-->

KOLABORASI SEMINAR AKSELERASI SISKA GUNA PERKUAT KETAHANAN PANGAN NASIONAL

Foto bersama dalam seminar percepatan SISKA yang digelar di BRIN Cibinong. (Foto-foto: Infovet/Ridwan)

Dalam upaya memperkuat kemandirian pangan, khususnya di sektor persapian, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama PT WAKENI menyelenggarakan seminar bertajuk "Percepatan SISKA (Sistem Integrasi Sapi dan Kelapa Sawit) untuk Ketahanan Pangan Nasional", yang berlangsung pada Selasa (14/4/2026), di Gedung Kelas Baru (Edelweis), Kawasan Sains dan Teknologi (KST) BRIN Cibinong.

Kegiatan strategis ini mendapat dukungan penuh dari Gabungan Pelaku dan Pemerhati Sistem Integrasi Sapi Kelapa Sawit (GAPENSISKA), Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI), serta Majalah Infovet sebagai mitra media. Seminar ini juga merupakan bagian dari rencana penyelenggaraan pameran Agrimat dan Agrilivestock 2026.

Dalam sambutannya, Kepala Pusat Riset Peternakan BRIN, Susanto, menegaskan bahwa seminar ini menjadi ruang strategis untuk merumuskan langkah nyata implementasi SISKA di tingkat nasional.

"BRIN berkomitmen untuk tidak hanya fokus pada penelitian saja. Kami percaya bahwa kolaborasi adalah kunci. SISKA merupakan salah satu strategi utama yang harus diimplementasikan secara cepat demi pembangunan peternakan nasional," ujarnya.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari, saat membuka acara secara resmi menyampaikan bahwa tema integrasi ini sangat relevan dengan program nasional yang telah lama berjalan dan terus ditingkatkan.

"Program SISKA ini tidak hanya berdampak bagi petani atau peternak saja, tetapi juga peningkatan ekonomi masyarakat luas melalui simbiosis mutualisme yang mendukung keberlanjutan usaha pertanian dan peternakan. Kami sangat mendukung penuh komitmen tersebut," ujarnya.

Sesi seminar. Dari kiri: Windu Negara (moderator), Prof Budi Tangendjaja, Bess Tiesnamurti, Tri Melasari, dan Jarot Indarto.

Dalam sesi seminar yang dimoderatori oleh Windu Negara, salah satu perekayasa BRIN, menghadirkan beberapa narasumber yang ahli di bidangnya. Direktur Pangan dan Pertanian Kementerian PPN/Bappenas, Jarot Indarto, menekankan pentingnya kolaborasi dan pengembangan skema bagi peternak skala kecil agar program SISKA memiliki signifikansi nyata.

Sementara dari sisi regulasi dan populasi, Direktur Pakan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Tri Melasari, memaparkan strategi percepatan populasi sapi nasional melalui integrasi sapi di lahan sawit. Di sisi lain, Direktur PT SISKA Ranch, Wahyu Darsono, yang hadir secara daring, mengusulkan model ko-investasi Business to Business (B2B) serta transformasi kebijakan FPKMS-NOP (Fasilitasi Pembangunan Kebun Masyarakat Sekitar) sebagai pilar pendukung ketahanan pangan.

Adapun Peneliti Ahli Utama Kelompok Riset Sistem Integrasi Ternak Berbasis Lahan BRIN, Bess Tiesnamurti, menggarisbawahi peran krusial riset dan inovasi teknologi dalam mempercepat implementasi program SISKA.

Menutup sesi pemaparan, Ketua Dewan Pakar ASOHI sekaligus konsultan pakan, Prof Budi Tangendjaja, memberikan catatan teknis mendalam mengenai kebutuhan nutrisi ternak dalam program sapi kelapa sawit. Menurutnya, keberhasilan SISKA sangat bergantung pada ketersediaan hijauan dan manajemen lahan.

Ia juga menilai bahwa produksi sapi tidak akan maksimal jika hanya mengandalkan limbah sawit dan rumput di sekitar lahan. Diperlukan nutrisi presisi dengan keseimbangan gizi yang baik, sehingga membutuhkan bahan tambahan dari luar seperti onggok, premiks mineral, dan vitamin agar kebutuhan ransum harian terpenuhi secara seimbang.

"Intinya harus bisa membuat ransum sapi ini dengan seimbang, tidak bisa hanya mengandalkan apa yang ada di lahan sawit saja (limbah sawit dan rumput). Oleh karena itu, harus kita gali lebih dalam lagi kebutuhan ransum pakan untuk sapi di lahan sawit ini," tukasnya.

Namun demikian, diharapkan melalui seminar ini terjadi sinkronisasi antara pemerintah, peneliti, dan pelaku usaha dalam mewujudkan akselerasi integrasi sapi-sawit yang berkelanjutan di Indonesia. (RBS)

JANGAN LEWATKAN SEMINAR NASIONAL PERCEPATAN INTEGRASI SAPI-SAWIT



Indonesia punya 16 juta hektare perkebunan kelapa sawit, tapi masih impor daging sapi. Padahal ada solusi sederhana: Sistem Integrasi Sapi-Kelapa Sawit (SISKA).

Fakta Kelapa Sawit Indonesia: Indonesia adalah produsen kelap sawit terbesar dunia. Total luas perkebunan sawit mencapai sekitar ±16,8 juta hektare. Kebun sawit tersebar di 26 provinsi di Indonesia. Artinya ada jutaan hektare lahan yang bisa dimanfaatkan untuk ternak sapi.

Fakta Populasi Sapi: Populasi sapi potong Indonesia sekitar 13,5 juta ekor (2025). Jumlah ini masih jauh dari kebutuhan nasional. Akibatnya Indonesia masih impor daging sapi setiap tahun.

Padahal potensinya luar biasa. Di perkebunan sawit tersedia rumput alami, limbah pelepah sawit, lahan terbuka, yang bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak sapi.

Dalam sistem integrasi sapi-sawit (SISKA), sapi memakan rumput di bawah sawit, kotoran sapi menjadi pupuk organik, gulma kebun berkurang. Hasilnya sawit tetap produktif dan sapi juga berkembang.

Bayangkan jika hanya 10% dari 16 juta ha sawit dimanfaatkan untuk SISKA. Sekitar 1,6 juta hektare lahan tersedia. Dengan kepadatan rendah saja 1-2 ekor sapi per hektare, Indonesia bisa menambah 2-3 juta ekor sapi. Ini menjadi langkah besar menuju swasembada daging sapi.

Untuk membahas peluang besar ini, Pusat Riset Peternakan BRIN bersama WAKENI dan GAPENSISKA, serta Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) dan didukung Majalah Infovet, mengundang Anda dalam Seminar Nasional "Percepatan Integrasi Sapi-Sawit (SISKA) untuk Mendukung Ketahanan Pangan Nasional."

Diselenggarakan pada:
Hari: Selasa, 14 April 2026
Pukul: 08:30-13:00 WIB
Tempat: Gedung PUSBINDIKLAT BRIN, Cibinong-Bogor

Menghadirkan narasumber:
- Ditjen PKH
Bappenas
Praktisi SISKA
Peneliti BRIN
- Dewan Pakar ASOHI

Daftarkan sekarang: https://bit.ly/seminar_sapi

KAPASITAS TERBATAS

Peserta mendapat:
- Snack
- Lunch
- E-sertifikat
- Ilmu yang bermanfaat

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer