-->

RISIKO MENGINTAI, GEGARA TERGIUR TELUR MURAH

Untuk mendapatkan telur yang berkualitas, konsumen harus jeli saat membelinya. (Foto: Gemini)

Meski kondisi keuangan lagi tipis, sebaiknya jangan pernah tergiur dengan harga murah saat membeli telur. Teliti sebelum membeli dan pastikan telur yang dibeli masih segar. Jangan pertaruhkan kesehatan keluarga gara-gara terpikat harga murah.

Sepulang antar anak sekolah, Pak Rahmat mampir ke warung sembako tak jauh dari sekolah dasar anaknya. Pagi itu, ia “mewakili” istrinya untuk membeli satu kilogram telur ayam. Tak jauh dari warung sembako yang ia datangi, ada juga warung lain yang menjual telur ayam.

Dua warung ini menjual telur dengan harga berbeda, warung pertama memasang tulisan harga telur Rp 27.500/kg, sedangkan di warung kedua tertulis Rp 23.500/kg. Karena sedang penghematan anggaran rumah tangga, tanpa pikir panjang Pak Rahmat memilih ke warung yang menjual harga lebih murah. Lumayan, bisa hemat Rp 4.000, pikirnya.

Sepanjang perjalanan menuju rumah, sejenak ia berpikir, kenapa dua warung yang berdekatan jual telur ayam dengan selisih harga yang lumayan. Sesampai di rumah, ia kembali mengecek telur yang ia beli. Satu per satu diamati warna kerabangnya. Tak ada yang beda dengan telur yang biasa ia beli.

“Tapi begitu telur saya guncang pelan, mengeluarkan bunyi seperti cairan bergeser atau terkocok. Hampir semuanya begitu. Karena penasaran, saya pecahkan satu butir. Ternyata kuning telurnya sudah enggak bulat utuh. Putih telurnya juga kelihatan lebih encer dari biasanya. Mungkin ini yang bikin harga jadi lebih murah,” tutur Pak Rahmat kepada Infovet.

Lantaran penasaran, pria berusia 60 tahunan ini mencari tahu melalui ponsel. Cek di Google, ternyata dugaannya tak meleset. Telur yang baru saja ia beli sudah menurun kualitasnya. “Nyesel aku tadi beli pilih yang murah,” ujarnya sambil tarik napas agak dalam.

Di artikel yang ia baca menyebutkan, telur yang mengeluarkan bunyi seperti cairan bergeser saat diguncang itu merupakan pertanda bahwa kualitas telur sudah menurun, tidak segar, meski masih layak konsumsi.

Penampakan putih telur yang encer, disebabkan waktu penyimpanan yang sudah cukup lama, bisa menyebabkan protein telur rusak dan strukturnya menjadi sangat cair. Kantung udara di dalam telur juga membesar. Cairan yang menguap lewat pori-pori cangkang membuat rongga udara di dalam telur semakin besar, sehingga ruang gerak bagian dalam menjadi longgar dan menciptakan bunyi kocokan.

Mengutip artikel yang ia baca, Pak Rahmat bilang, mengonsumsi telur yang kualitasnya menurun atau nyaris busuk berisiko menyebabkan keracunan makanan dan gangguan pencernaan berat akibat kontaminasi bakteri. Telur basi atau rusak sangat rentan ditumbuhi bakteri berbahaya seperti Salmonella. Jika ini terjadi, dapat berdampak pada infeksi saluran pencernaan.

Ahli gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Prof Dr Ir Ali Khomsan, mengingatkan bahwa memilih telur atau daging ayam yang berkualitas itu penting, karena berdampak pada kesehatan. Bagi anak-anak, orang dewasa, dan ibu menyusui, asupan gizi berupa protein hewani dari telur ayam yang berkualitas bagus sangat diperlukan.

“Kandungan asam amino yang ada di dalam telur dan daging ayam bagus untuk kesehatan tubuh. Asam amino berperan penting karena membantu pembentukan protein sebagai bahan dasar pembentuk sel, otot, serta sistem kekebalan tubuh,” ujar pakar gizi ini.

Ahli gizi ini menyarankan, konsumsi telur atau daging ayam bagi anak-anak sangat baik dan bisa dimulai sejak awal ibu-ibu menyusui bayinya. Daging ayam mengandung protein, zat besi, magnesium, vitamin, dan fosfor.

Perbedaan Lama dan Baru
Agar tak lagi salah memilih telur ayam, ada informasi dari laman bppsdmp.pertanian.go.id yang patut dijadikan rujukan. Untuk menjamin keamanan dan mutu telur konsumsi, pemerintah telah memperkuat perlindungan konsumen melalui Permentan No. 10/2024 tentang Penyediaan, Peredaran, dan Pengawasan Ayam Ras dan Telur Konsumsi.

Selain itu, Standar Nasional Indonesia (SNI) 3926:2023 menetapkan persyaratan mutu telur konsumsi yang mencakup kesegaran, kebersihan, ukuran, serta kondisi fisik telur. Regulasi ini tidak hanya bertujuan melindungi konsumen, tetapi juga mendorong pelaku usaha agar lebih disiplin dalam menerapkan praktik produksi dan penanganan pascapanen yang baik.

Meski demikian, telur yang tidak layak konsumsi masih berpotensi beredar dan dapat menimbulkan risiko kesehatan apabila dikonsumsi. Oleh sebab itu, penting untuk memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam mengenali ciri-ciri telur yang segar dan aman, serta lebih selektif dalam memilih telur demi menjaga kesehatan diri dan keluarga.

Lalu, seperti apa perbedaan telur ayam baru dan lama? Pada telur ayam baru, batas antara putih telur tebal dan tipis terlihat jelas, tidak terdapat bercak darah atau benda asing pada putih telur, bentuk kuning telur bulat, dan posisi di tengah dari putih telur yang tebal.

Sedangkan pada telur ayam lama, batas antara putih telur tebal dan tipis tidak jelas, terdapat bercak darah atau benda asing pada putih telur, bentuk kuning telur tidak bulat, dan posisi agak ke pinggir.

Saat membeli telur ayam, perhatikan kondisi fisiknya. Hindari telur yang kotor karena terdapat kotoran ayam atau bercak darah pada cangkang, retak pada cangkang, serta telur yang mengalami pengapuran yang ditandai dengan permukaan cangkang kasar dan adanya noda putih.

Selain itu, untuk mengetahui kondisi telur yang baik atau tidak dapat dilakukan dengan memasukkan telur dalam  larutan garam 10%. Telur yang baik akan tenggelam (kantung udara < 0,5 cm), telur kurang baik melayang (0,5-0,9 cm), dan telur tidak baik mengapung (> 0,9 cm).

Cara lain yang juga mudah adalah dengan mengguncang telur. Cara ini dilakukan dengan mengguncang telur dekat telinga. Untuk telur segar, tidak akan mengeluarkan suara seperti cairan bergeser saat diguncang, menunjukkan bahwa isi di dalamnya masih kental. Sedangkan telur tidak segar, akan terdengar suara seperti cairan bergerak, dan ini menandakan bahwa putih telurnya sudah encer dan kemungkinan besar sudah busuk.

Jeli Sebelum Membeli
Untuk mendapatkan telur yang berkualitas, ada kalanya konsumen juga perlu sedikit jeli saat membeli. Telur yang baik memiliki kerabang halus, warna merata dan bersih, tidak retak atau pecah, serta memiliki bentuk oval yang normal. Jika tersedia lampu peneropong di tempat penjualan, konsumen juga dapat memilih telur dengan kantong udara yang kecil pada bagian ujung tumpulnya.

Kualitas telur juga dipengaruhi lama penyimpanan. Telur yang baru dihasilkan memiliki kualitas lebih baik dibandingkan telur yang telah lama disimpan, terutama pada suhu ruang. Telur yang aman dikonsumsi adalah telur yang dihasilkan dari ayam sehat, telur yang baru dihasilkan, serta telur yang diolah secara benar dan sehat.

Setelah paham dengan memilih telur yang segar, langkah selanjutnya adalah penyimpanan yang benar. Pisahkan telur yang bersih dan kotor, besar-kecil, retak tidak retak, baru dan lama, serta bersihkan jika cangkang telur kotor dengan lap kain atau tisu kering untuk menjaga kebersihannya.

Simpan di baki atau tray telur dan/atau lemari pendingin (7-10 °C) dengan posisi bagian tumpul berada di atas. Gunakan telur yang lebih lama disimpan dibandingkan dengan telur yang baru (first in first out). Masa simpan telur di suhu ruang selama 15 hari dan di lemari pendingin 30 hari. Dengan penanganan seperti ini, keluarga akan lebih sehat dalam mengonsumsi telur. ***

Ditulis oleh:
Abdul Kholis
Koresponden Infovet Daerah Depok,
Konsultan media dan penulis buku,
Writing Coach Griya Menulis (Bimbingan Menulis Buku & Jurnalistik),
Juara I Lomba Jurnalistik Tingkat Nasional (Unsoed, 2021) & Juara I Kompetisi Menulis
Artikel Tingkat Nasional dalam rangka HATN, 2022

PEMERINTAH BANTU SERAP TELUR PETERNAK RAKYAT

Pemerintah bantu serap 1 juta telur milik peternak rakyat. (Foto: Istimewa)

Kementerian Pertanian (Kementan) melakukan aksi peduli dengan menyerap 1 juta telur dari peternak rakyat.  Hal ini dilakukan sebagai upaya pemerintah membantu penyerapan telur di tingkat peternak sekaligus peningkatan konsumsi protein hewani.

Pada kesempatan tersebut, Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo, menyampaikan bahwa kegiatan penyerapan telur ini merupakan tindak lanjut dari hasil koordinasi dengan Kemenko Perekonomian yang kemudian mengimbau aksi solidaritas bersama untuk peternak rakyat.

“Telur yang dibeli oleh Kementan diperuntukkan untuk konsumsi pegawai Kementan, yayasan panti asuhan dan yatim piatu,” ujar Mentan Syahrul dalam keterangan tertulisnya, Senin (1/11).

Ia mengemukakan, penyerapan telur peternak ini ditargetkan sebanyak 1 juta butir atau setara 62,5 ton dengan harga beli Rp 19.000/kg. Pada tahap pertama telah diserap sebanyak 30 ton dan sisanya sebanyak 32,5 ton akan diserap pada tahap selanjutnya. Lokasi sentra penyerapan telur terdiri dari Provinsi Lampung, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Dukungan semua pihak dalam melakukan aksi solidaritas sangat dibutuhkan sebagai bentuk kepedulian terhadap peternak. Semoga upaya kepedulian ini dapat memicu pemulihan stabilitas perunggasan telur ayam ras,” ucap dia.

Ia menambahkan, harga telur ayam ras dipengaruhi oleh volume supply di kandang dan daya serap pelaku pasar. Sementara, volume supply di kandang tergantung dari struktur umur induk dan sebaran produksi puncak tidak merata setiap bulan.

Selain itu, pola konsumsi juga bersifat musiman, terutama di daerah-daerah sentra produksi dan menyesuaikan HBKN dan kegiatan hajatan masyarakat berkaitan dengan penanggalan Jawa. “Produksi telur tinggi di daerah sentra memengaruhi peternak dan pelaku pasar mencari potensi pasar di daerah yang memiliki tren harga stabil dan lebih tinggi,” katanya.

Akibat mekanisme pasar dan distribusi telur antar daerah, harga telur ayam ras fluktuatif. Terlebih, adanya kebijakan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) selama pandemi COVID-19, pengaruhi konsumsi telur mengalami penurunan. Padahal, potensi produksi telur ayam ras pada Oktober sebanyak 426.241 ton dan kebutuhannya 377.744 ton. Jumlah ini berpotensi surplus sebanyak 48.497 ton. Pada 2021, produksi telur ayam diperkirakan mencapai 5,52 juta ton dengan tingkat konsumsi sebesar 5,48 juta ton.

Sementara Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), Nasrullah, menyampaikan pada saat harga telur di bawah harga acuan, maka pemerintah akan bergerak menyerap komoditas tersebut. Penyerapan telur dari peternak rakyat akan dilakukan terus oleh Kementan hingga harga membaik.

“Hal yang terpenting kita dapat berupaya mengurangi efek fluktuasi harga yang menekan harga telur dan merugikan peternak,” kata Nasrullah.

Berdasarkan laporan Petugas Informasi Pasar (PIP), harga telur ayam ras di tingkat peternak di Pulau Jawa per 13 Oktober 2021 tercatat rata-rata Rp 15.943/kg, harga terendah terjadi di Provinsi Jawa Timur rata-rata Rp 13.333/kg dan di Jawa Barat Rp 16.719/kg.

Sementara dari data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional per 13 Oktober 2021, rata-rata harga jual telur di tingkat konsumen mencapai Rp 23.100/kg secara nasional. Namun harga telur di sejumlah wilayah terpantau berada di bawah rata-rata. Misalnya DKI Jakarta harga telur kini Rp 19.000/kg, Jawa Barat Rp 18.900/kg dan Jawa Timur Rp 18.050/kg. Selain itu, di Lampung kini harga telur Rp 20.350/kg, Jambi Rp 19.850/kg dan Sulawesi Barat Rp 18.150/kg.

Pada kesempatan tersebut turut juga ditandatangani nota kesepahaman antara Ditjen PKH dengan PT Biogene Plantation, terkait kerja sama penyerapan telur dalam rangka upaya stabilisasi pasokan dan harga pembelian di tingkat peternak UMKM. (INF)

Upaya Pemerintah Turunkan Harga Telur

Mentan Amran saat meninjau OP telur ayam di Toko Tani Indonesia. (Foto: Ridwan)
Kementerian Pertanian menggelar operasi pasar (OP) telur ayam di 50 titik, yang digelar di 43 pasar di kawasan Jabodetabek. Telur dijual dengan harga Rp 19.500 per kg.

Menteri Pertanian (Mentan), Amran Sulaiman, yang melepas langsung 100 ton telur ayam di Toko Tani Indonesia menyatakan, operasi pasar ini merupakan salah satu cara menstabilkan harga telur ayam di tingkat konsumen yang melonjak mencapai Rp 30.000 per kg.

“Satu minggu terakhir ada kenaikan. Tapi belum seminggu harga sudah turun. Memang disvaritasnya 60 persen. Kita ingin buat pedagang untung, peternak dan kosumen bisa nyaman, semua sejahtera,” ujar Amran, Kamis (19/7).

Ia menyebut, OP akan terus dilakukan sampai harga telur stabil di tingkat konsumen. “Kita guyur terus-menerus ke pasar, jika sudah stabil dan aman kita rem agar tidak mengganggu peternak kecil,” ucapnya.

Ia pun menghimbau peternak bisa meningkatkan produksi untuk mengantisipasi melonjaknya harga. “Kalau demand meningkat, supply-nya kita tambah. Intinya kita harus menambah produksi,” imbuhnya.

Kegiatan yang melibatkan peternak ini juga digelar di beberapa kota besar di Indonesia. Menurut Atung salah satu peternak petelur Pinsar Indonesia yang ikut berpartisipasi menyebut, saat itu penurunan harga telur sudah terjadi di beberapa daerah.

“Di wilayah timur dan tengah harga sudah 19 ribu per kg, di Jakarta sudah 21 ribu lebih lah per kg. Perlahan mulai turun. Kalau dieceran harga 25-26 ribu per kg masih normal lah, karena mereka belinya pas harga lagi tinggi. 2-4 hari ke depan akan turun,” kata Atung saat ditemui Infovet.

Ia menilai, penyebab terjadinya kenaikan harga telur karena faktor libur panjang pasca lebaran dan banyaknya hajatan. “Demand-nya jadi meningkat, walau dikit-dikit jadi banyak juga semua,” tukasnya. 

Diwaktu yang sama, pantauan Infovet mengenai info harga telur melalui website Pinsar Indonesia. (RBS)


Wilayah Jabotabek dan Banten
Harga (Rp per kg)
Kamis, 19 Juli 2018
Minggu, 22 Juli 2018
Serang
22.000-22.500
22.500-22.700
Tangerang
23.000
23.000
Jakarta
22.500-23.000
22.500-23.000
Bogor
23.000
23.000
Cianjur
23.000
23.000
Sukabumi
23.000
23.000
Bekasi
23.000-24.000
23.000
Bandung
22.300
22.800
Tasikmalya
23.000
23.000
Cirebon
21.500
21.500
Kuningan
21.500
21.500

Sumber: Info harga telur Pinsar Indonesia, 2018.

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer