-->

SEMARAK HATN & WED 2026, INFOVET SELENGGARAKAN WORKSHOP FORMULASI PAKAN

Bambang Suharno (kiri) dan Prof Budi Tangendjaja dalam webinar formulasi pakan. (Foto-foto: Dok. Infovet)

Industri peternakan unggas kembali dihadapkan pada ujian berat seiring melambungnya harga jagung dan terbatasnya ketersediaan pasokan di pasaran. Menjawab tantangan tersebut, dalam rangka menyambut Hari Ayam dan Telur Nasional (HATN) dan World Egg Day (WED) 2026, Majalah Infovet menyelenggarakan Workshop Online bertajuk “Strategi Formulasi Pakan Unggas Saat Jagung Mahal dan Pasokan Terbatas”, Jumat (9/10/2026).

Acara ini menghadirkan poultry nutrition consultant, Prof Dr Ir Budi Tangendjaja MSc MAppl, yang juga Ketua Dewan Pakar Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI), sebagai narasumber utama. Acara turut dihadiri dan dibuka secara resmi oleh Direktur Utama Gallus yang juga Pemimpin Redaksi Infovet Bambang Suharno, serta Ketua Umum ASOHI Drh Akhmad Harris Priyadi.

Dalam sambutannya, Bambang menegaskan bahwa pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam usaha peternakan unggas. Ketika harga jagung merangkak naik dan pasokannya menipis, pelaku industri dituntut untuk tidak hanya sekadar mencari ketersediaan bahan baku, melainkan juga memutar otak menyusun formulasi yang efisien.

“Tantangan yang dihadapi industri bukan hanya bagaimana mendapatkan bahan baku, tetapi juga bagaimana menyusun formulasi pakan yang tetap efisien, memenuhi kebutuhan nutrisi ternak, dan menjaga performa produksi,” ujar Bambang.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya penguasaan strategi substitusi dan pemanfaatan bahan baku alternatif. Dengan pemahaman yang tepat mengenai keseimbangan nutrisi, peternak dapat menekan biaya produksi tanpa harus mengorbankan produktivitas maupun performa unggas.

Pada kesempatan tersebut, Prof Budi membedah berbagai solusi taktis bagi para formulator pakan dan pelaku industri peternakan. Ia memaparkan potensi pemanfaatan bahan baku pengganti jagung, di antaranya barley yang dapat menjadi sumber energi alternatif dengan kandungan nutrisi yang memadai, ataupun biji sorgum yang dapat diandalkan untuk menunjang kebutuhan karbohidrat ransum.

Adapula pilihan produk turunan singkong guna mencukupi kebutuhan energi, atau pemafaatan dried distiller's grains with solubles (DDGS), yang merupakan produk sampingan yang kaya nutrisi dan potensial untuk dimanfaatkan dalam ransum unggas.

Prof Budi menjelaskan, bahan-bahan tersebut tetap memiliki kelayakan nutrisi, mencakup karbohidrat, protein, lemak, vitamin, serta mineral yang esensial bagi pertumbuhan dan kesehatan ternak unggas.

Selain itu, dalam paparannya ia juga turut menjabarkan simulasi perhitungan bahan baku pakan beserta harganya guna membantu peternak, perusahaan, maupun self-mixing dalam memformulasikan pakan dengan biaya yang efisien dan mengantisipasi fluktuasi harga bahan baku.

Foto bersama usai webinar.

Sebagai tindak lanjut dari workshop online, Majalah Infovet turut membuka kesempatan luas bagi perusahaan maupun kelompok usaha yang ingin memperdalam kompetensi di bidang ini. Infovet memfasilitasi program pelatihan intensif serta in-house training yang dirancang khusus bagi tim nutrisi, tim formulasi, bagian produksi, serta tim teknis perusahaan.

Materi dan metode pelaksanaan pelatihan dapat disesuaikan secara fleksibel dengan kebutuhan spesifik di lapangan. Langkah ini diharapkan mampu membawa dampak jangka panjang bagi peningkatan kompetensi sumber daya manusia di sektor peternakan nasional, serta menjaga kestabilan industri unggas di Indonesia. (RBS)

BEGINI SKEMA PENYERAPAN JAGUNG DARI MENTAN UNTUK TEKAN BIAYA PAKAN

Mentan Amran saat berbicara dengan perwakilan peternak di Jakarta, Jumat (9/10/2026). (Foto: Istimewa)

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, menyiapkan skema penyerapan jagung untuk membantu peternak memperoleh bahan baku pakan dengan harga lebih terjangkau. Melalui mekanisme ini, peternak dapat menyerap jagung saat panen raya ketika harga relatif murah, sementara pembiayaan dilakukan Perum Bulog dan stok disimpan melalui koperasi. Skema tersebut diharapkan menjaga keseimbangan harga bagi petani sekaligus menekan beban biaya pakan yang dihadapi peternak.

Hal itu ia sampaikan saat bertemu dengan perwakilan peternak di Jakarta, Jumat (9/10/2026). Pertemuan berlangsung di tengah persoalan biaya pakan yang menjadi salah satu keluhan peternak, termasuk dalam aksi unjuk rasa di DPR kemarin (7/10/2026). Salah satu tuntutan yang disuarakan berkaitan dengan tingginya harga pakan ayam petelur yang dinilai menekan usaha dan menyebabkan peternak mengalami kerugian.

Dalam pertemuan, Mentan Amran menegaskan perlunya membangun ekosistem yang menghubungkan penyerapan hasil panen petani, kebutuhan jagung peternak, pembiayaan, dan penyimpanan agar pasokan pakan lebih terjamin sepanjang tahun. “Saya mau pakan ini ada sistem. Bapak yang serap, Bulog yang bayar,” tegas Amran.

Menurutnya, pemerintah ingin memastikan petani mendapatkan harga layak saat panen raya, sementara peternak memperoleh jagung dengan harga terjangkau untuk kebutuhan pakan. “Jangan sampai peternak rugi. Kalau rugi peternak, negara juga ikut rugi,” katanya.

Karena itu, Mentan mendorong penyerapan jagung dilakukan ketika produksi melimpah dan harga relatif murah. Jagung yang telah dibeli kemudian disimpan melalui koperasi untuk digunakan saat peternak membutuhkan pasokan, termasuk ketika harga di pasar meningkat. “Negara beli pada saat murah, jangan siksa juga saat mahal,” sebutnya.

Dalam skema tersebut, peternak berperan menyerap jagung saat panen raya, sedangkan Bulog menyediakan pembiayaan, dan koperasi menjadi tempat penyimpanan stok. Dengan mekanisme ini, hasil panen petani dapat terserap dan peternak memiliki akses terhadap bahan baku pakan dengan pasokan lebih terjamin.

Mentan Amran mengatakan saat ini terdapat sekitar 40 ribu ton jagung yang menjadi bagian dari pasokan yang dibahas dalam skema tersebut. Pemerintah tetap melakukan penyerapan dengan mempertimbangkan kapasitas negara dan mengoptimalkan jagung yang tersedia.

“Saat ini ada 40 ribu ton, tapi ini tetap menyerap. Negara punya keterbatasan. Sekarang yang ada dulu 40 ribu jagung,” ungkapnya.

Ia meminta Bulog menghitung kembali kebutuhan anggaran agar mekanisme penyerapan dapat berjalan efektif. Penentuan prioritas penyaluran juga perlu mempertimbangkan ketersediaan jagung dan kebutuhan peternak di lapangan. “Ini sudah solusi terbaik untuk bantu peternak supaya untung,” sebut dia.

Perwakilan peternak dari Lampung, Kasmani, menjelaskan bahwa Lampung Selatan merupakan salah satu sentra produksi jagung. Namun, peternak masih menghadapi tantangan dalam memperoleh jagung dengan harga sesuai kebutuhan.

Ia menyampaikan bahwa harga jagung yang dibeli dari petani atau pengepul berada di kisaran Rp 8.400/kg. Selain harga, perbedaan kadar air juga menjadi kendala. Jagung dari Nusa Tenggara Barat (NTB) misalnya, disebut memiliki kadar air 16-17%, sedangkan jagung yang diserap Bulog dipersyaratkan memiliki kadar air 14%.

Menanggapi itu, Mentan Amran menekankan pentingnya memperkuat fasilitas penyimpanan dan pengeringan agar jagung dari sentra produksi dapat diserap serta memenuhi standar yang ditetapkan. Menurutnya, presiden telah menetapkan dukungan anggaran Rp 5 triliun untuk memperkuat infrastruktur pergudangan Bulog.

“Presiden sudah tetapkan anggaran Rp 5 triliun untuk gudang paket Bulog. Lengkapi dengan dryer,” ucapnya.

Ia meminta pembangunan dan penguatan gudang dilengkapi fasilitas pengering (dryer), terutama di wilayah yang memiliki potensi produksi jagung seperti NTB dan Gorontalo. Fasilitas tersebut untuk menjaga mutu jagung, mengurangi kendala kadar air, serta memperlancar penyerapan hasil panen. (INF)

MENGURAI GEJOLAK HARGA PAKAN: INDUSTRI PERUNGGASAN DORONG SINERGI DAN TRANSPARANSI DATA

IPC di ILDEX Indonesia 2026. (Foto: Infovet/Ridwan)

Mengambil tempat di ruang Garuda 5A ICE BSD City, Tangerang, dalam rangkaian pameran ILDEX Indonesia 2026, Indonesian Poultry Club (IPC) menyelenggarakan seminar nasional bertajuk "Sinergi dan Strategi Menghadapi Gejolak Harga Pakan" pada Kamis (17/9). Forum ini mempertemukan seluruh stakeholders industri perunggasan guna merumuskan solusi atas tantangan tingginya biaya pakan.

Kegiatan tersebut diinisiasi oleh Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Permindo) bekerja sama dengan Trobos. Pemimpin Umum Trobos, Fitri Nursanti Poernomo, menekankan pentingnya forum ini bagi masa depan industri peternakan nasional. Ia mengingatkan bahwa pakan merupakan komponen terbesar dalam biaya produksi unggas, dengan porsi mencapai lebih dari 60%.

"Ketika harga bahan baku naik akibat berbagai persoalan global maupun domestik, dampaknya tidak hanya berhenti pada bisnis pakan, melainkan menjalar ke peternak hingga konsumen akhir. Apalagi sekitar 30 persen bahan baku pakan kita masih bergantung pada impor," ujar Fitri.

Tantangan lonjakan harga pakan dirasakan nyata oleh para peternak di lapangan. Sekretaris Jenderal Permindo, Heri Irawan, mengungkapkan bahwa sepanjang rentang April-Agustus, akumulasi kenaikan harga pakan telah mencapai Rp1.500/kg. Kenaikan ini dinilai sangat memberatkan operasional peternak.

Sebagai langkah mitigasi, Permindo pun berinisiatif menghadirkan inovasi pakan custom. "Kami memformulasi pakan bekerja sama dengan pabrikan. Hasilnya, dalam dua bulan terakhir performa ternak tetap optimal sekaligus mampu meminimalisasi dampak kenaikan harga," terang Heri.

Memasuki sesi seminar yang dipandu Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), Sugeng Wahyudi, hadir sebagai narasumber Ketua Permindo, Kusnan. Ia menyoroti tekanan berat yang dialami peternak mandiri. Kenaikan harga pakan secara langsung menaikkan Harga Pokok Produksi (HPP) dan menggerus margin keuntungan peternak.

​"Jika input produksi terus naik sementara harga output di tingkat peternak fluktuatif, sampai kapan peternak sanggup bertahan? Apakah ini yang dinamakan industri unggas yang sehat?" tegas Kusnan. Menurutnya, peternak saat ini menanggung beban berlapis, mulai dari harga day old chick (DOC), pakan, biaya listrik, tenaga kerja, hingga risiko cuaca dan penyakit.

Kusnan juga menggarisbawahi dua hal kunci, yakni akurasi data dan integrasi pasar. "Peternak yang memiliki data adalah peternak yang berdaya. Data merupakan aset ekonomi untuk merumuskan akar permasalahan. Selain itu, penataan pasar harus disiapkan sejak awal, jangan baru mencari solusi ketika kondisi sudah oversupply. Jadi kesimpulannya, kita butuh satu ekosistem dan satu rantai pasok yang solid," tambahnya.

Pada kesempatan tersebut, menanggapi kenaikan pasokan bahan baku, Ketua Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Tevi Melviana, menyampaikan bahwa pelaku industri pakan beroperasi sesuai dengan regulasi dan ketentuan pemerintah. Kenaikan harga pakan, khususnya yang dipicu oleh fluktuasi harga jagung, dipengaruhi oleh berbagai faktor kompleks, baik internal maupun eksternal.

Dalam paparan materinya, dijelaskan industri pakan ternak memegang peranan yang sangat strategis karena menyumbang hingga 65% kebutuhan protein hewani nasional. Untuk memastikan industri ini terus berkembang dan mendukung ketahanan pangan, diperlukan dukungan kebijakan pemerintah yang berkesinambungan. Salah satu fokus utama yang harus ditingkatkan adalah produktivitas jagung lokal demi menyokong kebutuhan pabrik pakan ternak, sebagaimana yang diharapkan GPMT agar pemerintah dapat menjaga stabilitas produksi jagung serta bahan pakan lainnya.

Dalam paparannya juga diharapkan dukungan pemerintah terhadap sektor logistik, fasilitas, serta infrastruktur nasional untuk mengantisipasi potensi fluktuasi harga jagung. Di sisi lain, idle capacity industri pakan yang masih berada di angka 30% dinilai sangat memadai untuk mendukung program peningkatan produksi telur dan daging ayam. Namun, intervensi pemerintah secara tidak langsung telah mengubah model bisnis pabrik pakan dari yang sebelumnya berfokus pada "perdagangan dan pengolahan" menjadi "layanan dan pengolahan". Menghadapi berbagai tantangan lingkungan bisnis tersebut, perusahaan tetap berkomitmen menjalankan strategi mitigasi internal untuk meminimalkan dampak negatif yang mungkin timbul.

Sementara dari sisi pemerintah, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian yang diwakili Direktur Pakan, Tri Melasari, menguraikan dalam materinya beberapa upaya stabilisasi harga dan kualitas pakan. Di antaranya dalam jangka pendek terkait surat himbauan ke produsen pakan untuk menahan kenaikan harga pakan ternak dan menjaga kualitas pakan sesuai SNI.

Kemudian, ketersediaan jagung dengan harga HAP Rp 6.400/kg dengan kada air 14%, serta perlu impor bahan pakan subsitusi jagung secepatnya dengan harga wajar untuk feedmill, sehingga tidak berebut jagung antara peternak dan feedmill, hingga realisasi jagung SPHP untuk seluruh peternak/koperasi yang memerlukan.

Sementara untuk jangka menengah, melakukan evaluasi populasi temak broiler maupun layer, untuk membuat prognosa kebutuhan pakan dalam tahun berjalan, tiap tiga bulan. Serta evaluasi bahan baku pakan lokal, untuk harga dan ketersediaan tiap tiga bulan dengan data yang akurat.

Serta dalam jangka panjang, membuat peta kebutuhan bahan pakan untuk lima tahun ke depan, pengembangan riset aplikatif sumber bahan baku lokal, hingga perlunya bahan baku alternatif lokal maupun impor dengan harga yang kompetitif sesuai formulasi. (RBS)

IKAT TUNTAS, LINDUNGI HEPAR: SOLUSI GANDA TOXCARE UNTUK TANTANGAN MULTI-MIKOTOKSIN

Kontaminasi mikotoksin pada bahan baku pakan tetap menjadi tantangan utama industri peternakan di iklim tropis seperti Indonesia. Kelembapan tinggi dan rantai pasok bahan baku yang panjang membuat pakan rentan terkontaminasi lebih dari satu jenis mikotoksin sekaligus, mulai dari aflatoksin B1, okratoksin, fumonisin B1, zearalenon, hingga T-2 toksin.



MENJAGA PERFORMA DARI BAHAYA MIKOTOKSIN

Jamur, cendawan, atau kapang tumbuh di mana dan kapan saja, terutama ketika kondisi lingkungan menguntungkan. (Foto: Gemini)

Mikotoksin sangat berbahaya bagi kelangsungan performa di peternakan unggas. Kontaminasi mikotoksin pada unit usaha unggas apapun itu, dapat menyebabkan kerugian yang sangat besar.

Jamur, cendawan, atau kapang tumbuh di mana dan kapan saja, terutama ketika kondisi lingkungan menguntungkan bagi mereka. Yang lebih berbahaya, kebanyakan jamur biasanya tumbuh pada tumbuhan yang biasa digunakan sebagai bahan baku pakan, seperti jagung dan kacang kedelai.

Kedua jenis tanaman tersebut merupakan unsur penting dalam formulasi ransum. Jagung digunakan sebagai sumber energi utama, sedangkan kedelai sebagai sumber protein. Persentase penggunaan jagung dan kacang kedelai dalam suatu formulasi ransum unggas di Indonesia sangat tinggi. Jagung dapat digunakan 50-60%, sedangkan kedelai bisa sampai 20%.

Cemaran Mikotoksin
Commercial Technical Manager-Mycotoxin Risk Management Trouw Nutrition, Dr Swamy Haladi, dalam presentasinya pada webinar Review Mikotoksin Global 2026, menjabarkan beberapa hal terkait cemaran mikotoksin yang terdapat pada bahan baku dan pakan jadi.

Ia menuturkan, berdasarkan analisis terhadap lebih dari 115.000 sampel dari 46 negara, Trouw melaporkan bahwa jumlah sampel yang terkontaminasi mikotoksin pada 2025 mengalami penurunan dibandingkan 2024. Sampel tersebut mencakup berbagai bahan baku pakan, termasuk biji-bijian, sumber protein, produk samping, silase, total mixed rations (TMR), konsentrat, serta pakan lengkap.

“Penurunan paling signifikan terjadi pada tingkat kontaminasi fumonisin dan toksin T-2. Sebaliknya, tingkat deoksinivalenol (DON) dan zearalenon (ZEA) relatif serupa dengan tahun sebelumnya dan tetap lebih tinggi dibandingkan fumonisin. Sementara itu, rata-rata konsentrasi mikotoksin dalam sampel 2024 dan 2025 dilaporkan tidak menunjukkan perbedaan signifikan,” paparnya.

Temuan ini mengindikasikan bahwa meskipun jumlah sampel terkontaminasi menurun, faktor lingkungan yang mendukung pertumbuhan kapang dan produksi mikotoksin masih berlanjut hingga 2025, khususnya di wilayah beriklim sedang.

Selain existing mycotoxin yang sudah dikenal, ia juga berbicara mengenai enniatins. Mereka adalah kelompok mikotoksin “emerging” (mikotoksin yang relatif baru mendapat perhatian) yang diproduksi terutama oleh jamur Fusarium, khususnya Fusarium avenaceum, F. tricinctum, dan F. poae.

Enniatins (misalnya enniatins A, A1, B, dan B1) merupakan senyawa siklik heksadepsipeptida yang bersifat ionofor, artinya mampu membentuk kompleks dengan ion (seperti K⁺, Na⁺, Ca²⁺) dan mengganggu keseimbangan ion dalam sel.

Walau belum diregulasi secara ketat seperti DON atau aflatoksin, enniatins mendapat perhatian karena dapat menyebabkan efek sitotoksik pada sel mamalia (in vitro), gangguan membran sel dan mitokondria, potensi imunosupresif dan antimikroba, serta memiliki efek sinergis dengan mikotoksin lain (toxic cocktail effect).

“Feed producer harus waspada dengan hal ini, karena enniatins juga bisa berbahaya, oleh karenanya kewaspadaan harus terus ditingkatkan,” katanya.

Jika sudah mengontaminasi bahan baku pakan, apalagi pakan jadi, tentu sangat merugikan produsen pakan maupun peternak. Menurut Tony Unandar, konsultan perunggasan yang juga anggota dewan pakar ASOHI, mikotoksikosis klinis bukanlah kejadian umum di lapangan.

Kasus mikotoksikosis subklinis justru sering ditemukan di lapangan. Gejalanya klinisnya sama dengan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi April 2026. (CR)

MUSUH DALAM SELIMUT YANG HARUS DIWASPADAI

Kapang/jamur dapat tumbuh pada tanaman biji-bijian seperti jagung untuk pakan ternak. (Foto: Infovet/Ridwan)

Anomali iklim dan cuaca melanda, kekhwatiran insan perunggasan tetap sama, mikotoksin. Senyawa tak kasat mata yang bisa mencemari bahan baku dan pakan jadi tersebut masih menjadi momok bersama dalam industri pakan.

Sebagai negara tropis dengan curah hujan yang cukup tinggi, berkisar di antara 2000-3000 mm/tahun, Indonesia merupakan negara yang cukup “nyaman” sebagai tempat hidup kapang/jamur.

Masalahnya kapang/jamur tersebut dapat tumbuh pada tanaman biji-bijian seperti jagung dan kedelai yang merupakan bahan baku pakan. Tak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar biji-bijian yang digunakan sebagai sumber bahan pakan sangat rentan terhadap kontaminasi toksin yang dihasilkan oleh jamur tersebut.

Faktor iklim yang dimiliki Indonesia serta kualitas manajemen dan handling di lapangan, membuat mikotoksin tidak bisa dielakkan, sehingga mengakibatkan potensi kerugian yang besar.

Sejatinya, toksin dapat diartikan sebagai senyawa beracun yang diproduksi di dalam sel atau organisme hidup, dalam dunia veteriner disepakati terminologi biotoksin dalam menyebut mikotoksin maupun toksin lainnya, karena toksin diproduksi secara biologis oleh mahluk hidup memalui metabolisme bukan artificial (buatan).

Dalam industri pakan ternak sering didengar istilah mikotoksin (racun yang dihasilkan oleh kapang/jamur). Sampai saat ini cemaran dan kontaminasi mikotoksin dalam pakan ternak masih membayangi tiap unit usaha peternakan, tidak hanya di negeri ini, tetapi juga di seluruh dunia.

Berbagai Jenis Mikotoksin
Dalam industri pakan, setidaknya ada tujuh jenis mikotoksin yang sangat ditakuti mencemari bahan baku maupun pakan jadi, ketujuhnya kerap mengontaminasi dan menyebabkan masalah pada ternak. Terkadang dalam satu kasus, tidak hanya satu mikotoksin yang terdapat dalam sebuah sampel.

Menurut Nutrisionis BEC Feed Solution, Mega Pratiwi Saragi, masalah mikotoksin merupakan masalah klasik yang terus berulang dan sangat sulit diberantas. “Banyak faktor yang memengaruhi kenapa mikotoksin sangat sulit diberantas, misalnya saja dari cara pengolahan jagung yang salah,” tuturnya.

Maksudnya adalah kebanyakan petani jagung di Indonesia hanya mengandalkan iklim dalam mengeringkan jagungnya dengan bantuan sinar matahari/manual. Mungkin ketika musim panas hasil pengeringan akan baik, namun pada musim basah (penghujan) tentu tidak bisa diandalkan.

“Jika pengeringan tidak sempurna, kadar air dalam jagung akan tinggi, sehingga disukai oleh kapang. Lalu kapang akan berkembang di situ dan menghasilkan toksin,” tambahnya.

Masih masalah iklim menurut Mega, Indonesia yang beriklim tropis merupakan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi April 2026. (CR)

ANCAMAN TERSEMBUNYI DALAM PAKAN

Salah satu ancaman paling signifikan dalam pakan adalah kontaminasi mikotoksin. (Foto: Dok. Romindo)

Di dunia perunggasan, pakan selalu menempati posisi sebagai komponen biaya terbesar sekaligus penentu utama performa produksi. Baik pada ayam layer, broiler, maupun breeder, lebih dari 60-70% biaya operasional berasal dari pakan. Namun ironisnya, meskipun porsinya sangat dominan, masih banyak praktisi di lapangan yang melihat pakan hanya sebatas “input nutrisi”, bukan sebagai faktor risiko yang kompleks.

Dalam praktik sehari-hari, ketika terjadi penurunan performa seperti FCR memburuk, menurunnya produksi telur, maupun pertumbuhan yang tidak optimal, fokus utama sering langsung diarahkan pada penyakit infeksi. Padahal, tidak jarang akar masalah sebenarnya berasal dari kualitas pakan yang menurun secara tidak kasat mata.

Salah satu ancaman paling signifikan dalam pakan adalah kontaminasi mikotoksin. Mikotoksin merupakan senyawa toksik yang dihasilkan jamur yang tumbuh pada bahan baku pakan seperti jagung, gandum, maupun bungkil kedelai. Pertumbuhan jamur ini sangat dipengaruhi oleh kadar air, suhu, dan kondisi penyimpanan. Dalam kondisi kelembapan tinggi, seperti yang sering terjadi setelah musim hujan, risiko kontaminasi meningkat secara signifikan.

Aflatoksin, fumonisin, okratoksin, T2-toksin, zearalenon, dan deoksinivalenol (DON) adalah beberapa jenis mikotoksin yang umum ditemukan di pakan unggas. Mikotoksin ini berbahaya karena hanya menimbulkan gejala klinis akut. Pada dosis rendah hingga sedang, mikotoksin lebih sering menyebabkan gangguan subklinis (tanpa gejala). Ayam tetap terlihat normal, tetapi terjadi penurunan efisiensi metabolisme. Nutrisi tidak terserap optimal, fungsi hati terganggu, dan terjadi penekanan sistem imun. Dampaknya pada broiler pertumbuhan tidak optimal, pada layer penurunan produksi dan kualitas telur, serta gangguan reproduksi pada breeder.

Selain itu, mikotoksin juga memiliki efek imunosupresif yang signifikan. Ayam yang terpapar mikotoksin cenderung memiliki respons vaksin lebih rendah. Hal ini sering menimbulkan kesalahpahaman di lapangan, di mana kegagalan vaksinasi dianggap sebagai masalah program vaksin, padahal bisa jadi faktor pakanlah yang menjadi penyebab utamanya. Dalam situasi seperti ini, penggunaan obat atau revaksinasi belum tentu mampu memberikan hasil yang optimal karena sumber masalah utamanya belum teratasi.

Variasi kualitas dari bahan baku juga menjadi tantangan besar dalam formulasi pakan. Secara teoritis, formulasi pakan disusun berdasarkan nilai nutrisis tandar. Namun dalam praktik, nilai nutrisi bahan baku dapat sangat bervariasi antar batch. Kandungan protein, energi, maupun asam amino dapat berbeda tergantung pada asal bahan bakunya, kondisi panen, serta proses penyimpanan.

Tentu hal tersebut akan berdampak langsung pada performa ayam. Pada broiler terlihat dalam bentuk pertumbuhan yang... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi April 2026.

Ditulis oleh:
Drh A. Riwanda
Technical Department Manager
PT Romindo Primavetcom
Head Office – Jl. Dr Saharjo No. 264,
Tebet, Jakarta Selatan
No. HP/WA: 082331472418
Email: riwanda@romindo.net
www.romindo.co.id

MUSUH DALAM SELIMUT YANG HARUS DIWASPADAI

Kapang/jamur dapat tumbuh pada tanaman biji-bijian seperti jagung untuk pakan ternak. (Foto: Infovet/Ridwan)

Anomali iklim dan cuaca melanda, kekhwatiran insan perunggasan tetap sama, mikotoksin. Senyawa tak kasat mata yang bisa mencemari bahan baku dan pakan jadi tersebut masih menjadi momok bersama dalam industri pakan.

Sebagai negara tropis dengan curah hujan yang cukup tinggi, berkisar di antara 2000-3000 mm/tahun, Indonesia merupakan negara yang cukup “nyaman” sebagai tempat hidup kapang/jamur.

Masalahnya kapang/jamur tersebut dapat tumbuh pada tanaman biji-bijian seperti jagung dan kedelai yang merupakan bahan baku pakan. Tak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar biji-bijian yang digunakan sebagai sumber bahan pakan sangat rentan terhadap kontaminasi toksin yang dihasilkan oleh jamur tersebut.

Faktor iklim yang dimiliki Indonesia serta kualitas manajemen dan handling di lapangan, membuat mikotoksin tidak bisa dielakkan, sehingga mengakibatkan potensi kerugian yang besar.

Sejatinya, toksin dapat diartikan sebagai senyawa beracun yang diproduksi di dalam sel atau organisme hidup, dalam dunia veteriner disepakati terminologi biotoksin dalam menyebut mikotoksin maupun toksin lainnya, karena toksin diproduksi secara biologis oleh mahluk hidup memalui metabolisme bukan artificial (buatan).

Dalam industri pakan ternak sering didengar istilah mikotoksin (racun yang dihasilkan oleh kapang/jamur). Sampai saat ini cemaran dan kontaminasi mikotoksin dalam pakan ternak masih membayangi tiap unit usaha peternakan, tidak hanya di negeri ini, tetapi juga di seluruh dunia.

Berbagai Jenis Mikotoksin
Dalam industri pakan, setidaknya ada tujuh jenis mikotoksin yang sangat ditakuti mencemari bahan baku maupun pakan jadi, ketujuhnya kerap mengontaminasi dan menyebabkan masalah pada ternak. Terkadang dalam satu kasus, tidak hanya satu mikotoksin yang terdapat dalam sebuah sampel.

Menurut Nutrisionis BEC Feed Solution, Mega Pratiwi Saragi, masalah mikotoksin merupakan masalah klasik yang terus berulang dan sangat sulit diberantas. “Banyak faktor yang memengaruhi kenapa mikotoksin sangat sulit diberantas, misalnya saja dari cara pengolahan jagung yang salah,” tuturnya.

Maksudnya adalah... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi April 2026. (CR)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer