-->

DIGELAR DI IKN, KONGRES XX PDHI BAHAS KEDAULATAN PANGAN DAN PERLINDUNGAN SATWA

Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono (tengah) memberikan cinderamata kepada Ketua Umum PB PDHI, M. Munawaroh (kedua kiri) dalam Kongres XX PDHI. (Foto-foto: Humas Otorita IKN/Deden & Istimewa)

Ibu Kota Nusantara (IKN) terpilih menjadi tempat pembukaan penyelenggaraan Kongres XX Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI). Pembukaan kongres digelar di Kantor Bersama 3, Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) Nusantara, Kamis (15/10/2026).

Kongres yang mengangkat tema “Sinergi Dokter Hewan Mewujudkan Kedaulatan Pangan Nasional” ini mempertemukan para dokter hewan dari berbagai daerah di Indonesia bersama pemerintah dan pemangku kepentingan bidang veteriner. Kongres menjadi ruang pembahasan mengenai peran profesi dokter hewan dalam mendukung kesehatan hewan, keamanan pangan, kesehatan masyarakat, serta perlindungan lingkungan.

Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, menyambut penyelenggaraan kongres tersebut di KIPP Nusantara. Basuki menilai bahwa hadirnya PDHI penting bagi Nusantara, khususnya pengalamannya dalam bidang kesehatan hewan dan perlindungan lingkungan.

“Selamat datang di Nusantara, saya menyimak apa yang disampaikan oleh Bapak Ketum dan Ibu Nurhadi tadi, bahwa salah satu peran strategis dokter hewan tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga meningkatkan kesehatan hewan. Saya sekaligus bercerita, saya sendiri punya ayam, kenapa saya pelihara, karena saya ingin kalau sudah berhasil bisa diberikan ke desa-desa di Sepaku untuk menangani kasus stunting,” kata Basuki melalui siaran resmi Otorita IKN.

Foto bersama seluruh peserta Kongres XX PDHI.

Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Nuryani Zainuddin, turut mengapresiasi kegiatan ini. Ia menyoroti kongres bukan hanya sekadar seremonial, melainkan refleksi atas perjalanan profesi dokter hewan di Indonesia.

“Saya menyampaikan apresiasi kepada Pengurus Besar PDHI, serta seluruh pihak yang telah berkontribusi, termasuk Otorita IKN yang telah memfasilitasi penyelenggaraan kongres ini. Kongres ke-20 PDHI merupakan momentum penting bagi perjalanan organisasi profesi dokter hewan Indonesia,” ujar Nuryani.

Foto bersama peserta Kongres XX PDHI dan para undangan.

Apresiasi ini turut direspons langsung oleh Ketua Umum Pengurus Besar PDHI, Dr Drh M. Munawaroh MM, yang turut mengajak seluruh peserta sesuai dengan pesan yang disampaikan Kepala Otorita IKN kepadanya.

“Atas nama PDHI, saya mengucapkan selamat datang kepada seluruh delegasi dan terima kasih kepada Bapak Kepala Otorita IKN sehingga acara kongres ini dapat terselenggara di IKN,” katanya.

Selain pembukaan Kongres XX PDHI, rangkaian kegiatan juga diisi dengan Sosialisasi Zoonosis dan Animal Rescue. Sosialisasi ini membahas pencegahan penyakit yang dapat menular antara hewan dan manusia, sekaligus penanganan dan penyelamatan satwa dalam situasi yang mengancam keselamatannya.

Kegiatan Sosialisasi Zoonosis dan Animal Rescue.

Dalam pemaparan mengenai mitigasi risiko zoonosis pada kebakaran hutan, mengangkat pentingnya pendekatan One Health yang menghubungkan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Kebakaran hutan dapat memicu perpindahan satwa dari habitatnya sehingga meningkatkan kemungkinan interaksi dengan manusia maupun hewan domestik, termasuk risiko penularan penyakit lintas spesies.

Pembahasan tersebut juga menekankan perlunya surveilans, penilaian risiko bersama, komunikasi risiko kepada masyarakat, dan penanganan terpadu antarsektor. Sementara itu, materi animal rescue melengkapi pembahasan melalui pendekatan penyelamatan satwa dan hewan peliharaan dalam situasi darurat, termasuk ketika terjadi kebakaran hutan.

Melalui penyelenggaraan Kongres XX PDHI dan sosialisasi zoonosis serta animal rescue, diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan mengenai kesehatan hewan, keselamatan satwa, dan pencegahan penyakit. (INF)

FIKKIA UNAIR BANYUWANGI LAHIRKAN DOKTER HEWAN LAGI

Pose bersama usai pelantikan dan pengambilan sumpah dokter hewan periode II FIKKIA UNAIR Banyuwangi. (Foto: Infovet/Heru)

Senin (28/9/2026), Universitas Airlangga (UNAIR) Banyuwangi kembali melahirkan dokter hewan baru sebanyak 24 orang pada acara pelantikan dan pengambilan sumpah dokter hewan periode II yang dibuka Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA), Dr dr Rahadian Indarto Susilo SpBS (K), bertempat di Pendopo Bupati Graha Shaba Suagata Banyuwangi.

Dekan FIKKIA UNAIR Banyuwangi dalam sambutannya mengucapkan syukur atas dukungan Pemkab Banyuwangi untuk kemajuan kedokteran hewan UNAIR Banyuwangi dengan disediakannya lahan untuk pembangunan gedung baru dan fasilitas kampus lainnya. Ia juga menyampaikan selamat atas diraihnya gelar sebagai dokter hewan dan fakultas akan mengikuti perjalanan dokter hewan baru dalam bekerja dan berkarya. “Jadilah orang yang bermanfaat, bekerja keras, dan selalu membawa nama baik almamater,” katanya.

Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI), Drh Andi Wijanarko, yang turut hadir juga memberikan pesan agar seorang dokter hewan harus mempunyai kompetensi dasar, cara berpikir profesional, berintegritas, memiliki kemampuan berkomunikasi, serta kemampuan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

“Hari ini saudara lulus sebagai dokter hewan, tetapi sesungguhnya hari ini saudara baru memiliki pendidikan yang sebenarnya, pendidikan dari kehidupan, masyarakat, pasien peternak, klien, senior dan pengalaman. Dokter hewan harus siap bekerja di mana saja di wilayah Indonesia, maka jadilah dokter hewan yang mempunyai kompeten dalam ilmu, berintegritas dalam profesi, dan mempunyai empati dalam pengabdian,” ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Bupati Banyuwangi, Ir H. Mujiono MSi, menambahkan dokter hewan baru mendapat amanah untuk menjaga kesehatan hewan, menjamin keamanan pangan, melindungi kehidupan peternak, dan ikut melindungi kesehatan manusia.

“Banyuwangi telah memiliki basis peternakan rakyat, kolaborasi antara Pemkab Banyuwangi dengan FIKKIA UNAIR Banyuwangi akan terus berlanjut, sehingga secara langsung akan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Banyuwangi. Semoga dengan kolaborasi dan sinergi ini, ke depan akan menjadi kampus yang maju dan terdepan. Selamat bekerja, mudah-mudahan ilmu bermanfaat dan mensejahterakan masyarakat,” katanya. (HR)

INFOVET ACADEMY, DARI INFORMASI MENJADI KOMPETENSI

Di dunia peternakan yang terus berubah, informasi saja tidak cukup. Regulasi obat hewan berkembang, menajemen kesehatan ternak semakin kompleks, dan strategi budi daya membutuhkan pemahaman yang terus diperbarui.

Karena itu, Infovet Academy hadir untuk membantu praktisi, dokter hewan, pelaku industri, dan pembudidaya mengubah informasi kompetensi yang bisa diterapkan.

Apa yang didapat?
- Materi praktis dan terstandar dari pakar dan praktisi berpengalaman
- Akses belajar fleksibel, on-demand
- E-sertifikat resmi setelah menyelesaikan program
- Materi dapat dipelajari ulang dan tersedia dalam format ringkasan praktis

Program kelas populer:
- Panduan Lengkap Pendaftaran Obat Hewan
- Sterilisasi Hewan Kesayangan dalam Perspektif Medis

Jangan biarkan kompetensi Anda berhenti pada pengalaman lama. Upgrade pengetahuan, tingkatkan keterampilan, dan siapkan diri menghadapi tantangan industri peternakan ke depan.

Daftar sekarang di Infovet Academy:
WhatsApp CS: 0813-1631-2042

Dari informasi menjadi kompetensi. Investasi terbaik untuk masa depan profesi Anda.
https://www.instagram.com/reel/DdC_4qBB8jn/?stkn=dmNoNjBkbTFudnR4

STATUS KESEHATAN TERNAK, PILAR UTAMA PETERNAKAN DAN LINGKUNGAN BERKELANJUTAN

Di tengah meningkatnya kebutuhan pangan asal hewan untuk pemenuhan gizi nasional (seperti program Makan Bergizi Gratis – MBG) dan tuntutan global terhadap praktik usaha yang ramah lingkungan, sektor peternakan dihadapkan pada tantangan besar. Selain produktivitas yang tinggi, peternakan juga dituntut berkelanjutan secara ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Dalam konteks ini, satu aspek kunci yang sering luput dari perhatian adalah status kesehatan ternak. Padahal, yang merupakan pilar utama untuk mewujudkan sustainable livestock farming atau peternakan berkelanjutan.

Status kesehatan ternak mencerminkan kondisi fisik, fisiologis, dan bebas penyakit pada hewan ternak. Ternak yang sehat tidak hanya menghasilkan produk yang aman dan berkualitas, tetapi juga lebih efisien dalam memanfaatkan pakan, memiliki fungsi reproduksi yang baik, serta berkontribusi nyata pada kondisi ekonomi dan kesejahteraan peternak. Sebaliknya, ternak yang sakit dapat menjadi sumber kerugian ekonomi signifikan, ancaman kesehatan masyarakat, dan tekanan terhadap lingkungan.

Efisiensi Produksi sebagai Kunci Keberlanjutan

Di dalam sistem peternakan berkelanjutan, efisiensi menjadi kata kunci. Ternak yang sehat mampu mengonversi pakan menjadi daging, susu, atau telur secara optimal. Hal ini berarti penggunaan sumber daya/ biomassa seperti pakan, air, dan lahan menjadi lebih hemat dan ekonomis. Dengan efisiensi yang tinggi, emisi gas rumah kaca per satuan produk pun dapat ditekan, sejalan dengan upaya mitigasi perubahan iklim. Sebagai contoh solusi, adalah dengan dimulainya penerapan Smart/Precision Farming untuk peningkatan produksi dan efisiensi usaha peternakan.

Sebaliknya, ternak sakit sering kali mengalami penurunkan nafsu makan, perlambatan pertumbuhan, pengurangan produk hasil ternak dan peningkatkan risiko kematian. Kondisi ini mendorong peternak untuk mengafkir ternak secara dini (early culling), mengganti (replacement/restocking) ternak, menambah populasi atau memperpanjang masa pemeliharaan, yang pada akhirnya meningkatkan jejak lingkungan atau jejak karbon (carbon footprint). Dengan kata lain, menjaga ternak tetap sehat sama artinya dengan menjaga keseimbangan antara produksi dan kelestarian lingkungan.

Pengelolaan Pencemaran dan Limbah Peternakan

Peternakan berkelanjutan tidak dapat dipisahkan dari upaya pengendalian pencemaran dan limbah. Aktivitas peternakan menghasilkan limbah kotoran ternak, sisa pakan, air limbah, serta emisi gas yang berpotensi mencemari tanah, air, dan udara di sekitarnya. Jika tidak dikelola dengan baik, limbah tersebut dapat menurunkan kualitas lingkungan, mengganggu kesehatan masyarakat, dan mempercepat penyebaran penyakit di antara ternak itu sendiri. Oleh karenanya, pengelolaan limbah menjadi bagian penting dari sistem kesehatan dan manajemen peternakan.

Pengelolaan limbah dapat dilakukan melalui penerapan kebersihan kandang, sistem drainase yang baik, serta pemanfaatan kotoran ternak sebagai pupuk organik atau sumber energi biogas. Ternak yang sehat cenderung menghasilkan limbah yang lebih mudah dikelola, sehingga membantu mengurangi pencemaran lingkungan dan jejak karbon peternakan. Dengan pengelolaan limbah yang tepat dan efektif, aktivitas peternakan tidak hanya menjaga kelestarian lingkungan sekitar, tetapi juga menciptakan hubungan yang harmonis dengan masyarakat sekitar dan mendukung keberlanjutan usaha dalam jangka panjang.

Pengecekan Status Kesehatan dan Dokumen di Check Point Dilakukan Untuk Mencegah Penyebaran Penyakit
(Foto : Istimewa)


Kesehatan Masyarakat, Kesejahteraan Hewan dan Tanggung Jawab Sosial

Peran kesehatan ternak tidak berhenti di kandang. Penyakit hewan, terutama yang bersifat zoonosis, dapat menular ke manusia melalui produk ternak atau kontak langsung. Kasus flu burung, antraks, hingga bruselosis menjadi pengingat bahwa kesehatan ternak berkaitan erat dengan kesehatan manusia.

Pendekatan One Health yang menekankan integrasi antara kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan menjadi semakin relevan dalam pembangunan peternakan berkelanjutan. Ternak yang sehat menghasilkan produk yang aman dikonsumsi, mengurangi risiko penularan penyakit kepada masyarakat, serta meningkatkan kepercayaan dan rasa aman bagi konsumen. Dalam jangka panjang, hal ini memperkuat posisi dan daya saing produk peternakan baik di pasar domestik maupun global.

Peternakan berkelanjutan juga memposisikan kesejahteraan hewan sebagai prinsip utama. Kesehatan ternak menjadi indikator langsung dari tingkat kesejahteraan tersebut. Ternak yang dipelihara dengan manajemen kesehatan yang baik, melalui pencegahan penyakit, sanitasi kandang, dan praktik-praktik beternak yang baik (good farming practices), menunjukkan bahwa aktivitas usaha peternakan dikelola dengan bertanggung jawab dengan mengedepankan prinsip kesejahteraan hewan.

Dewasa ini, masyarakat pun semakin kritis terhadap asal-usul produk pangan. Praktik peternakan yang memperhatikan kesehatan dan kesejahteraan ternak dinilai lebih dapat diterima secara sosial. Hal ini membuka peluang nilai tambah bagi peternak, terutama dalam menghadapi pasar yang mengutamakan aspek keberlanjutan dan etika produksi.

Menatap Masa Depan Peternakan melalui Manajemen Kesehatan dan Kebijakan

Menjaga status kesehatan ternak tidak bisa dilakukan secara sporadis. Diperlukan manajemen kesehatan yang terencana, mulai dari biosekuriti, vaksinasi, monitoring penyakit (deteksi dini), hingga penggunaan obat hewan yang bijak. Peran tenaga kesehatan hewan (dokter hewan dan paramedik veteriner), penyuluh pertanian, dan dukungan kebijakan pemerintah menjadi sangat penting dalam sistem ini.

Pemerintah dan pemangku kepentingan diharapkan terus mendorong program pengendalian penyakit, penguatan sistem surveilans, serta edukasi peternak. Disamping itu, kolaborasi dengan perguruan tinggi dan pusat penelitian menjadi penting dalam upaya kebaruan metode, inovasi dan analisis program pengendalian. Investasi pada kesehatan ternak sejatinya adalah investasi jangka panjang bagi keberlanjutan sektor peternakan nasional.

Di era pembangunan berkelanjutan, kesehatan ternak bukan lagi isu teknis semata, melainkan strategi utama. Dengan ternak yang sehat, peternakan dapat berjalan lebih produktif, ramah lingkungan, dan bertanggung jawab secara sosial. Status kesehatan ternak adalah jembatan yang menghubungkan kepentingan peternak, konsumen, dan lingkungan.

Peternakan berkelanjutan tidak akan terwujud tanpa perhatian serius terhadap kesehatan ternak. Menjaga ternak tetap sehat berarti menjaga masa depan pangan nasional, gizi dan kesehatan masyarakat, kesejahteraan peternak, dan keberlanjutan bumi. 

 Oleh: Dr. Drh. Ardilasunu Wicaksono, MSi

1.     Dosen Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis, IPB University

2.     Sekretaris Program Studi Doktor Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, IPB University

KEMERIAHAN PERINGATAN HUT PDHI KE - 72 DAN PENGANUGERAHAN PDHI AWARD

Pemotongan Tumpeng Secara Simbolis Memperingati HUT PDHI Ke-72
(Foto : CR)

Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) melaksanakan peringatan hari ulang tahun yang ke-72 pada Sabtu, 11 Januari 2025, di Merlynn Park Hotel, Jakarta Pusat. Kegiatan puncak perayaan HUT ini tambah semarak dengan diberikannya Penganugerahan PDHI Award. 

Acara tersebut dihadiri oleh anggota PDHI dari seluruh Indonesia. Tujuan dari penganugerahan ini yakni memberikan apresiasi kepada dokter hewan serta insan selain dokter hewan yang telah berkontribusi besar dalam dunia kedokteran hewan, kesehatan, serta kesejahteraan hewan di Indonesia.

Membuka acara dengan sambutannya, Ketua Umum PDHI, drh Muhammad Munawaroh menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh anggota yang telah berperan dalam memajukan profesi kedokteran hewan di tanah air. Ia mengungkapkan bahwa selama 72 tahun, PDHI telah berkembang pesat dan berperan penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan hewan, melindungi kesejahteraan hewan, serta menjaga kesehatan masyarakat melalui pencegahan penyakit zoonosis.

"Saya berharap di usianya yang ke -72 PDHI semakin solid, saya juga berharap jumlah dokter hewan di Indonesia akan terus bertambah agar dapat memenuhi kebutuhan di seluruh Indonesia. Saat ini jumlahnya sangat sedikit, tidak sampai 1% dari jumlah penduduk, sehingga semoga kedepannya universitas-universitas yang belum memiliki program studi kedokteran hewan segera membuka program tersebut,” ujarnya.

Dr. Munawaroh juga menambahkan bahwa PDHI berkomitmen untuk terus meningkatkan kompetensi dokter hewan dan peran mereka dalam menjaga kesehatan hewan, lingkungan, dan manusia. PDHI juga bertekad untuk mendukung pengembangan riset dan inovasi di bidang kedokteran hewan. Ia juga sedikit menyinggung perihal UU Kedokteran Hewan yang masih dalam tahap pembahasan di DPR, menurutnya UU tersebut penting dalam memperkuat profesi dokter hewan di Indonesia.

Apresiasi dari Dirjen PKH

Dalam kesempatan yang sama, Dr drh Agung Suganda, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH), menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada PDHI yang selalu aktif sebagai mitra dalam mendukung pembangunan subsektor peternakan dan kesehatan hewan. Ia mengingatkan bahwa keberadaan dokter hewan sangat vital, terutama dengan perubahan iklim global dan cuaca ekstrem yang telah memicu peningkatan penyakit hewan serta munculnya penyakit baru, yang menjadi tantangan yang harus dihadapi.

“Melalui HUT PDHI ini, saya berharap kita dapat merefleksikan pencapaian yang telah diraih dan merencanakan langkah-langkah strategis untuk terus memajukan profesi dokter hewan di Indonesia. Sinergi dan kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, organisasi, masyarakat, dan profesi lainnya sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi hewan, yang tentu akan berdampak pada kesehatan dan kesejahteraan manusia,” tambahnya.

Testimoni Tokoh Penting

Acara ini turut dihadiri oleh pejabat pemerintah, termasuk Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi, Rahmat Shah selaku Ketua Perhimpunan Kebun Binatang se-Indonesia, serta Ketua Yayasan Arsari, Hashim Djojohadikusumo, yang merupakan adik dari Presiden Indonesia Prabowo Subianto.

Wakil Menteri Transmigrasi, Viva Yoga Mauladi, menegaskan pentingnya peran dokter hewan dalam memenuhi kebutuhan protein hewani dan mencegah penyakit hewan di Indonesia. Meskipun jumlah tenaga kesehatan hewan masih jauh dari ideal, Viva Yoga mengajak para dokter hewan untuk tetap optimis dalam mendukung program makan bergizi gratis.

“Sayangnya, dari ribuan perguruan tinggi, hanya 14 yang memiliki Fakultas Kedokteran Hewan (FKH),” ujar alumni FKH Universitas Udayana ini. Ia menambahkan bahwa Indonesia saat ini membutuhkan tambahan 50.000 dokter hewan untuk mendukung berbagai program kesehatan hewan dan ketahanan pangan.

Viva Yoga juga mengungkapkan bahwa DPR tengah memperjuangkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Pendidikan dan Pelayanan Kedokteran Hewan yang telah masuk dalam program legislasi nasional (Prolegnas). Ia optimistis RUU tersebut dapat disahkan dalam waktu satu tahun jika mendapat dukungan mayoritas fraksi di DPR.

“Ini demi kebaikan masyarakat, bangsa, dan negara,” tegasnya.

Dalam mendukung program makan bergizi gratis, Viva Yoga menekankan pentingnya peran dokter hewan dalam memastikan ketersediaan protein hewani yang berkualitas dan aman, serta mengurangi ketergantungan pada impor protein hewani.

Hashim Djojohadikusumo yang hadir dan menerima penghargaan dalam kategori Outstanding Contributor Non-Vet, menyampaikan kekagumannya terhadap pada dokter hewan Indonesia. 

“Saya sangat surprise dengan acara ini karena banyak penerima penghargaan berasal dari praktisi satwa liar. Pemberian penghargaan ini memperkuat pemahaman saya akan tupoksi dokter hewan dalam menjaga keamanan pangan, yang sejalan dengan program unggulan Presiden Prabowo Subianto, yaitu makan bergizi dan minum susu gratis untuk siswa sekolah,” ujarnya. (CR)


UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT SIAP DIRIKAN FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN

Penandatangan MoU ULM Untuk Mendirikan Fakultas Kedokteran Hewan
(Foto : Istimewa)


Gubernur Kalimantan Selatan, Muhidin menyambut baik dan mendukung penuh pendirian Program Studi Kedokteran Hewan di Universitas Lambung Mangkurat. Program ini diharapkan mampu mengatasi berbagai tantangan di sektor peternakan dan kesehatan hewan serta mendorong potensi daerah menjadi lebih maksimal.

Hal tersebut disampaikannya melalui Asisten Administrasi Umum Setda Prov Kalsel, Ahmad Bagiawan pada kegiatan Lokakarya Pendirian Program Studi Kedokteran Hewan di Universitas Lambung Mangkurat di Banjarmasin, Senin (23/12/2024).

Kalsel merupakan salah satu provinsi dengan potensi peternakan yang begitu besar, yang sangat membutuhkan kehadiran tenaga dokter hewan yang profesional, kompeten, dan berdaya saing.

Gia menyebutkan, dalam beberapa tahun terakhir, sektor peternakan di Kalsel telah menunjukkan perkembangan positif, dengan program-program strategis yang telah menjadi role model nasional.

“Kita juga memiliki berbagai keunggulan, diantaranya peternakan itik Kalsel yang dikenal sebagai sentra produksi itik. Terutama itik alabio yang merupakan plasma nutfah Kalsel yang telah banyak disistribusikan dibeberapa provinsi di Indonesia. Itik telah menjadi salah satu komoditas unggulan daerah dan melalui program Sitii Hawa Lari telah diadopsi oleh provinsi lain di Indonesia dan terbukti mampu meningkatkan pendapatan peternak,” kata Gia.

Selanjutnya Gia menyampaikan, program peternakan sapi potong Kalsel mempunyai potensi lahan yang luas, terutama pada perkebunan sawit yang dapat diintegrasikan melalui program Sistem Integrasi Kelapa Sawit Sapi Berbasis Kemitraan Inti Plasma. 

Kalsel memiliki peluang besar untuk mencapai swasembada sapi, kerbau rawa, keberadaan kerbau rawa di Kabupaten Hulu Sungai Utara adalah aset budaya dan ekonomi yang harus terus dijaga perkembangan dan kelestariannya karena kerbau juga merupakan salah satu galur yang ada di Kalsel yang dikenal kerbau Kalsel/rawa.

Dengan potensi pasar yang besar, kerbau Kalsel/rawa bisa menjadi produk unggulan khas Kalsel jika pengembangannya didukung oleh riset dan pendampingan berkelanjutan serta sektor unggas dan kambing, populasi ayam ras dan ayam buras di Kalsel terus meningkat. Begitu pula dengan kambing yang mulai dilirik sebagai alternatif peternakan produktif bagi masyarakat.

“Demikian juga dengan sektor perikanan, Kalsel mempunyai potensi yang sangat besar untuk dikembangkan tidak hanya skala nasional melainkan juga skala internasional,” ucapnya.

​Oleh karena itu, kehadiran Program Studi Kedokteran Hewan di Universitas Lambung Mangkurat menjadi sangat strategis. Program ini diharapkan akan menjawab kebutuhan tenaga dokter hewan.

“Fakultas ini nantinya akan menjadi pusat riset dan inovasi di bidang kesehatan hewan, manajemen peternakan, perikanan serta pengembangan teknologi pakan yang lebih efisien,” kata Gia.

​Kedepan diharapkan dengan, hadirnya fakultas ini, juga dapat​ membangun ekosistem peternakan dan kesehatan hewan yang berkelanjutan dengan pendekatan kolaboratif antara pemerintah, perguruan tinggi, swasta, dan peternak, kita dapat membangun ekosistem peternakan yang berkelanjutan dan berdaya saing tinggi.

“Saya percaya, saya juga mengajak seluruh pihak baik pemerintah daerah, akademisi, sektor swasta, maupun masyarakat untuk bersinergi mendukung pendirian program ini. Kolaborasi yang solid akan menjadi kunci sukses bagi kemajuan peternakan dan kesejahteraan masyarakat Kalsel,” jelasnya. (INF)

GEBRAKAN AFFAVETI: SINERGISME DOKTER HEWAN DAN APOTEKER DI BIDANG OBAT HEWAN

Seminar sinergisme dokter hewan dan apoteker di bidang obat hewan. (Foto: Dok. Infovet)

Diawali pelantikan pengurus AFFAVETI periode 2024-2029, seminar Gebrakan AFFAVETI "Sinergisme Dokter Hewan dan Apoteker di Bidang Obat Hewan" digelar di Gedung Start Up Center IPB Taman Kencana, Sabtu (24/8/2024).

Sesuai tema yang diangkat, Ketua AFFAVETI, Drh Ni Made Ria Isriyanthi, mengatakan bahwa sinergisme ini menjadi suatu ajang ilmiah untuk bisa berbagi pengetahuan terkait farmasi veteriner ke depan.

"Ini menjadi suatu ajang ilmiah bagaimana kita bisa sharing ke depannya antara dokter hewan dan apoteker," katanya.

Seminar yang dipandu oleh Wakil Ketua I AFFAVETI, Dr Drh Andriyanto MSi, menghadirkan pembicara di antaranya Dr Apt Nunung Yuniarti SF MSi (Fakultas Farmasi, Apotek Veteriner UGM), Drh M. Munawaroh (Ketua PDHI), dan Drh Fadjar Sumping Tjatur Rasa PhD.

"Dengan beragam isu yang ada seperti AMR, medicated feed, kemudian adanya cara pembuatan obat hewan yang baik, dan cara distribusi obat hewan yang baik, sehingga memunculkan peran sinergisme antara apoteker dan dokter hewan," ujar Nunung Yuniarti.

Lebih lanjut dijelaskan, bahwa apotek veteriner memiliki peran utama, yakni menjamin ketersediaan obat hewan, menjamin penggunaan obat hewan yang benar dan aman, menjamin distribusi obat hewan yang benar dan aman, serta menyediakan kebutuhan terapi veteriner meliputi pelayanan resep veteriner, alat kesehatan, dan sarana penunjang lainnya.

Pada kegiatan tersebut juga ditampilkan pleno pembukaan Prodi Farmasi Veteriner SKHB IPB yang disampaikan oleh Dekan Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis, Dr Drh Amrozi, yang mendapat banyak dukungan dari berbagai pihak di antaranya pemerintah, asosiasi, perusahaan, dan lain sebagainya. (RBS)

VISION : BAKTI SOSIAL ALA PDHI JABAR VI

PDHI Jabar VI Sukses Menggelar Bakti Sosial Bertajuk Vison
(Foto : CR)


Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia yang ke-79, Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia Cabang Jawa Barat VI yang meliputi Kota dan Kabupaten Sukabumi, serta Kabupaten Cianjur mengadakan acar bakti sosial bertajuk Vision (Veterinary Social Action). Acara tersebut digelar di Living Plaza Sukabumi pada Minggu 11 Agustus 2024 yang lalu. 

Ketua panitia Vision Drh Muhammad Supika dalam sambutannya menyatakan rasa syukurnya karena acara tersebut banyak mendapat dukungan dari masyarakat, komunitas, dan stakeholder di daerahnya sehingga dapat terlaksana dengan baik. Ia juga mengatakan bahwa acara ini digelar sebagai bentuk pengabdian dokter hewan Indonesia khususnya di area kerja PDHI Jabar VI.

"Sebagaimana semboyan PDHI, manusya mriga satwa sewaka, kami di dalam acara ini berusaha memberikan yang terbaik bagi lingkungan sekitar kami baik dalam urusan kesehatan hewan serta menjamin kualitas bahan pangan asal hewan. Tentunya semua itu adalah bentuk pengabdian kami dalam mewujudkan kesejahteraan manusia melalui dunia hewan," tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama, ketua PDHI Jabar VI yakni Drh Riki Barata dalam sambutannya juga menyatakan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam acara tersebut. Menurutnya ini bukan kali pertama PDHI Jabar VI melakukan kegiatan bakti sosial, dimana setiap tahun acara bakti sosial rutin mereka gelar.

"Kami alhamdulillah setiap tahun proaktif melakukan acara serupa, bentuknya pun berbeda. Pada saat Covid kemarin, kami membagikan 1000 masker kepada masyarakat, kemudian ada juga kegiatan bakti sosial lain yang berkaitan dengan profesi," kata dia.

Dirinya juga berharap agar PDHI Jabar VI dapat terus rutin melaksanakan kegiatan serupa meskipun dengan bentuk yang berbeda tiap tahunnya. Karena menurutnya kegiatan bakti sosial amat krusial selain sebagai ajang eksistensi dan silaturahmi, tetapi juga sebagai pengejawantahan kepedulian dokter hewan kepada masyarakat.

Mewakili PJ Walikota Sukabumi, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kota Sukabumi Adrian Hariadi menyampaikan rasa banggan dan mengapresiasi kegiatan tersebut setinggi - tingginya. Adrian menyebut bahwa PDHI Jabar VI merupakan salah satu mitra strategis Pemerintah Kota Sukabumi yang kiprahnya selalu dinantikan.

"Kami mendukung penuh kegiatan ini, dan juga menyambut baik acara ini. Kebetulan acara seperti ini sudah kesekian kalinya oleh PDHI Jabar VI dan kalau saya melihat dari antusiasme warga, acara ini bisa dibilang sukses. Semoga PDHI Jabar VI tetap eksis dan berkontribusi bagi wilayah kerjanya dengan kegiatan - kegiatan yang positif," tutup Adrian.

Minum Susu dan Makan Telur Sebagai Bentuk Kampanye Gizi
(Foto : CR)


Kegiatan Bermanfaat Nan Edukatif 

Masyarakat Antusias Mendonorkan Darah
(Foto : CR)

Dalam acara Vision tersebut terdapat berbagai rangkaian kegiatan yang dilangsungkan oleh PDHI Jabar VI. Mulai dari senam pagi, pemeriksaan kesehatan hewan gratis, layanan USG gratis, vaksinasi rabies gratis, donor darah, kampanye gizi protein hewani, expo dan bazar, serta acara talk show mengenai nutrisi hewan peliharaan. 

Dalam acara talkshow narasumber yang dihadirkan pun bukan kaleng - kaleng. Bertindak sebagai narasumber yakni Drh Moh Zaenal Abidin Mursyid selaku Veterinary Development Manager dari MARS Pet Nutrition. Talkshow tersebut dimoeratori oleh Drh Wingke yang juga merupakan salah satu dokter hewan praktisi hewan kecil asal Kota Sukabumi.

Semakin Meriah Dengan Adanya Doorprize dan Hadiah
(Foto : CR)

Secara gamblang Drh Abid banyak menjelaskan kepada masyarakat yang hadir akan pentingnya pemberian nutrisi hewan kesayangan secara seimbang. Ditambahkan dengan berbagai tips merawat hewan kesayangan dari Drh Wingke yang semakin membuat acara talkshow semakin meriah. Berbagai pertanyaan dari pemilik hewan pun ditanyakan langsung, sehingga terjadi disuksi yang interaktif dan menarik. 

Pemeriksaan Kesehatan Hewan Gratis
(Foto : CR)

Berdasarkan data yang dihimpun oleh panitia, sekitar 150 ekor hewan kesayangan yang terdiri dari berbagai macam spesies mulai dari kucing, anjing, ayam, dan hewan lain telah diperiksakan oleh tim dokter hewan dalam acara Vision tersebut. 

Dari kegiatan donor darah, sebanyak lebih dari 70 orang yang hadir dalam acara tersebut datang mendonorkan darahnya. Sejatinya ada 100 orang yang mendaftarkan diri, namun karena alasan kesehatan, hanya 70 orang saja yang diperbolehkan mendonorkan darahnya pada hari itu. 

Acara kian meriah dengan dibagikannya doorprize kepada peserta yang hadir. Doorprize diberikan secara diundi bagi mereka yang beruntung dan juga melalui kuis interaktif yang diadakan oleh panitia. Semoga kegiatan serupa dapat dilangsungkan oleh PDHI di cabang lainnya sebagai bentuk kepedulian dan eksistensi dokter hewan Indonesia dalam membangun bangsa. (CR)


ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer