-->

LAUNCHING NUSANTARA LIVESTOCK AND POULTRY EXPO 2026: WUJUDKAN KEMANDIRIAN PANGAN LEWAT KOLABORASI INDUSTRI YANG LEBIH MODERN & KOMPETITIF

Foto bersama saat peluncuran Nusantara Livestock and Poultry Expo 2026. (Foto: Infovet/Ridwan)

Seiring meningkatnya kebutuhan akan efisiensi dan produktivitas, industri peternakan nasional terus bergerak menuju arah yang lebih modern dan terintegrasi. PT Debindo Global Expo (DEBINDO) kembali menghadirkan Nusantara Livestock and Poultry Expo 2026 yang resmi diluncurkan pada Rabu (29/4/2026) di Hotel The Westin Jakarta.

Pameran yang kedua kalinya ini merupakan wujud nyata komitmen DEBINDO dalam mendukung program pemerintah dalam mempercepat pertumbuhan industri peternakan dan perunggasan nasional melalui inovasi dan kolaborasi strategis.

"Penyelenggaraan pameran ini merupakan wujud komitmen berkelanjutan dalam memperkuat daya saing industri peternakan nasional. Kolaborasi lintas sektor yang didukung inovasi dan pemanfaatan teknologi menjadi kunci utama dalam menjawab tantangan industri ke depan," ujar Direktur PT Debindo Global Expo, Rafidi Iqra Muhammad, dalam sambutannya.

Ia juga menambahkan, sinergi dengan berbagai kementerian, asosiasi, dan mitra strategis diharapkan mampu mendorong penguatan ekosistem industri peternakan secara menyeluruh, mulai dari sisi produksi hingga distribusi dan hilirisasi.

Melalui kolaborasi lintas sektor, ajang ini diharapkan mampu mempercepat adopsi teknologi serta praktik terbaik dalam industri peternakan nasional untuk mewujudkan kemandirian dan ketahanan pangan.

Hal itu juga seperti yang disampaikan Ketua IV GPPU, Asrokh Nawawi. "Nusantara Livestock and Poultry Expo 2026 hadir sebagai wadah kolaborasi yang menyatukan pelaku dari hulu hingga hilir. Dengan dukungan inovasi, pengembangan genetika unggul, serta penguatan hilirisasi, sektor peternakan akan semakin kuat sebagai pilar ketahanan pangan nasional sekaligus mampu menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan," katanya.

Sementara pada kesempatan yang sama, Sekretaris Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Nuryani Zainuddin, turut menyampaikan apresiasinya kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam terselenggaranya kegiatan ini. Ia berharap pameran ini dapat menjadi platform strategis untuk mendorong kolaborasi, pertukaran informasi, serta pengembangan teknologi di sektor peternakan, sekaligus memperluas akses pasar dan kemitraan usaha secara berkelanjutan.

Beragam inovasi dan solusi akan dihadirkan dalam penyelenggaraan pameran ini, mencakup produksi peternakan dan unggas, sistem kandang dan containment, mesin dan peralatan peternakan, teknologi egg farming, pakan dan nutrisi, obat serta vaksin hewan, layanan logistik, hingga sektor akuakultur dan perikanan. Semuanya dihadirkan sebagai bagian dari ekosistem industri yang terintegrasi, dengan menekankan pendekatan berkelanjutan sebagai fokus utama dalam pengelolaan peternakan modern.

Nusantara Livestock and Poultry Expo 2026 siap menghadirkan lebih dari 100 brand nasional dan internasional yang akan menampilkan berbagai produk serta solusi inovatif, mulai dari teknologi peternakan, pakan dan nutrisi, kesehatan hewan, hingga sistem pengolahan dan cold chain. Keragaman ini menunjukkan semakin berkembangnya industri peternakan yang kini didorong oleh integrasi teknologi.

Tak sekadar menjadi ajang pameran, Nusantara Livestock and Poultry Expo 2026 juga menghadirkan rangkaian program pendukung yang dikemas secara dinamis. Mulai dari forum diskusi dan seminar industri, sesi knowledge sharing bersama praktisi dan pakar, demonstrasi teknologi peternakan secara langsung, hingga agenda business matching yang membuka peluang kemitraan strategis bagi para pelaku usaha. Sejumlah program unggulan turut dihadirkan, antara lain Nusantara Food Summit, IPB Stakeholder Forum, Business Pitching bersama Ditjen PKH, serta Intensive Livestock Bootcamp berkolaborasi dengan NusaQu.

Selain itu, sebagai bagian dari upaya memperkuat sinergi dan kolaborasi lintas sektor, pada momentum peluncuran ini juga dilaksanakan penandatanganan MoU antara DEBINDO dengan Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU), serta Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI). Penandatanganan ini menjadi langkah konkret dalam mendorong pengembangan industri peternakan nasional, peningkatan kualitas pakan dan pembibitan, serta percepatan adopsi inovasi dan teknologi di sektor peternakan, sekaligus memperkuat ekosistem livestock yang lebih terintegrasi, produktif, dan berdaya saing.

Melalui peluncuran ini, DEBINDO membuka peluang bagi seluruh pemangku kepentingan untuk terlibat dalam Nusantara Livestock and Poultry Expo 2026, yang diselenggarakan bersamaan dengan Indonesia Agriculture Technology (INDOGRITECH) Expo 2026. Pameran akan berlangsung pada 4-7 November 2026, di Hall 5 ICE BSD City. (RBS)

UPDATE PENYAKIT IB-ND DALAM ELANCO POULTRY MASTER CLASS 2026

Foto bersama dalam Poultry Master Class 2026 yang digelar Elanco. (Foto: Infovet/Ridwan)

Bertempat di Hotel Tentrem Jakarta, Kota Tangerang Selatan, Banten, Senin (27/4/2026), PT Elanco Animal Health Indonesia bersama PT SHS International menyelenggarakan Elanco Poultry Master Class 2026, yang banyak mengupas mengenai update seputar penyakit Infectious bronchitis (IB) dan Newcastle disease (ND).

“Poultry Master Class kali ini banyak membahas update IB dan ND dengan pembicara yang sesuai di bidangnya. Diharapkan melalui seminar ini kita mendapatkan update khususnya terkait challenge IB dan ND, termasuk intervensi dari Elanco dalam membantu mengatasi penyakit-penyakit tersebut,” ujar Senior Marketing Manager Elanco Animal Health Indonesia, Aura Maulana.

Kegiatan kali ini menjadi momentum Elanco untuk memperkenalkan produk vaksin terbarunya Avipro IB-ND C131, dalam membantu peternak unggas mengatasi gangguan serangan IB dan ND. Vaksin tersebut merupakan vaksin IB H120 dengan ND clone C13-1 dengan perlindungan unggul dan maksimal selama delapan minggu. Dapat diaplikasikan di hatchery dan di lapangan.

Sebab kedua penyakit tersebut masih menjadi momok menakutkan bagi industri perunggasan Tanah Air. Hal tersebut seperti disampaikan oleh perwakilan dari PT SHS International, Nining Indiarti selaku Area Coordinator Jakarta.

“Satu kasus saja bisa menurunkan performa, menaikkan FCR, yang berujung merugikan peternak. Hadirnya vaksin terbaru ini adalah jawaban dari komitmen kami dalam membantu memberikan proteksi terhadap unggas dengan lebih lama dan lebih awal,” kata Nining.

Seminar kali ini turut menghadirkan pembicara di antaranya Senior Scientist of GD Animal Health Service, and President of the European Collage of Poultry Veterinary Science Netherland Prof Sjaak de Wit DVM PhD Dipl ECPVS, bersama Guru Besar FKH UGM Prof Dr Drh Michael Haryadi Wibowo MP, dan Senior Technical Consultant Vaccines Elanco Asia Pacific Dr Nicholas Phuah.

Prof Sjaak dan Prof Micheal turut menyampaikan materi mengenai perkembangan penyakit IB dan ND yang sampai saat ini masih mengganggu dan memberikan dampak merugikan pada peternakan unggas, baik broiler, layer, maupun breeder, di antaranya gangguan pernapasan, kerusakan organ, penurunan produksi, hingga penurunan kualitas telur.

“Kalau IB dan ND ini sudah bersatu, tentu sangat berat untuk mengatasinya, dampaknya pada recovery sangat sulit sekali,” ujar Prof Michael.

Oleh karena itu, ada beberapa strategi yang bisa dilakukan salah satunya melalui pemberian vaksinasi yang optimal. Tentunya dengan memahami bagaimana karakteristik virus, penggunaan vaksinnya, sarana dan prasarana untuk menunjang vaksinasi, tenaga ahli, hingga monitoring pasca vaksinasi harus diperhatikan dengan sebaik mungkin.

“Vaksin yang digunakan harus aman, bahkan untuk DOC sekali pun. Reaksi pasca vaksinasi juga harus minimal terutama pada iklim panas, di mana stres dapat berimplikasi. Dan yang terpenting juga adalah vaksinasi akan efektif tercapai apabila berintegrasi dengan biosekuriti dan manajemen farm yang baik,” sebutnya.

Untuk strategi vaksin, Nicholas Phuah, turut memberikan gambaran secara mendalam terkait penggunaan vaksin terbaru dari Elanco yang diklaim mampu memberikan proteksi terbaik pada unggas, khususnya dalam menghadapi penyakit IB dan ND. (RBS)

JAPFA DAN UGM HADIRKAN FASILITAS LAYER FREE-RANGE BERBASIS RISET DAN KESEJAHTERAAN HEWAN

PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali memperkuat kolaborasi strategis dalam pengembangan inovasi peternakan melalui serah terima hibah ayam petelur (layer) sistem free range di Pusat Unggulan Antar Perguruan Tinggi (PUAPT), Fakultas Peternakan UGM, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Inisiatif ini menjadi tonggak baru dalam kemitraan jangka panjang antara JAPFA dan UGM yang telah terjalin sejak tahun 2003. Kolaborasi tersebut secara bertahap berkembang melalui berbagai inisiatif, mulai dari pembangunan Teaching Farm Closed House pada 2017, hibah laboratorium pascapanen berkapasitas 20.000 ekor ayam per hari, hingga pengembangan Closed House yang difokuskan pada penelitian makanan ternak yang mengikuti perbaikan genetika ayam untuk mendapatkan efisiensi optimum pada tahun 2019. Kini, sinergi tersebut berlanjut melalui penguatan sistem peternakan berbasis kesejahteraan hewan (animal welfare) melalui pendekatan free range. 

Arif Widjaja, COO Poultry Indonesia, JAPFA, menyampaikan bahwa fasilitas ini tidak hanya berfungsi sebagai unit produksi, tetapi juga sebagai laboratorium hidup (living laboratory) untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi peternakan. “Pada tahap awal, kami menargetkan populasi 1.500 ayam petelur dengan potensi produksi sekitar 1.275 telur per hari. Lebih dari itu, kolaborasi ini merupakan bentuk komitmen kami dalam mendorong inovasi sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat terkait pentingnya produk pangan yang berkualitas, aman, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Dekan Fakultas Peternakan UGM, Prof Ir Budi Guntoro, SPt, MSc, PhD, IPU, ASEAN Eng, menyampaikan apresiasinya atas kontribusi JAPFA dalam mendukung pengembangan akademik dan riset. “Fasilitas Layer Free range ini menjadi pusat inovasi akademis yang memberikan manfaat nyata bagi dunia pendidikan dan masyarakat. Mahasiswa dapat belajar langsung mengenai praktik terbaik dalam kesejahteraan hewan, sehingga menghasilkan riset yang relevan dengan kebutuhan industri peternakan ke depan,” ungkapnya. Fakultas Peternakan UGM sedang mengembangkan tiga model kandang yaitu Cages, Cage-free dan Free range untuk pembelajaran mahasiswa dengan pendekatan automasi dan sistem.

Hibah ayam petelur free range ini merupakan bagian dari upaya nyata untuk mendukung kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengembangan di lingkungan akademik. Hibah ayam free range ini tidak hanya menjadi sarana produksi, tetapi juga fasilitas penelitian untuk mengkaji metode pemeliharaan ayam yang paling efektif dan berkelanjutan. 

Sistem free range yang diterapkan dalam fasilitas ini mengedepankan prinsip lima kebebasan hewan (Five Freedoms), di mana ayam memiliki akses ke area umbaran (outdoor) untuk mengekspresikan perilaku alaminya, seperti bergerak bebas, berinteraksi, dan berjemur di bawah sinar matahari. Pada siang hari, ayam dilepas di area terkbuka, sementara pada malam hari kembali ke kandang utama untuk menjaga keamanan dari predator.

Penerapan sistem ini telah banyak diadopsi di berbagai negara dan terbukti memberikan dampak positif, baik terhadap kesehatan fisik dan mental ayam maupun terhadap kualitas telur yang dihasilkan. Akses terhadap pakan alami seperti serangga dan cacing di area umbaran turut berkontribusi pada peningkatan nilai nutrisi telur.

Lebih lanjut, kolaborasi ini juga membuka peluang pengembangan pasar telur premium di Indonesia, seiring meningkatnya kesadaran konsumen terhadap aspek kesehatan, keberlanjutan, dan kesejahteraan hewan dalam proses produksi pangan. Inisiatif ini merupakan bagian dari komitmen JAPFA sebagai perusahaan agribisnis terintegrasi dalam mendukung ketahanan pangan nasional melalui penyediaan protein hewani yang halal, aman, dan higienis, sekaligus mendorong transformasi industri peternakan menuju praktik yang lebih berkelanjutan.

KEMENTAN DORONG INDUSTRI PETERNAKAN UNJUK GIGI DI INDO LIVESTOCK 2026

Rapat sosialisasi persiapan Indo Livestock 2026. (Foto: Istimewa)

Kementerian Pertanian (Kementan) bersama PT Napindo Media Ashatama terus mematangkan persiapan penyelenggaraan Indo Livestock 2026 sebagai ajang internasional yang mempertemukan pelaku industri peternakan, kesehatan hewan, dan pakan dari berbagai negara. Forum ini diproyeksikan menjadi ruang strategis untuk memperkuat kolaborasi sekaligus memperkenalkan kemajuan sektor peternakan Indonesia ke tingkat global.

Selain berfungsi sebagai pameran, Indo Livestock juga dirancang sebagai wadah pertukaran pengetahuan, teknologi, dan inovasi terbaru. Kehadiran pelaku usaha internasional diharapkan mampu membuka peluang kerja sama yang lebih luas serta mendorong peningkatan daya saing industri nasional.

Upaya tersebut ditandai dengan rangkaian sosialisasi yang digelar selama dua hari pada 20-21 April 2026 di Jakarta. Kegiatan ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari kementerian dan lembaga, BUMN, hingga pelaku usaha swasta di sektor peternakan dan industri pakan.

Sekretaris Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Nuryani Zainuddin, menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor dalam memperkuat industri peternakan dari hulu hingga hilir. Ia menilai peran BUMN sangat strategis dalam mendukung pengembangan sektor tersebut.

“Kami ingin mendorong agar BUMN tidak hanya hadir sebagai institusi bisnis, tetapi juga sebagai lokomotif pembangunan peternakan nasional dengan mengambil peran strategis sebagai offtaker hasil peternakan rakyat, agregator rantai pasok, sebagai pendukung pembiayaan, logistik, hilirisasi, hingga penguatan ekspor,” ujar Nuryani, menekankan peran kunci BUMN dalam memperkuat ekosistem peternakan nasional.

Ia juga menyebut Indo Livestock 2026 sebagai momentum penting untuk mendorong investasi dan kolaborasi yang lebih luas, seiring dengan potensi besar Indonesia di sektor peternakan, termasuk capaian swasembada ayam dan telur.

Sementara itu, Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Ditjen PKH Kementan, Makmun, mendorong para pelaku usaha turut serta dalam pameran berskala global tersebut.

“Ditjen PKH bekerja sama dengan Napindo menggelar acara Indo Livestock 2026 sebagai ajang strategis berkolaborasi. Kita ingin para pengusaha peternakan hadir dan ikut dalam acara tersebut supaya para mitra luar negeri yang hadir juga mengetahui perkembangan dan kemajuan industri peternakan di Indonesia,” kata Makmun.

Menurutnya, Indo Livestock bukan sekadar ajang promosi, tetapi juga sarana untuk menampilkan capaian industri sekaligus memperluas jejaring bisnis. Dampak nyata terhadap pengembangan sektor menjadi indikator utama keberhasilan kegiatan ini.

Sementara itu, Sales Manager PT Napindo Media Ashatama, Agnes Nilam Sunardi, menegaskan komitmen pihaknya dalam menghadirkan pameran berkualitas yang memberikan dampak positif bagi industri nasional.

“Kami perusahaan penyelenggara pameran profesional yang memberikan nilai positif bagi bangsa Indonesia di dunia internasional. Kami sudah melaksanakan 100 pameran, dan di antaranya merupakan pameran internasional Indo Livestock Expo dan Forum sejak 2002,” ujar Agnes.

Ia menambahkan, Indo Livestock menjadi sarana untuk memperkenalkan inovasi industri peternakan sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui berbagai program edukatif.

“Acara ini bertujuan memperkenalkan hasil industri peternakan dan kesehatan hewan kepada dunia, mendorong dan memajukan industri agar mampu bersaing di kancah internasional, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui edukasi di bidang peternakan dan pertanian,” pungkasnya.

Indo Livestock 2026 dijadwalkan berlangsung pada 16-18 Juni di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2, Tangerang. Kegiatan ini ditargetkan diikuti lebih dari 600 peserta dari 40 negara dengan sekitar 20.000 pengunjung profesional. Melalui sinergi antara pemerintah dan sektor swasta, penyelenggaraan Indo Livestock ke-19 ini diharapkan mampu memperkuat ekosistem industri peternakan nasional yang lebih terintegrasi, berdaya saing, serta berkelanjutan di tengah dinamika pasar global. (INF)

KOLABORASI SEMINAR AKSELERASI SISKA GUNA PERKUAT KETAHANAN PANGAN NASIONAL

Foto bersama dalam seminar percepatan SISKA yang digelar di BRIN Cibinong. (Foto-foto: Infovet/Ridwan)

Dalam upaya memperkuat kemandirian pangan, khususnya di sektor persapian, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama PT WAKENI menyelenggarakan seminar bertajuk "Percepatan SISKA (Sistem Integrasi Sapi dan Kelapa Sawit) untuk Ketahanan Pangan Nasional", yang berlangsung pada Selasa (14/4/2026), di Gedung Kelas Baru (Edelweis), Kawasan Sains dan Teknologi (KST) BRIN Cibinong.

Kegiatan strategis ini mendapat dukungan penuh dari Gabungan Pelaku dan Pemerhati Sistem Integrasi Sapi Kelapa Sawit (GAPENSISKA), Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI), serta Majalah Infovet sebagai mitra media. Seminar ini juga merupakan bagian dari rencana penyelenggaraan pameran Agrimat dan Agrilivestock 2026.

Dalam sambutannya, Kepala Pusat Riset Peternakan BRIN, Susanto, menegaskan bahwa seminar ini menjadi ruang strategis untuk merumuskan langkah nyata implementasi SISKA di tingkat nasional.

"BRIN berkomitmen untuk tidak hanya fokus pada penelitian saja. Kami percaya bahwa kolaborasi adalah kunci. SISKA merupakan salah satu strategi utama yang harus diimplementasikan secara cepat demi pembangunan peternakan nasional," ujarnya.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari, saat membuka acara secara resmi menyampaikan bahwa tema integrasi ini sangat relevan dengan program nasional yang telah lama berjalan dan terus ditingkatkan.

"Program SISKA ini tidak hanya berdampak bagi petani atau peternak saja, tetapi juga peningkatan ekonomi masyarakat luas melalui simbiosis mutualisme yang mendukung keberlanjutan usaha pertanian dan peternakan. Kami sangat mendukung penuh komitmen tersebut," ujarnya.

Sesi seminar. Dari kiri: Windu Negara (moderator), Prof Budi Tangendjaja, Bess Tiesnamurti, Tri Melasari, dan Jarot Indarto.

Dalam sesi seminar yang dimoderatori oleh Windu Negara, salah satu perekayasa BRIN, menghadirkan beberapa narasumber yang ahli di bidangnya. Direktur Pangan dan Pertanian Kementerian PPN/Bappenas, Jarot Indarto, menekankan pentingnya kolaborasi dan pengembangan skema bagi peternak skala kecil agar program SISKA memiliki signifikansi nyata.

Sementara dari sisi regulasi dan populasi, Direktur Pakan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Tri Melasari, memaparkan strategi percepatan populasi sapi nasional melalui integrasi sapi di lahan sawit. Di sisi lain, Direktur PT SISKA Ranch, Wahyu Darsono, yang hadir secara daring, mengusulkan model ko-investasi Business to Business (B2B) serta transformasi kebijakan FPKMS-NOP (Fasilitasi Pembangunan Kebun Masyarakat Sekitar) sebagai pilar pendukung ketahanan pangan.

Adapun Peneliti Ahli Utama Kelompok Riset Sistem Integrasi Ternak Berbasis Lahan BRIN, Bess Tiesnamurti, menggarisbawahi peran krusial riset dan inovasi teknologi dalam mempercepat implementasi program SISKA.

Menutup sesi pemaparan, Ketua Dewan Pakar ASOHI sekaligus konsultan pakan, Prof Budi Tangendjaja, memberikan catatan teknis mendalam mengenai kebutuhan nutrisi ternak dalam program sapi kelapa sawit. Menurutnya, keberhasilan SISKA sangat bergantung pada ketersediaan hijauan dan manajemen lahan.

Ia juga menilai bahwa produksi sapi tidak akan maksimal jika hanya mengandalkan limbah sawit dan rumput di sekitar lahan. Diperlukan nutrisi presisi dengan keseimbangan gizi yang baik, sehingga membutuhkan bahan tambahan dari luar seperti onggok, premiks mineral, dan vitamin agar kebutuhan ransum harian terpenuhi secara seimbang.

"Intinya harus bisa membuat ransum sapi ini dengan seimbang, tidak bisa hanya mengandalkan apa yang ada di lahan sawit saja (limbah sawit dan rumput). Oleh karena itu, harus kita gali lebih dalam lagi kebutuhan ransum pakan untuk sapi di lahan sawit ini," tukasnya.

Namun demikian, diharapkan melalui seminar ini terjadi sinkronisasi antara pemerintah, peneliti, dan pelaku usaha dalam mewujudkan akselerasi integrasi sapi-sawit yang berkelanjutan di Indonesia. (RBS)

INDO LIVESTOCK GRAND CHAMPIONSHIP DIPERKENALKAN, DORONG STANDAR KOMPETISI TERNAK NASIONAL

Expo Peternakan & Kontes Sapi Piala Padjadjaran 2026. (Foto: Istimewa)

Indo Livestock 2026 Expo & Forum terus memperkuat posisinya sebagai platform strategis dalam mendukung pertumbuhan dan transformasi industri peternakan nasional. Salah satu bentuk perwujudan tersebut tercermin melalui partisipasi Indo Livestock sebagai mitra dalam Expo Peternakan & Kontes Sapi Piala Padjadjaran 2026, Sabtu (11/4/2026), yang merupakan bagian dari rangkaian acara “Gebyar Ternak Padjadjaran”.

Kegiatan ini menghadirkan berbagai program seperti kontes ternak, pameran, serta kegiatan edukatif bagi pelaku industri dan masyarakat umum. Melalui kolaborasi ini, Indo Livestock berkontribusi memperkuat ekosistem peternakan, sekaligus menjadi bagian dari upaya mendorong standar dan sistem kompetisi ternak di tingkat nasional, sejalan dengan format kontes yang telah berkembang di berbagai daerah.

Operation Director Napindo, Adhika Arthapaty, melihat adanya potensi besar dalam pengembangan standar kompetisi ternak yang lebih terstruktur dan terintegrasi di tingkat nasional.

“Kompetisi ternak di berbagai daerah menunjukkan antusiasme dan kualitas yang terus meningkat. Ini menjadi sinyal positif bahwa industri membutuhkan sebuah platform yang dapat mengakomodasi standar yang lebih terukur sekaligus mempertemukan para pelaku industri terbaik dalam satu panggung nasional,” ujarnya.

Berangkat dari hal tersebut, pada penyelenggaraan Indo Livestock ke-19 nanti menghadirkan inovasi baru melalui peluncuran Indo Livestock Grand Championship sebagai salah satu highlight utama.

Mengusung konsep kompetisi ternak ruminansia, khususnya sapi dan domba, program ini dirancang sebagai pengembangan dari berbagai ajang serupa yang telah berkembang di berbagai daerah, sekaligus menjadi langkah strategis dalam mendorong penerapan standar kualitas terbaik di tingkat nasional.

Menariknya, Indo Livestock Grand Championship akan menjadi kompetisi peternakan indoor pertama di Indonesia yang diselenggarakan di dalam hall exhibition, menghadirkan pengalaman baru dalam penyelenggaraan kontes ternak. Ajang ini dirancang tidak hanya sebagai kompetisi, tetapi juga sebagai bentuk penghargaan atas perkembangan industri peternakan Indonesia, sekaligus membuka ruang apresiasi, jejaring, dan pertukaran pengetahuan antar pelaku industri.

Melalui inisiatif ini, Napindo berharap dapat berkontribusi pada peningkatan produktivitas, daya saing, serta kesejahteraan peternak secara berkelanjutan. Lebih jauh, program ini juga dirancang untuk memperkuat konektivitas antara kegiatan peternakan di tingkat daerah dengan forum industri berskala internasional.

Momentum tersebut menjadi bagian dari rangkaian penyelenggaraan Indo Livestock 2026 Expo & Forum yang akan hadir dengan skala lebih luas dan program yang semakin komprehensif. Pameran akan berlangsung pada 16-18 Juni 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE) PIK 2, Tangerang, Indonesia, bersamaan dengan Indo Feed, Indo Dairy, Indo Agrotech, Indo Vet, dan Indo Fisheries. (INF)

PERSIAPAN INDO LIVESTOCK 2026 MELALUI KOORDINASI BERSAMA KEMENTAN

Rapat koordinasi panitia persiapan Indo Livestock 2026 Expo & Forum. (Foto: Dok. Napindo)

Persiapan penyelenggaraan Indo Livestock 2026 Expo & Forum terus dimatangkan melalui rapat koordinasi panitia yang diselenggarakan di Kantor Kementerian Pertanian (Kementan), Rabu (8/4/2026).

Rapat mempertemukan Kementan melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) sebagai tuan rumah dengan PT Napindo Media Ashatama (Napindo) sebagai penyelenggara, sekaligus menjadi momentum penting dalam menyelaraskan strategi dan memperkuat sinergi lintas pemangku kepentingan.

Kegiatan dipimpin oleh Sekretaris Ditjen PKH, Nuryani Zainuddin, selaku Ketua Pelaksana. Dalam arahannya, ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, asosiasi, dan sektor swasta dalam mendorong kemajuan industri peternakan nasional.

“Indo Livestock merupakan sarana promosi, diseminasi informasi, penguatan jejaring, serta pengembangan inovasi di bidang peternakan dan kesehatan hewan. Kolaborasi antara Ditjen PKH dan Napindo ditujukan untuk memperkuat kerja sama, sinergi, dan komitmen dalam penyelenggaraan pameran ini,” ujarnya saat membuka rapat koordinasi panitia tersebut.

Ia menambahkan, sinergi yang kuat antar pemangku kepentingan menjadi kunci dalam memperluas akses terhadap informasi dan teknologi, sekaligus mendorong peningkatan investasi dan kolaborasi bisnis di sektor peternakan dan kesehatan hewan secara berkelanjutan.

Melalui koordinasi ini, diharapkan penyelenggaraan Indo Livestock 2026 tidak hanya menjadi ajang pameran industri, tetapi juga platform strategis yang mampu mempertemukan pelaku usaha, pemerintah, dan asosiasi dalam menciptakan ekosistem peternakan yang lebih maju, inovatif, dan berdaya saing global.

Pelaksanaan Indo Livestock 2026 akan menitikberatkan pada penguatan hilirisasi industri, peningkatan investasi, serta percepatan swasembada protein hewani di Indonesia. Pameran ini akan diselenggarakan pada 16-18 Juni 2026, di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2, Tangerang, bersamaan dengan Indo Feed, Indo Dairy, Indo Agrotech, Indo Vet, dan Indo Fisheries 2026 Expo & Forum.

Sinergi lintas subsektor ini diharapkan mampu menghadirkan ekosistem industri yang berkesinambungan, sekaligus memperluas peluang kolaborasi di tingkat nasional maupun internasional.

Sebagai highlight utama, untuk pertama kalinya Indo Livestock 2026 akan menghadirkan Indo Livestock Grand Championship. Kompetisi ini difokuskan pada ternak ruminansia, khususnya sapi dan domba, sebagai upaya mendorong peningkatan mutu genetik dan standar kualitas di tingkat peternak nasional. Kehadirannya tidak hanya menjadi ajang unjuk kualitas ternak, tetapi juga sarana pertukaran pengalaman, ruang kolaborasi, serta penguatan jejaring antar pelaku industri.

Adapun program unggulan lainnya turut memperkaya rangkaian kegiatan, mulai dari Youth Farmers Day bertema “From Farm to Fame” yang menjadi wadah bagi generasi muda, startup, dan komunitas untuk mengeksplorasi inovasi di sektor peternakan. Selain itu, terdapat Zona Farmpreneurship yang akan menghadirkan berbagai model bisnis dan solusi peternakan modern bagi calon wirausaha dan investor. Seluruh rangkaian ini diperkuat dengan kegiatan business matchmaking, forum edukasi, serta presentasi teknis produk yang mendorong adopsi teknologi dan pengembangan industri peternakan.

Sebagai bagian dari dukungan terhadap peningkatan kualitas gizi masyarakat, Indo Livestock 2026 juga menginisiasi Sosialisasi SDTI (Susu, Daging, Telur, Ikan) dengan tema “Gizi Seimbang Generasi Gemilang”. Program ini bertujuan meningkatkan kesadaran akan pentingnya konsumsi protein hewani dan pola makan sehat dengan target utama masyarakat luas, khususnya orang tua, tenaga pendidik, dan generasi muda.

Dengan skala yang semakin diperluas, penyelenggaraan ke-19 pameran internasional ini diproyeksikan menghadirkan lebih dari 600 peserta pameran dari 40 negara, termasuk 12 paviliun negara resmi. Ajang ini menargetkan kehadiran 20.000 pengunjung profesional yang terdiri dari para pemimpin industri, inovator, pembuat kebijakan, distributor, akademisi, peneliti, pelaku usaha, dan buyers internasional. Target tersebut mencerminkan besarnya potensi kolaborasi dan dampak yang ingin dicapai melalui Indo Livestock 2026 Expo & Forum.

Rangkaian koordinasi dan persiapan yang intensif antara Ditjen PKH Kementan dan Napindo ditujukan untuk mengoptimalkan pelaksanaan Indo Livestock 2026. Sinergi yang terbangun diharapkan mampu memberikan dampak nyata bagi pengembangan industri peternakan nasional serta berkontribusi dalam memperkuat ketahanan dan kedaulatan pangan. (INF)

MENAKAR MASA DEPAN INTEGRASI SAPI-SAWIT DALAM 3RD ICOP CONFERENCE DI RIAU

Prof Nahrowi (kiri), bersama Dr Syahrial Abdi (tengah), dan Ir Joko Irianto (kanan), dalam Opening Ceremony 3rd ICOP Conference 2026. (Foto-foto: Infovet/Sadarman)

Rabu (8/4/2026). Bertempat di Bertuah Hall, Hotel Pangeran Pekanbaru, Riau, resmi dibuka 3rd Integrated Cattle and Oil Palm (ICOP) Conference 2026. Perhelatan yang digelar secara hybrid ini mengusung tema “Enhancing Food Security through Regenerative Agriculture in Integrated Cattle-Oil Palm System.”

Pilihan Pekanbaru sebagai tuan rumah didasarkan pada posisi strategis Riau sebagai pemilik lahan kelapa sawit terluas di Indonesia, menjadikannya laboratorium hidup bagi sistem integrasi.

Seminar ini tidak main-main dalam menghadirkan bobot keilmuan, pakar lintas benua berkumpul, mulai dari Prof Luki Abdullah dari Centras IPB University, hingga ahli internasional seperti Richard ArmstrongSlaney, Assoc Prof Maja Slingerland, Dr Mohd Azid Kabul, serta Prof HenkHogeveen dari Wageningen University. Kolaborasi global ini bertujuan merumuskan formula terbaik dalam menerapkan regenerative agriculture di ekosistem sawit.

Ketua Panitia Pelaksana, Drh Arifin Budiman Nugraha, menekankan bahwa inti dari kesuksesan ICOP adalah transformasi pola pikir. Jika selama ini pemilik kebun merasa khawatir ternak akan merusak tanaman, edukasi konsisten melalui ajang ini berhasil mengikis hambatan psikologis tersebut.

Integrasi kini dipandang bukan sebagai beban operasional, melainkan nilai tambah bagi kedua komoditas. Melalui Sistem Integrasi Sapi-Kelapa Sawit (SISKA), sapi mendapatkan pakan hijauan di sela pohon sawit, sementara perkebunan menerima pupuk organik gratis, menciptakan siklus nutrisi tertutup yang memulihkan ekosistem tanah sekaligus memproduksi protein hewani.

Apresiasi besar datang dari Pemerintah Provinsi Riau. Dr Syahrial Abdi mewakili Pj Gubernur SF Hariyanto, menegaskan komitmen untuk mentransformasi Riau menjadi lumbung ternak nasional melalui akselerasi program SISKA. Namun, ia juga memberikan catatan strategis bahwa ambisi besar ini menuntut kerja keras kolektif, terutama dalam memperkuat edukasi bagi pekebun swadaya dan penguatan infrastruktur pendukung.

Senada dengan hal tersebut, Ir Joko Irianto dari GAPENSISKA menyoroti bahwa jika potensi lahan sawit Riau dimaksimalkan, defisit daging nasional yang selama ini bergantung pada impor dapat segera teratasi.

3rd ICOP Conference 2026 diselenggarakan di Pekanbaru, Riau.

Dukungan akademis pun mengalir kuat, salah satunya Dr Alim Setiawan Slamet dari IPB University, yang menyatakan bahwa Riau memiliki kewajiban moral mendukung SISKA demi pemenuhan daging nasional.

Sementara itu, Dekan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, Dr Arsyadi Ali, menekankan filosofi “Tiga Tungku Sejarangan”, kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan akademisi, sebagai fondasi utama agar program ini tidak hanya menjadi konsep di atas kertas, tetapi memberikan dampak instan bagi kemajuan sektor peternakan.

Dari sisi kebijakan teknis, Dr Ir Tri Melasari yang mewakili Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, menjelaskan bahwa SISKA adalah solusi cerdas untuk menekan biaya pakan, yang merupakan komponen biaya terbesar dalam peternakan.

Dengan memanfaatkan “piring makan” alami di bawah kanopi sawit, populasi sapi dapat ditambah secara cepat tanpa merusak operasional perkebunan. Meski tantangan berupa keengganan beberapa korporasi masih ada, 3rd ICOP Conference 2026 hadir sebagai bukti nyata bahwa manajemen yang tepat justru meningkatkan produktivitas sawit melalui perbaikan struktur tanah.

Implementasi SISKA kini telah memiliki payung hukum yang kuat melalui Permentan No. 105/2014. Hasilnya mulai terlihat pada lonjakan populasi di berbagai sentra. Di Riau sendiri, populasi sapi integrasi melesat dari estimasi awal 15.000 ekor menjadi lebih dari 150.000 ekor pada 2026. Keberhasilan serupa juga tercatat di Kalimantan Selatan melalui program “SISKA KU INTIP” yang kini melampaui 50.000 ekor, serta Kalimantan Timur yang mencapai 45.000 ekor demi memenuhi kebutuhan daging di Ibu Kota Nusantara (IKN).

Selain peningkatan populasi, efisiensi biaya menjadi daya tarik utama bagi para pelaku usaha. Penghematan pupuk kimia hingga 30% berkat peran sapi sebagai “pabrik pupuk berjalan” telah membuktikan bahwa regenerative agriculture memberikan dampak ekonomi langsung.

Penurunan biaya pakan sebesar 30-40% juga memberikan napas baru bagi target pengurangan impor sapi hidup. Dengan sinergi yang terus menguat, pembukaan perhelatan 3rd ICOP Conference 2026 yang dipandu oleh Dr Windu Negara ini ditutup dengan optimisme bahwa swasembada daging melalui jutaan hektare kebun sawit kini telah menjadi keniscayaan yang nyata. (Sadarman)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer