REFLEKSI: MENTAL TAHAN BANTING DALAM BERKARYA
KETIKA KONSUMSI TAK SETARA PRODUKSI
Sepenggal kalimat yang di-posting di salah satu WhatsApp Group (WAG), 21 Agustus 2020, pukul 20:03 itu, kesannya bak pisau bermata dua. Maklum, pengirimnya adalah pejabat Eselon II Kementerian Pertanian. Salah satu pejabat kunci yang memiliki otoritas tinggi dalam penerbitan rekomendasi.
Mungkin saja, maksud sang Pejabat mengirimkan pesan singkat itu sekedar berbasa-basi. Sekedar menjalin komunikasi dengan para anggota WAG, atau bisa jadi bersifat “intimidasi” yang tersembunyi.
Pada tanggal yang sama pukul 14:50, Beliau mem-posting pesan panjang. Isinya mengimbau kepada bapak/ibu pimpinan perusahaan pembibitan dan pakan ayam ras agar dapat menaikkan serta melaksanakan penyerapan live bird (LB) berdasarkan alokasi penyerapan masing-masing perusahaan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab bersama, sehingga stabilisasi perunggasan dapat tercapai dengan lebih baik.
Landasan yang dipergunakan adalah Surat Himbauan No. B-22007/PK.230/F2.5/07/2020 tanggal 22 Juli 2020 tentang penyerapan LB peternak UMKM. Selain itu, juga Surat Himbauan No. B-12005/TU.020/F2.5/08/2020 tanggal 12 Agustus 2020 tentang penyerapan LB internal dan eksternal perusahaan pembibit ayam ras pedaging.
Tunggu punya tunggu, lebih dari 5 jam sejak pesan panjang itu tayang, (mungkin) membuat sang Pejabat penasaran dan bertanya-tanya. Eksekusinya adalah, tayangan sepenggal kalimat ambigu di WAG itu: “Wa saya tdk di respon trima kasih. Gmna hp sy nt rusak tidak bisa klik rekomendasi impor GPS.”
Ajaib, dalam hitungan menit, malam itu juga muncul respon positif: Siap. Keesokan paginya, respon pertama pukul 04:25. Selanjutnya, berurutan muncul respon-respon positif lainnya hingga sore pukul 17:38.
Konsumsi Daging Ayam
Badan Pusat Statistik (BPS) pada 7 November 2019, merilis data “Demand Daging dan Telur Ayam Ras 2020.” BPS mengestimasikan bahwa demand daging ayam ras tahun 2020 sebesar 3.442.558 ton. Bila dikonversikan dengan jumlah penduduk Indonesia, berarti konsumsi daging ayam ras pada 2020 tersebut mencapai 12,79 kg/kapita/tahun.
Pandemi COVID-19 mengubah segalanya. Tak terkecuali tingkat konsumsi masyarakat Indonesia terhadap daging ayam ras. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) pada 14 Juli 2020, menerbitkan skenario baru konsumsi daging ayam menjadi 9,08 kg/kapita/tahun. Berdasarkan revisi itu, demand-nya menjadi 2.447.691 ton. Surplus sekitar 1 juta ton.
Bila ditarik ke arah hulu, berarti juga terjadi kelebihan produksi DOC broiler. Semula diprediksi bahwa produksi DOC broiler pada 2020 sekitar 3,6 miliar ekor. Situasi dan kondisi pandemi COVID-19 tersebut menjadikan produksi DOC broiler berlebihan.
Dampak akhir dari semuanya itu adalah terpuruknya harga LB, khususnya di pulau Jawa. Kegaduhan pun timbul di mana-mana, apalagi di media sosial. Beraneka macam komen bermunculan di berbagai WAG perunggasan. Seperti halnya kejadian-kejadian terdahulu, Ditjen PKH pun turun tangan. Ujung-ujungnya adalah terbitnya suatu kebijakan. Kali ini bukan lagi berbentuk Surat Edaran (SE), tapi Surat Himbauan (SH).
Manfaatkan Momentum
Alih-alih memanfaatkan momentum perlunya pemenuhan gizi guna meningkatkan daya tahan tubuh dalam menghadapi pandemi COVID-19, Kementerian Pertanian (Kementan) justru me-launching kalung Anti Virus Corona Eucalyptus pada 8 Mei 2020. Promosinya luar biasa. Melibatkan berbagai media massa. Tayang di mana-mana. Bahkan, promosi lintas departemental dan institusional.
Tak ayal lagi, klaim sebagai “anti-virus” memantik polemik dan kontroversi. Masing-masing pihak berargumentasi berdasarkan sudut pandang dan latar belakang keilmuannya. Belakangan, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Fadjry Djufry, dalam konferensi virtual pada 6 Juli 2020 melunak. Disebutkannya “Kalaupun tidak punya khasiat membunuh virus corona (COVID-19), paling tidak melegakan pernapasan.”
Sejatinya, Kementan juga melakukan kampanye peningkatan konsumsi daging ayam guna menguatkan daya tahan tubuh. Sayangnya, video promosi itu hanya tayang dalam akun Instagram Kementan @kementerianpertanian. Tidak dipublikasikan secara massif. Tak ada penayangan oleh media mainstream.
Dalam video berdurasi satu menit tersebut Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, mengajak masyarakat untuk mengonsumsi daging ayam sebagai salah satu cara menjaga daya tahan tubuh dari infeksi virus corona (COVID-19).
Memang, momentum selalu ada. Kapan saja dan di mana saja. Tapi uniknya, momentum bisa lewat begitu saja. Dibutuhkan kejelian dan kecerdasan untuk menangkap dan memanfaatkan momentum itu secara pas sehingga menghasilkan manfaat bagi kebanyakan masyarakat.
Dalam situasi pandemi COVID-19, konsumsi daging ayam menurun. Di sisi lain, masyarakat membutuhkan daya tahan tubuh kuat dan sehat guna mengatasi ancaman infeksi virus corona. Tentu saja ini merupakan peluang sekaligus momentum.
Sekiranya Kementan bisa menangkap peluang dan memanfaatkan momentum tersebut secara optimal, maka secara bertahap dan pasti, konsumsi daging ayam bisa setara dengan produksinya. Tak ada lagi pesan singkat pejabat dalam WAG yang bersifat ambigu. Pesan intimidasi berbungkus basa-basi komunikasi. ***
Penulis adalah,
Dewan Pakar Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan Indonesia
TELAH TERBIT BUKU " MENGGALI BERLIAN DI KEBUN SENDIRI"
Berharap burung terbang tinggi, punai di tangan dilepaskan ~Pepatah
Sukses Bisnis dan Keluarga (Refleksi Bambang Suharno)
Beberapa waktu lalu, saya menerima sebuah buku yang sangat bagus langsung dari sang tokoh yang ada di dalam buku tersebut. Judulnya “A Photo Story of Jonas & Amalia”. Di bagian bawahnya ada subjudul “Success is a healthy business owned & guide by a harmonious family”.
Menaik dan Menukik, Sama Salahnya
Belajar dari Sang Nelayan
Alkisah seorang turis kaya asal Amerika Serikat liburan di sebuah pantai Meksiko yang terletak di dusun nelayan. Waktu makan siang, turis ini melihat para nelayan pulang dan menurunkan hasil tangkapan ikan mereka. Kemudian segera bersiap untuk pulang. Merasa penasaran, turis ini menghampiri nelayan dan bertanya, “Tuan, kalau tidak keberatan, bolehkah saya bertanya apa yang sedang kalian lakukan?” Salah satu nelayan menjawab,” Saya baru pulang dari melaut, dan akan pulang ke rumah untuk makan siang dengan keluarga. Setelah itu saya akan tidur siang. Terus bermain dengan anak-anak. Nanti malam, saya akan ke warung, ngobrol santai bersama beberapa teman,” ucap sang nelayan.
Mendengar penjelasan nelayan, sang turis dalam merasa heran, betapa malasnya nelayan ini. Ia pun berkata, “Tuan, apabila tidak keberatan saya mau memberikan beberapa saran. Saya adalah profesor ahli bisnis di sebuah Universitas di Amerika. Saya bisa membantumu agar usaha berkembang lebih maju. Bagaimana kalau tuan pergi melaut lagi sehabis makan siang?”
Turis itu melanjutkan, “Dengan melaut lagi, Tuan bisa mendapat ikan lebih banyak. Mungkin dua kali lipat dari biasanya. Bisa mendapat lebih banyak uang. Dengan uang itu, bisa menggaji pegawai beberapa bulan ke depan dan bisa menambah sebuah perahu lagi. Sehingga jumlah ikan yang tuan tangkap bisa jadi berkali-kali lipat.”
Si turis ini meyakinkan bahwa apabila sang nelayan melakukannya, dia akan menjadi juragan pemilik armada berpuluh-puluh perahu nelayan hanya dalam kurun waktu 5 sampai 6 tahun saja. “Setelah itu tuan bisa memindahkan lokasi perusahaan ke sebuah kota besar dan mengembangkan usaha ke bidang-bidang bisnis lainnya. Tuan bisa jadi pengusaha yang punya banyak duit. Setelah itu bisa pensiun dengan nyaman,” terangnya.
Si turis yang profesor itu meyakinkan bahwa berdasarkan analisanya sang nelayan akan bisa jadi kaya raya dalam tempo waktu beberapa tahun ke depan.
Sang nelayan mendengarkan penjelasan profesor dengan penuh perhatian. Di akhir percakapan itu, sang nelayan bertanya, “Tapi tuan, apa yang akan saya lakukan dengan uang yang sangat banyak itu?” Profesor berpikir sejenak. Dia belum bisa menemukan jawaban yang tepat untuk pertanyaan itu. Satu-satunya yang terlintas dalam pikirannya adalah bagaimana caranya bisa menghasilkan banyak uang.
Lantas profesor itu menjawab, “Dengan uang itu nanti tuan bisa pensiun dan bisa menikmati hidup dengan santai. Mungkin bisa liburan ke kampung nelayan yang tenang dan nyaman, seperti kampung ini. Bisa membeli perahu kecil dan pergi menangkap ikan untuk bersenang-senang di pagi hari dan pulang siang hari untuk makan siang bersama istrimu. Kemudian bisa tidur siang dan bermalas-malasan atau bermain dengan anak-anak. Petang harinya tuan bisa bebas menikmati hidup, pergi ke warung dan menghabiskan waktu dengan teman-teman,” jelasnya.
Tapi sang nelayan itu dengan cepat menjawab, “Bukankah semua momen menyenangkan yang tuan ceritakan itu sama seperti yang aku jalani saat ini?”
Sang professor pun terdiam dan tak mampu berkata-kata lagi.
*****
Begitulah jika tujuan hidup sukses itu semata-mata untuk mendapatkan harta berlimpah. Ujung-ujungnya ketika semua kemewahan didapatkan, yang dicari kemudian adalah kesederhanaan hidup. Cerita di atas oleh beberapa penulis dipakai untuk memberikan saran bahwa hidup itu tidak perlu muluk-muluk karena pada akhirnya yang dicari adalah hidup damai dengan kesederhanaan. Nikmatilah hidup dengan sederhana saja.
Kali ini saya mencoba mengambil hikmah dari persepektif yang berbeda. Mengembangkan usaha skala kecil menjadi besar adalah sebuah cita-cita yang baik. Membuat usaha yang menciptakan lapangan kerja untuk orang banyak adalah sebuah kemuliaan. Kesibukan menjalankan bisnis untuk mengembangkan ekonomi keluarga dan masyarakat sekitar adalah sebuah ibadah.
Jadi bukan sebuah kesalahan jika Anda memiliki harta berlimpah. Yang perlu dicermati adalah untuk apa semua itu. Kalau bekerja keras hanya untuk terlihat keren dengan mobil dan rumah mewah, ketahuilah Anda akan terjerat pada keinginan untuk tetap terlihat mewah hingga hidup selalu dikejar-kejar urusan dunia semata. Ibarat semut yang ingin menikmati lebih banyak madu, ia mati karena menceburkan diri ke dalam cairan madu. Padahal yang dibutuhkan hanyalah menikmati sedikit madu saja, lainnya bisa digunakan untuk semut yang lain.
Jika Anda punya usaha kecil, dimana Anda sudah bisa bersantai bersama keluarga setiap hari, pikirkanlah juga kemungkinan-kemungkinan untuk membuat usaha Anda berperan lebih banyak untuk lingkungan Anda. Pikirkanlah kemungkinan untuk menambah karyawan setiap tahun dengan memperbesar skala usaha atau membuat cabang baru. Pikirkanlah untuk menerapkan teknologi yang lebih efisien dan sejumlah kemungkinan lain yang berpotensi memajukan usaha.
Itu semua perlu pengorbanan waktu untuk belajar mengelola usaha skala yang lebih besar,mencari tambahan modal, bahkan mungkin juga pada tahap tertentu perlu mengencangkan ikat pinggang, mendahulukan usaha dibanding merenovasi rumah.
Manakala seorang nelayan yang punya banyak waktu luang, kemudian mengembangkan usaha sebagaimana saran profesor sebagaimana cerita di atas, kehidupan menjadi penuh dengan tantangan. Mungkin di tengah jalan bisa terbelit hutang, ada kasus kredit macet, ditinggalkan karyawan dan sebagainya. Namun jika semua itu diniatkan untuk ibadah, semuanya akan terasa indah.
Dan ketika sampai pada titik kesuksesan dunia, ia tetap menikmati hidup, tanpa rasa sesal telah menghabiskan banyak energi hanya untuk bisa kembali hidup dengan sederhana di pinggir pantai.
Selamat menjalankan ibadah puasa. ***
Refleksi Majalah Infovet Edisi 287-Juni 2018
Berhenti Mengajar Demi Berjuang (Refleksi Bambang Suharno)
Seorang di antaranya maju mendekati meja paling depan. Sosok itu kemudian mengedarkan pandangannya ke segala penjuru kelas, mengucap salam.
“Saya mau pamit akan berjuang bersama Dai Nipon,” ujar pria itu di depan kelas. Pria berpeci hitam, berkemeja putih kusam, dan celana krem panjang sedikit di bawah lutut itu bernama Soedirman, yang selama ini dikenal sebagai guru kelas yang ramah dan pintar mengajar, sedangkan di sampingnya adalah Isdiman. Soedirman melanjutkan kalimatnya. “Saya minta pangestu (restu), mudah-mudahan berhasil. Anak-anak kalau sudah besar nanti juga harus berjuang. Membela negara.”
Serentak murid-murid menjawab, “Nggih, Pak!”. Sejenak kemudian kelas menjadi gaduh, anak-anak berteriak-teriak. “Selamat berjuang, Pak! Selamat berjuang, Pak! Semoga berhasil!”. Anak-anak itu merasa sedang kehilangan seorang guru kesayangannya. Soedirman menyalami para murid sebelum meninggalkan ruangan sambil melambaikan tangan. Isdiman, yang tak berujar sepatah kata pun, mengikuti di belakangnya.
Beberapa tahun setelah kejadian itu, nama kedua pria yang berpamitan tadi muncul sebagai tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia, yang dikenal di berbagai negara. Soedirman menjadi seorang Jenderal, Panglima Besar TNI, diangkat pada Juni 1947. Adapun Letnan Kolonel Isdiman gugur sebagai Komandan Resimen 16/II Purwokerto, dua tahun sebelumnya, dalam pertempuran melawan tentara sekutu di Ambarawa, Jawa Tengah.
Soedirman mendapatkan pendidikan militer pertamanya dari Jepang. Ia direkrut pemerintah negeri matahari terbit itu pada usia 25 tahun. Soedirman kemudian masuk Peta angkatan kedua sebagai calon daidancho yang dimulai pada April 1944. (diolah dari majalah Tempo
Ketika Indonesia menyatakan kemerdekaan 17 Agustus 1945, Pemerintah Belanda tidak terima. Mereka kembali menyerang Indonesia dengan dukungan tentara sekutu. Namun kekuatan dan kecerdasan sekutu mampu dikalahkan oleh gerilya tentara rakyat indonesia di bawah pimpinan Jenderal Soedirman. Soedirman tidak mengeluh soal minimnya persenjataan TNI. Seandainya ia mengeluh, mungkin riwayat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sudah tamat.
Dalam perundingan pemerintah Belanda dengan para diplomat Indonesia, Belanda menawarkan negara serikat di bawah kordinasi kerajaan Belanda. Untunglah Soedirman menyatakan dengan tegas; kemerdekaan haruslah 100 %, tidak setengah-setengah.
Singkat cerita, perang gerilya sanggup mengalahkan Belanda, dengan moto “maju terus, pantang mundur”. Tentara Indonesia berhasil menduduki Jogjakarta selama 6 jam , yang membuat dunia terperangah dan percaya bahwa negara Indonesia itu nyata, dan kuat. Maka pada tahun 1949 Kerajaan Belanda mengakui kedaulatan NKRI. Inilah sejarah perang kemerdekaan yang menginspirasi banyak negara Asia dan Afrika menjadi berani memerdekakan diri .
Mumpung bulan Agustus, yang merupakan bulan Kemerdekaan, saya coba menyelami kisah seorang Jenderal Soedirman ini . Pelajaran dari kisah ini adalah, jika indonesia sanggup mengalahkan sekutu dengan gerilya, kenapa kini mental kita kerap merasa sudah kalah oleh dominasi ekonomi negara maju? Bisa jadi kekuatan Indonesia bukan pada korporasi melainkan pada ekonomi skala UKM yang dikelola secara baik dan tak perlu banyak bicara, seperti kekuatan perang gerilya. Di Eropa saja, koperasi peternak sapi perah dapat berkembang hingga memiliki industri es krim Campina yg sangat mendunia. Kenapa kita selalu berpikir, kalah karena skalanya kecil, modalnya terbatas? Bukankah Soedirman bergerilnya tanpa mengeluh kekurangan senjata?
Soedirman telah membuktikan perubahan besar pada dirinya, dari seorang guru menjadi prajurit. Keputusan besar telah diambil di usianya yang muda. Dan dipilih melalui pemungutan suara menjadi Panglima Perang sebelum usia 30 tahun dan bisa diangkat menjadi Jenderal TNI di usia 30 tahun. “Jika mau perubahan besar, perlu mengambil keputusan besar”.
Keunggulan Soerdirman adalah jujur, soleh, dan teguh pada prinsip. Ketika para rakyat terombang-ambing oleh perang mempertahankan kemerdekaan, mental para pemimpin diuji. Soedirman menegaskan, maju terus pantang mundur. “Merdeka harusnya tidak setengah-setengah,” begitu pesannya.
Kita, di bulan Agustus ini kita sedang merayakan Proklamasi Kemerdekaan ke-70. Sayangnya saat ini peringatan HUT RI ini semakin hambar dan jauh dari pesan-pesan semangat proklamasi, yang sejatinya sangat penting untuk motivasi meraih sukses di dunia nyata. Seandainya Soedirman masih hidup, mungkin ia berbicara keras kepada orang-orang yang mengeluh karena persaingan yang makin keras, pertumbuhan ekonomi melambat, usaha merugi, piutang tidak tertagih atau mungkin mengeluh karena merasa sial.
“Maju terus pantang mundur, jangan setengah-setengah !” pesan Soedirman, guru SD yang menjadi panglima perang. ***
(dimuat di rubrik refleksi majalah Infovet edisi Agustus 2015)
Di Balik Peluang Ada Peluang
Di balik kesulitan ada kemudahan. Di balik kemudahan, mungkin saja ada kesulitan, dan bisa juga ada kemudahan yang lain. Jika bisnis Anda terasa berat untuk melakukan pertumbuhan, mungkin saja anda tengah mendaki menuju puncak kesuksesan. Sebaliknya jika terasa berjalan ringan, hati-hatilah , siapa tahu di depan ada jurang.
Cerita tentang krisis melahirkan peluang baru, sudah sering kita dengar. Mereka yang sukses di tengah krisis adalah yang percaya bahwa dalam situasi yang sulit mereka dapat melakukan langkah lompatan yang orang lain tidak bisa lakukan. Mereka punya cara berpikir sendiri; di balik kesulitan ada kemudahan.
Ada pula orang yang melihat di balik kemudahan ada kemudahan baru. Tatkala ada trend bisnis tertentu, yang hanya dinikmati masyarakat kelas tertentu, akan muncul orang mampu mengikuti perubahan dan memanfaatkannya meskipun bukan termasuk kelas tertentu tersebut.
Tahun 1800an, di California Amerika Serikat banyak orang ingin masuk ke bisnis tambang emas karena potensinya sangat menjanjikan. Waktu itu banyak konglomerat, orang-orang pintar, dan pejabat menginvestasikan uangnya di bisnis tambang emas. Benar, bisnis tambang emas saat itu sangat booming, dimana-mana orang memilih berbisnis tambang emas kalau ingin meraih potensi besar. Hanya saja yang bisa berbisnis tambang emas adalah mereka yang punya keahlian, dan sudah punya modal, atau mereka yang punya kenalan yang punya modal.
Namun sebagaimana bisnis pada umumnya, tidak semua orang dapat meraih sukses di bisnis tambang emas. Sekitar 90% pebisnis gagal di 5 tahun pertama, dan 5 tahun berikutnya ada 90% lagi yang gagal. Yang tak terduga-duga adalah ada seorang bernama Sam Brannan yang menjadi milioner pertama di California saat itu tanpa menjadi penambang emas.
Dia adalah orang biasa (bukan orang kaya) yang menjual sekop dan alat-alat pertambangan emas. Usaha itu laku keras. Di era yang hampir bersamaan, ada orang lain yang bernama Levi Strauss, yang mencoba peruntungan dengan menjual tenda ke para penambang emas. Sayangnya ia kurang berhasil, karena ternyata sudah banyak yang jual tenda.
Levi Strauss tidak kehilangan akal. Ia percaya pasti ada peluang lain di tengah “kerumunan” penambang emas. Karena punya keahlian menjahit, maka ia mencoba membuat celana yang nyaman dan tahan lama untuk dipakai oleh para penambang emas. Rupanya dari sinilah aliran rejeki Levi Strauss mulai mengalir deras.
Ia akhirnya menjadi milioner juga dalam era pertambangan emas, karena menjual banyak sekali celana jeans ke para penambang emas saat itu. Bukan hanya itu, celana jeans dengan merk Levis itu kemudian berkembang menjadi celana untuk semua orang di manapun di dunia. Bisnisnya berkilau melebihi kilau bisnis tambang emas.
Pertanyaan yang kerap muncul, bagaimana mereka bisa sukses menangkap peluang, sementara yang lain hanya sebagai penonton saja? Mengapa yang lain bisa terus optimis di masa apapun, sebaliknya ada yang tetap mengeluh meski situasi ekonomi negara makin baik.
Jennie S. Bev seorang penulis Indonesia yang tinggal di AS mengatakan, yang penting bagi kita yang mau sukses dalam situasi apapun adalah mindset sukses. “Success is a mindset. It is not a journey, nor a destination. It is already within you,” katanya. Jadi sukses itu mindset, bukan perjalanan, bukan tujuan. Sukses itu sudah ada di dalam diri kita, tinggal dibangunkan saja dari tidurnya.
Menurut American Heritage Dictionary, mindset adalah keyakinan teguh yang menjadi dasar bagi respons-respons dan interpretasi yang dimiliki oleh seseorang terhadap sesuatu kejadian. Terhadap kejadian yang sama, seseorang bermindset sukses mempunyai respons dan interpretasi yang berbeda dengan seseorang yang bermindset pecundang. Contoh mudahnya, apabila seseorang mengalami kesusahan hidup, seorang sukses selalu melihat kesulitan sebagai guru yang baik, karena ia bisa belajar bagaimana mengatasi kesusahan di masa depan. Sebaliknya seorang pecundang, menjadikan kesulitan hidup sebagai alasan mengapa ia sekarang bernasib seperti sekarang, yaitu “malang.” Ia mencari kambing hitam untuk menjelaskan mengapa ia mengalami kegagalan hidup dan hidup penuh kemalangan seperti sekarang ini.
Levi Strauss tidak mampu ikut menjadi investor tambang emas karena tidak punya modal, namun ia terus mencari cara agar bisa ikut bergerak meraih pendapatan besar seiring booming tambang emas. Ia memiliki mindset sukses, sehingga tidak mencari-cari alasan bahwa rakyat biasa tak mungkin bisa menikmati dampak booming-nya tambang emas.***
Memandang Diri Sendiri (artikel Bambang Suharno)
| Buku Bambang Suharno |
Dr. Maltz akhirnya menyadari bahwa apabila orang tidak mengubah cara mereka melihat ke dalam dirinya sendiri, maka sulit bagi mereka untuk memiliki keyakinan dan kebahagian atas apa yang sudah mereka dapatkan. Jika mereka melihat ke dalam sebagai pribadi yang sial, tanpa sadar mereka telah berharap orang lain melihat dirinya sebagai manusia yang kurang beruntung. Hanya mereka yang mengubah pandangan ke dalam dirinyalah, yang merasakan pengalaman yang lebih baru dan lebih bahagia. Dan tidak perlu operasi plastik.
Orang yang memiliki efikasi diri tinggi biasa disebut sebagai orang optimis. Ia tahu bahwa dirinya bisa melakukan sesuatu yang hebat. Sebaliknya orang yang memiliki efikasi diri rendah biasa disebut orang pesimis. Ia tidak yakin mampu melakukan sesuatu. Sikap optimis dan pesimis akan berpengaruh pada cara memandang diri sendiri.
Mereka yang memiliki efikasi diri tinggi cenderung menganggap bahwa kegagalan disebabkan oleh kurangnya kemampuan dan kerja keras. Sedangkan yang memiliki efikasi diri rendah cenderung menganggap kegagalan disebabkan tidak berbakat atau karena lingkungan buruk.
Selain efikasi diri, kita perlu memikirkan yang namanya possible selves , suatu pemikiran tentang sejauh mana kemungkinan Anda dalam mencapai perubahan.
Possible selves bisa berupa diri yang Anda inginkan, bisa juga yang tidak Anda inginkan. Diri yang Anda inginkan misalnya ingin lebih cantik, ingin lebih cerdas, ingin lebih matang, ingin lebih kalem, ingin lebih ramah, dan sebagainya. Diri yang tidak Anda inginkan misalnya lebih jelek, lebih kejam, lebih banyak berbohong, lebih pemarah, dan lainnya. Pemikiran tentang sejauh mana Anda bisa lebih sabar , lebih cerdas atau hal lainnya, sangat membantu memperbaiki persepsi positif terhadap diri sendiri.
Memahami possible selves bisa menjadi motivasi bagi Anda, untuk meraih pencapaian baru, dan akan membuat pandangan terhadap diri sendiri menjadi lebih baik. Anda memikirkan kemungkinan meraih gelar doctor, mendapat beasiswa, menjadi peternak dengan populasi 5 juta ekor ayam atau apapun, jika itu semua dirasakan sangat mungkin bisa dicapai, akan memotivasi dan mendorong Anda untuk terus berjuang lebih optimis mencapai yang Anda inginkan. Sebaliknya jika possible selves Anda menyimpulkan tidak bisa sampai gelar doctor, tidak mendapat beasiswa atau apapun, itu semua keputusan Anda. Dan tentunya akan membuat Anda tidak akan mencapainya.
Memahami possible selves bisa membedakan Anda dengan orang lain. Coba kita lihat fakta orang-orang yang tak perlu bedah plastik namun bisa menjadi artis terkenal, orang yang tinggi badannya realtif pendek tapi bisa menjadi jenderal perang yang sukses, atau orang yang tidak dapat melihat namun bisa menjadi pemimpin negara.
Dengan berkaca pada fakta tersebut possible selves menjadi makin tinggi levelnya. Ini akan membuat pandangan Anda makin positif terhadap diri sendiri dan dengan begitu, hidup Anda akan lebih baik. Semoga.*** Bambang Suharno
Dapatkan buku Jangan Pulang Sebelum Menang dan buku-buku lainnya di www.jurnalpeternakan.com
ADAKAH ALAMAT “PALSU” SUKSES ?
Soal alamat, saya jadi ingat judul sebuah lagu dangdut “Alamat Palsu” yang pernah tenar didendangkan oleh Ayu Ting Ting. Sebab berkait dengan isi Kolom Refleksi, sudah pasti bahwa yang dimaksud alamat di sini adalah sebuah titik lokasi non geografis. Lebih konkritnya bagaimana dan kemana untuk menuju “sukses” itu. Jadi pertanyaannya, adakah alamat sukses yang palsu?
Sukses itu meskipun sebuah tujuan, namun toh sebenarnya lebih mengandung arti proses yang terus berjalan. Ibarat sebuah tanaman, maka tahapan itu adalah terus tumbuh dan berkembang. Oleh karena itu sangatlah penting untuk dibatasi pengertian apa itu sukses. Meski sebenarnya tidak ada kata pengganti yang tepat untuk kata sukses selain menunjukan adanya proses yang terus berjalan meskipun banyak kendala yang merintangi.
Tak ada pula makna kata “sukses” yang berarti sebuah jenis kata “aktif”. Padahal sukses itu sudah pasti bukan bermakna pasif. Oleh karena itu definisi dan batasan sukses itu jika digabungkan dengan tempat, lokasi atau titik, sudah pasti menjadi bermakna pasif.
Alamat sukses sendiri adalah lebih mengandung arti sebuah pencapaian yang mampu memberikan perasaan senang, tenang dan nyaman bagi seseorang. Zona nyaman, kebebasan finansial, kemerdekaan berekspresi dan dapat begitu mencintai aktifitas yang dilakukan, itu menjadi beberapa parameter yang lebih rasional dan bisa diterima secara umum.
Menjadi wajar dan tak salah jika kemudian muncul pertanyan sebagai berikut :
Apakah seorang eksekutif sebuah Perusahaan yang bergaji Rp 500.000.000 tiap bulan sudah masuk dalam katagori level sukses?
Apakah seorang penjual nasi uduk keliling dengan penghasilan bersih Rp 25.000 per hari digolongkan belum mencapai sukses?
Tentunya akan menjadi semakin bias pengertian kata “sukses”. Lalu apakah seorang eksekutif itu benar-benar sudah mengerti, merasakan, menikmati dan sampai pada alamat tujuan sukses? Sedangkan si penjaja nasi uduk keliling itu contoh yang belum dan tidak sukses?
Kembali pada pertanyaan adakah alamat palsu sukses itu?
Sudah pasti alamat palsu sukses itu ada. Dua contoh ekstrim diatas adalah buktinya. Seorang eksekutif, meskipun dengan membawa pulang setengah miliar rupiah setiap bulan, namun jika belum tenang, tak nyaman atau kurang mendapat ruang untuk berekspresi, adalah kisah seorang yang sedang menemui alamat sukses, namun bukan yang sebenarnya, alias palsu.
Aktifitas kerjanya bukanlah merupakan hal yang mampu memberikan spirit untuk terus tumbuh dan berkembang, namun karena lebih didorong sebuah keharusan, dan ‘rasa takut’ terhadap pemilik perusahaan. Inisiatif dan kepekaan untuk berkreasi banyak dibebani oleh sebuah tanggung jawab pihak ketiga. Bukan pertanggungjawaban terhadap diri sendiri.
Justru si penjaja nasi uduk yang berkeliling keluar masuk kampung itulah yang telah menemukan alamat sukses sebenarnya. Barangkali meskipun dalam sehari hanya mampu menyisihkan nominal Rp 25.000 dari total omset hasil penjualannya. Namun kebebasan dan kemerdekaannya dalam berekspresi melebihi batasan seorang eksekutif itu. Kreasi dalam menjalankan pekerjaannya hanya dikontrol oleh dirinya sendiri, tanpa harus mempertanggungjawabkan kepada pihak lain.
Barangkali juga rasa aman, nyaman itu juga dia rasakan, karena ia sudah mampu menakar hasil yang akan dia peroleh. Dalam hal ini kebebasan finansial tentu saja jauh lebih ia rasakan karena keinginan dan kebutuhannya sudah dia ukur sendiri. Tak akan ia bunuh diri dengan memasang pasak lebih besar dari tiang.
Poin penting yang dapat dicatat dari uraian diatas adalah bahwa sukses adalah sebuah proses yang berjalan terus menerus dan bermakna aktif. Parameter materi atau hitungan angka ekonomis kurang mampu menegaskan makna sebuah kesuksesan. Kita bisa terjebak pada alamat “sukses yang palsu” jika proses “sukses” itu kurang memberikan rasa nyaman, aman, tenang serta terbelenggunya kebebasan berekspresi.
TINGKAT PENERIMAAN
Hal terpenting bukanlah apa yang kita harapkan, melainkan apa yang bisa kita terima. (Adam Khoo dan Stuart Tan)
JIKA anda ingin meraih kesukseskan, buatkan impian yang jelas dan sampaikanlah impian itu ke orang lain. Jangan takut untuk bermimpi dan jangan takut dicemooh orang. Silakan anda bercita-cita berpenghasilan setinggi mungkin, bercita-cita keliling dunia bersama keluarga, bercita-cita membangun tempat ibadah dan sekolah gratis. Apapun. Kata Bung Karno, “Gantungkan cita-citamu setinggi bintang di langit”.
Yang perlu diingat, dalam pencapaian atas cita-cita tersebut, ada satu faktor yang sangat penting, yaitu tingkat penerimaan anda.
Dalam buku Master Your Mind Design Your Destiny, Adam Khoo, seorang motivator asal Singapura, menegaskan , hal terpenting adalah bukan yang kita harapkan melainkan apa yang kita bisa terima dalam hidup. Itulah yang disebut “tingkat penerimaan”.
Begini kira-kira penjelasan singkatnya. Umpamanya Anda memimpikan penghasilan bersih 100 juta per bulan, rumah bagus di tengah kota, mobil mewah dan sejumlah simbol kekayaan lainnya. Akan tetapi dengan latar belakang keluarga dan pengalaman anda selama ini, anda masih bisa menerima pendapatan 3 juta/bulan. Pendapatan sebesar 3 juta itulah yang disebut tingkat penerimaan anda.
Tingkat penerimaan ini menjadi begitu penting karena faktanya, pada umumnya pendapatan kita berada di sekitar tingkat penerimaan itu. Misalkan suatu saat penghasilan anda kurang dari 2juta, maka pikiran bawah sadar anda akan menyentuh “tombol panik” dan anda akan melakukan berbagai kreativitas agar memperoleh pendapatan di atas “tingkat penerimaan” tadi.
Dari banyak kasus, ternyata kondisi panik ini akan membuat orang lebih kreatif dan berhasil menaikkan pendapatan minimal sesuai tingkat penerimaan.
Bukan hanya soal pendapatan, tingkat penerimaan berlaku dalam banyak hal di kehidupan kita sehari-hari. Anda ingin mengunjungi 100 negara dalam 10 tahun? Jika keinginan ini hanya sebatas keinginan dan anda merasa tidak apa-apa jika hanya bisa pergi ke kawasan ASEAN, maka tingkat penerimaan ini cenderung akan membuat impian 100 negara hanya tercapai sampai wilayah ASEAN saja.
Nah, di sinilah kita perlu mengkaji ulang, antara cita-cita besar dan tingkat penerimaan. Cita-cita besar dan kerja keras belumlah cukup untuk menghasilkan keberhasilan yang nyata, kalau anda memiliki tingkat penerimaan yang rendah.
Itu sebabnya, tatkala kita memiliki cita-cita yang tinggi, kita perlu menaikan tingkat penerimaan secara bertahap, sehingga secara bertahap target kita akan tercapai. Naikkanlah tingkat penerimaan anda, maka anda akan lebih dekat dengan impian anda.
Proses menaikkan tingkat penerimaan adalah proses yang membutuhkan kemampuan menangani stress. Bukan hanya kerja keras yang anda perlukan. Dibutuhkan langkah inovasi. Jangan lupa anda perlu berdoa meminta jalan terbaik dari-Nya.
Brad Sugar, pebisnis asal Australia menambahkan saran yang sangat baik, dan menurut saya bisa mendukung pandangan Adam Khoo. Ia mengatakan, nasib ada 5 tahun lagi tergantung pada apa yang anda pelajari, dengan siapa saja anda berteman/bekonsultasi, dan aksi apa yang anda lakukan sehari-hari. Dapat dikatakan, jika kita sudah menaikkan tingkat penerimaan, selanjutnya lakukan 3 hal sebagaimana saran Brad Sugar.
Misalkan anda ingin berkunjung ke 100 negara, anda perlu mempelajari soal travelling, tempat wisata, jasa wisata, harga tiket, harga sewa hotel dan sebagainya. Anda perlu sering bersilaturahmi dengan rekan-rekan yang pernah keliling dunia untuk memotivasi dan mendapat pengetahuan tentang “kiat meraih impian keliling dunia”. Dan anda perlu melakukan aksi mengumpulkan dana untuk meraih impian anda.
Tingkat penerimaan, adalah pertanda sebuah keharusan, bukan anjuran. Adam Khoo mengatakan, sebagian besar manusia ingin meraih impian tapi jarang yang menganggap sebagai keharusan. Cita-cita itu hanya sebatas sebagai anjuran saja. Jikalau cita-cita hanya berupa anjuran saja, maka anda akan mudah berhenti ketika hambatan menghadang.
Bagaimana dengan Anda?
Masih Tersedia buku kumpulan Artikel Refleksi
“Jangan Pulang Sebelum Menang” karya Bambang Suharno.
Pesan ke Gita Pustaka, telp: 021.7884 1279 (Aidah)
Sudahkah Anda Bahagia?
Desember 2012 lalu Gallup, lembaga riset internasional, merilis hasil survey mengenai persepsi kebahagiaan dari rakyat di 148 negara. Hasilnya cukup mencengangkan. Negara yang selama ini dianggap sebagai negara makmur, ternyata rakyatnya belum tentu bahagia. Malah negara-negara berkembang di Amerika Latin dan Karibia seperti Panama, Paraguay, El Salvador, Venezuela berada di peringkat atas sebagai negara yang
Lingkaran Setan dan Lingkaran Malaikat
DI sebuah forum, Wawan (bukan nama sebenarnya), seorang pengusaha mainan anak-anak, mengisahkan masalah berat yang dihadapi tatkala puluhan tokonya mengalami kerugian. Hutang ke supplier menumpuk hingga miliaran rupiah dan tidak dapat dibayar akibat barang yang tersedia di toko sudah tidak diminati pelanggan. Kesalahan memprediksi kebutuhan pelanggan menjadi penyebab utama dari masalah ini.“Saya menghadapi lingkaran setan,” ujarnya.
ARTIKEL POPULER MINGGU INI
-
Cara Menghitung FCR Ayam Broiler. FCR adalah singkatan dari feed convertion ratio, yaitu konversi pakan terhadap daging. FCR digunakan untuk...
-
Di dunia ini terdapat beberapa jenis ayam terbesar di dunia. Baik dari segi tinggi badannya, ukuran badannya, maupun berat badannya. Di anta...
-
Ayam abang adalah ayam ras petelur yang sudah memasuki masa “pensiun” bertelur. (Foto: Dok. Infovet) Ayam abang menjadi salah satu bisnis “s...
-
Cara menjadi mitra JAPFA untuk kemitraan ayam pedaging adalah dengan melalui PT Ciomas Adisatwa, yang merupakan anak perusahaan dari PT JAPF...
-
Prof Dr Ismoyowati SPt MP, dari Unsoed, membawakan materi Mekanisme Kemitraan dalam Budidaya Ayam Broiler, dalam webinar Charoen Pokphand In...
-
Sumber: Balitbangtan Kementan Ayam KUB adalah ayam kampung galur (strain) baru, merupakan singkatan dari Ayam Kampung Unggul Balitbangtan. A...
-
Salah satu ciri telur asin yang berkualitas adalah bagian kuning telurnya yang tampak masir. (Foto: Istimewa) Bukan hanya cara menyimpannya,...
-
Foto: ilustrasi Meskipun sama-sama multi purpose breed, yaitu bisa dipelihara sebagai pedaging maupun petelur, namun perbedaan bebek Peking ...
-
Salah satu komponen penting beternak bebek petelur adalah memilih jenis bebek petelur yang tepat. Tingginya produktivitas bukan satu-satunya...
-
Dalam dunia peternakan bebek, proses penetasan telur menjadi salah satu kunci utama keberhasilan produksi Day Old Duck (DOD). Terdapat dua c...








