-->

KETIKA RUMPUT HIJAU MENYIMPAN ANCAMAN PENYAKIT

Ternak sapi rentan memindahkan antraks ke seluruh provinsi khususnya pada momen kurban. (Foto: Unsplash)

Idul Adha memang sudah lewat, namun setiap menjelang momen tersebut, perhatian terhadap antraks biasanya meningkat. Hal ini bukan tanpa alasan, perayaan Idul Adha melibatkan pergerakan jutaan ekor hewan kurban dari berbagai daerah menuju lokasi penjualan dan pemotongan. Mobilitas ternak yang tinggi tersebut berpotensi meningkatkan risiko penyebaran berbagai penyakit hewan menular.

Penyakit Kuno, Ancaman Bagi Dunia Modern
Indonesia mungkin adalah negeri yang memiliki ingatan pendek terhadap banyak hal. Bahkan untuk penyakit hewan yang sudah dikenal lebih dari satu abad pun, pola yang sama masih berulang. Antraks adalah salah satu contohnya.

Penyakit ini bukan penyakit baru, bukan pula penyakit misterius yang baru ditemukan para ilmuwan minggu lalu. Bahkan, antraks merupakan salah satu penyakit infeksi tertua yang pernah dipelajari manusia.

Penyebabnya pun sudah diketahui dengan sangat jelas, yaitu bakteri Bacillus anthracis. Cara penularannya dipahami. Metode pencegahannya tersedia. Vaksinnya ada. Prosedur pengendaliannya juga telah ditulis berulang kali dalam buku, jurnal, pedoman kesehatan hewan, hingga peraturan pemerintah.

Celakanya antraks bersifat zoonosis, karena sifatnya tersebut, antraks tidak hanya menjadi persoalan kesehatan hewan, tetapi juga kesehatan masyarakat, keamanan pangan, hingga stabilitas ekonomi peternakan.

Antraks memiliki sejarah panjang di Indonesia. Meskipun berbagai program pengendalian telah dilakukan selama puluhan tahun, penyakit ini belum berhasil dieliminasi sepenuhnya. Salah satu penyebabnya adalah kemampuan luar biasa bakteri penyebab antraks untuk membentuk spora yang mampu bertahan puluhan tahun di lingkungan. Spora tersebut dapat “tertidur” di dalam tanah dalam waktu sangat lama, lalu kembali aktif ketika kondisi lingkungan mendukung. Karena itulah antraks sering disebut sebagai penyakit yang sulit diberantas dan hanya dapat dikendalikan.

Meskipun Indonesia merupakan negara endemis antraks, masih terdapat delapan provinsi di Indonesia yang dinyatakan bebas dari antraks, yakni Aceh, Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat.

Sabar Menanti Puluhan Tahun
Jika bakteri lain dapat diibaratkan seperti pencuri yang harus terus bergerak untuk bertahan hidup, maka Bacillus anthracis lebih mirip seperti penagih utang yang sangat sabar. Ia bisa menunggu, bahkan dalam waktu yang sangat lama.

Analogi tersebut dikemukakan oleh Drh Nusdianto Triakoso, salah satu dosen di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Menurutnya, keunggulan terbesar bakteri antraks adalah kemampuannya membentuk spora. Dalam bentuk ini, bakteri seakan berubah menjadi kapsul kehidupan yang nyaris tidak bisa dihancurkan oleh alam.

“Spora antraks mampu bertahan di dalam tanah selama puluhan tahun. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa spora dapat tetap infektif setelah beberapa dekade berada di lingkungan. Bayangkan saja, seekor sapi mati akibat infeksi bakteri antraks pada masa ketika presiden masih berganti melalui sidang MPR, lalu puluhan tahun kemudian seekor sapi lain merumput di lokasi yang sama dan kembali terinfeksi,” tuturnya.

Begitulah cara penyakit ini bekerja, ia tidak terburu-buru, tidak membutuhkan strategi rumit, hanya menunggu kesempatan. Karena itulah daerah yang pernah mengalami wabah antraks sering kali tetap berstatus daerah endemis selama berpuluh tahun. Tanah yang terlihat subur dan hijau bisa saja menyimpan jutaan spora yang tidak terlihat mata. Rumputnya tampak segar, sapinya tampak sehat. Tetapi di bawah permukaan tanah terdapat “warisan biologis” yang belum selesai.

Pagi Masih Makan, Sore Jadi Bangkai
Salah satu alasan antraks begitu ditakuti adalah karena sifatnya yang brutal. Banyak penyakit hewan memberi peringatan terlebih dahulu. Hewan kehilangan nafsu makan, batuk, diare, atau mengalami penurunan bobot badan secara perlahan.

Antraks sering kali tidak seramah itu. Pada kasus akut, peternak bisa melihat sapinya masih makan dengan lahap pada pagi hari. Beberapa jam kemudian hewan tersebut terbaring mati. Tidak ada drama panjang, tidak ada kesempatan kedua. Tidak ada waktu untuk mencari pengobatan alternatif dari grup WhatsApp peternak.

Kematian bisa terjadi begitu cepat, kadang-kadang muncul gejala seperti demam tinggi, sesak napas, gelisah, atau pembengkakan di beberapa bagian tubuh. Namun sering kali gejala tersebut berlangsung sangat singkat bahkan telat disadari peternak.

Setelah hewan mati, tanda yang paling mencolok adalah keluarnya darah gelap dari lubang hidung, mulut, anus, atau alat kelamin. Darah tersebut biasanya tidak mudah membeku. Bangkai hewan yang terinfeksi juga membusuk lebih cepat dibandingkan kematian akibat penyebab lain. Bagi dokter hewan, tanda-tanda ini sudah cukup untuk menyalakan alarm bahaya.

“Daripada Mubazir”
Di lapangan, cerita tentang antraks berubah dari masalah kesehatan hewan menjadi ironi sosial. Dalam banyak kasus, tantangan terbesar bukanlah bakterinya, tetapi justru manusianya.

Ketika seekor sapi sekarat atau mati mendadak di kandang, reaksi ideal adalah melaporkan kejadian tersebut kepada petugas kesehatan hewan. Namun realitas di lapangan sering kali berbeda. Karena harga sapi mahal, kerugian ekonomi terbayang dan terasa berat. Rasa sayang jika daging dibuang atau sekedar kalimat “daripada mubazir”.

Hal itu mungkin menjadi salah satu kalimat paling berbahaya dalam sejarah penyakit zoonosis. Tidak sedikit kasus antraks di Indonesia berawal dari keputusan sederhana, menyembelih ternak yang sakit atau sudah mati lalu membagikan dagingnya kepada warga sekitar.

Logikanya terlihat masuk akal bagi sebagian orang. Kadang mereka mengatakan, “Dagingnya masih bagus,” Dimasak juga mati kumannya,” “Keluarga saya makan tidak apa-apa.” Padahal antraks tidak peduli pada logika tersebut. Bakteri tidak bisa diyakinkan dengan alasan ekonomi, dan spora tidak akan menghilang hanya karena seseorang merasa sayang membuang daging.

Hasilnya adalah pola yang berulang. Hewan terinfeksi disembelih, daging dibagikan, warga terpapar, petugas datang, masyarakat panik, berita muncul, lalu semua orang bertanya mengapa hal itu bisa terjadi.

Kasus antraks di Gunungkidul beberapa tahun lalu menjadi contoh yang sangat jelas. Wabah tersebut tidak hanya menyebabkan kematian ternak, tetapi juga berdampak pada manusia. Sejumlah warga terpapar setelah kontak dengan hewan yang terinfeksi atau mengonsumsi produk ternak yang berasal dari hewan sakit.

Peristiwa tersebut seharusnya menjadi pengingat keras bahwa antraks bukan sekadar urusan peternak. Ini adalah tanggung jawab semua pihak, mulai dari pedagang ternak, pengangkut hewan, jagal, panitia kurban, hingga konsumen. Karena satu keputusan yang salah dapat menghasilkan konsekuensi kesehatan bagi masyarakat luas.

Seharusnya Tak Terulang
Antraks sebenarnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar penyakit ternak. Ia menunjukkan bahwa hubungan antara manusia, hewan, dan lingkungan tidak bisa dipisahkan. Seekor sapi yang terinfeksi bukan hanya masalah peternak, ia dapat menjadi masalah desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, bahkan nasional. Antraks bukan hanya masalah kesehatan hewan saja, tetapi juga kesehatan masyarakat, dan juga lingkungan.

Di era ketika dunia berbicara tentang teknologi peternakan presisi, kecerdasan buatan, dan genomik, antraks justru mengingatkan bahwa tantangan terbesar sering kali bukan kurangnya teknologi. Tantangan terbesar adalah memastikan pengetahuan yang sudah ada benar-benar diterapkan.

Karena antraks merupakan penyakit yang dapat bertahan lama dan manusia kerap percaya bahwa masalah lama sudah selesai. Padahal di banyak padang rumput Indonesia, bisa saja jutaan spora antraks masih bersembunyi di dalam tanah, menunggu musim hujan berikutnya, menunggu ternak berikutnya, dan menunggu kelalaian berikutnya. ***

Dirangkum oleh:
Drh Cholillurahman
Redaksi Majalah Infovet

BIMBINGAN TEKNIS INSEMINATOR BIB LEMBANG

Pose bersama peserta bimbingan teknis inseminator BIB Lembang dengan pemateri Heru Rachmadi. (Foto: Infovet/Heru)

Bertempat di Balai Inseminasi Buatan Lembang, telah dilaksanakan Pelahtian Calon Inseminator Angkatan II mulai 4-25 Mei 2026, yang diikuti 23 orang peserta yang berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Lampung, Sumatra Selatan, dan Sulawesi Tengah.

Pada 16 Mei 2026, Drh Heru Rachmadi, yang juga wartawan Infovet, memberikan pembekalan dan motivasi yang diharapkan peserta akan sukses dan berhasil menjadi petugas inseminator di daerah asalnya masing-masing.

Heru yang berpengalaman selama 30 tahun bekerja bersama inseminator di pedesaan Lombok mengingatkan adanya tantangan lapangan dan harapan membekali peserta agar memberikan pelayanan yang prima dan respons cepat. Peserta juga ditegaskan perlu memahami karakter birahi atau estrus pada ternak sapi, termasuk jenis sapinya, karena memiliki karakter birahinya yang berbeda-beda.

“Karena kalau tidak memahami karakter ini akan terjadi kawin berulang berkali-kali dan ini sangat merugikan. Inseminator mesti paham, dan sosialisasikan ke peternak sesuai dengan tahapan masa birahi sapi dari pre estrus-estrus-met estrus-diestrus,” ujarnya.

Ia juga berharap peserta ini nantinya akan berperan dalam peningkatan populasi ternak di daerahnya masing-masing. “Kalian agen perubahan dalam mensejahterakan masyarakat peternak dari ternak sapi yang bunting, juga bagi kesejahteraan petugas inseminator itu sendiri,” harapnya.

Pada kesempatan itu, Heru juga membekali peserta dengan bimbingan teknis pemeriksaan kebuntingan, asisten teknik reproduksi, juga bimbingan teknis transfer embrio serta bisa menjadi asisten dokter hewan dalam penanganan bedah sesar seperti yang telah dilakukan olehnya sejak 1994.

“Semoga setelah mereka kembali ke daerah masing-masing dapat sukses dan bermanfaat buat masyarakat peternaknya,” tukasnya. (HR)

INTEGRASI SAPI-SAWIT, PERKUAT LUMBUNG TERNAK DI SUMATRA UTARA

Pemeliharaan integrasi sapi-sawit. (Foto: Infovet/Joko)

Menurut data BPS 2025, Kabupaten Simalungun memiliki populasi sapi potong 125.000 ekor dan menempati peringkat kedua populasi terbanyak di Sumatra Utara. Secara umum peternakan sapi di Kabupaten Simalungun merupakan peternakan rakyat yang dikelola secara intensif atau semi intensif. Sebagian masyarakat di sekitar perkebunan sawit memelihara sapi dengan sistem integrasi.

Sistem ini memberikan banyak manfaat bagi peternak dan populasi sapi. Peternak mendapatkan tambahan penghasilan dari peternakan sapi. Rumput dan pelepah sawit merupakan sumber pakan yang melimpah dan murah untuk peternakan. Tidak diragukan lagi, sistem ini dapat meningkatkan unsur hara dan kesuburan lahan sawit yang berasal dari kotoran dan urine sapi. Sistem ini sangat signifikan mengurangi biaya pembersihan lahan dan pembelian herbisida.

Sistem ini sangat mendukung peningkatan populasi sapi potong nasional. Pemerintah setempat sangat mendukung program yang telah berjalan bertahun-tahun ini. Pendampingan dan pembinaan terhadap peternak terus digencarkan dalam rangka peningkatan produktivitas, performa reproduksi dan kesehatan ternak.

Sistem integrasi sapi-sawit di Kabupaten Simalungun dapat menjadi role model bagi pengembangan peternakan sapi. Pemeliharaan secara ekstensif di lahan sawit tersebut memberikan kesempatan sapi mendapatkan nutrisi yang cukup dan murah. Murahnya biaya pakan menjadi modal penting untuk menekan biaya produksi peternakan, salah satunya biaya produksi pedet, yang ditentukan oleh beberapa faktor utama yaitu biaya pakan, angka kebuntingan, jarak antar kelahiran, biaya operasional penggembalaan, serta tingkat kematian induk dan pedet.

Penambahan pakan oleh peternak terkadang diberikan pada saat musim kemarau, dimana ketersediaan rumput berkurang. Perkawinan alami menggunakan pejantan menghasilkan angka kebuntingan yang sangat baik >90%. Perkawinan, kebuntingan, dan kelahiran yang terjadi secara alami sangat memungkinkan sapi akan beranak setiap tahun atau calving interval 12-13 bulan. Hal-hal terkait kematian induk dan kematian pedet dapat ditekan masing-masing kurang dari 1% dan 3% dengan melakukan tindakan pencegahan, penanganan, dan pengendalian penyakit. Pada kondisi tersebut, maka biaya produksi pedet yaitu sekitar Rp 3.000.000/ekor pedet.

Tabel kalkulasi biaya produksi pedet di lahan sawit.

Breed sapi dalam program integrasi sapi-sawit di Simalungun ini terdiri dari Peranakan Ongole, sapi Pesisir, dan beberapa sapi persilangan. Breed tersebut lebih tahan dan memiliki risiko kecil terhadap beberapa penyakit yang erat menyerang sapi Bali seperti penyakit Jembrana, malignant catarrhal fever (MCF), dan Baliziekte.

Penyakit Jembrana merupakan penyakit viral yang bersifat menular khusus pada sapi Bali yang disebabkan oleh retrovirus dari anggota grup lentivirus yang menyebabkan turunnya daya tahan tubuh. Penyakit ini ditandai dengan demam, peradangan selaput lendir mulut (stomatitis), pembesaran limfoglandula preskapularis, prefemoralis, dan parotid, terkadang disertai keringat darah.

Penyakit Jembrana menyebabkan kerugian ekonomi yang besar karena menimbulkan kematian tinggi hingga mencapai 100%. Masa inkubasi virus berkisar antara 4-7 hari yang diikuti demam hingga mencapai 41 °C yang berlangsung 5-12 hari.

Sementara untuk penyakit MCF sering terjadi pada peternakan sapi Bali yang pemeliharaannya secara langsung atau tidak langsung terjadi kontak dengan domba, yang merupakan hewan pembawa penyakit ini. MCF bersifat akut, menular, dan fatalitasnya tinggi pada sapi Bali, disebabkan Ovine herpesvirus 2 atau Alcelaphine herpesvirus 1 (γ-Herpesviruses).

Mekanisme infeksi MCF pada sapi adalah disfungsi dan lisisnya sel-sel endothelial dan peradangan pembuluh darah, serta lisisnya limfosit pada jaringan limfoid. Sapi Bali terinfeksi akan mengeluarkan lendir kuning dari hidung hingga terjadi gangguan syaraf pusat. Jenis rumput yang ada perkebunan sawit salah satunya adalah jenis Lamtana camara. Rumput ini menghasilkan toksik bernama lamtaden yang bersifat racun bagi hati (hepatotoksik). Konsumsi Lamtana camara oleh sapi Bali dapat menyebabkan penyakit Baliziekte ditandai dengan kerusakan hati dan terjadinya lepuh atau keropeng pada kulit sapi.

Sentra-sentra integrasi sapi-sawit sebagai lumbung produksi ternak harus selalu meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit. Mempertahankan status populasi agar tetap bebas dari penyakit melalui kontrol lalu lintas dan/atau vaksinasi menjadi pilihan yang tepat. Kegiatan keluar-masuk atau jual-beli sapi merupakan faktor risiko masuknya penyakit ke dalam suatu populasi.

Sebagai produsen ternak, minimnya pemasukan sapi menurunkan faktor risiko masuknya penyakit. Kegiatan surveilans untuk deteksi dini atau pengukuran prevalensi penyakit sangat penting dilakukan secara rutin. Tindakan pencegahan penyakit melalui vaksinasi pada populasi berisiko wajib dilakukan.

Sistem pemeliharaan semi intensif atau ekstensif juga sangat berisiko terhadap penyakit clostridial dan tick borne disease. Salah satu penyakit clostridial yang paling sering terjadi adalah botulisme. Penyakit ini disebabkan karena konsumsi rumput atau pakan yang terjadi kontak dengan bangkai (katak, unggas, materi abortus, plasenta) terkontaminasi Clostridium botulinum. Racun dari Clostridium botulinum bersifat neurotoksik menyebabkan gangguan syaraf pusat.

Sementara tick borne disease merupakan penyakit yang ditularkan melalui hospes yaitu kutu, caplak, tungau, pinjal. Tick borne disease juga dikenal dengan penyakit parasit darah meliputi babesiosis, theileriosis, anaplasmosis dan trypanosomiasis. Kejadian keracunan sianida, herbisida atau pupuk penyubur tanah, buah dan daun merupakan hal yang harus diwaspadai oleh peternak.

Kelemahan dari sistem integrasi sapi-sawit adalah sulitnya mengatasi kejadian inbreeding, sebab pada populasi sapi di lahan sawit semua umur dan jenis kelamin berkumpul di padang penggembalaan yang sama. Kejadian inbreeding yang sering dijumpai adalah anak jantan mengawini induknya atau neneknya. Kejadian inbreeding jarang ditemukan bapak mengawini anaknya atau kakek mengawini cucu betinanya. Hal ini disebabkan sebagian besar sapi-sapi pemacek yang cukup umur, tampilan bagus, tinggi, dan besar biasanya dijual untuk momen kurban atau kebutuhan keluarga.

Penyediaan pejantan unggul seperti Brahman dapat meningkatkan kualitas genetik keturunan yang dihasilkan. Penyediaan pejantan unggul sebanyak 6% dari populasi betina menjamin seluruh betina produktif akan terkawini dan bunting. Model seasional breeding dapat dilakukan untuk menghindari kelahiran pada musim hujan. Kelahiran pada musim kemarau meningkatkan harapan hidup pedet. Perkawinan dilakukan pada musim hujan (November-Februari) sehingga kelahiran terjadi pada musim kemarau (Agustus-Oktober).

Moderniasasi sistem pemeliharaan dengan pagar kejut (electric fenching) menggunakan energi surya dapat membantu mempermudah handling dan rotasi grassing pada populasi dan area penggembalaan. ***

Ditulis oleh:
Dr Drh Joko Susilo MSc APVet (Wartawan Infovet Daerah Lampung)
& Drh Catrine Relia Patrecia Gultom (Kementan)

TRANSFORMASI PETERNAKAN SAPI PERAH

Peternakan sapi perah. (Foto: Dok. Infovet)

Transformasi peternakan sapi perah bukan lagi wacana masa depan, melainkan realitas yang sedang berlangsung. Perubahan teknologi, dinamika permintaan pasar, perilaku konsumen, serta sistem transaksi ekonomi bergerak jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan kebijakan publik dalam meresponsnya.

Terlebih lagi dengan adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG), memberikan tekanan kuat atas meningkatnya permintaan akan susu segar dalam negeri (SSDN). Akibatnya, peternakan sapi perah rakyat berada dalam tekanan struktural yang kian besar.

Selama puluhan tahun, kebijakan peternakan sapi perah cenderung dibangun di atas asumsi lama, yakni peternak kecil, produksi SSDN sebagai bahan baku, koperasi sebagai penampung, dan industri pengolah susu (IPS) sebagai penentu harga. Asumsi ini mungkin relevan di masa lalu, tetapi menjadi semakin usang di tengah perubahan lanskap ekonomi yang bergerak ke arah digitalisasi, diferensiasi produk, dan sistem bisnis berbasis pasar.

Sejak era industrialisasi hingga masuk ke fase Internet of Things (IoT) dan ekonomi digital, sektor pertanian dan peternakan telah mengalami perubahan mendasar. Produksi massal bergeser ke produksi spesifik sesuai preferensi konsumen. Komoditas bahan mentah berubah menjadi produk bernilai tambah. Namun, kebijakan peternakan sapi perah masih terlalu fokus pada peningkatan populasi ternak dan volume produksi, bukan pada transformasi sistem bisnis dan kelembagaan peternak.

Perubahan perilaku konsumen yang menuntut produk susu siap saji, aman, berkualitas, dan terlacak asal-usulnya belum sepenuhnya diterjemahkan ke dalam kebijakan yang operasional. Negara masih memperlakukan SSDN sebagai komoditas primer, padahal pasar telah bergerak ke arah produk olahan dan diferensiasi nilai. Ketimpangan ini membuat peternak rakyat terjebak sebagai pemasok bahan baku dengan posisi tawar yang lemah.

Masalah semakin kompleks ketika pola transaksi bisnis berubah. Sistem pembayaran di sektor pangan kini cenderung menuju cash before delivery, sementara sebagian besar peternak sapi perah masih bergantung pada sistem pembayaran tertunda (kredit) melalui koperasi. Sayangnya, kebijakan belum cukup hadir untuk menjembatani transisi ini, baik melalui skema pembiayaan yang adaptif, integrasi dengan sistem keuangan digital, maupun perlindungan arus kas peternak.

Koperasi yang seharusnya menjadi instrumen transformasi justru sering terjebak dalam peran administratif dan sosial. Kebijakan koperasi peternakan belum secara serius mendorong koperasi bertransformasi menjadi entitas bisnis modern dengan tata kelola profesional. Banyak koperasi diperlakukan sebagai objek program, bukan sebagai corporate vehicle milik peternak yang mampu mengelola rantai nilai dari hulu ke hilir.

Kritik utama terhadap kebijakan peternakan sapi perah adalah kecenderungannya yang terlalu sektoral. Pendekatan pembangunan masih didominasi oleh intervensi teknis—bibit, pakan, kandang, dan produksi—tanpa diimbangi reformasi kelembagaan, model bisnis, dan akses pasar. Padahal, masalah utama peternakan sapi perah rakyat bukan semata pada kemampuan produksi semata, melainkan pada ketidakmampuan sistem untuk menangkap nilai ekonomi dari perubahan pasar yang lintas sektor.

Transformasi peternakan sapi perah seharusnya diposisikan sebagai agenda kebijakan lintas sektor: pertanian, koperasi, industri, keuangan, dan digital. Negara perlu bergeser dari peran sebagai pelaksana program menjadi enabler transformasi, yang menciptakan ekosistem bisnis kondusif bagi peternak dan koperasi untuk tumbuh sebagai pelaku ekonomi modern.

Tanpa koreksi kebijakan yang mendasar, transformasi peternakan sapi perah akan berlangsung secara timpang, pasar bergerak cepat, sementara peternak rakyat tertinggal. Dalam kondisi demikian, jargon kedaulatan pangan dan penguatan peternak hanya akan menjadi retorika, bukan realitas ekonomi.

Transformasi peternakan sapi perah bukan semata urusan peternak, melainkan cermin kemampuan negara membaca perubahan zaman dan menerjemahkannya ke dalam kebijakan yang relevan, adaptif, dan berpihak pada masa depan.

Jika ini tidak segera dilakukan, tidak mustahil akan terjadi “disrupsi” yaitu perubahan besar dan cepat yang akan mengganggu cara lama (peternak rakyat) baik di sektor ekonomi, teknologi, sosial, maupun tata kelolanya oleh  entitas ekonomi lain non-koperasi, menggantikannya dengan cara baru yang lebih efisien. Dengan kata lain, peternakan rakyat akan terpinggirkan dan tumbuh korporasi yang berjiwa kapitalis. ***

Ditulis oleh:
Rochadi Tawaf
Ketua Asosiasi Holstein Indonesia

WASPADA WOODEN TONGUE DAN LUMPY JAW PADA SAPI

Wooden tongue dan lumpy jaw bisa menyerang semua breed, umur, dan jenis kelamin sapi. (Foto: Istimewa)

Tahun 2015, penulis melakukan penelitian bidang bovine patology di National Institute of Animal Health (NIAH) di Tsukuba, Jepang. Penulis melakukan kerja sama dengan peternakan dan pemerintah daerah masing-masing distrik atau perfektur untuk mendapatkan data penelitian. Rumah pemotongan hewan (RPH) dan peternakan menjadi sumber data utama diagnosis patologi penyakit sapi di NIAH. Berbagai jenis penyakit pada sapi yang sering terdiagnosis meliputi beberapa penyakit pernapasan kompleks, penyakit pencernaan, penyakit syaraf, penyakit sirkulasi, limfatik, dan lainnya.

Penyakit pernapasan kompleks yang paling sering ditemukan adalah infectious bovine rhinotracheitis (IBR), bovine viral diarrhea (BVD), bovine respiratory syncytial virus (BRSV), parainfluenza 3 (PI3), Mannhaemia haemolytica, Pasteurella multocida, Mycoplasma bovis, Trueperella pyogenes, dan Histophillus somni.

Sedangkan penyakit pencernaan yang sering didiagnosis meliputi BVD, rota virus, adeno virus, Johnes disease, kolibasilosis, salmonelosis, dan koksidiosis. Salah satu kejadian penyakit yang diterima dari RPH di Saitama adalah penyakit lidah papan/kayu (wooden tongue). Kasus tersebut berasal dari sapi Wagyu umur 27 bulan dengan gejala kesulitan makan dan pembengkakan lidah.

Beberapa bulan terakhir, penulis mendapatkan informasi kejadian penyakit dengan gejala mirip dengan kejadian lidah papan di Jepang. Informasi tersebut berupa video, foto, ataupun diskusi dengan dokter hewan praktik sapi dari beberapa tempat di Pulau Jawa. Informasi terkait gejala klinis meliputi pembengkakan pada lidah, limfoglandula di rahang bawah, adanya benjolan keras berbentuk abses di rahang bawah, dan sekitar leher. Berdasarkan analisis, dugaan sementara kejadian tersebut merupakan penyakit wooden tongue (lidah papan) dan actinomycosis (lumpy jaw).

Lidah papan disebabkan Actinobacillus lignieresii yang merupakan bakteri gram-negatif batang. Sementara lumpy jaw disebabkan Actinomyces bovis yang merupakan bakteri gram-positif batang bercabang. Kedua agen penyakit ini merupakan bakteri oportunistik, yaitu bakteri yang normal ada pada saluran pencernaan sapi sehat. Kedua penyakit bisa menyerang semua breed, umur, dan jenis kelamin, serta memiliki prevalensi yang rendah dalam suatu populasi dengan kejadian lidah papan lebih sering daripada lumpy jaw.

Penyakit lidah papan menyerang jaringan lunak yaitu lidah dan kelenjar getah bening sekitar lidah. Penyakit ini menyebabkan pembengkakan akut, nyeri, dan proliferasi jaringan ikat sehingga sangat mengganggu aktivitas makan. Sedangkan penyakit lumpy jaw ditandai dengan pembengkakan tulang rahang sehingga tidak dapat digerakkan. Penyakit ini berkembang lambat serta sering menyebabkan kesulitan mengunyah dan bernapas. Istilah “actino” pada kedua penyakit tersebut menunjukkan respons keradangan spesifik yang ditandai dengan pembentukan nanah yang berisi struktur granular. Granula “seperti pasir” ini pada dasarnya adalah koloni bakteri yang menggumpal.

Deteksi cepat Actinobacillus lignieresii dilakukan dengan pemeriksaan mikroskopis apusan nanah dan kultur bakteri. Pada Actinomycosis, keberadaan granula “sulfur” sangat menciri dan granula kuning ini sering kali dapat diamati secara kasat mata. 

Patogenesis penyakit lidah papan dan lumpy jaw bergantung pada... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Februari 2026.

Ditulis oleh:
Dr Drh Joko Susilo MSc APVet
Wartawan Infovet Daerah Lampung

SEBANYAK 400 DOSIS VAKSIN DARURAT UNTUK LSD DISALURKAN KE JEMBRANA

Penyerahan bantuan vaksin darurat untuk LSD serta obat hewan, multivitamin, disinfektan, dan alat kesehatan untuk membantu peternak sapi di Jembrana. (Foto: Istimewa)

Kementerian Pertanian (Kementan) menyalurkan 400 dosis vaksin darurat untuk penyakit lumpy skin disease (LSD) yang dilengkapi obat hewan, multivitamin, disinfektan, dan alat kesehatan untuk memberikan perlindungan ternak sapi milik peternak di Kabupaten Jembrana, Bali. Langkah ini dilakukan untuk memutus penularan LSD yang sempat menjangkiti puluhan sapi dan berpotensi mengganggu ekonomi peternak.

Bantuan diserahkan Direktur Kesehatan Hewan Kementan Hendra Wibawa, kepada Bupati Jembrana I Made Kembang Hartawan, di Desa Manistutu, Kecamatan Melaya, Sabtu (17/1/2026). Ini merupakan tahap pertama bantuan Kementan sebagai respons darurat atas terdeteksinya LSD di Kabupaten Jembrana.

“Hari ini kami menerima peralatan lengkap untuk mencegah penyakit LSD. Ada vaksin, obat-obatan, multivitamin, dan juga disinfektan,” ungkap Kembang.

“Ini upaya kita mempercepat penanganan penyebaran LSD pada sapi. Kolaborasi yang luar biasa hari ini, pemerintah pusat, provinsi, kabupaten, dan masyarakat peternak. Semoga segera bisa kita selesaikan.”

Pada kesempatan yang sama, Hendra Wibawa turut mengimbau peternak agar segera melapor jika menemukan gejala benjolan pada kulit sapi, tidak memasukkan dan mengeluarkan ternak dari kandang di zona tertular, serta menjaga kebersihan kandang untuk mengurangi habitat vektor pembawa penyakit.

“Petugas akan langsung memeriksa dan mendiagnosis apakah itu suspek LSD atau penyakit kulit biasa. Jika ditemukan indikasi sakit, segera lakukan isolasi mandiri dengan memisahkan ternak tersebut dari kawanan yang sehat dan laporkan ke petugas agar segera mendapatkan penanganan,” ujar Hendra.

Sementara itu di tempat terpisah, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, menegaskan bahwa pengendalian penyakit hewan menular merupakan bagian dari tanggung jawab negara dalam melindungi keberlanjutan usaha peternak rakyat. Hal tersebut disampaikannya saat mendampingi Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, saat meninjau kesiapan hilirisasi ayam di Bone, Sulawesi Selatan, Sabtu (17/1/2026).

“Negara tidak boleh membiarkan peternak menanggung risiko sendiri. Ketika ada ancaman penyakit, negara harus hadir lebih dulu untuk melindungi ternak dan memastikan usaha peternak tetap berjalan,” kata Agung.

Ia menegaskan bahwa langkah cepat seperti vaksinasi darurat, pembatasan lalu lintas ternak, dan pendampingan teknis di lapangan menjadi instrumen penting agar peternak tidak mengalami kerugian berkepanjangan akibat wabah penyakit hewan. (INF)

LANTIK PENGURUS NASIONAL, AHI KUKUHKAN VISI CIPTAKAN SAPI HOLSTEIN ADAPTIF UNTUK PETERNAK

Foto bersama dalam acara Pelantikan Pengurus Pleno Nasional AHI periode 2025-2029. (Foto: Istimewa)

Asosiasi Holstein Indonesia (AHI) resmi menyelenggarakan Pelantikan Pengurus Pleno Nasional AHI periode 2025-2029, di Kantor Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Jawa Barat, Bandung, Jumat (28/11/2025).

Dalam sambutannya, Ketua Umum AHI, Dr Ir Rochadi Tawaf MS, menegaskan bahwa momen ini merupakan amanat penting dari AD/ART AHI. Ia menekankan bahwa AHI adalah satu-satunya organisasi peternakan sapi yang bergerak spesifik di bidang perbibitan (breeders association) di Indonesia.

“Tuntutan yang diemban organisasi ini amatlah berat. Pasalnya, AHI tidak hanya menjadi tolok ukur (benchmark) perkembangan persusuan, namun juga merupakan kepanjangan tangan kegiatan perbibitan sapi yang selama ini dilakukan oleh pemerintah. Seperti halnya pembentukan bibit dasar dan bibit sebar di Unit Pelaksana Teknis (UPT) milik pemerintah,” ujarnya.

Harapan utama yang dibebankan kepada AHI adalah mengawal sapi-sapi unggul hasil seleksi, progeny, dan sertifikasi, sehingga memberikan dampak nyata terhadap peningkatan produksi dan produktivitas sapi perah secara nasional.

Cita-cita luhur AHI yang dirumuskan dalam kongres nasional adalah membentuk “Sapi Holstein Indonesia, yang adaptif dengan ekosistem dan budaya masyarakat, untuk kesejahteraan peternak.”

Dalam upaya mengaktualisasikan cita-cita tersebut, AHI telah memperkuat jejaring internasional. Langkah strategis ini dilakukan dengan kehadirannya pada World Dairy Expo di Medison Wisconsin bulan lalu, pertemuan dengan Asosiasi Holstein USA dan Asosiasi Animal Breeder USA untuk menjajaki kerja sama, serta menjalin kolaborasi riset pengembangan sapi Holstein di Indonesia dengan International Livestock Research Institute (ILRI) melalui proyek Asia-Africa Dairy Genetic Gain (AADGG Project).

Dukungan Pemerintah Daerah dan Fokus Kesejahteraan
Kepala DKPP Jawa Barat, menyatakan bahwa komitmen pemerintah mendukung penuh kegiatan AHI. Dalam kesempatan ini, disoroti tiga pilar penting yang harus menjadi fokus kerja sama sinergis antara pemerintah, perguruan tinggi, dan asosiasi, yaitu pengembangan pedet; memastikan ketersediaan pakan yang memadai, murah, dan berkualitas; serta optimalisasi pemanfaatan kotoran ternak (kohe) sebagai sumber pendapatan masyarakat peternak.

Pemerintah Jawa Barat berharap AHI dapat membantu meningkatkan produksi susu dan penyelesaian masalah limbah sapi perah yang mencemari sungai di Jawa Barat.

FGD Strategis: Sertifikasi dan Kemandirian Genetik
Rangkaian acara dilanjutkan dengan focus group discussion (FGD) yang membahas “Strategi Implementasi Sertifikasi Sapi Holstein Indonesia.” Topik ini dianggap sebagai langkah strategi awal bagi AHI untuk mengawal peningkatan produksi dan produktivitas sapi perah.

Sertifikasi ini menurut AHI dipandang esensial untuk membangun database nasional, meningkatkan mutu genetik melalui verifikasi kualitas (estimated breeding value/EBV), dan mempercepat proses terbentuknya bibit sapi Holstein Indonesia yang unggul.

Model pengembangan sapi perah (Delmansarah) di Jawa Barat, akan dijadikan objek kerja sama antar stakeholder peternakan sapi perah seperti koperasi (GKSI), perusahaan peternakan (mega/medium dairy farm), AHI (asosiasi breeders), dan perguruan tinggi (Unpad dan IPB) dalam membangun persusuan nasional.

AHI menyadari bahwa tercapainya target nasional ini memerlukan kepengurusan nasional yang tangguh, berkomitmen, dan berkemampuan tinggi untuk mengeliminasi kendala sektor persusuan saat ini.

“Pengukuhan pengurus ini diharapkan menjadi motivasi kuat bagi seluruh jajaran AHI untuk menjadikan asosiasi sebagai tolok ukur perkembangan persusuan nasional. AHI berkomitmen penuh untuk melaksanakan program kerjanya demi mendukung upaya pemerintah menciptakan iklim yang kondusif serta membangun persusuan nasional yang berkelanjutan,” tukas Rochadi. (INF)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer