-->

STRATEGI CERDAS KENDALIKAN STRES OKSIDATIF, MENJAGA KESEHATAN DAN PERFORMA UNGGAS MODERN


Di banyak kandang modern, ayam terlihat aktif, bulu rapi, dan nafsu makan normal. Namun ketika ditimbang atau dievaluasi, performa justru tidak sesuai harapan. Bobot badan tertinggal, FCR memburuk, atau produksi telur mulai menurun tanpa sebab yang jelas. Kondisi seperti ini sering membuat peternak bingung. Salah satu penyebab yang kerap luput dari perhatian adalah stres oksidatif.

Stres oksidatif bukan penyakit menular dan tidak selalu menimbulkan gejala klinis yang mencolok. Justru karena sifatnya yang “diam-diam”, kondisi ini sering menjadi penyebab turunnya performa secara perlahan namun konsisten.

Apa Sebenarnya Stres Oksidatif Itu?
Stres oksidatif terjadi ketika tubuh ayam mengalami ketidakseimbangan antara zat perusak yang disebut radikal bebas dengan kemampuan tubuh untuk menetralkannya. Dalam kondisi normal, radikal bebas selalu terbentuk sebagai bagian dari proses metabolisme. Masalah muncul ketika jumlahnya terlalu banyak, sementara sistem pertahanan tubuh tidak mampu mengimbanginya.

Ketika hal ini terjadi, sel-sel tubuh ayam mulai mengalami kerusakan. Dinding sel menjadi rapuh, jaringan usus terganggu, fungsi hati menurun, dan sistem kekebalan melemah. Akibatnya, energi yang seharusnya digunakan untuk tumbuh dan berproduksi justru habis untuk memperbaiki kerusakan di dalam tubuh.

Dari Mana Stres Oksidatif Berasal di Kandang?
Salah satu pemicu utama stres oksidatif adalah stres lingkungan, terutama suhu tinggi. Heat stress membuat ayam bekerja ekstra keras untuk menurunkan suhu tubuhnya. Proses ini meningkatkan pembentukan radikal bebas secara signifikan. Semakin lama ayam terpapar panas, semakin besar risiko kerusakan sel yang terjadi.

Selain suhu, kepadatan kandang yang tinggi, ventilasi kurang optimal, litter basah, dan kadar amonia yang tinggi juga memperparah kondisi stres. Ayam yang hidup dalam lingkungan seperti ini berada dalam tekanan terus-menerus, meskipun tidak terlihat sakit.

Dari sisi nutrisi, penggunaan bahan baku berkualitas rendah, lemak yang sudah teroksidasi, serta pakan yang tidak seimbang juga dapat menjadi sumber stres oksidatif. Bahkan proses vaksinasi dan infeksi ringan yang tidak terdeteksi pun dapat meningkatkan beban oksidatif tubuh ayam.

Mengapa Stres Oksidatif Merugikan?
Dampak stres oksidatif jarang bersifat langsung dan drastis. Namun dalam jangka menengah hingga panjang, kerugiannya sangat terasa. Ayam menjadi... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2026. 

Ditulis oleh:
Henri E. Prasetyo Drh MVet
Praktisi perunggasan, Nutritionist PT DMC 

MENJAGA PRODUKTIVITAS AYAM SAAT STRES MENGANCAM

Ayam yang dipelihara dalam sistem open house. (Foto: Gemini)

Ketika stres oksidatif menyerang, berbagai solusi diupayakan agar ayam nyaman dan produksi tetap aman.

Pada hakikatnya stres panas adalah efek gabungan dari suhu dan kelembapan relatif udara pada ayam yang dikenal sebagai suhu efektif. Meningkatkan kelembapan udara pada suhu berapapun akan meningkatkan ketidaknyamanan ayam dan stres panas.

Peternak harus hati-hati memantau suhu dan kelembapan di lokasi mereka. Umumnya, pada siang hari, suhu meningkat dan kelembapan relatif menurun. Metode pendinginan terbaik selama periode kelembapan rendah adalah pendinginan evaporatif (fogger, mister-pembuat kabut atau cool pad).

Sedangkan pada malam hari ketika suhu turun dan kelembapan biasanya meningkat, kelembapan tambahan yang disediakan oleh pengabut dapat meningkatkan tekanan panas. Saat kelembapan tinggi, peningkatan pergerakan udara dengan menggunakan kipas saja akan mengurangi tekanan panas di kandang terbuka.

Pergerakan udara menghasilkan efek wind chill yaitu penurunan suhu udara yang dirasakan oleh tubuh akibat adanya aliran udara. Tabel indeks tekanan panas untuk ayam petelur komersial telah dikembangkan.

Mengetahui Aspek yang Wajib Dibenahi
Regional Technical Manager Cobb-Vantress, Amin Suyono, menyatakan bahwa penyebab heat stress memang ada pengaruh dari lingkungan, namun demikian kualitas aspek manajemen pemeliharaan juga dapat mengurangi maupun menambah risiko keparahan kasus.

Sebagai contoh manajemen perkandangan yang kurang baik. Mulai dari konstruksi, jenis kandang, kepadatan kandang, manajemen ventilasi, bahkan bahan baku konstruksi kandang juga akan memengaruhi aspek tersebut.

“Terlebih lagi di negara kita masih banyak sistem open, di mana ini akan meningkatkan risiko cekaman heat stress baik di musim panas, maupun musim dingin terlebih ketika salah dalam mengatur ventilasi (menutup rapat ventilasi, dan lain-lain). Oleh karenanya closed house jadi solusi instan,” tutur dia.

Meskipun begitu, dibutuhkan modal yang besar dalam membangun closed house yang juga disertai oleh daya listrik yang menunjang, serta tenaga kerja yang terampil. Jadi menurut Amin, hanya tinggal memilih saja yang penting sudah tau titik kritis dan cara mengakalinya. 
Selain kandang, Amin juga menyinggung mengenai nutrisi. Pemberian ransum dengan kandungan nutrisi, terutama protein kasar yang berlebih bisa memperparah kasus heat stress.

Kelebihan protein kasar akan diuraikan oleh tubuh ayam untuk dibuang bersama feses. Penguraian protein kasar ini akan menghasilkan panas tubuh yang jauh lebih besar dibandingkan dengan pencernaan karbohidrat ataupun lemak. Selain itu, protein kasar yang terbuang bersama feses akan diuraikan oleh bakteri yang ada di dalam feses menjadi amonia dan panas.

Kesadaran untuk Mencegah dan Bersahabat dengan Cuaca
Di musim panas, nantinya kasus... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2026. (CR)

STRES OKSIDATIF, MUSUH TAK KASATMATA DI BALIK TURUNNYA PERFORMA

Mekanisme Penghilangan panas pada ayam. (Sumber: Hy-Line 2016)

Dalam industri perunggasan modern, peternak sering kali berhadapan dengan situasi yang membingungkan. Ayam tampak sehat, konsumsi pakan relatif normal, tidak ada gejala penyakit yang mencolok, namun performa produksi perlahan menurun. Bobot badan tidak mencapai target, konversi pakan memburuk, produksi telur menurun, kualitas karkas berkurang, dan respons vaksinasi tidak optimal. Di balik berbagai gejala yang tampak samar tersebut, sering kali terdapat satufaktor yang luput dari perhatian, yaitu stres oksidatif.

Stres oksidatif atau di Indonesia biasa dikaitkan dan disebut dengan stres panas/heat stress bukanlah penyakit. Ia merupakan kondisi fisiologis ketika tubuh unggas mengalami ketidakseimbangan antara produksi radikal bebas dan kemampuan sistem antioksidan untuk menetralisirnya.

Kondisi ini dapat terjadi pada broiler, layer, breeder, itik, puyuh, hingga unggas lainnya. Bahkan pada peternakan dengan manajemen yang baik sekalipun, stres oksidatif tetap dapat muncul apabila faktor pemicunya tidak terkendali.

Memahami Radikal Bebas
Untuk memahami stres oksidatif, pertama-tama perlu memahami apa yang disebut radikal bebas. Tony Unandar selaku konsultan perunggasan dan Anggota Dewan Pakar ASOHI, mengatakan bahwa radikal bebas adalah molekul yang memiliki elektron tidak berpasangan sehingga sangat reaktif.

Dalam tubuh unggas, radikal bebas sebenarnya terbentuk secara alami sebagai bagian dari proses metabolisme normal. Setiap kali sel menghasilkan energi melalui respirasi di mitokondria, sebagian kecil oksigen akan berubah menjadi senyawa reaktif yang dikenal sebagai reactive oxygen species (ROS). Beberapa contoh ROS yakni superoksida (SO2-), radikal hidroksil (OH), dan lain sebagainya.

Selain ROS, terdapat pula reactive nitrogen species (RNS) yang berasal dari metabolisme nitrogen. Dalam jumlah terkendali, molekul-molekul ini justru memiliki fungsi penting. Mereka membantu sistem imun membunuh patogen, berperan dalam komunikasi antar sel, serta mengatur berbagai proses biologis. Masalah baru muncul ketika jumlah radikal bebas yang dihasilkan melebihi kemampuan tubuh untuk menetralisirnya. Pada saat itulah stres oksidatif mulai berkembang.

Mengapa Unggas Rentan Mengalami Stres Oksidatif?
Unggas modern memiliki karakteristik biologis yang membuat mereka lebih rentan terhadap stres oksidatif dibandingkan nenek moyangnya. Broiler modern tumbuh sangat cepat. Dalam waktu sekitar 35 hari, berat badannya dapat mencapai lebih dari 2 kg. Pertumbuhan luar biasa ini membutuhkan aktivitas metabolisme yang sangat tinggi.

Hal tersebut diungkapkan oleh Guru besar Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University, Prof I Wayan Teguh Wibawan, sekaligus konsultan perunggasan. “Semakin tinggi metabolisme, semakin banyak... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2026. (CR)

PARTISIPASI INFOVET DI INDO LIVESTOCK 2026, GELAR SEMINAR PERUNGGASAN

Foto bersama Seminar Nasional yang digelar Infovet dalam rangkaian Indo Livestock 2026. (Foto: Infovet/Ridwan)

Industri peternakan unggas saat ini tengah menghadapi badai tantangan yang tidak main-main. Dari fenomena perubahan iklim global yang ekstrem, ancaman penyakit menular berbahaya, hingga fluktuasi kualitas bahan baku pakan lokal. Dampaknya sangat nyata bagi peternak, angka mortalitas melonjak, efisiensi pakan memburuk, pertumbuhan terhambat, dan ujung-ujungnya keuntungan merosot tajam.

Di tengah situasi pelik ini, Drh H. Baskoro Tri Caroko (BTC), seorang National Poultry Technical Consultant, membawa sebuah angin segar melalui pendekatan holistik dalam pemeliharaan unggas. Pendekatan ini menawarkan satu prinsip, “Keberhasilan peternak menekan mortalitas menempatkan mereka pada peluang profit terbaik. Ketika harga mahal, mendapat laba maksimal, pada waktu harga murah, kerugian minimal,” ujar BTC saat mengisi Seminar Nasional yang digelar Infovet dalam rangkaian Indo Livestock 2026 Expo & Forum, Kamis (18/6/2026).

Bagaimana konsep holistik ini mampu mengubah nasib peternakan dari jurang kerugian, BTC pun membedah formulanya. Pertama, fondasi utama (revolusi mindset dan upgrade operator kandang). Kegagalan sebuah peternakan sering kali secara instan ditimpakan kepada para pekerja lapangan. Namun, konsep holistik ini menegaskan bahwa kegagalan tidak selalu salah operator. Kuncinya ada pada revolusi mindset dan peningkatan kompetensi (upgrade) para penjaga kandang. Operator kandang harus menyadari bahwa tugas mereka bukan sekadar memberi pakan, melainkan memenuhi kesejahteraan unggas secara menyeluruh. Unggas harus dipastikan mendapat pakan berkualitas, air minum bersih, udara segar, serta perlindungan total (tidak keujanan, kepanasan, terhindar dari stres, dan aman dari predator).

Kedua, menjaga kualitas di lingkungan. Satu paradoks terbesar dalam peternakan konvensional adalah membiarkan unggas makan, minum, tidur, dan buang kotoran di tempat yang sama setiap hari. Jika kualitas lingkungan ini tidak dijaga, kandang akan berubah menjadi bom waktu penyakit bagi ternak. Pola holistik mewajibkan peternak secara aktif mengatasi dampak buruk dari siklus biologis ini. Tata kelola limbah dan manajemen kotoran ayam harus diatur sedemikian rupa agar mudah diamankan kapan saja, sehingga amonia tidak meracuni pernapasan unggas.

Ketiga, strategi upgrade total secara holistik. Untuk memanen ayam yang tumbuh cepat, sehat, dan produktif sesuai potensi genetiknya, peternak harus melakukan upgrade kapasitas kandang secara ketat berdasarkan bobot hidup, dengan standar ideal 12 kg live bird (LB) per meter persegi. Kemudian menerapkan program sanitasi, disinfeksi, dan drainase lingkungan kandang yang prima (biosecurity protection). Lakukan pemberian nutrisi dan perawatan intensif dengan menyediakan pakan berkualitas tinggi yang komposisinya seimbang sesuai kebutuhan setiap fase umur unggas. Hingga dukungan suplemen dan bijak antibiotik.

Pada kesempatan tersebut, BTC juga menceritakan kisah sukses para peternak broiler dan layer yang sudah ia bimbing. Dalam membantu melatih para peternak tersebut, ia mengaransemen dan menciptakan potensi team work di kandang.

“Sehingga sukses yang dicapai hakekatnya adalah keberhasilan yang dicapai peternak sendiri, peternak sebagai bintangnya, pemain utama pentas di panggung pertunjukan yang berhasil dan sukses karena bersedia melakukan upgrade manajemen, mau bersungguh-sungguh, dan kerja keras atas arahan yang diberikan, sehingga mortalitas turun, profit naik,” ungkapnya.

Menurutnya, pendekatan holistik membuktikan bahwa kesuksesan peternakan unggas tidak bisa dicapai dengan cara-cara instan atau parsial. Melalui payung konstelasi One Health (kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan yang saling terkait), peternakan dipandang sebagai sebuah ekosistem yang utuh.

“Ketika manusia berkomitmen untuk menjaga semesta, mulai dari menjaga kesehatan pekerja, merawat hewan ternak dengan penuh empati, hingga melestarikan lingkungan kandang, maka alam akan membalasnya dengan produktivitas yang melimpah. Komitmen mulia inilah yang tidak hanya akan menurunkan mortalitas dan menaikkan profit peternak, tetapi juga membawa berkah bagi ketahanan pangan bangsa,” tukasnya. (RBS)

FUMITE OPP, DISINFEKTAN ASAP JADI PILIHAN TEPAT

Fumite OPP merupakan disinfektan asap yang menjadi pilihan tepat untuk hatchery, fumigasi/persiapan kandang kosong, gudang, silo, dan lain sebagainya.



EL NINO MENGANCAM, LINDUNGI TERNAK DENGAN STRESS PACK SL

El Nino mengancam produktivitas ternak?

Fenomena El Nino ekstrem memicu stres pans, perubahan cuaca drastis, dan keterbatasan pakan. Jangan biarkan stres menghancurkan performa ternak, lindungi ternak Anda dengan STRESS PACK SL.



STRES OKSIDATIF, MUSUH TAK KASATMATA DI BALIK TURUNNYA PERFORMA

Mekanisme Penghilangan panas pada ayam. (Sumber: Hy-Line 2016)

Dalam industri perunggasan modern, peternak sering kali berhadapan dengan situasi yang membingungkan. Ayam tampak sehat, konsumsi pakan relatif normal, tidak ada gejala penyakit yang mencolok, namun performa produksi perlahan menurun. Bobot badan tidak mencapai target, konversi pakan memburuk, produksi telur menurun, kualitas karkas berkurang, dan respons vaksinasi tidak optimal. Di balik berbagai gejala yang tampak samar tersebut, sering kali terdapat satu faktor yang luput dari perhatian, yaitu stres oksidatif.

Stres oksidatif atau di Indonesia biasa dikaitkan dan disebut dengan stres panas/heat stress bukanlah penyakit. Ia merupakan kondisi fisiologis ketika tubuh unggas mengalami ketidakseimbangan antara produksi radikal bebas dan kemampuan sistem antioksidan untuk menetralisirnya.

Kondisi ini dapat terjadi pada broiler, layer, breeder, itik, puyuh, hingga unggas lainnya. Bahkan pada peternakan dengan manajemen yang baik sekalipun, stres oksidatif tetap dapat muncul apabila faktor pemicunya tidak terkendali.

Memahami Radikal Bebas
Untuk memahami stres oksidatif, pertama-tama perlu memahami apa yang disebut radikal bebas. Tony Unandar selaku konsultan perunggasan dan Anggota Dewan Pakar ASOHI, mengatakan bahwa radikal bebas adalah molekul yang memiliki elektron tidak berpasangan sehingga sangat reaktif.

Dalam tubuh unggas, radikal bebas sebenarnya terbentuk secara alami sebagai bagian dari proses metabolisme normal. Setiap kali sel menghasilkan energi melalui respirasi di mitokondria, sebagian kecil oksigen akan berubah menjadi senyawa reaktif yang dikenal sebagai reactive oxygen species (ROS). Beberapa contoh ROS yakni superoksida (SO2-), radikal hidroksil (OH), dan lain sebagainya.

Selain ROS, terdapat pula reactive nitrogen species (RNS) yang berasal dari metabolisme nitrogen. Dalam jumlah terkendali, molekul-molekul ini justru memiliki fungsi penting. Mereka membantu sistem imun membunuh patogen, berperan dalam komunikasi antar sel, serta mengatur berbagai proses biologis. Masalah baru muncul ketika jumlah radikal bebas yang dihasilkan melebihi kemampuan tubuh untuk menetralisirnya. Pada saat itulah stres oksidatif mulai berkembang.

Mengapa Unggas Rentan Mengalami Stres Oksidatif?
Unggas modern memiliki karakteristik biologis yang membuat mereka lebih rentan terhadap stres oksidatif dibandingkan nenek moyangnya. Broiler modern tumbuh sangat cepat. Dalam waktu sekitar 35 hari, berat badannya dapat mencapai lebih dari 2 kg. Pertumbuhan luar biasa ini membutuhkan aktivitas metabolisme yang sangat tinggi.

Hal tersebut diungkapkan oleh Guru besar Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University, Prof I Wayan Teguh Wibawan, sekaligus konsultan perunggasan. “Semakin tinggi metabolisme, semakin banyak oksigen yang digunakan. Semakin banyak oksigen digunakan, semakin besar pula pembentukan ROS,” tutur Wayan.

Sementara pada ayam petelur modern yang mampu menghasilkan lebih dari 300 butir telur/tahun. Produktivitas yang tinggi ini juga meningkatkan tekanan metabolik yang besar terhadap tubuh. Dengan kata lain, kemajuan genetika yang menghasilkan unggas berproduksi tinggi secara tidak langsung juga meningkatkan risiko terjadinya stres oksidatif.

Ia melanjutkan bahwa unggas termasuk... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2026. (CR)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer