-->

PELUNCURAN KARKAS AYAM PEDAGING UNGGUL IPB-D1, TONGGAK PENTING PENGUATAN KEMANDIRIAN PANGAN NASIONAL

Tim peneliti ayam IPB-D1

“Rasanya seperti mimpi. Karena tadinya kan hanya penelitian biasa saja bersama teman-teman. Waktu itu fasilitas juga tidak ada, tapi ya sambil jalan saja,” kata Prof Dr Ir Cece Sumantri M Agr Sc saat diwawancara Infovet, di acara peluncuran Produk Karkas Ayam Lokal Pedaging Unggul Premium IPB-D1, yang diselenggarakan oleh Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University pada Senin (15/12), bertempat di Fakultas Peternakan IPB University.

Peluncuran ini menjadi tonggak penting dalam upaya penguatan ketahanan dan kemandirian pangan nasional, khususnya penyediaan protein hewani berbasis sumber daya genetik lokal.

Acara dibuka dengan sambutan dari Wakil Rektor Bidang Riset Inovasi Pengembangan Agromaritim , Prof Dr Ir Ernan Rustiadi MAgr, dan Direktur Riset dan Inovasi IPB University, Prof Dr Sugeng Heri Suseno SPi MSi.

Menjawab Tantangan Ketergantungan Indonesia Terhadap Impor

Ayam IPB-D1 merupakan hasil riset jangka panjang Tim Fakultas Peternakan IPB University yang telah dikembangkan sejak tahun 2010. Ayam ini dirancang untuk menjawab tantangan ketergantungan Indonesia terhadap ayam ras pedaging yang masih berbasis impor, baik dari sisi bibit maupun pakan.

Dengan pengembangan ayam lokal unggul yang adaptif, efisien, dan bernilai gizi tinggi, IPB-D1 diharapkan mampu mendorong pertumbuhan agribisnis peternakan ayam lokal, terutama di wilayah pedesaan, sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat.

“Dikasih nama IPB-D1, jadi D itu kan lambang Fakultas Peternakan. Jadi artinya ayam IPB milik Fakultas Peternakan kode satu,” jelas Cece.

Secara genetik, ayam IPB-D1 merupakan hasil persilangan jantan F1 (Pelung × Sentul) dengan betina F1 (Kampung × Parent Stock Cobb pedaging), dengan komposisi gen masing-masing sebesar 25 persen. Ayam ini kemudian disilangkan sesamanya, hingga generasi kelima dan diseleksi menggunakan pendekatan genetika molekuler.

Secara resmi, ayam IPB-D1 telah ditetapkan sebagai rumpun ayam lokal pedaging unggul oleh Kementerian Pertanian sejak tahun 2019. Ayam ini memiliki keunggulan pertumbuhan yang relatif cepat, kualitas daging yang baik, serta ketahanan terhadap penyakit Newcastle Disease (ND) dan Salmonella.

Daging Ayam Fungsional

Produk ayam IPB-D1: ayam karkas, ayam bacem, ayam kremes.

Pengembangan IPB-D1 terus dilanjutkan sejak tahun 2020 untuk menghasilkan galur unggul lanjutan, upaya ini ditujukan untuk menghasilkan IPB-D1 upgrade yang semakin unggul dari sisi ketahanan penyakit, performa produksi, dan kualitas daging. Pada aspek produk, karkas ayam IPB-D1 Premium dikembangkan sebagai ayam fungsional dengan kandungan gizi unggul.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa daging IPB-D1 memiliki proporsi bagian dada dan paha yang lebih tinggi dibandingkan ayam lokal lainnya. Selain itu, daging ayam IPB D-1 juga mengandung mineral penting seperti zat besi dan zinc, yang bermanfaat untuk mendukung kesehatan masyarakat, termasuk pencegahan anemia dan stunting.

Cece menambahkan, “Sebetulnya ayam IPB D1 itu secara ketahanan penyakit sudah cukup bagus. Kita seleksi lagi ke ketahanan yang lebih tinggi lagi, tapi nanti tidak terlalu maksimal. Karena kalau terlalu tinggi nanti produksi telurnya turun, ayamnya pertumbuhan tidak bagus. Energi-energi untuk pertumbuhan dipakai untuk ketahanan penyakit.”

Dalam pengembangannya, IPB University juga melakukan berbagai tahapan untuk menjamin mutu dan keamanan produk, mulai dari uji kualitas daging, pengembangan pakan berbahan lokal, penggunaan pengawet alami, hingga uji pasar untuk melihat minat dan penerimaan konsumen. Proses sertifikasi halal serta pengajuan standar mutu nasional juga sedang dan terus dilakukan sebagai bagian dari komitmen terhadap kualitas produk.

Pengembangan ayam IPB-D1 merupakan hasil kerja sama tim peneliti lintas bidang di Fakultas Peternakan IPB University. Penelitian dan pengembangan ayam IPB-D1 melibatkan tim multidisiplin yang mencakup aspek pemuliaan, budidaya, nutrisi pakan, kesehatan ternak, kualitas daging, hingga pemasaran dan komersialisasi produk.

Tim yang terlibat dalam penelitian ini yaitu dalam bidang Pemuliaan dan Genetika Ternak oleh Prof Cece Sumantri dan Dr Sri Darwati; Teknik Budidaya oleh Prof Niken Ulupi dan Dr Rudi Afnan; Nutrisi Pakan oleh Prof Sumiati; Ketahanan Penyakit oleh Dr drh Sri Murtini; Pemasaran dan Komersialisasi oleh Dr Lucia Cyrillia; serta Kualitas Fisiko-Kimia Daging oleh Prof Irma Isnafia Arif, Dr Zakiah Wulandari, dan Dr Wulan.

Melalui peluncuran karkas ayam lokal pedaging unggul premium IPB-D1 ini, Fakultas Peternakan IPB University menegaskan komitmennya dalam menghadirkan inovasi berbasis riset untuk mendukung ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, dan pembangunan peternakan nasional yang berkelanjutan.

Bisnis Berorientasi Kerakyatan

Ayam IPB-D1 sudah dikembangkan di pedesaan Sukabumi, tepatnya di Jampang Tengah. Dalam bentuk kemitraan dengan masyarakat kecil, dengan Sinar Harapan sebagai inti. Dengan pakan yang bagus, usia 10 minggu ayam ini bisa mencapai bobot 1,3 kg. Bahkan jika hanya menggunakan pakan yang kualitasnya di bawahnya masih bisa mencapai bobot 1,1 kg.

Warga yang tergabung dalam kemitraan umumnya untuk satu rumah memelihara satu jantan dan beberapa betina. Hasil panen dijual ke Sinar Harapan.

“Saya bilang jangan seperti tengkulak. Kita bisnisnya bisnis sosial, semua sama-sama senang. IPB minta misalnya royalti sekian itu kan hanya di atas kertas. Dengan gonjang-ganjing ayam ini dengan tidak bangkrut saja sudah bersyukur. Yang penting mahasiswa bisa penelitian dan ayamnya terus berkembang,” jeas Cece.

“Karena pengembangannya berbasis peternakan rakyat maka targetnya ke ketahanan penyakit. Pokoknya kita berpihak ke peternak kecil. Mudah-mudahan paling tidak kalau tidak dijual bisa dikonsumsi sendiri. Dan kenapa basisnya di Sukabumi di sana masih banyak stunting. Jadi kita tidak melihat berapa sih dapat uangnya.”

Prospek Pasar ke Depan

Ayam IPB D-1 dengan kandungan mineralnya akan diarahkan sebagai daging ayam fungsional. Saat ini sudah dijajaki untuk menggaet rumah sakit dan orang-orang berkebutuhan nutrisi khusus sebagai market.

Namun hotel, restoran, supermarket dan masyarakat pada umumnya juga menjadi market yang baik. Karena dagingnya yang mempunyai karakteristik daging ayam kampung. Selain itu harganya pun bersaing, untuk karkas dengan berat sekitar 900 gram bisa dijual seharga Rp 60.000,-. Sedangkan ayam kampung di supermarket biasa dijual antara Rp 75.000 hingga 80.000,-.

“Kalau menurut saya sih ini ada marketnya sendiri. Apalagi kalau nanti berani ekspor,” pungkas Cecep. (NDV)

TANGGUNG JAWAB PEMERINTAH MELINDUNGI KEBERLANGSUNGAN HIDUP PETERNAK UNGGAS RAKYAT

Foto Bersama Narasumber Seminar

KPUN (Komunitas Peternak Unggas Nasional) berklobrasi bersama PSP3-IPB dan Saspri Nasional yang mewadahi para peternak unggas mandiri melaksanakan Seminar Perunggasan mengangkat tema “Tanggung Jawab Pemerintah Dalam Melindungi Keberlangsungan Hak Usaha Perunggasan Nasional”.

Acara tersebut dihelat di IICC Botani Square,Kota Bogor pada hari Rabu,(24/01/2024). Narasumber yang hadir diantaranya drh Agung Suganda Direktur Pakan Ternak, Ditjennakkeswan, Dr I Gusti Ketut Astwa Deputi 1 Bapanas RI, Alvino Antonio, Ketua KPUN, Dr Prabianto Mukti Wibowo, Komisioner Komnas HAM, dan Yeka Hendra Fatika yang merupakan Komisioner Ombudsman RI. Seminar juga dimoderatori oleh Prof Muladno yang merupakan mantan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, sekaligus pendiri Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) dan Ketua PSP3 – IPB.

Dalam presentasinya, Drh Agung Suganda yang mewakili pemangku kebijakan memaparkan tentang arah kebijakan dan langkah-langkah kementerian pertanian dalam pelindungan dan peningkatan kesejahteraan Masyarakat perunggasan.

“Kami saat ini sedang melakukan perubahan-perubahan sebagaimana diperintahkan oleh Pak Menteri, tujuan utamanya bukan hanya bagaimana meningkatkan produksi daging unggas dan telur ayam kita.

Ia juga menyebut saat ini Kementan mendorong pemberdayaan perlindungan terhadap peternak rakyat. Dimana peningkatan kesejahteraan masyarakat termasuk juga para peternak mandiri yang melakukan usaha budidaya saat ini juga diperhatikan. 

Sedangkan Ketua KPUN Alvino Antonio dalam paparannya menyatakan rasa terima kasihnya atas terselenggaranya seminar ini. Dimana melalui seminar ini ada beberapa masukan dari instansi pemerintah lintas sektoral yang dapat diambil tindakan secepatnya.

"Tadi dijelaskan ada beberapa hal yang perlu diperbaiki diantaranya undang-undang dan beberapa aturan lain yang masih berpotensi merugikan peternak mandiri. Tentunya hal tersebut perlu dibahas lebih lanjut dan lebih mendalam bila perlu secepatnya. Hal yang akan disampaikan dan dibahas bersama lintas sektoral tadi diharapkan bisa menemukan jalan yang terbaik dan tercepat bagi industri perunggasan di Indonesia."tegas Alvino.

Masih menurut Alvino, peternak mandiri sejatinya telah terfokus meminta bantuan kepada pemerintah melalui kementan dan Kemendag, agar dapat berkonsolidasi mengangkat harga ayam dari peternak dengan harga yang sesuai. Karena harga ayam hidup itu jauh di bawah harga biaya produksi yang sekarang.

"Saat ini kami tidak bisa berbuat banyak karena harga pakan ternak terbilang tinggi harganya menyentuh Rp.10.000, untuk itu kami meminta pemerintah untuk bisa menekan harga pokok produksi khususnya pakan agar kami bisa menjual ayam dengan harga yang lebih baik,," ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, Komisioner Ombudsman, Yeka Hendra Fatika menegaskan pemerintah wajib memberikan perlindungan yang nyata bagi peternak unggas baik di tingkat kebijakan dan implementasi.

Yeka mengatakan, Ombudsman telah menerima berbagai aduan dari para peternak di antaranya terkait rendahnya harga jual ayam hidup di kandang, tingginya biaya sarana produksi peternak hingga permasalahan PKPU antara Peternak dengan Perusahaan Pakan.

Di sisi lain para peternak mandiri juga mengadu soal terhambatnya proses pembayaran dalam Program Pencegahan Stunting oleh Pemerintah kepada Peternak.

Menurutnya, upaya jangka menengah dan jangka panjang yang dapat dilakukan pemerintah adalah dengan mendorong diskon pasar produk dari integrator dengan peternak rakyat/mandiri.

Sementara itu Prabianto Mukti Wibowo, Komisioner Komnas HAM menyoroti masalah Rekomendasi dan Pengembangan Industri Perunggusan Nasional yang Berkelanjutan serta Berkeadilan. (CR)


11 JENIS AYAM TERBESAR DI DUNIA

Di dunia ini terdapat beberapa jenis ayam terbesar di dunia. Baik dari segi tinggi badannya, ukuran badannya, maupun berat badannya. Di antaranya adalah 11 jenis ayam paling besar di dunia berikut ini.

Ayam Jersey Giant

Ayam Jersey Giant
Sumber: Pixabay

Ayam Jersey Giant merupakan jenis ayam terbesar di dunia. Berasal dari New Jersey, Amerika Serikat, beratnya bisa mencapai sekitar 5,9 kg.

Ayam ini dikenal jinak dan mempunyai temperamen yang bagus. Namun pertumbuhannya terhitung lambat. Warna bulunya biasanya hitam, putih, atau kebiruan.

Saat musim dingin ayam ini produktif bertelur, menghasilkan telur besar berwarna coklat. Jersey Giant juga dikenal sebagai induk ayam yang baik.

Ayam Brahma

Ayam Brahma
Sumber: Pixabay

Ayam Brahma juga berasal dari Amerika dan beratnya mencapai sekitar 5,4 kg. Kebanyakan ayam ini bulunya merupakan warna kombinasi. Putih dengan “kerah” leher dan ekor hitam, kuning tua dengan kerah dan ekor hitam, abu-abu gelap dengan kerah hitam putih dan ekor hitam.

Selain diambil dagingnya ayam Brahma juga menghasilkan telur yang banyak. Bisa tumbuh dengan baik dalam iklim dingin karena bulunya yang tebal. Sifatnya tenang namun tidak suka dikurung, lebih suka dibiarkan berkeliaran.

Ayam Dong Tao

Ayam Dong Tao
Sumber: Wikipedia

Ayam Dong Tao adalah jenis ayam langka yang berasal dari wilayah Dong Tao, Vietnam. Kakinya sangat besar bisa sebesar pergelangan tangan manusia dan bersisik kemerahan. Karena itu ayam ini disebut juga ayam naga, sebab kakinya mirip dengan kaki naga dari mitologi Asia.

Beratnya bisa mencapai 5,4 kg. Yang jantan biasanya berwarna coklat kemerahan sedangkan betina biasanya berbulu putih. Sayangnya ayam betinanya sering berdiri di atas telur dengan kakinya yang besar, membuat telurnya pecah, karena itu penetasannya dilakukan di inkubator.

Ayam Dong Tao dulunya hanya dimasak untuk keluarga bangsawan. Tapi sekarang menu masakan ayam Dong Tao bisa dengan mudah ditemukan di restoran mahal.

Ayam Cochin

Ayam Cochin
Sumber: Pixabay

Ayam Cochin berasal dari Cina dan awalnya dikenal dengan nama ayam Shanghai. Warna bulunya beragam, salah satu ciri khasnya adalah mempunyai banyak bulu di bagian kaki sampai-sampai seolah kakinya tertutupi.

Beratnya bisa mencapai 5 kg, temperamennya ramah dan tenang. Yang betina bisa menjadi induk yang baik, karena mau mengerami semua telur bahkan telur unggas lain seperti kalkun atau bebek.

Ayam Indio Gigante

Ayam Indio Gigante
Sumber: Wikipedia

Ayam Indio Gigante, disebut juga Indian Giant, adalah jenis ayam kampung yang berasal dari Brasil. Dikembangkan di negara bagian Minas Gerais dan Goias pada sekitar akhir 1980an atau awal 1990an.

Berasal dari persilangan ayam ras Malayoid seperti Shamo dan Malay dengan ayam Caipira. Yang jantan mempunyai tinggi minimal 105 cm dan berat minimal 4,5 kg saat dewasa. Yang betina minimal mempunyai tinggi 90 cm dan berat minimal 3 kg saat dewasa.

Ayam Cornish

Ayam Cornish
Sumber: Pixabay

Ayam Cornish berasal dari Cornwall, Inggris, dan juga cukup populer di Australia dan Amerika. Beratnya bisa mencapai sekitar 4,7 kg. Kakinya pendek, badannya kekar dengan dada besar.

Bulunya halus dan tipis, biasanya berwarna hitam atau coklat tua. Ayam ini bagus untuk diambil dagingnya, namun telur yang dihasilkan rendah sekitar 80 butir per tahun.

Ayam Australorp

Ayam Australorp
Sumber: Pixabay

Ayam Autralorp berasal dari Australia, dikenal sebagai salah satu ayam petelur paling produktif di dunia. Mampu menghasilkan lebih dari 300 butir per tahunnya.

Beratnya bisa mencapai 4,5 kg dan tingginya bisa mencapai sekitar 68,5 cm. Warna bulunya kebanyakan dominan hitam.

Ayam Orpington

Ayam Orpington
Sumber: Pixabay

Ayam Orpington pertama kali dikembangkan di Inggris dengan menyilangkan ras Minorcas, Langshan, dan Plymouth Rock. Tujuannya untuk menghasilkan ayam besar untuk pedaging dan petelur.

Ayam ini beratnya bisa mencapai 4,5 kg sedangkan tingginya sekitar 40 cm. Penampilannya seolah galak dengan badan kekar yang rendah hampir menempel ke tanah. Namun sesungguhnya ayam ini karakternya tenang dan jinak.

Sekarang menjadi salah satu jenis ayam yang populer di dunia, bulunya lembut dengan beragam warna. Saat ini lebih sering dijadikan sebagai ayam hias.

Ayam German Langshan

Ayam German Langshan
Sumber: Wikipedia

Ayam German Langshan beratnya bisa mencapai 4 kg, berasal dari Jerman pada abad ke-19. Tubuhnya besar, kakinya panjang, dan ekornya sangat pendek. Variasi warna bulunya kurang beragam.

Karena ukurannya ayam ini sering dipelihara untuk diambil dagingnya. Namun bisa menjadi ayam petelur yang baik, dengan kemampuan bertelur sekitar 200 butir per tahun.

Ayam Malay

Ayam Malay
Sumber: Wikipedia

Ayam Malay beratnya bisa mencapai 4 kg dan tingginya bisa mencapai sekitar 90 cm. Berasal dari Inggris, tepatnya Devon dan Cornwall, hasil persilangan dari ayam-ayam yang didatangkan dari India dan wilayah Asia lainnya.

Termasuk jenis ayam aduan yang awalnya digunakan hanya sebagai ayam aduan. Namun saat ini lebih sering digunakan untuk ayam show dan petelur dengan kemampuan bertelur hingga 20 butir per tahun.

Ayam Rhode Island Red

Ayam Rhode Islan Red
Sumber: Pixabay

Berasal dari Rhode Island, Amerika Serikat pada akhir abad kesembilan belas. Adalah salah satu ras ayam yang paling populer karena karakternya yang baik dan bisa dipelihara sebagai pedaging maupun petelur.

Beratnya bisa mencapai 4 kg. Mempunyai ciri bulu merah yang khas dengan variasi coklat kemerahan muda hingga hampir hitam. Jengger dan pialnya berwarna merah, kakinya biasanya berwarna kuning.

6 JENIS AYAM PEDAGING DI INDONESIA YANG POPULER

jenis ayam pedaging

Dari sekian banyak jenis ayam pedaging, berikut adalah 6 dari jenis-jenis ayam pedaging yang populer di Indonesia. Artinya cukup banyak diternakkan dan menjadi konsumsi masyarakat sehari-hari.

Ayam Broiler

Ayam broiler adalah jenis ayam pedaging yang paling populer dan paling banyak dibudidayakan di Indonesia. Bahkan diternakkan dalam skala industri yang besar.

Jika dipelihara dengan baik pertumbuhannya sangat cepat dan konversi pakannya sangat efisien. Sehingga bisa dipanen dalam waktu sangat singkat dengan hasil daging yang tinggi.

Harga jualnya pun cukup murah. Karena itu saat ini ayam broiler adalah jenis ayam pedaging yang paling banyak dikonsumsi masyarakat.

Ayam Kampung

Ayam kampung sudah sejak lama, lebih lama dari ayam broiler dan mungkin ayam pedaging lainnya, menjadi ayam yang dipelihara masyarakat Indonesia untuk diambil daging dan telurnya. Biasanya dipelihara oleh masyarakat pedesaan secara tradisional dan sederhana (diumbar) dengan pakan seadanya pula.

Ayam ini mempunyai rasa daging yang lebih enak dari broiler. Namun pertumbuhannya jauh lebih lambat dan harganya cukup mahal. Meski demikian daging ayam kampung masih cukup populer dikonsumsi oleh masyarakat.

Ayam Pejantan (Ayam Petelur Jantan)

Ayam pejantan adalah ayam petelur jantan yang tidak dibudidayakan sebagai ayam petelur karena tidak bisa bertelur. Biasanya DOC ayam petelur jantan dijual sebagai ayam pedaging dengan harga yang lebih murah dari DOC ayam petelur betina. Kemudian oleh peternak dipelihara sebagai ayam pedaging.

Ayam pejantan sejauh yang kami tahu termasuk jenis ayam pedaging di Indonesia yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Baik konsumsi rumah tangga maupun diolah menjadi masakan untuk dijual.

Ayam Sentul

Ayam Sentul disebut juga ayam Kulawu, adalah ayam lokal asli kabupaten Ciamis. Banyak dibudidayakan oleh masyarakat pedesaan, terutama di Ciamis, sebagai ayam pedaging. Meski demikian ayam ini juga bisa dipelihara untuk diambil telurnya.

Umur panennya cukup singkat, jika dipelihara secara tradisional kurang lebih umur 12 minggu sudah bisa dipanen. Jika dipelihara secara intensif maka umur panennya bisa lebih pendek lagi.

Ayam Joper

Ayam Joper (Jowo Super) adalah hasil persilangan ayam kampung jantan dengan ayam petelur betina. Pertumbuhannya lebih cepat dari ayam kampung biasa dan dapat diproduksi secara massal.

Ayam Joper bisa dipelihara sebagai petelur maupun pedaging. Jika diternak untuk diambil dagingnya pada usia 60 hari beratnya bisa mencapai 1 kg atau lebih dan sudah bisa dipanen.

Ayam KUB

Ayam KUB adalah hasil persilangan dari beberapa ayam kampung yang dilakukan oleh Balitbangtan. Menghasilkan ayam kampung unggul yang diberi nama ayam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB).

Ayam KUB bisa dipelihara sebagai petelur juga pedaging. Pertumbuhannya lebih cepat dari ayam kampung biasa, lebih tahan penyakit, dan konversi pakannya juga lebih bagus. Saat ini ada dua jenis ayam KUB yaitu KUB-1 dan KUB-2 yang dikembangkan setelah KUB-1 dengan performa yang lebih baik.

MENANGKAL ISU DAGING AYAM BERHORMON

Ilustrasi daging ayam. (Foto: Istimewa)

Pemilihan Umum 2024 tinggal menghitung waktu, meskipun Komisi Pemilihan Umum menetapkan bahwa kampanye baru boleh dimulai tahun depan. Kendati demikian, ada saja kampanye hitam yang terus konsisten digaungkan. Korbannya bukan Capres dan Cawapres, melainkan daging ayam.

Terakhir jagat maya dihebohkan dengan pernyataan seorang dokter di media sosial yang secara eksplisit mengatakan bahwa daging ayam broiler mengandung hormon yang membahayakan kesehatan manusia.

Black campaign seperti ini tentu tak asing untuk masyarakat, bagi yang berkecimpung di sektor peternakan awalnya mungkin marah dan jengkel, namun lama-kelamaan menjadi bosan mendengarnya. Beragam upaya juga telah ditempuh oleh stakeholder perunggasan untuk menampik hal ini, namun isu-isu seperti itu selalu saja ada setiap tahun.

Seakan-akan semua yang dilakukan oleh para stakeholder kurang efektif untuk menangkal kampanye hitam. Bahkan profesi sekelas dokter saja masih banyak yang menganggap bahwa ayam broiler tumbuh secara cepat akibat diberikan asupan hormon pertumbuhan.

Dari sini kita harus mengintrospeksi diri, sudah efektifkah sosialisasi yang kita lakukan? Mengapa hal ini terus berulang? Mengapa isu ini tidak pernah berakhir? Bagaimana meningkatkan kepercayaan masyarakat bahwa daging ayam broiler tidak mengandung hormon? Kamipun mencoba menganalisisnya dan mungkin ini bisa menjadi masukan bagi para stakeholder di dunia perunggasan.

Selama isu-isu ini beredar dan terus menyebar, apa yang dilakukan oleh stakeholder kebanyakan adalah menangkalnya dengan halus, seperti melakukan kampanye gizi, membuat sanggahan (counter) berita, seminar, dan lain sebagainya. Namun pernahkah ada upaya untuk menggandeng pihak-pihak penyebar hoaks tersebut?

Sebab selama ini banyak isu ayam berhormon dari kalangan  dokter, intelektual, bahkan influencer sosial media. Seharusnya stakeholder misalnya PDHI atau ISPI berkolaborasi dengan swasta mengajak asosiasi seperti IDI, atau influencer media sosial, artis, orang terkenal, bahkan si penyebar hoaks untuk melakukan semacam pertemuan ilmiah yang diakhiri dengan kunjungan ke farm.

Dari situ bisa dibeberkan semua data-data mengenai daging ayam. Jika memungkinkan bisa sekaligus dilakukan open kitchen agar mereka bisa mengetahui bagaimana “dapur peternakan” kita dengan melihat sendiri proses produksinya dan bisa bertanya mengenai setiap detailnya dari hulu sampai hilir.

Dengan harapan mereka menjadi tahu dan mengubah pola pikirnya bahwa daging ayam broiler sama sekali tidak mengandung hormon. Pertemuan tersebut bisa menjadi berita besar yang disebar melalui media massa dan media sosial. Hal itu tentu akan lebih mudah menyebar ke masyarakat luas, karena orang-orang yang berpengaruh tadi turut diajak bekerja sama untuk berkomitmen menyebarkannya di media sosial mereka bahwa daging ayam broiler aman untuk dikonsumsi.

Lalu mengapa kita tidak menggunakan para ahli dari sektor kita? Dari segi expertise ilmu mungkin mereka lebih hebat, namun dari segi pengaruh kepada masyarakat dan faktor ketenaran, bukan apple to apple untuk dibandingkan. Contohnya begini, kita sudah sangat mengenal Dr Tony Unandar sebagai salah satu pakar kesehatan unggas, namun masyarakat akan lebih kenal dengan Atta Halilintar.

Karena menurut pengamatan kami tren yang ada saat ini cenderung begitu, masyarakat akan lebih berkenan mengikuti para influencer yang sudah sangat terkenal di media sosial, layar kaca, dan sebagainya. Memanfaatkan ketenaran mereka sebagai media kampanye tentu akan lebih mudah dalam manggaet atensi masyarakat.

Selain itu, konsep mengubah lawan menjadi kawan seharusnya sangat menguntungkan bagi stakeholder di perunggasan. Kampanye yang sangat massif dapat terus digaungkan dan diramaikan tanpa henti, tinggal di klik dan share saja.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa dibutuhkan banyak biaya, tenaga, dan waktu untuk dapat melakukannya. Namun hal tersebut tak ada salahnya dicoba demi menangkal isu-isu negatif soal perunggasan yang terus ada tiap tahunnya dan kerap berulang.

Kami mengutip salah satu pepatah dari Afrika yang berbunyi “If you want to go fast, go alone. But if you want to go far, go together”. Oleh karena itu, jika perunggasan ingin terus melangkah jauh, berkolaborasilah, agar perunggasan Indonesia tetap lestari. ***

Ditulis oleh Drh Cholillurahman
Redaksi Majalah Infovet

AYAM SEHAT DAN PRODUKTIF DENGAN VITESEL C

PT ITA KONSISTEN HADIRKAN BIBIT AYAM LOKAL BERKUALITAS

DOC Ayam KUB-2 Janaka


Gelaran Indo Livestock 2022 juga merupakan ajang unjuk gigi bagi produsen bibit ayam lokal PT Intama Taat Anugrah (PT ITA). Dalam gelaran tersebut PT ITA dengan bangga mempromosikan ayam lokal KUB-2 Janaka karya dari peneliti Balai Penelitian Ternak (BALITNAK) Ciawi.

PT ITA juga sudah memegang lisensi ayam lokal tersebut sehingga berhak untuk melakukan pengembangan produksi, promosi, distribusi dan pemasaran ayam KUB Janaka tersebut. 

Zainuddin selaku Technical Service Manager PT ITA mengatakan, dalam melaksanakan proses produksi, selain memiliki hak - hak tadi pelisensi juga berkewajiban mengikuti SOP yang telah ditetapkan, dan terus mempertahankan kualitas. Balitnak akan menurunkan tim untuk terus mengawasi quality control yang telah dilaksanakan.

Ayam KUB-2 Janaka sendiri merupakan galur Ayam KUB yang telah memiliki perbaikan performa dari Ayam KUB-1 melalui seleksi genetik yang dilakukan oleh peneliti dari Kementerian Pertanian, Dr. Tike Sartika dkk. Performa yang ingin ditingkatkan antara lain produksi telur, sifat mengeram, dan warna shank (betis).

"Performa yang ditingkatkan dari KUB-1 menjadi KUB-2 adalah Produksi Telur (Hen day) yang semula 50% menjadi 60%, puncak produksi yang meningkat dari 65-70% menjadi 70-75%, produksi pertahun meningkat dari 160 -180 butir per tahun menjadi 180-220 butir per tahun, sifat mengeram yang semula 10% dapat berkurang hingga 5%, umur pertama bertelur yang lebih muda 1 hingga 2 minggu lebih awal, serta warna shank (kaki) yang berwarna kuning untuk pejantan," kata Zainuddin.

Diharapkan nantinya Ayam KUB-2 ini dapat menjadi salah satu alternatif bagi peternak ditengah buntunya harga ayam broiler. Selain itu kemampuan Ayam KUB-2 dalam produksi telur meskipun tidak seproduktif ayam petelur ras, juga dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk meningkatkan ekonomi masyarakat (CR).

TETAP AMAN KIRIM FROZEN FOOD DENGAN APLIKASI INI

Salah Satu Armada Cool Jek

Bisnis makan beku (frozen food) beberapa tahun belakangan ini semakin menggeliat. Hal ini juga merupakan "berkah" yang didapat dari pandemi Covid-19. Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia (ARPI) mencatat pada tahun 2020, nilai pasar frozen food telah mencapai Rp.80 triliun dan tahun 2021  mencapai Rp. 95 triliun. Diperkirakan pada tahun 2025 nilainya melesat mencapai Rp. 200 triliun.

Meskipun menjanjikan cuan yang menggiurkan, namun begitu bukan berarti tidak ada masalah yang dihadapi dalam menekuni bisnis tersebut. Salah satu permasalahan yang dihadapi oleh para pelaku UMKM di bidang tersebut yakni pada bidang delivery. Kerap kali customer mengeluhkan kualitas dari barang yang menurun akibat pengirimannya tidak sesuai standar dan mengesampingkan kaidah rantai dingin (cold chain) yang sesuai standar. 

Berlandaskan kekhawatiran tersebut Nathanael Christopher membangun bisnis ojek online khusus frozen bernama Cool Jek. Bisnis ini baru ia rintis pada awal tahun 2022 tepatnya di bulan Januari. Pada dasarnya Cool Jek layaknya aplikasi ojek online biasa, yang membedakan adalah pengguna aplikasi ini hanya dapat mengantar barang terutama frozen food seperti ikan, daging, sayuran, bahkan pangan olahan seperti chicken nugget, dll. 

Pengguna aplikasi yang mungkin pelaku UMKM juga dapat langsung berhubungan B to B dengan Cool Jek apabila hendak mengantar barang ke lebih dari satu titik, tentunya penawaran yang diberikan juga akan lebih menarik dengan harga yang lebih murah.

"Nanti kita buatkan rutenya, rencana pengirimannya, dalam sehari pengiriman, jadi misalnya sehari ada beberapa barang yang didrop, atau dalam seminggu atau sebulan ada pengiriman yang terencana ke siapa dan mana saja, bisa kita atur itu skema perjalanannya akan seperti apa," tutur Nathanael.

Pengguna juga tidak perlu khawatir karena sistem rantai dingin yang diterapkan oleh Cool Jek dapat dipantau selalu melalui aplikasi, sehingga barang yang dibawa akan tetap terjaga kualitasnya.

"Kita range suhu pengiriman itu -20s/d 10C, tergantung barang apa yang mau dikirim. Pokoknya kita pastikan suhu ini akan tetap terjaga selama pengiriman. Jadi enggak pernah ada juga customer yang complain kalau barangnya berkurang kualitasnya. Paling complain lama sampenya, kalau itu maklum sih mungkin macet, hehe," kelakar Nathanael.

Harga yang ditawarkan pun relatif murah hanya Rp. 2.500 per kilometer saja,  dan ada tambahan handling fee sebesar Rp. 5.000 per titik drop. Dengan harga segitu baik pembeli dan penjual tidak perlu khawatir lagi dengan kualitas barang, hal ini karena Cool Jek sangat berkomitmen dalam menjaga sistem rantai dinginnya.

"Untuk sementara ini kami hanya melayani kapasitas maksimal antaran hingga 5kg (berat volume) saja, namun kalau untuk B to B atau kalau bermitra dengan kita, bisa lebih dari itu kapasitasnya, kita batasi antaran biasa kapasitasnya segitu agar kualitas tetap terjaga," tukas Nathanael.

Founder aplikasi Cool Jek tersebut juga menuturkan bahwa hingga saat ini aplikasi tersebut sudah diunduh lebih dari 500 kali oleh pengguna yang lebih dari 50%-nya merupakan pelaku bisnis UMKM di bidang frozen food.

"Saat ini kita sedang banyak melakukan promosi dan pendekatan B to B kepada para customer, masyarakat biasa juga bisa kok mengunduh aplikasi ini, jadi kita terbuka untuk semua yang memang mau mengirim frozen food," kata Nathanael.

Hingga kini Cool Jek baru tersedia di DKI Jakarta saja, rencananya bulan depan Nathanael akan mengembangkan bisnisnya ke Kota Depok, Tangerang, dan Bogor. (CR)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer