-->

DETEKSI PERSISTEN INFEKSI DAN MUSNAHKAN, CARA TEPAT KENDALIKAN BOVINE VIRAL DIARRHEA

Usaha breeding terus dilakukan untuk pengembangan sapi di Indonesia. (Foto: Infovet/Dok. Joko)

Pengembangan peternakan sapi di Indonesia terus dilakukan untuk meningkatkan populasi sapi secara nasional dan meningkatkan kesejahteraan peternak. Sapi sudah menjadi komoditas strategis nasional karena menjadi sumber protein hewani sebagian masyarakat Indonesia. Usaha breeding dilakukan di tingkat peternak rakyat, kelompok ternak, koperasi, korporasi, instansi pemerintah, hingga industri peternakan sektor swasta.

Hingga saat ini peternakan breeding masih menghadapi cukup banyak kendala dan tantangan terkait produktivitas, performa reproduksi, biaya produksi, angka kematian karena penyakit, serta harga pasca panen yang terkadang tidak bersahabat. Beberapa penyakit masih menjadi musuh besar pengembangan breeding di Indonesia seperti penyakit mulut dan kuku, septisemia epizootika, parasit darah, Bovine viral diarrhea (BVD), dan penyakit lainnya.

BVD merupakan penyakit endemik di sebagian besar wilayah dunia dengan prevalensi sedang-tinggi pada peternakan sapi perah dan sapi potong. Penyakit ini dianggap sebagai salah satu patogen infeksius paling signifikan dalam industri peternakan. Virus BVD merupakan virus RNA untai tunggal berselubung kecil, sekitar 12,5 kb, anggota genus Pestivirus, famili Flaviviridae. Genus Pestivirus terdiri dari empat spesies, yaitu BVDV-1 dan BVDV-2 (sebelumnya disebut sebagai genotipe 1 dan 2), classical swine fever pada babi, dan border disease pada domba.

BVD dikategorikan menjadi dua biotipe berdasarkan karakteristik pertumbuhannya dalam kultur sel biotipe sitopatik dan biotipe non-sitopatik. Biotipe sitopatik (CP) yang langka akan merusak kultur jaringan dan biotipe non-sitopatik (NCP) yang jauh lebih umum tidak akan merusaknya. Biotipe NCP memiliki tropisme untuk leukosit, organ limfoid, dan saluran pernapasan, sementara biotipe CP lebih terbatas pada saluran pencernaan.

Infeksi ini dapat menyebabkan kerugian ekonomi besar karena tingkat kesakitan, kematian, penurunan kesuburan dan produksi susu, performa pertumbuhan yang lambat, diare, kematian pedet, hingga penyakit pernapasan. Penyakit ini juga menyebabkan disfungsi reproduksi seperti aborsi, teratogenesis, resorpsi embrio, mumifikasi janin dan lahir mati, imunosupresif, mudahnya terjadi infeksi sekunder, penurunan produktivitas, dan kondisi infeksi persisten (PI) pada pedet.

Infeksi sementara (trancient infection/TI) pada sebagian besar spesies mengakibatkan gejala menciri BVD, yaitu rendahnya performa reproduksi, penyakit pernapasan, dan imunosupresi. Sapi-sapi TI berperan hingga 93% infeksi rahim yang mengakibatkan kelahiran pedet PI. Secara umum, TI dapat dibagi menjadi lima kategori, yakni akut, akut parah, infeksi hemoragik, penyakit pernapasan, dan imunosupresi. Infeksi akut memiliki peranan penting dalam penularan dan sheeding virus dalam populasi hewan (domestik dan liar).

Tipe BVD akut parah menyebabkan morbiditas dan mortalitas tinggi pada hewan yang rentan. Infeksi primer dengan beberapa strain BVD-2 yang sangat virulen menyebabkan perjalanan penyakit perakut hingga akut dan tanda-tanda demam, kematian mendadak, diare, atau pneumonia. Patogenesis BVD-2 paling sering dikaitkan dengan peningkatan virulensi strain. Produksi sitokin inflamasi, sebagai respons terhadap infeksi luas pada fagosit mononuklear, telah diduga sebagai penyebab penyakit parah ini. Dalam beberapa kasus, terjadi penurunan trombosit yang diikuti dengan gejala klinis termasuk perdarahan mukosa, diare berdarah, serta gangguan pencernaan lainnya. BVD juga menyebabkan penyakit kronis dan mucosal disease pada hewan PI.

Rute penularan utama pada populasi yaitu... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2026.

Ditulis oleh:
Dr Drh Joko Susilo MSc APVet (Wartawan Infovet Daerah Lampung)
& Drh Catrine Relia Patrecia Gultom (Kementan)

DIARE GANAS SAPI BISA MENGGANAS

Anak sapi bisa mengalami infeksi persiten BVDV dari induk terinfeksi. (Foto: Dok. Sulaxono)

Penyakit diare ganas pada sapi (DGS) atau bovine viral diarrhea (BVD) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus BVD. Penyakit viral ini bisa menyerang pada semua jenis dan ras sapi pada semua tingkatan umur dan jenis kelamin.

Penyakit ini masih menimbulkan wabah pada beberapa daerah di Indonesia, terutama pada saat sapi mengalami stres karena perubahan cuaca atau akibat perjalanan jauh.

Infeksi BVDV menyebabkan kerugian ekonomi akibat kematian dan penurunan harga jual sapi saat terjadi wabah. Penurunan harga terjadi karena kepanikan peternak, ketakutan peternak terhadap kematian sapi, sehingga dimanfaatkan oleh pedagang yang membeli dengan harga murah.

Bila terjadi infeksi BVDV saat sapi betina bunting akan menyebabkan penularan vertikal pada fetus. Kematian bisa terjadi pada fetus atau kecacatan pada pedet. Infeksi BVDV saat sapi betina bunting menyebabkan terjadinya infeksi persisten pada pedet yang lahir.

Virus BVD merupakan pestivirus yang termasuk keluarga flaviviridae. Sapi yang terinfeksi BVDV akan mengalami diare profus atau diare encer, lemas, dan mati. Kematian akan terjadi karena sapi mengalami kekurangan cairan elektrolit akibat diare hebat.

Penyakit cepat menular di antara populasi sapi pada satu area padang penggembalaan. Beberapa sapi akan menunjukkan gejala klinis yang sama yaitu diare profus, diare dengan tinja encer, dan pada tahap akhir diikuti bau busuk, berwarna gelap, bahkan bercampur darah akibat kerusakan lapisan mukosa usus dan kerusakan pada vili-vili usus.

BVDV menimbulkan infeksi persisten pada sapi karena virus dapat menular ke fetus sapi saat induk terinfeksi virus ini dalam kondisi bunting. Fetus sapi terinfeksi melalui plasenta induk dan infeksi pada induk yang bunting berpotensi menimbulkan adanya infeksi persisten pada pedet (Jaruvan K. et al., 2007; Camilia C. M, et al., 2016).

Beberapa hasil penelitian mengungkap bahwa BVDV masih bisa ditemukan pada pedet walaupun sudah mendapatkan kolostrum dari induknya. Virus BVD ditemukan juga pada pedet-pedet yang terlahir dari induk bunting yang terinfeksi. Kondisi ini yang disebut dengan terjadinya infeksi persisten, tertular dari induk ke anaknya.

Infeksi BVDV pada sapi bisa berdampak pada reproduktif sapi, disamping terjadinya kematian pada sapi terserang dan penularan pada sapi lain yang sehat. Infeksi BVDV juga bisa mengakibatkan terjadinya keguguran atau keluron pada sapi bunting. Keluron pada sapi bunting dapat mencapai angka hingga 22% (Brownlie J. et al., 1998). Kerugian ekonomi pada sapi potong akibat infeksi BVDV mencapai angka 18-40% (McGowan M. A. et al., 1995).

Infeksi BVDV bisa mengakibatkan munculnya infeksi skunder bakterial atau terganggunya hasil vaksinasi penyakit lainnya karena sifat imunosupresif seperti penyakit Jembrana. Kegagalan vaksinasi penyakit lain, tidak terbentuknya kekebalan hasil penyakit lainnya akibat dari adanya infeksi BVDV, imunitas vaksinasi penyakit lain bisa gagal karena adanya infeksi BVDV, menekan terbentuknya antibodi hasil vaksinasi.

Kenali Gejala Klinis
Berbeda dengan penyakit Jembrana yang hanya menyerang sapi Bali dan juga sama-sama ditandai dengan terjadinya diare, infeksi BVDV menyerang... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Mei 2024.

Ditulis oleh:
Ratna Loventa Sulaxono
Medik Veteriner Pertama, Loka Veteriner Jayapura
&
Sulaxono Hadi
Medik Veteriner Madya, purna tugas di Kota Banjarbaru

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer