| Foto bersama Seminar Nasional yang digelar Infovet dalam rangkaian Indo Livestock 2026. (Foto: Infovet/Ridwan) |
PARTISIPASI INFOVET DI INDO LIVESTOCK 2026, GELAR SEMINAR PERUNGGASAN
TARGETKAN EKSPANSI BERTAHAP, WMU BERPELUANG JADI PRODUSEN TELUR CAGE-FREE TERBESAR DI ASIA TENGGARA
![]() |
| WMU menargetkan peningkatan kapasitas secara bertahap hingga 500.000 ekor pada 2027, yang berpotensi menjadikannya sebagai produsen telur cage-free terbesar di Asia Tenggara. (Foto: Istimewa) |
YAPPI DAN NAPINDO BERIKAN INDO LIVESTOCK INNOVATION AWARD 2026 BAGI INOVATOR PANGAN NASIONAL
| Foto bersama penerima penghargaan didampingi oleh YAPPI, Dirjen PKH, dan Napindo. (Foto: Infovet/Ridwan) |
Penghargaan ini diberikan kepada individu dan lembaga yang telah menghasilkan inovasi unggul di bidang pangan, peternakan, pertanian, pengolahan pangan, serta kontribusi sosial yang berdampak bagi masyarakat.
Pada 2026, penghargaan diberikan dalam empat kategori, yaitu Inovasi Pangan Berbasis Peternakan; Inovasi Pangan Berbasis Pertanian; Inovasi Pangan Berbasis Pengolahan; dan Penghargaan Khusus Bidang Pangan untuk Kepedulian Sosial.
Tahun ini, Indo Livestock Innovation Award diikuti oleh 40 inovasi dari lembaga riset, 21 perguruan tinggi, dan 11 organisasi filantropi yang berasal dari Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Para peserta melibatkan sumber daya manusia unggul yang terdiri atas 12 guru besar, 17 doktor, sembilan magister, dan dua sarjana.
Ketua Umum YAPPI sekaligus Ketua Dewan Juri Indo Livestock Innovation Award 2026, Drh Desianto Budi Utomo MSc PhD, menjelaskan bahwa proses penilaian dilakukan secara objektif, independen, dan komprehensif dengan mengacu pada enam kriteria utama, yaitu tingkat inovasi, pemanfaatan bahan pangan lokal, dampak ekonomi dan sosial, keberlanjutan dan ramah lingkungan, kualitas produk dan keamanan pangan, serta potensi pengembangan dan replikasi.
“Penghargaan ini tidak hanya memberikan apresiasi kepada para inovator, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkenalkan berbagai solusi nyata yang dapat mendukung ketahanan pangan nasional, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan memperkuat kemandirian bangsa,” ujar Desianto.
Proses penjurian dilakukan oleh Dewan Juri yang terdiri dari Desianto Budi Utomo, Drh Dedy Kusmanagandi DVM MBA, Ir Bambang Suharno, Ir Setya Winarno, serta Winarno SP MSi. Penilaian juga diperkuat oleh Dewan Juri Ahli dari berbagai bidang keilmuan, yaitu Prof Dr Ir Muladno MSA (peternakan), Prof Dr Drh Muh. Rizal M. Damanik MRepSc (gizi dan pangan), Prof Dr Ir Purwiyatno Hariyadi MSc (pengolahan pangan), dan Prof Dr Edi Santosa SP MSi (pertanian).
Penerima Indo Livestock Innovation Award 2026
• Kategori Inovasi Pangan Berbasis Peternakan “AMERTA ADHIKARYA PANGAN PASUPALANA”
Penghargaan diberikan kepada Prof Dr Ir Luki Abdullah MSc Agr dari Fakultas Peternakan IPB University atas inovasi “Green Concentrate Indigofera (GCI): Sumber Protein Lokal untuk Kemandirian dan Ketahanan Pakan Nasional.”
Inovasi ini menghadirkan pakan fungsional berbasis sumber daya lokal yang mampu meningkatkan produktivitas ternak, memperkuat sistem imun, serta menghasilkan produk peternakan yang lebih sehat. Dengan dukungan teknologi produksi modern dan penerapan yang telah diakui industri, Green Concentrate Indigofera menjadi salah satu solusi strategis dalam mewujudkan kemandirian pakan nasional.
• Kategori Inovasi Pangan Berbasis Pertanian “AMERTA SIDHAKARYA PANGAN PARISKARA”
Penghargaan diberikan kepada Prof Dr Eni Sumarni STP MSi dari Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman atas inovasi “Aplikasi Root Zone Cooling pada Sistem Aeroponik untuk Produksi Benih Kentang dan Bawang Putih di Dataran RendahTropis.”
Teknologi ini membuka peluang baru bagi produksi benih hortikultura di wilayah tropis dataran rendah. Selain meningkatkan produktivitas secara signifikan, inovasi tersebut mampu menghasilkan benih yang lebih sehat, meningkatkan efisiensi penggunaan air dan nutrisi, serta mendukung praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan.
• Kategori Inovasi Pangan Berbasis Pengolahan “ANUGERAH SIDHAKARYA PANGAN NUSANTARA”
Penghargaan diberikan kepada Dr Santi Dwi Astuti STP MSi dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Jenderal Soedirman atas inovasi “Mie Bebas Gluten Berbasis Tepung Singkong Termodifikasi dengan Teknologi Tepat Guna Non Ekstrusi.”
Inovasi berbasis Modified Cassava Flour (MOCAF) ini menghadirkan alternatif pangan sehat dengan tekstur menyerupai mie berbahan terigu, namun memiliki kandungan serat lebih tinggi dan indeks glikemik lebih rendah. Teknologi yang sederhana dan ekonomis menjadikan inovasi ini berpotensi memperkuat UMKM sekaligus mendukung kemandirian pangan nasional.
• Penghargaan Khusus Bidang Pangan untuk Kepedulian Sosial “ANUGRAHA ANNADANA NISHKAMA”
Penghargaan khusus diberikan kepada Aditya Prayoga, Founder Rumah Makan Gratis (RMG).
Sejak 2016, Aditya Prayoga menginisiasi pendirian RMG di berbagai wilayah Jabodetabek yang setiap hari menyediakan lebih dari 1.000 porsi makanan bagi fakir miskin, pemulung, dan masyarakat kurang mampu tanpa membedakan latar belakang. Selain itu, ia juga mengembangkan berbagai program sosial seperti TPA gratis, sekolah gratis, serta pelatihan UMKM.
Dedikasi dan semangat berbagi tanpa pamrih yang ditunjukkan Aditya Prayoga dinilai telah memberikan kontribusi nyata dalam memperkuat solidaritas sosial serta mendukung terwujudnya ketahanan pangan yang inklusif dan berkeadilan.
| Dari kiri: Desianto Budi Utomo, Agung Suganda, bersama empat orang penerima penghargaan Indo Livestock Innovation Award 2026. (Foto: Infovet/Ridwan) |
Prosesi penyerahan penghargaan dilanjutkan dengan sesi foto bersama Dirjen PKH, para penerima penghargaan, serta Dewan Juri Indo Livestock Innovation Award 2026.
Acara pembukaan dihadiri sekitar 300 peserta yang terdiri atas pejabat kementerian dan lembaga pemerintah, anggota DPR RI, perwakilan negara sahabat, pimpinan asosiasi peternakan dan kesehatan hewan, kalangan akademisi, pelaku usaha, exhibitor, serta berbagai pemangku kepentingan sektor agribisnis nasional.
Dialog Inspiratif
Usai pembukaan pameran, YAPPI menyelenggarakan sesi dialog bersama para penerima penghargaan di panggung utama Indo Livestock 2026 Expo & Forum, yang dipandu oleh pengurus YAPPI, Ir Setya Winarno.
Kegiatan turut dihadiri oleh Ketua LPPM Universitas Jenderal Soedirman, Prof Elly Tugianti, tenaga pengajar dari beberapa kampus, pelaku usaha peternakan dan pertanian, mahasiswa, peneliti, serta pengunjung pameran.
Ketiga penerima penghargaan kategori inovasi memaparkan perjalanan riset, tantangan pengembangan teknologi, hingga proses hilirisasi yang memungkinkan inovasi mereka diterapkan secara luas oleh masyarakat dan industri.
Sementara itu, Aditya Prayoga berbagi kisah inspiratif mengenai perjalanan mendirikan Rumah Makan Gratis dari latar belakang keluarga sederhana. Saat ini, Rumah Makan Gratis telah berkembang menjadi enam lokasi yang masing-masing menyediakan sekitar 300 paket makanan gratis setiap hari, atau total sekitar 1.800 paket per hari.
“Dengan izin Allah, selalu ada orang-orang baik yang membantu sehingga program makan gratis ini dapat terus berjalan dan memberi manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan,” ujar Aditya.
Ke depan, ia bercita-cita mengembangkan program pendidikan gratis hingga jenjang perguruan tinggi. Langkah awal telah diwujudkan melalui penyelenggaraan TPA gratis bagi masyarakat.
PERKUAT KOLABORASI DAN DAYA SAING INDUSTRI PETERNAKAN DI INDO LIVESTOCK 2026
Pameran yang bersinergi dengan Indo Feed, Indo Dairy, Indo Agrotech, Indo Vet, dan Indo Fisheries 2026 Expo & Forum ini menghadirkan 600 peserta dari 30 negara dengan tujuh paviliun negara, yakni China, Eropa, Indonesia, Malaysia, Korea Selatan, Taiwan, dan Vietnam. Sebagai wadah strategis diplomasi ekonomi dan pengembangan industri, pameran ini mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, akademisi, asosiasi, investor, serta profesional dari berbagai negara untuk memperluas peluang kerja sama, transfer teknologi, dan mendorong investasi yang mendukung transformasi industri peternakan, pakan ternak, pengolahan susu, pertanian, kesehatan hewan, alat-alat kedokteran hewan, perikanan, dan akuakultur di Indonesia.
Dalam sambutannya, Agung Suganda menegaskan bahwa sektor peternakan memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan, pembangunan ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat pedesaan. Seiring meningkatnya kebutuhan protein hewani untuk mewujudkan visi Generasi Emas 2045, diperlukan sinergi yang kuat antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan investor guna meningkatkan produksi, memperkuat investasi, serta memperluas akses pasar bagi produk peternakan Indonesia.
“Indo Livestock merupakan salah satu pameran peternakan berskala internasional di Indonesia. Namun lebih dari pada itu, Indo Livestock adalah instrumen diplomasi ekonomi peternakan Indonesia di hadapan dunia, menjadi tempat bertemunya stakeholder peternakan dari luar negeri dan dalam negeri, menjadi tempat dalam melakukan transaksi bisnis, sekaligus menjadi ruang konsolidasi nasional stakeholder peternakan sehingga diharapkan dapat menjadi booster percepatan modernisasi dunia usaha peternakan dan kesehatan hewan yang pada akhirnya akan berdampak pada peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB)," ujarnya.
Menyambut positif visi pemerintah dalam mendorong kemajuan sektor peternakan dan kesehatan hewan nasional, Managing Director Napindo, Arya Seta, menyampaikan bahwa Indo Livestock 2026 merupakan wujud komitmen Napindo untuk terus menghadirkan platform yang mempertemukan pelaku industri dari berbagai negara dalam satu ekosistem yang mendukung pertumbuhan sektor peternakan dan industri pendukungnya.
Menurutnya, penyelenggaraan tahun ini tidak hanya menjadi ajang promosi produk dan teknologi, tetapi juga sarana untuk memperluas jejaring bisnis, mendorong transfer pengetahuan, serta membuka peluang kolaborasi yang lebih luas bagi seluruh pemangku kepentingan.
“Lebih dari sekadar ajang pameran, Indo Livestock merupakan platform kolaborasi yang mempertemukan seluruh pemangku kepentingan dalam satu ekosistem industri yang terintegrasi. Melalui partisipasi ratusan perusahaan dari berbagai negara, kami berharap penyelenggaraan tahun ini dapat mendorong lahirnya peluang kerja sama, investasi, dan transfer teknologi yang berkontribusi terhadap pengembangan sektor peternakan, kesehatan hewan, pertanian, perikanan, dan akuakultur Indonesia," kata Arya.
Banyak Program Unggulan
Selain menghadirkan pameran berskala internasional, Indo Livestock 2026 juga menyelenggarakan beragam program unggulan yang dirancang untuk mendorong pengembangan industri sekaligus memperluas partisipasi masyarakat. Salah satunya adalah Indo Livestock Grand Championship (ILGC) yang menjadi sorotan tahun ini pada penyelenggaraan perdananya. Setelah sukses menggelar Kontes Ternak Domba Garut pada hari pertama, rangkaian ILGC berlanjut dengan Seni Ketangkasan Domba Garut (SKDG) pada hari kedua dan ketiga (17-18 Juni 2026) dan dapat disaksikan secara langsung oleh masyarakat umum.
Program unggulan lainnya, Youth Farmers Day bertema “From Farm to Fame”, hadir sebagai wadah bagi generasi muda, startup, komunitas, dan pelaku industri untuk mengeksplorasi inovasi serta peluang pengembangan sektor peternakan. Kegiatan yang diselenggarakan bersama Kementerian Pertanian pada Kamis (18/6/2026), diharapkan dapat mendorong lahirnya generasi peternak muda yang adaptif dan kreatif.
Pameran lintas sektor ini juga menyelenggarakan program unggulan di sektor perikanan. Fisheries Buyers Meeting diadakan sebagai program unggulan Indo Fisheries 2026, yang bertujuan untuk mempertemukan potential buyers dengan eksportir dan peserta pameran guna membuka peluang kerja sama dan transaksi bisnis internasional.
Rangkaian kegiatan Indo Livestock 2026 semakin lengkap dengan penyelenggaraan seminar, talkshow, focus group discussion, 82 sesi Technical Product Presentation (TPP), business matching, Live Cooking Demo olahan produk hasil perikanan, bazaar UMKM, serta berbagai kegiatan edukatif yang menghadirkan teknologi, inovasi, dan solusi terkini dari para pelaku industri nasional maupun internasional.
Dengan dukungan dari 51 kementerian, lembaga, asosiasi, dan universitas, Indo Livestock 2026 kembali menegaskan posisinya sebagai pameran dan forum internasional terdepan bagi industri peternakan dan kesehatan hewan di Indonesia. Melalui kolaborasi lintas sektor dan sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan, penyelenggaraan ini diharapkan mampu memperkuat investasi, memperluas peluang perdagangan, mempercepat transfer teknologi, serta mendorong peningkatan daya saing sektor peternakan, kesehatan hewan, pertanian, perikanan, dan akuakultur Indonesia di tingkat global.
PEREBUTKAN PIALA MENTAN, 600 EKOR DOMBA SIAP BERKOMPETISI DI INDO LIVESTOCK 2026
![]() |
| Konferensi pers Indo Livestock 2026 berlangsung di kawasan Jakarta Selatan (Foto: NDV/Infovet) |
Ada yang berbeda pada pagelaran Indo Livestock, Indo Feed, Indo Dairy, Indo Agrotech, Indo Vet, dan Indo Fisheries 2026 Expo & Forum, yang akan dilaksanakan pada 16-18 Juni 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2, Tangerang. Yaitu diadakannya program Indo Livestock Grand Championship (ILGC), sebuah kontes ternak domba dan seni ketangkasan domba Garut indoor pertama di Indonesia, bekerjasama dengan Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI).
“Kami turut berbangga dari HPDKI bisa dilibatkan, kami akan membawa dan menampilkan kurang lebih 600 ekor ternak ke NICE PIK 2. ILGC adalah ajang kompetisi kontes ternak dan seni ketangkasan domba Garut yang memperebutkan Piala Menteri Pertanian Republik Indonesia,” kata Wakil Sekretaris Jenderal DPP HPDKI, Nuryanto.
ILGC diadakan selama tiga hari dengan hari pertama adalah kontes ternak domba. Mempertandingkan empat kelas utama yaitu Raja Pet, Raja Kasep, Ratu Bibit, dan Raja Pedaging. Kurang lebih 200 ekor domba akan berkompetisi di hari pertama tersebut.
Seni ketangkasan domba Garut akan berlangsung di hari kedua dan ketiga. Menghadirkan kurang lebih 400 ekor domba yang berkompetisi di beberapa kelas yaitu kelas 75 kg ke atas, 65-75 kg, dan di bawah 65 kg.
“Seni ketangkasan domba Garut ini erat kaitannya dengan budaya Sunda. Nanti seperti halnya event-event yang biasa kami laksanakan, ada peternaknya, biasa disebut dengan bobotoh, yang membawa ternaknya. Akan ada juga penampilan seni pencak silat yang diiringi dengan musik tradisional Sunda,” jelas Nuryanto lebih lanjut.
ILGC melibatkan para peternak domba dari sekitar 27 kabupaten dan kota di Jawa Barat, juga para peternak dari daerah Banten.
Selain itu juga ada eksibisi domba-domba unggulan tipe pedaging, yang merupakan hasil introduksi persilangan yang memiliki keunggulan tipe pedaging yang baik. Yang melibatkan beberapa perwakilan peternak dari Jawa Tengah.
Dorong Diplomasi Ekonomi dan Ekspor Peternakan
Diselenggarakan oleh PT Napindo Media Ashatama dan dituanrumahi oleh Kementerian Pertanian RI melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH). Indo Livestock, Indo Feed, Indo Dairy, Indo Agrotech, Indo Vet, dan Indo Fisheries 2026 Expo & Forum berhasil menjaring 600 peserta dari 30 negara, dengan 7 paviliun negara termasuk paviliun negara Indonesia. Menargetkan sebanyak 20.000 pengunjung profesional dari dalam dan luar negeri.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI, Dr drh Agung Suganda, MSi menjelaskan, “Untuk tahun ini Kementerian Pertanian lebih terlibat lagi. Tujuannya untuk mendorong agar Expo dan Forum yang akan kita selenggarakan tidak sekedar hanya event saja. Tetapi juga merupakan upaya diplomasi ekonomi khususnya subsektor peternakan Indonesia di hadapan dunia.”
Agung melanjutkan, Indo Livestock 2026 sekaligus merupakan konsolidasi nasional yang mempertemukan seluruh aktor dan stakeholder di bidang peternakan. Termasuk juga menghadirkan mitra-mitra swasta dan mitra negara sahabat, dengan harapan akan terbuka pasar-pasar ekspor baru dari beberapa negara yang ikut berpartisipasi.
Lisa Rusli, Project Director Napindo menjelaskan bahwa Indo Livestock dan Indo Feed 2026 merupakan pameran yang ke-19 sejak diadakan pertama kali pada 2002. Tahun genap diadakan di Jakarta dan tahun ganjil diadakan di Surabaya.
“Selain itu juga ada kegiatan Indo Dairy, ini sudah yang ke-17 kali. Kita juga punya Indo Agrotech, baru yang kelima kali. Indo Vet baru yang keenam kali. Indo Fisheries sudah yang ke-16 kali kita selenggarakan,” jelas Lisa. (NDV)
FLUOROQUINOLONES EXIT, INDUSTRI OBAT HEWAN DIMINTA SIAP BERTRANSFORMASI
![]() |
| Kiri: Hendra Wibawa dan Sugiyono (Foto: Dok. Infovet) |
Direktur Kesehatan Hewan, Drh Hendra Wibawa MSi PhD, dalam paparannya bertajuk “Kebijakan Fluorouinolones Exit pada Hewan Produksi" menjelaskan bahwa fluoroquinolone menjadi perhatian global karena tergolong antimikroba kritis yang sangat penting bagi kesehatan manusia dan banyak digunakan untuk pengobatan infeksi serius. Peningkatan resistansi yang terus terjadi di berbagai negara membuat penggunaannya pada hewan produksi kini menjadi perhatian serius organisasi dunia seperti WHO, FAO, WOAH, hingga Codex Alimentarius.
Menurut Hendra, resistensi antimikroba kini bukan lagi isu masa depan, melainkan tantangan nyata yang sedang dihadapi dunia, termasuk Indonesia. Dampaknya tidak hanya menyangkut kesehatan manusia dan hewan, tetapi juga keamanan pangan serta daya saing perdagangan internasional. Ia mengingatkan bahwa semakin tinggi penggunaan antibiotik tertentu, semakin besar pula risiko hilangnya efektivitas antibiotik tersebut di masa mendatang. Resistensi bahkan berpotensi memicu Multi Drug Resistance (MDR), ketika pengobatan menjadi semakin sulit dilakukan.
“Kita harus menjaga efektivitas antibiotik yang masih dibutuhkan untuk menyelamatkan kehidupan manusia,” tegas Hendra dalam presentasinya.
Ia menjelaskan bahwa kebijakan global telah bergerak ke arah pengendalian penggunaan fluoroquinolone di sektor peternakan. WHO menempatkannya sebagai Critically Important Antimicrobials, sementara WOAH mendorong penggunaan antibiotik secara bijak (prudent use). Di sisi lain, Codex Alimentarius dan FAO juga telah memasukkan isu resistensi antimikroba sebagai bagian penting dalam tata kelola keamanan pangan dunia.
Sebagai tindak lanjut, Indonesia mengambil langkah melalui pendekatan One Health, yakni integrasi kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan lingkungan. Komitmen ini diperkuat melalui Rencana Aksi Nasional Pengendalian Resistansi Antimikroba (RAN-AMR), penguatan keamanan pangan, serta peningkatan daya saing ekspor produk peternakan.
Dalam kesempatan tersebut, Hendra memaparkan bahwa pemerintah telah menerbitkan Keputusan Menteri Pertanian (Kepmentan) No. 63/2026 yang mengatur penghentian penggunaan fluoroquinolone tertentu pada hewan produksi. Namun demikian, ia menekankan bahwa kebijakan ini tidak boleh dipahami sebagai sekadar pelarangan antibiotik.
“Filosofi exit policy adalah transformasi penggunaan antibiotik menuju sistem kesehatan hewan yang lebih preventif dan bertanggung jawab,” jelasnya. Prinsip yang diusung adalah prevention is better than treatment, dengan penguatan biosekuriti, vaksinasi, manajemen kesehatan ternak, serta penguatan stewardship antibiotik sebagai fondasi utama.
Pemerintah, lanjutnya, akan melakukan berbagai langkah implementasi, mulai dari sosialisasi nasional, penyusunan pedoman teknis, pengawasan distribusi dan penggunaan, hingga surveilans resistensi antimikroba serta monitoring residu. Langkah tersebut diharapkan mampu memastikan transisi berjalan tanpa mengganggu produktivitas peternakan nasional.
Dalam diskusi yang dipandu Wakil Kabid Organisasi Drh Sugiyono, Hendra juga menegaskan pentingnya keterlibatan seluruh pemangku kepentingan. Industri obat hewan didorong mengembangkan alternatif seperti produk biologik, probiotik, dan fitobiotik. Dokter hewan diminta memperkuat diagnosis yang tepat serta penggunaan antibiotik secara bijak, sementara peternak perlu meningkatkan biosekuriti, vaksinasi, manajemen kandang, dan praktik budi daya yang baik (Good Farming Practices).
Meski demikian, pemerintah mengakui terdapat sejumlah tantangan dalam implementasi kebijakan ini, mulai dari perubahan perilaku penggunaan antibiotik, ketersediaan alternatif, kepatuhan di lapangan, hingga pengawasan distribusi. Untuk itu, pemerintah akan memperkuat edukasi, pendampingan teknis, kapasitas laboratorium, dan surveilans sebagai bentuk antisipasi.
Selain materi utama mengenai Fluoroquinolones Exit, PROTAS ASOHI 2026 juga menghadirkan sejumlah topik strategis lain, di antaranya pembahasan pencabutan Surat Keputusan registrasi obat hewan, implementasi Surat Izin Praktik Terintegrasi (SIPT), serta penyesuaian terhadap implementasi KBLI baru bagi pelaku usaha obat hewan. Ragam isu tersebut memperlihatkan bahwa industri kesehatan hewan tengah memasuki fase adaptasi regulasi yang semakin dinamis.
PROTAS sendiri merupakan agenda tahunan ASOHI yang dirancang sebagai wadah pertemuan anggota sekaligus sarana memperkuat komunikasi antara pelaku industri dengan regulator. Tahun ini, forum tersebut terasa semakin penting karena industri obat hewan dituntut tidak hanya adaptif terhadap perubahan regulasi, tetapi juga mampu merespons tuntutan global terkait keamanan pangan dan resistensi antimikroba.
Menutup paparannya, Hendra mengingatkan bahwa kebijakan Fluoroquinolones Exit harus dipandang sebagai investasi jangka panjang, bukan ancaman bagi industri. “Antibiotik yang kita jaga hari ini adalah harapan terapi yang kita wariskan untuk generasi mendatang,” ujarnya. (DS)
REUNI KAFAPET UNSOED 85 HADIRKAN DUA REKTOR DAN PERDANA LIVESTREAMING YOUTUBE
![]() |
| Foto bersama, dari kiri: Sutadi Ronidipuro, Novie Andri Setianto, Hary Soegijono, Prof Akhmad Sodiq, Sinung Nugroho, Dr Achmad Iqbal, Prof Noor Farid, dan Dr Agus Susanto. (Foto-foto: Istimewa) |
Sejumlah pimpinan Unsoed dan dari Fapet turut hadir dalam acara tersebut. Di antaranya Rektor Unsoed Prof Dr Akhmad Sodiq, Wakil Rektor Prof Noor Farid, Rektor Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Purwokerto Dr Achmad Iqbal yang juga pernah menjabat sebagai Rektor Unsoed periode 2014-2018, Dekan Fapet Unsoed Dr Novie Andri Setianto, serta Wakil Dekan Dr Agus Susanto. Hadir pula Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Batang Sutadi Ronodipuro serta perwakilan sponsor yang mendukung terselenggaranya reuni.
Suasana hangat dan penuh kekeluargaan terasa sejak acara pembukaan hingga malam keakraban. Kegiatan kemudian dilanjutkan Minggu pagi dengan senam bersama dan ramah tamah antaralumni. Selain itu, reuni juga diisi diskusi santai, hiburan, serta kegiatan wisata belanja ke Pasar Batik Setono yang diikuti sebagian peserta.
Ketua Kafapet 85, Ir Sinung Nugroho, mengungkapkan rasa syukur atas suksesnya penyelenggaraan reuni tahun ini. Menurutnya, reuni bukan sekadar ajang nostalgia, tetapi juga sarana memperkuat jejaring dan semangat kebersamaan antaralumni.
“Alhamdulillah teman-teman masih menjaga semangat silaturahmi sesuai moto alumni Fapet 85, yaitu guyub dan lestari. Semoga kebersamaan ini terus terjaga,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Ketua Panitia, Dr Ir Hary Soegijono MTh, yang mengapresiasi kerja sama para panitia yang berasal dari berbagai wilayah, mulai dari Pantura, Purwokerto, Jabodetabek, hingga Yogyakarta dan sekitarnya.
“Sungguh menjadi kebahagiaan bagi kami karena Pak Rektor Unsoed, di tengah kesibukan beliau sepulang dari acara di Surabaya, masih menyempatkan hadir bersama wakil rektor, mantan rektor, dekan, dan wakil dekan. Terima kasih juga kepada Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Batang yang turut hadir dan memperkenalkan program unggulan Kabupaten Batang,” katanya.
Dalam sambutannya, Rektor Unsoed, Prof Dr Akhmad Sodiq, mengaku bahagia dapat hadir di tengah para seniornya, mengingat dirinya juga merupakan alumni Fapet Unsoed angkatan 1987. Ia mengajak para alumni untuk terus menjaga semangat perjuangan Jenderal Soedirman.
“Maju terus pantang mundur, tak kenal menyerah. Insyaallah dengan memegang semangat itu, kita akan diberi kelancaran dan kesuksesan,” ujarnya seraya mengingatkan kembali pentingnya menjaga moto alumni Unsoed, yaitu Kompak, Semangat, Hebat.
Pada kesempatan itu, Prof Sodiq turut menyampaikan perkembangan terbaru Unsoed, yang saat ini memiliki 103 program studi dengan jumlah mahasiswa sekitar 25.000 orang, meningkat jauh dibandingkan masa ketika angkatan 1985 masih menempuh pendidikan.
Ia berharap para alumni dapat ikut berkontribusi melalui program kuliah praktisi dengan berbagi pengalaman dan ilmu lapangan kepada mahasiswa. “Kami memiliki program kuliah praktisi. Silakan para alumni berbagi ilmu dan pengalaman kepada mahasiswa,” tambahnya.
Langkah ini mendapat apresiasi dari banyak alumni karena dinilai mampu memperluas keterlibatan keluarga besar Kafapet Unsoed. Hal tersebut terlihat dari antusiasme komentar dan percakapan selama siaran berlangsung. Rekaman livestreaming reuni bisa dilihat di: https://www.youtube.com/live/
Acara reuni dipandu oleh Krusharto atau yang lebih dikenal dengan nama panggung “Mbah Gobed”. Dengan gaya humor khas Banyumasan, ia berhasil mencairkan suasana dan menjaga keakraban peserta sejak awal hingga akhir acara. Mbah Gobed sendiri merupakan alumni Fapet Unsoed angkatan 1985 yang kini dikenal sebagai MC profesional di wilayah Jawa Tengah, khususnya Banyumas Raya.
Di sela-sela reuni, para peserta secara aklamasi kembali menetapkan Sinung Nugroho sebagai Ketua Kafapet Unsoed angkatan 1985. Sinung menyatakan kesediaannya untuk kembali mengemban amanah tersebut dan berharap semangat kekeluargaan antaralumni tetap terjaga.
Ia juga menggagas adanya program iuran bulanan alumni guna meringankan biaya penyelenggaraan reuni mendatang. “Harapan saya reuni dua tahun mendatang bisa lebih ringan pembiayaannya karena sudah ditopang dari iuran rutin teman-teman,” ujarnya.
Reuni Kafapet Unsoed angkatan 1985 sendiri secara rutin digelar setiap dua tahun. Sebelumnya reuni dilaksanakan di TMII Jakarta pada 2024 dan Baturraden pada 2022. Sementara lokasi reuni berikutnya yang akan diselenggarakan 2026 masih akan dibahas lebih lanjut. (INF)
ARTIKEL POPULER MINGGU INI
-
Cara Menghitung FCR Ayam Broiler. FCR adalah singkatan dari feed convertion ratio, yaitu konversi pakan terhadap daging. FCR digunakan untuk...
-
Di dunia ini terdapat beberapa jenis ayam terbesar di dunia. Baik dari segi tinggi badannya, ukuran badannya, maupun berat badannya. Di anta...
-
Berikut 10 jenis kelinci pedaging yang populer di tingkat internasional. 1 New Zealand White Jenis kelinci pedaging ini termasuk yang paling...
-
Ir Nafiatul Umami menunjukkan Chicory di kebun rumput Fapet UGM (Foto: Dok. UGM) Fakultas Peternakan (Fapet) UGM tengah menge...
-
Dari sekian banyak jenis ayam pedaging, berikut adalah 6 dari jenis-jenis ayam pedaging yang populer di Indonesia. Artinya cukup banyak dite...
-
Sumber: Balitbangtan Kementan Ayam KUB adalah ayam kampung galur (strain) baru, merupakan singkatan dari Ayam Kampung Unggul Balitbangtan. A...
-
Usaha peternakan kambing. (Foto: Istimewa) Ladang usaha di bidang peternakan dari dulu hingga ke depan masih tetap menjanjikan keuntungan. S...
-
Salah satu ciri telur asin yang berkualitas adalah bagian kuning telurnya yang tampak masir. (Foto: Istimewa) Bukan hanya cara menyimpannya,...
-
Ayam abang adalah ayam ras petelur yang sudah memasuki masa “pensiun” bertelur. (Foto: Dok. Infovet) Ayam abang menjadi salah satu bisnis “s...
-
Gulai tunjang, salah satu olahan dari kaki sapi. (Foto: Shutterstock/Sassi Photoworks) Tidak semua orang mau mengonsumsi olahan kulit dan ka...







