-->

RAKERNAS PINSAR INDONESIA: MERAJUT INTEGRASI INDUSTRI UNGGAS DEMI AMANKAN PASOKAN PROTEIN NASIONAL

Foto bersama dalam Rakernas Pinsar Indonesia. (Foto: Infovet/Sadarman)

Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR) resmi menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) 2026, pada 19-21 Januari 2026 di Yogyakarta. Perhelatan strategis ini menjadi momentum krusial bagi para pemangku kepentingan untuk merumuskan ulang arah industri perunggasan nasional di tengah dinamika pasar yang kian menantang.

Pertemuan ini menjadi krusial mengingat sektor perunggasan nasional tengah berada di persimpangan jalan antara modernisasi teknologi dan perlindungan hak-hak peternak mandiri.

Di tengah ancaman efisiensi global, Rakernas ini berfungsi sebagai wadah konsolidasi untuk memastikan bahwa transformasi industri menuju sistem terintegrasi tidak menggerus peran peternak rakyat, melainkan memperkuat daya saing mereka dalam rantai pasok nasional yang lebih transparan dan berkeadilan.

Respons Cepat Terhadap Tantangan Sektor Perunggasan
Ketua Pelaksana Rakernas PINSAR Indonesia 2026, Parjuni, menegaskan bahwa kegiatan tahun ini bukan sekadar seremoni rutin. Mengangkat tema “Pengembangan Industri Ayam Terintegrasi”, Rakernas ini merupakan jawaban atas berbagai persoalan fundamental yang menghimpit peternak rakyat.

“Kami ingin merumuskan arah dan langkah bersama. Saat ini, kita menghadapi tantangan nyata mulai dari ketimpangan struktur pasar hingga fluktuasi harga yang kerap merugikan peternak maupun konsumen,” kata Parjuni.

Ia juga menyoroti pentingnya stabilitas pasokan protein hewani, terutama dalam mendukung program strategis pemerintah, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, industri harus bertransformasi agar mampu menyediakan pasokan yang stabil, terjangkau, dan berkelanjutan.

Ekspansi Organisasi: Pelantikan 12 Wilayah Baru
Dalam rangkaian acara Rakernas, PINSAR Indonesia menunjukkan penguatan basis massanya dengan melantik pengurus dari 12 wilayah baru. Dipandu oleh Ir Eddi Wahyudin, prosesi pelantikan dan penyerahan Pataka dilakukan langsung oleh Ketua Umum PINSAR Indonesia Singgih Januratmoko, kepada perwakilan wilayah mulai dari Aceh, Banten, DKI Jakarta, hingga Papua Barat dan Maluku Utara. Kehadiran pimpinan wilayah baru ini diharapkan memperkuat posisi tawar peternak rakyat dalam mengawal kebijakan perunggasan di tingkat daerah hingga pusat.

Ke depannya, PINSAR Indonesia berkomitmen menjadi benteng perlindungan bagi peternak rakyat melalui penguatan akses permodalan, penyediaan bibit dan pakan yang berkualitas, serta pendampingan teknologi.

Dengan organisasi yang semakin solid, PINSAR Indonesia bertujuan menciptakan ekosistem usaha agar peternak kecil tidak lagi berjalan sendiri dalam menghadapi gempuran korporasi, melainkan memiliki daya tawar kolektif dalam menentukan harga pasar yang adil serta menjadi mitra utama pemerintah dalam menjaga kedaulatan pangan nasional.

Harapan Baru Melalui Program MBG
Membuka acara secara resmi, Singgih memberikan angin segar bagi para peternak. Ia menyatakan bahwa kebijakan pemerintah terkait program MBG adalah “oase” bagi keberlangsungan usaha peternak rakyat.

“Peternak rakyat kini boleh bernapas lega. Program MBG diproyeksikan mampu menyerap produk unggas, baik daging maupun telur secara maksimal. Ini adalah kepastian pasar yang selama ini dinantikan agar peternak bisa menikmati hasil nyata dari usaha yang mereka tekuni,” kata Singgih.

Dengan integrasi industri yang lebih solid dan dukungan pasar dari program pemerintah, Rakernas PINSAR Indonesia 2026 diharapkan menjadi titik balik bagi kejayaan perunggasan nasional yang lebih berkeadilan. (Sadarman)

PINSAR INDONESIA SAMBUT ERA BARU: PROGRAM MBG JADI “CAHAYA” BAGI PETERNAK RAKYAT

Suasana Rakernas PINSAR Indonesia di Yogyakarta. (Foto-foto: Infovet/Sadarman)

Suasana hangat menyelimuti Candhari Heaven, Yogyakarta, pada Senin (19/1/2026) malam. Di tengah udara kota yang syahdu karena diguyur hujan, puluhan pemimpin wilayah Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR) dari seluruh penjuru Tanah Air berkumpul, menandai dimulainya rangkaian Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PINSAR Indonesia 2026.

Acara jamuan makan malam ini bukan sekadar seremoni pembuka. Bagi para peternak rakyat yang tergabung dalam PINSAR Indonesia, momentum ini menjadi titik balik emosional setelah sekian lama bergelut dengan ketidakpastian industri perunggasan nasional.

Ketua Umum PINSAR Indonesia, H. Singgih Januratmoko SKH MM dalam sambutannya di hadapan para pengurus wilayah, tak mampu menyembunyikan rasa bangganya atas daya tahan organisasi yang dipimpinnya. Ia menganalogikan perjalanan peternak mandiri, khususnya di sektor budi daya broiler selama lebih dari 10 tahun terakhir sebagai masa-masa “berjalan di kegelapan”.

“Lebih dari satu dekade kita berjalan di kegelapan yang bisa kita analogikan tanpa cahaya sama sekali. Terutama peternak broiler yang didera masalah over supply yang seakan tiada ujungnya hingga banyak yang gulung tikar,” ujar Singgih dengan nada emosional di tengah riuh rendah suasana makan malam.

Namun, optimisme baru kini terpancar seiring dengan transisi pemerintahan dan kebijakan strategis yang mulai digulirkan. Singgih menyebut program unggulan pemerintah berupa pemberian susu dan Makanan Bergizi Gratis (MBG) bagi siswa sekolah sebagai “oksigen” baru bagi industri peternakan rakyat.

Menurutnya, program MBG adalah jawaban konkret atas permasalahan hilirisasi yang selama ini menghimpit peternak kecil. Dengan kebutuhan protein hewani yang masif untuk anak sekolah di seluruh Indonesia, PINSAR Indonesia memandang diri mereka sebagai aktor kunci yang memegang kendali produksi.

“Kini kita sudah bisa bernapas lega karena adanya program MBG tersebut. Kita terlibat secara langsung karena kita memiliki produknya, daging ayam dan telur, yang kandungan gizi hewaninya melampaui gizi nabati,” tegasnya.

Ketua Umum PINSAR Indonesia, Singgih Januratmoko, saat memberikan sambutannya.

Rangkaian Rakernas ini dijadwalkan akan berlangsung hingga Rabu (21/1/2026). Agenda utama yang akan dibahas pada hari-hari berikutnya mencakup diskusi mengenai pengembangan ekosistem industri ayam terintegrasi serta pemantapan peran PINSAR Indonesia dalam mendukung ketahanan pangan nasional melalui usaha peternakan rakyat.

Selain dihadiri para pemimpin wilayah, acara ini juga menjadi wadah konsolidasi internal untuk mengevaluasi program kerja tahun sebelumnya dan merumuskan langkah strategis menghadapi tantangan global 2026.

Semangat yang dibawa dari meja makan malam ini diharapkan menjadi fondasi kuat bagi PINSAR Indonesia untuk keluar dari “kegelapan” masa lalu dan menyongsong kedaulatan pangan yang lebih berpihak pada peternak rakyat. (Sadarman)

MANAJEMEN KESEHATAN UNGGAS BERKEMAJUAN PASCA PELARANGAN AGP

Ayam dan telur bukan sekadar komoditas pangan. Mereka adalah bagian dari sistem kehidupan yang saling berhubungan. (Foto: Gemini)

Telur, Ayam, dan Rasa Syukur yang Terlupakan
Pada seminar Infovet yang digelar dalam ajang ILDEX Indonesia 2025 di ICE BSD, Tangerang Selatan, September kemarin, Saya membuka sesi dengan pertanyaan sederhana kepada para peserta. “Siapa yang pernah makan telur?” Seluruh tangan langsung terangkat. Pertanyaan kedua pun Saya lontarkan, “Siapa yang pernah makan daging ayam?” Lagi-lagi, semua menjawab “pernah”.

Namun ketika ditanya, “Siapa yang pernah bersyukur kepada Allah SWT atas terciptanya telur dan ayam?” Ruang seminar mendadak hening. Tak ada satu tangan pun yang terangkat. Momen hening itulah yang menjadi titik awal refleksi kita semua, betapa sering manusia menikmati hasil unggas, namun lupa bersyukur atas nikmat besar yang dikaruniakan Sang Pencipta.

Ayam dan telur bukan sekadar komoditas pangan. Mereka adalah bagian dari sistem kehidupan yang saling berhubungan, manusia diberi rezeki dari unggas dan manusia pula yang bertanggung jawab atas kesejahteraan mereka. Di sinilah dasar filosofi animal welfare sejati, rasa syukur yang diwujudkan dalam tanggung jawab manusia menjaga kesejahteraan makhluk yang dipeliharanya.

Dari Antibiotik ke Holistik: Perubahan Paradigma Besar
Sejak pemerintah melarang penggunaan antibiotic growth promoter (AGP), sektor perunggasan Indonesia menghadapi tantangan baru. AGP sebelumnya menjadi penopang performa pertumbuhan unggas, menjaga kesehatan usus, dan menekan penyakit.

Namun pelarangan itu bukan akhir segalanya, justru ini momentum untuk bertransformasi menuju manajemen kesehatan unggas yang lebih berkemajuan, berbasis pendekatan holistik.

Pendekatan holistik berarti memandang kesehatan unggas bukan semata dari aspek medis, tetapi dari tiga faktor besar yang saling berinteraksi, yakni perlakuan manusia, perilaku unggas, dan perubahan lingkungan. Ketiganya berperan besar dalam memicu atau mencegah penyakit di peternakan komersial.

Perlakuan Manusia
Manusia memegang peran sentral. Peternak dan operator kandang adalah khalifah fil-ardh, wakil Tuhan di bumi, yang diberi amanah menjaga makhluk hidup lainnya. Maka, revolusi manajemen kesehatan unggas dimulai dari revolusi mindset bahwa setiap tindakan manusia di farm harus mencerminkan rasa syukur dan tanggung jawab terhadap kesejahteraan unggas.

Langkah nyata dimulai dengan standarisasi kemampuan perawatan: Operator layer idealnya mampu mengelola minimal 3.000 ekor dan operator broiler minimal 7.000 ekor dalam sistem open house. Angka yang rasional untuk menyesuaikan beban kerja dengan UMR serta efisiensi kerja.

Kemampuan operator bukan sekadar teknis, tetapi juga mental, berempati terhadap unggas yang mereka rawat. Karena ayam yang diperlakukan dengan baik akan tumbuh optimal, sehat, dan produktif. Maka, kesejahteraan unggas harus diimbangi dengan kesejahteraan operator kandang. Operator yang lelah, tidak cukup istirahat, atau tidak dihargai, sulit memberikan perawatan optimal.

Perilaku Unggas
Unggas modern, baik broiler maupun layer, telah beradaptasi jauh dari perilaku alaminya. Mereka tinggal dalam kandang tertutup dengan ruang gerak terbatas, sirkulasi udara minim, dan aktivitas makan, minum, hingga buang kotoran dilakukan di tempat yang sama.

Akibatnya, udara kandang cepat tercemar amonia, suhu dan kelembapan meningkat, serta kualitas oksigen menurun. Kondisi ini jika dibiarkan menciptakan apa yang disebut zoonotic pools, sumber penularan penyakit yang terus berulang.

Solusinya bukan sekadar disinfektan atau antibiotik, tetapi rehabilitasi lingkungan kandang. Beberapa langkah sederhana namun efektif antara lain mempercepat pelebaran area brooding agar sirkulasi udara lancar; menjaga litter agar tetap kering dan gembur, tidak menggumpal atau jenuh; membuat selokan di sekeliling kandang agar air hujan tidak masuk ke kolong; hingga mengatur ventilasi sehingga udara tetap kaya oksigen dan bebas amonia.

Dengan manajemen mikroklimat yang baik, unggas bisa tumbuh sesuai potensi genetiknya tanpa harus bergantung pada antibiotik.

Perubahan Lingkungan Global
Perubahan iklim ekstrem (climate change) kini menjadi tantangan nyata. Gagal panen di berbagai negara menyebabkan kelangkaan bahan baku pakan, yang berdampak langsung pada penurunan kualitas ransum unggas.

Dampaknya nyata di lapangan pertumbuhan broiler tidak sesuai target, FCR membengkak, DOC layer tidak seragam, daya tahan tubuh menurun, sampai produksi telur tidak stabil.

Solusi rehabilitasi dilakukan melalui upgrade formulasi dan manajemen pakan dengan menambahkan acidifier, toxin binder, prebiotik, probiotik, simbiotik, dan hepatoprotektor dalam bentuk matriks tepung agar tercampur merata, serta meninjau ulang program vaksinasi, memilih vaksin yang tepat, dan menerapkan teknik vaksinasi tanpa stres.

Manajemen Holistik: Integrasi Ilmu dan Empati
Pendekatan holistik dalam manajemen kesehatan unggas bukan hanya konsep ideal. Ini adalah strategi praktis, efektif, dan efisien yang bisa diterapkan di farm komersial. Prinsip utamanya “Perbaiki manusia dan lingkungannya, maka unggas akan sehat dengan sendirinya.”

Holistik berarti memperhatikan semua faktor, yakni manusia, hewan, dan lingkungan, serta menghilangkan pengaruh negatif di antara ketiganya. Hasilnya adalah program mitigasi dan rehabilitasi yang menyentuh akar masalah, bukan sekadar gejala permukaan.

Ciri khas manajemen holistik adalah sebagai berikut: Adaptif terhadap kemampuan operator kandang. Praktis dan mudah diterapkan. Efektif mengurai sumber penyakit. Efisien karena menjadi bagian dari rutinitas kerja harian, bukan tambahan beban.

Menuju Produksi ASUH dalam Konstelasi One Health
Tujuan akhir dari semua penerapan manajemen holistik ini adalah terwujudnya produksi telur dan daging unggas yang ASUH (aman, sehat, utuh, halal). Kesehatan unggas tidak bisa dipisahkan dari kesehatan manusia dan lingkungan. Inilah esensi konsep One Health, sinergi antara manusia, hewan, dan ekosistem untuk menciptakan keberlanjutan pangan yang sehat.

Dengan revolusi mindset, disiplin manajemen, dan empati terhadap makhluk hidup lain, sektor perunggasan Indonesia bukan hanya bertahan pasca pelarangan AGP, tetapi juga bertransformasi menjadi lebih modern, beradab, dan berkemajuan.

Manajemen kesehatan unggas yang berkemajuan bukanlah soal seberapa canggih teknologi kandang atau mahalnya suplemen pakan, tetapi seberapa dalam rasa syukur dan tanggung jawab kita terhadap kehidupan. Dengan empati, ilmu, dan keteladanan, manusia dapat menjadi penentu kesejahteraan unggas, yang pada akhirnya ikut menyejahterakan manusia itu sendiri. ***

Strategi Holistik Mitigasi dan Rehabilitasi

Faktor

Masalah Umum

Strategi Mitigasi dan Rehabilitasi

Perlakuan Manusia

Kurangnya empati dan standar kerja operator kandang

Revolusi mindset, pelatihan empati, standarisasi perawatan, dan peningkatan kesejahteraan operator.

Perilaku Unggas

Kepadatan tinggi, kualitas udara buruk, litter basah

Pelebaran brooding, ventilasi baik, pengaturan litter kering, dan sanitasi rutin.

Perubahan Lingkungan

Perubahan iklim, kelangkaan bahan baku pakan, stres panas

Formulasi pakan dengan acidifier, toxin binder, probiotik, dan upgrade program vaksinasi tanpa stres.


Ditulis oleh:
Drh H. Baskoro Tri Caroko
The 1st Winner Veterinary Poultry Technical Consultant - Inpova Award 2019
Koordinator ADHPI Wilayah Jabodetabek & Banten

REGULASI KESRAWAN DITERBITKAN, ARAH PENGEMBANGAN TELUR BEBAS SANGKAR KIAN TERBUKA

Budi daya ayam petelur sistem cage-free memungkinkan ayam mengekspresikan perilaku alamiahnya. (Foto: Istimewa)

Pemerintah resmi menerbitkan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No. 32/2025  tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Kewan (kesrawan). Regulasi ini menjadi landasan hukum penting untuk memastikan praktik pengelolaan ternak sejalan dengan prinsip kesrawan, termasuk mendukung sistem produksi unggas yang memenuhi standar kesrawan, termasuk sistem produksi telur bebas sangkar (cage-free).

Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner (Dirkesmavet) Kementerian Pertanian (Kementan), I Ketut Wiratha, menegaskan bahwa meningkatnya kebutuhan pangan menuntut sistem produksi ternak, yang tidak hanya mengedepankan efisiensi, tetapi juga prinsip etika. Menurutnya, kesrawan berkaitan erat dengan produktivitas ternak, keamanan pangan, dan kepercayaan publik.

Ia juga menekankan bahwa kesrawan bukan sekadar isu moral, melainkan bagian penting dalam menjaga mutu pangan dan keberlanjutan sektor peternakan, selain juga bagian dari komitmen global Indonesia dalam kerangka One Health dan Sustainable Development Goals (SDGs).

“Kesadaran publik terhadap perlakuan etis terhadap hewan terus meningkat. Konsumen kini semakin kritis terhadap cara hewan dipelihara dan disembelih. Oleh karena itu, edukasi serta pengawasan berkelanjutan di sepanjang rantai produksi pangan menjadi sangat penting guna mendorong perubahan sikap dan perilaku menuju praktik yang lebih menjunjung kesrawan,” ujarnya dalam sebuah acara daring pada Rabu (31/12/2025).

Seiring terbitnya regulasi tersebut, pemerintah akan melanjutkan langkah dengan menyusun petunjuk teknis pelaksanaan sertifikasi kesrawan dan mempersiapkan SDM yang dibutuhkan untuk mendukung implementasinya. Sertifikasi kesrawan nantinya akan dilaksanakan pemerintah daerah melalui dinas yang membidangi peternakan dan kesehatan hewan.

“Salah satu fokus pemerintah ke depan adalah menyiapkan dan mencetak auditor di berbagai daerah, agar proses sosialisasi dan sertifikasi penerapan kesrawan dapat berjalan lebih masif, efektif, dan implementatif. Sertifikasi ini diharapkan dapat membuka peluang pasar baru serta meningkatkan daya saing produk peternakan Indonesia, khususnya telur bebas sangkar, baik di pasar domestik maupun global,” tambahnya.

Pada kesempatan sebelumnya, Kepala Tim Pelaksana Kesrawan Ditkesmavet Kementan, Septa Walyani, menjelaskan bahwa penerapan sistem cage-free menjadi penting karena memungkinkan ayam petelur mengekspresikan perilaku alaminya, yang merupakan salah satu indikator utama kesrawan.

“Berbagai studi menunjukkan bahwa lingkungan pemeliharaan ayam petelur dengan sistem bebas sangkar dapat menurunkan tingkat stres dan risiko penyakit. Dengan demikian, penggunaan antibiotik dapat ditekan dan berkontribusi pada upaya global dalam pencegahan resistansi antimikroba,” jelas Septa di Jakarta, Kamis (11/12/2025).

Pandangan tersebut diperkuat temuan European Food Safety Authority (EFSA) yang menyatakan bahwa risiko salmonella lebih tinggi pada sistem kandang baterai dibandingkan dengan cage-free. Berdasarkan analisis data dari 5.000 peternakan di 24 negara, EFSA mencatat bahwa peternakan ayam petelur bebas sangkar memiliki tingkat kontaminasi salmonella yang jauh lebih rendah bahkan hingga 25 kali lebih rendah untuk beberapa jenis strain.

Menanggapi terbitnya regulasi tersebut, selaku Sustainable Poultry Program Manager Lever Foundation, Sandi Dwiyanto, menyampaikan apresiasinya terhadap langkah pemerintah yang dinilai sejalan dengan dinamika global. Menurutnya, regulasi ini menjadi sinyal kuat bagi pelaku usaha bahwa isu kesrawan kini semakin terintegrasi dengan tuntutan pasar dan komitmen perusahaan global, khususnya dalam penyediaan telur bebas sangkar.

“Dalam beberapa tahun terakhir, komitmen perusahaan pangan global terhadap penggunaan telur cage-free meningkat signifikan. Regulasi ini memberikan arah dan kepastian bagi transisi yang lebih terstruktur di Indonesia. Hal ini juga sejalan dengan perubahan preferensi konsumen yang mendorong kebutuhan akan sistem produksi yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan. Dengan regulasi ini, Indonesia memiliki fondasi yang lebih kuat untuk memenuhi ekspektasi pasar global,” ujarnya. 

Tren tersebut semakin diperkuat survei konsumen yang dilakukan Lever Foundation bekerja sama dengan GMO Research pada Juli 2025. Survei menunjukkan bahwa mayoritas responden (72%) berpendapat hotel, restoran, supermarket, perusahaan makanan kemasan, serta pelaku usaha sejenis seharusnya hanya menggunakan telur bebas sangkar dalam rantai pasok mereka. Dari aspek harga, sebanyak 71% responden bersedia membayar lebih mahal, dengan kisaran 10-40% untuk telur cage-free. Dan dalam konteks restoran, 72% responden bersedia membayar lebih untuk menu yang menggunakan telur cage-free, dengan mayoritas masih dapat menerima kenaikan harga sebesar 5-20% per porsi.

Hak ini sejalan dengan semakin banyaknya perusahaan makanan besar, supermarket, hingga jaringaan hotel global di Indonesia yang juga telah membuat komitmen atau sedang dalam proses menerapkan kebijakan telur cage-free. (INF)

TANIN: DARI ANTINUTRISI MENJADI PRIMADONA BARU DUNIA PETERNAKAN

Zat tanin dalam bentuk serbuk. (Foto: Istimewa)

Di dunia peternakan, istilah antinutrisi terdengar seperti vonis. Ia seolah menjadi kambing hitam di balik rendahnya performa ternak dan menurunnya efisiensi pakan. Di antara sederet zat yang masuk kategori ini, tanin menempati posisi “paling tersangka.”

Tanin dikenal karena kemampuannya mengikat protein dan menurunkan kecernaan. Para peternak dulu mengeluh ternaknya enggan makan daun ber-tanin tinggi seperti Calliandra atau Acacia. Para peneliti pun memberi label “tanin itu racun nutrisi.”

Namun, dunia berubah. Ilmu pengetahuan berkembang, yang dulu dianggap racun, kini justru menjadi primadona baru, bukan hanya di laboratorium, tapi juga di ladang dan kandang.

Senyawa Kecil dengan Peran Besar
Tanin adalah senyawa polifenol alami yang banyak ditemukan pada daun, kulit kayu, biji, dan buah berbagai tanaman tropis. Ia terbentuk sebagai bentuk “senjata pertahanan” tanaman terhadap serangan serangga, jamur, atau herbivora.

Sifat khas tanin adalah kemampuannya mengikat protein dan logam. Dalam konteks pakan, sifat ini yang dulu dianggap negatif, karena menghambat kecernaan protein di rumen, tetapi seperti dua sisi mata uang, kemampuan itu pula yang kini justru dimanfaatkan untuk kebaikan.

Tanin terbagi dua jenis utama, yakni tanin terkondensasi (condensed tannin/CT) banyak terdapat di leguminosa seperti Indigofera zollingeriana dan Leucaena leucocephala, umumnya aman dan bermanfaat dalam kadar moderat. Serta tanin terhidrolisis (hydrolyzable tannin/HT) terdapat pada Acacia nilotica atau Chestnut, bersifat lebih reaktif dan berisiko jika berlebih.

Dari Penghambat Menjadi Pengatur
Sebuah lompatan besar dalam riset nutrisi ternak terjadi ketika para ilmuwan menemukan bahwa efek tanin sangat bergantung pada dosisnya.

Dalam kadar tinggi (>5% bahan kering), tanin memang bisa menurunkan konsumsi dan kecernaan pakan. Namun dalam dosis rendah hingga sedang (2-4%), tanin justru bekerja cerdas, ia mengatur pelepasan protein agar tidak terdegradasi di rumen, melainkan langsung diserap di usus halus. Inilah konsep protein bypass, salah satu tonggak penting dalam efisiensi pakan ruminansia.

Penelitian Min et al. (2003), menunjukkan bahwa tanin terkondensasi membentuk kompleks protein-tanin yang stabil di rumen, namun terurai pada pH asam usus. Artinya, protein tidak “terbuang” untuk bakteri rumen, tapi “diselamatkan” untuk tubuh ternak.

Hasilnya? Efisiensi nitrogen meningkat, pertumbuhan ternak lebih optimal, dan limbah nitrogen yang mencemari lingkungan berkurang. Dari sini, tanin mulai dikenal bukan lagi sebagai penghambat, tetapi pengatur alami metabolisme.

Potensi yang Terlupakan
Indonesia sejatinya memiliki kekayaan tanaman pakan leguminosa yang mengandung tanin dalam kadar ideal. Sebut saja Indigofera zollingeriana, Calliandra calothyrsus, Gliricidia sepium, dan Acacia mangium.

Sayangnya, selama puluhan tahun potensi ini tidak tergarap maksimal. Padahal menurut penelitian Wina et al. (2015), Indigofera zollingeriana mengandung protein kasar 25-31% dan tanin terkondensasi sekitar 2-3%, kadar yang justru ideal untuk meningkatkan efisiensi protein tanpa menurunkan konsumsi.

Bahkan penelitian lanjutan oleh Setyaningsih et al. (2019), pada kambing perah menunjukkan bahwa ekstrak tanin dari Acacia mangium mampu menurunkan kadar amonia rumen dan memperbaiki profil fermentasi. Produksi susu meningkat, sementara bau akibat gas metana menurun signifikan.

Artinya, tanin bukan sekadar zat kimia di daun, tetapi bagian dari solusi nyata menuju peternakan tropis yang efisien dan ramah lingkungan.

Temuan ini menegaskan bahwa senyawa tanin dari tanaman tropis memiliki potensi besar dalam meningkatkan kualitas pakan sekaligus menjaga kesehatan ternak. Dengan kemampuan menghambat degradasi berlebih dan menekan aktivitas mikroba penghasil gas, tanin dinilai sebagai solusi alami menuju sistem peternakan rendah emisi dan berkelanjutan di masa depan.

Tanin untuk Langit yang Lebih Biru
Isu perubahan iklim kini menuntut dunia peternakan untuk berbenah. Ruminansia seperti domba, kambing, kerbau, dan sapi menghasilkan gas metana (CH₄) dari fermentasi di rumen. Gas ini memiliki potensi pemanasan global 28 kali lebih besar dibanding karbon dioksida.

Setiap kali sapi mengunyah, sesungguhnya bumi sedikit memanas, namun tanin membawa harapan. Berbagai penelitian termasuk Jayanegara et al. (2020), menunjukkan bahwa suplementasi tanin terkondensasi sebesar 3% dari bahan kering pakan dapat menurunkan produksi metana hingga 25% tanpa menurunkan kecernaan total.

Bagaimana caranya? Tanin menekan populasi methanogen, mikroba penghasil metana; tanin menggeser fermentasi dari jalur asetat ke propionat, menghasilkan lebih banyak energi dan lebih sedikit gas; serta tanin mengurangi hidrogen bebas di rumen, bahan baku utama pembentukan metana.

Inovasi yang Terus Berkembang
Teknologi pakan modern kini membawa tanin melangkah lebih jauh. Dari sekadar daun pahit di kebun, kini tanin hadir dalam bentuk ekstrak murni dan suplemen pakan.

Ekstrak tanin dari Quebracho, Chestnut, dan Acacia sudah lama digunakan di Eropa dan Amerika sebagai natural methane inhibitor dan rumen modifier. Di Indonesia, penelitian sedang gencar dilakukan untuk mengekstraksi tanin dari bahan lokal seperti kulit jengkol, daun mangga, hingga kulit buah kakao.

Lebih dari itu, tanin juga berperan sebagai antioksidan dan antiparasit alami. Hoste et al. (2015), melaporkan bahwa tanin dapat menurunkan infeksi cacing Haemonchus contortus pada kambing tanpa menggunakan obat kimia sintetis. Artinya tanin tidak hanya menyehatkan ternak, tapi juga menyehatkan sistem produksi, menjadikannya bagian penting dari konsep pakan fungsional (functional feed).

Aditif Potensial dalam Pembuatan Silase
Dalam dunia peternakan modern, silase sudah menjadi bagian penting dari sistem pakan, terutama saat musim kemarau ketika hijauan sulit didapat. Namun, tidak semua silase memiliki kualitas yang baik. Banyak peternak masih menghadapi masalah seperti silase cepat rusak, aroma menyengat, tekstur berlendir, hingga pertumbuhan jamur. Masalah ini umumnya terjadi karena proses fermentasi yang tidak sempurna dan aktivitas mikroba yang berlebihan.

Untuk mengatasi hal tersebut, para peneliti mulai melirik tanin sebagai bahan aditif alami dalam pembuatan silase. Tanin dikenal sebagai senyawa polifenol yang terdapat pada banyak tanaman tropis seperti Indigofera zollingeriana, Acacia mangium, dan Chestnut (Castanea spp.). Dahulu, tanin dianggap antinutrisi karena bisa mengikat protein dan menurunkan daya cerna. Namun kini, berbagai penelitian justru menunjukkan bahwa tanin dalam dosis rendah mampu memperbaiki proses fermentasi silase.

Bagaimana Tanin Bekerja dalam Silase?
Tanin memiliki kemampuan mengikat protein dan karbohidrat larut, membentuk kompleks yang lebih stabil selama proses ensilase. Ikatan ini bersifat reversibel, artinya nutrien tersebut akan terlepas kembali di saluran pencernaan bagian bawah, bukan di rumen. Dengan begitu, protein kasar lebih terlindungi dari degradasi berlebihan dan ternak bisa memanfaatkannya lebih efisien.

Selain itu, tanin juga memiliki sifat antimikroba alami. Senyawa ini dapat menghambat pertumbuhan jamur dan bakteri pembusuk, sehingga silase menjadi lebih awet dan aromanya tetap segar. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa tanin membantu menurunkan kadar amonia dan pH silase, dua indikator penting dari fermentasi yang sehat.

Bukti dari Penelitian di Lapangan
Penelitian menunjukkan bahwa penambahan tanin dari Acacia dan Chestnut pada silase ampas kecap dapat membuat silase lebih stabil karena pH-nya turun dan pembusukan protein berkurang. Protein dalam silase lebih terjaga dan tidak banyak hilang selama penyimpanan. Tanin juga membantu menekan gas metana dari ternak tanpa mengganggu proses pencernaan di rumen. Jadi, penggunaan 2% tanin Acacia bisa menjadi pilihan aditif alami yang menjaga kualitas silase sekaligus ramah lingkungan (Sadarman et al., 2020).

Penambahan tanin pada silase ampas kecap dapat membuat silase lebih stabil karena pH-nya turun dan pembusukan protein berkurang. (Foto: Istimewa)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tanin terkondensasi (CT) maupun tanin terhidrolisis (HT) pada ampas kecap tidak memengaruhi kecepatan degradasi, yang dilihat dari fraksi larut (a), laju degradasi (c), dan nilai kecernaan efektif (ED). Namun, terdapat penurunan nyata (p<0,05) pada fraksi yang berpotensi terdegradasi (b) dan total potensi degradasi (a+b) bahan kering (BK) serta bahan organik (BO), baik pada ampas kecap yang difermentasi maupun yang tidak. Dengan demikian, ekstrak CT dan HT dari Acacia dan Chestnut memiliki efek pelindung terhadap nutrien yang mudah terdegradasi dari ampas kecap. Menariknya, efek perlindungan tersebut serupa pada silase maupun bahan yang tidak diensilase (Sadarman et al., 2021).

Hasil penelitian Sadarman et al. (2022), membuktikan bahwa penambahan 0,50% tanin Chestnut mampu meningkatkan kualitas fisik silase kelobot jagung (Zea mays). Silase yang dihasilkan memiliki warna lebih cerah, tekstur padat namun tidak keras, suhu stabil, dan pertumbuhan jamur minimal. Kondisi ini membuat silase lebih tahan disimpan dan lebih disukai ternak.

Studi lain yang dilaporkan Sadarman et al. (2024), menunjukkan bahwa penambahan 2% tanin Chestnut pada pakan komplit berbasis limbah kelapa sawit yang diensilase dapat menghasilkan silase dengan protein kasar lebih tinggi dibandingkan tanpa tanin, sementara kadar lemak dan serat kasar tetap sama. Kandungan abu menurun, menandakan fermentasi berlangsung lebih efisien. Bahkan, tanin memberikan pengaruh nyata terhadap kadar air, aroma, amonia, dan total asam lemak volatil (VFA), parameter utama yang menentukan mutu silase.

Bagi peternak, penggunaan tanin sebagai aditif silase menawarkan berbagai keuntungan nyata, antara lain menekan kehilangan bahan kering (BK) selama proses fermentasi; melindungi protein kasar agar tidak cepat terurai oleh mikroba rumen; menjaga aroma, warna, dan tekstur silase agar tetap segar dan disukai ternak; menghambat pertumbuhan jamur dan bakteri pembusuk, memperpanjang umur simpan; menstabilkan suhu silase, mencegah panas berlebih yang dapat merusak nutrien; menurunkan emisi amonia dan metana, membantu peternakan menjadi lebih ramah lingkungan.

Dengan hasil tersebut, tanin kini dianggap sebagai aditif potensial yang murah, alami, dan ramah lingkungan untuk meningkatkan mutu silase, terutama di daerah tropis seperti Indonesia. Tanaman sumber tanin seperti Indigofera dan Akasia mudah tumbuh di lahan kering, sehingga berpotensi besar dikembangkan sebagai bahan lokal untuk pembuatan pakan fermentasi.

Pemanfaatan tanin sebagai aditif silase tidak hanya berdampak pada peningkatan kualitas pakan, tetapi juga menjadi langkah strategis menuju peternakan hijau dan berkelanjutan. Dengan kualitas silase yang lebih baik, ternak tumbuh optimal, efisiensi pakan meningkat, dan gas metana yang dihasilkan dari pencernaan dapat ditekan.

Artinya, dengan langkah sederhana menambahkan tanin dalam proses pembuatan silase, peternak turut berkontribusi menjaga bumi dari dampak perubahan iklim. Tanin tidak lagi menjadi “musuh” dalam pakan, melainkan sekutu baru peternak cerdas dalam menghadirkan produksi ternak yang efisien, sehat, dan ramah lingkungan.

Rahasia Keberhasilan Tanin
Namun, seperti segala hal di dunia nutrisi, keseimbangan adalah kunci. Tanin yang berlebihan bisa menurunkan palatabilitas (selera makan), menekan mikroba rumen, dan mengganggu penyerapan mineral. Kadar ideal tanin dalam pakan sebaiknya tidak melebihi 5% bahan kering.

Oleh karena itu, peternak dan formulator pakan perlu memahami kadar tanin dalam bahan pakan dan menyesuaikan dosisnya secara ilmiah. Teknik analisis seperti in vitro gas production kini banyak digunakan untuk menentukan batas optimal penggunaan tanin. Dengan pendekatan ilmiah, “si pahit” bisa menjadi “si penyelamat” atmosfir bumi.

Peternak Mulai Menyadari
Di berbagai daerah Indonesia, peternak mulai membuka mata. Di Riau dan Jawa Barat, banyak kelompok peternak menanam Indigofera zollingeriana sebagai hijauan unggulan. Produksinya tinggi, taninnya moderat, dan ternak tampak lebih sehat.

“Dulu kami takut memberikan daun Indigofera karena katanya ada tanin. Tapi setelah diuji di laboratorium kampus, ternyata malah bikin kambing cepat gemuk,” ujar seorang peternak di Kampar.

Cerita serupa datang dari Nusa Tenggara Timur, daun Calliandra yang dulu dibuang kini difermentasi atau diensilase dengan molases menjadi pakan bernilai tinggi. Dari pengalaman lapangan ini, menunjukkan bahwa ilmu bukan hanya soal laboratorium, tapi soal keberanian mengubah cara pandang.

Tanin dan Masa Depan Peternakan Hijau
Ketika dunia berbicara tentang sustainable livestock, kerap dibayangkan teknologi mahal atau alat canggih. Padahal, sebagian jawabannya bisa ditemukan di daun-daun hijau yang tumbuh di sekitar manusia.

Tanin mengajarkan bahwa inovasi tidak selalu berarti menciptakan sesuatu yang baru, kadang cukup dengan memahami ulang apa yang sudah ada di alam. Kini, berbagai lembaga penelitian mulai mempromosikan konsep “livestock low carbon”, pakan berbasis tanin menjadi bagian dari strategi global menekan emisi metana.

Peternakan tidak lagi hanya soal produksi daging dan susu, tapi juga tentang tanggung jawab ekologis. Dalam konteks ini, tanin hadir sebagai jembatan antara produktivitas dan keberlanjutan.

Dari Musuh Menjadi Mitra
Transformasi tanin dari “antinutrisi berbahaya” menjadi “nutrisi cerdas” adalah kisah luar biasa tentang perubahan paradigma. Ia menunjukkan bagaimana ilmu pengetahuan bisa mengubah cara dalam melihat alam.

Tanin bukan lagi antagonis dalam pencernaan, melainkan mitra dalam efisiensi dan keberlanjutan. Ia bukan penghalang produktivitas, tapi penjaga keseimbangan antara ternak, manusia, dan bumi.

Peternakan masa depan bukan hanya tentang teknologi tinggi, tetapi tentang kearifan memanfaatkan sumber daya alami dengan ilmu pengetahuan yang benar. Tanin adalah simbol dari gagasan itu, dari yang dulu ditolak karena ketidaktahuan, kini diterima karena pemahaman.

Karena sesungguhnya, sebagaimana ungkapan para ahli nutrisi, “Tidak ada zat yang benar-benar berbahaya, yang berbahaya adalah ketidaktahuan menggunakannya.” Tanin mengajarkan bahwa alam selalu menyediakan solusi. ***

Ditulis oleh:
Assoc Prof Dr Ir Sadarman SPt MSc IPM
Dosen Ilmu Nutrisi dan Pakan Ternak Prodi Peternakan UIN Suska Riau
Wartawan Infovet Daerah Riau

PREDIKSI PENYAKIT UNGGAS 2026

Penyakit bakterial dan viral dapat mengancam produktivitas dan kesehatan unggas serta stabilitas ekonomi peternak. (Foto: Istimewa)

Penyakit merupakan bentuk penyimpangan berbahaya dari fungsi organ atau struktur normal organ yang disertai gejala klinis spesifik. Penyakit dapat disebabkan berbagai macam faktor, seperti organisme patogen, toksin, kekurangan nutrisi, kelainan metabolik, neoplasia, hingga kelainan genetik.

Penyakit bakterial dan viral dapat mengancam produktivitas dan kesehatan unggas serta stabilitas ekonomi peternak. Berdasarkan data PT Sanbio Laboratories, kasus penyakit pada unggas di 2025 sangat bervariasi. Penyakit viral maupun bakterial yang terkonfirmasi positif uji PCR mulai dari avian influenza (AI), infectious bronchitis (IB), newcastle disease (ND), infectious bursal disease (IBD), coryza (snot), dan yang lainnya, tercatat sebagai tantangan yang perlu dihadapi peternak.

Berdasarkan data PT Sanbio Laboratories, kasus AI subtipe H5 menduduki peringkat teratas yang kerap dilaporkan, yaitu sebanyak 17%.  Kejadian AI H5 yang dilaporkan menyerang pada ayam layer dan menyebabkan mortalitas yang cukup tinggi teridentifikasi termasuk dalam clade 2.3.2 pada semua sampel yang diuji.

Selain AI H5, penyakit IB juga menjadi tantangan teratas tahun ini. Berdasarkan hasil sekuensing diketahui kasus IB yang dilaporkan menunjukkan sekuensing IB varian seperti QX-like dan 793B. Kejadian IB yang tercatat dilaporkan menyerang unggas layer dengan mayoritas hasil sekuensing IB QX-like dan sisanya menyerang pada broiler dengan hasil sekuensing IB 793B.

Kasus penyakit selanjutnya dengan presentase kasus sebanyak 15% adalah ND. Untuk kasus ND di 2025 berdasarkan catatan PT Sanbio Labs mayoritas sampel terkonfirmasi hasil sekuensing termasuk dalam strain velogenik yaitu ND G7. Selanjutnya penyakit yang juga tercatat cukup banyak adalah IBD, dimana kasusnya terkonfirmasi positif PCR dilaporkan hasil sekuensingnya termasuk dalam very virulent (vv) IBD.

Adapun kasus penyakit di 2025 dengan presentase lebih dari 10% berikutnya adalah coryza. Coryza atau snot biasanya menjadi infeksi ikutan dari agen penyakit seperti AI, ND atau yang lainnya. Kemudian menyusul penyakit-penyakit unggas lain seperti Marek’s, pox, AI subtipe H9, ILT, EDS, dan SHS juga dilaporkan masih menjadi tantangan bagi peternak.

Tantangan di Tahun Depan
Melihat tren kasus penyakit serta mempertimbangkan berbagai aspek seperti perubahan cuaca, manajemen peternakan, dan mobilisasi unggas, berikut merupakan prediksi penyakit unggas di Indonesia di 2026 mendatang: Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Desember 2025.

Ditulis oleh:
(Drh Novita Lajuba & Drh Aprilia Kusumastuti)

STRATEGI MENGHADAPI ANCAMAN DAN MENJAGA BISNIS PETERNAKAN


Tahun 2025 yang Menguji Daya Tahan
Sepanjang 2025, menjadi babak ujian tersendiri bagi industri perunggasan Indonesia. Catatan lapangan, laporan laboratorium, hingga pengakuan para peternak menunjukkan bahwa tantangan kesehatan unggas di tahun tersebut datang bertubi-tubi.

Musim pancaroba yang berkepanjangan, pola curah hujan tidak menentu, serta fluktuasi suhu ekstrem memicu stres pada ayam, menurunkan sistem kekebalan tubuh, dan membuka pintu bagi berbagai penyakit untuk berkembang.

Kasus penyakit saluran pernapasan mendominasi laporan kesehatan unggas tahun ini. Varian baru infectious bronchitis virus (IBV) yang bersifat nefropatogenik ditemukan di beberapa wilayah produksi besar, menginfeksi ayam dengan gejala yang tidak selalu khas, sehingga menyulitkan diagnosis dini. 

Kemudian avian influenza (AI) clade 2.3.4.4b juga menjadi ancaman serius, terutama pada peternakan yang berada di jalur migrasi burung liar dan memiliki biosekuriti yang lemah. Serta newcastle disease (ND) “tetap setia” menjadi musuh lama yang tak pernah benar-benar hilang.

Tidak berhenti di saluran pernapasan, gangguan pencernaan seperti necrotic enteritis (NE) dan koksidiosis melonjak di banyak farm, terutama yang mulai meninggalkan penggunaan antibiotic growth promoter (AGP). Penurunan efisiensi pakan, penambahan beban kerja usus, dan peningkatan beban patogen membuat performa broiler tertekan.

Pada sektor layer komersial, penyakit metabolik seperti fatty liver syndrome dan gout meningkat tajam, sering kali dipicu oleh kualitas bahan baku pakan yang tidak stabil dan manajemen nutrisi yang tidak tepat sasaran.


Analisis Akar Masalah: Mengapa Penyakit Marak?
Jika ditelusuri lebih dalam, penyebab maraknya penyakit di 2025 bukan hanya soal virus yang lebih ganas atau bakteri yang resistan. Ada kombinasi faktor yang saling memperkuat. Perubahan iklim yang memengaruhi suhu dan kelembapan kandang adalah faktor utama. Lalu, mobilitas tinggi DOC, pakan, dan pekerja antar wilayah membuat jalur penularan penyakit semakin terbuka lebar.

Di sisi lain, kebijakan pembatasan penggunaan antibiotik tanpa diiringi penerapan alternatif yang konsisten memperlemah pertahanan biologis ayam. Tidak sedikit peternak yang mencoba beralih ke herbal, probiotik, atau feed additive, namun penggunaannya tidak terstandar, sehingga hasilnya tidak maksimal. Dan yang tak kalah penting, munculnya varian virus baru yang lolos dari perlindungan vaksin konvensional menjadi tantangan teknis yang nyata.

Ramalan 2026: Tiga Ancaman Besar yang Mengintai
Berdasarkan data epidemiologi dan pola historis, ada beberapa penyakit yang diprediksi menjadi ancaman utama di 2026, yaitu... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Desember 2025.

Ditulis oleh:
Henri E. Prasetyo, drh MVet 
Praktisi perunggasan, Nutritionist PT DMC

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer