-->

MUSUH DALAM SELIMUT YANG HARUS DIWASPADAI

Kapang/jamur dapat tumbuh pada tanaman biji-bijian seperti jagung untuk pakan ternak. (Foto: Infovet/Ridwan)

Anomali iklim dan cuaca melanda, kekhwatiran insan perunggasan tetap sama, mikotoksin. Senyawa tak kasat mata yang bisa mencemari bahan baku dan pakan jadi tersebut masih menjadi momok bersama dalam industri pakan.

Sebagai negara tropis dengan curah hujan yang cukup tinggi, berkisar di antara 2000-3000 mm/tahun, Indonesia merupakan negara yang cukup “nyaman” sebagai tempat hidup kapang/jamur.

Masalahnya kapang/jamur tersebut dapat tumbuh pada tanaman biji-bijian seperti jagung dan kedelai yang merupakan bahan baku pakan. Tak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar biji-bijian yang digunakan sebagai sumber bahan pakan sangat rentan terhadap kontaminasi toksin yang dihasilkan oleh jamur tersebut.

Faktor iklim yang dimiliki Indonesia serta kualitas manajemen dan handling di lapangan, membuat mikotoksin tidak bisa dielakkan, sehingga mengakibatkan potensi kerugian yang besar.

Sejatinya, toksin dapat diartikan sebagai senyawa beracun yang diproduksi di dalam sel atau organisme hidup, dalam dunia veteriner disepakati terminologi biotoksin dalam menyebut mikotoksin maupun toksin lainnya, karena toksin diproduksi secara biologis oleh mahluk hidup memalui metabolisme bukan artificial (buatan).

Dalam industri pakan ternak sering didengar istilah mikotoksin (racun yang dihasilkan oleh kapang/jamur). Sampai saat ini cemaran dan kontaminasi mikotoksin dalam pakan ternak masih membayangi tiap unit usaha peternakan, tidak hanya di negeri ini, tetapi juga di seluruh dunia.

Berbagai Jenis Mikotoksin
Dalam industri pakan, setidaknya ada tujuh jenis mikotoksin yang sangat ditakuti mencemari bahan baku maupun pakan jadi, ketujuhnya kerap mengontaminasi dan menyebabkan masalah pada ternak. Terkadang dalam satu kasus, tidak hanya satu mikotoksin yang terdapat dalam sebuah sampel.

Menurut Nutrisionis BEC Feed Solution, Mega Pratiwi Saragi, masalah mikotoksin merupakan masalah klasik yang terus berulang dan sangat sulit diberantas. “Banyak faktor yang memengaruhi kenapa mikotoksin sangat sulit diberantas, misalnya saja dari cara pengolahan jagung yang salah,” tuturnya.

Maksudnya adalah kebanyakan petani jagung di Indonesia hanya mengandalkan iklim dalam mengeringkan jagungnya dengan bantuan sinar matahari/manual. Mungkin ketika musim panas hasil pengeringan akan baik, namun pada musim basah (penghujan) tentu tidak bisa diandalkan.

“Jika pengeringan tidak sempurna, kadar air dalam jagung akan tinggi, sehingga disukai oleh kapang. Lalu kapang akan berkembang di situ dan menghasilkan toksin,” tambahnya.

Masih masalah iklim menurut Mega, Indonesia yang beriklim tropis merupakan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi April 2026. (CR)

ANCAMAN TERSEMBUNYI DALAM PAKAN

Salah satu ancaman paling signifikan dalam pakan adalah kontaminasi mikotoksin. (Foto: Dok. Romindo)

Di dunia perunggasan, pakan selalu menempati posisi sebagai komponen biaya terbesar sekaligus penentu utama performa produksi. Baik pada ayam layer, broiler, maupun breeder, lebih dari 60-70% biaya operasional berasal dari pakan. Namun ironisnya, meskipun porsinya sangat dominan, masih banyak praktisi di lapangan yang melihat pakan hanya sebatas “input nutrisi”, bukan sebagai faktor risiko yang kompleks.

Dalam praktik sehari-hari, ketika terjadi penurunan performa seperti FCR memburuk, menurunnya produksi telur, maupun pertumbuhan yang tidak optimal, fokus utama sering langsung diarahkan pada penyakit infeksi. Padahal, tidak jarang akar masalah sebenarnya berasal dari kualitas pakan yang menurun secara tidak kasat mata.

Salah satu ancaman paling signifikan dalam pakan adalah kontaminasi mikotoksin. Mikotoksin merupakan senyawa toksik yang dihasilkan jamur yang tumbuh pada bahan baku pakan seperti jagung, gandum, maupun bungkil kedelai. Pertumbuhan jamur ini sangat dipengaruhi oleh kadar air, suhu, dan kondisi penyimpanan. Dalam kondisi kelembapan tinggi, seperti yang sering terjadi setelah musim hujan, risiko kontaminasi meningkat secara signifikan.

Aflatoksin, fumonisin, okratoksin, T2-toksin, zearalenon, dan deoksinivalenol (DON) adalah beberapa jenis mikotoksin yang umum ditemukan di pakan unggas. Mikotoksin ini berbahaya karena hanya menimbulkan gejala klinis akut. Pada dosis rendah hingga sedang, mikotoksin lebih sering menyebabkan gangguan subklinis (tanpa gejala). Ayam tetap terlihat normal, tetapi terjadi penurunan efisiensi metabolisme. Nutrisi tidak terserap optimal, fungsi hati terganggu, dan terjadi penekanan sistem imun. Dampaknya pada broiler pertumbuhan tidak optimal, pada layer penurunan produksi dan kualitas telur, serta gangguan reproduksi pada breeder.

Selain itu, mikotoksin juga memiliki efek imunosupresif yang signifikan. Ayam yang terpapar mikotoksin cenderung memiliki respons vaksin lebih rendah. Hal ini sering menimbulkan kesalahpahaman di lapangan, di mana kegagalan vaksinasi dianggap sebagai masalah program vaksin, padahal bisa jadi faktor pakanlah yang menjadi penyebab utamanya. Dalam situasi seperti ini, penggunaan obat atau revaksinasi belum tentu mampu memberikan hasil yang optimal karena sumber masalah utamanya belum teratasi.

Variasi kualitas dari bahan baku juga menjadi tantangan besar dalam formulasi pakan. Secara teoritis, formulasi pakan disusun berdasarkan nilai nutrisis tandar. Namun dalam praktik, nilai nutrisi bahan baku dapat sangat bervariasi antar batch. Kandungan protein, energi, maupun asam amino dapat berbeda tergantung pada asal bahan bakunya, kondisi panen, serta proses penyimpanan.

Tentu hal tersebut akan berdampak langsung pada performa ayam. Pada broiler terlihat dalam bentuk pertumbuhan yang... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi April 2026.

Ditulis oleh:
Drh A. Riwanda
Technical Department Manager
PT Romindo Primavetcom
Head Office – Jl. Dr Saharjo No. 264,
Tebet, Jakarta Selatan
No. HP/WA: 082331472418
Email: riwanda@romindo.net
www.romindo.co.id

MUSUH DALAM SELIMUT YANG HARUS DIWASPADAI

Kapang/jamur dapat tumbuh pada tanaman biji-bijian seperti jagung untuk pakan ternak. (Foto: Infovet/Ridwan)

Anomali iklim dan cuaca melanda, kekhwatiran insan perunggasan tetap sama, mikotoksin. Senyawa tak kasat mata yang bisa mencemari bahan baku dan pakan jadi tersebut masih menjadi momok bersama dalam industri pakan.

Sebagai negara tropis dengan curah hujan yang cukup tinggi, berkisar di antara 2000-3000 mm/tahun, Indonesia merupakan negara yang cukup “nyaman” sebagai tempat hidup kapang/jamur.

Masalahnya kapang/jamur tersebut dapat tumbuh pada tanaman biji-bijian seperti jagung dan kedelai yang merupakan bahan baku pakan. Tak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar biji-bijian yang digunakan sebagai sumber bahan pakan sangat rentan terhadap kontaminasi toksin yang dihasilkan oleh jamur tersebut.

Faktor iklim yang dimiliki Indonesia serta kualitas manajemen dan handling di lapangan, membuat mikotoksin tidak bisa dielakkan, sehingga mengakibatkan potensi kerugian yang besar.

Sejatinya, toksin dapat diartikan sebagai senyawa beracun yang diproduksi di dalam sel atau organisme hidup, dalam dunia veteriner disepakati terminologi biotoksin dalam menyebut mikotoksin maupun toksin lainnya, karena toksin diproduksi secara biologis oleh mahluk hidup memalui metabolisme bukan artificial (buatan).

Dalam industri pakan ternak sering didengar istilah mikotoksin (racun yang dihasilkan oleh kapang/jamur). Sampai saat ini cemaran dan kontaminasi mikotoksin dalam pakan ternak masih membayangi tiap unit usaha peternakan, tidak hanya di negeri ini, tetapi juga di seluruh dunia.

Berbagai Jenis Mikotoksin
Dalam industri pakan, setidaknya ada tujuh jenis mikotoksin yang sangat ditakuti mencemari bahan baku maupun pakan jadi, ketujuhnya kerap mengontaminasi dan menyebabkan masalah pada ternak. Terkadang dalam satu kasus, tidak hanya satu mikotoksin yang terdapat dalam sebuah sampel.

Menurut Nutrisionis BEC Feed Solution, Mega Pratiwi Saragi, masalah mikotoksin merupakan masalah klasik yang terus berulang dan sangat sulit diberantas. “Banyak faktor yang memengaruhi kenapa mikotoksin sangat sulit diberantas, misalnya saja dari cara pengolahan jagung yang salah,” tuturnya.

Maksudnya adalah... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi April 2026. (CR)

PAHAMI PENGGUNAAN PROBIOTIK, PREBIOTIK, DAN POSTBIOTIK UNTUK KESEHATAN USUS DAN PERFORMA OPTIMAL

Data market sediaan probiotik di dunia. 

Probiotik, prebiotik, maupun postbiotik kini bukan lagi barang asing. Hampir di seluruh toko ternak, poultry shop, bahkan lewat online sediaan tersebut dapat diakses. Produsen penyedianya pun mulai banyak di Indonesia.

Maksimalkan Fungsi Probiotik: Kenali Cara Penggunaan
Probiotik dan prebiotik biasanya diberikan pada ternak melalui pakan dan air minum. Pastinya perbedaan rute pemberian juga akan berbeda pula trik penanganannya. Misalnya pada pakan, selama ini pakan ayam diberikan dalam bentuk mash, crumble, maupun pelet. Artinya probiotik dan prebiotik yang harus ada di dalam pakan akan sedikit merepotkan apabila melewati proses pelleting dengan suhu tinggi.

Suhu tinggi merupakan ancaman bagi bakteri, karena beberapa jenis bakteri rata-rata akan mati. Jika harus melewati proses pelleting (suhu 80-90 °C), setidaknya harus ada perlakuan khusus pada probiotik maupun prebiotiknya di dalam formulasi pakan tersebut.

Peneliti sekaligus staf pengajar mikrobiologi SKHB IPB University, Drh Agustin Indrawati, mengatakan bahwa hal tersebut perlu diperhitungkan. Berdasarkan beberapa literatur yang ia baca, beberapa jenis bakteri asam laktat sangat peka dengan suhu tinggi.

“Betul, harus dipertimbangkan. Jangan sampai menggunakan probiotik tetapi malah kehilangan bahan aktifnya, yaitu bakteri baik itu sendiri. Soalnya bakteri kurang suka suhu tinggi, saya beri contoh kalau kita bikin yoghurt, susu yang digunakan setelah dipanaskan harus ditunggu dulu sampai suhunya pas, kalau tidak bakteri starter si yoghurt itu juga mati kepanasan,” kata Agustin.

Ia menyarankan, apabila dirasa sulit menggunakan pakan dan harus melewati suhu pelleting, maka sediaan probiotik dan prebiotik harus dimodifikasi agar dapat melewati suhu tinggi tanpa banyak merusak bahan aktifnya.

Ditanyai pertanyaan yang sama, Prof Lenny van Erp dari HAS University Belanda, mengatakan bahwa para produsen di Eropa kebanyakan sudah memiliki teknologi untuk mengatasi masalah tersebut. Menurutnya adalah betul bahwa bakteri probiotik rentan terhadap suhu tinggi, namun dengan adanya perkembangan teknologi semua hal bisa dilakukan.

“Ada beberapa produsen yang sudah melakukan kapsulasi pada bakteri probiotiknya, jadi dilapisi pelindung (enkapsulasi) dari zat yang tahan suhu tinggi, sehingga bakteri di dalamnya dapat melewati suhu pelleting tanpa harus mati, sehingga khasiatsi bahan aktif masih ada. Begitu juga sama dengan prebiotik, sudah dilakukan proses enkapsulasi,” ujar Lenny.

Contoh lain yang ia sampaikan yakni dengan menggunakan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Maret 2026. (CR)

USUS SEHAT, PERFORMA KUAT: STRATEGI PROBIOTIK, PREBIOTIK, POSTBIOTIK, DAN SINBIOTIK UNTUK UNGGAS MODERN

Kesehatan saluran pencernaan ayam menjadi titik krusial yang menentukan keberhasilan produksi. (Foto: Istimewa)

Ketika Tantangan Kandang Semakin Kompleks
Industri perunggasan saat ini menghadapi tantangan yang semakin nyata dan tidak sederhana. Fluktuasi cuaca yang ekstrem, tekanan penyakit pencernaan, kualitas bahan baku pakan yang bervariasi, hingga tuntutan efisiensi produksi memaksa peternak dan pelaku industri untuk berpikir lebih strategis. Dalam kondisi tersebut, kesehatan saluran pencernaan ayam menjadi titik krusial yang menentukan keberhasilan produksi.

Saluran pencernaan bukan hanya tempat pakan dicerna dan diserap, tetapi juga pusat pertahanan tubuh ayam. Sebagian besar sistem imun berada di usus, sehingga gangguan kecil pada keseimbangan mikroflora dapat berdampak besar pada performa ayam. Tidak mengherankan jika pendekatan berbasis kesehatan usus kini menjadi fokus utama dalam manajemen pemeliharaan broiler, layer, maupun breeder.

Kesehatan Usus, Fondasi Performa Produksi
Ayam dengan saluran pencernaan yang sehat akan mampu memanfaatkan nutrien pakan secara optimal. Vili usus yang utuh, mukosa yang kuat, dan populasi bakteri menguntungkan yang stabil akan menghasilkan pertumbuhan yang lebih seragam, FCR yang lebih efisien, serta daya tahan tubuh yang lebih baik.

Sebaliknya, ketidakseimbangan mikroflora usus sering kali menjadi awal munculnya masalah klasik seperti diare, litter basah, penurunan konsumsi pakan, hingga meningkatnya mortalitas.
Dalam konteks inilah peran probiotik, prebiotik, postbiotik, dan sinbiotik menjadi semakin relevan. Keempatnya bekerja dengan mekanisme yang berbeda, namun memiliki tujuan yang sama, yaitu menjaga ekosistem usus agar tetap sehat dan produktif.

Probiotik Menghadirkan Mikroba Baik ke Dalam Usus
Probiotik dikenal sebagai mikroorganisme hidup yang memberikan manfaat kesehatan ketika dikonsumsi dalam jumlah yang cukup. Di dalam saluran pencernaan ayam, probiotik berfungsi sebagai... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Maret 2026.

Ditulis oleh:
Henri E. Prasetyo Drh MVet
Praktisi perunggasan, Nutritionist PT DMC

OPTIMALISASI PERFORMA UNGGAS DENGAN ALTERNATIF ALAMI

Ilustrasi klasifikasi probiotik. (Sumber: Vektor Stock.com)

Pemberian probiotik, prebiotik, sinbiotik, dan postbiotik pada pakan ayam memberikan manfaat signifikan, terutama dalam meningkatkan kesehatan pencernaan, performa pertumbuhan, dan sistem kekebalan tubuh. Senyawa-senyawa ini juga berfungsi sebagai alternatif alami pengganti antibiotik pemacu pertumbuhan (antibiotic growth promoter/AGP).

1. Probiotik
Mikroorganisme hidup (bakteri baik, seperti Lactobacillus dan Bacillus) yang memberikan manfaat kesehatan saat dikonsumsi. Probiotik bermanfaat untuk kesehatan ayam dengan memperkuat pencernaan, meningkatkan penyerapan nutrisi, dan menekan bakteri jahat seperti Salmonella dan E. coli, yang menghasilkan ayam lebih sehat, pertumbuhan lebih optimal, dan daging atau telur berkualitas lebih baik dengan kandungan lemak lebih rendah serta minim residu antibiotik.

Pemberian senyawa tersebut juga membantu memperkuat sistem imun, mengurangi stres, dan memperbaiki kualitas lingkungan kandang dengan mengurangi bau amonia dari feses.

Manfaat utama probiotik untuk ayam di antaranya:
• Kesehatan pencernaan: Bakteri baik (seperti Lactobacillus) menyeimbangkan mikroflora usus, membantu pencernaan lebih lancar, dan meningkatkan penyerapan nutrisi.

• Peningkatan produktivitas: Penyerapan nutrisi lebih maksimal mendorong pertumbuhan berat badan lebih cepat dan meningkatkan konversi pakan (rasio pakan vs pertambahan bobot), meningkatkan efisiensi produksi.

• Sistem imun lebih kuat: Probiotik membantu melawan patogen dan meningkatkan daya tahan tubuh ayam serta mengurangi risiko penyakit.

• Kualitas daging dan telur: Daging ayam yang pada pakannya mengandung probiotik cenderung lebih rendah lemak dan lebih tinggi protein, sementara hasil produksi telur memiliki kerabang yang lebih kuat dan kualitas kandungan telur lebih baik.

• Pengurangan limbah dan bau: Feses lebih mudah terurai, mengurangi amonia dan bau, menjadikan lingkungan kandang lebih higienis dan tidak menarik lalat.

• Pengurangan residu antibiotik: Menjadi alternatif alami antibiotik, sehingga produk ayam lebih aman dikonsumsi.

Adapun cara probiotik bekerja sebagai berikut:
• Ekslusif kompetitif/prinsip Gause adalah konsep ekologi yang menyatakan bahwa dua spesies dengan kebutuhan sumber daya (ceruk/niche) yang sama persis tidak dapat hidup berdampingan secara stabil dalam satu habitat. Spesies yang lebih kompetitif akan menyingkirkan atau menyebabkan kepunahan lokal spesies lainnya. Bakteri menguntungkan bersaing dengan bakteri patogen untuk tempat melekat di dinding usus dan nutrisi menghambat pertumbuhan patogen.

• Membantu produksi enzim pencernaan seperti protease, lipase, dan amilase untuk memecah nutrisi.

• Modulasi imun membantu meningkatkan aktivitas sel imun seperti makrofag saat ayam mengalami stres.

Pemberian probiotik bisa dimulai sejak ayam menetas dan sangat bermanfaat saat ayam mengalami stres (vaksinasi, cuaca ekstrem) untuk membantu pemulihan kesehatan usus. Beberapa probiotik yang telah dikenal di antaranya Lactobacillus, Propionibacterium, Bulgaricus, Lactococcus, Streptococcus thermophilus, dan Bifido bacterium.

2. Prebiotik
Merupakan bahan makanan yang tidak dapat dicerna ayam, berfungsi sebagai... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Maret 2026.

Ditulis oleh:
Drh Arief Hidayat
Paktisi perunggasan

KOMBINASI PROBIOTIK, PREBIOTIK, SINBIOTIK, DAN POSBIOTIK AGAR PERFORMA APIK

Beberapa macam bakteri probiotik yang dapat digunakan. (Foto: Shutterstock)

Larangan penggunaan antibiotic growth promoter (AGP) di Indonesia sudah hampir 10 tahun lalu diberlakukan, tepatnya sejak 2018. Sejak saat itu seluruh insan yang berkecimpung di dunia peternakan Indonesia berlomba-lomba mencari alternatifnya, di antaranya adalah probiotik, prebiotik, sinbiotik, dan postbiotik.

Mungkin masyarakat sudah sangat familiar dengan minuman ringan berasa asam yang mengklaim sebagai minuman yang mengandung probiotik. Lalu kemudian populer pula minuman sehat yang berasal dari susu yang rasanya juga sedikit asam bernama yoghurt. Seiring berjalannya waktu, produk-produk serupa beredar di pasaran.

Lalu apa itu probiotik? Terminologi probiotik berasal dari bahasa Yunani. Kata “pro” artinya mempromosikan dan “biotik” artinya kehidupan. Probiotik muncul pada awal abad ke-20 silam dan diperkenalkan oleh Elie Metchnikoff, yang kemudian dikenal sebagai sosok “Bapak probiotik”.

Dari situ kemudian muncul asosiasi perkumpulan para ahli probiotik yakni International Scientific Association for Probiotics and Prebiotics (ISAPP) pada 2013. Mereka kemudian mendefinisikan probiotik sebagai mikroorganisme hidup yang dalam jumlah memadai dapat memberikan manfaat bagi kesehatan pada tubuh pada inangnya. Lalu kemudian orang awam mendefinisikannya sebagai bakteri baik dan jahat.

Sedangkan prebiotik didefinisikan sebagai senyawa natural dalam makanan yang tidak dapat dicerna usus, berfungsi sebagai suplemen untuk mendorong pertumbuhan mikroorganisme menguntungkan dalam sistem pencernaan. Kombinasi dari probiotik dan prebiotik disebut sinbiotik (eubiotik).

Andalan Utama Pengganti AGP
Pelarangan penggunaan AGP dalam pakan ternak memicu para produsen pakan mencari imbuhan pakan alternatif. Probiotik dan prebiotik merupakan satu di antaranya, mengapa? Hal ini dikarenakan probiotik dan prebiotik sudah lama digunakan dalam kehidupan manusia dan terbukti aman. Oleh karena itu, dengan analogi yang sama seharusnya juga dapat digunakan pada ternak.

Peneliti nutrisi pakan ternak dari Balitnak Ciawi, Prof Arnold Sinurat, mengatakan bahwa sejatinya memang AGP perlu digantikan. Hal ini merujuk pada… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Maret 2026. (CR)

MENGHINDARI COLIBACILLOSIS SEBELUM MERUGI

Colibacillosis kebanyakan terjadi melalui kontak langsung dengan lingkungan tempat tinggal ayam. (Foto: Istimewa)

Sebagai penyakit dengan tingkat kejadian yang paling sering ditemukan, peternak tidak boleh lagi abai terhadapnya. Pasalnya kerugian yang ditimbulkan cukup besar, juga terdapat potensi lain yang mungkin memunculkan petaka bagi manusia.

Menular Terus, Tak Kenal Waktu
Kebanyakan E. coli hidup di lingkungan kandang melalui kontaminasi feses. Permulaan infeksi dari bakteri ini mungkin juga terjadi di hatchery, dari infeksi atau telur yang terkontaminasi. Meskipun begitu, infeksi sistemik biasanya membutuhkan bantuan lingkungan atau predisposisi lainnya.

Colibacillosis kebanyakan terjadi melalui kontak langsung dengan lingkungan tempat tinggal ayam yang basah, lembap, dan kotor, bukan dari ayam ke ayam seperti yang selama ini sering diduga peternak. Berdasarkan penelitian Mc Mullin (2004), disebutkan bahwa colibacillosis terjadi baik melalui peroral atau inhalasi, lewat membran sel/yolk/tali pusat, air, muntahan, dengan masa inkubasi 3-5 hari.

Kualitas udara yang buruk dan stres yang berasal dari lingkungan juga menjadi faktor predisposisi infeksi E. coli. Selain itu, timbulnya colibacillosis juga tidak lepas dari sanitasi yang kurang optimal, sumber air minum yang tercemar bakteri, sistem perkandangan dan peralatan kandang yang kurang memadai, serta adanya berbagai penyakit yang bersifat imunosupresif.

Untuk faktor manajemen, pastinya peternak sudah sering mendapatkan penyuluhan, pelatihan, dan lain sebagainya, namun sayangnya tidak adanya perubahan manajemen ke arah yang lebih baik, menjadi kesan adanya “pembiaran” infeksi dari bakteri E. coli.

Lingkup Infeksi yang Luas
Tidak hanya antibiotik yang memiliki lingkup luas, bakteri E. coli ternyata juga dapat menyebabkan infeksi dengan lingkup yang luas, baik secara lokal maupun sistemik, bukan hanya pada saluran pernapasan dan saluran pencernaan saja. Bentuk infeksi sistemik E. coli biasa disebut colisepticemia. Berikut ini beberapa infeksi lokal pada colibacillosis menurut Unandar (2019):... Selengkpanya baca di Majalah Infovet edisi Februari 2026. (CR)

COLIBACILLOSIS: ANCAMAN KLASIK YANG MASIH RELEVAN DI KANDANG MODERN

Bacterial chondronecrosis kerusakan dan kematian jaringan tulang rawan yang disebabkan oleh infeksi colibacillosis, terutama pada ayam broiler, yang menggangu pertumbuhan tulang dan menyebabkan pincang hingga kelumpuhan dan kerusakan pada liver.

Strategi terpadu pencegahan pada broiler, layer, dan breeder melalui biosekuriti, program kesehatan, manajemen pemeliharaan, dan nutrisi.

Di tengah kemajuan teknologi perunggasan, colibacillosis masih menjadi salah satu penyakit paling sering dijumpai di lapangan. Penyakit yang disebabkan bakteri Escherichia coli (E. coli) ini kerap muncul tanpa disadari, perlahan menurunkan performa ayam, dan pada akhirnya berdampak signifikan terhadap kerugian ekonomi peternak.

Colibacillosis tidak hanya menyerang broiler, tetapi juga layer dan breeder, dengan manifestasi yang berbeda-beda. Yang membuat penyakit ini semakin kompleks adalah sifatnya yang multifaktorial dan sering berperan sebagai penyakit sekunder, memanfaatkan celah dari lemahnya manajemen, biosekuriti, atau kesehatan ayam.

Oleh karena itu, pencegahan colibacillosis tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan harus melalui pendekatan terpadu yang mencakup biosekuriti, program kesehatan, manajemen pemeliharaan, serta pengelolaan nutrisi pakan secara optimal.

Memahami Colibacillosis Bukan Sekadar Penyakit Bakteri
E. coli sejatinya merupakan bakteri yang umum ditemukan di lingkungan kandang, bahkan di saluran pencernaan ayam. Namun, pada kondisi tertentu, bakteri ini dapat berubah menjadi patogen dan menimbulkan penyakit.

Pada broiler, colibacillosis sering terlihat dalam bentuk dengan infeksi air sacculitis, pericarditis, perihepatitis, dan septicemia. Sementara pada layer dan breeder, dampaknya bisa lebih luas, seperti penurunan produksi telur, kualitas kerabang menurun, egg peritonitis, serta penurunan fertilitas dan daya tetas.

Kondisi stres, infeksi penyakit pernapasan (IB, ND, AI, CRD), kualitas udara kandang yang buruk, serta ketidakseimbangan nutrisi menjadi pemicu utama berkembangnya colibacillosis.

Biosekuriti, Fondasi Pencegahan yang Tidak Bisa Ditawar
Biosekuriti tetap menjadi... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Februari 2026.

Ditulis oleh:
Henri E. Prasetyo drh MVet
Praktisi perunggasan, Nutritionist PT DMC 

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer