-->

Penggerak Konsumsi Protein Hewani, Jadi Tugas Duta Ayam dan Telur

Foto bersama saat pemilihan Duta Ayam dan Telur. (Foto: Infovet/Ridwan)

Masi rendahnya konsumsi protein hewani yang berasal dari unggas melatarbelakangi hadirnya Duta Ayam dan Telur yang diinisiasi oleh Forum Majalah Peternakan (Format) bersama Pinsar (Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat) Indonesia.

“Penobatan Duta Ayam dan Telur ini dalam industri perunggasan diharapkan menjadi penggerak masyarakat untuk gemar mengonsumsi ayam dan telur,” ujar Ketua Panitia, Farid Dimyati pada acara pemilihan Duta Ayam dan Telur, Selasa (6/11).

Menurutnya, hadirnya duta ayam dan telur bisa ikut mendongkrak peningkatan konsumsi ayam dan telur di Indonesia.

Senada, Ketua Format, Suhadi Purnomo, mengungkapkan, konsumsi ayam dan telur di Indonesia per tahunnya masih jauh lebih rendah dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia. “Penetapan Duta Ayam dan Telur ini nantinya bisa membantu meningkatkan program konsumsi ayam dan telur,” ungkapnya.

Berdasarkan data konsumsi antara BPS, Kementan dan Kemenko Perekonomian, tingkat konsumsi penduduk Indonesia terhadap daging ayam sekitar 11,5 kg per kapita per tahun, sementara konsumsi telur hanya sekitar 6,63 per kapita per tahun, ini masih jauh lebih rendah ketimbang Malaysia, Thailand dan Singapura.

Selain ikut mendorong peningkatan konsumsi, lanjut Suhadi, Duta Ayam dan Telur ini juga akan berkontribusi pada momen-momen penting kampanye ayam dan telur seperti pada kegiatan Indo Livestock Expo ataupun International Livestock Dairy Meat Processing and Aquaculture Exposition (ILDEX) Indonesia.

“Kita juga akan kerjasamakan dengan perusahaan-perusahaan industri perunggasan, selain kegiatan-kegiatan dinas yang mendukung program pemerintah. Mudah-mudahan bermanfaat,” ucapnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), Kementerian Pertanian, I Ketut Diarmita, mengapresiasi kehadiran Duta Ayam dan Telur ini. “Duta ini sangat menolong sebagai salah satu upaya menyerap hasil usaha peternakan kita. Intinya meningkatkan konsumsi ayam dan telur agar kita bisa mensukseskan swasembada protein hewani,” ujar Ketut.

Dalam kegiatan tersebut, Dewan Juri yang terdiri dari  Ketua Umum GPPU (Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas) Ahmad Dawami, Direktur Pemasaran dan Pengolahan Hasil Peternakan Fini Murfiani dan pakar SDM Vera Damayanti, resmi menobatkan Offie Dwi Natalia dan Andi Muhammad Ricki Rosali sebagai Duta Ayam dan Telur periode 2018-2021. Keduanya terpilih melalui seleksi ketat dari puluhan aplikasi.

(Dari kiri) Fini Murfiani, Andi Muhammad Ricki Rosali, I Ketut Diarmita, Offie Dwi Natalia dan Direktur Perbibitan Sugiono. (Foto: Infovet/Ridwan)

Diakui Offie dan Muhammad Ricki, mereka optimis bisa mengangkat konsumsi protein hewani yang berasal dari ayam dan telur. “Amanah yang baru saja diemban menjadi tugas bersama untuk mengembangkan konsumsi ayam dan telur. Saling bahu-membahu mempromosikan konsumsi ayam dan telur,” ujar keduanya.
(RBS)

Seminar Penyakit Infeksi Baru dan Konsep One Health Dikupas

Foto: Dok. Kementan


Memperingati ‘One Health Day’, Kementerian Pertaniaan (Kementan), FAO Indonesia, Kementerian Kesehatan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan diundang dalam kuliah umu/Studium Generale di Universitas Udayana, Bali, Sabtu (3/11/2018). Direktur Kesehatan Hewan (Dirkeswan), Ditjen PKH, Drh Fadjar Sumping Tjatur Rasa menjadi salah satu narasumber.

Dalam sesi dialog tersebut, Dirkeswan menyampaikan pemerintah saat ini mewaspadai kemunculan Penyakit Infeksi Baru (PIB) yang mengancam manusia dan hewan.

Fadjar menjelaskan dalam 30 tahun terakhir, PIB semacam Avian Influenza/Flu Burung, Ebola, MERS-COV, Zika Virus maupun SARS biasanya terjadi mencakup geografis yang luas serta mengancam manusia dan menimbulkan kerugiaan ekonomi yang tinggi.

“Pengendalian PIB dan penyakit zoonosis bergerak menuju konsep ‘One Health’ yaitu upaya kolaboratif dari berbagai profesi ilmu kesehatan, bersama dengan dengan disiplin ilmu dan institusi yang berhubungan serta bekerja di tingkat lokal, nasional dan global,” katanya.

Konsep One Health  dimaksudkan untuk mencapai tingkatan kesehatan yang optimal bagi masyarakat, hewan, dan lingkungan. Penanganannya tidak lepas dari tiga sektor penting, yaitu satwa liar, kesehatan hewan, dan kesehatan masyarakat.

Lebih lanjut Fadjar menerangkan, kemunculan PIB dan zoonosis erat kaitannya dengan peningkatan populasi manusia dan hewan/ternak, arus urbanisasi yang tinggi, perubahan sistem pertanian dan alih fungsi lahan (kerusakan hutan), serta globalisasi perdagangan hewan.

“Adanya kasus penyakit di satwa liar, kemungkinan dapat menularkan ke hewan domestik atau langsung ke manusia, sehingga memerlukan usaha mitigasi risiko”, ungkap Fadjar.

Komponen penting mitigasi merupakan kemampuan untuk mendeteksi, melaporkan, dan memberi respons awal, sehingga pengendalian penyakit dapat dilakukan di sumber sebelum menginfeksi atau menularkannya ke hewan lain atau bahkan ke manusia.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis (P2TVZ) Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengatakan, penyakit zoonosis itu sangat sulit ditemukan obatnya. Menurutnya, flu burung misalkan, saat ini hanya bisa disembuhkan oleh obat Tami Flu.

Oleh karena itu, 3E yang menjadi keutamaan dari One Health yaitu early detection, early reporting dan early response mutlak untuk ditingkatkan di semua sektor. “Kerja bersama lintas elemen menjadi dasar terwujudnya dan terlaksananya one health," terangnya.

Dalam kesempatan yang sama, Team Leader FAO ECTAD Indonesia James McGrane mengakui, One Health mudah diucapkan, tapi sulit melaksanakannya. Semua pihak harus membangun empati sosial dan semangat kekeluargaan yang kuat, sehingga semua elemen sosial dari berbagai pemangku kepentingan menyatu.

“Saya melihat realisasi pengendalian rabies di Bali yang dilakukan Kementerian Pertanian, FAO, dan lainnya. Di sana terlihat  keberhasilan menyusun Tata Laksana Gigitan Terpadu (Takgit) yang membuat penanganan rabies lebih cepat,” ujarnya.

Konsep tersebut merupakan upaya strategis untuk menjauhkan Indonesia dari ancaman pandemi. 
“Karena Indonesia dikenal sebagai hotspot penyakit baru di Asia, jadi kerja bersama dengan semua sektor itu adalah hal mutlak,” jelas Kepala Subdit Keamanan Hayati Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Lulu Agustina.

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana I Nengah Kerta Besung berharap, para mahasiswa yang hadir dalam perayaan One Health Day akan menjadi agen perubahan yang dapat berkolaborasi, berkoordinasi, dan berkomunikasi lebih baik lagi dalam mengatasi ancaman pandemi.

“Komunikasi dan keterlibatan mahasiswa diharapkan meningkatkan kepedulian masyarakat untuk menjaga kesehatan lingkungan,” pungkasnya. (NDV)


110 Tahun Berkiprah, Bblitvet Adakan Workshop Emerging Zoonotic Diseases

Pembicara hari pertama Workshop & Training Emerging Zoonotic Diseases yang digelar Bblitvet. (Foto: Infovet)

Menyambut 110 tahun kiprahnya, Balai Besar Penelitian Veteriner (Bblitvet) menggelar Workshop and Training on Emerging and Re-emerging Zoonotic Diseases in Indonesia pada Senin, (5/11/2018).

Kepala Bblitvet Dr drh NLP Indi Dharmayanti MSi kepada media mengemukakan, di berbagai belahan dunia emerging dan re-emerging disease merupakan penyakit penting yang sedang diupayakan solusinya, penanganan sekaligus pengendaliannya.

"Emerging disease adalah infeksi yang baru muncul dalam sebuah populasi dan meningkat secara cepat dalam sebuah wilayah geografis," ungkap Indi.

Lebih lanjut Indi menjelaskan, re-emerging disease merupakan infeksi yang muncul kembali dengan peningkatan yang cepat.

Dalam kegiatan ini juga diuraikan mengenai penyakit Zoonosis. Topik informasi terkini Zoonosis secara global dipresentasikan narasumber dari School of Veterinary Science The University of Queensland, Brisbane, Australia, Prof Joanne Meers PhD.T

Tujuan dari workshop ini untuk memberikan gambaran tentang situasi dari beberapa penyakit zoonotik yang muncul dan muncul kembali dalam perspektif Indonesia," tutur Indi dalam sambutannya.

Selain workshop juga diadakan training dengan peserta yang terdiri dari para dokter hewan dari daerah. Kegiatan pelatihan  mengusung topik 'Sample, Handling, and Collection'.

Lokakarya ini dihadiri 150 peserta dari berbagai lembaga pemerintah dan universitas, serta perusahaan dan asosiasi, seperti Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bawah Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Pusat Penelitian di bawah Badan Litbang, UPT di bawah Badan Indonesia untuk Karantina Pertanian (IAAQ), Fakultas Kedokteran Hewan (IPB, UGM, Udayana, Brawidjaja), BIN, GEGANA, NUBIKA, PORDASI, ASOHI, PT Caprifarmindo, dan PT. Vaksindo. (NDV)

Benarkah Ceker Ayam Menyehatkan?

Olahan ceker ayam (Sumber: Istimewa)

((Sebagian orang enggan menyantap olahan ceker ayam dengan berbagai alasan. Namun bagi penggemarnya, bagian kaki ayam ini tak sekadar nikmat, namun juga berkhasiat. Benarkah?))

Sore itu matahari belum sempurna tenggelam. Masih menyisakan rona merah yang menambah pesona indah langit di sekitaran Kebayoran, Jakarta Selatan. Sebuah warung tenda baru saja dibuka pemiliknya. Namun dalam sekejap, deretan meja kayu dan kursi plastik yang ada di samping gerobak terisi penuh pembeli.

Soto Ceker Pak Ali, spanduk kecil yang dipasang di pagar menjadi identitas warung tersebut. Semakin malam, semakin banyak pengunjung yang datang ke warung ini. Tak sedikit pengunjung kedai ini datang membawa mobil atau motor.

“Kalau lagi ramai seperti ini bisa habis 50 kilo (kg) ceker sehari, kalau sepi rata-rata 40 kilo,” kata Sugianto, anak pemilik Warung Soto Ceker Pak Ali, yang juga mengelola warung ini kepada Infovet.

Konsumen warung soto ceker ini beragam, mulai dari tukang ojek, karyawan toko, sampai orang-orang kantoran makan di sini. Tak jarang, di saat-saat tanggal muda banyak pembeli yang rela antre untuk mendapat tempat duduk. “Selain nikmat, harganya juga murah. Pas buat kantong saya,” tutur Sarwaji, salah satu pengunjung.

Bagi yang tak suka menu ceker, warung ini juga menyediakan daging ayam sebagai pengganti ceker untuk sotonya. Namun, kedai tenda ini tetap menjadikan ceker ayam sebagai jualan utamanya.

Itulah salah satu gambaran betapa besarnya potensi pasar olahan ceker ayam di sekitar Jakarta. Walau sebagian orang merasa jijik, namun olahan ceker ayam punya banyak penggemar. Pedagang makanan yang berbahan ceker ayam pun terus menjamur. 

Menurut Ahmad Dawami, dari Japfa Group, konsumen di Indonesia memiliki keragaman selera terhadap ayam. Ada yang suka dagingnya atau jeroannya, bahkan hingga cekernya.

“Dengan begitu, para penjual eceran daging ayam juga bisa menikmati keuntungan dari usahanya, mulai dari daging sampai jeroan ayam. Jangan salah, jeroan termasuk ceker dan kepala ayam, memiliki pasar tersediri di masyarakat kita. Dan itu menunjukkan daya beli yang bagus di tengah masyarakat,” ujar Dawami.

Gizi Ceker Ayam
Apa sebenarnya gizi yang terkandung pada ceker ayam? Benarkah hanya karena harganya saja yang murah, atau karena memiliki khasiat yang menyehatkan? Dua pertanyaan ini layak di jawab oleh ahli gizi.

Menurut Dr Ir Elly Tugiyanti, ahli gizi dari Universitas Soedirman (Unsoed), Purwokerto, Jawa Tengah, banyaknya penggemar menu ceker ayam bukan semata karena harganya yang murah. Penggemar ceker ayam bervariasi, mulai dari yang berkantong pas-pasan hingga mereka yang berduit. Ini soal selera saja.

Selain itu, ceker ayam juga merupakan menu yang menyehatkan. Bagian kaki ayam ini memiliki kandungan gizi yang cukup penting bagi kesehatan tubuh. Elly menjelaskan, kandungan gizi pada ceker ayam bervariasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain jenis ayam, manajemen pemeliharaan dan umur ayam.

“Dari referensi yang ada menyatakan bahwa pada ayam dari bangsa yang berbeda kandungan kolagennya juga berbeda. Ayam yang muda kandungan kolagennya cenderung lebih rendah dibandingkan dengan ayam yang lebih tua,” ujar Elly. 

Ketua Bagian Produksi Ternak, Fakultas Peternakan Unsoed ini menjelaskan, banyak referensi hasil penelitian yang mengulas seputar ceker ayam. Ia mencontohkan, tulang ceker ayam tersusun oleh komponen utama kalsium fosfat (57,35%), kolagen (33,3%) dan kalsium karbonat (3,85%). Ceker ayam ras mengandung kadar air (65,90%), protein (22,98%), lemak (5,60%), kadar abu (3,49%), lain-lain (2,03%).

Tingginya kandungan protein dalam ceker ayam merupakan protein kolagen. Selain mengandung gizi dan kolagen, ceker ayam juga mengandung asam amino yang cukup lengkap seperti tertera pada tabel di bawah ini.

Profil Asam Amino pada Ceker Ayam dengan Kandungan Kolagen Tinggi dan Rendah
Asam Amino (%)
Ceker Ayam
Kolagen Tinggi
Kolagen Rendah
Aspartic acid
8.14 ± 0.15
6.77 ± 0.24
7.08 ± 0.17
Glutamic Acid
10.63 ± 0.17
9.45 ± 0.01
9.15 ± 0.02
Hydroxyproline
11.10 ± 0.27
10.85 ± 0.04
9.15 ± 0.10
Serine
-
4.14 ± 0.12
3.95 ± 0.01
Glycine
15.20 ± 0.48
17.65 ± 0.19
20.83 ± 0.39
Histidine
4.97 ± 0.11
5.99 ± 0.22
4.98 ± 0.01
Alanine
2.39 ± 0.05
1.94 ± 0.03
2.04 ± 0.09
Arginine
3.89 ± 0.11
10.27 ± 0.18
10.20 ± 0.40
Proline
3.32 ± 0.01
9.81 ± 0.40
9.68 ± 0.21
Tyrosine
5.53 ± 0.06
0.85 ± 0.01
1.38 ± 0.03
Valine
4.69 ± 0.16
3.41 ± 0.08
3.56 ± 0.02
Methionine
4.27 ± 0.12
1.34 ± 0.01
1.86 ± 0.08
Isoleucine
5.56 ± 0.08
2.30 ± 0.01
2.65 ± 0.07
Leucine
9.46 ± 0.20
5.43 ± 0.40
5.69 ± 0.08
Phenylalanine
4,99 ± 0,05
2.75 ± 0.10
2.75 ± 0.01
Lysine
5.84 ± 0.10
7.06 ± 0.32
5.04 ± 0.34
Imino acids (%)
14.42
20.66
18.83
Σ Hydrophobic Amino Acids
62.49
55.47
58.21
Sumber: Araujo et al, 2018.

Menurut Elly, tubuh manusia membutuhkan kolagen, karena zat ini merupakan protein utama yang menyusun komponen matriks ekstraseluler dan paling banyak ditemukan di dalam tubuh manusia. Keberadaannya, mencapai sekitar 30% dari seluruh protein yang terdapat di tubuh dan 70% kolagen terdapat pada kulit.

Kolagen kebanyakan ditemukan di jaringan fibrosa seperti tendon, ligamen dan kulit, Selain itu, kolagen juga dibutuhkan untuk pembentukan kartilago, tulang, persendian, rambut, gigi, pembuluh darah, usus.

Salah satu yang memengaruhi kekuatan tulang adalah kolagen tulang. Kolagen mempunyai efek terhadap kesehatan tubuh. Salah satunya mempertahankan sistem imunitas, sehingga tubuh tidak mudah terserang penyakit. Kolagen juga mengisi 1-2% jaringan otot dan mengisi 6% massa otot. Kebutuhan kolagen ini mencapai dari 1.000-5.000 miligram per hari.

Meski demikian, konsumsi kolagen yang berlebihan tidak disarankan. Pada manusia, kolagen yang berlebihan, sebagian akan dibuang bersama feses dan urin. “Akan tetapi, sisa bagian yang lain akan merusak organ dimana kolagen banyak terkandung, antara lain memar, adanya pigmentasi kulit, rusaknya pembuluh darah, organ pencernaan dan lainnya,” jelas Elly. 

Bikin Awet Muda?
Soal kandungan kolagen pada ceker ayam juga pernah diulas di laman Universitas Nasional Chung-Hsing, Taiwan, beberapa waktu lalu. Di salah satu artikelnya disebutkan, para peneliti di Departemen Ilmu Pengetahuan Hewan universitas ini menemukan bahwa kaki ayam sangat kaya akan kolagen yang bisa membuat kulit jadi awet muda.

Artikel ini juga menuliskan bahwa ceker ayam kaya akan asam hyaluronic dan kondroitin sulfat. Keduanya memberikan manfaat kesehatan untuk tubuh. Asam hyaluronic berperan penting dalam mempertahankan kelembaban kulit, yang pada akhirnya membantu mencegah penuaan kulit. Sedangkan kondroitin sulfat merupakan karbohidrat kompleks yang membantu tulang rawan untuk menyimpan air. Dengan kata lain, kondroitin sulfat mampu mengatasi masalah sendi.

Dalam penelitian lain, seorang dokter hewan asal Australia, Harry Robertson, mempelajari potensi ceker ayam dalam meregenerasi neuron, tulang, otot dan jaringan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ceker ayam memiliki kemampuan untuk menyembuhkan luka dengan cepat.

Meskipun memiliki banyak manfaat, tapi ada beberapa orang yang tidak menyukai ceker ayam karena dianggap menjijikan, tidak ada dagingnya atau terlalu banyak kulit. Jadi, beruntunglah buat Anda yang menyukai ceker ayam. Mungkin Anda akan bisa memiliki wajah awet muda. Percaya? (Abdul Kholis)

Gaduh Impor Jagung 100.000 Ton, Begini Penjelasan Kementan

Konferensi Pers soal penjelasan jagung (Foto: Dok. Kementan)

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, pada  2 November 2018 menyampaikan kepada media, telah memerintahkan kepada Menteri Pertanian untuk mengeluarkan rekomendasi impor jagung pakan ternak sebanyak 100.000 ton dan menugaskan kepada Perum Bulog untuk melakukan impor. Menurut Menko, impor jagung ini dilakukan untuk menjaga kebutuhan para peternak mandiri. Hal tersebut diputuskan usai pemerintah melangsungkan rapat koordinasi (rakor) terbatas yang lakukan di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta.

Terkait gaduhnya pemberitaan mengenai rencana impor jagung, Kementerian Pertanian (Kementan), melalui Sekretaris Jenderal Kementan Syukur Iwantoro memberikan penjelasan. 

Dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (3/11/2018), Syukur menyebut produksi jagung nasional 2018 surplus, bahkan telah melakukan ekspor ke Filipina dan Malaysia. Kelebihan produksi tersebut diperoleh setelah menghitung perkiraan produksi 2018 dikurangi dengan proyeksi kebutuhan jagung nasional.

Hal tersebut sekaligus menepis anggapan bahwa pakan ternak yang naik belakangan ini diakibatkan oleh melesetnya data produksi.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Tanaman Pangan (DitjenTP) Kementan, produksi jagung dalam 5 tahun terakhir meningkat rata-rata 12,49 persen per tahun. Artinya, tahun 2018 produksi jagung diperkirakan mencapai 30 juta ton pipilan kering (PK). Hal ini juga didukung oleh data luas panen per tahun yang rata-rata meningkat 11,06 persen, dan produktivitas rata-rata meningkat 1,42 persen (BPS,2018).

Perkiraan ketersediaan produksi jagung bulan november sebesar 1,51 juta ton, dengan luas panen 282.381 hektare, bulan desember 1,53 juta ton, dengan luas panen 285.993 hektare, tersebar di sentra produksi Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Gorontolo, Lampung, dan provinsi lainnya. 

Sementara dari sisi kebutuhan, berdasarkan data dari Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementan, kebutuhan jagung tahun ini diperkirakan sebesar 15, 5 juta ton PK, terdiri dari pakan ternak sebesar 7,76 juta ton PK, peternak mandiri 2,52 juta ton PK, untuk benih 120 ribu ton PK, dan industri pangan 4,76 juta ton PK.

“Artinya Indonesia masih surplus sebesar 12,98 juta ton PK, dan bahkan Indonesia telah ekspor jagung ke Philipina dan Malaysia sebanyak 372.990 ton,” katanya. 

Secara umum produksi jagung nasional saat ini sangat baik. Di wilayah Indonesia Barat panen terjadi pada Januari-Maret, mencakup 37 persen dari produksi nasional. Sedangkan ke wilayah Indonesia Timur, panen cenderung mulai bulan April-Mei.  

Sentra produksi jagung tersebar yang di 10 provinsi yakni Jatim, Jateng, Sulsel, Lampung, Sumut, NTB Jabar, Gorontalo, Sulut, Sumbar total produksinya sudah mencapai 24,24 juta ton PK. Artinya 83,8 persen produksi jagung berada di provinsi sentra tersebut berjalan dengan baik.

Permasalahan Distribusi Jagung dan Pasca Panen


Kondisi yang terjadi seperti saat ini, di mana harga jagung di beberapa lokasi sentra industri pakan meningkat, bukan berarti produksi dan pasokan jagung dari petani dalam negeri  bermasalah. 

“Ada beberapa faktor yang turut mempengaruhi meningkatnya harga jagung di suatu lokasi, terutama karena sebaran waktu dan lokasi produksi yang bervariasi. Di samping itu, pabrikan pakan ternak/ konsumen yang terfokus pada lokasi tertentu saja seperti Medan, Banten, Jabar, Jateng, Surabaya, Sulsel,” terang Syukur.

Terkait harga jagung untuk pakan ternak, bahwa kebutuhan jagung untuk pabrik pakan saat ini sebesar 50 persen dari total kebutuhan nasional sehingga sensitif terhadap gejolak. Kendalanya yang terjadi adalah karena beberapa pabrik pakan tidak berada di sentra produksi jagung, sehingga perlu dijembatani antara sentra produksi dengan pengguna agar logistiknya murah. 

Saat ini tercatat ada 93 pabrik pakan di Indonesia yang tersebar di Sumut 11 unit, Sumbar 1 unit, Lampung 5 unit, Banten 16, unit Jabar 11 unit, DKI Jakarta 6 unit, Jateng 12 unit, Jatim 21 unit, Kalbar 1 unit, Kalsel 2 unit, dan Sulsel 7 unit. Beberapa pabrik pakan di daerah seperti, Banten, DKI Jakarta, Kalbar dan Kalsel, tidak berada di sentra produksi jagung.

Tahun 2018, pemerintah bertekad memenuhi kebutuhan jagung sepenuhnya dari produksi dalam negeri tanpa impor jagung sama sekali. Untuk mencapai target tersebut, Kementan mengalokasikan bantuan benih jagung seluas 2,8 juta hektar yang tersebar di 33 provinsi sesuai dengan potensi lahan, lokasi pabrik pakan, dan ekspor. Dampak dari kebijakan ini sudah dirasakan dengan adanya peningkatan produksi.

Selain bantuan benih, tahun 2018 ini Kementan juga menganggarkan pembangunan pengering jagung (dryer) sebanyak 1.000 unit untuk petani. Hal ini dilakukan karena sebagian besar petani jagung tidak memiliki alat pengering, sehingga menyebabkan timbulnya persoalan kualitas jagung yang dipanen pada musim hujan kurang baik dan cenderung basah.

“Pemerintah provinsi juga didorong untuk berperan dengan membangun buffer storage, yaitu menyerap surplus produksi pada waktu puncak panen, dan menyimpannya untuk dilepas kembali pada waktu produksi menurun,” tegasnya. 

Imbuh Syukur, persoalan lain yang juga perlu diselesaikan adalah menyederhanakan rantai pasok. Alur perdagangan jagung saat ini umumnya masih panjang dan menyebabkan harga cenderung tinggi. Jagung dari petani biasanya dijual ke pedagang pengumpul, dan selanjutnya dijual lagi ke pedagang besar. Dari pedagang besar ini, barulah dipasarkan ke industri.

Terkait distribusi, terdapat perbedaaan biaya transportasi tujuan penjualan pasar domestik dan tujuan ekspor. Sebagai contoh, biaya tranportasi Tanjung Priok, Jakarta ke Tanjung Pandan, Belitung lebih mahal dibandingkan biaya transportasi Tanjung Priok ke Pelabuhan Port Klang Malaysia. Untuk transportasi dari Tanjung Priok ke Pelabuhan Tanjung Pandan, tiket untuk mobil angkut dengan kapasitas  14 ton sebesar Rp 33 juta. 

Biaya ini belum termasuk biaya solar mobil dan biaya lainnya.Sementara Tanjung Priok ke Pelabuhan Port Klang Malaysia dengan kapasitas 24-27 ton hanya membutuhkan biaya USD 1.750 atau sekitar Rp 2,6 juta. Biaya tersebut tersebut sudah termasuk dengan pengurusan semua dokumen.

Upaya Kementerian Perdagangan membangun sistem resi gudang di berbagai daerah belumlah berfungsi optimal, sehingga petani tetap terpaku pada sistem konvensional. Berdasarkan laporan lapangan misalnya, gudang dan pengering untuk resi gudang yang tidak berfungsi optimal tersebut ada di Luwu Raya, Minahasa Selatan, Garut, dan Lampung. Seharusnya, ketika terjadi akumulasi panen pada suatu periode, program resi gudang dimaksimalkan agar nilai tambah dan risiko produsen serta konsumen dapat dimitigasi.

Menjembatani Disparitas Harga


Berdasarkan informasi dari Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan (PPHTP) Gatut Sumbogodjati, pada Bulan Oktober 2018 ini harga jagung hanya sekitar Rp 3.691 bahkan 3 bulan yang lalu harga jagung sempat turun di Provinsi Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara hingga Rp2.887. 

Harga jagung yang dinilai meningkat di akhir-akhir ini dinilai bukan karena kekurangan stok. Karena dari harga di tingkat petani tersebut, ditambahkan dengan biaya processing dan penyusutan bobot akibat pengeringan sebesar 15 persen maka harga jagung di pengguna akhir tidak lebih dari Rp 4.250 per kg. Hal ini menunjukkan disparitas harga di petani dan di industri yang menjadi indikasi diperlukannya pembenahan rantai pasok jagung.

Persoalan jagung bukan hanya masalah produksi. Kenapa pada saat harga tinggi banyak yang komplain masalah produksi. Padahal jelas-jelas data menunjukkan produksi kita surplus. Harus digarisbawahi persoalan konektivitas sentra produksi ke pengguna jagung yang memusat di beberapa provinsi saja.

“Kementan akan senantiasa membantu industri pakan atau pengguna lainnya yang kesulitan mencari jagung. Pengguna yang kesulitan mendapatkan jagung dapat langsung berkomunikasi dengan Direktorat Serealia Kementan,” tandas Syukur.

Dalam jangka panjang, Kementan menyatakan siap mendampingi terbentuknya kemitraan Business to Business (B to B) antara industri pakan dengan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) sehingga industri mendapat jagung sesuai spesifikasi yang diinginkan dan pasokan jagungnya terjamin. (NDV)

Jejaring Influenza Virus Monitoring Dikembangkan Kementan, FAO Beri Pujian

Delegasi FAO saat melakukan kunjungan ke BBVet Wates, Yogyakarta (Dok. Humas Kementan RI) 

Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) memberikan apresiasi kepada Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian (Kementan) yang berhasil mengembangkan
suatu jejaring inovasi dalam upaya pengendalian dan penanggulangan penyakit Avian Influenza (AI).

Jejaring tersebut adalah Influenza Virus Monitoring (IVM) Online yang merupakan sebuah sistem untuk memonitor sifat antigenik dan genetik dari virus A, khususnya Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI) pada unggas di Indonesia.

Sistem ini terintegrasi secara online dan hasilnya dapat ditampilkan dalam sebuah map (peta). Jejaring inovasi tersebut telah sukses mengkarakterisasi isolat virus AI secara antigenik, genetik dan biologis.

Yaya Adisa Olaitan Olaniran Permanent, Representative of Nigeria untuk FAO bersama 9 delegasi lainnya saat melakukan kunjungan ke Balai Besar Veteriner Wates (BBVet) Yogyakarta, Jumat (02/11/2018) menyampaikan pujiannya atas IVM Online. 

“Sejak peluncurannya pada tahun 2014 telah memberikan dampak yang signifikan dalam upaya pengendalian dan penanggulan penyakit AI.” Demikian pernyataan Yaya dalam siaran pers yang diterima Infovet. 

Kunjungan tersebut dilakukan ke sejumlah kota di Indonesia untuk melihat perkembangan proyek pertanian hasil kerja sama FAO dengan Indonesia. Orogram IVM online merupakan kerjasama pemerintah Indonesia dengan FAO-OFFLU dalam meningkatkan sistem monitoring evolusi virus dan deteksi dini virus AI varian baru di Indonesia. Dalam kegiatan ini Indonesia mendapat dukungan laboratorium referensi OIE, seperti Australian Animal Health Laboratory (AAHL). 

Sementara itu, Boethdy Angkasa selaku Kepala Subdit Pengamatan Penyakit Hewan Direktorat Kesehatan Hewan Ditjen PKH Kementan menyampaikan bahwa pengguna IVM online akan dengan mudah mengetahui posisi virus AI yang bersirkulasi di Indonesia dan melaporkannya dengan cepat dan tepat kepada para pengambil kebijakan. 

"Ini tentunya akan membantu kita untuk menetapkan tindakan pengendalian selanjutnya, seperti penentuan jenis vaksin yang baru dan antigen untuk diagnosa,” ucap Boethdy Angkasa.

Boethdy mengungkapkan bahwa cara kerja IVM online terintegrasi dengan sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional (iSIKHNAS) untuk data awal dan isolate. “IVM Online telah didukung oleh sekitar 40 tenaga ahli anggota IVM Online yang secara rutin bertemu, bertukar informasi dan menerima pelatihan,” ujarnya.

Saat ini anggota IVM Online meliputi 8 laboratorium diagnostik (Balai Besar Veteriner/BBVET dan Balai Veteriner/BVET), Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH),  Pusvetma, BBLITVET dan Pergutuan Tinggi (FKH-UNAIR). BBVet Wates sebagai focal point pengendali kegiatan IVM Online juga ditunjuk sebagai Laboratorium Veteriner rujukan nasional untuk AI di Indonesia. 

Pada kesempatan itu, Kepala BBVET Wates Bagoes Poermadjaja menyampaikan laboratorium yang dipimpinnya telah menjadi laboratorium rujukan nasional untuk penyakit AI, Antrax, penyakit pada ternak yang disebabkan oleh Bakteri Salmonela (Salmonellosis), penyakit Sapi Gila (BSE). 

BBVet Wates yang merupakan Unit Pelaksana Teknis dibawah Ditjen PKH ini telah terakreditasi ISO 17025 tahun 2004 dan ISO 9001 tahun 2010, dengan wilayah kerjanya meliputi  3 Provinsi yakni Jawa Timur, Jawa Tengah, dan DIY Yogyakarta. (NDV)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer