-->

LOKAKARYA PROGRAM CABI DALAM MENCEGAH ASF

Foto bersama Lokakarya Diseminasi Nasional Hasil Program CABI di Gran Melia, Jakarta Selatan. (Foto: Infovet/Ridwan)

Lokakarya Diseminasi Nasional Hasil Program Community African Swine Fever Biosecurity Interventions (CABI) atau Program Biosekuriti Berbasis Komunitas untuk Pencegahan Demam Babi Afrika (ASF) dilaksanakan pada Rabu (17/12/2025), secara hybrid di Gran Melia, Jakarta Selatan.

Program tersebut merupakan inisiatif kolaboratif antara Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian, bersama FAO ECTAD Indonesia, pemerintah daerah, dengan dukungan Kementerian Pertanian, Pangan, dan Urusan Pedesaan Republik Korea.

"Saya apresiasi kepada seluruh perwakilan pemerintah termasuk para peternak babi atas komitmen yang diberikan sehingga CABI dapat terlaksana dengan baik. FAO sangat bangga menjadi bagian di dalamnya sehingga kita dapat membantu peternak menghadapi ASF melalui penerapan biosekuriti untuk melindungi mata pencaharian peternak, mencegah penyebaran ASF, serta memperkuat ketahanan pangan Indonesia," ujar Representatif FAO untuk Indonesia dan Timor Leste, Rajendra Aryal.

Lebih lanjut dijelaskan, CABI berfokus pada penguatan kapasitas peternak dalam menerapkan praktik biosekuriti yang praktis, terjangkau, dan berbasis komunitas untuk mencegah ASF serta penyakit hewan menular lainnya. Program tersebut telah terlaksana di tiga provinsi, yakni Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pada kesempatan yang sama, Dirjen PKH yang diwakili Direktur Kesehatan Hewan (Dirkeswan), Drh Hendra Wibawa, menyampaikan bahwa sejak ASF mewabah di Indonesia pada 2020, pemerintah terus mendorong semua pihak terutama dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan untuk melakukan pembinaan kepada peternak di wilayahnya dalam membantu mengendalikan maupun mewaspadai kemunculan ASF.

"Melalui program biosekuriti ini terus kita galakkan. Karena biosekuriti adalah sarat mutlak untuk bisa tercegah atau terhindar dari ASF," kata Hendra.

Ia menjelaskan, Kementan bersama FAO dan Pemerintah Korea telah melaksanakan program CABI sejak 2023, masing-masing di dua kabupaten di Kalimantan Barat dan Sulawesi Utara dengan total peternak hingga tahun ini mencapai 102 peternak.

"Dengan adanya program CABI ini, peternakan atau kandangnya mulai meningkat keamanannya, karena biosekuriti mampu mengontrol dan mengendalikan penyakit, bahkan menjadi tidak terserang ASF, hal ini dapat dilihat di Kalimantan Barat maupun Sulawesi Utara. Program ini juga kita lakukan di NTT di dua kabupaten dengan jumlah 59 peternak. Kita pilih NTT karena peternakan babi cukup potensial dalam menopang ketahanan pangan di sana," ungkapnya.

Ia juga menambahkan, "Tambahan program CABI di NTT bisa terus direplikasi ke depannya, ke provinsi dan kabupaten lain. Kita harapkan juga support pelaku usaha khususnya swasta untuk bisa mengeluarkan CSR-nya, bekerja sama sehingga program ini konsisten dan tetap dipertahankan untuk ditumbuhkembangkan ke daerah-daerah lainnya."

Program CABI yang telah diimplementasikan di Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, dan NTT menunjukkan dampak nyata bagi peternak. Dalam pemutaran video kesuksesan program CABI, baik peternak di Kalimantan Barat dan Sulawesi Utara menyebut bahwa mereka mendapatkan pelatihan bagaimana menerapkan biosekuriti yang baik, diberikan pemahaman mendalam mengenai virus, hingga mendapat fasilitas sesuai kebutuhan di masing-masing farm. Mereka menilai program tersebut sangat bermanfaat karena kandang ternak mereka menjadi bersih dan ternak babinya menjadi sehat sehingga dapat terhindar dari serangan ASF.

"Apa yang dilakukan pada CABI menjadi fondasi kita dalam mencegah penyakit agar tidak masuk ke sebuah negara maupun farm, sehingga apa yang kita memiliki dapat terkendali kesehatannya. Biosekuriti menjadi kunci pencegahan penyakit, salah satunya ASF, agar tidak muncul kembali, khususnya dari strain yang lainnya," pungkas Hendra. (RBS)

ASF MELANDA NABIRE, KEMENTAN KIRIM RIBUAN SERUM

Ilustrasi ternak babi. (Foto: bbc.com)

Wabah African Swine Fever (ASF) melanda peternakan babi di Kabupaten Nabire, Papua Tengah. Penyakit ini menimbulkan ancaman serius bagi peternak akibat tingkat penularannya yang tinggi dan dampak fatal pada ternak.

Kementerian Pertanian (Kementan) bertindak cepat merespons kejadian tersebut melalui Balai Besar Veteriner Farma (BBVF) Pusvetma di bawah Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, telah mendistribusikan serum konvalesen SCoVet ASF sebanyak 40.000 dosis secara bertahap melalui Dinas Peternakan Kabupaten Nabire.

Langkah tersebut diharapkan dapat menekan penyebaran virus dan menurunkan angka kematian ternak akibat ASF.

“Pengiriman serum ini merupakan upaya nyata pemerintah dalam membantu peternak menghadapi wabah ASF. Kami berharap SCoVet ASF dapat menjadi solusi yang efektif untuk menyelamatkan populasi babi di Nabire,” ujar Kepala BBVF Pusvetma, Edy Budi Susila, dalam keterangan tertulisnya, Kamis (12/12/2024).

Selain distribusi serum, Kementan juga mengimbau peternak dan masyarakat untuk mematuhi protokol biosekuriti, melapor jika terdapat indikasi wabah, serta bekerja sama dengan otoritas setempat dalam pelaksanaan program penanggulangan ASF.

Pemerintah juga berkomitmen mendukung keberlanjutan sektor peternakan di Indonesia. Langkah ini tidak hanya menjaga kesehatan hewan, tetapi juga membantu meminimalkan dampak ekonomi akibat wabah. (INF)

DISINFEKTAN GRATIS UNTUK PETERNAK BABI DI NABIRE

ASF, Masih Menghantui Indonesia


Pemkab Nabire hingga kini terus melakukan langkah-langkah strategis dalam mencegah masuknya virus African Swine Fever (ASF) di daerah ini. Mereka pun tak tinggal diam dan telah mengeluarkan edaran terkait pencegahan virus bahaya ini, serta rutin melakukan monitoring terhadap seluruh ternak babi.

Selain itu, Pemkab Nabire juga telah menyediakan desinfektan secara gratis kepada para peternak babi. Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Nabire, Drh I Dewa Ayu Dwita mengatakan, untuk mendapatkan desinfektan, cukup peternak melaporkan kepada mereka.

"Jadi mereka datang kepada kami di kantor, dan sampaikan berapa populasi ternak yang dimiliki, dan alamat pasti," kata Ayu kepada Tribun-Papua.com, di Nabire, Jumat, (23/02/2024).

Setelah dilaporkan, maka pihaknya akan mendata, dan selanjutnya memberikan desinfektan.

"Jadi kami akan memberikan sesuai kebutuhan dari peternak, agar distribusi desinfektan pun tersalurkan dengan baik," ujarnya. (INF)


SEJUMLAH BABI MATI MENDADAK, DISNAK MIMIKA WASPADA ASF

Babi Mati Mendadak, Disnak Waspada ASF

Dalam kurun waktu empat hari, sejak Jumat (19/1), Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnak) Kabupaten Mimika menerima laporan 44 ekor ternak babi milik warga Timika yang mati tanpa sebab.

Menurut Kadisnak Kabupaten Mimika, Drh Sabelina Fitriani dikonfirmasi sebagaimana dikutip dari fajarpapua.com, Senin (22/1), mengemukakan kematian puluhan ekor babi warga dalam beberapa hari ini disebabkan dua kemungkinan.

Pertama, virus demam babi Afrika (African Swine Fever Virus / ASFV). Virus yang belum ada obatnya ini dapat menimbulkan kematian ternak babi dalam waktu singkat dan sangat merugikan peternak.

Kemungkinan kedua, wabah hog cholera atau kolera babi. Namun untuk wabah hog cholera masih tanda tanya sebab khusus untuk Kabupaten Mimika vaksinasi hog cholera sudah berjalan baik dan benar. Untuk memastikan hal tersebut, Sabelina mengemukakan pihaknya mengirim sampel ternak babi yang mati ke Loka Vet Jayapura. 

“Kemungkinan dua minggu kedepan sudah ada laporan hasil ujin dan menemukan jawabannya,” ujarnya.

Sebagai langkah antisipatif, Sabelina meminta para peternak untuk melakukan disinfeksi atau semprot kandang dan menerapkan aplikasi biosekuriti yang baik dan benar.

“Kami akan secepatnya pengadaan disinfektan. Kami juga berharap peternak membatasi orang yang masuk kandang,” bebernya.

Sementara itu, pada Senin pagi sejumlah himbauan dibagikan di hampir semua laman group WhatsApp warga Kota Timika. Begini petikan langsung himbauan tersebut.

“Mohon ijin Bunda dan semua anggota Komunitas untuk menyampaikan info terkini kota Timika berkaitan dengan ternak Babi.

Saat ini sedang terjadi wabah virus pada ternak babi yg menyebabkan kematian cukup banyak. Dan Disnak sedang siaga satu untuk menghentikan penyebaran virus untuk itu bagi Peternak Babi di mohon untuk :

1. Tidak membeli daging babi yang dijual bebas kecuali yang jual di Rumah Potong Babi Disnak.

2. Bagi yang beternak di pekarangan rumah, jika ada keluarga berkunjung ke rumah mohon untuk tidak ke area kandang babi. (Batasi org luar masuk ke area kandang) termasuk para penjagal babi yang membeli babi karena dia sudah keluar masuk di semua kandang untuk cari babi untuk di potong di rumah potong..

3. Jika bepergian keluar rumah setiba di rumah harap ganti baju dulu baru masuk ke kandang babi untuk kegiatan memberi makan ternak.

Virus tak berpengaruh pada manusia langsung tetapi dapat menyebabkan kerugian peternak karena tingkat kematian yg cukup tinggi. Peduli ternak, jaga kesehatannya, untuk sumber penghasilan yang pasti buat peternak, Ekonomi keluarga terpenuhi. (INF)

PEMPROV SULTENG INGATKAN PETERNAK PERKETAT BIOSEKURITI UNTUK MENCEGAH ASF

ASF, Masih Meneror Ternak Babi di Indonesia

Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah mengingatkan para peternak memperketat penerapan biosekuriti dengan menjaga higiene kandang babi guna mencegah penularan virus African Swine Fever (ASF) atau Demam Babi Afrika di wilayah itu.

"Para peternak perlu menjaga dan meningkatkan kebersihan kandang sebagai upaya mencegah penularan ASF," kata Kepala Bidang Keswan dan Kesmavet Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Sulteng Dandy Alfita di Palu, Jumat (21/7).

Ia meminta para peternak untuk segera memisahkan ternak, apabila ada ternak yang sakit untuk menekan penularan karena tingkat kematian ternak babi dapat mencapai 100 persen.

 Ia mengatakan para peternak harus memiliki kewaspadaan yang tinggi terhadap penularan virus ASF dengan serius
memperhatikan kebersihan kandang dengan meningkatnya kasus demam babi Afrika saat ini.

Selain itu, secara rutin melakukan penyemprotan disinfektan pada kandang-kandang babi yang ada sehingga kondisi kandang tetap bersih dan tetak tetap dalam kondisi sehat.

"Kami masih terus mensosialisasikan kepada peternak untuk melakukan penyemprotan disinfektan rutin dan pemberian vitamin rutin untuk hewan ternak yang masih sehat," katanya.

Ia menuturkan untuk membantu mencegah penularan virus ASF, pihaknya mendistribusikan sebanyak 2.000 serum konvalens ASF atau ScoVet ASF yang merupakan bantuan pemerintah pusat dan diharapkan mampu menekan penularan virus.

"Kami telah mendistribusikan bantuan serum ASF, tapi itu pun belum bisa memenuhi seluruh permintaan para peternak di Sulawesi Tengah karena jumlahnya terbatas," katanya.

Hal tersebut, kata Dandi, dikarenakan serum ASF didistribusikan secara merata ke setiap kabupaten yang terdampak kasus ASF, dan yang berpotensi terjadi penularan, sementara kasus ASF di Sulteng diperkirakan sudah mencapai belasan ribu kasus. 

Karena keterbatasan itu, Dandi mengatakan para peternak ada yang ingin secara mandiri membeli serum ScoVet ASF, sehingga pihaknya mengarahkan untuk membeli di Pusat Veteriner Farma (Pusvetma).

Menurut data sementara Dinas Peternakan Sulteng, sebanyak 432 ternak babi mati di Kabupaten Sigi, 39 ternak mati di Kabupaten Morowali, 1.528 ternak babi mati, 11.462 ternak babi sakit, dan 16.576 dipotong paksa atau di jual di Kabupaten Parigi Moutong, sementara itu 2.971 ternak babi mati di Kabupaten Poso.

Sappang, salah satu peternak di Desa Jono Oge, Kabupaten Sigi mengatakan dirinya mengalami kerugian akibat virus yang menyerang ternaknya itu.

"Sampai hari ini, sudah tiga ternak saya yang mati. Dari pemerintah sudah ada yang memberikan serum tapi waktu itu saya tidak ada di tempat, jadi tidak kebagian," katanya.

Ia mengaku dengan 30 ekor ternak babi miliknya sekarang ini, berharap tidak lagi ada ternaknya yang mati karena virus ASF itu dan dapat segera ditangani oleh pemerintah untuk obatnya.(INF)

BALAI KARANTINA CEK PETERNAKAN BABI AKIBAT LAPORAN ASF DARI SINGAPURA

Babi, Andalan Ekspor Indonesia ke Singapura

Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas II Tanjung Pinang Aris Hadiyono mengatakan tim mereka bersama otoritas terkait akan mengunjungi peternakan babi di Pulau Bulan, Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri), Selasa (25/4/2023). 

Hal ini menindaklanjuti berita bahwa Singapura menghentikan impor babi hidup dari Pulau Bulan, karena pihak Badan Makanan Singapura (SFA) menemukan babi dari Pulau Bulan terinfeksi penyakit babi Afrika (African swine fever/ASF).

Adapun tim yang akan mendatangi Perternakan Babi di Pulau Bulan, yaitu tim dari Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian. Kemudian dari Balai Veteriner Bukittinggi dan Balai Karantina Pertanian Kelas II Tanjung Pinang.

Aris menyampaikan pihaknya belum dapat memastikan babi dari Pulau Bulan terinfeksi ASF. Karena sejauh ini, baru klaim dari pihak Badan Makanan Singapura (Singapore Food Agency).

“Baru dari pihak Singapuranya, makanya temen-temen mau lihat dulu, bener gag di situ ada ASF, kita kan belum tau, apakah dari pemotongan sana atau pemotongan sini,” katanya.

Menurutnya, peternakan babi di Pulau Bulan memiliki Biosecurity yang cukup ketat. Sehingga perlu dipastikan lagi kebenaran mengenai babi di sana terinfeksi ASF atau tidak.

“Makanya besok mau kita lihat hasilnya,” kata dia. 

Berdasarkan data pada sistem informasi Barantan, IQFAST ekspor babi asal pulau ini untuk tujuan negara Singapura, tercatat sejak Januari-November 2022 mencapai 240.117 ekor babi. Dengan nilai ekonomi mencapai Rp 785 miliar. (INF)

VIETNAM SIAP DISTRIBUSIKAN VAKSIN ASF KE SELURUH DUNIA

Vaksin ASF Asal Vietnam, Siap Didistribusikan ke Seluruh Dunia 
(Sumber : Vietnampuls.vn)

Vaksin demam babi Afrika (ASF) dengan merk AVAC ASF LIVE yang dikembangkan dan diproduksi oleh AVAC Vietnam Co., Ltd akan segera didistribusikan secara nasional mulai Februari tahun ini,  hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Pertanian dan Pembangunan Pedesaan Vietnam, Phung Duc Tien.

Hal ini disampaikannya pada pertemuan tentang pengawasan kualitas pada 31 Januari 2023 di Hanoi. Tien meminta AVAC Vietnam untuk terus mengevaluasi tingkat kekebalan vaksin setelah penyuntikan, dan memberikan pedoman dan rekomendasi yang ketat bagi para peternak.Rencananya sebanyak 600.000 dosis vaksin AVAC ASF LIVE akan digunakan pada batch pertama di bulan Februari.

Pengujian vaksin AVAC ASF LIVE dimulai di peternakan babi sejak Maret 2022 dengan tingkat efikasi mencapai 95%. Vaksin tersebut telah disetujui untuk diedarkan pada 8 Juli 2022 dan mulai digunakan di bawah pengawasan petugas yang berwenang di Vietnam.

Setelah disetujui untuk diedarkan, Departemen Kesehatan Hewan Vietnam, MARD terus memantau kualitas 10 batch vaksin pertama yang diproduksi. Mereka juga terus mengevaluasi efektivitas 600.000 dosis vaksin AVAC ASF LIVE pada babi berumur antara 8-10 minggu.

Menurut Nguyen Van Diep, Direktur AVAC Vietnam, pada awal Januari, empat batch pertama vaksin AVAC ASF LIVE yang diproduksi pada tahun 2022 telah diuji dan memenuhi persyaratan kualitas.

AVAC Vietnam juga bekerja sama dengan CP Livestock Joint Stock Company (CP Vietnam) untuk mengadakantriak  terhadap 600.544 babi di 545 peternakan, dan mengambil 5.958 sampel untuk pengujian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 93,34% sampel memenuhi persyaratan teknis.

Pada pertemuan tersebut, para peserta menyampaikan bahwa AVAC Vietnam dan CP Vietnam konsisten dan terus meningkatkan sampling rate untuk mendapatjab penilaian yang lebih akurat.

Tien juga meminta unit terkait agar senantiasa mencatat laporan teknis sedetail mungkin dalam trial tersebut agar MARD bisa membuat penilaian yang akurat sebelum vaksin tersebut digunakan dalam skala besar.

Sejauh ini Vietnam menjadi negara pertama yang berhasil mengembangkan dan memproduksi dua jenis vaksin  ASF. (CR)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI


Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer