-->

MENGEFEKTIFKAN KINERJA SALURAN PENCERNAAN

Kepadatan kandang harus diperhatikan agar meminimalisir stres. (Foto: Gemini)

Agar nutrisi yang ada pada ransum dapat diserap sempurna, dibutuhkan sistem pencernaan yang bekerja optimal. Saluran pencernaan yang berfungsi secara optimal akan mampu memaksimalkan nilai pemanfaatan ransum melalui proses pencernaan dan penyerapan nutrisi.

Dalam aspek pemeliharaan ayam, banyak tantangan yang dihadapi peternak di masa kini. Masalah pada saluran pencernaan kerap kali terjadi, baik yang bersifat infeksius maupun non-infeksius. Apalagi kala keduanya berkomplikasi dan menimbulkan masalah yang cukup serius di lapangan.

Efisiensi dan Kinerja Saluran Cerna Adalah Kunci
Dalam dunia perunggasan sudah dipahami bahwa pakan memegang peranan penting dalam keberlangsungan hidup, baik ayam maupun peternaknya. Persentase terbesar dalam bisnis perunggasan berasal dari pakan, yakni sekitar 60-70%.

Siapa yang paling efisien dalam biaya pakan maka dialah yang akan mendapat margin terbesar. Hal tersebut juga sering ditemui dalam program-program kemitraan bisnis unggas, plasma berusaha seefisien mungkin untuk menghasilkan performa terbaik dengan pakan.

Dari kacamata lain, juga tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan genetik ayam di masa kini sangat pesat. Jika pada masa awal perkembangannya, broiler baru bisa dipanen dalam kurun waktu dua bulan, kini sudah bisa dipanen dalam waktu separuhnya. Hal yang hampir serupa juga terjadi pada ayam petelur yang genetiknya sudah berkembang sedemikian rupa hingga dapat menghasilkan telur yang banyak dalam kurun waktu tertentu.

Hal senada pernah diutarakan oleh Guru Besar Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Prof Komang Wiryawan, dalam suatu seminar. Menurutnya, kini ayam memiliki pertumbuhan lebih cepat, namun memiliki kekurangan.

“Perkembangan ternak ayam terutama pedaging ini sangat luar biasa, sebab pada waktu berumur sehari bobotnya masih 40-an gram, lalu dalam waktu kurang dari sebulan bobotnya bisa mencapai lebih dari satu kilogram, itu artinya naik lebih dari 20 kali lipat,” ujarnya.

Kendati demikian, walaupun pertumbuhannya cepat, keluhan-keluhan peternak terutama masalah penyakit kerap datang menyerang. “Ayam modern bisa dibilang mudah stres kalau tidak dipelihara dengan baik pasti sakit, pakannya tidak cocok juga sakit, begitupun jika kandang kurang layak ayam juga sakit,” jelasnya.

Oleh karenanya perlu diterapkan manajemen yang baik dalam pemeliharannya, terutama pakan. “Karena makhluk hidup itu nutrisinya dari situ, kualitas pakan harus terjaga, coba lihat kalau nutrisinya tidak mendukung, pasti stres ayam, gampang terkena penyakit. Belum lagi kalau pakan terkontaminasi zat bahaya seperti mikotoksin, tentu akan makin parah,” ucapnya.

Dirinya juga tidak memungkiri bahwa aspek manajemen... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Oktober 2026. (CR)

CARA KERJA FITOBIOTIK MENGOPTIMALKAN PRODUKSI UNGGAS

Dampak keseluruhan berbagai komponen bioaktif dari fitobiotik terhadap kesehatan usus ayam. (Sumber: BioRender.com)

Penggunaan antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan (AGP) dan peningkat kesehatan saluran pencernaan dalam produksi ayam pedaging telah lama dipraktikkan karena efektivitasnya dalam meningkatkan laju pertumbuhan dan efisiensi pakan, serta memberikan pengaruh positif terhadap mikrobiota usus dan imunitas bawaan, manfaat-manfaat ini secara keseluruhan berkontribusi pada kesehatan dan performa unggas yang lebih baik (Gadde U, Kim WH, Oh ST, Lillehoj HS, 2017).

Namun, manfaat penggunaan antibiotik kini semakin dibayangi risiko terkait dengan residu obat dalam produk hewani (Ronquillo MG, Hernandez JCA. 2017). Sebagai contoh, antibiotik seperti tetrasiklin dan amfenikol telah terdeteksi dalam produk pangan, sehingga menimbulkan risiko bagi kesehatan konsumen (Diarra MS, Malouin F. 2014). Selain itu, penelitian oleh Hur dkk,  menemukan isolat Salmonella enterica yang berasal dari telur dan karkas ayam menunjukkan resistansi terhadap berbagai jenis antibiotik, termasuk penisilin, sulfisoksazol, streptomisin, tetrasiklin, dan kuinolon.

Resistansi ini tidak hanya mengganggu kesehatan unggas, tetapi juga meningkatkan risiko kontaminasi sekunder pada produk hewani, sehingga mengancam kesehatan masyarakat. Mengingat meningkatnya kekhawatiran terkait resistansi antibiotik dan masalah residu, terjadi pergeseran dalam produksi broiler menuju penghapusan penggunaan antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan dan peningkat kesehatan saluran pencernaan.

Baru-baru ini, sebuah studi oleh Iwinski dkk. (Iwinski H, Wódz K, et al., 2022), menunjukkan campuran fitogenik dapat secara efektif menghambat galur Salmonella enterica subsp. yang resistan terhadap antibiotik, termasuk serovar Enteritidis, Typhimurium, yang mengindikasikan efektivitas aktivitas antimikrobanya. Pergeseran ini menegaskan perlunya strategi alami alternatif yang mampu menjaga kesehatan dan performa hewan tanpa berkontribusi terhadap resistansi antibiotik.

Dalam produksi unggas modern, broiler dibiakkan secara selektif untuk pertumbuhan yang cepat dan peningkatan massa daging dada, yang pada gilirannya menyebabkan laju metabolisme tinggi (Maharjan P, Martinez D, et al., 2021). Proses seleksi ditambah sistem produksi yang intensif ini, memaparkan ayam-ayam tersebut pada berbagai faktor pemicu stres, termasuk periode pencahayaan yang panjang, kadar debu, amonia yang tinggi, hingga beban patogen, faktor-faktor ini secara bersama-sama memicu stres oksidatif (Mishra B, Jha R, 2019).

Akibatnya, produksi reactive oxygen species (ROS) meningkat pesat, sehingga mengganggu keseimbangan antioksidan, merusak kesehatan saluran pencernaan, dan pada akhirnya memengaruhi performa secara keseluruhan, yang berujung pada kerugian ekonomi yang signifikan (Surai PF, Kochish II, Fisinin VI, Kidd MT, 2019).

Oleh karena itu, pengelolaan kesehatan saluran pencernaan yang... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi September 2026.

Ditulis oleh:
Drh Arief Hidayat
Praktisi Perunggasan

MENYOAL SEDIAAN HERBAL UNTUK KESEHATAN TERNAK YANG OPTIMAL

Berbagai jenis herbal yang dapat dimanfaatkan tersedia di Indonesia. (Foto: Gemini)

Ada sekitar 40 ribu spesies tanaman di dunia dan sekitar 30 ribu di antaranya ada di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, sekitar 9.600 spesies tanaman tadi telah terbukti memiliki khasiat sebagai obat. Sedangkan lebih dari 1.000 di antaranya dimanfaatkan sebagai obat herbal tradisional oleh masyarakat Indonesia.

Di Indonesia obat herbal lebih akrab dengan sebutan jamu. Sejak zaman dulu, masyarakat Indonesia telah lama memanfaatkan sediaan herbal sebagai obat. Dari pengertiannya, obat herbal adalah obat yang zat aktifnya berasal dari tanaman (daun, batang, akar, kayu, buah, ataupun kulit kayu).

Di masa kini tren gaya hidup manusia semakin berubah, termasuk dalam hal kesehatan. Manusia di masa kini menganut tren kembali ke alam, sehingga banyak di antaranya yang mengonsumsi obat-obatan herbal dan jamu demi menunjang kesehatannya. Begitupun dengan ternak, kenyataannya sediaan herbal juga dapat digunakan sebagai terapi dalam kesehatan hewan ternak.

Herbal bukan hanya Jamu
Jamu memang sudah sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia. Penggunaannya tidak terbatas hanya pada manusia saja, tetapi juga pada hewan.

Sering kali ketika ada kontes ternak, karapan sapi, atau event sejenis, pemilik hewan kerap memberikan jamu untuk ternaknya agar kondisinya lebih prima pada saat kontes.

Nah, sebenarnya sediaan herbal tradisional bukan hanya jamu, ada beberapa kategori sediaan berdasarkan pengelompokkannya. Seperti diutarakan oleh Guru Besar SKHB IPB University, Prof Drh Min Rahiminawati. Menurut penuturannya, obat herbal di Indonesia terdiri atas tiga golongan yakni jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka.

Jamu merupakan obat bahan alam yang sediaannya masih berupa bentuk asli (daun, rimpang, batang, dan lainnya). Setelah lolos uji pra-klinik, jamu dikategorikan menjadi Obat Herbal Terstandar (OHT). Tingkat paling tinggi disebut sebagai fitofarmaka, di mana keamanan dan khasiat obat bahan alam sudah lolos uji pra-klinik dan uji klinik, serta bahan baku dan produk jadinya sudah terstandarisasi. Namun, kategorisasi tersebut hanya ada pada sediaan obat manusia.

“Untuk hewan mungkin sepertinya belum, tetapi saya lihat semakin kemari kayaknya makin banyak sediaan herbal, apalagi untuk ternak unggas. Tentunya ini indikasi positif untuk sediaan herbal, semoga semakin bergairah juga untuk industrinya menggunakan sediaan herbal,” ujar Prof Min.

Selain jamu, beberapa jenis tanaman dapat menghasilkan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi September 2026. (CR)

DETEKSI PERSISTEN INFEKSI DAN MUSNAHKAN, CARA TEPAT KENDALIKAN BOVINE VIRAL DIARRHEA

Usaha breeding terus dilakukan untuk pengembangan sapi di Indonesia. (Foto: Infovet/Dok. Joko)

Pengembangan peternakan sapi di Indonesia terus dilakukan untuk meningkatkan populasi sapi secara nasional dan meningkatkan kesejahteraan peternak. Sapi sudah menjadi komoditas strategis nasional karena menjadi sumber protein hewani sebagian masyarakat Indonesia. Usaha breeding dilakukan di tingkat peternak rakyat, kelompok ternak, koperasi, korporasi, instansi pemerintah, hingga industri peternakan sektor swasta.

Hingga saat ini peternakan breeding masih menghadapi cukup banyak kendala dan tantangan terkait produktivitas, performa reproduksi, biaya produksi, angka kematian karena penyakit, serta harga pasca panen yang terkadang tidak bersahabat. Beberapa penyakit masih menjadi musuh besar pengembangan breeding di Indonesia seperti penyakit mulut dan kuku, septisemia epizootika, parasit darah, Bovine viral diarrhea (BVD), dan penyakit lainnya.

BVD merupakan penyakit endemik di sebagian besar wilayah dunia dengan prevalensi sedang-tinggi pada peternakan sapi perah dan sapi potong. Penyakit ini dianggap sebagai salah satu patogen infeksius paling signifikan dalam industri peternakan. Virus BVD merupakan virus RNA untai tunggal berselubung kecil, sekitar 12,5 kb, anggota genus Pestivirus, famili Flaviviridae. Genus Pestivirus terdiri dari empat spesies, yaitu BVDV-1 dan BVDV-2 (sebelumnya disebut sebagai genotipe 1 dan 2), classical swine fever pada babi, dan border disease pada domba.

BVD dikategorikan menjadi dua biotipe berdasarkan karakteristik pertumbuhannya dalam kultur sel biotipe sitopatik dan biotipe non-sitopatik. Biotipe sitopatik (CP) yang langka akan merusak kultur jaringan dan biotipe non-sitopatik (NCP) yang jauh lebih umum tidak akan merusaknya. Biotipe NCP memiliki tropisme untuk leukosit, organ limfoid, dan saluran pernapasan, sementara biotipe CP lebih terbatas pada saluran pencernaan.

Infeksi ini dapat menyebabkan kerugian ekonomi besar karena tingkat kesakitan, kematian, penurunan kesuburan dan produksi susu, performa pertumbuhan yang lambat, diare, kematian pedet, hingga penyakit pernapasan. Penyakit ini juga menyebabkan disfungsi reproduksi seperti aborsi, teratogenesis, resorpsi embrio, mumifikasi janin dan lahir mati, imunosupresif, mudahnya terjadi infeksi sekunder, penurunan produktivitas, dan kondisi infeksi persisten (PI) pada pedet.

Infeksi sementara (trancient infection/TI) pada sebagian besar spesies mengakibatkan gejala menciri BVD, yaitu rendahnya performa reproduksi, penyakit pernapasan, dan imunosupresi. Sapi-sapi TI berperan hingga 93% infeksi rahim yang mengakibatkan kelahiran pedet PI. Secara umum, TI dapat dibagi menjadi lima kategori, yakni akut, akut parah, infeksi hemoragik, penyakit pernapasan, dan imunosupresi. Infeksi akut memiliki peranan penting dalam penularan dan sheeding virus dalam populasi hewan (domestik dan liar).

Tipe BVD akut parah menyebabkan morbiditas dan mortalitas tinggi pada hewan yang rentan. Infeksi primer dengan beberapa strain BVD-2 yang sangat virulen menyebabkan perjalanan penyakit perakut hingga akut dan tanda-tanda demam, kematian mendadak, diare, atau pneumonia. Patogenesis BVD-2 paling sering dikaitkan dengan peningkatan virulensi strain. Produksi sitokin inflamasi, sebagai respons terhadap infeksi luas pada fagosit mononuklear, telah diduga sebagai penyebab penyakit parah ini. Dalam beberapa kasus, terjadi penurunan trombosit yang diikuti dengan gejala klinis termasuk perdarahan mukosa, diare berdarah, serta gangguan pencernaan lainnya. BVD juga menyebabkan penyakit kronis dan mucosal disease pada hewan PI.

Rute penularan utama pada populasi yaitu... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2026.

Ditulis oleh:
Dr Drh Joko Susilo MSc APVet (Wartawan Infovet Daerah Lampung)
& Drh Catrine Relia Patrecia Gultom (Kementan)

CRD BUKAN SEKADAR INFEKSI: SAAT KECERNAAN NUTRISI MENJADI KUNCI KESEHATAN PERNAPASAN AYAM


Selama ini, chronic respiratory disease (CRD) pada ayam broiler maupun layer lebih sering dikaitkan dengan infeksi Mycoplasma gallisepticum (MG), yang dikenal sebagai salah satu patogen utama penyebab gangguan saluran pernapasan. Tidak mengherankan jika berbagai upaya pengendalian di lapangan masih didominasi oleh penggunaan antibiotik, vaksinasi, peningkatan biosekuriti, serta perbaikan ventilasi kandang.

Namun, pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa keberadaan MG tidak selalu berujung pada gejala klinis yang berat. Sebaliknya, banyak peternakan mengalami kasus CRD yang kompleks akibat kombinasi berbagai faktor, mulai dari tingginya kadar amonia, kualitas litter yang buruk, kepadatan kandang, stres lingkungan, hingga ketidakseimbangan nutrisi pakan.

Perkembangan ilmu nutrisi unggas dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa kesehatan saluran pernapasan tidak dapat dipisahkan dari kesehatan saluran pencernaan. Konsep gut-lung axis menjelaskan adanya komunikasi biologis antara usus dan paru-paru melalui sistem imun mukosa, metabolit mikrobiota, serta mediator inflamasi. Artinya, kualitas nutrisi yang dikonsumsi ayam dan kemampuan saluran pencernaan dalam mencerna serta menyerap nutrient akan sangat menentukan kemampuan ayam menghadapi tantangan penyakit respirasi, termasuk CRD.

Ketika Kecernaan Nutrisi Menentukan Ketahanan Ayam
Tujuan utama formulasi pakan bukan lagi sekadar memenuhi kebutuhan nutrisi berdasarkan angka kandungan protein atau energi, tetapi memastikan bahwa nutrien tersebut benar-benar dapat dicerna dan dimanfaatkan secara optimal oleh ayam. Nutrisi yang memiliki kecernaan tinggi akan menghasilkan penyerapan asam amino dan energi yang lebih efisien, sehingga mendukung pertumbuhan, produksi telur, sekaligus memperkuat sistem imun.

Sebaliknya, nutrien yang tidak tercerna akan menjadi substrat bagi bakteri di saluran pencernaan bagian bawah. Fermentasi protein oleh bakteri proteolitik menghasilkan berbagai senyawa seperti amonia, amina biogenik, indol, dan hidrogen sulfida yang bersifat iritatif terhadap mukosa usus. Kondisi ini memicu dysbiosis, meningkatkan permeabilitas usus (leaky gut), dan mengaktifkan respons inflamasi sistemik.

Dampaknya tidak hanya terbatas pada saluran pencernaan, tetapi juga memengaruhi jaringan mukosa saluran pernapasan sehingga ayam menjadi lebih rentan terhadap kolonisasi MG maupun infeksi bakteri sekunder seperti E. coli. Dengan kata lain, kesehatan saluran pernapasan sebenarnya dimulai dari usus yang sehat.

Protein Berlebih: Produktif atau Justru Menjadi Beban?
Masih banyak dijumpai anggapan bahwa peningkatan kadar protein kasar dalam pakan akan selalu menghasilkan performa yang lebih baik. Padahal, ayam tidak membutuhkan protein dalam jumlah berlebih, melainkan keseimbangan asam amino yang dapat dicerna sesuai kebutuhannya.

Protein yang tidak terserap akan mengalami proses deaminasi dan akhirnya diekskresikan sebagai nitrogen. Semakin tinggi protein yang terbuang, semakin besar pula nitrogen yang dikeluarkan melalui ekskreta. Di dalam litter, nitrogen tersebut akan diuraikan mikroorganisme menjadi gas amonia, terutama ketika kelembapan kandang tinggi dan ventilasi kurang optimal.

Inilah salah satu hubungan paling nyata antara nutrisi dan penyakit respirasi. Formulasi pakan yang kurang efisien tidak hanya meningkatkan biaya pakan, tetapi juga meningkatkan pencemaran udara di dalam kandang yang pada akhirnya memperbesar risiko gangguan pernapasan.

Pendekatan precision nutrition yang saat ini berkembang di industri global justru menekankan penggunaan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2026.

Ditulis oleh:
Henri E. Prasetyo drh MVet
Praktisi perunggasan, Nutritionist PT DMC

STRATEGI PENGENDALIAN MYCOPLASMA PADA PETERNAKAN MODERN

Pengaplikasian biosekuriti yang baik dan konsisten untuk mengendalikan MG. (Foto: Gemini)

Setelah mengetahui Mycoplasma gallisepticum (MG) yang dapat menyebabkan kerugian besar, sudah seharusnya memang pengendalian diupayakan. Karena membiarkan MG beredar di peternakan, sama saja membuka lebar-lebar gerbang penyakit lain untuk masuk.

Perlu kembali diingat, bahwa ayam modern telah mengalami perkembangan yang signifikan terutama potensi genetiknya. Namun begitu, dibalik performa genetik ayam pedaging dan petelur yang mumpuni, ada salah satu kelemahan yang tidak bisa dikompromikan, yakni rentan stres dan terinfeksi penyakit.

Perkuat Faktor Penyebab, Perlemah Patogen
Tony Unandar selaku private consultant farm mengatakan bahwa setidaknya ada tiga faktor yang memengaruhi status penyakit infeksius dalam suatu peternakan, yakni hospes/inang, mikroba patogen, serta milieu/lingkungan. Apabila ketiga faktor itu mengalami ketidakseimbangan alias lebih menguntungkan patogen, maka yang terjadi adalah efek negatif yang akan didapat.

“Prinsipnya simpel, saya yakin semuanya mengerti karena saya sudah mengingatkan berkali-kali, tetapi jarang diperhatikan. Hospes dalam hal ini ayam dan juga lingkungan harus kita persiapkan sebaik mungkin, patogennya kita perlemah, sesimpel itu,” tutur Tony.

Kemudian ia juga menjabarkan bahwa memperkuat hospes bisa dengan cara memberikan kecukupan pakan dan air minum yang berkualitas, memberikan suplemen (bila perlu), melakukan vaksinasi, serta menjaga lingkungan tetap kondusif bagi tumbuh kembang ayam.

“Lingkungan ini kan banyak faktor, mulai dari keadaan kandang yang bersih, biosekuriti, sekam yang diganti secara rutin, aliran udara, suhu dan kelembapan, dan banyak yang lain. Kita perkuat ini saja, mikroba patogen akan melemah dengan sendirinya, yang penting konsisten,” ucapnya.

Nantinya lanjut dia, keempat komponen akan bersinergi dan saling memberikan efek positif apabila semua SOP dalam manajemen pemeliharaan dikerjakan. Kalaupun ada faktor lain yang apabila menyebabkan terjadinya outbreak di suatu peternakan, bisa dengan mudah dianalisis karena manajemen internal sendiri sudah dilaksanakan dengan baik.

Upaya Pengendalian Jangan Setengah-Setengah
Dalam bahasa yang lebih teknis, Senior Poultry Technical Specialist PT Elanco Animal Health Indonesia, Drh Ratriastuti Purnawasita, mengingatkan akan potensi merugikan yang besar karena infeksi MG terutama di sektor breeding, layer komersil, dan unggas dengan masa pemeliharaan yang panjang.

“Di breeding maupun peternakan komersil semua juga pasti mencoba mengendalikan MG, namun memang sebenarnya ini agak sulit dan mungkin belum tuntas 100%, pasti akan ada saja yang berulang,” kata Ratri.

Ia mengungkapkan bahwa MG merupakan mikroba tanpa dinding sel, sehingga pemilihan sediaan antimikroba yang digunakan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2026. (CR)

AGAR CRD TIDAK MENJADI CCRD

Penularan mikoplasma pada ayam, baik melalui jalur vertikal (dari ayam betina yang terinfeksi ke keturunannya) maupun jalur horizontal (dari ayam yang terinfeksi ke ayam yang rentan). (Sumber: Veterinary Research (2025) 56:10)

Penyebab utama chronic respiratory disease (CRD) pada unggas adalah bakteri Mycoplasma gallisepticum (MG). Mikoplasma adalah mikroorganisme prokariotik yang termasuk dalam kelas Mollicutes. Mikroorganisme ini ditandai oleh ketiadaan dinding sel dan ukurannya yang kecil, serta mampu melakukan replikasi sendiri (Lu Z, et al., 2017).

Mikoplasma dapat ditemukan di berbagai lingkungan, termasuk tanah, tumbuhan, serangga, unggas, mamalia, dan manusia. Ia berkembang biak melalui pembelahan biner atau tunas, membentuk koloni khas berbentuk “telur rebus” pada media kultur padat. Beberapa strain patogenik dari mikoplasma memengaruhi unggas, termasuk MG, Mycoplasma meleagridis (MM), Mycoplasma synoviae (MS), dan Mycoplasma iowae (MI). Di antara itu, MG adalah patogen penting yang menyebabkan penyakit pernapasan kronis pada unggas. Mikroorganisme ini menunjukkan variasi dalam patogenisitas dan tropismenya di antara isolat dari berbagai wilayah (Levisohn S, Dykstra MJ, Lin MY, Kleven SH, 1986).

MG karena tidak memiliki dinding sel, sehingga kebal terhadap beberapa antibiotik. Penyebarannya melalui kontak langsung antar unggas, percikan udara, pakan atau air yang terkontaminasi, serta peralatan. Infeksinya bersifat kronis dan menetap, memengaruhi ayam broiler maupun petelur, menyebabkan gangguan pernapasan, efisiensi konversi pakan menurun, dan infeksi sekunder.

Beberapa faktor berkontribusi pada penyebaran dan tingkat keparahan penyakit ini, seperti kontak langsung dengan unggas yang terinfeksi; mikoplasma menyebar ketika unggas sehat berinteraksi dengan unggas yang terinfeksi; lingkungan terkontaminasi antara lain pakan, air, litter, dan peralatan bisa menjadi tempat bakteri hidup; penularan melalui udara karena CRD menyebar lewat percikan udara dari batuk dan bersin unggas; penularan vertikal (melalui telur) induk betina yang terinfeksi bisa menularkan mikoplasma kepada anaknya lewat telur; stres lingkungan seperti kepadatan berlebih, ventilasi buruk, dan fluktuasi suhu meningkatkan kerentanan; imunitas melemah karena unggas dengan sistem kekebalan yang seperti itu kekurangan nutrisi atau infeksi lain lebih rentan terhadap CRD.

Tanda klinis penyakit pernapasan yang disebabkan MG meliputi bulu kusut, kehilangan nafsu makan, lesu, hidung berair, batuk, rales trakea, bernapas melalui mulut, pembengkakan kelopak mata, dan mata yang berair berlebihan (Wu Z, Chen C, et al., 2020). Pada anak ayam, infeksi MG sering menyebabkan pertumbuhan terhambat, peningkatan angka kematian, dan fungsi kekebalan tubuh yang terganggu. Ayam petelur yang terinfeksi MG mengalami penurunan kinerja produksi, termasuk produksi telur yang lebih rendah dan kualitas telur yang menurun. Ayam pedaging mungkin mengalami penurunan berat badan sebesar 20-40%, penurunan kualitas daging, efisiensi pemanfaatan pakan menurun sekitar 20%, dan peningkatan biaya pengobatan (Yadav JP, Tomar P, Singh Y, Khurana SK, 2022).

Meskipun tingkat kematian akibat MG saja biasanya rendah, hal ini dapat membuat unggas rentan terhadap infeksi sekunder dari patogen seperti virus penyakit Newcastle dan E. coli, yang meningkatkan risiko dalam industri unggas. MG menyebar melalui penularan horizontal dan vertikal di dalam kawanan ayam, bertahan sepanjang periode pemeliharaan dan terbukti sulit untuk diberantas sepenuhnya (De la Cruz L, et al., 2020).

Unggas dari semua usia dapat terinfeksi MG, dengan kasus yang terjadi sepanjang tahun, khususnya puncaknya selama... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2026.

Ditulis oleh:
Drh Arief Hidayat
Praktisi Perunggasan

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer