-->

KADIN INDONESIA BAHAS PELUANG KERJA SAMA DENGAN PERWAKILAN URUGUAY


Drh Deddy Fachruddin Kala Menemui Perwakilan Uruguay
(Sumber : KADIN 2026) 

Rabu, 19 Agustus 2026, Drh Deddy Fachruddin mendampingi Wakil Ketua Umum Bidang Peternakan KADIN INDONESIA menerima kunjungan rombongan pemerintah Uruguay, dipimpin oleh Wakil Menteri Luar Negeri Uruguay dan Wakil Menteri Pertanian Uruguay.

Kepada Infovet Deddy mengutarakan bahwa Uruguay, dengan jumlah penduduk yang hanya 3,5 juta (setara malang raya), memiliki jumlah sapi sebanyak 12juta ekor sapi (setara populasi di Indonesia).

"Oleh karena itu, Uruguay adalah salah satu penghasil susu dan daging terbaik di dunia yang mengekspor 75% dari produksi mereka, dengan market share tertinggi nya adalah Amerika-Eropa-China dan Jepang. Kita bisa bekerja sama dengan mereka," tutur Deddy.

Yang menarik adalah Uruguay memiliki definisi yang ketat tentang susu, Hukum Uruguay mendefinisikan susu sebagai produk biologis alami dan sekresi kelenjar ambing. Definisi ini yang membuat produk2 yang “mengaku” susu namun tidak merupakan sekresi alami dari kelenjar ambing, dilarang di uruguay. Hal ini juga yang mengakibatkan, konsumsi susu perkapita di Uruguay adalah salah satu yang tertinggi di dunia, yaitu sebesar 232/liter/kapita/tahun.

Indonesia dan Uruguay juga memiliki potensi yang besar untuk mengembangkan kemitraan strategis di sektor pertanian dan peternakan. Salah satu peluang utama terletak pada kerja sama di industri susu. Indonesia terus memperkuat produksi daging sapi dan susu dalam negeri, sehingga membuka peluang bagi Uruguay untuk berkolaborasi dalam bidang pembibitan dan genetika ternak, peternakan sapi perah, pengembangan pakan, kesehatan hewan, pengolahan daging, serta industri pengolahan susu.

Kerja sama tersebut diharapkan dapat mendorong investasi, transfer teknologi, serta pengembangan kapasitas produksi di Indonesia. Pada saat yang sama, Indonesia memiliki potensi besar untuk meningkatkan ekspor produk pertanian ke Uruguay dan memperluas akses pasar ke kawasan Amerika Latin. Produk-produk yang berpotensi dikembangkan antara lain buah-buahan tropis, kopi, kakao, rempah-rempah, produk berbahan dasar kelapa, produk berbasis kelapa sawit, pupuk hayati, pupuk organik, serta berbagai produk pertanian bernilai tambah lainnya.

Bidang strategis lainnya adalah kerja sama dalam teknologi dan penelitian pertanian. Indonesia dan Uruguay dapat mendorong penelitian bersama di bidang bioteknologi, pupuk hayati, pertanian presisi, pertanian cerdas iklim (climate-smart farming), peningkatan produktivitas ternak, mekanisasi pertanian, serta sistem ketertelusuran digital (digital traceability).

Untuk mempercepat implementasi kerja sama, kedua negara dapat mengembangkan kegiatan business matching, pembentukan usaha patungan (joint venture), kemitraan penelitian, pertukaran teknologi, serta peluang investasi yang melibatkan pemerintah, sektor swasta, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan para petani. (INF)

Suasana Pertemuan KADIN Indonesia dan Perwakilan Uruguay
(Sumber : KADIN 2026)

Drh Deddy Fachrudin Kurniawan MVet


KERJA SAMA INDONESIA-URUGUAY TINGKATKAN KUALITAS DAGING DAN SUSU

MoU pembangunan pangan antara Indonesia dan Uruguay. (Foto: Istimewa)

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Harvick Hasnul Qolbi, bersama Menteri Peternakan, Pertanian, dan Perikanan Republik Oriental Uruguay, Fernando Mattos, menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) pembangunan pangan di kedua negara, khususnya di bidang peternakan untuk mengembangkan produksi daging dan susu berkualitas.

“Kementan bergerak sesuai arahan presiden untuk meningkatkan kinerja sektor pangan, utamanya daging, produk hortikultura, dan tanaman pangan,” ucap Harvick melalui siaran resminya di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Selasa (4/6/2024).

Pada 2023, total nilai perdagangan komoditas pertanian antara Indonesia dan Uruguay hanya mencapai sekitar 8.87 juta USD. Oleh sebab itu, Wamentan menaruh harapan dalam kerja sama ini, baik untuk meningkatkan nilai perdagangan komoditas pertanian maupun bidang peternakan.

Saat ini Uruguay menduduki posisi ketujuh produsen daging utama di dunia dengan mengekspor 450 ribu ton daging sapi ke pasar internasional. Uruguay dikenal sebagai negara yang memiliki sistem pengelolaan ternak modern dan berkelanjutan, salah satunya dengan melarang penggunaan hormon sejak 1962 dan melarang antibiotik pada 2011.

“Bukan hanya terjadinya trading di antara kedua negara, kita sepakat untuk bertukar informasi bagaimana mengembangkan teknologi pertanian. Utamanya agar kedua belah negara bisa lebih berkembang lagi,” tambah Harvick.

Saat ini pihaknya tengah berupaya meningkatkan produksi komoditas nasional, khususnya di bidang peternakan untuk memenuhi stok kebutuhan daging sapi dan produk susu. Menteri Pertanian (Mentan), Amran Sulaiman, pernah menyampaikan bahwa swasembada protein hewani harus terwujud demi Indonesia Emas 2045.

“Kita tidak hanya fokus pada swasembada daging, tapi juga swasembada protein hewani, termasuk ternak perah yang menghasilkan susu,” kata Mentan Amran.

Hal serupa disetujui oleh Menteri Pertanian Uruguay, Fernando Mattos. Ia melihat ada potensi besar untuk meningkatkan sektor perdagangan komoditas pertanian sekaligus memperkuat hubungan bilateral antara Indonesia dan Uruguay dalam upaya pembangunan swasembada pangan di masing-masing negara.

“Kita sangat senang atas penandatangan MoU ini. Kita telah menemukan beberapa topik penting untuk dapat mengembangkan industri daging ternak dan susu untuk mencapai target swasembada. Uruguay akan membantu Indonesia karena kita memiliki pengalaman yang panjang dalam industri peternakan,” kata Fernando Mattos. (INF)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer