-->

MENJAGA PERFORMA DARI BAHAYA MIKOTOKSIN

Jamur, cendawan, atau kapang tumbuh di mana dan kapan saja, terutama ketika kondisi lingkungan menguntungkan. (Foto: Gemini)

Mikotoksin sangat berbahaya bagi kelangsungan performa di peternakan unggas. Kontaminasi mikotoksin pada unit usaha unggas apapun itu, dapat menyebabkan kerugian yang sangat besar.

Jamur, cendawan, atau kapang tumbuh di mana dan kapan saja, terutama ketika kondisi lingkungan menguntungkan bagi mereka. Yang lebih berbahaya, kebanyakan jamur biasanya tumbuh pada tumbuhan yang biasa digunakan sebagai bahan baku pakan, seperti jagung dan kacang kedelai.

Kedua jenis tanaman tersebut merupakan unsur penting dalam formulasi ransum. Jagung digunakan sebagai sumber energi utama, sedangkan kedelai sebagai sumber protein. Persentase penggunaan jagung dan kacang kedelai dalam suatu formulasi ransum unggas di Indonesia sangat tinggi. Jagung dapat digunakan 50-60%, sedangkan kedelai bisa sampai 20%.

Cemaran Mikotoksin
Commercial Technical Manager-Mycotoxin Risk Management Trouw Nutrition, Dr Swamy Haladi, dalam presentasinya pada webinar Review Mikotoksin Global 2026, menjabarkan beberapa hal terkait cemaran mikotoksin yang terdapat pada bahan baku dan pakan jadi.

Ia menuturkan, berdasarkan analisis terhadap lebih dari 115.000 sampel dari 46 negara, Trouw melaporkan bahwa jumlah sampel yang terkontaminasi mikotoksin pada 2025 mengalami penurunan dibandingkan 2024. Sampel tersebut mencakup berbagai bahan baku pakan, termasuk biji-bijian, sumber protein, produk samping, silase, total mixed rations (TMR), konsentrat, serta pakan lengkap.

“Penurunan paling signifikan terjadi pada tingkat kontaminasi fumonisin dan toksin T-2. Sebaliknya, tingkat deoksinivalenol (DON) dan zearalenon (ZEA) relatif serupa dengan tahun sebelumnya dan tetap lebih tinggi dibandingkan fumonisin. Sementara itu, rata-rata konsentrasi mikotoksin dalam sampel 2024 dan 2025 dilaporkan tidak menunjukkan perbedaan signifikan,” paparnya.

Temuan ini mengindikasikan bahwa meskipun jumlah sampel terkontaminasi menurun, faktor lingkungan yang mendukung pertumbuhan kapang dan produksi mikotoksin masih berlanjut hingga 2025, khususnya di wilayah beriklim sedang.

Selain existing mycotoxin yang sudah dikenal, ia juga berbicara mengenai enniatins. Mereka adalah kelompok mikotoksin “emerging” (mikotoksin yang relatif baru mendapat perhatian) yang diproduksi terutama oleh jamur Fusarium, khususnya Fusarium avenaceum, F. tricinctum, dan F. poae.

Enniatins (misalnya enniatins A, A1, B, dan B1) merupakan senyawa siklik heksadepsipeptida yang bersifat ionofor, artinya mampu membentuk kompleks dengan ion (seperti K⁺, Na⁺, Ca²⁺) dan mengganggu keseimbangan ion dalam sel.

Walau belum diregulasi secara ketat seperti DON atau aflatoksin, enniatins mendapat perhatian karena dapat menyebabkan efek sitotoksik pada sel mamalia (in vitro), gangguan membran sel dan mitokondria, potensi imunosupresif dan antimikroba, serta memiliki efek sinergis dengan mikotoksin lain (toxic cocktail effect).

Feed producer harus waspada dengan hal ini, karena enniatins juga bisa berbahaya, oleh karenanya kewaspadaan harus terus ditingkatkan,” katanya.

Jika sudah mengontaminasi bahan baku pakan, apalagi pakan jadi, tentu sangat merugikan produsen pakan maupun peternak. Menurut Tony Unandar, konsultan perunggasan yang juga anggota dewan pakar ASOHI, mikotoksikosis klinis bukanlah kejadian umum di lapangan.

Kasus mikotoksikosis subklinis justru sering ditemukan di lapangan. Gejalanya klinisnya sama dengan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi April 2026. (CR)

PEMBUNUH SENYAP YANG TERSEMBUNYI DALAM PAKAN AYAM

Bahaya tersembunyi dalam pakan ayam dapat berdampak serius pada kesehatan ternak. (Foto: lelandmills.com)

Bahaya tersembunyi dalam pakan ayam dapat berdampak serius pada kesehatan kawanan, produktivitas, dan konsumen manusia, terutama meliputi mikotoksin, logam berat, bahan kimia tambahan yang tidak diungkapkan, hingga bakteri patogen.

Kontaminan-kontaminan tersebut sering kali tidak terlihat mata telanjang dan dapat bertahan dalam proses pengolahan, yang dapat menyebabkan keracunan kronis, subklinis, sampai akut.

Ancaman tersembunyi dalam pakan ayam yang meliputi mikotoksin (seperti aflatoksin) yang diproduksi jamur atau kapang dapat merusak organ vital, endotoksin yang dapat menyebabkan kebocoran usus dan keracunan darah. Ionofor yang tidak terkontrol dan bisa memicu keracunan, serta kontaminasi bakteri patogen seperti Salmonella dan E. coli.

Mikotoksin dan endotoksin sering kali tidak terlihat secara kasat mata, akan tetapi dapat menyebabkan penurunan pertumbuhan, kerusakan organ, hingga kematian. Berikut ini adalah beberapa detail mengenai bahaya tersembunyi dalam pakan unggas:

• Mikotoksin: Adalah senyawa beracun yang dihasilkan oleh jamur (Aspergillus, Fusarium, Penicillium) yang tumbuh pada biji-bijian (jagung, gandum, kedelai) di ladang atau selama penyimpanan. Beberapa mikotoksin tersebut:
- Aflatoksin: Dianggap sebagai yang paling berpotensi menyebabkan kerusakan hati (hepatotoksisitas), supresi yang parah, dan penurunan produksi telur.
- Okratoksin: Sangat nefrotoksik (kerusakan ginjal), menyebabkan kehilangan nafsu makan dan pertumbuhan yang buruk.
- Trichotecenes (T-2, DON): Menyebabkan ulkus mulut, erosi ampela, dan penolakan makan yang parah.
- Zearalenone: Dikenal karena menyebabkan masalah reproduksi, seperti penurunan kesuburan dan kemampuan penetasan.
- Mikotoksin bertopeng: Ini adalah bentuk tersembunyi, sering melekat pada molekul tanaman yang tidak terdeteksi oleh tes standar tetapi berubah kembali menjadi racun aktif di usus ayam.

• Logam berat dan kontaminan polusi industri: Penyimpanan yang tidak tepat dan bahan baku yang terkontaminasi dapat memperkenalkan logam berat dan bahan kimia ke dalam pakan.
- Arsenik, timbal, kadmium, dan merkuri: Logam berat ini terakumulasi secara biologis dalam jaringan unggas (hati, ginjal), menyebabkan keracunan kronis dan menimbulkan risiko bagi konsumen manusia
- Sisa pestisida: Tanaman yang disimpan atau dipanen secara tidak tepat mungkin mengandung residu pestisida organoklorin.
- Dioksin/melamin: Kadang-kadang diperkenalkan melalui bahan baku yang dipalsukan atau terkontaminasi.

• Aditif dan pengisi yang tidak diungkapkan:... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi April 2026.

Ditulis oleh:
Drh Arief Hidayat
Praktisi perunggasan

MUSUH DALAM SELIMUT YANG HARUS DIWASPADAI

Kapang/jamur dapat tumbuh pada tanaman biji-bijian seperti jagung untuk pakan ternak. (Foto: Infovet/Ridwan)

Anomali iklim dan cuaca melanda, kekhwatiran insan perunggasan tetap sama, mikotoksin. Senyawa tak kasat mata yang bisa mencemari bahan baku dan pakan jadi tersebut masih menjadi momok bersama dalam industri pakan.

Sebagai negara tropis dengan curah hujan yang cukup tinggi, berkisar di antara 2000-3000 mm/tahun, Indonesia merupakan negara yang cukup “nyaman” sebagai tempat hidup kapang/jamur.

Masalahnya kapang/jamur tersebut dapat tumbuh pada tanaman biji-bijian seperti jagung dan kedelai yang merupakan bahan baku pakan. Tak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar biji-bijian yang digunakan sebagai sumber bahan pakan sangat rentan terhadap kontaminasi toksin yang dihasilkan oleh jamur tersebut.

Faktor iklim yang dimiliki Indonesia serta kualitas manajemen dan handling di lapangan, membuat mikotoksin tidak bisa dielakkan, sehingga mengakibatkan potensi kerugian yang besar.

Sejatinya, toksin dapat diartikan sebagai senyawa beracun yang diproduksi di dalam sel atau organisme hidup, dalam dunia veteriner disepakati terminologi biotoksin dalam menyebut mikotoksin maupun toksin lainnya, karena toksin diproduksi secara biologis oleh mahluk hidup memalui metabolisme bukan artificial (buatan).

Dalam industri pakan ternak sering didengar istilah mikotoksin (racun yang dihasilkan oleh kapang/jamur). Sampai saat ini cemaran dan kontaminasi mikotoksin dalam pakan ternak masih membayangi tiap unit usaha peternakan, tidak hanya di negeri ini, tetapi juga di seluruh dunia.

Berbagai Jenis Mikotoksin
Dalam industri pakan, setidaknya ada tujuh jenis mikotoksin yang sangat ditakuti mencemari bahan baku maupun pakan jadi, ketujuhnya kerap mengontaminasi dan menyebabkan masalah pada ternak. Terkadang dalam satu kasus, tidak hanya satu mikotoksin yang terdapat dalam sebuah sampel.

Menurut Nutrisionis BEC Feed Solution, Mega Pratiwi Saragi, masalah mikotoksin merupakan masalah klasik yang terus berulang dan sangat sulit diberantas. “Banyak faktor yang memengaruhi kenapa mikotoksin sangat sulit diberantas, misalnya saja dari cara pengolahan jagung yang salah,” tuturnya.

Maksudnya adalah kebanyakan petani jagung di Indonesia hanya mengandalkan iklim dalam mengeringkan jagungnya dengan bantuan sinar matahari/manual. Mungkin ketika musim panas hasil pengeringan akan baik, namun pada musim basah (penghujan) tentu tidak bisa diandalkan.

“Jika pengeringan tidak sempurna, kadar air dalam jagung akan tinggi, sehingga disukai oleh kapang. Lalu kapang akan berkembang di situ dan menghasilkan toksin,” tambahnya.

Masih masalah iklim menurut Mega, Indonesia yang beriklim tropis merupakan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi April 2026. (CR)

PAHAMI PENGGUNAAN PROBIOTIK, PREBIOTIK, DAN POSTBIOTIK UNTUK KESEHATAN USUS DAN PERFORMA OPTIMAL

Data market sediaan probiotik di dunia. 

Probiotik, prebiotik, maupun postbiotik kini bukan lagi barang asing. Hampir di seluruh toko ternak, poultry shop, bahkan lewat online sediaan tersebut dapat diakses. Produsen penyedianya pun mulai banyak di Indonesia.

Maksimalkan Fungsi Probiotik: Kenali Cara Penggunaan
Probiotik dan prebiotik biasanya diberikan pada ternak melalui pakan dan air minum. Pastinya perbedaan rute pemberian juga akan berbeda pula trik penanganannya. Misalnya pada pakan, selama ini pakan ayam diberikan dalam bentuk mash, crumble, maupun pelet. Artinya probiotik dan prebiotik yang harus ada di dalam pakan akan sedikit merepotkan apabila melewati proses pelleting dengan suhu tinggi.

Suhu tinggi merupakan ancaman bagi bakteri, karena beberapa jenis bakteri rata-rata akan mati. Jika harus melewati proses pelleting (suhu 80-90 °C), setidaknya harus ada perlakuan khusus pada probiotik maupun prebiotiknya di dalam formulasi pakan tersebut.

Peneliti sekaligus staf pengajar mikrobiologi SKHB IPB University, Drh Agustin Indrawati, mengatakan bahwa hal tersebut perlu diperhitungkan. Berdasarkan beberapa literatur yang ia baca, beberapa jenis bakteri asam laktat sangat peka dengan suhu tinggi.

“Betul, harus dipertimbangkan. Jangan sampai menggunakan probiotik tetapi malah kehilangan bahan aktifnya, yaitu bakteri baik itu sendiri. Soalnya bakteri kurang suka suhu tinggi, saya beri contoh kalau kita bikin yoghurt, susu yang digunakan setelah dipanaskan harus ditunggu dulu sampai suhunya pas, kalau tidak bakteri starter si yoghurt itu juga mati kepanasan,” kata Agustin.

Ia menyarankan, apabila dirasa sulit menggunakan pakan dan harus melewati suhu pelleting, maka sediaan probiotik dan prebiotik harus dimodifikasi agar dapat melewati suhu tinggi tanpa banyak merusak bahan aktifnya.

Ditanyai pertanyaan yang sama, Prof Lenny van Erp dari HAS University Belanda, mengatakan bahwa para produsen di Eropa kebanyakan sudah memiliki teknologi untuk mengatasi masalah tersebut. Menurutnya adalah betul bahwa bakteri probiotik rentan terhadap suhu tinggi, namun dengan adanya perkembangan teknologi semua hal bisa dilakukan.

“Ada beberapa produsen yang sudah melakukan kapsulasi pada bakteri probiotiknya, jadi dilapisi pelindung (enkapsulasi) dari zat yang tahan suhu tinggi, sehingga bakteri di dalamnya dapat melewati suhu pelleting tanpa harus mati, sehingga khasiatsi bahan aktif masih ada. Begitu juga sama dengan prebiotik, sudah dilakukan proses enkapsulasi,” ujar Lenny.

Contoh lain yang ia sampaikan yakni dengan menggunakan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Maret 2026. (CR)

MEMBENTENGI UNGGAS DARI KOLIBASILOSIS MELALUI JALUR PAKAN

Memahami korelasi antara kualitas bahan baku pakan dengan integritas usus menjadi kunci  bagi peternak modern. (Foto: Istimewa)

Di balik ambisi mengejar performa bobot badan dan produksi telur yang tinggi, sering kali peternak luput menyadari bahwa saluran pencernaan adalah medan tempur utama melawan bakteri Escherichia coli (E. coli).

Nutrisi dan pakan bukan lagi sekadar angka protein dan energi di atas kertas, melainkan instrumen pertahanan imunologi paling krusial yang menentukan ayam akan bertahan atau tumbang diterjang kolibasilosis.

Memahami korelasi antara kualitas bahan baku pakan dengan integritas usus menjadi kunci baru bagi peternak modern untuk memutus rantai ketergantungan pada antibiotik yang kian tidak efektif.

Gerbang Awal Masuknya Patogen
Pakan adalah jembatan pertama bagi bakteri patogen untuk menjangkau inangnya. Sering kali, bahan baku pakan seperti bungkil kedelai atau tepung ikan yang disimpan dalam kondisi lembap menjadi sarang pertumbuhan mikroba, termasuk E. coli. Kontaminasi ini tidak hanya membawa bakteri langsung ke dalam tembolok, tetapi juga menurunkan nilai nutrisi yang seharusnya diserap untuk pembentukan imun.

Banyak peternak terjebak membeli bahan pakan murah tanpa memperhatikan angka total plat count (TPC) mikroba di dalamnya. Padahal, bahan pakan yang terkontaminasi sejak awal akan membuat beban kerja usus menjadi sangat berat bahkan sebelum ayam mulai berproduksi. Di sinilah pentingnya audit kualitas bahan baku pakan secara berkala untuk memastikan tidak ada “penumpang gelap” yang ikut masuk ke dalam sistem metabolisme ayam.

Pengendalian kualitas harus dimulai dari gudang penyimpanan dengan sistem first in first out (FIFO) yang disiplin. Pastikan kadar air bahan pakan tetap di bawah 12% untuk menghambat aktivitas air yang menjadi syarat tumbuh bakteri. Nutrisi yang bersih adalah fondasi utama agar ayam memiliki status kesehatan yang stabil sejak umur dini.

Pemicu Peradangan Usus yang Halus
Zat antinutrisi seperti asam fitat, lektin, atau penghambat tripsin yang terdapat pada biji-bijian sering menjadi penyebab peradangan halus pada dinding usus. Ketika zat ini tidak terdegradasi dengan baik (misalnya melalui proses pemanasan atau penambahan enzim), mereka akan mengiritasi mukosa usus. Iritasi kronis ini merusak vili-vili usus yang berfungsi sebagai penyerap nutrisi sekaligus pagar pelindung.

Dinding usus yang teriritasi akan mengeluarkan cairan mukus berlebih sebagai mekanisme perlindungan diri. Sayangnya, mukus yang berlebih justru menjadi substrat atau makanan yang disukai bakteri E. coli untuk berkembang biak dengan cepat. Akibatnya, niat memberi nutrisi justru berakhir dengan ledakan populasi bakteri patogen di dalam lumen usus.

Peternak harus memastikan formulasi pakan menyertakan enzim pendegradasi antinutrisi yang tepat, seperti fitase atau protease. Penggunaan enzim ini bukan hanya soal efisiensi biaya, tetapi soal meminimalkan faktor iritan yang dapat membuka celah bagi E. coli untuk menempel dan menginfeksi. Tanpa penanganan antinutrisi, pakan terbaik sekalipun bisa menjadi pemicu munculnya kolibasilosis.

Protein Berlebih Jadi Nutrisi Mewah untuk Bakteri Jahat
Ambisi mengejar pertumbuhan cepat kerap mendorong peternak memberikan pakan dengan kadar protein sangat tinggi melampaui kebutuhan biologis ayam. Namun, protein yang tidak terserap dengan sempurna di usus halus akan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Maret 2026.

Ditulis oleh:
Assoc Prof Dr Ir Sadarman SPt MSc IPM
Dosen Ilmu Nutrisi dan Pakan Ternak,
Prodi Peternakan UIN Sultan Syarif Kasim Riau
Wartawan Infovet Daerah Riau

USUS SEHAT, PERFORMA KUAT: STRATEGI PROBIOTIK, PREBIOTIK, POSTBIOTIK, DAN SINBIOTIK UNTUK UNGGAS MODERN

Kesehatan saluran pencernaan ayam menjadi titik krusial yang menentukan keberhasilan produksi. (Foto: Istimewa)

Ketika Tantangan Kandang Semakin Kompleks
Industri perunggasan saat ini menghadapi tantangan yang semakin nyata dan tidak sederhana. Fluktuasi cuaca yang ekstrem, tekanan penyakit pencernaan, kualitas bahan baku pakan yang bervariasi, hingga tuntutan efisiensi produksi memaksa peternak dan pelaku industri untuk berpikir lebih strategis. Dalam kondisi tersebut, kesehatan saluran pencernaan ayam menjadi titik krusial yang menentukan keberhasilan produksi.

Saluran pencernaan bukan hanya tempat pakan dicerna dan diserap, tetapi juga pusat pertahanan tubuh ayam. Sebagian besar sistem imun berada di usus, sehingga gangguan kecil pada keseimbangan mikroflora dapat berdampak besar pada performa ayam. Tidak mengherankan jika pendekatan berbasis kesehatan usus kini menjadi fokus utama dalam manajemen pemeliharaan broiler, layer, maupun breeder.

Kesehatan Usus, Fondasi Performa Produksi
Ayam dengan saluran pencernaan yang sehat akan mampu memanfaatkan nutrien pakan secara optimal. Vili usus yang utuh, mukosa yang kuat, dan populasi bakteri menguntungkan yang stabil akan menghasilkan pertumbuhan yang lebih seragam, FCR yang lebih efisien, serta daya tahan tubuh yang lebih baik.

Sebaliknya, ketidakseimbangan mikroflora usus sering kali menjadi awal munculnya masalah klasik seperti diare, litter basah, penurunan konsumsi pakan, hingga meningkatnya mortalitas.
Dalam konteks inilah peran probiotik, prebiotik, postbiotik, dan sinbiotik menjadi semakin relevan. Keempatnya bekerja dengan mekanisme yang berbeda, namun memiliki tujuan yang sama, yaitu menjaga ekosistem usus agar tetap sehat dan produktif.

Probiotik Menghadirkan Mikroba Baik ke Dalam Usus
Probiotik dikenal sebagai mikroorganisme hidup yang memberikan manfaat kesehatan ketika dikonsumsi dalam jumlah yang cukup. Di dalam saluran pencernaan ayam, probiotik berfungsi sebagai... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Maret 2026.

Ditulis oleh:
Henri E. Prasetyo Drh MVet
Praktisi perunggasan, Nutritionist PT DMC

KOMBINASI PROBIOTIK, PREBIOTIK, SINBIOTIK, DAN POSBIOTIK AGAR PERFORMA APIK

Beberapa macam bakteri probiotik yang dapat digunakan. (Foto: Shutterstock)

Larangan penggunaan antibiotic growth promoter (AGP) di Indonesia sudah hampir 10 tahun lalu diberlakukan, tepatnya sejak 2018. Sejak saat itu seluruh insan yang berkecimpung di dunia peternakan Indonesia berlomba-lomba mencari alternatifnya, di antaranya adalah probiotik, prebiotik, sinbiotik, dan postbiotik.

Mungkin masyarakat sudah sangat familiar dengan minuman ringan berasa asam yang mengklaim sebagai minuman yang mengandung probiotik. Lalu kemudian populer pula minuman sehat yang berasal dari susu yang rasanya juga sedikit asam bernama yoghurt. Seiring berjalannya waktu, produk-produk serupa beredar di pasaran.

Lalu apa itu probiotik? Terminologi probiotik berasal dari bahasa Yunani. Kata “pro” artinya mempromosikan dan “biotik” artinya kehidupan. Probiotik muncul pada awal abad ke-20 silam dan diperkenalkan oleh Elie Metchnikoff, yang kemudian dikenal sebagai sosok “Bapak probiotik”.

Dari situ kemudian muncul asosiasi perkumpulan para ahli probiotik yakni International Scientific Association for Probiotics and Prebiotics (ISAPP) pada 2013. Mereka kemudian mendefinisikan probiotik sebagai mikroorganisme hidup yang dalam jumlah memadai dapat memberikan manfaat bagi kesehatan pada tubuh pada inangnya. Lalu kemudian orang awam mendefinisikannya sebagai bakteri baik dan jahat.

Sedangkan prebiotik didefinisikan sebagai senyawa natural dalam makanan yang tidak dapat dicerna usus, berfungsi sebagai suplemen untuk mendorong pertumbuhan mikroorganisme menguntungkan dalam sistem pencernaan. Kombinasi dari probiotik dan prebiotik disebut sinbiotik (eubiotik).

Andalan Utama Pengganti AGP
Pelarangan penggunaan AGP dalam pakan ternak memicu para produsen pakan mencari imbuhan pakan alternatif. Probiotik dan prebiotik merupakan satu di antaranya, mengapa? Hal ini dikarenakan probiotik dan prebiotik sudah lama digunakan dalam kehidupan manusia dan terbukti aman. Oleh karena itu, dengan analogi yang sama seharusnya juga dapat digunakan pada ternak.

Peneliti nutrisi pakan ternak dari Balitnak Ciawi, Prof Arnold Sinurat, mengatakan bahwa sejatinya memang AGP perlu digantikan. Hal ini merujuk pada… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Maret 2026. (CR)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer