-->

AGAR PRODUKSI DAN KUALITAS KOLOSTRUM SAPI PERAH MENINGKAT



Sapi perah perlu menghasilkan setidaknya 6 liter kolostrum berkualitas baik dengan nilai Brix ≥22% untuk memenuhi kebutuhan pedet yang baru lahir. Namun, sekitar 25–60% sapi perah berpotensi menghasilkan kolostrum dalam jumlah yang tidak mencukupi atau dengan kualitas yang kurang baik berdasarkan standar yang direkomendasikan.

Menurut penelitian yang dikutip Selko, penggunaan Selko IntelliBond, yaitu sumber mineral mikro hidroksi (hydroxy trace minerals), dapat meningkatkan produksi kolostrum sekitar 1 liter per ekor tanpa menurunkan konsentrasi IgG dalam kolostrum.

Pentingnya manajemen kolostrum pada pedet
Manajemen kolostrum yang baik merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan pemeliharaan pedet. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa jumlah kolostrum yang dikonsumsi pedet dapat memengaruhi kekebalan tubuh, pertumbuhan, metabolisme, dan status hormonal pada masa awal kehidupannya.

Manajemen kolostrum yang baik juga tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemberian kolostrum yang tepat dapat berpengaruh terhadap produktivitas pada masa laktasi berikutnya serta umur produktif sapi. (Selko Feed Additives)
Ada beberapa alasan mengapa pedet harus mendapatkan kolostrum dalam jumlah dan kualitas yang memadai.

Kolostrum mengandung imunoglobulin
Kolostrum sapi mengandung berbagai jenis imunoglobulin, terutama IgG, IgA, dan IgM. IgG merupakan imunoglobulin yang paling dominan sehingga konsentrasi IgG sering digunakan sebagai parameter utama untuk menilai kualitas kolostrum.

Secara umum, kolostrum dianggap berkualitas baik apabila memiliki konsentrasi IgG ≥50 mg/mL.
Di tingkat peternakan, kualitas kolostrum dapat diperiksa secara praktis menggunakan kolostrometer atau refraktometer Brix. Nilai Brix minimal sekitar 22% umumnya berkorelasi dengan konsentrasi IgG sekitar 50 g/L atau lebih. Akan tetapi, manfaat kolostrum sebenarnya tidak hanya berasal dari kandungan antibodinya.

Kolostrum memberikan kekebalan pasif kepada pedet
Pedet yang baru lahir belum memiliki sistem kekebalan yang berkembang sempurna. Mereka juga belum memiliki pengalaman imunologis terhadap berbagai mikroorganisme penyebab penyakit.
Respons kekebalan pada pedet yang baru lahir juga relatif lambat. 

Oleh karena itu, antibodi maternal yang diperoleh melalui kolostrum menjadi sangat penting untuk memberikan perlindungan terhadap berbagai patogen pada minggu-minggu pertama kehidupannya.IgG, IgA, dan IgM yang terdapat dalam kolostrum membantu menyediakan kekebalan pasif bagi pedet pada periode kritis tersebut. Karena itu, bukan hanya keberadaan kolostrum yang penting, tetapi juga seberapa cepat pedet mendapatkannya setelah lahir dan berapa banyak yang dikonsumsi.

Pedet membutuhkan energi dari kolostrum sejak jam-jam pertama kehidupannya
Kolostrum juga merupakan sumber energi yang sangat penting bagi pedet. Saat lahir, kandungan lemak tubuh pedet relatif sangat rendah, yaitu kurang dari 3% bobot tubuhnya. Sebagian lemak tersebut merupakan brown fat atau lemak cokelat yang kaya akan mitokondria.

Lemak cokelat memiliki fungsi penting dalam membantu pedet mempertahankan suhu tubuh melalui mekanisme non-shivering thermogenesis, yaitu produksi panas tanpa harus menggigil. Cadangan lemak cokelat tersebut berada di sekitar organ-organ vital, seperti jantung dan ginjal. Kolostrum menyediakan energi yang dibutuhkan untuk mengaktifkan mekanisme produksi panas tersebut. Menurut artikel Selko, kandungan energi kolostrum sekitar 5,4 kJ ME/L dan disebutkan sekitar dua kali lebih tinggi dibandingkan susu.

Pedet memang dapat bertahan hingga sekitar 15 jam tanpa mendapatkan kolostrum, tetapi cadangan energinya akan cepat terkuras apabila tidak mendapatkan kolostrum dalam beberapa jam pertama setelah lahir.

Ketika cadangan energi semakin menipis, suhu tubuh pedet dapat turun. Pedet kemudian menjadi lemah dan lesu. Pada kondisi hipotermia, refleks menyusu dapat menghilang sehingga pedet semakin tidak mampu minum. Dengan kata lain, semakin terlambat pedet mendapatkan kolostrum, semakin besar risiko terjadinya masalah kesehatan.

Kolostrum juga mengandung faktor pertumbuhan
Selain antibodi dan energi, kolostrum sapi mengandung berbagai growth factors atau faktor pertumbuhan yang berperan dalam perkembangan pedet.
Beberapa di antaranya adalah:
Insulin-like Growth Factor-1 (IGF-1)
Insulin-like Growth Factor-2 (IGF-2)
Transforming Growth Factor-alpha (TGF-α)
Transforming Growth Factor-beta (TGF-β)

Faktor-faktor tersebut berperan dalam menjaga integritas saluran pencernaan, mendukung pertumbuhan, serta membantu perkembangan sistem kekebalan pedet. Kolostrum sapi merupakan sumber penting faktor pertumbuhan tersebut bagi pedet yang baru lahir. 

Berapa banyak kolostrum yang dibutuhkan pedet?
Sebagai pedoman, pedet dianjurkan mendapatkan kolostrum sekitar 10–12% dari bobot lahirnya pada pemberian pertama. Untuk pedet sapi perah yang baru lahir, artikel ini merekomendasikan sedikitnya 4 liter kolostrum berkualitas baik dalam 12 jam pertama kehidupan.

Pemberian pertama idealnya dilakukan dalam 1–2 jam setelah kelahiran. Sebagai gambaran, pola pemberian yang disebutkan dalam artikel adalah:

Pemberian pertama:
3–4 liter kolostrum sesegera mungkin setelah lahir.
Pemberian kedua:
Sekitar 2 liter, enam jam kemudian.
Pemberian berikutnya:
Tambahan 1–2 liter pada sekitar 12 jam setelah lahir apabila memungkinkan.
Agar pola pemberian tersebut dapat dilakukan secara optimal, seekor sapi induk idealnya menghasilkan sedikitnya 6 liter kolostrum berkualitas baik dengan nilai Brix ≥22%. 

Apakah sapi perah menghasilkan kolostrum yang cukup?
Masalahnya, tidak semua sapi mampu menghasilkan kolostrum dalam jumlah yang cukup. Dalam salah satu penelitian yang melibatkan 1.731 laktasi sapi Holstein, sebanyak 62,6% sapi menghasilkan kurang dari 6 kg kolostrum pada pemerahan pertama.

Lebih jauh lagi, hanya 27,7% sapi yang menghasilkan sedikitnya 6 kg kolostrum dengan nilai Brix 22%. Penelitian dari University of New Hampshire juga menemukan bahwa sekitar 12% sapi tidak menghasilkan kolostrum sama sekali, sedangkan hampir 25% menghasilkan kolostrum dalam jumlah terlalu sedikit untuk memenuhi kebutuhan pedetnya.

Penelitian yang lebih baru juga menunjukkan bahwa sekitar 73% sapi dara yang baru pertama kali melahirkan (primiparous) dan 61% sapi yang telah beberapa kali melahirkan (multiparous) menghasilkan kolostrum dalam jumlah yang tidak memadai. 

Dengan demikian, berdasarkan penelitian-penelitian tersebut, diperkirakan sekitar 25–60% sapi perah dapat menghasilkan kolostrum yang jumlahnya tidak mencukupi atau tidak memenuhi standar kualitas yang direkomendasikan.

Ini merupakan persoalan penting dalam manajemen pedet karena produksi kolostrum yang rendah dapat menyulitkan peternak memenuhi kebutuhan pemberian kolostrum pada jam-jam pertama kehidupan.

Apa yang terjadi ketika sapi diberi Selko IntelliBond?
Salah satu pendekatan yang ditawarkan Selko adalah penggunaan Selko IntelliBond, yang mengandung mineral mikro dalam bentuk hydroxy trace minerals.

Menurut Selko, sejumlah penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa penggunaan sumber mineral tersebut sebagai pengganti sumber mineral sulfat dapat memberikan dampak positif terhadap kesehatan dan performa sapi perah. Selko juga menyebutkan bahwa penggunaan IntelliBond dapat meningkatkan produksi Energy Corrected Milk (ECM) sekitar 1–1,5 kg per ekor per hari.

Salah satu penelitian yang dilakukan oleh Professor Jose Santos dari University of Florida secara khusus mengevaluasi pengaruh pemberian IntelliBond selama periode close-up—yaitu periode menjelang kelahiran terhadap produksi kolostrum.

Penelitian University of Florida
Sebanyak 141 ekor sapi Holstein dilibatkan dalam penelitian tersebut. Sapi dibagi secara acak menjadi dua kelompok:

Kelompok pertama:
30 ekor sapi dara dan 40 ekor sapi multiparitas diberi mineral dalam bentuk sulfat.

Kelompok kedua:
31 ekor sapi dara dan 40 ekor sapi multiparitas diberi Selko IntelliBond sebagai pengganti penuh sumber mineral sulfat.

Perlakuan dimulai sekitar 21 hari sebelum sapi melahirkan.
Mineral tambahan yang diberikan terdiri atas:
Zinc (Zn): 30 mg/kg bahan kering ransum
Copper (Cu): 7 mg/kg bahan kering ransum
Manganese (Mn): 22 mg/kg bahan kering ransum

Produksi serta kualitas kolostrum kemudian dibandingkan pada pemerahan pertama setelah sapi melahirkan.

Hasil penelitian: produksi kolostrum meningkat
Penggantian sumber Zn, Cu, dan Mn dari bentuk sulfat menjadi sumber mineral IntelliBond tidak memengaruhi konsumsi bahan kering sapi sebelum melahirkan. Namun, terdapat kecenderungan peningkatan produksi kolostrum sekitar 1,0 kg.

Pada sapi dara, produksi kolostrum meningkat dari rata-rata:
5,54 kg → 7,07 kg
Sementara pada sapi multiparitas:
4,89 kg → 5,47 kg

Jika sapi dara dan sapi multiparitas digabungkan, peningkatan produksi kolostrum pada pemerahan pertama mencapai sekitar 1 kg. Nilai p yang dilaporkan adalah 0,08, sehingga hasil tersebut lebih tepat disebut sebagai tendency atau kecenderungan, bukan perbedaan yang signifikan secara statistik pada tingkat konvensional p<0,05. 

Bagaimana dengan kualitas kolostrumnya?
Yang menarik, peningkatan volume kolostrum tersebut tidak diikuti dengan penurunan parameter kualitas utama.
Tidak ditemukan perbedaan yang berarti dalam:
persentase lemak,
persentase protein,
persentase laktosa,
total padatan,
jumlah sel somatik,
nilai Brix, maupun
konsentrasi IgG.

Nilai Brix pada kedua kelompok berada di sekitar 27%, sedangkan konsentrasi IgG berada pada kisaran 106–122 g/L, tergantung kelompok sapi.  Artinya, berdasarkan penelitian tersebut, peningkatan volume kolostrum tidak menyebabkan efek pengenceran terhadap konsentrasi IgG.

Bahkan, total IgG yang dihasilkan cenderung meningkat karena jumlah kolostrum yang diproduksi lebih banyak. Pada sapi dara, total IgG meningkat dari sekitar 574 g menjadi 735 g, sedangkan pada sapi multiparitas meningkat dari sekitar 572 g menjadi 615 g. Namun, perbedaan tersebut tidak mencapai tingkat signifikansi statistik yang dilaporkan dalam penelitian. 

Memanfaatkan senyawa tanaman untuk meningkatkan kualitas kolostrum
Selain IntelliBond, artikel Selko juga membahas produk lain yang disebut Fytera Lacteco. Fytera Lacteco disebut sebagai PhytoComplex yang dipatenkan dan digunakan sebagai bahan tambahan pakan alami untuk sapi.

Menurut beberapa penelitian yang dikutip Selko, pemberian Fytera Lacteco selama 30 hari terakhir sebelum kelahiran dapat meningkatkan kadar imunoglobulin dalam kolostrum dan memperbaiki proses transfer antibodi maternal kepada pedet. 

Dalam salah satu percobaan, pedet dari sapi yang mendapatkan Fytera Lacteco mencapai kadar IgG serum 24 g/L pada 24 jam setelah lahir, yang digunakan dalam penelitian tersebut sebagai ambang keberhasilan transfer imunitas maternal.

Dengan demikian, pendekatan yang ditawarkan Selko tidak hanya berfokus pada meningkatkan jumlah kolostrum, tetapi juga pada upaya mempertahankan atau meningkatkan kualitas imunologis kolostrum.

Membangun program manajemen kolostrum yang baik
Manajemen kolostrum merupakan bagian yang sangat penting dalam pemeliharaan pedet. Kolostrum memberikan tiga manfaat utama bagi pedet:

1. Antibodi untuk membangun kekebalan pasif.
2. Energi untuk membantu mempertahankan suhu tubuh dan memenuhi kebutuhan metabolisme awal kehidupan.
3. Faktor pertumbuhan yang mendukung perkembangan saluran pencernaan dan sistem kekebalan.

Karena itu, peternakan sapi perah perlu memastikan bahwa sapi mampu menghasilkan kolostrum dalam jumlah yang cukup dan dengan kualitas yang baik. Target yang disebutkan dalam artikel adalah setidaknya 6 liter kolostrum dengan nilai Brix ≥22% dari pemerahan pertama.
 
Namun, sebagaimana ditunjukkan oleh berbagai penelitian, sebagian besar peternakan berpotensi menghadapi masalah produksi kolostrum yang tidak mencukupi. Program peningkatan produksi kolostrum dapat meningkatkan volume kolostrum sekitar 1–3 liter per ekor, dan menurut artikel tersebut peningkatan volume tersebut dapat dicapai tanpa harus menurunkan konsentrasi IgG.

Sumber mineral yang digunakan dalam ransum dapat menjadi salah satu faktor yang berpengaruh. Penggantian sumber mineral sulfat dengan Selko IntelliBond dalam penelitian University of Florida meningkatkan produksi kolostrum pada pemerahan pertama sekitar 1 liter, tanpa menurunkan konsentrasi IgG. 

Sementara itu, pemberian Fytera Lacteco selama 30 hari terakhir kebuntingan dilaporkan dapat meningkatkan kadar imunoglobulin kolostrum dan memperbaiki transfer kekebalan pasif kepada pedet.

Kesimpulan
Manajemen kolostrum yang baik merupakan fondasi penting dalam keberhasilan pemeliharaan pedet. Pedet membutuhkan kolostrum bukan hanya sebagai sumber antibodi, tetapi juga sebagai sumber energi dan berbagai faktor pertumbuhan yang diperlukan untuk perkembangan awal tubuh dan sistem kekebalan.

Idealnya, pedet mendapatkan kolostrum berkualitas tinggi sesegera mungkin setelah lahir. Untuk mendukung program tersebut, sapi induk perlu menghasilkan kolostrum dalam jumlah yang memadai.
Artikel Selko menunjukkan bahwa sekitar 25–60% sapi perah berpotensi tidak menghasilkan kolostrum dalam jumlah yang cukup sesuai standar yang direkomendasikan. 

Penelitian University of Florida yang melibatkan 141 ekor sapi Holstein menunjukkan bahwa penggantian sumber Zn, Cu, dan Mn berbasis sulfat dengan Selko IntelliBond hydroxy trace minerals cenderung meningkatkan produksi kolostrum sekitar 1 kg pada pemerahan pertama, tanpa menurunkan nilai Brix maupun konsentrasi IgG kolostrum. 

Dengan demikian, menurut artikel tersebut, pengelolaan sumber mineral mikro dapat menjadi salah satu bagian dari strategi yang lebih luas untuk meningkatkan produksi kolostrum dan mendukung program manajemen pedet. (INF)

PANEN 500 EKOR PEDET, SINJAI-SULSEL LOKOMOTIF TERNAK SAPI KERBAU NASIONAL


Panen 500 ekor Pedet, Sinjai-SulSel Lokomotif Ternak Sapi Kerbau Nasional

Sinjai,_Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) melakukan panen 500 ekor pedet (sapi) beserta induknya di Kabupaten Sinjai, Provinsi Sulawesi Selatan (30/07). Kegiatan ini sekaligus memantau realisasi program Sapi Kerbau Komoditas Andalan Negeri (Sikomandan) di Kabupaten Sinjai.

Program ini juga merupakan bagian dari upaya Kementerian Pertanian (Kementan) dalam mengakselerasi pertumbuhan populasi dan peningkatan produksi ternak sapi dan kerbau dalam negeri.

"Sikomandan saya nilai sebagai langkah nyata pemerintah bersama masyarakat untuk mengakselerasi pertumbuhan populasi dan peningkatan produksi ternak sapi dan kerbau di dalam negeri," ujar Menteri SYL.

Dijelaskan, kegiatan Sikomandan ini merupakan salah satu fokus kegiatan utama jajaran Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementan. Sikomandan juga merupakan rangkaian kegiatan yang tidak terpisahkan dari kegiatan tahun sebelumnya dan dirancang dengan pendekatan yang lebih melibatkan peran aktif para petugas teknis dan masyarakat sebagai pelaku pembangunan.

Untuk mendorong keberhasilan program Simomandan ini, Menteri SYL mengajak masyarakat untuk meningkaykan kesadaran akan pentingnya protein hewani. Harapannya ini bisa menjadi pendorong semangat bagi semua pihak untuk berupaya mewujudkan swasembada protein hewani.

Menteri SYL menerangkan, upaya mewujudkan swasembada protein hewani tidak sebatas pada kemampuan penyediaan pangan asal hewan yang cukup bagi masyarakat, tetapi juga harus disertai dengan peningkatan kualitas konsumsi pangan masyarakat yang berbasis sumberdaya lokal.

Dalam mencapainya, semua pihak perlu menggerakkan seluruh sumberdaya yang ada untuk pembangunan peternakan, demi mewujudkan Indonesia sebagai sumber pangan dunia.

Tercatat dalam kurun 2017 - 2020 Kementan berhasil melakukan inseminasi buatan (IB) pada ternak sapi dan kerbau sebanyak 13.868.641 akseptor dan telah menghasilkan anak dari hasil perkawinan IB sebanyak 6.133.896 ekor. Sampai dengan 27 Juli 2020 secara Nasional, program Sikomandan telah melakukan IB sebanyak 2.318.136 akseptor, bunting 1.359.094 ekor dan kelahiran sebanyak 1.394.446 ekor. Dengan keberhasilan tersebut terjadi lompatan populasi sapi/kerbau yang cukup signifikan selama lima tahun terakhir, yaitu sebesar 3,37 juta ekor, sehingga populasi saat ini berjumlah 18,82 juta ekor.

Sulawesi Selatan sendiri dinilai sebagai salah satu sentra pertanian dan peternakan di pulau Sulawesi, karena mempunyai posisi strategis dalam penyediaan pangan. Dalam pengembangan ternak Sikomandan tahun 2020, pemerintah Sulawesi Selatan telah mampu melakukan IB mencapai 37.851 akseptor dan menghasilkan kelahiran anak sebanyak 24.728 ekor.

"Kontribusi hasil pertanian dan peternakan Sulawesi Selatan telah mampu untuk mencukupi kebutuhan masyarakatnya," katanya.

Lebih lanjut, diungkapkan pemerintah melalui Kementan telah menyiapkan bantuan bagi masyarakat peternak yang meliputi: sapi potong 120 ekor, kambing/domba 675 ekor, babi 100 ekor, dan ayam lokal 4.500 ekor. Bantuan ini dikatakan sebagai bentuk apresiasi kinerja peternak dan mendorong laju pertumbuhan pembangunan peternakan dan kesehatan hewan di Sulawesi Selatan.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), I Ketut Diarmita menyampaikan turut bangga atas capaian para peternak Indonesia dalam meningkatkan populasi sapi. Ia berpendapat, jika semangat ini terus dijaga peternak Indonesia bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri bahkan dunia, sesuai visi lumbung pangan dunia 2045.

"Kami bangga pada peternak Indonesia yang bersemangat mengembangkan sapi nasional, sehingga populasinya meningkat, lebih berkualitas, dan dapat mensejahterakan peternak," ujar Ketut.

Ketut menjelaskan capaian realisasi program Sikomandan Provinsi Sulawesi Selatan sampai dengan 28 Juli 2020 berdasarkan data Isikhnas. Proses IB berhasil 54,32 persen atau 35.495 akseptor dari target 65.350. Sementara kebuntingan sapi sebanyak 35.378 ekor atau 84,92 persen dari target 41.660. Sedangkan kelahiran menghasilkan sebanyak 24.919 ekor anak atau 28,16 persen dari target 88.494.

Sementara itu, realiasi Sikomandan di Kabupaten Sinjai per 28 Juli 2020 juga cukup tinggi. Dari target 4.500 akseptor, berhasil dikawinkan sebanyak 2.865 akseptor atau 63,67 persen dari target. Realisasi IB mencapai 3.679 dosis atau 78.30 persen dari target 4.950 Tingkat kebuntingan juga cukup tinggi di angka 92,86 persen dari target 2.900 ekor dan yang terealisasi 2.693 ekor. Kemudian untuk kelahiran, dari target 6.146 ekor, terealisasikan sebanyak 1.669 ekor atau 27,16 persen dari target.

"Hasilnya cukup fantastis. Sikomandan yang salah satu kegiatannya adalah gerakan Inseminasi Buatan (IB) secara masif dan hasilnya seperti yang bisa kita lihat pada kegiatan panen pedet ini," tandas Ketut.****

EMBRIO TERNAK BET CIPELANG MENARIK MINAT BANGLADESH

BET Cipelang, Bogor (Foto: Ditjen PKH)



Embrio ternak (pedet unggulan) hasil produksi Balai Embrio Ternak (BET) Cipelang, Bogor salah satu unit pelaksana teknis Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Kementerian Pertanian menarik minat pemerintah Bangladesh.

Hal ini terbukti pada saat kunjungan delegasi Kementerian Perikanan dan Peternakan Bangladesh ke BET Cipelang, Senin, 21 Oktober 2019.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), Kementerian Pertanian, I Ketut Diarmita ketika dikonfirmasi membenarkan hal tersebut dan mengatakan bahwa Kementan selalu mendorong kegiatan ekspor berbagai produk peternakan dan kesehatan hewan, termasuk untuk produk embrio ternak.

Untuk ekspor embrio ternak ini, Kementan masih melakukan pembahasan dan persiapan terkait tarif Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang akan dikenakan, meliputi perhitungan biaya produksi dan distribusi ke negara lain.

“Setelah semua siap, kita dorong BET untuk segera ekspor produknya ke mancanegara,” ujarnya.

Sementara itu, Oloan Parlindungan, Kepala BET Cipelang menyampaikan bahwa ketertarikan para delegasi dari Bangladesh ini terlihat dari keinginan mereka untuk mengirimkan pegawai teknisnya ke BET Cipelang agar dapat belajar tentang embrio transfer di Indonesia.

Salah satu yang diminati adalah terkait pengembangan sapi Belgian Blue. Belgian Blue adalah salah satu sapi unggulan yang dikembangkan di BET Cipelang.

Sampai September 2019, terdapat 103 kelahiran Belgian Blue di BET Cipelang, dan jumlah ini adalah kedua terbanyak setelah BPTU-HPT Sembawa dengan jumlah kelahiran sebanyak 139 ekor.

“Mereka tertarik untuk belajar dan mengembangkan sapi dengan teknologi embrio transfer, dan juga belajar tentang pengelolaan kegiatan upaya khusus sapi indukan wajib bunting (Upsus Siwab),” tambahnya.

Hal senada diungkapkan oleh Pulakesh Mondal, Senior Assistant Chief, Ministry of Fisheries and Livestock Bangladesh yang menyatakan banyak hal penting yang dipelajari oleh delegasi Bangladesh di BET Cipelang ini.

“Kami punya banyak Balai Inseminasi Buatan di Bangladesh, tapi belum ada unit yang menangani transfer embrio, dan ini menarik bagi kami,” lanjutnya.

Kunjungan delegasi Bangladesh kali ini masih merupakan rangkaian dari kegiatan Livestock & Dairy Development Project (LDDP), suatu program peningkatan kapasitas dari pemerintah Bangladesh yang didanai oleh Bank Dunia.

Tujuan dari kunjungan delegasi Bangladesh ke Indonesia ini adalah untuk memahami beberapa praktek pengelolaan persusuan, strategi produksi, sampai pada bagaimana peternak mendapat manfaat dari industri persusuan di lndonesia. Di BET Cipelang mereka belajar bagaimana menciptakan sapi perah yang mempunyai produksi susu tinggi melalui teknologi embrio transfer dan inseminasi buatan.

“Ini adalah kali kedua dalam tahun ini, Kementerian Perikanan dan Peternakan Bangladesh mengirimkan para pejabat dan stafnya untuk belajar ke Indonesia. Hal ini menunjukan bahwa sistem pengembangan sapi dan pengelolaan persusuan di Indonesia diakui kualitasnya,” pungkas Ketut. (Sumber: monitor.co.id)

Kandang Bersih, Kering dan Nyaman untuk Pedet



Pedet merupakan target utama keuntungan pada beef cattle breeding, sedangkan pada  dairy cattle merupakan income kedua setelah produksi susu. Selamatkan pedet kita... selamatkan pedet kita... kata-kata itu merupakan slogan utama pada breeding untuk replacement atau untuk bakalan. Angka kebuntingan yang tinggi menjadi sia-sia jika angka kematian pedet tinggi. Sebaliknya, angka kebuntingan rendah diikuti kematian pedet tinggi, maka tidak ada lagi harapan breeding (ibarat menyonsong senja). Tender loving care, sayangi pedet seperti menyayangi keluarga sendiri, tentunya dengan ilmu dan kasih sayang.

Pedet sebagai bagian dari keluarga peternak selayaknya diperlakukan sebaik mungkin. Kecukupan kebutuhan pangan (kolostrum, susu segar/susu induk, milk replacer, rumput dan calf starter sesuai standar kualitas), kebutuhan papan (kandang yang bersih, kering dan nyaman). Kecukupan pangan dan papan berbanding langsung dengan perfoma pedet ke depan akan menjadi generasi unggul dalam produksi dan reproduktivitasnya.

Kandang pedet secara umum terdapat dua macam, yakni koloni atau individual, menyusu induk (pedet sapi potong) atau terpisah dari induk (perah dan potong). Kandang koloni memiliki beberapa kelebihan dalam hal efisiensi waktu, yaitu pemberian pakan, susu dan pembersihan kandang, serta efisiensi biaya pembuatan kandang. Kelemahan kandang koloni yakni sulit melakukan kontrol asupan nutrisi dan susu masing-masing pedet, resiko penyakit dalam populasi lebih tinggi akibat kontak fisik terhadap anggota kelompok yang sakit, lebih sulit pula dalam penanganan penyakit dan potensi munculnya hairball.

Kemudian kandang individual, memiliki kelebihan diantaranya mudah dalam melakukan pengaturan pemberian pakan, susu, resiko penularan penyakit karena kontak fisik pedet lain relatif kecil, parameter perfoma dapat teramati dengan baik, pengawasan dan penanganan penyakit lebih terfokus. Kekuranganya yakni butuh biaya lebih besar untuk pembuatan kandang dan waktu membersihkan kandang lebih lama.

Berikut beberapa contoh desain kandang (koleksi pribadi dan cowsmopolitan dairy magazines)



Pedet sapi potong, pedet menyusu ke induk secara alamiah di kandang maternity. Induk harus mendapat nutrisi cukup untuk kebutuhan pokok, pemulihan pasca beranak, involusi uterus dan produksi susu untuk pedet. Induk sapi potong memiliki waktu laktasi lebih pendek dan produksi susu lebih sedikit dari sapi perah. Kandang pedet bercampur induk harus bersih, kering dan nyaman untuk induk dan pedet.




Kandang koloni pedet sapi potong, penyediaan rumput dan air minum sejak umur dua minggu, efektif mencegah terjadinya hairball, serta dilatih makan biji-bijian (grain), seperti soy bean meal dengan crude protein sekitar 44% mulai umur satu bulan.



Tidak semua pedet lahir dalam kondisi nyaman, sehat atau induk yang sehat dan baik. Pedet dengan kriteria lahir lemah, induk tidak ada kolostrum, produski susu induk kurang, induk tidak memiliki sifat keibuan (no motherly dam), lahir buta, induk tidak sehat, induk mastitis atau lahir pada kondisi tidak standar, seperti hujan deras disertai angin sehingga butuh penanganan khusus. Pedet-pedet tersebut dipisahkan dari induk ke kandang pedet model individu atau koloni dengan pemberian susu dari sapi perah.


Kandang individu harus lebih rapi, pedet terkontrol, namun merasa “dunia itu sepi”. Hati-hati memilih jenis alas, alas dari serbuk gergaji atau saw dust, debunya beresiko menimbulkan pneumonia aspirasi dan serbuk gergaji lembut jika terjilat pedet tidak bisa dicerna, menimbulkan sumbatan pada saluran cerna. Pemberian susu tidak disarankan pada ember hitam (lihat foto), karena bisa bercapur dengan bulu-bulu pedet dan rawan terjadi air susu masuk ke hidung pedet (tersedak).


Kandang koloni idealnya dilengkapi dengan hay untuk melatih perkembangan rumen, dilengkapi creep feeder, calf starter dan air minum. Beeding (alasnya) cukup comfort dan aman berupa hay atau jerami, namun butuh anggaran pembelian alas.

Drh Joko Susilo saat di kandang sapi.
Kandang pedet sapi perah individu memiliki model yang cukup bagus, namun masih memiliki beberapa kelemahan, yaitu pedet masih bisa saling menjilat (bulu dan bertukar kuman), jika petugas kebersihan kandang (pen cleaning) bekerja lebih awal dibanding kontrol oleh petugas kesehatan hewan, maka kemungkinan banyak kasus diare yang tidak terlihat karena bekas-bekas diare dilantai/tembok dan bagian bulu sekitar rektum telah bersih. Padahal diare merupakan ancaman pertama atau kedua pada kematian pedet, jika hari ini diare tidak tertangani, mungkin besok pedet mati atau menular ke pedet lain. ***

Drh Joko Susilo M.Sc
Medik Veteriner Muda,
Balai Veteriner Lampung

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer