-->

SEMARAK HATN & WED 2026, INFOVET SELENGGARAKAN WORKSHOP FORMULASI PAKAN

Bambang Suharno (kiri) dan Prof Budi Tangendjaja dalam webinar formulasi pakan. (Foto-foto: Dok. Infovet)

Industri peternakan unggas kembali dihadapkan pada ujian berat seiring melambungnya harga jagung dan terbatasnya ketersediaan pasokan di pasaran. Menjawab tantangan tersebut, dalam rangka menyambut Hari Ayam dan Telur Nasional (HATN) dan World Egg Day (WED) 2026, Majalah Infovet menyelenggarakan Workshop Online bertajuk “Strategi Formulasi Pakan Unggas Saat Jagung Mahal dan Pasokan Terbatas”, Jumat (9/10/2026).

Acara ini menghadirkan poultry nutrition consultant, Prof Dr Ir Budi Tangendjaja MSc MAppl, yang juga Ketua Dewan Pakar Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI), sebagai narasumber utama. Acara turut dihadiri dan dibuka secara resmi oleh Direktur Utama Gallus yang juga Pemimpin Redaksi Infovet Bambang Suharno, serta Ketua Umum ASOHI Drh Akhmad Harris Priyadi.

Dalam sambutannya, Bambang menegaskan bahwa pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam usaha peternakan unggas. Ketika harga jagung merangkak naik dan pasokannya menipis, pelaku industri dituntut untuk tidak hanya sekadar mencari ketersediaan bahan baku, melainkan juga memutar otak menyusun formulasi yang efisien.

“Tantangan yang dihadapi industri bukan hanya bagaimana mendapatkan bahan baku, tetapi juga bagaimana menyusun formulasi pakan yang tetap efisien, memenuhi kebutuhan nutrisi ternak, dan menjaga performa produksi,” ujar Bambang.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya penguasaan strategi substitusi dan pemanfaatan bahan baku alternatif. Dengan pemahaman yang tepat mengenai keseimbangan nutrisi, peternak dapat menekan biaya produksi tanpa harus mengorbankan produktivitas maupun performa unggas.

Pada kesempatan tersebut, Prof Budi membedah berbagai solusi taktis bagi para formulator pakan dan pelaku industri peternakan. Ia memaparkan potensi pemanfaatan bahan baku pengganti jagung, di antaranya barley yang dapat menjadi sumber energi alternatif dengan kandungan nutrisi yang memadai, ataupun biji sorgum yang dapat diandalkan untuk menunjang kebutuhan karbohidrat ransum.

Adapula pilihan produk turunan singkong guna mencukupi kebutuhan energi, atau pemafaatan dried distiller's grains with solubles (DDGS), yang merupakan produk sampingan yang kaya nutrisi dan potensial untuk dimanfaatkan dalam ransum unggas.

Prof Budi menjelaskan, bahan-bahan tersebut tetap memiliki kelayakan nutrisi, mencakup karbohidrat, protein, lemak, vitamin, serta mineral yang esensial bagi pertumbuhan dan kesehatan ternak unggas.

Selain itu, dalam paparannya ia juga turut menjabarkan simulasi perhitungan bahan baku pakan beserta harganya guna membantu peternak, perusahaan, maupun self-mixing dalam memformulasikan pakan dengan biaya yang efisien dan mengantisipasi fluktuasi harga bahan baku.

Foto bersama usai webinar.

Sebagai tindak lanjut dari workshop online, Majalah Infovet turut membuka kesempatan luas bagi perusahaan maupun kelompok usaha yang ingin memperdalam kompetensi di bidang ini. Infovet memfasilitasi program pelatihan intensif serta in-house training yang dirancang khusus bagi tim nutrisi, tim formulasi, bagian produksi, serta tim teknis perusahaan.

Materi dan metode pelaksanaan pelatihan dapat disesuaikan secara fleksibel dengan kebutuhan spesifik di lapangan. Langkah ini diharapkan mampu membawa dampak jangka panjang bagi peningkatan kompetensi sumber daya manusia di sektor peternakan nasional, serta menjaga kestabilan industri unggas di Indonesia. (RBS)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer