-->

TEGUH SUDARYATNO KEMBALI DIPERCAYA PIMPIN KAFAPET UNSOED

Ketua Umum Kafapet Unsoed Periode 2026-2030, Teguh Sudaryatno. (Foto: Dok. kafapet Unsoed)

Keluarga Alumni Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman (Kafapet Unsoed) kembali mempercayakan Teguh Sudaryatno sebagai Ketua Umum Kafapet Unsoed melalui Musyawarah Nasional VI (Munas VI) di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Sabtu (5/9/2026).

Sekretaris Panitia Munas VI Kafapet Unsoed, Farid Dimyati, mengatakan pemilihan ketua umum berlangsung lancar dan ditempuh melalui musyawarah mufakat setelah tiga kandidat memenuhi ketentuan dalam tata tertib persidangan.

"Alhamdulillah munas berjalan lancar. Dari data yang masuk sebenarnya ada lima bakal calon ketua umum, tetapi ada dua bakal calon yang tidak hadir secara luring di lokasi pelaksanaan munas, sehingga sebagaimana dipersyaratkan dalam tata tertib pemilihan dinyatakan gugur," ujarnya.

Dengan demikian, kata dia, terdapat tiga calon ketua umum yang memenuhi ketentuan dan selanjutnya mengikuti proses musyawarah untuk menentukan pemimpin KAFAPET UNSOED, di antaranya Teguh Sudaryatno, A. Bagus Pekik, dan Aries Teguh Wibowo.

Farid melanjutkan, setelah melalui musyawarah ketiga kandidat tersebut, mereka sepakat bahwa Teguh Sudaryatno akan kembali memimpin organisasi. Oleh sebab itu, sidang munas akhirnya menetapkan dan mengesahkan Teguh Sudaryanto sebagai Ketua Umum Kafapet Unsoed periode 2026-2030.

Sebagaimana diketahui, Teguh Sudaryatno sebelumnya dikukuhkan sebagai Ketua Umum Kafapet Unsoed pada 24 Februari 2025, menggantikan ketua sebelumnya periode 2021-2026, Bambang Rijanto Japutra, yang mengundurkan diri setelah terpilih sebagai Wakil Ketua IV Keluarga Alumni Unsoed (KAUNSOED).

Farid berharap dengan terpilihnya kembali Teguh Sudaryatno, organisasi Kafapet Unsoed menjadi lebih baik lagi serta terus memperkuat peran organisasi dalam membangun jejaring alumni dan berkontribusi bagi almamater.

Usai dipercaya kembali memimpin Kafapet Unsoed, Teguh Sudaryatno mengungkapkan salah satu prioritas yang akan dilakukan ialah membenahi dan memperkuat basis data alumni Fakultas Peternakan Unsoed.

"Yang pertama kita mungkin database alumni. Selama ini memang database belum rapi, jadi nanti alumni itu ada di mana saja bisa kami ketahui. Kemudian pada waktu kelulusan nanti juga langsung kita data untuk pengajuan kartu anggota alumni," katanya.

Ia juga menambahkan akan terus memperkuat koordinasi dengan para alumni di berbagai wilayah. Menurutnya, hal itu penting mengingat cakupan wilayah organisasi yang luas sehingga membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya.

Selain itu, penekanan terkait pentingnya memperkuat hubungan antara Kafapet dengan Fakultas Peternakan Unsoed melalui berbagai kegiatan yang melibatkan alumni dan mahasiswa.

"Hubungan dengan fakultas yang mungkin beberapa kegiatan yang terkait dengan alumni dan fakultas, baik mengadakan seminar, kemudian melakukan pembekalan untuk mahasiswa baru ataupun pembekalan untuk mahasiswa yang baru akan lulus," pungkasnya.

Ia berharap dengan terpilihnya kembali dirinya dapat menjalankan amanah tersebut dengan baik dan mendapat kesehatan serta kelancaran dalam melaksanakan tugas. (INF)

BAKTI ALUMNI SUKSESKAN PROGRAM HILIRISASI DALAM MUNAS VI KAFAPET UNSOED

Seminar Nasional dalam rangkaian Musyawarah Nasional VI Kafapet Unsoed. (Foto: Istimewa)

"Bakti Alumni Fakultas Peternakan Unsoed untuk Sukseskan Program Hilirisasi”, menjadi tema Seminar Nasional dalam rangkaian Musyawarah Nasional VI Keluarga Alumni Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman (Kafapet Unsoed) di Purwokerto, Sabtu (5/9/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Drijen PKH), Drh Agung Suganda, yang turut hadir mengajak perguruan tinggi, alumni, dan dunia usaha memperkuat kolaborasi untuk mempercepat hilirisasi peternakan nasional.

"Sinergi tersebut diperlukan agar riset dan inovasi dapat diterapkan menjadi teknologi, produk bernilai tambah, lapangan kerja, serta peningkatan kesejahteraan peternak," ujar Agung.

Ia menambahkan, pembangunan peternakan merupakan bagian penting dari upaya memperkuat ketahanan pangan dan kualitas sumber daya manusia. Ketahanan pangan, menurutnya, tidak hanya menyangkut karbohidrat, tetapi juga kecukupan protein hewani dari daging, susu, dan telur.

Untuk memperkuat kontribusi tersebut, pihaknya terus mendorong peningkatan produksi dan daya saing peternakan melalui penguatan pembibitan, reproduksi, pakan, kesehatan hewan, investasi, dan kemitraan dengan peternak rakyat.

Sebab, lanjut dia, hilirisasi tidak boleh dimaknai hanya sebatas membangun fasilitas pengolahan. Hilirisasi harus membentuk ekosistem yang menghubungkan produksi, teknologi, pengolahan, distribusi, dan pasar.

“Hilirisasi harus memberikan manfaat nyata. Produksi harus semakin efisien, pasar semakin luas, dan nilai tambah yang dihasilkan harus dapat dirasakan peternak,” tegasnya.

Dalam upaya tersebut, perguruan tinggi memiliki posisi penting sebagai penghasil sumber daya manusia, riset, dan inovasi. Agung mendorong agar penelitian tidak berhenti sebagai laporan akademik, tetapi diterjemahkan menjadi teknologi dan model usaha yang mampu menjawab kebutuhan peternak dan industri.

Semangat tersebut sejalan dengan pandangan Plt. Rektor Unsoed, Prof Ali Rokhman. Ia menilai hilirisasi membutuhkan hubungan yang semakin kuat antara pendidikan tinggi dan dunia industri, dengan alumni sebagai salah satu penggeraknya.

“Harus ada link and match antara dunia pendidikan tinggi dan dunia industri. Alumni memiliki jejaring dan pengalaman yang dapat menjadi jembatan antara kampus, pemerintah, industri, dan masyarakat,” ujar Prof Ali.

Ia juga menambahkan, perguruan tinggi kini dituntut tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat. Munas VI Kafapet Unsoed diharapkan menjadi momentum untuk menyatukan ilmu, pengalaman, jejaring, inovasi, dan semangat pengabdian.

“Mari kita jadikan alumni sebagai energi kolaborasi dan hilirisasi sebagai jalan menuju kemandirian serta ketahanan pangan bangsa,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Dekan Fakultas Peternakan Unsoed, Novie Andri Setianto, menyampaikan bahwa hubungan alumni dengan kampus tidak berakhir setelah kelulusan. Alumni tetap menjadi bagian penting dalam pengembangan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

“Bagi kami, alumni bukan sekadar mahasiswa yang telah lulus, tetapi mahasiswa yang telah menyelesaikan studi tanpa benar-benar meninggalkan kampus. Sejauh apapun melangkah, kampus Fakultas Peternakan selalu menjadi tempat untuk kembali,” kata Novie.

Menurutnya, seminar nasional dan Munas VI Kafapet Unsoed tidak hanya menjadi ruang konsolidasi organisasi, tetapi juga sarana untuk merawat kebersamaan dan memperkuat kontribusi alumni bagi almamater serta pembangunan peternakan Indonesia.

Sementara itu, Ketua Umum Kafapet Unsoed, Teguh Sudaryatno, mengatakan subsektor peternakan dituntut semakin adaptif, efisien, dan inovatif dalam menghadapi perubahan serta tantangan global. Karena itu, alumni yang berkiprah di pemerintahan, dunia usaha, pendidikan, dan penelitian perlu memperkuat sinergi dengan kampus dan masyarakat.

Diharapkan dari adanya forum ini dapat melahirkan gagasan baru, riset aplikatif, dan rekomendasi kebijakan yang relevan dengan kebutuhan peternak serta mendukung penguatan pangan nasional.

Munas VI Kafapet Unsoed juga menjadi bagian dari semangat Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan ke-190 tahun 2026. Kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, alumni, peternak, dan dunia usaha diharapkan mampu mendorong hilirisasi yang meningkatkan daya saing sekaligus menghadirkan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi peternak. (INF)

MENGUSUNG ONE HEALTH, ONE WELFARE, KIVNAS XXI RESMI DIGELAR

Foto bersama KIVNAS XXI. (Foto: Infovet/Ridwan)

Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) resmi menyelenggarakan Konferensi Ilmiah Veteriner Nasional (KIVNAS) XXI yang berlangsung pada 14-15 Agustus 2026, di Grand Serpong Hotel. Mengusung tema besar "One Health, One Welfare", gelaran ilmiah ini menampilkan beragam agenda strategis, mulai dari sesi pleno, presentasi ilmiah (oral dan poster), hingga seminar/workshop dari Unit Peminatan Non-Teritorial (UPNT).

​Rangkaian KIVNAS XXI hari pertama diawali dengan Morning Seminar yang menghadirkan Dr Drh Susan M. Noor, yang mengulas isu-isu krusial terkait kesehatan hewan nasional, termasuk kewaspadaan terhadap E. coli, isu resistansi antimikroba (antimicrobial resistance/AMR), serta pentingnya penggunaan antibiotik yang bijak dan bertanggung jawab pada hewan.

Usai pemaparan, acara dilanjutkan dengan sesi sambutan secara resmi oleh Sekretaris Jenderal Pengurus Besar (PB) PDHI, Drh Andi Wijanarko. Dalam sambutannya, Andi menyampaikan bahwa KIVNAS merupakan wahana penting untuk menyatukan ide demi kemajuan bersama profesi veteriner.

"Kita berkumpul di sini untuk memberikan ide bagi kemajuan kita bersama. KIVNAS ini adalah forum penting untuk memperkuat ilmu dan kolaborasi dalam memajukan kesatuan kedokteran hewan kita. Tema One Health, One Welfare mengingatkan bahwa kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan tidak terpisahkan," ujar Andi.

​Ia juga menegaskan bahwa posisi strategis dokter hewan yang selalu hadir dan dibutuhkan dalam isu-isu vital bangsa, seperti penanganan zoonosis, pengendalian AMR, hingga penjaminan ketahanan dan keamanan pangan. Mengingat KIVNAS digelar menjelang Peringatan Hari Kemerdekaan RI, Andi berharap KIVNAS XXI menjadi momentum nyata untuk mewujudkan dokter hewan Indonesia yang berintegritas, adaptif, dan kolaboratif demi melahirkan gagasan serta jejaring baru bagi masa depan.

Pada kesempatan yang sama, hadir sebagai Keynote Speaker, Direktur Kesehatan Hewan (Dirkeswan), Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, Drh Hendra Wibawa, menyampaikan visi pembangunan peternakan dan kesehatan hewan yang maju dan berkelanjutan. Pembangunan tersebut tidak hanya fokus pada peningkatan produksi, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan peternak dan penguatan sistem kesehatan hewan nasional.

Hendra juga memaparkan sejumlah tantangan kompleks yang masih dihadapi saat ini, seperti ancaman zoonosis, Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS), emerging infectious disease (EID), perubahan iklim, degradasi lingkungan, keamanan pangan, hingga dinamika perubahan sistem produksi peternakan, dan risiko AMR.

​Untuk menjawab kompleksitas tersebut, Hendra menyampaikan tiga pesan kunci. Pertama, proteksi. Yakni menjaga kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan untuk ketahanan kehidupan masyarakat.
"Yang kedua, promote. Dengan mempromosikan penguatan animal welfare karena keberadaannya penting bagi keberlanjutan usaha peternakan. Dan ketiga yaitu kolaborasi. Dengan memperkuat sinergi lintas sektor, karena tantangan ke depan yang semakin kompleks, sehingga seluruh pihak harus menjadi satu kesatuan demi pembangunan peternakan dan kesehatan hewan yang lebih maju dan berkelanjutan," tukasnya.

Usai pembukaan resmi oleh Dirkeswan, kegiatan KIVNAS XXI dilanjutkan dengan pemaparan materi dari jajaran pakar, akademisi, dan praktisi senior. Pada hari pertama, hadir narasumber di antaranya Prof Dr Drh Bambang Pontjo P. (Dosen Patologi SKHB IPB University, Sekjen FAVA), Dr Drh Nusdianto Triakoso (Ketua UPNT AKIVI, Wadir RSHP Unair, Dosen FKH Unair), Drh Kadek Agus Agra Arnawa (Senior Vet, Dokter Hewan Praktisi Central Vet Bali, Anggota UPNT ADBVI), hingga Drh Anang Triatmoko (Dokter Hewan Praktisi GAIA Small Animal Clinic, Anggota UPNT ADBVI).

Kemudian pada hari kedua diskusi ilmiah dilanjutkan dengan pemaparan dari Drh Akhmad Harris Priyadi (Ketua Umum Asosiasi Obat Hewan Indonesia/ASOHI), Dr Siraya Chunekamrai (Veterinary Practice in Thailand, Founder The Thai Pony Foundation), ​Dr Drh Hasbullah Abdurrachman (Konsultan Bisnis, Senior Veterinarian Standard Biosensor Indonesia), ​Prof Dr Drh Widagdo Sri Nugroho (Dosen Dept. Kesmavet FKH UGM & Koord. Bid. Peningkatan Kompetensi UPNT Askesmaveti), Dr Drh Fitria Senja Murtiningrum (Dosen SKHB IPB University, Anggota UPNT ADHPHKI), hingga Drh Fajriyanti Qurrotuain (Dokter Hewan Praktisi, Anggota UPNT ADHPHKI).

Melalui pemaparan materi dan diskusi interaktif selama dua hari, KIVNAS XXI diharapkan melahirkan gagasan inovatif serta memperkuat sinergi interprofesional demi mewujudkan kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan yang berkelanjutan di Indonesia. (RBS)

SEMARAK HUT KE-41, BBPMSOH HADIRKAN TALKSHOW, EKSPOSE KAJIAN ILMIAH, DAN BAZAR UMKM

Kegiatan talkshow menjadi momentum merefleksikan perjalanan 41 tahun BBPMSOH. (Foto: NDV/Infovet)

Tahun ini Balai Besar Pengujian Mutu Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH) memasuki usia yang semakin matang. Memperingati HUT ke-41 sekaligus HUT RI ke-81 BBPMSOH menyelenggarakan berbagai kegiatan.

Acara utama adalah Talkshow dan Ekspose Hasil Kajian Ilmiah BBPMSOH yang berlangsung pada Kamis, 6 Agustus 2026, bertempat di area parkir kantor BBPMSOH, Bogor. Hadir sebagai tamu antara lain UPT lingkup Direktorat Jenderal Peternakan, ASOHI, pensiunan BBPMSOH, berbagai instani pemerintah di Kecamatan Gunungsindur, dan mitra-mitra BBPMSOH.

Talskhow bertajuk “Kiprah BBPMSOH dari Masa ke Masa: Mengawal Mutu dan Keamanan Obat Hewan Indonesia serta Menjawab Tantangan Masa Depan”, menghadirkan narasumber yaitu Kepala BBPMSOH Drh Hasan Abdullah Sanyata, pejabat senior Kementan drh Fadjar Sumping Tjatur Rasa PhD, Ketua Kelompok Substansi Pengawas Obat Hewan Kementan Drh Arief Wicaksono , dan Ketua Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) Drh Akhmad Harris Priyadi. Talkshow dimoderatori oleh Drh Yuni Yupiana MSc PhD.

Acara semestinya dibuka oleh Dr Drh Agung Suganda MSi, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian (Kementan) yang berhalangan hadir. Sehingga diwakili oleh Direktur Kesehatan Hewan, Drh Hendra Wibawa MSi PhD yang membuka acara secara daring.

Dalam sambutannya, Hendra memaparkan. “Obat hewan merupakan komponen vital dalam mendukung produksi peternakan nasional. Oleh karena itu, mutunya harus terjamin mengingat obat hewan berdampak langsung terhadap kesehatan dan produktivitas ternak, keamanan pangan asal hewan, hingga kesehatan masyarakat. Dalam konteks tersebut, BBPMSOH memiliki peran strategis sebagai satu-satunya unit pelaksana teknis yang diakui pemerintah secara nasional dalam pengujian mutu, sertifikasi, analisis, dan pemantauan obat hewan.”

Hendra juga menyinggung sedikit mengenai isu resistensi antimikroba (AMR) yang telah menjadi perhatian global dan ancaman serius yang harus diantisipasi. 

“Meningkatnya penggunaan produk herbal sebagai alternatif pengobatan juga membutuhkan metode pengujian dan pengawasan yang relevan. Perkembangan tersebut menuntut BBPMSOH untuk terus memperkuat kapasitas, metode pengujian, serta kesiapan dalam merespons berbagai inovasi dan isu yang berkembang,” tuturnya. 

Jaminan mutu, khasiat, dan keamanan obat hewan pada akhirnya berkaitan erat dengan daya saing produk peternakan Indonesia, baik di pasar domestik maupun internasional. Semakin kuat jaminan terhadap kualitas dan keamanan obat hewan, semakin besar pula kepercayaan terhadap produk peternakan yang dihasilkan. Peran BBPMSOH menjadi semakin penting dalam memastikan obat hewan yang beredar aman, berkhasiat, dan memenuhi standar, sekaligus mendukung peningkatan daya saing sektor peternakan nasional di tengah tuntutan pasar yang semakin ketat.

Dalam sesi talkshow, Ketua ASOHI mengemukakan BBPMSOH memiliki peran strategis sebagai acuan dan parameter dalam memastikan mutu serta kelayakan obat hewan yang digunakan di industri peternakan. Standar pengujian yang diterapkan BBPMSOH juga dipandang tidak bersifat statis, melainkan terus berkembang mengikuti kemajuan teknologi dan perkembangan produk obat hewan. 

“Jika dahulu obat hewan lebih banyak dipersepsikan sebagai sarana untuk mengobati ternak ketika sakit, kini paradigma tersebut mulai bergeser ke arah promotion dan prevention. Industri peternakan dituntut untuk lebih mengedepankan pencegahan, karena ketika ternak sudah sakit dan membutuhkan pengobatan, kondisi tersebut dapat dikatakan sudah terlambat,” ungkap Harris.

BBPMSOH menjadi rujukan penting bagi pelaku usaha untuk memastikan produk obat hewan yang beredar dan digunakan di peternakan telah memenuhi persyaratan mutu dan keamanan. Sertifikasi dan hasil pengujian BBPMSOH memberikan parameter yang jelas dalam membedakan produk yang layak digunakan di lapangan. Keberadaan standar dan pengawasan tersebut sekaligus mendorong industri obat hewan dan peternakan menjadi lebih tertib, teratur, serta memiliki kepastian dalam memilih produk yang memenuhi standar.

Ekspose Kajian Ilmiah 

Talkshow dilanjutkan dengan Ekspose Kajian Ilmiah yang menghadirkan narasumber para penyelia dari laboratorium BBPMSOH. 

Antara lain Penyelia Unit Virologi, Penyelia Unit Bakteriologi, Penyelia Unit Uji Farmasetik dan Premiks. Acara ini dipandu oleh Drh Rahajeng Setiawaty, MSi sebagai moderator.

Pada hari yang sama pula, seperti perayaan tahun-tahun sebelumnya. BBPMSOH mengadakan bazar murah di area masuk BBPMSOH yang diikuti oleh 25 UMKM. Bazar yang meriah menawarkan buah-buahan, sembako, makanan, minuman, butik, barang antik, kosmetik, dan produk-produk lainnya. (NDV)

PETERNAK PETELUR SOLO RAYA GELAR AKSI DAMAI

Aksi damai peternak petelur yang tergabung dalam Gabungan Peternak Petelur se-Solo Raya di kawasan Bundaran Gladak, Solo. (Foto: Dok. Krishandrika)

Peternak petelur yang tergabung dalam Gabungan Peternak Petelur se-Solo Raya menggelar aksi damai di kawasan Bundaran Gladak, Solo, Rabu (5/8/2026). Dalam aksi yang berlangsung tertib tersebut, para peternak membagikan telur kepada masyarakat sebagai bentuk protes atas kondisi industri perunggasan yang kian memprihatinkan.

Ketua Pinsar Kabupaten Boyolali, sekaligus Penanggung Jawab Aksi Damai, Drh Krishandrika Immanuel Raharjo, mengungkapkan bahwa para peternak saat ini tertekan dari dua sisi. Di satu sisi, penyusun HPP melambung akibat tingginya harga pakan, sementara di sisi lain, harga jual telur di tingkat peternak justru tertekan. Kondisi ini memaksa peternak harus menanggung kerugian.

“Pemerintah harus hadir dan tidak sekadar menjadi ‘pemadam kebakaran’. Langkah pencegahan harus dilakukan sejak dini agar hal-hal yang tidak diinginkan dapat diantisipasi,” ujar Krishandrika dalam perbincangannya bersama Infovet, Kamis (6/8/2026).

Dalam aksi tersebut, terdapat beberapa poin yang menjadi tuntutan para peternak. Di antaranya penurunan harga pakan dan stabilisasi jagung dengan meminta pemerintah menstabilkan harga pakan. Jika diperlukan, pemerintah didesak membuka opsi impor jagung agar harganya dapat terealisasi sesuai Harga Acuan Pembelian (HAP), yakni Rp 5.500/kg.

Kemudian meminta penghentian monopoli impor BKK, lalu mendesak pemerintah segera mengisi kekosongan posisi Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), dan meminta pembentukan Kementerian Peternakan yang khusus menangani sektor peternakan secara fokus.

Selain menyampaikan tuntutan teknis, Krishandrika juga menekankan pentingnya evaluasi tata niaga perunggasan nasional secara menyeluruh bukan parsial. Ia juga menyoroti perlunya sinkronisasi kebijakan antar kementerian dengan mengikis ego sektoral demi kepastian usaha peternak.

Terkait desakan pembentukan Kementerian Peternakan, Krishandrika menilai sektor peternakan dan kesehatan hewan memiliki cakupan yang terlalu luas jika hanya dijadikan bagian dari Kementerian Pertanian.

“Urusan kesejahteraan masyarakat ditopang oleh kecukupan protein hewani, begitu pula kesehatan manusia yang erat kaitannya dengan kesehatan hewan. Ke depan, sektor strategis ini harus dipegang oleh lembaga tersendiri dan dipimpin oleh pihak-pihak yang kompeten,” tukasnya. (INF)

ASOHI JAWA TIMUR GELAR PELATIHAN PJTOH ANGKATAN XXX, PERKUAT PENGAWASAN & MUTU OBAT HEWAN

Pembukaan Pelatihan PJTOH ASOHI Daerah Jawa Timur dimeriahkan dengan aksi bermain angklung dan sesi foto bersama. (Foto-foto: Dok. ASOHI)

Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) Daerah Jawa Timur menyelenggarakan Pelatihan Penanggung Jawab Teknis Obat Hewan (PJTOH) Angkatan XXX di Santika Hotel, Malang, Jawa Timur, 4-5 Agustus 2026.

Acara yang berlangsung selama dua hari ini dihadiri para pemangku kepentingan, praktisi medis veteriner, serta perwakilan instansi pemerintah terkait untuk meningkatkan pemahaman regulasi, standar mutu, dan tata kelola peredaran obat hewan.

Pelatihan dibuka pada Selasa (4/8/2026), dengan rangkaian sambutan oleh Ketua ASOHI Daerah Jawa Timur Drh Suyud, Ketua Umum ASOHI Drh Akhmad Harris Priyadi, Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur Dr Ir Indyah Aryani MM, serta pembukaan resmi oleh Direktur Kesehatan Hewan (Dirkeswan) Drh Hendra Wibawa MSi PhD. Acara pembukaan juga dimeriahkan dengan aksi bermain angklung dan sesi foto bersama.

Pembukaan resmi secara daring oleh Dirkeswan Drh Hendra Wibawa MSi PhD.

Sesi materi diawali oleh Ketua Umum ASOHI, yang memaparkan peran ASOHI, etika profesional, tanggung jawab hukum dan teknis PJTOH, serta tata cara hubungan kerja dengan instansi pengawas. Pemaparan dilanjutkan oleh Ketua Koordinator Substansi Pengawas Obat Hewan, Drh Arief Wicaksono MSi, yang menyampaikan materi mengenai kebijakan dan regulasi obat hewan, mencakup undang-undang, sistem pengawasan, penanganan obat hewan ilegal, hingga sanksi administratif.

Pada sesi berikutnya menghadirkan pemaparan dari Korwil PDHI Jawa Timur, Drh Deddy F. Kurniawan MVet, tentang peran dokter hewan dalam industri obat hewan dan apotek veteriner. Materi dilanjutkan oleh Ketua Tim Kerja Mutu Obat Hewan, Drh Liys Desmayanti MSi, yang mengulas secara mendalam prinsip Cara Pembuatan Obat Hewan yang Baik (CPOHB), Cara Distribusi Obat Hewan yang Baik (CDOHB), pengadaan, penyimpanan, hingga prosedur penarikan obat (recall).

Hari pertama ditutup dengan paparan dari Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH) yang diwakili oleh apt Muhammad Zahid SSi MSc, mengenai penjaminan mutu, pengujian sampel, dan rantai dingin (cold chain).

Memasuki hari kedua Rabu (5/8/2026), pelatihan dibagi ke dalam dua ruangan paralel pada sesi pagi untuk mendalami topik spesifik, di antaranya Ruang I (perusahaan obat hewan) berfokus pada pendaftaran dan peredaran pakan (medicated feed) yang dibuka secara daring oleh Direktur Pakan Dr Ir Tri Melasari SPt MSi, bersumber dari pemaparan Ahmad Riza Muzammil (Kabid Perbibitan, Pakan, dan Produksi Peternakan Jatim). Sesi dilanjutkan dengan pembahasan kebijakan karantina obat hewan oleh Drh Wirawan Budi Utomo dari Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Jawa Timur.

Hari kedua Pelatihan PJTOH dibuka oleh Direktur Pakan Dr Ir Tri Melasari SPt MSi melalui daring.

Sementara pada Ruang II (peredaran obat hewan), membahas peran apoteker dalam industri dan apotek veteriner bersama akademisi UGM, Dr apt Nunung Yuniarti SF MSi, serta pemenuhan perizinan apotek veteriner oleh Drh Hilda Sari dari DPMPTSP Kota Malang.

Memasuki sesi pleno kembali, peserta mendapatkan pembekalan materi mengenai regulasi perizinan apotek veteriner dan Surat Izin Praktik Apoteker (SIPA) oleh apt Drs Suhartono MFarm dari Ikatan Apoteker Indonesia (IAI). Disambung dengan penjelasan peredaran bahan baku obat lintas sektor oleh Wahyuwasti Kiki Mustikasari SFarm Apt MSc dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Pada sesi berikutnya, Ketua Bidang Peredaran ASOHI, Drh Andi Wijanarko, mengulas penggunaan obat hewan secara rasional guna mencegah resistansi antimikroba (AMR) dan memperhatikan withdrawal time (waktu henti obat). Penata Perizinan Ahli Muda DPMPTSP Provinsi Jawa Timur, Debby Febriyanti SE, turut memberikan informasi update perizinan berusaha berbasis Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2025. 

Rangkaian materi pelatihan diakhiri oleh Kabid Kesehatan Hewan/PPNS Dinas Peternakan Jatim, Dr Drh Iswahyudi MP, yang memaparkan tata cara dokumentasi dan pelaporan stok obat hewan, serta peran Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) dalam menindak peredaran obat hewan ilegal pada ritel seperti petshop dan poultry shop. Kegiatan diakhiri dengan pelaksanaan post-test, kuis, dan penutupan resmi oleh panitia.

Pihak penyelenggara mengharapkan melalui pelatihan ini para PJTOH memiliki pemahaman lebih mendalam mengenai etika profesi, tanggung jawab hukum, dan peran teknis di berbagai lini industri. Juga kegiatan ini diharapkan dapat mempererat koordinasi dan kemitraan antara praktisi/pelaku usaha dengan instansi pembina dan pengawas, seperti Dinas Peternakan, BBPMSOH, BPOM, BKHIT (Karantina), serta DPMPTSP, sehingga tercipta iklim usaha yang patuh terhadap regulasi dan perizinan berusaha terbaru. (INF)

MENUJU EDISI KE-20: GRAND LAUNCHING INDO LIVESTOCK 2027 EXPO & FORUM RESMI DIGELAR

Grand Launching Indo Livestock 2027 Expo & Forum, Selasa (28/7/2026). (Foto: Dok. Infovet)

PT Napindo Media Ashatama secara resmi menyelenggarakan momentum penting Grand Launching Indo Livestock 2027 Expo & Forum di Aloft South Jakarta Hotel, Selasa (28/7/2026). Peluncuran resmi ini menandai dimulainya tahapan persiapan menuju pameran bisnis peternakan dan kesehatan hewan terbesar di Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada 21-23 Juli 2027 mendatang di Grand City Convex, Surabaya.

Penyelenggaraan Indo Livestock 2027 Expo & Forum tidak hanya hadir sebagai ajang pameran dagang tahunan, tetapi juga diproyeksikan sebagai ruang kolaborasi strategis dalam mendorong kemajuan subsektor peternakan dan kesehatan hewan nasional. Melalui berbagai kerja sama, para pemangku kepentingan industri diharapkan dapat saling memperkuat sinergi, memperluas jaringan bisnis, serta meningkatkan daya saing peternakan Indonesia di tingkat global.

Project Director PT Napindo Media Ashatama, Lisa Rusli, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh pihak yang secara konsisten mendukung perjalanan Indo Livestock hingga saat ini.

“Kami sampaikan apresiasi kepada Kementerian Pertanian selaku tuan rumah, serta dukungan dari kementerian, lembaga, asosiasi, mitra bisnis, peserta pameran, hingga insan media. Melanjutkan keberhasilan tema sebelumnya, Indo Livestock 2027 Expo & Forum akan terus hadir sebagai platform strategis yang mendukung pengembangan peternakan dan kesehatan hewan nasional,” ujar Lisa.

Lisa menegaskan, pameran di tahun mendatang memiliki arti yang sangat istimewa. Memasuki edisi ke-20, pameran ini sekaligus menjadi penanda reflektif 25 tahun perjalanan konsisten Indo Livestock dalam menjembatani ekosistem bisnis dan pengetahuan peternakan di Indonesia. Perjalanan seperempat abad ini merupakan cerminan komitmen berkelanjutan Napindo dalam memfasilitasi teknologi, inovasi, serta peluang investasi di subsektor peternakan dan kesehatan hewan.

“Penyelenggaraan Indo Livestock 2027 Expo & Forum di Surabaya merupakan langkah strategis untuk memperluas jangkauan ke wilayah ekosistem peternakan yang kuat. Hal ini memberikan akses yang lebih luas bagi pelaku usaha di wilayah Jawa Timur dan sekitarnya, sekaligus menciptakan peluang investasi baru,” jelasnya.

Pada kesempatan yang sama, Junior Sales Manager Indo Livestock, Agnes Nilam, turut memaparkan gambaran komprehensif mengenai rencana pelaksanaan Indo Livestock 2027 Expo & Forum. Pemaparan tersebut mencakup target pengunjung, profil peserta pameran, tata letak area pameran, hingga berbagai agenda forum pendukung.

Agnes menjelaskan, Indo Livestock 2027 Expo & Forum ditargetkan akan menghadirkan sekitar 15.000 pengunjung, dengan luas area pameran 5.169 m2, yang akan diikuti oleh sekitar 300 perusahaan dan prinsipal dari 30 negara, dengan menghadirkan 10 paviliun negara. Pameran ini juga bersinergi dengan Indo Feed, Indo Dairy, Indo Vet, dan Indo Fisheries.

Dengan dimulainya rangkaian tahapan peluncuran ini, pihak penyelenggara berharap sinergi yang terjalin antara pemerintah, asosiasi profesi, akademisi, dan pelaku usaha dapat terus memperkuat ekosistem peternakan Indonesia yang maju, mandiri, dan berdaya saing. (RBS)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer