CUACA BERUBAH, PENYAKIT MENGINTAI: STRATEGI MENCEGAH PENYAKIT MENULAR PADA UNGGAS
AGAR SENANTIASA AMAN DI SEGALA CUACA & MUSIM
![]() |
| Manajemen pemeliharaan ayam broiler pada musim hujan berbeda dengan di musim kemarau. (Foto: Istimewa) |
Untuk dapat bertahan di dalam kondisi cuaca yang ekstrem dan perubahan musim yang terkadang tidak terprediksi, dibutuhkan trik tertentu. Kejelian peternak dalam membaca situasi sangat diperlukan. Beberapa pengalaman dan saran para ahli di bawah ini setidaknya dapat menjadi referensi agar performa tetap terjaga di segala kondisi musim.
Cegah Heat Stress di Musim Kemarau
Heat stress merupakan suatu cekaman yang disebabkan suhu udara yang melebihi zona nyaman (> 28 °C). Gangguan ini dikarenakan ayam tidak bisa menyeimbangkan antara produksi dan pembuangan panas tubuhnya. Mekanisme pengeluaran panas tubuh ayam akan berfungsi normal (optimal) saat ayam dipelihara pada zona nyaman (comfort zone), dengan suhu kandang 21-28 °C dan kelembapan 60-70%. Problem heat stress memang kerap terjadi di musim kemarau, utamanya pada peternak yang masih menggunakan sistem kandang terbuka.
Heat stress sering terjadi pada ayam dewasa. Biasanya ayam mengalami panting (napas terengah-engah), yaitu bernapas melalui tenggorokan atau melakukan evaporasi (penguapan). Saat panas, konsumsi ransum juga menurun sehingga asupan nutrisi tidak terpenuhi, FCR membengkak, dan pertumbuhan bobot badan terhambat. Selain itu, sistem kekebalan tubuh juga akan melemah (bersifat imunosupresif) dan dampak paling parah yang ditimbulkan ialah kematian mendadak.
Ada beberapa trik yang dapat dilakukan dalam mencegah heat stress di musim kemarau. Guru Besar SKHB IPB University, Prof I Wayan Teguh Wibawan, yang juga konsultan perunggasan, memaparkan bahwa dalam mencegah heat stress yang pertama harus dilakukan yakni mengatur ventilasi kandang dengan baik.
“Kalau kandang terbuka, manajemen buka tutupnya harus bagus, cek suhu sesering mungkin, catat perubahannya. Jadi kita tahu kapan harus buka-tutup tirainya, dan ini enggak bisa dilakukan 1-2 hari, tapi setiap saat,” katanya.
Selain itu bila perlu (ketika suhu terlalu tinggi), penambahan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Januari 2026. (CR)
BERBAGAI PENYAKIT PADA AYAM DAMPAK DARI PERUBAHAN CUACA
Indonesia adalah sebuah negara yang berlokasi tepat di garis khatulistiwa, sehingga musim yang terjadi sangat berbeda dengan daerah lainnya, dan hanya ada dua musim utama, yaitu musim panas/kemarau dan musim dingin/hujan.
Perubahan iklim/cuaca sangat berdampak pada kesehatan ayam, apalagi di Indonesia masih banyak sistem pemeliharaan ayam yang belum sepenuhnya terbebas dari pengaruh kondisi lingkungan, dimana ayam dipelihara dengan kandang terbuka/open house.
Dampak Cuaca Panas
Seperti diketahui bahwa ayam tidak memiliki kelenjar keringat, sehingga sulit membuang panas tubuh saat suhu lingkungan tinggi, maka timbul kondisi yang disebut heat stress. Kondisi ini ditampakkan pada ayam dengan gejala megap-megap/terengah-engah/panting, meningkatnya konsumsi air minum, meregangkan sayap, dan ayam biasanya menjadi lesu.
Heat stress dapat menyebabkan kematian mendadak jika tidak ditangani dengan cepat. Dampak ikutan lainnya terutama pada ayam petelur yang sedang berproduksi akan terjadi penurunan produksi dan ukuran telur lebih kecil. Sedangkan pada broiler akan mengalami pertumbuhan yang terhambat karena terjadi penurunan konsumsi pakan.
Tabel
1. Reaksi Ayam Terhadap Suhu Lingkungan Tinggi
|
Suhu (°C) |
Reaksi yang
Ditampilkan Ayam |
|
21-25 |
Suhu
ideal untuk menghasilkan performa dan FCR yang baik |
|
26-28 |
Sedikit mulai ada pengurangan konsumsi/feed intake |
|
29-31 |
Karena
konsumsi pakan turun,
pertambahan berat badan juga melambat, FCR meningkat (broiler), produksi telur turun, berat telur turun, juga kualitas kerabang menurun (layer) |
|
32-34 |
Mulai
ada kematian ayam yang
berbobot tinggi dan berproduksi tinggi serta lemah |
|
35-37 |
Ayam
panting kematian karena heat stress
meningkat |
|
> 38 |
Diperlukan alat bantu untuk mendinginkan suhu agar ayam dapat bertahan hidup |
CUACA BERUBAH, AYAM PUN GUNDAH
![]() |
| Gangguan lingkungan sekecil apapun dapat memicu penurunan kesehatan, performa, dan efisiensi produksi unggas. (Foto: Gemini) |
Indonesia sebagai negara tropis sejatinya telah lama terbiasa dengan suhu relatif tinggi. Namun, perubahan iklim global membuat kondisi cuaca semakin sulit diprediksi. Gelombang panas berkepanjangan, hujan ekstrem, hingga perbedaan suhu siang dan malam yang tajam menjadi faktor stres tambahan bagi ayam, khususnya pada sistem pemeliharaan intensif.
Ayam, Suhu, dan Cuaca
Ayam merupakan hewan homoioterm yang harus mempertahankan suhu tubuh sekitar 41-42 °C. Zona nyaman (thermoneutral zone) ayam berada pada kisaran 18-25 °C, tergantung umur dan jenis ayam. Pada rentang ini, energi metabolik dapat digunakan secara optimal untuk pertumbuhan dan produksi.
Ketika suhu lingkungan melampaui batas tersebut, ayam mulai mengalami stres lingkungan, terutama stres panas (heat stress). Berbagai penelitian menyebutkan bahwa suhu di atas 28-30 °C yang disertai kelembapan tinggi secara signifikan menurunkan performa ayam broiler dan petelur (Lara & Rostagno, 2013; Nawab et al., 2018).
Guru Besar SKHB IPB University, Prof Agik Suprayogi, ketika ditemui Infovet mengatakan bahwasanya ayam mempertahankan suhu tubuh relatif konstan melalui keseimbangan antara panas metabolik dan pelepasan panas ke lingkungan. Ketika suhu lingkungan meningkat, kemampuan ayam melepaskan panas menjadi terbatas, terutama pada kondisi kelembapan tinggi.
“Jadi sebenarnya mereka juga tergantung pada lingkungan, suhu, cuaca, kelembapan, kecepatan angin, dan parameter lainnya bila perlu harus dapat dikontrol. Ini penting apalagi ayam modern yang kita kenal saat ini “lembek” terhadap perubahan lingkungan meskipun performa produksinya tinggi,” tutur Agik.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa suhu di kandang atau tempat ayam hidup sebisa mungkin harus dijaga agar mereka dapat tumbuh dengan optimal. Salah sedikit saja dalam mengatur hal tersebut maka bisa fatal akibatnya.
|
Suhu Lingkungan |
Respons Ayam |
Dampak Produksi |
|
18-25 °C |
Zona
nyaman |
Performa
optimal |
|
26-29 °C |
Awal
stres panas |
Konsumsi
pakan mulai turun |
|
30-33 °C |
Stres
panas sedang |
FCR
memburuk, produksi telur turun |
|
>33
°C |
Stres
panas berat |
Mortalitas
meningkat |
PREDIKSI PENYAKIT UNGGAS 2026
![]() |
| Penyakit bakterial dan viral dapat mengancam produktivitas dan kesehatan unggas serta stabilitas ekonomi peternak. (Foto: Istimewa) |
Berdasarkan data PT Sanbio Laboratories, kasus AI subtipe H5 menduduki peringkat teratas yang kerap dilaporkan, yaitu sebanyak 17%. Kejadian AI H5 yang dilaporkan menyerang pada ayam layer dan menyebabkan mortalitas yang cukup tinggi teridentifikasi termasuk dalam clade 2.3.2 pada semua sampel yang diuji.
Selain AI H5, penyakit IB juga menjadi tantangan teratas tahun ini. Berdasarkan hasil sekuensing diketahui kasus IB yang dilaporkan menunjukkan sekuensing IB varian seperti QX-like dan 793B. Kejadian IB yang tercatat dilaporkan menyerang unggas layer dengan mayoritas hasil sekuensing IB QX-like dan sisanya menyerang pada broiler dengan hasil sekuensing IB 793B.
Kasus penyakit selanjutnya dengan presentase kasus sebanyak 15% adalah ND. Untuk kasus ND di 2025 berdasarkan catatan PT Sanbio Labs mayoritas sampel terkonfirmasi hasil sekuensing termasuk dalam strain velogenik yaitu ND G7. Selanjutnya penyakit yang juga tercatat cukup banyak adalah IBD, dimana kasusnya terkonfirmasi positif PCR dilaporkan hasil sekuensingnya termasuk dalam very virulent (vv) IBD.
Adapun kasus penyakit di 2025 dengan presentase lebih dari 10% berikutnya adalah coryza. Coryza atau snot biasanya menjadi infeksi ikutan dari agen penyakit seperti AI, ND atau yang lainnya. Kemudian menyusul penyakit-penyakit unggas lain seperti Marek’s, pox, AI subtipe H9, ILT, EDS, dan SHS juga dilaporkan masih menjadi tantangan bagi peternak.
Tantangan di Tahun Depan
Melihat tren kasus penyakit serta mempertimbangkan berbagai aspek seperti perubahan cuaca, manajemen peternakan, dan mobilisasi unggas, berikut merupakan prediksi penyakit unggas di Indonesia di 2026 mendatang: Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Desember 2025.
STRATEGI MENGHADAPI ANCAMAN DAN MENJAGA BISNIS PETERNAKAN
Musim pancaroba yang berkepanjangan, pola curah hujan tidak menentu, serta fluktuasi suhu ekstrem memicu stres pada ayam, menurunkan sistem kekebalan tubuh, dan membuka pintu bagi berbagai penyakit untuk berkembang.
Kasus penyakit saluran pernapasan mendominasi laporan kesehatan unggas tahun ini. Varian baru infectious bronchitis virus (IBV) yang bersifat nefropatogenik ditemukan di beberapa wilayah produksi besar, menginfeksi ayam dengan gejala yang tidak selalu khas, sehingga menyulitkan diagnosis dini.
Kemudian avian influenza (AI) clade 2.3.4.4b juga menjadi ancaman serius, terutama pada peternakan yang berada di jalur migrasi burung liar dan memiliki biosekuriti yang lemah. Serta newcastle disease (ND) “tetap setia” menjadi musuh lama yang tak pernah benar-benar hilang.
Tidak berhenti di saluran pernapasan, gangguan pencernaan seperti necrotic enteritis (NE) dan koksidiosis melonjak di banyak farm, terutama yang mulai meninggalkan penggunaan antibiotic growth promoter (AGP). Penurunan efisiensi pakan, penambahan beban kerja usus, dan peningkatan beban patogen membuat performa broiler tertekan.
Pada sektor layer komersial, penyakit metabolik seperti fatty liver syndrome dan gout meningkat tajam, sering kali dipicu oleh kualitas bahan baku pakan yang tidak stabil dan manajemen nutrisi yang tidak tepat sasaran.
JANGAN BERI RUANG PENYAKIT UNTUK MENYEBAR
Jangan Lengah dengan Penyakit Residivis
Walaupun prediksi belum 100% benar terjadi, tak ada salahnya mempersiapkan “amunisi” sejak dini. Tony Unandar selaku konsultan senior perunggasan, melihat selama ini penyakit unggas yang terjadi di lapangan masih cenderung sama, berbeda musim memang penyakitnya juga berbeda, tetapi penyakit yang muncul hanya itu-itu saja.
“Kalau bisa dibilang kita masih berkutat dengan yang lama dan monoton. Faktor yang sangat urgen untuk diperbaiki adalah pola pemeliharaan dari peternak-peternak kita,” tutur Tony.
Apabila tidak ada upaya perbaikan sesegera mungkin, bukan hanya kasus penyakit yang terus berulang, tetapi tingkat keparahan maupun jenis penyakit baru akan bertambah di masa depan.
Seperti contoh ketika ada peternak yang tidak mengakut semua unggasnya ketika panen, padahal sistem all in all out sangat penting diterapkan untuk memutus siklus rantai penyakit. Kemudian yang juga tak kalah penting adalah penerapan biosekuriti yang baik di peternakan.
Sebab Tony menyebut, sebaik-baiknya obat baru yang ditemukan, maupun riset di bidang penyakit hewan, atau bahkan kecanggihan teknologi yang berkembang, jika tak dibarengi dengan manajemen yang baik dan benar, penyakit akan mudah menyerang dan cenderung berulang.
Ungkapan “lebih baik mencegah daripada mengobati” harus dipegang teguh oleh peternak, salah satunya melalui program biosekuriti di peternakan. Bukti konkret dari penerapan program tersebut telah membuka mata bagi Kusno Waluyo, salah satu peternak di wilayah Lampung.
Ia merasakan banyak keuntungan dari penerapan biosekuriti yang baik dan benar di peternakannya, salah satunya ternak yang dipelihara Kusno menjadi jarang terserang penyakit. “Yang paling terasa Saya tidur menjadi lebih nyenyak, karena jarang ada laporan masalah penyakit di kandang,” ucapnya dalam sebuah seminar.
Bersinergi dan Kolaborasi
Fakta di lapangan berbicara, tidak semua peternak mengerti masalah penyakit, penanganan, obat-obatan, dan beberapa hal lainnya. Hal itupun terus menjadi perhatian bagi para stakeholder di bidang obat hewan, salah satunya Ceva Animal Health Indonesia yang terus melakukan kolaborasi dengan peternak.
“Khususnya dalam upaya preventif dengan menawarkan program vaksinasi yang komprehensif dan inovatif. Di sektor broiler, Ceva menawarkan paket vaksinasi hatchery lengkap dengan produk dan sumber daya yang kami miliki,” ujar Vet Service Coordinator Ceva, Drh Ismail Kurnia Rambe.
Sementara itu, di sektor layer dan breeder, pihaknya memiliki... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Desember 2025. (CR)
BAGAIMANA TANTANGAN PENYAKIT AYAM DI 2026?
REVIEW PENYAKIT UNGGAS 2025
Gambaran ini terbangun dari data sistem surveilans nasional, laporan industri, dan inisiatif One Health yang digulirkan sepanjang 2024-2025. Laporan global WOAH bahkan mencatat bahwa gelombang HPAI yang dimulai Oktober 2024 terus berlangsung hingga pertengahan 2025, dengan jutaan unggas mati atau dimusnahkan pada beberapa wilayah terdampak, angka kejadian global memberikan sinyal bahwa musim HPAI 2024-2025 lebih luas dibanding periode sebelumnya.
Dinamika penyakit unggas di Indonesia sangat menarik untuk dicermati. Pola penyakit yang berulang, membuat berbagai pihak tertarik untuk memprediksinya. Namun demikian, tidak bisa sembarangan dalam memprediksi dinamika penyakit unggas, perlu pendekatan tertentu dan pengumpulan data yang akurat agar dapat memprediksinya.
Salah satu perusahaan kesehatan hewan yang rutin memprediksi penyakit unggas yakni PT Ceva Animal Health Indonesia. Melalui Global Protection Services (GPS), Ceva rutin melakukan monitoring dan surveilans untuk mengidentifikasi penyakit-penyakit yang paling mendominasi sektor perunggasan. Hal tersebut disampaikan oleh Veterinary Service Manager PT Ceva Animal Health Indonesia, Drh Fauzi Iskandar.
“Kami berkiblat pada Ceva Global, di situ ada program Global Protections Services. Bentuk dari program tersebut yakni awareness, monitoring, dan troubleshooting. Hal ini kami lakukan sebagai bentuk servis kami kepada para customer Ceva dan sudah kami lakukan sejak 2018,” tutur Fauzi.
Lebih lanjut dijelaskan, data-data penyakit unggas tersebut secara rutin diunggah Ceva di website-nya secara berkala setiap bulan, sehingga memudahkan peternak, praktisi dokter hewan, hingga khalayak umum untuk mengaksesnya.
Dari data surveilans tersebut menunjukkan beberapa penyakit yang paling sering dilaporkan per Oktober 2025, yakni... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Desember 2025. (CR)
ARTIKEL POPULER MINGGU INI
-
Cara Menghitung FCR Ayam Broiler. FCR adalah singkatan dari feed convertion ratio, yaitu konversi pakan terhadap daging. FCR digunakan untuk...
-
Di dunia ini terdapat beberapa jenis ayam terbesar di dunia. Baik dari segi tinggi badannya, ukuran badannya, maupun berat badannya. Di anta...
-
Sumber: Balitbangtan Kementan Ayam KUB adalah ayam kampung galur (strain) baru, merupakan singkatan dari Ayam Kampung Unggul Balitbangtan. A...
-
Salah satu ciri telur asin yang berkualitas adalah bagian kuning telurnya yang tampak masir. (Foto: Istimewa) Bukan hanya cara menyimpannya,...
-
Prof Dr Ismoyowati SPt MP, dari Unsoed, membawakan materi Mekanisme Kemitraan dalam Budidaya Ayam Broiler, dalam webinar Charoen Pokphand In...
-
Cara menjadi mitra JAPFA untuk kemitraan ayam pedaging adalah dengan melalui PT Ciomas Adisatwa, yang merupakan anak perusahaan dari PT JAPF...
-
Ayam abang adalah ayam ras petelur yang sudah memasuki masa “pensiun” bertelur. (Foto: Dok. Infovet) Ayam abang menjadi salah satu bisnis “s...
-
Ketua Umum ASOHI, Akhmad Harris Priyadi, saat memberikan sambutannya. (Foto-foto: Dok. Infovet) Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) kembal...
-
Salah satu komponen penting beternak bebek petelur adalah memilih jenis bebek petelur yang tepat. Tingginya produktivitas bukan satu-satunya...
-
Foto: ilustrasi Meskipun sama-sama multi purpose breed, yaitu bisa dipelihara sebagai pedaging maupun petelur, namun perbedaan bebek Peking ...











