-->

MENGELOLA BROILER SECARA HOLISTIK: KUNCI SUKSES PETERNAKAN SEHAT DAN MENGUNTUNGKAN

Baskoro saat memaparkan materinya. (Foto-foto: Dok. Infovet)

Dalam dunia peternakan ayam pedaging (broiler), keberhasilan sebuah bisnis sangat bergantung pada bagaimana peternak mengelola kesejahteraan unggas secara menyeluruh.
 
Hal tersebut dibahas oleh National Poultry Technical Consultant, Drh H. Baskoro Tri Caroko, yang menjadi narasumber tunggal dalam Sharing Online “Optimalisasi Performa Broiler melalui Program Pemeliharaan dan Preventive Health” yang dilaksanakan Jannisika Animal Health bersama Golden Rooster, dan Majalah Infovet, Selasa (3/11/2026). 

Dalam paparannya Baskoro menuturkan bahwa kesehatan dan produktivitas broiler dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu perilaku broiler, perubahan lingkungan, dan perlakuan manusia. “Jika ketiga faktor ini diabaikan dan tidak dikelola dengan baik, ayam akan rentan terserang penyakit dan bisnis peternakan pun terancam merugi,” ujarnya.

Lebih lanjut dijelaskan, secara alami broiler terpaksa harus makan, minum, tidur, hingga buang air di tempat yang sama. Kondisi ini membuat mereka hidup di lingkungan yang tercemar kotoran serta paparan bau amonia yang semakin pekat setiap harinya, sehingga berpotensi menjadi sumber utama munculnya berbagai penyakit di kandang.

Situasi ini kian pelik dengan adanya tantangan perubahan iklim yang memicu kelangkaan bahan baku pakan serta peningkatan suhu ekstrem. Kemudian penurunan kualitas bahan baku seperti tepung ikan, bungkil kedelai, jagung pipilan, hingga dedak lokal berdampak langsung pada performa ternak, mulai dari efisiensi FCR yang memburuk, pertumbuhan terhambat, hingga tingginya angka kematian yang berujung pada kerugian finansial.

Di balik faktor lingkungan dan biologis tersebut, keberhasilan kesejahteraan unggas pada dasarnya sangat bertumpu pada kinerja dan kepedulian tim produksi di lapangan. Oleh karena itu, Baskoro memaparkan deskripsi pekerjaan, standarisasi tugas, serta tingkat kesejahteraan operator kandang dan pengawas lapangan harus menjadi perhatian utama. Dijelaskannya bahwa operator kandang layak mendapatkan penghasilan yang layak melalui evaluasi berkala dengan pemberian reward dan peningkatan kapasitas tim melalui rapat konsolidasi rutin. Dengan begitu, kualitas kerja di kandang akan senantiasa terjaga.

“Selain itu, pengawas lapangan juga wajib memahami tata kelola secara holistik agar tidak terjadi salah persepsi dalam mengumpulkan data akurat di lapangan,” jelasnya.

Sharing Online “Optimalisasi Performa Broiler melalui Program Pemeliharaan dan Preventive Health”. 

Agar bisnis tetap berkelanjutan, peternak harus menertibkan kapasitas produksi berdasarkan perhitungan teknis yang matang. Ia pun menjelaskan kapasitas ideal yang direkomendasikan adalah 12 kg/meter dengan mempertimbangkan jenis kandang. Sebagai contoh, kandang open house lantai postal mampu menampung 7-8 periode/tahun dengan hasil panen 0,8-1 kg/ekor, kemudian open house lantai panggung maksimal 6 periode/tahun dengan panen 1,4-1,6 kg/ekor, serta closed house lantai postal dapat mencapai 5 periode/tahun dengan hasil panen 1,8-2 kg/ekor.

Adapun langkah krusial berikutnya, diungkapkan Baskoro adalah persiapan kandang yang bersih, steril, dan lengkap sebelum ayam masuk. Proses ini meliputi pencucian kandang dengan deterjen dan disinfektan, pembersihan pipa air (flushing) menggunakan asam sitrat untuk menghilangkan kerak dan lumut, serta menerapkan masa istirahat kandang selama 14 hari untuk memastikan mikroorganisme patogen mati.

Ia mengemukakan, dengan menerapkan manajemen pengendalian yang baik, seperti pemberian antibiotik secara bijak di awal umur serta pemanfaatan probiotik untuk efisiensi pencernaan, penerapan preventive health secara holistik ini akan membuat bisnis peternakan menjadi lebih safety dan profitable.

“Kalau semua ini bisa kita wujudkan, berarti level beternak sudah meningkat. Semoga ini menjadi jalan kebaikan untuk kita memasuki peradaban baru. Melalui preventive health secara holistik efektif mencegah terjadinya AMR, emerging dan re-emerging disease yang memenuhi standar One Health,” tukasnya. (RBS)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer