-->

CJ INDONESIA 2ND SYMPOSIUM: SOLUSI NUTRISI STRATEGIS DI TENGAH LONJAKAN HARGA PAKAN

CJ Indonesia 2nd Symposium mengusung tema “Strategic Nutrition Solutions Amid Rising Feed Cost”. (Foto-foto: Dok. Infovet)

CJ Indonesia 2nd Symposium mengusung tema “Strategic Nutrition Solutions Amid Rising Feed Cost” sukses diselenggarakan bekerja sama dengan Majalah Infovet, Selasa (3/11/2026), di JS Luwansa Hotel and Convention, Jakarta.

Acara ini menjadi momentum penting bagi industri peternakan dalam merespons tantangan biaya bahan baku yang kian meningkat. Technical Marketing Executive CJ BIO, Dr Jae Cheol Kim, mengupas tuntas strategi pengelolaan nutrisi dalam menghadapi tingginya biaya bahan pakan. Ia menekankan pentingnya mempertahankan standar nutrisi terbaik untuk menjaga produktivitas ternak di tengah tekanan ekonomi saat ini.

Beberapa strategi efisiensi pakan yang dapat dilakukan di antaranya menurunkan nilai protein kasar dengan tetap memenuhi kebutuhan asam amino serta penggunaan bahan baku alternatif. Penurunan protein kasar menjadi salah satu strategi yang bisa diterapkan disaat harga bungkil kedelai yang sangat tinggi seperti saat ini. Berfokus pada kecukupan kebutuhan asam amino esensial menjadi kunci dalam formulasi rendah protein.

Dr Kim juga menjelaskan salah satu pendekatan terbaru yang dapat dilakukan yaitu menurunkan nilai digestible lysine dalam pakan. Penurunan nilai lysine akan membuat penggunaan asam amino lainnya berkurang, tetapi untuk mempertahankan performa rasio arginine/lysine harus ditingkatkan. Berdasarkan penelitian, pendekatan ini mampu mencegah penurunan performa broiler disaat feedcost dan kualitas pakan berusaha ditekan.

Melengkapi penjelasan mengenai arginine, Dr Jessica Han dalam presentasinya menjelaskan manfaat lainnya dari arginine selain mengoptimalkan produktivitas. Peningkatan rasio arginine dalam pakan terbukti mampu menjaga produktivitas ternak dalam kondisi heat stress. Selain itu, arginine juga mampu memberikan energi dalam bentuk creatine secara optimal dan sesuai kebutuhan.

Dr Han menunjukkan perbandingan penambahan arginine dan GAA pada pakan yang kekurangan energi metabolis (ME). Hasilnya penambahan arginine terbukti mampu menjaga produktivitas tetap tinggi walaupun energi pakan sudah dikurangi, tetapi tidak dengan GAA.

Pembicara dari kiri: Jae Cheol Kim, Jessica Han, dan Roxanne Barrion.

Sementara pada pembahasan berikutnya dari CJ BIO APAC Technical Solution Center, Dr Roxanne Barrion, memaparkan strategi untuk mempertahankan konsumsi pakan unggas dalam kondisi stres akibat suhu dan kelembapan yang tinggi melalui penambahan inosine monophosphate (IMP) dan tryptophan.

Penurunan konsumsi pakan pada unggas yang mengalami stres akan mengakibatkan penurunan performa hingga mortalitas. Pada kesempatan ini pula, Dr Roxanne memperkenalkan produk tryptophan terbaru dari CJ BIO, yaitu TRP Pro yang berbentuk granule. Peningkatan kualitas fisik dari powder menjadi granule membuat proses pencampuran pakan lebih optimal serta mengurangi potensi loss yang sering terjadi ketika menggunakan bahan baku dalam bentuk powder. Selain itu, TRP Pro mengandung tambahan nutrisi yang berasal dari single cell protein di dalamnya.

Pemberian cendera mata bagi peserta yang mengajukan pertanyaan.

Usai pemaparan semua materi, CJ BIO secara resmi juga meluncuran platform layanan terbaru yaitu “NewTriSolution” yang dirancang untuk membantu pelanggan CJ dalam berbagai kebutuhan seperti program formulasi pakan berbasis web, rasio optimal asam amino, kalkulator asam amino dan ROI. CJ BIO juga menyediakan layanan pengujian laboratorium in-vitro untuk menguji kualitas bahan baku. Dr Kim menyatakan CJ BIO berkomitmen untuk menjadi technical partner bagi seluruh customer CJ BIO. (RBS)

MENGELOLA BROILER SECARA HOLISTIK: KUNCI SUKSES PETERNAKAN SEHAT DAN MENGUNTUNGKAN

Baskoro saat memaparkan materinya. (Foto-foto: Dok. Infovet)

Dalam dunia peternakan ayam pedaging (broiler), keberhasilan sebuah bisnis sangat bergantung pada bagaimana peternak mengelola kesejahteraan unggas secara menyeluruh.
 
Hal tersebut dibahas oleh National Poultry Technical Consultant, Drh H. Baskoro Tri Caroko, yang menjadi narasumber tunggal dalam Sharing Online “Optimalisasi Performa Broiler melalui Program Pemeliharaan dan Preventive Health” yang dilaksanakan Jannisika Animal Health bersama Golden Rooster, dan Majalah Infovet, Selasa (3/11/2026). 

Dalam paparannya Baskoro menuturkan bahwa kesehatan dan produktivitas broiler dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu perilaku broiler, perubahan lingkungan, dan perlakuan manusia. “Jika ketiga faktor ini diabaikan dan tidak dikelola dengan baik, ayam akan rentan terserang penyakit dan bisnis peternakan pun terancam merugi,” ujarnya.

Lebih lanjut dijelaskan, secara alami broiler terpaksa harus makan, minum, tidur, hingga buang air di tempat yang sama. Kondisi ini membuat mereka hidup di lingkungan yang tercemar kotoran serta paparan bau amonia yang semakin pekat setiap harinya, sehingga berpotensi menjadi sumber utama munculnya berbagai penyakit di kandang.

Situasi ini kian pelik dengan adanya tantangan perubahan iklim yang memicu kelangkaan bahan baku pakan serta peningkatan suhu ekstrem. Kemudian penurunan kualitas bahan baku seperti tepung ikan, bungkil kedelai, jagung pipilan, hingga dedak lokal berdampak langsung pada performa ternak, mulai dari efisiensi FCR yang memburuk, pertumbuhan terhambat, hingga tingginya angka kematian yang berujung pada kerugian finansial.

Di balik faktor lingkungan dan biologis tersebut, keberhasilan kesejahteraan unggas pada dasarnya sangat bertumpu pada kinerja dan kepedulian tim produksi di lapangan. Oleh karena itu, Baskoro memaparkan deskripsi pekerjaan, standarisasi tugas, serta tingkat kesejahteraan operator kandang dan pengawas lapangan harus menjadi perhatian utama. Dijelaskannya bahwa operator kandang layak mendapatkan penghasilan yang layak melalui evaluasi berkala dengan pemberian reward dan peningkatan kapasitas tim melalui rapat konsolidasi rutin. Dengan begitu, kualitas kerja di kandang akan senantiasa terjaga.

“Selain itu, pengawas lapangan juga wajib memahami tata kelola secara holistik agar tidak terjadi salah persepsi dalam mengumpulkan data akurat di lapangan,” jelasnya.

Sharing Online “Optimalisasi Performa Broiler melalui Program Pemeliharaan dan Preventive Health”. 

Agar bisnis tetap berkelanjutan, peternak harus menertibkan kapasitas produksi berdasarkan perhitungan teknis yang matang. Ia pun menjelaskan kapasitas ideal yang direkomendasikan adalah 12 kg/meter dengan mempertimbangkan jenis kandang. Sebagai contoh, kandang open house lantai postal mampu menampung 7-8 periode/tahun dengan hasil panen 0,8-1 kg/ekor, kemudian open house lantai panggung maksimal 6 periode/tahun dengan panen 1,4-1,6 kg/ekor, serta closed house lantai postal dapat mencapai 5 periode/tahun dengan hasil panen 1,8-2 kg/ekor.

Adapun langkah krusial berikutnya, diungkapkan Baskoro adalah persiapan kandang yang bersih, steril, dan lengkap sebelum ayam masuk. Proses ini meliputi pencucian kandang dengan deterjen dan disinfektan, pembersihan pipa air (flushing) menggunakan asam sitrat untuk menghilangkan kerak dan lumut, serta menerapkan masa istirahat kandang selama 14 hari untuk memastikan mikroorganisme patogen mati.

Ia mengemukakan, dengan menerapkan manajemen pengendalian yang baik, seperti pemberian antibiotik secara bijak di awal umur serta pemanfaatan probiotik untuk efisiensi pencernaan, penerapan preventive health secara holistik ini akan membuat bisnis peternakan menjadi lebih safety dan profitable.

“Kalau semua ini bisa kita wujudkan, berarti level beternak sudah meningkat. Semoga ini menjadi jalan kebaikan untuk kita memasuki peradaban baru. Melalui preventive health secara holistik efektif mencegah terjadinya AMR, emerging dan re-emerging disease yang memenuhi standar One Health,” tukasnya. (RBS)

MENJAGA “MESIN PRODUKSI” TETAP SEIMBANG PADA LAYER, BROILER, DAN BREEDER

Bagaimana NE terjadi di dinding usus.

Ketika Kandang Tampak Normal, tetapi Performa Tidak
Banyak peternak dan teknisi lapangan pernah menghadapi situasi ini. Vaksinasi sudah sesuai jadwal, biosekuriti berjalan, dan pemberian pakan sesuai kebutuhan, namun FCR tetap sulit turun, kotoran basah dan berbau tidak biasa, pertumbuhan tidak seragam, atau produksi telur tidak mencapai puncak yang diharapkan.

Dalam pengalaman di lapangan, sumber masalahnya sering sama, yakni keseimbangan sistem pencernaan terganggu. Saluran cerna adalah organ yang mengubah pakan menjadi daging dan telur. Sekitar 70% dari sistem imun unggas juga berkaitan dengan jaringan di sepanjang usus. Ketika usus bermasalah, efeknya merambat ke semua aspek produksi.

Apa yang Dimaksud Keseimbangan Sistem Pencernaan?
Usus yang sehat ditopang oleh tiga pilar yang bekerja bersama:
1. Mikrobiota seimbang: Bakteri menguntungkan (misalnya Lactobacillus dan Bifidobacterium) lebih dominan daripada bakteri merugikan seperti Clostridium perfringens, E. coli, dan Salmonella.

2. Integritas mukosa: Vili usus tinggi dan rapat, sehingga penyerapan nutrisi optimal dan patogen tidak mudah menembus dinding usus.

3. Pencernaan dan penyerapan efisien: Enzim endogen bekerja baik, pH saluran cerna stabil, dan pakan tercerna tuntas.

Gangguan keseimbangan ini disebut disbiosis. Disbiosis adalah penyebab umum di balik enteritis non-spesifik, necrotic enteritis (NE), wet litter, feed passage, hingga rendahnya daya serap nutrisi.

Mengapa Kasus Disbiosis Makin Menantang?
Ada beberapa faktor yang membuat tantangan ini semakin terasa:
• Larangan AGP: Sejak antibiotic growth promoter (AGP) dilarang melalui regulasi Permentan, peternak kehilangan “payung pengaman” yang selama ini menekan bakteri patogen. Manajemen kesehatan usus kini harus dibangun lewat pendekatan yang lebih menyeluruh.

• Cuaca dan iklim yang tidak menentu: Transisi musim, hujan berkepanjangan, dan suhu tinggi meningkatkan kelembapan litter, memicu stres panas, dan mempercepat pertumbuhan mikroba patogen. Data BMKG tentang pola cuaca dapat menjadi acuan antisipasi.

• Kualitas... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Oktober 2026.

Ditulis oleh:
Drh A. Riwanda
Technical Department Manager
PT ROMINDO PRIMAVETCOM
Head Office – Jl. Dr Saharjo, No. 264,
Tebet, Jakarta Selatan
Email: riwanda@romindo.net
www.romindo.co.id

MENGATASI GANGGUAN KESEIMBANGAN SISTEM PENCERNAAN UNGGAS


Ketika Saluran Pencernaan Menjadi Kunci Daya Saing
Dalam industri perunggasan modern, saluran pencernaan unggas tidak lagi dipandang sekadar sebagai organ pencerna pakan, melainkan sebagai pusat kendali performa, kesehatan, efisiensi produksi, dan bahkan citra produk akhir di mata konsumen.

Keseimbangan sistem pencernaan menentukan seberapa optimal nutrisi diserap, seberap akuat sistem imun bekerja, dan seberapa stabil performa produksi dapat dipertahankan di tengah tantangan penyakit, stres lingkungan, serta tuntutan global akan produk unggas yang aman, sehat, dan bertanggung jawab.

Gangguan keseimbangan sistem pencernaan sering kali menjadi awal dari berbagai masalah klasik di kandang, pertumbuhan tidak seragam, FCR memburuk, litter basah, meningkatnya kasus enteritis, hingga penurunan daya tahan terhadap penyakit. Dalam konteks ini, pendekatan parsial tidak lagi memadai. Industri dituntut untuk menerapkan strategi holistik yang mengintegrasikan nutrisi, manajemen, biosekuriti, dan kesehatan, sejalan dengan isu besar antimicrobial resistance (AMR) dan pendekatan One Health.

Tren Penggunaan Antibiotik, dari Ketergantungan Menuju Transformasi
Sebelum 2014, penggunaan antibiotik dalam industri unggas masih didominasi pendekatan preventif dan promotif, termasuk sebagai antibiotic growth promoter (AGP). Antibiotik menjadi solusi cepat untuk menjaga performa dan menekan penyakit pencernaan. Namun, seiring meningkatnya bukti ilmiah tentang AMR dan dampaknya terhadap kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan, paradigma ini mulai berubah.

Sejak diberlakukan pembatasan dan pelarangan AGP di berbagai negara, termasuk Indonesia, industri unggas memasuki fase transisi yang menantang. Penurunan penggunaan antibiotic berdampak langsung pada meningkatnya tekanan penyakit pencernaan, terutama yang berkaitan dengan bakteri patogen seperti Clostridium perfringens, E. coli, dan Salmonella. Di sisi lain, konsumen semakin kritis terhadap isu residu antibiotik, keamanan pangan, dan keberlanjutan produksi.

Isu AMR tidak hanya menjadi persoalan teknis peternakan, tetapi telah berkembang menjadi isu kesehatan global dalam kerangka One Health. Artinya, setiap keputusan di kandang memiliki implikasi hingga ke meja makan konsumen. Oleh karena itu, menjaga keseimbangan sistem pencernaan tanpa ketergantungan pada antibiotik menjadi tantangan sekaligus peluang strategis bagi industri.

Akar Masalah Ketidakseimbangan Sistem Pencernaan
Ketidakseimbangan sistem pencernaan unggas bersifat... Selengkapnya baca di Majalah Infovet Oktober 2026. 

Ditulis oleh:
Henri E. Prasetyo drh MVet
Praktisi perunggasan, Nutritionist PT DMC

KONSISTEN MEMAKSIMALKAN KINERJA SALURAN PENCERNAAN

Organ pada saluran pencernaan ayam. (Sumber: Poultryhub, 2020)

Bicara masalah kesehatan ayam, penyakit infeksius memang datangnya lebih banyak dari saluran pernapasan. Tetapi bukan berarti mengabaikan masalah kesehatan saluran pencernaan, karena komplikasi dalam kasus ayam yang sakit kerap terjadi.

Semua aspek pemeliharaan sangat besar pengaruhnya dan mereka saling terkait. Sederhananya, ayam yang saluran pernapasannya sakit salah satu gejalanya bisa jadi tidak mau makan, ayam yang saluran pencernaannya sakit dan nutrisinya kurang mudah terinfeksi penyakit lain termasuk pernapasan.

Jangan Berat Sebelah
Dari kaca mata ilmu anatomi, saluran pencernaan ayam dapat dikelompokkan menjadi tujuh bagian yang terdiri dari tembolok (crop), lambung (proventriculus), ventriculus, usus halus, usus buntu (caecum), usus besar (colon), dan cloaca. Masing-masing bagian tubuh ini dihuni secara alami oleh mikroflora yang terdiri bakteri, protozoa, maupun jamur. Namun bagian yang paling banyak dihuni jenis bakteri adalah saluran usus.

Yang menjadi kunci kesuksesan dalam menjaga kesehatan saluran pencernaan yakni seimbangnya jumlah mikroorganisme yang ada pada saluran pencernaan. Jika keseimbangan tersebut bergeser, misalnya mikroorganisme patogen lebih banyak ketimbang mikroorganisme komensal dan yang menguntungkan, tentu akan merugikan ayam sebagai hospes.

Mengenai hal itu, David Marks seorang Poultry Consultant berpengalaman, menyatakan ada beberapa hal yang dapat memengaruhi keseimbangan mikroflora di dalam usus. Faktor pertama yakni dari ransum dan air minum. Inilah alas an pentingnya mengecek kualitas pakan dan air minum. “Pakan yang nutriennya rendah dan tercemar mikotoksin, tidak higienis, serta mengandung cemaran feses kerap menimbulkan masalah pada ayam,” katanya.

Selain itu, air minum juga dapat menjadi media tumbuh kembang ideal bagi bakteri seperti E. coli maupun organisme patogen lainnya, sehingga dapat menyebabkan keseimbangan mikroflora usus terganggu.

Faktor kedua yakni stres. Stres terjadi karena reaksi fisiologis normal pada ayam dalam rangka beradaptasi dengan situasi baru, baik terkait lingkungan, maupun perlakuan ayam.

Lebih lanjut dijelaskan, stres juga menyebabkan panjang vili usus berkurang, sehingga mengakibatkan peningkatan frekuensi pergerakan usus dan pH intestinal dari usus. Kondisi inilah yang kemudian berdampak pada mikroflora usus, di mana koloni mikroflora menguntungkan menjadi berkurang dan koloni mikroflora merugikan justru meningkat. Efek lain yang dapat terjadi adalah diare dan munculnya infeksi sekunder bakterial.

Faktor ketiga yakni... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Oktober 2026. (CR)

PENCERNAAN AYAM: MASALAH DAN SOLUSINYA

Sistem pencernaan pada ayam. (Sumber :www.bing.com)

Saluran pencernaan (gastrointestinal tract/GIT) yang berfungsi dengan baik jauh lebih dari sekadar organ penyerapan nutrisi, ia bertindak sebagai pusat saraf dari berbagai proses fisiologis yang penting untuk kesehatan usus pada unggas. Fungsi yang tepat dari sistem pencernaan secara langsung memengaruhi pertumbuhan, konversi pakan, imunokompetensi, dan ketahanan terhadap penyakit.

Oleh karena itu, penerapan strategi yang bertujuan untuk menjaga dan mengoptimalkan kesehatan pencernaan merupakan prioritas dalam manajemen unggas, nutrisi, dan program kesehatan, terutama untuk mencegah enteritis.

Keseimbangan sistem pencernaan pada ayam sangat penting untuk kesehatan dan produktivitas mereka secara keseluruhan. Hal ini melibatkan fungsi yang tepat dari berbagai organ dan pemeliharaan keseimbangan antara ayam, mikrobiota usus, dan lingkungan usus.

Keseimbangan ini penting untuk mencerna dan menyerap nutrisi, mencegah masuknya patogen, dan menjaga keadaan homeostasis yang diinginkan. Faktor-faktor seperti stres, nutrisi pakan, dan keberadaan mikotoksin dapat mengganggu keseimbangan ini, yang dapat menyebabkan pertumbuhan, kesehatan, dan kinerja yang menurun. Fungsi penghalang sistem pencernaan yang memungkinkan nutrisi penting lolos dan membatasi zat berbahaya adalah aspek kunci dalam menjaga keseimbangan ini.

Dalam konteks peternakan unggas modern, di mana efisiensi dan kesejahteraan hewan semakin penting, kesehatan pencernaan diposisikan sebagai salah satu pilar fundamental untuk menjamin profitabilitas, keberlanjutan, dan ketahanan terhadap tantangan kesehatan dan lingkungan.

Pendukung Keseimbangan
Salah satu elemen terpenting dalam keseimbangan pencernaan unggas adalah mikrobiota usus, di mana ekosistem mikroba dinamis yang secara signifikan memengaruhi pencernaan, kekebalan, dan pertahanan terhadap patogen. Mikrobiota unggas terdiri dari beragam bakteri, jamur, virus, dan protozoa yang berinteraksi satu sama lain dan dengan inang. Spesies seperti Lactobacillus spp., Bifidobacterium spp., atau Saccharomyces spp., sangat penting untuk menjaga kesehatan usus pada unggas dan mencegah penyakit usus. Mereka memfermentasi substrat yang tidak dapat dicerna, yang mengarah pada produksi asam lemak rantai pendek (SCFA), yang mengatur pH usus, meningkatkan penyerapan nutrisi, dan memperkuat integritas epitel.

Selain itu, mikrobiota yang seimbang bertindak sebagai penghalang terhadap mikroorganisme patogen melalui mekanisme eksklusi kompetitif, produksi zat antimikroba, dan modulasi sistem kekebalan mukosa.

Di luar mikrobiota, kesehatan pencernaan didasarkan pada... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Oktober 2026.

Ditulis oleh:
Drh Arief Hidayat
Praktisi perunggasan

MENGEFEKTIFKAN KINERJA SALURAN PENCERNAAN

Kepadatan kandang harus diperhatikan agar meminimalisir stres. (Foto: Gemini)

Agar nutrisi yang ada pada ransum dapat diserap sempurna, dibutuhkan sistem pencernaan yang bekerja optimal. Saluran pencernaan yang berfungsi secara optimal akan mampu memaksimalkan nilai pemanfaatan ransum melalui proses pencernaan dan penyerapan nutrisi.

Dalam aspek pemeliharaan ayam, banyak tantangan yang dihadapi peternak di masa kini. Masalah pada saluran pencernaan kerap kali terjadi, baik yang bersifat infeksius maupun non-infeksius. Apalagi kala keduanya berkomplikasi dan menimbulkan masalah yang cukup serius di lapangan.

Efisiensi dan Kinerja Saluran Cerna Adalah Kunci
Dalam dunia perunggasan sudah dipahami bahwa pakan memegang peranan penting dalam keberlangsungan hidup, baik ayam maupun peternaknya. Persentase terbesar dalam bisnis perunggasan berasal dari pakan, yakni sekitar 60-70%.

Siapa yang paling efisien dalam biaya pakan maka dialah yang akan mendapat margin terbesar. Hal tersebut juga sering ditemui dalam program-program kemitraan bisnis unggas, plasma berusaha seefisien mungkin untuk menghasilkan performa terbaik dengan pakan.

Dari kacamata lain, juga tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan genetik ayam di masa kini sangat pesat. Jika pada masa awal perkembangannya, broiler baru bisa dipanen dalam kurun waktu dua bulan, kini sudah bisa dipanen dalam waktu separuhnya. Hal yang hampir serupa juga terjadi pada ayam petelur yang genetiknya sudah berkembang sedemikian rupa hingga dapat menghasilkan telur yang banyak dalam kurun waktu tertentu.

Hal senada pernah diutarakan oleh Guru Besar Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Prof Komang Wiryawan, dalam suatu seminar. Menurutnya, kini ayam memiliki pertumbuhan lebih cepat, namun memiliki kekurangan.

“Perkembangan ternak ayam terutama pedaging ini sangat luar biasa, sebab pada waktu berumur sehari bobotnya masih 40-an gram, lalu dalam waktu kurang dari sebulan bobotnya bisa mencapai lebih dari satu kilogram, itu artinya naik lebih dari 20 kali lipat,” ujarnya.

Kendati demikian, walaupun pertumbuhannya cepat, keluhan-keluhan peternak terutama masalah penyakit kerap datang menyerang. “Ayam modern bisa dibilang mudah stres kalau tidak dipelihara dengan baik pasti sakit, pakannya tidak cocok juga sakit, begitupun jika kandang kurang layak ayam juga sakit,” jelasnya.

Oleh karenanya perlu diterapkan manajemen yang baik dalam pemeliharannya, terutama pakan. “Karena makhluk hidup itu nutrisinya dari situ, kualitas pakan harus terjaga, coba lihat kalau nutrisinya tidak mendukung, pasti stres ayam, gampang terkena penyakit. Belum lagi kalau pakan terkontaminasi zat bahaya seperti mikotoksin, tentu akan makin parah,” ucapnya.

Dirinya juga tidak memungkiri bahwa aspek manajemen... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Oktober 2026. (CR)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer