-->

REUNI KAFAPET UNSOED 85 HADIRKAN DUA REKTOR DAN PERDANA LIVESTREAMING YOUTUBE

Foto bersama, dari kiri: Sutadi Ronidipuro, Novie Andri Setianto, Hary Soegijono, Prof Akhmad Sodiq, Sinung Nugroho, Dr Achmad Iqbal, Prof Noor Farid, dan Dr Agus Susanto. (Foto-foto: Istimewa)

Reuni Keluarga Alumni Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman (Kafapet Unsoed) angkatan 1985 berlangsung sukses dan meriah di Hotel Sendang Sari, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, pada 23-24 Mei 2026. Kegiatan silaturahmi dua tahunan ini dihadiri sekitar 70 alumni beserta keluarga dari berbagai daerah di Indonesia.

Sejumlah pimpinan Unsoed dan dari Fapet turut hadir dalam acara tersebut. Di antaranya Rektor Unsoed Prof Dr Akhmad Sodiq, Wakil Rektor Prof Noor Farid, Rektor Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Purwokerto Dr Achmad Iqbal yang juga pernah menjabat sebagai Rektor Unsoed periode 2014-2018, Dekan Fapet Unsoed Dr Novie Andri Setianto, serta Wakil Dekan Dr Agus Susanto. Hadir pula Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Batang Sutadi Ronodipuro serta perwakilan sponsor yang mendukung terselenggaranya reuni.

Suasana hangat dan penuh kekeluargaan terasa sejak acara pembukaan hingga malam keakraban. Kegiatan kemudian dilanjutkan Minggu pagi dengan senam bersama dan ramah tamah antaralumni. Selain itu, reuni juga diisi diskusi santai, hiburan, serta kegiatan wisata belanja ke Pasar Batik Setono yang diikuti sebagian peserta.

Ketua Kafapet 85, Ir Sinung Nugroho, mengungkapkan rasa syukur atas suksesnya penyelenggaraan reuni tahun ini. Menurutnya, reuni bukan sekadar ajang nostalgia, tetapi juga sarana memperkuat jejaring dan semangat kebersamaan antaralumni.

“Alhamdulillah teman-teman masih menjaga semangat silaturahmi sesuai moto alumni Fapet 85, yaitu guyub dan lestari. Semoga kebersamaan ini terus terjaga,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Ketua Panitia, Dr Ir Hary Soegijono MTh, yang mengapresiasi kerja sama para panitia yang berasal dari berbagai wilayah, mulai dari Pantura, Purwokerto, Jabodetabek, hingga Yogyakarta dan sekitarnya.

“Sungguh menjadi kebahagiaan bagi kami karena Pak Rektor Unsoed, di tengah kesibukan beliau sepulang dari acara di Surabaya, masih menyempatkan hadir bersama wakil rektor, mantan rektor, dekan, dan wakil dekan. Terima kasih juga kepada Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Batang yang turut hadir dan memperkenalkan program unggulan Kabupaten Batang,” katanya.

Dalam sambutannya, Rektor Unsoed, Prof Dr Akhmad Sodiq, mengaku bahagia dapat hadir di tengah para seniornya, mengingat dirinya juga merupakan alumni Fapet Unsoed angkatan 1987. Ia mengajak para alumni untuk terus menjaga semangat perjuangan Jenderal Soedirman.

“Maju terus pantang mundur, tak kenal menyerah. Insyaallah dengan memegang semangat itu, kita akan diberi kelancaran dan kesuksesan,” ujarnya seraya mengingatkan kembali pentingnya menjaga moto alumni Unsoed, yaitu Kompak, Semangat, Hebat.

Pada kesempatan itu, Prof Sodiq turut menyampaikan perkembangan terbaru Unsoed, yang saat ini memiliki 103 program studi dengan jumlah mahasiswa sekitar 25.000 orang, meningkat jauh dibandingkan masa ketika angkatan 1985 masih menempuh pendidikan.

Ia berharap para alumni dapat ikut berkontribusi melalui program kuliah praktisi dengan berbagi pengalaman dan ilmu lapangan kepada mahasiswa. “Kami memiliki program kuliah praktisi. Silakan para alumni berbagi ilmu dan pengalaman kepada mahasiswa,” tambahnya.

Foto bersama usai senam pagi.

Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam reuni kali ini adalah untuk pertama kalinya acara disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube KafapetUnsoedTV, kanal resmi milik Kafapet. Melalui livestreaming tersebut, alumni yang tidak dapat hadir secara langsung, termasuk yang berada di luar negeri, tetap dapat mengikuti jalannya acara secara virtual.

Langkah ini mendapat apresiasi dari banyak alumni karena dinilai mampu memperluas keterlibatan keluarga besar Kafapet Unsoed. Hal tersebut terlihat dari antusiasme komentar dan percakapan selama siaran berlangsung. Rekaman livestreaming reuni bisa dilihat di: https://www.youtube.com/live/oNa8cAu-H_Q?si=d7vS5zdscIB_HzAc

Acara reuni dipandu oleh Krusharto atau yang lebih dikenal dengan nama panggung “Mbah Gobed”. Dengan gaya humor khas Banyumasan, ia berhasil mencairkan suasana dan menjaga keakraban peserta sejak awal hingga akhir acara. Mbah Gobed sendiri merupakan alumni Fapet Unsoed angkatan 1985 yang kini dikenal sebagai MC profesional di wilayah Jawa Tengah, khususnya Banyumas Raya.

Di sela-sela reuni, para peserta secara aklamasi kembali menetapkan Sinung Nugroho sebagai Ketua Kafapet Unsoed angkatan 1985. Sinung menyatakan kesediaannya untuk kembali mengemban amanah tersebut dan berharap semangat kekeluargaan antaralumni tetap terjaga.

Ia juga menggagas adanya program iuran bulanan alumni guna meringankan biaya penyelenggaraan reuni mendatang. “Harapan saya reuni dua tahun mendatang bisa lebih ringan pembiayaannya karena sudah ditopang dari iuran rutin teman-teman,” ujarnya.

Reuni Kafapet Unsoed angkatan 1985 sendiri secara rutin digelar setiap dua tahun. Sebelumnya reuni dilaksanakan di TMII Jakarta pada 2024 dan Baturraden pada 2022. Sementara lokasi reuni berikutnya yang akan diselenggarakan 2026 masih akan dibahas lebih lanjut. (INF)

PUBLIC EXPOSE TAHUN BUKU 2025 PT MALINDO FEEDMILL TBK

Foto: Malindo

PT Malindo Feedmill Tbk (“Perseroan”) adalah suatu perusahaan terbatas yang didirikan dengan nama "PT Gymtech Feedmill Indonesia" pada tahun 1997. Perseroan bergerak dalam bidang produksi dan penjualan pakan ternak, pembibitan dan distribusi anak ayam usia sehari ras pedaging, pembibitan dan penjualan anak ayam usia sehari ras parent stock serta peternakan ayam ras pedaging. Perseroan mulai mengembangkan bisnis downstream pada tahun 2013.

Bisnis baru yang merupakan sinergi dari bisnis yang telah ada akan membuat Perseroan menjadi Perusahaan Terintegrasi. Perusahaan kembali menambah bisnis baru yaitu bisnis restoran cepat saji dengan nama Sunny Chick pada tahun 2021 dan rumah potong hewan unggas pada tahun 2022. Beberapa tahun terakhir Perusahaan juga melakukan ekspor ke berbagai negara seperti Jepang, Singapura, Oman, Uni Emirat Arab dan Qatar.

Kinerja Keuangan Perseroan Di Tahun 2025 dan Kuartal I 2026

Berikut adalah kinerja keuangan Perseroan di tahun 2025 dibandingkan dengan tahun 2024. berdasarkan Laporan Keuangan yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Rintis, Jumadi, Rianto dan Rekan :

Kinerja operasional Perseroan tetap menunjukkan pertumbuhan pada tahun 2025. Ditinjau dari sisi penjualan, Malindo berhasil mencapai nilai penjualan bersih tahun 2025 sebesar Rp12,69 triliun, yaitu meningkat 1,52% atau Rp190,04 miliar dibandingkan tahun 2024 sebesar Rp12,50 triliun. Peningkatan penjualan ini terutama didorong oleh adanya peningkatan pada penjualan ayam pedaging sebesar Rp432,53miliar atau 18,75%, peningkatan penjualan makanan olahan sebesar Rp16,64 miliar atau 12,94%, dan peningkatan penjualan lain-lain sebesar Rp31,39 miliar atau 6,12%. Peningkatan penjualan bersih tahun 2025 sebesar 1,52% dari tahun 2024.

Sementara itu dari sisi kinerja keuangan pada tahun ini juga menunjukkan kinerja yang positif dan solid. Laba bruto Malindo tercatat sebesar Rp1,29 triliun pada tahun 2025. Perolehan laba tahun berjalan pada tahun 2025 tercatat sebesar Rp393,59 miliar, dan laba komprehensif tahun berjalan mencapai Rp395,08miliar.

Selain itu, kinerja keuangan Malindo diperkuat oleh posisi keuangan dengan jumlah aset sebesar Rp5,70 triliun, jumlah liabilitas sebesar Rp2,31 triliun, dana syirkah temporer sebesar Rp518,09 miliar, dan jumlah ekuitas sebesar Rp2,88 triliun.

Penjualan bersih Perseroan sebesar Rp3,69 triliun pada kuartal I 2026 naik sebesar Rp526,86 miliar atau naik sebesar 16,61%. Penjualan Pakan ternak naik sebesar 10,92% atau sebesar Rp206,91 miliar, peningkatan penjualan anak ayam/ itik usia sehari sebesar naik 69,20% atau sebesar Rp330,63 miliar dari Rp 477,77 miliar menjadi Rp808,39 miliar di periode Maret 2026. Penjualan ayam pedaging turun sebesar Rp15,91 miliar atau turun sebesar 2,49% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, penjualan Makanan olahan naik 16,81% atau naik sebesar Rp5,83 miliar, penjualan lain lain turun 0,48% atau sebesar Rp604 juta.

Laba kotor Perseroan pada kuartal I 2025 naik sebesar Rp74,76 miliar atau naik 22,79% dari Rp327,97 miliar menjadi Rp402,73 miliar di Maret 2026.

Peningkatan laba kotor di atas ikut mendorong Laba bersih Perseroan meningkat dari Rp62,88 miliar pada kuartal I 2025 menjadi Rp123,28 miliar pada akhir Maret 2026 atau naik sebesar Rp60,40 miliar.Faktor utama kenaikan ini adalah harga DOC dan Broiler yang cenderung stabil.

Kendala-kendala yang dihadapi dan Strategi Perseroan

Kendala:

  • Fluktuasi harga live bird dan DOC akibat dinamika supply-demand;
  • Volatilitas harga bahan baku utama dan kurs valuta asing;
  • Tekanan efisiensi di tengah persaingan industri yang ketat.

Strategi PT. Malindo di tahun di 2026:

  • Memperkuat efisiensi operasional dan cost management;
  • Melanjutkan pembangunan solar panel untuk meningkatkan efisiensi energi dan mendukung keberlanjutan operasional;
  • Mengoptimalkan utilisasi bahan baku dan formulasi pakan;
  • Memanfaatkan potensi pertumbuhan demand domestik dan ekspor;
  • Melanjutkan digitalisasi dan peningkatan produktivitas operasional.

Kegiatan Perseroan di Tahun 2026

Pada tanggal 25 Mei 2026, Perseroan menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (“RUPST”). (Rilis)

SERATUS TAHUN ND, 55 TAHUN FKH UNAIR: DARI ANCAMAN VIRUS HINGGA VISI KAMPUS

Pembicara pada Seminar Perunggasan yang digelar SAGAVET UNAIR. Dari kiri: Prof Suwarno, Henri E. Prasetyo, dan Bilqis. (Foto: Istimewa)

SAGAVET UNAIR menggelar Seminar Perunggasan dan Hewan Kecil sekaligus launching buku “55 Tahun FKH UNAIR” di Hotel Wyndham Surabaya, Sabtu (23/5/2026). Acara yang dihadiri lebih dari 300 peserta dari kalangan industri, akademisi, praktisi, mahasiswa, dan alumni ini dibuka oleh Ketua SAGAVET periode 2025-2030, Drh Syailin bersama Dekan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (UNAIR), Prof Lilik Maslachah.

Pada sesi perunggasan, Prof Dr Suwarno membahas Newcastle disease (ND) atau tetelo yang telah menjadi ancaman industri unggas selama 100 tahun sejak pertama kali ditemukan di Batavia pada 1926. Virus ND kini mengalami banyak mutasi dan mampu menginfeksi lebih dari 250 spesies unggas.

Salah satu strain paling berbahaya adalah genotipe VII (GVII) yang menyebabkan tingginya angka kematian dan kerugian ekonomi besar. Menariknya, strain lentogenik ND juga memiliki potensi sebagai virus onkolitik yang dapat menghancurkan sel kanker manusia.

Sementara itu pada kesempatan yang sama, Henri E. Prasetyo memaparkan pentingnya precision nutrition dalam menghasilkan produk unggas berkualitas, sehat, aman, dan berkelanjutan. Menurutnya, perubahan tren konsumen global mendorong industry perunggasan melakukan transformasi strategi nutrisi berbasis functional food dan animal welfare.

Pada sesi hewan kecil, Prof Wiwik Misaco dan Dr Lina Susanti membahas tantangan diagnosis penyakit saraf dan mata pada hewan piaraan.

Selain pemaparan seminar, acara juga ditandai dengan peluncuran buku “55 Tahun FKH UNAIR” oleh Dr Rizky F. Meriawan yang menggambarkan perjalanan FKH UNAIR menuju institusi Teaching Industry berbasis One Health, SDGs, dan inovasi riset global. (Henri E. Prasetyo)

ADM SWINE FORUM 2026: DUKUNGAN ADM UNTUK INDUSTRI BABI INDONESIA

ADM Swine Forum 2026 diselenggarakan pada Selasa, 21 April 2026 di Bali. (Foto-foto: ADM)

Berlangsung pada 21 April di Hyatt Regency Sanur Bali, ADM Swine Forum 2026 mempertemukan para pemimpin industri, ahli nutrisi, dan produsen untuk membahas tantangan serta peluang yang terus berkembang dalam sektor babi global. Forum yang diselenggarakan oleh ADM Animal Nutrition ini menjadi platform strategis untuk bertukar wawasan, berbagi inovasi, dan mendorong solusi praktis guna meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan.

Acara ini dimoderatori oleh Prof Budi Tangendjaja, yang memastikan diskusi berjalan dinamis serta interaksi yang bermakna antara pembicara dan peserta sepanjang sesi.

Membuka forum, Wully Wahyuni, Country General Manager/Director ADM Animal Nutrition Indonesia, menekankan pentingnya kolaborasi di tengah kompleksitas industri yang semakin meningkat. Ia menyoroti bahwa sektor babi saat ini tidak hanya membutuhkan produk berkualitas tinggi, tetapi juga solusi terintegrasi berbasis sains yang didukung oleh kemitraan yang kuat.

Menurut Wully, forum ini tidak hanya dirancang sebagai wadah berbagi pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang untuk membangun dialog dan mendorong kolaborasi di seluruh rantai nilai. Ia menegaskan kembali komitmen ADM untuk menghadirkan solusi praktis yang siap diterapkan di lapangan, sesuai dengan kondisi pasar, sekaligus terus mendorong inovasi dan keberlanjutan. Industri babi di Indonesia, menurutnya, memiliki potensi pertumbuhan yang besar jika para pelaku bersedia beradaptasi dan berinvestasi pada sistem serta teknologi yang lebih baik.

“ADM Swine Forum ini salah satu bentuk komitmen kontribusi ADM terhadap industri peternakan. Setiap tahun kami merencanakan ada event seperti ini dimana kami mengundang industry stakeholder baik itu dari akademisi, praktisi, dan dari customer kami juga,” terang Country General Manager ADM Animal Nutrition Indonesia, Wully Wahyuni. “Para expert dari ADM juga dihadirkan supaya kita bisa exchange karena pastinya selalu ada teknologi dan inovasi baru. Saya berharap informasi-informasi itu juga bisa diadopsi di Indonesia.”

Menavigasi Industri Global dengan Biaya Tinggi dan Ekspektasi Tinggi

Fabio Catunda, Global Swine Director ADM, membuka sesi presentasi dengan gambaran menyeluruh tentang dinamika industri global. Ia menekankan bahwa daya saing kini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan, di tengah kenaikan biaya, keterbatasan sumber daya, serta perubahan preferensi konsumen.

“Keberhasilan tidak hanya bergantung pada peningkatan produksi, tetapi juga pada efisiensi dan tanggung jawab dalam proses produksi. Pemahaman terhadap struktur biaya mulai dari pakan, tenaga kerja, hingga investasi modal menjadi kunci dalam menjaga profitabilitas,” terang Fabio.

Salah satu poin penting yang disampaikannya adalah pentingnya benchmarking. Meskipun rata-rata global terus meningkat, produsen dengan performa terbaik secara konsisten berada di atas rata-rata. Kesenjangan performa ini menjadi peluang besar bagi mereka yang mau mengadopsi praktik manajemen yang lebih baik serta teknologi modern.

Teknologi kini mengubah sistem produksi babi secara signifikan. Fabio menyoroti pergeseran dari manajemen peternakan yang reaktif menuju pendekatan prediktif berbasis teknologi precision livestock. Perangkat seperti sistem monitoring real-time menggunakan kamera dan sensor memungkinkan peternak memantau perilaku ternak, mendeteksi gejala penyakit lebih dini, dan merespons dengan lebih efektif.

Ia juga memperkenalkan konsep produksi energi di dalam peternakan babi. Dengan mengolah kotoran menjadi biomethane dan biocarbon, peternakan dapat menciptakan sumber pendapatan tambahan sekaligus meningkatkan keberlanjutan lingkungan. Integrasi antara produksi protein dan energi ini berpotensi menjadi kunci masa depan industri.

Menyeimbangkan Pengurangan Antibiotik dan Permintaan Pasar

Peralihan menuju produksi bebas antibiotik menjadi topik penting lainnya. Fabio menjelaskan bahwa permintaan konsumen, terutama generasi muda, semakin mengarah pada produk daging yang alami dan bebas antibiotik.

Di beberapa pasar, daging babi bebas antibiotik memiliki nilai jual yang lebih tinggi. Namun, ia juga mengakui bahwa transisi ke sistem ini memiliki tantangan, seperti peningkatan risiko kematian dan kompleksitas manajemen.

Alih-alih menghilangkan antibiotik sepenuhnya, Fabio menyarankan pendekatan yang seimbang. Pengurangan penggunaan antibiotik yang dikombinasikan dengan solusi alternatif, seperti menjaga kesehatan usus, nutrisi yang lebih baik, dan manajemen peternakan yang optimal dapat menjaga performa sekaligus kesejahteraan hewan. Sistem traceability juga berperan penting dalam menangkap nilai tambah tersebut.

Nutrisi Sebagai Penggerak Efisiensi dan Profitabilitas

Dr Pedro Urriola, pakar nutrisi babi, memberikan wawasan mendalam mengenai strategi kecernaan energi dan protein. Ia menekankan bahwa pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam produksi, sehingga efisiensi nutrisi menjadi kunci profitabilitas.

Salah satu rekomendasi utamanya adalah penggunaan sistem net energy, yang memberikan gambaran lebih akurat tentang bagaimana hewan memanfaatkan pakan, terutama di kondisi tropis di mana heat stress memengaruhi metabolisme.

Ia juga menyoroti bahwa efisiensi harus dilihat dalam konteks ekonomi yang lebih luas. Pakan yang meningkatkan feed conversion belum tentu menghasilkan keuntungan lebih tinggi jika biayanya meningkat secara tidak proporsional. Oleh karena itu, strategi nutrisi harus disesuaikan dengan tujuan produksi yang spesifik.

Pada sisi protein, Dr Pedro menekankan pentingnya keseimbangan dan kecernaan asam amino. Ia mengatakan, ”Pendekatan yang beralih dari crude protein ke formulasi asam amino yang presisi memungkinkan performa yang lebih baik sekaligus mengurangi dampak lingkungan. Konsep seperti standardized ileal digestibility dan adaptive protein nutrition turut meningkatkan kemampuan penyesuaian pakan terhadap kondisi yang berbeda.”

Peran Zinc yang Presisi pada Babi

Pedro juga menyoroti peran strategis zinc dalam meningkatkan produktivitas induk dan performa anak babi. Ia menjelaskan bahwa zinc bukan sekadar trace mineral, tetapi komponen fungsional yang mendukung integritas usus, respons imun, dan ketahanan fisiologis secara menyeluruh, terutama pada fase kritis seperti masa bunting dan awal perkembangan.

Menurutnya, aplikasi zinc yang tepat pada induk bunting dapat memberikan dampak positif terhadap perkembangan janin, sehingga menghasilkan anak babi yang lebih kuat dan seragam saat lahir. Hal ini berkontribusi pada tingkat kelangsungan hidup dan performa pertumbuhan yang lebih baik pada fase awal produksi. Pada anak babi, zinc berperan penting dalam menjaga kesehatan usus, khususnya pada periode pasca-sapih ketika hewan sangat rentan terhadap stres dan gangguan pencernaan.

Pedro menekankan bahwa strategi zinc modern tidak hanya berfokus pada peningkatan level penggunaan. Sebaliknya, pendekatannya harus pada optimalisasi bioavailabilitas dan pemilihan sumber zinc yang tepat untuk memaksimalkan efektivitas sekaligus meminimalkan dampak lingkungan. Dengan meningkatnya tekanan regulasi terhadap penggunaan mineral, presisi dalam nutrisi zinc menjadi semakin penting untuk memastikan performa dan keberlanjutan.

Mengelola Heat Stress dan Menjaga Konsumsi Pakan

Heat stress masih menjadi tantangan utama dalam produksi babi di daerah tropis. Ermin Magtagnob, Technical Manager Swine Asia ADM, menjelaskan bahwa suhu tinggi secara signifikan menurunkan konsumsi pakan pada induk menyusui, yang berdampak langsung pada produksi susu dan pertumbuhan anak babi.

Ia menekankan bahwa palatabilitas pakan saja tidak cukup untuk mengatasi dampak heat stress. Diperlukan pendekatan holistik yang mencakup optimasi nutrisi, perbaikan kondisi kandang, serta manajemen yang lebih baik.

Strategi seperti peningkatan densitas nutrisi, pengaturan waktu pemberian pakan, dan perbaikan sistem ventilasi dapat membantu mengurangi dampak heat stress serta menjaga performa ternak.

Momen pemberian cinderamata untuk para pembicara dan moderator, Prof Dr Ir Budi Tangendjaja MSc MAppl

Memperkuat Biosekuriti di Seluruh Rantai Nilai

Biosekuriti tetap menjadi prioritas utama, terutama dalam menghadapi ancaman penyakit seperti African Swine Fever (ASF). Baik Fabio maupun Ermin menekankan pentingnya penerapan protokol yang ketat di seluruh level produksi.

Biosekuriti yang efektif membutuhkan pendekatan menyeluruh, mulai dari manajemen peternakan, operasional pabrik pakan, hingga kontrol rantai pasok. Risiko kontaminasi dapat terjadi di berbagai titik, sehingga konsistensi dan kewaspadaan sangat diperlukan.

Peningkatan biosekuriti tidak hanya penting untuk pencegahan penyakit, tetapi juga untuk memastikan keberlanjutan dan ketahanan industri dalam jangka panjang.

Alternatif Pengganti Beta-Agonist

Dr Chung-Hyun Kim, Director of CD&D ADM Animal Nutrition APAC, membahas kebutuhan untuk beralih dari penggunaan beta-agonist. Meskipun senyawa ini sebelumnya digunakan untuk meningkatkan performa pertumbuhan dan kualitas karkas, regulasi serta kekhawatiran konsumen semakin membatasi penggunaannya.

Ia menjelaskan bahwa strategi pertumbuhan ke depan akan mengandalkan nutrisi presisi, feed additive fungsional, serta teknik formulasi yang lebih maju. Pendekatan ini memungkinkan produsen mencapai performa yang sebanding tanpa bergantung pada input yang kontroversial.

SINCRO: Nutrisi Presisi untuk Masa Depan

Salah satu sorotan utama forum adalah SINCRO, platform nutrisi presisi dari ADM. Dengan mengintegrasikan analisis near-infrared (NIR), monitoring mikotoksin, dan pemodelan lanjutan, SINCRO memungkinkan penyesuaian formulasi pakan secara real-time.

Sistem ini membantu nutritionist merespons variabilitas bahan baku serta perubahan kondisi peternakan, sehingga meningkatkan konsistensi dan efisiensi. Hal ini mencerminkan pergeseran menuju pengambilan keputusan berbasis data dalam nutrisi hewan.

“SINCRO itu untuk semua spesies baik poultry, aqua, ruminansia, dan swine juga. Kami mempunyai strategi namanya 3S yaitu segmen, solution, dan service,” kata Wully. “Segmennya ternak apa, dan solusi apa yang bisa kami tawarkan? Kemudian service apa yang kami akan berikan? Karena produk saja tidak cukup. Produk bisa ditiru, namun service adalah hal yang berbeda.”

Mengubah Pengetahuan Menjadi Aksi

Menutup forum, Prof Budi menyampaikan refleksi yang jujur dan berdampak mengenai kondisi industri babi di Indonesia.

Ia menyoroti bahwa industri ini masih tertinggal dibandingkan negara tetangga seperti Vietnam, Thailand, Malaysia, dan Filipina, terutama dalam hal produktivitas, di mana jumlah anak per induk sering kali masih di bawah 10 ekor. Kesenjangan ini dipengaruhi oleh faktor genetika, kualitas pakan, dan praktik manajemen, serta fakta bahwa di banyak daerah, usaha peternakan babi masih dianggap sebagai bentuk tabungan, bukan bisnis komersial sepenuhnya.

Meski menghadapi berbagai tantangan, ia menegaskan pentingnya forum seperti ADM Swine Forum 2026. Platform seperti ini sangat penting untuk membuka wawasan industri terhadap pengetahuan global, teknologi baru, dan pendekatan inovatif.

Pada akhirnya, ADM Swine Forum 2026 menjadi cerminan kondisi saat ini sekaligus peta jalan menuju masa depan, menegaskan bahwa pertumbuhan berkelanjutan dalam industri babi akan bergantung pada efisiensi, inovasi, dan kolaborasi yang kuat. (Rilis)

MENAKAR KINERJA PERUSAHAAN PUBLIK PETERNAKAN DI TENGAH DINAMIKA PROGRAM MBG

Webinar Nasional dalam rangka HUT ke-34 Infovet, menampilkan Victor Stefano dan Bagus Pekik, yang dipandu oleh Bambang Suharno. (Foto: Dok. Infovet)

Kebijakan strategis pemerintah melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) diproyeksikan menjadi katalisator positif yang mampu mendongkrak kinerja emiten atau perusahaan publik di sektor peternakan/perunggasan nasional. Langkah intervensi ini dinilai efektif dalam menyerap hasil produksi daging ayam dan telur di tingkat domestik guna memperkuat kedaulatan protein bangsa.

Hal tersebut mengemuka dalam Webinar Nasional “Kinerja Perusahaan Publik Peternakan di Tengah Dinamika Program MBG” dalam rangka HUT ke-34 Infovet yang digelar pada Kamis (21/5/2026), dipandu oleh Pemimpin Redaksi Infovet, Bambang Suharno.

Acara dihadiri oleh sejumlah tokoh peternakan, antara lain Ketua Umum ASOHI Akhmad Harris Priyadi, Sugeng Wahyudi dan Setya Winarno (GOPAN), Indra Wahyudi (ADHMI), Baskoro Tri Caroko (konsultan perunggasan), Fadjar Sumping Tjaturrasa (Kementerian Pertanian), serta sejumlah tokoh perguruan tinggi, BRIN, dan lembaga terkait dari beberapa daerah.

Pada kesempatan tersebut, CMO PT Haida Indonesia, Bagus Pekik, didapuk sebagai narasumber yang memaparkan pandangan mendalam mengenai peran subsektor perunggasan nasional.

Menurutnya, sektor ini bukan sekadar lini bisnis biasa, melainkan pilar infrastruktur strategis untuk kedaulatan protein bangsa. Protein hewani berbanding lurus dengan peningkatan kualitas manusia Indonesia.

“Ayam dan telur adalah sumber protein yang paling cepat diproduksi, paling efisien, terjangkau, serta paling demokratis karena dapat diakses oleh hampir seluruh lapisan masyarakat,” ujar Bagus.

Kendati memiliki potensi besar, industri ini masih dibayangi berbagai tantangan klasik dan struktural. Bagus menyoroti volatilitas harga bahan baku pakan impor, seperti jagung dan bungkil kedelai (soybean meal/SBM). Hal ini krusial mengingat komponen biaya pakan menyerap porsi terbesar, yakni berkisar antara 60-70% dari total biaya produksi perunggasan.

Ia mengurai masalah pada sistem perunggasan nasional meliputi, di antaranya ketidakstabilan biaya pakan (feed cost), rantai pasok (supply chain) hulu hingga hilir yang terfragmentasi dan belum terintegrasi secara utuh, lemahnya distribusi logistik antarwilayah yang memicu disparitas pasokan (surplus vs defisit), tingginya ketergantungan pasar pada penjualan ayam hidup (live bird), serta minimnya infrastruktur hilirisasi dan rantai dingin (cold chain), hingga siklus kelebihan pasokan (oversupply) dan kekurangan pasokan (undersupply) yang terus berulang.

Dampak Finansial Kuartal I 2026
Dari sudut pandang pasar modal, Equity Research Analyst PT BRI Danareksa Sekuritas, Victor Stefano, yang juga menjadi narasumber, mengonfirmasi adanya lompatan performa yang solid pada kuartal I 2026 (1Q26). Berdasarkan data finansial terbaru, para integrator perunggasan berhasil membukukan laba bersih yang melampaui ekspektasi pasar berkat perbaikan dinamika supply-demand.

Emiten raksasa PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) sukses mencetak rekor laba bersih kuartalan tertinggi sebesar Rp 2,6 triliun pada 1Q26, melonjak 13% secara kuartalan (qoq) dan tumbuh signifikan 68% secara tahunan (yoy). Pendapatan kotor CPIN tercatat kokoh di angka Rp 33,3 triliun. Keberhasilan ini didukung oleh strategi pemanfaatan stok bahan baku pakan yang telah dibangun sejak kuartal keempat 2025 sehingga mampu meredam tekanan biaya produksi.

Langkah positif serupa juga diikuti oleh PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) yang membukukan laba bersih sebesar Rp 1,8 triliun pada 1Q26, melesat 14% qoq dan meroket 167% yoy. Pendapatan kotor JPFA melonjak 22% yoy mencapai Rp 27,2 triliun, didorong oleh pertumbuhan volume dan harga jual rata-rata (ASP) yang kuat di seluruh segmen.

Sementara itu, PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN) mencatatkan pertumbuhan tahunan yang solid dengan laba bersih Rp 123 miliar (naik 96% yoy), meskipun mengalami normalisasi margin sebesar 4,0% secara kuartalan akibat mulai meningkatnya tekanan biaya bahan baku.

Menurut analisis ini, program MBG yang mulai berjalan penuh pada awal 2026 diproyeksikan mampu menyerap tambahan sekitar 13,5-20,3% dari total produksi ayam bulanan. Jika program ini diimplementasikan secara menyeluruh hingga mencapai target 82,9 juta penerima manfaat, tingkat penyerapan pasar berpotensi melonjak hingga 16,5-24,7%/bulan. (RBS)

PETERNAK RAKYAT MENJERIT: PERMINDO GELAR KONSOLIDASI AKBAR SIKAPI ANJLOKNYA HARGA AYAM

Foto bersama dalam kegiatan konsolidasi peternak unggas rakyat mandiri yang digelar Permindo. (Foto: Infovet/Ridwan)

Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Permindo) menggelar konsolidasi akbar guna menyikapi krisis yang tengah melanda industri perunggasan rakyat. Pertemuan krusial yang berlangsung pada Rabu (20/5/2026) di Bogor ini dihadiri oleh jajaran pengurus pusat, perwakilan Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), Perhimpunan Peternak Unggas Nusantara (PPUN), Komunitas Peternak Unggas Nasional (KPUN), serta beberapa peternak mandiri dari berbagai daerah.

Kondisi riil di lapangan saat ini dinilai sudah berada pada tahap memprihatinkan. Para peternak rakyat terjepit di antara dua beban berat, yakni harga jual ayam hidup (live bird/LB) di tingkat peternak anjlok drastis, sementara di sisi lain harga bibit ayam (day old chick/DOC) dan pakan justru terus merangkak naik tanpa kendali.

Sekretaris Jenderal Permindo, Heri Irawan, mengungkapkan bahwa ketidakpastian pasar telah memicu praktik-praktik transaksi yang tidak sehat di lapangan. Regulasi harga seolah kehilangan taringnya dalam menghadapi realitas fluktuasi harian. Padahal sehari sebelumnya (Selasa, 19/5/2026), peternak rakyat bersama Kementerian Pertanian dan peternak skala besar telah duduk bersama agar harga jual LB di tingkat peternak bisa diangka Rp 19.500.

“Hari ini kami berkumpul bersama teman-teman peternak menyikapi kondisi harga live bird. Bahkan hingga sejam yang lalu (saat konsolidasi) situasi di lapangan masih menunjukkan adanya transaksi yang ‘kucing-kucingan’. Kondisi ini jelas tidak sejalan jika disandingkan dengan harga pakan dan DOC yang terus-menerus naik,” ungkap Herry.

Bahkan harga yang telah disepakati bersama pemerintah masih jauh dari harga pokok produksi (HPP) peternak yang berada diangka Rp 20.000-an ke atas, namun peternak tetap berupaya menjaga harga tersebut.

Kritik tajam juga dilayangkan terhadap efektivitas langkah-langkah darurat yang diambil oleh otoritas terkait. Ketua Umum Permindo, Kusnan, menilai intervensi yang dilakukan pemerintah selama ini belum menyentuh akar permasalahan mendasar yang dihadapi peternak rakyat mandiri.

“Saya melihat pertemuan di Kementerian Pertanian kemarin hanya berfungsi sebagai pemadam kebakaran saja, tidak menyelesaikan akar masalah. Kemarin kita sudah berupaya agar di angka Rp 21.000, kemudian turun lagi ke Rp 20.000, dan akhirnya kesepakatan itu pecah lagi. Oleh karena itu, kita harus kompak bergerak bersama sebelum memasuki momen krusial seperti Idul Adha dan bulan Suro,” ujar Kusnan.

Sementara itu, menurut salah seorang peternak yang hadir, Toto, menyuarakan keluhannya terkait hasil rapat di Kementan. Baginya, angka tersebut memaksa peternak untuk menanggung kerugian.

“Naik ke Rp 19.500 itu bagaimana? Sementara HPP-nya saja sudah mencapai Rp 21.800, masa kita dipaksa terus merugi? Tapi ya mau gimana. Kita sudah berusaha jangan sampai peternak rakyat mandiri jual di bawah HPP. Kita itu pebisnis, kita engga mau rugi, makannya kita suarakan kebenaran walaupun pahit. Makannya ayo kita kompak dan bersatu,” katanya.

Tiga Poin Resolusi Bersama Permindo
Guna menekan kerugian yang berkepanjang, Ketua Umum Permindo merumuskan tiga poin utama yang menjadi arah pergerakan ke depan.

Pertama, pengamanan harga jual minimal. Peternak sepakat untuk sementara waktu mendukung dan mengawal ketat batas harga Rp 19.500 sebagai benteng pertahanan terakhir, meskipun angka tersebut masih jauh dari ideal dan berada di bawah HPP peternak rakyat.

Kedua, penguatan daya tawar kolektif. Membangun soliditas dan persatuan nasional antarasosiasi peternak mandiri guna memperkuat posisi tawar agar mampu menangkap dan mengeksekusi program-program strategis dari pemerintah secara langsung.

Ketiga, mekanisme hilirisasi bersama. Menyusun tata cara dan menyambut mekanisme program hilirisasi produk perunggasan secara kolektif demi memperluas ketergantungan pada pasar segar (live bird market).

Diversifikasi Pasar dan Kemandirian Supplier
Dalam arahannya, Pembina Permindo, Hartono, menekankan pentingnya merancang ulang pola kerja sama dan pengawasan populasi guna menciptakan satu harga acuan yang ditaati bersama.

Menurutnya, jika peternak tidak kompak dalam menangani situasi ini dengan serius, ke depan ekosistem peternak mandiri bisa pecah. Pemain di industri ini semakin banyak dan padat. Sehingga dibutuhkan keputusan yang tegas dari pemerintah yang diinisiasi oleh soliditas peternak.

Di sisi lain, Wayan, seorang peternak, memberikan usulan taktis mengenai perluasan serapan pasar. Ia meminta agar peternak tidak hanya terpaku pada lingkaran Kementan saja. Permindo didesak untuk melayangkan petisi agar program jaminan sosial protein, penanganan stunting, hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG) diarahkan untuk menyerap produksi ayam dan telur dari peternak rakyat melalui Kementerian Perdagangan, Kementerian Sosial, dan Kementerian Kesehatan.

Menutup konsolidasi, Setya Winarno, perwakilan dari GOPAN mengingatkan seluruh peserta untuk tetap optimis namun realistis dalam bergerak.

“Mari kita kompak menjaga harga dasar Rp 19.500 ini sebagai langkah awal sambil terus berjuang menaikkannya. Manfaatkan setiap peluang program pemerintah, dan yang paling penting untuk keberlangsungan usaha ke depan jangan terlalu loyal atau bergantung pada satu supplier sapronak saja agar kita memiliki alternatif efisiensi biaya,” katanya. (RBS)

TECHNICAL MEETING INDO LIVESTOCK 2026, SIAP HADIRKAN INOVASI DAN PROGRAM UNGGULAN

Technical Meeting Indo Livestock 2026 Expo & Forum. (Foto: Istimewa)

Menjelang pelaksanaan Indo Livestock, Indo Feed, Indo Dairy, Indo Agrotech, Indo Vet, dan Indo Fisheries 2026 Expo & Forum, PT Napindo Media Ashatama (Napindo) sukses menggelar Technical Meeting pada Selasa (12/5/2026) bersama para peserta pameran, mitra, venue, dan stakeholder terkait.

Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian persiapan menuju pelaksanaan pameran yang akan berlangsung pada 16-18 Juni 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2, Tangerang.

Sebagai pionir pameran internasional industri peternakan di Indonesia, Indo Livestock terus konsisten menghadirkan platform strategis yang mempertemukan pelaku industri, pemerintah, asosiasi, akademisi, profesional, hingga investor. Melalui ajang ini, para stakeholder dapat memperluas jejaring bisnis, berbagi wawasan, memperkenalkan inovasi, serta mendorong kolaborasi lintas sektor.

Acara dibuka dengan sambutan dari Project Director Napindo, Lisa Rusli, yang menyampaikan apresiasi atas antusiasme dan kehadiran para peserta. “Sejak pertama kali diadakan pada 2002, Indo Livestock terus berkomitmen mempersembahkan yang terbaik sebagai wujud dukungan kepada industri pameran peternakan di Indonesia. Technical Meeting ini menjadi langkah penting dalam memastikan kesiapan seluruh rangkaian Indo Livestock 2026 Expo & Forum,” ujarnya.

“Kami optimis penyelenggaraan kali ini akan berjalan optimal serta menghadirkan peluang kolaborasi dan inovasi yang lebih besar bagi industri peternakan, poultry dan ruminansia, pakan ternak, pengolahan susu, pertanian, kesehatan hewan, alat-alat kedokteran hewan, perikanan, dan akuakultur di Indonesia.”

Sementara itu, Operation Director Napindo, Adhika Arthapaty, menegaskan bahwa kesiapan Napindo dalam menghadirkan penyelenggaraan pameran yang profesional dan berkualitas guna memberikan pengalaman terbaik bagi seluruh peserta dan pengunjung.

Technical Meeting ini turut dihadiri perwakilan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian. Dukungan pemerintah, kolaborasi industri, dan program unggulan pada penyelenggaraan edisi ke-19 ini, Indo Livestock secara resmi dituanrumahi oleh Kementerian Pertanian melalui Ditjen PKH. Pameran lintas industri ini juga mendapat dukungan dari 33 kementerian, lembaga, dan asosiasi yang bergerak di berbagai sektor industri terkait.

Tahun ini, Indo Livestock 2026 Expo & Forum siap menghadirkan lebih dari 600 peserta pameran dari 40 negara dengan target 20.000 pengunjung selama tiga hari pelaksanaan. Pengunjung tidak hanya dapat menjelajahi berbagai inovasi dan teknologi terbaru, tetapi juga memperoleh wawasan langsung dari para pakar industri mengenai isu dan tren terkini yang dapat mendukung pengembangan bisnis dan industri nasional.

Selain pameran dan forum, Indo Livestock 2026 juga akan diramaikan dengan sejumlah program unggulan, di antaranya Indo Livestock Grand Championship dan Youth Farmers Day, Program Sosialisasi SDTI (Susu, Daging, Telur, dan Ikan) yang dikemas dalam format Bazaar UMKM, Fun Activities, dan Talkshow turut menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung. (INF)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer