-->

MENJAGA “MESIN PRODUKSI” TETAP SEIMBANG PADA LAYER, BROILER, DAN BREEDER

Bagaimana NE terjadi di dinding usus.

Ketika Kandang Tampak Normal, tetapi Performa Tidak
Banyak peternak dan teknisi lapangan pernah menghadapi situasi ini. Vaksinasi sudah sesuai jadwal, biosekuriti berjalan, dan pemberian pakan sesuai kebutuhan, namun FCR tetap sulit turun, kotoran basah dan berbau tidak biasa, pertumbuhan tidak seragam, atau produksi telur tidak mencapai puncak yang diharapkan.

Dalam pengalaman di lapangan, sumber masalahnya sering sama, yakni keseimbangan sistem pencernaan terganggu. Saluran cerna adalah organ yang mengubah pakan menjadi daging dan telur. Sekitar 70% dari sistem imun unggas juga berkaitan dengan jaringan di sepanjang usus. Ketika usus bermasalah, efeknya merambat ke semua aspek produksi.

Apa yang Dimaksud Keseimbangan Sistem Pencernaan?
Usus yang sehat ditopang oleh tiga pilar yang bekerja bersama:
1. Mikrobiota seimbang: Bakteri menguntungkan (misalnya Lactobacillus dan Bifidobacterium) lebih dominan daripada bakteri merugikan seperti Clostridium perfringens, E. coli, dan Salmonella.

2. Integritas mukosa: Vili usus tinggi dan rapat, sehingga penyerapan nutrisi optimal dan patogen tidak mudah menembus dinding usus.

3. Pencernaan dan penyerapan efisien: Enzim endogen bekerja baik, pH saluran cerna stabil, dan pakan tercerna tuntas.

Gangguan keseimbangan ini disebut disbiosis. Disbiosis adalah penyebab umum di balik enteritis non-spesifik, necrotic enteritis (NE), wet litter, feed passage, hingga rendahnya daya serap nutrisi.

Mengapa Kasus Disbiosis Makin Menantang?
Ada beberapa faktor yang membuat tantangan ini semakin terasa:
• Larangan AGP: Sejak antibiotic growth promoter (AGP) dilarang melalui regulasi Permentan, peternak kehilangan “payung pengaman” yang selama ini menekan bakteri patogen. Manajemen kesehatan usus kini harus dibangun lewat pendekatan yang lebih menyeluruh.

• Cuaca dan iklim yang tidak menentu: Transisi musim, hujan berkepanjangan, dan suhu tinggi meningkatkan kelembapan litter, memicu stres panas, dan mempercepat pertumbuhan mikroba patogen. Data BMKG tentang pola cuaca dapat menjadi acuan antisipasi.

• Kualitas... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Oktober 2026.

Ditulis oleh:
Drh A. Riwanda
Technical Department Manager
PT ROMINDO PRIMAVETCOM
Head Office – Jl. Dr Saharjo, No. 264,
Tebet, Jakarta Selatan
Email: riwanda@romindo.net
www.romindo.co.id

MENGATASI GANGGUAN KESEIMBANGAN SISTEM PENCERNAAN UNGGAS


Ketika Saluran Pencernaan Menjadi Kunci Daya Saing
Dalam industri perunggasan modern, saluran pencernaan unggas tidak lagi dipandang sekadar sebagai organ pencerna pakan, melainkan sebagai pusat kendali performa, kesehatan, efisiensi produksi, dan bahkan citra produk akhir di mata konsumen.

Keseimbangan sistem pencernaan menentukan seberapa optimal nutrisi diserap, seberap akuat sistem imun bekerja, dan seberapa stabil performa produksi dapat dipertahankan di tengah tantangan penyakit, stres lingkungan, serta tuntutan global akan produk unggas yang aman, sehat, dan bertanggung jawab.

Gangguan keseimbangan sistem pencernaan sering kali menjadi awal dari berbagai masalah klasik di kandang, pertumbuhan tidak seragam, FCR memburuk, litter basah, meningkatnya kasus enteritis, hingga penurunan daya tahan terhadap penyakit. Dalam konteks ini, pendekatan parsial tidak lagi memadai. Industri dituntut untuk menerapkan strategi holistik yang mengintegrasikan nutrisi, manajemen, biosekuriti, dan kesehatan, sejalan dengan isu besar antimicrobial resistance (AMR) dan pendekatan One Health.

Tren Penggunaan Antibiotik, dari Ketergantungan Menuju Transformasi
Sebelum 2014, penggunaan antibiotik dalam industri unggas masih didominasi pendekatan preventif dan promotif, termasuk sebagai antibiotic growth promoter (AGP). Antibiotik menjadi solusi cepat untuk menjaga performa dan menekan penyakit pencernaan. Namun, seiring meningkatnya bukti ilmiah tentang AMR dan dampaknya terhadap kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan, paradigma ini mulai berubah.

Sejak diberlakukan pembatasan dan pelarangan AGP di berbagai negara, termasuk Indonesia, industri unggas memasuki fase transisi yang menantang. Penurunan penggunaan antibiotic berdampak langsung pada meningkatnya tekanan penyakit pencernaan, terutama yang berkaitan dengan bakteri patogen seperti Clostridium perfringens, E. coli, dan Salmonella. Di sisi lain, konsumen semakin kritis terhadap isu residu antibiotik, keamanan pangan, dan keberlanjutan produksi.

Isu AMR tidak hanya menjadi persoalan teknis peternakan, tetapi telah berkembang menjadi isu kesehatan global dalam kerangka One Health. Artinya, setiap keputusan di kandang memiliki implikasi hingga ke meja makan konsumen. Oleh karena itu, menjaga keseimbangan sistem pencernaan tanpa ketergantungan pada antibiotik menjadi tantangan sekaligus peluang strategis bagi industri.

Akar Masalah Ketidakseimbangan Sistem Pencernaan
Ketidakseimbangan sistem pencernaan unggas bersifat... Selengkapnya baca di Majalah Infovet Oktober 2026. 

Ditulis oleh:
Henri E. Prasetyo drh MVet
Praktisi perunggasan, Nutritionist PT DMC

KONSISTEN MEMAKSIMALKAN KINERJA SALURAN PENCERNAAN

Organ pada saluran pencernaan ayam. (Sumber: Poultryhub, 2020)

Bicara masalah kesehatan ayam, penyakit infeksius memang datangnya lebih banyak dari saluran pernapasan. Tetapi bukan berarti mengabaikan masalah kesehatan saluran pencernaan, karena komplikasi dalam kasus ayam yang sakit kerap terjadi.

Semua aspek pemeliharaan sangat besar pengaruhnya dan mereka saling terkait. Sederhananya, ayam yang saluran pernapasannya sakit salah satu gejalanya bisa jadi tidak mau makan, ayam yang saluran pencernaannya sakit dan nutrisinya kurang mudah terinfeksi penyakit lain termasuk pernapasan.

Jangan Berat Sebelah
Dari kaca mata ilmu anatomi, saluran pencernaan ayam dapat dikelompokkan menjadi tujuh bagian yang terdiri dari tembolok (crop), lambung (proventriculus), ventriculus, usus halus, usus buntu (caecum), usus besar (colon), dan cloaca. Masing-masing bagian tubuh ini dihuni secara alami oleh mikroflora yang terdiri bakteri, protozoa, maupun jamur. Namun bagian yang paling banyak dihuni jenis bakteri adalah saluran usus.

Yang menjadi kunci kesuksesan dalam menjaga kesehatan saluran pencernaan yakni seimbangnya jumlah mikroorganisme yang ada pada saluran pencernaan. Jika keseimbangan tersebut bergeser, misalnya mikroorganisme patogen lebih banyak ketimbang mikroorganisme komensal dan yang menguntungkan, tentu akan merugikan ayam sebagai hospes.

Mengenai hal itu, David Marks seorang Poultry Consultant berpengalaman, menyatakan ada beberapa hal yang dapat memengaruhi keseimbangan mikroflora di dalam usus. Faktor pertama yakni dari ransum dan air minum. Inilah alas an pentingnya mengecek kualitas pakan dan air minum. “Pakan yang nutriennya rendah dan tercemar mikotoksin, tidak higienis, serta mengandung cemaran feses kerap menimbulkan masalah pada ayam,” katanya.

Selain itu, air minum juga dapat menjadi media tumbuh kembang ideal bagi bakteri seperti E. coli maupun organisme patogen lainnya, sehingga dapat menyebabkan keseimbangan mikroflora usus terganggu.

Faktor kedua yakni stres. Stres terjadi karena reaksi fisiologis normal pada ayam dalam rangka beradaptasi dengan situasi baru, baik terkait lingkungan, maupun perlakuan ayam.

Lebih lanjut dijelaskan, stres juga menyebabkan panjang vili usus berkurang, sehingga mengakibatkan peningkatan frekuensi pergerakan usus dan pH intestinal dari usus. Kondisi inilah yang kemudian berdampak pada mikroflora usus, di mana koloni mikroflora menguntungkan menjadi berkurang dan koloni mikroflora merugikan justru meningkat. Efek lain yang dapat terjadi adalah diare dan munculnya infeksi sekunder bakterial.

Faktor ketiga yakni... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Oktober 2026. (CR)

PENCERNAAN AYAM: MASALAH DAN SOLUSINYA

Sistem pencernaan pada ayam. (Sumber :www.bing.com)

Saluran pencernaan (gastrointestinal tract/GIT) yang berfungsi dengan baik jauh lebih dari sekadar organ penyerapan nutrisi, ia bertindak sebagai pusat saraf dari berbagai proses fisiologis yang penting untuk kesehatan usus pada unggas. Fungsi yang tepat dari sistem pencernaan secara langsung memengaruhi pertumbuhan, konversi pakan, imunokompetensi, dan ketahanan terhadap penyakit.

Oleh karena itu, penerapan strategi yang bertujuan untuk menjaga dan mengoptimalkan kesehatan pencernaan merupakan prioritas dalam manajemen unggas, nutrisi, dan program kesehatan, terutama untuk mencegah enteritis.

Keseimbangan sistem pencernaan pada ayam sangat penting untuk kesehatan dan produktivitas mereka secara keseluruhan. Hal ini melibatkan fungsi yang tepat dari berbagai organ dan pemeliharaan keseimbangan antara ayam, mikrobiota usus, dan lingkungan usus.

Keseimbangan ini penting untuk mencerna dan menyerap nutrisi, mencegah masuknya patogen, dan menjaga keadaan homeostasis yang diinginkan. Faktor-faktor seperti stres, nutrisi pakan, dan keberadaan mikotoksin dapat mengganggu keseimbangan ini, yang dapat menyebabkan pertumbuhan, kesehatan, dan kinerja yang menurun. Fungsi penghalang sistem pencernaan yang memungkinkan nutrisi penting lolos dan membatasi zat berbahaya adalah aspek kunci dalam menjaga keseimbangan ini.

Dalam konteks peternakan unggas modern, di mana efisiensi dan kesejahteraan hewan semakin penting, kesehatan pencernaan diposisikan sebagai salah satu pilar fundamental untuk menjamin profitabilitas, keberlanjutan, dan ketahanan terhadap tantangan kesehatan dan lingkungan.

Pendukung Keseimbangan
Salah satu elemen terpenting dalam keseimbangan pencernaan unggas adalah mikrobiota usus, di mana ekosistem mikroba dinamis yang secara signifikan memengaruhi pencernaan, kekebalan, dan pertahanan terhadap patogen. Mikrobiota unggas terdiri dari beragam bakteri, jamur, virus, dan protozoa yang berinteraksi satu sama lain dan dengan inang. Spesies seperti Lactobacillus spp., Bifidobacterium spp., atau Saccharomyces spp., sangat penting untuk menjaga kesehatan usus pada unggas dan mencegah penyakit usus. Mereka memfermentasi substrat yang tidak dapat dicerna, yang mengarah pada produksi asam lemak rantai pendek (SCFA), yang mengatur pH usus, meningkatkan penyerapan nutrisi, dan memperkuat integritas epitel.

Selain itu, mikrobiota yang seimbang bertindak sebagai penghalang terhadap mikroorganisme patogen melalui mekanisme eksklusi kompetitif, produksi zat antimikroba, dan modulasi sistem kekebalan mukosa.

Di luar mikrobiota, kesehatan pencernaan didasarkan pada... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Oktober 2026.

Ditulis oleh:
Drh Arief Hidayat
Praktisi perunggasan

MENGEFEKTIFKAN KINERJA SALURAN PENCERNAAN

Kepadatan kandang harus diperhatikan agar meminimalisir stres. (Foto: Gemini)

Agar nutrisi yang ada pada ransum dapat diserap sempurna, dibutuhkan sistem pencernaan yang bekerja optimal. Saluran pencernaan yang berfungsi secara optimal akan mampu memaksimalkan nilai pemanfaatan ransum melalui proses pencernaan dan penyerapan nutrisi.

Dalam aspek pemeliharaan ayam, banyak tantangan yang dihadapi peternak di masa kini. Masalah pada saluran pencernaan kerap kali terjadi, baik yang bersifat infeksius maupun non-infeksius. Apalagi kala keduanya berkomplikasi dan menimbulkan masalah yang cukup serius di lapangan.

Efisiensi dan Kinerja Saluran Cerna Adalah Kunci
Dalam dunia perunggasan sudah dipahami bahwa pakan memegang peranan penting dalam keberlangsungan hidup, baik ayam maupun peternaknya. Persentase terbesar dalam bisnis perunggasan berasal dari pakan, yakni sekitar 60-70%.

Siapa yang paling efisien dalam biaya pakan maka dialah yang akan mendapat margin terbesar. Hal tersebut juga sering ditemui dalam program-program kemitraan bisnis unggas, plasma berusaha seefisien mungkin untuk menghasilkan performa terbaik dengan pakan.

Dari kacamata lain, juga tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan genetik ayam di masa kini sangat pesat. Jika pada masa awal perkembangannya, broiler baru bisa dipanen dalam kurun waktu dua bulan, kini sudah bisa dipanen dalam waktu separuhnya. Hal yang hampir serupa juga terjadi pada ayam petelur yang genetiknya sudah berkembang sedemikian rupa hingga dapat menghasilkan telur yang banyak dalam kurun waktu tertentu.

Hal senada pernah diutarakan oleh Guru Besar Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Prof Komang Wiryawan, dalam suatu seminar. Menurutnya, kini ayam memiliki pertumbuhan lebih cepat, namun memiliki kekurangan.

“Perkembangan ternak ayam terutama pedaging ini sangat luar biasa, sebab pada waktu berumur sehari bobotnya masih 40-an gram, lalu dalam waktu kurang dari sebulan bobotnya bisa mencapai lebih dari satu kilogram, itu artinya naik lebih dari 20 kali lipat,” ujarnya.

Kendati demikian, walaupun pertumbuhannya cepat, keluhan-keluhan peternak terutama masalah penyakit kerap datang menyerang. “Ayam modern bisa dibilang mudah stres kalau tidak dipelihara dengan baik pasti sakit, pakannya tidak cocok juga sakit, begitupun jika kandang kurang layak ayam juga sakit,” jelasnya.

Oleh karenanya perlu diterapkan manajemen yang baik dalam pemeliharannya, terutama pakan. “Karena makhluk hidup itu nutrisinya dari situ, kualitas pakan harus terjaga, coba lihat kalau nutrisinya tidak mendukung, pasti stres ayam, gampang terkena penyakit. Belum lagi kalau pakan terkontaminasi zat bahaya seperti mikotoksin, tentu akan makin parah,” ucapnya.

Dirinya juga tidak memungkiri bahwa aspek manajemen... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Oktober 2026. (CR)

RISIKO MENGINTAI, GEGARA TERGIUR TELUR MURAH

Untuk mendapatkan telur yang berkualitas, konsumen harus jeli saat membelinya. (Foto: Gemini)

Meski kondisi keuangan lagi tipis, sebaiknya jangan pernah tergiur dengan harga murah saat membeli telur. Teliti sebelum membeli dan pastikan telur yang dibeli masih segar. Jangan pertaruhkan kesehatan keluarga gara-gara terpikat harga murah.

Sepulang antar anak sekolah, Pak Rahmat mampir ke warung sembako tak jauh dari sekolah dasar anaknya. Pagi itu, ia “mewakili” istrinya untuk membeli satu kilogram telur ayam. Tak jauh dari warung sembako yang ia datangi, ada juga warung lain yang menjual telur ayam.

Dua warung ini menjual telur dengan harga berbeda, warung pertama memasang tulisan harga telur Rp 27.500/kg, sedangkan di warung kedua tertulis Rp 23.500/kg. Karena sedang penghematan anggaran rumah tangga, tanpa pikir panjang Pak Rahmat memilih ke warung yang menjual harga lebih murah. Lumayan, bisa hemat Rp 4.000, pikirnya.

Sepanjang perjalanan menuju rumah, sejenak ia berpikir, kenapa dua warung yang berdekatan jual telur ayam dengan selisih harga yang lumayan. Sesampai di rumah, ia kembali mengecek telur yang ia beli. Satu per satu diamati warna kerabangnya. Tak ada yang beda dengan telur yang biasa ia beli.

“Tapi begitu telur saya guncang pelan, mengeluarkan bunyi seperti cairan bergeser atau terkocok. Hampir semuanya begitu. Karena penasaran, saya pecahkan satu butir. Ternyata kuning telurnya sudah enggak bulat utuh. Putih telurnya juga kelihatan lebih encer dari biasanya. Mungkin ini yang bikin harga jadi lebih murah,” tutur Pak Rahmat kepada Infovet.

Lantaran penasaran, pria berusia 60 tahunan ini mencari tahu melalui ponsel. Cek di Google, ternyata dugaannya tak meleset. Telur yang baru saja ia beli sudah menurun kualitasnya. “Nyesel aku tadi beli pilih yang murah,” ujarnya sambil tarik napas agak dalam.

Di artikel yang ia baca menyebutkan, telur yang mengeluarkan bunyi seperti cairan bergeser saat diguncang itu merupakan pertanda bahwa kualitas telur sudah menurun, tidak segar, meski masih layak konsumsi.

Penampakan putih telur yang encer, disebabkan waktu penyimpanan yang sudah cukup lama, bisa menyebabkan protein telur rusak dan strukturnya menjadi sangat cair. Kantung udara di dalam telur juga membesar. Cairan yang menguap lewat pori-pori cangkang membuat rongga udara di dalam telur semakin besar, sehingga ruang gerak bagian dalam menjadi longgar dan menciptakan bunyi kocokan.

Mengutip artikel yang ia baca, Pak Rahmat bilang, mengonsumsi telur yang kualitasnya menurun atau nyaris busuk berisiko menyebabkan keracunan makanan dan gangguan pencernaan berat akibat kontaminasi bakteri. Telur basi atau rusak sangat rentan ditumbuhi bakteri berbahaya seperti Salmonella. Jika ini terjadi, dapat berdampak pada infeksi saluran pencernaan.

Ahli gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Prof Dr Ir Ali Khomsan, mengingatkan bahwa memilih telur atau daging ayam yang berkualitas itu penting, karena berdampak pada kesehatan. Bagi anak-anak, orang dewasa, dan ibu menyusui, asupan gizi berupa protein hewani dari telur ayam yang berkualitas bagus sangat diperlukan.

“Kandungan asam amino yang ada di dalam telur dan daging ayam bagus untuk kesehatan tubuh. Asam amino berperan penting karena membantu pembentukan protein sebagai bahan dasar pembentuk sel, otot, serta sistem kekebalan tubuh,” ujar pakar gizi ini.

Ahli gizi ini menyarankan, konsumsi telur atau daging ayam bagi anak-anak sangat baik dan bisa dimulai sejak awal ibu-ibu menyusui bayinya. Daging ayam mengandung protein, zat besi, magnesium, vitamin, dan fosfor.

Perbedaan Lama dan Baru
Agar tak lagi salah memilih telur ayam, ada informasi dari laman bppsdmp.pertanian.go.id yang patut dijadikan rujukan. Untuk menjamin keamanan dan mutu telur konsumsi, pemerintah telah memperkuat perlindungan konsumen melalui Permentan No. 10/2024 tentang Penyediaan, Peredaran, dan Pengawasan Ayam Ras dan Telur Konsumsi.

Selain itu, Standar Nasional Indonesia (SNI) 3926:2023 menetapkan persyaratan mutu telur konsumsi yang mencakup kesegaran, kebersihan, ukuran, serta kondisi fisik telur. Regulasi ini tidak hanya bertujuan melindungi konsumen, tetapi juga mendorong pelaku usaha agar lebih disiplin dalam menerapkan praktik produksi dan penanganan pascapanen yang baik.

Meski demikian, telur yang tidak layak konsumsi masih berpotensi beredar dan dapat menimbulkan risiko kesehatan apabila dikonsumsi. Oleh sebab itu, penting untuk memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam mengenali ciri-ciri telur yang segar dan aman, serta lebih selektif dalam memilih telur demi menjaga kesehatan diri dan keluarga.

Lalu, seperti apa perbedaan telur ayam baru dan lama? Pada telur ayam baru, batas antara putih telur tebal dan tipis terlihat jelas, tidak terdapat bercak darah atau benda asing pada putih telur, bentuk kuning telur bulat, dan posisi di tengah dari putih telur yang tebal.

Sedangkan pada telur ayam lama, batas antara putih telur tebal dan tipis tidak jelas, terdapat bercak darah atau benda asing pada putih telur, bentuk kuning telur tidak bulat, dan posisi agak ke pinggir.

Saat membeli telur ayam, perhatikan kondisi fisiknya. Hindari telur yang kotor karena terdapat kotoran ayam atau bercak darah pada cangkang, retak pada cangkang, serta telur yang mengalami pengapuran yang ditandai dengan permukaan cangkang kasar dan adanya noda putih.

Selain itu, untuk mengetahui kondisi telur yang baik atau tidak dapat dilakukan dengan memasukkan telur dalam  larutan garam 10%. Telur yang baik akan tenggelam (kantung udara < 0,5 cm), telur kurang baik melayang (0,5-0,9 cm), dan telur tidak baik mengapung (> 0,9 cm).

Cara lain yang juga mudah adalah dengan mengguncang telur. Cara ini dilakukan dengan mengguncang telur dekat telinga. Untuk telur segar, tidak akan mengeluarkan suara seperti cairan bergeser saat diguncang, menunjukkan bahwa isi di dalamnya masih kental. Sedangkan telur tidak segar, akan terdengar suara seperti cairan bergerak, dan ini menandakan bahwa putih telurnya sudah encer dan kemungkinan besar sudah busuk.

Jeli Sebelum Membeli
Untuk mendapatkan telur yang berkualitas, ada kalanya konsumen juga perlu sedikit jeli saat membeli. Telur yang baik memiliki kerabang halus, warna merata dan bersih, tidak retak atau pecah, serta memiliki bentuk oval yang normal. Jika tersedia lampu peneropong di tempat penjualan, konsumen juga dapat memilih telur dengan kantong udara yang kecil pada bagian ujung tumpulnya.

Kualitas telur juga dipengaruhi lama penyimpanan. Telur yang baru dihasilkan memiliki kualitas lebih baik dibandingkan telur yang telah lama disimpan, terutama pada suhu ruang. Telur yang aman dikonsumsi adalah telur yang dihasilkan dari ayam sehat, telur yang baru dihasilkan, serta telur yang diolah secara benar dan sehat.

Setelah paham dengan memilih telur yang segar, langkah selanjutnya adalah penyimpanan yang benar. Pisahkan telur yang bersih dan kotor, besar-kecil, retak tidak retak, baru dan lama, serta bersihkan jika cangkang telur kotor dengan lap kain atau tisu kering untuk menjaga kebersihannya.

Simpan di baki atau tray telur dan/atau lemari pendingin (7-10 °C) dengan posisi bagian tumpul berada di atas. Gunakan telur yang lebih lama disimpan dibandingkan dengan telur yang baru (first in first out). Masa simpan telur di suhu ruang selama 15 hari dan di lemari pendingin 30 hari. Dengan penanganan seperti ini, keluarga akan lebih sehat dalam mengonsumsi telur. ***

Ditulis oleh:
Abdul Kholis
Koresponden Infovet Daerah Depok,
Konsultan media dan penulis buku,
Writing Coach Griya Menulis (Bimbingan Menulis Buku & Jurnalistik),
Juara I Lomba Jurnalistik Tingkat Nasional (Unsoed, 2021) & Juara I Kompetisi Menulis
Artikel Tingkat Nasional dalam rangka HATN, 2022

DI ILDEX INDONESIA 2026, ROMINDO GELAR SEMINAR MENGUPAS KARAKTERISTIK DAN PENANGANAN MYCOPLASMA PADA UNGGAS

PT Romindo Primavetcom turut berpartisipasi dalam pameran internasional ILDEX Indonesia, 16-18 September 2026, dengan menyelenggarakan seminar bertajuk “The Ecology of Avian Mycoplasma Infections”. Seminar yang diselenggarakan pada Kamis (17/9), menghadirkan Senior Technical Advisor Bioproperties, Prof Dr Chris Morrow PhD BVSc, pakar terkemuka yang juga penerima penghargaan Peter Hannan Award IOM 2024 dan Kesteven Medal AVA 2024.






ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer