Perubahan cuaca yang semakin sulit diprediksi menjadi tantangan nyata bagi industri perunggasan nasional. Pagi panas, siang terik, malam dingin, disertai kelembapan tinggi. Kondisi ini menjadi kombinasi ideal bagi berkembangnya berbagai penyakit menular pada ayam. Tak heran jika pada masa peralihan musim, kasus penyakit seperti ND, IB, AI, gumboro, hingga gangguan saluran pencernaan kerap meningkat.
Dalam situasi seperti ini, peternak dituntut tidak hanya bereaksi saat penyakit muncul, tetapi membangun sistem pencegahan yang kuat sejak awal. Kuncinya ada pada pendekatan terpadu, yakni biosekuriti yang disiplin, program kesehatan yang tepat, manajemen pemeliharaan yang adaptif, serta nutrisi pakan yang dioptimalkan untuk mendukung daya tahan tubuh ayam.
Musuh Lama yang Masih Relevan
Meski teknologi kandang dan pakan terus berkembang, penyakit menular masih menjadi “musuh lama” yang belum sepenuhnya terkalahkan. Baik pada broiler, layer, maupun breeder, penyakit menular selalu berujung pada satu hal, yaitu penurunan performa dan kerugian ekonomi.
Pada broiler pertumbuhan tidak optimal, FCR membengkak, mortalitas meningkat, sementara pada layer produksi telur turun, kualitas kerabang menurun, masa produksi memendek, serta pada breeder akan mengalami gangguan fertilitas, daya tetas menurun, kualitas DOC ikut terdampak.
Kondisi cuaca ekstrem mempercepat... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Januari 2026.
Ditulis oleh:
Henri E. Prasetyo drh MVet
Praktisi perunggasan, Nutritionist PT DMC



0 Comments:
Posting Komentar