https://www.instagram.com/
INFOVET ACADEMY, DARI INFORMASI MENJADI KOMPETENSI
https://www.instagram.com/
STATUS KESEHATAN TERNAK, PILAR UTAMA PETERNAKAN DAN LINGKUNGAN BERKELANJUTAN
Di tengah meningkatnya kebutuhan pangan asal hewan untuk pemenuhan gizi nasional (seperti program Makan Bergizi Gratis – MBG) dan tuntutan global terhadap praktik usaha yang ramah lingkungan, sektor peternakan dihadapkan pada tantangan besar. Selain produktivitas yang tinggi, peternakan juga dituntut berkelanjutan secara ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Dalam konteks ini, satu aspek
kunci yang sering luput dari perhatian adalah status kesehatan ternak. Padahal,
yang merupakan pilar utama untuk mewujudkan sustainable livestock farming
atau peternakan berkelanjutan.
Status kesehatan ternak
mencerminkan kondisi fisik, fisiologis, dan bebas penyakit pada hewan ternak.
Ternak yang sehat tidak hanya menghasilkan produk yang aman dan berkualitas,
tetapi juga lebih efisien dalam memanfaatkan pakan, memiliki fungsi reproduksi
yang baik, serta berkontribusi nyata pada kondisi ekonomi dan kesejahteraan
peternak. Sebaliknya, ternak yang sakit dapat menjadi sumber kerugian ekonomi
signifikan, ancaman kesehatan masyarakat, dan tekanan terhadap lingkungan.
Efisiensi Produksi sebagai
Kunci Keberlanjutan
Di dalam sistem peternakan
berkelanjutan, efisiensi menjadi kata kunci. Ternak yang sehat mampu
mengonversi pakan menjadi daging, susu, atau telur secara optimal. Hal ini
berarti penggunaan sumber daya/ biomassa seperti pakan, air, dan lahan menjadi
lebih hemat dan ekonomis. Dengan efisiensi yang tinggi, emisi gas rumah kaca
per satuan produk pun dapat ditekan, sejalan dengan upaya mitigasi perubahan
iklim. Sebagai contoh solusi, adalah dengan dimulainya penerapan Smart/Precision
Farming untuk peningkatan produksi dan efisiensi usaha peternakan.
Sebaliknya, ternak sakit sering
kali mengalami penurunkan nafsu makan, perlambatan pertumbuhan, pengurangan
produk hasil ternak dan peningkatkan risiko kematian. Kondisi ini mendorong
peternak untuk mengafkir ternak secara dini (early culling), mengganti (replacement/restocking)
ternak, menambah populasi atau memperpanjang masa pemeliharaan, yang pada
akhirnya meningkatkan jejak lingkungan atau jejak karbon (carbon footprint).
Dengan kata lain, menjaga ternak tetap sehat sama artinya dengan menjaga
keseimbangan antara produksi dan kelestarian lingkungan.
Pengelolaan Pencemaran dan
Limbah Peternakan
Peternakan berkelanjutan tidak
dapat dipisahkan dari upaya pengendalian pencemaran dan limbah. Aktivitas
peternakan menghasilkan limbah kotoran ternak, sisa pakan, air limbah, serta
emisi gas yang berpotensi mencemari tanah, air, dan udara di sekitarnya. Jika
tidak dikelola dengan baik, limbah tersebut dapat menurunkan kualitas
lingkungan, mengganggu kesehatan masyarakat, dan mempercepat penyebaran
penyakit di antara ternak itu sendiri. Oleh karenanya, pengelolaan limbah menjadi
bagian penting dari sistem kesehatan dan manajemen peternakan.
Pengelolaan limbah dapat dilakukan melalui penerapan kebersihan kandang, sistem drainase yang baik, serta pemanfaatan kotoran ternak sebagai pupuk organik atau sumber energi biogas. Ternak yang sehat cenderung menghasilkan limbah yang lebih mudah dikelola, sehingga membantu mengurangi pencemaran lingkungan dan jejak karbon peternakan. Dengan pengelolaan limbah yang tepat dan efektif, aktivitas peternakan tidak hanya menjaga kelestarian lingkungan sekitar, tetapi juga menciptakan hubungan yang harmonis dengan masyarakat sekitar dan mendukung keberlanjutan usaha dalam jangka panjang.
![]() |
| Pengecekan Status Kesehatan dan Dokumen di Check Point Dilakukan Untuk Mencegah Penyebaran Penyakit (Foto : Istimewa) |
Kesehatan Masyarakat, Kesejahteraan
Hewan dan Tanggung Jawab Sosial
Peran kesehatan ternak tidak
berhenti di kandang. Penyakit hewan, terutama yang bersifat zoonosis, dapat
menular ke manusia melalui produk ternak atau kontak langsung. Kasus flu
burung, antraks, hingga bruselosis menjadi pengingat bahwa kesehatan ternak
berkaitan erat dengan kesehatan manusia.
Pendekatan One Health yang
menekankan integrasi antara kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan menjadi semakin
relevan dalam pembangunan peternakan berkelanjutan. Ternak yang sehat
menghasilkan produk yang aman dikonsumsi, mengurangi risiko penularan penyakit
kepada masyarakat, serta meningkatkan kepercayaan dan rasa aman bagi konsumen.
Dalam jangka panjang, hal ini memperkuat posisi dan daya saing produk
peternakan baik di pasar domestik maupun global.
Peternakan berkelanjutan juga memposisikan
kesejahteraan hewan sebagai prinsip utama. Kesehatan ternak menjadi indikator
langsung dari tingkat kesejahteraan tersebut. Ternak yang dipelihara dengan
manajemen kesehatan yang baik, melalui pencegahan penyakit, sanitasi kandang,
dan praktik-praktik beternak yang baik (good farming practices), menunjukkan
bahwa aktivitas usaha peternakan dikelola dengan bertanggung jawab dengan
mengedepankan prinsip kesejahteraan hewan.
Dewasa ini, masyarakat pun semakin
kritis terhadap asal-usul produk pangan. Praktik peternakan yang memperhatikan
kesehatan dan kesejahteraan ternak dinilai lebih dapat diterima secara sosial.
Hal ini membuka peluang nilai tambah bagi peternak, terutama dalam menghadapi
pasar yang mengutamakan aspek keberlanjutan dan etika produksi.
Menatap Masa Depan Peternakan
melalui Manajemen Kesehatan dan Kebijakan
Menjaga status kesehatan ternak
tidak bisa dilakukan secara sporadis. Diperlukan manajemen kesehatan yang
terencana, mulai dari biosekuriti, vaksinasi, monitoring penyakit (deteksi
dini), hingga penggunaan obat hewan yang bijak. Peran tenaga kesehatan hewan
(dokter hewan dan paramedik veteriner), penyuluh pertanian, dan dukungan
kebijakan pemerintah menjadi sangat penting dalam sistem ini.
Pemerintah dan pemangku
kepentingan diharapkan terus mendorong program pengendalian penyakit, penguatan
sistem surveilans, serta edukasi peternak. Disamping itu, kolaborasi dengan
perguruan tinggi dan pusat penelitian menjadi penting dalam upaya kebaruan metode,
inovasi dan analisis program pengendalian. Investasi pada kesehatan ternak
sejatinya adalah investasi jangka panjang bagi keberlanjutan sektor peternakan
nasional.
Di era pembangunan berkelanjutan,
kesehatan ternak bukan lagi isu teknis semata, melainkan strategi utama. Dengan
ternak yang sehat, peternakan dapat berjalan lebih produktif, ramah lingkungan,
dan bertanggung jawab secara sosial. Status kesehatan ternak adalah jembatan
yang menghubungkan kepentingan peternak, konsumen, dan lingkungan.
Oleh: Dr. Drh. Ardilasunu Wicaksono, MSi
1. Dosen Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis, IPB University
2. Sekretaris Program Studi Doktor Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, IPB University
KEMERIAHAN PERINGATAN HUT PDHI KE - 72 DAN PENGANUGERAHAN PDHI AWARD
| Pemotongan Tumpeng Secara Simbolis Memperingati HUT PDHI Ke-72 (Foto : CR) |
Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) melaksanakan peringatan hari ulang tahun yang ke-72 pada Sabtu, 11 Januari 2025, di Merlynn Park Hotel, Jakarta Pusat. Kegiatan puncak perayaan HUT ini tambah semarak dengan diberikannya Penganugerahan PDHI Award.
Acara tersebut dihadiri oleh anggota PDHI dari seluruh Indonesia. Tujuan dari penganugerahan ini yakni memberikan apresiasi kepada dokter hewan serta insan selain dokter hewan yang telah berkontribusi besar dalam dunia kedokteran hewan, kesehatan, serta kesejahteraan hewan di Indonesia.
Membuka acara dengan sambutannya, Ketua Umum PDHI, drh Muhammad Munawaroh menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh anggota yang telah berperan dalam memajukan profesi kedokteran hewan di tanah air. Ia mengungkapkan bahwa selama 72 tahun, PDHI telah berkembang pesat dan berperan penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan hewan, melindungi kesejahteraan hewan, serta menjaga kesehatan masyarakat melalui pencegahan penyakit zoonosis.
"Saya berharap di usianya yang ke -72 PDHI semakin solid, saya juga berharap jumlah dokter hewan di Indonesia akan terus bertambah agar dapat memenuhi kebutuhan di seluruh Indonesia. Saat ini jumlahnya sangat sedikit, tidak sampai 1% dari jumlah penduduk, sehingga semoga kedepannya universitas-universitas yang belum memiliki program studi kedokteran hewan segera membuka program tersebut,” ujarnya.
Dr. Munawaroh juga menambahkan bahwa PDHI berkomitmen untuk terus meningkatkan kompetensi dokter hewan dan peran mereka dalam menjaga kesehatan hewan, lingkungan, dan manusia. PDHI juga bertekad untuk mendukung pengembangan riset dan inovasi di bidang kedokteran hewan. Ia juga sedikit menyinggung perihal UU Kedokteran Hewan yang masih dalam tahap pembahasan di DPR, menurutnya UU tersebut penting dalam memperkuat profesi dokter hewan di Indonesia.
Apresiasi dari Dirjen PKH
Dalam kesempatan yang sama, Dr drh Agung Suganda, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH), menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada PDHI yang selalu aktif sebagai mitra dalam mendukung pembangunan subsektor peternakan dan kesehatan hewan. Ia mengingatkan bahwa keberadaan dokter hewan sangat vital, terutama dengan perubahan iklim global dan cuaca ekstrem yang telah memicu peningkatan penyakit hewan serta munculnya penyakit baru, yang menjadi tantangan yang harus dihadapi.
“Melalui HUT PDHI ini, saya berharap kita dapat merefleksikan pencapaian yang telah diraih dan merencanakan langkah-langkah strategis untuk terus memajukan profesi dokter hewan di Indonesia. Sinergi dan kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, organisasi, masyarakat, dan profesi lainnya sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi hewan, yang tentu akan berdampak pada kesehatan dan kesejahteraan manusia,” tambahnya.
Testimoni Tokoh Penting
Acara ini turut dihadiri oleh pejabat pemerintah, termasuk Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi, Rahmat Shah selaku Ketua Perhimpunan Kebun Binatang se-Indonesia, serta Ketua Yayasan Arsari, Hashim Djojohadikusumo, yang merupakan adik dari Presiden Indonesia Prabowo Subianto.
Wakil Menteri Transmigrasi, Viva Yoga Mauladi, menegaskan pentingnya peran dokter hewan dalam memenuhi kebutuhan protein hewani dan mencegah penyakit hewan di Indonesia. Meskipun jumlah tenaga kesehatan hewan masih jauh dari ideal, Viva Yoga mengajak para dokter hewan untuk tetap optimis dalam mendukung program makan bergizi gratis.
“Sayangnya, dari ribuan perguruan tinggi, hanya 14 yang memiliki Fakultas Kedokteran Hewan (FKH),” ujar alumni FKH Universitas Udayana ini. Ia menambahkan bahwa Indonesia saat ini membutuhkan tambahan 50.000 dokter hewan untuk mendukung berbagai program kesehatan hewan dan ketahanan pangan.
Viva Yoga juga mengungkapkan bahwa DPR tengah memperjuangkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Pendidikan dan Pelayanan Kedokteran Hewan yang telah masuk dalam program legislasi nasional (Prolegnas). Ia optimistis RUU tersebut dapat disahkan dalam waktu satu tahun jika mendapat dukungan mayoritas fraksi di DPR.
“Ini demi kebaikan masyarakat, bangsa, dan negara,” tegasnya.
Dalam mendukung program makan bergizi gratis, Viva Yoga menekankan pentingnya peran dokter hewan dalam memastikan ketersediaan protein hewani yang berkualitas dan aman, serta mengurangi ketergantungan pada impor protein hewani.
Hashim Djojohadikusumo yang hadir dan menerima penghargaan dalam kategori Outstanding Contributor Non-Vet, menyampaikan kekagumannya terhadap pada dokter hewan Indonesia.
“Saya sangat surprise dengan acara ini karena banyak penerima penghargaan berasal dari praktisi satwa liar. Pemberian penghargaan ini memperkuat pemahaman saya akan tupoksi dokter hewan dalam menjaga keamanan pangan, yang sejalan dengan program unggulan Presiden Prabowo Subianto, yaitu makan bergizi dan minum susu gratis untuk siswa sekolah,” ujarnya. (CR)
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT SIAP DIRIKAN FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
![]() |
| Penandatangan MoU ULM Untuk Mendirikan Fakultas Kedokteran Hewan (Foto : Istimewa) |
Gubernur Kalimantan Selatan, Muhidin menyambut baik dan mendukung penuh pendirian Program Studi Kedokteran Hewan di Universitas Lambung Mangkurat. Program ini diharapkan mampu mengatasi berbagai tantangan di sektor peternakan dan kesehatan hewan serta mendorong potensi daerah menjadi lebih maksimal.
Hal tersebut disampaikannya melalui Asisten Administrasi Umum Setda Prov Kalsel, Ahmad Bagiawan pada kegiatan Lokakarya Pendirian Program Studi Kedokteran Hewan di Universitas Lambung Mangkurat di Banjarmasin, Senin (23/12/2024).
Kalsel merupakan salah satu provinsi dengan potensi peternakan yang begitu besar, yang sangat membutuhkan kehadiran tenaga dokter hewan yang profesional, kompeten, dan berdaya saing.
Gia menyebutkan, dalam beberapa tahun terakhir, sektor peternakan di Kalsel telah menunjukkan perkembangan positif, dengan program-program strategis yang telah menjadi role model nasional.
“Kita juga memiliki berbagai keunggulan, diantaranya peternakan itik Kalsel yang dikenal sebagai sentra produksi itik. Terutama itik alabio yang merupakan plasma nutfah Kalsel yang telah banyak disistribusikan dibeberapa provinsi di Indonesia. Itik telah menjadi salah satu komoditas unggulan daerah dan melalui program Sitii Hawa Lari telah diadopsi oleh provinsi lain di Indonesia dan terbukti mampu meningkatkan pendapatan peternak,” kata Gia.
Selanjutnya Gia menyampaikan, program peternakan sapi potong Kalsel mempunyai potensi lahan yang luas, terutama pada perkebunan sawit yang dapat diintegrasikan melalui program Sistem Integrasi Kelapa Sawit Sapi Berbasis Kemitraan Inti Plasma.
Kalsel memiliki peluang besar untuk mencapai swasembada sapi, kerbau rawa, keberadaan kerbau rawa di Kabupaten Hulu Sungai Utara adalah aset budaya dan ekonomi yang harus terus dijaga perkembangan dan kelestariannya karena kerbau juga merupakan salah satu galur yang ada di Kalsel yang dikenal kerbau Kalsel/rawa.
Dengan potensi pasar yang besar, kerbau Kalsel/rawa bisa menjadi produk unggulan khas Kalsel jika pengembangannya didukung oleh riset dan pendampingan berkelanjutan serta sektor unggas dan kambing, populasi ayam ras dan ayam buras di Kalsel terus meningkat. Begitu pula dengan kambing yang mulai dilirik sebagai alternatif peternakan produktif bagi masyarakat.
“Demikian juga dengan sektor perikanan, Kalsel mempunyai potensi yang sangat besar untuk dikembangkan tidak hanya skala nasional melainkan juga skala internasional,” ucapnya.
Oleh karena itu, kehadiran Program Studi Kedokteran Hewan di Universitas Lambung Mangkurat menjadi sangat strategis. Program ini diharapkan akan menjawab kebutuhan tenaga dokter hewan.
“Fakultas ini nantinya akan menjadi pusat riset dan inovasi di bidang kesehatan hewan, manajemen peternakan, perikanan serta pengembangan teknologi pakan yang lebih efisien,” kata Gia.
Kedepan diharapkan dengan, hadirnya fakultas ini, juga dapat membangun ekosistem peternakan dan kesehatan hewan yang berkelanjutan dengan pendekatan kolaboratif antara pemerintah, perguruan tinggi, swasta, dan peternak, kita dapat membangun ekosistem peternakan yang berkelanjutan dan berdaya saing tinggi.
“Saya percaya, saya juga mengajak seluruh pihak baik pemerintah daerah, akademisi, sektor swasta, maupun masyarakat untuk bersinergi mendukung pendirian program ini. Kolaborasi yang solid akan menjadi kunci sukses bagi kemajuan peternakan dan kesejahteraan masyarakat Kalsel,” jelasnya. (INF)
GEBRAKAN AFFAVETI: SINERGISME DOKTER HEWAN DAN APOTEKER DI BIDANG OBAT HEWAN
"Ini menjadi suatu ajang ilmiah bagaimana kita bisa sharing ke depannya antara dokter hewan dan apoteker," katanya.
Seminar yang dipandu oleh Wakil Ketua I AFFAVETI, Dr Drh Andriyanto MSi, menghadirkan pembicara di antaranya Dr Apt Nunung Yuniarti SF MSi (Fakultas Farmasi, Apotek Veteriner UGM), Drh M. Munawaroh (Ketua PDHI), dan Drh Fadjar Sumping Tjatur Rasa PhD.
"Dengan beragam isu yang ada seperti AMR, medicated feed, kemudian adanya cara pembuatan obat hewan yang baik, dan cara distribusi obat hewan yang baik, sehingga memunculkan peran sinergisme antara apoteker dan dokter hewan," ujar Nunung Yuniarti.
Lebih lanjut dijelaskan, bahwa apotek veteriner memiliki peran utama, yakni menjamin ketersediaan obat hewan, menjamin penggunaan obat hewan yang benar dan aman, menjamin distribusi obat hewan yang benar dan aman, serta menyediakan kebutuhan terapi veteriner meliputi pelayanan resep veteriner, alat kesehatan, dan sarana penunjang lainnya.
Pada kegiatan tersebut juga ditampilkan pleno pembukaan Prodi Farmasi Veteriner SKHB IPB yang disampaikan oleh Dekan Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis, Dr Drh Amrozi, yang mendapat banyak dukungan dari berbagai pihak di antaranya pemerintah, asosiasi, perusahaan, dan lain sebagainya. (RBS)
VISION : BAKTI SOSIAL ALA PDHI JABAR VI
| PDHI Jabar VI Sukses Menggelar Bakti Sosial Bertajuk Vison (Foto : CR) |
Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia yang ke-79, Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia Cabang Jawa Barat VI yang meliputi Kota dan Kabupaten Sukabumi, serta Kabupaten Cianjur mengadakan acar bakti sosial bertajuk Vision (Veterinary Social Action). Acara tersebut digelar di Living Plaza Sukabumi pada Minggu 11 Agustus 2024 yang lalu.
Ketua panitia Vision Drh Muhammad Supika dalam sambutannya menyatakan rasa syukurnya karena acara tersebut banyak mendapat dukungan dari masyarakat, komunitas, dan stakeholder di daerahnya sehingga dapat terlaksana dengan baik. Ia juga mengatakan bahwa acara ini digelar sebagai bentuk pengabdian dokter hewan Indonesia khususnya di area kerja PDHI Jabar VI.
"Sebagaimana semboyan PDHI, manusya mriga satwa sewaka, kami di dalam acara ini berusaha memberikan yang terbaik bagi lingkungan sekitar kami baik dalam urusan kesehatan hewan serta menjamin kualitas bahan pangan asal hewan. Tentunya semua itu adalah bentuk pengabdian kami dalam mewujudkan kesejahteraan manusia melalui dunia hewan," tuturnya.
Dalam kesempatan yang sama, ketua PDHI Jabar VI yakni Drh Riki Barata dalam sambutannya juga menyatakan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam acara tersebut. Menurutnya ini bukan kali pertama PDHI Jabar VI melakukan kegiatan bakti sosial, dimana setiap tahun acara bakti sosial rutin mereka gelar.
"Kami alhamdulillah setiap tahun proaktif melakukan acara serupa, bentuknya pun berbeda. Pada saat Covid kemarin, kami membagikan 1000 masker kepada masyarakat, kemudian ada juga kegiatan bakti sosial lain yang berkaitan dengan profesi," kata dia.
Dirinya juga berharap agar PDHI Jabar VI dapat terus rutin melaksanakan kegiatan serupa meskipun dengan bentuk yang berbeda tiap tahunnya. Karena menurutnya kegiatan bakti sosial amat krusial selain sebagai ajang eksistensi dan silaturahmi, tetapi juga sebagai pengejawantahan kepedulian dokter hewan kepada masyarakat.
Mewakili PJ Walikota Sukabumi, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kota Sukabumi Adrian Hariadi menyampaikan rasa banggan dan mengapresiasi kegiatan tersebut setinggi - tingginya. Adrian menyebut bahwa PDHI Jabar VI merupakan salah satu mitra strategis Pemerintah Kota Sukabumi yang kiprahnya selalu dinantikan.
"Kami mendukung penuh kegiatan ini, dan juga menyambut baik acara ini. Kebetulan acara seperti ini sudah kesekian kalinya oleh PDHI Jabar VI dan kalau saya melihat dari antusiasme warga, acara ini bisa dibilang sukses. Semoga PDHI Jabar VI tetap eksis dan berkontribusi bagi wilayah kerjanya dengan kegiatan - kegiatan yang positif," tutup Adrian.
| Minum Susu dan Makan Telur Sebagai Bentuk Kampanye Gizi (Foto : CR) |
Kegiatan Bermanfaat Nan Edukatif
| Masyarakat Antusias Mendonorkan Darah (Foto : CR) |
Dalam acara Vision tersebut terdapat berbagai rangkaian kegiatan yang dilangsungkan oleh PDHI Jabar VI. Mulai dari senam pagi, pemeriksaan kesehatan hewan gratis, layanan USG gratis, vaksinasi rabies gratis, donor darah, kampanye gizi protein hewani, expo dan bazar, serta acara talk show mengenai nutrisi hewan peliharaan.
Dalam acara talkshow narasumber yang dihadirkan pun bukan kaleng - kaleng. Bertindak sebagai narasumber yakni Drh Moh Zaenal Abidin Mursyid selaku Veterinary Development Manager dari MARS Pet Nutrition. Talkshow tersebut dimoeratori oleh Drh Wingke yang juga merupakan salah satu dokter hewan praktisi hewan kecil asal Kota Sukabumi.
| Semakin Meriah Dengan Adanya Doorprize dan Hadiah (Foto : CR) |
Secara gamblang Drh Abid banyak menjelaskan kepada masyarakat yang hadir akan pentingnya pemberian nutrisi hewan kesayangan secara seimbang. Ditambahkan dengan berbagai tips merawat hewan kesayangan dari Drh Wingke yang semakin membuat acara talkshow semakin meriah. Berbagai pertanyaan dari pemilik hewan pun ditanyakan langsung, sehingga terjadi disuksi yang interaktif dan menarik.
| Pemeriksaan Kesehatan Hewan Gratis (Foto : CR) |
Berdasarkan data yang dihimpun oleh panitia, sekitar 150 ekor hewan kesayangan yang terdiri dari berbagai macam spesies mulai dari kucing, anjing, ayam, dan hewan lain telah diperiksakan oleh tim dokter hewan dalam acara Vision tersebut.
Dari kegiatan donor darah, sebanyak lebih dari 70 orang yang hadir dalam acara tersebut datang mendonorkan darahnya. Sejatinya ada 100 orang yang mendaftarkan diri, namun karena alasan kesehatan, hanya 70 orang saja yang diperbolehkan mendonorkan darahnya pada hari itu.
Acara kian meriah dengan dibagikannya doorprize kepada peserta yang hadir. Doorprize diberikan secara diundi bagi mereka yang beruntung dan juga melalui kuis interaktif yang diadakan oleh panitia. Semoga kegiatan serupa dapat dilangsungkan oleh PDHI di cabang lainnya sebagai bentuk kepedulian dan eksistensi dokter hewan Indonesia dalam membangun bangsa. (CR)
FAO DAN KEMENTAN UNDANG BARA GELAR WORKSHOP AMR
![]() |
| Foto Bersama Para Peserta dan Trainer |
Resistensi antimikroba (AMR) tentunya sudah tidak asing lagi terdengar di telinga kita. Isu tersebut bahkan merupakan salah satu topik yang dibahas oleh para pemimpin dunia pada KTT G-20 di bali beberapa waktu yang lalu.
Indonesia sendiri masih berjuang dalam mengendalikan resistensi antimikroba. Dengan tujuan studi banding sekaligus berbagi pengalaman, FAO ECTAD Indonesia bersama Kementan melaksanakan kegiatan workshop mengenai AMR bertemakan MPTF - BARA Traning and Workshop di Hotel Aston Priority, Jakarta Selatan (23/5) lalu. Pesertanya merupakan semua stakeholder baik pemerintah dan swasta yang bergerak dalam bidang medis, akuakultur, dan pertanian yang bersinggungan dengan penggunan antimikroba.
Kasubdit POH Drh Ni Made Ria Isriyanthi yang hadir mewakili Direktur Kesehatan Hewan dalam sambutannya menyatakan rasa terima kasihnya kepada semua pihak yang telah mendukung keberlangsungan acara tersebut. Ia menyebut bahwa pelatihan ini merupakan upaya dari pemerintah dalam mengendalikan resistensi antimikroba.
"Kita berkolaborasi dengan BARA dan FAO juga bukan tanpa alasan, di Bangladesh kampanye AMR ini sangat masif, dan kita bisa mengambil hal - hal positif dari mereka," tutur Ria.
BARA (Bangladesh AMR Response Alliance) sendiri merupakan organisasi independen yang terdiri dari bermacam profesi yang berhubungan dengan medis seprti dokter, dokter hewan dokter gigi, apoteker, dan semua pihak yang berkecimpung di sektor keamanan pangan, akuakultur, dan pertanian secara luas.
Hal tersebut disampaikan oleh Jahidul Hasan selaku fasilitator / trainer dalam acara tersebut Pria yang berprofesi sebagai apoteker tersebut juga merupakan salah satu anggota BARA. Ia mengatakan bahwa BARA terbentuk sejak tahun 2018 atas keresahan mengenai resistensi antimikroba yang terjadi di Bangladesh.
Di negaranya, Jahidul mengatakan bahwa penggunaan antimikroba di berbagai sektor dapat dibilang sangat serampangan. Bahkan ia menyebut bahwa seorang profesor di satu rumah sakit besar di Bangladesh sampai terkaget - kaget bahwa bakteri yang diisolat dari rumah sakit tempatnya bekerja merupakan superbug alias bakteri yang resisten terhadap berbagai macam jenis antibiotik.
"Ini tentu sangat meresahkan, oleh karena itu kami berinisiatif membangun BARA. semua sektor kami rangkul, dokter, dokter gigi, dokter hewan, bahkan dari sektor akuakultur dan pertanian juga boleh, kami tidak membatasi keanggotaan kami, siapapun yang merasa terpanggil akan masalah ini boleh menjadi anggota kami," tuturnya.
Kegiatan yang dilakukan BARA antara lain melakukan penyuluhan, pendampingan, konsultasi, dan pelatihan ke masyarakat, pelajar, mahasiswa, kalangan medis, bahkan petani, peternak, dan pembudidaya ikan. Mereka umumnya melaksanakan kegiatan dengan pendekatan yang persuasif dan menyenangkan sehingga masyarakat menerima kedatangan mereka.
"Kami memulai dari bawah, mengumpulkan data, melihat apa yang terjadi, dan melakukan action sesuai dengan permasalahan yang ada di lapangan. Pemerintah pun ikut andil dalam hal ini, karena kami tahu bahwa data adalah hal yang penting juga bagi mereka dalam mengambil keputusan," kata Jahidul.
Dari data yang terkumpul, BARA kemudian mengolahnya dan menjadikanya aplikasi yang dapat digunakan oleh masyarakat. Dari situlah masyarakat dapat mengakses isu tentang AMR, teredukasi, dan lebih menyadari pentingnya isu tersebut.
Dalam kesempatan yang sama Drh Erianto Nugroho selaku perwakilan FAO ECTAD Indonesia mengatakan bahwa program ini sangat bagus dan esensial bagi Indonesia yang tengah berjuang menghadapi AMR. Ia menilai dari sini Indonesia bisa banyak belajar, membagi dan berbagi pengalaman terutama challenge di lapangan terkait pengendalian AMR.
"Bisa saja kita membuat semacam organisasi kaya BARA, orang yang ikut yang benar - benar independen. Tapi sebagus - bagusnya program yang dibuat kalau masyarakatnya tidak aware akan hal ini juga rasanya percuma, jadi fokus utamanya bagaimana meningkatkan kesadaran masyarakat dulu ya mungkin," tutur dia.
Kegiatan tersebut berlangsung selama 3 hari dimulai dari 23-26 Mei 2023. Diharapkan dengan selesainya kegiatan ini kapasitas Indonesia dalam mengendalikan AMR semakin meningkat dan lebih baik. (CR)
KEMERIAHAN ACARA PERINGATAN HUT PDHI KE-70
| Ketum PDHI membuka acara jalan santai |
Tiap tahun di tanggal 9 Januari merupakan hari yang spesial bagi dokter hewan Indonesia. Pasalnya, pada tanggal tersebut diperingati sebagai hari lahir organisasi yang menaungi Dokter Hewan di Seluruh Indonesia yakni Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI).
Kini
organisasi yang dipimpin oleh Drh Muhammad Munawaroh tersebut genap berusia 70
tahun. Dalam rangka memperingati tujuh dekade PDHI, pengurus pusat PDHI
mengadakan acara puncak peringatan hari lahirnya dengan menggelar acara
bertajuk Vet and Family Fun Walk.
Acara
tersebut digelar pada Minggu (29/1) yang lalu bertempat di Taman Marga Satwa
Ragunan, Jakarta. Dengan Tema PDHI Bersinergi & Berkolaborasi untuk negeri
acara tersebut digelar dengan meriah. Tidak kurang sekitar 1000 orang dokter
hewan hadir bersama dengan keluarganya dalam acara jalan santai tersebut.
Eksis dan Produktif
Ketua
Umum PB PDHI Drh Muhammad Munawaroh dalam kesempatan tersebut mengatakan bahwa
acara ini digelar untuk menunjukkan esksistensi profesi dokter hewan di
Indonesia. Selain itu ajang ini juga menjadi media silaturahmi para kolega
dokter hewan dari seluruh Indonesia agar saling memperkuat jejaraing dan lebih
dapat produktif dan berkontribusi untuk negeri.
"Kita
di sini sesekali mengadakan acara jalan santai, sambil ngobrol, menikmati udara
pagi yang segar, kan enak toh?. Kita berbaur bersama, menikmati kebersamaan,
seru – seruan bareng. Pesertanya juga bukan cuma dokter hewan di Jabodetabek
saja, dari daerah juga banyak yang menuju kesini bela-belain hadir, demi
silaturahmi," tutur dia.
Ketua
panitia acara tersebut Drh Ani Juwita Handayani dalam sambutannya mengatakan
bahwa ia tidak menginginkan acara ini bukan hanya sekedar kongko – kongko dan
bag – bagi doorprize saja. Namun
acara ini harus dapat dimanfaatkan oleh para anggota untuk berkolaborasi dan
bersinergi agar dapat memberi kontribusi bagi negeri, dimana negeri ini sedang
banyak mengalami wabah penyakit hewan dan tantangan lain yang membutuhkan peran
dokter hewan untuk mengambil perannya.
Tidak
lupa Drh Ani menyatakan rasa terima kasihnya kepada para panitia, peserta, dan
sponsor yang telah berpartisipasi atas terselenggaranya acara tersebut sehingga
dapat dilaksanakan dengan meriah, gegap dan gempita.
| Artis dan Presenter Irfan Hakim Menerima Penghargaan dari PDHI |
Penghargaan Bagi Insan
Inspiratif
Dalam
acara tersebut, PDHI memberikan beberapa penghargaan kepada beberapa insan yang
dinilai memiliki kontribusi positif di dunia kedokteran hewan Indonesia. Salah
satu penerima penghargaan tersebut yakni pencipta Mars Dokter Hewan Drh. Jiyono Notokesumo (Alm).
Penghargaan tersebut pun diwakili oleh putra Drh Jiyono yakni Drh R. Nurcahyo.
Ia pun mengungkapkan terima kasih dan rasa bangganya kepada PDHI atas
penghargaan yang diberikan.
"Terima kasih kepada PDHI atas penghargaan
yang diberikan, semoga PDHI semakin eksis, semakin berkontribusi untuk
Indonesia dan semakin jaya. Sangat membanggakan mendengar lagu ciptaan almarhum
dinyanyikan oleh ribuan dokter hewan di sini," tuturnya.
Insan lain yang mendapatkan penghargaan yakni
artis dan presenter kondang Irfan Hakim. Dirinya dirasa memberikan kontribusi
positif sebagai public figur yang menjadi penggagas edukasi pecinta Hewan di
Masyarakat. Irfan juga dinilai membuat profesi dokter hewan semakin dikenal
oleh masyarakat Indonesia melalui kanal Youtube-nya.
"Saya gimana enggak dekat dengan dokter
hewan coba, anak saya memang cuma ada 5, tapi itu yang manusia. Yang hewan ada
banyak ratusan, mulai dari unggas, mamalia, ikan, semuanya ada. Kalau mereka
sakit kan saya harus ke dokter hewan, saya harus nanya kepada pakarnya. Makanya
saya merasa harus dan wajib ke dokter hewan," tuturnya.
Irfan juga mengatakan bahwa secara khusus ia
mempekerjakan beberapa dokter hewan untuk menjaga hewan peliharaannya tetap
sehat dan dalam kondisi prima.
"Kalau satwa liar saya konsul ke drh
Slamet Raharjo, untuk burung saya ke drh Peter Kombo, belum lagi drh yang stay di rumah. Pokoknya saya serahkan
semua masalah kesehatan hewan ke tangan yang tepat, karena memang merekalah
yang mengerti," ungkap Irfan.
Ia juga mengungkapkan rasa bangga dan terima
kasih yang sebesarnya kepada PDHI yang telah memberikan penghargaan dan
menganggapnya sebagai bagian dari keluarga dokter hewan Indonesia. Selama ini
Irfan juga mengaku puas dengan pelayanan yang diberikan oleh dokter hewan
Indonesia.
Selain penghargaan, peserta juga berkesempatan
mendapatkan doorprize yang diundi
oleh panitia. Hadiah yang diberikan mulai dari merchandise menarik, sepeda, dan bahkan alat elektronik branded. Selamat ulang tahun yang ke-70
PDHI, semoga dokter hewan Indonesia tetap eksis dan komap sehingga dapat
bersinergi dan berkontribusi dalam menyelesaikan berbagai masalah di bidang
kesehatan hewan di Indonesia (CR).
ARTIKEL POPULER MINGGU INI
-
Cara Menghitung FCR Ayam Broiler. FCR adalah singkatan dari feed convertion ratio, yaitu konversi pakan terhadap daging. FCR digunakan untuk...
-
Di dunia ini terdapat beberapa jenis ayam terbesar di dunia. Baik dari segi tinggi badannya, ukuran badannya, maupun berat badannya. Di anta...
-
Salah satu ciri telur asin yang berkualitas adalah bagian kuning telurnya yang tampak masir. (Foto: Istimewa) Bukan hanya cara menyimpannya,...
-
Sumber: Balitbangtan Kementan Ayam KUB adalah ayam kampung galur (strain) baru, merupakan singkatan dari Ayam Kampung Unggul Balitbangtan. A...
-
Polar atau pollard merupakan salah satu bahan pakan ternak primadona yang berasal dari hasil samping penggilingan gandum. Dalam industri pet...
-
Ayam abang adalah ayam ras petelur yang sudah memasuki masa “pensiun” bertelur. (Foto: Dok. Infovet) Ayam abang menjadi salah satu bisnis “s...
-
Prof Dr Ismoyowati SPt MP, dari Unsoed, membawakan materi Mekanisme Kemitraan dalam Budidaya Ayam Broiler, dalam webinar Charoen Pokphand In...
-
Ayam Walik (Sumber: Istimewa) Indonesia adalah negeri yang sangat kaya akan plasma nutfah, baik tanaman maupun hewan. Salah satu plasma ...
-
Dalam dunia peternakan bebek, proses penetasan telur menjadi salah satu kunci utama keberhasilan produksi Day Old Duck (DOD). Terdapat dua c...
-
Foto: ilustrasi Meskipun sama-sama multi purpose breed, yaitu bisa dipelihara sebagai pedaging maupun petelur, namun perbedaan bebek Peking ...




