-->

MENJAGA “MESIN PRODUKSI” TETAP SEIMBANG PADA LAYER, BROILER, DAN BREEDER

Bagaimana NE terjadi di dinding usus.

Ketika Kandang Tampak Normal, tetapi Performa Tidak
Banyak peternak dan teknisi lapangan pernah menghadapi situasi ini. Vaksinasi sudah sesuai jadwal, biosekuriti berjalan, dan pemberian pakan sesuai kebutuhan, namun FCR tetap sulit turun, kotoran basah dan berbau tidak biasa, pertumbuhan tidak seragam, atau produksi telur tidak mencapai puncak yang diharapkan.

Dalam pengalaman di lapangan, sumber masalahnya sering sama, yakni keseimbangan sistem pencernaan terganggu. Saluran cerna adalah organ yang mengubah pakan menjadi daging dan telur. Sekitar 70% dari sistem imun unggas juga berkaitan dengan jaringan di sepanjang usus. Ketika usus bermasalah, efeknya merambat ke semua aspek produksi.

Apa yang Dimaksud Keseimbangan Sistem Pencernaan?
Usus yang sehat ditopang oleh tiga pilar yang bekerja bersama:
1. Mikrobiota seimbang: Bakteri menguntungkan (misalnya Lactobacillus dan Bifidobacterium) lebih dominan daripada bakteri merugikan seperti Clostridium perfringens, E. coli, dan Salmonella.

2. Integritas mukosa: Vili usus tinggi dan rapat, sehingga penyerapan nutrisi optimal dan patogen tidak mudah menembus dinding usus.

3. Pencernaan dan penyerapan efisien: Enzim endogen bekerja baik, pH saluran cerna stabil, dan pakan tercerna tuntas.

Gangguan keseimbangan ini disebut disbiosis. Disbiosis adalah penyebab umum di balik enteritis non-spesifik, necrotic enteritis (NE), wet litter, feed passage, hingga rendahnya daya serap nutrisi.

Mengapa Kasus Disbiosis Makin Menantang?
Ada beberapa faktor yang membuat tantangan ini semakin terasa:
• Larangan AGP: Sejak antibiotic growth promoter (AGP) dilarang melalui regulasi Permentan, peternak kehilangan “payung pengaman” yang selama ini menekan bakteri patogen. Manajemen kesehatan usus kini harus dibangun lewat pendekatan yang lebih menyeluruh.

• Cuaca dan iklim yang tidak menentu: Transisi musim, hujan berkepanjangan, dan suhu tinggi meningkatkan kelembapan litter, memicu stres panas, dan mempercepat pertumbuhan mikroba patogen. Data BMKG tentang pola cuaca dapat menjadi acuan antisipasi.

• Kualitas... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Oktober 2026.

Ditulis oleh:
Drh A. Riwanda
Technical Department Manager
PT ROMINDO PRIMAVETCOM
Head Office – Jl. Dr Saharjo, No. 264,
Tebet, Jakarta Selatan
Email: riwanda@romindo.net
www.romindo.co.id

MENGATASI GANGGUAN KESEIMBANGAN SISTEM PENCERNAAN UNGGAS


Ketika Saluran Pencernaan Menjadi Kunci Daya Saing
Dalam industri perunggasan modern, saluran pencernaan unggas tidak lagi dipandang sekadar sebagai organ pencerna pakan, melainkan sebagai pusat kendali performa, kesehatan, efisiensi produksi, dan bahkan citra produk akhir di mata konsumen.

Keseimbangan sistem pencernaan menentukan seberapa optimal nutrisi diserap, seberap akuat sistem imun bekerja, dan seberapa stabil performa produksi dapat dipertahankan di tengah tantangan penyakit, stres lingkungan, serta tuntutan global akan produk unggas yang aman, sehat, dan bertanggung jawab.

Gangguan keseimbangan sistem pencernaan sering kali menjadi awal dari berbagai masalah klasik di kandang, pertumbuhan tidak seragam, FCR memburuk, litter basah, meningkatnya kasus enteritis, hingga penurunan daya tahan terhadap penyakit. Dalam konteks ini, pendekatan parsial tidak lagi memadai. Industri dituntut untuk menerapkan strategi holistik yang mengintegrasikan nutrisi, manajemen, biosekuriti, dan kesehatan, sejalan dengan isu besar antimicrobial resistance (AMR) dan pendekatan One Health.

Tren Penggunaan Antibiotik, dari Ketergantungan Menuju Transformasi
Sebelum 2014, penggunaan antibiotik dalam industri unggas masih didominasi pendekatan preventif dan promotif, termasuk sebagai antibiotic growth promoter (AGP). Antibiotik menjadi solusi cepat untuk menjaga performa dan menekan penyakit pencernaan. Namun, seiring meningkatnya bukti ilmiah tentang AMR dan dampaknya terhadap kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan, paradigma ini mulai berubah.

Sejak diberlakukan pembatasan dan pelarangan AGP di berbagai negara, termasuk Indonesia, industri unggas memasuki fase transisi yang menantang. Penurunan penggunaan antibiotic berdampak langsung pada meningkatnya tekanan penyakit pencernaan, terutama yang berkaitan dengan bakteri patogen seperti Clostridium perfringens, E. coli, dan Salmonella. Di sisi lain, konsumen semakin kritis terhadap isu residu antibiotik, keamanan pangan, dan keberlanjutan produksi.

Isu AMR tidak hanya menjadi persoalan teknis peternakan, tetapi telah berkembang menjadi isu kesehatan global dalam kerangka One Health. Artinya, setiap keputusan di kandang memiliki implikasi hingga ke meja makan konsumen. Oleh karena itu, menjaga keseimbangan sistem pencernaan tanpa ketergantungan pada antibiotik menjadi tantangan sekaligus peluang strategis bagi industri.

Akar Masalah Ketidakseimbangan Sistem Pencernaan
Ketidakseimbangan sistem pencernaan unggas bersifat... Selengkapnya baca di Majalah Infovet Oktober 2026. 

Ditulis oleh:
Henri E. Prasetyo drh MVet
Praktisi perunggasan, Nutritionist PT DMC

KONSISTEN MEMAKSIMALKAN KINERJA SALURAN PENCERNAAN

Organ pada saluran pencernaan ayam. (Sumber: Poultryhub, 2020)

Bicara masalah kesehatan ayam, penyakit infeksius memang datangnya lebih banyak dari saluran pernapasan. Tetapi bukan berarti mengabaikan masalah kesehatan saluran pencernaan, karena komplikasi dalam kasus ayam yang sakit kerap terjadi.

Semua aspek pemeliharaan sangat besar pengaruhnya dan mereka saling terkait. Sederhananya, ayam yang saluran pernapasannya sakit salah satu gejalanya bisa jadi tidak mau makan, ayam yang saluran pencernaannya sakit dan nutrisinya kurang mudah terinfeksi penyakit lain termasuk pernapasan.

Jangan Berat Sebelah
Dari kaca mata ilmu anatomi, saluran pencernaan ayam dapat dikelompokkan menjadi tujuh bagian yang terdiri dari tembolok (crop), lambung (proventriculus), ventriculus, usus halus, usus buntu (caecum), usus besar (colon), dan cloaca. Masing-masing bagian tubuh ini dihuni secara alami oleh mikroflora yang terdiri bakteri, protozoa, maupun jamur. Namun bagian yang paling banyak dihuni jenis bakteri adalah saluran usus.

Yang menjadi kunci kesuksesan dalam menjaga kesehatan saluran pencernaan yakni seimbangnya jumlah mikroorganisme yang ada pada saluran pencernaan. Jika keseimbangan tersebut bergeser, misalnya mikroorganisme patogen lebih banyak ketimbang mikroorganisme komensal dan yang menguntungkan, tentu akan merugikan ayam sebagai hospes.

Mengenai hal itu, David Marks seorang Poultry Consultant berpengalaman, menyatakan ada beberapa hal yang dapat memengaruhi keseimbangan mikroflora di dalam usus. Faktor pertama yakni dari ransum dan air minum. Inilah alas an pentingnya mengecek kualitas pakan dan air minum. “Pakan yang nutriennya rendah dan tercemar mikotoksin, tidak higienis, serta mengandung cemaran feses kerap menimbulkan masalah pada ayam,” katanya.

Selain itu, air minum juga dapat menjadi media tumbuh kembang ideal bagi bakteri seperti E. coli maupun organisme patogen lainnya, sehingga dapat menyebabkan keseimbangan mikroflora usus terganggu.

Faktor kedua yakni stres. Stres terjadi karena reaksi fisiologis normal pada ayam dalam rangka beradaptasi dengan situasi baru, baik terkait lingkungan, maupun perlakuan ayam.

Lebih lanjut dijelaskan, stres juga menyebabkan panjang vili usus berkurang, sehingga mengakibatkan peningkatan frekuensi pergerakan usus dan pH intestinal dari usus. Kondisi inilah yang kemudian berdampak pada mikroflora usus, di mana koloni mikroflora menguntungkan menjadi berkurang dan koloni mikroflora merugikan justru meningkat. Efek lain yang dapat terjadi adalah diare dan munculnya infeksi sekunder bakterial.

Faktor ketiga yakni... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Oktober 2026. (CR)

PENCERNAAN AYAM: MASALAH DAN SOLUSINYA

Sistem pencernaan pada ayam. (Sumber :www.bing.com)

Saluran pencernaan (gastrointestinal tract/GIT) yang berfungsi dengan baik jauh lebih dari sekadar organ penyerapan nutrisi, ia bertindak sebagai pusat saraf dari berbagai proses fisiologis yang penting untuk kesehatan usus pada unggas. Fungsi yang tepat dari sistem pencernaan secara langsung memengaruhi pertumbuhan, konversi pakan, imunokompetensi, dan ketahanan terhadap penyakit.

Oleh karena itu, penerapan strategi yang bertujuan untuk menjaga dan mengoptimalkan kesehatan pencernaan merupakan prioritas dalam manajemen unggas, nutrisi, dan program kesehatan, terutama untuk mencegah enteritis.

Keseimbangan sistem pencernaan pada ayam sangat penting untuk kesehatan dan produktivitas mereka secara keseluruhan. Hal ini melibatkan fungsi yang tepat dari berbagai organ dan pemeliharaan keseimbangan antara ayam, mikrobiota usus, dan lingkungan usus.

Keseimbangan ini penting untuk mencerna dan menyerap nutrisi, mencegah masuknya patogen, dan menjaga keadaan homeostasis yang diinginkan. Faktor-faktor seperti stres, nutrisi pakan, dan keberadaan mikotoksin dapat mengganggu keseimbangan ini, yang dapat menyebabkan pertumbuhan, kesehatan, dan kinerja yang menurun. Fungsi penghalang sistem pencernaan yang memungkinkan nutrisi penting lolos dan membatasi zat berbahaya adalah aspek kunci dalam menjaga keseimbangan ini.

Dalam konteks peternakan unggas modern, di mana efisiensi dan kesejahteraan hewan semakin penting, kesehatan pencernaan diposisikan sebagai salah satu pilar fundamental untuk menjamin profitabilitas, keberlanjutan, dan ketahanan terhadap tantangan kesehatan dan lingkungan.

Pendukung Keseimbangan
Salah satu elemen terpenting dalam keseimbangan pencernaan unggas adalah mikrobiota usus, di mana ekosistem mikroba dinamis yang secara signifikan memengaruhi pencernaan, kekebalan, dan pertahanan terhadap patogen. Mikrobiota unggas terdiri dari beragam bakteri, jamur, virus, dan protozoa yang berinteraksi satu sama lain dan dengan inang. Spesies seperti Lactobacillus spp., Bifidobacterium spp., atau Saccharomyces spp., sangat penting untuk menjaga kesehatan usus pada unggas dan mencegah penyakit usus. Mereka memfermentasi substrat yang tidak dapat dicerna, yang mengarah pada produksi asam lemak rantai pendek (SCFA), yang mengatur pH usus, meningkatkan penyerapan nutrisi, dan memperkuat integritas epitel.

Selain itu, mikrobiota yang seimbang bertindak sebagai penghalang terhadap mikroorganisme patogen melalui mekanisme eksklusi kompetitif, produksi zat antimikroba, dan modulasi sistem kekebalan mukosa.

Di luar mikrobiota, kesehatan pencernaan didasarkan pada... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Oktober 2026.

Ditulis oleh:
Drh Arief Hidayat
Praktisi perunggasan

MENGEFEKTIFKAN KINERJA SALURAN PENCERNAAN

Kepadatan kandang harus diperhatikan agar meminimalisir stres. (Foto: Gemini)

Agar nutrisi yang ada pada ransum dapat diserap sempurna, dibutuhkan sistem pencernaan yang bekerja optimal. Saluran pencernaan yang berfungsi secara optimal akan mampu memaksimalkan nilai pemanfaatan ransum melalui proses pencernaan dan penyerapan nutrisi.

Dalam aspek pemeliharaan ayam, banyak tantangan yang dihadapi peternak di masa kini. Masalah pada saluran pencernaan kerap kali terjadi, baik yang bersifat infeksius maupun non-infeksius. Apalagi kala keduanya berkomplikasi dan menimbulkan masalah yang cukup serius di lapangan.

Efisiensi dan Kinerja Saluran Cerna Adalah Kunci
Dalam dunia perunggasan sudah dipahami bahwa pakan memegang peranan penting dalam keberlangsungan hidup, baik ayam maupun peternaknya. Persentase terbesar dalam bisnis perunggasan berasal dari pakan, yakni sekitar 60-70%.

Siapa yang paling efisien dalam biaya pakan maka dialah yang akan mendapat margin terbesar. Hal tersebut juga sering ditemui dalam program-program kemitraan bisnis unggas, plasma berusaha seefisien mungkin untuk menghasilkan performa terbaik dengan pakan.

Dari kacamata lain, juga tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan genetik ayam di masa kini sangat pesat. Jika pada masa awal perkembangannya, broiler baru bisa dipanen dalam kurun waktu dua bulan, kini sudah bisa dipanen dalam waktu separuhnya. Hal yang hampir serupa juga terjadi pada ayam petelur yang genetiknya sudah berkembang sedemikian rupa hingga dapat menghasilkan telur yang banyak dalam kurun waktu tertentu.

Hal senada pernah diutarakan oleh Guru Besar Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Prof Komang Wiryawan, dalam suatu seminar. Menurutnya, kini ayam memiliki pertumbuhan lebih cepat, namun memiliki kekurangan.

“Perkembangan ternak ayam terutama pedaging ini sangat luar biasa, sebab pada waktu berumur sehari bobotnya masih 40-an gram, lalu dalam waktu kurang dari sebulan bobotnya bisa mencapai lebih dari satu kilogram, itu artinya naik lebih dari 20 kali lipat,” ujarnya.

Kendati demikian, walaupun pertumbuhannya cepat, keluhan-keluhan peternak terutama masalah penyakit kerap datang menyerang. “Ayam modern bisa dibilang mudah stres kalau tidak dipelihara dengan baik pasti sakit, pakannya tidak cocok juga sakit, begitupun jika kandang kurang layak ayam juga sakit,” jelasnya.

Oleh karenanya perlu diterapkan manajemen yang baik dalam pemeliharannya, terutama pakan. “Karena makhluk hidup itu nutrisinya dari situ, kualitas pakan harus terjaga, coba lihat kalau nutrisinya tidak mendukung, pasti stres ayam, gampang terkena penyakit. Belum lagi kalau pakan terkontaminasi zat bahaya seperti mikotoksin, tentu akan makin parah,” ucapnya.

Dirinya juga tidak memungkiri bahwa aspek manajemen... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Oktober 2026. (CR)

CARA KERJA FITOBIOTIK MENGOPTIMALKAN PRODUKSI UNGGAS

Dampak keseluruhan berbagai komponen bioaktif dari fitobiotik terhadap kesehatan usus ayam. (Sumber: BioRender.com)

Penggunaan antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan (AGP) dan peningkat kesehatan saluran pencernaan dalam produksi ayam pedaging telah lama dipraktikkan karena efektivitasnya dalam meningkatkan laju pertumbuhan dan efisiensi pakan, serta memberikan pengaruh positif terhadap mikrobiota usus dan imunitas bawaan, manfaat-manfaat ini secara keseluruhan berkontribusi pada kesehatan dan performa unggas yang lebih baik (Gadde U, Kim WH, Oh ST, Lillehoj HS, 2017).

Namun, manfaat penggunaan antibiotik kini semakin dibayangi risiko terkait dengan residu obat dalam produk hewani (Ronquillo MG, Hernandez JCA. 2017). Sebagai contoh, antibiotik seperti tetrasiklin dan amfenikol telah terdeteksi dalam produk pangan, sehingga menimbulkan risiko bagi kesehatan konsumen (Diarra MS, Malouin F. 2014). Selain itu, penelitian oleh Hur dkk,  menemukan isolat Salmonella enterica yang berasal dari telur dan karkas ayam menunjukkan resistansi terhadap berbagai jenis antibiotik, termasuk penisilin, sulfisoksazol, streptomisin, tetrasiklin, dan kuinolon.

Resistansi ini tidak hanya mengganggu kesehatan unggas, tetapi juga meningkatkan risiko kontaminasi sekunder pada produk hewani, sehingga mengancam kesehatan masyarakat. Mengingat meningkatnya kekhawatiran terkait resistansi antibiotik dan masalah residu, terjadi pergeseran dalam produksi broiler menuju penghapusan penggunaan antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan dan peningkat kesehatan saluran pencernaan.

Baru-baru ini, sebuah studi oleh Iwinski dkk. (Iwinski H, Wódz K, et al., 2022), menunjukkan campuran fitogenik dapat secara efektif menghambat galur Salmonella enterica subsp. yang resistan terhadap antibiotik, termasuk serovar Enteritidis, Typhimurium, yang mengindikasikan efektivitas aktivitas antimikrobanya. Pergeseran ini menegaskan perlunya strategi alami alternatif yang mampu menjaga kesehatan dan performa hewan tanpa berkontribusi terhadap resistansi antibiotik.

Dalam produksi unggas modern, broiler dibiakkan secara selektif untuk pertumbuhan yang cepat dan peningkatan massa daging dada, yang pada gilirannya menyebabkan laju metabolisme tinggi (Maharjan P, Martinez D, et al., 2021). Proses seleksi ditambah sistem produksi yang intensif ini, memaparkan ayam-ayam tersebut pada berbagai faktor pemicu stres, termasuk periode pencahayaan yang panjang, kadar debu, amonia yang tinggi, hingga beban patogen, faktor-faktor ini secara bersama-sama memicu stres oksidatif (Mishra B, Jha R, 2019).

Akibatnya, produksi reactive oxygen species (ROS) meningkat pesat, sehingga mengganggu keseimbangan antioksidan, merusak kesehatan saluran pencernaan, dan pada akhirnya memengaruhi performa secara keseluruhan, yang berujung pada kerugian ekonomi yang signifikan (Surai PF, Kochish II, Fisinin VI, Kidd MT, 2019).

Oleh karena itu, pengelolaan kesehatan saluran pencernaan yang... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi September 2026.

Ditulis oleh:
Drh Arief Hidayat
Praktisi Perunggasan

MENYOAL SEDIAAN HERBAL UNTUK KESEHATAN TERNAK YANG OPTIMAL

Berbagai jenis herbal yang dapat dimanfaatkan tersedia di Indonesia. (Foto: Gemini)

Ada sekitar 40 ribu spesies tanaman di dunia dan sekitar 30 ribu di antaranya ada di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, sekitar 9.600 spesies tanaman tadi telah terbukti memiliki khasiat sebagai obat. Sedangkan lebih dari 1.000 di antaranya dimanfaatkan sebagai obat herbal tradisional oleh masyarakat Indonesia.

Di Indonesia obat herbal lebih akrab dengan sebutan jamu. Sejak zaman dulu, masyarakat Indonesia telah lama memanfaatkan sediaan herbal sebagai obat. Dari pengertiannya, obat herbal adalah obat yang zat aktifnya berasal dari tanaman (daun, batang, akar, kayu, buah, ataupun kulit kayu).

Di masa kini tren gaya hidup manusia semakin berubah, termasuk dalam hal kesehatan. Manusia di masa kini menganut tren kembali ke alam, sehingga banyak di antaranya yang mengonsumsi obat-obatan herbal dan jamu demi menunjang kesehatannya. Begitupun dengan ternak, kenyataannya sediaan herbal juga dapat digunakan sebagai terapi dalam kesehatan hewan ternak.

Herbal bukan hanya Jamu
Jamu memang sudah sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia. Penggunaannya tidak terbatas hanya pada manusia saja, tetapi juga pada hewan.

Sering kali ketika ada kontes ternak, karapan sapi, atau event sejenis, pemilik hewan kerap memberikan jamu untuk ternaknya agar kondisinya lebih prima pada saat kontes.

Nah, sebenarnya sediaan herbal tradisional bukan hanya jamu, ada beberapa kategori sediaan berdasarkan pengelompokkannya. Seperti diutarakan oleh Guru Besar SKHB IPB University, Prof Drh Min Rahiminawati. Menurut penuturannya, obat herbal di Indonesia terdiri atas tiga golongan yakni jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka.

Jamu merupakan obat bahan alam yang sediaannya masih berupa bentuk asli (daun, rimpang, batang, dan lainnya). Setelah lolos uji pra-klinik, jamu dikategorikan menjadi Obat Herbal Terstandar (OHT). Tingkat paling tinggi disebut sebagai fitofarmaka, di mana keamanan dan khasiat obat bahan alam sudah lolos uji pra-klinik dan uji klinik, serta bahan baku dan produk jadinya sudah terstandarisasi. Namun, kategorisasi tersebut hanya ada pada sediaan obat manusia.

“Untuk hewan mungkin sepertinya belum, tetapi saya lihat semakin kemari kayaknya makin banyak sediaan herbal, apalagi untuk ternak unggas. Tentunya ini indikasi positif untuk sediaan herbal, semoga semakin bergairah juga untuk industrinya menggunakan sediaan herbal,” ujar Prof Min.

Selain jamu, beberapa jenis tanaman dapat menghasilkan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi September 2026. (CR)

ANTISIPASI POTENSI KELEMAHAN DALAM PENANGANAN CRD KOMPLEKS

Ayam menunjukkan gejala respirasi (gasping) akibat infeksi mycoplasma. (Foto: Istimewa)

Di beberapa layer farm yang penulis kunjungi, keluhan yang sering terdengar adalah ngorok tidak hilang meski sudah dua kali terapi, FCR naik tanpa sebab yang jelas, atau ayam batuk ringan yang tiba-tiba memburuk seminggu setelah ada perlakuan vaksinasi. Pola seperti itu hampir selalu mengarah ke satu hal yang sama, yaitu CRD tidak lagi datang sendirian, melainkan bersamaan dengan E. coli, virus pernapasan, dan kondisi kandang yang sebenarnya sudah menunjukkan tanda bahaya sejak awal.

Bentuk rombongan inilah yang dalam literatur disebut complicated chronic respiratory disease (CCRD). Kombinasi Mycoplasma dengan infeksi sekunder E. coli, ND, IB, AMPV, ILT, dan lain sebagainya saling memperberatkan satu sama lain dan menimbulkan kerugian ketika produksi sudah telanjur turun.

Dua Wajah Mycoplasma yang Tidak Sama
Banyak yang masih menyamaratakan Mycoplasma gallisepticum (MG) dan Mycoplasma synoviae (MS), padahal keduanya punya karakter berbeda dan menuntut strategi deteksi yang berbeda pula.

MG relatif memiliki gejala yang konsisten, lebih mudah dikenali, dan masih cukup responsif terhadap antibiotik. Kerugian dapat muncul karena FCR naik, penurunan produksi telur, ditambah penurunan daya tetas pada breeder.

Sementara untuk MS jauh lebih sulit dideteksi. Infeksi tunggalnya sering tidak bergejala sama sekali dan baru terlihat jelas saat berkomplikasi dengan virus atau bakteri lain. MS juga tidak sebaik MG dalam merespons antibiotik, dan ayam yang pernah terpapar MS akan menjadi carrier sepanjang hidupnya dan terus berpotensi menularkan meski flock tampak sehat-sehat saja. Bila dibiarkan tanpa pengendalian sejak dini, penurunan produksi telur akibat MS bisa mencapai sekitar 7%, juga berdampak pada kualitas kerabang (jumlah telur kualitas II meningkat) yang sering luput dari perhatian.

Titik lemah pertama justru muncul di sini, banyak peternakan masih menganggap “Mycoplasma ya mycoplasma”, tanpa membedakan pendekatan diagnosis dan kontrol untuk masing-masing spesies.

Apa Kata Data Lapangan
Surveilans nasional yang dilakukan pada 350 sampel layer komersial di Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi sepanjang 2025, memberikan gambaran cukup mengejutkan. Prevalensi MS secara keseluruhan tercatat... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2026. 

Ditulis oleh:
Drh. A. Riwanda
Technical Department Manager
PT ROMINDO PRIMAVETCOM
Head Office – Jl. Dr Saharjo, No. 264,
Tebet, Jakarta Selatan
Email: riwanda@romindo.net
www.romindo.co.id 

CRD BUKAN SEKADAR INFEKSI: SAAT KECERNAAN NUTRISI MENJADI KUNCI KESEHATAN PERNAPASAN AYAM


Selama ini, chronic respiratory disease (CRD) pada ayam broiler maupun layer lebih sering dikaitkan dengan infeksi Mycoplasma gallisepticum (MG), yang dikenal sebagai salah satu patogen utama penyebab gangguan saluran pernapasan. Tidak mengherankan jika berbagai upaya pengendalian di lapangan masih didominasi oleh penggunaan antibiotik, vaksinasi, peningkatan biosekuriti, serta perbaikan ventilasi kandang.

Namun, pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa keberadaan MG tidak selalu berujung pada gejala klinis yang berat. Sebaliknya, banyak peternakan mengalami kasus CRD yang kompleks akibat kombinasi berbagai faktor, mulai dari tingginya kadar amonia, kualitas litter yang buruk, kepadatan kandang, stres lingkungan, hingga ketidakseimbangan nutrisi pakan.

Perkembangan ilmu nutrisi unggas dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa kesehatan saluran pernapasan tidak dapat dipisahkan dari kesehatan saluran pencernaan. Konsep gut-lung axis menjelaskan adanya komunikasi biologis antara usus dan paru-paru melalui sistem imun mukosa, metabolit mikrobiota, serta mediator inflamasi. Artinya, kualitas nutrisi yang dikonsumsi ayam dan kemampuan saluran pencernaan dalam mencerna serta menyerap nutrient akan sangat menentukan kemampuan ayam menghadapi tantangan penyakit respirasi, termasuk CRD.

Ketika Kecernaan Nutrisi Menentukan Ketahanan Ayam
Tujuan utama formulasi pakan bukan lagi sekadar memenuhi kebutuhan nutrisi berdasarkan angka kandungan protein atau energi, tetapi memastikan bahwa nutrien tersebut benar-benar dapat dicerna dan dimanfaatkan secara optimal oleh ayam. Nutrisi yang memiliki kecernaan tinggi akan menghasilkan penyerapan asam amino dan energi yang lebih efisien, sehingga mendukung pertumbuhan, produksi telur, sekaligus memperkuat sistem imun.

Sebaliknya, nutrien yang tidak tercerna akan menjadi substrat bagi bakteri di saluran pencernaan bagian bawah. Fermentasi protein oleh bakteri proteolitik menghasilkan berbagai senyawa seperti amonia, amina biogenik, indol, dan hidrogen sulfida yang bersifat iritatif terhadap mukosa usus. Kondisi ini memicu dysbiosis, meningkatkan permeabilitas usus (leaky gut), dan mengaktifkan respons inflamasi sistemik.

Dampaknya tidak hanya terbatas pada saluran pencernaan, tetapi juga memengaruhi jaringan mukosa saluran pernapasan sehingga ayam menjadi lebih rentan terhadap kolonisasi MG maupun infeksi bakteri sekunder seperti E. coli. Dengan kata lain, kesehatan saluran pernapasan sebenarnya dimulai dari usus yang sehat.

Protein Berlebih: Produktif atau Justru Menjadi Beban?
Masih banyak dijumpai anggapan bahwa peningkatan kadar protein kasar dalam pakan akan selalu menghasilkan performa yang lebih baik. Padahal, ayam tidak membutuhkan protein dalam jumlah berlebih, melainkan keseimbangan asam amino yang dapat dicerna sesuai kebutuhannya.

Protein yang tidak terserap akan mengalami proses deaminasi dan akhirnya diekskresikan sebagai nitrogen. Semakin tinggi protein yang terbuang, semakin besar pula nitrogen yang dikeluarkan melalui ekskreta. Di dalam litter, nitrogen tersebut akan diuraikan mikroorganisme menjadi gas amonia, terutama ketika kelembapan kandang tinggi dan ventilasi kurang optimal.

Inilah salah satu hubungan paling nyata antara nutrisi dan penyakit respirasi. Formulasi pakan yang kurang efisien tidak hanya meningkatkan biaya pakan, tetapi juga meningkatkan pencemaran udara di dalam kandang yang pada akhirnya memperbesar risiko gangguan pernapasan.

Pendekatan precision nutrition yang saat ini berkembang di industri global justru menekankan penggunaan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2026.

Ditulis oleh:
Henri E. Prasetyo drh MVet
Praktisi perunggasan, Nutritionist PT DMC

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer