan domba Garut akan berlangsung di hari kedua dan ketiga. Menghadirkan kurang lebih 400 ekor domba yang berkompetisi di beberapa kelas yaitu kelas 75 kg ke atas, 65-75 kg, dan di bawah 65 kg.

“Seni ketangkasan domba Garut ini erat kaitannya dengan budaya Sunda. Nanti seperti halnya event-event yang biasa kami laksanakan, ada peternaknya, biasa disebut dengan bobotoh, yang membawa ternaknya. Akan ada juga penampilan seni pencak silat yang diiringi dengan musik tradisional Sunda,” jelas Nuryanto lebih lanjut.

ILGC melibatkan para peternak domba dari sekitar 27 kabupaten dan kota di Jawa Barat, juga para peternak dari daerah Banten.

Selain itu juga ada eksibisi domba-domba unggulan tipe pedaging, yang merupakan hasil introduksi persilangan yang memiliki keunggulan tipe pedaging yang baik. Yang melibatkan beberapa perwakilan peternak dari Jawa Tengah.

Dorong Diplomasi Ekonomi dan Ekspor Peternakan

Diselenggarakan oleh PT Napindo Media Ashatama dan dituanrumahi oleh Kementerian Pertanian RI melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH). Indo Livestock, Indo Feed, Indo Dairy, Indo Agrotech, Indo Vet, dan Indo Fisheries 2026 Expo & Forum berhasil menjaring 600 peserta dari 30 negara, dengan 7 paviliun negara termasuk paviliun negara Indonesia. Menargetkan sebanyak 20.000 pengunjung profesional dari dalam dan luar negeri.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI, Dr drh Agung Suganda, MSi menjelaskan, “Untuk tahun ini Kementerian Pertanian lebih terlibat lagi. Tujuannya untuk mendorong agar Expo dan Forum yang akan kita selenggarakan tidak sekedar hanya event saja. Tetapi juga merupakan upaya diplomasi ekonomi khususnya subsektor peternakan Indonesia di hadapan dunia.”

Agung melanjutkan, Indo Livestock 2026 sekaligus merupakan konsolidasi nasional yang mempertemukan seluruh aktor dan stakeholder di bidang peternakan. Termasuk juga menghadirkan mitra-mitra swasta dan mitra negara sahabat, dengan harapan akan terbuka pasar-pasar ekspor baru dari beberapa negara yang ikut berpartisipasi.

Lisa Rusli, Project Director Napindo menjelaskan bahwa Indo Livestock dan Indo Feed 2026 merupakan pameran yang ke-19 sejak diadakan pertama kali pada 2002. Tahun genap diadakan di Jakarta dan tahun ganjil diadakan di Surabaya.

“Selain itu juga ada kegiatan Indo Dairy, ini sudah yang ke-17 kali. Kita juga punya Indo Agrotech, baru yang kelima kali. Indo Vet baru yang keenam kali. Indo Fisheries sudah yang ke-16 kali kita selenggarakan,” jelas Lisa. (NDV)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer