-->

RISIKO MENGINTAI, GEGARA TERGIUR TELUR MURAH

Untuk mendapatkan telur yang berkualitas, konsumen harus jeli saat membelinya. (Foto: Gemini)

Meski kondisi keuangan lagi tipis, sebaiknya jangan pernah tergiur dengan harga murah saat membeli telur. Teliti sebelum membeli dan pastikan telur yang dibeli masih segar. Jangan pertaruhkan kesehatan keluarga gara-gara terpikat harga murah.

Sepulang antar anak sekolah, Pak Rahmat mampir ke warung sembako tak jauh dari sekolah dasar anaknya. Pagi itu, ia “mewakili” istrinya untuk membeli satu kilogram telur ayam. Tak jauh dari warung sembako yang ia datangi, ada juga warung lain yang menjual telur ayam.

Dua warung ini menjual telur dengan harga berbeda, warung pertama memasang tulisan harga telur Rp 27.500/kg, sedangkan di warung kedua tertulis Rp 23.500/kg. Karena sedang penghematan anggaran rumah tangga, tanpa pikir panjang Pak Rahmat memilih ke warung yang menjual harga lebih murah. Lumayan, bisa hemat Rp 4.000, pikirnya.

Sepanjang perjalanan menuju rumah, sejenak ia berpikir, kenapa dua warung yang berdekatan jual telur ayam dengan selisih harga yang lumayan. Sesampai di rumah, ia kembali mengecek telur yang ia beli. Satu per satu diamati warna kerabangnya. Tak ada yang beda dengan telur yang biasa ia beli.

“Tapi begitu telur saya guncang pelan, mengeluarkan bunyi seperti cairan bergeser atau terkocok. Hampir semuanya begitu. Karena penasaran, saya pecahkan satu butir. Ternyata kuning telurnya sudah enggak bulat utuh. Putih telurnya juga kelihatan lebih encer dari biasanya. Mungkin ini yang bikin harga jadi lebih murah,” tutur Pak Rahmat kepada Infovet.

Lantaran penasaran, pria berusia 60 tahunan ini mencari tahu melalui ponsel. Cek di Google, ternyata dugaannya tak meleset. Telur yang baru saja ia beli sudah menurun kualitasnya. “Nyesel aku tadi beli pilih yang murah,” ujarnya sambil tarik napas agak dalam.

Di artikel yang ia baca menyebutkan, telur yang mengeluarkan bunyi seperti cairan bergeser saat diguncang itu merupakan pertanda bahwa kualitas telur sudah menurun, tidak segar, meski masih layak konsumsi.

Penampakan putih telur yang encer, disebabkan waktu penyimpanan yang sudah cukup lama, bisa menyebabkan protein telur rusak dan strukturnya menjadi sangat cair. Kantung udara di dalam telur juga membesar. Cairan yang menguap lewat pori-pori cangkang membuat rongga udara di dalam telur semakin besar, sehingga ruang gerak bagian dalam menjadi longgar dan menciptakan bunyi kocokan.

Mengutip artikel yang ia baca, Pak Rahmat bilang, mengonsumsi telur yang kualitasnya menurun atau nyaris busuk berisiko menyebabkan keracunan makanan dan gangguan pencernaan berat akibat kontaminasi bakteri. Telur basi atau rusak sangat rentan ditumbuhi bakteri berbahaya seperti Salmonella. Jika ini terjadi, dapat berdampak pada infeksi saluran pencernaan.

Ahli gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Prof Dr Ir Ali Khomsan, mengingatkan bahwa memilih telur atau daging ayam yang berkualitas itu penting, karena berdampak pada kesehatan. Bagi anak-anak, orang dewasa, dan ibu menyusui, asupan gizi berupa protein hewani dari telur ayam yang berkualitas bagus sangat diperlukan.

“Kandungan asam amino yang ada di dalam telur dan daging ayam bagus untuk kesehatan tubuh. Asam amino berperan penting karena membantu pembentukan protein sebagai bahan dasar pembentuk sel, otot, serta sistem kekebalan tubuh,” ujar pakar gizi ini.

Ahli gizi ini menyarankan, konsumsi telur atau daging ayam bagi anak-anak sangat baik dan bisa dimulai sejak awal ibu-ibu menyusui bayinya. Daging ayam mengandung protein, zat besi, magnesium, vitamin, dan fosfor.

Perbedaan Lama dan Baru
Agar tak lagi salah memilih telur ayam, ada informasi dari laman bppsdmp.pertanian.go.id yang patut dijadikan rujukan. Untuk menjamin keamanan dan mutu telur konsumsi, pemerintah telah memperkuat perlindungan konsumen melalui Permentan No. 10/2024 tentang Penyediaan, Peredaran, dan Pengawasan Ayam Ras dan Telur Konsumsi.

Selain itu, Standar Nasional Indonesia (SNI) 3926:2023 menetapkan persyaratan mutu telur konsumsi yang mencakup kesegaran, kebersihan, ukuran, serta kondisi fisik telur. Regulasi ini tidak hanya bertujuan melindungi konsumen, tetapi juga mendorong pelaku usaha agar lebih disiplin dalam menerapkan praktik produksi dan penanganan pascapanen yang baik.

Meski demikian, telur yang tidak layak konsumsi masih berpotensi beredar dan dapat menimbulkan risiko kesehatan apabila dikonsumsi. Oleh sebab itu, penting untuk memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam mengenali ciri-ciri telur yang segar dan aman, serta lebih selektif dalam memilih telur demi menjaga kesehatan diri dan keluarga.

Lalu, seperti apa perbedaan telur ayam baru dan lama? Pada telur ayam baru, batas antara putih telur tebal dan tipis terlihat jelas, tidak terdapat bercak darah atau benda asing pada putih telur, bentuk kuning telur bulat, dan posisi di tengah dari putih telur yang tebal.

Sedangkan pada telur ayam lama, batas antara putih telur tebal dan tipis tidak jelas, terdapat bercak darah atau benda asing pada putih telur, bentuk kuning telur tidak bulat, dan posisi agak ke pinggir.

Saat membeli telur ayam, perhatikan kondisi fisiknya. Hindari telur yang kotor karena terdapat kotoran ayam atau bercak darah pada cangkang, retak pada cangkang, serta telur yang mengalami pengapuran yang ditandai dengan permukaan cangkang kasar dan adanya noda putih.

Selain itu, untuk mengetahui kondisi telur yang baik atau tidak dapat dilakukan dengan memasukkan telur dalam  larutan garam 10%. Telur yang baik akan tenggelam (kantung udara < 0,5 cm), telur kurang baik melayang (0,5-0,9 cm), dan telur tidak baik mengapung (> 0,9 cm).

Cara lain yang juga mudah adalah dengan mengguncang telur. Cara ini dilakukan dengan mengguncang telur dekat telinga. Untuk telur segar, tidak akan mengeluarkan suara seperti cairan bergeser saat diguncang, menunjukkan bahwa isi di dalamnya masih kental. Sedangkan telur tidak segar, akan terdengar suara seperti cairan bergerak, dan ini menandakan bahwa putih telurnya sudah encer dan kemungkinan besar sudah busuk.

Jeli Sebelum Membeli
Untuk mendapatkan telur yang berkualitas, ada kalanya konsumen juga perlu sedikit jeli saat membeli. Telur yang baik memiliki kerabang halus, warna merata dan bersih, tidak retak atau pecah, serta memiliki bentuk oval yang normal. Jika tersedia lampu peneropong di tempat penjualan, konsumen juga dapat memilih telur dengan kantong udara yang kecil pada bagian ujung tumpulnya.

Kualitas telur juga dipengaruhi lama penyimpanan. Telur yang baru dihasilkan memiliki kualitas lebih baik dibandingkan telur yang telah lama disimpan, terutama pada suhu ruang. Telur yang aman dikonsumsi adalah telur yang dihasilkan dari ayam sehat, telur yang baru dihasilkan, serta telur yang diolah secara benar dan sehat.

Setelah paham dengan memilih telur yang segar, langkah selanjutnya adalah penyimpanan yang benar. Pisahkan telur yang bersih dan kotor, besar-kecil, retak tidak retak, baru dan lama, serta bersihkan jika cangkang telur kotor dengan lap kain atau tisu kering untuk menjaga kebersihannya.

Simpan di baki atau tray telur dan/atau lemari pendingin (7-10 °C) dengan posisi bagian tumpul berada di atas. Gunakan telur yang lebih lama disimpan dibandingkan dengan telur yang baru (first in first out). Masa simpan telur di suhu ruang selama 15 hari dan di lemari pendingin 30 hari. Dengan penanganan seperti ini, keluarga akan lebih sehat dalam mengonsumsi telur. ***

Ditulis oleh:
Abdul Kholis
Koresponden Infovet Daerah Depok,
Konsultan media dan penulis buku,
Writing Coach Griya Menulis (Bimbingan Menulis Buku & Jurnalistik),
Juara I Lomba Jurnalistik Tingkat Nasional (Unsoed, 2021) & Juara I Kompetisi Menulis
Artikel Tingkat Nasional dalam rangka HATN, 2022

DI ILDEX INDONESIA 2026, ROMINDO GELAR SEMINAR MENGUPAS KARAKTERISTIK DAN PENANGANAN MYCOPLASMA PADA UNGGAS

PT Romindo Primavetcom turut berpartisipasi dalam pameran internasional ILDEX Indonesia, 16-18 September 2026, dengan menyelenggarakan seminar bertajuk “The Ecology of Avian Mycoplasma Infections”. Seminar yang diselenggarakan pada Kamis (17/9), menghadirkan Senior Technical Advisor Bioproperties, Prof Dr Chris Morrow PhD BVSc, pakar terkemuka yang juga penerima penghargaan Peter Hannan Award IOM 2024 dan Kesteven Medal AVA 2024.






BEGINI SKEMA PENYERAPAN JAGUNG DARI MENTAN UNTUK TEKAN BIAYA PAKAN

Mentan Amran saat berbicara dengan perwakilan peternak di Jakarta, Jumat (9/10/2026). (Foto: Istimewa)

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, menyiapkan skema penyerapan jagung untuk membantu peternak memperoleh bahan baku pakan dengan harga lebih terjangkau. Melalui mekanisme ini, peternak dapat menyerap jagung saat panen raya ketika harga relatif murah, sementara pembiayaan dilakukan Perum Bulog dan stok disimpan melalui koperasi. Skema tersebut diharapkan menjaga keseimbangan harga bagi petani sekaligus menekan beban biaya pakan yang dihadapi peternak.

Hal itu ia sampaikan saat bertemu dengan perwakilan peternak di Jakarta, Jumat (9/10/2026). Pertemuan berlangsung di tengah persoalan biaya pakan yang menjadi salah satu keluhan peternak, termasuk dalam aksi unjuk rasa di DPR kemarin (7/10/2026). Salah satu tuntutan yang disuarakan berkaitan dengan tingginya harga pakan ayam petelur yang dinilai menekan usaha dan menyebabkan peternak mengalami kerugian.

Dalam pertemuan, Mentan Amran menegaskan perlunya membangun ekosistem yang menghubungkan penyerapan hasil panen petani, kebutuhan jagung peternak, pembiayaan, dan penyimpanan agar pasokan pakan lebih terjamin sepanjang tahun. “Saya mau pakan ini ada sistem. Bapak yang serap, Bulog yang bayar,” tegas Amran.

Menurutnya, pemerintah ingin memastikan petani mendapatkan harga layak saat panen raya, sementara peternak memperoleh jagung dengan harga terjangkau untuk kebutuhan pakan. “Jangan sampai peternak rugi. Kalau rugi peternak, negara juga ikut rugi,” katanya.

Karena itu, Mentan mendorong penyerapan jagung dilakukan ketika produksi melimpah dan harga relatif murah. Jagung yang telah dibeli kemudian disimpan melalui koperasi untuk digunakan saat peternak membutuhkan pasokan, termasuk ketika harga di pasar meningkat. “Negara beli pada saat murah, jangan siksa juga saat mahal,” sebutnya.

Dalam skema tersebut, peternak berperan menyerap jagung saat panen raya, sedangkan Bulog menyediakan pembiayaan, dan koperasi menjadi tempat penyimpanan stok. Dengan mekanisme ini, hasil panen petani dapat terserap dan peternak memiliki akses terhadap bahan baku pakan dengan pasokan lebih terjamin.

Mentan Amran mengatakan saat ini terdapat sekitar 40 ribu ton jagung yang menjadi bagian dari pasokan yang dibahas dalam skema tersebut. Pemerintah tetap melakukan penyerapan dengan mempertimbangkan kapasitas negara dan mengoptimalkan jagung yang tersedia.

“Saat ini ada 40 ribu ton, tapi ini tetap menyerap. Negara punya keterbatasan. Sekarang yang ada dulu 40 ribu jagung,” ungkapnya.

Ia meminta Bulog menghitung kembali kebutuhan anggaran agar mekanisme penyerapan dapat berjalan efektif. Penentuan prioritas penyaluran juga perlu mempertimbangkan ketersediaan jagung dan kebutuhan peternak di lapangan. “Ini sudah solusi terbaik untuk bantu peternak supaya untung,” sebut dia.

Perwakilan peternak dari Lampung, Kasmani, menjelaskan bahwa Lampung Selatan merupakan salah satu sentra produksi jagung. Namun, peternak masih menghadapi tantangan dalam memperoleh jagung dengan harga sesuai kebutuhan.

Ia menyampaikan bahwa harga jagung yang dibeli dari petani atau pengepul berada di kisaran Rp 8.400/kg. Selain harga, perbedaan kadar air juga menjadi kendala. Jagung dari Nusa Tenggara Barat (NTB) misalnya, disebut memiliki kadar air 16-17%, sedangkan jagung yang diserap Bulog dipersyaratkan memiliki kadar air 14%.

Menanggapi itu, Mentan Amran menekankan pentingnya memperkuat fasilitas penyimpanan dan pengeringan agar jagung dari sentra produksi dapat diserap serta memenuhi standar yang ditetapkan. Menurutnya, presiden telah menetapkan dukungan anggaran Rp 5 triliun untuk memperkuat infrastruktur pergudangan Bulog.

“Presiden sudah tetapkan anggaran Rp 5 triliun untuk gudang paket Bulog. Lengkapi dengan dryer,” ucapnya.

Ia meminta pembangunan dan penguatan gudang dilengkapi fasilitas pengering (dryer), terutama di wilayah yang memiliki potensi produksi jagung seperti NTB dan Gorontalo. Fasilitas tersebut untuk menjaga mutu jagung, mengurangi kendala kadar air, serta memperlancar penyerapan hasil panen. (INF)

AFIS 2026: STRATEGI FORMULASI PAKAN DAN JAWABAN ISU GEOPOLITIK PETERNAKAN

Seminar membahas strategi ketahanan pangan dalam menghadapi dinamika geopolitik dunia dalam rangkaian AFIS 2026. (Foto: Istimewa)

Himpunan Mahasiswa Nutrisi dan Makanan Ternak (Himasiter), Fakultas Peternakan IPB University, sukses menyelenggarakan Animal Feed Innovation Summit (AFIS) 2026 pada 25-27 September 2026 di kampus IPB University. Mengusung fokus pada inovasi pakan, perhelatan ini memadukan dua agenda utama, yakni Feed Formulation Training (FFT) dan Seminar and Competition of Animal Science (SCAS).

Acara berskala nasional ini menarik antusiasme tinggi dari para peserta yang datang dari berbagai perguruan tinggi terkemuka di Indonesia, seperti IPB University, Universitas Syiah Kuala, Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjadjaran, BINUS Malang, Dian Nuswantoro, hingga Poltekkes Kemenkes Bandung.

Rangkaian kegiatan diawali pada 25-26 September bertempat di Fakultas Kedokteran dan Gizi melalui sesi workshop FFT. Pada hari pertama, peserta diajak mempelajari teknik formulasi pakan dasar serta strategi adaptasi pakan ayam petelur (layer) dalam menghadapi dinamika geopolitik global dan fluktuasi harga bahan baku.

Memasuki hari kedua, pelatihan berlanjut pada penyesuaian nutrisi serta evaluasi faktor kualitas bahan pakan utama seperti soybean meal (SBM), jagung, dan dedak padi. Sesi intensif dari teori hingga eksekusi racikan pakan ini dibimbing langsung oleh ahli formulasi ransum, Prof Dr Ir Budi Tangendjaja MS MAppSc.

Rangkaian acara kemudian berpindah ke Fakultas Peternakan pada hari ketiga untuk menggelar puncak seminar dan kompetisi ilmiah SCAS. Seminar nasional kali ini mengusung topik krusial mengenai strategi ketahanan pangan dalam menghadapi dinamika geopolitik dunia, dengan menghadirkan Prof Dr Ir Nahrowi MSc (IPB University) dan Sugeng Wahyudi (Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional/GOPAN).

Dalam paparannya, Prof Nahrowi menyoroti persoalan mendasar peternakan nasional yang masih kekurangan bahan pakan sumber protein. Ia mengajak akademisi dan praktisi untuk mengubah paradigma dasar penyusunan pakan.

“Jangan menghitung biomassanya, tapi hitunglah nutrien yang benar-benar dapat dimanfaatkan oleh ternak,” katanya. Ia juga menambahkan, persoalan utama Indonesia sejatinya bukan pada ketersediaan bahan, melainkan bagaimana mengolah biomassa lokal menjadi nutrien pakan yang aman, tercerna, terstandar, dan kompetitif.

Sebagai solusi konkrit, Prof Nahrowi mengusulkan formulasi kombinasi antara koro, bungkil inti sawit (BIS), dan maggot BSF ketimbang sekadar menggantikan bungkil kedelai secara keseluruhan.

Sementara dari sudut pandang industri dan praktisi, Sugeng ikut menekankan pentingnya efisiensi dan solidaritas peternak. Dirinya mengajak para peternak broiler untuk memperkuat ketahanan usaha melalui skema pembelian bahan baku dan pakan secara kolektif berwadahkan koperasi. Langkah ini dinilai strategis agar peternak lebih tangguh menghadapi fluktuasi harga pasar dan pergerakan kurs mata uang.

Melalui integrasi pelatihan formulasi pakan berbasis perangkat lunak dan diskusi ilmiah tingkat nasional, AFIS 2026 tidak hanya menjadi wadah pengembangan karakter, kemampuan menulis ilmiah, dan kepedulian terhadap isu peternakan berkelanjutan, tetapi juga melahirkan pesan penting yakni kemandirian pakan nasional dimulai dari kemampuan mengolah sumber daya lokal menjadi nutrien yang siap dimanfaatkan secara optimal. (INF)

CARA KERJA FITOBIOTIK MENGOPTIMALKAN PRODUKSI UNGGAS

Dampak keseluruhan berbagai komponen bioaktif dari fitobiotik terhadap kesehatan usus ayam. (Sumber: BioRender.com)

Penggunaan antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan (AGP) dan peningkat kesehatan saluran pencernaan dalam produksi ayam pedaging telah lama dipraktikkan karena efektivitasnya dalam meningkatkan laju pertumbuhan dan efisiensi pakan, serta memberikan pengaruh positif terhadap mikrobiota usus dan imunitas bawaan, manfaat-manfaat ini secara keseluruhan berkontribusi pada kesehatan dan performa unggas yang lebih baik (Gadde U, Kim WH, Oh ST, Lillehoj HS, 2017).

Namun, manfaat penggunaan antibiotik kini semakin dibayangi risiko terkait dengan residu obat dalam produk hewani (Ronquillo MG, Hernandez JCA. 2017). Sebagai contoh, antibiotik seperti tetrasiklin dan amfenikol telah terdeteksi dalam produk pangan, sehingga menimbulkan risiko bagi kesehatan konsumen (Diarra MS, Malouin F. 2014). Selain itu, penelitian oleh Hur dkk,  menemukan isolat Salmonella enterica yang berasal dari telur dan karkas ayam menunjukkan resistansi terhadap berbagai jenis antibiotik, termasuk penisilin, sulfisoksazol, streptomisin, tetrasiklin, dan kuinolon.

Resistansi ini tidak hanya mengganggu kesehatan unggas, tetapi juga meningkatkan risiko kontaminasi sekunder pada produk hewani, sehingga mengancam kesehatan masyarakat. Mengingat meningkatnya kekhawatiran terkait resistansi antibiotik dan masalah residu, terjadi pergeseran dalam produksi broiler menuju penghapusan penggunaan antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan dan peningkat kesehatan saluran pencernaan.

Baru-baru ini, sebuah studi oleh Iwinski dkk. (Iwinski H, Wódz K, et al., 2022), menunjukkan campuran fitogenik dapat secara efektif menghambat galur Salmonella enterica subsp. yang resistan terhadap antibiotik, termasuk serovar Enteritidis, Typhimurium, yang mengindikasikan efektivitas aktivitas antimikrobanya. Pergeseran ini menegaskan perlunya strategi alami alternatif yang mampu menjaga kesehatan dan performa hewan tanpa berkontribusi terhadap resistansi antibiotik.

Dalam produksi unggas modern, broiler dibiakkan secara selektif untuk pertumbuhan yang cepat dan peningkatan massa daging dada, yang pada gilirannya menyebabkan laju metabolisme tinggi (Maharjan P, Martinez D, et al., 2021). Proses seleksi ditambah sistem produksi yang intensif ini, memaparkan ayam-ayam tersebut pada berbagai faktor pemicu stres, termasuk periode pencahayaan yang panjang, kadar debu, amonia yang tinggi, hingga beban patogen, faktor-faktor ini secara bersama-sama memicu stres oksidatif (Mishra B, Jha R, 2019).

Akibatnya, produksi reactive oxygen species (ROS) meningkat pesat, sehingga mengganggu keseimbangan antioksidan, merusak kesehatan saluran pencernaan, dan pada akhirnya memengaruhi performa secara keseluruhan, yang berujung pada kerugian ekonomi yang signifikan (Surai PF, Kochish II, Fisinin VI, Kidd MT, 2019).

Oleh karena itu, pengelolaan kesehatan saluran pencernaan yang... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi September 2026.

Ditulis oleh:
Drh Arief Hidayat
Praktisi Perunggasan

INFOVET GELAR SEMINAR EFISIENSI PAKAN SEKALIGUS LAUNCHING BUKU TERBARU

Foto bersama usai seminar yang diadakan Infovet di ILDEX Indonesia 2026. (Foto-foto: Dok. Infovet)

Industri perunggasan Indonesia terus menghadapi tantangan berupa dinamika harga bahan baku pakan, tuntutan produktivitas, kesehatan ternak, serta kebutuhan sistem produksi yang semakin efisien dan berkelanjutan. Menjawab tantangan tersebut, ILDEX Indonesia 2026 bersama Infovet menghadirkan seminar “Feed Efficiency Revolution: The Next Generation of Poultry Profitability” Rabu (16/9), di Garuda 8A.

Menghadirkan pembicara Nutritionist & Business Development Manager PT Dinamika Megatama Citra (DMC), Drh Henri E. Prasetyo, dan dimoderatori oleh Drh Eko Prasetio. Diskusi membahas perubahan paradigma feed efficiency yang selama ini sering dikaitkan dengan FCR. Dalam industri modern, efisiensi tidak cukup hanya mengejar FCR rendah, tetapi juga perlu melihat konsumsi pakan, pertumbuhan, livability, uniformity, kesehatan saluran pencernaan, kualitas karkas, biaya produksi, hingga profitabilitas.

Melalui pendekatan precision nutrition, setiap nutrien dalam pakan perlu dimanfaatkan secara optimal. Konsep feed-digestion-absorption-metabolism-growth-profit menggambarkan keberhasilan nutrisi tidak berhenti pada formulasi, tetapi dari seberapa efektif nutrien dicerna, diserap, dan dimanfaatkan ayam. Perkembangan teknologi evaluasi bahan baku, data performa, enzim pakan, asam amino, serta strategi kesehatan usus semakin membuka peluang untuk meningkatkan efisiensi secara lebih presisi.

Pendekatan tersebut membawa feed efficiency menuju precision profitability, yaitu bagaimana keputusan nutrisi tidak hanya menghasilkan performa teknis yang baik, tetapi juga memberikan nilai ekonomi optimal. Dengan demikian, masa depan efisiensi pakan membutuhkan integrasi antara nutrition, health, management, technology, data, dan economics.

Momen peluncuran buku "100 Tahun Penyakit Newcastle Disease di Indonesia".

Selain seminar, pada acara yang sama juga dilakukan launching buku "Index Obat Hewan Indonesia (IOHI) Edisi XVII 2026" serta buku "100 Tahun Penyakit Newcastle Disease di Indonesia". Peluncuran kedua buku menjadi momentum penting dalam mendokumentasikan pengetahuan dan perjalanan industri kesehatan hewan di Indonesia.

Prosesi launching secara resmi dilakukan Ketua Umum ASOHI Drh Akhmad Harris Priyadi bersama Direktur PT Gallus Indonesia Utama Ir Bambang Suharno.

Selain itu, rangkaian kegiatan tersebut juga menjadi momentum awal dimulainya INFOVET Academy, sebuah media pembelajaran berbasis video tutorial yang menghadirkan para ahli di bidang peternakan dan kesehatan hewan.

Platform tersebut ditujukan sebagai panduan bagi peternak, praktisi, dokter hewan, mahasiswa, dan profesional yang ingin belajar serta memperdalam keilmuan. Melalui format digital, pengetahuan dan pengalaman para ahli diharapkan dapat diakses secara lebih praktis dan menjangkau masyarakat peternakan yang lebih luas.

Suasana peserta dalam seminar.

Kehadiran INFOVET Academy memperkuat peran media tidak hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem pembelajaran dan knowledge sharing di industri peternakan. (HENRI)

MENGURAI GEJOLAK HARGA PAKAN: INDUSTRI PERUNGGASAN DORONG SINERGI DAN TRANSPARANSI DATA

IPC di ILDEX Indonesia 2026. (Foto: Infovet/Ridwan)

Mengambil tempat di ruang Garuda 5A ICE BSD City, Tangerang, dalam rangkaian pameran ILDEX Indonesia 2026, Indonesian Poultry Club (IPC) menyelenggarakan seminar nasional bertajuk "Sinergi dan Strategi Menghadapi Gejolak Harga Pakan" pada Kamis (17/9). Forum ini mempertemukan seluruh stakeholders industri perunggasan guna merumuskan solusi atas tantangan tingginya biaya pakan.

Kegiatan tersebut diinisiasi oleh Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Permindo) bekerja sama dengan Trobos. Pemimpin Umum Trobos, Fitri Nursanti Poernomo, menekankan pentingnya forum ini bagi masa depan industri peternakan nasional. Ia mengingatkan bahwa pakan merupakan komponen terbesar dalam biaya produksi unggas, dengan porsi mencapai lebih dari 60%.

"Ketika harga bahan baku naik akibat berbagai persoalan global maupun domestik, dampaknya tidak hanya berhenti pada bisnis pakan, melainkan menjalar ke peternak hingga konsumen akhir. Apalagi sekitar 30 persen bahan baku pakan kita masih bergantung pada impor," ujar Fitri.

Tantangan lonjakan harga pakan dirasakan nyata oleh para peternak di lapangan. Sekretaris Jenderal Permindo, Heri Irawan, mengungkapkan bahwa sepanjang rentang April-Agustus, akumulasi kenaikan harga pakan telah mencapai Rp1.500/kg. Kenaikan ini dinilai sangat memberatkan operasional peternak.

Sebagai langkah mitigasi, Permindo pun berinisiatif menghadirkan inovasi pakan custom. "Kami memformulasi pakan bekerja sama dengan pabrikan. Hasilnya, dalam dua bulan terakhir performa ternak tetap optimal sekaligus mampu meminimalisasi dampak kenaikan harga," terang Heri.

Memasuki sesi seminar yang dipandu Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), Sugeng Wahyudi, hadir sebagai narasumber Ketua Permindo, Kusnan. Ia menyoroti tekanan berat yang dialami peternak mandiri. Kenaikan harga pakan secara langsung menaikkan Harga Pokok Produksi (HPP) dan menggerus margin keuntungan peternak.

​"Jika input produksi terus naik sementara harga output di tingkat peternak fluktuatif, sampai kapan peternak sanggup bertahan? Apakah ini yang dinamakan industri unggas yang sehat?" tegas Kusnan. Menurutnya, peternak saat ini menanggung beban berlapis, mulai dari harga day old chick (DOC), pakan, biaya listrik, tenaga kerja, hingga risiko cuaca dan penyakit.

Kusnan juga menggarisbawahi dua hal kunci, yakni akurasi data dan integrasi pasar. "Peternak yang memiliki data adalah peternak yang berdaya. Data merupakan aset ekonomi untuk merumuskan akar permasalahan. Selain itu, penataan pasar harus disiapkan sejak awal, jangan baru mencari solusi ketika kondisi sudah oversupply. Jadi kesimpulannya, kita butuh satu ekosistem dan satu rantai pasok yang solid," tambahnya.

Pada kesempatan tersebut, menanggapi kenaikan pasokan bahan baku, Ketua Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Tevi Melviana, menyampaikan bahwa pelaku industri pakan beroperasi sesuai dengan regulasi dan ketentuan pemerintah. Kenaikan harga pakan, khususnya yang dipicu oleh fluktuasi harga jagung, dipengaruhi oleh berbagai faktor kompleks, baik internal maupun eksternal.

Dalam paparan materinya, dijelaskan industri pakan ternak memegang peranan yang sangat strategis karena menyumbang hingga 65% kebutuhan protein hewani nasional. Untuk memastikan industri ini terus berkembang dan mendukung ketahanan pangan, diperlukan dukungan kebijakan pemerintah yang berkesinambungan. Salah satu fokus utama yang harus ditingkatkan adalah produktivitas jagung lokal demi menyokong kebutuhan pabrik pakan ternak, sebagaimana yang diharapkan GPMT agar pemerintah dapat menjaga stabilitas produksi jagung serta bahan pakan lainnya.

Dalam paparannya juga diharapkan dukungan pemerintah terhadap sektor logistik, fasilitas, serta infrastruktur nasional untuk mengantisipasi potensi fluktuasi harga jagung. Di sisi lain, idle capacity industri pakan yang masih berada di angka 30% dinilai sangat memadai untuk mendukung program peningkatan produksi telur dan daging ayam. Namun, intervensi pemerintah secara tidak langsung telah mengubah model bisnis pabrik pakan dari yang sebelumnya berfokus pada "perdagangan dan pengolahan" menjadi "layanan dan pengolahan". Menghadapi berbagai tantangan lingkungan bisnis tersebut, perusahaan tetap berkomitmen menjalankan strategi mitigasi internal untuk meminimalkan dampak negatif yang mungkin timbul.

Sementara dari sisi pemerintah, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian yang diwakili Direktur Pakan, Tri Melasari, menguraikan dalam materinya beberapa upaya stabilisasi harga dan kualitas pakan. Di antaranya dalam jangka pendek terkait surat himbauan ke produsen pakan untuk menahan kenaikan harga pakan ternak dan menjaga kualitas pakan sesuai SNI.

Kemudian, ketersediaan jagung dengan harga HAP Rp 6.400/kg dengan kada air 14%, serta perlu impor bahan pakan subsitusi jagung secepatnya dengan harga wajar untuk feedmill, sehingga tidak berebut jagung antara peternak dan feedmill, hingga realisasi jagung SPHP untuk seluruh peternak/koperasi yang memerlukan.

Sementara untuk jangka menengah, melakukan evaluasi populasi temak broiler maupun layer, untuk membuat prognosa kebutuhan pakan dalam tahun berjalan, tiap tiga bulan. Serta evaluasi bahan baku pakan lokal, untuk harga dan ketersediaan tiap tiga bulan dengan data yang akurat.

Serta dalam jangka panjang, membuat peta kebutuhan bahan pakan untuk lima tahun ke depan, pengembangan riset aplikatif sumber bahan baku lokal, hingga perlunya bahan baku alternatif lokal maupun impor dengan harga yang kompetitif sesuai formulasi. (RBS)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer