-->

AFIS 2026: STRATEGI FORMULASI PAKAN DAN JAWABAN ISU GEOPOLITIK PETERNAKAN

Seminar membahas strategi ketahanan pangan dalam menghadapi dinamika geopolitik dunia dalam rangkaian AFIS 2026. (Foto: Istimewa)

Himpunan Mahasiswa Nutrisi dan Makanan Ternak (Himasiter), Fakultas Peternakan IPB University, sukses menyelenggarakan Animal Feed Innovation Summit (AFIS) 2026 pada 25-27 September 2026 di kampus IPB University. Mengusung fokus pada inovasi pakan, perhelatan ini memadukan dua agenda utama, yakni Feed Formulation Training (FFT) dan Seminar and Competition of Animal Science (SCAS).

Acara berskala nasional ini menarik antusiasme tinggi dari para peserta yang datang dari berbagai perguruan tinggi terkemuka di Indonesia, seperti IPB University, Universitas Syiah Kuala, Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjadjaran, BINUS Malang, Dian Nuswantoro, hingga Poltekkes Kemenkes Bandung.

Rangkaian kegiatan diawali pada 25-26 September bertempat di Fakultas Kedokteran dan Gizi melalui sesi workshop FFT. Pada hari pertama, peserta diajak mempelajari teknik formulasi pakan dasar serta strategi adaptasi pakan ayam petelur (layer) dalam menghadapi dinamika geopolitik global dan fluktuasi harga bahan baku.

Memasuki hari kedua, pelatihan berlanjut pada penyesuaian nutrisi serta evaluasi faktor kualitas bahan pakan utama seperti soybean meal (SBM), jagung, dan dedak padi. Sesi intensif dari teori hingga eksekusi racikan pakan ini dibimbing langsung oleh ahli formulasi ransum, Prof Dr Ir Budi Tangendjaja MS MAppSc.

Rangkaian acara kemudian berpindah ke Fakultas Peternakan pada hari ketiga untuk menggelar puncak seminar dan kompetisi ilmiah SCAS. Seminar nasional kali ini mengusung topik krusial mengenai strategi ketahanan pangan dalam menghadapi dinamika geopolitik dunia, dengan menghadirkan Prof Dr Ir Nahrowi MSc (IPB University) dan Sugeng Wahyudi (Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional/GOPAN).

Dalam paparannya, Prof Nahrowi menyoroti persoalan mendasar peternakan nasional yang masih kekurangan bahan pakan sumber protein. Ia mengajak akademisi dan praktisi untuk mengubah paradigma dasar penyusunan pakan.

“Jangan menghitung biomassanya, tapi hitunglah nutrien yang benar-benar dapat dimanfaatkan oleh ternak,” katanya. Ia juga menambahkan, persoalan utama Indonesia sejatinya bukan pada ketersediaan bahan, melainkan bagaimana mengolah biomassa lokal menjadi nutrien pakan yang aman, tercerna, terstandar, dan kompetitif.

Sebagai solusi konkrit, Prof Nahrowi mengusulkan formulasi kombinasi antara koro, bungkil inti sawit (BIS), dan maggot BSF ketimbang sekadar menggantikan bungkil kedelai secara keseluruhan.

Sementara dari sudut pandang industri dan praktisi, Sugeng ikut menekankan pentingnya efisiensi dan solidaritas peternak. Dirinya mengajak para peternak broiler untuk memperkuat ketahanan usaha melalui skema pembelian bahan baku dan pakan secara kolektif berwadahkan koperasi. Langkah ini dinilai strategis agar peternak lebih tangguh menghadapi fluktuasi harga pasar dan pergerakan kurs mata uang.

Melalui integrasi pelatihan formulasi pakan berbasis perangkat lunak dan diskusi ilmiah tingkat nasional, AFIS 2026 tidak hanya menjadi wadah pengembangan karakter, kemampuan menulis ilmiah, dan kepedulian terhadap isu peternakan berkelanjutan, tetapi juga melahirkan pesan penting yakni kemandirian pakan nasional dimulai dari kemampuan mengolah sumber daya lokal menjadi nutrien yang siap dimanfaatkan secara optimal. (INF)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer