-->

KANDUNGAN PURIN HATI AYAM TERTINGGI, MITOS ATAU FAKTA?

Jangan konsumsi berlebihan, karena kandungan purin yang tinggi dalam hati ayam dapat menyebabkan gejala asam urat. (Foto: Shutterstock/istetiana)

Sarapan bubur ayam terasa lebih nikmat jika dipadukan dengan sate hati ayam. Namun di balik rasanya yang nikmat, olahan organ ini menjadi pemicu penyakit yang membuat persendian sangat nyeri. Benarkah hati ayam mengandung purin kadar paling tinggi?

Setiap Minggu pagi, di kawasan perumahan elit Shila Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat, selalu dipenuhi warga yang berolahraga. Di antara kerumunan orang-orang di kawasan tersebut, tampak seorang pria paruh baya yang juga mengenakan kaos, celana pendek, dan bersepatu olahraga. Hanya saja, dia menggunakan kursi roda yang didorong oleh seorang perempuan yang lebih muda.

Sesekali pria tersebut turun dari kursi roda, lalu jalan berjingkat beberapa langkah, lalu duduk lagi di kursi roda sambil merintih. “Asam urat saya lagi kambuh, tapi saya coba paksa tetep olahraga sebisanya,” tutur Marzuki, nama pria paruh baya itu kepada Infovet.

Pensiunan karyawan sebuah bank swasta ini mengaku sudah tiga bulan lebih terserang asam urat. Kadang sembuh, kadang kumat lagi. Di saat kambuh, pergelangan kaki terasa nyeri tiada tara, begitu keluhnya. Hanya obat generik yang rutin diminum setiap hari jadi peredanya.

Apa gerangan penyebabnya? “Asam urat saya sudah melewati ambang batas. Dokter bilang sih, saya terlalu banyak konsumsi makanan yang banyak mengandung purin. Mungkin yang dimaksud ati ayam, karena saya hobi banget makan ati ayam,” ujarnya.

Sejak pensiun setahun lalu, hampir setiap pagi ia mengaku sarapan bubur ayam. Sate hati dan ampela ayam pasti menjadi pendamping menu sarapannya. Sekali makan bisa habis lima tusuk, makan bubur ayam tanpa sate hati-ampela kurang nikmat, begitu ceritanya.

Sebelum konsumsi rutin hati ayam, Marzuki mengaku hampir tak pernah terkena sakit asam urat. “Makanya, kalau dulu olahraga bisa lari atau jalan cepat. Sekarang harus pakai kursi roda, asam uratnya sering kambuh. Tapi tetap saya paksakan olahraga pagi sebisanya,” tuturnya.

Apa yang dialami Marzuki bisa jadi dialami juga oleh banyak orang. Meski tiap orang memiliki daya tahan tak sama terhadap kadar purin dalam tubuh, namun makanan yang menjadi sumber penyakit ini sebaiknya dihindari. Sekali terserang, rasa nyeri di persendian tak berkesudahan.

Literatur kesehatan yang dimuat situs Rumah Sakit Tirta Medica Centre, di Jakarta, menyebutkan asam urat atau gout merupakan salah satu bentuk radang sendi yang dapat menyebabkan nyeri hebat dan bengkak pada persendian. Kondisi ini terjadi ketika kadar asam urat dalam darah meningkat di atas batas normal, yaitu 3,4-7,0 mg/dL pada laki-laki dan 2,4-6,0 mg/dL pada perempuan.

Asam urat terbentuk ketika tubuh memecah senyawa purin yang berasal dari makanan atau diproduksi secara alami oleh tubuh. Indonesia menempati posisi keempat dunia dengan prevalensi penyakit asam urat tertinggi. Penelitian menunjukkan bahwa prevalensi hiperurisemia di Indonesia mencapai 81%, dengan lebih dari 355 juta penderita di seluruh dunia.

Literatur kesehatan lainnya, tulisan dr Alvin Nursalim, ahli nutrisi di Jakarta, yang dimuat sebuah di media online nasional menyebutkan hati ayam termasuk kelompok jeroan. Hati ayam, dalam 100 gram mengandung 116 kkal kalori, 345 mg kolesterol, serta 4,83 gram lemak. Jeroan dapat menjadi penyebab utama terjadinya peradangan pada sendi.

Orang yang mengalami radang sendi disarankan tidak mengonsumsi jeroan karena dapat memperparah keluhan. Kandungan purin yang tinggi dalam hati ayam juga dapat menyebabkan gejala asam urat. Di sisi lain, hati ayam memang kaya akan vitamin B, seperti vitamin B12 dan folat. Makanan ini juga tinggi mineral, termasuk zat besi, magnesium, dan selenium, serta vitamin-vitamin penting yang larut dalam lemak, seperti vitamin A, D, E, dan K.

Tak hanya hati ayam, sumber purin penyebab asam urat juga ada pada hasil laut. Beberapa jenis makanan laut, seperti kerang, udang, dan teri diyakini menjadi pemicu asam urat karena memiliki kadar tinggi purin. Dari literatur tadi disebutkan, dari semua jenis tersebut, ikan teri kering mengandung purin paling tinggi, mencapai 1.108,6 mg per 100 gram.

Tetap Bernutrisi 
Kehati-hatian mengonsumsi hati ayam juga sudah sering disampaikan oleh para ahli gizi melalui artikel atau berita di berbagai media. Ahli nutrisi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Prof Dr Ir Budi Setiawan MS, juga membenarkan bahwa hati ayam memiliki kandungan purin yang tinggi. Menurutnya, hati ayam per 100 gram mengandung 312,2 mg purin dan dikategorikan sebagai makanan dengan kadar purin sangat tinggi. Dengan demikian, kandungan tinggi purin dalam hati ayam bukanlah mitos.

Menurut dosen dari Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB University, olahan hati ayam paling sering dikonsumsi masyarakat Indonesia karena rasanya nikmat. Akan tetapi, menurutnya, mengingat hati ayam juga berfungsi sebagai penyaring berbagai racun tubuh, organ ini termasuk dalam bahan makanan yang tidak sehat.

Namun demikian, hati ayam tetap memiliki kandungan nutrisi baik. Dalam hati ayam terdapat beberapa nutrisi yang menyehatkan seperti vitamin A, B12, D, E, dan K. Yang penting, pakar gizi ini menyarankan agar tidak mengonsumsi terlalu sering.

Ia menjelaskan, hati ayam mengandung kandungan lemak dan kolesterol yang cukup tinggi. Jika dikonsumsi terlalu sering, bisa membuat kadar asam urat di dalam darah bisa meningkat. Hal ini tentu akan membuat risiko terkena penyakit asam urat ikut meningkat, mengingat zat purin semakin menumpuk di persendian. Karena alasan ini pulalah penderita asam urat tidak disarankan mengonsumsi hati ayam.

Tak hanya menyebabkan asam urat, jika dikonsumsi berlebihan, hati ayam bisa meningkatkan risiko terkena tekanan darah tinggi. Hal ini disebabkan kadar kolesterol di dalam hati yang bisa meningkatkan kadar kolesterol jahat di dalam darah.

“Ini tentu akan memicu penumpukan plak pada pembuluh darah dan bisa menyebabkan tekanan darah tinggi atau hipertensi. Yang menjadi masalah adalah hipertensi bisa berimbas pada meningkatnya masalah penyakit jantung yang mematikan. Melihat adanya fakta ini, ada baiknya memang kita tidak sering-sering mengonsumsi hati ayam,” ujarnya.

Jangan Berlebihan
Budi tak menampik tentang anggapan bahwa konumsi daging juga menyebabkan seseorang terserang kolesterol. Akan tetapi jika membandingkan secara langsung antara daging dan hati, tentu saja akan ada perbedaannya.

Dari sisi kandungan gizi, hati sebagai jeroan memiliki kandungan kolesterol dan lemak lebih tinggi ketimbang daging. Selain itu, jeroan juga memiliki purin yang tinggi atau yang lebih dikenal dengan asam urat.

“Tapi lagi-lagi, kalau kita hanya mengonsumsi dalam batas wajar, misalnya hanya makan satu porsi, maka tidak perlu terlalu khawatir. Intinya, untuk makan apapun baik daging maupun jeroan tidak boleh berlebihan karena juga akan berdampak kepada kesehatan,” ujar Budi.

Termasuk dalam kebutuhan seperti vitamin dan mineral itu harus dengan ukuran yang pas. Maka itu, ada istilah angka kecukupan gizi yang harus dipatuhi. Angka kecukupan gizi merupakan batasan wajar yang perlu dikonsumsi untuk ukuran orang dewasa, anak-anak, dan ibu hamil.

“Bagi masyarakat umum, angka kecukupan gizi ini tidak mudah untuk diterapkan karena ada kebiasaan bahwa yang namanya makan harus kenyang,” kata Budi.

Menurutnya, selain hati ayam dan jeroan, masih banyak jenis makanan yang sebaiknya dikurangi jumlah konsumsinya, jika sedang menderita asam urat. Sumber makanan berupa daging merah (sapi, kambing, domba), serta daging putih tertentu (daging entok, kalkun, angsa, burung puyuh, dan kelinci) dapat menjadi penyebab asam urat. Jenis makanan ini tergolong memiliki kandungan purin sedang atau berada di atas 100 mg per 100 gram daging mentah.

Budi memberikan tips agar tetap sehat dan aman mengonsumsi olahan jeroan dan hati ayam. Pertama, jangan berlebihan. Yang jadi masalah sering kali jeroan dimasak dengan menggunakan santan, ini yang mengundang risiko, karena semakin bertambahnya kandungan lemak dan kolesterol di dalamnya, termasuk kandungan purin yang tinggi.

Kedua, cara mengolah jeroan, termasuk hati ayam akan lebih aman jika direbus, bukan digoreng. Hati ayam dan jeroan lainnya yang dioleh dengan cara digoreng akan berbahaya karena minyaknya juga sudah mengandung lemak. (AK)

PENYAKIT NGOROK YANG MASIH MENJADI MOMOK

Temuan umum patologi anatomis dari CRD (A dan B) pericarditis, perihepatitis, dan air sacculitis pada broiler. (C dan D) hal yang sama terjadi pada unggas layer. (Sumber: Marouf et al. 2022)

Penyakit pernapasan pada unggas merupakan salah satu tantangan utama yang menjadi momok menakutkan. Terlebih lagi aspek kesehatan ternak juga memiliki korelasi dengan produktivitas. Salah satu yang kerap menjadi residivis di Indonesia adalah mycoplasmosis alias chronic respiratory disease (CRD) yang disebabkan oleh Mycoplasma gallisepticum.

Ngorok biasa disebut peternak atau CRD kerap ditemui dalam suatu peternakan unggas. CRD adalah penyakit yang menyerang saluran pernapasan ayam dan bersifat kronis. Disebut “kronis” karena penyakit ini berlangsung secara terus menerus dalam jangka waktu lama dan sulit untuk disembuhkan.

Si Penyebab Ngorok
Biang keladi dari penyakit ngorok tadi tidak lain adalah Mycoplasma gallisepticum (MG), yang biasa disebut sebagai organisme mirip bakteri (bacteria-like organism). Berbagai praktisi perunggasan lokal maupun mancanegara bahkan menyebut MG sebagai salah satu patogen yang paling merugikan dalam industri unggas.

Dibalik ukurannya yang sangat kecil dan sederhana, MG memiliki kemampuan untuk menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan di seluruh dunia melalui penurunan produktivitas, peningkatan biaya pengobatan, dan peningkatan mortalitas pada unggas.

Dalam sebuah seminar mengenai penyakit pernapasan pada unggas, Veterinary Service Manager PT Ceva Indonesia, Drh Fauzi Iskandar, menerangkan mengenai sifat dan karakteristik MG. Ia mengatakan bahwa MG adalah bakteri dari kelompok Mycoplasma yang unik karena tidak memiliki dinding sel.

Hal ini membuatnya sangat sulit untuk diberantas dengan antibiotik biasa terutama yang bekerja dengan cara mengganggu sintesis dinding sel bakteri. Bakteri ini berbentuk pleomorfik dan mampu beradaptasi dengan berbagai kondisi lingkungan, membuatnya sulit dideteksi dan dikendalikan di peternakan unggas.

“Penggunaan antibiotik yang melisiskan dinding sel tentu tidak akan efektif, oleh karenanya MG ini sangat sulit diberantas, meskipun begitu bukan tidak mungkin untuk dikendalikan, hanya saja butuh “jurus khusus” dalam pengendaliannya,” tutur Fauzi.

Ia melanjutkan, MG dapat... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2026. (CR)

MAKSIMALKAN PERFORMA GENETIK DENGAN BERBAGAI CARA

Pentingnya fase brooding menjadi penentu keberhasilan budi daya unggas broiler. (Foto: Istimewa)

Perkembangan pesat di sisi genetik harus dibarengi pengaplikasian yang apik dari berbagai aspek agar potensi tersebut maksimal. Hal ini mutlak harus dilakukan oleh setiap pembudidaya agar performa ayam maksimal.

Perbuatan baik akan kembali kepada pelakunya, begitupun perbuatan buruk. Pepatah demikian berlaku dalam pemeliharaan ayam, kadang perlakuan yang diberikan dengan maksud baik pun bisa berdampak buruk, apabila kurang memahami karakteristik ayam modern. Oleh karena itu, peternak harus memahami bagaimana sejatinya memperlakukan si ayam zaman now agar performanya maksimal.

Penuhi Kebutuhan Dasar Ayam Modern
Regional Technical Manager Cobb-Vantress Asia Pacific, Amin Suyono, menjabarkan mengenai perkembangan genetik ayam broiler sejak 1950-an hingga kini. Di mana pada 1950-an presentase daging dada yang dihasilkan oleh karkashanya 11,5%, sedangkan di masa kini presentasenya meningkat 2,5 kali lipatnya.

Meskipun begitu menurut Amin, dibutuhkan manajemen pemeliharaan yang baik untuk memenuhi potensi genetik yang luar biasa tersebut. Yang apabila ada satu aspek yang gagal dipenuhi, potensi tersebut tidak termanfaatkan secara maksimal.

“Memang tidak bisa dipungkiri, kita harus memenuhi hal ini. Karena dalam standar kita ayam memang diseleksi sedemikian rupa. Oleh karena perkembangan teknologi maka tata laksana pemeliharaan haruslah tepat,” kata Amin.

Brooding Berhasil, Performa Stabil
Dibutuhkan langkah konkret di lapangan agar performa broiler modern dapat mencapai potensi maksimalnya. Menurut Amin, sukses tidaknya membudidayakan broiler dapat diukur dari seberapa besar keberhasilan dalam fase brooding.

“Pada prinsipnya brooding ini adalah sprint bukan marathon, jadi dalam sprint start adalah kunci kemenangan. Kita harus fokus pada hal dasar dan menjalankan detail dengan sebaik mungkin,” ucapnya.

Aspek pertama yang perlu diperhatikan sebelum chick in menurutnya yakni dari segi sanitasi, disinfeksi, dan istirahat kandang. Ke semuanya akan berkaitan dengan kesehatan ayam karena sebelum ayam masuk, kandang dikondisikan sebersih mungkin dengan tingkat ancaman infeksius terendah.

Ia menekankan, brooding merupakan periode transisi di mana ayam ditaruh di tempat dengan kondisi suhu yang berbeda dari sebelumnya. Apabila suhu brooding tidak tepat, maka intake pakan dan air minum tidak akan maksimal. Amin mengatakan, perlu dilakukan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juli 2026. (CR)

TANTANGAN DAN STRATEGI MANAJEMEN DARI GPS HINGGA KOMERSIAL


Dalam dua dekade terakhir, industri perunggasan global mengalami lompatan besar yang didorong kemajuan genetik broiler. Seleksi genetik yang semakin presisi telah menghasilkan ayam dengan pertumbuhan lebih cepat, efisiensi pakan yang lebih baik, serta kapasitas produksi daging yang semakin tinggi.

Namun, di balik peluang tersebut, muncul tantangan baru yang menuntut pendekatan manajemen yang jauh lebih akurat, khususnya pada level pembibitan (breeder) hingga broiler komersial. Tren genetik broiler modern tidak lagi hanya berbicara tentang pertumbuhan, tetapi juga keseimbangan antara performa produksi, kesehatan, dan keberlanjutan sistem produksi.

Perubahan genetik ini memengaruhi seluruh rantai produksi, mulai dari great grand parent stock (GPS), parent stock (PS), hingga broiler komersial. Setiap level memiliki karakteristik biologis dan kebutuhan manajemen yang berbeda, namun saling terhubung secara erat. Kesalahan pengelolaan pada level hulu akan berdampak langsung pada performa di level hilir.

Oleh karenaitu, pemahaman menyeluruh terhadap tren genetik terbaru menjadi kunci bagi praktisi perunggasan dalam menjaga daya saing dan profitabilitas.

Karakteristik Genetik Broiler Generasi Baru
Broiler modern cenderung menunjukkan kematangan seksual yang lebih awal, laju pertumbuhan yang agresif, serta respons yang sangat cepat terhadap perubahan nutrisi dan lingkungan. Pada sisi positif, hal ini membuka peluang peningkatan total produksi telur breeder, perbaikan feed conversion ratio (FCR), dan peningkatan output daging pada broiler komersial.

Namun di sisi lain, ayam dengan potensi genetik tinggi juga lebih sensitif terhadap kesalahan manajemen, terutama terkait pengaturan pakan, energi, dan komposisi nutrisi.

Salah satu karakter utama genetik baru adalah pola produksi yang lebih cepat naik (fast production increase) dengan puncak produksi yang dicapai lebih dini. Kondisi ini menuntut sistem manajemen yang proaktif, bukan reaktif. Peternak dan manajer farm tidak lagi memiliki ruang toleransi yang besar terhadap keterlambatan penyesuaian pakan atau ketidaktepatan alokasi nutrisi.

Dinamika Manajemen pada Level GPS
Pada level GPS, fokus utama bukan hanya pada kuantitas produksi telur, tetapi juga kualitas genetik dan konsistensi performa reproduksi. Ayam GPS membawa potensi genetik tertinggi, sehingga kesalahan kecil dalam manajemen dapat berdampak besar secara berantai hingga ke broiler komersial. Tren genetik terbaru menunjukkan bahwa ayam GPS juga mengalami kematangan lebih awal, sehingga program feeding dan body weight control harus disusun dengan sangat ketat.

Pengendalian cadangan lemak (fat reserve) menjadi isu krusial pada level ini. Fat reserve above the target pada breeding farm menunjukkan bahwa cadangan lemak tubuh breeder melebihi standar ideal. Kondisi ini dapat berdampak pada penurunan persistensi produksi telur, fertilitas, dan hatchability, serta meningkatkan risiko fatty liver. Umumnya, masalah ini berkaitan dengan kelebihan asupan energi, ketidakseimbangan energi-protein, atau manajemen feeding yang kurang presisi. Oleh karena itu, monitoring body weight, body composition, dan keseragaman flock menjadi fondasi utama dalam pengelolaan GPS modern.

Parent Stock, Titik Kritis Produksi dan Reproduksi
Level PS merupakan titik kritis yang menjembatani potensi genetik dengan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juli 2026.

Ditulis oleh: 
Henri E. Prasetyo drh MVet
Praktisi perunggasan, Nutritionist PT DMC

PERBAIKAN GENETIK DENGAN SEGALA EFEK SAMPINGNYA

Skema persilangan ayam broiler komersil. (Foto: Istimewa)

Peternakan ayam, terutama broiler, dianggap sebagai salah satu metode peternakan hewan yang paling efisien. Industri ini terus berkembang dengan kemajuan dalam pemuliaan, nutrisi, dan praktik manajemen untuk memenuhi permintaan daging ayam yang terus meningkat.

Selama bertahun-tahun, seleksi ayam pedaging telah difokuskan pada peningkatan efisiensi konversi pakan (FCR), laju pertumbuhan, hasil daging, dan kualitasnya. Hal ini menghasilkan ayam dengan rasio konversi pakan yang tinggi dan laju pertumbuhan yang cepat, selain itu dagingnya empuk dan diterima secara luas di seluruh dunia.

Industri broiler telah berkembang pesat karena tingginya permintaan daging ayam. Broiler telah menjadi alternatif popular terhadap daging sapi dan babi, sebagian karena laju pertumbuhannya yang cepat dan biaya produksi yang lebih rendah, dengan lebih dari 70 miliar ayam dipotong setiap tahun di seluruh dunia (Mace & Knight, 2022). Peternakan unggas, khususnya produksi broiler, dianggap sebagai salah satu metode peternakan hewan yang paling efisien (Gržinić et al., 2023).

Genetika broiler telah memanfaatkan gudang materi genetik yang dikombinasikan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan selama puluhan tahun. Hal ini memungkinkan penerapan, yang memungkinkan industri menyediakan produk daging yang terjangkau yang sebagian besar berasal dari sumber tanaman kepada konsumen global.

Seleksi genetika broiler selama 60 tahun terakhir telah berfokus secara sempit dan intensif pada sifat-sifat produksi yaitu laju pertumbuhan dan efisiensi pakan. Hal ini telah menyebabkan masalah kesejahteraan yang signifikan pada unggas yang dipelihara untuk daging termasuk gangguan kaki, penyakit kardiovaskular, dan akibatnya tingkat kematian yang tinggi, sementara unggas indukan mengalami pembatasan pakan yang parah.  Masalah tulang seperti kondronekrosis bakteri dan dyschondroplasia tibia lazim terjadi dan studi terbaru melaporkan prevalensi unggas dengan gangguan gaya berjalan sedang hingga berat berkisar antara 5.5-48.5 %.

Di seluruh dunia, lebih dari 70 miliar ekor broiler di sembelih setiap tahunnya. Skala produksi ayam pedaging yang sangat besar ini berarti bahwa masalah kesejahteraan tersebar luas dan kemungkinan akan meningkat keparahannya karena meningkatnya populasi manusia global, meningkatnya permintaan daging, dan fokus yang berkelanjutan pada efisiensi produksi di sektor pertanian.

Oleh karena itu, industri broiler mewakili beberapa masalah kesejahteraan hewan yang paling serius di bidang pertanian. Ada kebutuhan mendesak untuk mengatasi masalah ini dengan menjadikan sifat-sifat kesejahteraan sebagai prioritas utama dalam program pemuliaan dan mengintegrasikannya dengan tujuan pemuliaan lainnya. Banyak penelitian merekomendasikan penggunaan jenis unggas yang pertumbuhannya lebih lambat dan tidak memiliki masalah kesejahteraan yang sama. Mengatasi masalah kesejahteraan ini sangat penting untuk meningkatkan kesejahteraan unggas serta untuk penerimaan sosial dan keberlanjutan industri broiler di seluruh dunia.

Bagaimana Ayam Pedaging Komersial Telah Berevolusi
Selama kurang lebih 40 tahun antara 1970-2007, ayam broiler telah mengalami evolusi dalam hal... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juli 2026.

Ditulis oleh:
Drh Arief Hidayat
Praktisi perunggasan

MENELISIK POTENSI GENETIK AYAM MODERN

Pertumbuhan genetik ayam broiler modern. (Sumber: Ourworldindata.org, 2024)

Genetik ayam ras menunjukkan perkembangan yang sangat signifikan. Hal ini ditunjukkan dengan semakin meningkatnya performa produksi yang mengarah ke efisiensi. Seperti pada broiler, dimana saat ini pertumbuhannya lebih cepat dengan kemampuan konversi pakan yang lebih baik. Begitu pun pada unggas layer masa kini yang mempunyai lifespan yang lebih lama dan produktivitas yang lebih tinggi dari masa sebelumnya.

Monster untuk Memenuhi Kebutuhan Pasar
Berkat kemajuan di bidang teknologi serta seleksi breeding yang baik selama lebih dari 100 tahun, ayam ras mengalami perkembangan genetik yang sangat pesat. Hasilnya, broiler di masa kini semakin efektif dalam mengonversi pakan menjadi bobot badan sehingga menghasilkan daging yang lebih banyak yang tentunya dapat memenuhi keinginan pasar.

Pada penelitian terbaru, bahkan beberapa strain seperti Hubbard flex, Ross 308, dan Cobb 500 dapat mencapa bobot badan 2,3-2,5 kg dalam waktu 30-35 hari saja. Bayangkan, dari seekor DOC dengan berat 35-50 gram berkembang delapan kali lipatnya dalam sebulan.
Begitupun dengan ayam petelur modern juga didesain untuk kebutuhan ini. Dengan potensi menghasilkan telur yang bahkan diklaim mencapai 500 butir dalam waktu 100 minggu. 
 
Menurut Ketua Umum GPPU, Achmad Dawami, seleksi genetik broiler yang dilakukan selama ini telah meningkatkan produktivitasnya. Pada kurun waktu 1960 sampai 1970-an, untuk mencapai bobot hidup 1,3 kg membutuhkan masa pemeliharaan selama 84 hari, namun sekarang, dengan masa pemeliharaan kurang lebih 30-an hari, ayam broiler sudah mampu mencapai bobot hidup 2,5 kg.

“Potensi genetiknya memang memungkinkan untuk seperti itu, namun di lapangan sangat jarang peternak yang dapat mencapai potensi genetik maksimal dari si ayam. Oleh karenanya ini masih menjadi PR bersama, soalnya kalau potensi ini dapat dimaksimalkan, produksi kita akan lebih baik dari sekarang,” tutur Dawami.

Dirinya juga menyebut bahwa ke depannya kemungkinan besar ternak broiler masih akan menjadi sumber protein hewani primadona bukan hanya di Indonesia tapi di seluruh dunia. Pasalnya harga per gram proteinnya jika dibandingkan komoditas daging lainnya adalah yang termurah, sehingga hal ini juga akan berdampak pada tingginya permintaan pasar.

High Performance, High Maintenance
Memang benar dalam urusan performa tidak usah diragukan lagi dari segi pertumbuhan bobot per hari, konversi pakan, serta parameter pertumbuhan dari broiler sangat luar biasa. Namun begitu, sebagai kompensasinya aspek kekebalan tubuh dan kerentanan terhadap stres dari ayam menjadi berkurang.

Hal tersebut disampaikan oleh Guru Besar Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University, Prof I Wayan Teguh Wibawan. Menurutnya, ayam broiler saat ini memanglah... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juli 2026. (CR)

STRATEGI CERDAS KENDALIKAN STRES OKSIDATIF, MENJAGA KESEHATAN DAN PERFORMA UNGGAS MODERN


Di banyak kandang modern, ayam terlihat aktif, bulu rapi, dan nafsu makan normal. Namun ketika ditimbang atau dievaluasi, performa justru tidak sesuai harapan. Bobot badan tertinggal, FCR memburuk, atau produksi telur mulai menurun tanpa sebab yang jelas. Kondisi seperti ini sering membuat peternak bingung. Salah satu penyebab yang kerap luput dari perhatian adalah stres oksidatif.

Stres oksidatif bukan penyakit menular dan tidak selalu menimbulkan gejala klinis yang mencolok. Justru karena sifatnya yang “diam-diam”, kondisi ini sering menjadi penyebab turunnya performa secara perlahan namun konsisten.

Apa Sebenarnya Stres Oksidatif Itu?
Stres oksidatif terjadi ketika tubuh ayam mengalami ketidakseimbangan antara zat perusak yang disebut radikal bebas dengan kemampuan tubuh untuk menetralkannya. Dalam kondisi normal, radikal bebas selalu terbentuk sebagai bagian dari proses metabolisme. Masalah muncul ketika jumlahnya terlalu banyak, sementara sistem pertahanan tubuh tidak mampu mengimbanginya.

Ketika hal ini terjadi, sel-sel tubuh ayam mulai mengalami kerusakan. Dinding sel menjadi rapuh, jaringan usus terganggu, fungsi hati menurun, dan sistem kekebalan melemah. Akibatnya, energi yang seharusnya digunakan untuk tumbuh dan berproduksi justru habis untuk memperbaiki kerusakan di dalam tubuh.

Dari Mana Stres Oksidatif Berasal di Kandang?
Salah satu pemicu utama stres oksidatif adalah stres lingkungan, terutama suhu tinggi. Heat stress membuat ayam bekerja ekstra keras untuk menurunkan suhu tubuhnya. Proses ini meningkatkan pembentukan radikal bebas secara signifikan. Semakin lama ayam terpapar panas, semakin besar risiko kerusakan sel yang terjadi.

Selain suhu, kepadatan kandang yang tinggi, ventilasi kurang optimal, litter basah, dan kadar amonia yang tinggi juga memperparah kondisi stres. Ayam yang hidup dalam lingkungan seperti ini berada dalam tekanan terus-menerus, meskipun tidak terlihat sakit.

Dari sisi nutrisi, penggunaan bahan baku berkualitas rendah, lemak yang sudah teroksidasi, serta pakan yang tidak seimbang juga dapat menjadi sumber stres oksidatif. Bahkan proses vaksinasi dan infeksi ringan yang tidak terdeteksi pun dapat meningkatkan beban oksidatif tubuh ayam.

Mengapa Stres Oksidatif Merugikan?
Dampak stres oksidatif jarang bersifat langsung dan drastis. Namun dalam jangka menengah hingga panjang, kerugiannya sangat terasa. Ayam menjadi... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2026. 

Ditulis oleh:
Henri E. Prasetyo Drh MVet
Praktisi perunggasan, Nutritionist PT DMC 

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer